Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Penghakiman Allah
    Roma 1:18-32 berbicara mengenai adanya penghakiman; Allah mengadakan perhitungan atas setiap orang mengenai segala sesuatu yang dilakukan selama hidup di bumi. Pertanyaan penting yang harus dijawab untuk mengupas Roma 1:18-32 adalah ditujukan kepada siapakah ayat-ayat tersebut? Menjawab pertanyaan ini kita harus dengan teliti memerhatikan beberapa ayat yang menjadi kunci jawabannya. Pertama, dalam Roma 1:16, konteks pembahasannya sekitar orang Yahudi dan Yunani. Orang Yahudi mewakili bangsa pilihan secara darah daging (keturunan Abrahan) yaitu bangsa Israel. Sedangkan Yunani selain mewakili orang-orang Yunani sendiri, juga dapat mewakili bangsa-bangsa non-Yahudi yang oleh orang-orang Yahudi sering disebut sebagai bangsa kafir atau bangsa yang tidak bersunat.
    Kedua, dalam Roma 1:19-21 jelas sekali mengatakan bahwa peringatan dan tegoran serta ancaman itu ditujukan kepada mereka yang mengenal Allah. Hal ini kecil kemungkinan menunjuk kepada orang kafir yang tidak memiliki kitab yang memuat wahyu Allah. Kecil kemungkinan bukan berarti tidak sama sekali, sebab di dalam agama-agama suku atau agama bangsa-bangsa non-Yahudi dan non-Kristen terdapat keyakinan mengenai Allah yang menciptakan langit dan bumi atau sejajar dengan Allah Yang Maha Esa. Dan mereka juga memiliki hukum moral (walau tidak tertulis di atas kertas atau loh batu), yang menyerupai Taurat yang tertulis di dalam nurani mereka.
    Meneguhkan pendapat bahwa ayat-ayat dalam Roma 1:18-23 ditujukan kepada orang Yahudi dan Kristen dialaskan pada Roma 1:23. Dalam Roma 1:23 tertulis: Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya. Ini berarti mereka yang menjadi tujuan ayat-ayat tersebut adalah orang yang mengerti tuntutan hukum Allah.
    Siapakah mereka yang mengerti tuntutan hukum Allah? Pertama, orang Yahudi yang memiliki Taurat. Kedua orang Kristen juga memahami Sepuluh Perintah Allah dan pengajaran untuk hidup dalam kasih seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Hukum Allah bagi orang percaya adalah melakukan kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.
    Ketiga, ayat-ayat dalam Roma 1:18-32 juga ditujukan kepada “bangsa-bangsa lain”. Bangsa-bangsa lain menunjuk kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, tetapi juga bukan orang Kristen (Rm. 2:12-15). Walaupun bangsa-bangsa lain tidak memiliki hukum yang tertulis di atas kertas atau loh batu atau tidak memahami hukum (Taurat), tetapi mereka memahami hukum (inti hukum Taurat) di dalam hati nurani mereka. Inti hukum Taurat selain mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi, juga mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 22:37-40).
    Bangsa-bangsa non-Yahudi dan non-Kristen tidak mengenal Allah, sehingga mereka hanya mengenal hukum “mengasihi sesama seperti diri sendiri”. Dalam hal ini kita dapat mengerti mengapa dalam kehidupan banyak bangsa non-Yahudi dan non-Kristen kita dapati kisah-kisah kepahlawanan orang-orang yang membela sesama, yang sama dengan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Mereka juga memiliki filosofi untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, bahkan lebih dari nyawa mereka sendiri. Tuhan Yesus jelas sekali menunjukkan bahwa perbuatan baik yang dilakukan seseorang kepada orang yang menderita atau yang hina dan membutuhkan pertolongan, diperhitungkan Tuhan seakan-akan ditujukan bagi Tuhan sendiri.
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orientasi ayat-ayat yang memuat peringatan dan tegoran itu adalah bangsa Yahudi, orang Kristen dan bangsa-bangsa lain. Dalam hal ini terkait dengan penghakiman Allah, tidak ada pembedaan antara umat pilihan secara darah daging, yaitu orang Yahudi, dengan bangsa non-Yahudi, dan juga tidak ada perbedaan antara orang beriman kepada Tuhan Yesus dan orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus.
    0 min
  • Yesus Menguduskan Diri-Nya
    Kalau kata “dikuduskan” ini dihubungkan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia menguduskan diri-Nya, supaya orang percaya dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:18), bukan berarti Yesus membutuhkan pengampunan dosa dan penyucian seperti kita. Yesus tidak berdosa dalam segala hal, sehingga Ia dapat menjadi penebus dosa kita. Kalau Yesus tidak kudus dalam segala hal, maka Ia tidak dapat menjadi penebus bagi kita. Orang berdosa tidak dapat menjadi penebus bagi sesamanya. Itulah sebabnya tidak ada penebus dosa yang menjadi utusan Allah selain Yesus Kristus. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus.
    Kalau Firman Tuhan menyatakan bahwa Yesus menguduskan diri-Nya artinya bahwa Tuhan Yesus berusaha untuk taat agar bisa menggenapi rencana Allah. Satu hal yang harus dipahami bahwa Yesus bisa berbuat dosa, tetapi Ia tidak berbuat dosa. Pergumulan-Nya untuk taat kepada Bapa dan tidak jatuh dalam dosa bukanlah sandiwara. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan: Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan (Ibr. 5:7).
