Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tindakan Radikal Dan Total
    Kekristenan yang benar adalah kesediaan melakukan apa pun yang Tuhan perintahkan. Untuk ini orang percaya harus mengerti kehendak Tuhan atau mengerti segala hal yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan. Tanpa melakukan kehendak Tuhan, seseorang bukanlah orang beriman. Mengerti kehendak Tuhan bukanlah hanya sekadar mengerti hukum-hukum atau peraturan agama. Mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan orang percaya adalah mengerti kehendak Tuhan dalam segala hal di kehidupan kita setiap saat. Dengan demikian tidak ada satu hal pun yang kita pikirkan, kita ucapkan dan kita lakukan di luar kehendak Tuhan.
    Kenyataannya, banyak orang Kristen yang sejak muda sampai tua tidak pernah mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dalam hidupnya. Ini satu hal yang sungguh-sungguh mengerikan. Jangankan melakukan kehendak Tuhan dalam segala hal setiap saat, hidup dalam kesantunan saja secara etika umum pun tidak dilakukan. Tetapi mereka tidak memiliki kegalauan, sebab merasa sudah menjadi orang percaya yang benar dengan mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dengan demikian mereka sudah merasa selamat. Lebih rusak lagi, ketika gereja mensahkan mereka sudah menjadi anak-anak Allah, hanya karena memiliki keyakinan dalam nalar mereka tersebut.
    Iman yang diajarkan oleh Alkitab Perjanjian Baru, khususnya ketika Paulus membahas mengenai iman dalam kitab Roma, adalah iman yang diperagakan oleh Abraham. Paulus menulis:  Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”… Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran… dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat…. Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman (Rm. 4:3, 9, 12, 13).
    Yakobus juga menunjuk iman Abraham sebagai pola iman yang benar: Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yak. 2:20-22).
    Tindakan iman Abraham adalah tindakan yang menyita seluruh kehidupannya. Hidupnya benar-benar berubah sejak ia meresponi panggilan untuk keluar Urkasdim (Kej. 12). Hidupnya menjadi sangat berbeda dengan lingkungannya. Ia menjadi orang asing bagi keluarganya sendiri, saudaranya bahkan lingkungan masyarakat di mana ia menetap. Abraham adalah sosok yang memiliki keberanian yang sangat hebat untuk menjadi orang asing atau pendatang di bumi ini (Ibr. 11:9-15).   Inilah iman sejati.
    Iman yang sejati akan membuat seseorang berubah secara radikal dan total. Kalau seluruh kehidupan belum dipertaruhkan atau disita oleh imannya, maka imannya belum sempurna. Iman kita harus mengacu pada iman Abraham. Iman Abraham adalah model iman yang harus kita miliki. Kalau Abraham harus melepaskan seluruh kehidupannya untuk menyambut anugerah panggilan menjadi nenek moyang umat pilihan, maka kita pun harus melakukan hal yang sama. Kalau seseorang tidak melepaskan kehidupannya, berarti ia tidak mengerti betapa besar anugerah yang Tuhan berikan. Melepaskan kehidupan inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan rela kehilangan nyawa (Mat. 10:39; 16:25).
    Rela kehilangan nyawa adalah tindakan konkret dalam bentuk:
    • Meninggalkan pergaulan yang tidak membuat orang percaya lebih mengasihi Tuhan.
    • Meninggalkan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
    0 min
  • Iman Adalah Tindakan
    Perlu dan harus berulang-ulang disampaikan kepada kita, dan harus benar-benar kita camkan, bahwa iman bukanlah sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman bukanlah sekadar aktivitas nalar atau pikiran. Iman bukan saja mengakui bahwa Allah itu ada atau keberadaan-Nya yang Esa. Iman bukan saja mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman bukan hanya sekadar memeluk suatu agama dan menjalankan hukum atau syariatnya, serta melakukan berbagai seremonial atau liturginya. Dengan demikian, sebenarnya kehidupan beriman bukan sesuatu yang sederhana, tetapi kompleks sekali.
    Kehidupan beriman dalam Kekristenan berangkat dari keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Keselamatan yang kita terima sesungguhnya karena anugerah, bukan karena perbuatan baik, artinya tidak dimulai dari amal kebajikan kita (Ef. 2:8). Harus hati-hati memahami kalimat “itu bukan hasil usahamu” dalam ayat tersebut. Kalimat “itu bukan hasil usahamu” diartikan bahwa kita tidak perlu atau dikesankan tidak boleh berusaha apa pun. Sejatinya, “itu bukan hasil usahamu” artinya itu bukan dari dirimu sendiri, tetapi dari Allah atau pemberian Allah.  Kalimat “itu bukan hasil usahamu” dalam teks aslinya adalah: καὶ τοῦτο οὐκ ἐξ ὑμῶν, yang artinya bukan dari dirimu: that not of yourselves, this was not from yourselves, but is the gift of God.
