Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perpuluhan Nenek Moyang Israel
    Penulis surat Ibrani ketika menulis mengenai perpuluhan yang dilakukan oleh Abraham, ia mencantumkan kalimat khoris de pases antilogias (χωρὶς δὲ πάσης ἀντιλογίας), yang dalam bahasa Inggris ada yang menerjemahkan And without all contradiction, artinya tidak bisa dibantah atau tidak bisa dihindari. Kata “tidak dapat disangkal”, dalam Ibrani 7:7, menunjukkan kenyataan yang sudah pasti berlaku, bahwa orang yang lebih muda atau kurang terhormat diberkati oleh yang lebih tua atau yang lebih terhormat. Mereka yang derajat atau statusnya lebih rendah memberikan persembahan atau semacam upeti kepada yang lebih tinggi kedudukannya. Jadi, persembahan perpuluhan merupakan metode upeti (persembahan) yang dilakukan oleh mereka yang statusnya lebih rendah atau usianya lebih muda, kepada yang statusnya lebih tinggi (dihormati), yang dikenal saat itu.
    Perpuluhan yang dilakukan oleh Abraham kepada Melkisedek (Kej. 14:20), sebenarnya meneruskan tradisi yang ada di masyarakat Mesopotamia Kuno. Melkisedek adalah sosok yang sangat terhormat, lebih terhormat dari Abraham. Alkitab mencatat, bahwa Dia adalah seorang imam Allah yang tidak berayah dan tidak beribu. Siapakah sosok ini? Alkitab tidak menunjukkannya dengan jelas, tetapi sosok ini bisa menunjuk Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Allah Anak, yang suatu hari menjadi manusia dan membawa darah-Nya sendiri sebagai korban penghapus dosa.
    Bila kita mengamati dengan teliti dan jujur, ternyata persembahan perpuluhan yang dipersembahkan Abraham kepada Melkisedek adalah hasil rampasan perang, bukan harta milik pribadinya (Kej. 14:16, 20; Ibr. 7:4). Pertemuan Abraham dengan Melkisedek adalah ketika ia ada dalam perjalanan pulang dari perang melawan raja Kedorlaomer. Dalam Kejadian 14:16-20, jelas sekali dikatakan bahwa Abraham merebut semua harta mereka (Kej. 14:16), dan memberikan sepersepuluh darinya kepada Melkisedek (Kej. 14:20). Adapun sembilan puluh persen sisanya diberikan kepada raja Sodom.
    Biasanya penganjur perpuluhan menekankan tindakan Abraham memberikan perpuluhan kepada Melkisedek, tetapi tidak menyinggung yang sembilan puluh persen kepada raja Sodom. Abraham tidak mau dirinya dianggap menjadi kaya karena jarahan yang diperolehnya dari raja Kedorlaomer, tetapi ia memberikan bagiannya yang sepuluh persen kepada Melkisedek dan yang sembilan puluh persen lainnya kepada raja Sodom.
    Jadi, Abraham tidak dengan sengaja datang ke tempat Melkisedek untuk memberi perpuluhan. Hal itu terjadi karena kebetulan Abraham dalam perjalanan pulang ke tempat di mana ia menetap, Abraham harus melintasi Salem. Justru Melkisedeklah bersama dengan raja Sodom yang menyongsong Abraham (Kej. 14:17-18). Selain itu perlu dicatat bahwa Abraham memberi perpuluhan hanya kali itu saja. Tidak ada cerita bahwa ia selalu (berulang-ulang) memberikan perpuluhan kepada Melkisedek. Dengan demikian, sangat jelas bahwa Abraham tidak mempersembahkan sebagian diri miliknya, tetapi mempersembahkan sebagian dari jarahan yang diperolehnya, hasil dari mengalahkan raja Kedorlaomer.
    Data lain mengenai perpuluhan yang dapat kita peroleh dalam Kejadian 28:22, yaitu kisah mengenai Yakub yang dalam pelarian. Ketika Yakub beristirahat karena lelah dalam pelariannya, ia berjanji akan selalu memberikan perpuluhan dari segala berkat yang ia peroleh, tegasnya. Pada waktu itu ia tertidur di Betel, ia mendapat mimpi yang dahsyat, di tempat itulah ia berjanji hendak memberikan perpuluhan kepada Tuhan, jika Tuhan melindungi dirinya dan membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Jadi perpuluhan itu diberikan bersyarat, yakni jika ia dilindungi oleh Tuhan (Kej. 28:20-22).
    Kalau Tuhan tidak melindungi Yakub dan tidak membawanya pulang ke rumah orang tuanya dengan selamat, maka ia tidak akan memberi perpuluhan. Apakah hal ini dapat menjadi landasan untuk mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan? Kita pun juga tidak tahu bagaimana mekanisme Yakub memberikan perpuluhan. Kepada siapa Yakub menyerahkan perpuluhannya,
    0 min
  • Etimologi Dan Asal Mula Praktik Perpuluhan
    Dalam Bahasa Indonesia kita menemukan kata “perpuluhan”,  yang lain menyebut persepuluhan. Kata ini hendak menunjuk kepada sepersepuluh hasil bumi dan ternak bangsa Israel yang harus dipersembahkan bagi Tuhan untuk beberapa kepentingan dan kebutuhan. Dalam bahasa Ibraninya kata perpuluhan adalah ma’aser (רשֵׂעֲמַ), dalam bahasa Yunani Koine disebut dekate (δεκάτη) atau apodekatoo (ἀποδεκατόω). Dekate artinya perpuluhan, sedangkan apodekatoo berarti membayar perpuluhan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa istilah perpuluhan di dalam bahasa Ibrani ialah ma’aser yang berasal dari kata Aram ascher, yang artinya kekayaan.
