Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjual Nama Yesus Dengan Menjanjikan Surga
    Adalah indah kalau seorang hamba Tuhan atau seorang pendeta menjanjikan surga kepada jemaat dengan atau melalui pengajaran Firman Tuhan, agar jemaat hidup di dalam kebenaran yang diajarkan tersebut. Sebenarnya, bukan hamba Tuhan atau pendeta tersebut yang menyediakan surga dan berhak memberi janji membawa jemaat ke surga. Tetapi, janji membawa jemaat ke surga berarti hamba Tuhan atau pendeta tersebut benar-benar berusaha untuk memahami kebenaran secara progresif dan mengajarkan kepada jemaat. Selain itu, hamba Tuhan atau pendeta tersebut bersedia berubah terus untuk menjadi seperti Yesus guna dapat dijadikan teladan bagi umat Tuhan. Umat dapat menemukan sosok atau profil dari “manusia Allah” (man of God) yang layak menjadi anak-anak Allah.
    Seorang hamba Tuhan atau pendeta harus berani berkata “ikutilah teladanku, sama seperti aku mengikuti teladan Yesus”. Akhirnya, seorang hamba Tuhan atau pendeta yang baik dapat dan berani berkata bahwa seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang, maka keberadaan Yesus seperti dirinya. Dirinya menjadi model pribadi Yesus yang bangkit di zaman ini. Dengan demikian, seorang hamba Tuhan atau pendeta bisa berkata “hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Pelayanan pendeta seperti ini juga bisa menargetkan, bahwa setelah seseorang menjadi anggota jemaat gereja yang dilayani dan mengikuti jejak hidupnya, maka karakternya diubah seratus delapan puluh derajat.
    Tidak sedikit hamba Tuhan atau pendeta yang menjanjikan jemaat dibawa ke surga. Tetapi, ia tidak mengajarkan kebenaran yang dapat mengubah hidup jemaat. Pemberitaan Firmannya hanya sekitar mukjizat dan kesembuhan ilahi. Bisa dipastikan pemberitaan Firmannya tidak progresif. Kalau ia memperkenalkan dirinya, maka yang diperkenalkan adalah kelebihan-kelebihannya secara lahiriah, sukses atau keberhasilannya dalam dunia sekuler. Secara tidak langsung, ia mau mengatakan bahwa kalau jemaat mengikuti dirinya, maka jemaat itu akan sukses dan terhormat seperti dirinya.
    Pelayanan pendeta seperti di atas ini, tidak pernah bisa menargetkan bahwa setelah seseorang menjadi anggota jemaat gereja yang dilayani dan mengikuti jejak hidupnya, maka karakternya dapat diubah seratus delapan puluh derajat. Tetapi, yang ditargetkan atau dijanjikan adalah para jemaat mendapatkan jodoh yang selama ini dinanti, bagi jemaat yang mandul akan dapat keturunan, yang tidak memiliki rumah dapat memiliki rumah, yang penghasilannya rendah akan mendapat penghasilan yang lebih banyak (sebab kutuk kemiskinan dipatahkan), sepanjang umur hidupnya tidak akan pernah mengalami pisau operasi, bisa memiliki panjang umur, berhasil dan berprestasi dalam studi, dan lain sebagainya. Semua targetnya pasti berkutat pada berkat jasmani. Kalaupun berbicara mengenai kekudusan, maka kekudusan yang dimaksud hanya sekitar kejujuran, tidak berzinah secara umum, dan standar kekudusan umum lainnya. Padahal, Tuhan menghendaki agar orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Kalau gereja tidak sungguh-sungguh mengajarkan kebenaran dan tidak ada contoh bagaimana profil anak Allah itu, maka sulitlah pelayanan itu diselenggarakan dengan motif yang murni. Pasti ujung-ujungnya atau motifnya juga adalah uang. Mereka menjual nama Yesus dengan menjanjikan surga. Padahal, tidak mudah untuk bisa masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk masuk surga atau diselamatkan harus masuk pintu yang sesak. Sebab banyak yang berusaha masuk tetapi tidak dapat (Luk. 13:23-24). Mereka yang tidak mengerti kebenaran ini akan mengesankan bahwa masuk surga itu mudah. Sebaliknya, yang menjadi fokus masalah adalah kebutuhan hari ini seperti mandul, persoalan ekonomi, sakit penyakit, karir, dan lain sebagainya. Padahal, semua masalah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita ditujukan bagi kebaikan kita agar kita serupa dengan Yesus.
    Pelayanan yang menekankan kebutuhan jasmani yang biasanya menggunakan sarana kuasa mukjizat,
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Persepuluhan
    Di kalangan gereja-gereja Kharismatik dan Pentakosta, persembahan persepuluhan merupakan pilar penting untuk menopang pelayanan. Oleh sebab itu, dengan segala cara gereja dan para pembicaranya (hamba Tuhan atau pendeta) memodifikasi khotbah dan pengajaran mengenai persepuluhan agar jemaat menyerahkan persepuluhan sebagai kewajiban yang tidak boleh tidak dilakukan setiap bulan. Pernyataan ini bukan bermaksud menentang persepuluhan. Tetapi, kita harus menempatkan persepuluhan secara proporsional dalam kehidupan umat pilihan Perjanjian Baru. Untuk ini secara sekilas kita memahami apa sebenarnya persepuluhan itu.
    Persepuluhan yang dipraktikkan di Israel adalah praktik yang diselenggarakan pada masyarakat “theokrasi”, di mana hukum Taurat yang ketat diselenggarakan dalam hidup umat Israel. Hukum Taurat mengatur hidup bukan hanya umat, tetapi juga para imam. Penyelenggaraan atau pengelolaan persembahan persepuluhan dilaksanakan dengan aturan yang jelas, tentu juga transparan berdasarkan Taurat Yahudi yang sangat kompleks. Persepuluhan yang mereka bawa kepada Tuhan adalah hasil bumi mereka untuk berbagai objek yang menerima persepuluhan itu antara lain: persepuluhan untuk Bait Suci, untuk orang Lewi, untuk pesta pondok Daud, untuk anak yatim piatu, dan orang asing yang tidak mampu.