    Tuhan Yesus sendiri harus bergumul untuk bisa mencapai kesempurnaan. Ia tidak mencapainya dengan mudah. Ia harus bergumul hebat, seperti yang terjadi di taman Getsemani, antara kehendak-Nya sendiri dan kehendak Bapa.  Hal itu dilakukan agar setelah Ia mencapai kesempurnaan, Ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya dan Allah memakai-Nya sebagai alat keselamatan. Demikian pula orang percaya dapat dikuduskan dengan kebenaran supaya bisa dipakai oleh Bapa (Yoh. 17:19). Dalam Ibrani 5:8-9 tertulis: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya”. 
    Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, Ia menjadikan manusia untuk dikuduskan dan dipakai oleh Bapa, sebagaimana Diri-Nya sendiri juga telah mengalaminya. Paulus juga dikuduskan untuk ini, yaitu menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menggenapi rencana Allah (Rm. 1:1). Hal ini juga harus dialami orang percaya yang memberitakan Injil. Mereka yang memberitakan Injil harus terlebih dahulu menghidupi Injil di dalam hidupnya. Hal ini sama dengan menguduskan diri seperti yang Yesus lakukan. Tidak mungkin seseorang dapat menjadi pemberita Injil yang benar, sebelum ia dapat menghidupi Injil di dalam hidupnya.
    Dalam hal ini jelas sekali bahwa pengudusan Tuhan bukan hanya berhenti di mana orang percaya dipindahkan statusnya dari orang berdosa menjadi anak, juga bukan sekadar diperbaiki karakternya, tetapi juga direncanakan untuk menjadi alat dalam tangan Bapa guna menggenapi rancana-Nya. Rencana Bapa adalah membinasakan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Hal ini sejajar dengan pengertian kudus dalam bahasa Ibrani qadosh, yang artinya dipisahkan dari yang lain untuk digunakan. Semua perkakas yang hendak dipakai bagi pekerjaan Tuhan harus dikuduskan. Dikuduskan bukan secara mistis atau menggunakan ritual dan seremonial (seperti dalam banyak agama), tetapi pergumulan hidup individu yang dipilih tersebut untuk menghidupi Injil di dalam hidupnya.
    Mekanisme pelayanan ini sudah hilang dalam kehidupan orang percaya hari ini. Banyak orang merasa sudah layak menjadi pemberita Injil hanya karena telah menyelesaikan studi di Sekolah Penginjil atau menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Teologi. Keadaan ini menjadikan Injil, yang adalah kekuatan Allah, tidak berdayaguna mengubah orang, karena pemberita Injilnya sendiri tidak menghidupi Injil tersebut. Pemberita Injil harus menjadi surat yang terbuka, artinya melalui hidupnya orang menemukan Injil yang diperagakan. Mengapa demikian? Sebab Injil adalah jalan hidup yang memuat kebenaran, bukan hukum atau sekadar pengetahuan tentang Allah.
    0 min
  • Oleh Iman Menjadi Hidup
    Dalam Roma 1:17 tertulis: Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman. Ayat ini sangat penting untuk dibedah secara khusus. Dikatakan “sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah”, artinya berdasarkan Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, maka kebenaran Allah dapat dinyatakan atau diungkapkan. Jadi, kalau tidak ada Injil, maka kebenaran Allah tidak dapat dinyatakan atau diungkapkan secara lengkap atau utuh bagi manusia. Dalam hal ini kita meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang lengkap atau utuh di luar Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
    Kalimat “yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman”, maksudnya adalah dimulai dari menerima Yesus bahwa Dia adalah Logos yang menciptakan langit dan bumi bersama Theos (Bapa), kemudian menaruh percaya kepada segala sesuatu yang diajarkan, maka seseorang memiliki penurutan terhadap kehendak Allah. Dalam hal ini kata iman yang pertama adalah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Adapun kata iman yang kedua adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Penurutan terhadap kehendak Allah ini adalah penurutan yang standarnya adalah diri Yesus sendiri.
    Pada akhirnya, iman yang dikehendaki oleh Allah adalah iman yang sempurna seperti yang dijalani oleh Tuhan Yesus (Ibr. 12:1-2). Iman yang sempurna adalah ketaatan kepada Bapa seperti Tuhan Yesus, yang taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Ini adalah ketaatan standar yang menjadi model atau prototipe ketaatan bagi semua orang percaya. Jadi maksud “memimpin kepada iman” adalah membawa iman itu kepada kesempurnaan.
    Selanjutnya, kita harus memahami dengan tepat maksud kalimat “Orang benar akan hidup oleh iman”. Dalam teks aslinya kalimat ini terjemahan dari ho de dikaios ek pisteos zesetai (ὁ δὲ δίκαιος ἐκ πίστεως ζήσεται). Selain bisa diterjemahkan “Orang benar akan hidup oleh iman”, kalimat ini juga bisa diterjemahkan “orang beriman akan menjadi hidup”. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris ada yang menerjemahkan: He who through faith is righteous shall live atau and the righteous one by faith shall live. Dua versi terjemahan tersebut bisa memiliki makna yang sama, tetapi memiliki tekanan yang berbeda.
