Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Memandang Hukum Dan Peraturan
    Dalam Roma 7:12 tertulis: Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Dengan pernyataan ini Paulus hendak menegaskan bahwa kalau manusia berdosa, atau berkeadaan tidak berkenan kepada Allah, bukan karena adanya hukum (Yun. Nomos; Ing. law) atau adanya perintah (Yun. Entole; Ing Commandment). Lebih menegaskan hal ini, Paulus menulis di dalam Roma 7:13 sebagai berikut: Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tentu maksud hukum diberikan kepada manusia bukan bermaksud menjadi jerat bagi manusia, agar manusia dapat terjebak sebagai orang terhukum dan dibinasakan. Hukum dan peraturan diberikan kepada umat Israel, dengan maksud:

    * agar bangsa tersebut hidup tertib sebagai umat pilihan yang bertugas menyimpan dokumen pengenalan akan Allah yang benar;
    * dan menunjukkan standar moral yang baik yang Allah kehendaki untuk manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah;
    * juga bangsa itu harus tetap eksis, karena dari mereka akan dilahirkan Mesias.

    Hukum dan perintah menjadi tutor bagi manusia -dalam hal ini pada mulanya untuk bangsa Israel sebagai pewaris pertama keselamatan- untuk membimbing mereka kepada hidup dalam kesempurnaan sesuai dengan maksud keselamatan. Bagaimana seseorang bisa memiliki hidup dalam kesempurnaan seperti Bapa, kalau secara hukum dan peraturan saja tidak mampu melakukannya? Hukum dan peraturan juga menjadi latihan awal bagi seseorang untuk menjadi manusia yang berkeadaan agung, serupa dengan Yesus, atau dikembalikan sesuai dengan rancangan Allah semula.
    Terkait dengan hal ini, terdapat teolog-teolog yang hendak membela doktrin bahwa keselamatan manusia diterima bukan karena perbuatan baik, tetapi dengan pengertian yang salah. Secara terselubung, maupun terang-terangan, mereka mengarahkan jemaat kepada pemikiran bahwa hukum diberikan hanya untuk membuktikan manusia berkeadaan berdosa, dan nanti dalam pengadilan bisa dijebloskan ke dalam penghukuman. Mereka menggiring pemikiran jemaat kepada premis bahwa hukum diberikan kepada manusia untuk menjerat manusia agar terbukti berbuat suatu kesalahan, sehingga demi keadilan Allah manusia harus dibinasakan. Betapa licik dan jahatnya allah seperti ini?
    Teolog-teolog yang menyimpang dari kebenaran ini, mencoba mengemukakan pengajaran tersebut, hanya karena hendak menentang setiap bentuk tindakan atau usaha berbuat baik, seakan-akan usaha untuk berbuat baik dianggap selalu sebagai usaha untuk memperoleh keselamatan. Mereka memahami pengertian solagratia (keselamatan hanya oleh anugerah) secara keliru. Bagi mereka, keselamatan terjadi bukan karena perbuatan baik, titik. Jadi, dalam keselamatan tidak diperlukan usaha untuk melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik selalu dicurigai sebagai usaha untuk menentang prinsip solagratia. Dengan berpikir demikian, mereka merasa menghormati Tuhan karena anugerah-Nya, dan bersikap rendah hati. Padahal dengan pemikiran tersebut, mereka menentang kebenaran Allah. Menentang kebenaran Allah berarti tidak menghormati secara patut kepada-Nya.
    Doktrin dari para teolog yang menyimpang tersebut membutakan pengertian yang benar, sehingga jemaat tidak bisa membedakan antara usaha berbuat baik untuk mencari keselamatan tanpa korban Kristus (seperti yang dilakukan banyak agama), dengan usaha berbuat baik bahkan berjuang untuk sempurna sebagai langkah percayanya kepada Tuhan Yesus. Hal ini bisa terjadi atas mereka, sebab pengertian para teolog tersebut mengenai percaya hanya ada di wilayah nalar semata-mata. Bagi mereka, percaya atau beriman adalah keyakinan dalam pikiran terhadap status Yesus sebagai Juruselamat. Bagi mereka, percaya atau beriman cukup dengan pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Padahal percaya adalah tindakan konkret melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk dilakukan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Percaya dalam teks aslinya adalah pisteuo yang artinya menyerahkan diri kepada obyek y...
    0 min
  • Hubungan Dan Kedudukan Dua Bangsa
    Hubungan bangsa Israel atau umat Perjanjian Lama dan orang percaya atau umat Perjanjian Baru, serta kedudukan mereka di hadapan Tuhan serta perbedaannya, merupakan suatu hal yang harus dipahami dengan tepat. Ketidakmampuan memahami relasi, kedudukan mereka di hadapan Tuhan dan perbedaan di antara keduanya, sangat berpengaruh dalam kehidupan orang percaya. Bila salah memahami hal tersebut, seseorang juga akan gagal memahami hal perpuluhan dan persembahan yang lain. Sebab biasanya, orang Kristen -khususnya para pendeta atau pembicara- mencampur adukan ayat-ayat Firman Tuhan yang khusus ditujukan bagi umat Perjanjian Lama dengan ayat-ayat untuk umat Perjanjian Baru. Sebagai akibatnya, terjadi kesalahan tafsir yang sangat fatal. Hal ini juga mengaburkan standar norma yang dikenakan bagi umat Perjanjian Baru, serta merusak pola berpikir umat Perjanjian Baru sehingga mengacaukan pula tujuan hidup Umat Perjanjian Baru.
