Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengganti Yesus
    Sudah saatnya sekarang banyak orang Kristen harus menggantikan Yesus yang mereka miliki dan mereka kenal selama ini. Mengapa? Alasannya bisa dua kemungkinan: Pertama, karena Yesus yang mereka kenal adalah Yesus yang hanya ada di dalam pikiran mereka, belum menjadi kenyataan secara konkret. Yesus tersebut harus diwujudnyatakan dalam kehidupan secara konkret. Kedua, karena Yesus yang mereka kenal adalah Yesus yang salah, bukan yang diajarkan Injil. Yesus-Yesus seperti ini dapat dikatakan sebagai Yesus fantasi.
    Yesus fantasi bisa merupakan modifikasi dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun. Di antara doktrin-doktrin tersebut dirumuskan oleh teolog-teolog yang telah sukses membangun perpustakaan yang memuat tulisan mengenai Yesus. Mereka memiliki jawaban dari apa saja yang dipertanyakan mengenai Yesus. Mereka selalu memiliki argumentasi terhadap semua permasalahan mengenai Yesus dan segala hal yang berkenaan dengan teologi Kristen. Para akademisi yang belajar teologi secara formal dalam sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan teolog dalam buku-buku di perpustakaan sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Di luar yang mereka pahami dan di luar semua yang tertulis di dalam buku-buku di perpustakaan tersebut, dipandang oleh mereka bukanlah ajaran yang benar. Mereka lupa bahwa kalau semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ditulis, maka semua buku di dunia ini tidak dapat memuatnya, artinya masih banyak kebenaran yang harus digali (Yoh. 21:25).
    Pikiran mereka telah terpenjara oleh doktrin-doktrin yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Mereka berpikir bahwa perpustakaan mereka sudah cukup mewakili siapa dan bagaimana Allah itu. Itulah sebabnya semua tulisan dari skripsi, tesis, dan disertasi, harus memiliki referensi buku-buku tersebut. Jika tidak, maka dianggap tidak valid. Dengan cara ini mereka telah memagari diri mereka sendiri di bawah tempurung pikiran manusia yang terbatas. Biasanya mereka terkurung oleh pandangan seorang teolog atau beberapa yang lain, dan memandang bahwa doktrin yang diajarkan oleh teolog-teolog masa lalu sudah merupakan kebenaran mutlak. Tanpa mereka sadari, mereka menyejajarkan pandangan teologi manusia dengan kebenaran Alkitab.
    Mereka mampu berkhotbah panjang-panjang, berdoa, dan menyusun liturgi yang sangat apik. Tetapi sesungguhnya Yesus yang mereka pahami adalah Yesus yang masih di dalam fantasi. Mereka belum menjumpai-Nya secara konkret. Mereka merasa puas dengan Yesus yang mereka diskusikan, Yesus yang mereka tulis di puluhan bahkan ribuan kertas, Yesus yang mereka perdebatkan, Yesus yang mereka seminarkan. Tidak heran kalau pada tahun 1985 terdapat kelompok para teolog yang menamakan diri “Jesus Seminar”, hanya mengakui sebagian perkataan Yesus dalam Injil sebagai perkataan Tuhan Yesus sendiri. Ini jelas merupakan bentuk penyimpangan para teolog.
    Kelompok orang-orang yang merasa lebih mengenal kebenaran melalui studi formal teologi, biasanya lebih kuat berada berjam-jam dan berhari-hari di perpustakaan di bawah asuhan buku-buku yang ditulis oleh para doktor dan profesor teologi daripada duduk diam di kaki Tuhan dalam doa pribadi. Ini adalah sebuah ketidakseimbangan yang membawa mereka menjadi rasional, tetapi tidak memiliki perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Pada dasarnya mereka belum menemukan Tuhan. Mengatakan hal ini bukan berarti kita menuduh para doktor dan profesor teolog masa lalu tersebut salah. Belum tentu mereka salah di zamannya. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sangat efektif pada zamannya. Tetapi kita yang hidup di zaman yang berbeda, seharusnya menemukan Tuhan di zaman kita dan memahami kebenaran sesuai dengan konteks zaman kita hari ini.
    0 min
  • Injil Yang Benar
    Sangatlah penting untuk mempersoalkan, apa sebenarnya Injil itu? Kata Injil terjemahan dari bahasa Yunani euanggelion, yang artinya kabar baik. Untuk memahami pengertian Injil secara benar, terlebih dahulu kita harus memahami maksud kata “baik” tersebut. Harus dipersoalkan baik menurut siapa dan baik yang bagaimana. Tentu pengertian baik harus menurut Tuhan, bukan menurut manusia. Di gereja sering orang berkata: Allah itu baik. Baik yang bagaimana? Kalau baiknya hanya diukur menurut ukuran manusia, maka berarti orang tersebut tidak mengerti Injil yang benar. Ini berarti orang Kristen tersebut sesat. Kalau seseorang sesat, maka ia sedang menuju pemberontakan kepada Tuhan. Kalau seseorang tidak mengenal Injil yang benar, maka ia juga tidak akan dapat mengenal Yesus yang asli atau yang sejati. Ini berarti orang tersebut mengenal Yesus yang lain.
