Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Berpotensi Menjadi Umat Allah
    Dengan penjelasan Paulus dalam Roma 9, dapat ditarik kesimpulan pula bahwa Allah memilih bangsa Israel sebagai umat pilihan bukan karena perbuatan baik mereka, tetapi mereka adalah bangsa yang lahir dari keturunan Yakub. Yakub sendiri dipilih bukan karena Yakub memiliki perbuatan baik, tetapi karena pemilihan Tuhan dari kedaulatan-Nya, bahwa keturunan dari Abraham melalui Yakub akan menjadi umat pilihan secara darah daging. Kalau bangsa Israel merasa akan tetap sebagai umat pilihan karena keturunan Yakub, maka sangatlah keliru. Mereka harus memberi respon terhadap anugerah Allah secara memadai, sebab kalau mereka bersikap seperti Esau yang tidak menghormati Allah, maka mereka akan dihukum atau ditolak, seperti yang dikemukakan oleh Maleakhi. Paulus menulis surat Roma pada zaman penggenapan di abad pertama, agar orang-orang Yahudi atau jemaat Kristen dari bangsa Yahudi mengerti kebenaran ini. Hal tersebut dimaksudkan agar mereka dapat menjadi umat pilihan Perjanjian Baru.
    Pelajaran yang dapat dipetik dan memiliki implikasi dalam hidup orang percaya adalah hendaknya kita tidak merasa sebagai umat pilihan secara rohani (sebagai orang Kristen dan mengakui sudah menjadi anak-anak Allah), maka pasti masuk surga. Banyak orang Kristen berpikir bahwa menjadi umat pilihan berarti pasti masuk surga. Harus dipahami, bahwa menjadi umat pilihan adalah menjadi orang yang yang berpotensi menjadi umat Allah yang kekal atau abadi atau permanen, tetapi tidak otomatis masuk surga. Adapun apakah seseorang dapat menjadi umat Allah yang kekal atau abadi, tergantung respon masing-masing individu terhadap anugerah Allah.
    Anugerah atau kasih karunia diberikan oleh Allah melalui karya salib Tuhan Yesus. Jika respon seseorang terhadap karya salib salah, maka seperti bangsa Israel yang tewas di padang gurun, banyak orang Kristen juga tewas dalam perjalanan hidupnya, sehingga tidak sampai ke Rumah Bapa. Karena ajaran yang salah, banyak orang Kristen tidak tahu bahwa menjadi Kristen harus berjuang untuk menempatkan diri sebagai anak yang menghormati Bapa. Itulah sebabnya harus dipahami, bahwa untuk diselamatkan harus berjuang untuk masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24).
    Jadi, bukan tanpa alasan kalau suatu hari Allah berkata: “Aku mengasihi David Wijaya, tetapi membenci “Anu”. Tentu ada dasar atau alasan yang tidak merusak prinsip dan hakikat keadilan Allah dalam menetapkan hal tersebut. Juga pasti ada alasan kalau Tuhan berkata tegas: Enyahlah dari hadapan-Ku. Hal ini terjadi bukan karena Tuhan menghendaki atau bermaksud “membinasakan” seseorang, sehingga membencinya, sementara Tuhan mengasihi yang lain dan membawanya ke surga. Tetapi Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing individu. Kehendak bebas masing-masing individu inilah yang melahirkan respon terhadap karya keselamatan dari Tuhan. Respon inilah yang membangun atau menentukan sikap Tuhan kepada masing-masing individu. Kebenaran ini membangun logika yang sehat, waras, adil, jujur, cerdas, dan memiliki implikasi yang jelas bagi umat pilihan, bagaimana harus mengisi hari hidupnya.
    Jika Allah digambarkan sebagai Pribadi yang secara sepihak menentukan orang untuk dibenci dan dikasihi-Nya, yang sama dengan menentukan masuk surga atau masuk neraka, betapa mengerikan. Tidak bisa tidak, Allah tergambar sebagai Pribadi yang “sakit”. Jika demikian, maka orang percaya tidak memiliki pengertian yang jelas mengenai bagaimana mengisi hari hidup ini, sebab ajaran tersebut tidak memiliki implikasi yang kuat bagaimana mengisi hidup ini. Hidup di semesta dengan “Penguasa” berkarakter demikian, serba tidak tentu, tidak ada kepastian, dan serba misteri, sungguh sangat mengerikan. Ilah atau dewa seperti ini banyak dikenal dalam berbagai kepercayaan dan agama primitif. Tidak heran kalau mereka memiliki berbagai ritual atau upacara agama, dengan segala korban sebagai usaha untuk memadamkan kemarahan dewa-dewa atau ilah-ilah mereka. Hal ini sama dengan menyuapnya.
