Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tanggung Jawab Gereja
    Dalam sub bab ini kita membahas mengenai tanggung jawab gereja dalam pengelolaan uang persembahan. Betapa besar tanggung jawab gereja -yang dalam hal ini pelakunya adalah para pimpinan jemaat dengan stafnya- dalam penggunaan dan pengelolaan uang persembahan yang dipersembahkan jemaat kepada Tuhan. Persembahan uang dari jemaat kepada Tuhan tersebut sesungguhnya sudah menjadi uang Tuhan. Jadi kalau gereja -dalam hal ini pimpinan jemaat dan stafnya- sembarangan menggunakan uang Tuhan, maka hukuman Tuhan pasti menimpa mereka. Dalam hal ini juga berlaku Firman bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit dituntut sedikit. Semakin besar jumlah uang persembahan yang diterima gereja, maka tanggung jawabnya juga semakin besar.
    Oleh sebab itu, mereka yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengelola uang Tuhan, harus mengelola uang Tuhan tersebut dengan benar. Dalam hal ini, kedewasaan rohani seorang pimpinan jemaat, seperti Gembala Sidang, sangat berperan besar. Pimpinan jemaat dan stafnya harus mengelola uang Tuhan dengan takut dan gentar, serta mohon petunjuk serta pimpinan Roh Kudus. Semakin besar uang persembahan yang diberikan jemaat kepada gereja, maka semakin besar godaan untuk melakukan banyak hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
    Kalau seorang gembala jemaat tidak takut Tuhan, maka stafnya pun juga tidak mungkin memiliki hati yang takut akan Tuhan secara benar. Orang yang tidak takut akan Tuhan dengan benar, pasti menggunakan uang Tuhan secara tidak benar pula, sehingga tujuan persembahan perpuluhan atau persembahan lain tidak mengenai sasaran. Selama ini banyak terjadi penyimpangan penggunaan uang, sebab pimpinan jemaat mengelola uang sesuka sendiri di luar pimpinan Tuhan. Di sini Teokrasi diganti menjadi pendetakrasi. Hal ini biasa terjadi pada gereja-gereja di mana pimpinan jemaat memiliki hak penuh mengatur uang persembahan, yaitu gereja-gereja yang sistem organisasinya otonomi atau desentralisasi, di mana masing-masing gereja lokal memiliki hak penuh mengatur keuangan gereja. Dalam kondisi seperti ini, pendeta berpotensi besar menjadi raja kecil di tengah-tengah jemaat.
    Tentu saja penyalahgunaan uang Tuhan sangat merugikan perkembangan pekerjaan Tuhan. Hal ini pun juga sangat berdampak negatif terhadap kehidupan rohani pimpinan jemaat dan keluarganya. Harus selalu diingat bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1Tim. 6:10). Kalau seorang pimpinan jemaat dan keluarganya tidak menyadari hal ini dan tidak berhati-hati dalam menyikapi uang, maka mereka sangat bisa dirusak oleh “gairah cinta uang” tersebut. Tentu saja kehidupan rohani pimpinan jemaat yang tidak baik memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar terhadap jemaat yang dilayaninya. Hal ini sudah terjadi di banyak kehidupan pimpinan jemaat dewasa ini di dalam banyak gereja. Bisa terjadi, ketika gereja masih kecil, penghasilan pimpinan jemaat masih rendah, ia memiliki kehidupan rohani yang baik, tetapi ketika gereja bertambah besar dan pemasukan uang gereja besar pula, tidak sedikit di antara mereka menjadi rusak.
    Kalau seorang pimpinan jemaat merasa berhak memiliki dan menguasai perpuluhan jemaat tanpa batas, dan ia tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan serta tidak mengasihi Tuhan dengan benar, maka dengan jumlah jemaat yang besar dan pemasukan uang gereja yang besar, hal ini dapat membuat pimpinan jemaat dan keluarganya menjadi milyarder sampai trilyuner. Sementara itu kepentingan pekerjaan Tuhan bisa terabaikan. Kepentingan pekerjaan Tuhan antara lain: pelebaran penginjilan, bantuan kepada kaum miskin dan lain sebagainya. Sangat tidak benar kalau seorang pimpinan jemaat mengklaim bahwa semua perpuluhan dalam jumlah yang sangat besar -jauh dari hidup cukup- adalah haknya. Atas dasar apakah tuntutan tersebut kalau bukan atas dasar keserakahan dan naluriah “dilayani”, bukan melayani?
    Untuk menghindarkan kesalahan dalam menggunakan uang perpuluhan dan persembahan lainnya,
    0 min
  • Keberatan Terhadap Perpuluhan
    Mengapa banyak orang Kristen tidak mempersembahkan hartanya yang sebenarnya milik Tuhan yang harus dipersembahkan bagi pekerjaan-Nya? Pertama, disebabkan karena mereka tidak memahami kebenaran Firman Tuhan, sehingga mereka tidak bertumbuh dewasa. Orang Kristen yang tidak dewasa, merasa bahwa harta yang ada padanya adalah miliknya sendiri. Mereka merasa berhak menggunakannya sesuai dengan keinginan dan seleranya sendiri. Tentu mereka menyambut gembira kalau hanya boleh mengembalikan sepuluh persen dari penghasilannya. Tidak jarang sebenarnya mereka pun tidak mengembalikan sepuluh persen secara benar. Hal ini sama dengan Ananias dan Safira yang mengaku mempersembahkan segenap hartanya, padahal ia masih menahan sebagian (Kis. 5:1-5). Dengan cara demikian, pasangan suami istri ini mendustai Tuhan.