    Pikiran yang sesat karena tidak mengenal Injil yang benar dan tidak mengenal Yesus yang sejati atau asli berdampak pada sikap hati. Sikap hati yang salah membentuk gaya hidup yang salah pula. Oleh sebab itu, jemaat harus mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni. Kalau pengajaran Firman benar-benar murni dari Tuhan, maka ia akan memperbaharui pikiran dan memberi pengertian mengenai siapa dan bagaimana Yesus yang benar itu. Di dalam Injil yang benar ditunjukkan Yesus yang sejati dan diajarkan apa maksud Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hal ini akan membuahkan kehidupan yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar, artinya mengerti maksud penyelamatan yang Tuhan Yesus maksudkan. Keselamatan yang dimaksudkan Tuhan adalah keselamatan dari karakter atau kodrat dosa. Ini berarti penyelamatan yang Tuhan Yesus lakukan adalah mengubah dari manusia berdosa, bukan saja menjadi baik, tetapi memiliki kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran seperti Tuhan Yesus.
    Banyak orang Kristen yang tidak mengenal Injil yang benar, sehingga mereka memiliki konsep yang salah. Mereka memahami keselamatan adalah kesuksesan lahiriah dan keindahan duniawi. Bagi orang yang baru menjadi Kristen, mereka tidak dapat membedakan manakah Injil yang benar dan yang tidak benar. Mereka tidak mengenali Yesus yang asli dan Yesus yang palsu. Demikian pula orang-orang Kristen yang hidup Kekristenannya tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, mereka juga tidak mampu mengenali adanya “Injil yang lain” tersebut dan tidak mengenali adanya Yesus yang lain. Hal ini terbukti dengan berpindahnya banyak orang Kristen yang sudah lama berada di gereja mainstream (gereja yang sudah permanen), ke gereja-gereja yang baru-baru ini muncul. Mereka berharap dengan pindah ke gereja yang baru, mereka akan memperoleh pengajaran Injil yang benar dan Yesus yang benar. Padahal kenyataannya, tidak sedikit gereja-gereja yang dikunjungi tersebut mengajarkan Injil yang sebenarnya bukan Injil dan mengajarkan Yesus yang lain. Ternyata mereka malahan menjadi lebih sesat.
    Gereja-gereja yang tidak mengajarkan Injil yang benar dan Yesus yang benar dapat menjadi gereja yang besar, seakan-akan mereka adalah gereja yang diberkati oleh Tuhan. Dalam hal ini, kemegahan gereja seolah-olah dapat menjadi ukuran kebenaran. Banyak orang Kristen berpikir, kalau gereja tidak diberkati tidak mungkin menjadi besar dan kaya. Ini adalah pikiran yang keliru sekali. Menanggapi adanya “Injil yang lain” dan Yesus yang lain ini, orang percaya harus waspada. Dalam 2 Korintus 11:2-4, dikatakan bahwa penyesatan atas orang percaya  sama dengan tipuan Iblis kepada Hawa. Keberhasilan Iblis menjatuhkan manusia ternyata dengan menyesatkan pikirannya, yaitu dengan informasi atau pemberitaan yang bertentangan dengan kebenaran. Ketidakbenaran tersebut disuntikkan ke dalam pikiran manusia, maka binasalah manusia.
    0 min
  • Sikap Tegas
    Dalam suratnya Paulus menyatakan: Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima (2Kor. 11:4). Dari tulisan ini Paulus menyatakan bahwa seharusnya mereka tidak boleh bersikap sabar terhadap orang-orang yang memberitakan Yesus yang lain tersebut. Kata sabar dalam teks aslinya adalah anekhesthe (ἀνέχεσθε), yang bisa berarti toleransi (tolerance endure). Dengan sikap toleransi tersebut mengesankan bahwa apa yang diberitakan bisa dibenarkan. Hal ini membahayakan bagi gereja Tuhan.
    Kalau menghadapi orang-orang di luar gereja tentu kita harus bersikap toleransi, dalam arti menerima orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Walau di mata kita ajaran dan keyakinan mereka tidak benar, karena tidak sesuai dengan keyakinan dan doktrin kita, kita harus dengan lapang hati memberi kesempatan kepada mereka untuk meyakini apa yang dipandang mereka benar dan turut menciptakan kesejukan dalam hidup berdampingan sebagai orang beragama. Kita tidak berhak menghakimi, mencela, apalagi menghambat keyakinan mereka serta menganggu kegiatan mereka dalam menjalankan ibadah. Sebagai manusia yang beradab, kita harus menghargai keyakinan agama lain. Tetapi terhadap Injil yang salah, yang mengajarkan Yesus yang lain di dalam gereja, kita harus bersikap tegas.
