Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kemungkinan Untuk Sempurna
    Banyak orang Kristen yang tidak berusaha untuk menjadi sempurna. Mereka merasa sudah puas dengan hidup Kekristenan yang mereka jalani, tanpa ada geliat yang jelas dan kuat untuk bertumbuh menjadi sempurna. Mengapa demikian? Karena mereka memiliki argumentasi sebagai alasan untuk membela diri keadaan mereka dan menjadi dasar hidup Kekristenan mereka. Biasanya argumentasi yang menjadi alasan mengapa mereka tidak berusaha untuk sempurna, selain anggapan mereka bahwa seseorang tidak dapat sempurna, ada juga alasan-alasan lainnya, yaitu:
    • Pikiran mereka telah tertawan oleh konsep bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
    • Dan ditambahkan lagi bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan dan kelemahan di hadapan Tuhan.
    Dengan pemikiran tersebut, maka mereka bermental blok, artinya sudah merasa tidak akan pernah mencapai kesempurnaan tersebut. Pikiran mereka telah terpasung oleh konsep atau filosofi tersebut, sehingga mereka ibarat prajurit yang sudah kalah perang sebelum maju berperang.
    Memang tidak salah kalau ada pemikiran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dalam kaitannya dengan perilakunya untuk menjadi sempurna. Sangatlah benar manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna dengan kekuatannya sendiri. Dosa telah mengunci manusia dalam ketidakberdayaan untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Seorang teolog menggambarkan keadaan manusia tersebut dengan kalimat: non posse non peccare. Kalimat ini artinya kecenderungan manusia adalah dosa semata-mata. Dalam pemahaman yang benar, mestinya dipahami bahwa manusia tidak mampu melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Manusia hanya dapat menjadi baik dan melakukan hukum secara terbatas, tetapi tidak mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah atau menjadi sempurna.
    Oleh karena keadaan manusia tersebut, maka Allah mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menanggulangi masalah tersebut. Bagi manusia, hal menjadi sempurna memang mustahil, tetapi tidak bagi Allah. Dalam hal ini kasih karunia yang disediakan oleh Allah bukan hanya terletak pada kayu salib yang menebus dosa manusia, tetapi juga kuasa (Yun. Exousia) yang diberikan kepada orang percaya untuk menjadi anak Allah (Yoh. 1:11-13). Anak Allah dalam teks aslinya adalah teknon (τέκνον), yang memuat pengertian anak dalam pengertian keturunan, di mana seorang anak mewarisi gen orang tua. Oleh kasih karunia Allah, Tuhan mengimpartasikan spirit atau gairah-Nya di dalam hidup orang percaya sehingga dapat mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (2Ptr. 1:3-4; Ibr. 11:9-13).
    Dengan kasih karunia tersebut Tuhan Yesus bisa mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa, di dalamnya Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk dapat melakukannya. Tidak mungkin Tuhan memerintahkan kita untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Banyak ayat Alkitab yang jelas menunjukkan bahwa kita dipanggil untuk sempurna (Mat. 5:48; Luk. 6:40; Rm. 12:2: Flp. 3:15; Yak. 1:4; 3:2 dan lain-lain). Kita harus lebih memercayai apa yang dikatakan oleh Firman-Nya melalui Alkitab daripada konsep dan filosofi manusia di sekitar kita.
    • Mereka menyatakan bahwa manusia tidak mungkin sempurna sebab mereka melihat bahwa tidak ada orang yang sempurna dari pemandangan matanya sendiri. Padahal mereka tidak tahu dengan sesungguhnya keadaan orang lain tersebut. Kesempurnaan seseorang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh Allah, walau gejala-gejala orang yang semakin sempurna juga pasti dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya.
    • Hal yang lain mengapa seseorang menyatakan bahwa tidak ada kesempurnaan atas manusia, sebab ia selalu menemukan dirinya selalu bersalah, sampai pada tahap putus asa dan berpikir bahwa kesempurnaan tidak akan pernah terwujud di bumi. Mereka menyatakan hal itu karena bercermin pada keadaan diri mereka sendiri.
    0 min
  • Apakah Kesucian Itu?
    Membahas mengenai kesempurnaan tidak dapat lepas dari hal kesucian. Apakah sebenarnya kesucian itu? Kesucian, dari akar kata suci, yang artinya dalam Bahasa Indonesia bisa bermacam-macam. Suci bisa berarti bersih, bebas dari dosa, tidak bersalah, tidak bernoda, tidak bercela dan murni. Sinonim dari suci adalah kudus. Memahami kesucian dari perspektif Kekristenan harus didasarkan pada apa yang dikemukakan Alkitab. Dalam bahasa Ibrani ada beberapa kata yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai suci atau kudus. Tetapi yang paling menonjol dan terkait dengan pembahasan kita adalah kata niqqayon (ןוֹיקָּנִ). Kata ini berarti tidak bersalah atau bebas dari hukuman dan bersih. Kata yang lain adalah qodesh (שדֶׁקֹ). Kata qodesh atau qados artinya dipisahkan dari yang lain untuk digunakan. Dalam bahasa Yunani kita menemukan dua kata yang diterjemahkan kudus atau suci dalam Bahasa Indonesia. Pertama adalah katharoi (καθαροὶ), dari akar kata katharos (καθαρός). Kata ini memiliki pengertian free from impure admixture, without blemish, spotless (bebas dari campuran, tidak bernoda). Kata yang berikut adalah hagios (ἅγιος). Kata ini berarti most holy thing, a saint (hal yang paling suci, orang kudus). Kata hagios ini dalam pengertian luasnya adalah keadaan yang berbeda dari yang lain.
