Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mukjizat Dalam Perjanjian Baru
    Bagi umat Perjanjian Baru, mukjizat dilakukan untuk maksud yang berbeda dengan pemberian mukjizat dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengadakan mukjizat sebagai tanda untuk membuktikan bahwa Diri-Nya berasal dari Allah. Jadi, mukjizat diadakan dengan maksud agar bangsa Israel pada zaman penggenapan bisa mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tanpa mukjizat, sulit bagi bangsa Israel memalingkan diri, membuka telinga untuk mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Dalam hal ini, kita memperoleh pelajaran bahwa seseorang dapat berpaling untuk mendengar kebenaran Injil bukan karena hipnosis atau cara-cara yang supranatural, tetapi melalui proses natural, yaitu melihat mukjizat.
    Percakapan antara Yesus dan Nikodemus dalam perjumpaan secara tertutup atau sembunyi-sembunyi menyingkapkan hal tersebut di atas. Dalam percakapannya dengan Tuhan Yesus, Nikodemus menyatakan: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” (Yoh. 3:2). Mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus memaksa seorang teolog Yahudi ini mengakui bahwa Yesus berasal dari Allah. Jadi, sangat mudah dipahami alasan mengapa Yesus mengadakan mukjizat. Jika Yesus tidak mengadakan mukjizat, masyarakat Yahudi pada waktu itu tidak akan mendengar dan memercayai pengajaran Yesus. Mereka hanya tahu bahwa Yesus adalah anak tukang kayu, manusia biasa seperti yang lain, saudara-saudara-Nya juga bersama-sama dengan Dia. Tanpa mukjizat tidak mungkin orang datang untuk mendengar apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
    Dengan mukjizat yang dilakukan Yesus, maka masyarakat Yahudi berbondong-bondong datang mendengarkan pengajaran-Nya. Segala sesuatu yang diajarkan-Nya itulah Injil, yaitu kebenaran yang dapat mengentaskan manusia dari belenggu kuasa dunia. Kebenaranlah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32) dan yang menguduskan (Yoh. 17:17). Dalam Roma 10:16-17, dikatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan.  Dengan penjelasan ini, maka sangatlah jelas bahwa kebenaran Firman atau pengajaran Injil memiliki peran yang sangat penting dalam proses keselamatan. Banyak orang Kristen hanya memahami kuasa darah Yesus yang menyelamatkan, tetapi tidak memahami bagaimana proses keselamatan berlangsung. Proses keselamatan tidak akan berlangsung tanpa kebenaran Injil, karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17).
    Dalam hal ini mukjizat merupakan petunjuk arah, yaitu mengarahkan umat Israel pada zaman itu untuk berpaling kepada Yesus guna mendengar kebenaran. Maka kita harus memahami bahwa kebenaran sangat berperan dalam pertumbuhan rohani jemaat Tuhan.  Mukjizat hanya sebagai petunjuk untuk mengarahkan jemaat kepada Tuhan guna belajar kebenaran yang memerdekakan. Mukjizat bukan tujuan atau goal-nya. Jadi sangat keliru dan menyesatkan kalau mukjizat dijadikan sebagai tujuan atau goal dalam kehidupan orang percaya dan isi utama pelayanan gereja.
    Ketika mukjizat menjadi tujuan, maka maksud tujuan keselamatan bisa meleset. Dalam hal tersebut, kesalahan pengertian mengenai mukjizat bisa sangat berpotensi membangun kegagalan terwujudnya keselamatan. Di aspek lain, kesalahan pengertian mengenai mukjizat berpotensi besar menimbulkan penyalahgunaan atau manipulasi pelayanan untuk kepentingan yang lain, bukan untuk berita keselamatan. Dalam hal ini, kesalahan tersebut menciptakan kondisi di mana mukjizat menjadi komoditas untuk keuntungan materi dan kebanggaan pribadi.
    Dunia kita hari ini sungguh sudah sangat gelap, maksudnya bahwa kegelapan bukan hanya di lingkungan orang-orang kafir yang tidak mengenal Allah dengan perbuatan jahat mereka yang bertentangan dengan moral dan etika hukum, tetapi kegelapan juga terjadi dalam lingkungan gereja. Kegelapan ada di dalam lingkungan gereja ketika banyak kepalsuan diajarkan melalui mimbar-mimbarnya. Hal ini bisa terjadi tanpa disadari oleh jemaat yan...
    0 min
  • Bukan Supaya Dihormati
    Tuhan melakukan mukjizat bukan supaya manusia menghormati Dia, sebab Tuhan sudah terhormat dan Tuhan bukan Pribadi yang gila hormat. Lagipula, jika seseorang menghormati Tuhan hanya oleh karena melihat atau mengalami mukjizat, maka sikap hormatnya berkualitas rendah dan itu bukanlah hormat yang diinginkan oleh Tuhan. Sebenarnya, Tuhan juga tidak membutuhkan penghormatan dari manusia atau dari pihak manapun, karena Dia sudah terhormat. Pribadi yang mencari kehormatan dan merasa membutuhkannya adalah pribadi yang tidak dewasa. Allah yang sempurna tidak memiliki karakter atau sifat seperti itu.
