Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hidup Secara Luar Biasa
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus seperti Bapa, maksudnya dalam konteks harus melakukan kebaikan bagi semua orang, yaitu kepada orang baik maupun orang jahat, kepada orang benar maupun orang yang tidak benar (Mat. 5:45-48). Dalam teks tersebut Tuhan Yesus berkata: Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”
    Di ayat-ayat sebelumnya Tuhan Yesus menunjukkan pula perbedaan antara hukum yang dipahami orang beragama pada umumnya dan hukum yang harus dipahami dan dilakukan orang percaya. Dalam perikop ini Tuhan Yesus mengemukakan beberapa hal, antara lain mengenai pembunuhan, kemarahan, tuduhan kafir terhadap saudara lain, sikap terhadap orang yang memusuhi, sumpah dan lain sebagainya. Tuhan Yesus menekankan agar dalam segala hal dan kepada semua orang, orang percaya harus bersikap seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menasihati agar kita sempurna seperti Bapa.
    Allah Bapa adalah satu-satunya Pribadi yang mempunyai segala kuasa, kemuliaan dan Kerajaan, tetapi dalam menyelenggarakan pemerintahan-Nya, Bapa menyerahkannya kepada Tuhan, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah kepala pemerintahan jagad raya ini sebagai Mandataris Allah dalam mengelola kehidupan. Tuhan Yesus menaungi semua manusia dari suku manapun, bangsa manapun, golongan dan agama manapun. Walaupun banyak manusia, bahkan sebagian besar manusia tidak mengenal Dia dan tidak mengakui pemerintahan-Nya, tetapi Dia tetap kepala pemerintahan kehidupan ini.
    Sebagai anak-anak Theos yang juga adalah Bapa, kita harus juga bersikap sama seperti Bapa terhadap semua orang. Memang pertama perhatian kita kepada saudara seiman, selanjutnya juga kepada semua orang. Seakan-akan kita sebagai anak Allah Bapa turut menaungi semua orang. Kasih kita kepada semua orang tidak dibatasi pada suku, golongan dan agama. Kepada semua orang kita harus bersikap bijaksana dan penuh kasih. Semua orang di sini tentu yang pertama anggota keluarga kita, yaitu orang tua, pasangan hidup, anak-anak, keluarga besar, tetapi juga kepada pegawai-pegawai kita, kolega bisnis, tetangga dan semua orang yang kita jumpai.  Dalam hal ini, kita diajar untuk menjadikan semua manusia adalah sesama kita tanpa membeda-bedakan. Harus diingat bahwa suatu saat dalam Kerajaan Bapa dan Tuhan Yesus, kita akan memerintah semua bangsa. Karena itu mengasihi semua orang harus dimulai dari sekarang.
    Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Luar biasa bukan dalam penampilan lahiriah, harta, gelar, pangkat, kedudukan dan lain sebagainya; tetapi orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Dalam Mataius 5:20, Tuhan Yesus berkata: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama yang dipandang sebagai orang saleh yang melebihi masyarakat. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus lebih benar dari mereka. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa. Tingkat keluarbiasaannya adalah kehidupan moral yang melebihi tokoh-tokoh agama.
    0 min
  • Jalan Hidup
    Pada umumnya orang yang bermoral, masyarakat yang santun dan beretika akan mengusahakan diri menjadi manusia yang baik. Demikian pula dengan agama-agama pada umumnya, juga mengusahakan agar umatnya berpribadi baik. Namun persoalannya adalah apakah kebaikan itu?  Baik yang bagaimanakah yang dipahami oleh mereka? Apakah mereka benar-benar benar di mata Allah (tentu dalam ukuran manusia, bukan distandarkan dengan kebenaran Allah yang mutlak)? Benar-benar benar di mata Allah untuk ukuran manusia bersifat relatif sesuai dengan ukuran dan porsi yang diberikan kepada masing-masing individu dan komunitasnya. Itulah sebabnya nanti di pengadilan Allah ada banyak buku yang dibuka, dan setiap orang dihakimi berdasarkan apa yang tertulis dalam buku-buku itu (Why. 20:12). Dalam hal ini masing-masing orang memiliki ukuran nurani dan norma yang berbeda (Rm. 2:12-16). Dengan demikian, sesungguhnya kebaikan itu relatif, tergantung porsi dari Tuhan yang diberikan kepada masing-masing individu dan komunitas.
    Pernahkah kita mempersoalkan bagaimana manusia yang baik itu menurut umat Perjanjian Baru? Apa ukuran kebaikan itu? Tentu suatu kebaikan harus ditinjau dari perspektif atau sudut pandang Tuhan, bukan kebaikan menurut manusia. Mengapa? Sebab Tuhan adalah satu-satunya arsitek agung yang menciptakan manusia, jadi Dialah yang berhak menentukan ukuran kebaikan itu. Idealnya, ukuran kebaikan bagi manusia tidak boleh diukur dengan ukuran apa pun dan manapun. Tuhan yang menetapkan ukuran kebaikan dari perspektif-Nya kepada masing – masing individu. Tuhan yang tahu apakah kebaikan itu sesungguhnya. Inilah yang sebenarnya merupakan rencana Allah sejak semula. Menciptakan manusia yang baik dalam ukuran Tuhan, yaitu yang memiliki gambar (Tselem) dan rupa (Demuth) Allah.
