Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Melepaskan Diri Dari Jerat
    Masalah besar yang menjadi pergumulan hidup banyak orang hari ini adalah bagaimana dapat melepaskan diri dari jerat cinta akan uang atau dosa materialisme, yang adalah bagian penting dalam semangat atau gairah zaman ini. Kalau jujur, sebenarnya hampir semua orang telah terjebak dalam gairah cinta uang. Bagi mereka yang tidak mengerti Firman Tuhan, cinta uang dipandang sebagai hal yang wajar yang tidak menyalahi etika kehidupan. Mereka berpikir dengan cinta uang, tidak ada yang dirugikan. Padahal kalau seseorang cinta uang, maka tidak mungkin tidak ada korbannya.
    Ada pula yang berpikir bahwa dengan memiliki jumlah uang cukup, maka mereka tidak lagi akan terikat dengan uang. Mereka lupa bahwa manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya tidak mengenakan kodrat Ilahi, adalah orang yang selalu haus dan tidak pernah dapat dipuaskan oleh apa pun juga, termasuk oleh uang.  Adalah kebodohan, kalau berpikir bahwa dengan tidak miliki masalah berkenaan dengan keuangan, karena terpenuhinya apa yang dipandangnya sebagai kebutuhan, maka seseorang tidak terikat lagi oleh uang. Banyak orang berpikir demikian, termasuk sebagian besar orang Kristen. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh pola pikir manusia modern yang pada umumnya materialistis. Penyesatan ini juga disebabkan oleh khotbah banyak pembicara, termasuk pembicara-pembicara Kristen dan penulis buku, yang tidak melandaskan pemahamannya pada Alkitab. Mereka mengajarkan Tuhan yang berjanji memenuhi apa yang mereka anggap sebagai kebutuhan. Padahal seringkali apa yang dianggap kebutuhan adalah ambisi pribadi atau pikiran fasik manusia berdosa yang ingin memuaskan diri dengan materi. Harus disadari bahwa dengan jumlah uang yang besar atau banyak bisa membawa seseorang akan semakin terbelenggu oleh gairah cinta akan uang.
    Firman Tuhan mengatakan bahwa kebenaran itu memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Masalahnya adalah kebenaran yang mana? Untuk itu kita harus membahas beberapa hal menyangkut kebenaran-kebenaran tersebut. Hal utama untuk dapat dimerdekakan dari cinta uang adalah memahami tujuan hidup sebagai umat pilihan. Dunia kita yang sudah jatuh dan semakin rusak di akhir zaman ini semakin kehilangan maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan. Manusia diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menggenapi rencana Allah. Rencana Allah adalah membangun Kerajaan Allah setelah membinasakan pekerjaan Iblis. Orang percaya sebagai umat pilihan yang sangat istimewa hanya boleh memiliki satu-satunya agenda tersebut. Untuk ini kita harus memahami maksud Allah menciptakan manusia.
    Ketika Iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakannya. Ada “rule” atau hukum atau aturan untuk bisa menunjukkan bahwa Iblis bersalah dan pantas dihukum. Bagaimana membuktikan bahwa Iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang taat melakukan kehendak-Nya.  Adam diciptakan agar menjadi makhluk seperti yang dikehendaki-Nya atau yang dirancang-Nya. Manusia diciptakan dengan maksud agar menampilkan kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan Allah, dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal ini dimaksudkan agar manusia dapat menjadi alat bukti untuk menunjukkan kesalahan Iblis sehingga ia bisa dihukum dan dibinasakan (menjadi corpus delicti).  Ternyata manusia pertama (Adam) gagal menjadi corpus delicti.
    Kegagalan manusia pertama membuat Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa di kekekalan, harus turun ke bumi menjadi manusia (Ibr. 2:17). Allah Anak menjadi manusia untuk membuktikan bahwa ada Pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya serta menghormati-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan Iblis memberontak kepada Allah sebagai tindakan yang salah dan patut dihukum. Dalam hal tersebut, kita menemukan kehidupan Tuhan Yesus yang diarahkan sepenuh kepada kehendak Bapa dan berhasil menjadi corpus delicti.
    0 min
  • Alat Zaman Yang Membinasakan
    Zaman kita ini bergerak cepat dengan segala penemuan canggih dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia makin dihujani dengan segala barang-barang yang dianjurkan untuk dimiliki. Ditambah dengan metode marketing yang canggih melalui berbagai advertensi dan iklan-iklan yang makin gencar, maka masyarakat dibentuk menjadi masyarakat yang konsumeristis. Masyarakat yang konsumeristis memiliki gaya hidup yang menganggap bahwa barang-barang (khususnya yang mewah) sebagai ukuran kebahagiaan dan kesenangan. Ini adalah gaya hidup yang tidak hemat, gaya hidup shopping. Istilah popular dari konsumerisme tanpa batas ini adalah affluenza.
    Affluenza bukanlah penyakit fisik tetapi penyakit jiwa. Ini adalah konsumerisme tanpa batas yang sedang melanda dunia ini dengan dahsyat. Tua muda, besar kecil, masyarakat kota maupun desa, berpendidikan atau tidak, jemaat awam atau rohaniwan terjangkit virus ini. Banyak orang tergila-gila dengan rumah mewah, mobil bagus, deposito dalam jumlah besar, berbagai fasilitas elektronik, dari mesin cuci sampai komputer, penampilan menarik, dan lain sebagainya. Semua itu menjadi sarana untuk hidup yang menaikkan citra diri atau prestise. Filosofi hidup ini bisa dikatakan sebagai kapitalisme pribadi. Ini adalah bahaya yang sangat menakutkan dan harus diwaspadai dengan sangat serius. Bagaimana menanggulangi virus ini?
