Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Dilepaskan Bagi Tuhan
    Ciri dari seorang yang benar-benar hidup beriman dalam Tuhan Yesus adalah makin menghayati dan menerima bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Dengan demikian ia tidak merasa berhak menggunakan sesuka hatinya sendiri.  Segala sesuatu yang dilakukan dengan “hartanya” selalu hanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya, bahwa kita telah dibeli oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar dan bahwa kita dan apa yang ada pada kita bukan milik kita sendiri lagi (1Kor. 6:19-20). Ini adalah konsekuensi penebusan yang diterima oleh orang percaya. Bukan hanya menerima pembebasan dari hukuman akibat perbuatan dosa, tetapi juga menjadi milik Tuhan. Banyak orang Kristen tidak mengerti, atau tidak mau mengerti hal ini. Kalau keadaan ini berkepanjangan, maka seseorang bisa sampai pada level tidak pernah dapat dimiliki oleh Tuhan. Sebab sudah terbiasa hidup memiliki dirinya sendiri.
    Penebusan membuat seseorang menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen yang ketika harta dan uangnya semakin banyak, maka semakin besar dan mewah rumahnya, semakin mewah mobilnya, semakin branded barang-barangnya dan semakim berkilau perhiasannya. Dengan demikian, biasanya dirinya semakin merasa berharga di mata manusia. Dari hal ini timbul keangkuhan yang tidak terbatas. Mengapa ia berbuat demikian? Sebab ia merasa berhak atas segala sesuatu yang ada padanya. Jika sudah demikian, maka Tuhan pun tidak ia hormati sama sekali. Orang tersebut bisa mengembalikan atau memberi persepuluhan ke gereja, tetapi setelah itu ia merasa berhak dengan yang sembilan puluh persen lainnya. Persepuluhan yang diberikanan ke gereja pun dalam rangka mau mendapat balasan berlipat ganda dari Tuhan. Ini sebenarnya bukan mau mengembalikan milik Tuhan, tetapi mau memperdaya Tuhan atau mengeksploitasi Tuhan, serta memanfaatkan-Nya.
    Orang yang benar-benar hidup beriman dalam Tuhan Yesus, yaitu mereka yang menerima penebusan oleh darah Yesus, pasti menunjukkan karakteristik seorang pengelola, bukan seorang pemilik. Seorang pengelola adalah seorang manajer yang mengelola milik majikannya. Seorang pengelola milik Tuhan akan rela melepaskan apa yang ada padanya demi kepentingan Tuhan atau kemuliaan nama-Nya. Karena memang semuanya juga bukan miliknya. Tetapi semua harus dilakukan dalam komando Majikan Agungnya.
    Harus dipahami bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita masing-masing. Segala sesuatu tersebut bukan hanya uang, tetapi seluruh kehidupan kita ini, yaitu tubuh, jiwa dan roh kita, di dalamnya termasuk semua potensi yang ada pada kita, waktu dan lain sebagainya. Uang hanya sebagian kecil dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebutnya sebagai perkara kecil (Luk. 16:10). Kalau masalah uang yang adalah perkara kecil, seseorang gagal setia kepada Tuhan, apalagi perkara besar.
    Setelah kita belajar hidup sebagai seorang pengelola milik Tuhan yang baik, kita dapat mengerti bagaimana gerak hidup orang yang belum benar-benar hidup beriman dalam Tuhan Yesus. Orang Kristen yang berkeberatan dimiliki oleh Tuhan, mau memiliki dirinya sendiri. Sebab dengan demikian mereka merasa bebas menggunakan apa yang mereka miliki untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Tuhan tidak dihargai secara patut, tetapi biasanya mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Tentu saja mereka tidak memiliki kegentaran yang proporsional terhadap Tuhan. Bahkan sering tanpa sadar mereka meremehkan Tuhan. Liciknya orang-orang seperti ini, kalau ada di dalam masalah besar, kebutuhan yang mendesak, barulah mengaku bahwa dirinya adalah milik Tuhan. Mereka mengaku milik Tuhan dikarenakan sedang membutuhkan berkat jasmani atau membutuhkan pertolongan-Nya.
    Orang percaya yang mengakui dan menerima bahwa dirinya adalah milik Tuhan, memiliki kesediaan atas semua harta miliknya dipakai oleh Tuhan, guna kepentingan pekerjaan Tuhan.
    0 min
  • Penguasaan Tuhan
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa kalau menjadi murid Tuhan Yesus berarti tidak mungkin dapat gagal. Harus dicamkan, ada murid yang lulus dan ada pula murid yang gagal. Hal ini juga sama dengan kenyataan bahwa belum tentu seseorang yang menjadi Kristen sampai akhir tetap menjadi Kristen, belum tentu sekali beriman kepada Yesus akan tetap beriman kepada-Nya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Ini berarti tidak semua orang Kristen pasti masuk surga. Tidak semua orang yang mengaku dengan bibirnya Yesus adalah Juruselamat dan Tuhannya, pasti terhindar dari neraka. Hanya orang yang setia sampai akhir yang diselamatkan (Mat. 24:13).