    Kata suci dalam pengertian agama berkenaan dengan keadaan seseorang adalah keadaan diri seseorang yang tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum dan tatanan agamanya. Dalam hal ini kesucian dikaitkan dengan melakukan hukum atau syariat. Berbeda dengan Kekristenan, kesucian menunjuk kepada keadaan di mana seseorang dapat bersekutu dengan Allah karena berkeadaan sesuai dengan kesucian Allah. Ini bukan hanya keadaan tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum, tetapi memiliki keadaan diri di mana seseorang bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah.
    Kata “suci” dalam ayat ini menunjukkan keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh kejahatan dunia. Hati yang terpelihara dari segala perasaan negatif, seperti dendam, kepahitan, cemburu, iri, tidak mengampuni, mengingini hal-hal yang bukan bagiannya, dan lain sebagainya. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah tetapi kesucian batiniah. Bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan dosa yang nampak, tetapi suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20). Kejahatan terhadap sesama di sini bisa berarti pula tidak mau berdamai dengan sesama, yang mengakibatkan tidak akan melihat Allah (Ibr. 12:14).
    Berkenaan dengan hal ini, pengudusan ada dua macam. Pertama, pengudusan atau penyucian oleh darah Yesus. Ini adalah pengudusan atas semua kesalahan yang telah, sedang, dan bisa kita lakukan ke depan. Tuhan Yesus menjamin pengampunan atas semua dosa yang kita lakukan. Kedua, pengudusan oleh Firman (logos dan rhema). Ini isi doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:17. Pengudusan ini adalah pengudusan dalam karakter kita. Melalui Firman kita diubah terus dan dibentuk menjadi manusia Allah (man of God), sehingga mengalami perubahan dari kodrat manusia (human nature) dengan kodrat dosanya (sinful nature), menjadi seorang yang berkodrat Ilahi (divine nature) yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Pengudusan yang kedua ini merupakan proses penyempurnaan. Dalam proses pengudusan tersebut orang percaya bukan hanya dituntut tidak berbuat suatu kesalahan, bahkan seharusnya tidak bisa melakukan kesalahan lagi, sebab karakternya seperti Yesus yang juga tidak dapat berbuat dosa sama sekali. Firman Tuhan mengatakan: bahwa orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi (1Yoh. 3:9; 5:18). Banyak orang Kristen hanya mengenal pengudusan yang pertama, tetapi tidak memasuki proses pengudusan yang kedua. Pengudusan yang kedua ini sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.
    0 min
  • Berpijak Pada Pandangan Allah Sendiri
    Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, kesucian atau kebenaran masing-masing individu adalah berbeda. Ini berarti kesempurnaan bisa relatif jika ditinjau dari obyek si pelaku kehidupan. Ini juga berarti setiap orang dihakimi menurut porsi yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing individu. Ini bukan berarti kesempurnaan Allah relatif secara subyektif. Subyek kesucian adalah Allah sendiri. Ini berarti kesempurnaan ditinjau menurut subyeknya yang adalah Allah sendiri , bersifat mutlak dan absolut. Semua yang sesuai dengan keinginan Allah adalah kesempurnaan. Dalam hal ini kesempurnaan berpijak dan berangkat dari keinginan dan kehendak Allah. Hal ini sama dengan bahwa kesempurnaan berorientasi dari diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah yang merupakan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Dari hal ini sangat dapat dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa yang diusahakan adalah mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Selanjutnya, Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab kehidupan setiap orang diperhadapkan kepada penghakiman-Nya.
    Jika suatu sikap atau tindakan tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah, maka itu bukanlah kesempurnaan, walau hal tersebut nampaknya baik dan tidak melanggar norma umum manusia. Adapun kalau dikatakan bahwa kebenaran menjadi relatif jika ditinjau dari obyek pelaku kebenaran dalam hal ini manusia, sebab setiap orang memiliki tugas masing-masing yang berbeda dari Tuhan. Setiap orang memikul atau memuat kehendak Allah yang khusus dan berbeda satu dengan yang lain. Jadi masing-masing individu memiliki kesempurnaannya sendiri di mata Allah. Karena hal ini, maka penghakiman hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
    Kebenaran Allah mutlak, tetapi pengenaannya kepada masing-masing individu bisa relatif, berhubung masing-masing orang memiliki keberadaan yang berbeda. Itulah sebabnya dalam suatu kesempatan Tuhan Yesus mengatakan: Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Luk. 12:48).
