Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menerima Panggilan
    Dalam Roma 1:1 tertulis: Paulus dipanggil menjadi rasul. Pernyataan ini menunjukkan bahwa hal menjadi rasul adalah panggilan khusus yang diberikan Allah kepada Paulus. Kata dipanggil dalam ayat ini teks aslinya adalah kletos (κλητός), yang artinya selain dipanggil juga berarti diundang (to be invited). Kata dipanggil dan diundang menunjukkan adanya kebebasan di mana yang dipanggil atau yang diundang dapat menerima atau menolak undangan tersebut. Hal ini bukan sesuatu yang dipaksakan atau ditentukan secara sepihak. Fakta historis mencatat bahwa Paulus menerima panggilan Tuhan untuk menjadi rasul-Nya. Dalam tulisannya kepada jemaat Galatia, Paulus menulis: Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik (Gal. 1:15-17).
    Dalam kemahatahuan-Nya, Allah menetapkan Paulus lahir di zaman penggenapan, ia harus berhadapan dengan Injil, karena ketulusannya membela Yahweh (dalam ketidaktahuannya, bukan karena kejahatannya), Tuhan memberi kesempatan menampakkan Diri kepadanya (Kis. 9:1-6). Adapun bagaimana reaksi atau respon Paulus terhadap panggilan-Nya, tergantung Paulus sendiri. Dalam tulisannya ia berkata: maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Atas inisiatif dari kebebasan individu ia bertindak tanpa intervensi siapa pun. Paulus merespon anugerah dengan sangat baik, sehingga panggilan Tuhan baginya untuk menjadi rasul dapat ditunaikan.
    Tugas Paulus sebagai rasul adalah memberitakan Injil, hal mana sama artinya dengan menjadi saksi. Di dalam Kisah Rasul 1:8 Tuhan Yesus jelas menyampaikan ketetapan-Nya, bahwa orang percaya harus menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi. Ujung bumi menunjuk semua tempat di mana manusia berdiri, karena bumi bulat. Menjadi saksi artinya memberi bukti bahwa berita Injil adalah benar; dapat dipercaya. Kata saksi dalam teks aslinya adalah martus (μάρτυς), yang artinya selain saksi juga menunjuk orang yang menyaksikan sendiri peristiwa yang terjadi. Menjadi saksi bukan hanya berarti bercerita atau mengucapkan kata-kata perihal sesuatu yang disaksikan, tetapi menjadi saksi berarti membuktikan bahwa sesuatu yang diberitakan atau dinyatakan sesungguhnya benar adanya.
    Dalam hidupnya, Paulus hanya memiliki satu-satunya agenda, yaitu hidup bagi Kristus (Flp. 1:21). Itulah sebabnya dalam kesaksiannya, ia menyatakan bahwa ia tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun asal bisa menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya (Kis. 20:18-24; 2Tim. 4:6-7). Dengan kapasitas kepribadian yang sangat baik tersebut, Tuhan memercayakan pekerjaan-Nya yang besar kepadanya. Dalam hal ini kepercayaan Tuhan kepada seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan-Nya tergantung dari seberapa besar kapasitas diri masing-masing individu anak Tuhan tersebut untuk dipercayai oleh Tuhan. Kapasitas diri ini tidaklah diukur dengan pendidikan semata-mata, kekayaan atau penampilan, tetapi sikap hati yang bersedia hidup sepenuhnya bagi Tuhan dengan karakter yang semakin seperti Kristus.
    Menyaksikan kehidupan Paulus, pernahkah kita memperkarakan tempat kita di hadapan Tuhan dalam pekerjaan-Nya? Kalau Paulus dipisahkan atau ditempatkan di tempat khusus bagi pekerjaan Tuhan sebagai rasul bagi orang kafir, bagaimana dengan kita masing-masing? Tuhan pasti memiliki rencana khusus dan istimewa kepada masing-masing kita pula. Tentu saja hanya orang-orang seperti Paulus yang tidak lagi mempertahankan nyawa dan kesenangan hidup yang dapat menemukan tempat khususnya da...
    0 min
  • Dikhususkan Bagi Tuhan
    Roma 1:1, Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Dari Roma 1:1 dikemukakan oleh Paulus bahwa dirinya adalah hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Tidak disebut dalam ayat ini kalimat “Injil Yesus”, tetapi Injil Allah (Theos) yang menunjuk kepada Bapa. Dari hal ini, dapatlah ditangkap kebenaran bahwa Bapa adalah Pribadi yang memprakarsai proyek keselamatan dengan mengirimkan Putra Tunggal-Nya. Oleh karenanya Bapa berhak dinyatakan sebagai pemilik Injil.