    Jika kita hubungkan dengan Ibrani 12:1-10, mengenai panggilan untuk mengikuti perlombaan yang diwajibkan, yaitu memiliki iman yang sempurna, maka pada akhirnya ketaatan kepada Allah adalah agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah dan “beroleh hidup”. Kata hidup dalam teks aslinya adalah zesomen (ζήσομεν) dari akar kata zao (ζάω), yang berarti dihidupkan (menggunakan kata kerja). Jadi kalau diterjemahkan bebas kalimat tersebut bisa berarti “orang benar oleh iman akan dihidupkan”. Kata zao terkait dengan kata zoe (ζωή), yang artinya hidup secara natural tetapi berkualitas. Dalam hal ini ayat tersebut hendak menunjukkan bahwa kalau seseorang di dalam iman yang benar kepada Tuhan Yesus, maka hidupnya akan berkualitas. Kualitas hidup ini tidak ditentukan oleh keberadaannya secara lahiriah, tetapi kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
    Menganalisa teks tersebut, maka dapatlah disimpulkan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang harus ada dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Tanpa hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah berarti tidak beriman. Dengan demikian, beriman bukan hanya berarti memiliki keyakinan di dalam nalar atau pikiran, tetapi bertindak sesuai dengan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Inilah iman yang benar, iman yang telah diperagakan oleh Abraham. Banyak orang Kristen yang merasa beriman hanya karena dengan pikiran setuju atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Dengan hal itu mereka merasa sudah selamat karena memiliki “iman”.
    Berdasarkan uraian di atas ini, maka dapat dimengerti kalau seseorang pasti masuk ke dalam Kerajaan Surga untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus,
    0 min
  • De Jure Dan De Facto
    Memercayai Tuhan Yesus berarti menuruti kehendak-Nya. Iman merupakan penyerahan diri sepenuh kepada seluruh kehendak Tuhan secara mutlak sepanjang hidup sampai kekekalan. Hal ini sesuai dengan pengertian iman dalam bahasa Alkitab, yaitu aman (Ibrani) dan pisteuo (Yunani), yang artinya menyerahkan diri secara tetap atau teguh atau berkesinambungan kepada sesuatu atau seseorang. Oleh sebab itu seseorang tidak akan dapat meningkatkan kualitas imannya kepada Tuhan tanpa bertumbuh dalam kebenaran yang termuat di dalam Injil.
    Untuk mewujudkan apa yang diajarkan Injil, seseorang harus masuk ke dalam kebenaran Tuhan sepenuh hati dan segenap hidup dengan segala pengorbanannya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: ”Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:33). Perjalanan hidup Kekristenan kita haruslah sebuah perjalanan untuk mewujudkan apa yang diajarkan dalam kebenaran Injil. Mewujudkan apa yang diajarkan dalam kebenaran Injil pada dasarnya adalah mengenakan kehidupan yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.  Pada kenyataannya dalam sejarah gereja, tokoh-tokoh iman yang terpilih sebagai sahabat Tuhan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menerima panggilan berjalan dengan Tuhan. Ketika mereka masih hidup di bumi ini, pasti mereka dianggap konyol oleh orang-orang sezamannya. Tetapi sekarang, setelah ribuan tahun peristiwa itu berlalu, kita dapat menemukan betapa beruntungnya mereka bisa berjalan dengan Tuhan. Terlebih lagi, ketika mereka ada di dalam Kerajaan Tuhan Yesus, mereka adalah orang-orang yang sangat beruntung.
    Dengan meneladani cara hidup Abraham, yaitu ketaatan kepada semua kehendak Allah, maka dalam kehidupan umat Perjanjian Baru hal itu harus diterjemahkan dalam bentuk memahami Injil dan mengenakan gaya hidup Tuhan Yesus oleh tuntunan Injil. Dengan begitu barulah seseorang dapat dibenarkan. Itulah sebabnya setelah seseorang memiliki iman persetujuan pikiran (pengaminan akali) dan berlanjut pada kesediaan hidup dalam tuntunan Roh guna hidup seperti Tuhan Yesus, maka hasilnya orang seperti itu dapat dikatakan sebagai “benar” di mata Allah. Dalam hal ini orang benar tidak hidup oleh hukum Taurat, tetapi oleh iman. Perlu dipahami bahwa kalimat: Orang benar hidup oleh iman, adalah kalimat dalam ayat yang diambil dari Habakuk 2:4. Selanjutnya kalau kita memerhatikan pasal-pasal berikut dalam kitab Roma, ternyata dibenarkan oleh iman menunjuk pada kehidupan Abraham, bukan sejarah hidup Habakuk. Seseorang tidak dapat dikatakan sebagai dibenarkan oleh iman kalau tidak memiliki penurutan terhadap kehendak Allah, seperti yang diperagakan oleh Abraham.
