Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mewarisi Dunia
    Firman Tuhan mengatakan:  Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. (Rm. 4:13-14). Dalam pernyataan ini Paulus mengatakan bahwa bukan karena hukum Taurat maka diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya untuk memiliki dunia, tetapi karena (berdasarkan) iman. Kita harus memahami maksud kata dunia dalam ayat tersebut. Dunia yang dimaksud dalam ayat ini belum tentu hanya dunia kita hari ini. Bagi keturunan Abraham secara darah daging memang “yang dijanjikan” adalah tanah Kanaan di bumi ini; itupun juga bukan dunia dalam arti sebuah wilayah yang luas, tetapi wilayah sangat kecil di Palestina. Tetapi bagi keturunan Abraham, oleh atau karena iman, tentu maksud bumi tersebut bukanlah bumi yang sekarang kita huni, tetapi langit baru dan bumi yang baru.
    Dalam Ibrani 11:9 dikatakan: Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. “Tanah asing” yang dimaksud adalah tanah Kanaan. Tanah Kanaan dijanjikan oleh Allah kepada Abraham untuk dikuasai dan didiami oleh anak cucu serta semua keturunannya secara darah dan daging. Tetapi “janji yang satu itu” maksudnya adalah “dunia yang akan datang” (bukan tanah Kanaan di bumi) yang dijanjikan oleh Allah kepada Abraham dan anak-anaknya di dalam iman. Dalam Roma 4:13, sangat jelas dikemukakan oleh Paulus: Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Hal ini sangat penting untuk kita pahami, bahwa “dunia yang dijanjikan” tersebut adalah dunia yang akan datang untuk orang yang dibenarkan karena iman, bukan untuk umat yang melakukan hukum Taurat.
    Dunia dalam ayat ini, teks aslinya adalah kosmos (κόσμος). Kata kosmos memiliki banyak pengertian; selain memang berarti dunia dalam pengertian umum, tetapi juga bisa lebih menunjuk universe (alam semesta yang tidak terbatas). Kalau kita membaca Alkitab, kata bumi dalam arti wilayah tertentu biasanya diterjemahkan ge (ῆγ). Jadi kosmos bisa menunjuk alam semesta atau jagad raya ini, sedangkan ge lebih menunjuk suatu wilayah bumi. Sebutan kosmos ini mengingatkan kita kepada janji Allah kepada Abraham, ketika Abraham disuruh menghitung bintang di langit dan Allah mengatakan bahwa keturunannya akan besar jumlahnya seperti bintang di langit. Bintang-bintang di langit menunjuk kepada universe atau jagad raya. Jadi mewarisi dunia, bisa berarti mewarisi jagad raya ini.
    Kata “memiliki” dalam ayat 13, terjemahan aslinya adalah kleromenos (κληρονόμος), yang juga berarti warisan. Inilah yang sebenarnya menggerakkan Abraham menjalankan hidup ini. Dengan demikian bisa dikatakan, bahwa orang percaya -yaitu anak-anak Abraham oleh iman- suatu hari akan mewarisi jagad raya ini. Jagad raya ini sebenarnya sama dengan shamayim (שָׁמַיִם), yang dalam Alkitab Bahasa Indonesia diterjemahkan surga.
    Abraham hidup hanya untuk memenuhi kehendak Allah, yaitu untuk menemukan negeri yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri (Kej. 12; Ibr. 11:8). Jadi, dunia yang dimaksud dalam Roma 4:13-14 adalah “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” tersebut. Ini berarti bahwa kota yang dimaksud tersebut bukan ada di bumi sekarang ini (sebab bumi ini akan menjadi lautan api). Itulah negeri yang kitab Ibrani katakan sebagai “tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air surgawi” (Ibr. 4:16). Tanah air ini tidak dikenal oleh bangsa Israel dalam agama samawinya. Mereka hanya menekankan kemakmuran lahiriah dan kejayaan duniawi. Mereka beragama karena membutuhkan naungan Allah untuk memberkati atau memberkahi kehi...
    0 min
  • Sunat Batiniah
    Di Perjanjian Baru, tanda sunat merupakan gambaran dari sunat di dalam hati atau batiniah, yaitu hati yang diperbaharui. Dengan demikian dalam Kekristenan diajarkan bahwa tanda-tanda lahiriah bukanlah sesuatu yang memiliki nilai kerohanian. Demikianlah, dalam Kekristenan tanda-tanda lahiriah -seperti sunat kulit khatan versi orang Yahudi- tidak mendapat tempat sama sekali (Gal. 5:6). Dengan demikian apa yang diperintahkan dalam Perjanjian Lama dan yang berlangsung dalam Perjanjian lama merupakan nubuatan dan janji dari apa yang akan dipenuhi dalam Perjanjian Baru, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus mengecam orang-orang yang mengajarkan bahwa orang Kristen juga harus memiliki tanda sunat. Sejatinya, sunat orang percaya adalah sunat batiniah (Ef. 2:11; Gal. 6:12-16; Flp. 3:3 dan lain-lain). Sunat batiniah menunjuk kepada pembaharuan hati setiap hari untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus.
