Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Direndahkan
    Dalam Roma 10:11 tertulis: Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Kata “dipermalukan” dalam teks aslinya adalah kataiskhuno (καταισχύνω), artinya tidak dihormati atau direndahkan. Kata kataiskhuno tidak keliru jika diterjemahkan “dipermalukan” (to put shame), tetapi kata itu sebenarnya lebih kuat atau bisa lebih tepat diterjemahkan dengan “direndahkan, tidak dimuliakan, dihina, atau tidak dihormati, dan dijelekkan” (dishonor; disfigure). Jadi, maksud tulisan Paulus dalam ayat itu adalah: barangsiapa yang percaya kepada Yesus tidak akan direndahkan atau tidak akan tidak dihormati, tidak akan terhina dan tidak akan dijelekkan. Dengan kalimat lain: Barangsiapa percaya Tuhan Yesus, maka akan dihormati atau dimuliakan.
    Pernyataan Paulus dalam Roma 10:11 dihadirkan atau muncul di tengah-tengah suasana di mana orang-orang Kristen benar-benar dalam keadaan dijelek-jelekkan, direndahkan, tidak dihormati, dihina, dan dipermalukan di depan umum. Tulisan Paulus ini bisa terkesan konyol, atau malah bisa dianggap sebagai tidak realistis. Sebab faktanya, orang-orang percaya hidup dalam keadaan yang sangat tertekan, teraniaya, dihina, dijelek-jelekkan, direndahkan, tidak dihormati, dan dipermalukan di depan umum. Paulus seakan-akan tidak melihat realita yang terjadi. Tulisan Paulus ini benar-benar bertentangan dengan keadaan yang sedang dialami dan dihadapi oleh orang-orang percaya pada waktu itu. Pernyataan Paulus merupakan jalan pikiran yang tidak mudah dipahami oleh pikiran manusia pada umumnya.
    Tulisan Paulus di Roma 10:11 seirama dengan tulisannya di Roma 8:37 – Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Di tengah-tengah keadaan di mana orang percaya tertindas, terhina, kehilangan keluarga, harta dan nyawa, Paulus menyatakan bahwa mereka lebih dari orang-orang yang menang. Paulus menyatakan bahwa orang-orang percaya berkeadaan lebih unggul dari mereka semua. Lebih dari orang-orang yang menang artinya lebih dari penguasa Romawi dan masyarakatnya yang secara lahiriah lebih sukses dalam bidang politik, kekayaan, penampilan, dan berbagai kelebihan secara lahiriah lainnya. Tulisan Paulus dalam ayat ini juga terkesan konyol dan tidak realistis.
    Untuk mengerti maksud Paulus dalam tulisannya ini, kita harus memahami bahwa cara pandang Paulus dalam kehidupan ini sangat berbeda dengan pandangan manusia pada umumnya. Cara pandang Paulus tidak sama dengan cara pandang manusia pada umumnya, yang tidak mengenal kebenaran. Paulus memandang kehidupan dari sudut pandang atau perspektif nilai rohaninya, bukan pada nilai duniawi atau lahiriahnya. Selain itu, Paulus memandang hidup ini dengan sudut pandang kekekalan, bukan dari sudut pandang kefanaan. Dalam hal ini, kita bisa mengerti mengapa Paulus menyatakan dalam suratnya: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:18).
    Dari pernyataan Paulus di atas ini, kita diajar untuk memiliki cara pandang yang benar, seperti cara pandang Tuhan sendiri. Jika tidak demikian, kita tidak akan pernah bisa menjadi manusia yang rohani sesuai standar Tuhan dan mengiring Yesus dengan pengertian yang benar. Tentu saja, maksud tidak dipermalukan dalam Roma 10:11 adalah tidak dipermalukan bukan sekarang di bumi ini, tetapi nanti suatu hari atau suatu saat setelah sejarah dunia ini berakhir. Tidak dipermalukan dan tidak terhina bukan sekarang di bumi, tetapi di hadapan pengadilan Tuhan dan di dunia yang akan datang. Dari hal ini, Paulus hendak menunjukkan bagaimana seharusnya proyeksi hidup orang percaya. Dalam hal ini, kita bisa sangat memahami tulisan Paulus dalam Kolose 3:1-4, Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas,
    0 min
  • Musuh Di Zaman Modern
    Kondisi kehidupan orang percaya pada jemaat Roma yang teraniaya, justru memicu mereka untuk bisa menemukan dan mengenakan esensi Kekristenan secara konsekuen dan konsisten. Memang, penderitaan mereka sangat berat, tetapi berkat yang diperoleh akibat aniaya tersebut sangat luar biasa. Mereka terkondisi untuk menjadi benar-benar militan, menjadi orang-orang yang meneladani kehidupan Guru dan Tuhan mereka. Bagaimana dengan kita hari ini? Tentu saja mestinya sama. Percaya seseorang harus menjadi “mesin iman” dalam dirinya, yang membawa diri orang tersebut kepada maksud keselamatan diberikan, yaitu dikembalikan ke rancangan semula.