    Terdapat pandangan pula, bahwa istilah ma’aser (רשֵׂעֲמַ) yang digunakan oleh Musa dalam bahasa Ibrani untuk persembahan perpuluhan, diambil dari istilah dalam bahasa Akkadian, yaitu bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar (lingua franca) di dunia Semit pada zaman Abraham. Istilah itu besar kemungkinan berasal dari dunia pajak, yang jumlahnya sepersepuluh dari nilai harta yang harus dibayarkan kepada penguasa pada zaman masyarakat Mesopotamia kuno; tempat di mana Abraham pernah berdomisili.
    Kata perpuluhan dapat kita temukan di banyak ayat dalam Alkitab (Im. 27:30,32; Bil. 18:21,24,26; Ul. 14:23, 28; 26:12; 2Taw. 31:5; Neh. 12:44; 13:5,12; Mal. 3:8,10; Ibr. 7:5-9). Kata yang sama artinya dengan perpuluhan adalah sepersepuluh. Kata ini juga banyak terdapat dalam Alkitab (Kej. 14:20; 28:22; Kel. 16:36; 29:40; Im. 5:11; 6:20; Im. 14:21; Bil. 5:15; 15:4; 28:5,13; 21; 29:4,10,15; Ul. 14:22; 1Sam. 8:15,17; Yes. 6:13; Yeh. 45:11,14; Mat. 23:23; Ibr. 7:2,4). Kata yang sejajar dengan perpuluhan adalah persepuluhan, sepuluh esa, dan sepuluh asa.
    Ditinjau dari budaya Timur Tengah kuno, pada mulanya perpuluhan sebetulnya bukan istilah keagamaan bangsa Yahudi. Dalam dunia kuno di Timur Tengah, angka 10 persen adalah dasar untuk sistem perhitungan. Pada zaman itu, agama-agama kuno di Timur Tengah memberi persembahan kepada ilah-ilahnya dengan memakai perhitungan sepersepuluh. Dalam agama-agama kuno, bila seseorang telah memberi sepersepuluh kepada allah atau dewanya, berarti telah menunjukkan kepatuhan atau penyerahan mutlak. Dengan demikian, konsep persembahan perpuluhan sudah ada dalam agama-agama kuno di Timur Tengah. Hal ini juga bukan sesuatu yang asing bagi Abraham.
    Menurut transkrip kuno, perpuluhan menunjuk adanya metode persembahan dengan menggunakan persentase. Praktik ini sudah menjadi tradisi publik (umum) yang dilakukan oleh masyarakat Timur Tengah kuno, termasuk Mesopotamia, tempat dari mana Abraham berasal. Persembahan itu dimaksudkan sebagai upeti kepada mereka yang dihormati dan pernyataan tunduk atau takluk kepada yang dianggap lebih tinggi derajatnya.
    Pada zaman masyarakat Mesopotamia kuno, perpuluhan tidak hanya diberikan kepada pihak penguasa, tapi juga kepada pelayan atau pejabat keagamaan. Hal ini berlanjut pada budaya Yahudi untuk suku Lewi yang memang bertugas di area keagamaan. Sudah bisa diduga, bahwa praktik perpuluhan di kalangan masyarakat Mesopotamia kuno telah berlangsung sebagai budaya. Dengan demikian, apa yang dilakukan Abraham dalam Kejadian 14 sejatinya hanyalah merupakan lanjutan atau bagian dari tradisi yang sudah ada. Dokumen-dokumen tua yang ditemukan melalui penggalian dari kota Ur, kota dari mana asal Abraham, jelas sekali menunjukkan bahwa tradisi perpuluhan tersebut juga sudah sangat dikenal. Menurut penemuan para ahli, perpuluhan di kota Ur kuno diberikan kepada dewa-dewa sesembahan mereka, di antaranya dewi Ningal, dewi yang disembah penduduk Ur.
    Menurut beberapa ahli, ternyata pula perpuluhan tidak hanya menjadi tradisi Mesopotamia kuno, tetapi masyarakat Kanaan lainnya seperti Syro-Palestina juga memiliki tradisi yang sama. Di Mesir pun juga ditemukan adanya tradisi perpuluhan. Bentuk-bentuk perpuluhan pada zaman itu, baik di masyarakat Mesopotamia kuno maupun bangsa-bangsa Timur Tengah lainnya, beraneka ragam.
    0 min
  • Terikat Dengan Tuhan
    Hidup beriman dalam Tuhan Yesus artinya hidup dalam persekutuan yang berkesinambungan. Persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan yang tidak terhenti, artinya tidak boleh ada jeda sama sekali. Roh Kudus dimateraikan di dalam diri kita, mengindikasikan bahwa persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan terus menerus yang berlangsung di sepanjang waktu, di segala tempat, dan dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun.  Kesadaran ini harus mencengkeram jiwa kita, agar kita bisa menghayati kehadiran Tuhan setiap saat, di segala tempat dan dalam segala keadaan. Inilah yang dimaksud hidup di hadirat Tuhan. Hal ini menjadikan kesukaan dan kebahagiaan hidup yang tiada tara. Semua orang percaya memiliki kesempatan dan anugerah untuk mengalaminya. Dalam hal ini, kita dapat membuktikan pemenuhan janji Tuhan Yesus, bahwa ia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Keterikatan dengan Tuhan dalam persekutuan yang indah bukan hanya ketika ada dalam ruangan kebaktian.