    Untuk menganalisa relasi, kedudukan bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru serta perbedaan di antara keduanya, dibutuhkan kejujuran dan kecerdasan dalam memahami isi Alkitab. Harus diakui bahwa orang percaya adalah kelanjutan sejarah umat pilihan Allah atau sejarah Kerajaan Allah. Sejarah Kerajaan Allah ini dimulai dari Abraham (Kej. 12). Sebab sejak pemilihan Abraham sebagai umat pilihan-Nya, Tuhan memfokuskan perhatian kepada suatu bangsa yang akan menggenapi rencana-Nya, yaitu keselamatan manusia di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya dalam pemanggilan Abraham, Tuhan menyatakan bahwa dari padanya semua penduduk bumi ini akan diberkati.
    Baik orang Yahudi maupun orang Kristen adalah sama-sama sebagai kekasih Tuhan, yaitu sebagai umat pilihan. Kedua-duanya dipanggil untuk menggenapi rencana Allah. Kalau bangsa Israel menggenapi rencana Tuhan dalam masa sebelum Mesias datang, tetapi umat Perjanjian Baru bertugas untuk menjadi umat yang memenuhi rencana Allah sebagai Corpus Delicti. Umat Perjanjian Baru bertugas untuk meneruskan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus sampai ke ujung bumi, atau pelebaran Kerajaan Allah (Mat. 28:19-20, Kis. 2:8).
    Orang Kristen juga disebut sebagai Israel rohani. Tetapi apa bedanya kita dengan bangsa Israel secara jasmani yang disebut sebagai orang Yahudi? Kita harus memandang Alkitab sebagai urut-urutan sejarah Kerajaan Allah yang harus dikenali secara sistematis dan runtut. Kalau cara kita memandang Alkitab salah, maka kita juga gagal memandang dengan benar perbedaan antara umat Perjanjian Lama dan umat Perjanjian Baru. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang menyamakan antara umat Perjanjian Lama dan umat Perjanjian Baru. Mereka tidak mengerti perbedaan yang sangat prinsip. Dalam hal perpuluhan pun juga disamakan. Hal ini menjadi kesalahan.
    Banyak pengajaran yang diambil dari Perjanjian Lama tanpa memverifikasi dengan ajaran Injil Tuhan Yesus Kristus. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima Injil, sebab terlalu kaku dan ketat dengan keberagamaan Yahudinya. Sebenarnya bila seseorang mempelajari dan menggali Perjanjian Baru, maka tidaklah habis-habisnya kebenaran yang dapat diperoleh dari dalamnya, yang membuat orang percaya menemukan dirinya sebagai umat pilihan yang standar moralnya adalah Tuhan sendiri. Ini bukan berarti Perjanjian Lama tidak penting, tetapi Perjanjian Lama bukan sebagai pusat kebenaran. Pusat kebenaran atau episentrum kebenaran adalah Injil dalam Perjanjian Baru. Banyak pendeta atau pembicara yang pandangannya memang dialaskan pada Alkitab, tetapi tidak sampai kepada inti keselamatan dalam Yesus Kristus. Sehingga mereka gagal memahami kebenaran inti dari Injil. Termasuk di dalamnya memahami kebenaran mengenai perpuluhan dan persembahan yang lain.
    Kalau kita konsekuen mengakui bahwa Kekeristenan bukanlah agama, maka kita harus menghilangkan unsur-unsur agamani yang merusak kemurnian iman Kristen. Perpuluhan adalah praktik yang masih memiliki unsur keagamaan Yahudi.  Menghilangkan unsur-unsur agamani ini bukan sesuatu yang mudah,
    0 min
  • Bahaya Di Akhir Zaman
    Tidak bisa dibantah, bahwa di dunia modern sekarang ini, uang semakin memainkan peranan yang sangat besar dan penting; uang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Uang telah menjadi fokus hidup satu-satunya pada hampir semua orang. Hal ini telah dinubuatkan oleh Alkitab dalam 2 Timotius 3:2, bahwa di akhir zaman nanti manusia telah menjadi hamba uang. Uang memiliki keterkaitan langsung dengan berbagai aspek kehidupan, selain ekonomi, juga sosial, politik, budaya dan lain sebagainya. Hampir segala hal bertalian dengan uang. Uang digunakan untuk memperoleh segala kebutuhan, dari kebutuhan primer, sekunder sampai tersier.
    Tidak sedikit orang-orang Kristen yang juga sudah menjadi hamba uang. Menjadi hamba uang artinya hidupnya dikendalikan atau dikuasai oleh uang. Kebahagiaan orang seperti ini hanya tertumpu oleh materi. Dunia yang materialistis menciptakan keadaan di mana uang menjadi “segalanya” dan menjadi pusat kehidupan. Keadaan dunia seperti ini, pasti memberi pengaruh sangat kuat dalam kehidupan banyak orang Kristen. Kalau jujur, ternyata banyak jemaat dan pendeta yang telah terbelenggu oleh kekayaan dan menjadi hamba uang. Mereka berusaha untuk memiliki uang dalam jumlah besar, dengan pemikiran bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin merasa aman, nyaman dan bahagia. Cinta akan uang seperti raksasa kuat yang tidak mudah dikalahkan, tetapi kita harus bisa mengalahkannya dalam hidup ini dan menolong orang lain juga untuk bisa dimerdekakan dari belenggu harta kekayaan dan uang.