    Dalam semangat konsumerisme tersebut, keinginan diumbar sebegitu rupa sehingga menjadi liar tak terkendali. Artinya bisa diarahkan ke mana saja, kapan saja dan di mana saja, dan dengan apa saja. Hati manusia bisa ternganga dan menyerap apa pun yang ditawarkan serta ditanamkan di dalamnya. Dunia hari ini adalah seperti ini, yaitu sebuah dunia tanpa Yesus, tanpa Juruselamat. Bukan karena tidak ada Juruselamat, tetapi karena menolak penyelamatan-Nya. Mereka lebih mengingini dunia dengan segala kesenangannya. Semangat hidup seperti inilah yang disebut sebagai “ilah zaman” ini, yang menutup mata hati sehingga tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus (2Kor. 4:4).
    Kalau mata hati seseorang sudah buta terhadap Injil, maka tidak akan ada keselamatan atas mereka. Sebab Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Orang tidak mungkin dapat memiliki Tuhan Yesus tanpa Injil. Dalam hal ini yang penting bukan hanya pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga dengan pengertian akan Injil yang membuat seseorang mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik yang berkenan dan yang sempurna. Orang yang mengerti dan menerima Injil dengan benar ditandai dengan melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah supaya memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9). Seseorang tidak akan memiliki Kristus tanpa melepaskan segala sesuatu.
    Sangatlah menyedihkan, banyak orang Kristen terjerat dalam dosa ini. Ini berarti mereka hidup tanpa Yesus. Sungguh mengerikan bahwa di zaman sekarang terjadi fenomena orang Kristen tanpa Yesus, gereja tanpa Yesus, persekutuan dan lembaga Kristen tanpa Yesus, bahkan sekolah Alkitab tanpa Yesus. Tuhan Yesus tidak mungkin bersekutu dan bersama dengan orang yang konsumeristis, yang hatinya menyembah Iblis. Kalau dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus disalib oleh orang-orang Yahudi yang memang merindukan Mesias tetapi tidak mengenal hikmat dari Allah atau kebenaran yang murni (1Kor. 2:6-8), sekarang Tuhan Yesus disalib oleh orang Kristen yang tidak mengenal hikmat yang murni dari Tuhan.
    Mereka yang beragama Kristen dengan maksud memanipulasi Tuhan, sama dengan menolak jalan keselamatan yang Tuhan tawarkan. Jalan itu bukan hanya pribadi Tuhan Yesus dengan pengorbanan-Nya tetapi juga ajaran yang diajarkan yaitu Injil yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Kita sebagai orang percaya yang mengenal kebenaran harus bersikap tegas, menolak cara hidup konsumeristis tersebut. Karena konsumeristis adalah alat zaman yang ampuh membinasakan orang Kristen. Kita harus belajar merasa cukup dengan apa yang ada seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan.
    0 min
  • Tipu Daya Yang Menyesatkan
    Memasuki abad milenium ini, banyak manusia yang jatuh ke dalam dosa materialisme. Ini adalah ancaman yang sangat serius dalam kehidupan orang Kristen. Tetapi, sebagian besar mereka tidak menyadari bahaya yang begitu besar dan mengerikan.  Materialisme ialah semangat hidup dan sikap yang merendahkan nilai-nilai rohani, sehingga mengesampingkan kehidupan rohani demi mengutamakan kebutuhan jasmani. Menurut mereka nilai tertinggi manusia adalah materi (benda). Ini adalah berhala yang sangat dominan menguasai alam pikiran manusia modern dewasa ini. Salah satu ciri dari berhala ini adalah manusia yang terikat kepadanya menjadi sangat konsumeristis. Konsumeristis ini dimulai dari tingkat terbatas sampai pada tingkat tidak terbatas. Tingkat yang tidak terbatas artinya selalu ingin memiliki barang yang dimiliki orang lain atau yang ditawarkan dunia.
    Orang yang cinta uang, biasanya merasa boleh dan berhak bertindak bebas dengan cara apa pun untuk memburu kenikmatan daging dengan mengumpulkan harta duniawi. Hal itu juga dilakukan demi meningkatkan status sosial dan pangkat. Hal ini akan membuat mereka tidak memedulikan Tuhan. Apabila manusia telah memberhalakan materi, maka nilai-nilai kekekalan sudah tidak dihargainya lagi. Semua usaha dan upaya yang dikerjakan dalam hidup ini semata-mata untuk kepentingan kesenangan diri sendiri yang dibangun di atas materi. Materialisme inilah allah lain atau berhala itu. Banyak orang Kristen yang sedang terjebak dalam dosa satu ini. Hal ini disebut oleh Alkitab sebagai tipu daya kekayaan.
