Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pasti Ada Penyesatan
    Kenyataan adanya penyesatan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan bahwa penyesatan harus ada di bumi ini (Mat 18:7). Penyesatan ini menunjuk kepada kegagalan orang mengenal kebenaran, dengan demikian pasti akan masuk neraka. Tetapi dalam hal ini bukan berarti Tuhan sudah menentukan orang-orangnya. Sebab, kalau Tuhan menentukan siapa saja orangnya, maka berarti hal ini bertentangan dengan hakikat Tuhan yang memberi tanggung jawab kepada masing – masing individu untuk menentukan nasib kekalnya. Dengan adanya tanggung jawab inilah, maka ada penghakiman dan pertanggungjawaban (Rm. 14:12; 2Kor. 5:9-10, dan lain sebagainya). Lagipula, Allah yang kasih adanya tidak akan pernah mengupayakan kebinasaan seseorang. Sebaliknya, Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). 
    Terkait dengan kehidupan Yudas, ada ayat lain dalam Alkitab yang mengesankan bahwa Yudas memang ditentukan untuk dibinasakan terdapat dalam Yohanes 17:2: Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Banyak orang memandang bahwa Yudas seakan-akan “ditentukan untuk binasa” berdasarkan ayat tersebut. Ditentukan untuk binasa dalam teks aslinya adalah ho huios tes apoleias. Dalam teks bahasa Inggris versi King James diterjemahkan the son of perdition (anak kebinasaan atau anak neraka). Dalam versi yang lain diterjemahkan “the man who was bound to be lost” (orang yang ditentukan untuk terhilang). Ayat tersebut membuat kelompok teolog dan orang-Kristen tertentu berpendapat dan meyakini bahwa memang Yudas ditentukan untuk terhilang.
    Kita harus teliti membaca ayat tersebut. Setelah ditulis bahwa Yudas adalah anak kebinasaan, selanjutnya tertulis kalimat “supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci” (so that the scripture might come true). Ini berarti bahwa Yudas terbukti atau terverifikasi salah satu dari dua belas murid yang mengkhianati Tuhan Yesus. Hal tersebut untuk meneguhkan bahwa memang Tuhan Yesus adalah Mesias atau Juruselamat yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci. Di sini yang penting bukan penjelasan Yudas yang berkhianat, tetapi Tuhan Yesus sebagai penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama sebagai Mesias. Jadi, ditentukan untuk terhilang atau binasa tersebut bukan menunjuk pada penentuan pribadi Yudas oleh Allah sebagai anak kebinasaan, tetapi lebih menunjuk kepada penggenapan kitab suci bahwa salah satu orang dekat Mesias akan berkhianat.
    Sebenarnya tidak menutup kemungkinan, salah satu dari murid lain juga bisa berkhianat. Dalam Yohanes 6:66-67 tertulis: Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga? Dari apa yang tertulis di sini, Tuhan Yesus pun juga membuka kemungkinan atau memberi peluang kepada orang-orang dekat-Nya untuk dapat meninggalkan-Nya. Dari catatan ini, jelaslah bahwa dibuka kemungkinan salah satu muridnya dapat berkhianat kepada-Nya. Namun ternyata, Yudaslah yang berkhianat. Berkenaan dengan ini digenapi pula apa yang tertulis dalam Alkitab: Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel (Mat. 27:9).
    Nubuat yang digenapi mengokohkan fakta bahwa Yesus, putra Maria, adalah Mesias, Sang Juruselamat. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada zaman itu yang memandang Yesus tidak lebih dari anak tukang kayu yang lahir dan hidup di tengah-tengah mereka. Nubuat-nubuat yang digenapi tersebut membuktikan kebenaran diri Yesus Kristus sebagai Mesias. Sehingga mereka tidak memiliki alasan lagi untuk menolak atau menyangkal Yesus Kristus sebagai Mesi...
    0 min
  • Dibuktikan Oleh Nubuat
    Pertanyaan yang sering kita dengar selama ini berkenaan dengan kehidupan Yudas adalah apakah Yudas memang ditentukan untuk binasa? Selama ini, ada pemikiran bahwa Yudas memang diciptakan Tuhan untuk menjadi “alat” dalam tangan Tuhan guna mewujudkan keselamatan bagi semua umat manusia. Seakan-akan, Tuhan membutuhkan Yudas untuk menggenapi rencana-Nya. Oleh sebab itu, Yudas dikorbankan dalam rangka menggenapi rencana Tuhan tersebut. Dalam hal tersebut, seolah-olah Yudas juga berjasa bagi keselamatan manusia. Sehingga, Yudas diakui sebagai manusia terpilih untuk melengkapi karya keselamatan Allah atas manusia. Tidak disangka, ada orang yang mengatakan bahwa orang percaya patut berterima kasih kepada Yudas atas “karyanya”. Bahkan, pernah ada pendeta dan orang-orang Kristen yang berpendapat bahwa Yudas tidak tercampak di neraka tetapi di surga. Sebab, ia dipakai oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Pemikiran-pemikiran seperti ini adalah salah dan menyesatkan. Pemikiran yang lain mengatakan bahwa Yudas memang dikorbankan untuk binasa demi keselamatan manusia. Kalau Yesus disebut sebagai Juruselamat, maka Yudas disebut sebagai pemeran pembantu utama untuk proyek keselamatan tersebut.
