Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perjumpaan Pribadi
    Kalau kita percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, mestinya kita harus berusaha utuk mencari Tuhan dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Dia secara riil. Perjumpaan pribadi tersebut sangat ditentukan oleh diri kita masing-masing, sebab Tuhan sudah menyediakan Diri secara tidak terbatas bagi kita. Kapan pun, di mana pun, dan berbagai cara Tuhan dapat menyatakan Diri untuk dikenali dan dirasakan kehadiran serta keberadaan-Nya. Persoalannya adalah bagaimana perjumpaan pribadi itu dapat terjadi atau berlangsung dalam kehidupan orang percaya?
    Perjumpaan pribadi dapat terjadi melalui doa pribadi. Setiap hari kita harus menyediakan waktu khusus ada di hadapan Tuhan; duduk diam di kaki Tuhan. Usahakan waktu khusus tersebut paling tidak 30 menit. Waktu khusus ini harus dipandang sebagai prime time kita, lebih dari segala kegiatan lain. Untuk dapat bertahan selama 30 menit bukan sesuatu yang mudah. Pada awal-awal belajar duduk diam di kaki Tuhan sering terjadi kejenuhan, rasanya ingin segera mengakhirinya. Tetapi kalau kita tekun membiasakan diri, maka kita akan memperoleh kesukaan yang luar biasa di dalam jam-jam doa kita. Akhirnya berdoa menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari.
    Dalam berdoa di hadapan Tuhan tersebut, banyak pengalaman adikodrati yang tidak dapat diungkapkan kepada orang lain. Hal ini merupakan pengalaman pribadi yang sangat subjektif, tetapi bukan tidak mungkin menjadi perjumpaan pribadi dengan Tuhan secara konkret. Tuhan pasti menemui secara khusus orang-orang yang mencari wajah-Nya dengan sungguh-sungguh. Dari hal ini seseorang dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Perjumpaan ini merupakan perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui saat teduh.
    Perjumpaan pribadi dengan Tuhan juga dapat dialami melalui kebenaran Firman Tuhan yang didengar. Hal ini bisa terjadi bila seseorang mendengar pemberitaan Firman dari hamba Tuhan yang sungguh-sungguh mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Juga melalui buku-buku yang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Jika seseorang telah memiliki pemahaman yang cukup memadai dari apa yang didengar dari khotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan yang benar dan buku-buku yang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan yang benar, maka ia dapat menemukan kebenaran sendiri dari membaca Alkitab lebih berlimpah. Orang yang menemukan kebenaran dari sumber-sumber tersebut merupakan perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Perjumpaan seperti ini adalah perjumpaan dengan Tuhan melalui logos.
    Perjumpaan pribadi dengan Tuhan juga dapat terjadi melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Dari segala sesuatu yang didengar, dilihat, apalagi yang dialami seseorang, terdapat suara Tuhan. Kalau seseorang haus dan lapar akan kebenaran, artinya sangat rindu menjadi anak Tuhan yang semakin berkenan yang oleh karenanya selalu menantikan suara Roh Kudus di dalam hatinya, maka segala peristiwa yang terjadi adalah suara Roh Kudus yang memberi nasihat dan tuntunan. Sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan rhema (Mat. 4:4; Rm. 10:17). Perjumpaan ini disebut perjumpaan melalui rhema.
    Akhirnya, perjumpaan pribadi juga melalui kejadian atau keadaan khusus. Perjumpaan ini bisa melalui mimpi, penglihatan, atau marifat yang dibisikkan Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Perjumpaan melalui hal ini sangat rawan terhadap kemungkinan pemalsuan. Untuk menghindari pemalsuan atau penyesatan, maka seseorang harus memiliki jam doa atau saat teduh yang memadai, memiliki pemahaman terhadap kebenaran Firman Tuhan yang benar dan memadai serta kehidupan yang bersih di hadapan Tuhan.
    0 min
  • Kenyamanan Yang Membahayakan
    Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan membawa damai, tetapi api dan pedang. Api dan pedang menunjuk pergolakan dunia ini sebelum menjelang zaman baru. Hal ini bisa terjadi hanya oleh karena Tuhan Yesus yang mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan umat manusia. Dengan keberhasilan-Nya mengerjakan penebusan, maka zaman baru barulah dapat dibuka atau dipersiapkan.  Kedatangan Tuhan Yesus membawa manusia memasuki zaman baru, yaitu zaman anugerah. Anugerah di sini adalah keselamatan abadi yang disediakan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikuti jejak-Nya. Zaman anugerah di sini bukan berarti lalu hidup manusia menjadi lebih nyaman, tetapi sebaliknya, menjadi tidak nyaman.
    Satu sisi, keadaan ini dapat dipandang sebagai suatu kesulitan, tetapi di sisi lain keadaan ini merupakan kesempatan besar untuk menjadi orang-orang penting dan luar biasa di zaman baru tersebut. Sebuah kesempatan emas yang tidak diberikan kepada manusia sebelum kita hidup, bahkan kepada tokoh-tokoh iman di Perjanjian Lama. Karenanya Tuhan Yesus berkata bahwa kita beruntung bisa melihat dan mendengar karya keselamatan Tuhan Yesus yang begitu berharga (Mat. 13:16-17).