    Dalam Perjanjian Lama ada orang-orang yang dikatakan oleh Alkitab tidak bercela, seperti misalnya Nuh (Kej. 6:9) dan Ayub (Ay. 1:8). Kata tidak bercela dalam Kejadian 6:9 adalah tamim (םימִתָּ). Juga dalam Ayub 1:8, Ayub dikatakan tidak bercela. Kata tidak bercela dalam dua ayat tersebut berakar sama. Tamim bisa diterjemahkan sempurna. Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris diterjemahkan perfect. Tentu kesempurnaan yang dimaksud dalam teks tersebut tidak sama dengan kesempurnaan yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus (Ibr. 5:7-9). Kesempurnaan kesucian yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus tentu berbeda dengan kesucian yang dapat dicapai oleh orang percaya. Tidak ada yang dapat menyamai kesempurnaan kesucian yang telah dicapai dan dimiliki oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus satu-satunya Pribadi istimewa yang tiada duanya.
    Diibaratkan sebuah soal ulangan, Tuhan Yesus menerima pertanyaan atau tugas paling banyak atau paling berat. Kalau dimisalkan jumlah, Tuhan Yesus menerima 1000 soal pertanyaan atau tugas, adapun untuk manusia berbeda, misalnya Rudi menerima 90 pertanyaan atau tugas, sementara Endang 110 soal atau tugas, dan lain sebagainya. Tuhan Yesus telah menyelesaikan setiap soal atau tugas dengan baik, dan Ia telah lulus yang sama artinya dengan menang. Demikian pula masing-masing individu juga harus lulus menyelesaikan soal dan tugasnya serta menang seperti Tuhan Yesus juga menang mencapai kesempurnaan (Ibr. 5:7-9). Dalam hal ini kesempurnaan masing-masing individu berbeda kualitasnya. Tetapi yang penting adalah bahwa masing-masing telah lulus atau menang dalam menyelesaikan soal atau tugas dalam kehidupannya sendiri.
    0 min
  • Pengertian Sempurna
    Kata sempurna dalam Matius 5:48 sebenarnya tidak mudah dipahami. Kata ini dalam teks aslinya adalah teleios (τέλειός). Kata ini memiliki beberapa pengertian, antara lain: brought to its end, finished (membawa sampai akhir atau selesai), wanting nothing necessary to completeness (tidak membutuhkan apa pun untuk melengkapi, jadi sudah lengkap atau berfungsi sebagaimana mestinya), having attained the end or purpose, complete, perfect (telah mencapai akhir atau tujuan, lengkap, sempurna). Juga berarti full-grown, mature, adult (penuh kedewasaan, matang, dewasa). Juga berarti fully developed in a moral sense (berkembang sepenuhnya dalam arti moral).
    Kesempurnaan dalam Matius 5:48 menunjuk kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Allah berfirman agar umat pilihan menjadi kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Ini bukan berarti orang percaya dapat menyamai kesucian dan keagungan moral Allah, tetapi orang percaya bisa memiliki kesucian dan keagungan moral yang memenuhi standar yang dikehendaki oleh Allah, sehingga orang percaya dapat hidup dalam persekutuan dengan Dia. Hidup dalam persekutuan dengan Allah ditandai dengan kehidupan yang dalam seluruh tindakan, baik yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah. Kualitas moral seperti itu menandai bahwa seseorang berstatus sah sebagai anak Allah.
    Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah untuk hal yang mengganggu pertumbuhan kesempurnaan guna menjadi sempurna seperti Bapa. Dalam kesaksiannya Paulus menyatakan:  Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus (Flp. 3:12). Orang percaya ditangkap Allah supaya akhirnya ia juga menangkap Allah, artinya sempurna seperti Bapa di surga. Hidup selama 70 sampai 80 tahun di dunia ini merupakan masa untuk mengejar suatu prestasi abadi, yaitu sempurna seperti Bapa. Jika fokus hidup orang percaya tertuju kepada hal yang lain, maka target yang harus dicapai tidak akan tercapai. Sebab orang percaya yang sungguh-sungguh mau sempurna saja nyaris tidak bisa meraihnya, apalagi yang tidak sungguh-sungguh.
    Kalau Paulus menyaksikan bahwa “bukan seolah-olah dirinya telah memperoleh hal itu atau telah sempurna”, ini menunjukkan adanya fakta kesempurnaan dan bahwa kesempurnaan adalah proyeksi hidupnya dan ia sedang menggumulinya. Itulah sebabnya di bagian lain dalam Alkitab ia mengemukakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah adalah kata lain dari kesempurnaan.  Dalam suratnya Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
     
    Untuk terselenggaranya hidup sesuai dengan kehendak Allah atau sempurna seperti Allah Bapa, Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus inilah yang mengerami kehidupan orang percaya agar “pecah” seperti telur ayam dan memunculkan atau melahirkan anak ayam. Ini menunjuk kepada kelahiran baru yang menjadi titik awal dari kehidupan Ilahi yang tidak pernah bisa mati dalam kehidupan orang percaya. Tanpa kelahiran baru seseorang tidak akan pernah selamat, artinya tidak pernah bisa diperbaharui untuk mencapai kesempurnaan Kristus. Inilah masalah pelik dewasa ini, banyak orang Kristen yang kelihatannya sudah bertobat, tetapi sebenarnya pertobatannya tidak signifikan mengubah kehidupannya untuk memiliki kehidupan Ilahi dalam kehidupan orang percaya. Pertobatan haruslah proses setiap hari di mana seseorang meninggalkan cara hidupnya yang lama dan mengenakan kehidupan yang baru.
