Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjual Nama Yesus Dengan Alasan Pelayanan
    Pernah seorang pengusaha yang tidak beragama Kristen mengajak temannya yang beragama Kristen untuk membuka atau menyelenggarakan kebaktian di sebuah gedung. Mereka merencanakan mengundang seorang pembicara yang memiliki nama atau diminati banyak orang Kristen, mempersiapkan musik dan worship leader yang baik, serta segala perangkat lainnya untuk terselenggaranya sebuah acara gereja yang menarik. Bila perlu juga memanggil artis rohani atau kesaksian orang-orang yang bisa menarik masa untuk datang. Ajakan tersebut berangkat dari pemantauannya bahwa kegiatan gereja seperti yang dilakukan oleh banyak orang dewasa ini, dapat mendatangkan keuntungan berupa uang.
    Bukan rahasia lagi, pelayanan pekerjaan Tuhan sudah menjadi bisnis yang bisa menguntungkan secara materi, di samping kebesaran nama pendeta dan gerejanya. Bukan tidak mungkin banyak orang melakukan kegiatan pelayanannya dikarenakan hal ini. Mereka mengusahakannya secara profesional demi menarik masa sebanyak mungkin. Mereka tidak terlalu mempersoalkan apakah Firman yang diberitakan adalah Firman Tuhan yang murni atau Injil yang sejati, atau bukan. Bagi mereka yang penting, “firman” itu diminati dan dapat menarik banyak masa. Pada umumnya, khotbah-khotbah yang disampaikan mirip dengan para motivator sekuler, bukan kebenaran Firman Tuhan. Pasti gereja seperti ini akan sangat menekankan persembahan dan persepuluhan. Kegiatan gereja seperti ini, pada dasarnya adalah menjual nama Yesus.
    Aspek lain yang perlu diamati adalah keberhasilan hamba-hamba Tuhan atau pendeta dalam “berkarir” di kegiatan pelayanan seperti itu. Banyak hamba Tuhan atau pendeta yang melayani “pekerjaan Tuhan” dalam waktu singkat sudah memiliki rumah, mobil, dan berbagai fasilitas lainnya. Hal ini mendorong banyak orang mau menjadi pendeta, sehingga sekolah teologi dikunjungi banyak orang untuk bisa terjun ke pelayanan. Sebenarnya, mereka terjun ke bidang pelayanan pekerjaan Tuhan bukan untuk memberi hidup tetapi “untuk mencari hidup”. Pada akhirnya, pelayanan pekerjaan Tuhan bukan sebagai dedikasi tetapi profesi untuk “mencari nafkah” agar dapat hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia dengan profesi mereka untuk memperoleh keuntungan materi. Padahal, kalau seseorang mengambil keputusan melayani Tuhan, ia harus berani hidup dalam ketidakwajaran. Hidupnya sepenuhnya dipersembahkan bagi Tuhan tanpa batas. Jika tidak demikian, maka ia tidak dapat menjadi teladan bagi orang percaya yang dilayaninya.
    Orang-orang yang melayani Tuhan karena mencari nafkah adalah orang-orang yang pasti menjual nama Tuhan. Biasanya orang-orang seperti ini melayani pekerjaan Tuhan bukan untuk menuntun umat kepada kesempurnaan, meninggalkan percintaan dunia, dan mempersiapkan diri untuk menyongsong Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang. Tetapi, bagaimana memperoleh “kehidupan yang layak” melalui pelayanan. Tidak heran, kalau fokus pelayanan mereka adalah kemakmuran jasmani. Jemaat dilayani unuk menikmati berkat jasmani. Khotbah-khotbah yang disampaikan pasti hanya sekitar pemenuhan kebutuhan jasmani. Seperti ia mengasihi diri sendiri dengan memenuhi segala kebutuhan jasmaninya, maka ia juga mengasihi orang lain dengan cara yang sama, yaitu menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani.
    Banyak kegiatan yang diselenggarakan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan materi. Kegiatan-kegiatan yang sekilas bersifat rohani menjadi kamuflase untuk memperoleh keuntungan. Kegiatan-kegiatan itu antara lain memberi makan masyarakat miskin di sekitarnya, pelayanan pekerjaan misi, pembangunan rumah ibadah, pembangunan pastori, menambah lahan untuk parkir gereja, dan lain sebagainya. Tidak heran kalau gereja seperti ini akan selalu menciptakan “proyek-proyek” demi keuntungan materi. Tidak sedikit aset gereja yang diatasnamakan pemimpin gereja atau anggota keluarganya.
    Dengan mengemukakan hal ini, bukan berarti kalau gereja mengadakan kegiatan tersebut berarti mencari uang dengan menjual nama Yesus.
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Nubuat
    Beberapa tahun belakangan ini, ada sekolah-sekolah Alkitab yang khusus mengajarkan bagaimana memiliki karunia nabi, yaitu bernubuat. Hal ini didorong maraknya karunia bernubuat dalam komunitas Kristen. Ada hamba-hamba Tuhan yang diakui sebagai memiliki karunia nabi, yaitu bernubuat. Pelayanan pemberitaan Firman Tuhan selalu disertai nubuat. Bahkan selesai pemberitaan Firman, satu per satu jemaat diundang ke depan untuk menerima nubuat dari nabi dan nabiah tersebut. Ada nama hamba-hamba Tuhan atau pendeta dari luar negeri yang telah diakui oleh sebagian masyarakat Kristen, khususnya masyarakat Kristen yang lebih cenderung berpikir mistis atau “ngeroh”, bahwa mereka adalah nabi-nabi dan nabiah-nabiah Tuhan.