    0 min
  • Harus Menghormati Allah
    Kalau Allah berkata bahwa ia membenci Esau dan mengasihi Yakub tentu sangat beralasan, sebab faktanya Yakub memiliki kepribadian yang baik, jauh lebih baik dari Esau. Hal yang paling parah yang membuat Esau tidak pantas menjadi nenek moyang Mesias adalah menghina hak kesulungan dan sembarangan memilih jodoh. Ia menjadikan perempuan-perempuan bangsa Kanaan orang Het sebagai istrinya (Kej. 26:24-25). Hal mana tidak dilakukan oleh Abraham, Ishak, dan Yakub. Abraham sendiri sampai menuntut sumpah dari hambanya agar tidak memilih menantu, istri Ishak, dari bangsa Kanaan (Kej. 24:3).  Ishak juga menasihati Yakub untuk tidak mengambil jodoh dari orang-orang Kanaan (Kej. 28:1). Tuhan menghendaki agar jodoh bagi nenek moyang Mesias bukan berasal dari bangsa Kanaan yang nanti negerinya akan diberikan kepada keturunan Abraham.
    Terkait dengan hal di atas ini perlu dipertimbangkan bahwa dukacita dan penyesalan Tuhan terhadap anak-anak Allah di dalam Kejadian 6:1-3, berangkat dari tindakan mereka memilih pasangan hidup sesuka hati mereka. Jadi, pernyataan Tuhan bahwa Tuhan mengasihi Yakub dan membenci Esau harus dipahami dengan benar. Dalam hal ini kita memperoleh pelajaran, bahwa Allah tidak menghendaki umat pilihan memilih dan memiliki pasangan hidup dari orang yang bukan umat pilihan. Memilih jodoh dari orang yang tidak percaya atau bukan umat pilihan adalah bentuk pemberontakan kepada Allah. Hal ini akan sangat mendukakan hati Allah.
    Kita harus memperhatikan dengan serius bahwa kalimat: Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau dalam Roma 9:13, diambil dari Kitab Maleakhi 1. Kita juga harus mengamati dengan teliti pembahasan kitab Maleakhi 1 tersebut, yaitu dialog antara bangsa Israel dengan Allah. Bangsa Israel seakan-akan mau memerkarakan, mengapa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau.
    “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.” Apabila Edom berkata: “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu,” maka beginilah firman TUHAN semesta alam: “Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.” Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.” Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? …. Dan seterusnya.
    Maleakhi 1 tersebut memuat kemarahan Allah atas bangsa Israel yang tidak menghormati Allah. Allah memberi perbandingan, kalau seorang anak harus menghormati bapanya, tetapi bangsa Israel tidak menaruh hormat yang pantas kepada Allah sebagai Bapanya. Allah menunjuk sikap Esau terhadap bapanya dengan membandingkanya dengan sikap diri Yakub. Hal ini memberi pelajaran bagi bangsa Israel. Sikap tidak menghormati Bapa ini dilakukan juga oleh bangsa Israel, hal ini tentu suatu kekejian bagi Allah.
    Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa bukan tanpa alasan kalau Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. Kalau mereka bersikap tidak hormat kepada Allah -seperti Esau tidak menghormati orang tuanya-, maka mereka juga tidak layak dikasihi.
    0 min
  • Alasan Allah Mengasihi Dan Membenci
    Mengenai pemilihan Allah atas bangsa Israel sebagai umat pilihan yang istimewa, Paulus menunjukkan bahwa semua itu terjadi bukan karena kebaikan bangsa tersebut, artinya tidak dimulai dari keadaan bangsa tersebut. Tetapi Allah yang menentukan untuk memanggil bangsa tersebut guna menjadi umat pilihan-Nya, tanpa memperhitungkan dan mempertimbangkan keadaan bangsa tersebut. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa pemilihan mereka bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan dari Allah. Mereka dipilih Allah sehingga dipanggil menjadi umat pilihan, bukan karena mereka memiliki perbuatan baik atau keistimewaan apa pun, tetapi berdasarkan kasih karunia Allah dari kedaulatan Allah yang mutlak. Harus dipahami, bahwa hal ini konteksnya hanya pada bangsa Israel, bukan pada semua manusia.
    Pemilihan Allah atas bangsa Israel, dimulai dari pemilihan Yakub, nenek moyang bangsa tersebut. Menjadi umat pilihan di sini bukan berarti rencana Allah atas setiap individu pasti terpenuhi, sebab hal ini tergantung kepada masing-masing individu bangsa tersebut. Seperti kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, ternyata tidak semua mereka yang keluar dari Mesir sampai ke tanah Kanaan. Demikian pula tidak semua orang Israel adalah Israel sejati atau akhirnya menjadi umat pilihan Allah yang kekal masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Hal tersebut tergantung respon masing-masing individu terhadap karya salib Kistus. Karena sebagian mereka menolak Yesus, maka hal ini membangkitkan kesedihan dalam hati Paulus, sampai ia rela terlaknat demi Kristus.
