Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pengikut Yang Sejati
    Sukar dibayangkan betapa konyolnya pengikut Yesus di mata orang-orang pada zaman gereja mula-mula. Mereka menaruh percaya kepada seorang yang mengaku Anak Allah. Padahal jelas-jelas Ia adalah anak tukang kayu dari Nazaret. Orang tua dan saudara-saudara-Nya juga mereka kenal. Ia mengaku Anak Allah, tetapi tidak berdaya menghadapi kekuatan bangsa kafir, dalam hal ini Roma. Menurut berita resmi, Dia adalah penjahat di mata pemerintah Roma karena menghasut rakyat untuk tidak membayar pajak (padahal tidak demikian faktanya). Sementara itu, di mata bangsanya sendiri, orang-orang Yahudi, Dia dipandang sebagai penghujat Allah. Semua orang, khususnya masyarakat Yerusalem, menyetujui kematian-Nya di salib, mereka turut mendukung eksekusi hukuman mati dengan meneriakkan “salibkan Dia”.  Di depan mata semua orang, Yesus jelas-jelas telah mati di kayu salib, tidak pernah ada orang yang disalib dapat lolos dari kematian. Tetapi kemudian, muncul berita bahwa Dia telah bangkit. Rupanya diyakini oleh murid-murid-Nya dan diberitakan oleh mereka bahwa Dia telah bangkit. Tentu saja, banyak orang mencibirkan bibirnya dan menganggapnya omong kosong.
    Bagi orang percaya pada waktu itu, salib adalah pusat pemberitaan mereka yang terkait dengan kebangkitan Yesus. Salib adalah penderitaan dan kehinaan, tetapi tanpa salib tidak ada kematian, dan tanpa kematian tidak ada kebangkitan. Salib menjadi kemuliaan bagi Yesus dan orang percaya. Tanpa salib tidak ada keselamatan, di mana manusia dapat dipersekutukan kembali dengan Allah dan memperoleh kasih karunia untuk bertumbuh menjadi manusia seperti rancangan Allah semula. Tidak ada salib berarti tidak ada kehidupan. Bagi orang percaya abad mula-mula, salib adalah lambang keagungan.
    Salib merupakan simbol dari penderitaan yang mendatangkan kemuliaan, baik bagi Yesus maupun bagi orang percaya. Tetapi sebaliknya, semua itu di mata orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa non Yahudi, terutama mereka yang menganut filsafat Yunani, salib adalah kebodohan. Itulah sebabnya mereka tidak mau mempersoalkannya, karena menganggap hal tersebut benar-benar suatu kebodohan (1Kor. 1:18). Musuh-musuh salib hanya ingin melenyapkan berita salib tersebut dengan menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen dan bermaksud memusnahkan mereka sama sekali.
    Orang percaya pada zaman gereja mula-mula, mempertaruhkan segenap hidup mereka demi mengikut jejak Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat berperilaku seperti Yesus. Itulah sebabnya mereka mendapat panggilan Kristen. Mereka tidak menaruh kebahagiaan pada apa pun juga dalam hidup ini, tapi hanya demi menyambut kedatangan Raja mereka yang mereka yakini akan datang pada zaman itu untuk membangun Kerajaan-Nya.  Selanjutnya, mereka merindukan di mana Tuhan Yesus berada, mereka juga ada. Itulah sebabnya, mereka tidak takut kehilangan segala sesuatu, baik harta, keluarga, dan nyawa. Mereka hidup dalam keadaan tidak memiliki kenyamanan dan keamanan sama sekali. Bahkan mereka hidup teraniaya sampai pada kematian mereka. Mereka dengan berani memberitakan tentang keselamatan dalam Yesus Kristus dan mengajak orang-orang untuk mengikuti jejak mereka.
    Gereja mula-mula adalah gereja tanpa gedung, gereja tanpa organisasi, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, gereja tanpa denominasi, gereja tanpa liturgi, gereja tanpa dukungan dana, bahkan para pemimpin mereka ditangkap dan dianiaya serta dibunuh. Tetapi Kekristenan mereka adalah Kekristenan yang benar. Hal ini nyata dari kehidupan mereka yang mengikuti jejak Guru dan Tuhan mereka, Yesus Kristus. Mereka disebut Kristen oleh orang lain di luar komunitas mereka karena melihat kesaksian hidup mereka yang berperilaku seperti Yesus. Mereka pantas disebut sebagai Kristen yang sejati. Mereka berhasil menjadi saksi, sebab perilaku mereka membuktikan bahwa Yesus yang mereka saksikan benar-benar telah bangkit. Hal ini nyata dari perilaku mereka yang benar-benar telah membangkitkan Yesus dalam kehidupan mereka.
    0 min
  • Pengertian Menantang
    Kata “menantang” dalam konteks ini adalah menolak atau melawan pihak lain karena berseberangan, atau yang dilawan dianggap mengancam atau membahayakan. Kata “menantang” memiliki indikasi bahwa yang melawan tidak setuju terhadap lawannya dan tidak bersedia kompromi atau menyesuaikan diri (konformistis). Pihak yang menantang tidak bersedia dipengaruhi, dikuasai, dibawahi, atau didominasi oleh pihak lain yang ditantangnya. Kata “menantang” mengindikasikan pula bahwa yang melawan bisa berkeadaan dirugikan oleh pihak yang dilawan. Agar tidak dirugikan, maka mereka melakukan aksi perlawanan. Akhirnya, kata “menantang” mengindikasikan bahwa yang menantang terang-terangan secara terbuka mengajak bermusuhan dan bertarung untuk menunjukkan siapa pemenangnya.