    Dengan demikian, dua ayat dalam Roma 1:16-17 tersebut bisa mengacaukan pikiran kalau tidak dipahami secara komprehensif. Sebab bisa timbul pertanyaan: sebenarnya yang menyelamatkan orang percaya itu korban Kristus, iman atau Injil? Menjawab pertanyaan ini perlu dibedah secara cerdas dan teliti. Pertama, bahwa korban Kristus di kayu salib adalah satu-satu jalan yang dapat menempatkan manusia pada posisi yang baru. Korban Tuhan Yesus mengangkat semua dosa manusia. Oleh korban Tuhan Yesus maka semua dosa yang dilakukan oleh manusia sejak zaman Adam sampai manusia terakhir, dipikul-Nya atau dihapus-Nya (Yoh. 1:29). Kata “menghapus” dalam teks aslinya di ayat tersebut adalah memikul atau mengangkat (Yun. airo, αἴρω).  Apakah dengan hal ini berarti semua orang secara otomatis masuk surga? Pandangan universalisme mengatakan bahwa pada akhirnya semua orang akan masuk surga. Pandangan itu sesat.
    Kita harus menentang keras faham universalisme. Korban Kristus tidak secara otomatis membuat orang masuk surga. Oleh korban Tuhan Yesus tersebut maka penghakiman dapat dilakukan. Bagi mereka yang menerima Injil, harus masuk dalam proses pendewasaan atau penyempurnaan dengan hidup dalam percaya yang benar. Percaya artinya penyerahan sepenuh kepada obyek yang dipercayai....
    0 min
  • Pengertian Iman
    Dalam memahami kata iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek kepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran -ini disebut pula keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan dan kesediaannya dituntun Roh Kudus untuk memiliki kehidupan seperti Tuhan Yesus. Dari pertumbuhan iman yang benar seseorang dapat memiliki karakter agung seperti Tuhan, sehingga dapat mengimbangi Tuhan untuk hidup dalam persekutuan dengan Dia. Jadi iman sangat bertalian dengan kualitas hubungan antara umat yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap.
    Banyak orang merasa sudah beriman hanya karena percaya bahwa Tuhan itu ada. Kepercayaan seperti ini bukanlah iman yang benar, sebab kalau hanya kepercayaan berangkat dari persetujuan pikiran bahwa Allah itu ada, maka roh-roh jahat pun percaya dan gemetar (Yak. 2:19). Artinya roh-roh jahat pun percaya bahwa Allah ada, bahkan ketakutan, namun roh-roh jahat tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, bahkan roh-roh jahat memposisikan diri sebagai musuh. Dalam hal ini roh-roh jahat bukan pribadi yang bisa dikatakan beriman kepada Tuhan, walau ia percaya Allah itu ada.
    Sungguh ironis, banyak orang beragama yang sekualitas dengan roh-roh jahat tersebut. Mereka memercayai adanya Allah yang esa, tetapi tidak memiliki hormat yang pantas kepada-Nya. Lebih ironis lagi, mereka melakukan kegiatan peribadahan kepada Allah tanpa takut kepada Allah. Kalau roh-roh jahat bisa gemetar karena menyadari kedahsyatan Allah yang esa tersebut, tetapi manusia tidak menyadari kedahsyatan kekudusan-Nya. Tidak heran kalau perbuatan manusia tidak kalah jahatnya dengan roh-roh jahat tersebut.
    Di dalam Injil yang memuat kebenaran itulah manusia mengenal Allah, kebenaran tentang keberadaan Allah dan kehendak-Nya untuk dilakukan manusia. Iman kepada Tuhan tidak akan ada dalam diri manusia kalau manusia tidak mengenal Allah. Pengenalan tentang keberadaan-Nya dan apa yang patut dilakukan manusia dapat diperoleh melalui Firman-Nya (Injil) secara berkesinambungan.Seirama dengan bertumbuhnya pengenalan akan Tuhan dan melakukan Firman tersebut, bertumbuh pula kualitas iman seseorang. Jadi iman dapat ditemukan dalam diri seseorang, bukan pada bibirnya, tetapi perbuatannya.
    Penerimaan dan keyakinan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat barulah sebuah awal perjalanan hidup Kekristenan. Ia baru percaya dengan mulut mengaku, tetapi hati belum percaya. Hati yang percaya dapat dibuktikan dalam perbuatan. Iman atau percaya kepada Tuhan dalam hati, harus diaplikasikan secara konkret dalam tindakan. Itulah sebabnya surat Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:17-26). Untuk ini iman harus disempurnakan dalam perbuatan. Selanjutnya dipersoalkan: Perbuatan yang bagaimanakah yang menunjukkan kehidupan iman tersebut?
     
    Ketika Ibrani 11:1 berbicara mengenai iman yang didefinisikan sebagai berikut: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat; konteksnya di sini adalah mengenai panggilan untuk menemukan “kerajaan yang akan datang”, yaitu kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. (Ibr 11:10). Jadi “sesuatu” yang diharapkan, yang tidak terlihat tetapi buktinya iman adalah Kerajaan Surga.  Abraham menuruti kehendak Tuhan untuk meninggalkan Urkasdim demi kerajaan yang dibangun oleh Allah tersebut (Ibr. 11:8-10, 13-16).