    Dari kalimat dalam Roma 1:1 bahwa Bapa pemilik Injil, maka nampak keterkaitannya dengan Yohanes 3:16 yang tertulis: Karena begitu besar kasih Allah (Theos) akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (Logos), supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Diberikan-Nya Anak Tunggal Bapa tersebut merupakan inti Injil (kabar baik). Dari hal ini juga tersingkap fakta Allah Tritunggal, bahwa Allah Anak (Tuhan Yesus) merupakan Pribadi yang tidak sama dengan Bapa. Pribadi yang dapat terpisah dari Bapa sehingga dapat menjadi utusan Bapa. Dengan demikian bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus bisa berseru: Eloi, Eloi lama sabakhtani (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?).
    Dalam hal pemberitaan Injil, Paulus adalah orang yang “dikuduskan” untuk memberitakan Injil tersebut. Pengertian dikuduskan di sini adalah “dikhususkan” atau juga berarti “dipisahkan”. Dalam teks aslinya (di ayat ini) kata dikuduskan adalah aphorismenos (ἀφωρισμένος); dari akar kata aphorizo (ἀφορίζω). Hal ini harus kita cermati. Biasanya untuk kata disucikan digunakan kata hagiazo (ἁγιάζω). Tetapi dalam Roma 1:1 menggunakan kata aphorizo. Kata ini memiliki pengertian yang tidak sama dengan disucikan dalam arti dibersihkan dari dosa.
    Kata aphorizo bisa sejajar dengan kata qadash  (שׁדַקָ) dalam bahasa Ibrani yang kata sifatnya adalah  qadosh (שׁוֹדקָ‭), ‬yang artinya selain menyucikan atau disucikan (sanctify), juga berarti “dipisahkan dari yang lain untuk digunakan”. Seperti perkakas di bait Allah yang dikuduskan, artinya dikhususkan atau dipisahkan dari yang lain untuk digunakan. Demikian pula dengan pribadi Paulus. Paulus dipisahkan untuk tugas khusus, yaitu memberitakan Injil ke luar wilayah Palestina. Dalam hal ini Paulus tidak seperti beberapa rasul lain yang menetap di Yerusalem. Itulah sebabnya rasul Paulus mendapat julukan sebagai “rasul untuk bangsa kafir”. Terjemahan “dikuduskan” dalam teks Bahasa Indonesia sebenarnya kurang tepat benar, tetapi penerjemah Alkitab kita memandang tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggantikan kata ini. Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan separate dan set apart yang artinya dipisahkan. Ada pula yang menerjemahkan chosen, yang artinya dipilih dan yang lain menerjemahkan take away artinya dibawa pergi.
    Kata aphorizo tidak keliru kalau diterjemahkan dengan “dikuduskan”, selama kita bisa memahami maksudnya. Tetapi harus hati-hati, kata “dikuduskan” jika disejajarkan dengan kata disucikan dalam pengertian secara umum, yaitu dibersihkan, bisa mengesankan seakan-akan untuk menjadi seorang pemberita Injil harus disucikan secara mistis atau secara supranatural. Padahal setiap orang percaya harus menjadi pemberita Injil sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ini. Jika dikuduskan diartikan dengan “dipisahkan” dari yang lain untuk digunakan, maka berarti orang percaya dibedakan dari yang lain untuk dipakai oleh Tuhan sebagai saksi-Nya. Maka berbicara mengenai pengudusan orang percaya, sesungguhnya menunjuk mengenai proses perubahan guna memiliki karakter Kristus atau mengenakan kodrat Ilahi.
    Pelayanan rasul Paulus selama ini diakui sebagai rasul yang menjungkirbalikkan dunia kekafiran. Ini adalah prestasi yang sangat luar biasa. Hasil atau buah pelayanan Paulus masih dapat dirasakan hingga hari ini.
    0 min
  • Born To Care
    Hari ini kita menemukan tema yang singkat tetapi menantang, yaitu “terlahir untuk peduli” (born to care) atau dilahirkan untuk peduli. Tentu secara historis, kalimat ini ditujukan bagi Tuhan Yesus yang lahir untuk peduli kepada manusia yang telah  jatuh dalam dosa. Oleh kepedulian-Nya, manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali Sang Khalik untuk mewarisi kerajaan-Nya. Kalau kita konsekuen sebagai anak Allah, kita tidak hanya menjadikan kalimat di atas sekedar pajangan, tetapi menjadi tema kehidupan kita. Seperti yang Tuhan Yesus kemukakan: Seperti anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat 20:27-28). Bukan untuk dipedulikan tetapi memedulikan. Untuk menjadikan kalimat ini sebagai tema kehidupan kita, ada pertaruhan yang sangat mahal. Pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Namun, sebelum lebih jauh memahami harga kepedulian yang harus menjadi hiasan hidup ini, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu kepedulian dan bagaimana memulainya?