    Sebenarnya, mulut mengaku bukan sesuatu yang sulit, tetapi pada zaman ketika surat Roma ditulis, akibat pengakuan tersebut itu sangat berat. Keberanian menyatakan Yesus adalah Tuhan dengan mulut membuat mereka diselamatkan. Pengertian diselamatkan di sini artinya tujuan karya salib dipenuhi, yaitu seseorang dikembalikan ke rancangan semula. Tentu saja orang-orang seperti ini pasti masuk surga. Dalam hal ini, kita memperoleh pelajaran bahwa pengakuan percaya dengan mulut, haruslah mewakili hati percaya yang benar.
    Banyak orang Kristen hari ini tidak memiliki tanggung jawab terhadap “percayanya dalam hati” dan pengakuan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan. Tanggung jawab di sini adalah bagaimana menerjemahkan percaya dan pengakuannya tersebut, sehingga hidupnya memancarkan kesaksian. Sebagaimana orang-orang Kristen di Roma pada abad pertama membuat heboh dunia karena imannya, mestinya sekarang ini orang Kristen juga harus memiliki kehidupan yang membuat heboh dunia. Keadaan jemaat Roma pada waktu itu berbeda dengan orang-orang Kristen sekarang.
    Hari ini banyak orang Kristen menjadi Kristen hanya karena orang tua Kristen, atau sekadar pasangan hidupnya beragama Kristen, lalu mengikut menjadi orang beragama Kristen. Kekristenan seperti ini adalah Kekristenan yang hanya kulit atau kemasan saja, tetapi pada kenyataannya tidak memiliki esensi Kekristenan itu sendiri. Esensi Kekristenan adalah:
    Pertama, menjadi sempurna seperti Bapa yang sama dengan hidup tidak bercacat dan tidak bercela.
    Kedua, memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga. Dengan demikian, mestinya orang percaya yang benar, seperti jemaat Roma, tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dunia ini sama sekali.
    Ketiga, hidup bertanggung jawab dalam segala hal agar sukses dan berhasil memaksimalkan potensi guna kepentingan Kerajaan Surga secara penuh.
    Orang-orang seperti ini bersedia menderita bersama dengan Tuhan, maka mereka juga layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.
    Orang Kristen harus membuat keselamatan dalam Yesus Kristus diperdengarkan atau diwartakan. Selama ini dalam pelayanan banyak gereja, sebenarnya bukan Injil yang murni yang diperdengarkan atau diwartakan, tetapi Injil yang palsu yang diberitakan atau hanya sebuah kampanye untuk membuat orang menjadi orang beragama Kristen; guna memenuhi gereja. Istilah menuai jiwa sudah tidak lagi sama maksudnya dengan ajaran Injil yang murni. Injil yang murni membuat manusia meninggalkan dunia, tetapi Injil yang dipalsu malah sebaliknya memarkir manusia di dunia dengan janji berkat-berkat jasmani. Orang-orang Kristen yang menerima Injil yang telah merosot nilainya ini (injil palsu) tidak mungkin memiliki iman yang benar. Mereka yang tidak memiliki iman yang benar tidak akan mengalami pembenaran.
    Tuhan akan memberi kesempatan kepada orang-orang Kristen yang memiliki percaya yang benar ini, untuk dapat menyatakan Injil keselamatan yang benar melalui kehidupan setiap hari di mana pun mereka berada. Banyak peristiwa yang dirancang Tuhan untuk itu. Kalau pada zaman abad pertama di Roma mereka diuji dengan atau melalui aniaya, tetapi pada zaman kita dengan atau melalui berbagai peristiwa yang berbeda dengan zaman Roma di abad pertama itu. Intinya, iman orang percaya selain diuji, juga untuk menyatakan Injil keselamatan kepada manusia.
    0 min
  • To Declare
    Dalam Roma 10:10 tertulis: Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Kata sambung dua kalimat tersebut dalam teks aslinya adalah de (δε), selain berarti ‘dan’ tetapi memiliki pengertian ‘juga’, ‘bahkan’, ‘tetapi’. Maksud kalimat dalam Roma 10:10 adalah bahwa orang percaya tidak cukup hanya percaya dalam hati tetapi juga harus memiliki pengakuan. Kata ‘mengaku’ dalam teks aslinya adalah homologeoo (ὁμολογέω), yang memiliki pengertian “to declare”, memberi pernyataan secara terbuka di depan umum.
    Kalau hari ini, kita menyatakan secara terbuka di depan umum, bahwa kita adalah orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus, pernyataan tersebut tidak memiliki risiko dan konsekuensi sama sekali. Khususnya kita yang tinggal di Indonesia, di mana setiap warga negara diberi kebebasan untuk memeluk suatu agama. Berbeda dengan keadaan zaman pada waktu itu, khususnya di wilayah kekaisaran Romawi. Pernyataan bahwa mereka memercayai Yesus sebagai Tuhan (Yun. Kurios), dianggap sama dengan menyatakan perang atau permusuhan melawan kekaisaran Romawi. Mengakui seorang ‘Kurios’ adalah bentuk penolakan terhadap kaisar yang diakui sebagai anak atau keturunan dewa, yang harus dihormati bak dewa sendiri. Itulah sebabnya pada zaman itu ada semacam ritual atau seremonial untuk menyembah kaisar. Orang-orang Kristen yang setia kepada Tuhan Yesus menolaknya dengan tegas, sehingga mereka harus mengalami penganiayaan sampai pada hukuman mati.