    Menantang zaman artinya usaha untuk menolak atau melawan filosofi, cara berpikir, dan gairah atau spirit yang membangun gaya hidup yang telah dikenakan hampir semua manusia hari ini. Menantang di sini berarti pihak yang menantang tidak setuju terhadap gaya hidup tersebut, sehingga tidak bersedia kompromi atau menyesuaikan diri (konformistis). Menantang zaman berarti menolak dipengaruhi, menolak dikuasai, menolak dibawahi, atau didominasi oleh filosofi, cara berpikir, gairah, atau spirit yang sekarang ini mempengaruhi, menguasai, membawahi, dan mendominasi hampir semua manusia. Tidak dapat dihindari, kata menantang zaman mengindikasikan bahwa terang-terangan secara terbuka kita mengajak bermusuhan terhadap zaman ini dan bertarung untuk menunjukkan siapa pemenangnya. Tentu Tuhan Yesus menghendaki kita tampil sebagai pemenang. Artinya, tidak dipengaruhi oleh gaya hidup dunia, tetapi mengenakan gaya hidup Tuhan Yesus. Dalam hal ini, kemenangan bukan kita peroleh secara gratis, tetapi kemenangan merupakan hasil perjuangan masing-masing individu orang percaya.
    Gereja yang dikemudikan orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran, yang juga berarti tidak mengenal Injil yang murni, tidak mengenali adanya kefasikan yang sudah parah pada zaman ini. Sehingga mereka tanpa sadar juga telah ikut terseret ke dalam kubangan kehidupan anak-anak dunia. Mereka merasa sudah wajar hidup sebagai orang beragama yang baik, dalam hal ini beragama Kristen dengan segala keyakinannya. Tetapi sebenarnya mereka berkeadaan jauh dari standar yang Allah kehendaki. Dari hal ini, dilahirkan teologi yang menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani tanpa menggiring umat kepada kesucian Allah, agar layak menjadi mempelai Tuhan Yesus. Teologi yang salah tersebut juga tidak mengajak jemaat untuk memfokuskan diri pada langit baru dan bumi yang baru. Kondisi ini membentuk orang-orang Kristen menjadi duniawi, tanpa menyadari keduniawiannya tersebut. Sehingga mereka tidak mengadakan perlawanan terhadap semangat atau gairah zaman ini. Mereka telah tertawan oleh semangat atau gairah zaman ini dan menjadi bagian dari mereka. Sungguh hal ini sangat menyedihkan.
    Sebaliknya, orang percaya yang mengenal kebenaran dan bertumbuh dalam kebenaran Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, akan sangat mengenali keadaan dunia yang fasik ini. Mereka berjuang untuk mempertahankan integritasnya sebagai anak-anak Allah dengan gaya hidup yang berpola pada gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Gaya hidup yang benar adalah gaya hidup yang menekankan kesucian seperti Tuhan dan fokus pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus di langit baru dan bumi yang baru. Selanjutnya, orang percaya ini berusaha melakukan segala sesuatu hanya untuk kepentingan Kerajaan Surga.
    Orang percaya yang telah disadarkan oleh kebenaran ini, sebelumnya juga termasuk orang-orang yang terbelenggu oleh pola hidup anak-anak dunia. Mereka juga pernah merasa hidupnya wajar sebagai orang Kristen, wajar sebagai aktivis gereja, bahkan sebagai hamba Tuhan. Padahal keadaan mereka saat itu sangat jauh dari kehidupan wajar anak-anak Allah. Sekarang setelah disadarkan oleh kebenaran, selain berusaha untuk mempertahankan integritas,
    0 min
  • Pengertian Zaman
    Kata zaman dalam judul buku ini bukan hanya menunjuk suatu masa atau periode. Zaman di sini maksudnya adalah filosofi, cara berpikir, dan gairah atau spirit tertentu yang disebut sebagai semangat atau gairah zaman. Semangat atau gairah zaman inilah yang membentuk gaya hidup.  Gaya hidup yang terbentuk adalah gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan dianggap sebagai gaya hidup yang wajar. Bahkan, oleh sebagian orang dianggap sebagai gaya hidup yang ideal. Itulah sebabnya, hampir semua orang mengenakan gaya hidup tersebut. Kalau ada orang yang mengenakan gaya hidup yang berbeda dari gaya hidup yang didasarkan pada semangat atau gairah zaman ini, maka hal itu dianggap tidak wajar.  Itulah sebabnya, banyak orang terseret oleh semangat atau gairah zaman ini. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen, aktivis gereja, dan para rohaniwannya.
    Orang percaya harus menyadari bahwa zaman ini adalah zaman yang semakin fasik, artinya manusia mengenakan filosofi, cara berpikir, dan gairah atau spirit yang semakin fasik. Fasik artinya tidak takut akan Tuhan dan tidak peduli hukum atau kehendak-Nya. Sesuai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa dunia menjelang kedatangan-Nya adalah dunia yang kedurhakaan manusianya semakin bertambah-tambah, sehingga kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12).  Kata kedurhakaan dalam teks aslinya adalah anomia (ἀνομία) yang bisa berarti as what is contrary to law, as a general state of wrong lawlessness, wickedness, iniquity, as an individual violation of law sin, wrong (doing), (practice of) lawlessness. Pada dasarnya, kedurhakaan adalah gaya hidup yang tidak sesuai dengan kesucian dan kebenaran Allah.