    Tipu daya kekayaan dapat pula mengakibatkan kebenaran firman Allah yang didengarnya tidak bertumbuh dan berbuah (Mat. 13:22). Kenyataan inilah yang banyak kita jumpai dalam kehidupan jemaat Tuhan pada masa sekarang ini. Banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota gereja, rajin ke gereja bahkan aktif melayani pekerjaan Tuhan dalam berbagai kegiatan gereja, tetapi ternyata kedewasaan rohaninya tidak bertumbuh. Mereka tetap menjadi orang Kristen yang kerdil, tidak memahami kebenaran Allah. Banyak di antara jemaat ini mengalami stagnasi pertumbuhan rohaninya. Ini semua disebabkan oleh tipu daya kekayaan. Selain hal tersebut, kekayaan juga dapat membuat seseorang tinggi hati. Inilah yang menyebabkan seseorang merasa lebih dari yang lain, bahkan tidak dapat bersikap rendah hati terhadap Tuhan. Padahal Alkitab mengatakan bahwa Allah menentang orang yang sombong (1Ptr. 5:5). Kita dapat menemukan orang-orang kaya zaman ini yang akibat kekayaannya menjadi lupa diri. Mereka merasa lebih bernilai daripada Tuhan sendiri. Dengan demikian, kekayaan dapat menjadi sarana Iblis yang sangat ampuh untuk membinasakan banyak orang, termasuk orang Kristen yang tidak setia.
    Kekayaan dapat memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk tidak bergantung kepada Tuhan. Tidak bergantung kepada Tuhan berarti bergantung kepada  yang tidak tentu. Oleh sebab itu, seseorang yang bergantung kepada kekayaan  tidak akan mencari Tuhan dengan benar, tetapi ia akan lebih giat mencari kekayaan dunia yang kepadanya ia bergantung. Dampak lain dari seorang yang bergantung kepada kekayaan adalah ia menjadi pelit, kikir, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Dalam Lukas 16:19-31 dikisahkan orang kaya yang tidak memedulikan kemiskinan dan penderitaan sesamanya, dalam hal ini Lazarus.
    Oleh sebab itu dalam 1 Timotius 6:18, Paulus memperingatkan agar mereka berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, dan suka memberi serta membagi harta mereka kepada yang berkekurangan. Bila tidak demikian, maka kekayaan itu sendiri yang menjadi senjata ampuh untuk membunuh yang menggenggamnya. Ini berarti bahwa kekayaan mengandung penipuan yang akan berakibat fatal bagi orang yang tidak bertobat dan tidak mengerti bagaimana harus memperlakukannya. Yudas mengkhianti Tuhan Yesus juga karena tipu daya kekayaan ini. Jemaat di Filipi pada zaman Paulus pun sebenarnya sudah menunjukkan adanya jemaat yang ber-Tuhankan perut mereka s...
    0 min
  • Bersikap Dengan Benar
    Dalam 2 Timotius 3:1-5 salah satu ciri gairah atau spirit manusia pada zaman akhir ini adalah menjadi hamba uang. Dari hal ini, sangatlah jelas bahwa cinta uang yang Firman Tuhan nyatakan sebagai akar segala kejahatan, harus dibahas secara mendalam dan tepat (1Tim. 6:10). Kata “cinta uang” dalam teks aslinya adalah philarguria (φιλαργυρία). Kata ini gabungan dari dua kata, yaitu philar dan guria. Philar berasal dari kata phileo yang artinya bersahabat, bukan sekadar berteman; adapun guria berarti uang. Kata “teman” dalam bahasa Yunani adalah hetairos. Jadi, philarguria berarti bersahabat dengan uang. Hal ini menunjuk kedekatan dan keterikatan seseorang dengan uang.
    Cinta uang artinya keadaan hati yang merasa tidak bahagia jika tidak memiliki uang dalam jumlah tertentu yang diharapkan dapat membahagiakan dirinya. Orang seperti ini akan selalu mengharapkan dan berusaha memiliki uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk dapat memenuhi semua keinginannya guna membeli atau memperoleh sesuatu. Biasanya ia juga tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.  Sebenarnya, bukan uang itu sendiri yang dicintai, tetapi segala sesuatu dalam dunia ini (dari barang, kepuasan daging, kedudukan, dan kehormatan) yang dapat diraih dengan uang. Tentu semua itu diharapkan dapat membahagiakan hidupnya. Dengan demikian, orang seperti ini hidupnya bergantung pada kekayaan.
    Karena uang, seseorang bisa membunuh, menipu, tidak setia kepada pasangan hidupnya, melanggar sumpah jabatan, korupsi, serakah, egois, sewenang-wenang terhadap sesama, kejam, perang, merusak ekosistem bumi, angkuh, lupa diri, berkhianat terhadap sesama, membangkitkan nafsu berkuasa, mengkhianati Tuhan, dan lain sebagainya. Orang yang bersahabat dengan uang atau cinta uang pasti jahat. Tuhan tidak akan berjalan dengan orang seperti ini.  Orang yang tidak benar mengenai keuangan yang sama dengan “tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur”, tidak akan pernah dapat mengerti kebenaran, sebagaimana tertulis dalam Lukas 16:11, Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Sebenarnya kalimat “harta yang sesungguhnya” dalam teks aslinya adalah alethinon (ἀληθινὸν). Kata ini berarti kebenaran. Kata yang sama yang digunakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan: Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Jadi, kalau seseorang cinta uang, maka ia tidak dapat mengenal kebenaran. Dengan demikian, orang yang tidak benar mengenai uang, tidak akan pernah dapat dimerdekakan dari dosa (Yoh. 8:31-36).
    “Dosa” dalam teks aslinya di sini adalah hamartia (ἁμαρτία), yang artinya tidak mengenai sasaran atau meleset. Kata ini yang paling banyak digunakan dalam Injil. Meleset atau yang sama dengan tidak mengenai sasaran, maksudnya adalah tidak sampai pada maksud Allah menciptakan manusia atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah maksud keselamatan itu. Orang yang cinta uang pasti tidak mengalami keselamatan, sebab hanya kebenaran yang memerdekakan. Dengan demikian, orang yang tidak memiliki sikap yang benar terhadap uang tidak dapat dikembalikan ke rancangan semula Allah, sebab selalu meleset. Memang mereka bisa menjadi orang yang baik di mata masyarakat, tetapi ia tidak pernah bisa hidup dalam ketepatan sesuai dengan kehendak Allah, padahal panggilan orang percaya adalah panggilan untuk sempurna seperti Bapa; ketepatan berpikir, berucap, dan berperilaku setiap hari.
