Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bukan Karena Perbuatan Baik
    Salah satu alasan banyak orang untuk membenarkan diri, sehingga mereka dengan sejahtera tidak mengusahakan diri menuju kesempurnaan, adalah pengertian mereka yang salah mengenai konsep keselamatan bukan karena perbuatan baik. Memang benar, sudah merupakan harga mati bahwa perbuatan baik bagaimanapun tidak akan dapat menyelamatkan manusia akibat kejatuhannya ke dalam dosa. Harus dimateraikan di dalam batin kita dengan kuat bahwa perbuatan baik sama sekali tidak dapat menyelamatkan (Ef. 2:8-9). Dengan pemahaman ini, maka seseorang tidak dapat membanggakan diri di hadapan Tuhan dan di depan sesamanya. Keselamatan hanya oleh anugerah; sola gratia.
    Keselamatan dapat tersedia hanya oleh karena korban Tuhan Yesus di kayu salib. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, maka semua manusia tanpa penghakiman pasti meluncur menuju penghukuman kekal, sebab memang semua manusia telah jatuh dalam dosa. Siapa pun manusia itu, baik manusia pertama, Adam, Abraham, Ayub, Daud, Daniel, Elia, Elisa dan semua tokoh Perjanjian Lama sehebat apa pun tidak ada yang bisa masuk surga. Korban darah binatang yang mereka tumpahkan sesungguhnya hanya lambang dan semacam voucher. Darah binatang tidak dapat menyucikan dosa dan korban itu tidak dapat dijadikan sebagai sarana penebusan.
    Korban darah Tuhan Yesus sampai pada kematian-Nya di kayu salib adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah dosa. Yesuslah Anak Domba Allah yang menghapus semua dosa manusia (Yoh. 1:29). Kata menghapus dalam Yohanes 1:29 sebenarnya dalam teks aslinya adalah airo (αἴρω), yang artinya lebih tepat diterjemahkan “mengangkat”. Semua dosa manusia telah diangkat di kayu salib, tetapi keberadaannya sebagai manusia yang berdosa dan berkodrat manusia (human nature) belum diselesaikan.
    Harus diingat bahwa orang percaya yang ditebus oleh darah Yesus, tidak otomatis bisa mengenakan kodrat Ilahi. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rencana Allah sempurna, yaitu menjadikan manusia dapat segambar dan serupa dengan Allah, yang sama dengan berkodrat Ilahi. Untuk ini harus digumuli oleh setiap individu, sebab perubahan hidup sehingga dapat mengenakan kodrat Ilahi tidak dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis (Flp. 2:12-13). Masing-masing individu harus mengusahakannya.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa korban Yesus di kayu salib sudah all in, artinya semua masalah dosa telah tuntas diselesaikan. Mereka tidak mengerti bahwa kodrat dosa di dalam diri kita harus dikikis dan digantikan dengan kodrat Ilahi. Hal ini sama dengan perubahan karakter, dari karakter manusia berdosa atau manusia biasa seperti yang lain menjadi manusia Allah yang segala tindakannya sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Mengusahakan diri untuk menjadi sempurna maksudnya agar orang percaya bisa berkeadaan serupa dengan Yesus, sehingga Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dengan demikian keberadaan orang percaya harus menjadi seperti Yesus. Inilah usaha untuk mencapai kesempurnaan. Dengan demikian orang percaya dapat dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan, atau menjadi anak-anak Allah yang dapat mewarisi janji-janji Bapa bersama-sama dengan Yesus, sehingga dimuliakan bersama dengan Dia. Kalau hanya menjadi anggota masyarakat, seseorang tidak harus menjadi sempurna. Mereka yang tidak mendengar Injil akan dihakimi menurut perbuatan. Tidak sedikit di antara mereka dijumpai memiliki kasih kepada sesamanya, sehingga diperkenankan masuk dunia yang akan datang. Tetapi orang percaya harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus di Kerajaan-Nya.
    0 min
  • Benar-benar Benar
    Ungkapan benar-benar benar bukanlah ungkapan yang harus dikaitkan dengan keberadaan Allah sebagai satu-satunya yang memiliki keberadaan sempurna secara mutlak atau benar-benar mutlak benar. Sebab Allah tentu memiliki kebenaran yang mutlak. Dia lebih dari sekadar benar-benar benar, Dia adalah kebenaran yang absolut. Sangatlah picik kalau ungkapan ini dikaitkan dengan Allah, sebab kebenaran Allah sudah tidak lagi dipersoalkan atau dicoba untuk dibedah. Kebenaran Allah adalah kebenaran yang tidak dapat dipecahkan dengan pikiran manusia yang terbatas, sebab kebenaran Allah tidak terbatas. Orang yang mencoba mengkaitkan ungkapan ini dengan Allah dan menentang adanya usaha untuk memahami apa yang benar-benar benar dari perspektif manusia adalah orang yang tidak memiliki kerinduan untuk menjadi berkenan kepada Allah. Bisa dibuktikan, orang-orang semacam itu tidak memiliki etika kehidupan yang memberkati sesamanya.