    Orang-orang yang menghormati Allah dengan pemahaman bahwa Allah menuntut penghormatan dari manusia karena Allah mencari dan membutuhkannya, adalah orang-orang yang tidak dewasa. Mereka adalah orang-orang yang berpikir picik dan dangkal. Bisa jadi, karena memang allah yang dikenalnya bukan Allah yang benar, tetapi allah yang picik pula. Jadi, tidak heran kalau umatnya berperilaku demikian. Allah yang diajarkan oleh Alkitab – yaitu Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, yang juga Allah orang percaya- tidaklah demikian.
    Ada beberapa alasan mengapa Tuhan mengadakan mukjizat bagi bangsa Israel di Perjanjian Lama: Pertama, karena Allah menolong umat-Nya yang tidak berdaya menghadapi musuh atau sedang dalam kesulitan besar dan mereka tidak sanggup keluar dari kesulitan tersebut tanpa campur tangan Allah secara langsung. Allah yang setia, Allah yang sangat memedulikan umat pilihan-Nya. Dalam berbagai penggambaran ditunjukkan bahwa Elohim Yahwe sangat memedulikan bangsa tersebut. Bangsa tersebut disebut sebagai biji mata-Nya. Kalau Elohim Yahwe diibaratkan seorang ibu, Ia tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya.
    Kedua, Tuhan melakukan mukjizat untuk memperkenalkan Diri-Nya kepada umat pilihan-Nya. Dalam hal ini, sebenarnya yang penting bukan mukjizat itu sendiri, tetapi tujuan yang hendak dicapai dengan mukjizat tersebut. Tujuannya adalah agar umat mengenal dengan baik siapakah Allahnya. Di sepanjang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, Tuhan selalu memperkenalkan Diri-Nya melalui berbagai mukjizat yang luar biasa. Ketika sudah sampai di tanah Kanaan pun, Allah masih memperkenalkan Diri-Nya agar bangsa Israel mengenal dengan dekat siapa Allah mereka. Semua itu dicatat sebagai dokumen abadi bagi semua manusia, khususnya bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Umat pilihan Perjanjian Baru tidak akan mengenal Allah dengan benar tanpa mengetahui dari apa yang tertulis dalam kitab suci Perjanjian Lama.
    Dalam berbagai pernyataan, sering Tuhan berkata: Akulah TUHAN (Yahwe), Allahmu (Elohimmu), yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Pernyataan tersebut hendak mengingatkan bangsa tersebut bagaimana Allah dengan mukjizat-Nya melepaskan mereka dari kesesakan yang berat. Di mana pada waktu itu mereka tidak sanggup menyelamatkan diri mereka sendiri. Dengan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, Elohim Yahwe memperkenalkan Diri kepada umat-Nya. Dengan hal tersebut, mereka tidak memalingkan perhatian mereka kepada dewa-dewa bangsa-bangsa lain. Hal ini dilakukan Allah bagi bangsa Israel yang terbilang masih baru atau belum menjadi bangsa yang dewasa.
    Ketiga, Allah (Elohim Yahwe) pasti melindungi dan mengawal bangsa Israel, sebab dari bangsa ini suatu hari akan muncul Mesias yang menyelamatkan umat manusia di dunia. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yoh. 4:22). Selain itu, bangsa Israel adalah saksi bagi Allah (Elohim Yahwe). Menjadi saksi artinya membuktikan dan menunjukkan bahwa dari sekian banyak allah-allah yang diyakini manusia dan diperkenalkan sebagai allah di antara bangsa-bangsa di dunia, hanya Allah Israel – yaitu Allah Abraham, Ishak, dan Yakub – adalah satu-satunya Allah yang benar.  Israel adalah satu dari dua saksi yang dikemukakan dalam kitab Wahyu selain orang percaya, untuk menunjukkan dan membuktikan Allah yang benar ...
    0 min
  • Bukan Untuk Pamer
    Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita menemukan banyak tindakan Tuhan mengadakan mukjizat dalam berbagai peristiwa dan dengan bermacam-macam cara atau bentuk. Mukjizat yang Tuhan lakukan pasti memiliki maksud tertentu. Ia bukan bermaksud hendak pamer kekuatan. Pamer kekuatan mengesankan adanya kuasa atau kekuatan lain dari allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan tertentu yang seimbang dengan Elohim Yahwe sehingga dapat menandingi-Nya. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang masih berusaha untuk memamerkan kekuatan Elohim Yahwe, Allah Abraham, Ishak dan Yakub serta bermaksud untuk membuktikan kebesaran dan kebenaran-Nya. Tindakan ini adalah tindakan yang bodoh. Justru dengan tindakan ini mengesankan bahwa Allah kita sejajar dengan sesembahan agama lain.
    Dalam banyak peristiwa, kita jumpai orang-orang Kristen yang menyebut Yesus sebagai pemberi keberhasilan dalam karirnya. Seperti misalnya, seorang artis yang memenangkan sebuah penghargaan atau berprestasi dalam karirnya. Di depan banyak penonton dan masyarakat, artis tersebut mengangkat piala juara atau penghargaannya dengan menyebut Yesus sebagai yang memberi kemenangan atau keberhasilan. Suatu hari kemudian, ketika pemenangnya bukan dirinya tetapi orang lain yang beragama lain dan melakukan hal yang sama, bahwa allah atau tuhannya yang memberikan kemenangan, maka di sini Tuhan kita disamakan atau disejajarkan dengan sesembahan agama lain.