    Ketika bangsa Israel menaklukkan Kanaan, Tuhan membagi tanah-tanah taklukan itu untuk semua suku Israel, kecuali suku Lewi (Ul. 14:27-29; Bil. 18:24; Ibr. 7:5). Suku ini diberi perlakuan berbeda oleh Tuhan. Mereka dijadikan pelayan-pelayan di Bait Allah dan menyelenggarakan ritual dalam rumah Tuhan. Sehingga, mereka tidak bekerja seperti suku-suku lainnya. Kehidupan mereka ditopang oleh persepuluhan yang diberikan suku-suku Israel lainnya yang bekerja dalam sektor agraria dan peternakan. Ini sebuah “keadilan sosial” bagi seluruh bangsa Israel. Tuhan sangat bijaksana mengatur keadilan sosial tersebut.
    Dalam kehidupan gereja Tuhan yang tidak theokrasi, yaitu ketika seorang rohaniwan terjerat oleh percintaan dunia, persepuluhan menjadi senjata Iblis membunuh kehidupan iman, yaitu kehidupan iman rohaniwan tersebut. Hal ini harus disadari oleh para rohaniwan yang merasa memiliki hak mutlak mengelola persepuluhan tanpa kontrol siapapun. Oleh karena tidak ada peraturan yang jelas dalam pengelolaan persembahan persepuluhan ini di gereja, maka beberapa pemimpin jemaat dengan semena-mena menggunakan berdasarkan “manajemen pribadi”. Akibatnya, tujuan persembahan jemaat menjadi meleset. Hal ini sangat merugikan perkembangan pekerjaan Tuhan dan kehidupan rohani. Tentu, untuk pengumpulannya mereka menggunakan nama Tuhan agar jemaat “gentar” kalau tidak membayarnya.
    Di pihak lain, bisa terjadi kemungkinan keluarga pendeta tergoda untuk menggunakan persepuluhan sembarangan. Seakan-akan gereja adalah sebuah kerajaan dan gembala sidang sebagai rajanya serta keluarga pendeta adalah keluarga kerajaan. Seolah-olah semua kekayaan kerajaan berhak mereka nikmati secara mutlak. Padahal, seharusnya penggunaan persepuluhan harus dalam kontrol beberapa atau banyak hamba Tuhan yang dapat dipercayai Tuhan dengan sistem audit yang tertib dan jujur.
    Ini yang membuat keluarga pendeta menjadi jutawan atau milyarder, sementara kepentingan pekerjaan Tuhan dapat terabaikan. Kepentingan pekerjaan Tuhan antara lain pelebaran penginjilan, bantuan kepada kaum miskin, dan lain sebagainya. Sangat tidak adil kalau seorang pendeta mengklaim bahwa persepuluhan adalah haknya. Atas dasar apakah tuntutan tersebut kalau bukan atas dasar keserakahan dan naluriah “dilayani”, bukan melayani. Kalau mereka beralasan bahwa seorang rohaniwan adalah seorang imam atau semacam golongan Lewi yang berhak menerima persepuluhan, benarkah hal ini? Bukankah semua orang percaya adalah imamat-imamat yang rajani (1Ptr. 2:9). Dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi sistem jabatan imam seperti dalam Perjanjian Lama. Jadi, persepuluhan yang menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan yang d...
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Persembahan
    Kita mengerti bahwa gereja dengan segala bentuk pelayanannya, membutuhkan banyak dana. Tentu saja, jemaat harus bertanggung jawab atas segala kebutuhan gereja. Kalau bukan jemaat siapa lagi? Itulah sebabnya, gereja harus menyuarakan beban kebutuhan gereja kepada jemaat, mengajar serta mengarahkan jemaat untuk memberi persembahan. Tetapi, satu hal yang harus dicatat baik-baik, bahwa jemaat harus terlebih dahulu diajar memahami mengapa mereka harus memberi. Harus diajarkan kepada jemaat bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan.
    Umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus masuk kepada wilayah hidup “tidak memiliki diri sendiri”. Kebenaran ini terdapat dalam berbagai bagian dalam Alkitab (Luk. 14:33; 1Kor. 6:19-20; 2Kor. 5:14-15). Kalau kita sudah mulai bermain hanya di wilayah “memberi sebagian uang kecil”, kita tidak akan pernah menemukan kehidupan yang “sepenuhnya” diserahkan kepada Tuhan. Sebab dengan bermain di wilayah ini saja, kita akan terjerumus pada pembagian kavling, di mana ada kavling yang disebut kavlingnya Tuhan dan kavling kita. Di sini, jemaat Tuhan terdidik menjadi bukan saja pencuri, tetapi juga “pemberontak” di hadapan Tuhan. Sejatinya, kita sudah tidak memiliki kavling lagi.
    Bagi anak-anak Tuhan memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan berapa besarnya, berupa apa pun, bukanlah berdasarkan keinginannya sendiri, tetapi harus dilandasi kasih dan komando Roh Kudus. Kasih lebih mulia (luhur) dari hukum Taurat (1Kor. 13:3 dan Rm. 12:8). Bagi umat Perjanjian Baru, segenap hidupnya adalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan bagi kepentingan Tuhan (Rm. 1:1-2).