    Abraham adalah Bapa orang beriman. Apanya yang istimewa dari iman Abraham? Keistimewaan Dari iman Abraham adalah penyerahan dirinya kepada Tuhan yang menunjukkan ketaatannya terhadap kehendakNya, walaupun untuk hal-hal yang sangat tidak masuk akal seperti meninggalkan Urkasdim untuk menemukan negeri yang dijanjikan Tuhan,
    0 min
  • Peran Penting Injil
    Dikuduskan oleh Firman tidak dapat dipisahkan dari dikuduskan oleh Roh. Firman Tuhan mengatakan: … yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh … (1Ptr. 1:2). Dalam ayat ini terdapat kalimat bahwa orang percaya juga dikuduskan oleh Roh. Apa yang dimaksud dengan dikuduskan oleh Roh itu dan bagaimana proses dikuduskan oleh Roh tersebut? Menjawab pernyataan ini, kita harus memahami dan dapat membedakan pengertian Firman dalam arti Logos dan Rhema.  Pada waktu seseorang mendengar Firman Tuhan, cara berpikirnya diubah dengan pengajaran yang diajarkan secara penalaran atau kognitif. Dalam hal ini Firman (Logos) menjadi pengertian di dalam pikirannya.
    Logos adalah Firman yang dipahami di dalam pikiran melalui pengajaran yang didengar. Misalnya seseorang mendengar Firman (secara Logos): Kasihilah musuhmu. Ini bukan berarti seseorang sudah bisa mengasihi musuh. Pengertiannya mengenai mengasihi musuh belum tentu dapat diperagakan atau dilakukan. Untuk itu seseorang harus mengalami secara konkret atau riil bagaimana menghadapi orang yang memusuhinya.  Pada waktu dalam pergumulan dimusuhi tersebut, Roh Kudus akan mengingatkan perkataan Tuhan. Di sini Firman (Logos) yang sudah dipahami secara akal pikiran diterjemahkan secara konkret dalam kenyataan hidup. Roh Kudus akan berbicara kepada orang tersebut. Perkataan Tuhan inilah yang disebut sebagai Rhema. Rhema inilah yang membangun karakter secara signifikan. Tanpa Rhema orang percaya tidak mungkin mengalami pertumbuhan yang nyata. Pengalaman hidup yang melahirkan Rhema dapat menggores hati nurani dalam membangun karakter Allah atau kodrat Ilahi.
    Dalam kasus-kasus tertentu dan untuk orang-orang tertentu, yaitu bagi mereka yang mengasihi Tuhan, Tuhan memroses karakter melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Rm. 8:28). Peristiwa-peristiwa tersebut, baik yang dilihat, didengar dan yang dialami. Semua ini dilakukan oleh Tuhan, khususnya untuk mereka yang merasa perlu dan sungguh-sungguh bersedia menerima didikan dari Allah (Ibr. 12:7-9). Tidak ada pendewasaan tanpa pengalaman dalam kehidupan nyata setiap hari.
    Memang proses tersebut tidak menyenangkan, bahkan tidak jarang yang menyakitkan, tetapi Tuhan melalui segala pengalaman-pengalaman riil tersebut hendak membersihkan karakter dosa kita. Dalam hal ini Bapa mendidik kita melalui Roh-Nya. Inilah yang dimaksud dikuduskan oleh Roh Allah. Jadi, dikuduskan oleh Roh bukan sesuatu yang bersifat mistis, ajaib atau spektakuler, tetapi proses yang natural melalui atau di dalam peristiwa yang terjadi setiap hari. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa berkat-Nya selalu baru setiap hari. Berkat yang pasti baru adalah pembentukan karakter kita untuk menjadi serupa dengan Yesus.
    Oleh pekerjaan atau pimpinan Roh, seseorang dimungkinkan untuk memiliki ketaatan kepada Bapa. Jadi, bukan dengan kuat dan gagah seseorang dapat melakukan atau mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah, tetapi oleh Roh Allah yang menolong orang percaya. Roh Allah adalah fasilitas keselamatan yang disediakan guna membawa orang percaya kepada kesempurnaan Allah. Dalam hal ini Allah Bapa menggarap setiap individu melalui pengalaman hidup secara konkret. Allah menggunakan semua peristiwa kehidupan yang dilihat, didengar dan yang dialami untuk pendewasaan rohani guna mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Ini adalah bagian dari kuasa (Yun. exousia) yang diberikan kepada mereka yang menerima Yesus, supaya menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah artinya berkeberadaan seperti Bapa sendiri.
    Dalam hal tersebut, orang percaya harus jeli dan teliti memerhatikan setiap peristiwa kehidupan yang dialaminya setiap hari. Setiap peristiwa kehidupan baik yang didengar, dilihat dan dialami merupakan sarana Tuhan untuk mengubah hidup orang percaya. Hal ini merupakan proses keselamatan yang sangat penting.
    0 min
  • Kekuatan Allah
    Dalam Roma 1:16 tertulis: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Dari ayat ini kita dapat memperoleh pelajaran yang sangat berharga mengenai Injil. Injil di sini adalah segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan kehidupan yang diperagakan-Nya. Itulah kuasa Allah yang menyelamatkan. Kata “kuasa” dalam teks ini adalah dunamis (δύναμις), yang artinya sesuatu yang menggerakkan. Injil bukan hanya pernyataan bahwa Yesus adalah Juruselamat, dan barangsiapa percaya kepada fakta ini maka selamat. Ini barulah judul, belum isinya
    Orang yang belum mengerti segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus berarti belum mengenal Injil. Injil yang dimengerti akan mencerdaskan seseorang sehingga dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Injil ini yang memperbaharui pikiran (Rm. 12:2). Dengan demikian Injil adalah Firman Tuhan bagi umat Perjanjian Baru yang memberikan kepekaan dan kemampuan seseorang mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Kehendak Allah di sini tidak diwakili oleh hukum-Nya, tetapi pikiran dan perasaan Allah sendiri.
