Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perkenanan Di Hadapan Tuhan
    Dalam kitab Roma pasal 3 ini, yang pertama dipersoalkan adalah mengenai kelebihan bangsa Yahudi dan sunat yang mereka miliki. Hal ini dikemukakan oleh Paulus sebab di pasal ke-2, Paulus sudah menyatakan bahwa Yahudi sejati adalah mereka yang melakukan Taurat; sekalipun bangsa-bangsa lain tidak memiliki dan tidak mendengar Taurat, tetapi jika mereka melakukan inti Taurat, maka mereka dapat disebut sebagai Yahudi sejati.  Sedangkan sunat yang sejati adalah sunat di dalam batin, bukan sunat pada kulit katan (Rm. 2:28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah).
    Dalam tulisannya di Roma pasal 2, di ayat-ayat terakhir, Paulus mengecam orang-orang Yahudi yang memiliki hukum dan mengajar hukum Taurat tetapi mereka malah melanggarnya. Oleh karena merekalah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain (Rm. 2:24). Kemudian Paulus berbicara mengenai sunat, bahwa sekalipun orang-orang Yahudi disunat, tetapi kalau mereka melanggar hukum, maka percuma sunatnya. Tetapi sebaliknya, walaupun seseorang tidak disunat, tetapi kalau ia melakukan hukum Taurat, maka mereka disebut sebagai Yahudi sejati. Paulus mengatakan bahwa mereka juga dapat memperoleh pujian yang datang dari Allah (Rm. 2:29). Pujian ini berbicara mengenai perkenanan Allah. Bisa dimengerti kalau mereka dibenarkan oleh Allah.
    Perkenanan bagi bangsa-bangsa lain ini, tentu perkenanan dalam ukuran yang berbeda dengan perkenanan bagi orang percaya yang standarnya adalah perkenanan Bapa kepada Yesus. Bangsa-bangsa lain dibenarkan bukan berdasarkan iman, tetapi perbuatan baik dari nurani mereka yang baik. Sedangkan bagi orang percaya, dibenarkan didasarkan kepada iman kepada Yesus Kristus, yaitu kesediaan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sama seperti Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah.
    Setelah berbicara mengenai hal tersebut, kemudian Paulus menulis: Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah. Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? (Rm. 3:1-3).
    Dalam ayat tersebut ditunjukkan bahwa bangsa Yahudi dikhususkan oleh Tuhan untuk mengenal Allah yang benar, di dalamnya termasuk memahami standar hukum yang dikehendaki oleh Allah. Kalau tidak ada bangsa Yahudi, maka manusia di bumi ini tidak menemukan standar hukum yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini juga dapat menjadi bukti bahwa Allah Israel adalah Allah semua bangsa, yaitu ketika ditemukan etika dan moral bangsa-bangsa lain memiliki kesamaan dengan Tauratnya orang Yahudi. Terbukti bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati bangsa-bangsa lain dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela (Rm. 2:15). Tentu semua dalam kontrol dan kendali Allah, maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Allah menulis Taurat-Nya di hati mereka. Dalam dokmatika hal ini disebut sebagai argumentasi moral. Argumentasi ini berpijak pada anggapan suatu fakta bahwa di mana pun di belahan dunia ini terdapat hukum moral atau etika yang mirip atau sama.
    Selanjutnya, orang Yahudi dengan sunatnya sebenarnya menerima perlakuan khusus dari Tuhan untuk menjadi manusia berhukum yang berkualitas tinggi. Tetapi fakta historis menunjukkan mereka memberontak kepada Allah, bahkan membuat nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain. Dihujat di sini artinya dihina atau direndahkan atau tidak dihormati. Hal ini terjadi ketika bangsa itu dipukul Tuhan menjadi bangsa yang terlantar dan ditaklukkan musuh-musuh mereka. Dengan demikian terbukti bahwa sunat mereka tidak memiliki unsur mistis atau magis atau seperti mukjizat yang dapat menghindarkan mereka dari pelanggaran. Sunat hanya tanda lahiriah yang tidak patut dibanggakan,
    0 min
  • Melakukan Taurat Dengan Sempurna
    Dalam Roma 2:27-29 tertulis: Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
    Pernyataan di atas tersebut sangat radikal, sebab dengan pernyataan ini Paulus membongkar tembok pembatas antara umat pilihan Allah secara darah daging, yaitu keturunan Abraham yang disebut sebagai “orang Yahudi”, dengan bangsa-bangsa lain yang sering disebut kafir dan tidak bersunat. Walaupun bangsa-bangsa lain adalah bukan keturunan Abraham secara darah daging, tetapi jika mereka melakukan Taurat (intinya) hingga memiliki atau memperoleh pujian dari Tuhan, maka ia disebut sebagai Yahudi sejati.
    Dengan demikian, sesungguhnya iman kepada Tuhan Yesus tidak ada artinya kalau tidak melakukan inti Taurat. Inti Taurat dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 22:37-40, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Apakah hal ini tidak bertentangan dengan pernyataan Alkitab bahwa seseorang dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat? Tentu tidak bertentangan.