    Jika menghubungkan pemilihan Yakub dengan Kemahatahuan Allah, maka kasus itu bukan hal yang sulit untuk dimengerti. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Ia memilih Yakub, pemilihan itu bisa dilakukan tidak lepas dari keberadaan Allah, yaitu berdasarkan tatanan yang ada pada-Nya, juga berdasarkan Kemahatahuan-Nya. Ketika Tuhan menyatakan bahwa anak yang muda dalam kandungan Ribka akan menjadi tuan bagi yang tua, hal itu dalam rangka Allah menjawab pergumulan orang tua Esau dan Yakub yang mempersoalkan dua anak dalam kandungan Ribka, karena berdesak-desakan. Sangat besar kemungkinan Tuhan tidak menyatakan bahwa yang muda akan menjadi tuan bagi yang tua, kalau tidak dipertanyakan.
    Jadi, sangatlah bisa dimengerti bahwa penjelasan Tuhan tersebut bisa juga merupakan nubuatan (karena Allah Mahatahu), hal ini bukan sebuah keputusan atau ketetapan secara sewenang-wenang dari pihak Allah (secara sepihak). Kemudian hari Yakub menunjukkan kehidupannya sebagai orang yang layak diberkati, khususnya ketika berjuang di sungai Yabok dimana namanya diganti Israel, maka ia ditentukan Tuhan sebagai nenek moyang Israel (Kej. 32). Dalam hal ini pernyataan Tuhan bahwa Ia memilih Yakub pada mulanya adalah sebuah nubuatan, bukan penetapan. Tetapi nubuatan itu tidak pernah gagal, dibuktikan dengan kemenangan Yakub di sungai Yabok yang akhirnya namanya menjadi Israel.
    Adapun kalau dicantumkan kalimat: Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13), bukan berarti Tuhan dengan kadaulatan-Nya yang absolut dan mutlak serta tidak terbatas secara sewenang-wenang mengasihi Yakub dan membenci Esau. Selama ini dikesankan oleh banyak orang bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya, suka-suka sendiri menunjuk, dan menentukan siapa yang dikasihi dan siapa yang dibenci. Hanya orang gila yang tanpa alasan mengasihi dan membenci seseorang. Harus diingat bahwa Allah adalah Allah yang kasih, tidak mungkin Allah menaruh kebencian tanpa alasan. Tentu saja yang dibenci bukan manusianya -dalam hal ini terhadap diri Esau-, tetapi perbuatannya.
    Tentu Allah tidak menyatakan mengasihi Yakub dan membenci Esau bukan sejak mereka masih ada dalam kandungan. Sangatlah tidak mungkin kalau Allah sudah mengasihi Yakub dan membenci Esau sejak dalam kandungan. Tentu setelah perjalanan hidup mereka berlangsung dan ketika sudah nyata sikap dan tingkah laku mereka. Esau seorang yang tidak menghargai hak kesulungan yang di dalamnya ada berkat Per...
    0 min
  • Pemilihan Bangsa Israel
    Mengawali bab ini perlu diperkarakan: Mengapa yang menjadi umat pilihan adalah bangsa Israel, mengapa bukan orang Jepang, Afrika, Cina, dan lain sebagainya? Jawabnya adalah bahwa pemilihan ini hanya didasarkan keputusan dari kedaulatan Allah, bukan karena perbuatan atau faktor lainnya dari pihak bangsa Israel atau nenek moyang mereka. Pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan, berangkat atau dimulai dari pilihan Allah atas Yakub, nenek moyang bangsa Israel. Karena Allah menghendaki demikian. Tentu yang dilakukan oleh Allah didasarkan pada kebijaksanaan Allah atau tatanan yang ada pada Diri Allah yang Maha Bijaksana dan Mahacerdas. Kebijaksanaan dan tatanan tersebut pasti sudah sangat permanen ada di dalam Diri Allah dari kekal sampai kekal. Kalau dipertanyakan, pertimbangan apakah yang Allah miliki sehingga memilih bangsa Israel sebagai umat pilihan, mengapa bukan bangsa lain? Maka jawabannya hanya ada di pikiran dan hati Allah yang sampai selamanya mungkin tidak pernah terjawab. Dengan hormat, kita hanya bisa menerima dan mengakui kebijaksanaan-Nya yang melampaui segala akal pikiran.
    Tulisan Paulus dalam surat Roma mengenai pemilihan bangsa Israel berdasarkan kedaulatan Allah tersebut, dimaksudkan agar mereka tidak menjadi congkak karena keberadaan mereka sebagai umat pilihan Allah. Hal tersebut dimaksudkan, agar mereka tidak sombong dan merasa sebagai orang-orang yang memiliki Taurat dan dengan tekun melakukan Taurat tersebut serta beranggap bahwa semua itu sudah cukup melayakkan mereka menjadi umat yang terpilih selamanya atau secara permanen. Abraham sendiri dipilih Allah juga bukan berdasarkan perbuatan, tetapi karena kasih karunia Allah (Rm. 4:1-13). Tetapi apakah Abraham menuruti panggilan tersebut atau tidak, hal ini tergantung sikap dan respon Abraham terhadap panggilan tersebut. Dalam kaitannya dengan hal ini, harus ditambahkan pula bahwa panggilan Allah atas Abraham tidak hanya menyangkut Allah atas bangsa Israel sebagai umat pilihan, tetapi menyangkut berkat Allah yang akan diberikan kepada semua bangsa di dunia ini (Kej. 12:1-3).