    Iblis mengupayakan kesejahteraan manusia di bumi ini agar manusia dapat melupakan Allah. Dan kuasa dunia ini akan membuat hidup manusia menjadi nyaman, senyaman-nyamannya, sampai mereka melupakan Tuhan dan rencana-Nya. Hal ini terbukti dengan apa yang terjadi dalam pencobaan terhadap Tuhan Yesus. Iblis menawarkan keindahan dunia ini. Iblis berkata kepada Tuhan Yesus: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Pencobaan itu pada dasarnya merupakan bujukan Iblis dengan menjanjikan keadaan nyaman di dunia hari ini, yaitu usaha untuk menikmati dunia hari ini tanpa Tuhan. Dalam hal ini kita menemukan sebuah kebenaran bahwa berlimpahnya materi bukanlah jaminan kalau seseorang diberkati Tuhan, sebab Iblis bisa melimpahi manusia dengan berkat jasmani.
    Kenyamanan hidup juga membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Tuhan sendiri. Kenyamanan hidup yang menciptakan suasana jiwa di mana kita tidak merasa membutuhkan Tuhan adalah keadaan gawat yang harus disadari. Hasrat seperti ini ada dalam diri kita, yaitu percintaan dunia ini. Dalam hal ini Tuhan memperingatkan kita agar kita menjaga diri dari hal tersebut. Dalam peringatan-Nya Tuhan Yesus berkata: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat”. Jerat di sini merupakan perangkap atas manusia, yaitu manusia yang sudah terikat dengan percintaan dunia seperti ikatan “candu”. Kedatangan Tuhan yang mendadak seperti perangkap, di mana manusia yang terikat dengan dunia tidak lagi memiliki kesempatan untuk keluar dari kecanduannya. Sehingga mereka tidak memiliki kesempatan memperbaiki diri.
     
    Kenyamanan ini membuat seseorang tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Inilah ciri dari orang yang sedang terjerat oleh tipu daya kekayaan: tidak mencintai sesamanya dan tidak mengupayakan keselamatan jiwa orang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Injil mengenai orang yang tidak mau melepaskan miliknya untuk orang lain. Ini bukan berarti kita harus memberi sebagian uang kita untuk orang miskin atau sibuk kegiatan gereja semata-mata, tetapi yang penting di sini adalah apakah kita mau memecahkan diri seperti anggur yang tercurah atau roti yang terpecah bagi keselamatan orang lain. Jadi, kalau ada orang Kristen berpikir bahwa Yesus datang untuk membawa kenyamanan di bumi, maka Yesus yang dikenal dan dipercayainya bukanlah Yesus yang asli, tetapi Yesus fantasi.
    0 min
  • Kuda-kuda Dan Materai Dalam Kitab Wahyu
    Dalam kitab Wahyu 6 kita menemukan tulisan Yohanes mengenai kuda-kuda. Adapun kuda-kuda yang dilihat oleh Yohanes dalam penglihatan di Patmos menunjuk bentuk gerakan-gerakan yang akan mengisi sejarah baru yang akan terjadi, yaitu sejak Tuhan Yesus mengambil alih percaturan sejarah dunia, sebab segala kuasa sudah ada dalam tangan-Nya. Ibarat permainan tenis, sejak Tuhan Yesus menumpahkan darah-Nya, Tuhan Yesus yang mengatur irama permainan. Ia yang membuat lembaran sejarah baru dalam hidup manusia. Berkenaan dengan ini dapat kita temukan pula kebenaran ini dalam Lukas 11:20-22, Tetapi jika Aku mengusir Setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Tentu yang dimaksud dengan seorang yang lebih kuat di sini adalah Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus telah datang dan mengambil alih pemerintahan Iblis.
    Tuhan Yesus berkata bahwa kalau Ia mengusir Setan, maka Kerajaan Allah datang kepada manusia, berarti pemerintahan atau pengaturan hidup manusia terselenggara. Pengusiran Setan menandakan bahwa dominasi atau penguasaan Iblis atas dunia diakhiri. Tuhanlah yang berkuasa. Dialah yang mengatur irama permainan. Tuhan Yesuslah yang berdaulat mengatur kehidupan dunia ini demi kepentingan anak-anak-Nya. Sebelum Tuhan Yesus datang, irama permainan diatur Iblis, yang pada dasarnya menggiring orang ke dalam kematian. Segala irama sejarah diatur Iblis untuk menggiring manusia ke dalam kebinasaan, tetapi sejak zaman anugerah Tuhan Yesuslah yang mengatur irama sejarah dunia untuk mempersiapkan orang-orang yang telah Dia beli untuk menjadi sempuna dan memerintah bersama dengan Dia (Why. 5:9). Nantinya dapat kita mengerti bahwa pergolakan dunia yang semakin besar ini ternyata mempersiapkan orang kudus unuk memerintah bersama dengan Tuhan Yesus.