    Selanjutnya dalam Roma 4:11-12 Firman Tuhan mengatakan: Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai materai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Dari tulisan Paulus ini jelas sekali menunjukkan bahwa Paulus mengakui adanya orang-orang percaya yang bersunat, biasanya berasal dari bangsa Yahudi dan orang percaya yang tidak bersunat, biasanya berasal dari bangsa bukan Yahudi.
    Dalam kehidupan orang percaya pada zaman anugerah, maksud “sunat berdasarkan iman, bukan sunat lahiriah dengan memotong kulit katan” artinya adalah hati dan pikiran yang diubah. Hati dan pikiran yang diubah oleh kebenaran Firman Tuhan atau Injil, menciptakan manusia batiniah yang agung seperti Yesus. Manusia agung seperti Yesus artinya memiliki pikiran dan perasan Kristus. Dengan keadaan ini seseorang bukan saja tidak berbuat dosa, tetapi bahkan tidak bisa berbuat dosa lagi. Seperti kulit khatan yang dipotong dan tidak bisa ditempelkan kembali, demikian pula hati yang disunat bisa sampai pada taraf atau level tidak bisa berbuat dosa lagi.
    Dari tulisan Paulus tersebut ditunjukkan kepada kita, bahwa kalau sunat fisik menjadi tanda secara lahiriah anak-anak Abraham secara darah daging, maka sunat batiniah menjadi tanda batiniah bagi orang percaya yang dibenarkan karena iman atau anak-anak Abraham oleh iman. Oleh sebab itu menjadi suatu kemutlakan, bahwa orang percaya yang mengaku sebagai anak-anak Abraham harus mengikuti jejak hidup Abraham. Jejak kehidupan Abraham adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Penurutan terhadap kehendak Allah versi orang percaya sama artinya dengan hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Harus diingat bahwa penurutan terhadap kehendak Allah bukanlah sekadar penurutan terhadap hukum. Kalau bangsa Israel memiliki tanda sunat harus melakukan hukum Taurat, tetapi orang percaya harus melakukan setiap kehendak Allah; memiliki kesucian seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memerintahkan agar orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Diri-Nya.
    Dalam hal ini, betapa jauh berbeda kualitas keberagamaan agama samawi bangsa Yahudi dengan Kekristenan yang sangat mulia dan agung. Agama Yahudi memiliki keberimanan yang ditandai dengan percaya kepada Allah (Elohim) Yahweh yang esa (sebenarnya kata Elohim sendiri menunjuk jamak, di dalamnya terdapat juga Allah Anak, Yesus Kristus) dan melakukan hukum-hukum atau semacam syariat yang diajarkan Musa. Tetapi Kekristenan bukan hanya percaya kepada Allah (Elohim) yang esa, tetapi juga mengenal Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kekristenan bukan hanya melakukan hukum atau semacam syariat, tetapi mengenakan jalan hidup yang telah dijalani Anak Allah, yaitu Yesus Kristus (bukan jalan hukum seperti agama samawi lainnya).
    0 min
  • Sunat Sebagai Tanda
    Roma 4:10 “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.
    Paulus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan pada waktu ia belum disunat. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya sunat tidak memiliki peran sama sekali dalam proses pembenaran dari Allah atas diri Abraham. Tetapi yang menjadi persoalan adalah mengapa sunat diberikan bahkan diharuskan kepada bangsa Israel keturunan Abraham pada tahun 1440 sebelum Masehi atau sekitar 1500 tahun sebelum ada agama Kristen atau 2100 tahun sebelum ada agama Islam? Apa fungsi dan peran sunat tersebut sebenarnya?
    Sunat diberikan sebagai tanda bahwa bangsa Israel atau orang Yahudi adalah keturunan Abraham dari Ishak dan Yakub (nenek moyang Israel) merupakan umat pilihan. Mereka adalah umat pilihan yang dikhususkan bagi Allah (Yahweh). Hal ini dimaksudkan agar mereka selalu menyadari dan menghayati bahwa mereka adalah umat pilihan yang tidak sama dengan bangsa lain. Umat pilihan di sini adalah umat yang harus memikul tanggung jawab, yaitu:
    • Untuk menyimpan warisan pengenalan akan Allah; siapa dan bagaimana Allah yang benar itu. Sekaligus hal itu untuk membuktikan bahwa di dunia ini, Allah yang benar adalah Allah Israel.
    • Maksud yang lain yang sangat penting juga adalah agar bangsa Israel menjaga eksistensi mereka sebagai umat pilihan, sebab dari bangsa Israel akan dilahirkan Mesias; Juruselamat dunia. Hal tersebut menggenapi janji Allah kepada Abraham, bahwa dari keturunannya semua bangsa di dunia akan diberkati (Kej. 12:1-3).