    Gereja yang mengajarkan perpuluhan kepada jemaat, harus berhati-hati. Jangan sampai jemaat mengakui bahwa yang dipersembahkan adalah perpuluhan, tetapi sebenarnya bukan jumlah perpuluhannya. Amplop yang digunakan adalah amplop perpuluhan, tetapi isinya tidak demikian atau bukan perpuluhan yang jujur. Keadaan ini memicu banyak terjadi penipuan atau mendustai Roh Kudus.
    Jika seseorang belum siap memberikan perpuluhan atau persembahan yang lain, ia harus jujur mengakuinya. Hal ini terkait dengan kedewasaan rohani seseorang, yaitu kerelaannya melepaskan segala miliknya bagi Tuhan. Gereja harus membimbing terus hingga ia mencapai kedewasaan dan tidak memaksa dia untuk memberi perpuluhan dan persembahan lain.
    Kedua, ada pula orang Kristen yang tidak memberi perpuluhan sebab tidak memercayai gereja; dalam hal ini tidak memercayai pengelolaan keuangan gereja. Hal ini terjadi ketika mengendus, atau mengetahui bahwa gereja tidak mengelola uang yang dipersembahkan jemaat secara benar. Gereja harus memiliki manajemen keuangan yang baik, dengan mempekerjakan tenaga-tenaga profesional dalam pengelolaannya. Gereja tidak boleh takut kalau diaudit oleh pihak manapun.
     
    Gereja yang sehat dalam mengelola keuangan gereja, memiliki orang-orang yang menjadi saksi atau pengawas dalam penggunaannya. Hal ini demi transparansi keuangan. Hal ini bukan berarti setiap orang boleh memeriksa keuangan gereja. Tetapi harus ada orang-orang yang memiliki kapabilitas dan reputasi yang baik sebagai pengawas keuangan gereja. Keuangan gereja tidak boleh dikelola oleh keluarga pendeta. Hal ini akan menimbulkan kecurigaan jemaat dan banyak pihak kepada pendeta, keluarganya, serta pengurus gereja.
    Ketiga, keberatan memberi perpuluhan dan persembahan yang lain disebabkan oleh pencitraan gaya hidup pendeta serta keluarganya, yaitu ketika melihat pendeta atau pelayan jemaat yang full-timer mengendarai mobil mewah, rumah mewah, hidup mewah, dan berpenampilan bukan seperti seorang hamba atau pelayan jemaat. Tetapi lebih berpenampilan seperti pejabat atau seperti seorang selebriti. Bagaimana bisa memercayai seorang pendeta yang arlojinya saja harganya milyaran rupiah atau beberapa ratus juta, padahal ia seorang full-timer dalam gereja?
    Dalam hal tersebut di atas, seorang pendeta atau hamba Tuhan dan keluarganya, sebenarnya mendapat sorotan yang tajam dari banyak pihak. Dalam hal ini seorang pendeta dan keluarganya harus sangat berhati-hati dalam menjalani hidup dan berpenampilan. Sikap hidup, gaya hidup, dan penampilan pendeta dan keluarganya bisa menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi batu sandungan.  Oleh sebab itu demi kemajuan dan kepentingan pekerjaan Tuhan, seorang pendeta dan keluarganya harus sangat berhati-hati dalam menjalani hidup ini di tengah-tengah masyarakat, terutama di tengah-tengah jemaat yang dilayani.
    Hal di atas ini dikemukakan bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa seorang hamba Tuhan dan keluarganya tidak boleh hidup layak atau patut. Kelayakan dan kepatutan seseorang sangat relatif. Dalam hal ini kita harus benar-benar hidup dalam tuntunan Roh Kudus, agar segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar men...
    0 min
  • Fleksibilitas Dan Dinamisitas Perpuluhan
    Pokok masalah ini jarang dibicarakan, karena memiliki sensitivitas dan kerawanan yang cukup tinggi. Tetapi demi kebenaran dan kelengkapan penjelasan mengenai perpuluhan dan persembahan uang di dalam gereja, maka hal ini harus dibahas dengan jelas. Masalahnya sekitar persoalan apakah sepersepuluh itu mutlak tepat sepuluh persen dari penerimaan atau penghasilan setiap bulan?
    Gereja harus memahami perpuluhan dalam fleksibilitas yang logis, sehingga perpuluhan memiliki dinamisitas yang bisa seirama dengan keadaan masing-masing anggota yang memiliki keadaan khusus. Jika tidak, maka perpuluhan dapat menjadi seperti Taurat (hukum) baru di dalam gereja dan membelenggu. Kalau perpuluhan sudah menjadi seperti Taurat (hukum), maka hal ini dapat merusak bangunan moral Kristen yang landasannya adalah sikap batiniah. Berbicara mengenai sikap batiniah, maka tidak boleh ada unsur aturan yang kaku untuk dilakukan seperti hukum Taurat dalam kehidupan bangsa Israel. Sikap batiniah bagi orang percaya berangkat dari pikiran dan perasaan Kristus, yang sama dengan cara berpikir (Yun. phroneo).
    Kalau perpuluhan menjadi seperti hukum, maka tidak ada fleksibilitas dan dinamisitasnya. Misalnya kalau seseorang sedang dalam kondisi sangat sulit, jangankan memberi perpuluhan, untuk makan saja sudah sangat sulit, ongkos pergi ke gereja tidak ada, apakah ia harus berhutang uang dari orang lain demi untuk dapat memberi perpuluhan? Tentu tidak perlu. Kalau suatu saat ia tidak bisa memberi perpuluhan karena kondisi ekonominya yang parah, harus dimengerti dan diterima bukan sebagai suatu kesalahan. Uang kecil yang masih sisa harus digunakan untuk membeli susu anak, membayar uang sekolah, dan lain sebagainya. Menjaga rumah tangga dan membesarkan anak-anak adalah pekerjaan Tuhan juga.
