Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bermegah Dalam Kesengsaraan
    Telah dijelaskan pada bab sebelumnya yang membahas Roma 5:1-2, bahwa orang percaya yang dibenarkan oleh iman dapat memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah. Tentu saja hal ini tidak terjadi atau berlangsung secara otomatis. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa jika seseorang dengan pikiran atau nalar menyatakan percaya (beriman) bahwa Yesus Juruselamat, maka dengan sendirinya (secara otomatis) dapat memiliki hubungan dengan Allah secara harmonis. Iman seperti ini bukanlah iman yang dimaksud oleh Alkitab. Ingat roh-roh jahat pun percaya ada Allah yang esa. Percaya atau beriman bukan hanya mengakui sesuatu, tetapi menyerahkan diri kepada yang dipercaya untuk melakukan kehendak-Nya.
    Sesungguhnya, iman bukan hanya berarti percaya dalam pikiran, tetapi tindakan yang konkret seperti iman Abraham yang ditunjukkan atau dinyatakan dalam tindakan. Tindakan yang dibutuhkan atau dilakukan orang percaya adalah hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sehingga dapat hidup dalam kesucian Allah. Hidup dalam kesucian artinya berkarakter seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sehingga orang percaya dapat hidup dalam persekutuan yang harmoni dengan Allah. Roh-roh jahat pun percaya bahwa Allah ada dan esa, tetapi mereka tidak menuruti kehendak Allah, mereka tidak berkarakter seperti Bapa dan tidak serupa dengan Yesus. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus harus berkarakter seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Jika belum, harus bergumul terus.
    Manusia bisa memiliki persekutuan yang harmonis dengan Allah hanyalah karena kasih karunia, artinya tanpa adanya korban Tuhan Yesus di kayu salib tidak akan pernah terwujud sebuah hubungan bagaimanapun dengan Allah, apalagi harmoni. Dengan demikian, kasih karunia ini hanya ada pada orang percaya, tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan umat Perjanjian Lama dan orang-orang di luar gereja. Itulah sebabnya harus tegas dikatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus. Keselamatan yang dimaksud di sini adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula, sehingga manusia dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah secara harmoni.
    Dengan kasih karunia ini orang percaya dapat bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan (Rm. 5:2). Kemuliaan itu harus dialami sekarang sejak hidup di bumi, yaitu sebuah kehidupan dalam persekutuan yang harmoni dengan Allah dan nanti setelah dunia ini berakhir menerima kuasa pemerintahan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Dalam hal ini orang percaya yang benar, yaitu mereka yang memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah sehingga diperkenankan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
    Kata bermegah di dalam Roma 5:2-5 dalam bahasa aslinya adalah kaukhaomai (καυχάομαι), yang bisa berarti bersukacita atau memberi penghargaan, yang sama dengan memuliakan. Itulah sebabnya dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan rejoice atau to glory. Sukacita atau memberi penghargaan tersebut ditujukan kepada kehidupan yang bersekutu secara harmoni dengan Allah atau kemuliaan yang akan diperoleh orang percaya pada kehidupan yang akan datang bersama dengan Tuhan Yesus. Dari hal ini dapat diteguhkan bahwa kasih karunia yang diberikan kepada orang percaya akhirnya bermuara pada kemuliaan yang diterima orang beriman yang benar, baik dalam kehidupan sekarang di bumi maupun di dalam Kerajaan Surga nanti.
    Selanjutnya, Paulus meneruskan penjelasannya dalam Roma 5:3-5, Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
    Kata bermegah dalam Roma 5:3 juga menggunakan kata kaukhaomai, artinya orang percaya harus bersukacita dalam kesengsaraan atau penderitaan yang harus dialaminya.
    0 min
  • Berjalan Harmoni Dengan Allah
    Iman berarti berpikir dan berperasaan seperti Bapa. Sehingga segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Inilah gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, yang juga harus kita miliki (Yoh. 4:34). Gaya hidup seperti ini adalah iman yang sempurna seperti yang dimaksud dalam Ibrani 12:2 (Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna). Orang yang serupa dengan dunia tidak dapat hidup dalam damai sejahtera atau hidup dalam persekutuan dengan Bapa.
    Kita tahu bahwa kasih karunia Allah hanya dapat diperoleh melalui iman dalam Yesus Kristus. Adapun isi kasih karunia -yaitu kondisi bisa bersekutu dengan Allah- hanya dapat dimiliki atau dialami seseorang berangkat dari korban Tuhan Yesus Kristus (Rm. 5:1). Tetapi selanjutnya, seseorang harus hidup selalu sesuai dengan kehendak Allah. Kebenaran ini harus dipahami dengan lengkap, utuh, cerdas dan jujur atau adil. Tuhan Yesus dapat mengembalikan manusia kepada Bapa melalui Diri-Nya dengan dua tatanan atau mekanisme. Pertama, Yesus mati di kayu salib memikul dosa dan menggantikan tempat kita (kita yang seharusnya dihukum). Hal ini meredakan kegeraman Allah dan memuaskan keadilan Allah. Hanya “manusia yang tidak berdosa” -dalam hal ini Yesus (Allah Anak yang menjadi manusia)- yang dapat menanggung dosa kesalahan manusia.