    Tuhan Yesus juga mengatakan berulang-ulang dalam kitab Wahyu bahwa orang percaya harus berjuang untuk menang. Kalau ada yang menang, tentu ada yang kalah. Orang percaya dipanggil untuk berjuang agar mencapai kemenangan. Hanya orang yang menang yang akan bersama-sama dengan Tuhan. Dalam beberapa bagian dalam Alkitab, jelas kita dipanggil untuk tetap setia sampai akhir; artinya pada akhirnya kita didapati tidak bercacat dan tidak bercela.  Lebih tegas lagi dikatakan dalam Matius 7:21-23, ada orang-orang yang berprestasi dalam pelayanan tetapi, ternyata ditolak oleh Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus berjuang sampai akhir agar tidak tertolak. Tidak heran kalau Paulus mengatakan: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Kor.  9:27).
    Kegagalan orang Kristen sebagai orang beriman adalah ketika ia gagal hidup dalam penguasaan dan kontrol Tuhan, yang adalah pemilik hidup ini. Ciri utama seorang manusia yang hidup sebagai milik Tuhan adalah hidup dalam kontrol atau penguasaan Tuhan. Mengapa kita harus selalu hidup dalam kontrol dan penguasaan Tuhan? Kita harus selalu ingat, bahwa Tuhan Yesus telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Kalau Tuhan memiliki hidup kita, maka hanya Tuhan yang berhak atas diri kita sepenuhnya dan berkuasa mengontrol diri kita seluruhnya.
    Pada prinsipnya kegagalan orang Kristen sebagai orang beriman terletak pada ketidaksediaan dikendalikan oleh Tuhan melalui Roh-Nya. Roh Kudus ditaruh dalam diri orang percaya guna melatih orang percaya untuk hidup dalam pengendalian Tuhan, sampai tingkat tunduk sepenuhnya. Orang yang tidak menerima bahwa dirinya dimiliki oleh Tuhan, tidak akan rela dikendalikan oleh Tuhan. Jika hal ini terjadi, berarti kuasa kegelapan yang mengendalikannya. Ini juga berarti orang tersebut menolak menjadi milik Tuhan, yang sama dengan menolak ditebus oleh Tuhan Yesus.
    Hidup dalam pengendalian Tuhan berarti menyerahkan kebebasan kita kepada-Nya. Tetapi pengendalian ini bukanlah maksud Tuhan untuk mengambil alih kebebasan yang Tuhan berikan kepada masing-masing individu. Pengendalian di sini artinya adalah kesediaan kita untuk mencari kehendak Tuhan dan menuruti-Nya dengan rela dan sukacita sebagai kebutuhan, bukan sebagai perintah atau kewajiban. Dalam hal ini, kita dengan sengaja menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan, sehingga kita dibelenggu oleh kehendak-Nya.
    Untuk mencapai tingkat rohani seperti ini, tidak mudah. Benar-benar sukar. Kadang-kadang kita merasa tidak akan mampu mencapainya, terutama tatkala kita gagal berkali-kali untuk hidup dalam pengendalian-Nya. Tetapi hendaknya kita tidak menyerah. Kita harus menggunakan kesempatan untuk belajar terus dalam tuntunan Roh Kudus. Kita masih memiliki kesempatan untuk hidup dalam pengendalian-Nya secara penuh selama Tuhan masih memberi kesempatan. Roh Kudus pasti melatih kita untuk itu.
    Bila seseorang hidup dalam pengendalian Tuhan, cirinya antara lain: selalu giat mencari kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman Tuhan membuat seseorang menjadi peka memahami kehendak Tuhan. Dengan memahami kehendak Tuhan, seseorang barulah dapat melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-rencana-Nya.
    0 min
  • Jika Tuhan Menghendaki
    Orang yang hidup beriman dengan benar ditandai dengan kesediaan untuk hidup di bawah pengaturan Roh Kudus. Mudah sekali mengatakan: aku berserah ya Tuhan, pimpinlah aku, aku mau mengikut Engkau dan lain sebagainya yang sejenis, tetapi faktanya banyak orang Kristen yang hidupnya di bawah pengaturan diri sendiri. Apa yang mereka kemukakan dengan bibir di gereja dalam doa dan nyanyian tidak sinkron dengan kenyataan perjalanan hidup yang mereka jalani. Mereka hanya berfantasi hidup dalam pimpinan Tuhan, fantasi mengikut Yesus, fantasi berserah, bukan dalam kenyataan.
    Sebenarnya orang-orang seperti ini tanpa sadar menipu dirinya sendiri. Harus waspada, sampai pada stadium atau level tertentu, orang-orang seperti ini jika tidak jujur dengan diri sendiri dan tanpa pimpinan Roh Kudus, mereka dapat disesatkan oleh roh-roh jahat. Sebagai akibatnya, mereka tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka buta terhadap keadaan diri mereka yang sebenarnya jauh dari hidup berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini terjadi pada jemaat Laodikia yang ditulis dalam kitab Wahyu 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.
    Tentu saja orang-orang yang tidak mengenal dirinya, tidak akan mengenal kehendak Tuhan dan rencana-rencana-Nya. Mereka tidak akan pernah mengalami rencana Allah yang digenapi dalam hidup mereka. Ada gereja-gereja dengan segudang program yang tidak dikonfirmasikan dengan Allah. Mereka telah mengganti mendengar suara Tuhan dengan sistim lain yang dianggap lebih canggih, yaitu pola kerja hasil karya rasio manusia. Gereja-gereja mereka dipimpin oleh orang-orang yang memiliki gelar tinggi dan kemampuan berorganisasi modern. Tetapi mereka tidak membuka telinga rohani untuk mendengar tuntunan Tuhan.