    Dalam gereja sering kita mendengar kesaksian-kesaksian mengenai pertolongan Tuhan dalam berbagai masalah. Ironisnya, masalah-masalah tersebut juga dialami semua orang di luar gereja. Semua orang di sini artinya bisa orang-orang beragama, tetapi juga orang-orang yang tidak beragama alias ateis. Ternyata, mereka juga bisa menyelesaikan atau memperoleh jalan keluar dari masalah-masalah hidup yang dialami oleh orang-orang Kristen tersebut. Jika demikian, siapa yang menolong dan memberi jalan keluar kepada mereka? Apa perbedaannya dengan orang Kristen?
    Menyatakan hal tersebut di atas, bukan berarti kita tidak setuju adanya kesaksian-kesaksian para artis di atas. Kita tidak membantah campur tangan Tuhan dalam segala keadaan hidup orang percaya. Kita juga tidak membantah adanya pertolongan Tuhan dalam segala persoalan yang dihadapi orang percaya. Tetapi sekarang ini kita harus sudah mulai menjadi dewasa. Fenomena kesaksian-kesaksian seperti tersebut di atas, beberapa puluh tahun yang lalu, ketika gereja-gereja Tuhan di Indonesia sedang mulai dibangkitkan, bisa diterima dan memang bisa efektif sebagai sarana kesaksian. Sekarang ini dunia sedang menuju akhir perjalanan sejarahnya. Orang percaya harus mulai fokus kepada kesempurnaan atau kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    Kita juga harus teliti dan peka terhadap kebangkitan agama di luar Kristen yang semakin giat menjalankan ibadah dan siar agamanya. Mereka berusaha menguasai media untuk menyiarkan kegiatan kerohanian mereka. Di antara yang mereka tampilkan adalah kesaksian dari mukjizat-mukjizat yang mereka bisa demonstrasikan di depan mata masyarakat. Hal itu merupakan usaha untuk membuktikan bahwa allah yang mereka sembah adalah allah yang benar. Kebenaran dan keunggulan allah mereka, mereka coba buktikan dengan kesaksian mengenai mukjizat yang mereka alami.
    Sudah saatnya orang percaya tidak bertindak bodoh, tetapi cerdas dan bijaksana. Kesaksian-kesaksian spektakuler yang berunsur mukjizat seharusnya tidak lagi menjadi cara kita membuktikan bahwa Allah yang kita sembah benar adanya. Hal ini sama seperti pada zaman aniaya. Orang-orang Kristen teraniaya tanpa daya seakan-akan Allahnya tidak berdaya. Tidak ada mukjizat, tidak ada perbuatan ajaib, bahkan Tuhanpun seakan-akan tidak ada. Tetapi orang percaya tetap dapat membuktikan kebenaran imannya dengan mengenakan gaya hidup Yesus, sehingga mereka mendapat julukan Kristen yang artinya seperti Kristus, Guru mereka. Dengan cara demikian, mereka membuktikan kebenaran Allah dan Tuhan yang...
    0 min
  • Apakah Mukjizat Itu?
    Pada umumnya kata mukjizat dipahami sebagai kejadian yang tidak dapat dimengerti oleh akal pikiran manusia. Kejadian yang berunsur mukjizat ini dihubungkan dengan kekuatan di luar kemampuan manusia, biasanya ditujukan kepada kekuatan Allah. Tetapi juga kadang-kadang dihubungkan dengan kekuatan magis atau kekuatan dari kuasa kegelapan. Mukjizat selalu dikaitkan dengan keadaan mustahil yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Oleh sebab itu kalau manusia menghadapi masalah-masalah pelik yang melampaui kekuatannya, maka manusia mengusahakan mukjizat untuk penyelesaiannya.
    Di dalam bahasa Inggris kata mukjizat diterjemahkan miracle. Kata miracle sebenarnya dari bahasa Latin miraculum. Kata miraculum berasal dari kata mirari yang artinya to wonder at (ketakjuban atau keheranan kepada sesuatu). Kata mirari berkaitan dengan kata miras artinya menakjubkan, mengherankan, mengejutkan (wonderful). Jadi, mukjizat bertalian dengan hal-hal yang menakjubkan atau mengherankan, sesuatu yang luar biasa atau spektakuler, sehingga mengejutkan bagi yang menyaksikannya.
    Penjelasan di atas ini sinkron dengan kata mukjizat dalam bahasa Alkitab, yaitu bahasa Ibrani dan Yunani. Dalam bahasa Ibrani, terdapat dua kata yang biasa diterjemahkan sebagai mukjizat dalam Bahasa Indonesia. Pertama, oth (אות) dan kedua adalah mopeth (מופת). Oth artinya tanda (Ing. sign) sedangkan mopeth lebih berarti keajaiban (Ing. wonder). Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang juga bisa berarti mukjizat. Pertama dunamis (δύναμις) yang artinya selain mukjizat juga berarti tindakan yang dahsyat. Kedua semeion (σημεῖον) yang berarti “tanda” (Ing. sign). Kata semeion juga berarti petunjuk arah. Kata semeion sejajar dengan kata oth dalam bahasa Ibrani. Ketiga, teras (τέρας) yang lebih menunjuk kepada sesuatu yang luar biasa. Kata teras sejajar dengan kata mopeth dalam bahasa Ibrani.