    Dengan korban Yesus ini, maka hubungan manusia dengan Allah yang putus dapat disambung. Manusia dilayakkan untuk dapat dikembalikan hidup dalam persekutuan dengan Allah (Theos atau Bapa). Ini adalah sebuah tatanan yang harus dipenuhi atau yang sama dengan mekanisme Ilahi. Agama samawi seperti agama Yahudi, tidak bisa mengerti dan menerima mekanisme atau tatanan. Mereka berpikir asal saja minta ampun dan menyembelih korban domba, maka mereka sudah merasa memperoleh pengampunan dan “jalan masuk” kepada Allah. Dalam hal ini Tuhan Yesus tegas mengatakan bahwa tidak ada seorang pun sampai atau datang kepada Bapa kecuali melalui Diri-Nya (Yoh. 14:6).
    Kedua, Tuhan Yesus datang mengajarkan Injil atau kebenaran, sebab Injil atau kebenaran inilah yang memerdekakan atau menyelamatkan (Yoh. 8:31-32; Rm. 1:16-17). Tanpa memahami Injil, seseorang tidak dapat diubahkan. Injil atau kebenaran itulah yang memperbaharui pikiran atau menyucikan (Yoh. 17:17), sehingga seseorang dapat memiliki kekudusan, kesempurnaan karakter seperti Bapa, dan dapat bersekutu dengan Bapa. Dalam hal ini Tuhan Yesus sendiri telah berjuang untuk dapat mencapai kesempurnaan tersebut. Setelah Ia mencapai kesempurnaan, maka Ia dapat menjadi pokok keselamatan bagi mereka yang taat (Ibr. 5:7-9). Menjadi pokok keselamatan (Yun. Aitios) artinya penggubah. Itulah sebabnya maka mandat utama yang harus dipenuhi adalah “menjadi murid” bagi Yesus (Mat. 28:18-20).
    Menjadi murid bagi Yesus berarti belajar hidup seperti Dia hidup. Untuk ini bagi jemaat Tuhan, Allah memberi penginjil, guru, dan gembala sidang bagi penyempurnaan karakter mereka. Semua perangkat jawatan dalam gereja harus dapat mengkondisi jemaat dapat berhubungan dengan Tuhan Yesus melalui Roh Kudus, agar dapat belajar gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Itulah yang dimaksud belajar menjadi murid Tuhan Yesus atau mengikut jejak-Nya. Semua ini dapat berlangsung oleh karena Roh Kudus. Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13).
    Jadi, kalau seorang Kristen tidak mengalami perubahan pikiran untuk menjadi seperti yang dikehendaki oleh Allah, maka ia tidak dapat mengimbangi Allah. Hal ini berakibat seseorang tidak dapat hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Dengan demikian hidup dalam damai sejahtera dengan Allah bukan sesuatu yang dapat mudah terjadi atau gampang berlangsung apalagi otomatis. Peran individu mengenakan kasih karunia (dapat bersekutu dengan Allah) sangat penting.
    0 min
  • Damai Sejahtera Dengan Allah
    Firman Tuhan mengatakan bahwa kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Theos) oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Rm. 5:1). Dibenarkan di sini artinya dianggap tidak memiliki halangan untuk menjumpai Allah, yang dalam teks aslinya adalah Theos yang sama dengan Bapa. Orang yang dibenarkan berpotensi memiliki hubungan dengan Dia. Orang yang dibenarkan adalah orang yang dianggap layak untuk bersekutu dengan Bapa. Bersekutu di sini artinya setiap saat seseorang bisa memanggil Bapa dalam doa dan bergaul dengan Allah melalui Roh Kudus. Hal ini hanya bisa terjadi pada umat Perjanjian Baru. Kalau umat Perjanjian Lama, mereka tidak memiliki anugerah atau kasih karunia ini. Di zaman sebelum zaman anugerah, hanya imam besar yang dapat menjumpai Elohim Yahweh. Itupun hanya satu kali dalam setahun.
    Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah di atas maksudnya adalah hidup dalam persekutuan atau kebersamaan dengan Allah secara harmoni. Keharmonisan tersebut tentu dalam satu syarat atau kondisi bahwa dua pihak merasa nyaman atau damai. Dua pihak tersebut adalah pihak kita manusia dan pihak Allah. Kata damai sejahtera dalam teks aslinya adalah eirene (εἰρήνη), yang memiliki banyak pengertian antara lain: a state of national tranquillity, exemption from the rage and havoc of war, peace between individuals, harmony, concord, security, safety, prosperity, felicity, (because peace and harmony make and keep things safe and prosperous; keadaan negara atau suatu wilayah yang tenang, jauh dari keadaan kebengisan dan kekacauan perang, perdamaian antara individu, harmoni, kerukunan, keamanan, keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan (perdamaian dan harmoni yang membuat dan menjaga keamanan dan kesejahteraan).