    0 min
  • Kesempurnaan
    Kesempurnaan, dari kata sempurna. Kesempurnaan artinya keadaan atau sesuatu yang bersifat sempurna. Kata sempurna sebenarnya bisa memiliki banyak pengertian, antara lain: utuh, lengkap atau tidak kurang, berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, telah selesai, tuntas, teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan, dan baik sekali. Kata sempurna bisa dikenakan dalam berbagai sifat, keadaan, dan bentuk. Jadi, pengertian kata sempurna bisa berubah-ubah dan menjadi relatif tergantung di mana kata ini dikenakan. Berhubung kita membahas mengenai kesempurnaan dalam konteks hidup orang percaya, maka tidak bisa tidak kita harus meninjau kata ini dari etimologi dan terminologi menurut perspektif Alkitab. Dan sejatinya kita harus mendasarkan semua prinsip-prinsip kehidupan ini hanya pada Alkitab.
    Di dalam Alkitab pun kita harus memperhatikan konteks ayat secara ketat di mana terdapat kata sempurna. Kita harus teliti dalam memahami kata sempurna dalam konteksnya, sebab ketika kata itu muncul di dalam suatu teks, ia memiliki konteks yang khusus. Kita tidak boleh memaknai dan memahami kata sempurna secara sembarangan. Oleh sebab itu hendaknya kita memahami definisi sempurna sesuai dengan konteksnya terlebih dahulu, barulah kemudian kita dapat memahami dan memaknai kata sempurna tersebut.
    Satu hal yang harus ditekankan, bahwa kesempurnaan mutlak hanya pada Allah. Kesempurnaan mutlak dalam arti tidak terbatas, tidak terhingga, tidak pernah dan tidak akan pernah bercacat dan tidak bercela sama sekali, tidak pernah dan tidak akan pernah tidak lengkap, selalu utuh, dan segala sesuatunya teratur.  Dalam tulisan ini kesempurnaan yang dibicarakan bukanlah kesempurnaan Allah, sebab kesempurnaan Allah sudah selesai, tidak perlu diragukan lagi. Dengan meyakini kesempurnaan Allah, maka kita tidak perlu mempercakapkannya lagi, sebab yang penting kita percaya dan menerima, sebab kesempurnaan Allah adalah realitas yang tidak pernah dapat dimengerti dan dipecahkan oleh pikiran manusia. Perkiraan kita mengenai kesempurnaan Allah masih jauh dari kenyataan keberadaan Allah itu sendiri. Kesempurnaan Allah adalah sesuatu yang transenden dan juga harus dipahami sebagai misteri Ilahi yang tidak akan pernah dapat diurai oleh pikiran manusia.
     
    Banyak orang selalu menghubungkan kesempurnaan dengan keberadaan Allah. Ini adalah pemikiran yang picik. Sehingga mereka menjadi resisten ketika ada yang membahas kesempurnaan terkait dengan manusia. Mereka sudah memiliki apriori, prejudice, dan mental block terhadap atau mengenai kesempurnaan bila dikaitkan dengan keberadaan manusia. Bagi mereka hanya Allah yang sempurna, titik. Ya, memang Allah adalah kesempurnaan di atas segala kesempurnaan, titik. Dan memang tidak perlu dibicarakan lagi. Adapun yang kita bicarakan adalah keberadaan manusia yang harus menjadi lengkap, utuh, tidak bercacat, dan tidak bercela. Kesempurnaan yang diperbicangkan dalam tulisan ini adalah kesempurnaan manusia. Hal ini kita bahas sebab Alkitab berbicara mengenai hal tersebut (Mat. 5:48; 19:21; Yoh. 17:23; Rm. 12:2; 2Kor. 10:6; 13:9,10; Flp. 3:12,15; Kol. 1:9, 28; 1Tes. 5:23; Ibr. 11:40; 12:2,23; Yak. 1:4; 2:22; 3:2; 1Yoh. 4:18 dan lain-lain).
    Kita harus menghindari sikap negatif terhadap pengajaran mengenai kesempurnaan yang dikaitkan dengan manusia. Sikap negatif di sini maksudnya adalah tidak menerima pengajaran bahwa manusia bisa menjadi sempurna. Harus diingat, bahwa faktanya dalam Alkitab kita menemukan kata sempurna atau yang seunsur dengan kata itu dan kita harus hidup di dalamnya. Kita harus terlebih dahulu mendalami kata ini sesuai dengan konteks Alkitab, kemudian barulah menanggapi dengan fair, jujur, dan cerdas jika kesempurnaan dikaitkan dengan manusia sebagai subyeknya. Penolakan terhadap pengajaran ini sangat merugikan diri sendiri.