    Dalam suratnya, Petrus juga mengatakan hal yang senada. Dalam 2 Petrus 3:1-3 tertulis: … Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya (2Ptr. 3:1-3). Konteks tulisan Petrus ini (2Ptr. 3) adalah mengenai kedatangan Tuhan: Pada hari Tuhan itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Dalam tulisannya ini, Petrus menunjukkan adanya orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya. Kalau manusia sudah berani membelakangi Tuhan dan menunjukkan pemberontakan secara terang-terangan seperti zaman sekarang, betapa rusaknya dunia ini. Dalam tulisannya tersebut Petrus juga menasehati, betapa suci dan salehnya kita harus hidup untuk menyongsong akhir sejarah dunia ini.
    Rasul Paulus pun juga mengatakan dalam suratnya yang ditulis dalam 2 Timotius 3:1-5, “… ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah…” Tulisan Paulus ini jelas menunjukkan bahwa di akhir sejarah dunia, sebelum Tuhan Yesus datang kembali, dunia dibawa kepada keadaan moral manusia yang jauh dari standar kebenaran dan kesucian Allah.
    Jadi sebenarnya di setiap zaman, manusia yang hidup di zaman itu memiliki filosofi, cara berpikir, dan gairah atau spiritnya sendiri. Filosofi, cara berpikir, dan gairah atau spirit ini dapat disebut sebagai semangat atau gairah zaman yang membangun gaya hidup. Zaman di mana kita hidup hari ini sedang terus menuju puncak keadaan di mana kejahatan manusia bertambah-tambah, sampai kejahatannya menjadi matang. Pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang Kristen dan gereja Tuhan. Sehingga,
    0 min
  • Menjadi Saksi Bukan Melalui Mukjizat
    Harus selalu diingat, bahwa mukjizat yang Tuhan lakukan bukan untuk show atau pamer, sebab Tuhan tidak perlu berkompetisi dengan agama atau ilah lain untuk menunjukkan kuasa-Nya, lagi pula Tuhan bukanlah Pribadi yang gila hormat. Tuhan yang Mahabesar tidak perlu bersaing dengan allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan “abal-abal”. Kalau mau berkompetisi, harus melalui perbuatan atau perilaku. Dari perbuatan atau kualitas perilaku seseorang akan dikenal siapa Allah yang benar, bukan melalui demonstrasi kuasa dan mukjizat, sebab agama lain juga dapat mendemonstrasikan kuasa dan mukjizat.
    Kita tidak boleh terjebak oleh godaan untuk berusaha membuktikan bahwa Allah kita adalah Allah yang benar melalui kuasa mukjizat-Nya. Tuhan tidak mengajarkan hal ini. Justru pada zaman aniaya selama ratusan tahun orang Kristen teraniaya, seakan-akan Yesus kalah terhadap dewa Hermes dan Zeus, seakan-akan Tuhan Yesus tidak berdaya bahkan tidak tampil dan membela orang percaya waktu mereka dianiaya. Tidak ada penampilan Tuhan yang luar biasa. Tuhan sama sekali tidak mengadakan mukjizat seperti yang pernah dilakukan Tuhan Yesus dan para rasul-Nya.
    Tuhan menghendaki kita menjadi saksi bukan dengan mukjizat, tetapi dengan perbuatan kita yang memuliakan Bapa di surga.  Hal ini jelas sekali dari apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 5:13-16, agar orang percaya menjadi terang dunia. Terang, kata ini dalam teks asli bahasa Yunani adalah Phos (φῶς). Kata ini disebut berulang-ulang dalam Alkitab. Alkitab menyebutkan bahwa terang yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus (Yoh. 1:9; 8:12). Sebenarnya orang percaya tidak memiliki terang dan orang percaya bukan terang itu, tetapi Tuhan memancarkan terang-Nya melalui hidup orang percaya.
    Ayat dalam Matius 5:16 hendaknya tidak dimengerti secara dangkal. Seakan-akan hanya melalui satu perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang anak Allah, orang yang melihatnya mengakui Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang baik sehingga mereka memuji-Nya. Kata “perbuatan” di teks ini adalah ergon (ἔργον) yang lebih berarti pekerjaan. Hal ini menunjuk sebuah tindakan yang dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan. Ini sama prinsipnya dengan fungsi lampu. Bukan hanya menyorot atau memancarkan cahaya sesaat. Seluruh hidup kita harus ditata sebaik mungkin melalui kebenaran Firman Tuhan, sehingga berfungsi sebagai terang. Makin hidup dalam kebenaran terang Tuhan, semakin memancar dan berkesinambungan (Ams. 4:18).
    Berbicara mengenai terang maksudnya orang percaya harus memiliki moral seperti Yesus, sebab Yesuslah terang dunia. Kehidupan orang Kristen harus membuktikan bahwa Yesus benar-benar adalah Juruselamat. Pembuktian tersebut bukan melalui kuasa mukjizat yang dapat didemonstrasikan, tetapi melalui pembuktian perilaku hidup kita yang diubah Tuhan menjadi sempurna seperti Yesus. Kalau hanya perbuatan baik seperti yang dapat dilakukan orang secara umum, maka orang percaya belumlah dapat menjadi saksi dan membuktikan kebenaran Injil atau kebenaran Allah yang kita sembah.