    Memang, ada beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang mengesankan bahwa Yudas terpilih untuk menjadi “pengkhianat”. Dalam Yohanes 6:70-71 tertulis: Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. Pernyataan Tuhan ini dipahami oleh sebagian besar teolog dan orang-orang Kristen sebagai “penetapan Tuhan”, bahwa Yudas dijadikan “iblis” atau anak Iblis atau yang dikuasai oleh Iblis.
    Harus diperhatikan dengan teliti bahwa dalam pernyataan Yesus mengenai adanya Iblis di antara mereka, Yesus tidak menyebut dan menunjuk siapa pengkhianatnya. Yesus tidak menunjuk Yudas akan menjadi pengkhianat. Ketika Tuhan Yesus mengatakan hal tersebut, Yudas belum terbukti sebagai pengkhianat. Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid Tuhan Yesus ada yang akan menjadi “iblis”, hal itu memang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci bahwa salah satu dari mereka yang makan sehidangan dengan Tuhan akan berkhianat terhadap-Nya (Mzm. 41:10). Yohanes 6:70-71 ditulis setelah semua peristiwa mengenai pengkhianatan Yudas berlangsung, sehingga dalam penulisan ditambahkan: Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. Perlu dimengerti bahwa Injil ditulis belasan bahkan puluhan tahun setelah Yesus naik ke surga.
    Alkitab harus menyatakan nubuat mengenai Mesias untuk menunjukkan bukti, bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada zaman itu yang memandang Yesus tidak lebih dari anak tukang kayu, yang lahir dan hidup di tengah-tengah mereka. Selain itu, dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia akan muncul orang-orang yang mengaku utusan Allah. Seorang utusan harus diverifikasi oleh nubuat. Nubuat-nubuat tersebut akan memverifikasi siapa sebenarnya utusan yang benar itu.
    Dalam banyak kisah kehidupan yang dijalani oleh Tuhan Yesus, semua sudah dinubuatkan dengan tepat, dari tempat kelahiran, karya-karya-Nya dalam mengadakan mukjizat, peristiwa masuk kota Yerusalem mengendarai keledai, penyaliban-Nya di bukit Golgota, kebangkitan-Nya, dan juga mengenai pengkhianatan salah satu dari murid-murid-Nya, yaitu salah satu dari mereka yang ada di sekitar Yesus, yang akan mengangkat tumitnya melawan Yesus. Semua nubuat tersebut akan membuktikan atau memverifikasi bahwa Yesus benar-benar adalah Mesias.
    Dalam Kisah Para Rasul 1:16, Petrus juga menyatakan adanya pengkhianatan salah satu orang yang dekat dengan Tuhan Yesus sesuai dengan yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci.
    0 min
  • Pengkhianatan
    Dalam Injil terdapat kisah mengenai salah seorang murid Yesus yang menjual-Nya, yaitu Yudas. Dari kisah hidup Yudas dalam hubungannya dengan Yesus, dapat dipetik banyak pelajaran rohani yang berharga. Mengamati kehidupan Yudas sangat penting, sebab Yudas merupakan kunci dalam memahami hal “pemilihan Allah”. Siapakah Yudas itu sebenarnya? Yudas adalah salah satu dari dua belas murid Tuhan Yesus yang ditunjuk langsung oleh Tuhan Yesus sendiri (Mat. 10:4; Mrk. 3:19; Luk. 6:16). Yudas dikenal sebagai Yudas anak Simon Iskariot. Perlu diketahui, bahwa ada banyak nama Yudas selain Yudas Iskariot ini. Ada Yudas saudara Tuhan Yesus, Yudas bin (anak) Yakobus dan Yudas yang diidentifikasi dari Tarsus.
    Pemilihan atas murid-murid Yesus, di mana Yudas termasuk salah satunya, didahului dengan doa semalam-malaman oleh Tuhan Yesus (Luk. 6:12). Tentu, Tuhan Yesus tidak bersandiwara dalam pemilihan tersebut. Sangatlah tidak mungkin kalau Tuhan Yesus berpura-pura memilih Yudas, namun dibalik itu Tuhan Yesus berniat untuk menjadikannya “alat kejahatan”. Alat kejahatan artinya, Yudas dijadikan seseorang yang berwatak buruk yaitu “suka mencuri” dan demi uang kecil, ia mengorbankan Gurunya. Adalah mustahil, kalau Tuhan bekerja sama dengan Iblis yang merasuki Yudas untuk merusak karakter Yudas, yang akhirnya membuat Yudas mengkhianati diri-Nya.
    Sesungguhnya, Tuhan Yesus memang memilih Yudas untuk dijadikan salah satu dari para rasul. Semua yang diajarkan Tuhan Yesus di depan murid-murid dan orang banyak, termasuk bagi Yudas, tentunya bukan sandiwara. Ia memberikan pengajaran-Nya, agar Yudas menjadi rasul yang baik, sebagaimana untuk murid yang lain. Dalam Kisah Para Rasul 1:25 tertulis: “…untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.” Dari kalimat ini, jelaslah bahwa Yudas memang dirancang menjadi salah satu dari rasul Tuhan Yesus. Kalau pada akhirnya Yudas ternyata gagal menjadi rasul, hal itu merupakan pilihan dan keputusannya sendiri untuk meninggalkan jabatan kerasulannya.