    Kalimat “benar-benar benar” adalah ungkapan untuk membandingkan antara kebenaran yang dipahami agama-agama pada umumnya, termasuk agama Yahudi, dengan kebenaran yang diajarkan Alkitab untuk dikenakan bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Di sini kita menemukan dua jenis kebenaran, pertama kebenaran yang didasarkan pada hukum. Hal ini dikenakan bagi umat Perjanjian Lama. Dalam hal ini mereka harus belajar hukum atau peraturan-peraturan yang sama dengan syariat agama. Mereka harus mengenakannya dengan ketat dalam kehidupan ini. Pelanggaran terhadap hukum ini ada sanksinya dalam bentuk hukuman fisik, dari menyakiti sampai membunuh.
    Kedua, adalah kebenaran yang didasarkan pada Tuhan. Hal ini dikenakan bagi umat Perjanjian Baru. Dalam hal ini orang percaya Perjanjian Baru harus mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Kehendak Allah tidak diwakili oleh hukum, peraturan-peraturan atau yang sama dengan syariat agama yang dikenal dalam banyak agama. Untuk mengerti kehendak Allah orang percaya harus belajar kebenaran. Dengan belajar kebenaran ini seseorang dapat memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan roh inilah yang membuat seseorang memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah.
    Bagi umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya, di mana kebenaran mereka didasarkan pada hukum, ukuran kesucian hidup mereka sangat jelas, yaitu berdasarkan hukum dan hal ini dapat terverifikasi atau dibuktikan. Tetapi kesucian dan kebenaran bagi umat Perjanjian Baru tidak terverifikasi atau terbukti dengan mudah, sebab kesucian dan kebenarannya berdasarkan perspektif Allah. Allah yang menilai kehidupan setiap individu. Itulah sebabnya di dalam kehidupan orang percaya, mereka tidak boleh menghakimi sesamanya, artinya mudah menilai salah atau benar suatu tindakan atau keputusan seseorang, kecuali tindakan tersebut nyata-nyata melanggar norma secara umum.
    Harus dipahami bahwa yang dikatakan benar-benar benar pada akhirnya adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dalam kehidupan masing-masing individu untuk dimengerti dan dilakukan. Hal ini lebih dari hukum-hukum, peraturan dan syariat agama. Kehendak Allah kepada masing-masing orang adalah berbeda. Oleh sebab itu setiap orang harus bergumul dalam interaksi konkret dengan Allah untuk menemukan kehendak dan rencana-Nya dalam hidupnya.  Dengan demikian seseorang dapat memenuhi prinsip hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Tentu saja orang yang sungguh-sungguh berniat melakukan kehendak Allah, secara norma umum harus sudah baik. Kalau secara norma umum saja sudah tidak baik, maka sudah barang tentu ia tidak akan dapat mengerti kehendak Allah dan melakukannya.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya harus hidup secara luar biasa dalam kelakuan; melebihi tokoh-tokoh agama sekalipun (Mat. 5:20).
    0 min
  • Proyek Percontohan
    Kisah mengenai orang kaya yang menginginkan hidup kekal selain ditulis dalam Lukas 18:18-22, juga ditulis dalam Matius 19:16-22. Ia bertanya kepada Tuhan Yesus apa yang harus diperbuatnya supaya memperoleh hidup kekal? Tuhan Yesus menjawab: “Jikalau kamu hendak sempurna…”. Kata “sempurna” dalam teks ini sama dengan yang terdapat dalam Matius 5:48, yaitu teleios (τέλειος). Kata sempurna di sini mestinya terkait dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa hanya satu yang baik, yaitu Allah saja. Dari pernyataan ini, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa ukuran kebaikan atau kesempurnaan harus berpijak pada Allah, bukan berpijak dari sudut pandang siapa pun. Bahwa Allah adalah sumber dan ukuran kebaikan satu-satunya yang sempurna. Jadi, kalau orang kaya ini mengakui bahwa Yesus baik, itu berarti Yesus berasal dari Allah atau Allah sendiri.