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah merusak rencana Allah tersebut atau menundanya. Rencana itu digenapi pada zaman Perjanjian Baru, yaitu dengan adanya kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang menyediakan keselamatan, yaitu fasilitas yang cukup untuk membawa manusia kembali ke rancangan Allah semula. Dengan demikian, sesungguhnya rancangan Allah untuk manusia adalah manusia menjadi makhluk yang memiliki kebaikan dalam ukuran Tuhan, yaitu dari perspektif yang dirasakan oleh Allah. Bukan diukur dengan hukum-hukum yang tertulis. Hukum-hukum yang tertulis tidak memiliki perasaan. Hukum seperti itu mati, tetapi kalau ukuran hukum itu adalah Tuhan sendiri, yaitu pikiran dan perasaan-Nya, ini adalah hukum yang hidup, sebab Allah hidup.
    Tuhan Yesus tegas sekali mengatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Sempurna seperti Bapa artinya sanggup memahami apa yang Bapa inginkan untuk dilakukan. Dalam hal ini Allah menjadi ukuran kebenaran atau kebaikan. Bukan hukum yang tertulis. Hukum tertulis secara umum seperti yang kita kenal sekarang, yang berakar pada Dekalog yang dipahami secara legalistik. Manusia beragama tidak berpusat pada karya salib Kristus, tetapi berpusat pada hukum; tetapi orang percaya berpusat kepada Allah sebab Allahlah hukumnya. Dengan hal ini sangat jelas bahwa tujuan keselamatan adalah mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu menjadikan manusia yang memiliki landasan hukum Allah sendiri.
    Sesungguhnya Kekristenan tidak dapat dipadankan dengan agama manapun, Kekristenan adalah jalan hidup, di mana jalan hidup itu adalah jalan yang pernah dilalui atau dikenakan oleh Tuhan Yesus sebagai model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Agama-agama adalah jalan hukum artinya hukum yang harus dijalani. Tetapi orang percaya adalah jalan hidup, artinya yang dijalani adalah kehendak Allah, yaitu segala sesuatu yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Biasanya orang-orang beragama dalam segala aspeknya dipandu etika yang didasarkan pada hukum. Tetapi Kekristenan dipandu oleh Roh Kudus untuk mengenakan gaya hidup Yesus Allah Anak, yaitu melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
    0 min
  • Harus Ada Usaha
    Terkait dengan perubahan perilaku, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa perilaku orang percaya dapat berubah secara ajaib, mistis, otomatis atau dengan sendirinya dan bersifat mukjizat. Perubahan perilaku harus terjadi melalui sebuah proses yang ketat. Di alam kawasan materi atau lahiriah, paralel dengan kawasan rohani. Sebagaimana proses pertumbuhan fisik adalah proses natural melalui perubahan atau pertumbuhan bertahap yang ketat, demikian pula dengan perubahan atau pertumbuhan rohani, yaitu moral atau etika atau manusia batiniah yang terkristal dalam perilakunya. Itulah sebabnya ada panggilan bagi orang percaya untuk masuk dalam proses pemuridan. Panggilan untuk dimuridkan guna mengalami perubahan atau pertumbuhan ini suatu kemutlakkan yang tidak boleh dihindari atau ditolak oleh orang percaya. Menolak proses ini berarti menolak keselamatan, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula. Dalam hal ini nampak apakah seseorang benar-benar memiliki keselamatan sejak di bumi ini, yaitu melalui perilaku yang diubah semakin sempurna.
    Untuk hal ini tidak bisa tidak, harus ada usaha individu guna perubahan atau pertumbuhan tersebut. Itu adalah usaha untuk memperoleh atau mengalami perubahan atau pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Ke arah yang lebih baik maksudnya ke arah di mana seseorang bisa berkeadaan utuh, lengkap atau tidak kurang, artinya diusahakan menjadi manusia seperti rancangan semula Allah. Berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, artinya sudah dianggap cukup oleh Allah berdasarkan tuntutan atau porsi yang ditetapkan kepada masing-masing individu, sebab yang diberi banyak dituntut banyak atau sebaliknya yang diberi sedikit dituntut sedikit. Ini berarti telah selesai, tuntas, yaitu waktu yang disediakan Allah sudah habis, diharapkan seseorang sudah menjadi manusia seperti yang ditargetkan Allah pada dirinya. Sempurna berarti juga teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan dan baik sekali. Ini artinya sejak di dunia seseorang yang diproses untuk menjadi sempurna sudah dapat berfungsi sebagai anak-anak Allah yang menjadi terang dan garam bagi sesamanya. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang menyenangkan hati Allah dan menjadi berkat bagi sesama.