    Dalam beberapa kesempatan, hamba-hamba Tuhan atau pendeta dari luar negeri tersebut bernubuat mengenai negeri ini. Di antara mereka pernah bernubuat bahwa akan ada banyak orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus, menjadi orang percaya. Gelombang besar orang masuk Kristen juga akan membanjiri sekolah-sekolah Alkitab. Pada waktu itu, saya sebagai rektor di sebuah sekolah tinggi teologi dihubungi dan diperingatkan untuk bersiap-siap menerima gelombang besar orang masuk sekolah Alkitab.  Tetapi ternyata, nubuat tersebut tidak tergenapi. Ada pula yang bernubuat bahwa negara ini akan dilawat Tuhan dengan berkat, tetapi kenyataannya krisis ekonomi dan berbagai masalah tidak pernah surut.
    Nubuat-nubuat palsu tersebut tidak membuat jera banyak orang Kristen yang masih suka dengan nubuat-nubuat. Mereka masih saja mencari hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang suka bernubuat. Memang, godaan untuk mengetahui hal-hal yang akan datang merupakan godaan yang kuat. Para hamba Tuhan atau pendeta yang jelas-jelas telah bernubuat palsu pun masih saja bernubuat. Seakan-akan, jemaat juga tidak mempermasalahkan nubuat palsu yang mereka pernah ucapkan. Tidak ada pertanggungjawaban publik atas nubuat yang mereka ucapkan. Di Indonesia, ada komunitas-komunitas Kristen yang dalam gerak pelayanannya selalu diwarnai dengan nubuat.
    Dari fenomena di atas, maka lahirlah nabi-nabi dan nabiah-nabiah bayaran. Dengan cara demikian, mereka sebenarnya menjual nama Yesus. Mereka begitu berani bernubuat. Sebab kalau ternyata salah, mereka tidak perlu bertanggung jawab. Tetapi kalau benar, mereka mendapat “reward” dalam berbagai bentuk. Hal ini sebenarnya kelicikan yang tidak disadari oleh mereka. Pada mulanya, barangkali mereka tidak bermaksud untuk bertindak licik atau menipu. Bukan tidak mungkin pula, mereka pernah bernubuat dan nubuatnya tergenapi. Hal itu membuat mereka semakin percaya diri untuk bernubuat. Sampai tanpa sadar, seakan-akan karunia itu bisa digunakan kapan saja, dimana saja, dan dalam konteks apa saja.  Mereka merasa bahwa mereka memiliki karunia itu. Padahal, karunia adalah milik Tuhan. Orang percaya hanya mendemonstrasikan jika Roh Kudus menghendaki. Bukan suka-sukanya sendiri.
    Penekanan pada nubuat membuat fokus kepada kebenaran Firman Tuhan guna pertumbuhan rohani untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, terabaikan. Banyak orang Kristen sibuk dengan nubuat sehingga hal yang mayor atau utama malah terabaikan. Mereka menjadi mistis dan tidak menggunakan logika secara proporsional. Hal ini tanpa disadari menggiring banyak orang Kristen kepada penyesatan. Ada orang-orang yang dianggap sebagai juru bicara Tuhan untuk bernubuat dan banyak orang Kristen bergantung padanya, sehingga banyak orang Kristen tidak mandiri untuk bersekutu dengan Tuhan. Mereka menjadi korban orang-orang yang sebenarnya berkebutuhan untuk dikultuskan.
    Sebenarnya, kita tidak perlu mempersoalkan apa yang akan terjadi dalam hidup kita ke depan. Kita hidup dalam kontrol dan monitor Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kendali Tuhan. Tuhan menjagai kita dengan sempurna. Tidak ada pencobaan yang melampaui kekuatan kita. Setiap percobaan pasti ada jalan keluarnya. Tidak ada sesuatu yang perlu kita khawatirkan.
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Pesan-pesan Tuhan
    Di kalangan gereja-gereja Kharismatik dan Pentakosta, sering kita jumpai orang-orang yang mengaku hamba Tuhan dan pendeta yang selalu mengaku telah menerima pesan-pesan Tuhan, yang diperolehnya dari Tuhan sendiri. Bisa dipastikan orang-orang seperti ini biasanya tidak memiliki bekal yang cukup untuk menjadi pembicara. Biasanya mereka juga bukan berasal dari sekolah tinggi teologi. Itulah sebabnya, mereka mengisi khotbahnya dengan kesaksian bahwa dirinya menerima pesan-pesan dari Tuhan. Kalau sudah menggunakan nama Tuhan sebagai “yang mengajar secara langsung” kepada pendeta atau hamba Tuhan itu, maka siapa yang berani membantah?
    Hamba-hamba Tuhan atau pendeta seperti itu dengan berani mengatakan bahwa Tuhan yang mengajar dirinya secara langsung. Tetapi ironinya, khotbahnya tidak banyak berubah. Hanya berkutat pada hal yang sama. Hal ini mengesankan bahwa Tuhan yang mengajar dia khotbah adalah Tuhan yang kurang bahan khotbah. Bisa dipastikan pemberitaan Firmannya hanya berorientasi pada berkat hari ini, mukjizat hari ini, kesembuhan hari ini, tetapi tidak menekankan bagaimana terlepas dari percintaan dunia.  Biasanya yang mereka ajarkan adalah berkat-berkat jasmani dan usaha untuk memperoleh jalan keluar dari masalah hidup.