    Demikian pula pada waktu Allah menunjuk Yakub menjadi nenek moyang Mesias. Allah memilih dan menentukan berdasarkan kedaulatan-Nya. Paulus menjelaskan dengan tulisan (Rm. 9:11-13) sebagai berikut: Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya — dikatakan kepada Ribka: “Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,” seperti ada tertulis: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Dengan tulisannya tersebut Paulus membungkam kecongkakan orang-orang Yahudi yang berusaha dibenarkan karena perbuatan (yang didasarkan pada Taurat). Firman Tuhan menunjukkan bahwa ketika Esau dan Yakub masih ada dalam kandungan, mereka belum mengerti dan melakukan apa yang baik atau jahat, Tuhan sudah menunjuk Yakub sebagai orang yang terpanggil untuk penerima berkat Perjanjian.
    Sangatlah jelas bahwa rencana Allah tentang pemilihan-Nya (dimana Israel menjadi umat pilihan) bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Pemilihan Allah atas Yakub atau bangsa Israel bukan karena perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan. Dalam hal ini Allah dalam kedaulatan yang tidak didominasi dan disubordinasi oleh siapa pun, bebas melakukan suatu pilihan dan penetapan-Nya untuk memanggil seseorang menjadi umat-Nya. Kalimat “– supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” harus dicermati. Yakub yang menjadi nenek moyang bangsa Israel dipilih bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Kalimat “berdasarkan penggilan-Nya” sangat penting untuk dipahami maksudnya. Tidak ditulis berdasarkan “kedaulatan Allah”, tetapi berdasarkan “panggilan-Nya”.
    Pilihan atas bangsa Israel sebagai umat yang menerima panggilan memang terja...
    0 min
  • Yahudi Sejati
    Kalau Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak pernah gagal (jatuh atau dari, hanyut, kandas, kalah, gagal, melemah) dan dikaitkan dengan kehidupan bangsa Israel, maka maksudnya adalah bahwa Allah bukan penyebab kegagalan bangsa Israel sebagai umat pilihan abadi (umat pilihan Perjanjian Baru). Mereka menjadi umat pilihan secara darah daging hanya untuk untuk sarana dilahirkannya Mesias dari bangsa tersebut. Sebenarnya, umat pilihan yang dimaksudkan oleh Tuhan -yang juga menjadi umat pilihan abadi- adalah mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Untuk menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, seseorang harus memberi respon yang memadai terhadap karya keselamatan Kristus di kayu salib. Jika tidak, walaupun ia adalah seorang yang berdarah Israel dengan segala hak istimewa, tidak akan pernah menjadi umat pilihan tanpa menerima Yesus sebagai Mesias. Dalam hal ini nyata sekali, bahwa kehendak bebas yang dimiliki manusia untuk meresponi anugerah Allah menentukan keselamatannya.
    Selanjutnya Firman Tuhan mengatakan: … dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. Mengapa ditulis demikian: …dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu. Hal ini perlu ditulis atau dinyatakan, sebab selain Ishak ada anak Abraham lainnya dari budaknya, yaitu Hagar yang melahirkan Ismael. Keturunan Ismael juga akan diberkati dan menjadi bangsa yang besar, tetapi keselamatan atau Mesias datang dari bangsa Yahudi, keturunan Abraham dari Ishak (Yoh. 4:22).
    Memasuki zaman Perjanjian Baru, bukan keturunan secara darah daging dari Abraham yang menjadi umat pilihan, tetapi anak-anak Perjanjian, yaitu mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa sesungguhnya yang disebut sebagai umat pilihan adalah mereka yang menjadi anak-anak Abraham karena iman, yang bukan hanya berasal dari bangsa Yahudi, tetapi juga mereka yang berasal dari bangsa-bangsa lain atau non Yahudi (Rm. 9:25-30). Penjelasan ini sejajar atau paralel dengan tulisan Paulus di Galatia 4:22-25, bahwa Abraham memiliki dua anak, yang satu anak Perjanjian dan yang lain anak perhambaan.
    Dalam Roma 9:9 tertulis Sebab firman ini mengandung janji: “Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki”. Dalam tulisannya ini, Paulus menunjukkan bahwa umat pilihan hanya berasal dari satu orang wanita, yaitu Sara istri Abraham. Allah tidak pernah menjanjikan Ismael sebagai anak Perjanjian. Kepada Sara, Allah menjanjikan anak, tetapi kepada Hagar, Allah tidak menjanjikan anak. Hal ini menekankan bahwa pada akhirnya umat pilihan hanya satu, yaitu yang berasal dari keturunan Sara. Hal ini juga menegaskan bahwa tidak ada keselamatan yang datang dari bangsa di luar bangsa Israel. Pernyataan ini juga sekaligus meneguhkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus (Kis. 4:12; Yoh. 4:6). Tentu keselamatan di sini maksudnya dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula, yaitu segambar dan serupa dengan Yesus.