    Dengan materai atau segel itu dibuka oleh Tuhan Yesus, maka babak-babak istimewa dalam sejarah manusia barulah dapat terwujud atau terealisir. Ketika gulungan kitab dibuka, yaitu setelah materainya dilepaskan, maka muncul kuda-kuda beraneka warna. Kuda-kuda tersebut menunjuk bentuk pergolakan-pergolakan yang akan terjadi di bumi ini. Pergolakan-pergolakan tersebut yang akan merubah dan mempengaruhi dunia secara berkesinambungan, yaitu sejak Yohanes melihat penglihatan tersebut sampai Tuhan Yesus datang kembali.
    Kuda-kuda dalam kitab Wahyu menunjukkan gerakan-gerakan yang mengubah sejarah dunia. Kuda putih (Why. 6:2), bersamaan dengan terbukanya materai pertama, menunjuk kemenangan Kekristenan memasehikan atau meng-Kristenkan Eropa. Kuda merah (Why. 6:3-4), bersamaan dengan terbukanya materai kedua, menunjuk akan adanya peperangan terus-menerus yang mewarnai dan mengubah wajah atau peta dunia sampai dunia berakhir. Kuda hitam (Why. 6:5-7), bersamaan dengan terbukanya materai ketiga, menunjuk akan adanya krisis ekonomi yang akan terus menjadi masalah manusia sampai dunia berakhir. Kuda hijau kuning (Why. 6:7-8), bersamaan dengan terbukanya materai keempat, menunjuk kekuatan yang akan mewarnai dunia. Teks aslinya kata hijau kuning sebenarnya chloros (χλωρός), yaitu perpaduan warna hijau gelap dengan kuning. Ini bisa menunjuk kekuatan yang luar biasa dari Timur Tengah yang akan menguasai sebagian wilayah di dunia. Adapun terbukanya materai kelima menunjuk adanya aniaya yang akan terjadi kepada orang percaya (Why. 6:9-11). Akhirnya terbukanya materai keenam (Why. 6:12) yang menunjuk adanya goncangan alam seperti gempa bumi.
    0 min
  • Tuhan Yesus Melemparkan Api
    Ternyata hanya Tuhan Yesus yang dapat membuka kemungkinan terjadinya semua pergolakan dunia hari ini. Hal ini terjadi, sebab tanpa adanya berbagai pergolakan-pergolakan tersebut, dunia tidak akan memasuki “zaman baru”, yaitu zaman di manaTuhan Yesus datang membangun Kerajaan-Nya secara fisik. Hanya Tuhan Yesuslah yang sanggup membuka materai yang dilihat Yohanes dalam penglihatannya di pulau Patmos.
    Wahyu 5 mengungkap adanya materai. Materai di sini menunjuk kepada perjalanan sejarah dunia. Materai dibuka, berarti akan muncul perubahan-perubahan dalam sejarah hidup manusia secara umum dan menyeluruh atau mendunia. Tuhan Yesus mampu mengadakan perubahan dunia ini dengan segala pergolakannya setelah Ia menyelesaikan tugas penyelamatan melalui korban Diri-Nya di atas bukit Kalvari sebagai Domba yang tersembelih (Luk 12:49-51 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan).
    Dalam Lukas 12:50 Tuhan Yesus berkata: “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung”. Baptisan di sini bukan baptisan air, sebab Tuhan Yesus sudah dibaptis air selam oleh Yohanes pembaptis. Ketika Tuhan Yesus mengatakan ini Ia sudah dibaptis oleh Yohanes dan Ia sedang menghadapi penderitaan-Nya. Baptisan di sini adalah kematian dari penderitaan-Nya di kayu salib. Baptisan yang sama, yaitu penderitaan, juga akan dialami oleh orang-orang percaya (Mrk. 10:39).
    Karena korban Tuhan Yesus di bukit Kalvari sampai kematian dan kebangkitan-Nya, maka Ia dapat mengalahkan Iblis dan segala kekuatannya. Dengan kemenangan-Nya tersebut Ia dapat mengadakan perubahan-perubahan atas dunia yang selama ini dalam kekuasaan dan cengkeraman Iblis. Hanya setelah Tuhan Yesus bangkit Ia bisa berkata: Segala kuasa di surga dan di bumi dalam tangan-Ku. Setelah baptisan penderitaan itu dijalani oleh Tuhan Yesus dan menang, sejarah dunia dapat diakhiri.
    Dalam Wahyu 5:1-5, disaksikan oleh Yohanes bahwa tidak ada seorang pun dapat membuka materai pada gulungan kitab. Gulungan di sini dalam teks aslinya ditulis biblion gegrammenon, gulungan yang berisi tulisan. Kalau zaman sekarang adalah buku. Gulungan tersebut tidak bisa dibuka, sebab gulungan tersebut diikat oleh semacam tali yang diberi materai. Dalam teks aslinya kata materai adalah sphragis, yang bisa berarti segel (Ing. seal), menunjuk kepada stempel yang menutup sesuatu yang bersifat pribadi. Jadi gulungan kitab tersebut disegel dan isinya tidak dapat dibaca.