    Harus dipahami bahwa walaupun seseorang dapat melakukan hukum Taurat, tetapi kalau tidak ada karya salib (Yesus memikul semua dosa dunia), maka sia-sia belaka semua perbuatan baik; bahkan sekalipun orang dapat melakukan Taurat dengan sempurna. Perbuatan baik dengan melakukan hukum tidak menyelamatkan. Namun bukan berarti tanpa melakukan inti hukum Taurat seseorang dapat masuk surga. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa satu titik Taurat pun tidak akan ditiadakan sebelum langit dan bumi lenyap (Mat. 6:18).
    Kematian Tuhan Yesus hendak membawa manusia menjadi sempurna, bukan saja dapat melakukan Taurat dengan sempurna, tetapi juga melakukan kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Kedatangan Tuhan Yesus menggenapi atau memenuhi hukum Taurat (Mat. 5:17). Memenuhi dalam teks aslinya (Mat. 5:17) adalah plerosai (πληρῶσαι) dari akar kata pleroo (πληρόω); yang memiliki dua pengertian, pertama membuat penjelasan mengenai hukum menjadi sempurna atau lengkap. Kedua, memenuhi atau menggenapi dalam kehidupan, yaitu melakukannya dengan sempurna. Dengan kesempurnaan melakukan hukum Taurat, maka hal ini membuka peluang pula bagi pengikut Tuhan Yesus untuk melakukan inti hukum Taurat.
    Orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang sama bahkan melebihi ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Hukum Taurat adalah cermin dari kekudusan Allah. Orang yang melakukan Taurat berarti memancarkan kekudusan Allah. Bagi umat Perjanjian Lama, kekudusan yang dipancarkan sangat terbatas, karena mereka tidak ada yang mampu melakukan hukum Taurat. Lagi pula pemahaman mereka mengenai Taurat belum lengkap, maka mereka pun juga tidak dituntut untuk melakukan Taurat dengan sempurna. Sesungguhnya, Taurat yang sempurna adalah Allah sendiri.
    Pada zaman Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus memenuhi hukum Taurat, yaitu mencapai perkenanan Bapa, Tuhan menghendaki agar orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus memiliki kualitas hidup seperti Diri-Nya. Itulah sebabnya Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa di sini adalah luar biasa dalam kelakuan. Sehingga mereka bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah hukum kehidupan. Hal ini sama dengan melakukan hukum Taurat dengan sempurna.
    Dalam Roma 2:27 tertulis: Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat.
    0 min
  • Pujian Bagi Pelaku Taurat
    Walaupun bangsa Israel memiliki Taurat, tetapi jika mereka melanggarnya maka mereka tidak luput dari hukuman Allah. Fakta yang tidak dapat dibantah dari sejarah bangsa Israel, bahwa justru merekalah yang menjadi pelanggar hukum Taurat. Oleh karena mereka melanggar hukum Taurat, maka tidak bisa tidak harus dihukum. Dalam kitab Ulangan 28, Tuhan berbicara mengenai berkat dan kutuk. Jika bangsa Israel melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat, maka mereka terkutuk atau terhukum. Itulah yang membuat nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.
    Pelanggaran bangsa Israel itu membawa mereka kepada keadaan yang terhukum. Hukuman itu adalah negeri mereka ditaklukkan musuh dan kota-kota mereka dihancurkan. Hal ini mendatangkan hujatan bangsa lain terhadap mereka (Rm. 2:24). Mereka menjadi tawanan di negeri asing, bahkan tercerai berai ke seluruh dunia serta berbagai hukuman lain. Kata dihujat dalam teks aslinya adalah atimazo (ἀτιμάζω), yang artinya tidak dihormati (dishonor) atau juga memalukan (shamefully). Walaupun mereka memiliki Taurat dan menerima sunat, tetapi mereka melanggar Taurat. Hal ini membuat sunat dan keberadaan mereka sebagai umat pilihan sia-sia (Rm. 2:23-25).
    Dari hal di atas ini kita menemukan bahwa Allah adalah Allah yang konsekuen dengan diri-Nya sendiri. Walaupun mereka umat pilihan, tetapi kalau mereka melanggar tatanan yang Tuhan gariskan, maka Tuhan menghukum mereka. Hal ini bisa menjadi olok-olokan bangsa lain, sehingga bangsa lain merendahkan atau tidak menghargai bangsa Israel. Dengan demikian, untuk sementara waktu Elohim Yahweh pun ikut tidak dihormati. Tetapi Elohim Yahweh adalah Pribadi agung yang konsisten dengan integritas yang sempurna. Dia menegakkan Firman-Nya, dan hal ini menjadi pembelajaran untuk bangsa Israel dan semua umat manusia yang membaca Alkitab di sepanjang zaman.