    Keterikatan dengan Tuhan berkonsekuensi, yaitu kita tidak boleh terikat dengan dunia. Terikat dengan dunia artinya memiliki suasana hati yang kebahagiaan dan kesenangannya ditentukan atau hanya dipengaruhi oleh fasilitas dunia, dari kekayaan sampai keadaan nyaman. Orang-orang seperti ini pasti bertuankan mamon. Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas, bahwa orang percaya tidak boleh memiliki dua tuan. Hanya boleh satu saja. Ini berarti keterikatan orang percaya harus dengan Tuhan atau tidak sama sekali. Dalam hal ini Tuhan tidak mau berbagi atau dibagi dengan yang lain.
    Takhta hati kita dalam keterikatannya dengan obyek tertentu harus hanya diperuntukkan bagi Tuhan.  Keterikatan dengan Tuhan harus keterikatan setiap saat dan dei setiap tempat, bukan hanya pada waktu ada di dalam ruangan gereja. Ketidakterikatan dengan dunia -bukan karena kita tidak ada di dalam gereja- harus berlaku di segala tempat dan di sepanjang waktu hidup kita. Walaupun seseorang memiliki kesempatan untuk terikat dengan sesuatu, tetapi ia harus menolaknya, maka berarti ia serius untuk tidak terikat dengan ikatan lain selain dengan Tuhan.
    Sebagaimana kita tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula kita tidak boleh tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Ketidakterikatan dengan dunia bukan karena kita tidak menjadi pengusaha, kemudian menjadi full timer gereja atau seorang pendeta. Harus dicatat, bahwa seorang pendeta belum tentu tidak terikat dengan dunia. Yudas selalu bersama-sama dengan Yesus, tetapi ternyata hidupnya terikat dengan dunia, dalam hal ini terikat dengan uang. Sehingga ia tidak jujur, bahkan mengkhianati Tuhan dan gurunya.
     
    Ada orang-orang yang mau terus dalam persekutuan dengan Tuhan, dan hendak memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan, maka ia melakukannya dengan cara meninggalkan pekerjaan sekuler rajin datang kebaktian, supaya lebih sempurna lagi ia menjadi pendeta. Ini konsep yang salah. Konsep agama-agama kafir. Untuk menjadi orang suci dan tidak terikat dengan dunia, seseorang harus meninggalkan kesibukan dunia, menyepi ketempat-tempat tertentu, untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Demikianlah konsep banyak agama, di mana mereka yang meninggalkan kesibukan hidup dianggap lebih suci dari orang-orang yang sibuk dalam pekerjaan. Mau menyatu dengan Tuhan harus menyingkir ke tempat sunyi adalah konsep yang salah.
    Bagaimana seseorang dapat dikatakan perenang hebat, kalau hanya berenang di bak kamar mandi?  Bagaimana Anda dapat terbukti sebagai suami yang setia, kalau tidak pernah bertemu dengan wanita cantik dan berbagai godaan untuk selingkuh? Bagaimana seseorang dapat membuktikan sebagai orang yang mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jika kita tidak pernah berkesempatan meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan, nama besar, nama baik yang dapat kita raih?
    Tuhan memberi peluang untuk kita dapat terhindar dari segala keterikatan, tetapi apakah kita mau mengusahakannya?
    0 min
  • Demi Natur Baru
    Untuk memiliki kehidupan beriman dalam Tuhan, seseorang harus mengalami penggarapan Tuhan. Penggarapan ini tidak mudah. Kadang-kadang Tuhan perlu meremukkan kita dengan segala cara yang sangat menyakitkan, tetapi inilah jalan berkat yang Bapa sediakan bagi kita.  Untuk ini, kita harus fokus pada tujuan tersebut. Dan untuk dapat fokus, pikiran kita harus ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas. Dalam hal ini, Paulus oleh ilham Roh berkata: Pikirkan perkara yang di atas, carilah perkara yang di atas ini sejajar dengan perkataan Tuhan Yesus “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi. Sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada”. Oleh sebab itu gereja dan para pembicaranya tidak boleh menyesatkan umat dengan khotbah-khotbah yang orientasinya pada berkat jasmani. Karena khotbah-khotbah seperti itu membuat jemaat tidak mengenali panggilan-Nya.
    Paulus menasihati jemaat untuk mencari perkara-perkara yang di atas. Senada dengan ini, Tuhan Yesus menganjurkan untuk mengumpulkan harta di surga. Semua ini maksudnya adalah agar orang percaya memfokuskan diri pada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Dengan demikian kita mengerti mengapa Tuhan berkata: Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Ketika Tuhan mengucapkan kalimat kesediaan kita untuk tidak mengumpulkan harta di surga, sejatinya itu merupakan cara kita menghayati kehidupan kita sebagai warga Kerajaan Allah. Sampai kita menyadari sedalam-dalamnya bahwa dunia ini bukan rumah kita. Bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Bahwa kita telah mati bagi kesenangan dunia. Sampai tingkat ini Iblis tidak lagi bisa membujuk kita untuk menyembahnya (Luk. 4:5-8).