    Kalau materai belum bisa dibuka, maka gulungan kitab tersebut tidak dapat dibaca. Gulungan kitab tersebut menunjuk perjalanan sejarah dunia yang tidak bisa diubah sebelum materainya dibuka oleh kekuatan tertentu. Ternyata Tuhan Yesuslah satu-satunya Anak Domba Allah yang tersembelih yang mampu dan berkuasa membuka materai itu. Karenanya ada nyanyian yang tertulis dalam Wahyu 5:9-10 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka materai-materainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”  Jadi jelaslah bahwa goncangan-goncangan atau pergolakan-pergolakan atas dunia yang mengubah jalan sejarahnya ini tidak akan dapat terjadi sebelum Tuhan Yesus menyelesaikan tugas keselamatan-Nya.
    0 min
  • Tuhan Yesus Datang Membawa Pedang
    Pergolakan yang akan terus terjadi sejak kedatangan Tuhan Yesus disebut antara lain, pertama adalah perang. Hal ini menunjuk adanya hubungan horizontal antar manusia yang rusak atau adanya krisis politik. Berikutnya, kelaparan; menunjuk adanya kesukaran hidup atau adanya krisis ekonomi. Kemudian, gempa bumi; menunjuk kepada alam dan ekosistem bumi yang mengalami kerusakan, tentu keadaan ini membuat alam makin tidak ramah terhadap manusia. Tuhan Yesus menegaskan bahwa segala pergolakan-pergolakan tersebut harus terjadi sebelum memasuki zaman baru (Mat. 24:3-8). Paulus menyinggung pula hal ini dalam pernyataannya bahwa dunia akhir zaman akan memasuki masa yang sukar (2Tim. 3:1).
    Jadi bagaimanapun, dunia di mana kita hidup ini akan semakin sukar. Dunia kita hari ini bagai kapal Titanic yang sedang menunggu saat-saat tenggelamnya (tahun 1912). Makin hari dunia makin tidak dapat dipertahankan. Dunia makin bobrok, rusak dan mendekati kehancurannya. Jadi, kita harus menerima kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang “tidak menjanjikan”, dunia yang sudah tidak dapat diharapkan lagi. Dunia kita hari ini mirip seperti Sodom Gomora di ambang kehancurannya.
    Terkait dengan hal di atas Tuhan Yesus menyampaikan pesan-Nya kepada orang percaya dalam Lukas 17:26-32, Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot!
    Kalau selama ini banyak pihak berusaha, bahkan dengan segala doa, agar dunia mengalami masa-masa tenang dan damai maka itu berarti mereka tidak mengerti kebenaran Alkitab. Tuhan tidak menjanjikan dunia kita menjadi makin baik atau lebih baik, tetapi sebaliknya dunia akan menjadi semakin rusak dan lebih rusak. Semua ini terjadi sebelum Tuhan menghadirkan Kerajaan-Nya atau sebelum memasuki zaman baru. Dalam Matius 10:34 jelas Alkitab mencatat Tuhan Yesus berkata: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Perlu kita perhatikan, bahwa Tuhan Yesus datang bukan membawa damai, tetapi membawa pedang. Pedang di sini dalam teks aslinya adalah makhairan (μάχαιραν), yang menunjuk atau gambaran dari peperangan atau keadaan yang tidak nyaman. Mungkin banyak orang tidak menerima hal ini, tetapi inilah kebenaran Firman Tuhan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.
    Sebelum “Zaman Baru” datang, yaitu penyataan Tuhan Yesus bersama dengan para malaikat-Nya, dunia akan mengalami berbagai pergolakan yang membawa manusia kepada kesukaran hidup. Kehidupan manusia yang tenang diobrak-abrik oleh Tuhan Yesus. Jadi, kalau selama ini kita beranggapan bahwa perang, gempa bumi, kelaparan dan berbagai bencana lain terjadi kausalitasnya atau penyebabnya adalah Iblis, maka sekarang kita harus berpikir lain. Ternyata Tuhan sendiri yang melegalisir atau mengesahkan semua itu bisa berlangsung atau terjadi dalam hidup manusia. Tuhan sendirilah yang menetapkan, bahwa semua itu harus terjadi, karena sudah saatnya manusia dihukum karena kejahatannya.
    0 min
  • Zaman Anugerah Adalah Zaman Akhir
    Hampir semua orang Kristen berpikir bahwa Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memberi damai atas bumi ini, sehingga ada ketentraman di bumi. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Kedatangan Tuhan Yesus ke bumi justru membawa goncangan atas bumi ini. Sebelum Tuhan Yesus datang merebut kuasa di surga dan di bumi, Iblis (Lusifer) masih berkesempatan untuk bisa merebut dunia. Kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk mengakhiri sejarah Lusifer yang jatuh dan dunia ini. Dunia akan dibawa kepada keadaan yang terus bergolak sebelum zaman baru (Mat. 24:8, akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru).