    Sungguh-sungguh satu hal yang sangat menakjubkan, orang-orang Kristen Roma dengan berani menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan (Kurios), walau untuk itu mereka harus kehilangan segala sesuatu; harta, keluarga, bahkan nyawa mereka sendiri. Pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan membuat hidup mereka tidak nyaman dan terancam. Mereka selalu ada dalam ketegangan tinggi, sebab Kaisar Roma bermaksud menghapus nama Yesus dan ajaran-Nya dari muka bumi ini. Orang percaya yang setia harus melepaskan atau kehilangan hidup demi percayanya kepada Tuhan Yesus.
    Percaya dalam hati kepada Yesus tidak bisa tidak harus dinyatakan. Hal ini sudah merupakan paket, yaitu percaya dengan hati dan dengan mulut mengaku. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus menyatakan demikian: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. (Luk. 12:8-9). Dari perkataan Tuhan Yesus tersebut kita menemukan bahwa pengakuan di depan umum mengenai iman kita adalah satu hal yang mutlak.
    Bagaimana dengan kehidupan iman orang Kristen hari ini? Karena merasa sudah menyatakan secara terbuka bahwa diri mereka adalah orang Kristen (dengan mulut mengaku), maka sudah merasa memiliki iman yang benar. Benarkah ini? Ada beberapa catatan penting sehubungan dengan Roma 10:10 – Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Ada satu hal yang berbeda antara orang percaya pada abad pertama di Roma dengan orang Kristen zaman sekarang, yaitu: pada waktu zaman itu di Roma, tidak mungkin orang berani mengaku Yesus adalah Tuhan tanpa percaya yang benar, tetapi kalau orang Kristen sekarang mudah mengatakan dengan mulut bahwa dirinya percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi belum tentu hatinya memiliki percaya yang benar.
    Percaya seseorang terhadap Tuhan harus sampai pada pembenaran. Ini berarti percayanya harus benar. Percaya yang dimiliki orang Kristen sampai dirinya dibenarkan pastilah percaya yang benar. Itulah percaya yang mengerjakan (Yun. ergon) perubahan dalam kehidupan seseorang. Tentu ini bukan sederhana. Kalau pada zaman Roma, percaya mereka tidak bisa main-main, pasti sangat serius. Percaya yang serius adalah percaya yang produktif, percaya yang menghasilkan kehidupan seperti Yesus. Tetapi orang Kristen sekarang bisa hanya sebatas mulut,
    0 min
  • Ergon
    Tuhan Yesus mengajarkan bahwa percaya adalah suatu tindakan terus menerus atau sebuah pekerjaan. Tuhan Yesus mengatakan: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:29). Kata “bekerja” dalam teks aslinya adalah ergon (ἔργον). Ergon menunjukkan kegiatan yang dilakukan terus menerus secara rutin untuk mendapatkan suatu hasil. Itulah sebabnya kata ergon juga berarti usaha untuk mencari nafkah. Tentu hal ini menyita sebagian besar waktu hidup seseorang. Demikian pula percaya adalah kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan untuk menghasilkan sesuatu. Sesuatu tersebut bukan hanya berkat jasmani, seperti mukjizat dan segala pemenuhan kebutuhan. Juga bukan hanya sekadar masuk surga nanti setelah mati, tetapi menghasilkan perubahan hidup sejak ada di bumi. Justru perubahan inilah yang menandai apakah seseorang layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan atau tidak.
    Percaya kepada Yesus berarti perjuangan untuk mengenakan kehidupan Yesus. Kehidupan Yesus adalah kehidupan melakukan kehendak Bapa. Hal ini dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Orang yang mengaku percaya, tetapi tidak melakukan kehendak Bapa, belum bisa disebut sebagai orang percaya. Jadi, percaya di sini artinya mengikuti jejak hidup Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah kehendak Roh-Nya yang dimateraikan di dalam diri kita, dimana kita bisa selalu berinteraksi dengan Allah setiap saat. Kunci untuk dapat melakukan kehendak Bapa adalah selalu memperkarakan apakah yang kita pikiran, kita ucapkan dan kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa.
    Tuhan Yesus juga berkata: Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia. … Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi (Yoh. 6:33,35). Ini adalah zaman anugerah atau zaman penggenapan. Fokus hidup umat pilihan tidak lagi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi roti dari surga, yaitu Diri Yesus sendiri. Kehidupan umat pilihan hanya dapat dipuaskan dengan sempurna ketika melakukan kehendak Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa daging-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman (Rm. 6:55). Makan daging Yesus dan minum darah-Nya, artinya kita mengenakan kehidupan Yesus dan spirit atau gairah-Nya dalam hidup kita.