    Kita tidak boleh bersikap skeptis. Skeptis artinya kurang percaya atau tidak yakin bisa melakukan,
    0 min
  • Ukuran Kemenangan
    Hanya orang yang sampai pada taraf kehidupan menurut roh yang dapat dikategorikan sebagai pemenang. Menang di sini artinya dapat keluar dari kehidupan menurut daging, kemudian hidup menurut roh. Hal ini berarti dipenuhinya pengesahan sebagai anak Allah (Yoh. 1:12-13). Inilah sesungguhnya perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dengan demikian perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah dengan hidup menurut roh. Itulah sebabnya Bapa mendidik orang percaya agar orang percaya menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Sebagaimana bapak di dunia ini mendidik anak-anaknya, demikian pula Bapa di surga mendidik orang percaya. Pendidikan terhadap setiap orang percaya adalah hal yang mutlak dialami. Jika seseorang tidak mengalami pendidikan ini, maka ia bukanlah anak yang sah.
    Orang percaya harus menerima kenyataan panggilan ini, bahwa sepanjang umur hidupnya hanyalah sebuah proses pendidikan dipimpin oleh Roh untuk melahirkan roh yang dapat diturutinya. Begitu sulitnya perjuangan untuk menjadi anak-anak Allah ini, maka seseorang harus melepaskan diri dari segala kesenangan dan kenyamanan hidup seperti yang dinikmati oleh orang-orang yang tidak menjadi umat pilihan. Kalau seseorang sudah menganggap ada sesuatu yang dinilai berharga, maka ia tidak akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah. Masalahnya adalah bagaimana bisa menjadikan segala sesuatu menjadi tidak berharga? Tidak ada cara lain selain memahami dan menghayati kemuliaan sebagai anak-anak Allah, bahwa menjadi anak-anak Allah itu hal yang paling mulia. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa orang percaya lebih dari orang-orang yang menang. Menang dalam teks aslinya adalah hupernikao (ὑπερνικάω), yang artinya menaklukkan.
    Orang-orang Roma berhasil menaklukkan bangsa lain. Mereka orang-orang yang berjaya secara politis, sebaliknya orang Kristen pada waktu itu sebagai orang-orang yang kalah dalam versi manusia. Tetapi Paulus mengatakan bahwa orang percaya lebih dari orang-orang Roma, sebab orang percaya adalah anak-anak Allah yang dapat menaklukkan keinginan daging sehingga hidup menurut roh. Orang-orang yang berhasil menaklukkan dagingnya ini adalah orang-orang yang akan mewarisi kemuliaan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu orang percaya harus menerima kalau mereka seakan-akan menjadi orang yang kalah. Di dunia ini orang percaya seperti orang kalah, tetapi mereka menjadi orang-orang yang menang di kekekalan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menulis surat-Nya kepada tujuh jemaat yang ditulis dalam kitab Wahyu agar orang percaya menjadi orang-orang yang menang. Bukan menang secara politik, ekonomi, penampilan dan lain sebagainya, tetapi menang dalam ketaatan kepada Bapa. Orang yang memahami hal ini sulit menjadi sombong atau bangga atas sesuatu yang dimilikinya, selain bermegah di dalam salib atau penderitaan dalam Kristus.
    Dalam salib ada perjuangan untuk disahkan sebagai anak-anak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus tidak bermegah dalam hal apa pun selain dalam salib Tuhan. Kepada jemaat Korintus, Paulus bermegah dalam kelemahan. Kata kelemahan di sini maksudnya sesuatu yang dianggap rendah dan tidak bernilai bagi dunia, tetapi di dalam Tuhan justru itu menjadi nilai lebih. Kemegahannya adalah dalam penjara, didera di luar batas, dalam bahaya maut, disesah, dilempari batu, mengalami kapal karam, diancam bahaya banjir, bahaya penyamun, bahaya di kota dan di gurun, serangan saudara-saudara palsu dan lain sebagainya. Setelah melewati semua itu, Paulus lulus sebagai anak-anak Allah. Sebab untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebagai anak-anak Allah, kita harus menderita bersama-sama dengan Kristus. Menderita bersama-sama dengan Kristus artinya menderita bagi kepentingan pekerjaan Tuhan; menderita seperti Dia telah menderita. Dalam hal ini ciri dari seorang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah memikul salib,
    0 min
  • Ikut Menderita
    Sesungguhnya hasil pimpinan Roh Kudus membuat dilahirkannya roh yang bila dituruti akan membuat seseorang memiliki roh Kristus, artinya berkualitas seperti Yesus. Sampai pada level ini seseorang dapat diajak menderita bersama dengan Tuhan. Dalam Roma 8:17 Firman Tuhan mengatakan: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Dalam ayat ini orang percaya disejajarkan dengan Tuhan Yesus dalam mewarisi “janji-janji” Allah. Kepada Anak Tunggal-Nya, Bapa berjanji akan mempermuliakan-Nya, artinya memberikan kemuliaan yang Bapa pernah berikan sebelum dunia dijadikan dan sebelum Ia turun ke bumi berinkarnasi sebagai manusia. Orang percaya yang menjadi anak-anak Allah juga menerima janji-janji Allah Bapa bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Tetapi untuk menerima kemuliaan bersama-sama dengan Kristus, memiliki syarat. Syaratnya adalah ikut menderita bersama dengan Dia. Menderita bersama dengan Yesus maksudnya adalah mengalami kesulitan hidup demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada anak-anak-Nya, baik kepada Anak Tunggal Bapa dan anak-anak Allah lainnya; orang percaya yang seperti Yesus.