    Inilah perbedaan antara Kekristenan dengan agama lain. Kalau agama-agama pada umumnya, hidup umat atau pengikut agama tersebut diatur oleh hukum (yang diyakini dari Allah), tetapi orang percaya tidak diatur oleh hukum, tetapi oleh Allah sendiri. Dalam hal ini panggilan orang percaya adalah hidup dalam perilaku yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Dari hal ini orang percaya dikembalikan untuk segambar dan serupa dengan Allah; sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan hal ini pula maka orang percaya menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang atau kurang.
    Keselamatan tidak dapat dipisahkan dari isi Injil atau Firman Tuhan bagi umat Perjanjian Baru. Kita harus memahami proses pengudusan dalam kehidupan orang percaya.  Satu aspek pengudusan terjadi oleh darah Yesus, artinya oleh darah Yesus semua dosa yang dilakukan diampuni. Hal ini bukan berarti keberadaan manusia yang berdosa dianggap sudah selesai. Pengudusan oleh darah Yesus tidak membuat keberadaan watak seseorang menjadi kudus atau menjadi baik. Itulah sebabnya ada aspek lain dalam pengudusan, yaitu dikuduskan oleh Firman. Dikuduskan oleh Firman sama dengan diselamatkan oleh Injil yang adalah kuasa Allah yang menyelamatkan tersebut (Rm. 1:6).
    Pengudusan oleh darah Yesus membuat semua manusia di manapun menerima penghapusan dosa. Tetapi penghapusan dosa tersebut tidak membuat secara otomatis membuat seseorang masuk surga atau selamat. Banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau sudah dikuduskan oleh darah Yesus, maka berarti sudah selesai. Mereka merasa tidak perlu ada usaha untuk mengisi keselamatannya. Ini yang membuat orang Kristen tidak mencapai tujuan imannya. Banyak orang Kristen terparkir dalam kebodohan ini, sehingga sebenarnya keselamatan tidak terjadi dalam hidup mereka.
    Penghapusan dosa manusia hanya membuat manusia dapat dibawa ke pengadilan atau penghakiman. Seandainya tidak ada darah Yesus yang mengangkat dosa manusia, maka manusia dengan sendirinya, tanpa penghakiman, dibuang ke dalam api kekal. Sesungguhnya penghakiman tersebut untuk menilai keberadaan manusia. Itulah sebabnya bagi orang percaya ada pengudusan oleh Firman. Ini sangat jelas menunjukkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Dikuduskan oleh Firman artinya dengan kuasa Firman Tuhan yang dipahami, maka seseorang dapat didewasakan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus agar tidak lagi hidup dalam keadaan dosa (meleset; Yun. hamartia), tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah atau berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10).
    Firman Tuhan menguduskan, artinya Injil Tuhan Yesus Kristus bukan hanya membuat seseorang tidak melakuka...
    0 min
  • Perjuangan Untuk Menjadi Kudus
    Perubahan status dari “pemberontak” menjadi “anak” harus berlanjut sampai orang yang dikuduskan tersebut benar-benar berkeadaan kudus seperti Bapa. Inilah yang menempatkan kita sebagai anak-anak Allah yang sah. Itulah sebabnya 1 Petrus 1:17 mengingatkan, bahwa kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia. Ketakutan di sini adalah takut kepada Bapa karena menghormati dan mengasihi-Nya. Sebagai anak, kita harus meneladani apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, karena proyeksi keselamatan adalah serupa dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:28-29). Model Anak yang menyukakan hati-Nya adalah Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu, kalau seseorang tidak mau diproses menjadi seperti Tuhan Yesus dan tidak mengasihi sesama, maka ia tidak perlu menerima pengampunan-Nya. Pengampunan  diberikan  untuk  proses  perubahan sampai dilayakkan, dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    Dalam 1 Korintus 1:2 tertulis: “kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus”. Perhatikan kalimat “dikuduskan dalam Kristus Yesus” dan “yang dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus”. Di sini kita dapat menemukan ada dua dimensi. Dimensi pertama adalah “dikuduskan dalam nama Tuhan Yesus”, artinya Tuhan mengubah status kita sebagai orang percaya, dari pemberontak menjadi anak-Nya oleh karya salib-Nya. Ini adalah pengudusan secara pasif. Kedua, “dipanggil untuk menjadi orang kudus”, artinya kita harus berjuang memiliki karakter atau mencapai kekudusan seperti yang dikehendaki-Nya. Ini adalah pengudusan secara aktif.
    Memerhatikan dua aspek pengudusan (pasif dan aktif), maka kita temukan kesejajaran dengan pengudusan oleh darah Tuhan Yesus dan oleh  Firman  yang  dikerjakan  oleh  Roh  Kudus.  Pengudusan  oleh  darah  Tuhan  Yesus  adalah  pengudusan  untuk mengubah status. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh Tuhan Yesus (Kis. 4:12). Dikuduskan dengan darah Tuhan Yesus tidak melibatkan peran manusia  sama  sekali.  Manusia  hanya  menerima  anugerah  tersebut. Pengudusan oleh darah Tuhan Yesus ini tidak otomatis menghilangkan kodrat dosa (Ing. sinful nature) atau mengubah watak dosa dalam kehidupan manusia. Kodrat dosa hanya dapat dihilangkan melalui proses pendewasaan oleh Firman dan pembentukan Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri umat pilihan.