    Bangsa Israel membutuhkan tanda secara fisik sebagai pengesahan bahwa mereka berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Tanda fisik sebagai pengesahan tersebut adalah sunat. Bangsa Israel sangat bangga dengan tanda sunat yang mereka miliki, tanda yang tidak dimiliki oleh bangsa lain pada waktu itu. Kalimat “pada waktu itu” menunjukkan bahwa sekarang tidak lagi menjadi tanda yang eksklusif pada bangsa Israel, sebab orang-orang Islam juga melakukan sunat ini. Sejatinya, sebelum ada agama Kristen dan agama Islam, tanda sunat sudah dilakukan oleh orang-orang Israel.  Dalam keangkuhan bangsa Israel, mereka menganggap bahwa bangsa yang tidak bersunat adalah bangsa yang tidak berharga, seperti mereka yang berharga di hadapan Allah (Elohim Yahweh). Mereka merasa lebih diperlakukan istimewa oleh Allah. Menurut pemahaman orang-orang Israel, bangsa yang tidak disunat pantas disebut sebagai kafir. Itulah sebabnya mereka menganggap bahwa hanya mereka sebagai umat pilihan Allah (Elohim Yahweh) yang berhak memiliki tanda sunat.
    Dalam tulisan Paulus tersebut (Rm. 4:10), Paulus menunjukkan bahwa tanda sunat tidak memiliki nilai keselamatan dalam kehidupan manusia. Sunat hanya menandai bahwa mereka adalah keturunan Abraham yang sah sebagai umat pilihan untuk mewarisi segala berkat jasmani yang Allah janjikan, di antaranya adalah tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Bisa dimengerti kalau bangsa Israel atau orang Yahudi merasa berhak atas wilayah tanah Kanaan dari Libanon, sebagian Yordan sampai sebagian wilayah Mesir.
    Jika tanda sunat diberikan setelah pembenaran atas Abraham, maka berarti bukan karena sunat itu Abraham dibenarkan, tetapi karena tindakan Abraham dalam menuruti kehendak Allah yang merupakan ekspresi imannya. Dengan demikian sangat jelas bahwa karena tindakan Abraham menuruti kehendak Allah maka ia dibenarkan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yakobus (Yak. 2:21-24 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
    0 min
  • Tidak Sama Dengan Dunia
    Orang-orang beragama seperti agama Yahudi (agama samawi), berkeyakinan dan menjalankan hidup keberagamaan dengan sistem, yaitu mereka harus melakukan hukum yang mereka yakini dari Allah. Dengan melakukan hukum itu maka mereka mendapat pahala atau upah. Jika tidak melakukan hukum, maka mereka akan dihukum. Ini adalah sistem keberagamaan yang ada pada agama-agama Samawi, seperti agama Yahudi.  Itulah sebabnya mereka berusaha untuk hidup tidak bercacat dengan menuruti Taurat. Paulus pun sebelum mengenal Tuhan Yesus memiliki pola hidup keberagamaan seperti itu. Dalam kesaksiannya Paulus mengatakan: …disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
    Injil memperkenalkan “jalan” yang berbeda dengan apa yang dipahami agama-agama samawi seperti agama Yahudi. Injil menunjukkan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah atas manusia bukan hanya menjadi baik sesuai dengan hukum. Tetapi harus seperti rancangan semula. Bahwa tidak ada jalan untuk menghindarkan manusia dari akibat kesalahannya selain dengan darah Yesus. Ini berarti darah domba tidak berarti sama sekali.
    Pembenaran tidak dapat dilakukan dengan darah domba dan perbuatan baik. Oleh karenanya Paulus mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat. Darah domba hanya tindakan profetik dari darah yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demkian jalan (sistem) agama harus ditinggalkan. Diteguhkan lagi dengan pernyataan Tuhan Yesus: Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
    Dalam tulisannya Paulus mematahkan pola pikir sistem keagamaan yang dimiliki bangsa Yahudi: Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Paulus menyatakan bahwa Abraham tidak memiliki sistem keberagamaan yang diagungkan oleh agama samawi seperti agama Yahudi ini, tetapi Abraham dapat dibenarkan bukan oleh karena perbuatan. Kata perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang sesuai dengan hukum dalam sistem keberagamaan. Penting untuk menandaskan bahwa kata “perbuatan” (Yun. Ergon; ἔργον) dalam Roma 4:2 tidaklah sama dengan tindakan yang menghasilkan atau mengekspresikan iman.