    Dari hal di atas ini juga kita dapat memperoleh pelajaran bahwa pemberontakan bangsa Israel bukanlah pemberontakan yang dirancang Tuhan. Kejahatan bangsa itu adalah kejahatan yang digerakkan oleh niat atau diri mereka sendiri. Sebagai akibatnya, kutuk menimpa mereka. Sangatlah tidak mungkin Tuhan yang membuat mereka melanggar Taurat, dan Tuhan juga yang menghukum atau mengutuk mereka. Terkait dengan hal ini Paulus juga mengingatkan kepada orang percaya untuk tidak memberontak kepada Allah, sama seperti bangsa Israel. Dikatakan dalam 1 Korintus 10:11, semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.
    Selanjutnya, Paulus menulis bahwa sekalipun bangsa-bangsa lain tidak memiliki Taurat dan tidak menerima tanda sunat, tetapi kalau mereka melakukan hukum Taurat, maka mereka menjadi orang yang dapat disebut sebagai “Yahudi sejati” (Rm. 2:27-29). Dalam hal ini nampak petunjuk kuat yang tidak dapat disangkal, bahwa Allah mengasihi semua bangsa. Semua manusia memiliki nilai yang sama. Itulah sebabnya Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Sekaligus dalam pernyataan tersebut ditunjukkan bahwa sunat tidak berarti jika dibanding dengan ketaatan kepada Allah. Hal ini menyingkirkan pemikiran bahwa seremonial (sunat) memiliki nilai sakral.
    Pelanggaran terhadap Taurat membuat mereka bukan saja terhukum dan dipermalukan, tetapi membuat identitas mereka sebagai umat pilihan tidak berarti sama sekali. Tanda sunat pun menjadi sia-sia. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Taurat juga dihargai oleh Tuhan sendiri. Kalau seseorang tidak berpegang kepada Taurat, maka Tuhan akan memperkarakan hal tersebut dengan serius. Dalam kehidupan orang Kristen ada nuansa di mana Taurat dianggap tidak ada artinya. Tanpa sadar mereka melecehkan Taurat, dengan demikian mereka menciderai Tuhan. Harus diingat bahwa Taurat diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel dengan mengukir di atas loh batu dengan tangan-Nya sendiri. Inti Taurat adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan,
    0 min
  • Hukum Taurat Yang Disempurnakan
    Dalam Roma 2:17-29 ini dinyatakan dengan sangat jelas, bahwa hukuman Allah berlaku atas semua orang yang melakukan pelanggaran, siapa pun mereka, di dalamnya termasuk umat pilihan Perjanjian Baru atau orang Kristen. Oleh sebab itu hendaknya orang Kristen tidak berpikir bahwa setelah menjadi orang Kristen tidak mungkin dihukum Tuhan sampai binasa. Seakan-akan korban Tuhan Yesus di kayu salib diyakini sudah membuat seseorang bebas dari semua tuntutan hukum dan hukuman. Sehingga mereka dapat meyakini masuk surga dengan mudah, seperti masuk jalan tol, di mana Tuhan Yesus telah membayar uang tolnya. Mereka lupa bahwa masuk jalan tol bukan berarti sudah sampai tujuan, tetapi harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai tujuan.
    Harus dimengerti bahwa siapa pun yang tidak hidup menurut Taurat, berarti melanggar kehendak Allah yang diwakilinya (hukum Taurat), orang tersebut pasti dihukum. Hukuman itu adalah kebinasaan. Betapa berbahayanya teologi yang mengesankan bahwa manusia tidak akan menghadap pengadilan Allah karena sudah ada penebusan. Betapa berbahayanya pandangan yang mengatakan bahwa korban Tuhan Yesus meniadakan pengadilan atas orang-orang tertentu dan sekaligus meniadakan Taurat. Harus selalu diingat bahwa Tuhan Yesus tidak meniadakan Taurat. Taurat dalam kehidupan bangsa Israel memuat tiga komponen: Pertama, Dekalog yang menjadi sumber perundang-undangan; kedua, Undang-undang Sipil dan ketiga, Undang-Undang Ibadah. Dari tiga komponen tersebut dapat diringkas menjadi dua hukum terutama yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
    Pengajaran yang salah tersebut membuat manusia tidak waspada, sehingga mereka hidup ceroboh tanpa mereka sadari. Berbekal doktrin yang menyatakan bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik plus bahwa Allah sudah menentukan keselamatan individu secara sepihak, maka banyak orang Kristen tidak menjalani hidupnya dengan benar. Oleh sebab itu demi terhindar dari kebinasaan, yaitu terpisahnya manusia dari Allah yang hidup, manusia harus bertobat dan kembali kepada kebenaran Alkitab yang murni, bukan pada suatu doktrin produk zaman tertentu yang tidak lengkap atau belum utuh.
    Seruan pertobatan dalam surat Roma tentu juga ditujukan kepada semua manusia, khususnya umat pilihan baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi yang mendengar Injil, termasuk jemaat Roma sebagai penerima surat Roma. Seruan pertobatan tertulis dalam Roma 2:4-5: Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.
