Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Melepaskan Dunia
    Terkait dengan hidup beriman dalam Yesus Kristus, kita harus memahami maksud Efesus 2:8-9, supaya kita jangan sesat, sebab banyak orang salah memahami maksud ayat ini. Mereka berasumsi bahwa kita tidak perlu memiliki usaha apa pun untuk memiliki keselamatan. Mereka memandang, bahwa usaha sekecil apa pun dipahami sebagai pemberontakan terhadap kebenaran, seakan-akan usaha itu adalah usaha untuk memiliki dan mencapai keselamatan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen tidak memiliki usaha apa pun untuk meresponi keselamatan. Hal ini sama dengan tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mereka pasti tidak pernah mengalami dan memiliki keselamatan yang Tuhan sediakan.
    Dalam Efesus 2:8-9 tertulis: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Kalimat “itu bukan hasil usahamu” harus dipahami dengan benar. “Itu bukan hasil usahamu” artinya: Itu bukan dari dirimu sendiri, tetapi dari Allah atau pemberian Allah.  Kalimat “bukan hasil usahamu” dalam teks aslinya adalah: καὶ τοῦτο οὐκ ἐξ ὑμῶν (Ing. that not of yourselves, his was not from yourselves, but is the gift of God). Sedangakan kalimat “bukan pekerjaanmu” dalam Bahasa aslinya adalah οὐκ ἐξ ἔργων, yang artinya bukan karyamu. Itu adalah karya Tuhan Yesus di kayu salib. Hal ini dikemukakan agar orang percaya tidak membanggakan diri seakan-akan keselamatan adalah hasil usahanya. Tanpa salib, tidak ada jalan keselamatan sama sekali.
    Kita harus benar-benar paham, bahwa walaupun keselamatan adalah anugerah bukan berarti kita cukup percaya dengan pikiran, kemudian kita dapat selamat. Justru keselamatan yang ditawarkan kepada umat pilihan membuat umat pilihan harus melepaskan segala sesuatu. Inilah barter yang harus dilakukan orang yang mau mengenal dan memiliki keselamatan dalam Yesus Kritus. Kalau tidak pernah melakukan barter ini, maka berati tidak pernah memiliki keselamatan yang benar. Paulus mengatakan dalam suratnya: Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Flp. 3:7). Paulus mengerti sekali, untuk memiliki keselamatan secara utuh, harus melepasakan segala sesuatu.
    Firman Tuhan mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Jadi, barangsiapa bersahabat dengan dunia ini, maka berarti menjadikan dirinya musuh Allah. Bersahabat dengan dunia artinya kehidupan yang dapat dibahagiakan oleh fasilitas dunia ini. Orang percaya yang bersedia melepaskan persahabatan dengan dunia ini berarti rela tidak menikmati dunia. Jadi pada intinya, seseorang tidak akan memiliki Kerajaan Surga tanpa melepaskan dunia (Mat. 13:44-45). Di dunia kita hari ini, pada umumnya manusia -termasuk di dalamnya sebagian orang Kristen- terikat dengan percintaan dunia. Dengan demikian di akhir zaman semakin sulit orang diselamatkan, sebab ikatan dunia semakin kuat, bahkan sampai tidak dapat dilepaskan lagi.
    Banyak orang Kristen hidup dengan gaya hidup anak-anak dunia dengan segala kesenangannya. Mereka menganggap hal itu wajar. Malangnya tidak ada yang mengingatkan bahwa gaya hidup seperti itu adalah gaya hidup manusia yang tidak layak bagi Tuhan. Harga mengikut Tuhan Yesus sepanjang zaman selalu sama. Tidak pernah menjadi kurang atau dipermudah. Kalau ada barang yang diakui sebagai asli tetapi dengan harga murah, pasti barang tersebut palsu. Demikianlah Injil palsu yang banyak beredar, seakan-akan menerima Yesus tanpa pertaruhan. Mereka mengajarkan asal memiliki keyakinan, maka mereka sudah menjadi umat Allah.
    Terkait dengan hal di atas, Paulus mengatakan: Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Setelah mengatakan demikian Paulus menunjukkan bahwa perjumpaannya dengan Tuhan Yesus membuat ia harus m...
    0 min
  • Harga Yang Dipatok
    Hidup beriman dalam Yesus Kristus berarti memiliki fokus yang berbeda dengan manusia di sekitar. Sekarang ini adalah zaman anugerah atau zaman penggenapan. Pada zaman ini, fokus hidup manusia, khususnya umat pilihan, tidak lagi kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi harus terfokus pada roti dari surga, yaitu diri Yesus sendiri. Terfokus kepada roti dari surga artinya bagaimana mengenakan hidup Yesus, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus. Dengan melakukan hal ini seseorang menemukan kesenangan atau kebahagiaan hidup yang tiada tara, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
    Sebenarnya, kehidupan manusia hanya dapat dipuaskan dengan sempurna ketika ia melakukan kehendak Bapa. Tetapi hal ini tidak akan dapat dimengerti oleh mereka yang tidak berjuang untuk menemukan kebenaran dan tidak berusaha mengenakan kehidupan Yesus. Oleh sebab itu setiap orang percaya harus benar-benar meneladani kehidupan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hal ini harus menjadi agenda satu-satunya dalam hidup ini. Hal ini harus dipandang, karena memang demikian, sebagai satu-satunya kebahagiaan. Jika orang percaya tidak membiasakan hal ini, maka sampai mati tidak pernah mengerti bagaimana mengalami dan menikmati Tuhan sebagai kebahagiaan.