    Menjadi terang berarti memengaruhi atau memberi dampak bagi orang lain agar mereka juga menerima keselamatan yang ditandai dengan kesucian hidup. Jadi, kalau dikatakan terang bercahaya dalam kegelapan, itu artinya kehidupan orang percaya membuat orang lain diselamatkan (bukan hanya menjadikan mereka sebagai orang Kristen). Kalau keselamatan diberikan kepada seorang manusia, maka keselamatan tersebut akan pasti membangun kesucian hidup.
    Sebagai hasilnya orang akan memuliakan Bapa. Ini tidak sekadar orang lain mengakui Tuhan baik, atau memuji nama Tuhan. Tetapi melalui pekerjaan kita, orang akan diselamatkan dengan mengenal Allah yang benar, didewasakan, dan mengubah orang lain untuk menjadi terang bagi sesamanya pula. Memuliakan Tuhan bukan sekadar mengubah orang di luar Kristen menjadi Kristen, tetapi mengubah seseorang menjadi anak tebusan Tuhan, sehingga dapat memiliki perbuatan sempurna seperti Yesus.
    0 min
  • Doa Yang Dikabulkan
    Sering orang mengajarkan kalau seseorang yakin, asal yakin saja, maka doanya akan dikabulkan atau mukjizat dapat terjadi. Hal ini mengesankan bahwa Tuhan bisa diatur oleh keyakinan atau pikiran manusia. Keyakinan seseorang harus memiliki dasar atau landasan. Bukan sekadar memiliki keyakinan dalam pikiran, maka doanya dijawab dan dikabulkan. Pemikiran salah seperti di atas biasanya didasarkan pada Yakobus 5:16-18. Yakobus 5:16-18 memuat ayat-ayat yang sering dikhotbahkan mengenai bagaimana mengalami doa yang dijawab dan dikabulkan oleh Tuhan sehingga mukjizat terjadi. Tetapi banyak orang yang salah mengartikan ayat-ayat ini. Kita harus teliti memerhatikan, bahwa dalam ayat-ayat ini Yakobus membicarakan doa yang dinaikkan oleh Elia, yaitu ia meminta agar Tuhan tidak memberikan hujan selama tiga tahun enam bulan, dan hujan pun tidak turun. Kemudian Elia berdoa agar hujan turun, Tuhan pun mengabulkan doanya. Pertanyaannya, mengapa Tuhan mengabulkan doa Elia?
    Pertama, permintaan Elia untuk tidak menurunkan hujan kemudian meminta hujan diturunkan adalah masalah kepentingan Tuhan atau demi kemuliaan nama-Nya (1Raj. 17:1; 18:1). Pada waktu itu Elia menghadapi raja Ahab dan istrinya Izebel yang tidak takut akan Tuhan, padahal mereka harus menjadi pemimpin yang mengatur dengan baik umat Tuhan, yaitu bangsa Israel bagi kemuliaan Elohim Yahwe. Melalui peristiwa tidak turun hujan itu, dimaksudkan agar Ahab dan istrinya bertobat dan nama Tuhan dimuliakan. Dengan peristiwa itu juga dimaksudkan agar bangsa Israel tidak melupakan Tuhan, sebab pada waktu itu istri Ahab (Izebel) menyesatkan umat Israel dengan menyembah berhala.
    Kedua, sebab Elia orang benar. Hidup Elia tidak menyimpan dosa. Dalam Yakobus 5:16-18, sebelum Yakobus berbicara mengenai doa yang dikabulkan (ayat 17-18), terlebih dulu Yakobus berbicara mengenai keberdosaan di ayat 16 (Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya). Dari hal ini, jelas sekali bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan doa orang yang hidupnya tidak berkenan kepada-Nya. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan orang benar adalah orang yang hatinya bersih, tidak menyimpan dosa dan kejahatan.
    Sejajar dengan kasus Elia, dalam Matius 18:19 Tuhan Yesus mengatakan: “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.” Kalau kalimat ini dipisahkan dari konteksnya, terkesan bahwa kalau Tuhan dikeroyok oleh permintaan banyak orang, maka Tuhan tidak berdaya. Seakan-akan kalau orang percaya beramai-ramai bersama menaikkan suatu permintaan, maka Tuhan tidak berkuasa menolaknya. Padahal sebenarnya tidak demikian. Konteks ayat ini adalah mengenai teguran terhadap saudara yang salah.
    Kalau seseorang tidak bisa ditegur empat mata, maka hendaknya harus memanggil beberapa saksi yang lain. Kalau masih tidak mau bertobat, maka hendaknya dibawa ke pertemuan jemaat. Bila di pertemuan jemaat masih mengeraskan hati tidak mengakui kesalahannya dan bertobat, hendaknya berdoa kepada Tuhan atau membawanya kepada Tuhan. Tuhan pasti akan menunjukkan keadilan-Nya (Mat. 18:14-19). Pengabulan doa tersebut berkenaan dengan adanya masalah di antara orang-orang percaya dan harus diperkarakan bukan oleh satu orang, sebagaimana penghakiman menjadi sah kalau oleh dua orang untuk menghindarkan kesewenang-wenangan (Yoh. 8:16). Inilah yang dimaksud oleh Tuhan dengan kata “mengabulkan”, yang artinya menyelesaikan atau memberi keputusan final. Jadi, konteksnya bukan permintaan doa untuk diri sendiri atau doa untuk sebuah mukjizat dapat terjadi, tetapi untuk penyelesaian suatu masalah dalam pekerjaan Tuhan.