    Sikap tegas kita terhadap ajaran salah yang masuk ke dalam gereja di antara orang-orang Kristen dan para pemberita Firman di lingkungan gereja bukanlah kesalahan. Hal ini bukan sesuatu yang menyalahi etika kehidupan sebagai orang percaya. Kita tidak boleh bersikap toleransi, artinya kita harus menyatakan dengan tegas dan terus terang bahwa ajaran yang tidak sesuai dengan Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru, di mana Yesus yang lain yang diajarkan, adalah salah. Justru kalau kita tidak bersikap tegas, kita bersalah kepada Tuhan.
    Kita tidak boleh takut menyatakan bahwa mereka yang tidak mengajarkan kebenaran tersebut adalah saudara palsu.  Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Kalau Paulus menyampaikan kecaman terhadap mereka yang memberitakan Injil yang lain dengan sedemikian keras, maka kita harus mengerti betapa berbahayanya pengajaran palsu yang mengajarkan Yesus yang lain tersebut.
    Sikap tegas kita tidak bermaksud mengobarkan permusuhan yang bisa melahirkan pertikaian, sakit hati dan permusuhan, tetapi dengan kasih yang tulus kita menunjukkan kebenaran dengan maksud agar kita semua kembali kepada Injil yang murni dan menemukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Perjanjian Baru. Tidak tertutup kemungkinan, kita yang bermaksud mengajarkan Injil yang benar, disalahmengerti oleh mereka yang menganggap kita menyerang atau menghakimi mereka. Tetapi hal ini tidak perlu menggusarkan kita, yang penting bagi kita adalah tidak bersikap negatif terhadap mereka.
    Membiarkan ajaran Injil yang sebenarnya bukan Injil atau membiarkan Yesus lain diajarkan, sama dengan membiarkan makanan beracun dikonsumsi oleh banyak orang, yang tentu saja berakibat banyak orang menjadi sakit bahkan kematian. Oleh sebab itu mengajarkan Injil yang benar atau memperkenalkan Yesus yang benar atau sejati adalah perjuangan yang tidak boleh berhenti, apa pun resiko dan konsekuensinya. Suatu hari mereka akan tahu bahwa kita tidak bermaksud jahat, tetapi kita bermaksud menyelamatkan sebanyak mungkin orang Kristen menjadi anak-anak Allah yang benar.
    0 min
  • Yesus Yang Lain
    Dalam 2 Korintus 11:3-4 tertulis: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima. Kalimat “Yesus yang lain” dalam ayat ini menunjukkan adanya pemberitaan Firman yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Mereka mengajarkan Yesus yang sebenarnya bukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru.
    Ternyata dari dulu memang sudah ada orang-orang yang memberitakan Yesus yang lain kepada jemaat. Namanya sama, yaitu Yesus, tetapi bukanlah Pribadi yang dimaksud oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian Yesus yang diajarkan adalah Yesus yang palsu. Mengenai hal ini, Paulus juga menyinggung di dalam Galatia 1:6-8, Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
    Akibat pemberitaan Yesus palsu ini sangat fatal. Pikiran orang percaya dapat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. Kata disesatkan dalam teks aslinya adalah phthare (φθαρῇ), dari akar kata phtheiro (φθείρω) yang artinya juga menghancurkan atau merusak (to ruin, to spoil, to corrupt). Sedangkan kata kesetiaan berasal dari kata haplotetos (ἁπλότητος) dari akar kata haplotes (ἁπλότης), yang artinya kesederhanaan, ketulusan, kejujuran (simplicity, sincerity, frankness). Kata haplotes menunjukkan sikap hati yang semestinya dimiliki orang percaya yang benar karena meneladani Tuhan Yesus.
    Dalam hal tersebut orang yang tidak menemukan Yesus yang sejati dapat dilihat perilaku hidupnya yang tidak memiliki kesederhanaan dan ketulusan yang agung. Memang mereka tidak menjadi jahat, tidak amoral, dan tidak melanggar hukum, tetapi mereka tidak menampilkan keagungan suatu pribadi yang mewakili Tuhan Yesus dalam hidup keseharian. Faktanya, tidak sedikit orang Kristen, aktivis gereja bahkan rohaniwan yang memang tidak didapati tercela secara moral umum, tetapi tidak menampilkan kesederhanaan dan ketulusan yang kuat. Sehingga mereka tidak dapat mewakili Tuhan Yesus di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa keselamatan yang disediakan oleh kasih karunia Tuhan Yesus belum mereka miliki, sebab keselamatan membawa seseorang kepada pribadi seperti Yesus.