    Selama ini banyak orang Kristen yang merasa telah memiliki damai sejahtera dengan Allah (Theos atau Bapa), bisa menyampaikan doa dan permintaan dan memuji serta menyembah nama-Nya. Tetapi mereka tidak mempertimbangkan apakah Allah merasa nyaman dalam persekutuan tersebut atau tidak. Ini adalah orang-orang Kristen yang tidak dewasa, yang masih egois dan oportunis. Mereka tidak mengerti dan tidak menjaga perasaan Allah. Memang untuk orang Kristen baru, Allah tidak menuntut keadaan orang tersebut sempurna dan dapat menyukakan hati-Nya, tetapi setelah dalam kurun waktu tertentu menjadi umat pilihan, seharusnya seseorang sudah memiliki keberadaan yang bisa mengimbangi kekudusan Allah. Jika tidak, maka tidak dapat berjalan seiring dengan Allah dan hal itu akan selalu mendukakan hati-Nya.
    Mempelajari hal tersebut di atas, maka bisa dimengerti mengapa dalam 1 Petrus 1:14-16, Firman Tuhan mengatakan: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Di bagian lain dalam Alkitab, rasul Paulus menulis: Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,  dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan  demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2Kor. 6:17-18)
    Selanjutnya, ditegaskan dalam Roma 5:2 bahwa oleh Dia (Tuhan Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Isi kasih karunia adalah hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Theos atau Bapa).  Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah sama dengan hidup berdamai atau perdamaian atau keharmonisan dengan Allah. Dalam perdamaian tersebut ada proses penyesuaian antara dua pribadi. Pribadi Bapa dan pribadi kita. Tentu bukan Bapa yang menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Bapa. Hal ini sejajar dengan pernyataan bahwa hanya orang-orang yang dipimpin oleh Roh yang disebut anak-anak...
    0 min
  • Kesediaan Bertindak
    Dalam Roma 4:25 tertulis: yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita. Tulisan Paulus ini hendak menyatakan bahwa kematian Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan yang disediakan Allah untuk menyelesaikan masalah dosa. Masalah dosa berarti karakter yang berpotensi membuahkan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Adapun kebangkitan Tuhan Yesus membenarkan kita. Pembenaran di sini bukan hanya berarti bahwa kita dianggap benar atau dianggap tidak bersalah; tetapi kita yang memiliki tindakan ekstrem seperti Abraham dalam memercayai Allah adalah orang-orang diperkenankan oleh Allah. Dalam hal ini pembenaran Allah atas seseorang juga ditentukan oleh kesediaan seseorang bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah itu adalah memilih satu-satu jalan yang berbeda dengan gaya hidup manusia pada umumnya. Orang-orang yang memiliki jejak hidup seperti Abraham suatu hari akan memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada Abraham, yaitu negeri yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
    Bagaimana kita mengenakan iman seperti Abraham dalam kehidupan kita hari ini? Tentu seperti Abraham yang tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, yaitu menjalani hidup hanya demi mewujudkan rencana Allah. Abraham mewujudkan rencana Allah dengan “melahirkan” sebuah gaya hidup yang mengekspresikan imannya kepada Allah. Dalam hal tersebut kita dapat memperoleh suatu pelajaran rohani, di mana terdapat hukum atau tatanan bahwa tidak ada pembenaran tanpa iman. Tetapi tidak ada iman tanpa tindakan sebagai isi dari iman itu. Tindakan sebagai isi iman tersebut adalah tindakan meninggalkan cara hidup manusia pada umumnya dan hidup sesuai dengan pola yang Tuhan tunjukkan. Abraham merupakan sosok manusia yang menemukan pola hidup yang Tuhan kehendaki. Dengan demikian, pembenaran oleh iman adalah tindakan yang ekstrim memercayai Allah.
    Jadi, dalam proyek keselamatan, Allah menjanjikan bahwa semua keturunan Abraham di bumi akan diberkati, hal ini menunjuk Mesias yang akan datang. Hal mana juga dijanjikan kepada Hawa, bahwa keturunannya akan meremukkan kepala ular. Untuk menerima keselamatan tersebut, harus dengan iman. Iman diperhitungkan atau dipandang memiliki kekuatan untuk meraih anugerah Allah.  Untuk proyek ini harus ada satu sosok yang dijadikan teladan dari pola iman yang harus dimiliki orang percaya. Kalau kita hendak dibenarkan, maka harus memiliki iman. Ini adalah suatu kemutlakan. Dan iman bukan hanya sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi iman adalah tindakan. Tindakan yang harus dimiliki adalah tindakan seperti Abraham, bukan perbuatan berdasarkan hukum atau aturan agama.