    Demikian pula daalam kehidupan pribadi banyak orang Kristen. Banyak di antara mereka yang tidak mendiskusikan rencana-rencana, cita-cita dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Mereka lebih mendengar atau menerima pengaruh dari berbagai media daripada duduk diam di kaki Tuhan untuk mendengar suara-Nya. Dalam perjalanan hidup ini mereka lebih memilih jalannya sendiri daripada menemukan jalan dan rencana Tuhan.
    Banyak orang Kristen seperti itu yang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan dan keinginannya sendiri dalam segala hal; seperti membeli suatu barang, sekolah, jodoh, pindah rumah, bisnis, tempat kerja dan lain lain. Memang kita tidak selalu bertanya: apa yang harus kita lakukan Tuhan? bolehkah beli barang ini atau itu? Tetapi seseorang yang mengerti kebenaran Firman Tuhan dan berhasrat dengan sungguh-sungguh mau menyenangkan hati Tuhan memiliki kepekaan untuk membedakan apakah suatu yang dilakukan sesuai kehendak-Nya atau tidak. Dalam segala tindakan dan keputusan selalu memperhitungkan perasaan Tuhan dan pikiran-Nya atau rencana-Nya. Untuk hal-hal yang besar seperti hal jodoh dan memilih profesi, ia akan dengan sangat serius mohon pimpinan Tuhan.
     
    Satu hal yang membuat kita merasa sulit mengerti kehendak Tuhan adalah karena kita telah mem-plot apa yang kita ingini. Semakin mem-plot apa yang kita ingini, maka sesungguhnya makin sulit menangkap atau semakin bingung untuk mengerti kehendak Tuhan. Tetapi semakin seseorang memiliki kesediaan menyerah kepada kehendak Tuhan dan berkerinduan menyenangkan hati-Nya, maka semakin peka dan mengerti apa yang Tuhan kehendaki.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa mendengar suara Tuhan untuk menerima dan mengerti pimpinan-Nya adalah sesuatu yang mustahil dialami. Mereka memandangnya sangat rumit dan tidak berlaku lagi pada zaman kita sekarang. Suara Tuhan sudah dianggap mati atau tidak ada lagi, padahal Tuhan akan menunjukkan jalan-jalan-Nya (Yes. 2:3-4). Menurut pemikiran kebanyakan orang modern sekarang ini, pikiran manusialah yang utama dan manusia itu sendiri yang berhak bertindak sesukanya.
    0 min
  • Kehidupan Standar Anak-anak Allah
    Orang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus ditandai dengan tidak lagi memiliki cita-cita untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Segala sesuatu yang orang percaya ingini haruslah bukan bagi kepentingan sendiri, apa lagi untuk sebuah prestis, harga diri, gengsi, kehormatan atau nilai diri dan kesenangan diri sendiri. Tidak dapat disangkal, selama ini orang meraih cita-cita hanya untuk menempatkan dirinya berharga di mata manusia atau paling tidak agar ia dapat memiliki kehidupan yang layak seperti manusia lain. Ini adalah kesalahan semua orang, termasuk banyak orang Kristen. Seharusnya segala sesuatu yang kita ingini adalah semua yang berguna untuk kepentingan Tuhan.
    Orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa yang berhak memiliki visi atau cita-cita dalam hidupnya hanyalah Tuhan, bukan dirinya. Sebab dirinya telah ditebus dengan harga lunas dibayar. Dirinya sudah menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Hanya Tuhan yang berhak atas dirinya. Tubuh, jiwa dan rohnya harus menjadi wadah Tuhan atau bejana-Nya untuk melakukan kehendak Tuhan semata-mata. Dengan kesadaran ini, kita akan merelakan jika Tuhan menguasai kehidupan kita, atau kita menyerahkan seluruh kedaulatan hidup kita kepada Tuhan untuk memenuhi kehendak dan rencana-Nya.
    Oleh sebab itu anak Tuhan yang mengerti kebenaran mengenai penebusan ini -bahwa dirinya bukan miliknya sendiri- tidak akan berhak memiliki visi atau cita-cita apa pun. Orang yang mengerti kebenaran ini tidak mudah mengatakan: “aku mempunyai visi”. Hanya Tuhan yang berhak memiliki visi. Hidup kita hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-cita kita sendiri. Memang logikanya dan fair-nya, kalau kita telah dimiliki Tuhan, maka kita tidak berhak memancangkan cita-cita. Inilah kehidupan yang diatur atau dikendalikan oleh Tuhan. Kehidupan seperti ini telah dialami oleh rasul Paulus sebagai “tawanan Roh” (Kis. 20:22). Dalam suratnya Paulus menulis: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).
     
    Menjadi tawanan roh atau hidup dalam kendali Tuhan bukan berarti kita kehilangan kesadaran. Sejatinya kitalah yang masih mengendalikan hidup kita, tetapi kita tidak mengendalikan hidup kita sesuai dengan kesenangan kita sendiri, tetapi kita memperhatikan kehendak atau keinginan Tuhan dan mengarahkan hidup hanya untuk kehendak dan keinginan Tuhan semata-mata. Sebenarnya Tuhan tidak pernah mengambil kemudi hidup kita. Kalau Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita, Tuhan melanggar tatanan-Nya sendiri. Tuhan tidak pernah mengambil alih kedaulatan manusia. Manusia harus berdaulat atas hidupnya sendiri. Masalahnya kemudian, apakah ia menyerahkan hidupnya untuk melakukan kehendaknya sendiri atau kehendak Tuhan, tergantung pilihan dan keputusannya.