    Kalimat “bukan pekerjaanmu” dalam Efesus 2:8 adalah: οὐκ ἐξ ἔργων, bukan pekerjaanmu artinya bukan berangkat atau dimulai dari karyamu. Itu adalah karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hal ini dikemukakan agar orang percaya tidak membanggakan diri seakan-akan keselamatan adalah hasil usahanya. Efesus 2:8-9 bukan bermaksud mengajarkan kita tidak memiliki usaha untuk keluar dari keadaan kita yang belum benar, karena dengan alasan bagaimanapun keadaan kita kita sudah dianggap benar. Itu cukup. Hal ini menyesatkan. Kalau kita membaca ayat-ayat berikut dalam Efesus, maka kita dapati perjuangan orang percaya untuk hidup benar, bagaimana hidupnya berpadanan dengan panggilan untuk menjadi seperti Yesus (Ef. 4: 1, 15).
    Tindakan yang sebaik apa pun tidak dapat menyelamatkan seseorang. Dalam hal ini Kekristenan bukanlah usaha manusia untuk mencapai Tuhan, tetapi usaha Tuhan untuk mencapai manusia. Tuhan Yesuslah satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari api kekal oleh pengorbanan-Nya di kayu salib. Hanya Dialah yang dapat merebut manusia dari tangan kuasa kegelapan. Pola keberagamaan tidak akan mendapat tempat dalam Kekristenan yang benar. Pola keberagamaan di sini maksudnya adalah usaha mencapai keselamatan dengan melakukan hukum, tanpa diawali korban penebusan oleh darah Anak Domba Allah.
    Dalam keberagamaan, pada umumnya terdapat unsur-unsur peraturan atau hukum yang harus ditaati; yang mana dengan menaatinya akan menyukakan hati Tuhan yang dipercayainya dan membuatnya masuk surga. Kekristenan tidak demikian. Kekristenan yang benar adalah respon terhadap anugerah yang ditawarkan. Respon tersebut adalah tindakan iman. Tindakan iman adalah: pertama, seseorang harus menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara akali atau persetujuan pikiran. Dalam hal ini seseorang setuju dan mengakui dengan mulut bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat. Tetapi ini tidak cukup, sebab iman adalah perbuatan.
    Manusia yang ditawari keselamatan harus merespon dengan iman sejati, yaitu iman dalam tindakan. Abraham dipilih sebagai nenek moyang umat pilihan bukan karena ada sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh Abraham, tetapi karena anugerah. Alkitab tidak menunjukkan kepada kita bahwa Abraham dipilih Tuhan sebab ia baik. Tetapi setelah menerima panggilan tersebut, ia harus memiliki tindakan sebagai respon terhadap panggilan untuk hidup dalam iman. Dalam hal ini tindakan manusia tidak diperlukan.  Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Abraham taat terhadap panggilan untuk meninggalkan Urkasdim dan melakukan apa pun yang Tuhan perintahkan kepadanya.
    0 min
  • Terikat Perjanjian
    Kata “perintah” di dalam Roma 7:11, bukan menekankan atau menunjuk kepada isi hukum di dalam Dekalog, tetapi ikatan perjanjian (covenant) antara Allah dan umat pilihan. Umat Israel, sebagai keturunan Abraham, dipilih Allah menjadi umat-Nya. Pembebasan atas bangsa itu dan pemberian sepuluh perintah Allah di Sinai merupakan awal ikatan perjanjian dengan Allah. Satu pihak Allah melepaskan mereka dari perbudakan bangsa Mesir, tetapi di sisi lain bangsa Israel terikat untuk hidup sesuai dengan Dasatitah yang menjadi ikatan perjanjian Elohim Yahwe yang membebaskan mereka. Dari semua bangsa yang ada di dunia, sesungguhnya hanya bangsa Israel, satu-satunya bangsa yang memiliki perjanjian dengan Allah. Dengan adanya ikatan perjanjian tersebut, maka jika umat tidak hidup di dalam perintah-Nya, berarti merusak ikatan perjanjian. Hal ini dapat membunuh atau membinasakan atau mendatangkan hukuman atas umat tersebut.
    Dekalog diberikan kepada bangsa Israel menjadi ikatan perjanjian. Tetapi manusia yang berkodrat dosa memiliki kecenderungan untuk melanggar hukum-hukum di dalam Dasatitah atau Dekalog tersebut. Hal ini tidak dapat dihindari karena manusia memang sudah jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah dan hidup di dalam kodrat dosa. Dalam tulisannya Paulus menambahkan: Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. (Rm. 7:12-14) 
    Dalam hal tersebut Paulus mengatakan bahwa dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipunya. Menipu di sini maksudnya bahwa dengan adanya hukum-hukum yang terdapat dalam Dasatitah tersebut, dosa mendapat kesempatan untuk membujuk, menggoda, dan memikat Paulus (seperti umat Israel pada umumnya), sehingga dapat merusak ikatan perjanjian dengan Allah. Hal ini bisa terjadi karena di dalam diri Paulus terdapat kodrat dosa yang membuka kemungkinan untuk terbujuk, tergoda, dan terpikat untuk melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah.