    Oleh karena tatanan di atas, maka tidak bisa tidak untuk berubah atau mengalami pertumbuhan harus ada usaha individu. Kita sebagai orang yang terpanggil untuk mengalami perubahan atau pertumbuhan ke arah Kristus (semakin serupa dengan Yesus) harus bersedia diubahkan. Untuk ini kita harus berusaha dengan segenap hidup. Memang hidup ini hanya untuk mengalami perubahan dan pertumbuhan menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah yang prototipe atau modelnya adalah Tuhan Yesus. Ini bukan usaha untuk mencari atau mencapai keselamatan dengan perbuatan baik, tetapi usaha untuk meresponi anugerah Allah dan menghargainya, yaitu memenuhi maksud keselamatan itu diberikan. Jadi usaha ini tidak merusak prinsip utama sola gratia (hanya oleh anugerah) dan sola fide (hanya oleh iman).
    Usaha mengalami perubahan dan pertumbuhan adalah usaha untuk menggenapi sola scriptura, artinya hanya oleh Firman. Firman tidak dapat dengan sendirinya tergores dalam pikiran kalau tidak dibaca, dipelajari dan diusahakan untuk dilakukan. Dengan keseriusan memahami Logos secara konsekuen dan konsisten secara kognitif, maka seseorang akan memperoleh Rhema melalui berbagai peristiwa. Rhema inilah yang menjadi makanan rohani dan menumbuhkan iman yang sejati (Mat. 4:4; Rm. 10:17). Sebagaimana kalau mau pintar seseorang harus rajin belajar, kalau mau cakap dan ahli harus banyak berlatih, kalau mau kuat dan sehat harus memiliki pola hidup dan pola makan yang baik serta berolahraga. Demikian pula kalau mau berubah dan bertumbuh menjadi semakin baik, harus ada usaha yang sungguh-sungguh. Hal ini hendaknya tidak dipahami sebagai usaha untuk menyombongkan diri serta anthroposentris.
    0 min
  • Pertobatan Dalam Kekristenan
    Dalam teks bahasa Yunani untuk kata bertobat ditemukan dua kata, yaitu metamelomai dan metanoia. Metamelomai berarti menyesali diri (to regret atau to repent oneself). Kata inilah yang digunakan oleh Paulus dalam 2 Korintus 7:8, yang diterjemahkan menyesal dalam Bahasa Indonesia, tetapi dalam King James diterjemahkan repent. Kata ini sejajar dengan kata naham dalam teks Ibrani. Kata ini sebenarnya lebih dekat diterjemahkan menyesal. Seorang yang menyesal belum tentu bertobat, kata menyesal lebih bersifat umum. Pertobatan lebih menunjukkan perubahan pikiran, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Kata ini terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan nous yang artinya “pikiran” (mind). Metanoia berarti perubahan pikiran. Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Kata metanoia lebih sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan yang sejati. Kata ini sejajar dengan kata shub dalam teks Ibrani. Kata inilah yang digunakan beberapa kali oleh Yohanes Pembaptis dan juga digunakan oleh Tuhan Yesus. Pertobatan Kristiani lebih menekankan perubahan pikiran daripada berorientasi pada perbuatan fisik yang kelihatan. Namun, sangatlah jelas, kalau pola berpikir seseorang berubah, maka perbuatannya dan seluruh gaya hidupnya pun juga berubah.
    Adalah hal yang sangat penting untuk bisa membedakan pertobatan menurut Perjanjian Baru, yaitu untuk orang percaya pada zaman anugerah (zaman Tuhan Yesus), dengan pertobatan menurut Perjanjian Lama untuk bangsa Israel, yang juga dipahami oleh agama samawi lainnya. Bagi orang Israel di Perjanjian Lama, pertobatan pada umumnya menyangkut dua aspek, antara lain: Pertama, perubahan tingkah laku atau perbuatan. Kehidupan umat yang meninggalkan Taurat, hidup dalam tingkah laku yang tidak menuruti hukum Taurat harus kembali kepada kehidupan sesuai dengan hukum Taurat. Pertobatan ini adalah pertobatan moral. Pertobatan seperti ini juga dimiliki oleh agama-agama pada umumnya.
    Kedua, kesediaan meninggalkan praktik sinkretisme (mencampurkan atau menggabungkan beberapa agama atau keyakinan). Kehidupan umat yang meninggalkan ibadah kepada Yahweh, kembali beribadah kepada Yahweh. Pada zaman dahulu bangsa Israel sering tergoda menyembah kepada allah-allah yang disembah bangsa-bangsa kafir, seperti Baal, Dagon, Asyera, Asitoret, Milkom, Molokh, dan banyak dewa lain. Pertobatan di dalam Perjanjian Lama berarti meninggalkan penyembahan kepada dewa-dewa tersebut, kemudian kembali melakukan ibadah kepada Yahweh di kemah suci atau di bait Allah.
    Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif). Pemahaman hidup itu antara lain: Siapa Allah; siapa manusia; bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidup; manusia akan mati dan menyongsong kehidupan di balik kubur; manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah; manusia harus menjadi seperti yang Sang Khalik kehendaki; dan lain sebagainya.
    Kesadaran moral memang akan membangkitkan penghargaan pada nilai-nilai etika dan mengubah perilaku. Tetapi, kesadaran atau pemahaman tentang kebenaran akan membangkitkan penghargaan kepada nilai-nilai spiritual dan kenyataan kekekalan. Kesadaran atau pemahaman terhadap kebenaran inilah yang membangkitkan pertobatan yang sejati, pertobatan yang benar atau yang ideal di hadapan Tuhan. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, tetapi juga seluruh filosofi hidupnya. Sehingga seluruh gaya hidupnya pun akan berubah dan semakin radikal sampai menjadi sempurna seperti yang Allah kehendaki.
    Orang percaya harus selalu merasa miskin di hadapan Allah, artinya kesadaran bahwa dirinya belum berkeadaan seperti target yang harus dicapai sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah (Mat. 5:3).
    0 min
  • Memberi Diri Dimuridkan
    Berbicara mengenai kesempurnaan hendaknya kita tidak bersikap curiga, skeptis dan menolak. Kecurigaan bisa timbul disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap pengajaran atau sistem teologi yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi atau diterima seseorang bukan karena perbuatan baik. Pengajaran atau sistem teologi ini bukan sesuatu yang salah, tetapi benar sekali. Perbuatan baik bagaimanapun tidak dapat meloloskan manusia dari hukuman Allah dan sama sekali tidak akan dapat menyelamatkannya. Lagi pula, semua orang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan. Semua orang yang telah jatuh dalam dosa adalah orang yang harus dihukum, sehingga perbuatan baik mereka yang bagaimanapun tidak ada artinya sama sekali. Tuhan Yesus telah mati untuk semua manusia, bahkan ketika mereka masih berdosa (Rm. 5:8, akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa).
    Namun demikian, bukan berarti panggilan untuk menjadi sempurna adalah usaha atau kekuatan diri untuk memiliki keselamatan dengan usaha sendiri. Seakan-akan seseorang hendak meraih dan memiliki keselamatan dengan usaha menjadi sempurna dengan mengabaikan korban Tuhan Yesus di kayu salib. Kita harus menyatakan kebenaran bahwa keselamatan hanya oleh anugerah semata-mata, bukan karena perbuatan baik manusia atau jasanya (Ef. 2:8-9, Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri). Tetapi setelah mengenal jalan keselamatan, seseorang harus berjuang untuk mewujudkan keselamatan tersebut dengan menjadi sempurna, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula.
    Dalam usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, manusia harus memberi diri digarap oleh Tuhan sebagai responnya. Tanpa respon yang memadai, maka proses dikembalikannya seseorang ke rancangan Allah semula tidak akan terwujud dalam kehidupan ini. Respon inilah yang dimaksud dengan iman. Iman bukan sekadar sebuah persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Iman bukan hanya di wilayah pikiran, di mana seseorang hanya mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman adalah tindakan, seperti yang dilakukan oleh Abraham. Abraham disebut sebagai bapa orang percaya sebab hidupnya menjadi pola dengan mana orang percaya membangun imannya kepada Tuhan. Abraham menerjemahkan atau mewujudkan imannya dengan tindakan-tindakan, yaitu dimulai dari kesediaannya meninggalkan Urkasdim dan kaum keluarganya, untuk menemukan negeri yang memiliki dasar dan dibangun oleh Allah sendiri (Ibr. 11:8-10).
    Orang yang mendengar dan menerima berita Injil harus memberi diri dimuridkan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus, yang adalah prototipe manusia yang dikehendaki oleh Allah. Untuk layak menjadi murid Tuhan Yesus atau bisa diubah oleh Tuhan Yesus, seseorang harus meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33). Sama seperti Abraham meninggalkan Urkasdim dan kaum keluarganya, orang percaya juga harus meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Proses pemuridan ini adalah proses untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, dan merupakan pergumulan sepanjang hidup. Hidup sebagai orang percaya hanya untuk perubahan ini. Hal ini bukan suatu usaha yang berpusat pada manusia (anthroposentris). Kesempurnaan dalam Tuhan atas diri seseorang adalah tindakan dan keadaan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini adalah kehidupan yang berpusat pada Allah (Teosentris). Justru di sini orang percaya menjadi Teosentris secara benar. Tuduhan bahwa pengajaran mengenai kesempurnaan membuat seseorang menjadi anthroposentris, menunjukkan ketidakpahamannya terhadap kebenaran ini.