    Karena pengertian “perbuatan” disamakan dengan tindakan, maka banyak orang Kristen merasa dan memahami iman adalah aktivitas pikiran, sekadar sebuah persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Mereka merasa sudah percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan merasa berhak untuk dibenarkan, sehingga diselamatkan. Abraham tidak melakukan “perbuatan” sesuai dengan aturan hukum, tetapi Abraham memiliki tindakan yang menunjukkan imannya. Itulah sebabnya Yakobus dalam tulisannya mengatakan: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati… Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman… demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Iman yang dimaksud Yakobus adalah persetujuan pikiran. Hal itu tidak cukup harus disertai dengan perbuatan.
    0 min
  • Upah Atas Iman
    Dalam Roma 4:1 terdapat kalimat: Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Mengindikasikan seakan-akan Paulus mengatakan: Apakah kita bisa atau mau menyalahkan tindakan Abraham? Sebaliknya, apakah kita mau mencontoh atau meneladani tindakan Abraham? Abraham dibenarkan oleh Allah bukan karena sistem keagamaan bangsa Yahudi. Abraham hanya memercayai apa yang dikatakan Tuhan. Tentu saja percayanya Abraham bukan hanya dalam pikiran dan di mulutnya. Percaya Abraham adalah percaya dalam tindakan. Abraham tidak memiliki agama, liturgi dan hukum atau syariat, tetapi hidupnya dalam penurutan total terhadap kehendak Allah. Ia tidak beragama, tetapi ber-Tuhan. Berbeda dengan orang-orang hari ini yang beragama tetapi tidak ber-Tuhan.
    Pada waktu Abraham dibenarkan oleh Allah, ia ada dalam situasi yang sangat sulit. Abraham sudah meninggalkan Urkasdim, bertahun-tahun menanti kelahiran anak tetapi tidak kunjung datang, sampai ia putus asa dan hendak mewariskan kekayaan kepada hambanya. Ketika Allah menyuruh Abraham memandang langit dan menghitung bintang, Allah mengatakan bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit, mestinya Abraham makin tidak menaruh percaya kepada Yahweh, tetapi Abraham percaya. Memang percaya ada dalam batin dan pikiran, tetapi harus dipahami bahwa Abraham sudah bertindak menuruti Allah, lagi pula Allah tahu seberapa percayanya Abraham kepada Diri-Nya. Itulah yang diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran.
    Hal ini tidak bisa disamakan dengan orang Kristen yang hanya dalam pikiran merasa setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat dan mengaku dengan mulutnya, lalu merasa bahwa dirinya sudah bisa dibenarkan. Di dalam pikiran banyak orang Kristen bahwa syarat pembenaran adalah menyetujui bahwa Yesus adalah Juruselamat (secara status) dan mengakuinya di mulut. Mereka sudah merasa telah memiliki kesejajaran dengan tindakan Abraham. Padahal kualitas hidup Abraham dari tindakannya yang memenuhi syarat untuk bisa memperoleh pembenaran dari Allah, sangat jauh berbeda dengan kualitas hidup banyak orang Kristen hari ini.
    Harus diingat bahwa percaya itu bukan hanya aktivitas nalar tanpa pertaruhan. Abraham percaya kepada Allah dengan mempertaruhkan segenap hidupnya. Sejak ia menuruti perintah Allah, Abraham kehilangan seluruh hidupnya. Keadaannya adalah keadaan yang sulit dan ia dibawa Tuhan kepada kemustahilan. Tuhan sengaja tidak memberi dia anak, sampai usianya menjelang 100 tahun. Dari hal ini diuji apakah Abraham “berani” melakukan tindakan yang menunjukkan percayanya. Hal ini sangat berbeda dengan sebagian orang Kristen hari ini yang hanya dalam pikiran setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat tanpa berusaha mengikuti jejak hidup Tuhan Yesus. Sementara mulutnya mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, mereka masih mengikuti jalan dunia. Mereka tidak meninggalkan keduniawian, tidak seperti Abraham meninggalkan Urkasdim. Banyak orang Kristen yang imannya atau percayanya palsu. Mereka adalah orang-orang yang belum dibenarkan.
    Selanjutnya, dalam Roma 4:4-5 tertulis: Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.  Hendaknya kalimat-kalimat dalam ayat ini tidak dipahami dengan premis yang sudah salah. Betapa banyak teolog dan orang Kristen yang tidak memahami dengan benar ayat ini, sehingga mereka mengartikan dangkal, miskin, dan murahan terhadap pengertian iman dalam ayat ini. Kesimpulan salah yang menyesatkan dalam pikiran mereka adalah bahwa dengan persetujuan pikiran, tanpa tindakan, orang Kristen bisa dibenarkan.