     
    Tuhan memberi kesempatan kepada semua manusia yang masa lalunya telah menerima pengaruh yang jahat sehingga nuraninya rusak. Nurani yang rusak adalah nurani yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Inilah yang dimaksud kehilangan kemuliaan Allah. Pertobatan dimaksudkan agar manusia dikembalikan ke rancangan Alllah semula untuk memperoleh atau mencapai kemuliaan Allah. Pertobatan dalam konteks orang percaya harus sampai pada perbaikan nurani, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7).  Jika tidak, maka pertobatannya tidak membawa pembenaran dan keselamatan yang benar. Tetapi kalau seseorang mengeraskan hati tidak mau bertobat, maka murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan kepada mereka.
    Pada dasarnya menemukan kemuliaan Allah yang hilang sama dengan memiliki keberadaan karakter yang agung, sesuai dengan standar Allah, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Standar kesucian Allah dimulai dari melakukan kebenaran sesuai dengan hukum (Taurat) yang Allah berikan. Selanjutnya, setelah mengenal kebenaran Injil, maka ditingkatkan dengan melakukan Taurat yang disemp...
    0 min
  • Zaman Keberagamaan Telah Berlalu
    Kalimat yang mengatakan “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat”, dimaksudkan agar manusia tidak lagi membangun keagamaan mereka atau membangun hubungan dengan Tuhan berdasarkan Taurat, tetapi berdasarkan iman. Iman dalam konteks orang percaya, bukan sekadar meyakini ‘sesuatu’ dalam hal ini mengakui ke-Mesiasan Tuhan Yesus, dan mengakui bahwa Dia adalah Allah Anak yang juga Tuhan (Yun. Kurios), mengakui bahwa Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta Penguasa alam semesta, tetapi juga yang harus meneladani hidup-Nya pada waktu menjadi manusia bernama Yesus. Sebagaimana Abraham tunduk kepada Elohim Yahweh, yaitu yang juga adalah Tuhan Yesus sendiri, orang percaya juga harus memiliki penurutan yang sama. Hal ini sangat sulit, bahkan tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang Yahudi, sebab mereka tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Allah Anak, Pribadi kedua dari Elohim yang dipanggil Yahweh. Orang-orang Yahudi masih bangga sebagai keturunan Abraham yang disunat dan memiliki Taurat. Mereka membangun keimanan mereka di atas hal tersebut, yang mana hal itu tidak menyelamatkan sama sekali.
    Kalimat “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” berarti bahwa zaman Taurat sudah berakhir. Hal ini sama dengan zaman keberagamaan sudah berakhir. Memasuki zaman anugerah berarti Tuhan membuka ‘tirai’ agar bukan hanya imam besar yang dapat menjumpai Allah, tetapi semua orang percaya dapat menjumpai Allah dan bersahabat dengan Allah seperti yang dilakukan dan dialami oleh Abraham (Yak. 3:23). Inilah zaman yang dirindukan dan dinanti-nantikan oleh para nabi dan orang-orang benar, tetapi mereka tidak mengalaminya.  Sangat disayangkan kalau kita yang memiliki kesempatan berharga ini menyia-nyiakan anugerah yang begitu besar.
    Zaman anugerah adalah zaman di mana Allah menyediakan keselamatan bagi semua orang atau semua bangsa. Bagi mereka yang tidak mendengar Injil, zaman ini adalah momentum di mana Tuhan Yesus memikul dosa semua manusia, sehingga masih ada kesempatan masuk dunia yang akan datang setelah melalui penghakiman. Tetapi yang lebih luar biasa adalah bagi umat yang ditentukan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, yang mendengar Injil dan memiliki kesempatan dan fasilitas mengerjakan keselamatan, di mana mereka dimungkinkan kembali untuk serupa dan segambar dengan Allah. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah; segambar dan serupa dengan Allah. Inilah maksud awal Allah menciptakan manusia.
    Harus dipahami bahwa zaman anugerah bukan berarti zaman di mana umat pilihan dapat lebih dipermudah masuk surga. Tetapi zaman di mana manusia yang dipanggil sebagai umat pilihan berjuang untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Zaman anugerah bukan zaman gampang untuk masuk surga, tetapi zaman yang sukar bagi umat pilihan untuk menjadi serupa dengan Yesus, tetapi di dalamnya ada anugerah, yaitu adanya kesempatan dan potensi untuk dikembalikan ke rancangan semula. Hal ini harus menjadi satu-satunya agenda hidup kita yang tidak boleh digantikan dengan apa pun.