    Roma 9:9 sebagai penegasan bahwa bangsa Israel -walaupun keturunan Abraham secara darah daging- akan ditolak; sementara bangsa-bangsa lain yang bukan keturunan Abraham secara darah daging akan menjadi umat pilihan oleh karena iman. Bangsa-bangsa lain karena percaya, maka mereka dibenarkan. Mereka yang dibenarkan karena iman akan terhisap sebagai anak Abraham atau berasal dari satu perempuan, yaitu Sara. Semua ini menggenapi janji Allah kepada Abraham bahwa dari keturunannya (dengan Sara) maka semua bangsa di muka bumi ini akan diberkati (Kej. 12:1-3). Dalam hal ini Tuhan tidak diskriminatif, sasaran atau obyek penerima berkat adalah semua manusia, bukan hanya bangsa Israel secara lahiriah atau secara daging.
    0 min
  • Umat Allah Yang Abadi
    Selanjutnya dalam Roma 9:4-8, tertulis: Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.
    Di dalam ayat-ayat di atas ini, Paulus menunjukkan bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan yang sangat istimewa, yaitu diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji dan keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Walaupun demikian, tidak semua mereka menjadi anak-anak Perjanjian, artinya tidak semua mereka selamanya akan diakui sebagai umat pilihan; milik Allah. Ternyata, keberadaan mereka yang istimewa tersebut bukanlah jaminan bahwa mereka menjadi umat Allah yang abadi di Kerajaan Surga nanti.
    Dalam Roma 9:6-8 tertulis: Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel. Dalam ayat ini Abraham mau menunjukkan siapa sebenarnya yang dimaksud Israel itu. Israel yang sesungguhnya bukan mereka yang berbangsa Israel dari suku-suku yang dilahirkan oleh Yakub (Israel). Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan dalam tulisannya kepada jemaat Efesus 2:11-13 – Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Ayat ini menegaskan apa yang Paulus tulis di dalam Roma 2:29 – Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
    Dalam tulisannya ini Paulus menunjukkan bahwa zaman Perjanjian Lama sudah berlalu. Sesudah Yesus datang ke dunia menebus dosa manusia, seharusnya memasuki zaman baru, yaitu zaman anugerah; zaman Perjanjian Baru. Kebanggaan sebagai umat pilihan secara darah daging sudah tidak mendapat tempat lagi. Umat pilihan Allah tidak lagi berdasarkan garis keturunan secara darah daging, tetapi berdasarkan iman. Itulah sebabnya Paulus menulis: Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal.
    Terdapat kesulitan untuk memahami kalimat dalam Roma 9:6: “Akan tetapi Firman Allah tidak mungkin gagal”. Apa maksudnya ayat ini? Teks asli ayat ini adalah ouks hoin de oti ekpeptoken ho logos tou theou (Οὐχ οἷον δὲ ὅτι ἐκπέπτωκεν ὁ λόγος τοῦ θεοῦ). Kata ekpeptoken dari akar kata ekpipto (ἐκπίπτω) yang bisa berarti beberapa hal, antara lain: fall off or from, drift off course, run aground, fig lose, fail, weaken (jatuh atau dari, hanyut, kandas, kalah, gagal, melemah). Jika dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka Roma 9:6 seharusnya berbunyi: Ini bukan berarti Firman Allah gagal…. Dalam terjemahan bahasa Inggris lebih jelas diterjemahkan: Their condition does not mean that God’s word has failed. 
    Walaupun bangsa Israel berkeadaan begitu istimewa, bukan berarti hal itu menjamin kepastian bahwa mereka akan ...
    0 min
  • Bukan Penentuan Tuhan
    Dari sekian banyak pasal dalam kitab Roma, Roma pasal 9 adalah pasal yang sering diperdebatkan. Pasal ini memuat ayat-ayat yang berbicara mengenai pemilihan, penetapan Allah dan kehendak bebas manusia. Dari pasal ini, oleh kelompok teolog tertentu, telah terbangun premis, gagasan dan doktrin bahwa Allah menetapkan segala sesuatu; di dalamnya juga diyakini bahwa Allah juga menetapkan manusia-manusia tertentu yang akan diselamatkan. Dan tentu saja konsekuensi logisnya adalah mereka yang tidak ditetapkan untuk selamat, berarti tidak akan mengalami dan memiliki keselamatan. Pengajaran ini sering disebut sebagai “predestinasi”.
    Pandangan mengenai penetapan dan pemilihan Allah atas keselamatan manusia tersebut sangat kuat didasarkan pada ayat-ayat di dalam Roma pasal 9 ini. Melalui buku ini, kita temukan bahwa ternyata apa yang mereka tafsirkan terhadap ayat-ayat tersebut -yang mereka jadikan sebagai premis dasar atau pandangan doktrin mereka mengenai predestinasi- sangatlah keliru. Selama berabad-abad, dan sampai sekarang, telah terjadi kesalahan tafsir terhadap ayat-ayat yang terdapat pada pasal ini. Untuk itu, secara khusus kita akan membahas pasal ini. Dengan memahami dengan benar ayat-ayat dalam Roma 9, maka kita memperoleh pijakan untuk membangun pengajaran mengenai keselamatan yang benar-benar Alkitabiah.