    Mukjizat adalah kata yang pasti melekat dengan orang-orang beragama, agama apa pun. Justru kata ini akan banyak ditemukan dalam kehidupan orang-orang yang memercayai adanya allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan yang diyakini memiliki kekuatan-kekuatan ajaib di luar kekuatan manusia yang terbatas. Oleh sebab itu, orang Kristen hendaknya tidak menutup mata terhadap fakta bahwa ternyata mukjizat bukan hanya terdapat dalam kehidupan komunitas Kristen. Justru orang-orang beragama di luar agama Kristen lebih banyak berbicara mengenai mukjizat. Mereka juga ingin menunjukkan bahwa allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan yang mereka puja adalah sesembahan yang benar. Kekuatan sesembahan mereka yang juga dapat membuat mukjizat dijadikan bukti bahwa sesembahan mereka adalah obyek sesembahan yang benar dan terbaik.
    Bagi mereka, mukjizat adalah fenomena yang tidak pernah dapat dilepaskan dari kehidupan mereka setiap hari. Mengapa? Sebab fokus hidup manusia pada umumnya adalah kehidupan hari ini, yaitu bagaimana dapat memenuhi segala kebutuhan jasmaninya. Itulah sebabnya, mukjizat adalah fakta yang dianggap dan diharapkan bersifat permanen, artinya bisa berlangsung terus-menerus. Bagi mereka ini adalah kebutuhan utama.  Mengalami mukjizat bagi sebagian mereka atau bisa jadi bagi semua mereka adalah hak yang patut mereka peroleh, sebab mereka memercayai allah, ilah, dewa, atau tuhan sesembahan tersebut.
    Sebagai kebalikan dari kehidupan orang di luar Kristen, tidak demikian bagi orang percaya. Dalam kehidupan orang percaya, mukjizat tidak boleh dianggap lebih permanen atau lebih penting dari maksud Allah mengubah karakter manusia untuk menjadi segambar dan serupa dengan Diri-Nya. Bagi orang percaya mukjizat hanya tanda, bukan tujuan. Mukjizat menjadi tidak penting ketika seseorang sudah menjadi dewasa rohani, sebab fokus hidup tidak lagi pada pemenuhan kebutuhan jasmani hari ini di bumi, tetapi kehidupan yang akan datang di langit baru dan bumi baru. 
    0 min
  • Bukan Jalan Yang Mudah
    Yesus fantasi dipahami sebagai mengajarkan jalan yang mudah, sebab dengan memercayai Yesus tersebut, mereka menjadi anak kesayangan Bapa. Menjadi anak kesayangan artinya doa-doanya segera terjawab, kalau sakit disembuhkan, jika mengalami persoalan berat segera mendapat jalan keluar, selalu dibela oleh Tuhan dengan menunjukkan kuasa pembelaan-Nya sehingga orang yang memusuhi orang Kristen pasti segera mendapat celaka, dan nanti kalau orang Kristen ini meninggal dunia, maka mati pasti masuk surga. Yesus fantasi adalah Yesus yang selalu memberi kesenangan dalam kehidupan, sehingga hidup ini dapat dijalani dengan nyaman dalam berkat Tuhan yang melimpah. Ini adalah Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan mudah. Yesus fantasi yang mengajarkannya.
    Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan mudah dapat mengakibatkan orang Kristen tidak sungguh-sungguh belajar kebenaran Tuhan. Mereka tidak bertumbuh untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbukan kepuasan rohani yang membuat seseorang menjadi sombong, sebab merasa bahwa dirinya tidak perlu membenahi diri lagi. Orang Kristen yang merasa puas dengan hidup kerohaniannya pasti mengingini harta duniawi. Hidup mereka akan digerakkan oleh satu keinginan ke keinginan lain. Akhirnya mereka tidak mampu lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Apa yang mereka pandang sebagai kebutuhan sebenarnya adalah citra diri atau pencitraan, prestis, harga diri dan keangkuhan hidup. Dengan keberhasilan secara duniawi tersebut, mereka berpikir dapat memuliakan Tuhan Yesus dan menjadi saksi-Nya. Pada umumnya mereka tidak menyadari kesesatan ini. Inilah dahsyatnya Yesus fantasi menyesatkan orang Kristen.
    Sesungguhnya Kekristenan adalah jalan salib, bahwa mengikut Tuhan Yesus harus berani menderita. Penderitaan tersebut dikarenakan pergumulan untuk menjadi sempurna atau serupa dengan Yesus. Selanjutnya hidup dalam pengabdian kepada Tuhan sepenuhnya. Ini berarti menjadi pengikut Yesus harus hidup hanya bagi Tuhan saja. Kehidupannya hanya diisi untuk membela pekerjaan Tuhan tanpa batas. Orang percaya yang benar tidak hidup untuk dirinya sendiri.
    Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa jalan menuju kehidupan adalah jalan yang sempit, sesak dan sedikit orang yang masuk melaluinya. Ini adalah jalan yang tidak disukai orang karena menyakitkan. Tetapi sesungguhnya inilah jalan kebenaran dalam Tuhan Yesus Kristus, yaitu jalan sampai kepada Bapa. Oleh sebab itu kita harus menentang keras kalau ada yang mengajarkan bahwa mengikut Yesus adalah jalan yang mudah. Kepada jemaat Tuhan harus ditegaskan berulang-ulang bahwa mengikut Yesus yang sejati berarti jalan dalam pergumulan memikul salib yang tidak pernah usai sampai menutup mata. Memikul salib artinya hidup dalam penyangkalan diri demi dapat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
    Yesus yang sejati menekankan pengikut-Nya untuk memikul salib sebagai syarat mutlak yang harus dipenuhi tanpa membantah; artinya harus menerima dengan sukacita.  Salib berarti satu-satunya tanda pengiringan yang benar terhadap Tuhan Yesus. Pengiringan itu adalah bagaimana kita meneladani gaya hidup-Nya, gaya hidup melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Tanpa ciri-ciri ini berarti seseorang bukan pengikut Yesus. Sekalipun dia seorang Kristen, ia adalah Kristen tanpa Yesus yang sejati, Kristen hanya dengan Yesus fantasi. Sebagaimana Yesus telah berhasil mencapai kesempurnaan, sehingga Ia dapat menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya, maka setiap orang percaya juga harus menang seperti Dia. Salib adalah tanda dari kehidupan orang percaya yang normal dan benar. Kekristenan tanpa salib adalah Kekristenan yang palsu. Dengan demikian mutlak bagi setiap orang Kristen untuk memikul salib.
    0 min
  • Tidak Diterima Oleh Lingkungannya
    Dalam pikiran banyak orang Kristen terdapat pandangan bahwa kalau menjadi Kristen yang sejati, maka di mana pun akan selalu mudah diterima orang, sehingga akan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus mengajarkan demikian. Faktanya sebenarnya tidak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa musuh orang bisa seisi rumahnya. Jangankan orang lain, seisi rumahnya pun bisa memusuhinya. Mengapa demikian? Sebab pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil banyak yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh dunia. Kehidupan Tuhan Yesus sendiri adalah kehidupan yang dianggap bertentangan dengan kehidupan manusia di sekitarnya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menyatakan pernyataan ini: Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Orang yang menuruti Injil yang sejati bisa tidak diperkenan manusia.
    Kehidupan orang percaya harus meneladani kehidupan Tuhan Yesus, tanpa kompromi dengan siapa pun. Dalam hal ini bisa terjadi benturan antara orang percaya yang sungguh-sungguh hendak mengikut jejak-Nya dengan orang-orang di sekitarnya. Selalu saja akan ditemukan benturan yang terjadi antara konsep hidup pengikut Yesus sejati dengan pengikut Yesus palsu dan orang-orang di luar Kristen. Tetapi yang paling menyakitkan justru dari orang-orang Kristen yang tidak memahami integritas sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak memiliki integritas tersebut disebabkan karena mereka tidak mengenal Yesus yang sejati. Mereka mengenal Yesus fantasi yang tidak memiliki integritas Bapa di surga.
    Perbedaan itu menyangkut berbagai aspek, seperti misalnya mengenai kesempurnaan. Orang Kristen yang memiliki Yesus fantasi berpikir bahwa orang Kristen hendaknya tidak terlalu fanatik atau ekstrem dalam kesucian hidup.  Bagi mereka manusia di bumi tidak mungkin dapat sempurna. Mereka setuju untuk hidup baik melakukan hukum dan tidak merugikan sesama, tetapi kalau harus hidup dalam kesempurnaan seperti Bapa, mereka menganggapnya sebagai tidak realistis. Orang Kristen yang memiliki Yesus sejati yang merindukan dan terus berjuang untuk sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus dianggap sebagai kesombongan. Pada akhirnya orang Kristen yang memiliki Yesus yang sejati ini dianggap sebagai ancaman bagi mereka dengan Yesus fantasinya.
    Orang Kristen dengan Yesus yang sejati mengarahkan hidupnya hanya untuk mewarisi Kerajaan Surga yang akan datang dan menetap di langit baru dan bumi yang baru. Mereka berusaha untuk dapat menghayati hidup kemusafirannya di bumi, bahwa hidup di bumi hanya menumpang. Hidup di bumi hanya untuk persiapan dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan dan layak menjadi mempelai Yesus. Sebaliknya, orang Kristen dengan Yesus fantasinya merasa cukup puas dengan menjadi orang baik yang dapat hidup dengan tenang menikmati semua fasilitas mereka miliki. Mereka merasa tidak terlalu perlu terobsesi dengan Kerajaan Surga dengan langit baru dan bumi baru. Mereka menganggap memikirkan kehidupan di langit baru bumi baru membangun abnormalitas kehidupan dan mengancam kesejahteraan hidup di bumi sekarang ini.
    Mereka yang memiliki Yesus fantasi tanpa sadar memandang Yesus yang sejati, yang diajarkan Injil di dalam Alkitab Perjanjian Baru yang dikenal oleh orang Kristen yang benar, sebagai Yesus yang aneh. Mereka menuduh orang Kristen yang benar tersebut sebagai memiliki Yesus yang lain, padahal justru mereka yang tidak mengenal kebenaran tersebut yang memiliki “Yesus yang lain”. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen yang sebenarnya tersesat dengan Yesus fantasi mereka. Tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka sedang menjadi mangsa kuasa kegelapan.