    Dalam Kisah Para Rasul 1:17, dikatakan bahwa dahulu Yudas termasuk bilangan murid-murid terkemuka dan mengambil bagian di dalam pelayanan. Jabatan rasul memang diperuntukkan bagi Yudas, tetapi Yudas meninggalkannya atas kemauannya sendiri dalam kesadaran penuh. Yudas sendiri yang meninggalkan jabatan rasul tersebut, bukan karena kemauan Tuhan. Jadi, pengkhianatan Yudas bukan rekayasa Tuhan sama sekali.
    Apa yang terjadi dalam kehidupan Yudas, paralel dengan apa yang dialami bangsa Israel ketika keluar dari Mesir menuju Kanaan. Tuhan menghendaki bangsa Israel dapat dibawa ke negeri yang subur, yang berlimpah susu dan madu. Tetapi ternyata, sebagian besar dari mereka tewas di padang gurun. Apakah Tuhan menghendaki demikian? Tentu tidak. Dalam 1 Korintus 10:1-13, ditunjukkan oleh Paulus bahwa kegagalan mereka mencapai Kanaan disebabkan karena mereka menginginkan hal-hal yang jahat, menyembah berhala, melakukan percabulan, mencobai Tuhan, dan bersungut-sungut. Pertanyaan yang bisa muncul adalah mengapa Tuhan mengizinkan mereka mengalami pencobaan sehingga mereka jatuh dan akhirnya gagal memenuhi rencana Allah? Sebelum sampai di tanah Kanaan, mereka harus menjadi dewasa melalui berbagai ujian atau pencobaan (yang pasti tidak melampaui kekuatan mereka). Kalau akhirnya mereka gagal, hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak layak menjadi umat Tuhan.
     
    Paulus mengatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita orang percaya (1Kor. 10:11). Dengan pernyataan ini, Paulus menunjukkan bahwa sebagaimana mereka dapat gagal menjadi umat pilihan, maka kita pun berpeluang untuk gagal. Kegagalan Yudas menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang percaya sepanjang zaman sampai Tuhan datang kembali. Pelajaran itu adalah bahwa seseorang yang sudah menjadi pilihan Tuhan belum tentu tidak bisa gagal dalam pengiringannya kepada Tuhan. Seperti Yudas,
    0 min
  • Kesederhanaan Yang Sejati
    Salah satu senjata untuk dapat menaklukkan semangat atau gairah zaman ini adalah bersedia hidup dalam kesederhanaan. Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Kita harus bisa membedakan antara berpenampilan baik untuk menjadi berkat, dengan berpenampilan untuk memperoleh penilaian dari sesama demi harga diri atau nilai diri.  Dalam hal ini kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya, harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat. Agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Kalau seseorang sudah terikat dengan barang branded, maka sulitlah baginya untuk memahami pengertian kepatutan. Gaya hidup ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan membanggakan. Biasanya orang seperti ini mencari nilai diri dari barang yang dimiliki dan dikenakan. Betapa miskinnya mental orang Kristen seperti ini, sebab mestinya yang berharga adalah manusia batiniahnya, bukan lahiriahnya (2Kor. 4:16; 2Ptr. 3:4).
    Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati tidak mencari hormat atau penilaian manusia. Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Mengapa bisa demikian? Sebab ia tidak mencari dan mengharapkan hormat dari manusia, tetapi dari Allah. Tuhan Yesus menyatakan, bagaimana seseorang bisa percaya kalau masih mencari hormat satu dengan yang lain (Yoh. 5:44)?  Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia.
    Teladan satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan Diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya.  Ciri yang paling nyata dari orang yang memiliki sikap sederhana adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya”. 
    Orang yang membangun nilai diri berdasarkan barang yang dikenakan dan dimiliki, membawa dirinya kepada keadaan “letih, lesu, dan berbeban berat”. Kalau Tuhan menawarkan  kelegaan itu berarti perhentian (Yun. anapauso). Perhentian di sini artinya, perhentian dari pengembaraan jiwa yang mengingini banyak hal. Perhentian di sini artinya juga jiwa dilabuhkan pada Tuhan, bukan kepada yang lain. Dalam pernyataan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia rendah hati dan lemah lembut (Mat. 11:28-29). Rendah hati dan lemah lembut adalah jiwa atau nafas dari spirit (gairah) kesederhanaan. Tanpa kerendahan hati dan kelemahlembutan seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, seseorang tidak akan memiliki kesederhanaan yang diinginkan oleh Bapa di surga. Kalau kita meneropong kehidupan Tuhan Yesus, Ia adalah Pribadi yang tidak memiliki keinginan kecuali “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Pola hidup seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini adalah pola hidup sederhana yang tidak rumit, tetapi agung tiada taranya.
    Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini yang bukan berasal dari Allah, suatu hari nanti akan berakhir dan lenyap, tiada bekas dalam kebinasaan. Oleh sebab itu kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi tuhan bagi diri sendiri, bila berkeadaan kuat (kaya dan memiliki kuasa duniawi), ia juga menjadi tuhan bagi sesamanya.
    0 min
  • Mencabut Nyawa
    Dunia di mana kita hidup hari ini adalah dunia di mana setiap orang memiliki hak yang harus dihargai. Berhubung manusia menjadi nihilistis dan materialistis, maka banyak orang -termasuk sebagian orang Kristen- tidak bersedia didominasi (dibawahi atau dikuasai) oleh siapapun termasuk oleh Tuhan sendiri. Padahal setelah seseorang ditebus oleh darah Yesus, maka ia harus menjadi hamba atau budak-Nya (Yun. doulos). Prinsip ini harus kita terima, bahwa segenap hidup kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20).  Seseorang menjadi budak siapa, Tuhan atau Iblis, tergantung masing-masing individu. Hal ini sangat ditentukan oleh apa yang mengisi pikirannya. Apakah pikiran kita diisi oleh hal-hal duniawi atau kebenaran Firman Tuhan, tergantung individu.
    Paulus mengatakan bahwa Hawa diperdaya oleh ular dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus, karena pikirannya disesatkan (2Kor. 11:2-3). Kalau di zaman Eden Iblis memakai ular, maka di zaman sekarang ia memakai pembicara di mimbar yang tidak mengenal kebenaran untuk menyesatkan umat. Dalam hal ini kita mengerti mengapa untuk penyesat ini Paulus berani mengatakan tegas: terkutuklah mereka (Gal. 1:6-10). Perjuangan untuk menjadi budak Tuhan adalah perjuangan dalam mengisi pikiran dengan kebenaran.
    Hidup manusia bergulir terus dan bergerak demi suatu cita-cita, rencana-rencana pribadi, keinginan-keinginan yang tidak pernah berhenti. Padahal semua yang diinginkan dari dunia ini akan lenyap seperti uap. Inilah penyesatan hebat yang sedang dilakukan oleh kuasa kegelapan. Keinginan daging (Yun.ephitumeo), keinginan mata dan keangkuhan (Yun. alazoniea) hidup bukan berasal dari Bapa. Tentu orang yang melakukan hal ini akan binasa (1Yoh. 2:15-17). Orang-orang seperti ini, pada masa hidupnya di dunia hanya digerakkan dari satu keinginan ke keinginan yang lain, tanpa sungguh-sungguh mau mengerti apa yang diingini Allah dalam hidupnya. Mereka tidak mengerti bagaimana melakukan kehendak Allah atau yang diingini Allah. Dengan demikian mereka menjadi budak dunia. Menjadi budak dunia artinya juga menjadi budak kuasa kegelapan atau budak Iblis.
    Sebenarnya, keinginan-keinginan dalam pikiran manusia adalah belenggu manusia itu. Hal ini akan sangat sulit dilepaskan kalau sudah dibiarkan mengakar bertahun-tahun. Karena pikiran itulah yang menggerakkan hidup manusia. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan menghendaki kita mengalami pembaharuan pikiran dari hari ke hari. Tentu sejak muda atau sedini mungkin pembaharuan pikiran itu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar kita mengarahkan pikiran pada kehendak Bapa, supaya kita menjadi pelakunya. Inilah target yang dikehendaki Bapa untuk dapat kita capai. Tentu untuk target ini kita diberi kemampuan dan kemungkinan untuk dapat mencapainya. Inilah kabar baik. Ini adalah anugerah Tuhan yang tidak terbeli dengan uang.
    Banyak pemberitaan khotbah di mimbar yang sebenarnya menggiring umat Tuhan untuk bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Mereka tidak mengajar bagaimana membuang semua keinginan untuk berlabuh kepada Tuhan, tetapi malah merangsang umat mengingini harta dunia ini. Seakan-akan harta dunia dan keadaan hidup yang tidak bermasalah adalah perhentiannya. Dengan demikian, umat tidak diajar untuk mengerti dan mengalami perhentian di dalam Tuhan, tetapi perhentian dunia. Padahal untuk bisa menang melawan Iblis, seseorang harus masuk perhentian Tuhan (Mat. 11:28-29). Kata perhentian dalam teks ini adalah anapauso (Ingg. rest). Orang yang masuk perhentian Tuhan berarti mematikan keinginan daging (ephitumeo). Kalau seseorang masih memiliki banyak keinginan, maka mudahlah bagi Iblis unduk mengendalikannya.
    Setiap orang yang berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan akan mengalami “sakit”nya ketika harus melakukan keinginan Bapa dan membunuh keinginannya sendiri. Proses membunuh keinginan dari sendiri ini dimulai dari hal-hal sederhana yang tidak sulit untuk dilepaskan. Tapi pada akhirnya ia harus melepaskan semua kesenang...