    Bujukan, godaan, dan tarikan memikat dari dosa tidak bisa dihindari, dan Allah pun tidak menghindarkannya. Sebab justru dalam konteks ini, dengan adanya godaan dan bujukan tersebut umat dapat diuji apakah umat setia atau tidak kepada Elohim Yahwe dan ikatan perjanjian di antara mereka. Tanpa adanya bujukan, godaan, dan tarikan yang memikat tersebut umat tidak teruji kesetiaannya. Dalam hal ini, umat diuji apakah tetap setia dalam perjanjiannya dengan Tuhan sebagai umat yang setia kepada-Nya, atau sebaliknya mau mengikuti kehendaknya sendiri tanpa memedulikan Allah yang telah membebaskan mereka.
    Dari penjelasan Paulus ini dapat ditarik pelajaran bahwa umat pilihan selalu memiliki ikatan perjanjian. Bangsa Israel adalah satu-satunya bangsa yang memiliki ikatan perjanjian dengan Allah. Ikatan perjanjian antara Allah dan umat Israel didasarkan pada ikatan darah daging, sebab mereka adalah keturunan Abraham. Dan Allah sudah menyatakan bahwa bangsa itu adalah bangsa pilihan berdasarkan keturunan. Allah sendiri kemudian mengikat perjanjian dengan bangsa itu dengan pembebasan yang dilakukan oleh Allah atas bangsa itu ketika mereka ada dalam perbudakan bangsa Mesir. Kemudian Allah memberikan Dekalog sebagai sarana untuk mengikat perjanjian tersebut. Dari pihak Allah, Allah akan selalu menuntun, melindungi, dan memberkati bangsa Israel, tetapi dari pihak bangsa Israel mereka harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak-Nya yang diwakili oleh hukum-hukum-Nya dalam Dekalog.
    Hal ini menjadi gambaran hubungan antara Allah dengan umat pilihan Perjanjian Baru. Kalau dalam Perjanjian Lama, hanya bangsa Israel yang dapat menjadi umat pilihan,
    0 min
  • Hukum Bukan Untuk Membunuh
    Paulus dalam Roma 7:11 mengatakan: Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Apa maksud kalimat ini sebenarnya? Sebenarnya kata menipu dari teks aslinya aphormen (ἀφορμὴν), dari akar kata aphrome (ἀφορμή), yang artinya menempatkan dalam keadaan memiliki kesempatan.  Kalau dilihat secara sekilas, kalimat ini bisa diartikan seakan-akan perintah (hukum) diadakan oleh Tuhan untuk membunuh atau membinasakan umat, sebab dalam perintah tersebut dosa mendapat kesempatan untuk menipu umat. Kalau tidak ada perintah berarti dosa tidak mendapat kesempatan menipu umat. Seakan-akan perintah diberikan oleh Tuhan dengan maksud jahat atau membinasakan umat. Dengan demikian bisa dikesankan bahwa Allah mengupayakan kecelakaan bagi umat dengan memberikan perintah. Tentu saja Allah yang benar (Elohim Yahweh), tidak memiliki karakter demikian. Oleh sebab itu kalau kita salah memahami ayat ini, maka kita tidak akan memperoleh kebenaran yang berimplikasi positif dalam kehidupan kita. Oleh karenanya kita harus memahami ayat ini secara benar.
    Satu hal yang sering tidak terpikirkan oleh kita, bahwa ternyata dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu, dan oleh perintah itu ia dapat membunuh (Rm. 7:11). Dalam hal ini Paulus yang memberikan pernyataan dalam ayat tersebut mewakili umat pilihan; seperti pada umumnya umat Israel. Kalimat dalam tulisan Paulus di Roma 7:11 ini sangat sulit dipahami. Kalau kita tidak dengan teliti memperhatikan teks asli Alkitab dan menghubungkannya dengan ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan salah atau sesat memahaminya. Oleh sebab itu kita harus dengan teliti memperhatikan kata demi kata dalam ayat ini.
    Kata pertama yang harus diteliti adalah kata perintah. Kata perintah di sini bukan berarti hukum atau peraturan (Yun. Nomos; νόμος), tetapi kata perintah di sini adalah entole (ἐντολή), yang menunjuk perintah di dalam Dekalog. Dalam konteks ini entole lebih bersifat sebuah “ikatan perjanjian”, yang dalam bahasa Inggris adalah covenant. Adapun untuk kata perjanjian dalam bahasa Yunani adalah diatheke (διαθήκη). Kata diatheke selain diterjemahkan covenant juga berarti testament. Memang dalam bahasa Inggris, pada umumnya kata entole ini diterjemahkan the commandment. The Commandment adalah sepuluh perintah Allah (Dekalog) -yang dikenal pula sebagai Dasatitah- yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel di Sinai. Di dalam Dasatitah, termuat sepuluh perintah yang mengatur kehidupan bangsa Israel. Dekalog tersebut membangun dan mewarnai gaya hidup bangsa Israel secara mutlak. Tidak ada perundang-undangan yang keluar dari Dasatitah ini. Dasatitah adalah sila kehidupan bagi bangsa Istrael yang tidak boleh diubah sedikit pun. Memiliki nilai kemutlakan yang absolut.