    Cinta uang artinya keadaan hati yang merasa tidak bahagia, jika tidak memiliki uang dalam jumlah tertentu yang diharapkan dapat membahagiakan dirinya. Orang seperti ini akan selalu mengharapkan dan berusaha memiliki uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk dapat memenuhi semua keinginannya, guna membeli atau memperoleh segala sesuatu yang ditawarkan dunia. Biasanya ia juga tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan cara berpikir seperti ini, tidak heran jika mereka tidak berani mengakui bahwa semua uang dan hartanya adalah milik Tuhan. Sehingga mereka tidak mengembalikan milik Tuhan secara patut. Mereka adalah orang-orang yang telah terperangkap dalam kubangan cinta akan uang yang membinasakan.
    Sebagian besar orang Kristen dan sebagian pendeta tidak menyadari bahaya yang begitu besar dan mengerikan mengenai dosa cinta akan uang atau materialisme ini. Materialisme ialah semangat hidup dan sikap yang merendahkan nilai-nilai rohani, sehingga mengesampingkan kehidupan rohani demi mengutamakan kebutuhan jasmani. Menurut mereka, nilai tertinggi manusia adalah materi (benda). Pendeta yang menganut filosofi ini pasti mengajarkan Teologi Kemakmuran (prosperity theology). Ini adalah berhala yang sangat dominan menguasai alam pikiran manusia modern dewasa ini. Salah satu ciri dari berhala ini adalah manusia yang terikat kepadanya menjadi sangat konsumeristis. Konsumeristis ini dimulai dari tingkat terbatas sampai pada tingkat tidak terbatas. Tingkat yang tidak terbatas artinya selalu ingin memiliki barang yang dimiliki orang lain atau yang ditawarkan dunia. Filosofi ini disebut sebagai affluenza.
     
    Tuhan Yesus mengatakan kita harus melepaskan diri dari segala milik agar layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Melepaskan diri dari segala milik berarti juga terlepas dari belenggu cinta uang. Orang yang masih terikat dengan percintaan uang, tidak akan dapat berubah dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi dan bertumbuh dalam keselamatan. Oleh sebab itu seseorang harus bersikap benar terhadap uang, agar tidak terjebak dalam cinta akan uang. Sikap yang benar adalah menjadikan kekayaan atau uang untuk bersahabat dengan Tuhan. Kita mengikatkan diri dengan Tuhan atau bersahabat dengan Tuhan dengan menggunakan mamon atau uang dan kekayaan. Bukan sebaliknya, yaitu bersahabat dengan mamon dengan menggunakan Tuhan. Pada umumnya Teologi Kemakmuran tanpa sadar mengajarkan bersahabat dengan Tuhan demi mamon.
    0 min
  • Pengajar Berhak Memperoleh Persembahan
    Dalam Galatia 6:6 Firman Tuhan mengatakan: Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. Pernyataan Firman Tuhan ini mengindikasikan sangat jelas bahwa orang-orang yang dilayani oleh hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan Firman (yang benar), patut “membagi segala sesuatu yang ada padanya”. Frase “segala sesuatu yang ada padanya”, tidak hanya menunjuk sepersepuluh dari hartanya. Kalimat ini menunjukkan bahwa seorang pemberita Firman patut atau layak hidup seperti orang-orang yang dilayani. Sehingga berkeadaan tidak berkekurangan atau juga tidak berkelebihan.
    Fakta yang terjadi dalam kehidupan banyak komunitas Kristen, tidak sedikit hamba-hamba yang memberitakan Firman hidup di dalam kekurangan. Hal ini terjadi, selain karena jumlah jemaatnya sangat kecil, juga karena banyak jemaat yang tidak memberi persembahan perpuluhan dan memberikan persembahan uang “ala kadarnya saja”. Mereka tidak ikut memikul beban pekerjaan Tuhan secara proporsional. Kehidupan hamba Tuhan yang memberitakan Firman adalah pekerjaan Tuhan yang menjadi tanggung jawab semua jemaat. Menelantarkan pendeta dan keluarganya, sama dengan menelantarkan pekerjaan Tuhan. Banyak jemaat yang pelit dan “perhitungan” dengan Tuhan. Jemaat seperti ini pada dasarnya adalah pemberontak-pemberontak yang tidak mengembalikan milik Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Jadi tidak salah kalau mereka patut dicap sebagai pencuri atau “oknum” yang menggelapkan milik Tuhan.
    Seorang pengajar Firman Tuhan, idealnya tidak lagi disibukkan oleh kebutuhan pemenuhan kebutuhan jasmani, sehingga pelayanannya terganggu atau terkendala. Jemaat yang mampu “menghidupi” atau memberi nafkah para pendeta-pendetanya, wajib membagi segala sesuatu yang ada padanya untuk kehidupan para pendeta dan keluarganya tersebut. Hal ini harus dilakukan dalam kerelaan, kasih dan ketulusan, dengan berprinsip bahwa semua dilakukan untuk Tuhan. Terkait dengan hal persembahan bagi kehidupan pendeta dan keluarganya, hendaknya jemaat memberi persembahan bukan karena hendak “membeli” pendeta, atau untuk dapat mengatur pendeta dan pelayanannya.
    Kalau ternyata jemaat tidak mampu menghidupi pendetanya atau Gembala Sidangnya dan semua pelayan-pelayan Firman di gereja tersebut, tidak salah kalau pendeta bekerja mencari nafkah sendiri. Paulus telah memberi teladan kepada para hamba-hamba Tuhan. Paulus bekerja dengan tangannya sendiri membuat kemah guna biaya perjalanan misinya dan biaya perjalanan teman-teman sepelayanannya (Kis. 20:34). Dalam hal ini tidak bisa dipersalahkan kalau seorang pendeta bekerja mencari nafkah untuk kepentingan dan kebutuhan pelayanan dan keluarganya. Tetapi hal tersebut bisa dilakukan hanya dalam kondisi ekstrem, yaitu ketika jemaat tidak bisa menghidupi pendetanya atau ketika pendeta harus memberi contoh kehidupan kepada jemaat, yaitu bagaimana pendeta bekerja hanya untuk Tuhan.