    Banyak orang Kristen puas hanya sampai pengudusan secara pasif. Pengudusan secara pasif dianggap sudah selesai atau sudah tuntas. Biasanya mereka juga percaya  bahwa  sakramen  sudah  cukup  menguduskan, padahal sakramen tidak bisa menguduskan kalau hanya dari segi teknisnya.  Misalnya  baptisan,  yang  menguduskan bukanlah air baptisan atau tindakan dibaptis itu sendiri, tetapi kesediaan meninggalkan manusia lama dan hidup dalam hidup yang baru, tentu melalui proses pembelajaran Firman Tuhan dan kehidupan setiap hari dalam segala peristiwa yang dialami.
    Roma 1:7 mengisyaratkan bahwa dipanggil dan dijadikan orang kudus bukanlah proses sederhana yang terjadi oleh tindakan sepihak dari Allah, tetapi juga respon manusia dalam menerima pengudusan itu. Orang yang tidak mau selalu bertobat guna pembaharuan setiap hari adalah orang yang menolak pengudusan secara aktif oleh Roh Kudus dan Firman (Rm. 2:5, Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan). Dalam hal ini, apakah seseorang menjadi orang kudus dan berkenan kepada Allah atau tidak, tergantung kepada masing-masing individu pula.
    Allah tidak memaksa. Kalau seseorang mengeraskan hati tidak mau selalu bertobat, maka berarti ia tidak menerima anugerah pengudusan secara aktif. Ini juga berarti ia membuang dan menginjak-injak darah korban Tuhan Yesus atau tidak menghargai pengorbanan-Nya.
    0 min
  • Pengudusan
    Dalam Roma 1:7 tertulis, Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan   damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus. Kalimat penting dalam ayat ini adalah “dijadikan orang-orang Kudus”. Kalimat ini kalau dipahami keliru, maka kekeliruan tersebut berdampak fatal bagi proses keselamatan yang seharusnya berlangsung dalam kehidupan orang percaya. Oleh sebab itu, kita harus memahami dengan tepat benar hal pengudusan di dalam Tuhan. Terkait dengan hal ini, hendaknya kita tidak terbelenggu oleh pandangan yang sudah ada. Pandangan mengenai pengudusan yang sudah mengakar dalam doktrin gereja yang diakui sebagai kebenaran yang sejajar dengan Alkitab selama ini. Kita harus memperkarakan ini di hadapan Tuhan, agar kita menemukan makna ayat tersebut sesuai dengan pikiran Tuhan.
    Pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan Kekristenan adalah hal pengudusan. Kesalahan memahami hal pengudusan ini memengaruhi kualitas hidup orang percaya. Dipanggil dan dijadikan orang kudus yang ditulis oleh Paulus ini bukanlah proses otomatis. Kata “dijadikan” dalam Roma 1:7 mengesankan manusia pasif dan hanya Allah yang aktif. Harus dipahami dengan benar bahwa manusia adalah makhluk bebas yang harus meresponi anugerah. Manusia bukanlah robot yang keadaannya ditentukan atau digariskan oleh takdir.  Pengajaran takdir  adalah  pengajaran  yang  bertentangan  dengan  Alkitab,  serapan dari teologi atau pengajaran di luar Alkitab.
    Selama ini banyak orang berpikir bahwa disucikan atau dikuduskan adalah seperti sebuah bidang yang dibersihkan dengan sesuatu. Ini adalah pemahaman yang salah. Harus kita pahami bahwa konsep pengudusan yang disamakan  dengan pembersihan suatu bidang atau benda adalah konsep yang tidak tepat benar. Sejatinya, pengudusan berarti tindakan dari Allah oleh korban salib Kristus untuk menempatkan manusia pada status baru. Pengudusan mengubah keadaan, dari manusia sebagai pribadi yang berstatus sebagai orang bersalah menjadi orang yang dianggap tidak bersalah. Proses ini paralel dengan penebusan. Penebusan tersebut menempatkan manusia sebagai “dimiliki oleh Tuhan” untuk menjadi hamba Tuhan. Tetapi ini bukan berarti keadaan batiniah atau karakter manusia sudah berubah dengan sendirinya.
    Kalau pengampunan dosa berpusat atau menekankan pada keadaan manusia (yaitu kesalahan yang ditandai dengan bercak-bercak dosa), maka itu bukan  pengampunan  yang  theocentris  (berpusat  pada  Allah),  tetapi  anthropocentris  (berpusat pada manusia). Konsep seperti ini ada di dalam banyak agama pada umumnya. Pengampunan harus berpusat pada Allah (theocentris), yaitu menekankan atau terfokus pada  perasaan  Tuhan  yang  telah  dikhianati manusia. Oleh pengorbanan Tuhan Yesus murka Allah atas manusia diredakan tuntas. Di sini  manusia  mengalami pengudusan. Tetapi pengudusan ini barulah pengudusan secara pasif.