    Jadi, kata “perintah” di dalam Roma 7:11, penekanannya bukan menunjuk kepada isi hukum atau perintah-perintah di dalam dekalog tersebut, tetapi penekanannya pada ikatan perjanjian (covenant) antara Allah dan umat pilihan (bangsa Israel). Jika umat melakukan pelanggaran berarti sebuah tindakan yang merusak perjanjian dengan Allah. Oleh sebab itu, kata perintah hendaknya tidak dipahami sebagai peraturan atau hukum, tetapi lebih menunjuk kepada ikatan perjanjian dengan Allah. Dengan demikian pelanggaran terhadap hukum adalah tindakan memisahkan diri dari Allah yang dengan-Nya umat mengikat perjanjian. Keterpisahan dengan Allah adalah bencana di atas segala bencana.
    Kata kedua yang harus diteliti adalah dosa. Dalam teks aslinya kata dosa adalah hamartia (ἁμαρτία). Kalau dikatakan dosa berarti sebuah penyimpangan atau ketidaktepatan. Dalam konteks ini dosa adalah penyimpangan terhadap sepuluh perintah Allah, yaitu tindakan tidak memenuhi seluruh hukum secara konsekuen. Sebenarnya ada beberapa kata dapat diterjemahkan pelanggaran atau penyimpangan, seperti parabasis (pemberontakan) atau adikia (kejahatan). Penggunaan kata hamartia (penyimpangan atau ketidaktepatan) -bukan k...
    0 min
  • Hidup Bagi Allah
    Kunci kehidupan baru dalam diri orang yang menerima anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah “menurut Roh”. Kalimat “menurut Roh” dalam teks aslinya adalah en kainoteti pneumatos (ἐν καινότητι πνεύματος), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan in newness of spirit yang bisa berarti roh yang baru atau pembaharuan roh. Kalau suasana keberagamaan samawi -seperti agama Yahudi- adalah suasana hidup di bawah bayang-bayang hukum, tetapi dalam kehidupan orang yang menerima anugerah berbeda. Perbedaannya adalah:
    Pertama, seorang yang hidup di dalam anugerah tidak lagi mempersoalkan bagaimana melakukan hukum demi memperkenan hati Allah. Perkenanan di hadapan Allah dimulai dari ketaatan Tuhan Yesus yang menggantikan tempat kita. Kalau selanjutnya kita hidup sesuai dengan hukum -bahkan menjadi sempurna- bukan karena supaya kita diselamatkan, tetapi agar kita dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan. Berbeda dengan penganut agama samawi -seperti bangsa Israel- biasanya ketaatan kepada hukum dilakukan demi perkenanan di hadapan Allah. Dalam hal ini seakan-akan Allah mewakilkan kehendak-Nya di dalam hukum-hukum-Nya dan jika hukum-hukum itu dilakukan, maka hal itu memperkenan hati Allah. Jika umat melakukan hukum-hukum tersebut berarti bertindak setia kepada Allah dan menyukakan hati-Nya.
    Biasanya ketaatan kepada hukum juga dikaitkan dengan berkat dan kutuk. Bila menaati hukum akan memperoleh berkat, tetapi kalau melanggar hukum akan menanggung kutuk atau laknat. Berkat dan kutuk di sini berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan perkara-perkara lahiriah. Mereka tidak mengenal kebenaran mengenai kehidupan yang akan datang; Kerajaan Allah yang akan dinyatakan secara fisik. Bisa dimengerti kalau mereka tidak memiliki jangkauan hidup menjadi sempurna, sebab selain mereka tidak mengenal tuntutan untuk sempurna sebagai anak-anak Allah, mereka juga tidak berkemampuan untuk dapat menjadi sempurna.
    Kedua, suasana keberagamaan samawi -seperti agama Yahudi- terdapat unsur mempersembahkan “sesuatu yang dapat memperkenan hati Allah”. Dalam hal ini umat merasa memiliki potensi untuk menyukakan hati Allah dengan perbuatan baik. Mereka tidak mengenal bahwa sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah adalah kesempurnaan (sesuai dengan rancangan semula Allah). Dengan cara berpikir demikian orang-orang yang memeluk agama samawi tersebut tidak menyadari dirinya sebagai orang “sakit”. Tidak heran kalau mereka merasa bisa memberi persembahan, bukan mengharapkan belas kasihan Tuhan atas keadaan mereka yang tidak sesuai dengan rancangan dan standar Allah. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus berkata: Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat. 9:12-13).
