Kesempurnaan, dari kata sempurna. Kesempurnaan artinya keadaan atau sesuatu yang bersifat sempurna. Kata sempurna sebenarnya bisa memiliki banyak pengertian, antara lain: utuh, lengkap atau tidak kurang, berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, telah selesai, tuntas, teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan, dan baik sekali. Kata sempurna bisa dikenakan dalam berbagai sifat, keadaan, dan bentuk. Jadi, pengertian kata sempurna bisa berubah-ubah dan menjadi relatif tergantung di mana kata ini dikenakan. Berhubung kita membahas mengenai kesempurnaan dalam konteks hidup orang percaya, maka tidak bisa tidak kita harus meninjau kata ini dari etimologi dan terminologi menurut perspektif Alkitab. Dan sejatinya kita harus mendasarkan semua prinsip-prinsip kehidupan ini hanya pada Alkitab.
Di dalam Alkitab pun kita harus memperhatikan konteks ayat secara ketat di mana terdapat kata sempurna. Kita harus teliti dalam memahami kata sempurna dalam konteksnya, sebab ketika kata itu muncul di dalam suatu teks, ia memiliki konteks yang khusus. Kita tidak boleh memaknai dan memahami kata sempurna secara sembarangan. Oleh sebab itu hendaknya kita memahami definisi sempurna sesuai dengan konteksnya terlebih dahulu, barulah kemudian kita dapat memahami dan memaknai kata sempurna tersebut.
Satu hal yang harus ditekankan, bahwa kesempurnaan mutlak hanya pada Allah. Kesempurnaan mutlak dalam arti tidak terbatas, tidak terhingga, tidak pernah dan tidak akan pernah bercacat dan tidak bercela sama sekali, tidak pernah dan tidak akan pernah tidak lengkap, selalu utuh, dan segala sesuatunya teratur. Dalam tulisan ini kesempurnaan yang dibicarakan bukanlah kesempurnaan Allah, sebab kesempurnaan Allah sudah selesai, tidak perlu diragukan lagi. Dengan meyakini kesempurnaan Allah, maka kita tidak perlu mempercakapkannya lagi, sebab yang penting kita percaya dan menerima, sebab kesempurnaan Allah adalah realitas yang tidak pernah dapat dimengerti dan dipecahkan oleh pikiran manusia. Perkiraan kita mengenai kesempurnaan Allah masih jauh dari kenyataan keberadaan Allah itu sendiri. Kesempurnaan Allah adalah sesuatu yang transenden dan juga harus dipahami sebagai misteri Ilahi yang tidak akan pernah dapat diurai oleh pikiran manusia.
Banyak orang selalu menghubungkan kesempurnaan dengan keberadaan Allah. Ini adalah pemikiran yang picik. Sehingga mereka menjadi resisten ketika ada yang membahas kesempurnaan terkait dengan manusia. Mereka sudah memiliki apriori, prejudice, dan mental block terhadap atau mengenai kesempurnaan bila dikaitkan dengan keberadaan manusia. Bagi mereka hanya Allah yang sempurna, titik. Ya, memang Allah adalah kesempurnaan di atas segala kesempurnaan, titik. Dan memang tidak perlu dibicarakan lagi. Adapun yang kita bicarakan adalah keberadaan manusia yang harus menjadi lengkap, utuh, tidak bercacat, dan tidak bercela. Kesempurnaan yang diperbicangkan dalam tulisan ini adalah kesempurnaan manusia. Hal ini kita bahas sebab Alkitab berbicara mengenai hal tersebut (Mat. 5:48; 19:21; Yoh. 17:23; Rm. 12:2; 2Kor. 10:6; 13:9,10; Flp. 3:12,15; Kol. 1:9, 28; 1Tes. 5:23; Ibr. 11:40; 12:2,23; Yak. 1:4; 2:22; 3:2; 1Yoh. 4:18 dan lain-lain).
Kita harus menghindari sikap negatif terhadap pengajaran mengenai kesempurnaan yang dikaitkan dengan manusia. Sikap negatif di sini maksudnya adalah tidak menerima pengajaran bahwa manusia bisa menjadi sempurna. Harus diingat, bahwa faktanya dalam Alkitab kita menemukan kata sempurna atau yang seunsur dengan kata itu dan kita harus hidup di dalamnya. Kita harus terlebih dahulu mendalami kata ini sesuai dengan konteks Alkitab, kemudian barulah menanggapi dengan fair, jujur, dan cerdas jika kesempurnaan dikaitkan dengan manusia sebagai subyeknya. Penolakan terhadap pengajaran ini sangat merugikan diri sendiri.
Kita tidak boleh bersikap skeptis. Skeptis artinya kurang percaya atau tidak yakin bisa melakukan,