    Kita harus dalam suatu kesadaran bahwa kita adalah kasir Tuhan yang dipercayakan mengelola milik-Nya. We are not the owner, but we are just a manager. Jadi, kita harus bersedia menyerahkan apa pun dan berapa pun yang Tuhan kehendaki untuk diserahkan. Dalam lingkungan anak-anak Tuhan, pengertian persembahan harus dipahami dengan tepat. Persembahan bukanlah memberi, tetapi mengembalikan. Kebenaran ini dapat kita peroleh melalui pernyataan Paulus dalam surat 1 Korintus 6:19-20, bahwa kita bukan milik kita sendiri. Kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar, yaitu dengan darah-Nya. Kita sama sekali tidak berhak atas diri kita. Apa pun yang kita miliki adalah milik Tuhan. Gereja harus mengajar bukan memberi bagi Tuhan tetapi mengembalikan milik Tuhan.
    Banyak gereja karena takut kekurangan dana, melakukan intimidasi kepada jemaat agar mereka memberi persembahan secara patut menurut ukuran pendeta.  Intimidasi tersebut berupa ancaman seperti adanya belalang pelahap yang akan merusak bisnis dan usaha mereka kalau tidak memberi persembahan. Intimidasi tersebut sampai tingkat pernyataan bahwa jemaat bisa dikutuk kalau tidak memberi persembahan. Di pihak lain, hamba Tuhan atau pendeta “mengiming-imingi” berkat yang lebih berlimpah kalau mereka memberi persembahan. Persembahan dipandang sebagai usaha untuk melipatgandakan berkat materi atau uang dari Tuhan. Perumpamaan benih dalam Matius 12:1-23 yang berlipat ganda menjadi tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat, dikenakan untuk persembahan ini. Jadi, kalau jemaat memberi sejumlah uang tertentu, maka mereka akan memperoleh kembali berlipat ganda. Hal ini sangat keliru sebab perumpamaan tersebut tidak berbicara mengenai uang, tetapi benih Firman.
    Dengan berbagai cara dan trik, banyak pendeta berusaha agar jemaat memberi persembahan. Tentu dalam hal ini, nama Tuhan yang digunakan oleh mereka. Hal ini sama dengan menjual nama Yesus. Seharusnya jemaat diajar kebenaran sehingga bertumbuh dan memahami bagaimana hidup sebagai anak tebusan yang “tidak bermilik lagi”. Sebab segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Sehingga, mereka dengan sukacita memberi bukan karena merasa “memberi atau menyumbang”,  tetapi  mengembalikan milik Tuhan. Gereja tidak perlu harus menaruh kotak di depan dekat mimbar agar jemaat memberi satu per satu maju ke depan di...
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Kegiatan Hari Raya Kristen
    Hari Natal adalah hari raya yang tidak pernah mau dilewatkan oleh sebagian besar orang Kristen atau hampir semua orang Kristen. Pada hari Natal, ada usaha untuk merayakan semegah-megahnya, semeriah-meriahnya, dan sebesar-besarnya. Seakan-akan tanpa melakukan hal itu, maka terasa kurang menghargai Natal yang juga dianggap sejajar dengan sikapnya menghargai Tuhan sendiri. Beberapa tahun lalu, ada pendeta yang menyatakan bahwa dirinya mendapat pesan atau perintah dari Tuhan untuk merayakan Natal sebesar-besarnya. Itu berarti dalam merayakan Natal harus dilakukan semegah-megahnya. Hal ini tanpa disadar juga telah menjadi prinsip banyak pendeta dan gereja. Tidak heran kalau pada bulan Desember, menyongsong perayaan Natal gereja menggeliat mencari dana guna merayakan Natal tersebut. Banyak gereja yang tidak memperhitungkan berapa pun dana yang dianggarkan guna merayakan Natal.
    Demi memenuhi kebutuhan dana untuk merayakan Natal, maka gereja mengedarkan proposal permintaan dana. Proposal tersebut bukan hanya diedarkan di kalangan jemaat sendiri, tetapi juga jemaat gereja lain. Bahkan, diedarkan di komunitas orang-orang yang bukan Kristen. Proposal tersebut juga diedarkan di kalangan para pengusaha dan perusahaan. Ironinya, proposal permintaan dana juga diedarkan di perusahaan-perusahaan yang produknya dikecam di mimbar pada hari-hari Kebaktian Minggu, dan hari-hari lain dalam pemberitaan Firman. Tentu saja dalam proporsal tersebut tercantum nama Tuhan yang kelahiran-Nya akan dirayakan. Dengan tindakan ini, sebenarnya mereka menjual nama Yesus.
    Pertanyaan penting yang harus diperkarakan adalah: Apakah kita harus merayakan Natal besar-besaran? Sebenarnya kalau kita jujur, kita tahu bahwa kelahiran Tuhan Yesus belum tentu jatuh pada bulan Desember. Justru sangat besar kemungkinan tidak pada bulan Desember.  Dalam agama-agama pada umumnya, yang ditekankan adalah hari penting suatu “saat” yang bertalian dengan tokoh agama mereka. Waktu yang tepat, bulan apa, tanggal berapa. Kelahiran Tuhan Yesus tidak pernah diketahui dengan tepat. Jangankan tanggalnya, tahunnya pun tidak diketahui dengan tepat. Sebenarnya, Kristus tidak lahir pada tahun satu. Ini sebuah kesalahan penanggalan kuno. Yesus lahir beberapa tahun sebelum Masehi. Sedangkan, Herodes Agung wafat pada tahun 4SM. Herodes inilah yang ditemui orang-orang Majus. Sensus yang terjadi pada zaman itu, tercatat di dalam arsip Kerajaan Romawi berlangsung sekitar tahun 5-6 SM. Bulan Desember dijadikan bulan Natal dan tanggal 25 Desember dianggap hari kelahiran Yesus sebenarnya memiliki sejarah singkat demikian: Natal bahasa latinnya Natus. Pesta ini dirayakan dalam gereja sejak abad ke empat pada tanggal 25 Desember untuk menggeser pesta kafir tentang “kelahiran dewa Matahari”. Dari Roma, budaya ini menyebar di seluruh dunia. Sedangkan di pihak lain, menurut tradisi Armenia, Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Sehingga dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat penanggalan pasti berkaitan dengan tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya.