    Agama samawi -seperti agama Yahudi- tidak mengenal anugerah, bahkan mereka menolaknya. Mereka tidak mengenal bahwa hanya darah Anak Domba Allah (Tuhan Yesus) yang dapat mengangkat dosa manusia. Darah binatang tidak dapat menyucikan dan membenarkan. Manusia membutuhkan pengganti untuk memikul dosa. Allah tidak dapat mengampuni dosa manusia tanpa sarana penebusan. Pengampunan yang diberikan tanpa sarana dan landasan adalah ajaran palsu. Allah yang melakukan hal itu adalah allah yang tidak memiliki tatanan atau hukum di dalam dirinya.
    Bagi orang percaya yang memiliki penebusan oleh darah Tuhan Yesus, bukan berarti sudah memiliki penyelesaian secara tuntas anugerah keselamatan. Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki keselamatan secara utuh dan lengkap dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat dalam pengakuan. Biasanya dengan prinsip hanya oleh anugerah dan keselamatan terjadi bukan karena perbuatan baik, orang Kristen sudah merasa berstatus sebagai anak-anak Allah dan berhak masuk surga. Mereka melupakan fakta bahwa setiap orang akan menghadap takhta pengadilan Alla...
    0 min
  • Mati Bagi Hukum Taurat
    Setelah dibebaskan dari hukum Taurat, oleh karena orang percaya telah mati bagi hukum Taurat yang mengurung kehidupan umat, umat dapat melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat (Rm. 7:6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat). Dari tulisan Paulus ini diberitahukan kepada kita bahwa proses keselamatan dalam Yesus Kristus akan membawa kita sebagai umat pilihan kepada kehidupan menurut Roh. Jadi umat bukan saja mampu melakukan hukum, tetapi juga dapat hidup sesuai dengan kehendak Roh Allah.
    Dalam tulisannya, Paulus tidak bermaksud mempersalahkan hukum Taurat, walaupun karena dengan adanya hukum Taurat justru menimbulkan rangsangan untuk melakukan pelanggaran. Tetapi Paulus menunjukkan keberadaan manusia yang telah ada di bawah kodrat dosa atau di bawah hukum dosa, dalam ketidakberdayaan melakukan kehendak Allah. Paulus menyatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!” (Rm. 7:7).
    Hukum Taurat tidak dipersalahkan, sebab justru hukum Taurat yang membuka mata manusia mengenal dosa, walaupun di aspek lain hukum Taurat merangsang seseorang atau membangkitkan hasrat seseorang untuk berbuat dosa. Dosa di sini dalam arti pelanggaran terhadap hukum, sehingga hidup dalam keadaan tidak berkenan kepada Allah. Inilah keadaan orang yang hidup di bawah kodrat dosa. Dalam tulisannya tersebut, Paulus menunjukkan betapa malangnya keadaan manusia yang hidup di bawah hukum dosa atau kodrat dosa: Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa (Rm. 7:9-14).
    Keberadaan manusia yang tidak mampu melakukan hukum Taurat, menunjukkan atau membuktikan bahwa manusia yang telah hidup di bawah kodrat dosa -tidak bisa tidak- pasti selalu melakukan pelanggaran. Dengan kalimat lain Paulus hendak menunjukkan bahwa manusia dalam kodrat dosanya tidak mungkin dapat hidup tanpa pelanggaran terhadap hukum Allah sama sekali. Inilah yang dikatakan oleh tokoh reformator sebagai non posse non peccare. Seperti hukum gravitasi, bila benda lepas dari kedudukannya tanpa penopang pasti jatuh ke tanah, karena daya tarik bumi. Dalam hal ini, tegasnya Paulus menunjukkan bahwa manusia telah ada di bawah hukum dosa, artinya dalam kodrat di mana manusia tidak dapat hidup dalam kesempurnaan, bahkan tidak mampu melakukan hukum dengan baik.
    Dalam tulisannya Paulus mengatakan: Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati (Rm. 7:8). Menarik sekali, dalam ayat ini terdapat kalimat: sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.  Dengan kematian Tuhan Yesus semua tuntutan hukum Taurat dibatalkan, sehingga tanpa hukum Taurat dosa mati. Dosa mati di sini maksudnya, manusia yang berdosa dianggap benar, seakan-akan tidak melakukan suatu dosa apa pun. Seakan-akan tidak tertuduh sebagai orang berdosa,
    0 min
  • Membangun Ikatan Perjanjian Yang Baru
    Dengan sangat cerdas Paulus menjelaskan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak lagi terikat oleh hukum, dengan menggunakan ilustrasi ikatan perkawinan: Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, — sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum — bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain (Rm. 7:1-3).