    0 min
  • Iman Yang Sejati
    Iman yang sejati adalah iman yang bertumpu pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan dialami, dan yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seorang yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala keadaan. Orang percaya yang memahami kebenaran ini, tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia akan tetap memercayai Pribadi Allah walaupun keadaannya tidak memuaskan hatinya. Ia tetap memercayai Tuhan sekalipun doanya tidak dikabulkan Tuhan.
    Harus kita sadari bahwa ambisi mengadakan atau mengalami mukjizat adalah godaan besar yang membuat kita cenderung memaksakan kehendak diri sendiri, bukan kehendak Allah. Iman yang sejati ditunjukkan Tuhan Yesus melalui pergumulan-Nya di taman Getsemani dengan pengakuan:  Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak -Mu lah yang jadi (Mat. 26:39-44). Di sini Tuhan Yesus menunjukkan ketaatan-Nya sebagai seorang Anak. Tuhan Yesus dapat memuaskan hati Bapa oleh ketaatan-Nya tersebut. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Ia yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Kehidupan seperti inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita agar iman kita menuju kesempurnaan (Ibr. 12:1-3). Beriman kepada Tuhan tidaklah berdasarkan atas apa yang telah Allah kerjakan menurut selera atau kesukaan kita, tetapi menyerah kepada apa pun yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan. Jadi, percaya berarti menyerah kepada Pribadi-Nya. Hal ini ditandai dengan mengerti apa yang diinginkan oleh Allah dalam hidup kita secara pribadi dan melakukannya.
    Ketika orang percaya berbicara mengenai iman, hendaknya tidak terjebak pada kecenderungan menghubungkan iman dengan hal-hal yang spektakuler, yaitu mencabut pohon dengan akar-akarnya dan memindahkan gunung ke laut secara harafiah (Luk. 17:6; Mat. 17:20). Memang tidak tertutup kemungkinan pernyataan Tuhan ini juga dapat berarti secara harafiah, yaitu memindahkan gunung atau mencabut pohon seakar-akarnya dalam arti fisik. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang sulit. Tetapi akan lebih memiliki nilai bagi keselamatan jiwa, kalau ayat ini lebih dipahami sebagai kiasan.  Kenyataannya, Tuhan Yesus tidak pernah benar-benar mencabut pohon atau memindahkan gunung secara fisik, juga tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Baru maupun dalam sejarah gereja. Lagipula untuk apa pohon tercabut atau gunung dipindahkan? Kalau hanya untuk demonstrasi kuasa Allah, maka yang juga diuntungkan adalah manusia yang memiliki iman memindahkan gunung (secara fisik) tersebut. Allah yang asli (benar) bukanlah Allah yang perlu bersikap gagah-gagahan supaya dipuji.
    Dalam ucapan Tuhan mengenai mencabut pohon seakar-akarnya di Lukas 17:6, tidak ada sama sekali unsur kepentingan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan tindakan Tuhan Yesus di Matius 21:18-22, yaitu ketika Tuhan mengutuk pohon ara dan berbicara mengenai iman yang dapat memindahkan gunung, hal ini harus dimengerti dengan benar.  Tindakan Tuhan membuat pohon ara menjadi kering bertujuan memberi pelajaran kepada murid-murid-Nya, bahwa menjadi pohon harus berbuah, sebab Tuhan menghendaki orang percaya berbuah bagi Dia (Yoh. 15:1-7; Gal. 5:22-23). Buah kehidupan itu pada dasarnya adalah ketaatan kepada Bapa.
    Oleh sebab itu, pelajaran rohani dari hal pohon ara yang daunnya dibuat kering oleh Tuhan, memindahkan gunung dan mencabut pohon seakar-akarnya, tidak boleh diartikan salah. Hendaknya kita tidak berpikir, bahwa kita diperkenan oleh Tuhan untuk meyakini dalam doa bahwa sesuatu akan terjadi atau kita diperoleh, karena kita meyakini sesuatu itu dapat terjadi. Kita harus terlebih dahulu mengerti kehendak Tuhan atas sesuatu, barulah kita meyakini akan memperoleh sesuatu tersebut. Jika tidak demikian, seakan-akan Tuhan bisa diatur atau dipengaruhi oleh keyakinan dalam pikiran seseorang.
    Pemikiran keliru ini ada pada banyak orang Kristen sekarang ini yang memiliki definisi iman yang salah. Hal ini sangat berbahaya, sebab dapat mengakibatkan orang-orang Kristen tidak terfokus ...
    0 min
  • Mendominasi Allah
    Hendaknya kita tidak turut terjebak dengan pengajaran banyak orang hari ini, yang mengajarkan seolah-olah dengan iman seseorang dapat mengatur Tuhan untuk melakukan mukjizat. Kalau Tuhan menghendaki agar mukjizat terjadi, maka kita harus meyakininya bagaimanapun mustahilnya keadaan tersebut. Sebenarnya, orang yang bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah dan semakin mengerti kehendak Allah, pasti memiliki keyakinan yang sempurna terhadap Pribadi-Nya. Dengan demikian, mukjizat dapat terjadi sesuai dengan keinginan Allah. Orang percaya seperti ini sangat tidak asing terhadap mukjizat.
