Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Oportunis
    Kita harus lebih membutuhkan dan sungguh-sungguh berharap mengenal Tuhan daripada berharap mengalami mukjizat-Nya. Mukjizat Tuhan tanpa kita mintapun akan terjadi, bila Tuhan memandang hal tersebut kita butuhkan dan perlu terjadi. Tuhan menjamin kehidupan kita dengan segala kekuatan yang ada pada-Nya. Mukjizat bukanlah hal yang asing dan jauh dari kehidupan anak-anak Allah. Mukjizat adalah bagian hidup orang percaya sebab Allah Bapa melalui Roh Allah adalah sumber mukjizat terbesar yang menyertai anak-anak-Nya.
    Mukjizat selalu masih ada, tetapi bukan berarti kita dapat menggunakan sesuka hati kita. Mengenal Tuhan berarti mengenal kehendak-Nya, rencana-Nya dan apa yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan. Dengan pengenalan yang benar ini, kita akan dapat menempatkan diri kita secara benar di hadapan-Nya, yaitu sebagai hamba yang harus tunduk guna melakukan kehendak dan rencana-Nya. Dengan demikian, kita akan memiliki rasa hormat yang sepantasnya kepada Tuhan dan terhindar dari bersikap tidak pantas di hadapan Tuhan atau kurang menghormati-Nya.
    Tuhan adalah Majikan Agung yang kepada-Nya kita harus tunduk sedalam-dalamnya. Mekanisme hubungan harmonis dan yang pantas dengan Tuhan adalah kalau kita sebagai umat rela hidup dalam perhambaan kepada Tuhan, dimanfaatkan, dipakai, dan diatur oleh Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan mekanisme yang benar ini, maka kita akan bebas dari sikap oportunis dan manipulatif terhadap kuasa-Nya. Dalam hal ini, kita dapat menempatkan diri sebagai hamba di hadapan-Nya, dan Dia sebagai Tuan bagi kita. Sikap oportunis adalah sikap mencari keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan pihak lain.
    Orang-orang Kristen yang bersikap oportunis di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan Tuhan untuk kepentingannya sendiri. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan yang harus hidup dalam dominasi atau kekuasaan Tuhan dan hidup hanya untuk kepentingan-Nya. Adapun sikap manipulatif adalah usaha untuk menyalahgunakan kuasa Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri. Sikap oportunis dan manipulatif ini biasanya disebabkan oleh ketidakdewasaan dan karena tidak mengenal Tuhan dengan benar.
    Banyak orang Kristen sesat dengan berpikir bahwa Yesus datang untuk memberi kesejahteraan di bumi, sehingga bumi dapat dinikmati seperti Firdaus. Ini adalah prinsip orang-orang beragama pada umumnya. Banyak orang Kristen berpikir, karena mereka menjadi anak-anak Allah, maka Bapa memperlakukan mereka secara istimewa. Mereka memandang Allah selalu menyediakan mukjizat-Nya untuk menyelesaikan semua masalah dalam kehidupan ini.  Orang Kristen seperti ini tidak memahami bahwa ada hukum tabur tuai yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Orang Kristen pun harus tunduk kepada hukum tersebut. Tidak ada seorang pun yang lolos dari hukum ini. Dalam keadilan-Nya yang sempurna, Tuhan memberlakukan hukum ini secara adil kepada semua orang. Kalau seandainya Tuhan memberikan dispensasi kepada orang Kristen terkait dengan hukum ini, berarti Tuhan bukan saja tidak fair, tidak adil dan curang, tetapi juga merusak moral umat pilihan-Nya.
    Jadi, kalau ada orang Kristen yang tidak menjaga pola makan dan pola hidupnya dengan baik, pasti sakit. Sakitnya bukan karena kutuk, tetapi sebagai disiplin karena tidak menjaga bait suci yang Tuhan percayakan kepadanya. Menjaga bait suci yaitu tubuhnya bukan hanya tidak minum minuman alkohol yang berkadar tinggi, narkoba, atau sejenisnya, tetapi tidak memiliki pola hidup yang baik dan tidak menjaga pola makan yang baik juga merupakan tindakan menghancurkan bait suci. Oleh sebab itu, hendaknya bukan karena terdapat ayat Firman Tuhan bahwa oleh bilur-Nya kita disembuhkan, kemudian orang Kristen boleh ceroboh mengenai pemeliharaan tubuhnya. Orang Kristen yang tidak bertanggung jawab menjaga kesehatannya, tidak berhak memiliki kesehatan, dan mengalami mukjizat kesembuhan.
    Dalam aspek lain,
    0 min
  • Doa Dan Kedaulatan Allah
    Terkait dengan urusan mengenai mukjizat, nampak perbedaan yang harus ada antara anak-anak Allah dan orang-orang di luar umat pilihan yang menggunakan kuasa kegelapan. Kalau seseorang menggunakan kuasa dari “kuasa kegelapan”, maka ia bisa menggunakannya kapan saja sesuka hatinya, tetapi anak-anak Allah tidak demikian. Anak-anak Allah harus mengakui kedaulatan Allah sebagai Bapa yang harus dihormati secara patut. Kita tidak boleh dan memang tidak bisa menggunakan kuasa Tuhan semau kita sendiri. Untuk itu, ada sikap hati yang benar yang harus kita miliki terhadap mukjizat dan terhadap Allah pemilik mukjizat tersebut.  Memang kuasa kegelapan terkesan bisa diatur, tetapi sebenarnya tidak. Dengan cara membiarkan kuasanya digunakan, maka ia menjerat dan membelenggu manusia. Ini sikap licik kuasa kegelapan. Adapun Tuhan tidak bersikap licik seperti kuasa kegelapan.