    Sebelum ada penebusan oleh darah Yesus, Allah mengikat perjanjian dengan bangsa Israel. Ikatan perjanjian tersebut menggunakan sarana hukum. Bangsa Israel harus hidup dalam penurutan kepada hukum; hidup di bawah hukum Taurat. Sepanjang hidup mereka harus ada di bawah hukum Taurat secara mutlak, di manapun, kapan pun dan dalam keadaan bagaimanapun. Jika mereka hidup keluar dari dominasi hukum Taurat atau melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat, berarti mereka berlaku tidak setia, seperti seorang istri yang tidak setia kepada suaminya. Hal ini sama dengan tindakan perselingkuhan atau perzinahan, maka Allah akan menghukum mereka.
    Dalam tulisannya Paulus mengatakan: Tetapi kalau suaminya telah mati, maka istri bebas dari ikatan perkawinan tersebut. Dengan pernyataan Paulus tersebut, diajarkan kepada kita bahwa kematian Tuhan Yesus seperti membatalkan ikatan perkawinan atau ikatan perjanjian antara umat Israel dengan Allah yang menggunakan sarana hukum sebagai tanda pengikatnya. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib menggantikan ikatan perjanjian tersebut. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah (Rm. 7:4). Ikatan perjanjian yang tadinya menggunakan hukum, sekarang digantikan dengan ikatan perjanjian dengan Allah yang tidak menggunakan hukum sebagai sarana pengikatnya.
    Dalam hal tersebut harus diperhatikan, bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib membuat seseorang tidak lagi terikat kepada suami (gambaran hukum secara figuratif), tetapi terikat dengan Tuhan yang memilikinya. Paulus mengatakan: supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Sarana pengikat umat yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus adalah “menjadi milik Allah untuk hidup bagi Allah”. Umat terikat pada Allah sendiri tanpa sarana hukum. Selanjutnya hidup bagi Allah ditandai dengan berbuah bagi Dia, maksudnya adalah melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini harus dilakukan karena umat terikat dengan Allah bukan dengan hukum. Perilaku dalam kehidupan tidak lagi didasarkan pada hukum, tetapi dengan menjadi milik Allah, maka harus hidup bagi Allah semata-mata; perilakunya didasarkan pada kehendak Allah yang kudus. Hidup bagi Allah adalah hidup untuk melakukan kehendak-Nya dalam segala hal tanpa batas. Inilah yang menjadi gaya hidup Tuhan Yesus: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).
    Jadi, sejak ada penebusan oleh darah Tuhan Yesus, maka kalau seseorang tidak hidup di bawah hukum Taurat tidak lagi dapat dikatakan atau dituduh sebagai pendosa. Hal ini bukan berarti memberi kesempatan seseorang hidup dalam dosa tanpa tuduhan sebagai orang bersalah; bukan pula kesempatan untuk berbuat dosa. Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa,
    0 min
  • Mati Bagi Dosa
    Selanjutnya Paulus mengatakan: Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm. 6:11). Kata “memandang” dalam teks aslinya adalah logizomai (λογίζομαι), yang memiliki pengertian memperhitungkan, menimbang, memutuskan, dan menentukan. Dari hal ini kita dapat memperoleh kebenaran, sesungguhnya kita sendiri yang harus memperhitungkan, menimbang, memutuskan, dan menentukan bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus artinya melalui korban Tuhan Yesus kita dapat melayani Allah Bapa.  Kalimat itu juga berarti bahwa kita hidup dengan standar kehidupan yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, dengan demikian kehidupan kita menyukakan hati Allah Bapa.
    Roma 6:12-13, menguatkan apa yang telah dikemukakan di atas bahwa kematian terhadap dosa, harus dimulai dari diri kita: Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Hal ini berarti kematian terhadap dosa tidak terjadi secara otomatis. Harus diperjuangkan oleh setiap individu. Hal ini harus menjadi agenda satu-satunya dalam hidup. Dengan demikian maksud keselamatan yang Tuhan berikan dapat dicapai.
    Anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus tidak otomatis membuat kita berhenti berbuat dosa dan membuat kita berkarakter sempurna seperti Bapa. Tuhan menebus dosa kita artinya semua akibat dosa yang kita lakukan tidak diperhitungkan. Paulus membahasakannya dengan kalimat: Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (Rm. 6:14). Kalimat “tidak dikuasai dosa” bukan dalam artinya bahwa secara otomatis kita tidak bisa berbuat dosa, tetapi tidak di bawah hukum dosa. Dalam teks aslinya terdapat kata kurieuo (κυριεύω) yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan to be lord, rule (di bawah kekuasaan hukum). Dengan demikian kita yang ada di dalam Yesus Kristus, di mata Allah juga bukan lagi dianggap sebagai pemberontak yang mengingkari perjanjian (karena Adam). Tetapi hal ini bukan berarti membuat kita boleh berpuas diri. Kita harus mengisi kemerdekaan hidup kita yang dikerjakan oleh oleh darah Yesus dengan usaha terus menerus untuk menjadi sempurna. Dengan demikian kita tidak mengecewakan Tuhan Yesus yang memberikan nyawa-Nya untuk kita.