    Salib yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah penderitaan demi keselamatan orang lain. Salib kita masing-masing juga kita pikul demi keselamatan sesama. Semua orang percaya harus memiliki salibnya sendiri. Tentu saja sebelum kita memikul salib kita sendiri, kita telah mengerjakan dan memiliki keselamatan. Sebenarnya kalau seseorang benar-benar mengalami keselamatan, maka ia pasti mengusahakan agar orang lain juga mengalami keselamatan. Orang-orang seperti ini akan berani membayar berapa pun harganya, sebab nilai jiwa manusia lebih berharga dari semua kekayaan dunia ini. Nilai jiwa manusia tidak terhingga. Orang yang sudah mengalami keselamatan, akan mengisi hidupnya (selain terus berusaha mengerjakan keselamatannya, yaitu bagaimana menjadi anak Allah yang sempurna atau ideal) dengan mengusahakan orang lain juga mengalami kesempurnaan. Untuk melakukan ini, maka segenap hidup dipertaruhkan atau dikorbankan, baik tenaga, waktu, pikiran, harta dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan sebagai pengabdian kepada Tuhan.
    Pengorbanan segenap hidup yang dipersembahkan oleh anak-anak Allah yang baik, akan sampai pada taraf “menyakitkan”. Inilah prajurit yang baik, yang rela menderita demi tugas yang disandangnya. Penderitaan inilah yang dimaksud dengan salib kita masing-masing. Penderitaan tersebut akhirnya menjadi kenikmatan dan kebanggaan, Paulus berkata bahwa ia bermegah dalam penderitaan salib. Maksud pernyataan ini adalah bahwa Paulus bangga jika harus mengalami berbagai kesulitan hidup, bahkan penderitaan demi pelayanan pekerjaan Tuhan, di manapun ia memberitakan Injil. Ia sangat percaya bahwa penderitaan yang dialami akan mengerjakan sesuatu yang sangat berharga dan mulia di kekekalan. Apa yang ditabur tidak sia-sia. Ia akan menuainya di kekekalan. Itulah sebabnya ia memandang penderitaan yang dialaminya sebagai “karunia”. Karunia artinya pemberian yang sangat berharga. Ternyata tidak banyak orang yang menjadi umat pilihan Allah yang benar-benar terpilih, dan sudah mengerti kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu. Hanya orang yang mengerti kebenaran yang rela menderita bersama dengan Tuhan Yesus.  Kitalah yang harus terus berusaha menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih.
    Kalau tidak ada salib Kristus, maka tidak akan pernah ada salib-salib lainnya. Hendaknya kita tidak memandang salib sebagai suatu beban, tetapi sebagai suatu kesempatan untuk memperoleh harta abadi yang tiada tara. Dengan salib kita masing-masing, maka Bapa juga menyediakan masa depan yang penuh harapan. Tanpa salib, seseorang tidak akan dapat kesempatan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    0 min
  • Berjalan Seirama Roh
    Penjelasan mengenai roh dalam Roma 8 sinkron dengan Galatia 5:25. Galatia 5:25 tertulis: Jikalau kita hidup oleh roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh roh. Roh dalam ayat ini bukan Roh Allah juga bukan roh manusia, tetapi roh yang dihasilkan oleh pimpinan Roh Kudus. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah stoikheo (στοιχέω), yang lebih tepat diterjemahkan “berjalan seirama” dalam satu barisan. Kalau diterjemahkan dipimpin, mengesankan roh ini di depan. Tetapi kalau diterjemahkan berjalan seiring atau seirama berarti berjalan bersama. Hal ini sama artinya dengan hidup menuruti roh itu.  Jadi, roh dalam kalimat “hiduplah oleh roh” (Gal. 5:25) adalah gairah, spirit atau hasrat yang sesuai dengan Roh Kudus, maka ini berarti orang percaya memiliki panggilan yang mutlak harus dipenuhi untuk memperhatikan keinginan roh, bukan keinginan daging dan hidup untuk menuruti roh tersebut.
    Dari terjemahan secara hurufiah Alkitab bahasa Yunani, kalimat “dipimpin oleh roh” sebenarnya adalah berjalan di dalam roh (walking in the spirit). Itulah sebabnya dalam Alkitab terjemahan lama Galatia 5:25 diterjemahkan: Jikalau kita hidup oleh sebab Roh itu, biarlah juga kita berjalan menurut Roh itu. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “berjalan menurut roh” itu? Kalimat berjalan di dalam roh sama artinya dengan berjalan seirama roh, berdasarkan kata stoikheo.