    Jika memahami bahwa iman adalah tindakan seperti tindakan Abraham, maka ternyata banyak orang yang belum memiliki iman yang sejati, yaitu iman yang menyelamatkan. Oleh sebab itu orang percaya harus terus bertumbuh, sebab iman datang dari pendengaran oleh Firman atau suara Tuhan yang dipahami secara akal atau nalar melalui Alkitab (logos), sedangkan Rhema adalah Firman atau suara Tuhan yang dalam situasi konkret. Untuk memiliki iman, seseorang harus bergaul dengan Allah dan melalui berbagai pengalaman kehidupan, seperti yang dialami oleh Abraham. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yakobus bahwa oleh perbuatan maka iman menjadi sempurna (Yak. 2:21-22, Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna).
    Orang percaya harus terus belajar Firman Tuhan dari Alkitab (Logos) secara memadai dan berjalan dengan Tuhan. Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya. Kebaikan tersebut adalah iman yang mendatangkan keselamatan. Dari pengalaman hidup tersebut, orang menerima banyak Rhema.
    0 min
  • Manusia Masa Depan
    Iman yang sejati harus dibuktikan, itulah sebabnya Allah menguji Abraham dengan menunda kelahiran Ishak. Abraham harus menunggu kelahiran anaknya selama seperempat abad sejak kepergiannya dari Urkasdim. Setelah Ishak dewasa, Allah juga menguji Abraham dengan perintah agar Abraham mempersembahkan anaknya Ishak sebagai korban bakaran. Ujian-ujian yang dialami Abraham bukan sesuatu yang mudah. Benar-benar berat. Setelah melalui pengujian ini maka “tindakan atau sikap” Abraham diperhitungkan sebagai kebenaran (Rm. 4:22, Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran). Dalam hal ini ada tatanan dalam diri Allah yang tidak dapat dilanggar, bahwa seseorang dikatakan beriman jika melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Abraham tidak dapat dikatakan sebagai bapa orang percaya dan menjadi sahabat Allah sebelum teruji. Demikian pula dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, seseorang tidak dapat dikatakan beriman sebelum teruji. Teruji hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Tentu berangkat dari penebusan yang dikerjakan Yesus di kayu salib-Nya.
    Dalam kehidupan umat Perjanjian baru, iman harus teruji. Itulah sebabnya rasul Petrus menulis sebagai berikut: Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan (1Ptr. 1:6-8). Kehidupan orang Kristen yang tidak mengalami ujian bukanlah orang Kristen yang diperhitungkan sebagai orang beriman. Ini juga hukum atau tatanan dari Allah, bahwa iman harus teruji.
    Kata “diperhitungkan” dalam Roma 4:22, (Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran), teks aslinya adalah logizomai (λογίζομαι), yang memiliki beberapa pengertian selain “diperhitungkan”, juga memiliki pengertian “dianggap berarti” atau “dianggap berharga”. Selain itu juga berarti “diakui sebagai memiliki kekuatan”. Tuhan tidak sembarangan memilih Abraham sebagai seorang yang dapat menyandang status “bapa orang percaya” dan membenarkan Abraham serta diakuinya sebagai “sahabat Allah”.  Di dalam diri Abraham terdapat iman yang dikembangkannya oleh kehendak bebasnya untuk memercayai Pribadi Allah. Allah dipandang Abraham layak atau pantas diperlakukan secara agung pula oleh mereka yang mengagungkan atau memuliakan Dia. Melalui pengujian ternyata Abraham lulus, sehingga ia dikatakan sebagai bapa orang percaya dan kehidupannya adalah kehidupan yang memuliakan Allah. Dikatakan dalam Roma 4:20 bahwa Abraham memuliakan Allah. Dalam hal ini memuliakan Allah berarti memercayai Pribadi-Nya secara penuh dalam tindakan, tidak cukup dengan liturgi atau menyanyikan lagu rohani.
    Selanjutnya Firman Tuhan mengatakan: … tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita (Rm. 4:24-25).  Dalam ayat ini sangat jelas ditunjukkan bahwa kita dinyatakan sebagai orang beriman jika kita memiliki tindakan seperti Abraham. Allah tidak memperhitungkan seseorang sebagai orang beriman kalau tidak memiliki jejak Abraham sebagai “bapanya” (bapa orang percaya). Kalau orang Kristen tidak memiliki jejak kehidupan seperti Abraham, berarti bukan anak Abraham, berarti pula tidak diperhitungkan sebagai beriman. Tentu orang seperti ini tidak berhak merasa memiliki keselamatan.
    Kalimat “karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus,
    0 min
  • Kepercayaan Yang Utuh
    Sesungguhnya, iman berarti tetap teguh memercayai Pribadi Allah dan tidak mencurigai Tuhan walau dalam keadaan yang tidak mungkin untuk memercayai Dia. Hal ini sangat jelas dikemukakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma. Ditulis di dalam Roma 4:18, sekalipun tidak ada alasan atau bagi Abraham untuk memercayai Allah, tetapi Abraham sama sekali tidak meragukan Allah. Ada beberapa alasan yang dikemukakan Paulus untuk menjelaskan iman yang sejati. Pertama, Paulus menjelaskan keberanian Abraham mempersembahkan anaknya Ishak. Dalam Roma 4:17 tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. 