    0 min
  • Nihilisme
    Tidak dapat disangkal bahwa dunia kita sekarang ini memasuki semangat filosofi nihilisme yang sangat kuat. Nihilisme merupakan filsafat hidup yang bertumpu pada keyakinan bahwa dewa-dewa tidak ada, tidak ada Allah, atau tidak perlu ada. Kalau Tuhan dianggap tidak ada (nihil), maka besar kecenderungan manusia hidup dalam dosa. Akhirnya hati nurani menjadi gelap dan tidak akan dapat memahami kebenaran Allah. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan mengundang Iblis mendominasi seluruh kehidupannya. Dewasa ini di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gerakan modernisasi dalam berbagai bidang kehidupan, menjadikan manusia tidak memerlukan Tuhan lagi, karenanya mereka menentang adanya Allah. Sehingga dalam segala kegiatan, mereka tidak memerlukan Tuhan dan norma-Nya. Walaupun mereka nampak sebagai orang-orang yang beradab, moralis, dan edukatif, tetapi mereka tidak memiliki norma Allah. Sebenarnya mereka berkeadaan sebagai pemberontak di hadapan Allah.
    Di dunia Barat keyakinan adanya Allah dengan segala eksistensi-Nya ditolak oleh banyak orang. Filosofi nihilisme tersebut semakin meluas di seluruh dunia. Memang inilah kenyataan hidup dunia modern, betapa sukarnya memercayai bahwa Allah itu ada dan hidup. Hal ini disebabkan oleh karena manusia telah hanyut dengan filosofi nihilisme ini. Menurut manusia modern pada umumnya bahwa manusia dapat hidup tanpa Tuhan. Di banyak negara di Timur, walaupun keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa masih kuat, mereka juga menolak paham ateisme yang dianggap sebagai paham orang-orang kafir tak bermoral. Namun kenyataannya, perbuatan mereka menunjukkan mereka tidak percaya adanya Tuhan. Mereka adalah kelompok yang secara teoritis bertuhan, teis teoritis, tetapi sebenarnya mereka adalah ateis secara praktis (ateis praktis).
    Keyakinan akan Allah tidak cukup hanya sebuah pengakuan di lidah bibir saja, kemudian juga memeluk suatu agama. Pengakuan ini haruslah merupakan bentuk konkret dalam kehidupan atau diterjemahkan dalam perilaku secara konkret. Seseorang yang percaya akan adanya Tuhan adalah seorang yang tentu menunjukkan keyakinannya itu dalam perbuatan. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak. 2:14-26).  Selanjutnya orang yang percaya kepada Tuhan akan merealisasikan kepercayaannya menjadi semakin jelas. Ia memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup dan nyata.
    Orang Kristen yang mau hidup di hadapan Tuhan harus memercayai Allah secara benar. Untuk itu ia harus memahami dan menerima sepenuhnya bahwa Allah pantas atau layak dipercayai. Allah pantas atau layak dipercayai walau Ia tidak menunjukkan bukti-bukti keberadaan dan kehadiran-Nya secara fisik atau lahiriah.  Dalam kenyataan hidup ini, banyak hal yang tidak kelihatan, tetapi merupakan fenomena riil, seperti arus listrik, angin, dan lain sebagainya. Manusia dapat meyakini keberadaan mereka karena dapat membuktikan keberadaan mereka, tetapi Allah hendaknya tidak diperlakukan sama seperti mereka. Allah harus dipercayai walau Dia seakan-akan tidak ada. Kita harus memercayai Allah walau tidak ada bukti lahiriah, sebab dasarnya adalah iman, yaitu apa yang dikatakan Alkitab mengenai Dia benar adanya.
    Dalam memercayai Allah, harus tidak bersyarat. Bukan aku percaya karena aku melihat, tetapi aku percaya walau aku tidak melihat. Bukan aku percaya karena mengerti, tetapi aku percaya walau aku belum mengerti. Sesuai Firman Tuhan, kalau kita tekun memercayai Dia, maka kita akan mengalami Tuhan dan memiliki kesaksian bahwa Dia hidup dan nyata. Tuhan pasti memenuhi janji-Nya bahwa Dia berkenan ditemui oleh mereka yang mencari Tuhan. Ketika mengalami keadaan sulit dan Tuhan seakan-akan tidak peduli, kita harus tetap memercayai keberadaan dan kehadiran-Nya. Kalau menyaksikan pengalaman orang percaya di abad mula-mula, kita memperoleh pelajaran yang berharga soal keyakinan atau percaya kepada Pribadi Tuhan.
    0 min
  • Berani Menjadi Sempurna
    Kata sempurna sebenarnya bisa memiliki banyak pengertian, antara lain: utuh, lengkap atau tidak kurang, berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, telah selesai, tuntas, teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan, dan baik sekali. Di dalam Alkitab pun kita harus memperhatikan konteks ayat secara ketat di mana terdapat kata sempurna. Kita harus teliti dalam memahami kata sempurna sesuai konteksnya. Sebab ketika kata itu muncul di dalam suatu teks, ia memiliki konteks yang khusus. Satu hal yang harus ditekankan, bahwa kesempurnaan mutlak hanya pada Allah. Dalam tulisan ini kesempurnaan yang dibicarakan adalah kesempurnaan orang percaya. Banyak sekali ayat Alkitab yang berbicara mengenai hal tersebut, khususnya dalam Perjanjian Baru.