    Jika seseorang berani memfokuskan diri kepada perkara-perkara di atas dan meninggalkan perkara-perkara yang ada di bumi, inilah yang disebut sebagai kematian diri. Jika hal ini benar-benar terjadi atau berlangsung, maka natur baru dalam kehidupan orang percaya dapat bertumbuh. Kematian diri ini tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Manusia tetap memiliki diri. Melalui penyangkalan diri terus menerus, ia menyerahkan kehendak dirinya kepada Tuhan.
    Masalahnya kemudian adalah bagaimana kita mengembangkan natur baru ini? Tentu yang pertama Roh Kudus menuntun kita. Dalam hal ini Tuhan sudah menaruh Roh-Nya dalam diri kita sebagai pendamping yang membawa kita kepada segala kebenaran. Roh Kudus adalah pengasuh kita yang pasti menuntun kita kepada kedewasaan rohani yang benar. Dalam perkembangan atau transformasi yang terus menerus seorang bisa berkata: Hidupku bukan aku lagi (Gal. 2:20). Di sinilah kematian diri seseorang semakin nampak nyata. Sebagai akibatnya, tentu kemuliaan Tuhan nampak nyata dalam hidupnya. Dalam tingkat ini ia efektif menjadi berkat bagi orang lain.
    Kematian diri ini akan membuat seseorang berkeadaan di mana dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana. Seiring dengan ini maka natur atau kodrat Ilahi bertumbuh. Inilah natur atau kodrat baru dalam kehidupan orang percaya. Dengan demikian natur atau kodrat dosa kita semakin melemah atau mati. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup Ke-kristenan. Kesediaan untuk hal ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya kita memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru. Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam Kekristenan bukan sekadar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Orang mati tidak dapat hidup lagi. Kalau kita mati bagi dosa, maka kita tidak dapat berbuat dosa lagi. Oleh sebab itu komitmen bahwa kita sudah mati merupakan komitmen yang harus diingatkan terus menerus. Kita harus hidup dalam kematian sampai permanen mati.
    Selanjutnya, orang yang mengalami kematian diri akan bisa hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya, hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban, tetapi kebutuhan.
    0 min
  • Kematian Di Dalam Tuhan
    Tujuan hidup Kekristenan pada dasarnya adalah bahwa suatu hari nanti, akhirnya Allah Bapa dapat menemukan orang-orang percaya berkepribadian anak Allah, yaitu seperti Anak Tunggal-Nya. Dengan demikian digenapi Firman yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29). Untuk memiliki kepribadian Anak Allah, tidak ada cara lain kecuali mengalami “kematian”. Tentu kematian yang dimaksud di sini bukanlah mati dalam arti jasmani di mana seseorang harus dikubur di tanah kembali menjadi debu. Kematian di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian hidup beriman dalam Yesus Kristus adalah hidup dalam kematian terhadap manusia lama.
    Jika orang percaya sungguh-sungguh berjuang untuk memiliki kehidupan anak Allah di dalam dirinya, maka ia harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada padanya. Sebab hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha yang setengah-setengah. Harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas, baik tenaga, pikiran, waktu dan segala hal yang ada di dalam kehidupan kita. Jika ada hal lain yang dianggap lebih penting dari memiliki kehidupan anak Allah, maka ia tidak pernah mencapai goal ini; yaitu berkeberadaan sebagai anak Allah yang berkodrat Ilahi. Untuk ini, kita harus bersedia dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Bukan sekadar berstatus anak Allah, tetapi berkeberadaan atau berkodrat. Hanya orang-orang yang berkeberadaan anak Allah yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus, mewarisi pemerintahan Kerajaan Allah atau dimuliakan bersama dengan Kristus dan menerima janji Bapa.
    Kematian dalam Tuhan bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi dan lain sebagainya, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti ia rela kehilangan segala hak demi Tuhan.  Hal ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik, dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Itulah sebabnya di dalam Tuhan Yesus kita menjadi ciptaan yang baru. Hal ini sama dengan bahwa kita telah dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:13). Orang percaya dilahirkan oleh Allah dengan natur baru. Menjadi anak-anak Allah, yang penting bukan saja kita berstatus anak Allah dimana kita memiliki jaminan pemeliharaan, perlindungan dan berkat-berkat-Nya, tetapi kita juga memiliki kodrat baru atau natur baru.
     
    Panggilan untuk mengalami kematian dalam Tuhan sebenarnya panggilan untuk semua orang percaya, tetapi kenyataannya sangat sedikit orang Kristen yang mengalaminya. Hal inilah yang dimaksud dalam Filipi 3:10, bahwa orang percaya harus serupa dengan Yesus dalam kematian-Nya. Pada dasarnya ini adalah kehidupan yang tidak lagi ditujukan untuk diri sendiri atau untuk siapa pun, tetapi ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya.
    Dalam Kolose 3:3 Paulus menulis: “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”. Kalimat ini banyak tidak dimengerti orang. Lebih banyak orang Kristen yang tidak rela kehilangan “hidupnya”. Padahal jelas Alkitab katakan: bahwa kamu telah mati. Ketidakrelaan untuk mengalami kematian di dalam Tuhan sangat merugikan diri sendiri. Memang berat dan bahkan kedengarannya aneh benar, tetapi inilah jalan satu-satunya untuk hidup beriman dalam Tuhan Yesus. Dengan demikian, sangatlah bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus menghendaki agar kita yang sungguh-sungguh bersedia mengikut Dia, harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 16:24-25).
    Pada dasarnya menyangkal diri bukan hanya tindakan menolak semua perbuatan yang bertentangan dengan hukum moral atau etika. Tetapi menyangkal diri adalah tindakan meninggalkan dunia dengan segala kese...