    Iman bukanlah kekuatan pikiran yang dapat mengatur Tuhan seperti yang diajarkan banyak pendeta dan orang-orang yang mengaku hamba-hamba Tuhan. Hal tersebut bertentangan dengan pengertian iman yang benar. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Seseorang yang beriman pasti hidup dalam pengaturan Tuhan.  Selama ini telah terjadi kerancuan antara iman dan positive thinking (berpikir positif). Iman bukanlah positive thinking atau berpikir positif. Tetapi iman pasti berpikir positif  menurut kehendak Tuhan. Dalam hal ini, ukuran positif atau kebaikannya bukanlah didasarkan pada keinginan manusia, apa yang dipandang sebagai kebutuhan, kesenangan, dan cita-cita pribadi, tetapi segala hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Di luar kehendak Allah tidak ada sesuatu yang positif. Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada yang baik selain Allah saja (Mrk. 10:18). Di luar kehendak Allah berarti apa yang dipikirkan manusia, dan apa yang dipikirkan manusia berasal dari Iblis (Mat. 16:23).
    Banyak orang berpikir, “apabila meyakini sesuatu akan terjadi, maka sesuatu tersebut pasti terjadi atau terkabul”. Itulah yang dipahami sebagai iman. Sebenarnya ini bukanlah iman, tetapi hanya sekadar berpikir positif. Pola iman yang salah tersebut, yaitu meyakini bahwa apa yang diingini pasti tercapai atau terwujud, adalah usaha untuk melakukan praktik eksploitasi terhadap Tuhan dan memanipulasi kuasa-Nya. Ini adalah tindakan orang-orang oportunis (orang-orang yang mencari keuntungan sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan pihak lain).
    Di sini jelas dikesankan bahwa Tuhan dapat diatur oleh pikiran positif dan keyakinan manusia. Oleh keyakinan seseorang, maka pintu berkat surga pasti bisa terbuka dan apa pun yang diingini dapat terkabul. Tanpa disadari banyak orang Kristen, termasuk para pendeta atau hamba-hamba Tuhan, berpikir bahwa dengan “keyakinan” tersebut Tuhan bisa dibuat tidak berdaya sehingga Tuhan tidak dapat menolak keinginan dan permintaan manusia. Akhirnya, Tuhan menuruti apa saja yang diingini oleh manusia. Dari hal ini, mereka meyakini dapat menggerakkan Tuhan melakukan mukjizat. Tidak heran kalau ada seseorang mengadakan mukjizat, maka ia dianggap memiliki keunggulan, sebab ia berani memiliki keyakinan yang menggerakkan Allah melakukan mukjizat.  Ini sebuah kesalahan yang sangat fatal. Dengan konsep ini, terjadi pembalikan. Bukan Tuhan yang mendominasi manusia, tetapi manusia mendominasi Tuhan.
    Tidaklah salah meyakini sesuatu akan dapat dicapai atau terkabul, asal saja seseorang memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Allah. Sehingga sebenarnya  keyakinan tersebut berasal dari “kehendak-Nya”. Tentu saja segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya pasti mendatangkan kemuliaan Tuhan. Tetapi untuk menemukan kehendak Allah, seseorang harus memahami prinsip-prinsip kebenaran Injil sehingga mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
    Berbicara mengenai iman, seringkali orang mendasarkan pandangannya pada Ibrani 11:1 yang berbunyi: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sesuatu yang termuat di ayat ini sering diisi dengan bermacam-macam isian. Sesuatu itu bisa diartikan sebagai kesembuhan, jalan keluar dari problem ekonomi, sukses dalam karir atau studi, jodoh, dan lain sebagainya.
    0 min
  • Aspek Hubungan Dengan Allah
    Jenis iman yang berikut adalah iman dalam arti persetujuan pikiran, yaitu   menerima sesuatu sebagai suatu kebenaran atau kebaikan. Hal ini bisa juga dikatakan sebagai pengaminan akali. Banyak orang yang memiliki keyakinan agama sejak kecil karena pengaruh keluarga dan lingkungannya.  Mereka belum memahami bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dipercayainya tersebut. Hal ini terjadi pula dalam lingkungan komunitas Kristen. Oleh karena orang tua dan lingkungan mengatakan demikian, maka ia mengikut saja. Iman seperti ini belumlah iman yang menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, kalau seseorang mengaku beriman, tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yak. 2:17-18). Banyak orang Kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Mereka merasa telah memiliki iman, tetapi tidak mengenal apa dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang palsu.
    Persetujuan pikiran memang merupakan langkah awal seseorang belajar mengenal Tuhan yang benar. Tanpa persetujuan pikiran, seseorang tidak dapat melangkah untuk belajar mengenal Tuhan. Tetapi kalau tidak ada tindakan nyata untuk belajar Firman Kristus, maka tidak pernah ada iman yang benar dalam hidup seseorang. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang puas hanya sampai di persetujuan pikiran ini dan tidak ada usaha untuk terus bertumbuh secara benar. Ini terjadi atas orang Kristen “KTP”.  Adapun jenis iman yang paling unggul sesungguhnya adalah iman yang menyelamatkan. Iman jenis ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman ini lebih berkualitas dibanding iman jenis sebelumnya. Iman di sini bukan sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Inilah iman yang menyelamatkan itu.