    Orang Yahudi meminta roti, tetapi tidak bersedia mengerjakan pekerjaan yang Bapa kehendaki, yaitu percaya kepada Yesus (Yoh. 6:36, Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya). Tidak percaya di sini artinya tidak berani makan daging dan minum darah Yesus, yang sama dengan mengenakan hidup-Nya. Mereka hanya mengingini roti fana atau berkat jasmani, tetapi tidak menyambut keselamatan, yaitu bagaimana dikembalikan ke rancangan Allah semula. Hal ini sama seperti banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus dan menginginkan hidup kekal, tetapi tidak memenuhi syarat untuk memperoleh hidup kekal tersebut. Keselamatan hanya oleh anugerah bukan berarti manusia tidak perlu memberi respon. Respon yang harus dimiliki atau dilakukan seseorang tidaklah cukup dengan aktivitas nalar atau pikiran, yaitu percaya. Tetapi harus dengan tindakan sesuai dengan pengertian kata “percaya” itu sendiri, yang dari bahasa aslinya, yaitu pisteuo, berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai.
      
    Banyak orang Kristen seperti pembeli yang mau membeli suatu barang dengan harga yang dibandrol sendiri atau ditentukan sendiri. Mestinya pemiliki baranglah yang berhak membandrol barang tersebut, bukan pembelinya. Kalau Tuhan Yesus berkata: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh. 6:29), maka tentu percaya yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah percaya menurut versi Tuhan, bukan versi siapa pun. Biasanya orang memahami iman dalam ayat ini sebagai “keyakinan dalam pikiran”. Keyakinan dalam pikiran tidak akan membawa dampak dalam perilaku kehidupan sama sekali, seperti yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini. Iman dalam kehidupan jemaat Roma adalah iman dalam tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain.
    Kalau ada seorang pegawai toko menentukan harga barang yang tidak sesuai dengan kebijaksanaan dan keinginan pemiliki toko, berarti pegawai tersebut menipu. Pegawai toko juga tidak boleh membiarkan pembeli yang menentukan harga. Sebenarnya barang tersebut tidak bisa dimiliki oleh siapa pun, pemilik barang tersebut telah berkorban sedemikian rupa sehingga barang tersebut bisa dimiliki orang lain. Ini berarti suatu anugerah. Tetapi anugerah tidak bisa diterima tanpa barter (Flp. 3:7-9; Luk. 14:25-33). Tidak sedikit pendeta yang memberi harga sendiri terhadap keselamatan yang harus diresponi secara benar. Lebih celaka lagi, kalau seorang pendeta memiliki konsep sendiri mengenai keselamatan.
    Seorang pendeta tidak boleh menjadi seperti seorang pegawai toko obat yang m...
    0 min
  • Roti Dari Surga
    Pada akhirnya tujuan hidup kita atau goal yang harus kita capai dalam hidup ini adalah “melakukan kehendak Bapa”. Kunci untuk dapat melakukan kehendak Bapa adalah selalu memperkarakan apakah yang kita pikiran, kita ucapkan dan kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa atau tidak. Seharusnya, kita sudah tidak lagi banyak berbicara, tetapi banyak berdiam diri untuk mengoreksi diri dan selalu memperkarakan keberadaan kita di hadapan Tuhan. Dengan demikian keyakinan kita terhadap keberadaan Allah akan menyita hidup kita. Hal ini sama dengan Abraham, percayanya kepada Allah membuat hidup Abraham tersandera. Abraham hidup dalam kehendak Allah. Hidup Abraham pasti tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang hidup sezamannya. Mereka bertanya-tanya: Apa yang terjadi atas kehidupan orang ini?
    Menegaskan kebenaran yang kita pelajari ini, perlu kita memperhatikan Yohanes 6:29-38. Dalam ayat 30, orang-orang Yahudi meminta jaminan: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?” Mereka ingin memperoleh jaminan untuk memercayai Yesus. Mereka membandingkan Yesus dengan Musa yang memberikan roti di padang gurun. Bangsa Israel percaya kepada Musa dan mengikuti hukum yang diberikan oleh Musa, karena mereka melihat keajaiban yang Musa lakukan, yaitu memberi roti. Mereka berkata:  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.” (ay. 31). Di balik pernyataan tersebut, mereka mau bertanya: “apa yang dapat diberikan Yesus kepada kami?”
    Tuhan Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga (Yoh. 6:32). Dari pernyataan ini, Yesus membuka suatu rahasia kehidupan zaman anugerah, bahwa zaman sekarang bukan lagi zaman di mana fokus dan orientasi orang pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Ini adalah zaman anugerah, di mana manusia diberi kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang, mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, yang sama dengan serupa dengan Yesus, di mana Yesus menjadi role model-nya.