    Kita tidak tahu apakah pada zaman Abraham sudah ada mukjizat yang pernah terjadi mengenai orang mati yang bisa bangkit, tetapi faktanya Abraham percaya bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati. Bahkan sekalipun perintah Allah adalah memotong-motong tubuh Ishak sebagai korban bakaran. Sangat besar kemungkinan belum pernah ada mukjizat orang mati bangkit, apalagi bila sudah dipotong-potong seluruhnya. Tetapi Abraham melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah tanpa keraguan sama sekali. Kepercayaan Abraham kepada Allah sangat luar biasa, benar-benar “gila-gilaan”, ekstrem, dan benar-benar tidak bisa dipahami oleh pikiran normal manusia. Inilah iman sejati yang menjadi pola, teladan, dan inspirasi kehidupan iman sepanjang zaman.
    Dalam Roma 4:18-19, tertulis: Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Walaupun keadaan Abraham dan Sara -karena usia- semakin tidak memberi potensi untuk menaruh kepercayaan kepada Pribadi Allah (akan memberi keturunan), tetapi Abraham tetap percaya. Iman seperti yang dimiliki Abraham ini harus menjadi pola iman kita kepada Allah. Iman dilahirkan atau muncul dari keadaan yang mustahil. Sama seperti iman yang diajarkan kepada orang kaya di dalam Matius 19:16-26. Orang kaya itu harus melepaskan segala sesuatu, barulah bisa memiliki iman seperti Abraham, kehidupan yang berkualitas atau hidup kekal. Orang-orang Kristen abad mula-mula harus melepaskan segala sesuatu untuk memiliki iman yang benar.
    Dari tulisan Paulus dalam Roma 4 ini dijelaskan kepada kita bahwa keyakinan atau kepercayaan kepada Pribadi Allah tidak harus memiliki dasar. Ini adalah kepercayaan atau iman yang sejati. Kepercayaan kepada Pribadi Allah harus utuh. Titik.  Sama seperti ketika seseorang berjanji kepada kita, kesediaan kita menerima janjinya adalah kepercayaan kita kepada pribadi orang tersebut. Dalam Roma 4:21 tertulis: … dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Sebagai anak-anak Allah, Bapa kita, kita harus percaya kepada Pribadi Allah walau tidak ada dasar untuk memercayai-Nya selain memercayai bahwa Allah sangat bisa dipercayai. Kita tidak boleh memiliki keraguan sedikit pun terhadap Pribadi-Nya yang Mahaagung.
     
    Iman seperti yang ditunjukkan oleh Abraham ini rupanya yang pantas diperuntukkan bagi Allah. Hanya iman seperti itu yang patut dimiliki setiap orang percaya. Keyakinan Abraham kepada Allah tetap kokoh walau dirinya semakin tua dan Sara semakin tua sehingga semakin kecil kemungkinan memiliki anak atau semakin mustahil memiliki keturunan. Dalam keadaan tersebut iman Abraham tidak menjadi surut. Kunci dari keyakinan Abraham kepada Allah dalam konteks mempersembahkan Ishak dan kepastian memiliki keturunan adalah bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati dan oleh Firman-Nya sanggup menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.
    0 min
  • Membuktikan Keberdosaan
    Hukum Taurat telah membuktikan bahwa manusia telah berkeadaan sebagai pelanggar terhadap kehendak Allah yaitu hukum-hukum yang diberikan kepada manusia. Dalam hal ini hukum Taurat menjadi bukti terhadap kesalahan yang dilakukan manusia. Sebagai ilustrasi, seperti misalnya kalau tidak ada tulisan “dilarang menginjak rumput” di suatu halaman, maka seorang yang menginjak rumput halaman tersebut tidak bersalah. Tetapi kalau ada tulisan tersebut, maka menginjak rumput di halaman tersebut dipandang sebagai perbuatan yang salah. Demikianlah kehadiran Taurat menunjukkan kesalahan manusia.
    Apakah berarti dengan hal tersebut sebaiknya Taurat tidak perlu diadakan atau tidak diperlukan lagi? Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti pola berpikir orang Yahudi yang salah. Mereka beranggapan bahwa mereka dapat dibenarkan oleh Allah dengan melakukan hukum Taurat. Padahal hukum Taurat tidak dapat membenarkan seseorang, alasannya selain tidak ada orang yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, juga karena semua manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah. Tidak ada manusia yang dapat membenarkan diri dengan keadaan demikian. Semua manusia berkeadaan berdosa. Dengan keadaan ini, dengan cara bagaimanapun tidak dapat dibenarkan. Manusia hanya dapat dibenarkan oleh iman atas anugerah keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Dengan demikian sangatlah jelas, bahwa tidak ada orang yang dapat dibenarkan dengan  melakukan hukum Taurat.