    Dibenarkan dalam konteks umat pilihan Perjanjian Baru, zaman anugerah bukan jalan untuk mempermudah kehidupan, tetapi justru sangat sulit menempuh kehidupan. Bagi umat pilihan, ini adalah zaman memasuki sekolah kehidupan untuk disempurnakan menjadi seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Dibenarkan bagi umat pilihan bukan berdasarkan perbuatan baik, tetapi berdasarkan iman. Dalam hal ini untuk dapat dibenarkan, seseorang harus memiliki iman. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman bukan sesuatu yang otomatis muncul di dalam kehidupan seseorang, tetapi harus diperjuangkan, karena iman datang dari pendengaran oleh Firman (Rhema) Kristus.
    Pola iman umat Perjanjian Baru adalah kehidupan Abraham. Jadi kalau mau memiliki iman yang benar, seseorang harus mengikuti pola iman Abraham. Hal ini sama dengan kalau menjadi Israel sejati, yaitu menjadi ahli waris Kerajaan Surga,
    0 min
  • Pengertian Menerima Dia
    Kalimat yang mengatakan “bahwa tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” hanya ditujukan kepada mereka yang mengenal Taurat, khususnya bangsa Israel. Sebab mereka berpikir bahwa dengan melakukan hukum Taurat mereka dapat berkenan di hadapan Tuhan. Dengan melakukan hukum Taurat mereka dilayakkan, bukan saja menjadi umat Allah di bumi, tetapi juga memiliki kehidupan yang akan datang, padahal Taurat tidak dapat menyelamatkan.
    Perbuatan sebaik apa pun, tanpa pengorbanan Anak Tunggal Allah Bapa, semua sia-sia. Tetapi hal ini bukan berarti meniadakan Taurat atau setuju kalau Taurat dibuang. Tuhan Yesus menyatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-19).
    Tuhan Yesus menyatakan: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.  Justru kedatangan Tuhan untuk menggenapi Taurat. Menggenapi artinya melengkapi pengertian mengenai hukum itu agar sempurna dan melakukan hukum-hukum dengan sempurna pula. Kalau selama ini belum ada yang dapat memahami Taurat sesuai dengan jiwa, nafas, dan esensinya, Tuhan Yesus menjelaskannya. Kata menggenapi (Mat. 5:17) dalam teks aslinya adalah pleroo (πληρόω); yang selain berarti menggenapi, kata itu juga bermakna “pengajaran-Nya datang dengan benar” dan juga berarti menyelesaikan atau melengkapi. Kata menggenapi juga berarti Tuhan Yesus melakukan hukum Taurat di dalam hidupnya dengan sempurna.
    Kalau selama itu belum pernah ada manusia yang dapat melakukan Taurat dengan sempurna, Yesus adalah manusia pertama yang telah berhasil melakukannya dengan sempurna. Taurat yang berhasil dilakukan oleh Tuhan Yesus bukanlah Taurat seperti ukuran Taurat bangsa Yahudi, tetapi inti Taurat secara sempurna, yaitu melakukan kehendak Allah Bapa sebagai sumber tatanan dan hukum. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34).
    Dengan keberhasilan Tuhan Yesus melakukan hukum Taurat secara sempurna, yaitu melakukan kehendak Bapa, maka Tuhan menjadi pokok keselamatan (Yun. Aitios) bagi orang yang percaya kepada-Nya. Pokok keselamatan bisa berarti penggubah atau penyusun. Sebelumnya, tidak ada yang mampu untuk itu. Orang-orang yang percaya dan menyatakan diri mengikut Tuhan Yesus harus mengikuti jejak-Nya; hidup seperti Dia hidup. Itulah sebabnya hidup keagamaan (Yun. Dikaiosune, kebenaran) orang percaya harus melebihi ahli-ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Hal ini hanya terjadi bagi semua orang yang taat kepada Tuhan Yesus (Ibr. 5:7-9). Kalau ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melakukan kehendak Allah yang diwakili oleh hukum-hukum-Nya, tetapi orang percaya bukan hanya melakukan hukum-Nya tetapi semua kehendak Allah Bapa. Inilah yang disebut melakukan kehendak Bapa.
    Seseorang dikatakan percaya kepada Tuhan Yesus kalau mengikuti jejak-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa. Tanpa kesediaan mengikuti jejak-Nya, berarti seseorang tidak bisa dikatakan percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini berarti ia tidak mengalami dan memiliki keselamatan.  Dalam hal ini, beriman adalah tindakan atau perbuatan seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika mengenakan tubuh manu...
    0 min
  • Bukan Pembenaran Yang Mudah
    Banyak orang Kristen berpikir (tentu karena ajaran yang salah) bahwa dibenarkan artinya dianggap benar, walau banyak dosanya untuk kemudian dipermudah masuk surga karena keselamatan bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan iman. Adapun iman yang mereka maksudkan hanyalah sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Menurut mereka, asal mengakui atau setuju status Yesus sebagai Juruselamat berarti sudah beriman. Kalau mereka percaya pembenaran dengan iman kualitas tersebut, berarti itu adalah pembenaran palsu. Doktrin atau ajaran seperti itu menipu dan menyesatkan. Tentu saja banyak orang lebih suka model keselamatan yang mudah seperti itu.