    Paulus adalah seorang pengikut Kristus yang sejati, yang dapat menjadi role model kehidupan orang percaya. Dari sepak terjang hidup dan pelayanannya, kita dapat meneladani hal-hal yang indah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak menganggap Paulus sebagai anak Allah super yang memiliki ukuran iman dan kesusilaan khusus. Tetapi sebenarnya Paulus adalah model anak Allah yang normal atau standar anak Allah yang dikehendaki Bapa untuk dimiliki setiap orang percaya. Setiap kali kita membaca tulisannya Paulus dalam surat-surat pastoral yang ditulis kepada jemaat-jemaat, kita dapat merasakan irama dan getar kehidupannya yang agung yang dapat menjadi pola hidup Kekristenan kita.
    Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang ditundukkan kepada kehendak dan rencana Tuhan. Seperti dalam pernyataan yang ditulis tabib Lukas di Kisah Rasul 18:21: Aku akan kembali kepadamu, jika Allah menghendaki-Nya. Peristiwa ini terjadi pada perjalanan penginjilan Paulus yang kedua. Ia menolak tetap tinggal di kota itu, sekalipun dimohon untuk tetap tinggal di sana (Kis. 18:18-23).
    0 min
  • Masih Memiliki Kemanusiaan
    Dengan kesediaan menanggalkan segala keinginan, bukan berarti kemanusiaan kita hilang. Kemanusiaan kita tidak pernah akan hilang. Kita tetap manusia dengan segala unsur kemanusiaan yang tidak pernah lenyap. Tuhan tidak pernah berkehendak menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan rancangan semula. Makhluk yang sesuai dengan rancangan semula adalah makhluk yang memiliki pikiran dan perasaan sehingga memiliki kehendak atau keinginan. Kehendak atau keinginan ini melekat dalam diri manusia bukan hanya sementara, yaitu ketika mengenakan tubuh jasmani di bumi. Tetapi di kekekalan, pikiran dan perasaan tetap dimiliki manusia. Di kekekalan, manusia juga memiliki kehendak atau keinginan. Dengan demikian di surga ada dinamisitas kehidupan yang sempurna.  
    Sebagai makhluk manusia, tentu saja Tuhan mengijinkan dan menghendaki kita menikmati kesenangan-kesenangan sebagai manusia dengan berkat-berkat yang Tuhan sediakan. Baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Berkat-berkat tersebut antara lain: seks dengan pasangan hidup, makan dan minum, wisata, kebersamaan dengan keluarga dan sahabat, menikmati seni dan lain sebagainya. Sementara kita melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan, kita tetap menjadi manusia dengan menikmati segala kesenangan yang Tuhan berikan. Tentu saja dalam menikmati segala kesenangan hidup yang Tuhan sediakan, kita menikmatinya dalam persekutuan dengan Tuhan. Dalam hidup orang percaya yang dewasa, sementara menikmati semua hal yang patut dinikmati, kita tetap terikat dengan Tuhan. Terikat dengan Tuhan artinya memiliki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. Sehingga tidak ada satu pun kesenangan hidup yang dapat mengikat atau membelenggunya. Prinsip “asal ada makanan dan pakaian cukup” tetap menjadi prinsip hidup yang melandasi perjalanan hidup ini.
    Di atas segala kesenangan hidup yang dapat dinikmati -orang percaya yang hidup dalam iman yang benar- kesukaannya adalah melakukan kehendak Bapa. Baginya itu adalah kesenangan hidup yang melampaui segalanya. Orang percaya seperti ini tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia. Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka dasarnya adalah karena hendak menggunakannya bagi Tuhan. Ini berbeda dengan manusia pada umumnya. Anak-anak dunia mengingini atau mau mencapai sesuatu yang tujuannya adalah untuk kepuasan dan kesenangan diri sendiri. Tentulah sesuatu yang diingini tersebut menjadi sarana memberi nilai diri lebih atau suatu kebanggaan bagi diri sendiri. Kebanggaan-kebanggaan inilah yang menjerat manusia menjadi gila hormat.
    Dalam kehidupan ini, kalau kita hanya mau melakukan keinginan Tuhan, alasan atau dasarnya bukan karena kita harus berbuat demikian atau karena peraturan atau takut dihukum, tetapi karena kita mau membahagiakan dan menyenangkan hati-Nya. Tuhan sebenarnya bisa tidak membutuhkan kesenangan dari kita. Tuhan sudah bahagia, tetapi kalau kita boleh menyenangkan hati-Nya, ini adalah suatu anugerah yang luar biasa. Orang percaya yang agenda hidupnya hanya untuk menyenangkan Tuhan, tidak mengingini “macam-macam”. Hidupnya sederhana, tidak rumit dan tentu tidak berusaha menunjukkan kemewahan, walaupun kaya materi.
    Bagaimanakah kita dapat tidak lagi memiliki keinginan dari diri sendiri? Hal ini tergantung dari diri kita masing-masing. Kita yang harus dengan sengaja dan sadar menanggalkan keinginan-keinginan dari diri sendiri. Dengan kerelaan menanggalkan keinginan dari diri sendiri, maka apa pun yang Tuhan berikan untuk dinikmati, terasa lebih membahagiakan dan benar-benar menyenangkan. Kita tidak akan pernah menjadi serakah lagi, tetapi bisa memenuhi prinsip yang diajarkan Paulus “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8). Kita juga dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan prinsip hidup Tuhan Yesus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34).