    Sekarang di zaman Perjanjian Baru, Allah telah menawarkan jalan pembenaran yang berbeda dengan pola atau sistem keberagamaan agama samawi seperti agama Yahudi. Pembenaran artinya diakui oleh Allah dianggap benar walau belum benar, selanjutnya orang yang dibenarkan tersebut harus terus mengalami perubahan hingga dapat diakui sebagai telah benar karena benar-benar sudah berkeadaan benar sesuai rancangan Allah. Kalau dalam pola dan sistem keberagamaan (seperti agama samawi) pembenaran diyakini dapat terjadi melalui perbuatan baik berdasarkan hukum-hukum dan cara-cara ibadah (secara seremonial). Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan orang percaya yang pembenarannya oleh iman.
    Pembenaran oleh iman berangkat dari korban Tuhan Yesus di kayu salib. Darah binatang tidak dapat menyelesaikan masalah dosa. Seberapa pun jumlah darah binatang ditumpahkan, tidak dapat menyucikan dosa. Hanya darah Anak Domba Allah (darah Yesus) yang menguduskan. Selanjutnya setelah menerima penebusan, orang percaya harus hidup dalam iman seperti yang diteladankan Abraham.
    Kebenaran orang benar bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman. Hal ini sesungguhnya  merupakan jalan hidup yang sudah dijalani oleh Abraham. Dan ternyata Allah berkenan kepada pola kehidupan keberimanan  Abraham tersebut. Dan sesungguhnya pola kehidupan iman seperti ini yang dikehendaki oleh Allah yang harus dikenakan bagi manusia dari berbagai bangsa, bukan hanya bagi keturunan Abraham secara darah daging. Orang yang memiliki jalan hidup seperti yang dijalani oleh Abraham, terhisap atau terbilang sebagai keturunan Abraham dan dilayakkan mewarisi dunia yang akan datang.
    Firman Tuhan mengatakan “tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran”. Sekilas kalimat ini hendak menyalahkan keberadaan hukum Taurat, bahwa karena ada hukum Taurat maka dosa dapat dibuktikan keberadaannya. Makna negatif lainnya yang bisa timbul bahwa seakan-akan lebih baik tidak ada hukum Taurat daripada ada tetapi membuat orang berstatus berdosa. Harus dipahami bahwa hukum Taurat harus ada bagi bangsa Israel untuk berbagai maksud. Paling tidak beberapa alasan sebagai berikut:
    Pertama, supaya bangsa Israel tetap eksis.
    Hukum Taurat menciptakan ketertiban hidup.
    Kedua, hukum Taurat bagi bangsa Israel menjadi alat persatuan.
    Ketiga, hukum Taurat menunjukkan bahwa Allah yang benar adalah Allah Israel.
    Sebagai buktinya semua manusia di bumi memiliki hukum seperti hukum yang ...
    0 min
  • Berpusat Pada Allah
    Selanjutnya dalam Roma 4:15 tertulis: Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran. Kalimat yang mengatakan bahwa hukum Taurat membangkitkan murka Allah, maksudnya adalah bahwa sekalipun manusia sudah mengerti hukum Tuhan, tetapi mereka melanggarnya, maka hal itu membangkitkan murka Allah. Dalam hal ini manusia yang sudah mengingkari perjanjian (pseustes), bukan saja tidak mampu memenuhi standar kesucian Allah, tetapi juga gagal melakukan hukum-hukum yang sebenarnya masih belum berstandar kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Keadaan ini adalah keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Kehilangan kemuliaan Allah pada dasarnya adalah tidak memiliki potensi bermoral seperti Allah. Manusia yang tidak memiliki potensi bermoral seperti Allah, bagaimanapun tidak akan mampu melakukan kehendak Allah.
    Walaupun Abraham belum sempurna, tetapi pola hidupnya bukanlah pola hidup keberagamaan. Abraham tidak berpusat pada hukum seperti orang-orang beragama, tetapi berpusat pada Allah. Kehidupan yang berpusat kepada Allah dalam hidup Abraham ditunjukkan dengan kehidupannya yang selalu dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup dalam iman, tidak seperti orang beragama yang hidup berdasarkan hukum. Demikianlah sistem keberagamaan, hukum dan tata cara ibadah atau seremonialnya mengatur kehidupan umat. Bagi umat Perjanjian Baru, ibadahnya adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Ibadah yang tidak dibatasi atau diatur oleh aturan tata ibadah atau seremonial, tetapi kehidupan yang selalu melakukan kehendak Allah, di mana pun, kapan pun dan melalui segala perkara.
    Orang yang masih hidup di bawah hukum berarti masih berpusat pada hukum. Keadaan manusia yang mengingkari perjanjian bukan saja tidak mampu berpusat pada Allah, tetapi juga tidak mampu berpusat pada hukum. Dan kenyataannya, tidak ada orang yang dapat melakukan hukum dengan sempurna. Keadaan seperti ini mendatangkan murka Allah. Demikianlah keadaan manusia pada umumnya. Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia tidak lagi memiliki potensi moral untuk bisa hidup dalam kesucian Allah. Manusia hanya bisa berbuat baik dalam kebaikan secara relatif, tetapi tidak mampu hidup dalam kesucian yang berstandar Allah. Kebaikan manusia, masih dalam kebaikan yang berpusat pada hukum.