    Paulus menyamakan keadaan orang yang menerima Yesus yang lain tersebut dengan Hawa yang diperdaya oleh ular dengan kelicikannya. Ini berarti kesesatan ini jelas dapat membuat seseorang memiliki sikap memberontak kepada Tuhan, atau paling tidak memiliki sikap yang tidak sepantasnya di hadapan Tuhan. Memang, pada mulanya Hawa tidak bermaksud secara langsung melawan Tuhan, tetapi dengan terhasut oleh ular melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka hal tersebut menempatkan Hawa dan Adam sebagai pemberontak di hadapan Tuhan. Dalam hal ini menjadi pemberontak di hadapan Tuhan bukan hanya kalau seseorang menjadi manusia yang melanggar hukum, tetapi ketika seseorang tidak mengikuti teladan Yesus dalam seluruh perilakunya, berarti tidak dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan. Keadaan ini adalah keadaan orang yang tidak melakukan kehendak Bapa.
    0 min
  • Lidah Dan Kesempurnaan
    Dalam surat Yakobus tertulis: Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yak. 3:2). Pernyataan Yakobus ini penting untuk diperhatikan, sebab jelas sekali bahwa orang yang tidak bersalah dalam perkataannya adalah orang yang sempurna. Itulah sebabnya dalam Matius 5, ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai kesempurnaan, Tuhan Yesus menyinggung mengenai penggunaan lidah berkaitan dengan tuduhan kepada orang lain (Mat. 5:22, Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala).
    Manusia dalam prestasinya menaklukkan banyak hal; jarak, laut, binatang buas dan lain sebagainya. Tetapi banyak manusia belum berhasil menaklukkan lidahnya. Hal ini nyata dari apa yang telah diuraikan Yakobus (Yak. 3:3-12). Dapat menguasai lidah berarti dapat menguasai seluruh kehidupannya (1Ptr. 3:10). Dalam hal ini, lidah memiliki peran yang sangat besar dalam ibadah kita. Alkitab menunjukkan betapa sulit atau sukarnya menguasai lidah. Walaupun sukar untuk menguasai lidah, tetapi bukan berarti tidak dapat dikuasai. Tuhan memberi petunjuk bahwa kita dimampukan melakukan Firman-Nya, juga dalam menguasai lidah. Untuk dapat melangkah bijaksana dalam penggunaan lidah ini, dapat dipaparkan beberapa nasihat sebagai berikut.
    Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan, termasuk lidah. Untuk penggunaannya kita harus terus belajar seturut kehendak Tuhan. Dahulu kita bertindak sekehendak kita, tetapi sekarang tidak bisa lagi demikian, sebab segenap hidup kita dimiliki oleh Tuhan (1Kor. 6:19-20). Untuk dapat mengontrol dan mengendalikan, dibutuhkan latihan terus menerus. Dalam Galatia 5:24-25 dinasihatkan agar setiap orang yang menjadi milik Kristus menyalibkan hawa nafsu dan keinginannya. Penyangkalan diri yang diwajibkan Tuhan atas kita (Mat. 16:24) juga termasuk penyangkalan diri dalam penggunaan lidah. Untuk ini tidak ada salahnya kalau kita belajar puasa, bukan saja terhadap makanan, tetapi juga puasa ucapan.
    Lidah harus digunakan untuk satu arah, bukan dua arah. Lidah kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita tidak dapat menggunakan lidah untuk dosa, tetapi juga untuk Tuhan (Yak. 3:9). Untuk ini kita harus mengoreksi setiap kata yang sudah diucapkan atau hendak diucapkan. Tuhan menghendaki buah bibir kita memuji dan memuliakan Allah (Ibr. 13:15). Tentu semua ini adalah buah dari kehidupan yang sikap hatinya benar di hadapan Allah. Jadi segala sesuatu yang tidak memuliakan Allah dan tidak menjadi berkat bagi orang lain, hendaknya tidak diucapkan.
    Lidah digunakan untuk mengucapkan kebenaran, bukan untuk mengucapkan kata-kata yang tidak kudus (jorok, porno, dusta, fitnah, gosip dan lain sebagainya). Untuk ini rasul Paulus menasihati kita agar membuang semua yang busuk dari mulut kita (Ef. 4:25-29). Kata- kata kita harus menggarami orang lain. Perkataan apa yang dapat menggarami orang, tentu perkataan kebenaran Firman. Orang seperti ini tidak akan menyiarkan gosip. Harus diperhatikan bahwa lidah dapat menjadi alat dalam tangan Tuhan, dan juga dapat menjadi alat dalam tangan Iblis. Hendaknya kita mempertimbangkan dengan seksama setiap perrkataan yang hendak kita ucapkan. Seperti pedagang yang memperhitungkan seluruh tindakannya supaya tidak rugi tetapi untung, demikian pula dengan gerak lidah mulut kita. Ucapan bisa mendatangkan berkat, tetapi juga kutuk.
    Kita harus menyadari bahwa Allah akan memperhadapkan setiap perkataan kita di pengadilan-Nya (Mat. 12:36-37). Ternyata yang diperhadapkan ke pengadilan bukan saja perbuatan tubuh, tetapi juga ucapan lidah kita. Menyadari kenyataan ini kita akan berhati- hati dalam mengucapkan suatu perkataan.