    Tuhan Yesus mengatakan kita harus melepaskan diri dari segala milik agar layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Melepaskan diri dari segala milik berarti juga terlepas dari belenggu cinta uang. Orang yang masih terikat dengan percintaan uang, tidak akan dapat berubah dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi dan bertumbuh dalam keselamatan. Bisa dimengerti kalau orang muda yang kaya dalam Matius 19, walau sungguh-sungguh bermaksud mengikut Tuhan Yesus untuk memiliki hidup kekal, menjadi gagal.
    0 min
  • Raksasa Kuat
    Di dunia modern sekarang ini, uang semakin memainkan peranan penting, sehingga memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, selain ekonomi, juga sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya. Hampir segala hal bertalian dengan uang. Uang digunakan untuk memperoleh segala kebutuhan, dari kebutuhan primer, sekunder, sampai tersier. Dengan uang, orang tua dapat mempersiapkan anak-anak menyongsong masa depannya. Dengan uang, orang dapat membeli makanan dari yang kelas murah sampai mewah. Dengan uang, seseorang bisa membeli pakaian yang modelnya up to date dengan bahan yang baik dan bermerk atau branded. Dewasa ini barang bermerk atau branded memberikan “nilai” yang lebih bagi pemakainya. Dengan demikian, uang sudah menjadi segala-galanya.
    Dengan uang, orang dapat menyelenggarakan pesta pernikahan semegah dan semewah mungkin, bukan sekadar resepsi biasa, tetapi sebagai ajang pamer dan untuk menunjukkan kemampuan finansialnya demi prestise. Orang yang memiliki uang dalam jumlah besar akan dipandang lebih oleh masyarakat sekitarnya. Di lingkungan gereja, mereka yang berduit dipandang lebih terhormat dibanding dengan mereka yang tidak memiliki uang dalam jumlah besar. Jumlah besar uang seseorang biasanya terlihat dari rumah yang ditempati. Itulah sebabnya banyak rumah yang dibangun bukan sekadar untuk tempat nyaman tinggal, tetapi sebagai harga diri atau nilai diri atau pencitraan. Demikian juga mobil yang dikendarai, bukan sekadar alat transportasi tetapi usaha membangun citra diri atau memuaskan hobi.
     
    Dengan uang pula banyak orang merasa tenang menghadapi hari tuanya, sebab dengan tabungan yang cukup ia merasa bahwa hari esoknya terjamin, dan dapat menikmati hari tuanya dengan bahagia tanpa menjadi beban bagi orang lain.  Ini bukan berarti orang tidak boleh menabung atau memiliki asuransi, tetapi agar orang percaya menggantungkan kebahagiaannya kepada Tuhan saja. Aspek lain, dengan uang orang dapat menikmati kepuasan seks, sebab seks dipandang sebagai lambang kepuasan prima. Dengan uang orang dapat menikmati minuman keras sebagai kepuasan, dan lain sebagainya.
    Dengan uang orang dapat membeli kekuasaan untuk menguasai sesamanya. Uang juga memiliki kekuatan yang hebat dalam gelanggang politik dan pemerintahan. Untuk menjadi salah satu kontestan, seorang calon pejabat harus memiliki modal yang memadai untuk biaya kampanye dan lain sebagainya. Uang dapat memutarbalikkan hukum, sehingga pengadilan seringkali bukanlah tempat untuk penegakan hukum tetapi hanya sebuah pagelaran sandiwara. Uang dapat mengubah BAP (berita acara pemeriksaan kepolisian), misalnya dari pengedar narkoba bisa berubah menjadi pemakai. Uang dapat membuat orang bersalah menjadi tidak bersalah atau sebaliknya.
    Uang dapat membuat mata hati menjadi gelap sehingga seorang pembicara di mimbar Kristen menyampaikan Firman yang tidak benar. Mereka menyampaikan Firman yang telah disesuaikan dengan semangat zaman, yaitu teologi kemakmuran duniawi. Di mata mereka, orang kaya memiliki nilai lebih dari orang miskin. Faktanya memang di beberapa gereja, orang kaya dipandang lebih terhormat. Dalam pertemuan para pendeta, tidak jarang pendeta dianggap sukses karena gerejanya besar dan kaya, dipandang lebih terhormat, dan mudah menduduki jabatan penting di kepengurusan sinode. Hal ini menunjukkan bahwa gereja pada tataran sinode pun telah “masuk angin”; tercemari semangat zaman ini.
    Di dunia modern sekarang ini, uang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Uang telah menjadi fokus hidup satu-satunya pada hampir semua orang. Hal ini telah dinubuatkan oleh Alkitab dalam 2 Timotius 3:2, bahwa di akhir zaman nanti manusia telah menjadi hamba uang. Menjadi hamba uang artinya hidup seseorang dikendalikan atau dikuasai oleh uang. Dunia yang materialistis menciptakan keadaan di mana uang menjadi “segalanya” dan menjadi pusat kehidupan. Keadaan dunia seperti ini, pasti memberi pengaruh sangat kuat dalam kehidupan banyak orang Kristen.