    Orang yang masih berpusat pada hukum sebenarnya masih belum memenuhi standar kehidupan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah; sebab standar manusia yang dikehendaki Allah bukan hidup sesuai dengan hukum, tetapi menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula, yaitu kehidupan yang  berpusat pada Allah. Kehidupan yang berpusat kepada Allah artinya kehidupan yang selalu melakukan kehendak Allah; dalam segala hal yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus mengembalikan manusia untuk dapat berpusat kepada Allah. Ini bukan suatu proses sekejap, tetapi sebuah proses panjang. Alkitab pun menunjukkan bahwa iman merupakan sesuatu yang bersifat progresif (Ibr. 12:1-3). Tuhan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan.
    Jadi, sangatlah keliru kalau memahami hidup oleh iman hanyalah keyakinan atau beriman terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman adalah tindakan penurutan. Hal ini menunjuk bukan sesuatu yang bersifat adikodrati, juga bukan sesuatu yang bersifat ajaib, tetapi bersifat natural dan logis,. artinya sesuatu yang bisa dipahami dengan akal dan dialami, dijalani, dan dilakukan dalam pengertian dan kesadaran. Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau iman dipahami sebagai pemberian dari Allah secara spektakuler atau yang secara ajaib (jujurnya, secara mistik) muncul atau ada di dalam diri seseorang.
    Orang yang berpendirian bahwa iman itu secara ajaib muncul atau ada di dalam diri seseorang, membangun premis bahwa Tuhan menentukan orang-orang...
    0 min
  • Tindakan Barter
    Dalam Roma 4:14 tertulis: Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. Untuk memahami ayat ini kita harus menghubungkan dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya berbicara mengenai janji Allah terhadap Abraham; bahwa Abraham akan memperoleh dunia, yaitu kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibr. 11:8-9). Roma 4:14 menunjukkan bahwa untuk menerima janji Allah tersebut -yaitu mewarisi dunia yang akan datang- tidak cukup dengan melakukan hukum Taurat, tetapi  hidup oleh iman seperti yang dilakukan Abraham; hidup dalam penurutan terhadap semua kehendak Allah.
    Kalau bangsa Israel dengan hukum Taurat dapat mewarisi tanah Kanaan di bumi ini -tanah Kanaan menunjuk mengenai keindahan bumi ini- tetapi untuk mewarisi langit baru dan bumi baru tidak cukup hanya dengan melakukan hukum Taurat. Orang percaya tidak diarahkan untuk memiliki dan menikmati bumi ini. Untuk mewarisi janji Allah yang diberikan bagi Abraham dan keturunannya di dalam iman, maka hanya dapat diperoleh melalui iman. Iman yang dimaksud adalah tindakan seperti yang dilakukan oleh Abraham, dengan seluruh gaya dan pola hidupnya. Tanah Kanaan diberikan kepada keturunan Abraham secara darah daging yang hidup di bawah Taurat, tetapi dunia yang akan datang diwarisi oleh keturunan Abraham di dalam iman.
    Keturunan Abraham dalam iman tidak dibatasi oleh ikatan darah daging dan suku bangsa. Dalam Roma 4:16-17 tertulis: Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, –seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” –di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Dengan tulisan ini, maka tembok pemisahan antara Yahudi dan non Yahudi sudah menjadi roboh. Orang-orang non Yahudi juga bisa menjadi umat pilihan.
    Untuk memperoleh dunia yang akan datang (kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah), Abraham harus melakukan tindakan barter. Tindakan Abraham adalah tindakan yang benar-benar sangat ekstrem. Demi penurutannya terhadap kehendak Allah, dirinya harus kehilangan “seluruh hidupnya”. Inilah tindakan barter tesebut. Sejak Abraham menerima panggilan Allah, hidupnya berubah sama sekali. Sejak Abraham meninggalkan Urkasdim, maka hidupnya tidak sama lagi. Abraham yang lama sudah “mati”.  Dalam hal ini, Abraham adalah sosok manusia yang sudah sangat rohani pada zamannya. Abraham  tidak mencintai keindahan dunia ini; yang diwakili oleh Urkasdim, negeri makmur dan maju di lembah Sumeria. Abraham harus meninggalkan semua kenyamanan dan kesenangan hidup di daerah asalnya di wilayah lembah Sumeria yang sudah sangat maju dan berbudaya tersebut. Abraham harus hidup sebagai bangsa pengembara (nomaden) yang tinggalnya hanya di kemah dan selalu berpindah-pindah. Abraham harus hidup di perantauan dengan seribu satu bahaya dan dalam wilayah hunian yang tidak maju budayanya. Tentu saja tindakan Abraham seperti ini tidak dapat dimengerti oleh orang-orang pada zamannya.