    Kepedulian terhadap sesama harus dimiliki dengan “rasa atau naluri”, yang lahir dari kerelaan memberi diri. Dalam hal ini, hanya kita sendiri yang dapat menciptakannya, bukan Tuhan. Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing kita. Dalam Lukas 10:30-37, terdapat kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Di dalamnya, Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita siapa sesama manusia kita itu. Di dalam fragmen tersebut, juga disiratkan mengenai “kepedulian” yang lahir dari kesadaran yang murni dan tulus. Kepedulian tanpa pamrih yang sangat menakjubkan. Tentu imam dan Lewi yang dikisahkan dalam fragmen ini, secara teori sudah tahu bagaimana mengasihi sesama, mereka bukan tidak mengerti bagaimana memperhatikan atau memedulikan orang lain. Hal mengasihi sesama atau memedulikan orang lain adalah pokok-pokok pengajaran yang menghiasi bibir mereka. Tetapi, masalahnya adalah mereka tidak memiliki hati yang peduli kepada orang lain atau heart for the people. 
    Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kepedulian ini merupakan kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Selama ini, kita jumpai tidak sedikit orang Kristen yang “tidak tahu diri”. Sudah memiliki keselamatan oleh korban-Nya yang berharga, masih saja menuntut banyak hal kepada Tuhan. Kalau kita sudah boleh lepas dari api kekal, maka itu sudah cukup bagi kita. Hendaknya, kita menghayati betapa mahal keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Berangkat dari ini, maka muncul kerinduan untuk membalas kebaikan Tuhan. Orang Kristen yang mencari keuntungan duniawi atau Kristen oportunis tidak akan mengerti kepedulian ini. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus sangat mudah terjadi atau dilakukan.
    Naluri peduli terhadap orang lain akan menyala kuat, tatkala kita menghayati nilai keselamatan yang telah Tuhan berikan. Naluriah untuk memedulikan orang lain akan mengalir terus seiring dengan waktu dari hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kerinduan membalas kasih kepada Tuhan akan menggerakkan kita menyerahkan apa pun yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Kalau meminjam kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus, orang-orang seperti ini adalah mereka yang tidak menyelamatkan nyawanya sendiri. Dengan demikian, ia akan menjadi hamba Tuhan yang peduli terhadap kepentingan kerajaan Allah. Untuk ini, pertaruhannya adalah segenap hidup. Orang-orang yang rela mengorbankan diri seperti ini adalah orang-orang yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus tidak akan pernah dilakukan.
    Kepedulian yang kita selenggarakan harus mengacu kepada kepedulian Tuhan atau mencontoh kepedulian-Nya, sebab kepedulian Tuhan Yesus pasti sempurna.  Pertama, dasar kepedulian adalah kasih bukan upah. Hal ini telah dimiliki Paulus atau diperagakan olehnya ketika ia berkata: Ini upahku kalau aku boleh melayani tanpa upah (1Kor. 9:18) Kalau dasarnya upah,
    0 min
  • Objek Pelayanan
    Dalam Matius 25:31-46, ditunjukkan oleh Tuhan Yesus bahwa segala perbuatan baik yang telah kita lakukan bagi orang yang membutuhkan pertolongan sehingga membuat mereka mengenal Juruselamat dan dipersiapkan masuk Kerajaan Surga adalah perbuatan baik kepada Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa pelayanan yang benar dan nyata adalah perjalanan hidup kita setiap hari di tempat di mana kita menyelenggarakan hidup, misalnya: di rumah, toko, pasar, kantor, pergaulan, sekolah, kampus, dan lain sebagainya. Di tempat di mana setiap hari kita melakukan segala aktivitas kita, di sanalah pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan ini pasti jauh lebih berdampak. Harus diingat bahwa garam bukan hanya di toko, justru garam dibutuhkan di dapur, juga bukan di ruang tamu. Bila garam ditempatkan ruangan yang salah, akan tidak efektif sesuai dengan fungsinya. Garam di ruang tamu tidak berdampak. Garam justru berdaya guna di dapur atau ditempat di mana ia dibutuhkan. Gereja tidak terlalu membutuhkan orang Kristen yang berkiprah di dalamnya, tetapi justru di tengah-tengah masyarakat. Gereja hanyalah gudang garam.
    Pelayanan tanpa batas adalah pelayanan yang tidak dibatasi oleh cara, berarti bukan hanya kegiatan yang berbau gereja atau yang selama ini disebut sebagai kegiatan rohani. Pelayanan bukan hanya ada di sekitar gereja seperti berkhotbah, memimpin puji-pujian, menjabat sebagai staf pengurus gereja, guru sekolah Minggu, dan lain sebagainya. Segala kegiatan yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya adalah pelayanan (1Kor. 10:31). Pelayanan dapat dilakukan siapa pun tanpa membedakan status (pria wanita, kaya atau miskin, dari berbagai suku bangsa dan berbagai golongan). Di sini pelayanan bukan monopoli pejabat yang disahkan sinode sebagai pejabatnya.
    Dalam pelayanan yang penting adalah siapakah yang menerima pelayanan kita. Tentu jawabnya mudah, yaitu Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah semua yang kita lakukan benar-benar adalah ditujukan bagi Tuhan, sebab banyak orang yang tidak jujur dengan dirinya sendiri. Mulut mengatakan melayani Tuhan, padahal sebenarnya ia melayani dirinya sendiri. Hal ini terjadi berhubung dirinya belum bisa menyalibkan dirinya sendiri atau belum menurunkan dirinya dari takhta kehidupannya. Sehingga, Tuhan Yesus belum berkuasa atas hidupnya. Ia belum bertumbuh pada suatu kehidupan yang bernafaskan, “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Pelayanan yang benar hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar telah menyadari bahwa tujuan hidup ini satu-satunya adalah mengabdi kepada Tuhan (Flp. 1:21). 