    Kita harus menjunjung tinggi kedaulatan Allah, Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tidak boleh sembarangan berdoa memohon kuasa Tuhan agar mukjizat-Nya dapat terjadi. Dalam Matius 7:7-11 terdapat ayat-ayat yang menyingkapkan kebenaran mengenai doa dan kedaulatan Allah. Perikop ini satu dari banyak perikop lain dalam Alkitab yang sering ditampilkan, sebab dalam perikop ini terdapat ayat yang membicarakan mengenai pengabulan doa. Banyak orang menjadikan ayat-ayat tersebut landasan pemikiran yang salah mengenai jawaban doa. Selama ini banyak pengajaran yang mengesankan bahwa doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh pasti dikabulkan, sehingga mukjizat dapat terjadi. Seakan-akan orang percaya memiliki hak khusus menyampaikan doa yang dapat dikabulkan oleh Tuhan.
    Allah adalah Pribadi yang pasti meresponi doa kita. Maksud meresponi di sini adalah menanggapi dengan serius terhadap setiap pergumulan kita, yang kita bawa kepada-Nya. Harus dimengerti meresponi di sini bukan berarti mengabulkan. Tidak semua doa itu dikabulkan Allah, tetapi tidak ada doa yang tidak dijawab atau diresponi oleh Allah. Tuhan Yesus mengatakan: ”Mintalah, maka akan diberikan”. Kita harus memerhatikan kalimat “akan diberikan”, tidak dikatakan “dikabulkan”. Dalam terjemahan aslinya kata diberikan adalah dothesetai (δοθήσεται). Adapun dalam teks bahasa Yunani untuk kata dikabulkan adalah genesthai (γενέσθαι).
    Harus dipahami bahwa apa yang diberikan Tuhan belum tentu sesuai dengan apa yang kita minta. Namun yang jelas Allah Bapa pasti meresponi doa kita. Kita harus dapat membedakan antara dikabulkan dan diberikan atau dijawab. Tuhan Yesus mengatakan: “Carilah maka kamu akan mendapat.” Mengapa Tuhan Yesus berkata “carilah”? Harus diperhatikan bahwa yang dicari di sini dan yang  belum ditemukan, bukanlah permintaan kita, tetapi “kehendak Bapa”. Di dalam menyampaikan permohonan kepada Tuhan, kita dipanggil untuk mencari kehendak-Nya terlebih dahulu, yaitu apakah permintaan kita tersebut sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.
    Kita harus benar-benar mempersoalkan apakah yang kita minta sesuai dengan kehendak dan rencana Bapa. Bila permintaan kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya, maka permintaan kita akan dikabulkan oleh Bapa. Allah tidak akan mengabulkan doa kita bila permintaan kita bertentangan dengan kehendak dan rencana-Nya.  Oleh sebab itu, kita harus tinggal di dalam Dia, agar kita mengerti kehendak dan  rencana-Nya.
    Dalam kenyataan hidup, kita menemukan ada orang-orang Kristen yang menggerutu sebab permintaannya kepada Tuhan tidak dikabulkan. Mereka berpikir Tuhan tidak peduli dan masa bodoh terhadap masalah pribadinya. Padahal Tuhan tidak mengabulkan doanya tersebut sebab permintaannya tersebut membahayakan dirinya. Seringkali apa yang kita pikir baik itu belum tentu baik. Konsep baik dalam pikiran kita belum tentu benar-benar baik menurut Tuhan. Tetapi apa yang dianggap Allah baik, pasti baik bagi kita. Harus diingat bahwa kuasa kegelapan memberi apa yang seseorang minta, tetapi Allah memberi apa yang terbaik menurut Dia.
    0 min
  • Kembali Ke Gereja Mula-mula
    Sering kita mendengar khotbah-khotbah yang menyatakan bahwa gereja harus kembali ke gereja mula-mula, karena gereja mula-mula adalah model gereja yang ideal.  Harus dengan teliti dan cerdas kita mempersoalkan: Apa yang dimaksud dengan “kembali ke gereja mula-mula”? Hal apa yang dikembalikan? Pada umumnya, “kembali ke gereja mula-mula” tersebut adalah kembali mengalami pelayanan yang disertai mukjizat-mukjizat atau karunia-karunia Roh yang spektakuler. Ini adalah pengertian dan pandangan yang salah. Harus dipahami bahwa mukjizat hanyalah tanda (Yun. Semeion) yang sama artinya sebagai petunjuk arah, bukan sebagai tujuan. Karunia-karunia Roh juga bukan tujuan, tetapi sarana yang Tuhan berikan untuk pertumbuhan iman. Sedangkan iman itu sendiri adalah penurutan terhadap kehendak Bapa. Tujuan atau goal kehidupan Kristen adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau yang sama dengan serupa dengan Yesus. Hal ini sesuai dengan maksud keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula.
    Mukjizat memang dibutuhkan pada waktu yang tepat. Tanpa mukjizat orang-orang Israel pada zaman Yesus hadir dengan tubuh fisik, tidak akan mau mendengar apa yang diajarkan oleh Yesus. Padahal kebenaran Injil itulah yang memerdekakan. Tanpa mukjizat dalam pekabaran Injil, sulit menunjukkan Allah yang benar, khususnya di wilayah-wilayah yang masyarakatnya sama sekali belum pernah mendengar Injil. Mereka tidak mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya sebagai utusan Allah. Tanpa mukjizat, orang-orang yang belum pernah mendengar Injil sulit diyakinkan bahwa ada Allah yang hidup yang disebut sebagai Bapa dan Putra Tunggal-Nya yang menjadi utusan untuk menebus dosa manusia. Apalagi kalau hal itu terjadi di wilayah yang masih primitif. Mereka sangat membutuhkan bukti. Maka mukjizat harus diadakan. Demikian pula dengan karunia-karunia Roh, sangat dibutuhkan untuk membangun iman jemaat (1Kor. 14:3-4; 12). Karunia Roh berperan membangun iman, namun bukan tujuannya. Tujuannya adalah iman. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah yang sama dengan melakukan kehendak Bapa (Ibr. 12:1-4). Jadi, karunia roh dimaksudkan agar orang percaya dapat melakukan kehendak Bapa seperti Yesus.