    Seperti yang dikemukakan di atas, kalau jemaat membagi segala sesuatu yang ada padanya untuk hamba Tuhan yang memberitakan Firman, dimaksudkan agar hamba-hamba Tuhan ini dan keluarganya memiliki kehidupan yang layak atau pantas. Tetapi kalau membuat hidup pendeta dan keluarganya dalam kemewahan, atau melebihi kehidupan jemaat pada umumnya, berarti ada sesuatu yang salah. Biasanya, hamba-hamba Tuhan seperti itu menjadikan atau memakai hukum perpuluhan, Persembahan Buah Sulung dan berbagai persembahan lain sebagai sarana untuk mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri.
    Terkait dengan hal di atas ini, kita belajar dari Paulus dalam kesaksiannya yang mengatakan: “…dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan… aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah… Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.
    0 min
  • Persembahan Buah Sulung
    Dewasa ini terdapat tren di beberapa gereja yang menerapkan Persembahan Buah Sulung. Hal ini dianjurkan atau diperintahkan Gembala Sidang atau pemimpin jemaat untuk dilakukan. Tidak sedikit jemaat yang dengan tulus mematuhinya. Mereka yang baru mendapat pekerjaan, memberikan seluruh gaji pertama untuk Persembahan Buah Sulung di gereja. Selain itu, dianjurkan agar gaji pertama setiap awal tahun -dalam hal ini bulan Januari- harus dipersembahkan bagi Tuhan di gereja. Ada pula yang memperpanjang waktu Persembahan Buah Sulung tahunan sampai dengan bulan Februari atau Maret. Oleh sebab itu perlu kita memahami apa sebenarnya Persembahan Buah Sulung yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama.
    Dalam Perjanjian Lama kita menemukan Persembahan Buah Sulung yang pertama adalah anak-anak sulung, baik anak sulung manusia maupun anak sulung binatang (Kel. 12:2-12). Kalau jemaat Kristen konsekuen dengan Persembahan Buah Sulung “ala Yahudi” dalam kitab Perjanjian Lama, maka anak sulung mereka juga harus dipersembahkan bagi Tuhan. Dalam hal ini kita tidak tahu, bagaimana mengimplementasikan buah sulung dari anak kita. Karena bagi umat Perjanjian Baru, semua anak-anak adalah milik pusaka Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua untuk dibina guna menjadi hamba-hamba Tuhan.  Hamba Tuhan di sini bukan berarti harus menjadi pendeta, tetapi di bidang yang setiap individu anak-anak geluti, mereka memerankan panggilan sebagai hamba Tuhan.
    Anak pertama dari hewan yang dipelihara atau diternakan umat Israel harus dipersembahkan bagi Tuhan. Bagaimana mengenakan hukum ini dalam kehidupan orang percaya? Apakah sama dengan gaji pertama yang diperoleh ketika seseorang mendapatkan pekerjaan? Kalau seseseorang baru mendapat pekerjaan, lalu gaji pertama harus diserahkan di gereja, bagaimana dengan ongkos untuk menuju ke tempat pekerjaan setiap harinya bagi yang tidak mampu? Kalau jemaat tersebut adalah seorang bapak rumah tangga yang baru mendapat pekerjaan setelah sekian lama menganggur, dimana ia juga banyak dibebani hutang, apakah seluruh gaji pertamanya harus diserahkan ke gereja?
    Persembahan Buah Sulung terdapat dalam beberapa ayat dalam Alkitab, antara lain: Keluaran 12:2,12; Bilangan 15:17-21; 18:12-15; 28:26; Ulangan 18:3-4; 15:19-20; 26:1-10; Imamat 19:24; 23:10-14, 17, 20 dan lain sebagainya. Persembahan Buah Sulung merupakan ucapan syukur atas panen yang bangsa Israel peroleh. Mereka menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Allah. Harus dipahami bahwa maksud Persembahan Buah Sulung bagi bangsa Israel bukan berarti semua hasil panen tersebut diserahkan kepada Tuhan, tetapi hanya “sebakul” atau “seberkas”, dan yang dipersembahkan adalah hasil terbaik dari gandum, buah-buahan, domba, bulu domba, dan lain sebagainya. Persembahan itu diberikan kepada imam pada waktu pesta-pesta merayakan panen mereka. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ini berarti semua gaji pertama diserahkan ke gereja atau setiap tahun pada bulan pertama (Januari) menyerahkan semua penghasilan atau gaji ke gereja. Persembahan Buah Sulung di Israel juga hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki ternak dan pekerjaannya bertani atau agraria.
    Kalau jujur dan mengerti kebenaran, seharusnya Persembahan Buah Sulung tidak diterapkan bagi umat Perjanjian Baru. Jika diterapkan, maka jelas menunjukkan bahwa gereja yang mengajarkan Persembahan Buah Sulung adalah gereja yang “berbisnis” untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin. Semua ayat Alkitab yang kira-kira bisa digunakan untuk menghasilkan uang, digunakan, demi menambah jumlah uang persembahan yang diperoleh gereja.
    Seperti yang terjadi dewasa ini, bagaimana ayat-ayat Alkitab dipelintir guna memperoleh penghasilan uang yang lebih besar dari jemaat bagi gereja. Misalnya:
    • Maleakhi 3:10-11, digunakan untuk mengintimidasi jemaat.
    •Matius 13:3-8 berbicara mengenai benih Firman yang bisa menghasilkan karakter Allah, digunakan untuk konteks persembahan uang.