    Oleh sebab itu, pelayanan yang benar harus dimulai dari kerinduan yang sungguh-sungguh untuk melakukan segala sesuatu untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, sehingga hati Tuhan dipuaskan dan disenangkan. Hal ini harus dipelajari dalam perjalanan hidup dari hari ke hari. Sampai suatu saat seseorang mengerti apa artinya hidup menghamba kepada Tuhan. Pelayanan harus dimulai dari diri sendiri, yaitu mengasihi diri sendiri seperti Tuhan mengasihi dirinya. Kemudian, berkembang menjadi mengasihi orang lain di sekitarnya seperti mengasihi diri sendiri. Orang di sekitarnya adalah siapa pun. Dari pasangan hidup, anak, orang tua, mertua, keluarga besar, pembantu rumah tangga, supir, dan setiap orang yang kita jumpai. Sebab, Tuhan mengasihi mereka dan mau menyelamatkan serta memberkati mereka.
    Tidak sedikit terdapat orang-orang Kristen yang cakap dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak mendatangkan keteduhan bagi sesama. Mereka rajin datang ke gereja dan di depan mata masyarakat menunjukkan sebagai seorang pembela agama Kristen. Tetapi dalam kehidupan setiap hari, perbuatan mereka tidak memberkati orang lain. Orang-orang seperti ini pada dasarnya belum melayani Tuhan. Dalam kasus-kasus tertentu, nampaklah karakter manusiawi mereka yang tidak berbelas kasihan terhadap sesama atau sewenang-wenang,
    0 min
  • Pelayanan Tanpa Batas
    Setelah melayani pekerjaan puluhan tahun, barulah saya menyadari benar apa yang dimaksud dengan pelayanan itu. Pada dasarnya, yang saya pahami mengenai pelayanan selama ini adalah apa yang saya lihat dari para pejabat gereja, aktivisnya, dan pendidikan teologi yang saya pelajari di sekolah tinggi teologi. Pengertian saya dulu mengenai pelayanan adalah kegiatan di sekitar gereja yang dilakukan oleh mereka yang memiliki legitimasi (pengesahan) untuk pelayanan, yaitu para pejabat gereja dan yang lulus dari sekolah Alkitab. Konsep saya mengenai pekerjaan pelayanan antara lain khotbah, memimpin puji-pujian, mengorganisir serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan gereja. Itulah sebabnya, kalau saya mengajak orang melayani Tuhan itu berarti ikut serta dalam kegiatan gereja. Konsep pelayanan yang tidak tepat  ini membatasi pelayanan secara utuh dan lengkap yang seharusnya dilakukan setiap orang percaya bagi Tuhan. Harus diingat, bahwa menyembah Allah harus dalam Roh dan kebenaran, artinya ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan dan waktu serta sistem yang dibuat manusia (Yoh. 4:24). Konsep yang salah mengenai pelayanan menutup peluang banyak  anak Allah untuk melayani pekerjaan-Nya, sehingga banyak orang-orang yang tidak pernah melayani Tuhan sepanjang umur hidupnya.
    Selama ini tanpa disadari telah bertahun-tahun terbangun “kerajaan manusia di dalam gereja” yang menjurus kepada “game” atau permainan manusia bukan pekerjaan Tuhan. Kegiatan orang Kristen hanya diakui telah mewakili pemerintahan Tuhan, apabila melakukan pekerjaan Tuhan di dalam gereja. Hal ini mengesankan bahwa tidak ada kegiatan di luar gereja yang merupakan kegiatan perwujudan pemerintahan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Dalam sejarah gereja telah tercatat kesalahan ini (Mat. 23:15).  Para pejabat gereja mengambil keuntungan materi dan non materi dari konsep yang salah tersebut. Mereka menjadi sangat berkuasa mendominasi kehidupan umat dan memanipulasi kehidupan umat untuk kepentingan pribadi dan institusi dengan menggunakan nama Tuhan. Sebagai akibatnya, terbentuk strata dalam gereja, strata pelayan Tuhan dan bukan pelayan Tuhan. Timbul konsep pekerjaan gereja dan pekerjaan dunia, imam dan awam.
    Hari ini kesalahan tersebut terulang. Dengan munculnya nabi-nabi palsu yang mengatasnamakan Tuhan, mengajarkan ajaran-ajaran yang sebenarnya tidak Alkitabiah mempengaruhi umat untuk tenggelam dengan kegiatan gereja, seolah-olah itulah yang disebut sebagai mencari dan melayani Tuhan untuk menjadi umat yang berkenan kepada-Nya guna meraih berkat jasmani dan sorga. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, kegiatan gereja baru sebagian dari usaha untuk mencari dan melayani Tuhan.