    Bagaimana kita tahu bahwa pesan yang disampaikan itu palsu? Tidak terlalu sulit untuk membedakan apakah pesan yang diterima dari Tuhan itu palsu atau tidak. Kita dapat memperhatikan dengan teliti apakah pemberitaannya sesuai dengan kebenaran Alkitab. Bagi mereka yang belajar Alkitab dengan benar dan memiliki hati nurani yang bersih, akan sangat cepat dan tepat membedakan apakah benar seorang hamba Tuhan atau pendeta itu mendapat pesan-pesan dari Tuhan atau tidak?
    Apakah jemaat awam yang tidak memiliki pengetahuan mengenai Alkitab secara memadai dapat dengan cepat dan tepat menyadari penyesatan tersebut? Tentu saja bisa. Untuk mengetahui apakah hamba Tuhan atau pendeta tersebut benar-benar menerima pesan dari Tuhan atau tidak, dapat dilihat dari isi perkataan-perkataannya. Bila di dalam pernyataan-pernyataannya mendiskreditkan, menyalahkan atau memandang rendah hamba-hamba Tuhan atau pendeta lain, yang didasarkan bahwa ia memiliki pengalaman tersebut dan yang lain tidak, maka itu tanda atau isyarat bahwa sebenarnya ia tidak berhubungan langsung dengan Tuhan atau tidak menerima pesan dari Tuhan.
    Jika dalam kesaksian hamba Tuhan atau pendeta yang mengaku menerima pesan dari Tuhan tersebut seakan-akan Tuhan meninggikan dirinya dan Tuhan menyuruh orang menghargai dan mempercayai hamba Tuhan atau pendeta tersebut, maka patut kesaksiannya disangsikan atau dicurigai. Misalnya, seorang hamba Tuhan atau pendeta bersaksi bahwa dirinya ditunjuk oleh Tuhan untuk melakukan tugas tertentu, karena dia memiliki keistimewaan yang lebih dari pendeta lain. Jangankan manusia,  bahkan Tuhan pun seakan-akan takjub terhadap kelebihan hamba Tuhan atau pendeta tersebut. Bisa dipastikan kesaksian hamba Tuhan atau pendeta tersebut tidak benar atau hanya dikarang-karang. Karakter Tuhan kita tidaklah demikian.
    Ciri lain kalau kesaksian seorang hamba Tuhan palsu adalah adanya perubahan dalam kesaksian tersebut. Di suatu kesempatan, ia menunjukkan bahwa ia berdialog dengan Tuhan bahwa ia akan memenangkan jiwa-jiwa ribuan-ribuan jumlahnya. Tetapi di saat yang lain, ia bersaksi bahwa ia diperintahkan Tuhan memenangkan jiwa berjuta-juta. Biasanya kesaksian hamba-hamba Tuhan palsu atau pendeta-pendeta palsu tersebut semakin dibuat “heboh” atau semakin luar biasa. Kesaksian yang dikemukakan semakin dibuat dahsyat agar lebih memukau orang lain. Karena banyak jemaat sudah terbiasa memercayai, maka mereka percaya saja. Kebohongan seperti ini suatu hari pasti akan terbongkar.
    Alkitab adalah kebenaran yang cukup untuk memberi nasihat-nasihat dan pesan. Oleh sebab itu Alkitab harus digali sedalam-dalamnya dengan kerja keras. Untuk itu, Tuhan memberi jawatan guru agama dan gembala sidang bagi jemaat-Nya untuk men...
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Penglihatan
    Dewasa ini, banyak orang yang mengaku hamba Tuhan atau pendeta yang menyaksikan kepada jemaat bahwa dirinya memperoleh penglihatan. Penglihatan-penglihatan tersebut sebenarnya belum tentu berasal dari Tuhan. Tidak ada yang bisa membuktikan dengan mudah bahwa penglihatan yang diperolehnya tersebut benar-benar dari Tuhan. Hal ini merupakan subjektifitas yang sukar dibuktikan kebenarannya. Karena tidak mudah untuk membuktikan kebenaran dari penglihatan tersebut, maka kita harus benar-benar berhati-hati dalam meresponinya. Hendaknya, kita tidak mudah menerima kalau seseorang mengaku telah menerima sebuah penglihatan. Roh Kudus akan menolong kita membedakan roh, apakah suatu penglihatan berasal dari Allah atau bukan. 
    Di tengah-tengah suasana kompetisi antar gereja dan pendeta sekarang ini, ada godaan dalam diri banyak pendeta yang tidak takut akan Tuhan mengarang cerita atau bersaksi dusta mengenai pengalamannya dengan Tuhan, yaitu menerima penglihatan. Penglihatan-penglihatan tersebut menjadi “barang jualan” di mimbar-mimbar gereja. Buku-buku yang dikarang dengan memuat penglihatan-penglihatan, seperti pengalaman diangkat ke surga, melihat neraka, dan sejenisnya akan laku dijual di pasaran. Harus diingat bahwa Paulus sendiri menerima penglihatan yang begitu hebat, tetapi tidak menyaksikannya dengan sembarangan. Paulus menyimpannya selama 14 tahun (2Kor. 12). Paulus tidak memanfaatkan pengalaman penglihatannya untuk kepentingan tertentu. Ia hanya menyaksikan penglihatan tersebut jika Tuhan menghendakinya, bukan untuk diobral murahan.