    Oleh sebab untuk melakukan keinginan Tuhan,
    0 min
  • Layak Mengerti Kehendak-Nya
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan sama sekali. Manusia diciptakan dengan pikiran dan perasaan. Dengan pikiran dan perasaaan, maka manusia dapat memiliki kehendak atau keinginan. Tidak bisa tidak manusia pasti memiliki keinginan. Keinginan atau kehendak inilah yang membuat dinamika kehidupan. Tanpa keinginan, manusia menjadi deret-deret boneka yang digerakkan oleh remote seperti sebuah mesin otomatis. Dalam hal ini manusia memiliki kemandirian atau indipendensi dalam kehendak atau keinginannya. Jika tidak demikian, maka tidak perlu ada hukum, surga dan neraka, dan manusia juga tidak perlu memahami kehendak Allah. Manusia tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatan dari keputusan dan pilihan-pilihannya, sebab semua berlangsung atau terjadi oleh pengaturan yang berasal dari luar dirinya.
    Dengan adanya keinginan, maka manusia harus mengarahkan hidupnya, apakah melakukan kehendak Tuhan atau kehendaknya sendiri. Itulah sebabnya orang percaya harus belajar kebenaran untuk mengerti kehendak Tuhan.  Selanjutnya jiwa kita harus dibuka, agar kita mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhan-lah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, sebagai umat tebusan, memang kita harus hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Bapa akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya.
    Kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Bapa, Bapa melalui Roh Kudus, tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya, ia tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Ingat, bahwa Tuhan tidak akan memberikan barang yang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiara kepada babi (Mat. 7:6).  Ucapan Tuhan Yesus ini jelas menunjukkan bahwa Ia tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai tinggi atau berharga kepada mereka yang tidak layak menerimanya atau yang tidak berkerinduan mengerti Firman untuk dilakukan. Itulah sebabnya dapat kita jumpai orang-orang yang bisa mengerti kehendak Bapa dengan melimpah, dan mereka membiasakan diri hidup di dalam kehendak Bapa. Sebaliknya, banyak orang yang buta dan tuli terhadap apa yang dikehendaki oleh Bapa. Mereka tidak akan bisa mengerti kehendak Bapa, apalagi melakukannya.
    Banyak orang merasa tidak perlu mengerti dan melakukan kehendak Bapa.  Mereka berpikir bahwa Tuhan tidak memberitahukan kehendak-Nya kepadanya. Padahal, bukan Tuhan yang tidak mau memberitahukan kehendak-Nya, tetapi sebenarnya mereka memang pada dasarnya tidak mau tahu atau tidak peduli terhadap kehendak Bapa, serta tidak bersedia melakukan kehendak-Nya. Mereka sudah terbiasa hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Hidup dalam tawanan keinginan diri sendiri saja. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang dapat digolongkan sebagai manusia celaka. Hal ini sungguh mengerikan, sebab jumlah manusia yang celaka ini lebih banyak daripada yang dilayakkan menerima kemuliaan bersama Tuhan Yesus Kristus. Di antara orang-orang yang tidak hidup melakukan kehendak Bapa ini adalah orang-orang Kristen.
    Tuhan adalah Pribadi yang lembut. Ia tidak memaksa orang untuk mengerti kehendak-Nya dan melakukan kehendak-Nya tersebut. Tuhan memberi kebebasan kepada setiap individu dalam bersikap terhadap Tuhan. Jadi, kalau hari ini Tuhan terkesan diam dan tidak peduli dengan keadaan hidup kita yang selalu atau sering tidak melakukan kehendak-Nya, bukan berarti Tuhan masa bodoh dan tidak peduli terhadap hal tersebut. Tuhan menghendaki agar kita dengan kerelaan melakukan kehendak-Nya. Dalam hal ini, Tuhan dalam kedaulatan-Nya memberikan kedaulatan kepada manusia. Tuhan tidak memaksa manusia melakukan kehendak-Nya. Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu, apakah melakukan kehendak Bapa atau memberontak kepada-Nya.
    Oleh sebab itu, kita harus memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Hanya orang-orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6).
    0 min
  • Menerima Penebusan
    Dalam kehidupan seorang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus Kristus, kehendak Tuhanlah yang harus berdaulat secara penuh. Kita sebagai hamba-hamba-Nya -yang sepenuhnya telah dimiliki Dia karena telah ditebus- harus memberi diri tunduk terhadap kedaulatan dan otoritas-Nya secara penuh. Inilah kehidupan dalam ketaatan penuh (total submission). Manusia memang sejak semula diciptakan dirancang hanya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Karyawan yang tidak memiliki submission kepada perusahaan saja bisa dipecat, apalagi makhluk ciptaan di hadapan Pencipta yang menciptakan dan memilikinya. Dalam hal ini seharusnya tidak ada celah sekecil apa pun yang boleh ada untuk tidak melakukan semua kehendak Allah. Tidak ada sekecil apa pun hak kita untuk melakukan keinginan diri sendiri di luar kehendak-Nya.
    Ketaatan penuh kepada Tuhan ditandai dengan kesediaan tidak memiliki keinginan diri sendiri. Ketaatan penuh bisa terwujud kalau seseorang hanya melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini merupakan standar wajar kehidupan orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus. Menolak hal ini berarti tidak menerima penebusan-Nya. Ingat, bahwa percaya kepada tindakan penebusan Yesus di kayu salib bukan berarti telah bersedia menerima penebusan-Nya. Hanya orang yang bersedia menanggalkan keinginan diri sendiri, yang menunjukkan bahwa dirinya menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus. Itulah sebabnya dikatakan dalam 1 Petrus 1:18, bahwa penebusan Tuhan Yesus adalah penebusan dari cara hidup kita yang sia-sia yang kita warisi dari nenek moyang.