    Kerajaan manusia di dalam gereja harus diganti menjadi Kerajaan Tuhan, artinya bahwa pemerintahan Tuhan harus terselenggara dalam kehidupan orang percaya dalam seluruh kegiatannya, bukan hanya dalam lingkungan gereja. Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas. Pelayanan tanpa batas artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya (Gal. 1:10). Ini adalah pelayanan yang tidak dibatasi oleh ruangan, berarti bukan hanya di lingkungan gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tempat pelayanan orang percaya adalah seluruh wilayah di mana mereka dapat menyelenggarakan hidup bagi kepentingan sesama.
    Dalam hal ini, kita harus belajar apa yang dimaksud dengan ibadah. Ibadah atau yang di lingkungan gereja juga sering disebut sebagai kebaktian bukan hanya terselenggara di gereja, tetapi di manapun orang percaya berada harus beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1, ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Ini berarti ketika seseorang menggunakan seluruh potensi dalam kehidupannya untuk kepentingan Tuhan berarti itulah ibadahnya. Untuk Tuhan bukan berarti hanya ditujukan bagi kegiatan gereja,
    0 min
  • Melayani Dari Hati Tuhan
    Harus dengan rendah hati kita kembali merumuskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan pelayanan itu? Untuk menemukan rumusannya kita harus terlebih dahulu memperkarakan: Apakah rencana Allah dalam dunia ini, bagaimana turut mewujudkan rencana tersebut, dan kualifikasi apakah yang harus dimiliki seorang pelayan Tuhan. Sesungguhnya, rencana Allah pada dasarnya adalah mempersiapkan suatu umat yang akan mengelola alam ciptaan-Nya di langit dan bumi yang baru. Hal ini merupakan pemenuhan maksud penciptaan alam semesta. Tuhan menciptakan langit dan bumi yang pertama dengan sempurna. Tuhan juga akan menciptakan langit dan bumi yang baru dengan sempurna, tempat di mana kita akan bersama dengan Tuhan selama-lamanya.
    Pelayanan adalah proyeksi persiapan memerintah bersama dengan Kristus. Umat yang dipersiapkan adalah umat yang hendak dibentuk atau diproses menjadi seperti yang Tuhan kehendaki, yaitu manusia yang sempurna. Tentu, masing-masing individu di sini memiliki tempatnya masing-masing (Mat. 20:23). Sehingga sebenarnya sejak dilahirkan, setiap orang telah memiliki tempat yang dipersiapkan Allah baginya untuk mengabdi. Jadi, pelayanan adalah usaha untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya. Untuk ini Tuhan sudah memberikan Roh-Nya dan Firman sebagai penuntun. Roh dan Firman tersebut adalah kuasa atau hak (Yun. exousia) supaya menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu juga menuntun orang percaya bagaimana dapat melayani Bapa dengan benar.
    Setiap orang Kristen harus ada di dalam pelayanan. Sebab, amanat agung Tuhan Yesus tidak hanya ditujukan kepada sekelompok orang saja. Respon terhadap tanggung jawab hidup itu, kita memiliki panggilan masing-masing di tempat di mana kita harus berada. Dalam hal ini, semua orang percaya adalah utusan Tuhan. Adapun panggilan menunjuk kepada fungsi orang percaya dalam pelayanan tersebut. Karena, setiap orang memiliki fungsi berbeda. Hal ini dinyatakan oleh Paulus mengenai satu tubuh tetapi banyak anggota (1Kor. 12:12-18). Orang percaya harus menemukan tempat di mana ia dapat berkarya bagi Tuhan sebagai responnya. Untuk menggenapi rencana-Nya, Tuhan menempatkan masing-masing individu pada tempat yang khusus. Itulah panggilan tersebut. Masing-masing orang percaya pasti memiliki panggilan yang khas, khusus, dan benar-benar spesifik. Dengan demikian, yang bertanggung jawab dalam pelayanan atau hidup dalam misi Bapa bukan hanya para rohaniwan.
    Ketika Tuhan Yesus mengajak Matius pemungut cukai untuk mengikut Dia, Matius harus meninggalkan rumah cukainya (Mrk. 2:13-17), tetapi dalam Lukas 19:1-10, Zakheus yang menerima tawaran mengikut Yesus tidak harus meninggalkan rumah cukainya, ia tetap menjadi pemungut cukai. Tentu praktik-praktik fasik atau segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan dalam pekerjaannya harus ditanggalkan. Di sisi lain ketika orang gila di Gadara hendak mengikut Yesus menjadi seperti murid-murid yang lain, Tuhan Yesus melarangnya. Mengapa? Sebab setiap orang memiliki tempat yang berbeda (Luk. 8:39).