    Orang-orang Yahudi meminta roti, tetapi tidak mengerjakan pekerjaan yang Bapa kehendaki yaitu percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya (Yoh. 6:36). Mereka mau makan roti jasmani, tetapi tidak mau mengikuti jejak-Nya. Hal ini seperti banyak orang yang mengaku percaya percaya kepada Yesus, menginginkan berkat-berkat Tuhan dan hidup kekal, tetapi tidak memenuhi syarat untuk memperoleh hidup kekal tersebut. Keselamatan hanya oleh anugerah bukan berarti manusia tidak perlu memberi respon. Respon yang harus dimiliki atau dilakukan seseorang tidaklah cukup dengan aktivitas nalar atau pikiran, yaitu percaya, tetapi harus dengan tindakan sesuai dengan kata percaya itu sendiri.
    Banyak orang Kristen seperti pembeli yang mau membeli suatu barang dengan harga yang dibandrol sendiri, atau ditentukan sendiri. Mestinya yang memiliki barang (pemilik barang atau penjual) yang berhak membandrol barang tersebut. Kalau Tuhan Yesus berkata: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh. 6:29). Tentu percaya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah percaya menurut versi Tuhan, bukan versi siapa pun. Biasanya orang memahami iman dalam ayat ini “keyakinan dalam pikiran”. Keyakinan dalam pikiran tidak akan membawa dampak dalam perilaku kehidupan sama sekali, seperti yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen hari...
    0 min
  • Hati Percaya
    Dalam Roma 10:10 tertulis: Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Ayat ini termasuk ayat penting yang sering diucapkan oleh para pembicara di mimbar-mimbar gereja, dan persekutuan komunitas Kristen. Dan memang ayat ini sangat penting untuk dipahami maksudnya. Untuk itu perlu kita memahami pengertian ayat ini secara tepat. Dalam teks aslinya ayat ini berbunyi kardia gar pisteuetai eis dikaiosunen, stomati de homolo geitas eis soterian (καρδίᾳ γὰρ πιστεύεται εἰς δικαιοσύνην, στόματι δὲ ὁμολογεῖται εἰς σωτηρίαν). Dalam terjemahan kita ada satu kata yang hilang yang tidak diterjemahakan. Kata itu ada de (δὲ). Mestinya kata ini tidak cukup diterjemahkan “dan”, tetapi juga harus diterjemahkan “tetapi” atau bisa berarti “tetapi juga”. Hal ini sekilas sederhana, tetapai sebenarnya tidak. Kata “tetapi juga” memiliki muatan pengertian yang sangat luar biasa. Kata “hati percaya dan mulut mengaku” adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
    Banyak orang Kristen memahami Roma 10:10 secara sangat dangkal. Mereka merasa sudah menjadi orang yang dibenarkan dan diselamatkan hanya karena di dalam pikiran mereka. Kalau mereka sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan menyatakan secara umum dalam bentuk atau ekspresi memeluk agama Kristen serta pergi ke gereja, berarti sudah menjadi umat pilihan. Mereka memahami “hati percaya” sebagai sekadar persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Padahal hati percaya adalah sesuatu yang sudah sangat menggores di dalam manusia batiniahnya. Ini adalah keadaan batiniah seseorang yang mewakili seluruh keberadaan hidupnya (kadang hanya Tuhan yang tahu).
    Bicara mengenai hati (Yun. Kardia-καρδίᾳ), sesuatu yang pasti sangat menggores, dan tentu saja hal ini memiliki dampak yang sangat kuat dalam seluruh perilaku kehidupan seseorang. Seperti misalnya kalau seseorang menyatakan bahwa ia mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh atau benar, sampai menggores hati, maka pasti ada tindakan nyata atau konkret untuk mengekspresikan cintanya dengan ekspresi tindakan yang ekstrem. Ekspresi cinta tersebut tidak akan dilakukan untuk orang lain.
    Demikian juga kalau seseorang “dengan hati percaya” kepada Yesus, maka pasti ada tindakan nyata yang ekstrem terhadap Tuhan, dimana tindakan tersebut tidak pernah dilakukannya untuk orang lain. Dengan demikian percaya kepada Tuhan, adalah sesuatu yang sangat eksklusif atau menciptakan atau membangun sebuah eksklusivitas hubungan dengan Tuhan. Faktanya, banyak orang Kristen mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak memiliki sebuah eksklusivitas hubungan dengan Dia. Eksklusivitas tersebut ditandai dengan tindakannya yang ekstrem bagi Tuhan, tindakan yang tidak dilakukannya kepada siapa pun. Tetapi ironisnya, banyak orang Kristen ekstrem melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri dan orang lain, tetapi tidak ekstrem terhadap Tuhan Yesus. Di sini seseorang tidak menjadikan Yesus sebagai segalanya.
    Banyak orang berkata: “Yang penting saya percaya Tuhan di dalam hati”, tetapi tidak melakukan sesuatu untuk mewujudkan percayanya tersebut. Ada orang-orang Kristen yang tidak pergi ke gereja berkata: “Percuma ke gereja kalau hidupnya tidak benar. Lebih baik tidak ke gereja, tetapi hidupnya benar”. Tentu saja tidak semua orang yang pergi ke gereja hidupnya benar, tetapi kalau seseorang bisa pergi ke gereja, tetapi tidak pergi ke gereja hanya karena alasan tersebut, maka diragukan kebenaran hidupnya. Bisa dipastikan hidupnya tidak benar. Orang-orang yang mengatakan bahwa yang penting hidup benar tanpa perlu bergereja, menunjukkan kebodohannya. Tidak mungkin bisa hidup benar tanpa kebenaran Firman Tuhan (kecuali gerejanya tidak mengajarkan kebenaran). Alasan tidak kegereja tersebut hanyalah usaha pembenaran diri.