    Selanjutnya apa pun yang Tuhan kehendaki dan perintahkan untuk dilakukan, Abraham lakukan dengan segenap hati tanpa ragu-ragu, bahkan perintah Allah yang paling tidak dapat dimengerti (seperti menyembelih anak kandungnya sebagai korban bakaran). Tindakan-tindakan Abraham ini menunjukkan pribadi  yang mengasihi dan menghormati Tuhan secara ekstrem atau fanatik. Itulah sebabnya  Abraham adalah sosok manusia  yang pantas  menjadi sahabat Allah dan menerima janji Allah untuk mewarisi dunia yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi yang baru. Dalam hal ini sangat jelas bahwa untuk menjadi sahabat All...
    0 min
  • Meninggalkan Dunia Ini
    Harus ditegaskan bahwa beriman berarti penurutan terhadap kehendak Allah. Ini berarti segala sesuatu yang diperintahkan Allah harus dilakukan, walaupun perintah itu bertentangan dengan pola hidup manusia di sekitar dan tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak diri sendiri. Seperti Abraham yang meninggalkan Urkasdim demi negeri yang akan ditunjukkan Allah kepada Abraham, demikian pula orang percaya harus meninggalkan dunia ini demi negeri yang ditunjukkan Tuhan kepada kita. Orang percaya sebagai anak-anak Abraham di dalam iman, harus berpola hidup seperti Abraham yang berlaku sebagai musafir di bumi. Dengan kesadaran bahwa kita adalah musafir-musafir di bumi ini, maka kita tidak akan terikat dengan keindahan dunia ini.
    Walaupun kita memiliki “hak-hak” menikmati dunia, tetapi kita harus tetap dalam kesadaran bahwa kita adalah orang asing dan pendatang di bumi. Oleh sebab itu kita harus belajar berlaku sebagai orang asing di bumi. Segala sesuatu yang kita miliki di bumi ini harus kita pandang sebagai bukan milik kita sendiri, tetapi milik Tuhan. Dan memang Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa harta kita sendiri nanti di langit baru dan bumi yang baru (Luk. 16:12). Maksud kata “dunia” dalam Roma 4:13, adalah tanah Perjanjian -baik untuk orang Yahudi maupun non Yahudi yang percaya kepada Yesus Kristus- di dunia yang akan datang nanti.
    Dengan demikian, beriman juga berarti menunjukkan kehidupan di dunia yang akan datang. Dengan demikian orang percaya seharusnya tidak lagi terikat dengan dunia hari ini dan menikmatinya seperti orang-orang yang bukan keturunan Abraham secara iman. Orang Kristen dikatakan sebagai orang beriman keturunan Abraham (dalam atau oleh iman) untuk memiliki “dunia yang akan datang”, kalau mereka memiliki tindakan hidup seperti Abraham. Jadi, kalau ada orang-orang Kristen yang masih duniawi -yaitu terikat dengan kesenangan dunia hari ini, tidak merindukan suatu tanah air yaitu kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri- itu berarti ia belum memiliki iman. Jika demikian berarti orang Kristen seperti itu belum termasuk anak-anak Abraham, belum termasuk orang yang beriman, berarti belum dibenarkan pula (Ibr. 11:16).
    Jika gereja dan pembicaranya dengan mudah melegalisir atau mengakui orang Kristen sebagai orang percaya yang sudah dibenarkan, tanpa memperhatikan syarat-syarat untuk hidup dalam pembenaran, maka ini berarti sebuah penipuan dan penyesatan. Faktanya demikian, banyak orang Kristen merasa sudah dilegalisir sebagai orang yang sudah dibenarkan hanya karena merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, padahal percaya mereka hanya ada di dalam wilayah keyakinan pikiran bukan tindakan seperti tindakan Abraham. Sebagai akibatnya, banyak orang-orang Kristen yang duniawi, terikat dengan dunia tetapi merasa berhak masuk surga. Padahal mereka adalah orang-orang yang mencintai atau bersahabat dengan dunia ini. Firman Tuhan tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Orang Kristen yang bersahabat dengan dunia, tidak akan diterima dalam keluarga Kerajaan Surga.
    Banyak orang Kristen berbekal iman palsu, menjalani hidup dengan berani dan dengan keyakinan kalau mati nanti pasti masuk surga. Sementara hidup di bumi, mereka tidak melakukan perjalanan atau pengembaraan rohani guna pembaharuan manusia batiniahnya. Mereka tidak bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi. Tentu saja hati mereka terikat dengan dunia ini. Mereka seperti bangsa Israel yang tidak mau meninggalkan atau melupakan Mesir. Mereka tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak dan rencana Allah dalam perjalanan, sehingga mereka ditewaskan di padang gurun. Perjalanan bangsa Israel menjadi pelajaran yang berharga bagi orang percaya (1Kor. 10:1-11). Sungguh sangat menyedihkan, banyak orang Kristen berkeadaan seperti ini.
    Oleh sebab itu perlu ditegaskan pula di sini, iman adalah tindakan dalam penurutan terhadap kehendak Allah.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…