    Ketika sebuah keluarga harus membayar uang sekolah anaknya, sehingga terpaksa tidak dapat mendukung pembangunan gereja atau memberi persembahan perpuluhan kepada gereja, apakah berarti ia bersalah? Justru kepada orang-orang yang berkekurangan, perpuluhan yang diterima gereja harus dibagi untuk mereka. Dalam hal ini, sangatlah ideal kalau gereja bisa membangun atau menciptakan keadilan sosial bagi seluruh anggota gereja. Betapa ironisnya, kalau kualitas persekutuan orang-orang percaya kurang dari kualitas persekutuan komunitas orang-orang Yahudi dalam kibbutz. Suatu hari kalau anak-anak jemaat yang didukung gereja dalam studinya sudah berhasil, keadaan keluarga yang tadinya berkekurangan akan membaik, maka semuanya (seratus persen) harus dipersembahkan bagi Tuhan. Mereka bisa menjadi pengawal pekerjaan Tuhan.
    Tidak sedikit pengusaha yang kelihatannya kaya, tetapi sebenarnya hutangnya jauh lebih besar dari aset dan kekayaan yang ada padanya. Sebenarnya, keadaan pengusaha itu lebih miskin dari orang miskin. Apakah pengusaha seperti ini memaksa diri memberi perpuluhan sementara hutangnya di banyak tempat tidak dibereskan dengan baik? Harus disadari bahwa perusahaannya adalah milik Tuhan yang sama dengan pekerjaan Tuhan. Pengusaha itu harus berjuang menyelamatkan usahanya. Kalau suatu hari Tuhan memulihkannya, maka ia harus mengembalikan semuanya bagi Tuhan.
    Ketika seorang pengusaha kelas trilyuner memperoleh keuntungan atau profit dalam hitungan nilai trilyun, harus dipertanyakan apakah gereja yang menerima persembahan sejumlah tersebut mampu mengelolanya? Harus diakui bahwa semua harta yang ada pada jemaat pun adalah milik Tuhan. Apakah diserahkan ke gereja atau tidak, semuanya juga tetap milik Tuhan. Pernyataan ini bukan berarti membenarkan kalau seseorang menahan hartanya dari mempersembahkan perpuluhan bagi Tuhan. Tentu semua harus ada di dalam pimpinan Roh Kudus. Dalam hal ini setiap individu harus berperkara dengan Tuhan, agar segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Bagaimanapun, setiap orang percaya bertanggung jawab atas kelangsungan pelayanan pekerjaan Tuhan.
    0 min
  • Masih Perlukah Perpuluhan?
    Penjelasan pada bab-bab sebelumnya kalau dipahami keliru bisa memicu pemikiran bahwa orang percaya tidak perlu lagi memberi persembahan perpuluhan atau persembahan lain sama sekali. Ini sebuah pemikiran yang salah dan membahayakan bagi kelangsungan pelayanan gereja. Penjelasan pada bab-bab sebelumnya bukan bermaksud mengarahkan atau mengajarkan untuk tidak memberi perpuluhan atau persembahan yang lain. Bila Alkitab menyebut angka perpuluhan, angka ini dapat digunakan untuk kebutuhan pelayanan gereja yang memang sangat membutuhkan dukungan finansial. Tentu saja pelayanan pekerjaan Tuhan dalam gereja dapat berjalan atau berlangsung hanya oleh kemurahan Tuhan semata-mata, tetapi dalam kenyataan pengoperasian pelaksanaan kegiatan gereja, tanpa uang, maka aktivitas pelayanan gereja tidak dapat berjalan dengan baik, bahkan bisa tidak dapat berjalan sama sekali.
    Harus ditegaskan supaya dimengerti, bahwa tanggung jawab kelangsungan pelayanan pekerjaan Tuhan -baik pelayanan ke dalam gereja (biaya penyelenggaraan kebaktian gereja, pengelolaan gedung dan pemeliharaan serta perbaikannya, pembangunan gedung baru serta sarananya, kehidupan para pendeta, pengerja full-timer gereja, dan lain sebagainya), maupun pelayanan ke luar (misi, sosial, dan lain sebagainya)- bukan terletak hanya pada pendeta dan aktivis beserta dengan majelis gereja saja, tetapi semua jemaat yang memiliki keanggotaan di dalam gereja tersebut. Harus diingat bahwa gereja-gereja di Indonesia tidak mendapat bantuan secara rutin dari pemerintah atau pihak manapun. Oleh sebab itu, setiap anggota jemaat harus bertanggung jawab untuk memikul beban pembiayaan pelayanan gereja tersebut.
    Kalau sebuah gereja memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga -di mana masing-masing gereja lokal mempersembahkan perpuluhan kepada sinode, dan jemaat diajar untuk mempersembahkan perpuluhan-, maka anggota jemaat yang mampu memberi perpuluhan yang memiliki keanggotaan di gereja tersebut, seharusnya merasa wajib secara konsekuen memenuhinya. Jika tidak bersedia, berarti tidak konsekuen. Orang seperti ini, kalau fair, mestinya pindah gereja lain di mana tidak ada pengaturan organisasi mengenai perpuluhan. Bagaimana mereka bisa menikmati berkat Firman dan pelayanan pastoral lainnya di suatu gereja, tetapi tidak mengambil bagian dalam beban keuangan yang harus dipikul bersama di gereja tersebut? Ada juga gereja-gereja yang mengatur pemasukan uang untuk gereja melalui iuran wajib (biasanya gereja Protestan), maka setiap orang yang memiliki keanggotaan gereja tersebut wajib memenuhinya.