    Dalam memahami kata iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek keyakinan terhadap kuasa Allah dan kepercayaan secara pikiran atau persetujuan pikiran yang disebut pula sebagai keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan.  Umat sebagai subyek yang percaya dan Allah sebagai objek kepercayaannya. Jadi, iman sangat bertalian dengan kualitas hubungan antara umat yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap. Beriman atau percaya kepada Tuhan juga bukan hanya mengakui status-Nya bahwa Dia Pencipta alam semesta, Allah yang layak dipuji dan disembah dan lain sebagainya. Tetapi juga penyerahan total kepada kehendak-Nya. Penyerahan kepada kehendak-Nya ini akan terekspresi dalam tindakan nyata. Inilah pilar utama iman yang sejati.
    Orang yang memahami kebenaran di atas ini, tidak akan berdoa untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ia tidak akan mudah mengklaim kuasa Allah untuk mengalami atau memperoleh mukjizat.  Ia memiliki sikap hormat kepada Allah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi atau pemegang kedaulatan satu-satunya, di mana orang percaya harus menundukkan diri sepenuhnya. Hubungan dengan Tuhan tidak akan terbangun harmonis, jika orang percaya merasa memiliki hak untuk mengklaim kuasa Tuhan agar terjadi mukjizat. Orang-orang Kristen yang merasa berhak mengklaim kuasa Allah tanpa mengerti kehendak-Nya dengan tepat adalah orang-orang yang belum dewasa rohani.
    Beriman kepada Tuhan Yesus berarti menuruti kehendak-Nya. Iman merupakan penyerahan diri sepenuh kepada seluruh kehendak Tuhan secara mutlak. Oleh sebab itu seseorang tidak akan dapat meningkatkan kualitas imannya kepada Tuhan kecuali bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, yaitu mengenal hakikat-Nya, hikmat-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan rencana-Nya. Sehingga memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah guna dilakukan. Jadi, pertumbuhan yang harus berlangsung atau terjadi dalam kehidupan kita bukanlah pertumbuhan pengenalan akan kuasa-Nya yang bisa melahirkan mukjizat,
    0 min
  • Bukan Iman Yang Menyelamatkan
    Berbicara mengenai mukjzat, tidak dapat dipisahkan dengan iman, sebab pada umumnya orang berpikir bahwa untuk terjadinya sebuah mukjizat seseorang harus memiliki iman. Apakah iman itu sebenarnya? Bila kita memeriksa Alkitab, dapat dijumpai banyak kata iman. Masing-masing memiliki pengertian yang berbeda dan dalam konteks yang berbeda.  Dari teks-teks yang terdapat dalam Alkitab yang berbicara mengenai iman, dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat tiga jenis iman. Di antaranya, iman keyakinan. Iman jenis ini bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan terwujud jika diyakini atau diharapkan dengan kuat. Banyak mukjizat yang bisa terjadi karena iman ini. Alkitab dipenuhi dengan kisah-kisah yang menunjukkan iman jenis ini. Tuhan juga mengajarkan keyakinan seperti ini bagi mereka yang baru belajar mengenal Penciptanya. Tuhan Yesus pun juga mengajarkan murid-murid-Nya untuk memiliki iman ini.
    Dalam suatu kesempatan Tuhan Yesus berkata: Jadilah kepadamu menurut imanmu (Mat. 9:29). Perkataan Tuhan ini ditujukan kepada orang buta yang meminta supaya matanya dicelikkan. Kekuatan iman orang buta itu mencelikkan matanya sendiri. Demikian pula dengan seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, dengan imannya ia menjamah jubah Tuhan Yesus, maka seketika itu ia menjadi sembuh (Mat. 9:21-22). Tuhan Yesus juga memuji iman seorang perwira Romawi di Kapernaum yang meyakini kuasa Tuhan Yesus. Ia percaya jika Tuhan Yesus mengucapkan sepatah kata, maka hambanya yang sakit di rumahnya akan sembuh. Sungguh luar biasa, hamba perwira Romawi tersebut menjadi sembuh (Mat. 8:10).
    Jenis iman inilah yang lebih ditekankan dan diajarkan kepada banyak orang Kristen dewasa ini secara berlebihan dan tidak proporsional. Seolah-olah dengan iman ini manusia bisa meraih apa pun yang diingininya. Dikesankan bahwa Tuhanpun bisa tidak berdaya bila berhadapan dengan umat yang memiliki iman jenis ini. Dengan demikian, seolah-olah Tuhan bisa diatur oleh kekuatan keyakinan dalam pikiran manusia. Dikesankan pula bahwa Tuhan akan merasa tersanjung dan dihormati kalau kuasa-Nya dipercayai, sehingga Tuhan memenuhi keinginan seseorang yang memercayai kuasa-Nya. Pemikiran seperti ini ada pada banyak orang Kristen yang belum dewasa.
    Bagi orang-orang Kristen tertentu, bila memiliki iman seperti ini, maka dianggapnya sebagai suatu keunggulan. Padahal kalau kita mengamati kisah-kisah seperti di atas yang banyak kita jumpai dalam Alkitab, semua keajaiban ini disebabkan oleh iman mereka yang ternyata belum mengenal Tuhan Yesus secara mendalam. Mereka hanya percaya bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa yang ajaib. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan karena keselamatan kekal. Tuhan menggunakan momentum ini untuk membuktikan bahwa Ia berasal dari Allah (Yoh. 3:2).