    “Kembali ke gereja mula-mula”, haruslah berarti kembali kepada kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh mengiring Yesus pada abad pertama. Sehingga orang percaya pada abad pertama tersebut dipanggil atau mendapat julukan Kristen (Kis. 11:26). Panggilan atau julukan itu bukan dari diri orang-orang Kristen itu sendiri, tetapi dari orang di luar komunitas mereka. Mereka disebut Kristen karena perilaku hidup mereka seperti Guru dan Tuhannya, yaitu Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang percaya dalam gereja mula-mula sekitar abad pertama itu berhasil menjadi orang percaya. Memang tujuan kehidupan Kristen adalah serupa dengan Yesus.
    Walau gereja mula-mula adalah komunitas orang percaya yang tidak memiliki gedung, organisasi, liturgi, aset gereja, dan berbagai atribut lain seperti yang dimiliki gereja-gereja hari ini, tetapi mereka menampilkan kehidupan Kristiani yang benar. Hingga orang-orang di luar komunitas mereka menyebut orang percaya tersebut sebagai Kristen.  Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang Kristen hari ini, yang menyebut diri Kristen hanya karena “beragama” Kristen. Betapa telah merosotnya hidup Kekristenan banyak orang Kristen hari ini. Kalau dipersoalkan apakah mereka sudah menjadi seperti Kristus? Kalau dijawab jujur, tidak atau belum sama sekali.
    Seharusnya kembali ke gereja mula-mula adalah kembali kepada kehidupan Kristiani yang benar, yaitu kehidupan yang memperagakan kehidupan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Penderitaan aniaya yang mereka alami pada waktu itu membuat mereka berhenti berbuat dosa dan mengenakan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (1Ptr. 4:1). Adalah kebodohan kalau kita hendak kembali ke gereja mula-mula hanya karena hendak mengalami mukjizat dan karunia-karu...
    0 min
  • Tuhan Menarik Diri
    Ketika seorang hamba Tuhan dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan kuasa Allah atau membuat mukjizat, pada waktu itu ia mendapat tanggung jawab untuk bisa memikul beban sebagai orang yang harus dapat dipercayai oleh Tuhan. Kalau kemudian ia menyimpang seperti yang terjadi dewasa ini atas hamba-hamba Tuhan atau pendeta-pendeta tertentu – yaitu jatuh dalam dosa kesombongan, memalsukan karunia, jatuh dalam dosa materi atau uang, dosa seks, dan dosa haus kekuasaan – hal itu disebabkan kehendak bebasnya memilih hal tersebut. Selanjutnya, ia harus memikul akibatnya. Harus selalu diingat bahwa yang diberi banyak dituntut banyak. Jadi, kepada hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa hari ini, mereka harus menyadari adanya tuntutan yang harus dipenuhi. Semakin banyak karunia diberi, maka tanggung jawabnya pun semakin sangat besar.
    Ketika seorang hamba Tuhan sudah jatuh atau menyimpang, apakah masih dapat melakukan mukjizat? Biasanya, Tuhan mulai mengurangi intensitas dan volume mukjizat yang terjadi. Tuhanpun memberi beberapa peringatan dengan berbagai hal. Berbagai hal tersebut bisa berupa jatuh sakit, mendapat kecelakaan, dan lain sebagainya, tetapi kalau ia masih tidak bertobat maka Tuhan bisa menghentikan dengan membongkar dosanya di depan umum, atau mempermalukannya sehingga ia tidak akan dapat lagi berbicara di depan umum atau memiliki massa. Tuhan pun tidak akan melakukan mukjizat lagi melalui orang itu.
    Biasanya kalau mukjizat mulai berkurang, maka sebagai kompensasinya adalah mengada-ada kesaksian. Kesaksian mukjizatnya pun mulai banyak yang palsu. Kemungkinan lain, mukjizat tersebut tetap terjadi oleh karena umat membutuhkan lawatan-Nya. Hal ini bisa karena iman jemaat itu sendiri, bukan karena hamba Tuhan yang sudah menyimpang. Bisa juga terjadi suatu kesembuhan Ilahi karena aspek psikologi, seperti misalnya aspek plasebo. Dari penemuan bidang psikologi, keyakinan diri dapat sembuh dari sakit dapat menyembuhkan diri pasien.
    Harus dipertimbangkan bahwa atas hamba Tuhan atau pendeta yang tidak mau bertobat, mukjizat juga bisa terjadi disebabkan kuasa kegelapan berintervensi. Harus diingat, Iblis pun dapat mengadakan mukjizat. Kesembuhan karena kuasa kegelapan tidak akan membuat orang itu hidup benar. Ia hanya membanggakan kesembuhan ilahinya tanpa berubah semakin sempurna. Biasanya orang seperti ini memuj-muji hamba Tuhan yang mendoakannya. Hal ini menyempurnakan penyimpangan atau kerusakan hamba Tuhan tersebut. Dalam hal ini kita dapat menemukan, sebuah ciri dari pelayanan yang menyimpang selalu menekankan mukjizat dan membanggakan fenomena tersebut sehingga semakin mengkultuskan manusia dan membuat orang fokus pada kuasa Tuhan, bukan kepada kebenaran-Nya.