    0 min
  • Hanya Tuhan Yang Tahu
    Tuhan Yesus mengajar mengenai kehidupan beribadah yang benar, yaitu ibadah yang tidak dipertontonkan atau ditunjukkan di depan orang lain. Dalam beberapa bagian di Alkitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyinggung mengenai ibadah ini. Ibadah yang dipercakapkan Tuhan Yesus adalah memberi sedekah atau menolong orang dan berdoa (Mat. 4:23; 6:2). Memberi persembahan juga merupakan ibadah kepada Tuhan. Memberi persembahan juga tidak boleh sengaja dipertontonkan atau ditunjukkan di depan orang.
    Tidaklah salah kalau orang tahu atau melihat apa yang kita lakukan dengan persembahan uang yang kita bawa kepada Tuhan. Tetapi menjadi salah, kalau persembahan yang kita bawa kepada Tuhan, sengaja kita tunjukkan supaya banyak orang dapat melihat atau mengetahuinya. Hal ini jelas merupakan upaya untuk mendapatkan kehormatan dari manusia. Tuhan mengecam praktik ibadah semacam ini.
    Jemaat yang dewasa adalah jemaat yang diajar untuk memiliki pemahaman mengenai hidup Kristen yang benar, seperti yang diurai di bab-bab sebelumnya; bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan. Tidak mengakui hal ini berarti menolak penebusan Tuhan. Dengan dimiliki oleh Tuhan, maka kita harus bersedia mengembalikan harta atau uang kita kepada Tuhan. Oleh karena porsi yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita berbeda, maka jumlah persembahan uang yang kita persembahkan pun juga berbeda. Harus dipahami bahwa jumlah bukanlah ukuran kesetiaan. Seorang janda yang memberi persembahan dua peser diakui Tuhan Yesus sebagai memberi lebih banyak (Luk. 21:1-4).
    Jadi, persembahan yang benar bagi orang percaya adalah persembahan yang diberikan dengan kesadaran bahwa seluruh tubuh, nyawa, harta dan uang kita adalah milik Tuhan. Semua yang kita miliki harus dijadikan sebagai sarana pengabdian bagi Tuhan. Tentu harus seratus persen atau segenapnya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita dapat melihat contoh Zakheus yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Luk. 19:8). Di zaman Kisah Para Rasul, orang percaya memberikan seluruh hartanya bagi Tuhan untuk kepentingan semua anggota komunitas orang percaya (Kis. 2:45; 4:36-37). Tetapi yang terpenting dalam memberi persembahan adalah kita tidak sengaja mempertontonkan kepada orang lain demi mendapat pujian atau sanjungan.
    Sebaliknya, dari pihak gereja hendaknya tidak menyanjung-nyanjung orang tertentu karena persembahan uangnya dalam jumlah besar. Penghargaan gereja kepada mereka yang memberi persembahan tidak boleh menyesatkan. “Keramahtamahan” yang berlebihan kepada mereka yang memberi persembahan uang dalam jumlah besar, tidak mendidik jemaat. Keramahtamahan yang berlebihan tersebut memberi kesan seakan-akan ia berjasa bagi Tuhan. Karena hal tersebut, maka banyak orang kaya memberi persembahan karena sekadar hendak memperoleh pujian. Perlu dicatat di sini, bahwa ada orang-orang kaya yang haus kehormatan, mereka sudah memperoleh kehormatan di dunia sekuler di luar gereja, sekarang mereka mau memperoleh kehormatan di lingkungan gereja. Mereka berharap Tuhan pun menghormati mereka. Dalam hal ini pendeta dianggap mewakili Tuhan. Oleh sebab itu, pendeta harus memiliki integritas agar “tidak bisa dibeli” oleh orang-orang berduit banyak tersebut.
    Jemaat harus diajar untuk memberi persembahan dengan benar. Bukan karena hendak mendapat pujian dan keramahtamahan yang berlebihan dari gereja atau motif lain yang salah. Jemaat harus memberi persembahan dengan prinsip bahwa dirinya sendiri sedang berurusan dengan Tuhan. Itulah sebabnya adalah baik kalau persembahan bisa disalurkan melalui mesin EDC yang tertutup, ATM yang tidak dilihat orang atau transfer antar bank. Jemaat bisa diajar agar mereka mempersiapkan persembahan sejak dari rumah. Jika perlu amplopnya pun sudah disiapkan oleh mereka sendiri. Hal ini adalah untuk mengajar jemaat memiliki sikap hati yang benar dalam memberi persembahan bagi Tuhan. Pihak gereja dapat menempatkan kotak persembahan di pintu masuk gereja,
    0 min
  • Cara Memberi Persembahan
    Cara memberi persembahan di dalam banyak gereja, bermacam-macam. Tetapi cara konservatif yang umum dalam gereja-gereja biasanya menggunakan kantong kolekte dan kotak persembahan. Kantong kolekte biasanya diedarkan, sedangkan kotak kolekte biasanya diletakkan di pintu masuk gereja atau ada pula yang menaruhnya di depan jemaat, di samping atau di depan mimbar. Jemaat Kristen di dunia sudah tidak asing dengan kantong kolekte. Sejak menjadi orang Kristen, mereka sudah terbiasa melihat kantong kolekte dalam gereja. Ada gereja yang memiliki bermacam-macam warna kantong kolekte, sesuai dengan peruntukan uang kolekte tersebut.