    Masyarakat Timur seperti Indonesia yang suka hal-hal yang bersifat mistis, klenik, keajaiban-keajaiban, dan sejenisnya, menyukai kesaksian mengenai penglihatan-penglihatan. Pendeta atau orang-orang yang mengaku hamba Tuhan, memanfaatkan situasi ini untuk menarik masa guna menghimpun sebuah komunitas. Bagi mereka, itulah karir dan masa depan hidup dirinya dan keluarganya. Fakta yang tidak dapat dibantah, pendeta atau hamba Tuhan yang menyelenggarakan pelayanan dengan menyaksikan penglihatan-penglihatan banyak digemari orang. Mereka dapat memiliki pengikut yang jumlahnya sangat besar di berbagai daerah dan kota. Mereka bisa berhasil membangun gereja-gereja besar dan sederetan kegiatan yang besar pula. Demi keselamatan banyak orang percaya yang tulus-tulus, kadang Tuhan harus menghentikan pelayanan hamba-hamba Tuhan atau pendeta tersebut dengan sakit, atau bahkan diizinkan Tuhan meninggal dunia.
    Ciri dari pendeta atau hamba Tuhan seperti itu adalah selalu menyertakan kesaksian penglihatan dalam khotbahnya. Tidak jarang, penglihatan-penglihatan yang diakui diperoleh dari Tuhan menjadi landasan kebenaran yang disampaikan. Dengan demikian, pengalaman pribadi menjadi landasan kebenaran yang dikenakan untuk orang lain. Seandainya penglihatan itu berasal dari Tuhan, belum tentu dapat menjadi landasan kebenaran yang dapat dikenakan bagi orang lain. Apalagi kalau penglihatan tersebut palsu, maka akan semakin menyesatkan. Harus diingat bahwa berkhotbah adalah menyampaikan suara Tuhan bukan penglihatan-penglihatan yang subjektif.
    Pendeta atau hamba Tuhan yang sudah terbiasa mengemukakan penglihatan-penglihatan dalam menyampaikan khotbah atau kesaksiannya, akan semakin berani mengarang penglihatan yang diakui sebagai dari Tuhan. Padahal, itu bukan berasal dari Tuhan. Karena begitu biasanya mengemukakan penglihatan, maka dikesankan Tuhan itu Pribadi yang murahan. Ini adalah sikap kurang ajar terhadap Tuhan.
    Kita harus berhati-hati dalam menanggapi fenomena seperti di atas. Kita tidak menyangkal adanya penglihatan. Seiring bergulirnya perkembangan zaman, tidak menutup kemungkinan adanya penglihatan yang diberikan oleh Tuhan. Tetapi hendaknya, kita tidak terbelenggu oleh keinginan mengalami atau memperoleh penglihatan. Kalau Tuhan memandang perlu untuk memperoleh penglihatan, Tuhan pasti akan memberikannya. Tetapi kalau tidak, hendaknya kita tidak memaksa Tuhan memberi penglihatan.
    0 min
  • Menjual Nama Yesus Dengan Visi
    Dewasa ini, banyak orang yang mengaku hamba Tuhan memberi kesan kepada jemaat bahwa dirinya orang istimewanya Tuhan. Orang istimewanya Tuhan ditandai dengan pengakuan, bahwa dirinya dapat menerima visi dari Tuhan secara langsung. Dengan menyampaikan bahwa dirinya memperoleh visi dari Tuhan, maka dikesankan bahwa ia adalah orang istimewa Tuhan yang tidak sama dengan kebanyakan orang, atau bahkan tidak sama dengan hamba Tuhan lainnya. Kalau ia seorang pendeta, ia tidak hanya memiliki legalitas sebagai hamba Tuhan dari sinode, tetapi ia juga mau merebut hati jemaat agar memperoleh pengakuan yang kuat dari jemaat bahwa dirinya wakil Tuhan. Hal ini juga bisa didorong oleh adanya persaingan antar gereja dewasa ini dan persaingan antar pendeta, khususnya pada gereja-gereja dan pendeta-pendeta di kota-kota besar.
    Bagi hamba-hamba Tuhan atau pendeta yang telah berprestasi dalam pelayanan, seperti mereka yang telah mendemonstrasikan kuasa Allah atau mukjizat, berhasil membangun gereja yang besar, dan lain sebagainya, ada kecenderungan merasa dirinya sudah sangat istimewa, sehingga tergoda untuk “menciptakan” sebuah visi yang diakui dari Tuhan. Tentu saja, jemaat lebih mudah percaya sebab hamba Tuhan atau pendeta itu “telah dipakai dan diberkati Tuhan”. Bagi hamba-hamba Tuhan seperti itu, mereka harus berhati-hati dalam bertindak sebab kepercayaan yang diberikan Tuhan dan jemaat kepadanya harus ditunaikan dengan bijaksana dalam pimpinan Roh Kudus.
    Ada gereja-gereja yang setiap tahun selalu menyampaikan visi yang baru dari Tuhan. Seakan-akan visi tersebut “fresh from the oven”. Bahkan tidak jarang, visi yang diperoleh oleh seorang hamba Tuhan bukan lagi setiap tahun menjelang tahun baru, tetapi lebih sering lagi, yaitu setiap bulan atau beberapa kali dalam setahun. Dengan visi yang diakuinya berasal dari hati Tuhan, maka seorang pendeta atau seorang hamba Tuhan tersebut secara tidak langsung memberi kesan bahwa dirinya orang yang dapat dipercaya. Kemudian, ia menggerakkan jemaat untuk ikut terlibat dalam visi yang diakuinya dari Tuhan, seperti misalnya membangun sebuah gedung. Inilah yang disebut menjual nama Yesus dengan visi.