    Perlu dipahami bahwa orang yang menjadi Kristen karena mukjizat, belumlah dapat dikatakan sebagai beriman kepada Yesus. Beriman berarti melakukan kehendak Tuhan. Untuk melakukan kehendak Tuhan seseorang harus belajar memahami kebenaran yang utuh dan lengkap. Dan untuk memahami kebenaran secara utuh dan lengkap membutuhkan waktu untuk prosesnya. Jadi, orang yang menjadi Kristen karena mukjizat belumlah dapat dikatakan sudah diselamatkan atau sudah menjadi anak Allah.
    Terkait dengan pengusiran roh jahat, seorang yang mengusir setan bukanlah ciri hamba Tuhan yang benar, sebab orang di luar Kristen pun juga dapat mengusir setan. Jadi kalau seseorang bisa mengusir setan bukan berarti ia berasal dari Allah. Namun demikian perlu dicatat di sini, bahwa ketika seorang hamba Tuhan bertemu dengan orang yang kerasukan setan, maka nampak kualitas hidup kesuciannya. Wibawa seseorang terhadap kuasa kegelapan menunjukkan kualitas hidupnya setiap hari.
    0 min
  • Pemberitaan Firman Yang Progresif
    Hamba Tuhan atau pendeta pemula di kalangan gereja-gereja tertentu, khususnya aliran Kharismatik dan Pentakosta, hampir selalu memberitakan Injil dalam porsi sederhana, pemberitaan Firman yang disampaikan tidak mendalam. Pemberitaan Firman yang disampaikan biasanya sekitar memperkenalkan Yesus sebagai Juruselamat dan biasanya juga disertai dengan penekanan kepada mukjizat. Selain itu, biasanya juga memperkenalkan Tuhan sebagai pemberi berkat jasmani atau pemenuhan kebutuhan jasmani serta jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan yang sukar.
    Kalau mereka berbicara mengenai moral, maka kebaikan moral yang ditawarkan dan diajarkan adalah kebaikan moral secara umum, yang biasanya mengacu pada hukum-hukum yang dikenal dalam Alkitab, yang landasannya adalah Sepuluh Perintah Allah.  Tetapi kalau hamba Tuhan tersebut bertumbuh, maka yang diajarkan mulai berubah. Tentu saja berubah progresif, lebih maju, dan mendalam. Pemberitaannya mulai lebih mendalam, yaitu sekitar kesucian hidup, memindahkan hati ke Kerajaan Surga, tidak terikat oleh dunia ini, kesiapan bertemu dengan Tuhan, dan hidup bertanggung jawab meneruskan proyek penyelamatan atas dunia. Hamba-hamba Tuhan seperti ini sudah tidak lagi melihat uang atau bayaran sebagai upah. Mereka akan berjuang tanpa batas untuk mengajarkan kebenaran Injil yang murni. Pada dasarnya Injil yang murni adalah proses kehidupan dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula; menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus.
    Khotbah-khotbahnya tidak lagi menekankan penyelesaian masalah dengan mukjizat, tetapi usaha dan kerja keras. Pendeta atau hamba-hamba Tuhan yang bertumbuh di dalam Tuhan secara benar, akan mendorong orang lain untuk berusaha sempurna, sementara dirinya sendiri berjuang untuk menjadi teladan bagi orang percaya, bagaimana memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Memang hamba Tuhan tersebut terkesan menjadi sombong dan seakan-akan paling benar sendiri. Tidak heran kalau banyak penyerang mulai menyerang ajarannya yang dianggap keras, ekstrem, “tidak menginjak tanah”, dan sederetan kritikan lainnya. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali.
    Seharusnya hamba-hamba Tuhan yang pada mulanya mengajarkan mukjizat, kemudian berhasil menghimpun massa dalam jumlah besar, bahkan berhasil membangun gereja besar, sekarang harus mengajarkan kebenaran Injil secara murni dan utuh untuk mewujudkan keselamatan yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Harus diingat bahwa mukjizat adalah tanda atau petunjuk arah, bukan goal atau tujuannya.  Tuhan Yesus juga melakukan hal tersebut, kepada murid-murid-Nya di saat-saat tertentu tidak lagi berbicara mengenai mukjizat, tetapi mengajarkan mereka kebenaran agar mereka bisa diajak seperjuangan dengan Diri-Nya. Hal itu dimaksudkan agar pada akhirnya akan bersama-sama dengan Tuhan dalam Kerajaan-Nya (Luk. 22:24-30).
    Kalau seorang hamba Tuhan bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, maka pastilah isi khotbahnya pun bertumbuh (progresif). Tetapi kalau seorang hamba Tuhan tidak bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, maka pastilah isi khotbahnya pun tidak bertumbuh. Jadi, kalau pemberitaan Firman yang disampaikan tidak berubah, berarti dia juga tidak mengalami perubahan atau pertumbuhan rohani. Faktanya, memang kita jumpai banyak pendeta atau hamba Tuhan yang khotbahnya tidak bertumbuh sama sekali. Biasanya mereka menjadi korban ajaran yang sedang marak atau digemari komunitas Kristen. Mereka jadi ikut-ikutan. Bagi seorang pendeta atau hamba Tuhan yang sudah menjadi “besar”, maka ia akan menciptakan “produk baru” dalam pelayanannya. Biasanya menggunakan landasan bahwa dirinya mendapat visi, pesan, atau wahyu dari Tuhan. Tanpa disadari dirinya telah menjadi nabi palsu.