    Namun demikian, bukan berarti dalam hal ini perpuluhan menjadi Taurat atau hukum. Gereja harus memahami perpuluhan dalam fleksibilitas yang logis, sehingga perpuluhan memiliki dinamisitas yang bisa seirama dengan keadaan masing-masing anggota yang memiliki keadaan khusus. Kalau jemaat bermasalah dalam keuangan, hendaknya gereja tidak memaksa jemaat untuk memberi perpuluhan atau persembahan lain. Malah sebaliknya, gereja yang harus menopang kehidupan mereka.
    Jadi tidak keliru, atau seharusnya, setiap orang percaya menyisihkan sepersepuluh hasil rutin setiap bulan atau setiap tahun untuk pekerjaan Tuhan dengan dasar atau landasan berpikir yang benar. Namun hendaknya setelah memberikan perpuluhan bagi Tuhan melalui gereja, jemaat tidak berpikir bahwa yang lain atau yang sembilan puluh persen adalah miliknya sendiri. Angka persentase sepersepuluh bukanlah angka mati dan kaku. Di sini harus dibuka kemungkinan fleksibilitas demi dinamisitasnya.
    Penjelasan perpuluhan yang tidak dipahami dengan benar, menjadi pembenaran bagi orang-orang Kristen yang pelit untuk tidak memberi perpuluhan. Mereka merasa merdeka atau bebas dari “hukum perpuluhan” yang dirasakan sangat menekan dan menindas kehidupan ekonomi mereka. Orang-orang seperti ini pada dasarnya adalah pemberontak-pemberontak di hadapan Allah. Mereka mampu memberikan persembahan perpuluhan, tetapi mereka tidak melakukannya.
    0 min
  • Keadilan Sosial Ekonomi
    Harus dicatat bahwa perpuluhan yang dipraktikkan di Israel adalah praktik yang diselenggarakan pada masyarakat “teokrasi”. Teos berarti Allah, krasi atau kratos artinya pemerintahan. Teokrasi artinya pemerintahan Allah. Dalam Teokrasi Israel, hukum Taurat yang ketat diselenggarakan dalam hidup umat Israel. Hukum Taurat mengatur hidup semua orang, bukan hanya umat, tetapi juga para imam. Penyelenggaraan atau pengelolaan persembahan perpuluhan dan berbagai persembahan lain dilaksanakan dengan aturan yang jelas, dan tentu transparan. Semua pengelolaan perpuluhan dan persembahan lain diselenggarakan demi kesejahteraan bersama.
    Ketika bangsa Israel menaklukkan Kanaan, Tuhan membagi tanah-tanah taklukan itu untuk semua suku Israel, kecuali suku Lewi (Ul. 14:27-29; Bil. 18:24; Ibr. 7:5).  Suku ini diperuntukkan bagi Tuhan. Mereka adalah menjadi pelayan-pelayan di Bait Allah dan yang menyelenggarakan ibadah dalam kemah suci atau Bait Allah. Kehidupan mereka ditopang oleh perpuluhan yang diberikan suku-suku Israel lainnya yang memperoleh pembagian tanah garapan. Ini adalah wujud “keadilan sosial” bagi seluruh masyarakat atau bangsa Israel. Tuhan sangat bijaksana mengatur keadilan sosial tersebut.
    Harus diakui tidak ada bangsa di dunia ini yang memiliki pengaturan sosial ekonomi seperti bangsa tersebut. Sampai hari ini, di Israel, peraturan tersebut tetap dijalankan oleh komunitas-komunitas yang disebut kibbutz. Kibbutz adalah komunitas Yahudi yang hidup bersama di suatu lokasi; setiap anggotanya disebut khawer. Masing-masing khawer dengan rela bekerja bersama dan mengakui bahwa semua harta mereka milik bersama. Mereka memiliki tanah pertanian dan pabrik-pabrik serta mengelola bersama-sama demi kepentingan bersama pula. Tentu saja jiwa atau nafas filosofi kibbutz berasal dari nenek moyang mereka yang menegakkan keadilan sosial secara merata.
     
    Persoalannya kemudian untuk kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru adalah apakah pola persembahan perpuluhan seperti yang diselenggarakan di Israel tersebut bisa dikenakan? Tentu perpuluhan tidak bisa dikenakan dengan jiwa dan nafas yang sama dengan umat Perjanjian Lama. Secara teknis bisa dilakukan, tetapi esensinya berbeda. Sebab keadaan bangsa Israel dengan keadaan kita sangat jauh berbeda. Kedudukan bangsa Israel dengan orang percaya berbeda. Demikian pula dengan kapasitas rohani atau standar moral atau etikanya pun juga berbeda. Maksud pernyataan ini bukan melarang memberi perpuluhan, tetapi jiwa atau nafas dalam memberikan persembahan harus sesuai dengan kebenaran batiniah oleh tuntunan Roh Kudus.