     
    Pengudusan oleh darah Tuhan Yesus atas hidup kita hendaknya tidak  dibayangkan seakan-akan setelah menerima pengudusan dalam hati kita, maka tidak ada lagi bercak-bercak hitam dosa sebab darah Tuhan Yesus membersihkannya, lalu merasa sudah suci. Jika dikuduskan oleh darah Tuhan Yesus atas semua perbuatan salah, diartikan bahwa seseorang sudah berkeadaan berkenan kepada Tuhan. Hal ini membuat banyak orang Kristen tidak berusaha untuk bertumbuh secara proporsional.
    Harus dipahami bahwa darah Tuhan Yesus tidak otomatis dapat mengubah natur atau kodrat dosa. Penyucian atau pengudusan secara pasif ini tidak membuat kodrat dosa seseorang seketika berubah menjadi kodrat Ilahi. Pengudusan atau penyucian oleh darah Tuhan Yesus (yang membuat status orang berdosa berubah) barulah pengudusan secara pasif. Kita sebagai orang-orang yang ditebus, dibenarkan dan memperoleh pengampunan dosa bersikap pasif.  Semua dikerjakan oleh Tuhan Yesus tanpa peran dan jasa kita sama sekali. Dengan pengertian ini,
    0 min
  • Dimiliki Oleh Dunia
    Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah, sesuai dengan kata iman yang dalam bahasa aslinya pisteuo (πιστεύω), artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya. Iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Aktivitas pikiran hanyalah sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Kesalahan banyak orang Kristen adalah merasa sudah percaya hanya karena memiliki pengaminan akali. Tidak heran kalau kehidupan mereka tidak menunjukkan karakter anak Allah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus.
    Iman adalah respon, respon terhadap Injil. Di dalam Injil terdapat tuntunan bagaimana mengisi hidup sebagai orang yang mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Tanpa tuntunan tersebut (Injil), seseorang tidak bisa mengisi percayanya atau imannya. Ini berarti seseorang tidak mungkin dapat memiliki iman tanpa memahami isi Injil. Terkait dengan hal ini, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. Dalam hal ini harus dipahami bahwa iman bukan sesuatu yang supranatural atau mistis, yang muncul atau ditimbulkan oleh Roh Kudus di dalam hati manusia. Iman timbul dari pendengaran terhadap Firman Tuhan (Rhema). Iman dapat eksis dalam kehidupan manusia oleh karena mendengar Injil (Logos) dan tuntunan Roh Kudus dalam perjalanan hidup (Rhema). Paulus memberitakan atau mengajarkan Injil itu dan Roh Kudus menuntun orang yang mau belajar atau yang meresponi pemberitaan Paulus.
    Kalimat supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya (Rm. 1:5), menunjukkan dengan sangat jelas bahwa respon individu sangat menentukan keselamatan mereka. Keselamatan tidak terjadi dengan sendirinya atau secara otomatis atau oleh karena faktor di luar diri manusia yang menentukan keselamatan itu. Dalam hal ini kita tidak boleh menerima keyakinan atau pandangan bahwa keselamatan masing-masing individu ditetapkan secara sepihak oleh Allah dalam kedaulatan-Nya. Yang benar adalah bahwa dalam kedaulatan-Nya Allah menentukan siapa yang mendengar Injil dan Tuhan juga menentukan standar kesuciannya. Dalam kedaulatan-Nya, Allah menentukan tatanan atau hukum kehidupan bahwa manusia dalam kehendak bebasnya menentukan takdirnya sendiri. Sama seperti yang terjadi di taman Eden. Adam memilih memberontak, tentu bukan karena Allah yang menentukan pemberontakan itu dengan menggerakkan Adam memberontak kepada Allah.
    Kalau seseorang berpendirian bahwa Allah menentukan segala sesuatu, berarti Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena Allah yang menentukan demikian, sehingga mereka gagal menuruti kehendak Allah. Ini berarti Allah yang merekayasa dosa itu sendiri. Jika hal ini benar, maka betapa jahatnya Allah tersebut. Tetapi yang benar, Allah telah memberi kehendak bebas kepada masing-masing individu untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau menolaknya. Selanjutnya apakah seseorang bersedia dimiliki oleh Allah atau memiliki dirinya sendiri juga tergantung dari kebebasannya. Untuk menyerahkan diri menjadi milik Tuhan juga harus melalui perjuangan yang berat. Mengapa demikian? Sebab selain daging dan ambisi jiwa kita mau berkuasa atas diri sendiri, keadaan dunia sekitar juga sering mendesak agar tidak memberi diri dimiliki oleh Allah.
    Menjadi milik Kristus bukan sesuatu yang bisa terjadi atau berlangsung dengan mudah. Mereka harus mempertahankan iman mereka dengan mempertaruhkan darah dan nyawa mereka. Kalau mereka masih merasa memiliki diri sendiri, tentu mereka tidak akan sanggup berlaku setia kepada Tuhan. Karena kesetiaan untuk dimiliki Kristus tersebut, maka mereka disebut sebagai umat yang lebih dari orang-orang yang menang. Orang yang menang adalah orang yang mengalahkan diri sendiri dengan menaklukkan dirinya kepada Tuhan. Sebaliknya, kalau orang mau menang sendiri, artinya orang yang hanya mau memuaskan keinginan daging dan ambisinya, menjadi orang yang kalah. Jemaat Roma disebut sebagai orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang artinya jemaat Roma lebih berharga dan lebih bernila...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…