    0 min
  • Mengubah Kodrat
    Bagi orang beragama pada umumnya yang memiliki hukum-hukum atau syariat yang harus ditaati, maka mereka tidak memerlukan perubahan kodrat hidup. Bagi mereka yang penting adalah pembinaan atau pendidikan agama, supaya umat mengenal tatanan hukum mereka dan memenuhinya dalam hidup keseharian. Seperti bangsa Israel, mereka tidak perlu mengalami kelahiran baru yang mengubah kodrat hidup mereka, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Dengan kodrat manusia (human nature) saja mereka sudah bisa melakukan hukum-hukum atau syariat agama mereka. Keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa masih berpotensi menjadi manusia yang bermoral baik. Tentu kebaikan di sini adalah kebaikan yang sangat relatif. Kebaikan yang relatif artinya kebaikan dari sudut pandang mata manusia yang bisa berubah dan masing-masing individu atau komunitas memiliki perspektif yang berbeda.
    Dalam hal tersebut di atas harus dipahami bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak membuat manusia harus atau mesti menjadi seperti hewan. Manusia tetap dapat memiliki moral yang baik, karena masih berkemampuan untuk melakukan perbuatan baik berdasarkan hukum. Manusia masih bisa berkuasa atas dosa, dalam arti kejahatan yang melanggar norma manusia. Karena hal inilah maka Allah berkata kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, tetapi ia harus berkuasa atasnya (Kej. 4:7, tapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya). Dalam kasus tersebut jelas sekali bahwa Kain mestinya dapat menghindari praktik pembunuhan, tetapi ternyata Kain memilih untuk membunuh adiknya. Dalam kehendak bebasnya Kain memilih membunuh adiknya.
    Adalah sangat keliru kalau seseorang berpikir bahwa kejatuhan manusia membuat manusia tidak dapat berbuat kebaikan sama sekali. Kebaikan yang mampu manusia lakukan adalah kebaikan berdasarkan norma umum, bukan berdasarkan kesucian Allah. Berdasarkan norma umum artinya berdasarkan dekalog yang diterapkan secara legalistis. Legalistis artinya melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Kalau hukum berbunyi: Jangan membunuh artinya tidak menghabisi nyawa seseorang dengan tindakan pembunuhan (Ing. murder). Kalau hukum berbunyi: Jangan berzina artinya tidak melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangan sahnya atau belum disahkan secara hukum agama.
    Umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus hidup berdasarkan kesucian Allah.  Berdasarkan kesucian Allah adalah tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Untuk bisa memiliki kemampuan selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, tidak cukup hanya melalui pembinaan atau pendidikan oleh sistem agama atau manusia, tetapi harus dikerjakan oleh Roh Kudus atas mereka yang mengasihi Allah. Penggarapan Roh Kudus tersebut bisa sampai pada tingkat di mana kodrat seseorang diubah, dari kodrat manusia (human nature) berubah berkeadaan menjadi berkodrat Ilahi (divine nature).
    Kodrat Ilahi dapat menempatkan manusia atau memberi kemampuan manusia untuk dapat mengerti kehendak Allah. Kodrat yang diubah berarti pola berpikir yang diubah sama sekali (Flp. 2:5-7). Pola berpikir yang diubah dari pola berpikir manusia menjadi seperti pola berpikir Tuhan Yesus, akan membuat seseorang dapat mengerti kehendak Allah dalam hidupnya dengan tepat. Setelah mengerti kehendak Allah, maka barulah dapat melakukan kehendak Allah dengan benar. Perubahan kodrat ini sama dengan pengalaman kelahiran Baru. Hal ini hanya dapat terjadi dalam kehidupan umat pilihan Perjanjian Baru. Roh Kudus menuntun orang percaya melalui proses yang panjang sampai seseorang mengalami kelahiran baru. Kelahiran baru adalah titik awal dari perjalanan di mana kodrat Ilahi ditemukan dalam kehidupan seseorang.
    0 min
  • Apakah Kesempurnaan Adalah Fantasi?
    Tidak dapat dibantah adanya orang-orang Kristen, bahkan teolog atau pengajar Alkitab yang menganggap bahwa kesempurnaan adalah ketiadaan atau sebuah fantasi. Mereka memandang bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang tidak akan pernah terwujud atau tidak pernah tergapai dalam kehidupan manusia. Mereka memandang bahwa orang percaya yang mencari kesempurnaan adalah orang yang mencari ketiadaan dan berfantasi kosong. Mereka yang mencari kesempurnaan dipandang sebagai orang yang sombong dan dianggap mengikuti ambisi liar di dalam dirinya. Orang yang mencari kesempurnaan dipandang sebagai tidak mensyukuri anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka berpandangan bahwa tanpa berbuat baik manusia sudah selamat. Benarkah demikian?