     
    Kalau visinya memang berasal dari Tuhan, maka hal itu tidak menjadi masalah untuk dirinya dan bagi orang lain, tetapi kalau visi itu sebenarnya bukan berasal dari Tuhan, maka ia menjadikan dirinya sebagai nabi palsu dan menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia. Nabi palsu seperti ini akan dihukum Tuhan dengan hukuman yang berat. Lebih baik sebuah batu kilangan diikat di lehernya dan dibuangnya ke dalam laut (Mat. 18:6). Paulus mengatakan mereka yang menjadi nabi palsu, yang juga pasti mengajarkan Injil yang salah, layak untuk terkutuk.
    Mengemukakan hal ini bukan berarti kita anti visi. Juga bukan bermaksud hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi menyampaikan visi-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya, Tuhan masih bekerja aktif sekarang ini. Tuhan menghendaki agar orang percaya dapat menjadi kawan sekerja-Nya untuk menyelesaikan atau menuntaskan tugas Bapa. Tuhan pasti masih memberikan visi-Nya, tetapi harus diingatkan banyak orang tidak menyampaikan visi dari hati Tuhan, tetapi visi yang berasal dari dirinya sendiri.
    Bagaimana membedakan visi dari Tuhan dan visi yang bukan berasal dari Tuhan? Pertama, harus dilihat dari isi khotbah pendeta tersebut. Kalau khotbahnya tidak sesuai dengan Alkitab, yang biasanya hanya menekankan berkat jasmani atau teologi kemakmuran, maka visi yang diakuinya berasal dari Allah patut disangsikan. Khotbah yang benar pasti menekankan kesempurnaan karakter, terlepasnya dari ikatan percintaan dunia ini, membela pekerjaan Tuhan tanpa batas, dan menekankan pengharapan kehidupan yang akan datang.
    Kedua, kalau visi yang dari Tuhan pasti bersifat spesifik dan bertujuan bagi kepentingan pekerjaan Tuhan bukan untuk kepentingan pribadi atau institusi. Tetapi, kalau visi itu bernuansa panggilan umum bagi orang percaya pasti itu visi yang dikarang...
    0 min
  • Menukar Hak Kesulungan
    Sesungguhnya dapat mengenal Injil dan menjadi umat pilihan adalah anugerah yang tiada tara. Sebab kepada kita, Tuhan memberikan apa yang dikatakan dalam kitab Roma sebagai karunia sulung roh atau yang sama dengan hak kesulungan. Terkait dengan hal di atas, penulis surat Ibrani menasihati jemaat untuk tidak menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:15-17: Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata). Bisa dimengerti kalau dalam tulisan Paulus di Roma 8, jemaat diteguhkan hatinya untuk tetap setia, tidak menukar hak kesulungan mereka dengan hal apapun. Bahkan, sekalipun mereka harus mengalami aniaya dan kehilangan segala sesuatu, mereka harus tetap setia.
    Hak kesulungan artinya hak yang dimiliki orang percaya dimana di dalamnya terdapat kuasa (Yun. exousia) supaya bisa berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yaitu, berkodrat ilahi. Di dalam kuasa tersebut dimungkinkan seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hal ini sama artinya dengan dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Sayang sekali, Yudas lebih memilih dunia daripada hak kesulungan yang dimilikinya. Kalau seandainya Yudas mengikuti Firman yang disampaikan oleh Yesus, bahwa seseorang harus meninggalkan segala sesuatu agar layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33), maka ia tidak akan menjual Yesus. Yudas menukar kesempatan yang begitu berharga dengan tiga puluh keping perak yang tidak ada artinya sama sekali.
    Terkait dengan hal ini, Paulus menyatakan: Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita (Rm. 8:23). Kita sebagai orang percaya yang dikatakan Paulus “telah menerima karunia sulung roh”. Karunia sulung roh dalam teks aslinya adalah ten amarkhen tou pneumatos (τὴν ἀπαρχὴν τοῦ πνεύματος). Secara harafiah, kata ini bisa berarti buah sulung atau buah pertama roh. Hal ini menunjuk kepada hak istimewa orang percaya untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, yang ada dalam lingkungan keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karunia sulung roh sama dengan hak kesulungan. Orang yang menghayati hak kesulungannya, pasti merindukan untuk dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kerinduan seperti itu hanya ada pada kehidupan anak-anak Allah yang berkualitas baik seperti Paulus. Sangat langka orang Kristen yang sampai pada level ini. Tetapi ini adalah kehidupan orang percaya yang benar, yang hatinya telah dipindahkan ke dalam Kerajaan Surga. Seharusnya kita semua mencapai pada level ini.
    Mengamati penjelasan di atas, maka kita dapat menerima tuntunan bahwa untuk mengalami realisasi janji Tuhan, yaitu dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus seseorang harus rela benar-benar tidak merasa memiliki apa pun. Inilah yang disebut sebagai melepaskan diri dari segala ikatan dunia. Perjalanan hidup di bumi bagi orang percaya hanya untuk memenuhi panggilan sebagai orang yang memiliki karunia sulung roh agar menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Tidak semua orang memiliki kesempatan dan potensi untuk ini.