    Seperti yang telah kita saksikan, dalam merayakan Natal kita cenderung mempertaruhkan begitu banyak dana untuk hal-hal yang kadang tidak membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dana yang sebenarnya dapat digunakan untuk menolong orang miskin, mendukung penginjilan di daerah, dan lain sebagainya yang dampaknya memiliki gema panjang bahkan sampai keabadian. Melalui pelayanan kita, yaitu uang yang kita pertaruhkan harus bermuara sampai jiwa-jiwa dapat dipindahkan ke dalam Kerajaan Surga. Ini bukan berarti kita tidak perlu mendukung dana untuk perayaan Natal.
    Kita harus merayakan Natal dengan sikap yang bijaksana. Natal bukan arena jorjoran atau kompetisi antargereja, yaitu untuk menunjukkan gereja yang merayakan Natal paling megah, pohon terangnya paling tinggi, pestanya paling meriah, dan lain-lain. Kita harus merayakan Natal dengan mengedepankan pesan ilahi yang diperdengarkan di dalamnya,
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Khotbah
    Di gereja-gereja “mainstream”, gaji seorang pendeta sudah dipatok secara permanen sehingga penghasilannya tidak bisa fluktuatif. Biasanya juga, jumlah gajinya hanya cukup dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan. Jarang mereka dapat menjadi kaya, bisa membeli mobil, atau rumah besar. Irama hidup seperti itu, sudah terbiasa dimiliki para pendeta atau hamba Tuhan gereja-gereja “mainstream”. Berbeda dengan gereja-gereja aliran Kharismatik dan Pentakosta atau gereja-gereja baru yang sekarang bermunculan. Di mana penghasilan pendetanya tidak tetap. Hal tersebut tergantung dari hasil pelayanannya. Hasil pelayanan di sini maksudnya adalah jumlah jemaat yang dilayani, status atau tingkat ekonominya, dengan siapa ia bergaul dan bersentuhan, dan khotbah-khotbah yang disampaikan.
    Jumlah jemaat bisa menentukan penghasilan seorang pendeta yang menerima persepuluhan dari jemaat. Semakin besar jumlah jemaat, maka semakin besar penghasilannya. Apalagi, kalau anggota jemaatnya memiliki status dana tingkat ekonomi yang baik dan tinggi, maka jumlah persepuluhannya juga besar. Dalam hal ini, tidak ada keseragaman penghasilan di antara pendeta kalangan Pentakosta atau Kharismatik. Ada pendeta yang sangat berkekurangan karena jumlah jemaatnya kecil dan anggotanya adalah orang-orang yang tidak mampu. Tetapi sebaliknya, ada pendeta yang berkelimpahan secara materi karena jumlah jemaatnya besar serta anggota-anggotanya memiliki status dan tingkat sosial yang baik dan tinggi. Fenomena yang terjadi sekarang, ada gereja-gereja yang kecil semakin kehabisan anggota karena berpindah ke gereja yang memiliki fasilitas lebih baik dalam menyelenggarakan kebaktian. Gereja yang besar bertambah besar tetapi yang kecil bertambah kecil. Tanpa disadari, terjadi kapitalisme di dalam gereja. Dari hal ini, bisa dimengerti kalau gereja berlomba-lomba menarik jemaat lain masuk gerejanya dengan berbagai cara. Tentu, nama Yesus yang digunakan untuk “jualannya”.
    Penghasilan pendeta juga bisa ditentukan oleh dengan siapa ia bergaul. Kalau pergaulannya dengan orang-orang yang memiliki status dan tingkat ekonomi yang baik dan tinggi, maka kemungkinan “kecipratan” atau kebagian dari sebagian harta atau uang orang-orang tersebut, lebih besar. Tidak jarang, pendeta memperoleh mobil mewah dengan mudah, memperoleh rumah besar, dan berbagai fasilitas lainnya. Tetapi, kalau pendeta tersebut hanya bergaul dengan orang-orang yang tidak mampu, maka keadaan ekonominya pun juga tidak bertambah lebih baik. Dalam hal ini, ada godaan besar menggunakan nama Tuhan untuk memperoleh sesuatu dari orang-orang “kaya” tersebut. Kalau hal ini terjadi, maka berarti pendeta tersebut menjual nama Yesus.
    Penghasilan seorang hamba Tuhan atau pendeta yang berpeluang lebih permanen dan besar adalah melalui berkhotbah. Seorang hamba Tuhan atau pendeta yang memiliki kemampuan berkhotbah yang baik, dapat memperoleh penghasilan yang besar dari pelayanan mimbarnya. Tidak  heran,  hal ini menjadi “mata pencaharian” banyak pembicara-pembicara, yaitu khususnya mereka yang tidak menggembalakan jemaat, tetapi menjadi “pengkhotbah keliling”. Mereka bisa berkhotbah dari satu gereja ke gereja lain, dari satu persekutuan doa ke persekutuan doa yang lain. Dari banyaknya menjadi pembicara tersebut, ia dapat memperoleh penghasilan yang jumlahnya dapat terbilang besar. Apalagi, kalau seorang pembicara dianggap sebagai “pembicara papan atas”, yang biasanya berkhotbah di tempat-tempat yang dikunjungi banyak orang atau gereja-gereja besar, maka jumlah “persembahan kasih” (PK)-nya juga besar. Dari hal ini, ada pendeta atau hamba Tuhan yang mulai “pasang tarif”. Biasanya yang berbicara kepada yang mengundang adalah sekretarisnya. Tentu saja, “pendeta-pendeta besar” ini sudah tidak bisa lagi berkhotbah di sembarangan tempat. Ada habitat yang dibangunnya, di mana ia merasa pantas berkhotbah.