    Sesungguhnya, iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Komunitas yang meyakini bahwa dibenarkan artinya dianggap benar, walau karakternya masih buruk namun tetap memperoleh kemudahan masuk surga, dengan premis “keselamatan bukan berdasarkan perbuatan”, tetapi berdasarkan iman dalam bentuk pengaminan akali, adalah penyimpangan dari Injil yang benar. Biasanya mereka kurang, bahkan tidak menghargai nilai perilaku atau perbuatan dari karakter yang baik yang Allah kehendaki. Menghargai nilai perbuatan menurut mereka bisa merusak prinsip solagratia; only by grace. Walau mereka juga menganjurkan berbuat kebaikan, tetapi kebaikan yang dianjurkan tidak berstandar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Komunitas ini sulit meyakini bahwa di dunia orang percaya bisa sempurna seperti Tuhan Yesus, padahal setiap orang percaya harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Biasanya mereka tidak berjuang untuk sempurna seperti Bapa. Mereka juga tidak memahami pengertian sempurna.
    Kesalahan orang-orang Kristen tersebut disebabkan karena mereka mencampuradukkan ayat Alkitab tanpa melihat konteks ayat per ayat. Hal ini juga terjadi karena mereka membela doktrin dari premis (asumsi) yang sudah ada. Mereka membelanya dengan membabi buta tanpa nalar yang obyektif dan cerdas. Bangunan berpikir yang salah tersebut mengunci pikiran, sehingga mereka tidak menemukan kebenaran murni dari Injil yang menyelamatkan, artinya tidak membawa mereka kepada pemulihan gambar Allah atau rancangan Allah semula. Bisa dipastikan kualitas keimanannya rendah. Perjalanan waktu akan membuktikan kesalahan mereka ini. Pengajaran seperti itu tidak akan mampu menopang hidup Kekristenan untuk tetap pada integritasnya sebagai anak-anak Allah yang harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Masyarakat Kristen Protestan Eropa pada umumnya berpendirian seperti itu, sekarang mereka menjadi masyarakat sekuler yang tidak beragama dengan benar. Gereja sepi dan bangkrut, bahkan berubah fungsi.
    Teologi yang salah tersebut, biasanya juga berpandangan bahwa Tuhan Yesus mati hanya untuk sebagian orang, berpandangan bahwa maksud kalimat “tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat” artinya bahwa tidak ada seorang pun yang pernah mampu dan berhasil melakukan melakukan hukum Taurat di masa lalu, bahkan sampai kapan pun di masa yang akan datang. Sebagai konsekuensinya, maka tidak ada orang yang bisa masuk surga di luar orang Kristen dan di luar orang-orang yang ditentukan untuk selamat. Dengan pandangan ini mereka menutup pintu terhadap kemungkinan orang di luar orang Kristen bisa masuk dunia yang akan datang. Mereka juga menutup pintu bagi mereka yang menurut mereka tidak ditentukan untuk selamat, yang sama dengan tidak ditentukan untuk masuk surga, walaupun sudah beragama Kristen.
    Sejatinya, mereka belum memahami Taurat itu sebenarnya. Taurat adalah hukum yang intinya ada dua, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Mereka tidak mau mengerti bahwa Tuhan Yesus memperkenankan adanya orang-orang di luar orang Kristen masuk Kerajaan-Nya; bukan karena iman, tetapi karena perbuatan kasih (Mat. 25:31-46). Kita harus mengerti dan menerima bahwa mereka yang diperkenankan masuk surga dala...
    0 min
  • Tindakan Kasih Yang Menyelamatkan
    Dalam bab terdahulu kita telah membahas kata “dibenarkan” dalam konteks hidup orang-orang di luar orang percaya. Orang-orang yang dibenarkan dalam Roma 2:13 bisa saja masih dalam keadaan mempunyai kesalahan atau belum sempurna (pasti tidak mungkin sempurna), tetapi mereka melakukan tindakan kasih yang menunjukkan bahwa mereka tidak membahayakan bagi sesamanya sama sekali. Tentu orang-orang seperti ini juga tidak membahayakan bagi Kerajaan Surga nanti dalam pemerintahan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya mereka diperkenankan memasuki atau mengalami dunia yang akan datang atau masuk langit baru dan bumi yang baru sebagai anggota masyarakat.
    Untuk kata pembenaran atau dibenarkan dalam kehidupan orang-orang di luar Injil, ketika di hadapan pengadilan Allah, dianggap bahwa mereka benar. Hal ini bukan berdasarkan keadaan mereka yang tidak pernah bersalah atau sudah berkeadaan sempurna (mencapai kesempurnaan dalam kesucian), tetapi mereka memenuhi kriteria untuk diperkenankan masuk langit baru dan bumi yang baru, yaitu karena tindakan kasih terhadap sesama.