    Itulah sebabnya suatu pekerjaan dikategorikan sebagai pekerjaan duniawi atau rohani bukan tergantung jenis pekerjaan tersebut tetapi motivasi dan tendensi pekerjaan itu diselenggarakan. Jadi, ladang Tuhan itu bukan hanya menyangkut pekerjaan-pekerjaan yang berada di lingkungan gereja tetapi segala sesuatu yang mendukung pelebaran Kerajaan Allah atau bernuansa misi Bapa adalah ladang Tuhan. Dengan demikian, setiap orang percaya dengan yakin melakukan pekerjaan masing-masing sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, dokter, kontraktor, suster, dan lain-lain untuk kemuliaan Allah. Adapun seorang yang disebut penginjil yang menjadi utusan Injil dapat dikategorikan sebagai panggilan khusus. Bagi kita yang mendapat beban pelayanan di gereja harus fokus di pelayanan ini dan mengembangkannya secara maksimal.
    Jika setiap orang percaya memahami rencana Allah yang agung ini dan keterlibatannya dalam pelayanan, maka tidak pernah ada usaha manipulatif dalam pelayanan...
    0 min
  • Motivasi
    Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata “motivasi”. Biasanya, kata “motivasi” dalam lingkungan gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus.  Kita harus membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, sebab hal ini sangat terkait dengan hal menjual nama Yesus. Motivasi berasal dari kata dalam bahasa latin  “movere” yang artinya bergerak. Kata “movere” memberikan kesan yang jelas atau menunjuk  sesuatu yang aktif, dinamis, dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata ”motivasi” berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu.
    Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang kompleks dan tidak dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, motivasi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya, kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dideskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere.
    Dengan penjelasan di atas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya, bisa dikatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya, motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Seorang penulis buku mengenai motivasi mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga, dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka mencapai tujuan.
    Sejajar dengan ungkapan pernyataan di atas,  penulis lain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek, demi tercapainya sebuah  tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya. Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi,  seorang penulis buku lain mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan.
    Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi, maka tujuannya pun menjadi tidak jelas. Di sini, nyatalah  bahwa motivasi adalah daya penggerak seseorang mencapai tujuan. Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepada-Nya secara tak terbatas. Di luar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan dalam api kekal.
    Untuk memiliki motivasi yang benar seseorang harus memiliki gambaran yang utuh dan lengkap mengenai kebenaran Tuhan. Gambaran yang lengkap dan utuh tersebut membangun cara berpikirnya. Cara berpikir inilah yang menjadi penentu isi m...
    0 min
  • Melayani Adalah Suatu Kehormatan
    Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kehormatan itu? Kata kehormatan sejajar dengan kata mulia. Kehormatan berarti dihargai, dijunjung tinggi, dipandang luhur. Dalam bahasa Yunani kata hormat adalah tima, kata ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan honour, value. Pengertian kehormatan bisa relatif, sebab perspektif masing-masing orang terhadap pengertian tinggi, luhur, mulia, dan agung berbeda-berbeda. Hal ini tergantung konsep hidup atau filosofinya mengenai hidup. Kehormatan sebenarnya tidak bisa relatif kalau kita menggunakan parameter sudut pandang Tuhan, sebab ukuran inilah yang mutlak dan absolut. Kehormatan seorang hamba menunjuk kepada keluhuran, kemuliaan dan keagungan seorang hamba, dalam kedudukan, pangkat, dan martabat. Masalahnya adalah apakah seorang hamba dapat dikatakan terhomat? Jawabnya adalah bisa, bila ukuran yang digunakan adalah perspektif Tuhan atau cara memandang Tuhan.
    Dalam Alkitab, kita sering dapati bahwa perspektif atau cara Tuhan memandang paradoks dengan perspektif manusia, misalnya dalam Lukas 22:26-27: Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Dalam kesempatan lain, Tuhan Yesus berkata: Barangsiapa yang meninggikan diri ia akan direndahkan, tetapi barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.
    Dalam hal ini, keangkuhan hidup adalah musuh besar seorang pelayan Tuhan. Inilah bahaya yang telah menjerumuskan banyak hamba Tuhan, yaitu pride atau harga diri. Untuk ini, seseorang harus benar-benar merasa tidak bernilai, kecuali di hadapan Tuhan. Untuk menjadi percaya yang benar tidak boleh mencari hormat (Yoh. 5:44). Tuhan Yesus menjadi prototype Pribadi yang patut disebut terhormat, yaitu ketika Ia menjadi hamba. Prinsip penghambaan Tuhan Yesus dirumuskan dalam Filipi 2:5-8: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 
    Berita utama yang terdapat dalam ayat-ayat ini adalah kesediaan Tuhan Yesus “melepaskan hak”. Ini adalah rahasia bagaimana seseorang menjadi hamba yang memiliki kehormatan dalam perspektif Allah. Demi pekerjaan Bapa, yaitu penyelesaian tugas kemesiasan-Nya, Tuhan Yesus melepaskan segala hak-Nya. Melepaskan hak artinya “rela” tidak menikmati apa yang menjadi bagian atau haknya atau “rela” melepaskan apa yang menjadi miliknya demi kepentingan kerajaan Allah. Hak-hak tersebut antara lain hak untuk dihormati, dikasihi, diperlakukan adil, menikmati milik sendiri, dan lain sebagainya. Orang yang rela melepaskan hak adalah adalah orang yang melayani Tuhan. Sebenarnya setiap orang percaya harus sudah kehilangan hak. Sebab penebusan oleh Tuhan Yesus di satu aspek berarti dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, dan surga disediakan. Tetapi di aspek lain,  penebusan oleh Tuhan Yesus berarti menandakan kita menjadi milik-Nya. Oleh karena kita menjadi milik-Nya, kita kehilangan kedaulatan hidup dan kehilangan segala hak. Oleh penebusan kita menjadi milik Tuhan sepenuhnya; kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Sebagai pengikut Kristus kita harus mengikuti jejak-Nya. Sebagaimana Ia melepaskan hak-Nya, maka kita pun harus melepaskan hak-hak kita demi Kerajaan Surga.