    Sebenarnya, tidak salah kalau seorang hamba Tuhan menerima “persembahan kasih” (PK),
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Kesaksian
    Dalam liturgi di gereja-gereja tertentu, kesaksian menjadi salah satu isi liturgi yang dianggap penting. Dalam pertemuan bersama atau kebaktian, ada ruangan yang disebut sebagai “ruang kesaksian”. Pada ruangan ini, sering kita jumpai orang-orang yang menyaksikan kesaksian-kesaksian yang tidak murni untuk membangun orang lain. Tetapi sebaliknya, mereka mau memperoleh penghormatan, simpati, bahkan keuntungan materi atau uang. Apalagi, kalau kesaksian yang dimilikinya luar biasa, maka ia bukan hanya bersaksi di gereja lokal di mana ia berbakti. Tetapi, ia juga bisa menjadi orang yang diundang ke banyak gereja, persekutuan doa, dan komunitas Kristen lainnya untuk bersaksi. Hal ini bukan suatu kesalahan, tetapi kalau maksud bersaksi demi memperoleh “amplop yang berisi uang” atau persembahan kasih, maka ia memperdagangkan kesaksian tersebut atau menjual nama Tuhan Yesus dengan kesaksian.
    Dalam kenyataan hidup bergereja, ada orang-orang yang memiliki nama besar baik sebagai artis, aktor, mantan penjahat, mantan dukun, pengusaha sukses, pejabat atau anggota keluarga pejabat, putra bangsawan, dan lain sebagainya yang memiliki kesaksian bagaimana menjadi orang percaya atau bagaimana mulai serius mengikut Yesus. Berbekal nama besarnya, ia bisa menjadi orang yang “laris” diundang ke banyak gereja dan komunitas Kristen lainnya. Mereka bisa menjadi “kondang” lebih dari pendeta yang berkhotbah. Kalau mereka tidak berhati-hati, bisa jatuh bukan saja pada kesombongan tetapi juga menjual nama Yesus dengan kesaksian. Mereka yang bersaksi ini tidak salah kalau menerima persembahan kasih berupa uang atau sesuatu yang lain, tetapi kalau motivasinya adalah materi, maka ia bersalah kepada Tuhan yang memberi kesaksian tersebut.
    Ada juga orang-orang yang berasal dari agama lain kemudian beralih menjadi orang Kristen, kemudian bersaksi di gereja-gereja. Orang-orang seperti ini biasanya sangat digemari oleh jemaat Kristen. Sebab, selama ini orang-orang Kristen lebih banyak mendengar dari berbagai media secara terbuka dan terang-terangan kesaksian orang-orang Kristen yang pindah ke agama lain. Kalau kemudian orang-orang Kristen melihat orang beragama lain masuk agama Kristen, maka hal ini tentunya sangat menarik. Biasanya orang-orang yang bersaksi pindah agama ini menjadi favorit di banyak gereja dan komunitas Kristen. Tidak jarang penyambutan orang Kristen terhadap mereka berlebihan, sehingga hal ini berpotensi membuat mereka menjadi “jatuh”.
    Pengertian “jatuh” tersebut adalah mereka menjadi orang yang merasa tersanjung sehingga mereka menjadi sombong. Mereka merasa bahwa perpindahan agama mereka sudah merupakan prestasi puncak sebagai orang Kristen. Padahal itu barulah permulaan dari sebuah perjalanan panjang sebagai anak Allah. Tidak sedikit mereka yang akhirnya jatuh dalam berbagai dosa. Selain uang, juga ada yang jatuh dalam pelanggaran seks. Hal itu terjadi karena watak mereka belum terbentuk sama sekali. Mereka hanya berpindah agama, tetapi mereka belum bertumbuh dalam karakter menjadi seperti Yesus. Hal ini terjadi karena kesalahan orang-orang Kristen itu sendiri.
    Tidak jarang kesaksian mereka mencela dan menciderai agama lamanya, nabi-nabinya, atau bahkan kitab sucinya. Semakin mencela keyakinan sebelumnya, maka mereka merasa lebih mantap berpindah agama. Celaan tersebut seakan sebagai legalitas bahwa mereka benar-benar berpindah agama. Hal ini sangat tidak terpuji dalam kehidupan di masyarakat yang majemuk. Mimbar gereja menjadi tempat di mana mereka mencela dan merendahkan agama lain. Hal ini harus dihindari oleh orang Kristen secara pribadi dan gereja secara komunitas.
    Ketika setiap memberi kesaksian mereka memperoleh uang dalam jumlah yang tidak pernah mereka dapatkan dengan mudah sebelum masuk agama Kristen, maka mereka menjadikan itu “mata pencaharian”. Biasanya, orang-orang ini semakin berani membicarakan kekurangan, kelemahan, atau cacat agama lamanya. Dengan cara ini,
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Doa
    Dalam masyarakat yang agamawi seperti Indonesia, tokoh agama atau rohaniwan sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Karena pemahaman banyak orang, termasuk banyak orang Kristen, bahwa rohaniwan adalah wakil Tuhan di dunia ini. Melalui mereka, umat dapat memperoleh berkat, pertolongan, dan perlindungan Tuhan. Di masyarakat seperti ini, tidak heran kalau mereka memiliki pengaruh yang sangat kuat. Karena kuatnya pengaruh mereka, maka politisi melirik mereka menjadi kendaraan dan alat untuk mencari pengikut dan simpati. Kalau para rohaniwan sudah terlibat dalam gelanggang politik, maka agama menjadi komoditas politik. Hal ini akan merusak kesatuan dan persatuan bangsa serta berpotensi memecah belah bangsa. Para rohaniwan juga dipakai sebagai iklan-iklan di beberapa media untuk memperkenalkan dan menawarkan produk-produknya. Stasiun televisi pun menggunakan pengaruh mereka untuk menaikkan “rating”-nya. Demikianlah pengaruh dan peran rohaniwan di masyarakat yang agamawi.