    0 min
  • Menjadi Bagian Dari Pasukan Tuhan
    Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti menjadi bagian dari pasukan atau laskar Tuhan Yesus. Hari-hari ini, kita harus makin menyadari bahwa peperangan dan ketegangan antara kerajaan kegelapan dan Kerajaan Terang semakin dahsyat. Kita dipanggil untuk berdiri di pihak siapa kita berdiri. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak menunjukkan sikap yang jelas berada di pihak siapa. Ini sangat berbahaya. Kalau kita tidak memiliki sikap yang jelas di pihak siapa kita berdiri, itu berarti kita tergiring menjadi tawanan Iblis.  Dalam Lukas 11:23 ditulis “barang siapa yang tiada masuk pihak Aku, ia melawan Aku; dan barang siapa yang tiada mengumpulkan beserta dengan Aku, ialah mencerai-beraikan”. Dalam ayat ini kita temukan ketegasan Tuhan agar kita dapat mengetahui bagaimana posisi kita hari ini di hadapan Allah.
    Pemberontakan Iblis di hadapan Allah menyeret malaikat-malaikat, berlanjut atau dilanjutkan di muka bumi (Why. 12:1-4, 7-9). Bahkan pemberontakan beralih dari surga ke bumi ini. Iblis mencoba menyeret sebanyak mungkin manusia untuk mengikuti jejaknya melawan Tuhan. Ini merupakan gerakan Iblis yang terus berlangsung sampai hari ini. Manusia harus menyadari hal ini (1Ptr. 5:9). Ketika Kerajaan Surga datang, Ia menantang kita ada di pihak mana. Kerajaan Surga datang dibawa oleh Tuhan Yesus, yang merupakan isyarat dimulainya sebuah peperangan besar. Yaitu peperangan untuk membinasakan pekerjaan Iblis dan mengembalikan manusia kepada pemiliknya. Sebagaimana Iblis mendayagunakan segala kekuatan dan pengikutnya untuk melawan Allah, demikian pula Tuhan Yesus mendayagunakan kekuatan-Nya dan pengikut-Nya untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Di surga malaikat-malaikat yang berperang, tetapi di bumi “kita” -orang percaya- yang mengawal pekerjaan-Nya. Yang penting harus kita ketahui sekarang adalah kita di pihak siapa? Apakah kita turut serta mengawal pekerjaan-Nya atau sibuk dengan urusan kita sendiri?
    Kalau kita disebut sebagai “laskar Kristus maju masuklah perang” itu maksudnya kita berperang melawan penghulu yang jahat dunia ini. Setiap orang dipanggil untuk itu. Peperangan yang pertama dimulai dalam diri kita. Kita harus menghentikan pemilikan kuasa kegelapan atas diri kita. Kemudian Tuhan mau memakai kita untuk melepaskan manusia lain dari cengkeraman kuasa kegelapan. Harus diperhatikan bahwa seseorang tidak bisa melepaskan orang lain sementara dirinya sendiri masih terikat kuasa kegelapan. Hamba Tuhan yang masih terikat materialisme, tidak akan dapat melayani orang lain dengan benar.
    Kita tidak boleh lupa bahwa setelah kita menjadi anak Tuhan ada perjuangan berat yang kita alami. Perjuangan berat tersebut adalah perjuangan menghadapi musuh, yaitu penghulu roh-roh di udara. Kalau dahulu kita di pihak musuh, yaitu bersikap melawan Tuhan, tetapi sekarang kita di pihak Tuhan harus hidup dalam kebenaran Tuhan. Ini berarti kita menjadikan diri kita musuh penghulu roh-roh di udara. Dalam Efesus 6:12 Alkitab menyatakan: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”.
     
    Perhatikan kata “perjuangan” dalam teks ini. Perjuangan di sini dalam teks aslinya adalah pale (πάλη), yang dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan wrestling, yaitu pergulatan. Seperti seorang adu gulat, ia harus berjuang dan terus bergerak untuk merebut kemenangan, sebab kepasifan berarti kekalahan. Seorang pegulat tidak boleh berhenti berjuang, ia ada dalam situasi dimana lawan terus berusaha untuk menaklukkannya. Kekristenan tidak boleh dijalani dengan santai dan pasif, tetapi berjaga dan selalu kuat, karenanya di Efesus 6:10 Paulus menasihati kita: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”. 
    Petrus menasihati kita bertalian dengan hal ini sebagai berikut: “Sadarlah dan berjaga-jagal...
    0 min
  • Hidup Dalam Pemerintahan Tuhan
    Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti hidup dalam pemerintahan Allah. Terkait dengan hal ini, Tuhan menghendaki agar kita membangun Kerajaan Tuhan atau menghadirkan Kerajaan Tuhan, artinya suasana pemerintahan Allah harus hadir dalam hidup kita. Suasana pemerintahan Allah adalah jiwa yang dikuasai oleh kerinduan terhadap perkara-perkara surgawi, yaitu penghargaan kepada nilai-nilai kekekalan. Untuk ini Tuhan Yesus berkata:  “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga (Mat. 6:19-20). Banyak orang salah mengerti terhadap maksud ayat ini. Secara sekilas ayat ini mudah dimengerti, tetapi sebenarnya tidak. Maksud ayat ini adalah bahwa kita harus melatih diri tidak terikat dengan hal-hal duniawi sama sekali. Terikat hal duniawi di sini maksudnya adalah bahwa penghargaan kita terhadap kekayaan dunia membuat seseorang tidak menghargai nilai-nilai kekekalan, sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.