    Melepaskan hak juga berarti tidak lagi berkuasa mengatur diri sendiri. Dalam kehidupan sebagai anak tebusan, hidup kita berada dalam pengaturan Tuhan yang membuat kita sungguh-sungguh dapat memuliakan Tuhan (Yoh. 21:18-19).
    0 min
  • Kehilangan Segala Sesuatu
    Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak-Nya. Untuk mengerti jejak-Nya, seseorang harus belajar secara mendalam dan lengkap apa yang ditulis di dalam Injil; semua yang diajarkan Tuhan Yesus dan tulisan para rasul. Tidak memahami Injil-Nya dengan benar berarti tidak pernah mengikut Dia, berarti pula tidak pernah menjadi orang percaya yang benar. Orang-orang Kristen seperti ini tidak pernah memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Mencapai model manusia seperti Tuhan Yesus Kristus harus melalui pergumulan berat yang menyita seluruh hidup dan perhatian kita. Hal ini akan menciptakan “dunia sendiri” yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
    Bila orang Kristen mencapai level mengenakan gaya hidupnya Tuhan Yesus, maka inilah stadium memuaskan hati Bapa. Jarang sekali orang menggumuli hal ini dan berhasil mencapainya. Kalau pun mereka menggumuli hal-hal yang bertalian dengan karakter, karena mereka mau mencapai karakter yang baik di mata manusia, bukan sempurna seperti Bapa. Untuk proses menjadi sempurna seseorang harus mempertaruhkan segenap hidup. Tidak bisa setengah-setengah. Tuhan Yesus mengatakan apabila seseorang hendak mengikut Dia, harus rela melepaskan diri dari segala miliknya (Luk. 14:33). Melepaskan diri dari segala milik artinya bersedia meninggalkan segala pola berpikir dan filosofinya. Tanpa keberanian ini, seseorang tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang sejati. Oleh sebab itu, kalau seseorang menyatakan menjadi orang Kristen harus mempertaruhkan segenap hidupnya, atau tidak sama sekali.
    Untuk mengembangkan diri agar siap kehilangan apapun dan siapapun, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah seseorang harus mengerti benar apakah hidup itu sesungguhnya. Jika seseorang tidak mengerti maka ia tidak akan rela kehilangan apa yang dia pikir adalah haknya. Padahal, ketika seseorang ditebus oleh darah Tuhan maka segala sesuatu adalah milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Belajar mengenai kebenaran hidup akan membawa kita kepada kesadaran bahwa hidup ini singkat dan kita tercipta hanya untuk Tuhan, bahkan kekosongan jiwa kita hanya bisa diisi oleh Tuhan, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat kita rela melepaskan genggaman kita atas segala sesuatu. Tuhan Yesus berfirman bahwa dengan mengerti kebenaran seseorang dapat dimerdekakan.
    Banyak orang yang tidak mengambil keputusan atau mungkin menundanya. Hidup mereka dihanyutkan dengan banyak perkara. Disibukkan dengan banyak kesenangan hidup ini. Di antara mereka ada yang berpikir bahwa suatu hari nanti akan memilih, padahal seiring dengan perjalanan waktu, hati mereka menjadi keras dan tidak akan sanggup memilih untuk dimiliki oleh Tuhan. Kalau seseorang mau dimiliki Tuhan, ia harus masuk proses penyaliban daging dengan segala hawa nafsunya (Gal. 5:24-25). Menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya berarti meninggalkan pola pikir yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ingat bahwa pikiran seseorang yang mengontrol orang tersebut. Tuhan mau memiliki dan menguasai kita (karena kita memang milik-Nya), tetapi Tuhan tidak bisa memiliki kita karena kita mau memiliki diri sendiri. Untuk itu, kita harus belajar prinsip-prinsip kebenaran Injil. Pikiran yang dipenuhi kebenaran Injil akan membelenggu seseorang. Belenggu itu membuat seseorang dimiliki Tuhan. Sebaliknya, ketika pikiran seseorang dipenuhi dengan berbagai kesenangan dan filosofi dunia, maka ia dibelenggu oleh pikirannya tersebut sehingga dimiliki kuasa kegelapan.