    0 min
  • Tuhan Tidak Menikmatinya
    Menjadi masalah yang harus dipecahkan, apakah mukjizat yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan sekarang ini adalah mukjizat dari Tuhan atau bukan? Kalau kita membaca Matius 7:21-23, kita dapati ada orang-orang yang mengaku sudah bernubuat, mengusir roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat, ditolak oleh Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa Tuhan tidak mengenal mereka. Tidak dikenal di sini sebenarnya maksudnya bukan tidak dikenal dalam arti tidak diketahui, tetapi maksudnya adalah “tidak dapat dinikmati” oleh Tuhan (Yun. Ginosko). Tidak dapat dinikmati oleh Tuhan artinya kehidupan pribadi hamba Tuhan atau pendeta tersebut tidak menyenangkan hati Tuhan. Tidak menyenangkan hati Tuhan atau tidak berkenan di hadapan Tuhan disebabkan karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa.
    Dalam Matius 7:21-23 Tuhan tidak mengatakan bahwa nubuat mereka, mukjizat dan kuasa mengusir setan mereka bukan berasal dari Allah. Dari apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus yang tertulis di dalam ayat-ayat tersebut, mereka ditolak karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Tidak melakukan kehendak Bapa artinya dalam hidup mereka tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Dari hal ini sangat jelas bahwa Tuhan Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus tidak menerima orang yang tidak menghormati Bapa-Nya.
    Dalam Matius 7:21-27 nampak Tuhan secara tidak langsung mengakui bahwa karunia-karunia Roh seperti mukjizat, mengusir roh jahat, dan bernubuat terjadi karena kuasa Allah. Menjadi rumit untuk dipecahkan adalah mengapa mereka bisa mengadakan mukjizat, mengusir roh jahat, dan bernubuat sementara Allah tidak berkenan kepada mereka?  Mengapa bisa terjadi demikian? Pada waktu hamba-hamba Tuhan ini memulai pelayanannya, mereka memulainya dengan tulus dan sungguh-sunggguh, walau ketulusannya belum matang atau tidak sempurna. Ukuran kedewasaan rohani mereka pada waktu itu, sudah cukup bagi mereka diperkenan untuk melayani Tuhan dan dinilai baik. Pada mulanya mereka tidak bermaksud hendak serakah, gila hormat, atau berniat dikultuskan, juga tidak bermaksud ikut terlibat politik praktis serta menyalahgunakan kekuasaan rohani. Mereka juga tidak pernah bercita-cita hendak melakukan berbagai pelanggaran moral. Pada waktu itu, dalam usia rohani yang masih dipandang muda oleh Tuhan (walau mungkin usia biologisnya sudah tua), mereka bisa menerima karunia-karunia dari Tuhan, di antaranya karunia mengadakan mukjizat.
    Kalau ada yang bertanya mengapa Tuhan memercayai mereka mengadakan mukjizat, sementara mereka suatu hari bisa berkemungkinan jatuh? Harus diingat bahwa bisa jatuh bukan berarti pasti jatuh. Tuhan pun tidak merancang dan menghendaki mereka jatuh.  Tuhan harus konsekuen memenuhi Firman-Nya. Tuhan pasti menyertai pelayanan hamba-hamba-Nya dengan kuasa untuk Injil-Nya. Adapun kalau pada akhirnya mereka menyimpang, tentu bukan Tuhan yang harus disalahkan. Tetapi kalau mereka suatu hari tidak menyimpang, tetapi Tuhan sudah pernah menahan karunia-Nya, berarti Tuhan tidak fair.
    Ketika Tuhan mengutus 70 murid-murid-Nya ke kota-kota Israel untuk mendahului Yesus sebelum Yesus mengunjungi kota-kota tersebut, kemungkinan besar Yudas pun juga salah satu dari murid-murid yang disuruh pergi tersebut. Karena Yudas termasuk satu dari keduabelas murid. Mereka menyatakan Iblis pun tunduk kepada mereka (Luk. 10:17). Yudas sendiri adalah orang kepercayaan Yesus untuk memegang kas bendahara. Terkait dengan hal ini, Paulus oleh ilham Roh mengatakan apa pun motivasinya (baik atau tidak baik) dalam memberitakan Injil, yang penting Injil diberitakan (Flp. 1:15-18). Dalam hal ini Tuhan membiarkan mereka memberitakan Injil walaupun mereka belum dewasa. Kalau Tuhan membiarkan mereka memberitakan Injil dengan maksud yang tidak baik, tentu Tuhan juga memberi kesempatan kepada hamba Tuhan pemula untuk memberitakan Injil.
    0 min
  • Pengkultusan
    Keberhasilan pelayanan hamba-hamba Tuhan yang mengadakan pelayanan melalui mukjizat, biasanya ditandai bukan saja berhasil membangun gereja-gereja besar, tetapi berpotensi untuk berkhotbah di berbagai media seperti televisi, radio, media cetak, dan lain sebagainya. Masyarakat Kristen telah terwarnai oleh pengajaran mereka. Mereka menjadi orang-orang terkemuka dalam komunitas Kristen dari tingkat kota sampai nasional, bahkan sampai ke luar negeri.
    Bahaya yang berpotensi muncul adalah penyimpangan atau penyesatan. Karena tidak memiliki landasan pemahaman kebenaran yang cukup, tidak berhati-hati dalam menjalani hidup dengan potensi bahaya yang begitu besar, maka tidak sedikit mereka yang menyimpang dari jalan Tuhan. Tentu saja ada hamba Tuhan yang tidak menyimpang. Potensi bahaya besar bagi para hamba-hamba Tuhan tersebut selain kekayaan dan ketenaran, juga jabatan dalam sinode atau pemimpin di kalangan para pendeta. Penyimpangan ini tidak terlalu nampak bagi mereka yang tidak mengenal kebenaran, tetapi bagi mereka yang mengenal kebenaran penyimpangan ini sangat nampak jelas. Kita dapat melihat dari isi khotbahnya, sudah dapat dikenali penyimpangan hingga kesesatannya.