    Dalam Roma 4:4-5 Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa iman boleh dimiliki tanpa tindakan sama sekali, sehingga hanya dalam pikiran dan pengakuan mulut saja. Dan hal itu sudah cukup membuat seseorang mendapat pembenaran. Ini adalah iman palsu,
    0 min
  • Ketekunan Memberitakan Kebenaran
    Roma 4:1-5 tertulis: Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Sangat penting untuk memahami tulisan Paulus dalam pasal ini, sebab kesalahan memahami pernyataan Paulus di pasal ini mengakibatkan bangunan Injil yang dibangun oleh Tuhan Yesus bisa rusak di pikiran orang Kristen. Hal ini bisa membuat orang Kristen yang memiliki pemahaman yang salah tersebut tidak mengalami keselamatan yang sejati atau yang benar.
    Hal utama yang harus dibedah adalah pengertian “dibenarkan”. Kata ini dalam bahasa Yunani adalah dikaio (δικαιόω). Kita harus memahami secara lengkap pengertian kata ini. Secara sempit kata dibenarkan berarti dianggap dan diakui tidak bersalah lagi. Tetapi secara luas kata dibenarkan memiliki dua aspek. Aspek pertama, dibenarkan berarti keadaan di mana seseorang diakui atau disetujui sebagai “dianggap benar” dan memperkenan hati Allah (jika kata “dibenarkan” direlasikan dengan Allah). Aspek kedua, dibenarkan berarti pembebasan seseorang dari tuduhan dan pengakuan sebagai orang yang bersalah atau berdosa, sehingga yang tadinya sepantasnya dihukum atau dikucilkan, sekarang dibebaskan dari tuduhan dan pengakuan sebagai orang bersalah tersebut serta diterima kembali dalam suatu komunitas.
    Ketika Paulus menggunakan kata ini, kita harus memahami pemikiran Paulus mengenai pembenaran. Paulus sebagai teolog Yahudi tentu saja menggunakan kata tersebut dalam bingkai Yudaisme. Itulah sebabnya Paulus mengutip ayat Perjanjian Lama ketika berbicara mengenai pembenaran ini. Paulus mengutip Mazmur: Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Rm. 4:6-8). Orang-orang Yahudi memiliki sarana untuk menyelesaikan masalah dosa atau pelanggaran mereka dengan darah binatang (domba). Kalau bangsa Israel berbuat salah yang sepantasnya dimurkai, dihukum, dan dikucilkan dari Allah, tetapi oleh darah binatang mereka menerima pengampunan, dihindarkan dari murka dan hukuman, serta diterima kembali oleh Allah.
    Oleh sebab itu bangsa Israel diajar untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat. Tetapi kalau ada pelanggaran, maka ada darah domba sebagai solusinya. Sepanjang mereka melakukan hukum Taurat, maka mereka memandang diri mereka sebagai orang benar. Dengan demikian betapa sentral korban darah binatang dan hukum Taurat dalam kehidupan mereka. Itulah sistem keagamaan yang mutlak harus mereka miliki. Di luar sistem tersebut berarti kafir atau sesat. Sistem keagamaan seperti ini pada umumnya juga dimiliki oleh agama-agama samawi lainnya, yaitu agama yang memercayai bahwa agama mereka adalah wahyu dari Allah, Allah adalah Esa (satu) dan memiliki hukum-hukum untuk ditaati sebagai sarana pembenaran. Tentu saja agama-agama samawi seperti ini tidak membutuhkan darah Yesus. Mereka tidak bisa menerima Injil yang juga mengajarkan bahwa Allah itu jamak; Allah memiliki Anak Tunggal.
    Jalan keselamatan dan pembenaran oleh iman yang ditawarkan Injil, di mata bangsa Yahudi, adalah di luar dan menentang sistem keberagamaan mereka. Kekristenan dipandang sebagai bidat atau ajaran sesat. Belum lagi keyakinan bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka tentu saja Injil ditolak mentah-mentah oleh mereka. Mereka tidak mengenal Allah memiliki Anak, mereka sangat monotheistis.
    0 min
  • Meneguhkan Hukum
    Dalam Roma 3:28 ditegaskan kembali oleh Paulus: Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Dari tulisan ini Paulus mengingatkan bahwa hukum Taurat tidak membuat orang dibenarkan, selain tidak ada yang bisa melakukan hukum Taurat dengan sempurna, hukum Taurat yang dikenal oleh bangsa Israel belumlah berstandar kesucian Allah. Belum berstandar kesucian Allah artinya belum membawa manusia kepada keadaan memiliki kemuliaan Allah. Hal ini artinya belum sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus; belum segambar dan serupa dengan Allah. Bagi umat Perjanjian Baru, standar kesucian Allah inilah yang mutlak harus dialami dan dimiliki.