    Dalam teks aslinya kata “permulaan penderitaan menjelang zaman baru” terjemahan dari arkhe odinon (ἀρχὴ ὠδίνων). Hal ini menunjuk penderitaan sebelum seorang ibu melahirkan anak (Ing. the pain of childbirth). Tidak akan ada zaman baru sebelum ada goncangan-goncangan. Kedatangan Tuhan Yesus melegalisir atau mensahkan adanya goncangan tersebut. Betapa konyolnya kalau seorang Kristen berpikir bahwa kedatangan-Nya ke dunia untuk memberi damai sejahtera di bumi seperti konsep damai sejahtera menurut anak-anak dunia (Luk. 12:49-56).
    Bumi akan terus digoncang dengan berbagai goncangan yang membuat bumi tidak lagi menjadi hunian yang aman. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak Tuhan mengerti bahwa maksud kedatangan Tuhan Yesus semata-mata hanya untuk mempersiapkan mereka masuk Kerajaan-Nya. Jika seseorang tidak mau mengerti hal ini, berarti menolak keselamatan yang disediakan Tuhan. Hal ini sama seperti istri Lot yang menolak untuk memiliki langkah-langkah penyelamatan sesuai dengan kehendak-Nya.
    Kedatangan Tuhan Yesus membawa manusia memasuki satu masa yang sangat istimewa, yaitu zaman anugerah. Anugerah di sini adalah keselamatan yang disediakan bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Keselamatan tersebut adalah dipulihkannya hubungan manusia dengan Allah, karakter manusia diperbaharui dan perkenanan Tuhan menjadikan manusia pewaris Kerajaan Allah, dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Di zaman anugerah ini keselamatan tersebut ditawarkan. Bagi orang yang menerima keselamatan itu, yaitu percaya secara benar dengan mengikuti jejak-Nya, baginya tersedia kemuliaan bersama dengan Yesus dalam Kerajaan-Nya. Ini adalah masa di mana manusia dimungkinkan menjadi corpus delicti.
    Zaman anugerah sebenarnya juga sama artinya dengan zaman akhir. Zaman akhir adalah zaman yang memiliki rentang waktu dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga sekitar tahun 30 Masehi sampai kedatangan-Nya yang kedua (yang entah kapan?). Ini bukan saja akhir zamannya manusia, tetapi juga akhir zamannya Iblis (Iblis telah eksis selama entah berapa juta atau milyar tahun). Kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya mengakhiri riwayat Lusifer yang jatuh itu.
    Di zaman anugerah ini bukan berarti hidup manusia menjadi lebih nyaman dan dunia lebih aman, tetapi sebaliknya, justru hidup manusia menjadi tidak nyaman dan dunia tidak menjadi aman. Di waktu zaman anugerah atau zaman akhir ini, dunia akan dibawa kepada pergolakan-pergolakan yang hebat. Justru pergolakan tersebut menandai akan datangnya zaman baru. Pergolakan-pergolakan yang hebat itu dinyatakan Tuhan Yesus dalam Matius 24: 6-8: Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
     
    0 min
  • Bukan Gila Pujian
    Gereja-gereja di Indonesia sejak pertengahan tahun 1980-1990 mengalami sebuah gerakan yang sangat mempengaruhi orang-orang Kristen dalam berliturgi. Gerakan tersebut disebut sebagai gerakan “pujian dan penyembahan” (Praise and Worship). Gereja-gereja tertentu yang menyelenggarakan kebaktiannya dengan pujian dan penyembahan ini sangat ramai dikunjungi orang Kristen. Lagu-lagu baru bermunculan dan mulai dinyanyikan dalam kebaktian-kebaktian. Musik gereja yang tadinya hanya satu piano atau satu orgen saja atau satu gitar saja, diganti dengan seperangkat alat band lengkap. Dalam kebaktian-kebaktian di gereja-gereja tertentu, khususnya di kalangan Pentakosta dan Karismatik, disemarakkan pula dengan tarian dan tamborin.
    Sejak saat itu mulai pula pernyataan-pernyataan bahwa seseorang diperbaharui melalui puji-pujian, diubahkan oleh puji-pujian, mengalami lawatan Tuhan seperti kesembuhan melalui puji-pujian, merasa imannya dibangun melalui puji-pujian, dan lain sebagainya. Dari fenomena ini maka puji-pujian menjadi faktor penting, bahkan dianggap sebagai utama, dalam kehidupan rohani. Ditambah lagi dengan pernyataan bahwa Tuhan bertakhta di atas puji-pujian, maka dikesankan Tuhan sedang diubah “selera-Nya” dalam mendengar lagu-lagu rohani. Lagu-lagu yang dulu dinyanyikan di gereja-gereja tertentu, khususnya gereja Karismatik dan Pentakosta, mengalami perubahan luar biasa. Mulai ada penyembahan dengan mengucapkan beberapa kata seperti “haleluya, glory, terpujilah nama-Mu” diucapkan berulang-ulang dan dilantunkan dengan nada.