    Pada umumnya, disadari atau tidak, umat berpendirian bahwa rohaniwan seperti pendeta atau yang mengaku hamba Tuhan di lingkungan komunitas Kristen, memiliki doa yang dianggap lebih “mujarab”. Seakan-akan Tuhan lebih mendengar doa pendeta daripada doa mereka yang bukan pendeta. Itulah sebabnya pada umumnya rohaniwan dijadikan “broker” (perantara) untuk dapat menjangkau Tuhan guna menyampaikan permintaan-permintaan. Dalam hal ini, pemahaman banyak umat mengenai doa, bahwa doa itu adalah permintaan. Umat meminta bantuan pendeta atau yang mengaku hamba Tuhan untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan.
    Kondisi masyarakat seperti ini, dimanfaatkan oleh para rohaniwan yang tidak mengenal kebenaran dan tidak memiliki nurani yang baik. Mereka berusaha mengesankan bahwa mereka adalah wakil Tuhan di bumi. Mereka juga mengesankan bahwa mereka dekat dengan Tuhan. Dengan demikian, mereka dapat “dipakai” oleh umat sebagai akses untuk menjangkau Tuhan. Tidak heran kalau di kalangan Kristen ada hamba Tuhan atau pendeta, yang terus-menerus menyaksikan bahwa dirinya bisa berdialog dengan Tuhan dan bahwa dirinya istimewa di hadapan Tuhan lebih dari pendeta lain. Bodohnya, banyak masyarakat Kristen dengan mudah memercayainya, sehingga mereka menjadi korban dari nabi-nabi dan nabiah-nabiah palsu. Suatu hari kita dapat membuktikan bahwa mereka adalah serigala.
    Kondisi masyarakat yang agamawi tersebut, termasuk dalam komunitas orang-orang Kristen membuka celah dan potensi penyalahgunaan wewenang rohani oleh orang-orang tertentu yang mengaku hamba Tuhan atau pendeta. Wewenang rohani artinya hak atau kepercayaan untuk berbicara atas nama Tuhan, guna menyampaikan kehendak-Nya kepada umat. Seharusnya, jabatan rohaniwan yang di dalamnya Tuhan memberi wewenang rohani, dipakai untuk menuntun umat mengenal Allah dan membangun karakter mereka agar menjadi manusia yang saleh. Tetapi, wewenang rohani itu disalahgunakan atau dimanipulasi untuk kepentingan pribadi demi memperoleh materi atau uang dan kehormatan.
    Ada hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang secara implisit atau secara tidak langsung menjanjikan bahwa jika ia mendoakan umat, maka umat yang didoakan kemungkinan besar akan mendapat jawaban doa. Bahkan, ada pendeta yang menjanjikan puasa dan doa semalam suntuk untuk persoalan jemaat tersebut. Hal ini mengesankan bahwa Tuhan bisa didesak atau disuap dengan cara doa demikian. Di balik doa yang dijanjikan dan dilakukan oleh seorang hamba Tuhan atau pendeta, mereka “mencari nafkah” untuk kebutuhan jasmaninya. Hal ini bukan bermaksud mengatakan bahwa kalau jemaat membagi miliknya kepada seorang pelayan Tuhan berarti salah. Pernyataan ini bermaksud agar doa tidak menjadi sarana menjual nama Yesus.
    Doa adalah dialog, bukan sekedar permintaan.  Cara-cara ini membuat jemaat tidak berperkara sendiri dengan Tuhan. Hal ini sangat merugikan perkembangan atau pertumbuhan rohani jemaat. Setiap individu harus berurusan secara pribadi dengan Tuhan untuk menemukan dan mengerti kehe...
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Pelepasan Kutuk-kutuk
    Kita sudah sering mendengar hamba Tuhan atau pendeta yang mengadakan pelayanan pelepasan kutuk-kutuk. Berbagai macam kutuk disebut seperti kutuk kemiskinan, kutuk tidak laku kawin atau lajang, kutuk mandul, kutuk kebodohan, kutuk tidak memiliki rumah (kutuk pengembaraan), kutuk kegagalan (selalu gagal dalam bisnis dan karir), dan lain sebagainya. Hamba Tuhan atau pendeta memperkenalkan diri sebagai hamba Tuhan yang memiliki kuasa khusus untuk melepaskan mereka yang terbelenggu karena kutuk tersebut. Orang-orang Indonesia yang mistis, sangat tertarik hal-hal semacam itu. Mereka datang berbondong-bondong ke gereja untuk mengalami kelepasan dari segala kutuk-kutuk tersebut.
    Para hamba Tuhan atau pendeta yang mengklaim dirinya dapat melepaskan jemaat dari kutuk-kutuk tersebut, menggunakan nama Yesus untuk melepaskan jemaat dari kutuk-kutuk tersebut. Hal ini merupakan suatu kesalahan yang fatal. Sebenarnya, para pembicara tersebut belum memahami pengertian kutuk. Pengertian kutuk yang dimiliki banyak orang Kristen adalah pengertian kutuk yang mengandung unsur mistis, yaitu sesuatu yang bertalian dengan hal-hal yang bersifat supranatural. Hal ini tentu merupakan pengaruh dari agama-agama dan berbagai kepercayaan di luar Alkitab. Padahal kutuk tidak selalu bersifat mistis. Justru, kutuk menurut versi Alkitab mestinya lebih cenderung tidak bersifat mistik, tetapi lebih bersifat natural.