    Dengan dibenarkan oleh iman, maka orang percaya diarahkan untuk memiliki standar kesucian seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya iman yang dimaksud adalah iman yang mengacu atau berpola pada iman Abraham (Rm. 4:1-3; 9-23). Iman Abraham bukanlah sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Iman bukan hanya aktivitas pikiran, tetapi penurutan terhadap kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan, dilakukan Abraham dengan segenap hati. Hidup Abraham disita sepenuhnya oleh kehidupan hanya untuk menuruti kehendak Allah.   Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, kita dimungkinkan untuk memiliki penurutan terhadap kehendak Allah secara sempurna seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
    Dengan pembenaran oleh iman, maka tidak ada eksklusivitas umat pilihan. Bangsa Israel tidak lagi boleh merasa eksklusif. Karena pembenaran bukan didasarkan pada melakukan hukum Taurat, tetapi oleh iman. Paulus menegaskan ini dengan tulisannya: Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman (Rm. 3:29-30). Memasuki zaman Perjanjian Baru, umat pilihan adalah semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Umat pilihan tidak lagi didasarkan pada darah daging keturunan Abraham secara jasmani, tetapi berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
    Kemudian Paulus mengakhiri Roma 3 dengan kalimat: Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Rm. 3:31). Kata “meneguhkan” dalam teks aslinya adalah histemi (ἵστημι), yang artinya membuat kokoh atau menempatkan dan membuat permanen tetap. Dari pernyataan Paulus tersebut, secara tidak langsung Paulus hendak mengemukakan bahwa kalau seseorang sudah dibenarkan oleh korban Kristus bukan berarti boleh hidup tanpa hukum (hukum Taurat); sesukanya sendiri. Orang percaya lepas dari hukum Taurat, masuk kepada hukum yang disempurnakan yaitu kehendak Allah sendiri yang sempurna, yaitu pikiran dan perasaan-Nya.
    Justru setelah seseorang menerima penebusan oleh darah Yesus, maka harus memperhatikan hukum yang pernah Allah berikan kepada umat pilihan secara jasmani yaitu bangsa Israel. Hukum yang diberikan kepada bangsa Israel merupakan cermin dari kekudusan Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Kedatangan Tuhan Yesus sendiri terkait dengan Taurat adalah untuk menyempurnakannya (Rm. 3:17).
    Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan, tetapi menggenapi Taurat. Kata meniadakan dalam teks aslinya kataluo (καταλύω) yang artinya juga menghancurkan atau memusnahkan. Sedangkan kata menggenapi dari bahasa Yunani pleroo (πληρόω), artinya memenuhi. Orang percaya dari suku bangsa manapun setelah menerima penebusan oleh darah Yesus harus mengenakan hukum Taurat yang disempurnakan. Hukum Taurat yang disempurnakan adalah cerminan kekudusan Allah yang sempurna. Jadi, orang Yahudi yang percaya Yesus beralih dari hukum Taurat yang belum disempurnakan be...
    0 min
  • Proses Pendewasaan Sepanjang Waktu
    Kesalahan banyak orang Kristen adalah memandang jalan pendamaian sebagai jalan final bahwa Allah sudah berkenan kepada manusia yang mengaku percaya kepada Yesus tanpa mempersoalkan keadaan batiniah orang tersebut. Banyak orang Kristen sudah merasa puas dengan keadaannya sebagai orang “yang sudah dibenarkan”, sehingga tidak merasa perlu berjuang untuk mencapai keserupaan dengan Yesus. Gereja pun mengesankan bahwa semua jemaat sudah selamat, sudah memiliki pembenaran dari Allah dan menjadi anggota tubuh Kristus. Dengan demikian semua jemaat boleh meyakini, bahwa kalau mati pasti masuk surga. Biasanya orang-orang Kristen sejak kecil di gereja-gereja tertentu memiliki pemahaman seperti ini. Bisa dilihat kualitas hidup Kekristenan mereka begitu rendah, sehingga dari antara mereka begitu mudah meninggalkan agama Kristen berpindah kepada keyakinan atau agama lain.
    Penebusan dari Tuhan Yesus dalam hidup orang percaya menempatkan orang percaya sebagai murid Tuhan Yesus, yang harus bersedia diubah melalui proses pendewasaan setiap saat di sepanjang waktu hidup ini. Perubahan yang dikehendaki adalah perubahan sampai pada berkeadaan seperti rancangan Allah semula; sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kepada orang yang mengaku percaya berlaku Firman: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Justru mereka yang menerima penebusan harus memiliki kekudusan seperti Bapa. Itulah tujuan penebusan oleh darah Yesus (1Ptr. 1:18-19).
    Dalam Roma 3:25 tertulis pula kalimat… Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Kalimat ini sangat jelas menunjukkan bahwa sudah saatnya Allah tidak lagi membiarkan dosa-dosa seperti yang pernah dilakukan manusia sebelum zaman anugerah. Dalam kesabaran-Nya Allah “membiarkan” dosa-dosa telah terjadi. Allah tidak bisa berbuat apa-apa, sebab belum ada penyelesaian terhadap keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, sampai kedatangan Tuhan Yesus yang mengangkut dosa dunia dan memberi jalan pembenaran atas orang percaya.