    Kesempurnaan bukanlah fantasi sebab kesempurnaan dalam konteks kehidupan orang percaya memiliki ukuran Tuhan sendiri. Kalau Tuhan adalah Pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, maka ukuran kesempurnaan juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi atau halusinasi. Orang yang tidak mengakui adanya kesempurnaan yang berdasarkan perspektif Allah, bisa mendekati keadaan ateis, artinya tidak mengakui keberadaan Allah. Orang Kristen seperti ini tidak berusaha untuk berinteraksi dengan Allah untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Mereka dapat membuat rumusan, definisi, kajian, dan doktrin-doktrin teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah secara pribadi.  Ironinya justru kelompok ini adalah mereka yang belajar teologi dan menjadi pengajar di sekolah-sekolah teologi dan bahkan menjadi pejabat sinode di dalam gereja.
    Biasanya orang yang memandang bahwa kesempurnaan adalah fantasi, tidak akan dapat dicapai di bumi berpendirian bahwa hanya di surga saja ada kesempurnaan. Bisa dipastikan bahwa orang-orang ini tidak pernah memahami dengan benar bagaimana surga itu sebenarnya. Biasanya mereka memandang surga sebagai alam mistis seperti dongeng-dongeng yang ada di dalam kehidupan masyarakat umum, seperti konsep mengenai khayangan yang dianggap seperti sejenis surga. Surga yang dimaksud Alkitab tidaklah demikian. Surga sebuah pemerintahan seperti yang berlangsung di bumi dengan segala aspeknya. Bedanya di surga tidak ada kejahatan seperti di bumi, sebab di sana juga sudah tidak ada lagi sosok jahat yang mencobai manusia dan mendorong untuk  memberontak kepada Allah. Sosok itu adalah Lusifer. Justru orang yang memandang kesempurnaan hanya dicapai nanti di surga tidak realistis, bahkan bodoh, sebab sudah jelas bahwa di surga nanti terdapat kesempurnaan, dalam segala sesuatu baik adanya. Hal ini tidak perlu dibicarakan.
    Seperti orang yang berkata, bahwa tidak ada kemampuan untuk bertahan hidup di padang pasir. Kemampuan bertahan hidup hanya mereka yang tinggal di kota, di mana banyak supermarket dan berbagai fasilitas yang lain. Harus dipersoalkan berapa lama di padang pasir, apakah membawa bekal dan lain sebagainya. Faktanya ada orang yang yang tersesat di padang pasir, dapat juga terselamatkan. Demikian pula dengan kesempurnaan. Harus diperkarakan apa pengertian sempurna itu? Sempurna yang bagaimana? Sempurna untuk siapa? Dan lain sebagainya.
    Seperti yang dibedah dalam buku ini, bahwa kesempurnaan harus dipandang dari perspektif Allah. Ukuran kesempurnaan adalah Tuhan Yesus. Yesus adalah model atau prototype manusia yang dikehendaki Allah sesuai dengan rancangan semula-Nya. Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, kita memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya dengan perjuangan untuk sempurna. Sangatlah picik kalau seseorang memandang kesempurnaan sebagai fantasi dan halusinasi, sementara ia setuju bahwa orang percaya harus menjadi seperti Yesus. Jadi sangat keliru kalau dikatakan bahwa kesempurnaan tidak ada, yang ada adalah kedewasaan. Kedewasaan pada dasarnya adalah proses untuk menuju kesempurnaan. Tidak pernah dapat dikatakan bahwa kedewasaan adalah keadaan statis,
    0 min
  • Teosentris
    Seperti yang disinggung di atas bahwa kesucian atau kebenaran hidup orang percaya tidak dapat terukur oleh ukuran hukum, hal tersebut hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh Allah sendiri sebab Allahlah hukumnya. Allah sebagai hukum kehidupan artinya bahwa kehendak Allah yang menjadi ukuran kesucian dan kebenaran seseorang. Prinsip hidup yang harus dikenakan orang percaya adalah prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Prinsip itu adalah:  “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Kata “makanan-Ku” dalam teks aslinya adalah broma (βρῶμά) yang artinya solid food atau nourishment. Hal ini menunjuk makanan pokok atau makanan penting bernutrisi yang menentukan kelangsungan hidup. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Lama diterjemahkan rezeki, yang menunjuk kehidupan. Dalam hal ini melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi.
    Oleh sebab itu orang percaya harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Orang percaya harus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan memahami apakah dirinya sudah berkeadaan berkenan atau belum. Orang percaya yang benar selalu “menggelar perkara” di hadapan Allah. Perkara yang digelar adalah dirinya sendiri, yaitu apakah keadaan dirinya sudah berkenan di hadapan Allah atau belum. Orang percaya yang menggelar perkara di hadapan Allah selalu mempersoalkan: Apakah ada hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki yang masih dilakukan atau apakah keberadaan orang percaya tersebut sudah memuaskan hati Allah atau belum. Dalam hal ini, kita belajar dari Pemazmur yang mohon agar Tuhan menyelidiki dirinya. Maksud hal tersebut adalah untuk menemukan apakah jalannya serong atau menyimpang (Mzm. 139:23-24).