    Ini adalah sebuah pemerintahan yang tidak kelihatan. Menjadi orang percaya adalah menjadi manusia yang hidup dalam pemerintahan Tuhan. Ternyata untuk memiliki keyakinan yang benar mengenai hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebab pemerintahan Tuhan ini tidak kelihatan.  Kita sudah terbiasa memercayai apa yang kelihatan. Untuk dapat memercayai kekuatan Allah yang tidak kelihatan atau pemerintahan Tuhan yang tidak nyata secara fisik merupakan hal yang tidak mudah. Banyak orang beranggapan bahwa keyakinan ini hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berkarunia khusus. Padahal keyakinan ini merupakan hal biasa, yang memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Untuk ini kita harus mengembangkan keyakinan tersebut. Kita harus membiasakan diri memercayai Tuhan dan pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan secara mata fisik manusia. Kita harus melatih terus untuk membiasakan diri hidup dalam pola hidup pemerintahan Tuhan.
    Tuhan melatih bangsa Israel untuk mengenal Tuhan, kekuatan dan pemerintahan-Nya. Melalui pengalaman di tepi Laut Kolzom, Tuhan menunjukkan kehadiran kuasa dan pemerintahan-Nya. Ketika Kolzom terbelah, mata mereka tercelik untuk melihat kuasa pemerintahan Allah. Juga dalam hidup Sadrach dan teman-temannya, dapur api yang menyala-nyala merupakan bagian dari mimbar Tuhan untuk memperkenalkan Diri-Nya kepada umat kesayangan-Nya dan manusia pada umumnya. Di sini nampak fakta pemerintahan Tuhan dalam hidup mereka. Makin besar masalah yang kita hadapi, makin nyata kehadiran pemerintahan Tuhan dalam hidup.
    Seorang yang belajar hidup dalam pemerintahan Tuhan akan melakukan hal-hal ini: Pertama, selalu mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan. Sebelum seseorang mengenal pemerintahan Tuhan, ia hidup sesuka hati. Dirinya sendirilah yang menjadi tuan atas hidupnya. Tetapi ketika ia menjadi orang percaya, ia mulai hidup dalam pemerintahan Tuhan, maka ia harus mulai mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan.  Keyakinan akan pemerintahan Allah, akan berdampak atau nyata dalam sikap hidup kita. Kita akan bertindak lebih hati-hati. Kita tidak berada di daerah yang tidak bertuan, tetapi di dalam wilayah pemerintahan Tuhan yang berhukum. Pada dasarnya, keyakinan akan pemerintahan Tuhan dan kekuasaan-Nya di balik kekuatan dan pemerintahan yang tidak kelihatan, bukanlah bertujuan agar kita bisa memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan kita. Tetapi merupakan persiapan untuk hidup dalam pemerintahan Tuhan di Kerajaan-Nya nanti. Dengan demikian seorang yang hidup dalam pemerintahan Tuhan, mulai memberi diri dibelenggu oleh pemerintahan-Nya. Inilah jalan kepada kemerdekaan hidup yang sejati.
    Kedua,  bergantung kepada Tuhan yang menjadi andalan hidup ini. Kita hidup di bawah bayang-bayang pemerintahan Allah yang menaungi kita. Keyakinan akan pemerintahan Allah memberi kekuatan batin yang hebat dalam keadaan-keadaan sulit yang kita hadapi, dan sekaligus memberi pengharapan hari esok baik,
    0 min
  • Cara Berpikir Yang Berbeda
    Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti berpola pikir yang berbeda, sehingga bergaya hidup yang tidak sama dengan dunia ini. Dengan demikian, orang percaya harus selalu mengalami proses pembaharuan pikiran. Proses pembaharuan pikiran ini akan membuat gaya hidup seorang anak Tuhan semakin berbeda dengan gaya hidup anak-anak dunia. Kenyataan ini tidak mungkin dapat dihindari. Kalau gaya hidup seorang Kristen tidak berubah seperti yang dipolakan oleh Tuhan, maka ia bukanlah orang Kristen sejati, tetapi orang Kristen palsu. Demikianlah dikatakan dalam kitab suci, bahwa gandum bercampur dengan lalang tumbuh bersama. Sekarang Tuhan tidak mengadakan pemisahan, tetapi nanti di akhir zaman, barulah Tuhan mengadakan pemisahan. Gaya hidup yang dipola Tuhan adalah gaya hidup sesuai dengan Injil Kerajaan Surga. Inilah yang Paulus maksudkan sebagai hidup yang berpadanan dengan Injil (Flp. 1:27). Kehidupan yang berpola Tuhan adalah kehidupan yang semakin seperti Yesus. Kehidupan seperti Yesus adalah kehidupan seseorang, yang dalam hidup ini hanya melakukan kehendak Bapa, berperilaku mulia, dan hidup memperjuangkan pelebaran Kerajaan Allah. Pelebaran Kerajaan Allah artinya bagaimana Injil bisa didengar oleh sebanyak mungkin orang dan mendewasakan mereka.