    Pujian-pujian dan penyembahan menjadi sangat penting, sampai pada suatu pemikiran bahwa Tuhan dapat disukakan hanya dengan puji-pujian dan penyembahan. Memang hal ini tidak dikatakan secara eksplisit, tetapi secara implisit mewarnai pikiran banyak orang Kristen, khususnya di kalangan gereja Karismatik dan Pentakosta serta gereja-gereja yang sekarang tumbuh menjadi gereja besar (mega church). Akhirnya timbul pemahaman bahwa Tuhan Yesus adalah sosok Pribadi yang suka dipuji-puji dan disembah. Seakan-akan kalau Tuhan Yesus sudah dipuji-puji dan disembah-sembah, maka jemaat Kristen minta apa pun akan lebih didengar dan dikabulkan. Dalam hal ini dikesankan bahwa Tuhan dapat terlena oleh puji-pujian dan penyembahan orang Kristen.
    Acara di dalam gereja dibuat semeriah mungkin, seakan-akan dapat mewakili hidup Kekristenan mereka. Padahal Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan bahwa ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan adalah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran artinya ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu, dan sistim seremonial. Ibadah yang berkenan kepada Allah adalah kehidupan setiap hari yang berkenan kepada Allah. Ukuran berkenan kepada Allah bukanlah puji-pujian dan penyembahan yang dinyanyikan dengan cara apa pun dan bagaimanapun, tetapi kehidupan yang mengerti kehendak Allah dalam segala hal dan melakukannya. Ini adalah kehidupan orang percaya yang menjadikan Tuhan sebagai hukumnya.
    Ibadah yang dikehendaki oleh Allah adalah penghormatan kepada Bapa dan Tuhan Yesus Kristus melalui segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Liturgi kita adalah seluruh waktu hidup kita dari pagi sampai malam dan pagi lagi, artinya sepanjang waktu. Nyanyian hidup kita adalah melakukan kehendak Bapa dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Tuhan Yesus yang sejati adalah Tuhan yang menghendaki kita memiliki prinsip seperti diri-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus yang hanya suka dipuji-puji dan disembah dalam liturgi gereja adalah Yesus fantasi, bukan Yesus yang sejati.
    0 min
  • Hamba Tuhan Gadungan
    Dewasa ini tampil banyak orang yang mengaku diri sebagai hamba Tuhan dan merasa bahwa dirinya adalah orang istimewa Tuhan Yesus. Dengan segala kesaksian yang dapat disampaikan kepada jemaat, mereka menunjukkan bahwa mereka orang khusus Tuhan. Seakan-akan mereka memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki oleh jemaat, bahkan hamba Tuhan lain. Tentu saja kesaksian-kesaksian yang mereka kemukakan adalah kesaksian-kesaksian spektakuler yang bisa membuat decak kagum jemaat. Kesaksian-kesaksian mereka antara lain bisa berdialog dengan Tuhan Yesus setiap saat, bisa menjumpai Tuhan dengan mudah, memiliki perjumpaan dengan Tuhan, menyatakan diri sebagai sahabat Tuhan yang istimewa, mendapat visi-visi tertentu dan segala wahyu-wahyu-Nya, mendapat mandat menyampaikan pesan khusus dari Tuhan dan lain sebagainya. Dengan kesaksian tersebut secara tidak langsung ia mendeklarasikan diri sebagai hamba Tuhan yang sejati.
    Tidak dapat dibantah, bahwa hamba-hamba Tuhan yang mendeklarasikan dirinya sebagai orang istimewa Tuhan tersebut sangat dikultuskan oleh sebagian jemaat. Ironi, kelompok jemaat yang mengkultuskan hamba-hamba Tuhan tersebut jumlahnya sangat besar. Jemaat yang bodoh dan mudah dikelabui oleh mereka akan mengkultuskan sosok-sosok hamba Tuhan tersebut, tetapi jemaat yang cerdas, dewasa, dan memiliki hati nurani yang bersih dapat membedakan hamba Tuhan yang sejati dan hamba Tuhan gadungan. Jemaat yang dewasa, cerdas, dan berhati nurani bersih dapat mengenali penipuan-penipuan dari hamba-hamba Tuhan yang kesaksiannya sangat subjektif. Subjektif artinya berangkat dari pengalaman dan pandangan pribadi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
    Untuk membuktikan apakah Yesus yang diajarkan adalah Yesus yang sejati atau Yesus fantasi dapat dilihat bukan saja dari kelakuan hamba Tuhan tersebut, tetapi dari apa yang diajarkannya. Kelakuan sehari-hari hamba Tuhan tersebut kita tidak tahu, tetapi kalau pengajarannya tidak membawa jemaat menjadi dewasa, maka pasti Yesus yang dikenalnya bukanlah Yesus yang sejati. Ajaran dari Yesus yang sejati menekankan kesucian yang bersumber kepada manusia batiniah, bukan sekadar memiliki kebaikan moral. Yesus yang sejati mengajarkan untuk meletakkan seluruh pengharapan ke dunia yang akan datang (langit baru dan bumi baru), bukan rumah di bumi, tetapi rumah di surga, titik. Oleh sebab itu pengajaran yang benar tidak menekankan hal-hal lahiriah seperti mukjizat, kesembuhan Ilahi, sukses mendapat berkat jasmani, promosi jabatan, dan lain sebagainya. Hal ini tidak bermaksud anti mukjizat atau promosi jabatan, tetapi penekanan pemberitaan Firman Tuhan haruslah perkara-perkara di atas.