    Harus diingat, bahwa cepat atau lambat, setiap insan akan tiba pada suatu saat di mana ia tidak akan memiliki keinginan apa pun, atau dipaksa tidak memiliki keinginan apa pun. Saat itu terjadi ketika seseorang akan tutup usia, di mana seluruh organ tubuh sudah tidak dapat dipakai lagi, atau pada suatu keadaan fisik, baik karena kecelakaan atau sakit yang membuat semua organ tubuhnya tidak bisa berfungsi lagi atau karena sudah tua. Di saat seperti itu seseorang tidak akan mampu memiliki keinginan apa pun, kecuali Tuhan yang dapat menjadi Majikan yang setia yang menaungi dan melindungi selamanya. Saat seperti itu (ketika berada di ujung maut), seseorang baru menghayati bahwa kekayaan adalah mamon yang tidak jujur atau kekuataan kekayaan yang menipu tidak dapat menolong dirinya. Dalam hal ini barulah terbukti nyata bahwa kekayaan bisa menjadi alat Iblis yang sangat efektif dan berdaya guna membinasakan manusia. Karena keinginan memiliki kekayaan, maka seseorang tidak menghambakan diri kepada Allah.
    Kalau selama hidup seseorang tidak menanggalkan keinginan dan cita-cita pribadi, maka saat di mana ia harus meninggalkan segala sesuatu di ujung maut tersebut, ia sudah terlambat untuk bertobat dan meletakkan diri sebagai hamba yang tunduk kepada-Nya. Orang seperti itu tidak berkesempatan lagi untuk meletakkan diri sebagai sekutu Tuhan yang adalah Majikan Agung. Pintu anugerah telah tertutup, ia tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Inilah yang dialami oleh Esau yang menukar hak kesulungannya untuk semangkuk makanan. Ketika ia merasa membutuhkan hak kesulungan itu, ia tidak dapat memperolehnya kembali (Ibr. 12:16-17).
    Firman Tuhan berkata hendaknya kita tidak menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (Ibr. 12:16). Kata cabul dalam teks aslinya adalah pornos (πόρνος). Pornos menunjuk percabulan atau pelacuran, di mana seseorang menjual dirinya sehingga merusak persekutuan dengan pasangannya yang sah. Dengan demikian kata cabul di sini menunjuk kepada percintaan dunia, yaitu menjadikan dunia sebagai sahabat. Padahal percintaan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah.
    Sebelum seseorang ada dalam situasi di mana segala keinginan harus ditanggalkan dengan terpaksa di ujung maut, sejak sekarang kita harus belajar dengan rela dan sukacita menanggalkan segala keinginan diri sen...
    0 min
  • Tidak Memiliki Diri Sendiri
    Salah satu ciri dari seorang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus dengan benar adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan dari diri sendiri. Biasanya, kalau kita mendengar khotbah yang mengatakan bahwa keinginan dari diri sendiri harus ditanggalkan, banyak orang memrotes baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Bagaimana bisa manusia tidak memiliki keinginan? Mana mungkin? Biasanya orang beragumentasi bahwa sewajarnya manusia mempunyai keinginan dan cita-cita. Dengan pandangan ini, maka mereka merasa berhak memiliki keinginan dari diri sendiri. Dan hal itu dipandang sebagai kewajaran.
    Mereka yang tidak bersedia menanggalkan keinginan dari dirinya sendiri tersebut, tidak memahami atau tidak menerima bahwa dengan menjadi anak tebusan Tuhan Yesus berarti telah dibeli dengan harga lunas dibayar. Kata lunas menunjukkan keadaan final bahwa kita bukan milik kita sendiri, tetapi sudah menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Kalau sepenuhnya kita menjadi milik Tuhan, berarti segala sesuatu yang ada pada kita -termasuk segala keinginan dan cita-cita-  harus ditundukkan pada Tuhan yang memiliki segenap hidup kita. Selama seseorang masih memiliki keinginan dari diri sendiri, maka ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan, sebab ia masih memiliki dirinya sendiri.
    Tidak memiliki keinginan dari diri sendiri, bukan berarti seseorang hidup tanpa keinginan. Tetapi keinginan kita harus ditundukan atau disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Bukan Tuhan yang menyesuaikan Diri terhadap kita, tetapi kita yang menyesuaikan diri terhadap Tuhan. Idealnya, jiwa kita harus dikosongkan agar hanya menjadi tempat pikiran dan perasaan Tuhan serta memuat segala kehendak dan rencana-Nya. Untuk mengosongkan bejana jiwa atau hati ini sangat berat. Tetapi pergumulan menyangkal diri dapat membawa kita sampai pada tahap tersebut. Jika tahap tersebut tercapai, barulah kita bisa menyatakan bahwa hidup kita bukan kita lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (Gal. 2:19-20).
    Seiring dengan perjalanan waktu dan pertumbuhan kedewasaan rohani, kita akan mengerti dan menerima bahwa semua keinginan harus disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Itulah keinginan diri sendiri yang disalibkan atau ditanggalkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan setiap orang yang telah ditebus oleh darah-Nya. Tanpa kesediaan untuk tidak memiliki keinginan dari diri sendiri, seseorang tidak dapat hidup dalam iman. Dalam hal ini, kita dapat mengerti bahwa hidup dalam iman bukan sesuatu yang mudah. Hidup dalam iman merenggut seluruh hak hidup kita.