    Jenis iman seperti di atas, sebenarnya sama dengan berpikir positif (positive thinking) dalam lingkungan psikologi. Dalam lingkungan pengembangan kepribadian, pola berpikir positif ini diajarkan dan dianjurkan. Dengan demikian, sesungguhnya kekuatan yang diandalkan bukanlah Tuhan, tetapi kekuatan berpikir, perkataan, alam semesta dan berbagai kekuatan lain yang diyakini memiliki kekuatan. Dalam lingkungan mistik, berpikir positif seperti ini juga diterapkan dengan menggunakan kekuatan gaib, kuasa kegelapan sebagai andalannya. Jenis iman ini di atas bukanlah iman yang menyelamatkan. Dalam Matius 7:21-23, terdapat orang-orang yang berani meyakini kuasa Allah. Faktanya memang mukjizat dapat terjadi, tetapi mereka yang menjadi pelakunya ditolak oleh Tuhan Yesus atau tidak selamat. Iman jenis ini tidak boleh dipandang sebagai iman yang bernilai unggul yang menyelamatkan. Sebab ada jenis iman lain yang lebih penting untuk dimiliki, yaitu iman yang menyelamatkan.
    0 min
  • Duri Dalam Daging
    Dalam Alkitab, kita menemukan kenyataan bahwa Tuhan sengaja tidak menyelesaikan masalah atau problem hidup anak-anak-Nya dengan mudah atau dengan menggunakan mukjizat. Hal ini ditunjukkan kepada kita dalam kasus “duri dalam daging” yang dialami Paulus. Menjadi sulit dimengerti, ketika Tuhan membiarkan Iblis tidak undur dari Paulus, walaupun Paulus sudah memintanya kepada Tuhan. Tuhan membiarkan Iblis menggocoh Paulus. Kata “menggocoh” di sini maksudnya adalah memukul berulang-ulang. Kata menggocoh di sini dalam teks aslinya adalah kolafizee (κολαφίζῃ), dari akar kata kolaphizo (κολαφίζω), yang dapat diterjemahkan “memukul dengan kepalan tangan” (blow with hand: a blow struck with the fist or hand). Dalam bahasa Inggris juga diterjemahkan buffet (pukulan tangan).
    Memang menggocoh di sini bukan sesuatu yang dapat membunuh atau membahayakan, tetapi hal ini membuat Paulus merasa tidak nyaman, bahkan sampai tahap menyakitkan.  Dalam Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), 2 Korintus 12:7 diterjemahkan sebagai berikut: Tetapi supaya saya jangan terlalu sombong karena penglihatan-penglihatan yang luar biasa itu, saya diberikan semacam penyakit pada tubuh saya yang merupakan alat Iblis. Penyakit itu diberikan untuk memukul saya supaya saya tidak menjadi sombong.
    Sekalipun Paulus sudah memohon berulang-ulang kepada Tuhan agar duri itu diangkat, tetapi Tuhan tidak mengabulkan doanya. Alkitab mencatat pengakuan Paulus sebagai berikut: Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2Kor. 12:8-9). Tuhan mengijinkan utusan Iblis tetap menetap menjadi sesuatu yang menyakitkan dan tidak menyenangkan bagi Paulus dalam perjalanan hidupnya. Sebagai respon atas doa Paulus, Tuhan memberi anugerah yaitu kesanggupan untuk memikulnya atau bertahan dalam kehidupan yang menanggung duri dalam daging.
    Anugerah yang Tuhan berikan, tidak membuat duri dalam daging Paulus lenyap (remove atau depart) atau dipindahkan, tetapi Tuhan memberi kesanggupan kepada Paulus untuk hidup dengan duri dalam daging tersebut. Hal tersebut dikerjakan Tuhan supaya Paulus tidak menjadi sombong. Bisa saja Tuhan mengangkat duri dalam daging dan sekaligus membuat Paulus tidak sombong. Tetapi Tuhan tidak melakukan hal tersebut, sebab bila Tuhan berbuat demikian berarti Tuhan menyangkali ketetapan-Nya, yaitu menjadikan manusia sebagai pribadi yang bebas menentukan pilihannya atau berkehendak bebas.
    Dengan keadaan Paulus tersebut, didapatkan dua pelajaran rohani: Pertama, tanggung jawab manusia untuk mengelola hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan harus dipenuhi. Hidup sesuai dengan kehendak Tuhan adalah hidup dalam kerendahan hati, mengasihi Tuhan dan sesama. Kedua, Allah memberi pemeliharaan dan penjagaan agar orang percaya dimungkinkan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Walaupun Tuhan telah memberi duri dalam daging sebagai pengaman, hal ini bukan berarti Paulus pasti tidak bisa berbuat dosa. Paulus masih bisa berbuat dosa dan memberontak kepada Tuhan kalau memang dasarnya mau memberontak. Tetapi Paulus ternyata memilih hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dalam usaha terus-menerus untuk berkenan di hadapan Allah (2Kor. 5:9-10).
    Jadi apa pun bentuknya, namun yang pasti bahwa duri dalam daging menunjuk sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun demikian, walaupun tidak menyenangkan, duri dalam daging atau penyakit itu mendatangkan kebaikan, yaitu supaya Paulus tidak menjadi sombong. Tuhan melakukan hal tersebut karena Tuhan tahu bahwa penglihatan yang dialami Paulus bisa menjadi sarana atau alat untuk menarik kekaguman, pujian, sanjungan, dan simpati orang kepada dirinya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…