    Kita sebagai umat pilihan dengan potensi ini hendak tidak menyia-nyiakannya. Hidup kita haruslah hanya memiliki satu agenda, yaitu bagaimana menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kalau fokus hidup orang percaya tidak ditujukan kepada hal ini, maka berarti ia mengkhianati Tuhan Yesus, seperti Yudas yang menjual Yesus atau juga berarti menukar ...
    0 min
  • Maksud Menjual Yesus
    Kalau Yudas mau mengerti dan menerima bahwa Kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini, maka ia tidak akan menjual Yesus. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Orang percaya hidup hanya untuk mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang di atas. Dengan demikian, orang percaya dapat menghayati kemusafirannya di bumi dengan bijak dan dapat sungguh-sungguh menunjukkan kehidupannya sebagai musafir di bumi ini. Jika Yudas melakukan hal ini, maka ia tidak akan menjual Yesus.
    Hal kedua, kalau seandainya Yudas tidak diperbudak oleh uang, maka ia tidak akan menjual Yesus. Uang sudah menjadi segala-galanya bagi Yudas, dan sekarang ini hampir bagi semua orang. Hampir segala hal dihubungkan dengan uang. Uang digunakan untuk memperoleh segala kebutuhan, mulai dari kebutuhan primer, sekunder, sampai tersier. Uang dapat membuat mata hati menjadi gelap, sehingga seseorang bisa bertindak “brutal” seperti Yudas yang menjual Yesus. Uang telah menjadi fokus hidup satu-satunya pada hampir semua orang. Mereka menjadi hamba uang. Menjadi hamba uang artinya hidup seseorang dikendalikan atau dikuasai oleh uang. Dunia yang materialistis menciptakan keadaan di mana uang menjadi “segalanya” dan menjadi pusat kehidupan. Mereka berusaha untuk memiliki uang dalam jumlah besar, dengan pemikiran bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin merasa aman dan nyaman. Hal ini yang juga ada dalam pikiran Yudas, sehingga karena hal tersebut, ia membinasakan dirinya. Kalau ada orang Kristen yang memiliki sikap hati seperti Yudas, suatu saat mereka pasti akan menjual Yesus.
    Cinta uang artinya keadaan hati yang merasa tidak bahagia jika tidak memiliki uang dalam jumlah tertentu, yang diharapkan dapat membahagiakan dirinya. Orang seperti ini akan selalu mengharapkan dan berusaha memiliki uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk dapat memenuhi semua keinginannya guna membeli atau memperoleh sesuatu. Biasanya ia juga tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.  Sebenarnya, bukan uang itu sendiri yang dicintai, tetapi segala sesuatu dalam dunia ini (dari barang, kepuasan daging, kedudukan, dan kehormatan) yang dapat diraih dengan uang. Tentu semua itu diharapkan dapat membahagiakan hidupnya. Dengan demikian, orang seperti ini hidupnya bergantung pada kekayaan.
    Oleh sebab itu, orang percaya harus bersikap benar terhadap uang agar tidak terjebak dalam cinta akan uang. Sikap yang benar adalah menjadikan kekayaan atau uang sebagai alat untuk bersahabat dengan Tuhan. Kita mengikatkan diri dengan Tuhan atau bersahabat dengan Tuhan, menggunakan Mamon atau uang. Bukan sebaliknya, yaitu bersahabat dengan Mamon dengan menggunakan Tuhan. Jadi, kalau kita bekerja mencari uang, tujuannya semata-mata karena kita mau melayani Tuhan. Uang menjadi sarana yang luar biasa untuk memenuhi rencana Tuhan. Yudas seperti banyak orang Kristen hari ini, menggunakan Tuhan untuk sarana meraih dunia dengan segala berkat jasmani demi kesenangannya.
    Kalau kita tidak dengan sungguh-sungguh memeriksa diri kita sendiri dan menemukan keadaan kita yang sebenarnya, terkait dengan masalah bahwa Kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini, dan juga terkait dengan masalah uang, maka kita bisa menjadi seperti Yudas. Kita harus memperkarakan keadaan diri kita di hadapan Tuhan. Kalau kita belum sanggup menghayati bahwa kerajaan Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini dan masih terikat dengan percintaan uang, maka kita harus bertobat dan berubah total. Tuhan akan menolong kalau kita berusaha untuk berubah.
    Sebagaimana Yudas menjual Yesus,
    0 min
  • Ambisi Yang Membinasakan
    Sangat besar kemungkinan bahwa Yudas sebenarnya tidak bermaksud mengkhianati Yesus, Guru yang menjadi tumpuan harapan hidupnya. Kalau Gurunya tidak bersama-sama dengan dirinya, itu berarti sebuah kerugian besar. Karena selama bersama Gurunya, Yudas sudah memperoleh penghasilan lebih dari murid-murid lain, sebab Yudas yang dipercaya memegang kas dan ia juga mencuri uang kas tersebut. Selain memperoleh keuntungan materi, Yudas juga dapat eksis sebagai murid terkemuka. Yudas tidak bermaksud sungguh-sungguh menjual Yesus untuk membunuh dan menyingkirkan-Nya. Tetapi, sangat besar kemungkinan ia ingin menambah jumlah penghasilannya dan lebih eksis. Bagaimana caranya?
    Seperti murid-murid Yesus yang lain, ia juga berpengharapan bahwa suatu hari Yesus menjadi raja seperti Herodes atau kaisar Roma; raja duniawi. Konsep Mesias yang menjadi raja versi dunia itu, pada umumnya menguasai pikiran kehidupan masyarakat Yahudi. Itulah sebabnya, murid-murid pernah bertengkar mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka demi kedudukan di kerajaan di mana Yesus menjadi Rajanya nanti (Mat. 18:1-5, Luk. 9:46-48, dan lain sebagainya). Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat yakin bahwa Yesus akan menjadi raja duniawi.