    Kita harus menghindari sikap negatif terhadap pengajaran mengenai kesempurnaan yang dikaitkan dengan manusia. Sikap negatif di sini maksudnya adalah tidak menerima pengajaran bahwa manusia bisa menjadi sempurna. Harus diingat, bahwa faktanya dalam Alkitab kita menemukan perintah untuk sempurna atau yang seunsur dengan kata itu dan kita harus hidup di dalamnya. Kita juga tidak boleh bersikap skeptis. Skeptis artinya kurang percaya atau tidak yakin bisa melakukan. Sikap skeptis ini jika dikaitkan dengan pengajaran, berarti bersikap ragu-ragu untuk memercayainya. Skeptis terkait dengan kemungkinan dapat sempurna artinya tidak yakin, ragu-ragu, dan memandang terlalu sulit untuk dapat mencapai kesempurnaan. Firman Tuhan jelas sekali mengatakan bahwa kita harus sempurna, artinya bahwa kita bisa mencapai kesempurnaan. Sikap skeptis adalah sikap tidak memercayai Pribadi Allah. Harus dimengerti bahwa kesempurnaan masing-masing individu berbeda. Sikap skeptis menunjukkan ketidakpahamannya mengenai kesempurnaan orang percaya di dalam Tuhan.
    Harus disadari bahwa setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah sehingga mengganggu perjalanan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Dalam kesaksiannya Paulus menyatakan: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus (Flp. 3:12). Orang percaya ditangkap Tuhan supaya akhirnya ia juga menangkap apa yang dikehendak-Nya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Jika fokus hidup orang percaya tertuju kepada hal yang lain, maka target yang harus dicapai tidak akan tercapai. Kita harus sungguh-sungguh, atau nekat. Sebab orang percaya yang mau sungguh-sungguh hendak sempurna saja nyaris tidak bisa meraihnya, apalagi yang tidak sungguh-sungguh.
    Jika Paulus menyaksikan bahwa “bukan seolah-olah dirinya telah memperoleh hal itu atau telah sempurna”, menunjukkan adanya fakta kesempurnaan dan bahwa kesempurnaan adalah proyeksi hidupnya dan ia sedang menggumulinya. Itulah sebabnya di bagian lain dalam Alkitab ia mengemukakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah adalah kata lain dari kesempurnaan.  Dalam suratnya, Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Untuk terselenggaranya hidup sesuai dengan kehendak Allah atau sempurna seperti Allah Bapa, Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus adalah kuasa Allah yang tidak terbatas, yang dapat menuntun orang percaya kepada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Kesempurnaan adalah sikap atau tindakan yang sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah. Jika seseorang dapat mencapai standar itu, maka itu adalah kesempurnaan;  artinya mencapai tujuan, lengkap, dan utuh. Dalam hal ini, masing-masing orang memiliki porsi yang berbeda. Maka sempurna menjadi relatif ditinjau dari objeknya, tetapi mutlak jika ditinjau dari subjeknya. Objeknya adalah Tuhan dan subjeknya adalah Allah sendiri yang menilai perilaku sese...
    0 min
  • Kesucian Di Bumi
    Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga, di mana tidak ada Iblis, maka juga tidak ada dosa. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari iblis. Selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa. Pandangan ini keliru, karena kesucian harus dimulai di bumi. Perintah untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela bukanlah perintah untuk nanti di balik kubur, tetapi sekarang semasa hidup di bumi (1Tes. 4:7 dan lain-lain).
    Orang percaya harus selalu berjuang untuk berkenan kepada Tuhan. Berkenan kepada Tuhan bukan hanya didasarkan pada melakukan hukum, tetapi tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, dosa bukan hanya tindakan yang melanggar moral umum -seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, perampokan, dan sejenisnya- tetapi tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dosa-dosa yang terselubung di dalam hati dapat terjadi setiap saat tanpa rangsangan dari luar. Dalam hal ini nyatalah bahwa dosa tidak terletak pada kausalitas di luar diri manusia itu semata, tetapi dosa justru terletak pada kodrat dalam diri manusia.
    Kesucian adalah semua tindakan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kesucian hidup orang percaya tidak diukur oleh hukum, tetapi oleh pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu setiap sikap hati dan gerak pikiran yang salah, sudah memenuhi kategori dosa (Yun. hamartia; meleset).  Untuk hal ini setiap saat seseorang dapat menyelesaikan atau melakukan pemberesan secara pribadi dengan Tuhan. Hal ini harus dilakukan secara pribadi dengan Tuhan, sebab tidak seorang pun yang dapat memahami keadaan batin seseorang. Dalam keadaan siaga seseorang dapat selalu menyadari apakah dirinya di tempat yang benar di hadapan Allah atau tidak.
    Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah proses untuk dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Rancangan semula adalah manusia yang memiliki kodrat Ilahi, serupa dan segambar dengan Allah. Kalau proses itu dijalani, maka manusia bisa berhenti hidup dalam dosa, berubah hidup dalam kekudusan. Dalam hal ini orang percaya diperkenankan mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Harus ada perjuangan dari menanggalkan kodrat dosa kemudian mengenakan kodrat Ilahi.