    Manusia pada zaman anugerah hanya diperhadapkan kepada dua kemungkinan, yaitu menerima keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus sehingga selamat berarti tidak terkutuk atau menolak karya keselamatan dalam Yesus Kristus sehingga tertolak dari hadirat Allah selama-lamanya, yang berarti terkutuk. Pada dasarnya, kutuk pada zaman sebelum zaman anugerah adalah ketidaknyamanan hidup secara jasmani di bumi ini. Tetapi sesudah zaman anugerah, kutuk hanya dikaitkan dengan keselamatan kekal jiwa manusia. Bila seorang diperkenan masuk dunia yang akan datang berarti bebas dari kutuk, tetapi jika tidak diperkenan masuk dunia yang akan datang berarti kutuk. Kutuk tidak bertalian langsung dengan berkat jasmani atau keadaan lahiriah seperti pada zaman Perjanjian Lama. Masalah-masalah dalam kehidupan ini seperti misalnya kemiskinan, sakit penyakit, tidak mempunyai pasangan hidup, tidak mempunyai anak, dan lain sebagainya, tidak boleh diperhitungkan sebagai kutuk. Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, keadaan atau kondisi kehidupan yang secara jasmani negatif seperti yang tersebut di atas bisa dipakai Tuhan untuk menyempurnakan orang percaya.
    Kutuk dosa Adam dan dosa individu telah ditanggung oleh Tuhan Yesus. Namun hal itu bukan berarti kutuk atas bumi dan hal-hal yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani otomatis dicabut. Manusia masih tetap hidup dalam berbagai kesulitan di bumi ini. Tetapi, kesulitan hidup itu bukan lagi diperhitungkan sebagai kutuk. Dalam kehidupan umat pilihan Perjanjian Baru, justru kesulitan bisa menjadi berkat, sebab Tuhan menggunakan berbagai kesulitan itu untuk menyempurnakan kehidupan iman orang percaya agar serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Kesulitan hidup merupakan bagian dari proses keselamatan, di mana manusia dikembalikan kepada rancangan Allah semula atau tujuan awal Allah menciptakan manusia.
    Dengan janji keselamatan dalam Yesus Kristus, maka persoalan-persoalan jasmani atau masalah-masalah fisik tidak lagi menjadi masalah. Pengharapan terhadap Kerajaan Surga yang akan datang mengatasi segala masalah, artinya segala masalah menjadi kecil atau tidak berarti dibandingkan dengan pengharapan dunia yang akan datang, yaitu dunia yang sempurna di langit baru dan bumi yang baru. Selama masih hidup di dunia, orang percaya pasti menerima pemeliharaan Allah yang sempurna. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Bapa yang di Sorga tahu bahwa kita membutuhkan semua pemenuhan kebutuhan jasmani (Mat. 6:32).
    Orang-orang yang mengharapkan dunia menjadi seperti Firdaus, selalu berusaha sebisa-bisanya untuk dapat menikmati ken...
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Kegiatan Sosial
    Di mana-mana, bukan hanya di kalangan orang Kristen, tetapi di kalangan masyarakat pada umumnya terdapat kecenderungan menggunakan alasan kegiatan sosial demi memperoleh keuntungan pribadi. Kalau hal tersebut terjadi di luar gereja, kita masih bisa memakluminya atau kita tidak perlu mempersoalkannya karena itu bukan urusan kita. Tetapi, kalau hal ini terjadi di lingkungan orang-orang Kristen, apalagi di lingkungan gereja, betapa hal ini sangat menyedihkan. Sebenarnya, hal ini bukan cerita baru. Sejak saya masih mahasiswa dan terjun dalam pelayanan, saya sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana kegiatan-kegiatan sosial di kalangan orang Kristen menjadi sarana memperoleh materi atau uang.
    Mereka bukan hanya menjual anak-anak yang tidak mempunyai orang tua (anak yatim piatu) dan manula yang terbuang, tetapi mereka juga menjual nama Yesus. Tidak sedikit yayasan-yayasan Kristen yang bergerak di bidang pelayanan sosial menjadi kendaraan orang-orang tertentu “mencari nafkah” untuk diri sendiri. Ada pula yang bergerak di bidang pendidikan, dengan alasan untuk misi mereka menghimpun dana membangun sekolah. Tetapi, ketika sekolah sudah maju dan diminati banyak orang tua, maka sekolah tersebut hanya diperuntukkan bagi orang kaya. Mereka memasang tarif tinggi untuk uang sekolah dan lain sebagainya. Hanya orang kaya yang bisa membawa anak mereka ke sekolah itu. Yayasan tersebut tidak memedulikan orang miskin. Sekolah yang pada mulanya dibangun dengan alasan misi dan menggunakan uang jemaat atau donatur dalam pembangunannya, hanya menjadi sejarah. Sekolah tersebut sudah menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan.
    Ada hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang mempunyai pelayanan bagi pemulung dan orang-orang terlantar di jalan. Mereka melayani “tanpa pamrih”. Dengan ketulusan dan segala perjuangan, hamba-hamba Tuhan itu melayani mereka. Tetapi, tidak sedikit pula hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang mengambil pelayanan tersebut untuk keuntungan pribadi. Berkat yang diterima oleh mereka dari orang-orang yang terbeban, “disunat” demi kepentingan diri sendiri. Memang tidak salah, kalau pelayan-pelayan yang melayani mereka juga memperoleh biaya transportasi dan persembahan kasih. Tetapi, kalau mengorbankan kepentingan pelayanan maka itu adalah bentuk korupsi yang menyakiti hati Tuhan.
    Ada pula hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang melayani di penjara-penjara dengan penuh kasih dan pengorbanan. Tuhan sangat berkenan dengan pelayanan tersebut. Tetapi hendaknya, kita tidak tergoda memanfaatkan pelayanan tersebut untuk memperoleh keuntungan materi.  Jika hal ini terjadi, betapa hal itu menyakiti hati Tuhan. Mereka menjual “orang dalam penjara” demi kepentingan pribadi dan menjual nama Yesus.