    Dengan demikian, pembenaran tersebut tidak bermaksud agar orang percaya boleh tetap hidup dalam dosa, tetapi orang percaya harus berusaha menyelesaikannya secara tuntas untuk membuang atau mengganti kodrat dosanya menjadi kodrat Ilahi. Dalam hal ini Allah memberi kuasa supaya orang percaya dapat menunaikannya. Melalui penebusan yang membenarkan, dimaksudkan agar dapat mengembalikan manusia kepada rancangan semula melalui proses pemuridan (Mat. 28:18-20). Itulah sebabnya tidak ada orang Kristen yang boleh tidak dimuridkan atau diproses bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa.
     
    Roma 3:26 tertulis: Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan dua hal, yaitu:
    – Pertama bahwa Dia benar, artinya bahwa Allah tidak menghukum manusia yang berkeadaan kehilangan kemuliaan Allah yang disebabkan oleh Adam. Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, bukan karena keinginannya sendiri. Semua manusia dilahirkan telah berkeadaan tidak seperti yang dikehendaki dan direncanakan Allah. Manusia dilahirkan dalam keadaan mewarisi dosa Adam. Penebusan oleh Yesus, menempatkan manusia kembali sebagai makhluk yang dapat berhubungan kembali dengan Allah. Kepada mereka yang percaya, Allah berkenan memateraikannya dengan Roh Kudus. Dalam hal ini kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru adalah orang-orang yang terpilih untuk bisa berhubungan dengan Allah dan mengalami keselamatan; artinya dikembalikan ke rancangan semula. Untuk ini harus ada perjuangan dimuridkan oleh Tuhan Yesus secara langsung.
    – Kedua, membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Membenarkan di sini artinya manusia yang berkeadaan tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Allah, yang mestinya ditolak, dianggap “seakan-akan sudah dilayakkan”,
    0 min
  • Belum Dalam Hubungan Yang Harmoni
    Dalam Roma 3:23 tertulis: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kehilangan kemuliaan artinya manusia tidak lagi memiliki keberadaan seperti rancangan semula. Rancangan semula adalah manusia dapat bermoral seperti Allah, segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan serta dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan manusia ini adalah keadaan “mengingkari Perjanjian dengan Allah”. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Rm. 3:4). Pembohong di sini artinya tidak setia atau mengingkari perjanjian (pseustes, ψεύστης). Semua manusia diperhitungkan tidak setia karena kejatuhan Adam. Roma 5:19 mengatakan: Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa.
    Keberadaan semua manusia yang tidak seperti rancangan semula, tidak dalam perkenanan Allah, adalah keadaan yang mengecewakan Allah dan manusia pantas ditolak-Nya. Allah dalam kedaulatan-Nya, menghendaki manusia seperti yang dirancang-Nya. Kehendak dan rencana Allah tidak boleh dikurangi, apalagi diubah. Keadaan manusia yang berdosa adalah keadaan yang tidak bisa ditolerir sama sekali oleh Allah. Allah tidak merancang manusia “kualitas kedua”. Allah menghendaki dan merancang kualitas manusia “kualitas pertama”, yaitu segambar dan serupa dengan Diri-Nya. Allah tidak pernah berniat mengubah rancangan-Nya ini, sebab Allah tidak pernah gagal.
     
    Roma 3:24, tertulis: dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kalimat “dibenarkan dengan cuma-cuma” dalam ayat ini tidak bermaksud bahwa manusia walaupun berkeadaan tidak sesuai dengan yang dikehendaki dan direncanakan oleh Allah, dipandang sudah sesuai dengan yang dikehendaki dan direncanakan oleh Allah. Dalam hal ini seakan-akan korban Kristus dapat mengubah seperti menyulap manusia berkeadaan benar dan berkenan kepada Allah. Ini pandangan yang salah. Dibenarkan dengan cuma-cuma artinya tanpa perbuatan baik yang dilakukan manusia, Allah menerima kembali keberadaan manusia tersebut. Tetapi bukan menganggap bahwa manusia sudah bisa memenuhi kehendak dan rencana-Nya. Biasanya penganut hyper grace memahami bahwa penyelamatan membuat manusia sudah dibenarkan walau berkeadaan bagaimanapun dan tidak perlu melakukan perjuangan apa pun. Bisa dimengerti kalau mereka tidak melakukan perjuangan untuk berkeadaan benar-benar menjadi benar di mata Allah. Mereka tidak berjuang secara memadai untuk menjadi seperti Yesus.