    Di Israel, salah satu suku -yaitu suku Lewi- tidak mendapat bagian tanah taklukan di Kanaan, oleh sebab itu 11 suku lain harus membagi hasil bumi dan ternak mereka untuk saudara-saudara mereka dari suku Lewi tersebut. Tentu saja perhitungan ini tidak selalu sejajar dengan jumlah jemaat dengan satu keluarga pendeta. Kalau jumlah jemaat hanya 11 keluarga dan semua memberi perpuluhan untuk pendeta dan keluarganya, bisa jadi atau barangkali seimbang. Tetapi kalau 100 apalagi 1.000 keluarga dalam jemaat, semua memberi perpuluhan untuk pendeta dan keluarganya, maka pendeta dan keluarganya menjadi berlimpah harta. Jika, persembahan uang jemaat tersebut digunakan oleh pendeta dan keluarganya, untuk kepentingan pribadi, maka hal ini melanggar prinsip keadilan. Keluarga pendeta menjadi lebih kaya dari jemaat pada umumnya.
    Di beberapa gereja tidak ada peraturan yang jelas dalam pengelolaan persembahan perpuluhan ini. Yang mereka pahami adalah perpuluhan untuk para imam dan keluarganya, dan mereka yang menjadi pendeta atau pemimpin jemaat merasa diri sebagai imam. Sehingga mereka merasa berhak menggunakan semua persembahan perpuluhan untuk diri mereka sendiri. Sebenarnya ini tidaklah salah, kalau jumlah jemaat masih sedikit dan jumlah uang perpuluhannya juga kecil, semua perpuluhan diberikan kepada pendeta tersebut. Pendeta dan keluarganya berhak menggunakan semua ...
    0 min
  • Perpuluhan Dalam Sejarah Gereja Tuhan
    Kalau kita mengamati kitab Kisah Para Rasul dan catatan sejarah gereja mula-mula sampai memasuki awal pertengahan -bahkan sampai abad 19- tidak muncul secara jelas tradisi perpuluhan ini. Dalam kehidupan dan pelayanan Yesus, serta para penerus-Nya -yaitu zaman rasul-rasul dan gereja mula-mula- tidak pernah terdapat bukti praktik perpuluhan. Justru yang ada adalah milik mereka dimiliki bersama-sama (Kis. 4:35). Mereka tidak mempersembahkan sepuluh persen dari harta mereka atau sebagian harta mereka, tetapi seluruh harta dan kehidupan mereka.
    Di dalam sejarah gereja tidak tercatat mengenai perpuluhan dengan jelas. Seorang bapak gereja, Tertullianus, pada akhir abad kelima menjelaskan bahwa perpuluhan harus dilaksanakan secara sukarela, tetapi kemudian menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen. Sinode Von Macon, Perancis, yang dilaksanakan pada tahun 585 memutuskan tentang perpuluhan sebagai berikut: “Hukum Ilahi memerintahkan semua bangsa memberikan perpuluhan dari buah-buah (penghasilan) mereka ke tempat suci”.
    Selanjutnya, gereja abad keenam mengingatkan kembali umatnya untuk melaksanakan persembahan perpuluhan. Di Perancis telah diakui hak gereja secara hukum atas perpuluhan. Pada zaman Reformasi pun perpuluhan tidak digoyang oleh pembaharuan. Martin Luther sendiri mengakui bahwa hukum tentang perpuluhan itu adalah suatu hukum yang benar-benar indah ditinjau dari segi pergerakannya, dimana dia berkata: “Karena kalau banyak tumbuh di ladang, saya berikan banyak, kalau sedikit, saya berikan sedikit”. Tetapi Martin Luther tidak menganjurkan atau memberi perhatian atasnya.
     
    Dalam sejarah gereja, gereja Katolik tidak mempraktikkan perpuluhan, umat Katolik tidak dikenakan kewajiban membayar perpuluhan. Namun pernah terjadi dalam Konsili Trente, Gereja Katolik mewajibkan umat Katolik untuk membayar perpuluhan. Tetapi, praktik membayar perpuluhan itu lenyap secara perlahan-lahan sejak Revolusi Perancis pada abad ke-XVIII. Keputusan Konsili Trente itu rupanya bukanlah keputusan yang bersifat dogmatis, oleh sebab itu bisa saja diubah oleh pemimpin gereja berikutnya.
    Secara umum praktik perpuluhan bukan sesuatu yang melekat dalam kehidupan gereja. Menurut catatan ada yang menyatakan bahwa baru setelah memasuki awal abad ke-20 sampai sekarang persembahan perpuluhan merambah ke dalam beberapa aliran gereja tertentu. Seorang penulis buku sejarah gereja, Dr. H.Berkhof dan Dr. I.H. Enklaar, menulis bahwa perpuluhan baru muncul di Korea Selatan, ketika memasuki awal abad ke-20, yaitu sekitar tahun 1930. Sejak itu banyak gereja mempraktikkan perpuluhan.
    Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, perpuluhan diajarkan secara ketat, menjadi semacam Taurat baru di gereja, berangkat dari penafsiran yang kurang tepat. Penafsiran yang tidak memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan hal tersebut. Inilah penafsiran yang dikembangkan di kalangan gereja-gereja aliran Pentakosta, Kharismatik, dan sejenisnya. Sering kita temukan penafsiran yang kurang memperhatikan konteks budaya, latar belakang, konsistensi analisa, dan lain sebagainya terhadap Alkitab, khususnya Alkitab Perjanjian Lama.