    0 min
  • Kerajaan Yang Bukan Berasal Dari Bumi
    Salah satu kekuatan kita dalam menantang zaman adalah kesadaran dan penghayatan bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa arena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat (Flp. 3:20).  Pernyataan Tuhan Yesus di atas hendak menunjukkan bahwa orang percaya yang benar  adalah orang-orang yang rumahnya bukan dunia ini. Mereka hidup di bumi ini hanya menumpang sementara sebagai persiapan untuk menetap di Kerajaan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti orang percaya bukan milik dunia dan kuasa kegelapan lagi, tetapi milik Tuhan untuk dipersiapkan agar menjadi anggota keluarga Kerajaan yang akan mendiami istana Bapa di surga bersama dengan Tuhan Yesus.
    Untuk hal tersebut, orang percaya harus belajar bagaimana dimiliki oleh Tuhan, sebab untuk berkeadaan sebagai milik Tuhan tidak dapat berlangsung secara otomatis. Seseorang harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak dan hidup dalam kedaulatan Allah secara absolut, maka barulah ia dapat dimiliki oleh Tuhan. Jadi, kalau seseorang tidak hidup secara demikian, maka ia tidak pernah dimiliki oleh Tuhan selamanya. Sebaliknya, ia akan selalu memiliki dirinya sendiri. Itu juga berarti tidak bisa digolongkan sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hanya mereka yang berstatus sebagai milik Tuhan dan hidup dalam kedaulatan Allah yang termasuk sebagai anggota keluarga Kerajaan. Mereka dinyatakan sebagai “bukan berasal dari dunia ini, tetapi berasal dari atas.” Untuk menjadi milik Tuhan harus melalui proses penyangkalan diri terus menerus. Supaya dari memiliki diri sendiri berubah menjadi orang yang rela dimiliki Tuhan sepenuhnya.
    Semua proses tersebut kalau diselenggarakan akan membuat seseorang menjadi “manusia yang berasal dari atas”, yaitu manusia yang taat dan menghormati Bapa secara benar. Dengan gaya hidup sebagai warga Kerajaan Surga tersebut akan menunjukkan bahwa Allah Bapa di surga adalah satu-satunya Pribadi yang layak menerima segala hormat. Inilah gaya hidup yang harus dimiliki setiap anak Allah. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak, sehingga dapat menjadi saksi bagi Tuhan Yesus atau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah utusan Bapa.
    Orang percaya seperti di atas ini, akan dilayakkan berada di tempat di mana Tuhan Yesus berada, dan akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Inilah kemenangan iman Kristen yang sejati, yaitu menang seperti Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan secara mutlak kepada Bapa, sampai mati di kayu salib. Hanya orang-orang yang menang yang akan didudukkan bersama dengan Tuhan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Hal ini sejajar dengan diperkenan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam Rumah Bapa menjadi anggota keluarga Kerajaan. Nantinya, orang-orang yang diperkenan menjadi anggota keluarga Kerajaan adalah orang-orang yang berkepribadian seperti Tuhan Yesus.
    Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham.  Oleh sebab itu, kalau mau menjadi seorang yang berasal dari atas, harus meninggalkan percintaannya dengan dunia ini. Percintaan dunia artinya hasrat menikmati hidup di bumi sama seperti orang-orang pada umumnya. Kenikmatan mereka adalah kenikmatan yang ditopang oleh kekayaan dunia.
    Harus diingat bahwa orang percaya tidak berkewajiban memiliki segala sarana yang ada di dunia ini. Sesungguhnya yang penting adalah melayani Tuhan dengan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepadanya. Jadi, kalau orang percaya studi, berkarir, bekerja, berumah tangga, dan melakukan segala kegiatan, semua itu diperuntukkan bagi kepentingan persiapan memasuki Kerajaan Surga, bukan untuk membangun pemerintahan Allah di bumi.
    0 min
  • Pengharapan Yang Hilang
    Pengajaran mengenai “kebangkitan” adalah pokok penting dalam Alkitab yang harus dipahami dengan benar. Sayang sekali, sekarang  ini jarang terdengar  pengajaran mengenai kebangkitan. Hal tersebut disebabkan oleh karena ketidaktahuan para pendeta atau hamba Tuhan bahwa pengajaran mengenai kebangkitan adalah hal yang penting, sehingga mengabaikan pokok pengajaran ini. Mereka tidak memahami pengajaran mengenai kebangkitan, sehingga tidak dapat mengajarkannya kepada orang lain. Ironinya, mereka tidak mau belajar mengenai hal kebangkitan dengan sungguh-sungguh. Rasul-rasul, khususnya Paulus, menekankan hal kebangkitan ini dalam pemberitaannya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru terdapat beberapa ayat yang menunjukkan dan membuktikan besarnya peran dan pentingnya pengajaran mengenai kebangkitan.  Dalam pemberitaan Firman atau penginjilan, hal kebangkitan merupakan isi utama dalam pemberitaan Paulus (Kis. 4:2,33; 17:32; Ibr. 6:2). Dalam Ibrani 6:2, tertulis bahwa hal kebangkitan termasuk asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus. Kebangkitan merupakan landasan atau dasar iman Kristen (1Kor. 15:14-15).
    Tegas sekali pernyataan Paulus, andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kami. Kebangkitan merupakan dasar pengharapan kehidupan orang percaya (Kis. 24:15, 21; Flp. 3:10-11). Dari ayat-ayat yang tertera di sini, sangat jelas bahwa demi kebangkitan, Paulus menggumuli hidup imannya. Ia berkata: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Tujuan akhir Paulus yang juga menjadi kerinduannya yang sangat kuat adalah pengharapan memperoleh kebangkitan dari antara orang mati.