    0 min
  • Berinteraksi Dengan Tuhan
    Kalau seseorang berinteraksi secara benar dengan Tuhan Yesus, maka salah satu cirinya adalah sikap hormat dan ketertundukannya kepada Pribadi Agung ini nyata sekali dalam hidupnya. Memang seharusnya demikian, seorang yang mengalami Tuhan Yesus, lebih menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Ia akan menyadari bahwa dirinya seorang berdosa, yang jika tidak ditebus oleh darah Yesus pasti terbuang ke dalam api kekal. Kalau sekarang memiliki kesempatan untuk terhindar dari api kekal, dan berpotensi untuk menjadi manusia yang dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan, maka fokus hidup kita hanya ditujukan kepada hal ini. Semua kegiatan dan segala sesuatu yang kita miliki benar-benar hanya menjadi sarana untuk mewujudkan proyek bagaimana terhindar dari api kekal dan diperkenan masuk ke dalam keluarga Kerajaan.
    Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah perubahan dari manusia yang berkodrat manusia (berkodrat dosa) menjadi manusia yang berkodrat Ilahi, sehingga disebut sebagai man of God. Hal ini harus menjadi satu-satunya isi, makna, dan tujuan hidup ini. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai mendahulukan Kerajaan Surga. Kita dapat membayangkan betapa mengerikan keadaan terbuang dari hadirat Allah. Betapa mengerikan bersama dengan kuasa kegelapan dan orang-orang jahat di dalam api kekal. Tuhan Yesus membuka pintu neraka di mana kita bisa keluar dari sana dan menuju pintu surga untuk masuk ke dalamnya. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan menempuh jarak, tetapi perjalanan kita meninggalkan keadaan terpisah dari Allah untuk masuk Kerajaan-Nya adalah perubahan manusia batiniah.
    Harus diingat bahwa semua pesta akan berakhir. Pesta di sini artinya kesenangan dan kebahagiaan hidup, seperti kebersamaan dengan keluarga, handai taulan, teman, menikmati barang-barang yang ada di bumi ini, menyaksikan pemandangan indah, makan minum, seks, dan lain sebagainya. Segala sesuatu yang ada di bumi dan segala sesuatu yang kita miliki harus kita lepaskan. Kalau seseorang tidak mulai sekarang melepaskannya, maka keadaan menjadi tragis kalau ia dipaksa untuk melepaskannya pada waktunya. Sebab mereka yang terikat kepada dunia ini berarti tidak menyembah kepada Tuhan secara benar. Mereka adalah orang yang tidak layak untuk Kerajaan Surga.
    Seharusnya filosofinya bukan “mumpung” masih ada kesempatan maka dinikmati semaksimal mungkin, tetapi harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya dengan berusaha untuk menjadi warga keluarga Kerajaan yang modelnya adalah Yesus. Paulus menyinggung hal ini dalam suratnya: Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. (1Kor. 15:32-33).
    Teks asli 1 Korintus 15:32 adalah: me planaste phtheirousin ethe khrista hopiliai kakai (μὴ πλανᾶσθε• φθείρουσιν ἤθη χρηστὰ ὁμιλίαι κακαί). Pergaulan atau lingkungan yang buruk dapat merusak etika yang seharusnya tepat standar yang harus dimiliki anak-anak Allah. Dunia telah membuat merosot etika pribadi anak-anak Allah. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang tidak dikenal oleh Allah. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, sama sekali bukan karena jasa manusia. Terbukanya pintu neraka, yang membuat seseorang bisa keluar, dan terbukanya pintu surga di mana seseorang masuk adalah anugerah. Tetapi semua itu harus diterima dengan iman. Iman bukan hanya pikiran yang setuju, tetapi tindakan.
    0 min
  • Melepaskan Segala Sesuatu Demi Perjumpaan
    Seseorang tidak akan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan kalau tidak melepaskan diri dari segala sesuatu. Kehendak Tuhan agar kita melepaskan diri dari segala sesuatu ditunjukkan oleh Firman Tuhan dengan banyak ungkapan. Seperti misalnya dalam Filipi 2:5-7, seperti Tuhan Yesus meninggalkan kemuliaan dan segala hak-Nya dengan pengosongan diri, demikian pula orang percaya yang mau mengikut Tuhan Yesus harus rela kehilangan segala haknya. Bagian lain yang sangat kuat adalah ketika Tuhan Yesus ditawari keindahan dunia (Luk. 4:5-8). Tuhan Yesus menolak, sebab manusia harus hanya menghargai atau memberi nilai tinggi terhadap Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan menyembah (proskuneo). Proskuneo artinya giving high value to something or someone (memberi nilai yang tinggi kepada sesuatu atau seseorang).