    0 min
  • Bukan Kesombongan
    Sering terjadi, orang yang memburu kesempurnaan dipandang sebagai orang sombong. Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan kesombongan itu. Dari beberapa pengertian mengenai kesombongan yang terkait dengan masalah kesempurnaan, ada dua hal yang perlu kita bahas. Kesombongan adalah sikap yang tidak mengakui otoritas Allah. Orang sombong adalah orang yang tidak mau menundukkan diri secara benar kepada Allah. Orang sombong menjadikan dirinya sebagai tuhan bagi dirinya sendiri. Inilah tindakan yang juga telah dilakukan oleh Lusifer. Lusifer menolak tunduk kepada Allah, sebab ia mau mendirikan takhtanya sendiri.
    Orang yang tidak mau menundukkan diri kepada Tuhan untuk memenuhi yang dikehendaki oleh Tuhan adalah orang-orang sombong. Justru orang yang mau mencari kesempurnaan adalah orang-orang yang rendah hati. Sudah sangat jelas Tuhan menghendaki orang percaya menjadi sempurna. Kalau seseorang menolak menjadi sempurna, maka berarti tidak tunduk kepada otoritas Tuhan. Kalau seseorang mengakui otoritas Tuhan, maka apa pun yang dikehendaki oleh Tuhan, ia bersedia menurutinya; sesulit, seberat, atau bahkan semustahil apa pun.
    Kesombongan adalah sikap merasa bisa menjalani hidup tanpa Tuhan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang mengandalkan diri sendiri. Orang yang tidak mencari kesempurnaan adalah orang yang tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan dalam arti yang benar. Mereka yang tidak bergumul mencapai kesempurnaan tidak akan terbawa kepada situasi yang sangat membutuhkan Tuhan. Sebab kalau hanya menjadi orang baik, tidak dibutuhkan kasih karunia dan pendampingan Tuhan melalui Roh Kudus. Banyak orang beragama, bahkan orang tidak beragama, berkeadaan baik. Tetapi kalau seseorang bergumul untuk menjadi sempurna, tidak bisa tidak maka akan sangat membutuhkan Tuhan untuk menuntunnya. Orang-orang yang berusaha mencapai kesempurnaan akan lebih mengandalkan Tuhan untuk pencapaiannya. Mereka menjadi orang-orang yang rendah hati sebab menyadari bahwa dengan kekuatan sendiri tidak akan dapat mencapai Tuhan.
    Kesombongan adalah sikap yang tidak mengakui bahwa keberadaannya karena anugerah Tuhan semata-mata. Orang yang tidak memburu kesempurnaan tidak atau kurang menghayati bahwa keberadaannya adalah anugerah Allah semata-mata. Sebab jika seseorang tanpa Tuhan pun bisa menjadi baik, maka orang-orang baik tidak merasa perlu mengakui bahwa keberadaannya karena anugerah Tuhan semata-mata. Tetapi kalau seseorang mengerti bahwa tanpa Tuhan seseorang tidak akan dapat mencapai kesempurnaan, maka ketika mencapai kehidupan yang melampaui standar kebaikan manusia, ia tahu dan menyadari bahwa keberadaannya karena anugerah Allah semata-mata. Memang dengan kekuatannya sendiri seseorang tidak dapat mencapai kesempurnaan atau yang sama dengan mencapai hidup kekal yang ideal, yaitu hidup yang berkualitas sempurna. Tetapi orang percaya harus mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah (Mat. 19: 17-26). Dalam hal ini justru orang yang mencari kesempurnaan adalah orang yang rendah hati dan tidak berambisi liar. Ini adalah keberadaan haus dan lapar akan kebenaran, artinya rindu mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. Justru ini adalah jiwa yang tertib dan agung.
    Orang yang mencari kesempurnaan bukannya tidak mensyukuri anugerah keselamatan, justru sebaliknya mensyukuri dan menghargai anugerah keselamatan dengan meresponi fasilitas keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus karena korban-Nya. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Rancangan Allah semula adalah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia (Kej. 1:26-27). Untuk mencapai keselamatan ini seseorang harus memanfaatkan fasilitas keselamatan yang Tuhan Yesus sediakan yaitu Roh Kudus, Injil dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa.
    0 min
  • Ditunaikan Di Bumi
    Orang percaya yang benar, setiap hari senantiasa berusaha bagaimana hidup dalam perkenanan Tuhan. Pikiran dan perasaannya selalu disiagakan untuk memperkarakan apakah tindakan-tindakannya, baik yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian tidak ada saat di mana dirinya ada di dalam keadaan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap kali merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya, ia selalu melakukan pemberesan segera di hadapan Tuhan, saat itu juga secara langsung. Ini merupakan tugas yang harus ditunaikan di bumi sampai seseorang mencapai kesempurnaan atau keadaan berkenan di hadapan Tuhan.