    Satu hal yang harus ditegaskan adalah dalam Alkitab tidak pernah dituliskan bahwa kesucian hanya bisa terjadi atau dilakukan di surga. Sangatlah kurang ajar terhadap Tuhan kalau ada orang mengajarkan bahwa kesucian hanya dapat dicapai di surga. Itu adalah tindakan memalsukan Firman Tuhan. Dalam Alkitab jelas sekali perintah Tuhan untuk hidup suci selama di dunia. Kalau seseorang menyatakan bahwa tidak mungkin bisa hidup suci di dunia ini, maka ia menuduh dan menganggap Allah berdusta, sebab ada banyak ayat dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa kita harus hidup suci. Selain itu juga, menganggap Allah jahat sebab memerintahkan manusia melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan atau di luar kemampuannya melakukan.
    Allah mau menjadikan orang percaya sebagai orang kudus, tetapi kalau seseorang menolaknya, maka Allah tidak memaksanya. Memaksa bukanlah hakekat Allah. Dari hal ini, kita peroleh fakta ada orang-orang yang bersedia bertobat dan menerima Yesus  Kristus dengan benar dan banyak pula yang menolaknya. Hal tersebut tergantung kehendak bebas individu. Juga dalam kehidupan orang percaya yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, mereka bisa menjadi orang percaya yang menang atau orang yang kalah, tergantung individu pula. Dari hal ini jelas bahwa hidup adalah perjuangan (Luk.
    0 min
  • Kuasa Hidup Yang Benar
    Salah satu penyesatan yang berhasil merusak kehidupan iman jemaat adalah konsep mengenai berkat. Selama ini banyak orang Kristen yang salah memahami kata berkat. Mereka mengisi pengertian berkat ini sesuai dengan konsep yang mereka serap dari lingkungan. Sangat membahayakan kalau ajaran yang salah ini keluar dari seorang pembicara atau pengajar di mimbar-mimbar gereja. Berhubung pengertian kata ini penting, maka seorang pembicara harus benar-benar memahami kata berkat dari perspektif Alkitab Perjanjian Baru. Kita tidak boleh mencampuradukkan pengertian berkat bagi orang Yahudi dengan orang Kristen.
    Kalau dilihat secara etimologi dari teks Alkitab, pengertian kata “berkat” (berakah) adalah sesuatu yang menghidupkan. Persepsi umat Perjanjian Lama, yang dihidupkan adalah kemakmuran duniawi, kelimpahan, dan kebebasan. Kata “menghidupkan” mengingatkan kita apa yang dikatakan Tuhan dalam Kejadian 2:17, bahwa pada hari manusia makan buah yang dilarang Tuhan itu mereka akan mati. Bagi orang Yahudi yang belum mengerti keselamatan, mereka memahami sesuatu yang menghidupkan, kemakmuran, kelimpahan, dan kebebasan  adalah hal-hal yang bertalian dengan kehidupan fisik. Itulah sebabnya janji Allah kepada bangsa Israel berorientasi pada berkat jasmani  dari masalah kesehatan, buah kandungan wanita, ternak, ladang, terlepas dari musuh, dan lain sebagainya (Ul. 28). Tuhan juga menjanjikan suatu tanah yang subur di mana berlimpah susu dan madu dan kehidupan yang berjaya dari musuh-musuh mereka. Semua itu menunjuk pada kemuliaan duniawi. Itulah berkat yang dipahami oleh umat Perjanjian Lama.
    Banyak orang Kristen memahami pengertian berkat seperti konsep Yahudi, yaitu yang berorientasi pada kelimpahan atas pemenuhan jasmani. Hal ini akan mengakibatkan mereka tidak mengenal keselamatan yang diajarkan Tuhan Yesus. Kalau Injil berbicara mengenai kelimpahan, hal itu tidak selalu berhubungan dengan berkat jasmani.  Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus pada dasarnya adalah pemulihan kehidupan, yaitu dikembalikannya manusia kepada keadaan semula. Kedatangan Tuhan Yesus mempunyai arti mahapenting bagi kehidupan manusia. Manusia yang telah kehilangan kehidupan yang berkelimpahan sesuai dengan maksud rencana Allah, dimungkinkan kembali untuk menemukannya (Yoh. 10:10). Kata kelimpahan dalam Yohanes 10:10 berarti tinggi dalam kualitas (Yun. perissos), bukan banyak dalam arti kuantitas.
    Seharusnya atau idealnya, kata “kelimpahan” tidak boleh dihubungkan sama sekali dengan berkat jasmani, walau bagaimanapun tentu memiliki keterkaitan. Kelimpahan harus hanya dihubungkan dengan karakter dan gaya hidup seseorang yang mengenakan gairah hidup Tuhan Yesus Kristus. Semakin mengenakan gairah hidup Tuhan Yesus berarti kehidupan seseorang semakin berlimpah dalam berkat-Nya. Sebenarnya, inilah harta yang sesungguhnya yang disediakan Tuhan bagi umat pilihan. Jadi, sangatlah duniawi kalau orang percaya menjalani hidup Kekristenannya dengan landasan kelimpahan jasmani (keuangan, karir, dan lain sebagainya yang bersifat materi). Kenyataannya, banyak pendeta yang menjadi pembicara di mimbar mengarahkan pengertian jemaat mengenai berkat secara keliru. Mereka mengajarkan kemakmuran duniawi. Dengan cara demikian sesungguhnya mereka menyesatkan umat Tuhan.