    Harus diakui dengan jujur, tatkala kita menjumpai realitas sakit penyakit, kenyataan meninggalnya orang yang kita kasihi,   atau kenyataan kematian kita sendiri, hal ini menyadarkan betapa “fananya” hidup ini. Kita hanya menumpang di bumi ini. Untuk ini, manusia sungguh-sungguh membutuhkan tubuh kemuliaan. Kebutuhan ini sering tidak disadari, tetapi suatu saat semua orang akan menyadari bahwa inilah kebutuhan terpenting untuk hidup manusia sampai kekekalan. Tubuh yang kita miliki hari ini adalah tubuh yang sangat tidak berkualitas jika dibandingkan dengan tubuh kebangkitan yang akan dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita nanti pada hari kebangkitan. Paulus menyebut tubuh fana kita sebagai tubuh yang “hina”. Tubuh kita sekarang ini adalah tubuh fana yang kita kenakan hanya selama kita menumpang di bumi. Alkitab berkata bahwa … Tuhan Yesus … akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:20-21). Tubuh yang kita miliki sekarang ini harus mengalami proses penuaan dan pembusukan (corruptible). Tubuh dapat sakit, menua dan aus, akhirnya mati. Tetapi tubuh kemuliaan tidak dapat binasa (inccoruptible). Tubuh fana artinya dapat mati (mortal), tetapi tubuh kemuliaan tidak dapat mati (immortal).
    Bisa dimengerti kalau murid-murid dan orang percaya gereja mula-mula tidak takut kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa mereka sendiri, sebab mereka percaya adanya kebangkitan dari antara orang mati. Kematian sama sekali tidak menakutkan lagi bagi mereka. Mereka menaruh pengharapan sepenuhnya kepada kehidupan yang akan datang.  Dalam tulisan rasul-rasul, kita menjumpai bahwa rasul Paulus pun kalau harus memilih hidup atau mati, ia memilih mati untuk bisa bertemu dengan Tuhan. Tetapi kalau dirinya masih hidup, ia harus bekerja memberi buah.
    Hari ini kita melihat fakta bahwa ajaran tentang pengharapan dari antara orang mati sudah nyaris lenyap dari gereja. Walaupun diucapkan dalam pengakuan iman setiap hari Minggu, tetapi tidak dihidupi dalam kehidupan secara konkret setiap hari dalam kehidupan orang Kristen. Pengharapan kebangkitan dari antara orang mati,
    0 min
  • Hal-hal Rohani Saja
    Seandainya Tuhan Yesus hidup pada zaman sekarang, kira-kira apa yang diajarkan Tuhan kepada kita? Ini persoalan penting yang harus diperkarakan. Kita harus menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab kalau kita tidak menemukannya, berarti kita telah sesat. Ini berarti pula dilahirkannya Injil yang lain. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak berpikir bahwa kalau kita sudah pergi ke gereja dan bertemu dengan para rohaniwannya, berarti kita telah menemukan perwakilan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa selain ada Injil yang lain (palsu), juga ada pelayan-pelayan Tuhan palsu, seperti Iblis dapat menyamar sebagai malaikat terang (2Kor. 11:13-15).
    Tidak bisa dipungkiri, Kekristenan yang sesungguhnya adalah jalan hidup, yaitu bagaimana menjalani hidup seperti yang telah Yesus jalani. Tetapi kalau Kekristenan telah melembaga menjadi agama dengan segala atribut dan cirinya, yang sama seperti agama lain, maka Injil yang murni digelapkan. Dengan hal ini, pasti telah terjadi penyimpangan yang parah. Faktanya penyimpangan tersebut sudah terjadi lama sampai hari ini. Penyebabnya adalah gereja telah dipengaruhi semangat zaman yang fasik.
    Mengapa hampir tidak ada orang yang memperkarakan hal tersebut? Sebab mereka tidak merasa haus dan lapar akan kebenaran. Kehausan jiwanya telah rusak, yaitu tertuju kepada kekayaan dunia dengan segala keindahannya. Banyak orang Kristen tidak mengingini kebenaran Firman Tuhan dan Kerajaan-Nya, sebab percintaan dunia telah menguasai mereka. Mereka tidak peduli apakah Injil yang mereka dengar adalah Injil yang orisinal dari Tuhan atau palsu. Sebab memang mereka tidak sungguh-sungguh mau mengerti kebenaran dan mengenal Tuhan dengan benar, serta tidak berhasrat mengikut Tuhan secara benar. Kalau seseorang memang tidak berhasrat untuk menemukan Tuhan dan Kerajaan-Nya, ia menerima saja apa yang didengar dan dilihat dalam gereja tanpa sikap kritis atau tanpa mengujinya.
    Kita percaya Tuhan tidak meninggalkan gereja-Nya. Dia sudah berjanji menyertai orang percaya sampai kesudahan zaman. Ini berarti pasti selalu saja ada orang-orang yang disisakan, yang dipakai Tuhan untuk mengembalikan gereja-Nya di rel yang dikehendaki oleh Allah. Orang-orang yang dipakai Tuhan ini harus berani membayar harga pengiringan kepada Tuhan sebagai juru bicara-Nya. Selain itu, ia harus mewakili kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat guna menampilkan gaya hidup yang seharusnya dikenakan umat pilihan pada abad 21 ini.  Dengan demikian, ia juga harus dapat menjadi teladan bagi orang percaya lainnya. Oleh sebab itu, kita yang termasuk orang yang disisakan tersebut, harus serius belajar kebenaran dan bersedia mengenakan kebenaran atau meneladani kehidupan Yesus. Tuhan tidak akan memakai seseorang sebagai juru bicara-Nya, kalau tidak mengenakan kehidupan seperti yang Dia kenakan dua ribu tahun yang lalu.