    Dari pernyataan di atas, Yesus hendak menyatakan bahwa di zaman anugerah ini manusia harus sudah memahami bahwa sesungguhnya Allah Bapa yang memberi berkat dan perlindungan, karena Dialah yang mempunyai segala kuasa dan kemuliaan dan Kerajaan. Bukan Musa yang memberikan roti, tetapi Bapa di surga dan roti yang sesungguhnya yang hendak diberikan kepada manusia adalah Diri Yesus sendiri. Dari pernyataan Yesus tersebut, Ia hendak membawa mereka kepada suasana baru kehidupan zaman anugerah.
    Di zaman anugerah ini, hidup keberagamaan yang dipandu hukum dan masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, harus digantikan dengan hidup dalam jalan Tuhan yang dipandu oleh Roh Kudus dan orientasi hidup pada kekekalan, yaitu dunia yang akan datang di langit baru dan bumi yang baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya; kumpulkan harta di surga, bukan di bumi dan lain sebagainya. Paulus pun mengatakan agar orang percaya memikirkan perkara-perkara yang di atas bukan yang di bumi. Perjanjian baru mengarahkan umat untuk hidup sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus dan memikirkan perkara-perkara yang di atas. Hal ini sama dengan pencarian roti yang dapat binasa digantikan dengan roti yang tidak dapat binasa. Jika seseorang makan roti yang tidak dapat binasa -yaitu Yesus, yang artinya mengenakan hidup-Nya- maka seseorang baru dapat melakukan kehendak Bapa sesuai standar Tuhan Yesus.
     
    Tuhan Yesus berkata: Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” (Yoh. 6: 33). Meresponi ucapan Tuhan Yesus tersebut, orang-orang Yahudi bertanya kepada Tuhan Yesus: “Tuhan,
    0 min
  • Percaya Adalah Bekerja
    Tuhan Yesus berkata: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan materai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh. 6:27-29). Dalam pernyataan Tuhan Yesus di sini, percaya menunjukkan sesuatu pekerjaan. Kata “pekerjaan” dalam teks aslinya adalah ergon (ἔργον). Kata ergon menunjuk suatu kegiatan yang terus menerus secara berkesinambungan untuk memperoleh suatu hasil atau ada produknya. Demikianlah, percaya adalah suatu kegiatan yang terus menerus, yang dapat digambarkan sebagai suatu garis Panjang, bukan sebuah titik.
    Banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus Kristus. Dari percaya tersebut mereka memperoleh keselamatan, merasa sudah menjadi anak Allah yang sah, merasa sudah berhak diberkati Tuhan dengan berkat jasmani dan berkat rohani dan kalau mati mereka boleh meyakini masuk surga. Mereka memandang percaya seperti sebuah titik. Bisa dilihat, bagaimana mereka tidak memiliki perjuangan yang proporsional untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Bagi mereka percaya itu sudah final. Titik. Padahal percaya adalah sebuah perjuangan dalam mengisi anugerah yang Tuhan berikan. Percaya yang mereka miliki adalah percaya yang tidak produktif, artinya tidak menghasilkan apa-apa. Percaya seperti itu adalah percaya semu atau percaya palsu. Iman seperti ini adalah iman yang tidak menyelamatkan.
    Percaya adalah ergon atau pekerjaan yang akan menghasilkan sesuatu. Hasil dari percaya itu adalah semakin menemukan kemuliaan Allah yang hilang, yaitu semakin segambar dan serupa dengan Allah. Hal ini berarti menjadi anak-anak Allah, bukan saja statusnya tetapi keberadaannya. Keberadaan sebagai anak-anak Allah adalah mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, di mana seseorang menjadi semakin serupa dengan Yesus.
    Jadi kalau seseorang mengaku percaya, maka ia harus berjuang untuk belajar mengenal kebenaran (secara Logos). Untuk ini harus mengalokasi waktu untuk datang ke gereja, ikut pendalaman Alkitab, mendengarkan khotbah melalui CD, youtube, radio, TV, literatur dan lain sebagainya. Selanjutnya orang percaya harus memperhatikan setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi. Melalui setiap kejadian tersebut Allah bekerja untuk mematangkan Firman atau Logos dalam kehidupan, sehingga Firman kebenaran menyatu dalam diri orang percaya. Tanpa melalui kejadian atau peristiwa, Firman Tuhan secara Logos hanya menjadi teori semata-mata. Selain itu, setiap orang percaya yang mengerjakan keselamatannya, harus menyediakan waktu setiap hari untuk bertemu dengan Tuhan dalam doa pribadi.
    Dari hal ini kita mengerti mengapa kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Kata “kerjakanlah” dalam teks aslinya (Flp. 2:12) adalah katergazesthe (κατεργάζεσθε). “Kerjakanlah” merupakan kata perintah yang artinya juga menyelesaikan (to finish, work out), mencapai (achieve, accomplish). Ada pun kata mengerjakan dalam dalam Filipi 2:13 adalah energon (ἐνεργῶν), dari kata energeo (ἐνεργέω). Kata energeo bisa berarti to be operative (bisa digunakan), put forth power (menaruh atau memberikan daya), to work for one, aid one (mengerjakan atau membantu seseorang). Perbedaan kata mengerjakan di Filipi 2:12 dan di Filipi 1:13 tersebut harus diperhatikan dengan seksama. Manusia yang harus menyelesaikan dan Allah yang memberi daya.