    Kalimat “dipimpin oleh roh” berasal dari kata pneumati kai stoikomen, memberi petunjuk seolah-olah Tuhan aktif memimpin seseorang sehingga otomatis membuat orang tersebut mampu menuruti kehedak-Nya. Terkesan Roh Allah aktif memimpin sehingga secara otomatis seseorang dapat mengikutinya dengan mudah. Ini keliru, yang benar adalah pneumati kai stoikomen diterjemahkan berjalan seirama dengan roh.  Roh di sini bukan Roh Kudus juga bukan roh manusia, tetapi roh dalam arti spirit, gairah atau hasrat yang dihasilkan dari perjalanan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Jadi kata stoikomen bisa menunjuk orang yang baris berbaris atas suatu perintah. Ini adalah suatu proses “sinkronisasi” atau penyesuaian. Penyesuaian kehendak kita terhadap kehendak Allah yang termuat di dalam roh tersebut. Untuk bisa menjadi sinkron dengan roh tersebut, maka harus melalui proses methamorphouste (transformasi) dalam kehidupan anak Allah yang tidak pernah berakhir sampai mata tertutup (Rm. 12:2). Transformasi atau pembaharuan itu dalam atau pada pikiran.
    Dalam proses penyesuaian atau sinkronisasi tersebut, bukan Tuhan yang harus menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Tuhan. Proses ini menuntut peran keaktifan secara penuh setiap individu. Roh Kudus sebagai pendamping aktif memimpin orang percaya dan orang percaya memberi diri dipimpin oleh Tuhan melalui ketekunan mengisi jiwanya dengan Firman Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus tegas mengatakan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Jika jiwa seseorang diisi oleh kebenaran Firman yang murni, maka roh menjadi kuat. Tetapi kalau jiwa diisi oleh filosofi dunia (materialisme, sekularisme dan lain sebagainya), maka roh menjadi lemah. Oleh sebab itu tidak mungkin seseorang bisa menjadi kuat dalam Tuhan kalau tidak memahami kebenaran Firman Tuhan yang murni.
    Ketika jiwa dipenuhi dengan kebenaran pengenalan akan Tuhan yang memuat pikiran dan perasaan Allah, maka roh menjadi kuat. Kalau kita hidup menurut roh itu maka kekuatan roh itu menguasai seluruh kehidupan kita, sehingga perilaku kita dapat sesuai dengan kehendak Allah yang Maha Kudus. Proses ini adalah proses berjalan seirama dengan roh, sampai benar-benar mencapai level dipimpin oleh roh secara ideal. Kalau seseorang hidup menurut roh secara ideal, maka tujuan keselamatan tercapai sebab seseorang dapat memiliki roh Kristus, sehingga dapat serupa dengan Dia.
    0 min
  • Buah Roh
    Paulus mengatakan dalam Galatia 5:16: Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Kata “hiduplah” dalam teks aslinya adalah peripateo (περιπατέω), yang artinya adalah membuat jalan, berkebiasaan dan menggunakan kesempatan. “Hiduplah oleh roh” maksudnya agar orang percaya membiasakan diri hidup menurut roh. Roh di sini maksudnya adalah gairah, spirit atau hasrat yang diajarkan Roh Kudus kepada kita. Sebagai hasilnya maka seseorang tidak akan hidup menuruti atau memenuhi keinginan daging. “Menuruti” dalam teks aslinya adalah teleo (τελέω) yang lebih tepat berarti “memenuhi”. Dari ayat ini seakan-akan Paulus hendak mengatakan bahwa hendaknya kita tidak merasa berhutang untuk hidup menuruti daging.
    Dengan hidup menuruti roh maka orang percaya dapat tidak menuruti keinginan daging, hal ini sinkron dengan pernyataan Paulus dalam Roma 8:13, Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Orang percaya dipanggil untuk berjuang hidup menurut roh, sebab hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis. Kalau tidak berjuang dengan sungguh-sungguh maka seseorang akan hidup menurut daging, sebab di dalam diri kita ada pertentangan atau konflik antara kehendak roh dan kehendak daging. Paulus menulis hal ini dengan pernyataan: Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki (Gal. 5:17).
    Hasil dari perjuangan hidup menurut roh tersebut, seseorang dapat memiliki keberadaan dapat melakukan kehendak Allah, bukan karena terpaksa atau hidup di bawah tekanan bayang-bayang hukuman, tetapi dengan sendirinya dapat melakukan apa yang Allah kehendaki. Paulus menyatakan hal ini dengan pernyataan: Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat (Gal. 5:18). Dalam hal ini seseorang dapat melakukan kehendak Allah bukan karena hukum, tetapi karena irama yang sudah menyatu dalam dirinya. Inilah Kekristenan yang sejati, not just to do but to be. Sampai pada tahap ini nyata bahwa Kekristenan bukanlah agama hukum, tetapi jalan hidup, yaitu cara berpikir seperti cara berpikirnya Tuhan. Dengan demikian maka buah roh dapat dihasilkan.
    Selanjutnya Paulus menunjukkan buah-buah daging antara lain:  percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Orang-orang yang masih mempraktikkan hal ini dalam hidupnya pasti tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Siapapun orang tersebut, walaupun mengaku Kristen, aktivis, bahkan seorang pendeta. Dalam hal ini jelas bahwa untuk masuk Kerajaan Surga seseorang harus tidak lagi hidup menuruti daging yang dapat menghasilkan buah-buah daging. Orang-orang yang masuk dalam Kerajaan Surga adalah mereka yang hidup menurut roh. Sebagai buktinya adalah memiliki buah roh di dalam hidupnya. Buah roh itu antara lain: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
    Oleh sebab itu menjadi panggilan yang dapat dikatakan juga sebagai hutang, bahwa orang percaya harus hidup menurut roh. Untuk itu orang percaya harus berjuang menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya. Hal ini tidak bisa dihindari oleh orang yang telah menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus, yang segenap hidupnya sudah dimiliki oleh Tuhan (1 Kor. 6:19-20). Untuk itu Paulus tegas mengatakan: Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24).