    Jika kita teliti memperhatikan Injil, kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus pasti mengarah hanya kepada butir-butir ini: Pertama, kehidupan yang dikembalikan ke rancangan-Nya semula. Dengan demikian, orang percaya harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ini juga berarti orang percaya harus hidup dalam kesucian. Kedua, fokus yang harus diarahkan ke dunia yang akan datang sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini, orang percaya harus sudah memindahkan hatinya di surga sebelum meninggal dunia. Ketiga, hidup bertanggung jawab demi pemberitaan Firman dapat diselenggarakan dengan maksimal. Dalam hal ini, setiap orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan yang sepenuh waktu melayani Tuhan. Mereka tidak harus menjadi pendeta, tetapi mereka menjadi saksi yang nyata di tengah-tengah masyarakat.
    Harus ditegaskan bahwa Injil yang murni yang diajarkan Tuhan Yesus tidak berunsur duniawi sama sekali. Hal ini berbeda dengan apa yang diajarkan banyak pendeta hari ini, yang menjurus kepada kemakmuran jasmani. Pengajaran yang menekankan kemakmuran jasmani, sesungguhnya pengajaran yang berpotensi besar merusak b...
    0 min
  • Menghadirkan Kebenaran Murni
    Kita harus memperkarakan satu hal ini, seandainya Tuhan Yesus hadir di bumi dan mengajar manusia sekarang ini, apa yang akan Dia diajarkan? Pasti yang diajarkan tidak berbeda dari apa yang sudah diajarkan-Nya dua ribu tahun yang lalu. Walaupun dunia kita berubah, Tuhan tidak akan mengikuti perkembangan zaman, atau mencoba untuk menyesuaikannya. Ia tidak akan menyesuaikan ajaran-Nya dengan semangat zaman. Tuhan Yesus pasti dengan berani menantang zaman. Bahkan bisa dipastikan, Dia tidak melakukan kompromi sama sekali. Tuhan pasti mengajarkan apa yang pernah diajarkan-Nya yang ditulis di dalam Injil. Ia tidak akan membawa ajaran yang lain yang berbeda dari apa yang ditulis di dalam Injil. Kebenaran adalah mutlak.
    Di zaman ini, banyak pembicara di mimbar gereja mengawinkan Injil dengan semangat zaman, sehingga melahirkan Injil yang palsu. Hal ini disebabkan oleh paling tidak dua faktor. Pertama, karena mereka tidak mengerti Injil yang orisinal yang Tuhan ajarkan. Kebodohan itu dikarenakan mereka tidak belajar dengan benar kebenaran Injil. Mereka juga telah terbelenggu oleh doktrin-doktrin dan banyak premis (asumsi dasar) yang salah. Kedua, pada dasarnya mereka masih mencintai dunia. Memang kelihatannya pengajar-pengajar itu rohani, tetapi sesungguhnya mereka tidak bersedia mengikuti jejak Tuhan Yesus. Mereka masih menginginkan kenyamanan hidup di bumi, dan masih mengharapkan dapat memperoleh penghormatan atau penghargaan dari manusia di bumi, serta masih mau menikmati fasilitas materi di bumi ini seperti yang lain. Pada dasarnya, mereka masih ingin memiliki hidup wajar seperti anak-anak dunia pada umumnya.
    Jadi, kalau seseorang mau menjadi pengikut Yesus yang sejati, ia harus memerhatikan semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Untuk ini, kita harus sungguh-sungguh belajar mengerti kebenaran Injil yang murni, dan melakukannya dengan hormat. Harus diingat bahwa ketika Tuhan Yesus mengajar, Tuhan Yesus tidak mengajar umat Israel untuk hidup dengan pola keberagamaan yang telah mereka jalani, yang orientasinya hanya untuk kenyamanan hidup di bumi ini. Tetapi Tuhan mengajarkan kesempurnaan seperti Bapa, dan fokus kepada kehidupan yang akan datang yaitu Kerajaan-Nya di langit baru dan bumi yang baru. Itulah sebabnya Ia berkata: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Sebenarnya, isi pengajaran Tuhan Yesus menekankan hal-hal rohani semata-mata.
    Seandainya hari ini Tuhan Yesus tampil di bumi dan mengajar Injil seperti yang pernah Dia ajarkan (tidak ada penekanan pemenuhan kebutuhan jasmani), maka kemungkinan besar Tuhan Yesus ditolak oleh banyak gereja. Mereka sudah terbiasa dengan “Yesus yang lain”. Sosok yang diberi nama yang sama dengan Yesus, tetapi dengan ajaran dan gairah yang berbeda. Banyak gereja sudah sangat sulit menerima ajaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, karena mereka telah dicemari oleh filosofi, cara berpikir, dan gairah atau semangat zaman ini.