    Iman tidak dapat terwujud, bertumbuh dan menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus tanpa kesediaan melepaskan beban dan dosa dan meneladani seluruh gaya hidup Yesus (Ibr. 12:1-2). Melepaskan beban dan dosa artinya melepaskan semua keterikatan dengan kesenangan dunia dan keinginan yang bertentangan dengan kesucian Allah. Kata “memandang Yesus” artinya meneladani hidup-Nya. Orang yang bersedia tidak memiliki dirinya sendiri berarti ia hanya memiliki kehidupan Yesus yang diperagakan di dalam seluruh hidupnya. Selama orang masih hidup dengan segala kesenangan dan keinginannya sendiri, ia tidak akan dapat memperagakan kehidupan Yesus di dalam hidupnya. Itu berarti ia menolak menjadi anak tebusan. Itu pula berarti ia menolak untuk diselamatkan, artinya dikembalikan ke rancangan semula-Nya.
    Sudah terlalu lama kita terbiasa hidup dalam berbagai hasrat dan keinginan kita sendiri, dan hal ini kita anggap sebagai suatu kewajaran. Tetapi kalau kita mengerti dan menerima bahwa kehidupan ini diciptakan oleh suatu Pribadi yang memiliki kehendak atau keinginan, Pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan, maka kita harus mempertimbangkan: Apakah kita boleh memiliki keinginan kita sendiri, tanpa mempertimbangkan apakah keinginan tersebut sesuai dengan kehendak, pikiran dan perasaan Tuhan? Harus dipahami bahwa sikap hidup dan segala gerak kehendak, pikiran dan perasaan orang percaya -sebagai anak-anak Tuhan- sangat memengaruhi hat...
    0 min
  • Tidak Menyisakan Bagi Diri Sendiri
    Beriman berarti memiliki kesepakatan dengan Tuhan. Kesepakatan dengan Tuhan tersebut menuntut segenap hidup kita dipersembahkan bagi Tuhan.  Dengan demikian, kalau seseorang melakukan kesepakatan dengan Tuhan, maka tidak ada yang boleh disisakan untuk diri kita sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Firman Tuhan bahwa setelah kita ditebus oleh darah Yesus, maka berarti kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, bahwa kita sudah tidak lagi memiliki diri kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Sama seperti kalau seseorang melakukan kesepakatan dalam perkawinan, maka tubuhnya tidak lagi dimiliki oleh siapa pun, tetapi dimiliki oleh pasangannya (1Kor. 7:4).
    Lebih tegas lagi dalam 2 Korintus 4:14-15 Firman Tuhan mengatakan:  Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Kesepakatan dengan Tuhan menempatkan orang percaya pada keadaan sebagai “telah mati”. Telah mati di sini maksudnya adalah tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi hanya hidup untuk Tuhan sepenuhnya. Itulah sebabnya prinsip hidup yang harus dikenakan oleh orang percaya adalah: Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan..
    Hal di atas sebenarnya sangat sulit diterima, sebab sangat sukar dikenakan, tetapi kita dapat menerima bila kita menghayati betapa besar kasih yang telah diberikan Allah Bapa dan Tuhan Yesus kepada kita. Betapa dahsyat Tuhan semesta alam berkenan menjadikan kita sekutu-Nya, dan betapa sebenarnya kita ini bukan siapa-siapa. Menjadi sekutu Tuhan semesta alam adalah kehormatan yang tiada tara, yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata dan tidak dapat digambarkan dengan cara apa pun.
    Ketika kita menjadi sekutu Tuhan dan dapat menghayati kebesaran Allah yang tiada tara, maka barulah kita menyadari betapa tidak berartinya segala sesuatu jika dibanding dengan kebesaran-Nya. Kita harus menghayati kedahsyatan Tuhan dan melihat betapa tidak berartinya pula segala sesuatu yang kita harus lepaskan untuk dipersembahkan bagi Dia. Untuk ini, dibutuhkan pengalaman nyata menghayati keberadaan Allah yang dahsyat. Tentu menghayati keberadaaan Allah tidak harus pengalaman secara fisik. Alkitab menunjukkan bahwa kita harus percaya walau tidak melihat. Melalui perenungan terus menerus dalam perjumpaan pribadi dalam doa, kita dapat menghayati kedahsyatan Tuhan. Kedahsyatan Tuhan bukan hanya menunjuk atau bertalian dengan kuasa-Nya, tetapi juga hikmat-Nya, jalan Tuhan dan pekerjaan tangan-Nya yang sangat sempurna.
    Sebenarnya kita tidak akan pernah bisa menguntungkan Tuhan. Kita tidak mempunyai apa-apa yang dapat diperhitungkan bisa berguna bagi Dia. Tetapi oleh anugerah-Nya, Tuhan bisa melengkapi kita segala sesuatu yang berguna bagi Kerajaan-Nya, sehingga kita bisa menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Dengan kesadaran ini maka sanjungan, puji-pujian dan kehormatan dari manusia tidak kita perhitungkan sama sekali.  Dalam hal ini, sikap hati kitalah yang berperan, apakah kita memiliki kesediaan untuk menjadi sekutu Tuhan atau tidak. Tuhan tidak mencari keuntungan apa pun dari kita, tetapi Tuhan ingin menemukan hati yang mengasihi Dia dan rela berbuat apa pun demi kepentingan-Nya. Jika seseorang mengasihi Dia, maka ia pasti tampil sebagai pembela-Nya, walau sebenarnya Tuhan tidak mencari pembelaan, sebab Tuhan mampu membela Diri-Nya sendiri.