    Dalam Roma 9:1-3 Paulus mengungkapkan isi hatinya: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Dari tulisannya ini, Paulus rela terkutuk demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya. Dari pernyataannya tersebut, nampaklah bahwa Paulus rela memikul hukuman akibat kesalahan saudara-saudara sebangsanya yang menolak Yesus sebagai Mesias. Keinginan seperti ini juga pernah dimiliki Musa pada waktu Tuhan hendak meninggalkan bangsa Israel di padang gurun. Musa rela namanya terhapus dari Kitab Kehidupan, demi bangsanya agar tidak ditolak oleh Allah.
    Secara tidak langsung dari pernyataan Paulus ini diajarkan kepada kita bahwa kebinasaan saudara-saudara kaum sebangsanya (sebagian bangsa Israel) disebabkan karena kehendak mereka sendiri yang menolak Mesias. Hal ini tentu bukan karena penentuan dari Allah secara sepihak. Jika Allah yang menentukan keselamatan sekelompok orang dengan memberi kemampuan menerima anugerah, kelompok ini ditentukan untuk tidak bisa menolak anugerah. Tetapi di pihak lain ada kelompok yang ditentukan tidak selamat. Ini berarti mereka tidak bisa menerima anugerah. Menurut ajaran mereka, setiap orang tidak dapat menolak penentuan tersebut. Jika pengajaran ini benar, maka Paulus tidak akan menyatakan pernyataan tersebut dalam suratnya, bahwa dirinya rela terkutuk demi saudara-saudara sebangsanya.
    Kalau keselamatan dan kebinasaan saudara-saudara sebangsanya ditentukan oleh Allah secara sepihak, maka pernyataan Paulus bahwa ia rela menggantikan saudara-saudara sebangsanya sebagai orang yang terkutuk, merupakan sikap melawan Allah. Ini berarti Paulus tidak menerima keputusan Allah. Ini juga sama artinya bahwa Paulus bersikap kurang ajar terhadap Allah. Secara tidak langsung Paulus menyalahkan Allah, sehingga Paulus rela mati karena atau akibat “kesewenang-wenangan atau ketidakadilan Allah” tersebut. Tetapi yang benar adalah -kalau Paulus berani menyatakan bahwa ia sangat berdukacita atas keadaan bangsanya, dan bersedia terkutuk, terpisah dari Kristus demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya- berarti pemberontakan bangsanya terhadap Allah adalah karena keputusan mereka sendiri, bukan karena Allah yang menentukan.
    Dalam hal tersebut, Paulus tidak bermaksud melawan keputusan Allah. Paulus sangat berdukacita atas keputusan salah saudara-saudara sebangsanya dalam kehendak bebas mereka menolak Yesus, sehingga mereka bisa binasa.
    0 min
  • Pengesahan Dari Tuhan
    Dalam suratnya, Paulus menyatakan bahwa ia mengatakan kebenaran dalam Kristus (Rm. 9:1-3). Dalam Kristus di sini berarti Ia memanggil Tuhan Yesus sebagai saksi keadaan diri dan hidupnya. Dari kalimat “kebenaran dalam Kristus” berarti Paulus menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kebenaran dalam Kristus juga berarti bahwa kebenaran hidup yang dikenakan sesuai dengan standar kebenaran dan kesucian Tuhan Yesus sendiri. Inilah standar hidup yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Dalam pernyataan tersebut Paulus hendak mengemukakan bahwa kualitas batiniah kita harus seperti kualitas batiniah Tuhan Yesus sendiri. Jadi bisa dimengerti kalau Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Tuhan Yesus.
    Dengan hal tersebut di atas, maka seharusnya tidak boleh ada tindakan yang dilakukan di luar kehendak Tuhan Yesus. Dalam hal ini Paulus mengajarkan kebenaran kepada kita, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus dalam pengesahan Tuhan. Pengesahan Tuhan artinya bahwa yang kita lakukan di dalam perhatian Tuhan dan telah diperkenan-Nya. Secara tidak langsung, dalam hal ini diajarkan kepada kita bahwa kita harus memperlakukan Tuhan sebagai Pribadi yang hidup dan berdaulat di dalam kehidupan ini. Kebenaran ini bertalian dengan apa yang ditulis Paulus dalam 1 Korintus 10:31 Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
    Selanjutnya Paulus menyatakan: bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati (Rm. 9:2). Paulus tidak mempermainkan perasaannya dan tidak bermaksud menipu orang lain dengan tulisannya tersebut. Kata berdukacita dalam teks aslinya adalah lupe (λύπη), yang artinya kesedihan, penderitaan, kesakitan (grief, sorrow, pain, affliction); yang pada intinya adalah kepedihan hati yang sangat mendalam. Hal ini lebih menunjuk kepada perasaan sakit di dalam batin atau hatinya. Sedangkan kalimat berikutnya “selalu bersedih hati”. Kata “selalu” dalam teks aslinya adalah adialeiptos (ἀδιάλειπτος), yang artinya tidak pernah berhenti atau terus menerus (unceasing, constant). Sedangkan kata “bersedih hati” dalam teks aslinya adalah odune (ὀδύνη), menunjuk kepada kesedihan atau duka yang terus menerus di dalam hati; yang dalam hal ini hati Paulus terhadap keadaan bangsanya yang menuju kebinasaan.