    Biasanya berdoa untuk persembahan juga disertai dengan doa bagi mereka yang memberi persembahan. Tidaklah salah mendoakan mereka yang memberi persembahan. Tetapi harus diingat, bahwa berkat Tuhan dicurahkan kepada kehidupan seseorang bukan sekadar karena melayangkan beberapa lembar uang ke dalam kantong kolekte. Kiranya kita dapat menghindarkan jemaat dari pandangan yang salah mengenai Tuhan. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang murahan, yang dapat “disuap” dengan beberapa lembar uang untuk kolekte, kemudian jemaat diberkati secara finansial dengan berlimpah. Berkat Tuhan diberikan kepada orang percaya sesuai dengan kepercayaan Tuhan atas pribadi-pribadi tersebut dan kelayakan mereka menjadi orang yang diberkati oleh Tuhan.
    Ada pula gereja yang sebelum mempersembahkan persembahannya mengangkat amplop ke atas untuk diberkati. Hal ini juga sebenarnya tidak jelas maksudnya. Tetapi yang pasti bisa terjadi, mereka yang tidak memberi persembahan, bisa dipermalukan karena tidak membawa persembahan. Lebih memalukan lagi bagi yang tidak memberi persembahan, kalau persembahan harus dibawa ke kotak persembahan di depan mimbar. Mereka harus berjalan berurut untuk memberi persembahan, maka sangat tidak mungkin tidak diketahui siapa yang tidak memberi persembahan. Cara-cara ini bisa merupakan intimidasi bagi yang tidak memberi persembahan. Tentu saja hal ini merupakan pendidikan yang buruk bagi jemaat. Apakah kalau amplop berisi uang tidak diangkat dan tidak didoakan berarti persembahannya tidak diperkenan atau tidak diberkati oleh Tuhan? Kita harus jujur dan cerdas untuk memperkarakan dengan serius serta rendah hati, tindakan-tindakan dalam persembahan tersebut.
    Dewasa ini beberapa gereja sudah mulai memasang mesin EDC untuk supaya jemaat dapat memberikan persembahan. Mesin EDC adalah sebuah alat untuk menerima pembayaran yang menghubungkan rekening si pemberi atau si pembayar dengan rekening si penerima. Dengan alat ini, dana si pemberi atau si pembayar dapat seketika itu juga (real time) berpindah ke rekening si penerima. Biasanya alat ini ada di pusat perbelanjaan, POM bensin, toko, resto, café dan lain sebagainya. Sekarang ada gereja-gereja yang sudah mulai memasang mesin EDC ini untuk sarana jemaat memberi persembahan.
    Terkait dengan sub tema ini, perlu dipersoalkan: apakah salah kalau gereja menyediakan mesin EDC (Electronic Data Capture)? Jawabnya adalah tergantung motivasi menggunakan mesin EDC tersebut. Kalau motivasinya supaya persembahan bisa lebih banyak, dan jika hal ini didorong oleh nafsu serakah -karena gereja dalam hal ini pendeta dan stafnya hendak memancing jemaat supaya terpacu memberi persembahan uang lebih banyak- tentu sangat salah dan merupakan dosa. Tetapi kalau memasang mesin EDC tersebut demi kemudahan atau kepraktisan, tidaklah bisa dikatakan salah. Motivasi mengadakan mesin EDC guna sarana persembahan sangat harus diperhatikan, supaya kita tidak berdosa kepada Tuhan.
    Oleh sebab itu, jemaat harus diajar bagaimana hidup sesuai dengan kehendak Allah. Segala sesuatu yang dimiliki jemaat adalah milik Tuhan. Memberi persembahan, baik melalui uang cash atau melalui mesin EDC, ATM atau melalui transfer adalah sama saja. Dalam hal ini, yang penting adalah sikap hati jemaat dalam memberi persembahan dan sikap para pelayan Tuhan dalam menyediakan sarana bagi jemaat dalam memberi p...
    0 min
  • Pembedaan Pengunaan Uang Persembahan
    Dalam beberapa gereja terdapat edaran kolekte beberapa kali, dengan warna kantong kolekte yang berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan penggunaan atau peruntukan uang persembahan tersebut. Apakah ini benar? Tentu tidak bisa dikatakan salah, tetapi sulit untuk dibenarkan pula. Dalam kebaktian, di gereja-gereja tertentu, kantong kolekte diedarkan beberapa kali. Ada yang dua kali, sampai ada yang empat kali. Dalam gereja-gereja tertentu hal ini sudah menjadi budaya dan pola pemberian persembahan selama bertahun-tahun, puluhan tahun bahkan bisa sudah ratusan tahun. Jemaat sudah terbiasa dengan cara tersebut. Mereka tidak pernah mempersoalkan atau mempertanyakan hal persembahan ini. Mereka menganggap hal itu sudah sepantasnya atau bahkan dianggap sudah seharusnya.
    Tidak jarang jemaat yang datang ke gereja, sebelum sampai ke pintu masuk gereja, sudah menukar uangnya di jalan. Mereka malu kalau tidak memasukkan tangan ke dalam kantong kolekte. Oleh sebab itu mereka harus memecah uang mereka untuk persembahan dalam beberapa lembar atau beberapa kelompok. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi, karena mereka merasa malu jika tidak mengulurkan tangan memberi persembahan. Itulah sebabnya bisa terjadi, ada yang memasukkan tangan ke dalam kantong persembahan tanpa memberi, hanya karena mau memperlihatkan seakan-akan ia memberi persembahan, padahal ia tidak memberi persembahan sama sekali.