    Mengapa harus mengerjakan dengan takut dan gentar? Sebab perjuangan mengerjakan keselamatan -yaitu bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Kristus- bukan hal yang mudah. Kalau mengerjakan keselamatan dapat dilakukan dengan mudah,
    0 min
  • Mengenakan Kehidupan Yesus
    Sebenarnya, tidak salah menjadikan Tuhan sebagai sumber berkat dan pertolongan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani (kesembuhan, ekonomi dan lain sebagainya). Tetapi bila hal itu menjadi alasan seseorang menjadi orang percaya atau suatu usaha untuk menemukan kegembiraan hidup di dunia ini, maka ini berarti memiliki “allah lain”. Allah lain di sini maksudnya adalah menjadikan pemenuhan kebutuhan jasmani sebagai kegembiraan hidup dan tujuan kehidupan ini. Tuhan yang seharusnya menjadi tujuan dan sumber kegembiraan kita, tidak boleh dan tidak bisa digantikan hal lain. Hal ini bukan berarti menjadi orang Kristen akan menjadi miskin secara materi. Justru ketika kita tidak menjadikan materi sebagai tujuan dan kegembiraan hidup, Tuhan akan memercayakan kepada kita segala berkat jasmani yang dapat kita gunakan untuk mengabdi kepada-Nya.
    Iblis telah menyesatkan banyak orang Kristen hari ini. Ketika pemberitaan Injil dijadikan sarana sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani, fokus keselamatan menjadi bergeser. Keselamatan yang seharusnya menjadi upaya Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, menjadi gagal oleh kebodohan manusia yang fokus pikirannya tertuju kepada perkara-perkara duniawi (Flp. 3:19). Pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil ini memang disambut baik dan sangat digemari, tetapi mereka tidak mengalami keselamatan yang disediakan Tuhan. Mereka merasa sudah menjadi umat pilihan Tuhan yang disayang Tuhan, padahal mereka masih dalam belenggu ilah lain, yaitu kekayaan dunia yang membutakan pikiran mereka (2Kor. 4:4). Mereka semakin buta dan pikiran mereka semakin tumpul untuk mengerti kebenaran, sehingga telinga mereka sudah tidak lagi bisa mendengar kebenaran. Mereka mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga mereka sendiri (2Tim. 4:3). Inilah yang mengakibatkan banyak orang tidak menemukan iman yang dikehendaki oleh Tuhan atau yang dimaksud oleh Alkitab Perjanjian Baru.
    Tuhan Yesus menghendaki agar mereka yang mengikut Yesus karena melihat tanda. Dalam bahasa aslinya kata tanda adalah semeion (σημεῖον), yang artinya petunjuk arah. Pengikut Yesus harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan. Orang beragama seperti agama Yahudi pada zaman Yesus mengajarkan umatnya untuk fanatik terhadap Elohim Yahwe, setia kepada Bait Allah dan melakukan hukum Taurat secara ketat. Hal itu mereka anggap sudah memenuhi kehendak Allah atau kehidupan sebagai orang yang memercayai Allah. Mereka memahami yang diajarkan Musa demikian. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan bahwa mereka harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan dalam segala hal dan setiap saat.
    Kemudian Tuhan Yesus menunjukkan apa yang harus mereka lakukan: Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yoh. 6:27). Tuhan Yesus menjelaskan maksud tanda itu adalah agar mereka mengerti bagaimana mengisi hidup ini, yaitu bukan untuk sesuatu yang tidak membawa kehidupan kekal, tetapi bekerja untuk makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal. Kata bertahan dalam teks aslinya adalah meno (μένω), yang artinya menetap. Makanan yang dapat membuat orang percaya menetap dalam kehidupan yang kekal bersama dengan Tuhan Yesus dalam kemuliaan-Nya.
    Percaya kepada Yesus berarti mengenakan kehidupan-Nya. Kehidupan Yesus adalah kehidupan melakukan kehendak Bapa. Hal ini dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Orang yang mengaku percaya, tetapi tidak melakukan kehendak Bapa belum bisa disebut sebagai orang percaya. Jadi, percaya di sini artinya mengikuti jejak hidup Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah kehendak Roh-Nya yang dimateraikan di dalam diri kita, di mana kita bisa selalu berinteraksi dengan Allah setiap saat.
    0 min
  • Melihat Tanda
    Ternyata meyakini keberadaan Allah atau hidup beriman dalam Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Tetapi selama ini bagi orang-orang yang sudah terbiasa beragama, seakan-akan meyakini bahwa Allah itu ada adalah sesuatu yang mudah. Mengapa demikian? Sebab mereka berpikir bahwa keyakinan terhadap keberadaan Allah (bahwa Allah itu ada), cukup dengan pikiran saja, tidak perlu disertai dengan perjumpaan pribadi terus menerus dengan Dia untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam Yohanes 6:25-26 tertulis: Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
    Tuhan Yesus mengatakan secara blak-blakan bahwa mereka mencari Tuhan sebab mereka makan roti sehingga kenyang. Memang peristiwa ini terjadi setelah Tuhan Yesus membuat mukjizat atas lima roti dan dua ekor ikan. Hal ini menunjukkan bahwa memang dari dulu tidak sedikit orang -bahkan sebagian besar orang- mencari Tuhan karena roti jasmani.  Biasanya agama menolerir kalau umat berurusan dengan Allah karena pemenuhan kebutuhan jasmani. Bahkan mereka mengajarkan bahwa maksud berurusan dengan Allah memang agar diberkati secara jasmani atau berkat lahiriah. Selain itu, Allah juga akan memberikan berkat bonus, yaitu surga.