    Penyimpangan itu bisa diawali oleh beberapa gejala: Pertama, keinginannya untuk menjadi “orang yang istimewa” bagi jemaat, juga bagi pendeta lain. Bagi mereka pengkultusan bukan sesuatu yang mereka pandang keliru, sebab mereka merasa layak untuk mendapat perlakuan seperti itu. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlibat dalam kesombongan yang mendukakan hati Tuhan. Sering pengkultusan dimulai dari jemaat sendiri yang terlalu mengagung-agungkan, mendewakan, dan mengistimewakan para pendeta tersebut. Seharusnya jemaat memberi penghormatan yang pantas, tanpa pengkultusan yang akhirnya menjadi penyebab tumbangnya pendeta-pendeta tersebut.
    Gejala yang kedua, karena merasa sudah dapat mendemonstrasikan mukjizat, merasa orang istimewa Tuhan, dan ditambah lagi dengan kepercayaan jemaat, maka ia mudah membuat pernyataan-pernyataan bahwa dirinya menerima pesan atau visi dari Tuhan. Padahal bisa terjadi bahwa fantasi dan halusinasi-halusinasi yang ada dalam dirinya sendiri yang dinyatakan sebagai penglihatan-penglihatan atau fenomena riil dari Tuhan. Bagi jemaat awam mereka tidak mudah membedakan apakah pesan atau visi itu dari Tuhan atau bukan, tetapi bagi yang mengenal kebenaran sangat mudah mengenalinya. Faktanya, lebih banyak yang tertipu daripada yang mengenali penipuan tersebut.
    Ketiga, harta kekayaan menjeratnya. Tanpa takut akan Allah hamba-hamba Tuhan yang menyimpang ini membeli berbagai aset di dalam dan di luar negeri sebagai milik pribadi dan keluarganya. Menanam saham di beberapa kegiatan bisnis dan berbagai praktik lainnya yang pada dasarnya adalah praktik dari cinta akan uang.  Keempat, dosa percabulan atau pelanggaran seks. Hal ini telah terjadi pada hamba-hamba Tuhan yang besar dan sukses di dalam maupun di luar negeri. Biasanya kalau di Indonesia, mereka yang jatuh dalam dosa ini adalah hamba-hamba Tuhan yang berkarunia mengusir setan.
    Kelima, keterlibatan dalam politik praktis. Karena memiliki pengaruh kuat di masyarakat, maka mereka dilirik oleh para politisi untuk ikut terlibat dalam kegiatan politik. Sebab mereka memiliki jemaat atau massa dalam jumlah yang besar. Para politisi pun menggandeng mereka untuk mendukung partai atau calon pemimpin dalam pilkada dan pemilu. Ada juga di antara para pendeta ini ikut terlibat di dalam kegiatan politik praktis, yaitu dengan langsung mendukung salah satu partai secara permanen. Kalau ada angggota keluarga mereka yang ikut salah satu partai atau ada kepentingan-kepentingan tertentu, maka jemaatnya diarahkan untuk mendukung salah satu partai tersebut. Di sini para hamba Tuhan ini ikut terlibat dalam politik praktis. Hamba-hamba Tuhan seperti ini juga tidak sedikit yang terlibat alam perebutan kekuasaan di gereja, di tingkat wilayah sampai sinode.
    0 min
  • Fenomena Mukjizat Dewasa Ini
    Dalam masa-masa tertentu, ketika gereja mengalami kemunduran, maka Tuhan dalam kasih-Nya menyatakan kehadiran-Nya dengan mukjizat-mukjizat. Dalam gereja Tuhan di dunia, fenomena ini terjadi sejak pertengahan abad 19. Pada waktu itu muncul para pembicara yang mendemonstrasikan mukjizat, seperti Oral Robert, T.L. Osborn, dan lain sebagainya. Mukjizat-mukjizat yang seharusnya hanya digunakan sebagai tanda untuk orang yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, terpaksa dinyatakan kepada orang-orang Kristen yang tidak mengenal Tuhan Yesus dengan benar dan yang mulai meninggalkan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar mereka kembali kepada Tuhan. Tentu saja mukjizat-mukjizat itu juga dipakai juga Tuhan untuk membawa orang-orang yang tadinya bukan Kristen menjadi Kristen.
    Untuk hal ini, Tuhan membangkitkan hamba-hamba-Nya. Sehingga muncullah hamba-hamba Tuhan yang diberi karunia untuk melakukan pelayanan dengan mukjizat ini, yaitu kesembuhan Ilahi atau mengusir setan dan lain sebagainya. Kalau kita teliti, ternyata sebagian mereka yang dipakai Tuhan untuk melakukan pelayanan ini, pada mulanya bukanlah hamba Tuhan yang lahir dari kalangan akademisi, yaitu mereka yang belajar teologi secara formal. Biasanya mereka lahir dari kaum awam atau mereka yang hanya mengikuti kursus atau sekolah Alkitab beberapa bulan, atau paling lama satu tahun. Tetapi tidak dapat dipungkiri, betapa luar biasanya mereka dipakai Tuhan mengadakan mukjizat dan menghimpun massa dalam jumlah yang besar. Di antara mereka berhasil membangun kota satelit, radio, dan televisi yang menjadi kendaraan Injil diberitakan.
    Biasanya hamba-hamba Tuhan ini, dalam khotbahnya tidak memiliki kedalaman pemahaman teologi berdasarkan Alkitab, tetapi selalu menekankan karunia dan mukjizat. Namun demikian, mereka berhasil melakukan berbagai mukjizat, sehingga dari pelayanan mereka terbangun gereja-gereja besar (megachurh). Mereka menjadi pendeta-pendeta besar di tengah masyarakat. Tidak dapat dibantah, mereka berhasil menggiring jemaat dalam jumlah besar mengunjungi gereja dan mengikuti kebaktian dengan sangat bergairah. Gereja-gereja tersebut berhasil membangun gedung-gedung tempat ibadah yang megah. Musik gereja mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Tentu saja, tidak sedikit orang-orang yang tadinya tidak ke gereja sama sekali mulai pergi ke gereja. Di Korea kita menyaksikan lonjakan tinggi umat Kristen, juga di Nigeria, Indonesia, dan beberapa negara lainnya.