    Kalau seseorang tidak ke gereja karena tidak mau mendengar ajaran yang salah, dan Tuhan menghendaki atau memperkenan ia berpindah gereja,
    0 min
  • Membayar Harga Kebangkitan
    Pertanyaan yang penting yang harus kita temukan jawabnya adalah, mengapa harus percaya bahwa Theos (Bapa) yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati? Pertama, orang percaya harus mengakui bahwa ada Bapa yang mempunyai segala kuasa, kemuliaan, dan Kerajaan yang membangkitkan Yesus. Yesus tidak dapat bangkit sendiri. Yesus tidak memiliki kuasa untuk membangkitkan Diri-Nya sendiri. Ada yang mampu membangkitkan Yesus dari kematian, yaitu Bapa. Hanya Bapa di surga yang mempunyai segala kuasa, juga untuk membangkitkan Dia di antara orang mati.
    Bapa membangkitkan Yesus pun bukan tanpa alasan. Bukan karena Yesus adalah Putra Tunggal kesayangan-Nya, sehingga Yesus dibangkitkan. Alkitab menunjukkan alasan mengapa Dia dibangkitkan: Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan (Ibr 5:7). Karena Yesus telah menunjukkan ketaatan dan penghormatan-Nya kepada Bapa, bahkan mati di kayu salib, maka Ia dibangkitkan (Ibr. 5:7-9; Flp. 2:10-11). Hal ini memberi pelajaran mahal bagi kita semua orang percaya, bahwa kebangkitan yang Yesus peroleh atau yang Dia alami, tidak diperoleh-Nya secara gratis. Bapa di surga tidak nepotisme, mentang-mentang Anak kesayangan, kemudian Bapa membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Bapa yang Mahaadil memiliki tatanan. Bapa konsekuen dengan tatanan. Bapa bertindak sesuai dengan tatanan-Nya. Yesus harus membayar kebangkitan-Nya.
    Yesus harus membayar harga kebangkitan-Nya dengan ketaatan dan penghormatan yang patut kepada Bapa di surga. Hal ini akan menginspirasi orang percaya, bahwa orang percaya juga harus menderita seperti Yesus telah menderita. Paulus mengatakan, bahwa kita dikarunai bukan saja untuk percaya tetapi juga untuk menderita bagi Dia (Flp. 1:29). Kalau Kepala-Nya -yaitu Yesus Kristus- menderita, maka tubuhnya juga harus menderita. Dalam hal ini Paulus menggenapkan dalam dirinya penderitaan Kristus untuk tubuhnya (Kol. 1:24). Orang yang mengaku sebagai anggota tubuh Kristus harus memiliki karakter seperti Dia (satu unsur, satu chemistry dengan Dia) dan menderita seperti atau bersama dengan Dia bagi Kerajaan Allah.
    Kedua, kebangkitan Yesus adalah inti pengakuan iman orang percaya. Sebab kalau Yesus tidak bangkit, maka sia-sia iman kita (1Kor. 15:15-20). Dengan kebangkitan tersebut, maka ada pengharapan kehidupan yang akan datang. Dengan pernyataan Paulus mengenai kebangkitan tersebut, jemaat Roma dikuatkan dan terhibur, bahwa ada kebangkitan yang menjadi pengharapan hidup mereka yang sedang mengalami begitu banyak penderitaan. Hal tersebut membuat mereka menjadi kuat dan tabah melewati hari-hari penganiayaan yang sangat berat. Tentu saja hal kebangkitan ini juga menjadi kekuatan dan pengharapan bagi semua orang percaya di sepanjang zaman dan di segala tempat.
    Sebagai anggota tubuh Kristus, suatu keharusan atau kemutlakan, kita juga harus menemukan bagian kita untuk menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Tidak ada Kekristenan tanpa salib. Harus diingat bahwa hanya orang yang menderita bersama dengan Tuhan Yesus yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Yesus Kristus (Rm. 8:17). Kekristenan tanpa penderitaan adalah Kekristenan palsu. Itu adalah Kekristenan tanpa kemuliaan. Oleh sebab itu, kita harus menemukan “salib” yang kita harus pikul bagi pekerjaan-Nya. Harus diingat, bahwa menjadi orang Kristen bukan hanya diproyeksikan menjadi orang baik, tetapi juga menjadi sempurna agar dapat dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Ternyata hanya orang yang dewasa rohani yang dapat diajak menderita bersama-sama dengan Tuhan.
    Setiap orang percaya pasti memiliki kesempatan untuk menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Bila seseorang menolak hal ini, ia akan kehilangan kesempatan mengenakan kehidupan Yesus. Kesempatan menjadi anggur tercurah dan roti terpecah adalah kesempatan menderita bersama-sama denga...