    Dalam hal tersebut dikesankan bahwa Allah membutuhkan pengikut atau orang-orang yang mau memercayai keberadaan-Nya. Jadi, kalau orang mau berurusan dengan Allah, pergi ke rumah ibadah dan rajin berdoa atau sembahyang, maka Allah sudah cukup dipuaskan dan tersanjung. Orang-orang yang melakukan hal tersebut diberkati, dengan memberi jalan keluar dari masalah-masalah hidupnya, mencukupi kebutuhannya, melindungi dari segala marabahaya dan memberikan bonus surga sesudah kematiannya.  Inilah pemikiran agamani yang tidak boleh masuk dalam teologi Kristen.
    Dari perkataan Tuhan dalam Yohanes 6:26 -bahwa mereka mencari Tuhan bukan karena melihat tanda, tetapi karena makan roti sehingga kenyang- menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak membenarkan sikap ini. Ironisnya, hari ini hampir semua gereja mengajarkan hal demikian itu. Jemaat diajar untuk mencari Tuhan untuk berkat-berkat jasmani. Ini adalah penyesatan. Jadi, kalau ada gereja dan pendeta yang mengajarkan hal tersebut, ini adalah penyesatan yang merusak kehidupan iman yang sejati.
    Sekarang ini, di mana-mana terdapat kesan yang ditimbulkan oleh banyak orang Kristen, bahwa seolah-olah Allah membutuhkan orang-orang yang mau memercayai diri-Nya sebagai Allah Israel dan meyakini Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dunia, kemudian membuat mereka menjadi orang yang beragama Kristen. Menjadi orang Kristen, menurut mereka berarti memperoleh keselamatan, artinya terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Selama hidup di bumi berhak menerima berkat Tuhan, dari kesembuhan, jalan keluar dari segala masalah dengan mudah sampai pada segala pemenuhan kebutuhan jasmani.
    Sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah bukan sekadar menjadi Kristen dengan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi yang dikehendaki oleh Allah adalah orang yang memercayai Diri-Nya, belajar kebenaran dan hidup dalam kebenaran. Untuk apa menjadi Kristen kalau tidak melakukan kehendak-Nya?
    Dalam Yohanes 6:25-26, dikisahkan banyak orang yang mencari Tuhan karena roti. Mereka tidak melihat tanda. Kata tanda dalam teks aslinya adalah semeion (σημεῖον). Kata ini memiliki pengertian sebagai petunjuk arah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka tidak melihat tanda, berarti mereka tidak mengerti arah yang Tuhan kehendaki, yaitu hendak dibawa kemana. Orang Yahudi memang tidak tahu atau tidak mau tahu arah atau tujuan Tuhan hendak membawa mereka.
    Demikianlah keadaan banyak orang Kristen hari ini. Sebenarnya banyak orang Kristen yang tidak tahu maksud utama keselamatan y...
    0 min
  • Dibuahi Tuhan
    Untuk hidup beriman dalam Tuhan, seseorang harus mengalami pembaharuan pikiran setiap hari. Jadi, menjadi orang yang beriman dalam Tuhan adalah orang yang memasuki proses pembaharuan pikiran yang terus menerus berlangsung, sehingga kehidupannya tidak lagi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Firman yang benar bila diserap akan mampu memperbaharui pikiran dan akan berdampak mengubah seluruh gaya hidup, sehingga kehidupan sebagai umat pilihan yang unggul dapat terwujud. Ini adalah kehendak Tuhan yang utama. Inilah kabar baik yang disediakan Tuhan kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan berkeadaan jauh dari apa yang dirancang Tuhan.
    Kekristenan bukan sekadar agama, tetapi jalan hidup. Jalan hidup yang dijalani adalah jalan hidup yang pernah dijalani oleh Yesus, ketika mengenakan tubuh daging dua ribu tahun yang lalu. Dalam hal ini, yang penting adalah Kekristenan yang dijalani semakin mengubah total seluruh kehidupan. Ketika seseorang tidak serupa dengan dunia ini, maka itu menjadi tanda orang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus, yaitu umat yang diperkenan masuk Kerajaan-Nya untuk dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Kalau keadaan seseorang masih sama dengan dunia, berarti belum hidup beriman dalam Tuhan. Itu juga berarti ia belum menjadi umat yang layak bagi Dia. Inilah yang seharusnya paling mencemaskan kita.