    Ketika seseorang belum meninggalkan segala sesuatu, masih menghargai dunia, maka ia tidak dapat mengalami Tuhan sebagaimana semestinya. Hal ini yang membuat banyak orang Kristen hanya berfantasi. Tidak heran kalau mereka masih memberi diri terikat oleh dunia ini. Taraf hidup Kekristenannya hanya sampai pada kognitif atau sebagian kecil dari afektif.   Saebagian kecil afektif artinya memiliki cinta kepada Tuhan yang sangat terbatas. Padahal cinta yang seharusnya diberikan kepada Tuhan adalah cinta yang melebihi nyawanya sendiri. Ironinya, banyak orang memiliki allah fantasi, tetapi mereka yang berfantasi terhadap objek allah yang tidak benar tersebut bisa menyerahkan nyawa mereka dengan segenap hati dan segenap hidup. Sebaliknya, orang Kristen yang merasa memiliki Allah yang benar tidak mengasihi-Nya dengan segenap hidup. Hal ini sungguh ironis sekali.
    Kita yang harus mengarahkan hidup kita kepada Tuhan sepenuhnya atau tidak. Tuhan Yesus menolak menyembah Iblis, artinya bukan hanya tidak menundukkan badan kepada Iblis sebagai sikap menyembah, tetapi tidak tertarik kepada dunia ini atau tidak mengingini dunia ini. Inilah sikap tidak menyembah Iblis. Sebaliknya, kalau seandainya Yesus mengingini dunia karena tertarik kepadanya, maka berarti Yesus menyembah Iblis. Kalau hal ini terjadi, maka Yesus gagal menyelesaikan tugas penyelamatan atas dunia. Ini berarti Ia tidak pernah menjadi Kristus, artinya yang diurapi.
    Tindakan Tuhan tersebut memberi pelajaran mahal kepada kita, agar kita tidak mengingini dunia ini. Kalau kita sudah menyatakan diri mengikut Yesus, berarti kita sedang berlari meninggalkan dunia yang akan dihanguskan oleh api dan belerang seperti Sodom dan Gomora. Memang Alkitab menyatakan bahwa bumi ini terpelihara dari air untuk api yang akan membinasakannya (2Ptr. 3:1-4). Kita harus berlari meninggalkan dunia seperti Lot meninggalkan Sodom dan Gomora, dan tidak menoleh ke belakang seperti istri Lot (Luk. 17:32). Orang yang masih terikat dengan percintaan dunia berarti menoleh ke belakang. Orang-orang Kristen seperti ini sebenarnya belum mengalami keselamatan yang sesungguhnya, sebab kalau mereka mencintai dunia berarti menyembah Iblis. Yesus fantasi memberi toleransi mencintai dunia.
     
    Bila hal tersebut kita lakukan, maka kita dapat mengenal dengan benar keindahan Tuhan. Kita dapat menikmati keindahan dunia. Sehingga tidak sulit lagi mengenakan gaya hidup yang diajarkan oleh Tuhan, bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Tidak sulit untuk mengerti dan mengenakan gaya hidup anak-anak Allah seperti yang diperagakan oleh Paulus, bahwa asal ada makanan dan pakaian, cukup. Ini artinya tidak terikat dengan keindahan dunia serta berbagai keinginan yang dapat membelenggu. Harus diingat bahwa percintaan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Kita yang harus menentukan atau menetapkan diri sendiri, apakah mau menjadi sahabat Allah atau musuh-Nya.
    0 min
  • Kognitif, Afektif, Dan Konatif
    Sering terjadi, seseorang memakai atau menggunakan barang palsu, tetapi ia tidak mengetahui pemalsuan tersebut. Hal ini terjadi sebab ia tidak pernah menggunakan barang yang asli. Hal ini juga bisa terjadi pada orang Kristen yang selama hidupnya hanya mengenal Yesus fantasi. Keindahan Tuhan yang dipahami dan dirasakan hanyalah fantasi. Hal ini juga terjadi atas semua mereka yang tidak mengenal Allah yang benar. Mereka bisa mengatakan bahwa kepercayaan yang mereka anut dan allah yang mereka sembah adalah allah yang benar. Padahal semua yang mereka yakini dan mereka rasakan serta mereka nikmati adalah palsu semata-mata. Fenomena ini bisa berlangsung ratusan, bahkan ribuan tahun. Dan Tuhan seperti membiarkannya, sebab mereka tidak mau membuka hati untuk diajar.
    Hal ini juga terjadi atas orang-orang Kristen yang tidak mengikut Tuhan Yesus dengan benar, mereka merasa telah memiliki Yesus dan menikmati keindahan-Nya, padahal semua yang mereka alami hanyalah fantasi belaka. Tuhan seperti membiarkannya. Oleh sebab itu, kita perlu memeriksa hidup Kekristenan kita, apakah kita telah menemukan Yesus dengan benar atau hanya sebuah fantasi. Dalam hal ini kita harus mulai mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam usaha untuk bertemu dengan Tuhan. Kita tidak boleh hanya mempercakapkan Tuhan, di mana semua hanya sebatas nalar, pikiran, doktrin, kajian teologi, pengajaran yang didefinisikan, dan semua serba kognitif.
    Memang kognitif adalah langkah awal. Kognitif adalah perilaku di mana individu mencapai tataran mengenal objek yang diperkenalkan atau dipelajari. Kognitifnya harus benar, tetapi verifikasi terhadap kognitif harus dilakukan, sebab objek yang dipahami adalah Pribadi yang hidup, di mana dengan-Nya kita harus berinteraksi. Pribadi tersebut adalah Pemimpin pemerintahan yang sekaligus menjadi hukum di mana kita harus menundukkan diri secara konsekuen dan konsisten di mana pun kita berada.