    Perubahan tersebut membuat seseorang tidak menemukan sahabat yang bisa sehati di luar orang percaya. Dengan demikian, ia akan merasa kesepian, sebab pola hidup manusia di sekitarnya makin berbeda dari apa yang dihayati atau dimengertinya mengenai kehidupan. Kesepian seperti ini justru membuat kehidupan rohaninya semakin sehat, sebab ia dibawa kepada suatu kesadaran bahwa ada rongga kosong dalam dirinya yang tidak dapat diisi oleh siapa pun dan apa pun kecuali oleh Tuhan sendiri. Kalau ia merasa bahwa dunia sekitarnya semakin berbeda, sebenarnya yang berubah bukanlah orang lain atau dunia sekitarnya, tetapi dirinya sendirilah yang semakin berubah.
    Hal inilah yang membuat seorang anak Tuhan yang bertumbuh secara benar di dalam Tuhan, tidak bisa lagi akrab dengan teman-teman lamanya yang tidak mengenal kebenaran. Bahkan kadang-kadang dengan saudara dan keluarga dekat sendiri ia merasa asing. Jadi kalau seseorang masih bisa akrab dengan orang yang tidak takut Tuhan, sangat besar kemungkinan ia belum bertumbuh secara benar di hadapan Tuhan. Kesepian seperti ini adalah kesepian kudus yang mendorong seseorang makin mencari Tuhan dan bersekutu dengan saudara seiman yang “se-roh”. Baginya, ke gereja bukan lagi kewajiban tetapi kebutuhan, sebab di sana ia menemukan orang-orang yang bisa diajak sehati.
    Perubahan-perubahan oleh kuasa Firman atas seseorang akan membuat seseorang tidak merasa nyaman hidup di bumi ini. Ia melihat ketragisan hidup ini. Namun demikian, ia tetap bisa menikmati semua berkat yang Tuhan sediakan.  Selanjutnya, ia makin menghayati apa artinya bahwa dunia ini bukan rumahnya. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara. Inilah yang harus terus menerus diajarkan kepada jemaat Tuhan, bahwa Tuhan memilih kita untuk meninggalkan dunia ini, sama seperti Abraham diperintahkan untuk meninggalkan Urkasdim. Apakah pola hidup ini membuat seorang anak Tuhan nampak tidak wajar? Tuhan tidak mengajarkan kita hidup secara tidak wajar di mata manusia. Wajar dengan pengertian, bahwa kita tidak kehilangan “kemanusiaan” kita.  Kita tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain dalam bekerja mencari nafkah, makan minum, menikah, menikmati alam, mengembangkan dan menikmati kreasi seni dan menikmati hobi yang menyukakan hati, berolah raga, rekreasi dan lain sebagainya.
    Jadi, menyangkal diri pada prinsipnya bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral seperti membunuh, berzina, mencuri dan lain sebagainya, tetapi juga kesediaan untuk mengubah tujuan dan motif hidup. Jadi yang paling dipersoalkan bukan “buah” semata-mata, tetapi akarnya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta ua...
    0 min
  • Hidup Secara Luar Biasa
    Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti hidup secara luar biasa. Tuhan berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Perjuangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah perjuangan yang tidak akan berhenti sampai seseorang menutup mata. Tuhan Yesus mengatakan “harus” sempurna, ini berarti bahwa menjadi sempurna bagi anak-anak Tuhan tidak boleh ditawar lagi. Gereja tidak boleh memberi kesan bahwa orang percaya boleh kurang sempurna, berhubung adanya kelemahan dan kekurangan manusia. Kesempurnaan inilah yang membuat seseorang memiliki standar moral lebih dari tokoh-tokoh agama manapun (Mat. 5:20). Ini berlaku bagi setiap orang percaya, bukan hanya bagi rohaniwan Kristen. Oleh sebab itu setiap orang Kristen harus berusaha mencapainya dengan segala kemampuan yang Tuhan anugerahkan.
    Semua itu merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dihindari bagi orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan, sebab mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui otoritas-Nya. Syarat ini bukan berarti sebuah jasa atau penentu keselamatan. Penentu keselamatan adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib, yang merupakan jalan keselamatan satu-satunya yang diberikan dengan cuma-cuma, bukan hasil perbuatan baik (Ef. 2:8-9). Dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara menerima keselamatan sebagai anugerah dan meresponi anugerah itu dengan mengakui ororitas-Nya untuk hidup secara luar biasa.
    Kalau kita berpikir bahwa usaha untuk sempurna dapat merusak doktrin teologia keselamatan oleh anugerah (Ef. 2:8), maka itu suatu pandangan yang sangat keliru. Usaha untuk menjadi sempurna bukan usaha untuk meraih keselamatan, tetapi sebagai respon terhadap anugerah yang Tuhan sediakan. Harus diingat, bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya hidup dalam kebaikan yang Bapa sediakan (Ef. 2:10). Tentu kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan standar Tuhan Yesus Kristus. Kesempurnaan yang dikehendaki oleh Tuhan adalah mengenakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus (Flp. 2:5-7). Orang yang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan atau sedang mengerjakan keselamatan, pasti berusaha untuk sempurna (Flp. 2:12). Tuhan Yesus dijadikan model manusia sempurna seperti yang Bapa kehendaki. Oleh sebab itu, kebaikan dan kesempurnaan Yesus bukan hanya dikagumi, tetapi juga diteladani. Dalam perjalanan pertumbuhan rohani seseorang yang sungguh-sungguh mengusahakan kesempurnaan, tidak bisa tidak ia pasti menampilkan kehidupan Yesus.