    Kita tidak boleh atau tidak bisa mengenakan praktik perpuluhan ala Taurat atau bangsa Yahudi pada kehidupan umat Perjanjian Baru. Bagi umat Perjanjian Baru, bila praktik perpuluhan didasarkan pada Taurat, maka hal ini akan mengacaukan pola hidup yang benar, yang harus dikenakan oleh umat Perjanjian Baru. Kenyataan ini tidak disadari oleh banyak gereja dan orang Kristen secara pribadi. Mestinya, umat Perjanjian Baru memiliki pola hidup yang jauh lebih unggul daripada umat Perjanjian Lama; bukan hanya dalam beberapa tindakan moral, tetapi juga dalam hal memberi atau mengembalikan kepada Tuhan dan dalam segala hal menyangkut moral dan hubungannya dengan Tuhan.
    Umat Perjanjian baru adalah umat yang harus masuk kepada wilayah hidup “tidak memiliki diri sendiri”. Kebenaran ini terdapat dalam berbagai bagian dalam A...
    0 min
  • Perpuluhan Dan Persembahan Pada Zaman Rasul-rasul
    Dalam zaman rasul-rasul kita menemukan beberapa data mengenai persembahan. Dalam Kisah Para Rasul 2:44-45 tertulis: Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Apa yang dikemukakan Lukas sebagai penulis Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa orang percaya tidak lagi merasa berhak atas semua kekayaan atau harta mereka. Mereka mempersembahkan semuanya bagi Tuhan tanpa batas. Dengan demikian, tidak ada lagi perhitungan jumlah dan persentase bagi Tuhan.
    Dalam bagian lain di kitab Kisah Para Rasul, juga dikemukakan keadaan jemaat Tuhan mula-mula mengenai persembahan: Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. Dari catatan ini dapat disaksikan, betapa hebat kebangunan rohani dalam gereja Tuhan mula-mula tersebut, sehingga mereka dapat menunjukkan pola hidup persekutuan bersama dalam “keluarga Kerajaan Allah di bumi” sebelum pindah ke langit baru dan bumi yang baru.
    Terkait dengan persembahan, Paulus memberi petunjuk kepada jemaat di Korintus, sebagai berikut: Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang (1Kor. 16:1-2). Dalam “juklak” (petunjuk pelaksanaan) persembahan, sama sekali tidak disinggung mengenai perpuluhan. Di sini Paulus sama sekali tidak membuat perhitungan persentase.
     
    Jika kita menghubungkan hal persembahan dengan 2 Korintus 9:7, maka dapat ditemukan bahwa yang penting bukan jumlah atau persentasenya, tetapi pada kerelaan hati, seperti yang dikatakan Paulus: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Jika berbicara mengenai kerelaan hati, maka berarti tidak lagi berbicara mengenai jumlah atau persentase, tetapi sikap hati. Sikap hati orang percaya haruslah sikap hati seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus, dimana Ia rela kehilangan semua hak-Nya demi tugas penyelamatan yang diberikan oleh Bapa kepada-Nya.
    Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus memberikan beberapa pelajaran mengenai persembahan.
    Pertama, memberi persembahan tidak harus menunggu hidup berkecukupan atau memiliki harta dalam kelimpahan. Seperti yang ditunjukkan janda dalam Lukas 21:1-4, dalam kemiskinan dan kekurangan ia memberikan segenap nafkahnya. Demikian pula walau jemaat Makedonia dalam penderitaan, tetapi mereka masih memedulikan pelayanan dengan mengirim persembahan. Nilai persembahan dari keadaan orang percaya yang hidup berkekurangan, menjadi lebih bernilai dan menyenangkan hati Tuhan, daripada persembahan yang diberikan dari keadaan hidup yang berkelimpahan.
    Kedua, persembahan harus diberikan dengan kerelaan, bukan dengan duka dan paksa. Dalam hal ini, pihak gereja tidak boleh mengintimidasi jemaat agar memberi persembahan dengan ancaman kutuk dan lain sebagainya. Persembahan yang diberikan karena intimidasi, bukan persembahan yang natural atau yang proporsional. Persembahan dengan sukacita dan kerelaan dapat tercipta dari hati yang memberi bukan karena ancaman.
    Ketiga,
    0 min
  • Perpuluhan Dalam Perjanjian Baru
    Dalam Perjanjian Baru, tidak pernah kita temukan perintah langsung dan khusus bahwa orang percaya harus memberikan perpuluhan. Kalau hal perpuluhan sebagai kemutlakan yang harus dilakukan orang percaya, maka Tuhan Yesus pasti membicarakannya atau memberi perintah untuk melakukannya. Dalam khotbah di bukit di Matius 5, ketika Tuhan Yesus menafsir ulang kitab Taurat dalam beberapa hal, Tuhan tidak menafsir ulang soal perpuluhan dan persembahan lainnya sama sekali. Hal ini menunjukkan, bahwa soal perpuluhan bukan masalah pokok atau penting atau utama.
    Dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:37-54, Tuhan Yesus berbicara mengenai perpuluhan. Tetapi konteks percakapan-Nya adalah mengenai kecaman-Nya terhadap orang-orang Yahudi dan tokoh-tokoh agama mengenai perpuluhan mereka. Dalam Matius 23:23, tertulis: Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab perpuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
    Pernyataan Tuhan Yesus di sini sangat jelas bahwa masalah perpuluhan bukan masalah uang atau jumlahnya, tetapi masalah sikap hati mereka dalam segala hal. Dari pernyataan Tuhan Yesus ini diajarkan kepada kita, betapa lebih pentingnya keadilan dan berbelas kasihan serta kesetiaan daripada sejumlah uang yang dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi pernyataan ini bukan berarti persembahan uang bagi Tuhan dibatalkan sama sekali.