    Yesuslah sumber kebaikan dan ukuran kebaikan yang dikehendaki oleh Allah. Oleh sebab itu kalau ia mengakui bahwa Yesus adalah Allah sendiri, seharusnya ia tunduk kepada kehendak Tuhan Yesus, yaitu menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan datang untuk mengikut Tuhan (Luk. 18:22). Mengikut Yesus dimaksudkan untuk menjadi baik menurut ukuran Bapa di surga, sebab Tuhan Yesus adalah model dari kebaikan yang Bapa kehendaki. Bapa tidak kelihatan tetapi Tuhan Yesus menampilkan karakter-Nya secara nyata (Yoh. 14:9).
    Mengakui otoritas Tuhan Yesus adalah ukuran kebaikan. Kenyataannya, pemuda kaya dalam Matius 19 tersebut menolak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus. Ini berarti ia tidak mengakui otoritas Tuhan Yesus atau tidak menerima konsep kebaikan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus. Kisah ini menginspirasi kita untuk memberi diri tunduk kepada otoritas Tuhan Yesus, yaitu mempelajari dan menerima apa yang diajarkan-Nya serta melakukannya dengan tekun dan rela.
    Tuhan menghendaki agar kita berusaha mencapai kebaikan yang ideal, kebaikan menurut Tuhan (mutlak, obyektif dan sempurna). Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dalam pernyataan-Nya: Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Dengan demikian kehidupan moral orang percaya harus melebihi kebaikan moral ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Orang percaya dipanggil Tuhan untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dituntut dapat mencapai target yang melampaui mereka yang bukan anak Tuhan. Ini konsekuensi sebagai orang percaya yang tidak boleh dihindari. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak hanya menerima berkat keselamatan yang Dia berikan, tetapi juga menerima kehendak-Nya untuk sempurna seperti Bapa.
     
    Dengan demikian sempurna seperti Bapa artinya mampu berpikir dan berperasaan seiring atau sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Dalam hal ini Tuhan Yesuslah sebagai teladan atau prototype-nya. Sempurna seperti Bapa artinya seluruh tindakan dan keputusan seseorang selalu sesuai atau sinkron dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Pribadi seperti inilah pribadi yang dinyatakan oleh Bapa di surga sebagai berkenan di hadapan-Nya. Inilah ukuran kebaikan yang sempurna itu.
    Sebelum Tuhan Yesus menang, taat sampai mati, menderita, disalib dan bangkit, Ia berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, sebab pada waktu itu Ia belum bisa mengklaim bahwa diri-Nya menang. Tetapi setelah Tuhan Yesus menang, Ia bisa menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Maka kalau seseorang mau sempurna seperti Bapa, ia harus mengenal kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menjadi pilot project (proyek percontohan) Ilahi yang melalui-Nya atau dengan mana orang percaya bertumbuh dan memproyeksikan dirinya menjadi sempurna seperti Bapa.
    0 min
  • Ukuran Hidup Kekal
    Dalam Lukas 18:18-19 termuat dialog antara Tuhan Yesus dengan seorang kaya. Orang kaya ini bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Orang kaya ini memperkarakan apakah kebaikan itu atau mengenai perbuatan manusia yang berkategori baik itu? Orang kaya ini percaya bahwa perbuatan yang baik akan menghasilkan kehidupan yang kekal. Hidup kekal bukan hanya semata-mata menunjuk kehidupan nanti di surga setelah mati, sebab pada umumnya orang tertumbuk pada kata “kekal”, asumsinya bahwa hanya di surga ada kekekalan. Padahal berbicara mengenai kekekalan bukan hanya di surga ada kekekalan, tetapi juga di neraka. Sesungguhnya hidup yang kekal berbicara mengenai hidup yang berkualitas atau hidup yang bermutu. Hidup kekal berbicara mengenai kebaikan yang ideal menurut Tuhan. Hidup kekal bukan hanya memuat pengertian panjangnya hidup, tetapi juga memuat dalamnya hidup atau kualitas hidup.