    Yudas sebenarnya tidak membidik uang 30 keping perak sebab jumlah tersebut sangat sangat kecil, dibanding dengan resiko yang harus dijalani dengan menjual Yesus. Beberapa ahli Perjanjian Baru mengemukakan bahwa keping perak yang dimaksud adalah tetradrachm, suatu media transaksi yang bernilai beberapa bulan (kemungkinan besar 4 bulan) gaji untuk kehidupan wajar bagi pekerja pada umumnya. Jumlah uang tersebut akhirnya digunakan untuk membeli sebidang tanah. Tanah itu pun akhirnya tidak dia nikmati, selain darahnya yang tertumpah atasnya.
    Usaha Yudas menjual Yesus adalah usaha untuk mempercepat ambisinya dan ambisi banyak orang untuk menjadikan Yesus raja versi mereka, yaitu raja duniawi demi kepentingan duniawi pula. Dengan membawa Yesus pada situasi terancam, yaitu dengan dijual kepada musuh-musuh-Nya, maka Yesus dapat menunjukkan keperkasaan-Nya yang mereka sudah saksikan dalam membuat berbagai mukjizat dan tanda-tanda ajaib. Dalam keadaan krisis dan kritis, mereka berharap Yesus “unjuk keperkasaan-Nya”. Mereka berharap Yesus akan menjadi pemimpin bangsa Yahudi memberontak melawan kekaisaran Romawi. Yudas sendiri sangat mungkin berasal dari kelompok orang Yahudi garis keras yang memberontak melawan Roma, yang disebut sebagai orang-orang Zelot. Mereka mengharapkan Yesus menjadi Mesias seperti Daud yang perkasa, yang dapat mengantar bangsanya kepada zaman keemasan dan kejayaan. Yudas seperti Petrus dan murid-murid lainnya, tidak ingin Yesus kalah dan takluk kepada pemerintah Roma.
    Kenyataan yang Yudas saksikan sangat berbeda dari yang mereka harapkan. Ternyata, Yesus dikalahkan (secara fisik oleh kekuatan Roma) dan dijatuhi hukuman mati. Hal ini mengecewakan Yudas, sehingga ia berniat mengembalikan uang tiga puluh keping perak kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi (Mat. 27:5). Tetapi mereka tidak mau menerimanya dan hal ini mengakibatkan Yudas dengan frustasi membuang uang tersebut di depan mereka. Semua sudah terlambat. Yesus harus dihukum mati. Harapan dan cita-cita Yudas kandas, sehingga ia memilih untuk bunuh diri.
    Pelajaran mahal yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah sikap yang salah terhadap maksud keselamatan yang dibawa oleh Tuhan, melahirkan motivasi pelayanan dan segala tindakan yang salah. Kalau seandainya Yudas mengerti maksud keselamatan yang dibawa oleh Yesus, maka ia tidak akan menjual Yesus dan “main api” yang akhirnya membinasakan dirinya. Ambisi Yudas memperoleh kekayaan atau uang lebih besar, kedudukan, dan kehormatan di bumi ini dengan menggunakan fasilitas yang ada pada Yesus, merupakan langkah bodoh yang membinasakan. Kita harus mengerti dan menerima bahwa kedatangan Yesus bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan Allah.
    0 min
  • Kehendak Sendiri
    Yudas berkhianat atas keinginannya sendiri, bukan karena keinginan orang lain apalagi keinginan Tuhan. Kejahatan Yudas sebenarnya dimulai dari kebiasaannya suka mencuri uang kas yang dipercayakan kepadanya. Alkitab menulis bahwa, ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6). Dalam hal ini kita harus mengerti, bahwa seseorang tidak mungkin jadi orang jujur mendadak atau menjadi pencuri mendadak. Kebiasaan Yudas mencuri dan mengingini uang untuk kepentingannya sendiri inilah yang membuka peluang Iblis masuk dalam kehidupannya. Iblis akan masuk dalam kehidupan seseorang kalau seseorang memberikan peluang atau pangkalan (Ef. 4:27). Hal ini meneguhkan bahwa Yudas memilih nasib atau keadaannya sebagai pengkhianat. Walau hal ini tidak direncanakan oleh Yudas sendiri sebelumnya, tetapi kebiasaan jahatnya menggiringnya kepada keputusan yang salah tersebut.
    Terdapat beberapa teks dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Yudas dimasuki oleh Iblis (Luk. 22:3; Yoh. 13:27). Tidak mungkin Iblis diizinkan oleh Tuhan masuk dalam diri Yudas tanpa alasan sebelumnya. Memang Yudas sudah terbiasa “bermain-main” dengan Iblis melalui ketidakjujurannya (Yoh. 12:6; 13:2). Langkah-langkah panjang Yudas inilah yang membawa Yudas kepada keputusan tragisnya, yaitu menjual Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala (Mat. 26:14; Mrk. 14:10; Luk. 22:4).