    Demikian pula yang dikatakan Tuhan di dalam Lukas 11:42 (Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar perpuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan). Salah satu pernyataan Tuhan Yesus yang lain mengenai persembahan di Lukas 11 tersebut: Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”
    Tuhan sedang mengecam keras orang Yahudi dan tokoh-tokoh agama mereka yang lebih menampilkan kehidupan saleh secara lahiriah, tetapi batiniah mereka tidak diperhatikan atau tidak diperbaiki. Pernyataan Tuhan di ayat ini juga sebenarnya menjadi sindiran, sebab selasih, adas manis, jintan dan segala jenis sayuran adalah barang murah.
    Sangat besar kemungkinan, tidak semua orang Yahudi zaman Yesus masih memberikan perpuluhan seperti nenek moyang mereka. Mereka sebagai bangsa jajahan harus memberi pajak kepada kaisar Roma, dan untuk Elohim Yahweh memberi pajak ke Bait Allah. Tidak pernah Yesus dan murid-murid-Nya mempersoalkan perpuluhan. Alkitab Perjanjian Baru tidak pernah mencatat murid-murid Yesus memberi perpuluhan dari ikan yang mereka jala, atau penghasilan Matius atau Lewi yang diperoleh dari hasil atau gaji seorang pegawai pajak.
    Bangsa Yahudi pada waktu itu sudah tercerai berai (diaspora). Sangat tidak mungkin mereka yang telah tercerai berai tersebut bisa membawa hewan dan hasil bumi ke Yerusalem dalam jarak ratusan sampai ribuan kilometer. Untuk persembahan Paskah saja mereka harus membeli binatang di Bait Allah. Sampai sekarang tidak semua orang Yahudi memberi persembahan. Tidak pernah kita mendengar bankir-bankir kaya orang Yahudi membawa perpuluhan mereka ke Yerusalem. Harus ingat, pemerintahan agama seperti zaman sebelum Perjanjian Baru sudah tidak ada. Bait Allah sendiri juga sudah hancur, tidak ada lagi.
    Mengenai persembahan, Tuhan Yesus justru memuji janda miskin yang dikisahkan dalam Lukas 21:1-4 dan Markus 12:41-44. Tuhan Yesus sengaja memanggil murid-murid-Nya dan menunjukkan perbuatan janda tersebut.
    0 min
  • Perpuluhan Dalam Kitab Maleakhi
    Secara khusus, di sub bab ini kita membahas mengenai perpuluhan dalam kitab Maleakhi. Karena dari kitab ini, sering banyak orang mendasari pandangannya mengenai perpuluhan. Ayat-ayat yang sering ditampilkan untuk menjadi dasar atau landasan praktik perpuluhan dari kitab ini biasanya diambil dari Maleakhi 3:10-11 – Bawalah seluruh persembahan perpuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
    Satu hal yang harus kita ketahui bahwa sebenarnya Kitab Maleakhi adalah kitab yang memuat kemarahan Tuhan terhadap bangsa Israel, yang tidak melakukan perintah Taurat dengan benar, khususnya soal persembahan kepada Tuhan dan perkawinan campur dengan bangsa kafir. Kitab ini tidak ditujukan kepada bangsa manapun, tetapi kepada bangsa Israel yang memiliki Taurat dan yang seharusnya hidup dalam penurutan terhadap Taurat. Dalam Maleakhi 1:1 tertulis: Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. Oleh sebab itu ayat ini tidak boleh secara “hurufiah” dan “mentah” dikenakan kepada bangsa lain atau kepada siapa pun tanpa melihat konteksnya. Juga bukan untuk umat Perjanjian Baru.
    Tuhan marah terhadap bangsa Israel, sebab mereka tidak menghormati Allah, seperti Esau tidak menghormati orang tuanya dan hak kesulungan yang dimilikinya (Mal. 1:2-3 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.”). Melalui pernyataan Tuhan ini, bangsa Israel diancam, jika mereka tidak menghormati Allah, seperti Esau yang tidak menghormati orang tuanya, maka Allah akan menghukum mereka.
    Selanjutnya dalam kitab Maleakhi tersebut, Tuhan menunjukkan bagaimana bangsa Israel bersikap tidak hormat kepada Elohim Yahweh, yang membuat Tuhan merasa tidak dihormati secara patut. Bangsa Israel mencemarkan korban yang dipersembahkan kepada Tuhan. Seperti misalnya, mereka tidak memberikan persembahan yang baik, tetapi hewan yang buta dan yang bercacat. Seharusnya mereka tidak boleh menukar hewan yang layak dipersembahkan bagi Tuhan, dengan hewan yang buta dan yang pincang atau bercacat (Mal. 1:8). Dengan cara demikian, berarti pula imam-imam menghina Tuhan (Mal. 1:6). Dalam pernyataan-Nya, Tuhan tidak senang atas persembahan yang mereka bawa tersebut (Mal. 1:10).
    Selanjutnya dalam Maleakhi 2, memuat kata-kata tegas dan tajam dari Tuhan kepada bangsa Israel, khususnya kepada para imam yang menerima korban dan persembahan, termasuk perpuluhan. Tuhan murka terhadap mereka, sebab mereka menjadi perantara Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi ternyata mereka sendiri menyimpang (Mal. 2:7-8). Kitab Maleakhi juga menunjukkan kemarahan Tuhan atas kesalahan bangsa Israel, karena melakukan kawin campur dengan bangsa lain, jadi mereka secara terang-terangan memberontak kepada Elohim Yahweh (Mal. 2:10-16). Karena kesalahan tersebut, maka Tuhan mengancam akan menghukum mereka.