    Seseorang bisa langsung berdialog dengan Tuhan mengadakan pemberesan. Harus diingat bahwa perantara dan Jurusyafaat orang percaya di hadapan Allah Bapa hanya Tuhan Yesus. Untuk setiap sikap hati dan gerak pikiran yang salah, setiap saat seseorang dapat menyelesaikan atau melakukan pemberesan secara pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini harus dilakukan secara pribadi dengan Tuhan, sebab tidak seorang pun yang dapat memahami keadaan batin seseorang. Dalam keadaan siaga seseorang dapat selalu menyadari apakah dirinya di tempat yang benar di hadapan Allah atau tidak.
    Mengapa ada orang Kristen yang tidak yakin bahwa mereka bisa hidup suci di bumi? Hal ini disebabkan karena mereka berpikir bahwa selama hidup di dunia seseorang tidak akan dapat mampu mencapai kesucian berhubung dengan kodrat dosa di dalam diri manusia. Menurut mereka, manusia yang berdosa dengan kodrat dosa adalah manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan, telah terkunci dalam keadaan yang tidak bisa mencapai kesucian. Sampai kapanpun manusia memiliki kecenderungan dosa semata-mata; dalam istilah Latin oleh seorang teolog diistilahkan non posse non peccare. Dalam keberadaannya sebagai manusia yang telah memiliki kodrat dosa, menurut mereka tidak mungkin manusia bisa hidup dalam kesucian. Mereka lupa bahwa keselamatan dalam Yesus memungkinkan manusia mencapai kesucian yang dikehendaki oleh Tuhan.
    Kehidupan Kristen bagi mereka adalah usaha untuk selalu mengaku dosa dan mohon penyucian dari Tuhan terus menerus sampai menutup mata. Itulah penyelesaiannya, tanpa usaha untuk mengubah diri supaya tidak berbuat dosa lagi.  Biasanya pemikiran salah yang dijelaskan di atas dilandasi oleh pengertian bahwa manusia akan selalu berbuat dosa, sebab manusia penuh kelemahan dan kekurangan karena kodrat dosanya. Dosa menurut mereka adalah bagian hidup yang tidak akan terpisahkan sampai menutup mata.
    Kesalahan di atas ini diteguhkan pula oleh kenyataan hampir tidak pernah ditemukan orang yang hidup dalam kesucian. Semua orang yang dijumpai dalam kehidupan di sekitarnya adalah orang-orang yang melukai, menyakiti dan melakukan berbagai pelanggaran. Ditambah lagi kalau dijumpai kenyataan ada rohaniwan (pendeta, pastor, majelis, aktivis gereja dan lain sebagainya) berbuat hal-hal yang melanggar moral, maka kesalahan pengertian bahwa tidak ada orang yang bisa hidup suci di bumi ini menjadi permanen atau sangat kuat sampai tidak bisa diubah.
    Dalam Alkitab tidak pernah dituliskan bahwa kesucian hanya bisa terjadi atau dilakukan di surga. Sangatlah kurang ajar terhadap Tuhan kalau ada orang mengajarkan bahwa kesucian hanya dapat dicapai di surga. Itu adalah tindakan memalsukan Firman Tuhan. Dalam Alkitab jelas sekali perintah Tuhan untuk hidup suci selama di dunia. Kalau seseorang menyatakan bahwa tidak mungkin bisa hidup suci di dunia ini, maka ia menuduh dan menganggap Allah berdusta, sebab banyak ayat dalam Alkitab mengajarkan bahwa kita harus hidup suci. Selain itu juga menganggap Allah jahat, sebab memerintahkan manusia melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan atau di luar kemampuannya. Roh Kudus memimpin orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.
    0 min
  • Kesempurnaan Dimulai Di Bumi
    Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa kesucian hidup tidak akan dapat dicapai di bumi ini; kesucian hanya bisa ditemukan dan dialami di surga.  Jadi, kesucian hidup manusia tidak pernah akan ditemukan di bumi. Menurut mereka bumi bukanlah tempat manusia dapat mengenakan kesucian atau mengalami kesempurnaan. Ini berarti mereka juga tidak percaya bahwa ada kesempurnaan di bumi. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pandangan salah di atas bisa muncul disebabkan berbagai faktor, antara lain karena mereka tidak memahami pengertian kesempurnaan menurut Alkitab. Pengertian kesempurnaan yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.
    Mereka berpikir suci itu seperti sebuah bidang yang tadinya dikotori oleh noda, walaupun noda itu dapat hilang oleh semacam sarana pembersih, tetapi akan selalu ternoda kembali. Dalam hal ini kalau bidang itu adalah hati manusia maka sarana pembersihnya adalah darah Yesus. Tetapi hati akan selalu dapat dikotori lagi oleh dosa, sebab manusia masih hidup di dunia. Dunia yang penuh dengan dosa. Mereka tidak yakin manusia bisa sempurna di bumi, ini pandangan yang keliru
    Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga di mana tidak ada Iblis, maka juga tidak ada dosa. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari Iblis. Selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa. Mereka berpikir bahwa dosa pasti dilakukan.