    Dalam pergumulan hidup untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya tersebut, maka pusat hidupnya bukanlah hukum yang tertulis, tetapi Allah sendiri. Dengan demikian orang percaya tidak bisa tidak harus menjadi teosentris, bukan anthroposentris. Teosentris di sini berarti menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, di mana orang percaya hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri.
    Orang yang tidak bertindak dalam kehendak Allah, sebaik apa pun tindakan tersebut, masih bersifat anthroposentris. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, bahwa sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun mempunyai karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun seseorang membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padanya, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, tetapi jika tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih adalah segala tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8).
    Orang-orang yang memandang atau menuduh bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan di dalam Tuhan adalah bentuk atau sikap anthroposentris, tidak memahami kebenaran. Justru merekalah yang anthroposentris. Mereka pasti tidak memiliki pergumulan yang proporsional, bagaimana mengerti kehendak Allah dan melakukannya, berkenan kepada Allah, berusaha bertumbuh dalam kedewasaan rohani untuk semakin seperti Yesus guna menyenangkan hati Bapa.
    0 min
  • Tidak Terukur
    Berbeda dengan agama-agama samawi, seperti agama Yahudi, di mana kesucian dan kebenaran hidup mereka dapat terukur, kebenaran atau kesucian hidup dalam Kekristenan tidak terukur, sebab dalam Kekristenan tidak ada hukum-hukum atau syariat seperti yang dimiliki agama Yahudi atau agama-agama samawi lainnya. Hukum yang harus dijalani dalam kehidupan orang percaya adalah Allah sendiri, yang sama dengan melakukan kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna menurut Allah. Kalau Allah adalah hukumnya, maka hanya Allah yang tahu dan merasakan kesucian dan kebenaran seseorang. Manusia lain tidak akan pernah tahu dan merasakannya secara tepat, maka orang lain tidak berhak menilai atau menghakiminya.
    Jika hukum yang harus dijalani adalah kehendak Allah, maka tentu saja hanya Allah yang dapat mengukur seseorang, sampai di mana ketaatannya terhadap Allah sendiri. Hanya Allah yang dapat merasakan keberkenanan seseorang terhadap diri-Nya. Hukum yang diberlakukan dalam kehidupan orang percaya adalah Allah sendiri, artinya kehendak-Nya yang menjadi hukumnya. Sesungguhnya hanya Allah saja yang dapat menilai dan merasakan kehidupan seseorang. Dengan demikian hanya Tuhan yang mengukur sampai di mana seseorang mencapai kesempurnaannya. Hanya Allah yang dapat menjadi penilai dan hakimnya.
    Karena hal tersebut di atas, maka tidak ada orang percaya yang boleh merasa bahwa dirinya sudah sempurna, apalagi membandingkannya dengan sesamanya. Bagaimana dirinya tahu sudah sempurna dan membandingkannya dengan orang lain? Nilai kesempurnaan hanya ada pada Allah. Kesempurnaan setiap individu berbeda-beda sesuai dengan pandangan atau penilaian Allah atas masing-masing individu tersebut. Dengan demikian orang percaya tidak bisa dan memang tidak boleh membanggakan diri atas prestasi kerohanian atau moral yang telah dicapainya. Hal ini berbeda dengan agama samawi yang membuka peluang bagi pengikutnya untuk dapat membanggakan kesalehannya, sebab memang kesalehan mereka dapat terukur. Tetapi kesalehan hidup orang percaya tidak dapat terukur oleh manusia lain, sebab tingkat kesalehannya diukur oleh Allah dan disadari oleh diri sendiri dalam pimpinan Roh Kudus.
    Orang percaya harus selalu merasa miskin di hadapan Allah, artinya kesadaran bahwa dirinya belum berkeadaan seperti target yang harus dicapai sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah (Mat. 5:3). Dengan demikian seseorang harus selalu memperbaharui pikirannya supaya semakin mengerti yang dikehendaki oleh Allah. Seiring dengan pembaharuan pikiran, orang percaya mengalami pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah, sehingga lebih mengerti kehendak Allah. Hal ini tidak berlangsung hanya satu kali, tetapi harus terus terjadi atau berlangsung setiap hari. Dengan demikian perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan dari pertobatan ke pertobatan (metanoia), demi menuju kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Kalau pertobatan dalam agama samawi pada umumnya menekankan pada perubahan perilaku yang kelihatan, yaitu untuk mereka yang meninggalkan keyakinannya atau melakukan pelanggaran moral berat yang bertentangan dengan hukum-hukum agamanya, tetapi dalam Kekristenan bukan hanya perubahan perilaku secara umum (hal ini juga penting), tetapi juga perubahan pola berpikir. Perubahan pola berpikir terus menerus sampai dapat memiliki pola berpikir seperti Tuhan Yesus (Flp. 2:5-7). Jika dipersoalkan apakah orang percaya bisa mencapai kesempurnaan? Jawabnya mengapa tidak, tetapi hanya Tuhan yang tahu. Pola berpikir seseorang yang menentukan setiap perilakunya, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hatinya. Hal ini tentu saja hanya Tuhan yang tahu.