    “Tidak dikuasai dosa” bukan sesuatu yang otomatis berlangsung atau terjadi, sebab sebagai orang yang dibenarkan masih berkeberadaan sebagai orang berdosa atau bersifat dosa (berkodrat dosa), kita masih bisa melakukan apa yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Untuk itu haruslah ada perjuangan untuk mati terhadap dosa. Roh Kudus menuntun kita kepada segala kebenaran, dan Injil memperbaharui pikiran kita selama kita mau belajar dengan benar. Dalam hal ini Paulus mengatakan: Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! (Rm. 6:15). Bukan karena telah tidak berada di bawah hukum Taurat -artinya tidak berada di bawah kekuasaan hukum dan hidup dalam anugerah (semua dosa telah dipikul di kayu salib)- maka kita boleh berbuat sesuka hati kita. Justru karena kita telah dibebaskan dari hukum Taurat sekarang kitra harus masuk dalam hukum Kristus.
    Harus disadari bahwa apabila kita menyerahkan diri kepada seseorang sebagai hamba untuk menaatinya, kita adalah hamba orang itu, yang harus kita taati, baik dalam dosa yang memimpin kita kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kita kepada kebenaran (Rm. 6:16).
    0 min
  • Melemahkan Kuasa Dosa
    Hilangnya kuasa dosa dalam tubuh kita tidak mungkin dapat terjadi tanpa keterlibatan kita sendiri. Justru harus dipahami bahwa kita sendirilah yang membunuh atau mematikannya. Dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia dua kata “hilang kuasanya” dalam Roma 6:6 menunjuk potensi dosa di dalam diri kita yang harus dimatikan. Kata hilang kuasanya dalam teks aslinya adalah katergeo (καταργέω); dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris (King James) diterjemahkan to destroy. Kata katergeo memiliki banyak pengertian, antara lain: to render idle, unemployed, inactivate, inoperative, to terminate all intercourse with one, make ineffective, powerless (dibuat menganggur, menonaktifkan, dibuat tidak berlaku, mengakhiri sebuah hubungan, membuat tidak efektif, membuat tidak berdaya). Pada dasarnya kata katergeo mengisyaratkan keadaan yang non aktif.
    Komitmen untuk mati bersama Yesus dan hidup dalam hidup yang baru, dapat membuat kuasa tubuh dosa kita dapat di-non-aktifkan, sehingga kita tidak menghambakan diri kepada dosa. Hal ini seharusnya bukan sesuatu yang sukar dimengerti. Hal ini harus dipahami sebagai fenomena umum, riil, dan logis. Seperti kalau seseorang oleh karena satu dan lain hal kehilangan semangat hidup, maka ia sangat mudah terserang penyakit, menjadi tidak bergairah dalam segala hal, dan berdampak kuat dalam seluruh aspek hidupnya. Demikian pula dengan komitmen mati bersama dengan Tuhan pasti berdampak kuat dalam kehidupan rohani kita. Dalam hal ini aspek psikologi sangat kuat berperan. Proses beriman, kesempurnaan, dan kesucian adalah proses natural dan logis.
    Selanjutnya dalam suratnya Paulus mengatakan:  Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa (Rm. 6:7). Kata mati dalam teks aslinya adalah apothnesko (ἀποθνῄσκω). Kata ini bisa menunjuk kematian secara natural, tetapi juga menunjuk kematian suatu benih yang ditabur di tanah yang kering, sehingga tidak dapat bertumbuh. Adapun kata “bebas” dalam teks aslinya adalah dikaio (δικαιόω), yang artinya dibenarkan. Dalam tulisannya ini Paulus menunjukkan bahwa tindakan bersedia mati bersama Kristus adalah tindakan yang dibenarkan atau tindakan yang memungkinkan pembenaran secara aktif dapat dialami. Adapun pembenaran secara pasif adalah tindakan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Dalam pembenaran secara pasif tidak ada keterlibatan manusia sama sekali, Ia memikul dosa manusia. Semua dosa diselesaikannya di kayu salib. Adapun pembenaran secara aktif adalah peran dan keterlibatan orang percaya dalam menggarap keberadaan watak dirinya sendiri yang buruk.
    Jika hal di atas ini dikaitkan dengan pembenaran oleh iman, sangat berkorelasi: Bahwa iman bukan hanya sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman bukanlah sekadar aktivitas nalar, tetapi tindakan konkret. Dengan demikian, seorang yang mengaku beriman tanpa komitmen untuk mati bersama dengan Tuhan, berarti memiliki iman yang palsu. Iman semacam itu tidak menyelamatkan, artinya tidak membawa manusia kepada maksud tujuan manusia diciptakan; tidak mengubah seseorang dikembalikan ke rancangan semula.