    Perasaan yang dikemukakan oleh Paulus ini menunjuk adanya beban yang tulus terhadap jiwa-jiwa yang menuju kegelapan. Beban seperti ini ada di dalam Diri Tuhan Yesus, yang melalui persekutuan yang benar dengan Dia, Paulus menerima impartasi beban tersebut. Demi keselamatan umat manusia, Tuhan Yesus rela memikul semua penderitaan di atas pundak-Nya. Tuhan Yesus rela terpisah dari Bapa sementara waktu demi menggantikan tempat kita. Oleh karenanya Ia berseru: Eloi Eloi lama sabakhtani. Seharusnya kitalah manusia yang berdosa yang ditinggalkan, tetapi Tuhan Yesus memikul keadaan ditinggalkan oleh Allah Bapa tersebut menggantikan tempat kita.
    Dalam Roma 9:3 Paulus mengatakan: Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Pernyataan ini mengisyaratkan Paulus rela berkorban apa pun demi keselamatan orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan banyak orang Kristen -bahkan pendeta- hari ini. Dalam Perjanjian Lama kita juga menemukan beban seperti ini dalam diri Musa. Musa rela namanya terhapus dalam Kitab Kehidupan demi supaya Tuhan tidak meninggalkan bangsa Israel (Kel. 32:32). Sikap hati seperti ini menunjukkan kualitas pemimpin umat yang benar.
    Banyak orang tidak rela melepaskan miliknya demi keselamatan orang lain. Bahkan mereka mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan demi mencari nafkah dan memuaskan ambisi pribadi. Mereka ada di lingkungan pelayanan demi karir pribadi dan masa depannya di bumi. Pada dasarnya mereka hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri,
    0 min
  • Solusi Yang Benar
    Dalam Roma 9:1-3, memuat pernyataan Paulus yang tidak pernah dikemukakan di bagian manapun dalam suratnya, yaitu: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Apa yang dikemukakan di dalam tulisannya tersebut, menunjukkan kasihnya yang sangat kuat terhadap orang-orang sebangsanya, yaitu bangsa Yahudi. Hal tersebut didorong oleh kerinduannya, agar orang-orang sebangsanya juga mengalami keselamatan seperti dirinya. Beban yang ada di hati Paulus begitu kuat, sehingga ia memberi pernyataan yang sangat luar biasa.
    Paulus memulai suratnya dalam Roma 9 tersebut dengan pernyataannya: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus. Kebenaran yang dimaksud dalam pernyataan Paulus ini adalah suatu fakta yang tidak dibuat-buat, tetapi merupakan keadaan batin atau perasaannya yang tulus. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup dalam kebenaran adalah orang-orang yang tidak berkepribadian belah (dualistis); apa yang dikemukakan atau dinyatakan di dalam bibir maupun ekspresi lahiriahnya adalah apa yang terdapat dalam batinnya, atau di dalam manusia batiniahnya. Ini yang disebut sebagai ketulusan atau sikap tidak munafik.
    Munafik dalam bahasa Aram adalah hanefa, yang pengertian harafiahnya adalah curang. Di zaman Perjanjian Lama, biasanya kata itu menunjuk kepada keadaan diri orang fasik, orang yang bersikap curang atau suka menipu sesamanya dan tidak tulus. Dalam bahasa Yunani, kata munafik adalah hupokrites (ὑποκριτής), yang artinya orang yang memainkan peranan. Orang yang memainkan peranan ini seperti seorang aktor. Munafik merupakan sinonim dari kata “pura-pura”, apa yang diucapkan dan dilakukan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak sesuai dengan hati dan pikirannya. Munafik biasanya dipahami sebagai tidak satunya kata dan perbuatan.
    Satu hal penting yang harus dipahami, bahwa sesungguhnya hanya kebenaran yang akan membuat seseorang tidak berkepribadian belah (split). Sebaliknya, kalau seseorang tidak membiasakan hidup dalam kebenaran, tidak bisa tidak pasti berkepribadian belah. Orang-orang seperti itu tidak menyadari bahwa dirinya berkepribadian belah. Inilah orang-orang yang tidak tulus. Orang yang tulus adalah pribadi yang tidak menipu sesamanya dengan sikap palsu yang ditunjukkan, padahal keadaan batiniahnya tidak sama seperti yang diekspresikan tersebut.
    Dalam Injil dikemukakan dalam banyak kesempatan Tuhan Yesus mengkritik dan mencela pemimpin-pemimpin agama yang munafik (Mat. 6:2; Mat. 23, Luk. 11:39-40; dan lain sebagainya). Penyakit jiwa yang namanya munafik ini, biasa hinggap pada para pemimpin, baik pemimpin agama maupun pemimpin negara. Ada potensi besar mereka melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya, seharusnya para pemimpin belajar untuk tidak munafik dengan selalu memperbaharui sikap hatinya.