    Untuk orang-orang yang tidak mendengar Injil, mereka dihakimi menurut perbuatan berdasarkan Taurat yang tertulis di hati mereka. Ketika mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri, yang adalah inti dari hukum Taurat bagian dua (Mat. 22:37-40), maka mereka dibenarkan, artinya diperkenankan masuk dunia yang akan datang. Tindakan kasih yang berangkat atau didasarkan pada nurani mereka yang mengasihi sesama, membuat mereka dibenarkan. Fragmen pembenaran bagi orang di luar Injil ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 25:31-46.
    Tindakan kasih yang dilakukan seseorang terhadap sesamanya membuat seseorang diperkenankan masuk dunia yang akan datang. Inilah tindakan pembenaran oleh Tuhan bagi mereka yang ada di luar Injil. Penghakiman ini dilakukan berdasarkan perbuatan dan memang semua penghakiman atau pengadilan Allah selalu berdasarkan perbuatan. Perbuatan atau perilaku seseorang yang digerakkan oleh nuraninyalah yang menjadi ukuran seseorang pantas masuk dunia yang akan datang atau tidak.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa penghakiman atau pengadilan tidak berlaku lagi bagi orang yang memiliki iman terhadap Tuhan Yesus. Mereka berpikir bahwa nanti kalau mereka mati, tanpa pengadilan, mereka dapat masuk ke surga dengan mudah. Ini pendapat yang keliru. Paulus menyatakan bahwa dirinya dan jemaat akan menghadap takhta pengadilan Allah (2Kor. 5:9-10). Semua orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya hanya dari perbuatan seseorang nampak kualitas imannya. Orang Kristen yang berpandangan bahwa dirinya tidak akan dihakimi, karena merasa telah memiliki iman, sesungguhnya mereka belum mengerti apa yang dimaksud dengan iman itu.
    Jadi, pengadilan Tuhan yang memperkarakan perbuatan, akan membedakan apakah seseorang anak Allah layak masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan atau hanya anggota masyarakat; apakah layak dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus atau hanya masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Menegaskan hal ini, dalam Roma 8:17 mengatakan bahwa hanya orang yang menderita bersama dengan Tuhan Yesus yang menjadi ahli waris dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Menderita bersama dengan Tuhan Yesus menunjuk kualitas perbuatannya.
    Sesungguhnya, percaya atau beriman bukan hanya aktivitas nalar pikiran. Percaya adalah tindakan. Itulah sebabnya dalam Yakobus 2:20-22 tertulis, Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dalam tulisannya ini Yakobus menyatakan bahwa iman bukan hanya mengakui Allah itu ada, juga bukan hanya mengakui status dan sejarah Tuhan Yesus.
    0 min
  • Bukan Jalan Yang Mudah
    Sesungguhnya tidak mudah orang bisa masuk dunia yang akan datang, baik sebagai anggota masyarakat, apalagi sebagai anggota Keluarga Kerajaan yang dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Bagi orang-orang yang berada di luar Injil atau tidak mendengar Injil, mereka harus memiliki kasih yang tulus kepada sesamanya, yaitu mengasihi sesama seperti mereka mengasihi diri sendiri. Kasih seperti ini sebenarnya sangatlah sulit dilakukan. Sedikit orang dapat melakukannya, sebab pada umumnya manusia memiliki egoisme dan mengasihi diri sendiri secara kodrat manusia yang berdosa. Namun demikian, walaupun sedikit, tetapi selalu ada.
    Tuhan selalu menyisakan orang-orang yang dapat diselamatkan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak membahayakan bagi sesama. Mereka diperkenan hidup kembali di dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Kalau mereka pribadi-pribadi yang masih membahayakan atau mengancam bagi sesama, maka mereka tidak diperkenankan masuk ke dalamnya. Orang-orang baik seperti itu ada di seluruh belahan dunia. Dalam kitab Roma 2:12-16 disebut sebagai bangsa-bangsa lain.
    Dalam Roma 2:28-29 menunjukkan bahwa ada orang-orang yang dapat menjadi Yahudi tanpa disunat:  Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Harus diperhatikan dengan saksama bahwa Roma 2:28-29 adalah sindiran bagi orang Yahudi yang merasa bahwa hanya mereka yang dapat disebut sebagai keturunan Abraham. Tetapi ternyata ada orang-orang dari bangsa-bangsa lain yang dapat melakukan inti hukum Taurat, sehingga mereka dihisapkan sebagai Yahudi sejati.
    Dari penjelasan di atas terdapat fakta bahwa ada kemungkinan orang melakukan inti Taurat yang kedua, yaitu mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Jika tidak pernah ada orang yang dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, maka ayat dalam Roma 2:13 ini tidak akan pernah muncul atau ada. Roma 2:13 mengatakan: Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Kalimat ini mengesankan dengan jelas bahwa terdapat kemungkinan bangsa-bangsa lain dapat melakukan inti hukum Taurat, yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Faktanya, Tuhan Yesus menunjukkan adanya orang-orang yang mengasihi sesamanya sehingga diperkenan masuk Kerajaaan-Nya (Mat. 25:31-46).