    Tindakan mati bersama dengan Tuhan atau mati terhadap dosa membuahkan kehidupan bersama dengan Tuhan, artinya dalam persekutuan yang harmoni dan ideal dengan Tuhan. Dalam Roma 6:8 tertulis: Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Kata hidup dalam teks aslinya adalah suzao (συζάω) yang berarti to live together with one (hidup bersama dengan seseorang). Kata ini bisa diterjemahkan sebagai to live a new life in union with Christ. “Hidup juga dengan Dia” berarti sebuah persekutuan perjalanan hidup bersama dengan Tuhan sejak sekarang hidup di bumi. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Tuhan tidak dapat bersekutu dengan orang yang tidak bersedia mati bersama dengan Dia atau mati terhadap dosa. Jika demikian, ternyata banyak orang Kristen yang sesungguhnya belum hidup dalam persekutuan dengan Tuhan secara benar.
    0 min
  • Kematian Bersama Dengan Yesus
    Dalam Roma 6:4-5 tertulis: Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan terdahulu bahwa baptisan adalah lambang kematian. Orang yang dibaptis harus berani berkomitmen untuk meninggalkan semua perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Komitmen tersebut menunjukkan kesediaan mati bersama dengan Tuhan Yesus, mati terhadap dosa dan kesenangan dunia. Adapun kata “kebangkitan” dalam pasal ini (Rm. 6) lebih menunjuk kepada kehidupan baru yang dijalani sekarang di bumi, bukan nanti di balik kubur.
    Orang percaya harus memandang bahwa dirinya sudah mati bersama dengan Yesus di kayu salib, selanjutnya selalu hidup dalam kesadaran dan penghayatan bahwa dirinya sudah hidup dalam kehidupan yang baru. Kehidupan baru tidak diberikan secara mistis, spektakuler dan adikodrati (di luar kodrat). Kehidupan yang baru terjadi atau berlangsung ketika seseorang bersedia berkomitmen dengan tekad bulat meninggalkan cara hidupnya yang lama. Kemudian berjuang untuk mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui. Terkait dengan hal ini Paulus juga mengatakan agar kita sendiri yang menanggalkan manusia lama kita (Ef. 4:21-23). Bukan Tuhan yang menanggalkan, tetapi kita. Roh Kudus menolong kita untuk ini dalam proses yang bertahap dalam perjalanan waktu, bukan sesuatu yang instan; bukan sekejap dan otomatis. Sepanjang hidup kita adalah perjalanan perjuangan untuk terus menerus mengalami perubahan.
    Dalam hal ini setiap orang percaya harus mengerti risiko sebagai orang percaya yang mengaku menerima Yesus sebagai Juruselamat. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti masuk dalam kematian bersama dengan Yesus, agar juga mengalami kebangkitan dalam hidup yang baru. Hidup baru bukan hanya ditandai dengan hal-hal lahiriah seperti beragama Kristen (bagi yang tadinya belum Kristen), pergi ke gereja (yang tadinya tidak rajin ke gereja), menjadi aktivis gereja (bagi mereka yang tadinya tidak aktif dalam kegiatan gereja) dan menjadi pejabat gereja (yang tadinya bukan pejabat gereja). Hidup baru artinya perubahan seluruh perilaku dalam segala hal, dimulai dari sikap batiniahnya kemudian akan memancar atau terekspresi dalam semua tindakan yang kelihatan. Kalau hidup baru hanya ditandai dengan hal-hal lahiriah, maka keselamatan yang benar belum atau tidak berlangsung atau tidak terjadi dalam kehidupan seseorang.
    Sikap batiniah yang harus dimiliki orang percaya adalah komitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, sebuah kehidupan yang berbeda sama sekali dengan yang sudah dijalani. Harus ditegaskan bahwa tidak ada kebangkitan (mengalami hidup baru) tanpa kematian. Hal ini bukan terjadi secara mistis, artinya tidak terjadi karena mukjizat atau suatu fenomena yang spektakuler, tetapi berlangsung dalam kesadaran setiap individu yang dimulai dari komitmen pribadi. Bukan sesuatu yang berlangsung di luar kesadaran dan niat manusia itu sendiri. Harus diperhatikan, jika sesuatu terkait dengan hati atau pikiran, Tuhan tidak akan berintervensi. Pikiran dan hati manusia adalah wilayah manusia yang otonomi atau independen (mandiri). Manusia menjadi tuan atau majikan atas dirinya sendiri, tetapi kemudian apakah ia mau menyerahkannya kepada kehendak Allah atau kehendaknya sendiri, tergantung masing-masing individu.
     
    Kesadaran dan penghayatan bahwa kita telah mati bersama dengan Tuhan Yesus meneguhkan bahwa manusia lama kita disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar kita jangan menghambakan diri lagi kepada dosa (Rm. 6:6, Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…