    Pengajaran yang tidak benar membuat strata dalam gereja, seakan-akan pendeta atau hamba Tuhan memiliki kasta yang lebih tinggi dari jemaat. Dalam hal ini dibangun sistem keimaman seperti zaman Perjanjian Lama, ada imam dari keturunan Lewi, dan awam dari suku yang lain. Harus dipahami bahwa semua orang percaya adalah imamat-imamat yang rajani (1Ptr. 2:9). Ditambah lagi dengan kesan bahwa si pembicara adalah orang yang dekat dengan Tuhan, maka Tuhan lebih mudah mendengar dan mengabulkan doa para pembicara atau mereka yang mengaku hamba Tuhan. Hal ini memberi kesan bahwa Tuhan tidak mudah dijangkau oleh sembarang orang. Tuhan hanya dapat dijangkau oleh orang-orang tertentu yang memiliki hak khusus. Dengan kesan ini jemaat disudutkan pada posisi tidak dapat menjangkau Tuhan. Hal ini membangun mental blok yang membuat jemaat tidak terpacu mencari Tuhan sendiri sehingga selalu dan terus menerus bergantung kepada pendeta. Hamba Tuhan yang melahirkan ajaran atau suasana ini adalah hamba Tuhan gadungan yang pasti juga mengajarkan Yesus yang lain atau Yesus fantasi.
    0 min
  • Mutiara Bukan Untuk Babi
    Memang sering tekanan-tekanan dalam hidup ini tidak menyenangkan, tetapi hasilnya nanti sangat baik untuk kita. Saya pernah difitnah, diperlakukan tidak adil, yang benar-benar membuat saya susah, tetapi ternyata itu cara Tuhan membentuk saya. Di sini saya dapat mengalami apa yang dikatakan dalam Roma 8:28-29. Segala sesuatu mendatangkan kebaikan agar kita dapat menikmati kelegaan atau ketenangan dari Tuhan. Demikian pula dalam hidup saya, banyak hal yang telah saya alami sebagai hamba Tuhan yang melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Tuhan mengajar saya bagaimana menghilangkan watak buruk saya, supaya saya dapat memperoleh kelegaan dari Tuhan.
    Kuk yang dimaksud Tuhan juga bisa Firman Tuhan yang harus kita lakukan. Firman Tuhan yang membelenggu kita sehingga kita dapat hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kalau watak yang buruk dapat ditekan, bahkan dihilangkan melalui pergumulan hidup, maka selanjutnya watak kita harus menjadi baru. Firman Tuhanlah yang harus memandu langkah hidup kita. Firman Tuhan membentuk kepribadian kita. Hal ini semata-mata supaya kita dapat menikmati damai sejahtera Tuhan yang sama artinya dengan kelegaan.
    Dalam Yohanes 14:27 Tuhan Yesus berkata: Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 
    Perhatikan kalimat “apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”. Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat menikmati damai sejahtera Tuhan. Damai sejahtera atau kesenangan karena uang atau kesenangan lain di dunia ini dapat dinikmati oleh semua orang tanpa syarat, tetapi kalau damai sejahtera Tuhan atau kelegaan dari Tuhan tidak dapat dinikmati oleh semua orang. Damai sejahtera dari Tuhan atau kelegaan dari Tuhan diterima dengan syarat. Ini hanya dapat dinikmati orang yang melakukan Firman Tuhan. Orang yang mau menuruti Firman Tuhan atau dibelenggu Firman Tuhanlah yang dapat menerima damai sejahtera Tuhan atau kelegaan dari Tuhan.
    Dalam hal ini harus kita mengerti bahwa Tuhan tidak sembarangan memberikan damai sejahtera atau kelegaan-Nya kepada semua orang. Dalam Matius 7:6 tertulis: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Maksud perkataan Tuhan ini adalah bahwa barang yang kudus bisa menunjuk kepada damai sejahtera atau kelegaan dari Tuhan. Damai sejahtera atau kelegaan tidak diberikan kepada mereka yang hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
    Orang yang tidak hidup sesuai dengan Firman Tuhan, berarti tidak sesuai dengan watak Sang Juruselamat, digambarkan seperti anjing atau babi. Oleh sebab itu, mereka yang wataknya seperti anjing atau babi, artinya suka berbuat dosa dan tidak hidup sesuai dengan Firman Tuhan, harus belajar dulu dari Tuhan. Belajar melalui keadaan hidup yang penuh tekanan dan Firman Tuhan, maka seseorang  dapat diubah oleh Tuhan. Dari pribadi yang wataknya seperti anjing atau babi menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Orang yang berkenan kepada Tuhan adalah orang yang pasti mendapatkan kelegaan. Oleh sebab itu kita harus belajar terus menjadi seorang yang berkenan kepada Tuhan.