    0 min
  • Hubungan Hidup Menurut Roh Dan Kelahiran Baru
    Mengalami Kelahiran Baru bukanlah proses mendadak atau sekejap. Orang tidak bisa berstatus sebagai seorang yang lahir baru secara mistis. Pemikiran yang salah, kalau seseorang berpikir bisa mengalami Kelahiran Baru secara ajaib. Pengertian salah ini membuat orang Kristen tidak bertanggung jawab untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Inilah yang dipahami banyak orang mengenai Kelahiran Baru. Mereka merasa sudah mengalami Kelahiran Baru karena sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kelahiran Baru mereka hanyalah sebuah fantasi yang diyakini.
    Kelahiran Baru sesungguhnya adalah keadaan baru dari warna jiwanya hasil dari sebuah proses perubahan secara bertahap. Jadi, Kelahiran Baru pada dasarnya adalah kesadaran baru di mana seseorang mengalami perubahan dalam cara pandang terhadap hidup ini. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam sekejap, secara ajaib atau mukjizat, tetapi melalui proses yang bertahap dengan ketat dan secara natural. Secara natural artinya bisa dipahami secara logis.  Proses kelahiran baru tidak mungkin dapat dipisahkan dari hidup menurut roh. Proses Kelahiran dapat dipetakan secara ringkas sebagai berikut: Pertama-tama, seseorang mendengar Firman Tuhan melalui pemberita Firman (Logos), kemudian melalui pengalaman konkret ia mendengar suara Roh Kudus atau Firman dalam arti Rhema (Rm. 10:17). Firman Tuhan di sini adalah ajaran Tuhan Yesus atau Injil. Iman datang dari pendengaran akan Firman Kristus.  Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16). Di sini Roh Kudus melalui hamba-hamba-Nya menyampaikan Firman Tuhan dan Roh Kudus bekerja di dalam hati orang tersebut untuk menyambut kebenaran-Nya. Roh Kudus yang memberi kesanggupan seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat dan membuka pikiran serta hatinya untuk mengerti Firman Tuhan. Firman Tuhan lah (Injil) kuasa yang dapat melahirkan baru seseorang (1Ptr. 1:23).
    Firman Tuhan yang didengar terus menerus membangun sebuah konsep atau pemahaman hidup yang benar (Yoh. 8:31-32). Roh Kudus sebagai parakletos (pendamping) membimbing seseorang kepada kebenaran-Nya sampai terbangun konsep yang lengkap mengenai kehidupan (Yoh. 16:13). Roh Kudus memberi pencerahan bagi mereka yang tekun mendengar Firman dan merenungkannya. Melalui pengalaman hidup, logos menjadi rhema melalui suara Roh Kudus dalam pengalaman hidup. Di sini terjadi proses pemuridan oleh Tuhan Yesus secara pribadi melalui Roh Kudus. Roh Kudus memimpin orang percaya untuk melahirkan roh dalam arti gairah, spirit dan hasrat Tuhan sendiri.
    Bagi seseorang yang memiliki komitmen mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh sebagai murid (Mat. 28:18-20), ini adalah saat penting di mana seseorang mengalami proses dimuridkan dan mulai mengalami proses perubahan konsep hidup. Proses pemuridan ini menjadi bagian penting dari pencapaian Kelahiran Baru. Oleh sebab itu dituntut atau dibutuhkan ketekunan. Dalam Alkitab sering kita peroleh nasihat Tuhan Yesus dan rasul-rasul-Nya agar kita sungguh-sungguh bertekun. Ketekunan itu adalah ketekunan kita, bukan ketekunan Tuhan, sebab jelas-jelas Tuhan sudah bertekun atau bekerja maksimal.
    Kelahiran Baru dikerjakan oleh Roh Kudus, atas orang yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Hasil dari proses tersebut seseorang memperoleh roh yang memiliki spirit, gairah dan hasratnya sama dengan Roh Kudus yang sama pula dengan roh Kristus. Kalau seseorang hidup menurut roh tersebut, ia mengalami pembaharuan roh. Pembaharuan roh sama dengan cara berpikir yang diubah total sehingga memiliki spirit baru. Dari spirit baru inilah seseorang memiliki gaya hidup yang benar-benar baru sampai orang lain tidak mengenali manusia lamanya lagi. Gaya hidup yang benar-benar baru merupakan tanda dari kehidupan seseorang yang mengalami kelahiran baru. Dengan demikian pada dasarnya orang yang berhasil hidup menurut roh adalah orang yang sudah mengalami Kelahiran Baru. Orang yang mengalami Kelahiran Baru sudah benar-benar berhenti dari hidup menurut keinginan dagi...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…