    Ciri dari seorang yang hidupnya telah diubah oleh Tuhan karena Firman yang murni tersebut adalah menjadikan keberhasilan umum sebagai alat untuk mengabdi kepada Tuhan. Keberhasilan hidup kita tidak berhenti sampai di sukses studi, karir, bisnis, keluarga dan lain sebagainya. Ini adalah keberhasilan umum. Sukses hidup kita adalah menjadi umat yang layak bagi Tuhan. Sayang sekali banyak orang menjadikan keberhasilan umum sebagai tujuan utama kehidupan ini. Manusia pada umumnya menggerakkan hidupnya hanya untuk meraih hal tersebut. Pola berpikir inilah yang harus diubah. Mengubah pola berpikir ini bukan berarti tidak akan meraih keberhasilan umum. Justru sebaliknya, ia akan menjadi orang yang pasti bisa meraih keberhasilan umum bagi Tuhan, artinya menjadi sarana untuk turut menggenapi rencana-Nya, yaitu keselamatan dunia.
    Kalau seseorang masih menjadikan keberhasilan umum sebagai tujuan utama kehidupan ini, berarti ia tidak mengabdi kepada Tuhan (Mat. 6:24). Ia mengabdi bagi diri sendiri. Ketika Tuhan Yesus berkata, bahwa kita harus mengumpulkan harta di surga, Tuhan menghendaki agar kita tidak menjadikan segala sesuatu dalam hidup ini sebagai tujuan akhir (Mat. 6:19). Ini tidak membuat seseorang menjadi gagal, justru Tuhan akan menambahkan segala sesuatu (Mat. 6:33), sehingga kita dapat mengabdi kepada Tuhan dengan efektif. Keberhasilan bisa dikatakan keberhasilan bila diukur dari efektinya bagi pekerjaan Tuhan, yaitu keselamatan umat manusia.
    Seseorang dapat memiliki semua keberhasilan umum (sukses karir, studi, rumah tangga dan lain sebagainya), tetapi kalau tidak menjadi umat yang layak bagi Tuhan, maka sia-sialah kehidupan ini. Betapa tragisnya kehidupan ini, ketika semua yang kita anggap keberhasilan ternyata “kain kotor”. Memang usaha untuk meraih keberhasilan umum bukan sesuatu yang salah. Orang yang berjuang meraih hal tersebut merupakan kesalehan atau tindakan yang mulia. Tetapi ironisnya, segala sesuatu yang telah diperjuangkan tersebut (kekayaan, kehormatan atau keberhasilan umum) suatu hari akan terbuang sebagai sampah. Sekarang belum menjadi barang kotor, tetapi satu kali akan menjadi barang busuk, yaitu suatu hari nanti ketika Tuhan mengakhiri sejarah dunia ini.
    Kehidupan kita bila tidak dibuahi Tuhan maka akan menjadi kain kotor. Maksud dibuahi Tuhan disini adalah mempersembahkan semua keberhasilan dan prestasi untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, sehingga Tuhan berkenan memakainya sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak semua keberhasilan yang telah diraih dipakai oleh Tuhan. Hal ini tergantung sikap hati seseorang dalam mempersembahkan hidup bagi Tuhan.
    0 min
  • Mengasihi Dengan Benar
    Orang yang hidup beriman dalam Tuhan adalah orang yang mengasihi Tuhan secara patut. Kepatutan mengasihi Tuhan, harus didasarkan pada ukuran Alkitab. Pernyataan yang jelas dan tegas mengenai hal ini terdapat dalam Matius 22:37, bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan. Perintah ini sudah jelas menunjukkan bahwa segenap hidup harus dipersembahkan bagi Tuhan. Ditambah lagi dengan pernyataan Tuhan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24), maka lengkaplah, bahwa orang percaya harus sepenuhnya hidup dalam pengabdian kepada Tuhan. Dengan demikian sangatlah jelas pernyataan Tuhan Yesus bagi orang percaya, dan kita tidak boleh menghindar, bahwa hidup harus dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan.
    Penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah seorang Kristen dianggap sebagai pelayan Tuhan sepenuh waktu (full timer) jika ia meninggalkan pekerjaan umum atau pekerjaan sekuler, kemudian mengkhususkan diri bekerja di gereja. Kalau pekerjaan itu menyangkut pelayanan mimbar, konseling, pelayanan liturgi atau kesekretariatan, maka sebutan yang otomatis disandangnya adalah “hamba Tuhan”. Bagaimana dengan Saudara yang tidak bekerja di gereja?  Apakah Saudara bukan “full timer-nya Tuhan”?
    Tuhan Yesus berkata:  “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Luk. 20:25). Dari pernyataan Tuhan Yesus dapat diperoleh kebenaran bahwa tidak membayar pajak berarti memberontak, demikian pula kalau seseorang tidak menyerahkan diri bagi Tuhan juga adalah seorang pemberontak dihadapan-Nya. Dalam hal ini setiap orang percaya harus menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Dari hal ini jelas sekali, bahwa semua orang percaya harus menjadi full timer bagi Tuhan.