    Selanjutnya orang percaya harus meningkat pada taraf sikap afektif, artinya perilaku di mana individu mempunyai kecenderungan untuk menyukai atau tidak menyukai objek yang dikenalnya. Ini sudah menyentuh aspek emosional. Dalam hal ini perasaan kita harus jelas terhadap Tuhan, apakah kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh atau tidak. Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus memperkarakan hal ini dengan Petrus: Apakah engkau mengasihi Aku? (Yoh. 21). Tuhan menanyakan hal ini kepada Petrus sampai tiga kali.
    Setelah Petrus menjawab bahwa dirinya mengasihi Tuhan, maka Tuhan menyatakan suatu pernyataan:  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.” (Yoh. 21:18-19). Dalam pernyataannya tersebut Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita, kalau seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, maka tidak ada lagi yang menjadi berharga dalam hidup ini, bahkan nyawanya sekalipun, selain Tuhan.
    Setelah memiliki sikap afektif, maka sampai pada taraf sikap konatif, artinya kecenderungan berperilaku dalam situasi tertentu terhadap objek yang diyakini dan dirasakan. Konatif adalah perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu tindakan terhadap objek, dalam hal ini Tuhan Yesus. Jadi, konatif adalah perwujudan dari kognitif dan afektif. Dalam kehidupan orang percaya, hal ini terjadi atau berlangsung kalau mereka dengan sepenuh hati mengiring Yesus. Kita bisa mengerti mengapa Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kalau kita mau mengalami perubahan seperti yang diinginkan oleh Tuhan dalam mengiring Dia, kita harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33).
    0 min
  • Akibat Perjumpaan Pribadi
    Orang yang tidak mengalami perjumpaaan dengan Tuhan secara terus-menerus, tidak dapat memahami keindahan Tuhan. Perjumpaan terus-menerus dengan Tuhan artinya bertumbuh dalam pengenalan Firman Tuhan yang benar serta mengalami secara riil kehadiran Tuhan dalam hidup. Hal ini yang harus kita upayakan setiap hari. Waktu hidup kita harus diisi dengan hal ini secara proporsional. Dengan demikian kita memenuhi apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, yaitu mendahulukan Kerajaan Allah (Mat. 6:33).
    Orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dapat merasakan keindahan Tuhan sampai menjadi “ketagihan”. Dalam hal ini Tuhan menjadi air kehidupan. Bagi mereka mencari Tuhan untuk menemukan dan menikmati-Nya adalah kebutuhan yang selalu mendesak. Air kehidupan di sini maksudnya adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan mutlak, seakan-akan tanpa hal tersebut ia tidak merasa bahagia, utuh dan lengkap. Air kehidupan juga bisa menunjuk sesuatu yang mutlak harus dipenuhi. Sesuatu yang bernilai “keharusan” untuk dimiliki.
    Seharusnya tidak ada sesuatu yang mutlak dalam hidup ini kecuali Tuhan. Jadi, kalau seseorang memandang suatu objek sebagai kemutlakan, maka ia menyembah objek itu. Itu juga berarti ia menjadikan dirinya sebagai tuhan. Orang seperti ini tidak mungkin memperlakukan Tuhan Yesus secara pantas, sebab kemutlakan hanya bagi Tuhan. Hanya orang yang jujur kepada dirinya sendiri yang menyadari kesalahan ini. Sebab banyak orang Kristen merasa sudah memutlakkan Tuhan dalam hidupnya, padahal tidak atau belum. Biasanya ini terjadi atas mereka yang cakap berbicara mengenai Tuhan dan merasa sudah tahu banyak mengenai Tuhan tanpa diimbangi dengan pertemuan secara konkret dengan Tuhan.
    Untuk ini patut kita memperhatikan Mazmur 42:2-5, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
    Apa yang dikemukakan oleh pemazmur ini menunjukkan adanya perjumpaan pribadi antara pemazmur dengan Allahnya. Kalau seseorang tidak mengalami perjumpaan terus menerus dengan Tuhan, maka ia memandang sesuatu sebagai keindahan yang bernilai tinggi. Hal ini akan menyebabkan keadaan di mana Tuhan tidak menjadi Pribadi yang terindah dalam hidupnya. Orang Kristen seperti ini pada dasarnya belum menyembah Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, sebab menyembah (Yun. proskuneo) berarti memberi nilai tinggi.
    Orang yang tidak mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai air kehidupannya. Bagi orang-orang seperti ini, air kehidupannya adalah dunia dengan segala kesenangannya. Bagi orang-orang yang terikat minuman keras dan narkoba, air kehidupannya adalah hal-hal tersebut. Banyak orang Kristen yang tidak terkena narkoba, tidak terikat dengan alcohol, tetapi memiliki air kehidupan yang lain. Hal ini menempatkan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4).  Di dalam dirinya terdapat ikatan, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Keinginan dagingnya menunjuk pada seks dan kuliner. Keinginan mata adalah konsumerisme, yaitu keinginan memiliki barang-barang, seakan-akan menjadi keharusan untuk memilikinya. Keangkuhan hidup, yaitu kebutuhan untuk dihargai manusia lain. Untuk ini seseorang berusaha untuk memiliki barang-barang yang dapat membuat dirinya berharga, gelar, pangkat kedudukan, dan lain sebagainya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…