    Pemikiran di atas ini mengisyaratkan bahwa manusia seperti sebuah papan yang terletak di pinggir jalan yang dilalui berbagai kendaraan. Tidak bisa tidak papan itu akan dikotori debu. Karena pengertian ini maka mereka harus selalu melakukan pengakuan dosa dalam liturgi dan sekaligus berita pengampunan dosa demi pembersihan yang harus selalu dilakukan. Dengan demikian cara menanggulangi dosa adalah datang ke gereja untuk mengikuti liturgi di mana di dalamnya terdapat litani (sejenis doa) pengakuan dosa dan berita pengampunan. Usai dari kebaktian di gereja mereka merasa telah menerima pengampunan. Gereja seperti itu mengajarkan cara penyelesaian dosa yang tidak tuntas. Mereka tidak mengajarkan kesempurnaan secara proporsional.
    Harus kita sadari bahwa manusia bukanlah papan. Papan adalah benda mati yang tidak dapat menghindarkan diri dari debu yang dapat menempel padanya, tetapi manusia dalam kehendak bebas dan kemampuan yang Allah berikan dapat menghindarkan diri dari debu atau kotoran dosa. Satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah adalah bahwa Allah menempatkan manusia pada keadaan yang tidak dapat menghindari kesalahan. Terdapat cara lain yang diajarkan suatu aliran denominasi gereja dalam melakukan pemberesan atau penyelesaian dosa. Seseorang yang telah melakukan suatu pelanggaran atau dosa datang ke gereja di suatu bilik “pengakuan dosa”. Bilik tersebut berdampingan dengan bilik lain yang di dalamnya terdapat seorang rohaniwan. Seorang yang berbuat dosa tersebut harus mengaku dosa yang dilakukan dalam bilik pengakuan dosa tersebut. Pola pemberesan dosa seperti ini adalah penyelesaian yang tidak tuntas. Pengakuan dosa harus disertai pertobatan, artinya perubahan pikiran dan berusaha untuk tidak melakukan dosa yang sama lagi, selanjutnya harus mengenakan gaya hidup Tuhan Yesus. Dengan cara berpikir yang salah di atas, maka seseorang tidak akan berusaha untuk sempurna.
    0 min
  • Rencana Semula
    Rencana semula Allah menciptakan manusia agar segambar dan serupa dengan Allah merupakan rencana penciptaan manusia dengan keadaaan unggul. Allah tidak pernah bermaksud menciptakan sesuatu yang bercacat dan bercela. Allah yang sempurna adalah Allah yang menciptakan sesuatu yang pasti juga sempurna. Itulah sebabnya dalam Kejadian 1:31 Firman Tuhan mengatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Sungguh amat baik menunjuk kepada kesempurnaan ciptaan-Nya.
    Namun harus dipahami bahwa kesempurnaan yang diciptakan oleh Allah bukan berarti sudah selesai. Bagi Allah sudah selesai, tetapi bagi manusia belum. Bagi manusia belum selesai, artinya manusia harus mengembangkan diri untuk bisa berkeadaan serupa dengan Allah. Dalam Kejadian 1:26 Firman Tuhan mencatat: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”.
    Menciptakan manusia segambar (tselem) dan serupa (demuth) dengan Allah barulah rencana Allah. Tselem menunjuk pada komponen-komponen yang ada pada Allah yang juga pada manusia, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Adapun demuth-nya adalah kualitas dari komponen-komponen tersebut.
    Pada kenyataannya Allah hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tetapi rupanya (demuth) tidak. Hal ini jelas tertulis di dalam Kejadian 1:27, Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Adam bertanggung jawab untuk mengembangkan diri agar dapat serupa dengan Allah. Manusia bertanggung jawab mengembangkan diri untuk menjadi lengkap dan utuh, yang sama dengan mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.  Tetapi ternyata manusia gagal mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). “Kata kehilangan” dalam Roma 3:23 dalam teks aslinya adalah hustereo (ὑστερέω) yang memiliki banyak pengertian, antara lain: to come late or too tardily, to be left behind in the race and so fail to reach the goal, to fall short of the end , fail to become a partaker, fall back from, to be inferior in power, influence and rank, to be inferior to, to lack (be inferior) in excellence, worth (tertinggal atau terlalu terlambat, tertinggal dalam perlombaan dan gagal mencapai tujuan, tidak mencapai akhir, gagal menjadi pengikut yang mengambil bagian, jatuh dari, menjadi inferior dalam kekuasaan, pengaruh dan tingkatan atau level, sangat rendah, kurang, rendah dalam keunggulan dan kelayakan). Keberdosaan membuat manusia tidak mampu mencapai standar manusia ideal seperti yang dikehendaki oleh Allah. Manusia gagal menjadi manusia yang sempurna menurut Allah.
    Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus bertujuan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula tersebut. Hal ini sama artinya agar manusia menjadi sempurna seperti Bapa. Bapa di sini adalah mewakili lembaga Elohim, sebab pada waktu Yesus mengatakan hal itu, diri-Nya sedang mengosongkan diri menjadi manusia. Pada waktu itu Yesus juga belum mencapai kesempurnaan sebagai Kristus. Itulah sebabnya Ia menunjuk kepada Bapa sumber segala kebaikan dan kesempurnaan. Tentu setelah Yesus mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan (penggubah) bagi mereka yang taat kepada-Nya. Dengan demikian setiap orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus mengisi sepanjang hidupnya di bumi hanya untuk serupa dengan Yesus; sempurna seperti Dia.
    0 min
  • Yesus, Kebenaran Kita
    Pemahaman yang salah mengenai Yesus sebagai kebenaran, dijadikan sebagai alasan oleh mereka untuk pembenaran diri. Sungguh sangat benar bahwa kita tidak boleh membangun kebenaran kita sendiri, tetapi kebenaran oleh iman kepada anak Allah, sehingga Tuhan Yesus menjadi kebenaran kita (Flp. 3:9-10). Yesus menjadi kebenaran kita memiliki dua arti. Pertama, bahwa hanya oleh korban-Nya manusia dapat diperdamaikan dengan Allah. Tidak ada jalan lain untuk ini. Allah menerima kita karena melihat darah yang dicurahkan, sehingga kita diperkenan menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen terkunci dalam kebodohan. Mereka merasa diri sudah dibenarkan. Kemudian merasa sudah selamat tanpa perjuangan untuk menjadi sempurna
    Mereka memandang bahwa Allah Bapa melihat Yesus yang sudah sempurna menudungi atau melingkupi atau menutupi orang percaya, dan orang percaya bersembunyi di balik jubah Tuhan Yesus. Seakan-akan semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus, sudah benar di mata Allah, karena Yesus menjadi kebenaran mereka. Sehingga mereka merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah dan tidak perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertumbuh menjadi sempurna. Mereka salah memahami pengertian bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik. Hal ini juga didasarkan pada pernyataan Kitab Suci bahwa perbuatan baik seperti kain kotor. Mereka tidak melihat konteks bahwa ayat itu muncul di zaman Yesaya, di mana tidak ada yang baik di antara bangsa Israel. Kalau ada kebaikan, maka kebaikannya seperti kain kotor.
    Setelah kita ditebus oleh darah Yesus dan diperdamaikan dengan Allah, maka kita harus memberi diri untuk diubah. Sebab itulah ada proses pemuridan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui Roh Kudus (Mat. 28:18-20). Berusaha hidup sempurna bukan untuk meraih keselamatan, sebab kita sudah ada dalam keselamatan. Menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus merupakan panggilan istimewa bagi umat yang terpilih untuk bertumbuh menjadi seperti Yesus, agar dilayakkan masuk menjadi anggota keluaraga Kerajaan, yang nantinya akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Perlu digaris bawahi di sini, menjadi anggota keluarga Kerajaan tidak sama dengan menjadi anggota masyarakat. Menjadi orang Kristen proyeksinya adalah menjadi anggota keluarga Kerajaan. Itulah sebabnya hidup selama 70-80 tahun sesungguhnya hanya persiapan untuk masuk ke dalam Rumah Bapa. Tidak ada tujuan lain selain hal ini.
    Maksud kedua dari kalimat bahwa Yesus menjadi kebenaran kita adalah bahwa perilaku kita harus berstandar diri Yesus sendiri. Yesus adalah pola dengan mana kita membangun diri kita. Dia adalah model kita, sebab Dia adalah pokok keselamatan. Pokok keselamatan artinya penggubah (Yun. Aitios). Orang percaya tidak mengenakan hukum manapun sebagai kebenaran, tetapi Yesus sebagai hukumnya. Dengan demikian karakter Yesus dengan segala prinsip-Nya adalah kebenaran kita. Itulah sebabnya Paulus bisa mengatakan bahwa hidupnya bukan dia lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam dirinya.
    Sesungguhnya mengemukakan alasan-alasan di atas tersebut hanyalah usaha untuk membenarkan diri ketika mereka tidak berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Alasan-alasan tersebut membuat gairah hidup seorang Kristen menjadi padam untuk menjadi sempurna. Pada dasarnya mereka tidak mau mengikut Yesus dengan benar, dengan segala pertaruhan yang harus ditaruh. Pertaruhan mengikut Yesus adalah kesediaan untuk hidup sama seperti Dia hidup. Sesungguhnya percaya kepada Yesus bukan hanya mengakui statusnya sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan perkataan atau pikiran. Percaya kepada Yesus seharusnya mengikuti jejak-Nya, yaitu hidup sama seperti Dia hidup.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…