    Hal yang juga merusak panggilan untuk melayani Tuhan adalah ketika diajarkan bahwa kita berhak menuntut Tuhan, biasanya dengan alasan karena kita anak-anak-Nya. Pengajaran ini menghanyutkan banyak orang Kristen dalam kebodohan dan sikap tidak bertanggung jawab. Dalam berurusan dengan Tuhan, mereka merasa berhak meminta apa pun yang menurutnya sebagai kebutuhan. Padahal yang benar adalah, kalau Alkitab mencatat bahwa kita diangkat sebagai anak-anak-Nya, bukan berarti kita dapat memanfaatkan atau menggunakan Tuhan. Kalau kita dinyatakan sebagai anak, maka utamanya bukan pemenuhan berkat jasmani, tetapi kita dipanggil untuk berkelakuan seperti Bapa (1Ptr. 1:17-18). Selanjutnya, kita juga dipanggil untuk menderita bersama-sama dengan Dia (Rm. 8:17). Mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk menerima pemenuhan berkat jasmani adalah sesat. Ini berarti merusak bangunan iman Kristen yang harus terbangun dalam hidup kita.
    Mengapa kita tidak berani berkata bahwa diri kita adalah hamba Tuhan yang statusnya full timer bagi Tuhan? Ada beberapa penyebabnya. Pertama, konsep yang salah mengenai pelayanan. Pelayanan selalu dikaitkan dengan kegiatan di lingkungan gereja. Padahal tanpa dukungan kaum di luar gereja, gereja lumpuh tidak dapat berbuat apa-apa. Harus diingat bahwa banyak anggota, tetapi satu tubuh (1Kor. 12:12). Masing-masing anggota memiliki panggilan khusus. Profesi yang disandang seseorang juga adalah jabatan rohani untuk mendukung rencana penyelamatan dunia. Pemisahan pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi yang diukur dengan pekerjaan di lingkungan gereja dan di luar lingkungan gereja adalah pembodohan yang membuat anak-anak Tuhan tidak sungguh-sungguh mengembangkan diri di bidang yang digelutinya sebagai pelayanan. Kemudian terjadi pengkultusan terhadap satu sosok. Padahal semua anak Allah adalah imamat-imamat bagi Tuhan (1Ptr. 2:9).
    Kedua, ketidaksediaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan. Hal ini terjadi sebab ia berkeberatan menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Pribadinya masih egois. Ia hanya melihat kepentingan dirinya, keluarga dan orang-orang yang dianggap sebagai sesamanya.
    0 min
  • Dalam Tuntunan-Nya
    Seorang yang hidup beriman dalam Tuhan Yesus ditandai dengan hidup dalam bimbingan atau tuntunan-Nya. Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik menuntun orang percaya dalam segala hal, supaya orang percaya menikmati damai sejahtera dan berkat-berkat-Nya. Kalau seseorang merasa dirinya adalah domba Tuhan, seharusnya ia sungguh-sungguh memerhatikan suara Gembala. Jadi, kalau ada orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh memerhatikan suara Gembalanya, berarti ia tidak bersedia menjadi domba yang baik. Domba yang tidak baik pasti domba yang memilih jalannya sendiri. Dan orang yang memilih jalannya sendiri pasti sesat.
    Gembala yang baik pasti memberi tuntunan atau bimbingan kepada domba-Nya atas rencana-rencana-Nya yang sempurna. Iblislah yang mengacaukan pikiran orang Kristen agar orang percaya tidak mengerti apa yang direncanakan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Iblislah yang terus menerus membujuk orang percaya untuk tidak melibatkan Tuhan dalam seluruh gerak hidup ini. Dalam hal ini Iblis mau menjadi gembala bagi mereka yang mau menuruti tuntunan dan bimbingannya. Tentu Iblis menjadi gembala yang jahat. Gembala yang jahat adalah “orang asing” yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 10:5 – “Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”  Jadi, kalau ada orang Kristen yang lebih suka mendengar suara orang asing, berarti ia bukan domba Tuhan yang benar.
    Manusia modern dengan segala kecerdasan dan pengalamannya, sering lupa untuk duduk diam di kaki Tuhan, untuk mendengar suara-Nya dan memahami apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Ditambah lagi dalam dunia yang semakin fasik dan nihilistis, di mana Tuhan dianggap tidak ada atau tidak perlu ada, maka banyak orang Kristen terpengaruhi oleh filsafat hidup tersebut, sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mau mencari wajah Tuhan untuk menemukan kehendak dan rencana-Nya. Banyak manusia modern termasuk di dalamnya orang Kristen menganggap bahwa Tuhan seperti sudah tidak ada atau sudah mati.
    Banyak pertimbangan-pertimbangan yang muncul dalam benak orang Kristen yang bukan berasal dari Allah. Hal ini terjadi karena pengaruh dunia fasik yang memengaruhi di sekitarnya.  Kalau sudah demikian berarti orang Kristen tersebut dalam kepemilikan Iblis, bukan melaksanakan rencana Allah tetapi rencana sendiri yang dimotori oleh kuasa dari neraka.  Kehidupan seperti ini mengakibatkan resiko atau konsekuensi yang sangat berat. Oleh sebab itu anak-anak Tuhan yang menyusun rencana dan mencanangkan program harus dalam pimpinan Tuhan. Jika tidak, maka kuasa kegelapan yang menungganginya.