    Dengan mukjizat-mukjizat yang berhasil didemonstrasikan, maka jemaat juga sangat yakin bahwa mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang benar, wakil Tuhan di dunia ini. Tentu saja mereka menjadi sangat terhormat. Tidak sedikit di antara mereka yang dikultuskan. Dari hal ini maka secara finansial hamba-hamba Tuhan yang berkarunia mukjizat ini menjadi sangat kuat, sebab dengan mukjizat terjadi maka tidak sedikit orang yang rela memberikan apa saja untuk kepentingan gereja maupun pelayanannya. Hamba-hamba Tuhan ini menjadi kaya. Hal ini nampak dari kendaraan yang dikendarai, juga kendaraan anak-anaknya, rumah, pakaian, dan lain sebagainya. Bahkan ada di antara mereka yang memiliki ranch (rumah dengan halaman luas) di luar negeri, apartemen mewah, dan pesawat pribadi.
    Dari hal tersebut muncul pendeta-pendeta yang menggunakan mukjizat untuk membangun komunitas; mulai dari persekutuan doa sampai gereja, dari lokal, regional sampai kelas internasional. Mereka berpikir bahwa mukjizat adalah cara Tuhan yang efektif untuk membawa orang yang tidak mengenal Tuhan kepada keselamatan dalam Yesus Kristus. Biasanya pendeta-pendeta yang muncul dari kalangan ini tidak terlalu menekankan pengajaran dan doktrin, tetapi hanya menekankan mukjizat-mukjizat. Kemanapun mereka mengadakan acara-acara rohani – seperti kebaktian kebangunan rohani, seminar-seminar, dan lain sebagainya – selalu menekankan pengajaran yang berorientasi pada mukjizat. Herannya, pengunjungnya tidak pernah sepi.
    0 min
  • Bukan Ukuran Prestasi
    Dengan pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23 kita menemukan bahwa Tuhan Yesus tidak mengenal sekelompok orang yang sudah mengadakan mukjizat demi nama-Nya, walaupun mereka sudah mengadakan banyak mukjizat. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi pelayanan tidak menjadi ukuran kedewasaan dan perkenanan seseorang di hadapan Tuhan. Hal ini sangat bertentangan dengan pemahaman banyak orang hari ini, khususnya orang-orang Kristen kharismatik dan golongan Pentakosta. Mereka menganggap kalau seorang hamba Tuhan telah mendemonstrasikan kuasa Allah dengan bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mukjizat, maka hamba Tuhan tersebut dianggap memiliki supremasi atau keunggulan lebih dari hamba Tuhan lain. Terhadap hamba-hamba Tuhan yang mengadakan mukjizat, banyak jemaat rela memberi diri sepenuh-penuhnya tunduk dan menuruti apa saja yang diajarkan hamba-hamba Tuhan tersebut, padahal seorang yang mengadakan mukjizat belum tentu mengenal kebenaran yang mendewasakan.
    Bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mukjizat telah dianggap sebagai ukuran prestasi pelayanan seorang hamba Tuhan. Jadi, tidaklah heran kalau hari ini banyak orang berdoa mohon Tuhan agar Tuhan menyatakan mukjizat-Nya. Keinginan yang besar untuk mendemonstrasikan kuasa Allah telah menggerakkan banyak orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan berdoa berjam-jam, berdoa semalam suntuk, dan berpuasa. Sebagian mereka mencari karunia bukan untuk kemuliaan Tuhan, tetapi sebenarnya untuk kemuliaan diri sendiri.  Tetapi mereka tidak sadar. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri yang belum dewasa. Mereka belum meneladani kehidupan Yesus yang rela melepaskan semua hak-Nya.
    Sungguh sukar dipahami, bagaimana mungkin orang yang telah mengadakan banyak mukjizat dalam nama Tuhan tidak dikenal oleh Tuhan sendiri? Tetapi inilah realitanya. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakannya. Tidak menutup kemungkinan, Tuhan mengizinkan kuasa-Nya dinyatakan melalui pelayanan orang-orang yang merasa dan mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan yang belum dewasa. Mereka juga masih berpotensi mengkhianati Dia yang nantinya bisa tidak dikenal oleh Tuhan. Mengapa Tuhan mengizinkan? Sebab Tuhan tidak akan mengkhianati Firman-Nya. Sebab jika Firman diberitakan dan mereka dengan yakin menggunakan nama Yesus, maka Allah mengizinkan terjadinya mukjizat. Tetapi hal ini tidak akan berlangsung terus-menerus, jika hamba Tuhan pelaku mukjizat tersebut terus-menerus berbuat dosa dan menolak pertobatan.
    Dengan kebenaran ini, maka bagi hamba-hamba Tuhan yang ada di ladang Tuhan harus diingatkan agar tidak menjadi takabur, sombong, arogan, dan bangga diri dengan prestasi pelayanannya. Khususnya bagi mereka yang telah melakukan mukjizat.  Hendaknya kita yang sudah melakukan mukjizat tidak merasa sudah memiliki prestasi tinggi atau unggul karena telah mengadakan banyak mukjizat. Sebab mukjizat yang didemonstrasikan dalam pelayanan bukanlah ukuran kedewasaan dan perkenanan di hadapan Tuhan. Semua prestasi pelayanan seorang hamba Tuhan kalau akhirnya dirinya tidak dikenal oleh Tuhan menjadi sia-sia. Sungguh, suatu hal yang sangat tragis.