    0 min
  • Harga Pengakuan Percaya
    Kalau melihat konteks zaman, betapa beratnya menjadi orang Kristen pada zaman aniaya, yaitu ketika surat Roma ditulis. Pada waktu itu, kalau ada orang mengaku Yesus adalah Kurios, maka ia harus mempertaruhkan segenap hidupnya demi percayanya. Ia harus rela kehilangan segala sesuatu, bukan hanya harta dan keluarga, tetapi juga nyawa mereka. Dengan mengaku Yesus adalah Kurios, maka mereka harus melepaskan atau kehilangan seluruh kesenangan dan kenyamanan hidup di bumi ini. Dengan demikian pengakuan percaya tersebut memiliki isi dan makna yang sangat besar dalam hidup percayanya. Orang-orang Kristen seperti ini adalah orang-orang Kristen yang memiliki iman “yang berisi”; bukan iman yang kosong.
    Pertanyaannya adalah apakah harga pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan berubah pada masa yang lain? Tentu tidak. Harga pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan tetaplah sama. Seorang yang mengaku Yesus adalah Tuhan (Kurios), harus hidup dalam ketertundukan kepada-Nya. Ketertundukan ini adalah kesediaan menerima kedaulatan Tuhan atas segenap hidup ini. Ini berarti seorang yang mengaku Yesus adalah Tuhan harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Yesus sebagai Tuhan atau majikannya. Kehendak Yesus adalah agar orang percaya melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Dia sendiri menjadi Tuhan untuk kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:10-11). Orang Kristen yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, jika tidak melakukan kehendak Bapa, berarti imannya kosong, palsu, gadungan, dan tidak menyelamatkan. Terkait dengan hal ini, Yakobus berbicara panjang lebar mengenai iman, bahwa iman harus disertai dengan perbuatan. Justru iman seseorang nampak dari tindakan atau perbuatannya.
    Kondisi aniaya pada zaman ketika surat Roma ditulis, membuat pengakuan orang-orang Kristen dengan mulutnya sama dengan hatinya yang percaya. Dalam hal ini kita harus memahami kata kedua yang penting, yaitu percaya. Percaya haruslah merupakan tindakan, bukan hanya sebuah “pengaminan akali” atau persetujuan pikiran. Percaya, dari kata pisteuo (πιστεύω), yang artinya menyerahkan diri kepada. Percaya yang benar dialami dan dimiliki oleh orang-orang Kristen Roma dalam menghadapi aniaya yang begitu hebat. Mereka membayar percayanya dengan benar, sehingga menjadi orang percaya yang sejati.
    Berbeda dengan orang-orang Kristen di zaman tanpa aniaya dan kesulitan seperti hari ini. Hari ini, sukar membedakan apakah seseorang memiliki iman yang berisi atau tidak (walau tentu pada akhirnya juga dapat dikenali). Banyak orang Kristen dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan tanpa pertaruhan apa pun. Mereka hanya dengan mulut (yang terdengar) mengaku Yesus adalah Tuhan, tetapi dengan hati yang belum tentu percaya. Hati yang percaya pasti diekspresikan dengan atau dalam perbuatan konkret. Perbuatan konkret dari hati yang percaya adalah melakukan kehendak Bapa.
    Melakukan kehendak Bapa artinya selalu hidup dalam pimpinan Roh Allah atau Roh Kudus (yang adalah Roh-Nya Bapa sendiri). Orang yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini sebenarnya sama dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yang artinya selalu melakukan kehendak Bapa dan hidup hanya untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya; seperti yang Yesus lakukan. Orang yang melakukan kehendak Bapa pasti hidup dalan kekudusan, sebab Bapa menghendaki agar orang percaya hidup kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Sesungguhnya, inilah maksud keselamatan dalam Yesus Kristus.
    Kata “keselamatan” adalah kata ketiga yang penting dalam Roma 10:9 untuk dipahami maknanya. Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Keselamatan adalah usaha atau proses dimana manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula. Di dalam keselamatan terdapat orientasi, yaitu mengubah manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah menjadi manusia yang menemukan kemuliaan Allah, yaitu menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Hal ini sama artinya dengan hidup dalam kekudusan.
    0 min
  • Mulut Mengaku
    Dalam Roma 10:9 tertulis: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Banyak orang Kristen yang salah memahami ayat ini, sehingga mereka tidak pernah menjalani jalan keselamatan yang Tuhan Yesus berikan. Kalimat “mengaku dengan mulut, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka akan diselamatkan”, biasanya hanya dipahami secara dangkal. Mereka berpikir yang penting dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan dari antara orang mati, maka mereka sudah selamat. Selamat di sini hanya dipahami sebagai terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Karena merasa sudah selamat, maka mereka merasa berhak meyakini dengan kepastian bahwa mereka akan masuk surga. Mereka merasa itulah iman Kristiani yang normal.
    Karena sudah merasa selamat, maka mereka tidak merasa perlu lagi untuk mengisi hari hidup ini dengan belajar menjadi murid Yesus secara proporsional. Mereka hanya setia sebagai orang Kristen dan rajin ke gereja, tetapi tidak mengalami proses pertumbuhan rohani yang normal. Padahal proses menjadi murid -yang sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar- harus dijalani orang percaya. Untuk ini, kita harus memahami pengertian beberapa kata penting di dalam ayat tersebut.