    Yudas seperti murid-murid yang lain, selalu mendengar pengajaran Tuhan. Di dalamnya termasuk nasihat, peringatan, larangan, dan lain sebagainya. Apakah semua itu diberikan kepada Yudas sebagai sandiwara? Apakah Tuhan menasihati Yudas, tetapi sementara itu juga Yudas dikeraskan hatinya dan tidak akan bisa menjadi umat pilihan? Tentu tidak. Yudas memang selalu mendengar pengajaran Tuhan Yesus, tetapi hatinya sudah tertambat ke uang. Mata hatinya telah dibutakan oleh hasratnya terhadap keinginan materi. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Lukas 16:11: Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Kalimat harta yang sesungguhnya dalam bahasa aslinya adalah ἀληθινὸν (alethinon) yang artinya kebenaran (Ing. Truth). Jadi, walau Yudas banyak mendengar pengajaran Yesus, tetapi karena hatinya terikat uang, maka ia tidak dapat mengerti Firman Tuhan.
    Jadi, kalau seseorang sudah tidak benar soal harta (hati melekat kepada kekayaan), maka ia tidak akan dapat mengerti Firman Tuhan walaupun diajar setiap hari (Luk. 16:11). Jadi, kebutaan mata rohani Yudas bukan karena hatinya dikeraskan oleh Tuhan, tetapi karena ia memilih mencintai harta atau cinta uang. Yudas sendiri yang mengeraskan hatinya. Inilah yang dikatakan Paulus, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
    Roma 1:16-17 menyatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan, tetapi kenyataannya tidak sedikit yang mendengar Injil tetapi tidak selamat, termasuk Yudas. Apakah dalam hal ini kuasa Injil patut diragukan? Tentu tidak. Manusia yang mendengar Injil berperan untuk menerima dan mengalami keselamatan yang Tuhan sediakan. Dalam Yesaya 55:11, dinyatakan: .. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. Dari pernyataan teks ini disuratkan dengan jelas bahwa Firman Tuhan yang disampaikan Tuhan tidak akan sia-sia, artinya tidak pernah gagal. Tetapi pada kenyataannya, banyak orang yang mendengar Firman Tuhan, baik umat Perjanjian Lama maupun zaman anugerah, namun mereka tetap menolak dan akhirnya tidak mengalami keselamatan. Mengapa ini bisa terjadi? Kuasa Firman tidak diragukan lagi, sangat luar biasa. Tetapi kembali kepada manusianya,
    0 min
  • Kemungkinan Yang Lain
    Penggenapan nubuat mengenai Yudas yang berkhianat kepada Yesus adalah satu dari sekian banyak nubuat mengenai Mesias, yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Seperti misalnya, nubuat bahwa Yesus akan lahir di Bethlehem. Hal terpenting bukanlah penunjukkan tempat di mana Ia dilahirkan, tetapi pembuktian atau verifikasi bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Penguasa yang lahir di tengah-tengah bangsa Israel. Semua imam kepala dan ahli Taurat rupanya tahu betul di mana seorang pemimpin Yahudi atau Mesias yang menggembalakan bangsa Israel akan dilahirkan (Mat. 2:4-6). Dalam nubuat yang lain, kalau dikatakan bahwa Ia akan mengendarai keledai tunggangan, maka yang penting bukan menunjukkan keledai sebagai tunggangan-Nya masuk Yerusalem, tetapi yang penting bagi pembaca Injil dapat diyakinkan dan menerima konfirmasi bahwa sungguh Dia adalah Mesias yang dimaksud (Luk. 19:39; Yoh. 12:12). Oleh sebab itu, kita tidak boleh menganggap nubuat sebagai dekrit atau penetapan, tetapi nubuat sebagai konfirmasi dan pembuktian kebenaran Allah yang pasti akan digenapi. Maka dari itu semua nubuat mengarah kepada pribadi Kristus dan karya keselamatan-Nya guna mengonfirmasi atau membuktikan identitas-Nya sebagai Mesias.
    Kalau kita memperhatikan perjalanan hidup Yesus di muka bumi, salah satu yang bisa menghambat dan bahkan menggagalkan tugas penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus adalah Petrus. Hal ini ditulis dalam Matius 16:21-23: Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
    Dalam ayat-ayat tersebut, dinyatakan dengan sangat jelas Yesus menghardik Petrus sebagai Iblis. Petrus dapat menjadi batu sandungan bagi Yesus yang harus menyelesaikan pekerjaan Bapa dengan mati di kayu salib di bukit Golgota. Ironinya, justru Yudas tidak pernah diperlakukan sekeras itu. Logikanya, Petrus juga berpotensi menjadi “iblis” seperti yang dikatakan Tuhan dalam Yohanes 6:70-71: Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis. Dengan hal ini, maka dapat diperoleh pelajaran bahwa yang ditentukan binasa tidak harus Yudas. Tidak menutup kemungkinan Petrus dapat menjadi yang binasa. Tetapi ternyata, pada akhirnya Yudas yang berkhianat kepada Yesus.
    Terkait dengan Petrus, dalam Lukas 22:31-32 tertulis ucapan Tuhan Yesus kepadanya: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Mengapa Yesus tidak berdoa untuk Yudas? Sebab pada waktu itu, Yudas sudah terbukti bahwa dirinya adalah pengkhianat tersebut (Luk. 22:3-6). Yesus tidak mungkin berdoa meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Bapa. Kalau memang sudah dinubuatkan bahwa salah satu dari murid Yesus akan berkhianat, maka Yesus tidak akan meminta agar semua selamat.
    Dalam Yohanes 17:12, Tuhan Yesus menyatakan suatu pernyataan yang penting untuk dicermati: Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Jelas sekali, Tuhan Yesus tidak melindungi orang yang pasti harus binasa. Setelah kedapatan bahwa Yudas yang berkhianat,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…