    Terdapat kebiasaan orang-orang Kristen, mereka datang kepada Tuhan hanya untuk supaya Tuhan memberkati rencana mereka, mereka datang kepada Tuhan bukan untuk meminta pertimbangan-Nya. Ini sama dengan datang kepada Tuhan hanya karena mau meminta legitimasi (pengesahan) tanpa terlebih dahulu mohon konfirmasi (persetujuan).  Ini adalah sikap mengatur Tuhan. Inilah tindakan orang yang tidak beriman dengan benar. Kita harus melangkah dengan membawa setiap persoalan kepada Tuhan dan menanti dengan tekun dan sabar, menanti petunjuk dan pimpinan-Nya. Allah akan sangat menghargai kesediaan kita untuk memohon pimpinan-Nya. Allah pasti bertindak menuntun langkah kita dan menunjukkan kepada kita apa yang membahayakan hidup kita sekarang.
    Latihan demi latihan untuk menangkap dan menemukan tuntunan-Nya, membuat kita semakin peka terhadap kehendak-Nya, sehingga kita dalam segala hal dapat berjalan menurut tuntunan-Nya. Sampai taraf ini kita sungguh sudah menjadi tawanan Roh. Sungguh satu hal yang luar biasa dan patut disyukuri kalau kita menjadi tawanan Roh, sebab inilah kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Untuk itu mulai sekarang kita harus mulai mempercakapkan apa yang terjadi dalam hidup kita, rencana-rencana, kerinduan, keinginan dan segala hal dalam hidup ini dengan Tuhan.
    0 min
  • Kepuasan
    Orang yang hidup beriman dalam Tuhan pasti menyadari dan menerima bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Dan satu hal yang pasti terjadi atas orang percaya yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan, dan bersedia dipakai oleh Tuhan, dirinya akan memiliki perasaan puas dengan apa yang ada padanya. Dengan demikian, tidak sulit mengenakan nasihat Paulus “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Orang percaya seperti ini sangat memahami dan dapat membedakan manakah kebutuhan, dan manakah keinginan. Orang yang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, pasti diperbudak oleh dunia sekitar yang merangsang orang Kristen untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Orang Kristen seperti ini akan terpasung oleh berbagai keinginan yang dia pikir sebagai kebutuhan. Padahal keinginan manusia tidak pernah dapat berhenti, terus bergerak dengan laparnya, sampai kematian menjemputnya. Dengan demikian orang seperti ini akan terus terbelenggu dengan berbagai keinginan.
    Orang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sangat mudah terikat dengan percintaan dunia. Sebenarnya secara tidak langsung mereka mudah sekali dibelenggu oleh dunia. Dan orang yang terbelenggu dengan segala keinginan yang muncul di dalam dirinya, tidak pernah akan dapat dibelenggu oleh Tuhan. Ini berarti orang tersebut tidak akan pernah hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Orang yang mau bersekutu dengan Tuhan, harus rela dibelenggu Tuhan. Dalam hal ini, pada dasarnya setiap orang harus memilih dibelenggu oleh dunia atau dibelenggu oleh Tuhan. Tidak mungkin seseorang dibelenggu oleh dua-duanya.
    Kepuasan terhadap apa yang ada, membuat hati seseorang merasakan damai sejahtera. Memang harus kita sadari bahwa yang penting bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi seberapa efektif harta yang ada pada kita bagi Tuhan. Terkait dengan hal ini kita menemukan jawabannya, mengapa orang serakah? Orang menjadi serakah karena tidak merasa puas dengan apa yang ada padanya. Orang seperti ini akan terus bergerak untuk meraih dan memiliki segala hal yang belum dimilikinya, dengan harapan bahwa apa yang diraih dan dimiliki tersebut menambah kebahagiaan hatinya. Inilah tipu daya Iblis yang merusak kehidupan banyak orang.
    Pada umumnya, orang mau menikmati segala sesuatu yang ada padanya bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Baginya itulah yang membahagiakan hidupnya.  Padahal ia tidak akan pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang ada padanya. Itulah sebabnya ia terus berkelana mencari dan mencapai segala sesuatu untuk membuat dirinya merasa bahagia. Semakin ia bergerak, maka semakin akan merasakan letih lesu dan berbeban berat.
    Sejatinya, kepuasan hidup hanya terletak ketika seseorang menghirup Air Kehidupan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada yang dapat memuaskan dahaga jiwa manusia selain Tuhan yang menciptakan jiwa manusia itu sendiri. Tetapi masalahnya kemudian adalah bagaimana mengecap manisnya air kehidupan? Di sini seseorang harus belajar dan terus melatih diri bersekutu dengan Tuhan. Bersekutu dengan Tuhan dimulai dari mengenal Dia dengan benar, belajar melakukan kehendak-Nya dan menikmati kehadiran Tuhan melalui atau di dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.
    Orang yang merasa puas dengan apa yang ada padanya, tidak akan membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain. Orang yang suka membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain adalah orang yang tidak bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan kepadanya. Akhirnya ia akan merasa lebih beruntung atau lebih malang dibanding orang lain. Kalau seseorang tidak merasa puas dengan apa yang ada padanya, pasti menganggap Tuhan tidak bijaksana atas pembagian yang dilakukan-Nya. Dan ia merasa tidak bahagia dengan keadaan tersebut.
    Orang yang merasa puas dengan segala sesuatu yang ada padanya, tidak akan mengingini milik orang lain.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…