    Pertama, mengenai “mengaku dengan mulut”. Kata mengaku dalam teks aslinya adalah homologeses (ὁμολογήσῃς), dari akar kata homologeo (ὁμολογέω). Sebenarnya kata ini memiliki beberapa pengertian; selain berarti to declare (menyatakan secara terbuka dan terang-terangan), kata ini juga berarti say plainly (mengatakan dengan jelas). Hal ini menunjuk secara terang-terangan dan tegas menyatakan, bahwa Yesus adalah Tuhan. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan haruslah pengakuan secara terbuka. Bukan sekadar dalam hati. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus menyatakan: Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus (Luk. 9:26). Malu di sini artinya merasa tidak terhormat. Kalau orang merasa tidak terhormat mengakui Yesus adalah Tuhan di dunia ini, maka Yesus pun juga tidak terhormat mengakui seseorang pengikut-Nya. Adalah kehormatan bagi Tuhan Yesus mengaku seseorang sebagai pengikut-Nya, yaitu mereka yang berani menderita karena nama-Nya.
    Menyatakan atau mengakui Yesus adalah Tuhan, hari ini di suatu negara yang melindungi kebebasan beragama, bukan masalah sama sekali. Tetapi sangat berbeda dengan keadaan orang percaya atau orang Kristen pada zaman kitab Roma ditulis. Kata Tuhan dalam teks aslinya adalah Kurios (κύριος). Kurios adalah gelar yang disandang oleh Alexander the Great, raja dari kekaisaran Makedonia (Yunani), yang hidup pada tahun 356-323 sM. Seorang jagoan atau pendekar perang yang tidak pernah terkalahkan, yang berhasil menaklukkan wilayah yang sangat luas dari Eropa (Laut Ionia) sampai Himalaya. Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya, Alexander berhasil membangun sebuah imperium yang lebih besar dari semua imperium yang pernah ada sebelumnya. Gelar the great di belakang namanya disandangkan kepadanya untuk menunjukkan kehebatannya sebagai seorang raja, dan pemimpin perang serta keberhasilannya menaklukkan wilayah yang sangat luas. Tentu saja hal ini menjadi momok bagi negara-negara di dunia, khususnya kerajaan-kerajaan atau masyarakat di Eropa. Mereka tidak menginginkan kebangkitan kembali pemimpin perang seperti Alexander tersebut.
    Dengan sebutan Kurios atas Diri Yesus, membawa orang percaya kepada keadaan yang sangat rawan dan membahayakan. Orang percaya menantikan kedatangan Yesus sebagai Kurios. Mereka dicap sebagai pemberontak, atau memiliki benih-benih pemberontakan yang me...
    0 min
  • Hukum Taurat Dan Kebenaran Injil
    Selanjutnya dalam Roma 10:5 tertulis: Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya. Dari tulisan Musa ini kita memperoleh kebenaran, bahwa orang yang dapat melakukan hukum Taurat akan hidup karenanya. Hidup di sini tentu memiliki pengertian yang luas antara lain:
    Pertama, kata hidup berarti orang percaya dapat diperkenan oleh Allah sementara ada di bumi. Bagi umat pilihan Perjanjian Lama perkenanan Allah diukur dari melakukan hukum Taurat Musa. Bagi umat pilihan Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dari sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Kedua, pengertian hidup dalam ayat tersebut adalah bahwa di balik kehidupan ini (di balik kubur) orang yang melakukan hukum Taurat dapat memperoleh kesempatan untuk hidup di langit baru dan bumi yang baru. Tentu bagi umat Perjanjian Lama, mereka yang melakukan hukum Taurat Musa dapat menjadi anggota masyarakat. Sedangkan bagi umat Perjanjian Baru yang melakukan hukum Taurat yang disempurnakan -yaitu kesucian Allah- menjadi anggota keluarga Kerajaan; dimuliakan bersama-sama dengan Yesus.
    Dari hal tersebut, kita memperoleh pelajaran rohani yang sangat berharga: hendaknya kita tidak memandang hukum Taurat sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Hukum Taurat diberikan oleh Allah agar pelakunya bisa hidup berkualitas atau memiliki hidup kekal (Mat. 19:16-20). Kalau menjadi pelaku hukum Taurat Musa, hidup seseorang bisa berkualitas, apalagi kalau menjadi pelaku hukum Taurat yang disempurnakan. Itulah sebabnya selanjutnya Paulus menulis dalam ayat 6-8 mengenai kehidupan iman orang percaya.
    Dalam Roma 10:6-8 tertulis: Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke surga?”, yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: “Siapakah akan turun ke jurang maut?”, yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Kalimat-kalimat di atas ini bisa memiliki dua pengertian:
    Pertama, bahwa hukum Taurat adalah hukum yang dapat dilakukan, baik itu adalah hukum Taurat Musa maupun hukum Taurat yang disempurnakan. Sebenarnya kalimat yang ditulis oleh Paulus di ayat 6-8 adalah kutipan dari Ulangan 30:11-14 (Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya. Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan).