    Ini adalah kesempatan yang sangat berharga, Tuhan semesta alam Yang Mahatinggi, berkenan menjadikan kita sekutu-Nya. Ini sebenarnya sebuah skenario besar. Yang Tuhan bidik bukan hanya pekerjaan-Nya di bumi ini, tetapi pekerjaan-Nya di kekekalan. Mengapa Tuhan sedemikian memercayai kita? Sebab kita juga berasal dari Tuhan. Roh yang ada pada kita adalah roh dari Tuhan sendiri yang dihembuskan-Nya kepada kita (Kej...
    0 min
  • Ikatan Persekutuan
    Ketika seseorang mengaku percaya kepada Yesus, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, sesungguhnya ia sedang membuat kesepakatan. Hal ini sama seperti ketika seseorang menerima seseorang sebagai pasangan hidupnya, maka ia melakukan suatu kesepakatan untuk hidup bersama. Dalam hidup bersama tersebut mereka bersedia hidup bersama dalam suka dan duka, melahirkan anak-anak dan membesarkan mereka serta mengarungi hidup dengan cita-cita yang sama untuk diraih bersama. Ini adalah kesepakatan yang memiliki nilai permanen selama hidup di dunia. Itulah sebabnya dalam perkawinan Kristen mutlak harus monogami dan tidak boleh cerai. Perkawinan membuat satu dengan yang lain menjadi sekutu satu-satunya (monogami) dan permanen selama hidup di dunia, tidak boleh diganti atau tidak boleh cerai.
    Pernahkah Saudara membuat kesepakatan dengan Tuhan? Kesepakatan, bahwa Saudara menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah Saudara. Kesepakatan ini sama dengan bahwa kita menjadi sekutu Tuhan. Ini berarti tidak boleh ada sesuatu atau seseorang yang menempati hidup kita di mana tempat tersebut hanya pantas dan layak bagi Tuhan. Tuhan Yesus tidak tergantikan dalam hidup kita. Dan juga tidak ada oknum atau entitas apa pun di dalam hidup kita yang membuat hati kita mendua. Menjadi sekutu Tuhan adalah ikatan kesepakatan yang bersifat kekal, tidak akan terputus walaupun kematian menyudahi perjalanan hidup di dunia.
    Menjadi sekutu Tuhan artinya kita hidup untuk melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya. Abraham memiliki kesepakatan ini, bahwa ia dipanggil untuk menjadi berkat semua umat manusia (Kej. 12:1-3). Betapa bersyukur Abraham menjadi manusia yang dipilih menjadi sekutu Tuhan. Sebenarnya dalam hal ini yang diuntungkan adalah Abraham, bukan Tuhan, sebab Tuhan sendiri sebenarnya tidak membutuhkan apa pun. Abraham dipanggil Tuhan untuk memenuhi rencana-Nya. Untuk rencana ini, ia harus keluar dari Urkasdim. Ini adalah sebuah kesepakatan.
    Abraham harus memenuhi bagiannya dalam kesepakatan tersebut dan Tuhan juga pasti memenuhi bagian-Nya. Abraham hidup hanya untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ini ciri utama seorang yang mau menjadi sekutu Tuhan. Tidak ada yang dipertahankan atau disisakan bagi dirinya sendiri. Ketika Abraham memenuhi bagiannya, maka Allah juga memenuhi bagian-Nya. Tetapi kalau Abraham tidak memenuhi bagiannya, maka ia tidak layak menerima kebaikan Allah. Hal ini sama dengan Allah, bahwa Ia tidak perlu memenuhi bagian-Nya dalam kesepakatan tersebut.
    Sungguh, lebih baik tidak pernah menjadi orang Kristen atau bahkan lebih baik tidak pernah menjadi manusia, kalau tidak menjadi sekutu Tuhan. Sebab kalau seseorang tidak menjadi sekutu Tuhan, berarti menjadi seteru Tuhan. Pertanyaannya: Apakah Saudara sekarang berdiri sebagai sekutu atau seteru Tuhan? Apakah ada tanda-tanda sebagai sekutu Tuhan? Banyak orang Kristen masih ada di persimpangan. Ragu-ragu untuk menjadi sekutu Tuhan atau berdiri di pihak Tuhan. Akan lebih berbahaya kalau seseorang merasa sudah menjadi sekutu Tuhan padahal ia hanya membela dirinya sendiri.
    Banyak orang Kristen merasa sudah memberi hidupnya bagi Tuhan dengan menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja. Lebih kuat lagi, merasa sudah memberi bagi Tuhan hanya karena menjadi aktivis. Paling kuat, merasa sudah hidup bagi Tuhan karena menjadi pejabat sinode atau menjadi pendeta. Tidak sedikit orang Kristen yang merasa sudah memberi diri bagi Tuhan dan berurusan dengan Tuhan hanya karena memperdaya Tuhan dan sesamanya. Ingat, Tuhan tidak dapat ditipu. Kiranya nurani kita menjadi terang untuk melihat motivasi yang sesungguhnya yang berkuasa dalam diri kita.
    Dalam kesepakatan ini, hubungan antara umat dan Tuhan bukan hanya hubungan antara Allah yang disembah dan umat yang menyembah dalam ikatan tali ritual atau seremonial beragama, tetapi hubungan untuk saling menguntungkan. Kalau hanya melakukan ritual agamani, belumlah dapat dikatakan menguntungkan atau berguna bagi Tuhan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…