    Kecaman Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi terjadi ketika Yesus dikritik atau dikecam karena tidak mencuci tangan sebelum makan. Perlu diketahui bahwa -pada zaman Tuhan Yesus, di Palestina- di dalam kelompok orang Farisi, ada satu kelompok (partai) yang giat melaksanakan Taurat, hukum-hukum Musa secara mutlak dengan memberikan berbagai peraturan tambahan. Secara lahiriah mereka kelihatan saleh dan beribadah, tetapi pada hakikatnya mereka tidak melaksanakan inti Taurat, yaitu kasih. Secara lahiriahnya saja mereka patuh, padahal hatinya tidak memiliki hati yang tunduk dan patuh. Mereka tidak rendah hati di hadapan Tuhan. Hatinya menyimpan berbagai kebusukan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan; seperti kebencian, materialisme, haus kedudukan dan pujian serta sanjungan, dan lain sebagainya. Kepada mereka Tuhan Yesus tegas berkata: Kamu seperti kuburan. Di luar nampak putih tetapi di dalamnya penuh tulang belulang busuk (Mat. 23:27).
    0 min
  • Membuktikan Percayanya
    Dalam Roma 7:25-26 tertulis: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan ini berarti bahwa Paulus dengan sengaja bersungguh-sungguh melakukan hukum Allah, tetapi sementara itu di dalam dirinya masih ada kodrat dosa yang tidak dengan mudah dihilangkan. Dalam logika sederhana saja sangat jelas, bahwa sangatlah tidak mungkin Paulus yang menasihati berulang-ulang untuk hidup dalam pimpinan Roh, tetapi dirinya sendiri tunduk kepada hukum dosa. Dalam tulisannya ini Paulus dengan jujur mengakui bahwa di dalam tubuhnya masih ada kodrat dosa. Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri manusia. Itulah sebabnya Paulus berseru “celaka aku”. Kata “celaka” dalam teks aslinya adalah talaiporos (ταλαίπωρος). Kata talaiporos artinya aku harus bekerja keras. Adapun untuk kata “celaka” yang benar-benar mendatangkan bencana atau kecelakaan dalam bahasa Yunani menggunakan kata ouai (οὐαί).
    Dari kesaksian Paulus tersebut dapatlah diperoleh pelajaran rohani yang sangat berharga: Walaupun seseorang mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi Allah masih membiarkan ada kodrat dosa di dalam tubuhnya. Kodrat dosa orang percaya tidak otomatis lenyap pada waktu ia menyatakan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan kenyataan ini, orang percaya harus berjuang untuk dapat menundukkan dan mematikan kodrat dosanya. Inilah perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya (Ibr. 12:1-2). Orang percaya harus memenangkan perlombaan tersebut. Tuhan Yesus menggantikan orang percaya untuk meraihkan kemenangan secara gratis kepada orang percaya. Tuhan Yesus dalam pengorbanan-Nya mencapai kemenangan bagi diri-Nya, dan dari kemenangan tersebut Ia dapat memberikan fasilitas keselamatan kepada orang percaya untuk dapat menang. Menang di sini artinya mengenakan kodrat Ilahi.
    Kemenangan dalam hidup orang percaya dapat terjadi, jika orang percaya menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Paulus menasihati orang percaya untuk selalu melakukan pembaharuan pikiran. Melakukan pembaharuan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan adalah cara untuk menundukkan pikiran bagi Allah. Terkait dengan hal ini dalam 2 Korintus 10:4 Paulus menyatakan: karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kuasa yang dimaksud adalah kebenaran Firman, sedangkan benteng-benteng adalah pikiran yang bukan berasal dari Allah.
    Kemenangan orang percaya diawali dari usahanya untuk terus menerus memperbarui pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesus pun menyatakan kalau seseorang tetap di dalam Firman, artinya tekun belajar kebenaran Firman, maka ia dapat menjadi murid artinya bisa diubah oleh Tuhan. Selanjutnya, ia akan mengenal  kebenaran dan kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Ini adalah sebuah perjuangan. Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan dirinya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Paulus bersyukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan, maka ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada Tuhan, guna melakukan kehendak Bapa yang diwakili Roh Kudus. Itulah yang dimaksud kemenangan yang sejati.
    Paulus dengan sungguh-sungguh menundukkan diri kepada hukum Allah, atau pikirannya (akal budi) melayani hukum Allah, walaupun dalam kenyataannya ia masih mengenakan tubuh yang berkodrat dosa. Perjuangan yang dilakukan, semata-mata karena ia mengasihi Tuhan. Kalau kodrat dosa dengan mudah secara otomatis dicabut oleh Tuhan, maka orang percaya tidak dapat menunjukkan kesungguhannya untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau manusia tidak memiliki kodrat dosa yang harus ditundukkan atau dimatikan,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…