    Menurut Injil, kelimpahan yang dimaksud adalah sebuah gaya hidup baru. Kehidupan yang berbeda dengan kehidupan yang telah mereka miliki sebelumnya. Ini adalah sebuah gaya hidup yang membuat manusia dapat bersekutu dengan Tuhan secara harmonis. Lebih dari semua yang Tuhan sediakan atau berikan dalam keselamatan, dipulihkannya kembali hubungan dengan Tuhan adalah segalanya atau berkat yang terindah. Oleh sebab itu pengiringan kita harus terus menerus diisi dengan belajar mengenal Tuhan, baik pemahaman mengenai Tuhan melalui pengajaran maupun pengalaman pribadi, yaitu mengalami Tuhan secara riil. Dari hal inilah kita mulai memahami bagaimana seharusnya kita menyelenggarakan hidup ini sesuai kehendak Tuha...
    0 min
  • Kepuasan Yang Kudus
    Hal yang sangat prinsip yang harus diperkarakan di hadapan Tuhan adalah gairah atau spirit apa yang menguasai hidup kita saat ini. Dari gairah tersebut akan terbukti selera jiwa seseorang. Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan selera jiwanya kepada dunia. Mereka menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Kata “hawa nafsu” dalam teks aslinya di Yakobus 4:1-3 adalah hedone (ἡδονή) yang artinya pleasure (kesenangan), enjoyment in an unfavorable sense (kesenangan atau kepuasan yang merugikan). Kata hedone ini dalam Alkitab Bahasa Indonesia  juga diterjemahkan “hawa nafsu”. Kata mengingini (Yak. 4:2) dalam teks aslinya adalah ephitumeo (ἐπιθυμέω ; lust), yang artinya keinginan yang kuat atau sangat mengingini (covet, craved, longing, desire).
    Dalam diri setiap orang Kristen ada pergumulan yang mengarahkan dirinya kepada selera rohani (surgawi) atau selera dunia ini.  Perlu diingatkan di sini bahwa arah yang salah dalam waktu yang terlalu lama bisa membuat seseorang tidak bisa diubah lagi. Tidak ada kesempatan untuk merubah arah.  Dalam Matius 10:39, Tuhan menyebutnya sebagai pergumulan kehilangan nyawa. Nyawa di sini adalah jiwa. Di dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak. Di dalam jiwa ada selera. Kalau seseorang berhasil rela kehilangan kesenangan dunia ini, artinya mengarahkan dirinya kepada selera surgawi, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia yang akan datang. Tidak mungkin orang yang selera jiwanya masih duniawi diperkenankan masuk Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga Kerajaan.
    Ternyata selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus mendidik murid-murid, selera jiwa mereka belum berubah secara total. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid masih menuntut agar  Tuhan  Yesus memulihkan Kerajaan Israel duniawi. Mereka masih berpikir duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka masih ingin membangun kerajaan mereka sendiri. Mereka masih memiliki cita rasa atau selera bumi ini, bukan langit baru dan bumi yang baru.  Itulah sebabnya mereka harus menerima Roh Kudus yang menuntun mereka kepada segala kebenaran. Perubahan secara signifikan terjadi ketika mereka dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus membawa perubahan yang sangat luar biasa.
    Sesungguhnya Bapa menghendaki agar orang percaya memiliki selera atau cita rasa rohani atau surgawi. Selera atau cita rasa rohani tersebut adalah gairah untuk menikmati kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, bukan menikmati yang lain (Yoh. 4:34). Dengan melakukan itu Tuhan Yesus menikmati hidup-Nya sebagai Anak Allah yang dapat memuaskan hati Bapa (Mat. 3:17). Tuhan Yesus memuaskan diri-Nya secara benar. Diri-Nya merasa puas ketika memuaskan atau menyenangkan Bapa-Nya. Seperti Tuhan Yesus, demikian pula seharusnya kita. Kepuasan diri anak-anak Allah adalah melakukan kehendak Bapa. Ini adalah kepuasan yang kudus.
    Kebenaran ini tidak dikenal oleh banyak manusia hari ini. Mereka tidak mengenal kepuasan yang kudus tersebut. Mereka menikmati dirinya secara salah, yaitu memuaskan dirinya dengan fasilitas hidup dunia, kehormatan, sanjungan, dan pujian manusia. Inilah cara memuaskan diri versi anak-anak dunia yang dipersiapkan untuk dibinasakan. Dengan cara ini, Iblis menggiring mereka ke dalam api kekal. Dengan cara ini pula anak-anak manusia dibelenggu oleh kuasa kegelapan untuk menjadi mempelainya.  Orang Kristen yang memuaskan diri dengan fasilitas dunia sama dengan bersekutu dengan Iblis atau menyembahnya.  Ternyata bukan hanya orang-orang di luar gereja yang terjebak dalam pola hidup seperti ini, orang-orang Kristen pun banyak yang terjebak dalam kubangan ini. Tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka yang sangat membahayakan itu. Mereka masih menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmatinya. Sementara itu mereka masih rajin ke gereja, bahkan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…