    Segala usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan dalam Tuhan. Kalau seseorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting dari mengusahakan kesempurnaan seperti Bapa, maka itu berarti ia mentuhankan perut dan berkategori duniawi (Flp. 3: 12-19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan. Tetapi inilah kenyataannya, bahwa orang percaya memang harus sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr. 12:1). Beban artinya keterikatan dengan dunia ini. Ini sama dengan percintaan dunia. Dosa yang dimaksud di sini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dirinya.
    Kesempurnaan dalam Tuhan artinya iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga (Ibr. 12:2-5). Kenyataan yang dapat dibuktikan hari ini, banyak orang yang mengusahakan pemenuhan kebutuhan jasmani lebih dari mengusahakan diri untuk sempurna seperti Bapa. Mengusahakan untuk sempurna bukan berarti mengurangi waktu kerja, bukan berarti harus menjadi aktivis gereja atau bahkan menjadi pendeta. Mengusahakan diri untuk sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga, bahwa kita sedang belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki. Di sinilah kita belajar untuk memenuhi apa yang dikatakan Firman Tuhan, yaitu jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan sesuatu yang lain,
    0 min
  • Hidup Dalam Otoritas Tuhan
    Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti hidup dalam otoritas Tuhan. Dalam Matius 5:20, Tuhan menetapkan suatu syarat yang berat untuk mereka yang mau masuk Kerajaan Surga, yaitu harus memiliki hidup keberagamaan yang lebih dari ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ini pernyataan yang mengejutkan. Bagaimana tidak, sebab ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama, yang pada waktu itu dianggap memiliki kesalehan lebih dari masyarakat umum. Dengan pernyataan Tuhan Yesus ini, orang percaya dituntut untuk memiliki target, yaitu hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Hidup keberagamaan dalam teks tersebut adalah dikaosune, yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang nampak di luar maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikirnya.
    Ketika seseorang menjadi orang yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka ia harus mengakui otoritas-Nya. Mengakui otoritas Yesus berarti melakukan apa pun yang diperintahkan atau yang Dia kehendaki. Kehendak Tuhan Yesus adalah agar kita menjadi seorang yang luar biasa dalam kelakuan. Ini adalah tuntutan yang sangat berat. Tetapi inilah standar anak-anak Allah, sebab orang percaya haruslah mengenakan standar kehidupan Yesus sendiri. Di dalam pertintah untuk memiliki kebenaran yang melampaui ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Tuhan memberi kesanggupan untuk melakukannya. Kesanggupan itu sama dengan kuasa (Yun. exousia), yaitu Roh Kudus yang dimateraikan, Injil dan penggarapan Allah melalui segala kejadian atau peristiwa hidup yang kita alami.
    Demikianlah, kita dapat mengerti mengapa Tuhan memberi tuntutan yang sangat berat kepada seseorang yang mau memperoleh hidup kekal, sebab Tuhan menginginkan orang percaya untuk hidup dalam kualitas tinggi (Mat. 19:16-26). Dalam Matius 19:16-26 dikisahkan mengenai seseorang yang merindukan suatu kehidupan yang berkualitas, atau hidup kekal. Tuhan menetapkan suatu syarat untuk memperoleh hidup yang kekal tersebut, yaitu menjual segala milik, membagikannya kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus.  Orang ini tidak bisa memenuhinya, dengan sedih ia meninggalkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak mencegah kepergiannya. Tuhan tidak mau menahan orang yang memang tidak berniat untuk memperoleh keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini kita temukan, bahwa Tuhan tidak menolerir orang yang yang tidak sungguh-sungguh mau memenuhi tuntutan-Nya. Tuhan tidak mengurangi tuntutan-Nya.
    Memang Tuhan penuh kasih, tetapi Tuhan adalah Tuhan yang memiliki otoritas dan ketegasan yang tidak bisa diatur oleh manusia. Kalau Tuhan berkata: “Kamu harus sempurna…”, maka kita tidak boleh menawar kehendak Tuhan tersebut dengan kehidupan yang kurang sempurna. Walau mungkin sampai mati kita tidak sempurna, tetapi kita harus mengusahakan kesempurnaan dengan sungguh-sungguh. Usaha untuk sempurna inilah bukti bahwa seseorang mengakui otoritas-Nya. Dan orang-orang seperti ini layak disebut umat-Nya. Oleh sebab itu mendengar kata “sempurna”, hendaknya kita tidak gentar. Kita harus memandang Tuhan dan lebih gentar terhadap Dia. Kalau seseorang memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah, maka apa pun yang diperintahkan pasti dipenuhinya, artinya tidak ada hal yang besar. Sebab hanya Allah yang besar.
     
    Hidup beriman dalam Yesus Kristus, berarti tunduk pada otoritas Tuhan tanpa batas. Hal ini telah ditunjukkan oleh Abraham sebagai bapa orang percaya. Ketika Elohim Yahwe menghendaki korban bakaran yang menggunakan anaknya sebagai korban bakaran, Abraham tidak membantah sama sekali. Abraham melakukannya dengan mantap tanpa ragu-ragu. Juga ketika sampai hari tuanya, Abraham tidak menemukan negeri yang dijanjikan, Abraham tetap bersiteguh tidak kembali ke Urkasdim. Sikap kepatuhan Abraham ini menunjukkan sikap hormatnya kepada Allah. Orang seperti ini pantas menjadi sahabat Allah.
    Demikianlah mestinya kita yang memanggil Yesus sebagai Tuhan, maka kita harus tunduk kepada otoritas-Nya tanpa batas.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…