    Sebenarnya, setiap orang percaya harus sudah kehilangan hak. Sebab penebusan oleh Tuhan Yesus di satu aspek berarti dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, dan surga disediakan. Tetapi di aspek lain,  penebusan oleh Tuhan Yesus berarti kita menjadi miliknya. Kita kehilangan segala hak hidup sendiri (1Kor. 6:19-20). Sama seperti seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan, maka tuan ini yang berhak penuh atas budak tersebut.
    0 min
  • Tidak Diminati Banyak Orang
    Ketika kekristenan diajarkan sebagai jalan yang mudah, maka nama Yesus dapat dijual untuk kepentingan peribadi. Mereka yang sesat tersebut mengajarkan bahwa Yesus datang untuk menyembuhkan penyakit, menyelesaikan masalah ekonomi, memberi sukses (orang-orang Kristen yang adalah anak-anak Allah dapat menjadi kepala, bukan ekor), membuka rahim yang mandul, dan lain sebagainya. Dengan hal ini nama Yesus dapat dijual, sebab mereka dapat menawarkan berkat-berkat jasmani dengan menggunakan nama Yesus. Hal ini sudah menjadi standar bertahun-tahun bahkan berabad-abad dalam banyak pelayanan gereja. Pada dasarnya, mereka membuka “lapak jasa” bagi jemaat dengan menggunakan kuasa mukjizat milik Tuhan Yesus. Biasanya, semboyan yang digunakan adalah “Tuhan Yesus baik dan Dia tidak berubah”. Pada dasarnya, mereka menjual nama Yesus dalam kegiatan rohani. Mereka tidak memahami apa dan bagaimana yang baik dalam diri Tuhan Yesus tersebut. Mereka juga tidak tahu hal apa yang tidak berubah dalam diri Allah Anak tersebut.
    Jemaat harus disadarkan bahwa kekristenan adalah proses kehidupan untuk menjadi seperti Tuhan Yesus atau mengenakan gaya hidup-Nya. Ini berarti orang percaya harus memiliki karakter seperti Anak Tunggal Bapa ini. Untuk memiliki karakter Tuhan Yesus adalah sesuatu yang sangat sukar, bahkan mustahil. Tetapi yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa kekristenan bukanlah agama tetapi jalan hidup. Di dalam kekristenan, yang penting bukanlah liturgi seremonial seperti yang ditekankan oleh banyak agama, tetapi menyelenggarakan suatu gaya hidup yang pernah dikenakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging seperti manusia di bumi ini dua ribu tahun yang lalu.
    Hampir semua manusia menjalani hidupnya hanya untuk memiliki sebuah kehidupan  seperti yang diinginkan. Kehidupan yang diinginkan adalah gaya hidup yang telah diwarisi dari orang tua dan pengaruh manusia di sekitarnya. Sebuah gaya hidup standar yang dikenakan hampir semua manusia. Banyak orang menjalani hari hidup hanya untuk sebuah gaya hidup yang berstandar demikian. Mereka memperjuangkan mati-matian tanpa batas untuk meraih dan mempertahankan eksistensinya. Untuk meraih gaya hidup wajar di atas dan mempertahankan eksistensinya, manusia memeluk suatu agama.
    Sejatinya, orang-orang yang disebut di atas hanya beragama guna berurusan dengan “yang dipercaya sebagai pelindung” demi gaya hidup tersebut, dan mempertahankan eksistensi kehidupan di bumi menurut standar manusia yang telah kehilangan maksud dirinya diciptakan oleh Allah. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan bukan karena urusan Tuhan sendiri, bukan untuk kehendak dan rencana Tuhan, tetapi urusannya sendiri atau kemuliaannya sendiri. Apabila seseorang berurusan dengan Tuhan, yang harus dipersoalkan adalah maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan Tuhan untuk mengabdi kepada-Nya. Jadi, orang mencari dan berurusan dengan Tuhan haruslah didasarkan pada azas devosi (mengabdi dan beribadah). Hal ini juga merupakan sebagai persiapan untuk hidup kekalnya nanti di langit baru dan bumi yang baru, bukan hidup di bumi hari ini saja. Orang yang tidak mengabdi kepada Tuhan di bumi ini, tidak akan pernah mengabdi selamanya kepada Tuhan.
    Banyak hamba Tuhan dan pendeta yang mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk mengarungi kehidupan di bumi ini. Tuhan Yesus dikampanyekan sebagai penawar segala kesulitan hidup bagi mereka yang ada dalam masalah ekonomi, kesehatan, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dijanjikan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar dengan gampang dengan dasar bahwa Tuhan baik dan berkuasa. Mata mereka buta terhadap hal yang lebih besar dari sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani yang fana di bumi ini. Mereka tidak mengerti maksud utama kedatangan Tuhan Yesus di bumi. Dalam kebodohan ini, mereka sangat besar berpotensi menjual nama Yesus.
    Kalau kekristenan diajarkan dengan benar,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…