    Dewasa ini, banyak yayasan-yayasan atau kegiatan-kegiatan yang berkiprah dalam rehabilitasi para pecandu narkoba. Pekerjaan mereka sungguh sangat mulia. Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Ini adalah pekerjaan berat yang penuh resiko. Tetapi, hendaknya pekerjaan yang begitu mulia tidak dijadikan sarana untuk memperoleh keuntungan materi atau keuntungan pribadi. Sebagai akibatnya, para pecandu narkoba yang tidak mampu dijual untuk mendapatkan donatur, sementara yang mampu diperas uang keluarganya. Khusus untuk orang Kristen dalam yayasan-yayasan Kristen yang bergerak di bidang pelayanan ini, hendaknya tidak tergoda memanfaatkan lahan pelayanan ini untuk kepentingan materi.
    Kalau di dunia politik, kita menjumpai kenyataan di mana “wong cilik” (rakyat kecil) dijadikan sarana atau dijual untuk menarik simpati masyarakat, seakan-akan partai tersebut atau pejabat tersebut peduli terhadap keadaan rakyat kecil tersebut. Tetapi sebenarnya, itu hanya sebagai sarana propaganda untuk menarik simpati. Kalau partainya sudah menang atau seorang calon pemimpin sudah menjadi pemimpin, ia tidak memedulikan kaum lemah tersebut. Hal ini juga bisa terjadi di kalangan orang-orang Kristen yang menjadikan orang-orang lemah,
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Mukjizat
    Menjual nama Yesus dengan kuasa mukjizat Tuhan paling marak dalam kehidupan orang-orang Kristen dewasa ini, khususnya di kalangan gereja Kharismatik dan Pentakosta. Mereka menjanjikan kuasa Tuhan yang dapat melahirkan mukjizat atas kehidupan orang percaya, sehingga mereka dapat memperoleh jalan keluar dari segala persoalan hidup yang mereka hadapi. Mereka yang sakit dapat disembuhkan, yang terikat hutang-piutang memperoleh jalan keluar, dan lain sebagainya. Bahkan, di setiap kebaktian selalu dijanjikan bahwa kalau jemaat kembali pulang ke rumah masing-masing maka mereka sudah mendapat jawaban doanya, yaitu kesembuhan, pertolongan dari masalah ekonomi, masalah rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.
    Kita harus mengerti, kalau dunia mengalami resesi dan banyak kesukaran menimpa manusia, seperti krisis ekonomi, politik, sosial, ekologis berupa bencana alam, dan lain sebagainya. Karena itu, Tuhan ditawarkan sebagai solusi bagi manusia agar dapat terhindar dari kesulitan-kesulitan hidup tersebut. Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang sulit, gereja menjadi alternatif yang dicari orang untuk mendapat jalan keluar. Ketika gereja hanya menjadi tempat untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup di bumi berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka terjadi praktik pelayanan rohani yang mirip dengan praktik perdukunan. Banyak hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang memanfaatkan situasi ini untuk memperoleh keuntungan pribadi.
    Maksud praktik perdukunan dalam konteks ini adalah gereja dan semua pelayan-pelayannya menggunakan kuasa Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, yang terjadi dalam kehidupan umat Tuhan. Sama seperti dukun-dukun yang “menjual jasa” dengan membuat praktik-praktik mukjizat guna penyelesaian masalah-masalah hidup yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan isi pelayanan seperti ini, maka gereja mengabaikan maksud keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, menjadi segambar dan serupa dengan Allah.
    Demikian faktanya yang terjadi di banyak gereja hari ini, gereja menyelenggarakan praktik pelayanan yang mekanismenya seperti dalam praktik perdukunan di dunia yang tidak mengenal Allah. Gereja-gereja palsu tersebut mempromosikan mukjizat dengan menggunakan kuasa Tuhan untuk penyelesaian masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan mudahnya gereja-gereja tersebut menjanjikan penyelesaian masalah yang dihadapi jemaat, mulai dari masalah ekonomi, bisnis, kesehatan, jodoh, keinginan memiliki keturunan, dan lain sebagainya dengan nama Yesus. Tanpa disadari, praktik pelayanan yang mirip dengan perdukunan mengakibatkan penyimpangan. Mukjizat menjadi komoditas utama orang-orang yang mengaku “hamba Tuhan” dan yang mendeklarasikan diri (terang-terangan maupun terselubung) mewakili Tuhan untuk menolong umat-Nya. Tanpa mereka sendiri sadari, mereka menjual nama Tuhan selain untuk kepentingan materi juga kebesaran namanya sendiri sebagai kelangsungan karir di dalam gereja lokal maupun di dalam sinode suatu gereja.
    Kalau dalam praktik perdukunan di luar gereja mereka menggunakan kuasa kegelapan, tetapi di dalam gereja menggunakan nama Yesus. Banyak orang Kristen berpikir bahwa menggunakan nama Yesus untuk hal tersebut agar kuasanya dinyatakan dipandang sebagai suatu kehormatan bagi Tuhan, sehingga mereka menggunakan nama Yesus semena-mena. Sebenarnya tindakan mereka itu melecehkan nama Tuhan dengan menggunakan dan  menyebutnya secara sembarangan. Tuhan tidak akan memperkenankan nama-Nya dipakai sesuai selera dan keinginan manusia, apalagi ada “agenda pribadi” di balik penggunaan nama-Nya.
    Banyak orang telah tertipu oleh praktik pelayanan gereja-gereja yang sudah menyimpang dari kebenaran tersebut. Gereja-gereja yang tidak mengenal kebenaran  memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dapat peduli dengan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…