    0 min
  • Terukur
    Banyak orang Kristen tidak mau mengerti bahwa orang percaya dipanggil untuk sempurna. Sempurna di sini adalah sempurna dalam ukuran manusia sesuai dengan yang ditargetkan atau dikehendaki oleh Allah untuk dicapai seseorang. Tentu saja kesempurnaan masing-masing individu sesuai dengan kapasitas yang dapat dicapai oleh masing-masing individu tersebut. Dalam hal ini setiap komunitas dan individu memiliki tuntutan yang berbeda-beda. Bagi umat pilihan Perjanjian Lama, mereka hanya dituntut untuk melakukan hukum Taurat sebaik-baiknya atau sesempurna mungkin. Tetapi untuk umat Perjanjian Baru, mereka dituntut untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Standar sempurnanya bukan hukum, tetapi Tuhan sendiri. Itulah sebabnya orang percaya harus berprinsip: Tuhan adalah hukumku.
    Ukuran sempurna bagi umat Perjanjian Lama adalah melakukan hukum Taurat. Ini berarti masing-masing orang memiliki ukuran yang sama yang dapat dibuktikan atau terukur. Sehingga seseorang dapat menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat, yang sama dengan sempurna. Seperti Paulus dalam kesaksian mengenai hidupnya sebelum mengenal Tuhan Yesus, bahwa berdasarkan kebenaran melakukan hukum Taurat, dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Dalam hal tersebut Paulus bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekitarnya, bahwa ia tidak berbuat suatu kesalahan apa pun yang melanggar hukum Taurat. Kata “tidak bercacat” dalam teks aslinya adalah amemptos (ἄμεμπτος). Kata ini berarti blameless, deserving no censure, free from fault or defect (tidak bercacat, pantas tidak terhukum, bebas dari kesalahan). Dengan demikian, kesucian hidupnya yang berdasarkan Taurat dapat terukur.
    Orang-orang yang beragama Yahudi seperti Paulus juga dapat memiliki keberadaan yang sama dengan Paulus. Mereka dapat menyatakan diri sebagai orang saleh, orang benar, dan orang yang tidak bercacat. Pada umumnya agama-agama seperti agama Yahudi yang memiliki hukum tertulis sebagai standar kebenaran atau kesuciannya, kualitas moral, etika, dan perilakunya dapat terukur. Bisa dimengerti, kalau mereka merasa diri sudah benar, sehingga tidak merasa membutuhkan keselamatan dari korban salib Tuhan Yesus Kristus dan mereka juga tidak merasa perlu untuk bertobat. Mereka hanya merasa perlu bertobat jika mereka meninggalkan agamanya atau melakukan pelanggaran moral berat yang bertentangan dengan hukum agamanya.
    Agama seperti agama Yahudi tersebut dapat mengukur apakah seseorang dipandang melanggar hukum atau tidak. Jika melanggar hukum, maka dikenai sanksi atau hukuman. Dalam Taurat terdapat sanksi-sanksi terhadap para pelanggar hukum, dari hukuman ringan, denda sampai pada hukuman mati seperti dirajam batu. Bisa dimengerti kalau agama-agama samawi seperti agama Yahudi ini dapat membangun sebuah sistem masyarakat dan negara berdasarkan hukum agama. Berbeda dengan Kekristenan yang tidak memiliki hukum atau syariat seperti agama samawi tersebut. Kekristenan tidak dapat membangun suatu negara berdasarkan hukum atau syariat Kristen. Negara atau Kerajaan orang percaya yang berdasarkan Tuhan sendiri sebagai hukumnya hanya ada di langit baru dan bumi yang baru.
    Negara yang dibangun berdasarkan hukum agama membangun filosofi dasar bahwa pelanggaran terhadap hukum negara sama dengan pelanggaran terhadap hukum Allah. Itu juga berarti, bahwa pelanggaran terhadap hukum sama dengan dengan perbuatan dosa. Dan perbuatan dosa patut mendapat sanksi atau hukuman. Itulah sebabnya mereka dengan keras dan kejam dapat menghukum seseorang secara semena-mena. Mereka berbuat demikian dengan anggapan sedang membela Allah.  Seperti kasus Stefanus yang dirajam batu oleh orang-orang beragama (Kis. 7:1-60). Tindakan seperti itu adalah tindakan persekusi yang dihalalkan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…