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa tidak ada orang yang bisa melakukan hukum Taurat dalam pengertian intinya (mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri). Dalam Roma 2:13-15 dikatakan: Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Paulus tidak akan menulis tulisan ini kalau tidak ada fakta adanya orang-orang di luar Injil, atau yang disebut sebagai bangsa-bangsa lain, tidak pernah dapat melakukan inti hukum Taurat. Faktanya, juga dalam Matius 25:31-46, terdapat orang-orang yang diperkenankan masuk surga karena perbuatan kasih mereka kepada sesama.
    Berbeda dengan mereka yang disebut sebagai bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki Taurat yang tertulis dan tidak mendengar Injil, orang percaya selain harus mengenakan standar kebaikan moral mengasihi sesama seperti diri sendiri,
    0 min
  • Pembenaran Yang Sempurna
    Pembenaran yang kedua, adalah pembenaran oleh iman. Inilah pembenaran yang ideal, yang menjadi maksud keselamatan dari Allah diadakan, yang oleh karenanya orang percaya menerima kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Pembenaran ini adalah pembenaran yang sempurna. Pembenaran ini hanya berlaku atau terjadi bagi mereka yang mendengar Injil, yaitu mereka yang hidup di zaman anugerah pada masa Perjanjian Baru dan yang merespon anugerah secara benar. Pembenaran oleh iman tidak didasarkan pada perbuatan yang didasarkan pada hukum (seperti konsep agama samawi pada umumnya, di antaranya seperti agama Yahudi), tetapi didasarkan pada perbuatan atau tindakan dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Tindakan dalam penurutan terhadap kehendak Allah itulah iman yang diperagakan oleh Abraham. Dalam hal ini iman bukan hanya pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi tindakan dalam penurutan terhadap kehendak Allah.
    Pembenaran yang sempurna ini bisa terjadi oleh karena Tuhan Yesus memberi fasilitas keselamatan. Fasilitas keselamatan itu adalah penebusan dosa, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa kehidupan. Kalau seseorang percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus, maka ia harus mengenakan atau menjalani fasilitas keselamatan tersebut demi supaya mengalami dan memiliki keselamatan atau agar menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Jika tidak, berarti ia tidak percaya atau tidak memiliki iman. Bukti dari iman orang percaya, yang oleh karenanya mereka dibenarkan, adalah kehidupan yang dikembalikan ke rancangan semula seperti kehidupan yang diperagakan oleh Yesus. Yesus menampilkan profil manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Pembenaran ini bisa terjadi atau berlangsung kalau seseorang bersedia berjuang (Luk. 13:23-24).
    Dua versi pembenaran dan dua versi keselamatan seperti yang dijelaskan di bab terdahulu dapat terjadi atau berlangsung hanya karena adanya korban Yesus di kayu salib. Tanpa korban Yesus di kayu salib, maka tidak ada pembenaran apa pun dan tidak ada keselamatan apa pun.
    Suatu hari nanti semua manusia akan melihat bahwa hanya oleh korban Tuhan Yesus di kayu salib (dalam berita Injil) maka manusia memperoleh kesempatan masuk langit baru dan bumi yang baru; sebagian menjadi anggota keluarga Kerajaan atau dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, dan yang lain menjadi anggota masyarakat. Tentu saja setelah melewati proses penghakiman. Dalam hal ini harus ditegaskan, bahwa neraka adalah suatu realitas. Kita harus menentang keras pandangan universalisme yang mengatakan bahwa semua orang akan masuk surga. Pandangan universalisme tidak memandang Allah yang adil yang memperkarakan keadaan masing-masing individu, apakah layak menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga atau menjadi anggota Keluarga Kerajaan. Pandangan universalisme mengabaikan kesucian yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan dalam kehidupan orang percaya.
    Walaupun Tuhan Yesus mati untuk semua orang, tetapi penghakiman tetap dilangsungkan. Kita meyakini adanya penghakiman oleh Tuhan Yesus, Hakim yang adil yang menentukan sebagian orang masuk surga dan sebagian lain masuk neraka berdasarkan perbuatan masing-masing individu. Keselamatan di luar orang-orang yang tidak mendengar Injil adalah keselamatan yang didasarkan pada perbuatan kasih, sehingga mereka diperkenankan masuk sebagai Kerajaan Surga sebagai anggota masyarakat Kerajaan tersebut. Keselamatan di dalam Injil adalah dikembalikannya manusia ke rancangan semula Allah, sehingga manusia dapat menjadi sempurna, memiliki karakter Allah atau serupa dan segambar dengan Allah, yang sama dengan serupa dengan Yesus.
    Mereka yang tidak mendengar Injil dihakimi berdasarkan perbuatan kasih; apa yang mereka lakukan terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan diperhitungkan sebagai perbuatan untuk Tuhan sendiri (Mat. 25:29-46). Sedangkan untuk umat pilihan, dihakimi berdasarkan perbuatan yang ukurannya adalah berkenan di hadapan Allah.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…