    Kemarahan Tuhan dimaksudkan atau bertujuan agar umat Israel disucikan dan diluruskan atau ditobatkan. Tuhan menghendaki agar bangsa Israel menjadi orang-orang yang tidak menyalahgunakan kurban dan persembahan bagi Tuhan. Tentu dalam hal ini juga, agar tidak terjadi penyalahgunaan perpuluhan oleh para imam. Sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, serta orang asing tidak tertindas dan terabaikan. Karena maksud persembahan perpuluhan, juga untuk memberi mereka kesejahteraan, selain untuk penyelenggaraan ibadah di Bait Allah, imam,
    0 min
  • Perpuluhan Dalam Kehidupan
    Selama ini pengertian orang mengenai perpuluhan adalah perhitungan sepuluh persen dari penghasilan yang umat terima, atau penghasilannya yang harus dipersembahkan kepada Tuhan melalui gereja. Tetapi banyak orang Kristen -bahkan pendeta- yang tidak memahami secara teliti dan lengkap hal perpuluhan dalam Perjanjian Lama. Perpuluhan menurut ketentuan Taurat disampaikan kepada Musa terdiri dari tiga jenis, yaitu perpuluhan untuk Pondok Daun, perpuluhan sebagai persembahan khusus, dan perpuluhan untuk biaya pemerintahan.
    Persembahan perpuluhan untuk pesta nasional Pondok Daun adalah perpuluhan yang digunakan untuk merayakan pesta Pondok Daun. Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menyisihkan sepuluh persen dari penghasilannya untuk perayaan Pondok Daun. Pada pesta Pondok Daun yang berlangsung selama tujuh hari -pada bulan ketujuh dari tanggal 15 sampai dengan 21- persembahan perpuluhan digunakan (Ul. 14:22-27; 16:13-15; Im. 23:34-43). Perayaan itu diselenggarakan dengan maksud untuk selalu mengingat bahwa bangsa Israel pernah ada dalam perjalanan di padang gurun. Dalam pengembaraan selama perjalanan tersebut, mereka tinggal dalam pondok-pondok daun. Untuk memudahkan, persembahan perpuluhan itu boleh diuangkan, akan tetapi uang tersebut harus dibelanjakan untuk makanan minuman guna keperluan pesta Pondok Daun (Ul. 14:24-26).
    Persembahan perpuluhan sebagai persembahan khusus ditujukan untuk tunjangan atau semacam gaji para Lewi dan imam karena tugasnya di Bait Allah atau Rumah Tuhan (Ul. 26:12-15; Bil. 18:21-28). Selain itu perpuluhan juga untuk tujuan sosial, yaitu untuk orang asing, anak yatim, dan janda yang ada di tengah mereka (Ul. 14:28-29; 26:12-15, dan lain-lain). Persembahan ini biasanya diambil oleh suku Lewi sendiri. Perpuluhan juga digunakan untuk pemeliharaan Bait Allah (Mal. 3:10-11).
    Persembahan perpuluhan (baik untuk pesta nasional Pondok Daun maupun persembahan khusus) diambil dari sektor agraris, yaitu peternakan dan pertanian. Materi perpuluhan dari hasil pertanian antara lain gandum, anggur, minyak zaitun. Pada zaman Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyebut selasih, jintan, adas manis termasuk yang harus dipersembahkan (Mat. 23:23). Perpuluhan juga dari hasil ternak, antara lain anak sulung kambing, domba, lembu, sapi, dan lain sebagainya (Ul. 14:23b; Ul. 12:17b).
    Mengapa perpuluhan diambil dari tanah dan peternakan? Sebab tanah yang mereka garap adalah tanah warisan yang seharusnya dibagi 12, tetapi suku Lewi tidak mendapatkannya. Jadi, mereka harus membagi sepersepuluh hasil bumi mereka kepada suku Lewi. Bagi mereka yang bergerak di sektor perdagangan, buruh, sektor jasa, dan lain sebagainya tidak ada penjelasan untuk memberikan  perpuluhan.
    Jadi, bisa disimpulkan bahwa dari ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai perpuluhan, pada dasarnya perpuluhan ditujukan untuk obyek-obyek sebagai berikut:
    Pertama, para imam-imam dan suku Lewi yang tidak memiliki warisan tanah untuk dikelola (Bil. 18:26-28).
    Kedua, para yatim piatu, janda-janda, dan orang miskin, serta orang asing (Ul. 14:29).
    Ketiga, kebutuhan ritual di Bait Allah atau upacara agama. Selain perpuluhan, bangsa Israel juga diharuskan untuk memberi persembahan yang lain, seperti korban bakaran, buah sulung, persembahan sukarela, dan yang mirip dengan perpuluhan reguler, serta ada perpuluhan setiap tiga tahun sekali, dan lain sebagainya.
    Keempat, perpuluhan perlu sebagai pajak pada negara, yang digunakan untuk gaji pegawai dan membiayai penyelenggaraan pemerintahan (1Sam. 8:14-15).
    Kelima, perpuluhan untuk pemeliharaan Bait Allah dan pelayanan di Bait Suci (Mal. 3:10-11).
    Adapun persembahan perpuluhan, jika diberikan dalam bentuk uang, harus ditebus dengan ditambah dengan dua puluh persen dari nilai perpuluhan tersebut. Jadi, persembahan perpuluhan dalam bentuk uang menjadi dua belas persen; tetapi untuk ternak, tidak boleh mereka tebus (Im. 27:30-33). Jadi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…