    Seharusnya jemaat memercayai penggunaan uang persembahan yang diserahkan ke gereja. Sehingga pihak gereja dapat secara fleksibel menggunakan uang persembahan jemaat sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang bisa selalu berubah. Harus disadari bahwa kebutuhan pelayanan tidak selalu sama. Kalau uang persembahan sudah dibagi dalam beberapa “kavling”, maka penggunaannya tidak bisa fleksibel. Dengan alokasi kaku tersebut, gereja tertawan terhadap jumlah uang yang dipersembahkan jemaat. Seakan-akan jemaat dapat mengatur gereja dalam penggunaan uang persembahan yang termarjin di masing-masing lokasi.
    Mengedarkan beberapa kantong tidaklah salah, terlebih kalau ada kebutuhan khusus gereja seperti: pembangunan gereja, membeli lahan parkir dan lain sebagainya. Untuk kebutuhan khusus tersebut bisa diedarkan kantong khusus atau amplop khusus. Tetapi kalau suatu gereja sudah membiasakan diri dengan cara tersebut bagi jemaat, yaitu mengedarkan bermacam-macam kantong persembahan (kolekte) untuk mengumpulkan persembahan, maka kebiasaan tersebut akan sulit untuk diubah.
    Ada pula gereja yang menyediakan amplop dengan beberapa keterangan, di mana jemaat harus mencontreng salah satu pilihan. Maksudnya adalah guna menunjukkan peruntukan persembahan yang diberikan. Beberapa keterangan itu antara lain: Perpuluhan, diakonia, misi, pembangunan gereja, ucapan syukur naik gaji atau naik pangkat, istri mengandung, melahirkan anak, lulus dari sekolah atau kuliah dan lain sebagainya. Membaca tulisan amplop tersebut menimbulkan kesan lucu, tetapi itulah faktanya ada gereja memberlakukan hal tersebut.
    Tanpa disadari pembagian persembahan seperti di atas, dengan berbagai keterangan tersebut, mengesankan Tuhan adalah Tuhan bayaran. Setiap kali Tuhan memberkati umat, maka Tuhan menagih uang untuk dibayar. Betapa murahannya Tuhan seperti itu. Gereja seperti ini tidak mendidik jemaat menjadi dewasa, yang belajar untuk memahami bahwa seluruh keberadaannya setiap saat adalah anugerah, berkat pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan. Setiap tarikan nafas kita adalah berkat yang tidak bisa dibalas dengan apa pun juga, apalagi keselamatan yang Tuhan telah berikan sungguh tidak akan terbalaskan. Persembahan uang kepada Tuhan dengan berbagai keterangan bagi peruntukannya tersebut adalah sebuah pendidikan yang salah kepada jemaat.
    Dengan pendidikan yang salah tersebut, jemaat mendapatkan gambaran yang salah mengenai Allah semesta alam yang benar. Mereka tidak mengenal dengan benar Bapa yang baik dan Tuhan Yesus yang kasih setia-Nya tidak berkesudahan.
    0 min
  • Berikan Kepada Kaisar Dan Allah
    Pada suatu ketika Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian yang mengajukan suatu pertanyaan untuk menjebak Tuhan Yesus (Mat. 22:15-22). Biasanya dua kelompok ini beroposisi dan tidak saling bersekutu. Orang-orang Farisi berkiblat kepada Bait Allah, Taurat dan bangsa Yahudi, sedangkan orang-orang Herodian berkiblat kepada Herodes yang adalah antek kekaisaran Roma untuk menguasai sebagian wilayah Palestina. Tentu saja dua kelompok ini selalu berseberangan karena memiliki kepentingan yang berbeda. Tetapi demi untuk dapat menjerat Yesus, mereka berkolaborasi.
    Mereka mengajukan suatu pertanyaan: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Sebenarnya, sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab kalau dijawab boleh, maka orang-orang Yahudi yang diwakili orang-orang Farisi bisa memperoleh alasan untuk mempersalahkan Yesus karena tidak setia kepada Bait Allah, Taurat dan bangsanya sendiri. Tetapi kalau dijawab tidak boleh, maka orang-orang Herodian dapat memperoleh alasan membawa tuduhan kepada Yesus, bahwa Yesus menghasut rakyat untuk tidak membayar pajak kepada Kaisar. Ini berarti Yesus dianggap memberontak dan bisa mengobarkan pemberontakan kepada kaisar.
    Dalam hikmat dan kebijaksanaan Ilahi, Yesus meminta kepada mereka untuk menunjukkan uang dinar. Di permukaan uang dinar terdapat gambar dan tulisan kaisar. Kemudian Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Pernyataan Yesus yang juga merupakan jawaban atas pertanyaan mereka yang menjebak, membungkam mulut mereka. Mereka terdiam, sebab mereka tidak berhasil menjebak Yesus.
    Di balik pernyataan atau jawaban Yesus tersebut terdapat kebenaran yang luar biasa. Kata berikanlah dalam teks aslinya adalah apodote (αποδοτε), dari akar kata apodidomi (αποδιδωμι). Kata ini selain bisa berarti “memberikan”, tetapi juga bisa berarti “mengembalikan”. Kata apodote memiliki pengertian mengembalikan sesuatu kepada orang lain yang berhak memilikinya. Kepada kaisar, sebagai rakyat atau masyarakat jajahan wajib menyerahkan pajak atau semacam upeti kepada kaisar Roma. Orang-orang Yahudi harus membayar atau mengembalikan uang dinar yang dibuat atau dicetak oleh kaisar Roma. Dinar adalah sekeping mata uang yang dipermukaannya terdapat gambar dan tulisan kaisar.