    Ulangan 30:11-14 memuat Firman yang menunjukkan bahwa Taurat yang diberikan oleh Allah bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, umat pilihan dimungkinkan dapat melakukannya. Allah tidak mungkin memberi perintah yang tidak dapat dilakukan oleh umat-Nya. Di Perjanjian Lama, kalau umat gagal melakukan hukum, Tuhan memberi solusi darah domba (darah binatang untuk menyelesaikan). Bila hal ini dikenakan bagi umat Perjanjian Baru, dengan kutipan yang diambil Paulus, Paulus hendak menunjukkan bahwa hukum Taurat yang disempurnakan dapat dilakukan oleh orang percaya. Walaupun pada kenyataannya sering orang percaya bisa gagal atau jatuh bangun. Tetapi Tuhan selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Inilah proses pendewasaan yang tidak selesai dalam sehari.
    Kedua, pengertian dari Ulangan 30:11-14 adalah kalau bangsa Yahudi melandaskan iman mereka berdasarkan apa yang diberikan Allah melalui Musa, sekarang Allah (Allah Anak) sendiri yang turun dari surga tanpa pengantara mengajarkan kebenaran kepada umat Perjanjian...
    0 min
  • Kristus, Kegenapan Hukum Taurat
    Dalam Roma 10:4 tertulis: Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Kalimat ini adalah kunci penting bagi kehidupan iman orang percaya. Kalimat “Kristus adalah kegenapan hukum Taurat” bisa memiliki dua makna: Pertama, Tuhan Yesus datang mengajarkan kebenaran, yaitu hukum Taurat yang disempurnakan. Mengenai hal ini, Tuhan Yesus sendiri mengatakan dalam Matius 5:17, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Kata meniadakan dalam teks aslinya adalah kataluo (καταλυω), yang artinya juga menghancurkan atau merusak. Yesus datang bukan membuat hukum Taurat menjadi rusak atau dihancurkan, tetapi sebaliknya untuk menggenapi. Kata menggenapi dalam ayat ini, teks aslinya adalah pleroosai (πληρῶσαι), dari akar kata pleroo (πληρόω), yang artinya membuat lengkap (melengkapi) atau menyempurnakan. Yesus datang untuk membuat hukum Taurat menjadi lengkap atau sempurna.
    Hukum Taurat Musa sebelum kedatangan Yesus bersifat lahiriah, yaitu dalam pelaksanaannya hukum tersebut terverifikasi secara lahiriah atau secara kelihatan seperti hukum-hukum dalam banyak agama. Jadi, pelanggaran terhadap hukum, cukup dapat terverifikasi secara kelihatan atau secara lahiriah. Ini adalah hukum yang belum lengkap atau sempurna, sebab dosa hanya terverifikasi atau dalam pembuktiannya hanya cukup secara yang kelihatan atau secara lahiriah. Tetapi hukum Taurat yang disempurnakan bersifat batiniah yaitu dalam pelaksanaannya tidak bisa terverifikasi secara lahiriah atau kelihatan, sebab bersifat batiniah atau menekankan batiniah.
    Sebagai perbandingan, antara hukum Taurat Musa dan hukum Taurat yang disempurnakan dapat dijelaskan sebagai berikut:
    – Kalau dalam hukum Taurat Musa konsep atau pengertian membunuh adalah menghabisi nyawa seseorang; tetapi kalau zaman Perjanjian Baru, membenci sudah berkategori sebagai pembunuhan.
    – Kalau dalam hukum Musa pengertian berzina adalah melakukan hubungan badan secara lahiriah (terverifikasi secara lahiriah); tetapi dalam hukum Taurat yang disempurnakan memandang lawan jenis sampai pada ‘mengingini’ atau birahi, sudah terkategori sebagai perbuatan zina.
    – Dalam hukum Taurat Musa berlaku hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi; tetapi hukum Taurat yang disempurnakan berlaku hukum harus mengasihi musuh dan berbuat baik bagi orang yang menganiaya.
    Pada dasarnya hukum Taurat yang disempurnakan adalah cermin dari kesucian Allah sendiri.
    Kedua, pengertian “Kristus kegenapan hukum Taurat” adalah bahwa Yesus telah menjadi pelaku hukum Taurat secara sempurna atau tidak bercacat. Yesus bukan saja mampu melakukan hukum Taurat yang diberikan Musa, tetapi juga mampu melakukan dengan sempurna hukum Taurat yang telah disempurnakan. Hal ini tidak pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di sepanjang sejarah kehidupan manusia sejak Adam. Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya bahwa tidak ada orang yang mampu melakukan kehendak Allah. Yesus adalah manusia pertama yang menemukan kemuliaan Allah yang hilang, artinya mampu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Firman Tuhan mengatakan: Kristus menjadi kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Apa maksud “sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang percaya”?
    Pertama, orang percaya menerima pembenaran oleh pengorbanan Yesus. Yesus yang tidak bersalah (dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna), tetapi harus memikul semua dosa akibat kesalahan manusia. Hanya “manusia yang tidak berdosa” yang dapat memikul dosa manusia lain. Dan ternyata hanya Yesus yang dapat mengambil tempat memikul hukuman dosa, dengan demikian manusia dapat dibebaskan dari segala hukuman sehingga orang percaya dapat dibenarkan.
    Kedua, di dalam anugerah Tuhan Yesus Kristus,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…