    Pada akhirnya kita akan tahu bahwa letih lesu dan beban berat kita disebabkan karena kita belum menemukan pelabuhan di dalam Tuhan. Kita masih dipenuhi dengan segala keinginan. Itulah yang melelahkan kita. Oleh sebab itu, kalau kita mau memperoleh kelegaan yang ideal, kita harus melepaskan segala keinginan kita dan membuka jiwa kita untuk menampung apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan. Dalam hal ini kelegaan seseorang di dalam Tuhan bertumbuh seiring dengan kesediaan melepaskan segala keinginan dan menggantikannya dengan melakukan kehendak Tuhan (Yoh. 4:34).
    0 min
  • Berkat Melalui Masalah
    Tuhan memanggil kita bukan untuk menyusahkan kita, juga bukan untuk menambahi beban dan menekan kita, tetapi Tuhan memanggil kita untuk memberkati kita. Berkat itu disebut sebagai kelegaan atau damai sejahtera. Dalam bahasa Inggris kata kelegaan ini adalah rest, yang artinya beristirahat atau berhenti dari kelelahan. Inilah panggilan kelegaan. Bersyukur kita memiliki Tuhan seperti ini. Tuhan yang memberi perhentian.
    Kelegaan dari Tuhan bisa kita peroleh dan kita nikmati kalau kita belajar sesuatu dari Tuhan. Jadi kita harus mengerti bahwa kelegaan yang Tuhan berikan kepada kita bukan otomatis. Kita juga harus belajar untuk mendapat ketenangan atau kelegaan tersebut. Inilah yang membedakan kuasa-kuasa kegelapan atau Setan dengan Tuhan. Kalau seseorang datang kepada sumber kuasa-kuasa kegelapan atau Setan untuk mendapat pertolongan, maka mereka bisa mendapat pertolongan, tetapi mereka harus menjual keselamatan mereka kepada Setan. Ini berarti bukan mendapat pertolongan, tetapi kecelakaan atau kebinasaan. Misalnya orang mau kaya mendadak, mendapat jodoh mendadak, naik pangkat mendadak, dan lain sebagainya. Bisa saja Setan mengabulkan keinginan mereka, tetapi akibat dari pemberian Setan tersebut, mereka harus menjual jiwanya ke neraka. Ini namanya bukan untung, tetapi buntung. Bukan berkat, tetapi laknat.
    Dalam Matius 11:29 Tuhan Yesus berfirman: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Apa arti perkataan Tuhan ini? Kuk adalah alat mengekang atau membelenggu lembu agar dapat dikendalikan. Ini sama dengan kayu yang dipasang di atas lembu untuk membajak sawah. Binatang sapi kalau tidak diberi kuk menjadi liar dan tidak bisa dikendalikan. Tuhan memberi kuk supaya kita dapat dikendalikan. Kuk di sini bisa berarti dua hal, yaitu pertama masalah-masalah hidup, dan kedua Firman Tuhan.
    Masalah-masalah hidup yang harus kita alami adalah demi kedewasaan kita. Kedewasaan rohani inilah yang membuat kita dapat menikmati kelegaan Tuhan atau damai sejahtera Tuhan. Melalui masalah-masalah hidup tersebut kita diajar untuk menikmati kelegaan atau ketenangan dari Tuhan. Mengapa masalah hidup menjadi kuk atau belenggu yang akhirnya mendatangkan kelegaan? Dalam kenyataan hidup ini banyak orang telah menjadi rusak, artinya sombong, kejam, mau menang sendiri, egois, suka bohong, dan lain sebagainya, tetapi ketika mendapat persoalan berat maka hal-hal negatif tersebut dapat ditekan atau bahkan bisa dihilangkan. Hal-hal ini, yaitu sombong, serakah, gampang tersinggung, kejam, mau menang sendiri, tidak mau mengalah, egois, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang menjadi penyebab mengapa seseorang menjadi letih lesu dan berbeban berat. Selama seseorang masih memiliki watak ini, maka hidupnya tidak akan tenang. Biar ia menjadi pejabat tinggi, orang kaya raya maupun orang yang paling terkenal, ia tidak akan dapat menikmati kelegaan Tuhan.
    Melalui pengalaman hidup yang melibatkan pikiran, perasaan dan seluruh hidup kita, Tuhan mau menghilangkan hal-hal yang negatif dalam hidup kita atau watak-watak buruk tersebut. Sering Tuhan mengijinkan suatu peristiwa yang luar biasa terjadi dalam hidup kita. Peristiwa-peristiwa hidup yang dapat menggoncang pikiran, perasaan, dan seluruh hidup kita. Kalau tidak digoncang dengan goncangan yang kuat, kadang kurang mengubah kita atau tidak berdaya guna menghilangkan watak-watak buruk dalam hidup kita. Dalam hal ini kita dapat mengerti bahwa tekanan-tekanan hidup ternyata bisa menjadi berkat. Sebab dengan tekanan-tekanan hidup itu, watak buruk kita dapat dibuang dan kita dapat menikmati kelegaan Tuhan atau damai sejahtera-Nya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…