    Oleh korban Kristus, manusia sudah ditebus. Harus diperhatikan, bahwa manusia hanya ditebus, bukan secara otomatis diakui sudah benar. Harus dicamkan bahwa “dibenarkan” dengan “berkeadaan benar” sangatlah berbeda. Dibenarkan dalam konteks hubungan antara Allah dengan manusia dapat disambung, tetapi bukan berarti manusia sudah dianggap benar dan Allah sudah puas dengan kondisi manusia yang ditebus tersebut. Penebusan Kristus mengubah relasi antara manusia dan Allah, bukan keadaan manusianya. Keberkenanan Allah berurusan dengan manusia yang percaya dengan menaruh Roh-Nya di dalam diri manusia, disebabkan darah Tuhan Yesus menudungi manusia; menghapus semua pelanggaran manusia, artinya semua dosa yang dilakukan manusia dipikul Tuhan Yesus di kayu salib. Untuk ini perlu kita perhatikan ayat 25.
    Roma 3:25, tertulis: Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Kalimat yang sangat penting dalam ayat ini adalah “menjadi jalan pendamaian”. Yang diubah adalah relasinya, yaitu relasi Allah dan manusia, bukan keadaan manusia. Allah dalam kesucian-Nya memandang darah Yesus yang telah tertumpah di Golgota menudungi manusia. Sehingga Allah menerima kembali manusia yang berkeadaan belum seperti yang dikehendaki dan direncanakan-Nya.
    0 min
  • Salib Adalah Awal Perjuangan Kita
    Paulus tidak menganjurkan orang hidup dalam dosa, tetapi menganjurkan orang percaya untuk mencari perkenanan Tuhan, yaitu berjuang untuk memiliki kesucian seperti kesucian Tuhan sendiri. Dalam 2 Korintus 5:9-10 Paulus jelas sekali mengatakan: Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Perkenanan Tuhan sama dengan memperoleh kembali kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah dalam konteks ini merupakan keadaan dalam diri manusia yang memberi kemampuan manusia untuk bertindak seperti Allah bertindak; bisa berpikir dan berperasaan seperti Allah. Inilah sebenarnya yang sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10) atau mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Inilah maksud atau tujuan manusia dibenarkan, bukan karena melakukan hukum Taurat.
    Kesalahan banyak gereja, mereka berpikir bahwa dengan pembenaran oleh darah Yesus, maka mereka telah menemukan perhentian dari segala pergumulan hidup kerohaniannya, karena mereka berpikir bahwa semuanya sudah selesai di kayu salib. Sehingga mereka tidak lagi memiliki perjuangan untuk mengerjakan keselamatannya. Salib mestinya justru awal dari perjuangan untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk. 13:24). Pernyataan ini muncul ketika ada orang bertanya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Seluruh bagian dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus dan tulisan rasul-rasul mengajar untuk memiliki perjuangan dalam Tuhan.
    Dengan cara berpikir yang salah tersebut dalam hidup mereka, maka kasih karunia atau anugerah dalam Yesus Kristus membuat manusia tidak bertanggung jawab sama sekali. Manusia seperti bayi kecil yang tidak berdaya sama sekali. Keselamatannya hanya dikerjakan oleh Allah sepihak tanpa respon manusia sama sekali. Manusia harus hanya menerima saja tindakan atau perlakuan Allah atas dirinya. Dari hal ini berkembanglah pula beberapa prinsip yang menyesatkan jemaat Tuhan sehingga Kekristenan yang sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus tidak dikenali. Kekristenan menjadi sekumpulan doktrin yang membingungkan jemaat awam.
    Kalau di zaman gereja sebelum Reformasi, jemaat awam tidak bisa mengenali kebenaran karena hanya para rohaniwan dan orang–orang tertentu yang dapat membaca Alkitab dan memiliki pengetahuan mengenai Tuhan atau teologi, setelah itu memang Alkitab dapat dibaca setiap orang, tetapi hanya menjadi kajian teologi yang akhirnya juga membuat sebagian besar umat tidak mengerti kebenaran. Memang reformasi membawa kemajuan besar, orang-orang Kristen tertentu lebih mengerti teologi, tetapi jemaat awam yang jumlahnya sangat besar masih tidak banyak tahu mengenai teologi.
    Kesalahan memahami hal kasih karunia membuahkan butir-butir pemikiran yang membunuh tanggung jawab pribadi, sehingga Kekristenan masih menyimpang dari kebenaran yang murni. Telah banyak kemajuan yang dilakukan oleh gerakan Reformasi. Allah memakainya secara luar biasa, sehingga gereja disadarkan untuk kembali ke Alkitab. Tetapi setelah 500-600 tahun kemudian barulah disadari bahwa kebenaran Firman yang diajarkan belumlah cukup menjawab tantangan zaman.  Harus ada penyingkapan-penyingkapan kebenaran yang dapat membawa umat Tuhan kepada kesempurnaan, agar jemaat dapat menjadi mempelai Tuhan Yesus yang tidak bercacat dan tidak bercela menyambut kedatangan-Nya di akhir zaman.
     
    Kesalahan terhadap pengertian kasih karunia, yaitu pembenaran oleh iman, antara lain:
    – Seakan-akan iman adalah suatu karunia yang diberi kepada orang-orang tertentu yang secara mistis atau ajaib muncul atau ada...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…