    Jadi bukanlah tanpa alasan, kalau Paulus dalam suratnya berkata: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Kor. 9:27).  Memberitakan Injil menunjuk suatu pekerjaan pelayanan Tuhan yang pada umumnya disertai mukjizat.  Seperti yang disinggung di atas bahwa untuk memberitakan Injil diperlukan tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut adalah mukjizat yang mewarnai pelayanan seorang hamba Tuhan. Kata “ditolak” dalam ucapan Paulus tersebut teks aslinya adalah adokimos, yang bisa diterjemahkan cast away (dibuang), rejected (ditolak) dan probated (tidak disetujui-unapproved, dikutuk). Kata adokimos mengandung pengertian dibuang karena tidak berguna (worthless). Dalam pernyataan Paulus itu menunjukkan kesadarannya bahwa sekalipun ia sudah berprestasi dalam pelayanan tetapi kalau ...
    0 min
  • Mukjizat Bukan Ukuran Kedewasaan Rohani
    Pernahkah kita memerhatikan dengan serius dan teliti mengenai kisah Elia setelah bertanding melawan nabi-nabi Baal (1Raj. 18)?  Elia bertanding dengan 450 nabi Baal, mengenai siapakah di antara mereka yang dapat menurunkan api dari langit dan membakar korban di mezbah mereka. Elia memenangkan pertandingan tersebut, ia menurunkan api dari langit yang membakar korban di atas mezbah Elia. Hal itu membuktikan bahwa Allah Yahwe adalah Allah yang benar dan berkuasa. Sebagai akibatnya nabi-nabi Baal tersebut dibunuh. Ini adalah sebuah prestasi yang hebat dan benar-benar mengagumkan. Tetapi setelah prestasi besar tersebut, Elia melarikan diri dan menjadi putus asa sebab ia dikejar oleh Izebel istri Raja Ahab yang mengupayakan kematiannya (1Raj. 19).
    Elia benar-benar ketakutan dan berkata: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” Hal ini sebenarnya sukar dipahami. Tetapi inilah kenyataannya. Pengalaman dahsyat yang dialami Elia – yaitu melakukan mukjizat dari Tuhan- bukanlah ukuran bahwa pribadi Elia sudah matang dan dewasa. Di tengah serbuan Izebel yang memburu nyawanya, Elia yang “bisa” menurunkan api dari langit, ternyata tidak yakin bahwa Tuhan masih bisa memeliharanya. Hal ini menunjukkan bahwa Elia belum dewasa. Ternyata, mukjizat tidak mendewasakan atau tidak menjadi ukuran kedewasaan rohani.
    Sekarang ini, kalau ada seorang pendeta bisa mendemonstrasikan kuasa Tuhan, seperti mengadakan mujizat, bernubuat, dan lain sebagainya, maka jemaat pasti memandang bahwa pendeta itu sudah sangat hebat. Pendeta tersebut dianggap sudah dewasa dan memiliki perkenanan di hadapan Tuhan. Pendeta tersebut dipandang sebagai orang istimewa di hadapan Tuhan dan manusia. Ini sesuatu yang harus dikoreksi. Dalam  Injil Matius 7:21-23 kita dapati pernyataan Tuhan yang sukar dimengerti atau sukar dipahami, yaitu ternyata ada orang-orang yang telah bernubuat, mengusir roh-roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan, namun pada akhirnya tidak dikenal oleh Tuhan dan mereka terbuang ke dalam kegelapan abadi. Tentunya nama yang digunakan dalam bernubuat, mengusir roh jahat, dan mengadakan mukjizat adalah nama Yesus sebab Tuhan Yesus mengatakan hal tersebut. Tetapi pada akhirnya mereka tertolak juga.
    Dalam Injil Matius 10, kita temukan kisah mengenai Tuhan yang memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil dengan mengadakan banyak mukjizat. Tentu di antara mereka termasuk Petrus yang menyangkali Tuhan Yesus dan Yudas yang mengkhianati-Nya. Hanya perbedaaan dari dua orang tersebut ialah Petrus bertobat setelah menyangkal Tuhan Yesus tetapi Yudas “kebablasan”; murtad dan terhilang. Di sini kita dapati bahwa ketidakdewasaan seseorang tidak menutup kemungkinan mukjizat tetap dapat terjadi dalam kegiatan pelayanan. Realitas seperti ini juga dapat kita jumpai dalam kehidupan orang-orang yang menyatakan diri sebagai hamba-hamba Tuhan. Dalam hal ini mukjizat tidak menahan atau menghalangi seseorang mengkhianati Tuhan sampai kemudian terhilang selamanya, seperti Yudas.
    Tidak dapat dibantah, terdapat hamba-hamba Tuhan yang dapat mengusir setan, tetapi tidak bisa mengusir kebencian dalam dirinya. Mereka dapat mengusir setan, tetapi tidak dapat mengusir hasrat zina dalam dirinya dan berperilaku tidak menjadi berkat. Kenyataan yang juga kita jumpai adalah terdapat hamba-hamba Tuhan yang bisa mengadakan mukjizat, tetapi dalam hidupnya melakukan kebohongan dan kesombongan. Terdapat hamba Tuhan yang berkarunia kesembuhan dan nubuat, tetapi hidupnya tidak mendatangkan keteduhan bagi orang lain, penuh kepahitan, penghinaan, dan pelecehan terhadap hamba Tuhan yang lain.  Hal ini merupakan bukti nyata bahwa mukjizat yang dilakukan seseorang tidak menjamin kedewasaan rohani seseorang dan perkenanannya di hadapan Tuhan. Dengan hal ini, kita diingatkan untuk mengoreksi diri dengan jujur dan berjaga-jaga agar tidak terperangkap dalam kehidupan yang tidak ...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…