     
    Kalau kepada kaisar harus dikembalikan atau dipersembahkan sesuatu yang ada gambar dan tulisan kaisar, maka kepada Allah apa yang patut dipersembahkan? Tentu juga sesuatu yang ada gambar dan tulisan Allah. Sesuatu apakah yang ada gambar dan tulisan Allah? Tak lain dan tak bukan adalah segenap diri dan hidup kita. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Dalam teks aslinya adalah tselem (םלצ). Tselem menunjuk komponen-komponen yang ada pada Allah dan juga ada pada manusia, yaitu pikiran, perasaan dan pikiran, yang oleh karenanya manusia memiliki kemampuan untuk menganalisa dan mempertimbangkan sesuatu, sehingga manusia juga dapat memiliki kehendak. Dalam penciptaan manusia, tangan Allah sendiri yang membentuk. Kata membentuk dalam Kejadian 2:7 adalah yatser (רצי) yang memiliki pengertian mengukir (Ing. to carve) atau yang sama dengan menulis.
     
    Dalam diri kita sebagai manusia, terdapat gambar dan tulisan Allah. Oleh sebab itu, segenap diri dan hidup kita inilah yang harus dikembalikan. Kita harus selalu mengingat bahwa manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Dengan demikian, manusia tidak pernah dapat memiliki dirinya sendiri. Masalahnya adalah siapa yang memilikinya? Allah memberi kebebasan kepada manusia. Kepada siapa seseorang menyerahkan diri, maka kepadanyalah dirinya dimiliki. Dalam hal ini,
    0 min
  • Ibadah Yang Sejati
    Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup dan kudus seperti yang telah dikemukakan sebelumnya adalah puncak dari kehidupan yang menyukakan hati Allah. Inilah persembahan yang berkenan kepada Allah. Kata berkenan dalam teks aslinya adalah euarestos (ευαρεστος), yang artinya selain berkenan (wellpleasing) juga berarti diterima (acceptable). Oleh sebab itu, keberkenanan di hadapan Tuhan hendaknya tidak diukur dari jumlah uang atau persentase dari penghasilan kita. Persembahan yang hidup dan kudus meliputi seluruh hidup dan milik kita yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Kehidupan seperti ini dapat dikatakan sebagai ibadah yang sejati.
    Kata sejati dalam Roma 12:1 dalam teks aslinya adalah logikos (λογικος), yang bisa berarti logis (logical), rasional (rational), cerdas (intelligence), beralasan memiliki dasar atau landasan (reasonable). Ibadah yang sejati adalah ibadah yang memiliki dasar atau landasan, cerdas, masuk akal dan beralasan. Selama ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa kalau sudah pergi ke gereja berarti sudah beribadah kepada Tuhan atau sudah memenuhi tanggung jawab sebagai umat yang berbakti kepada Tuhan atau Allahnya. Jadi, betapa naifnya kalau seseorang merasa sudah beribadah atau berbakti kepada Tuhan hanya karena sudah pergi ke gereja. Hal yang sama, betapa naifnya kalau seorang pegawai pemerintah dianggap sudah berbakti kepada negara hanya karena telah setia mengikuti upacara bendera. Hal ini tidak logis, tidak masuk akal, tidak memiliki landasan dan dasar berpikir yang benar. Pengertian ini membedakan orang percaya dengan berbagai agama di dunia, yang lebih menekankan ritual atau seremonial.
     
    Dengan penjelasan di atas ini, maka dapat dipahami bahwa rumah ibadah adalah tempat di mana seseorang menggunakan potensi jasmani dan rohaninya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Rumah ibadah bagi orang percaya pada umumnya adalah tempat bekerja, kantor, pabrik, toko, sawah, rumah sakit, sekolah atau kampus, rumah dan lain sebagainya. Gereja adalah ruang pertemuan, di mana orang percaya berkumpul untuk mendengarkan Firman Tuhan, menaikkan puji-pujian serta bersekutu satu dengan yang lain. Dengan demikian, sesungguhnya rumah ibadah bukanlah di gereja saja. Gereja adalah rumah ibadah bagi para full-timer yang memang mengambil tempat untuk melayani Tuhan di lingkungan gereja, tanpa bekerja dalam pekerjaan sekuler.
    Dengan pengertian yang tepat mengenai ibadah, maka orang percaya dapat menghayati pelayanannya bagi Tuhan setiap hari, di mana seseorang menggunakan potensi jasmani dan rohaninya bagi Kerajaan Allah. Seperti misalnya, setiap hari pergi ke kantor atau tempat kerja, ibu rumah tangga yang mengatur rumah tangga, dan memenuhi tugas di berbagai bidang hidup yang dijalani orang percaya, sesungguhnya mereka melakukan pelayanan bagi Tuhan. Dalam hal ini terpenuhilah maksud Firman Tuhan: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).
    Bagi orang percaya, mengembangkan potensi untuk semakin ahli di bidangnya dan memaksimalkan potensi adalah pelayanan bagi pekerjaan Tuhan. Dengan potensi yang dikembangkan dan dimaksimalkan, maka orang percaya menjadi sukses dalam bisnis atau karirnya. Hal ini merupakan prestasi bagi Tuhan, sebab orang seperti ini semakin efektif bagi Tuhan. Seorang kondektur bisa dipakai Tuhan, tetapi seorang direktur akan lebih efektif bagi Tuhan. Seorang cleaning service bisa membawa dampak bagi lingkungannya, tetapi seorang komisaris atau seorang gubernur akan lebih membawa dampak secara luas di masyarakat. Oleh sebab itu, kemalasan yang merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab adalah dosa. Orang malas yang tidak bertanggung jawab dalam bidang yang digelutinya berarti tidak melayani Tuhan dengan baik.
    Bagi seorang pengusaha, berhubung bisnisnya adalah pelayanan, maka semua hasil yang diperoleh dari bisnisnya tersebut haruslah dipersembahkan bagi T...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…