    Keadaan dunia ini sangat berbeda dengan dunia pada waktu Tuhan Yesus datang dengan tubuh fisik dua ribu tahun yang lalu. Dunia yang sangat jahat ini telah mencemari gereja Tuhan, sehingga banyak gereja Tuhan yang semakin tidak bisa menerima yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Hal ini dipicu oleh fenomena banyak pengajar Kristen mengawinkan semangat zaman dengan teologinya. Hal ini merusak cara berpikir jemaat Kristen, sehingga mereka tidak sanggup mendengar kebenaran yang murni. Tidak heran kalau banyak orang Kristen mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga mereka sendiri, bukan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus (2Tim. 4:3).
    Mari kita renungkan dan pertimbangkan, seandainya Tuhan Yesus hadir dan hidup pada zaman sekarang, kira-kira gereja mana yang akan dikunjungi dan menjadi mimbar-Nya? Tentu tidak semua gereja Ia kunjungi dan dinyatakan sebagai gereja-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya harus mencari gereja yang pasti akan dihadiri oleh Tuhan dan berkhotbah di situ. Seandainya Tuhan Yesus hidup pada zaman sekarang,
    0 min
  • Memberitakan Kebenaran
    Di zaman dunia purba, Nuh mengajak orang-orang masuk bahtera berhubung akan adanya penghukuman atas manusia yang sudah jauh menyimpang dari kebenaran Allah. Nuh mengajak orang-orang pada zamannya tersebut untuk bertobat dan kembali kepada yang diajarkan Set dan orang tua mereka, yang adalah keturunan orang benar. Ternyata tidak ada yang mau mengikut Nuh sebab mereka sudah menjadi jahat, sehingga mereka tidak mau mengerti apa yang diberitakan Nuh. Mereka menolak pemberitaan kebenaran yang disampaikan oleh Nuh. Tetapi Nuh dan keluarganya tetap teguh pada keyakinan mereka, sehingga mereka tidak terpengaruhi oleh keadaan masyarakat sekitar mereka (2Ptr. 2:1-9). Dalam suratnya, Petrus menyatakan bahwa Nuh adalah pemberita kebenaran. Kebenaran apakah yang diberitakan Nuh? Tentu kebenaran yang telah diwariskan oleh nenek moyang Nuh, yaitu keturunan orang benar dari garis keturunan Set kepada Nuh.
    Dari garis keturunan Set terdapat kebenaran yang melahirkan orang-orang saleh, seperti Henokh yang bergaul akrab dengan Allah sampai diangkat Allah (Kej. 5:22). Keadaan keturunan Set sangat berbeda dengan keadaan keturunan Kain yang jahat. Dari garis keturunan Kain dilahirkan anak-anak yang melakukan poligami, nafsu untuk membalas dendam dan lain sebagainya (Kej. 4). Keturunan Set pada dasarnya adalah anak-anak Allah, sebab mereka masih dipimpin Roh Allah. Tetapi sejak terjadinya perkawinan campur antara keturunan Set dan Kain, maka keturunan Set juga menjadi rusak, bahkan nyaris tidak ditemukan manusia yang benar selain Nuh (Kej. 6). Melewati hari-hari yang panjang melelahkan, Nuh dan keluarganya membangun bahtera demi keselamatan mereka dari air bah. Kelelahan mereka menjadi tidak berarti ketika menyaksikan air bah yang dahsyat menenggelamkan manusia yang tidak mau bertobat. Pada akhirnya, keluarga Nuh selamat dari peristiwa dahsyat ini.
    Apa yang dikemukakan di atas, paralel dengan gereja Tuhan. Sesungguhnya gereja Tuhan telah mewarisi kebenaran Injil yang berpotensi menjadikan manusia menjadi unggul, dalam arti sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dari sejarah gereja kita menemukan orang-orang saleh Tuhan yang mengikuti jejak Yesus, sehingga dijuluki Kristen. Pertanyaannya sekarang adalah apakah gereja Tuhan sekarang di abad 21 ini masih mewarisi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus secara murni? Kalau jujur, ternyata kebenaran yang diwariskan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dan pengikut Yesus pada zaman gereja mula-mula, hari ini nyaris lenyap. Gereja telah menjadi lembaga keagamanaan dengan sederetan aktivitas, yang ternyata tidak membuat jemaat menjadi Kristen orisinal atau Kristen yang sejati seperti gereja mula-mula. Banyak gereja telah melakukan kawin campur dengan dunia, sehingga Kekristenan yang sejati telah hilang. Gereja telah ternoda. Keadaan gereja hari ini sangat jauh berbeda dari keadaan gereja mula-mula.
    Dari dua contoh keadaan di atas, yaitu Nuh dan orang percaya pada zaman gereja mula-mula, kita menemukan adanya kesejajaran. Pelajaran yang dapat kita peroleh adalah ketekunan. Nuh seorang yang tekun sehingga masih mempertahankan dan memberitakan kebenaran yang diwariskan oleh nenek moyangnya kepadanya. Masalahnya bagi kita sekarang adalah, apakah ada orang Kristen yang bertekun sehingga masih mewarisi kebenaran murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus? Kita harus mempertahankan integritas sebagai anak-anak Allah (seperti Nuh mempertahankan integritasnya). Kita harus memberitakan kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dan diwariskan oleh gereja mula-mula. Kita harus menjadi pemberita kebenaran (seperti Nuh memberitakan kebenaran) kepada gereja, dan orang-orang Kristen yang sudah menyimpang dari Injil yang murni.
    Terkait dengan hal tersebut, Tuhan Yesus menyatakan: “… jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Dalam terjemahan sehari-hari diterjemahkan: “Tetapi apabila Anak Manusia datang, apakah masih ditemukan orang yang percaya kepada-Nya di bumi...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…