    Tuhan mengemukakan kepada orang muda yang kaya, bahwa untuk memiliki suatu kehidupan yang berkualitas atau hidup kekal seseorang harus menuruti segala perintah Tuhan dalam Taurat-Nya. Tuhan Yesus berkata: “… Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah… Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Orang kaya tersebut mengaku bahwa dirinya sudah melakukan hukum-hukum Tuhan dengan baik. Mendengar ucapan pemuda yang kaya itu Tuhan Yesus tidak membantah. Ini berarti memang ia telah melakukan perintah Tuhan dengan baik.  Ini juga berarti, bahwa di dunia ini sangat besar kemungkinan adanya orang-orang yang memang dapat melakukan perintah Allah atau hukum-hukum agama secara baik, atau mencapai kualitas kebaikan menurut hukum-hukum agama yang ada. Dengan demikian, ditinjau dari kehidupan umat Perjanjian Lama, ada orang-orang yang sudah berkategori memiliki hidup kekal atau hidup yang berkualitas.
    Rupanya orang muda yang kaya ini merasa apa yang telah dilakukannya itu tidak cukup membuat dirinya telah mencapai hidup yang berkualitas. Itulah sebabnya orang muda yang kaya ini berkata kepada Tuhan Yesus, apalagi yang harus dilakukannya. Tuhan menjawab: “Jikalau kamu mau sempurna pergilah dan juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang miskin, lalu datanglah kepada-Ku”.  Di sini ada hal yang harus kita perhatikan dengan serius, bahwa ada kebaikan nilai umum atau kebaikan nilai subyektif. Ini adalah kebaikan manusia. Tetapi di sisi lain ada kebaikan yang bernilai obyektif, mutlak dan ideal menurut perspektif Tuhan. Ini adalah kebaikan yang sempurna. Jika pemuda kaya tersebut bersedia melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, maka ia akan menjadi salah satu murid Tuhan Yesus. Tetapi sampai akhir Injil ditulis, nama pemuda kaya ini tidak pernah dikenal. Ia meninggalkan Tuhan dengan sedih dan tidak bersedia melakukan apa yang Tuhan perintahkan.
    Ditinjau dari hukum Taurat pemuda kaya ini sudah benar, tetapi kalau ditinjau dari standar atau ukuran umat Perjanjian Baru, ia belum benar-benar benar. Belum benar-benar benar tidak dikaitkan dengan Allah yang memang sudah mutlak benar, tetapi dikaitkan dengan hukum atau norma manusia yang selama ini dianggap sudah benar, tetapi sebenarnya belum benar jika dibandingkan dengan standar hidup kekal ukuran umat Perjanjian Baru. Orang percaya dipanggil Tuhan untuk memiliki hidup kekal atau kehidupan berkualitas yang tidak didasarkan pada hukum Taurat atau hukum manapun, tetapi didasarkan pada kehendak Allah; sebab kehendak Allah adalah ukuran kebenaran atau kebaikan yang benar-benar benar. Hukum yang tertulis belumlah mewakili kehendak-Nya secara sempurna.
    0 min
  • Ketulusan
    Orang yang tulus terhadap sesamanya adalah orang-orang yang tidak berlaku munafik. Orang yang tulus tidak memiliki “keramahtamahan yang dibuat-buat”. Dengan demikian sikap lahiriahnya menjadi manifestasi dari sikap batiniahnya. Oleh sebab itu kalau kita mau menjadi seorang yang memiliki kejujuran, bukan sikap lahiriahnya yang dipoles, tetapi sikap batin yang terus menerus diperbaharui.
    Kata “kemurnian” dalam 2 Korintus 1:12, dalam teks aslinya adalah haplotes (ἁπλότης), artinya without dissimulation (tanpa berpura-pura). Kata ini bisa berhubungan dengan kata hagioteti (sanctity), yang juga dapat diterjemahkan sebagai kesucian. Menunjuk sikap yang tidak jahat terhadap sesamanya.  Sebaliknya, orang yang tidak berlaku apa adanya adalah orang yang berlaku jahat terhadap sesamanya. Kata hagioteti juga diterjemahkan sebagai simplicity (kesederhanaan). Ini menunjuk kepada orang yang tidak berhati bengkok terhadap sesamanya. Orang yang tidak berlaku belat-belit. Kemurnian ini adalah kemurnian dari Allah, menunjuk ketulusan hati Yesus. Dalam kehidupan setiap hari kita sering melakukan kebohongan yang terselubung melalui keramahtamahan yang berlebihan atau dibuat-buat dan diplomasi-diplomasi yang sama artinya dengan “politik pergaulan”.
    Di dunia timur seperti di Indonesia ini, keramahtamahan adalah ciri masyarakat yang sering dibangga-banggakan. Keramahtamahan yang identik dengan corak kehidupan dan sopan santun ini sering dianggap sebagai kendaraan untuk menciptakan harmonisasi hubungan antar pribadi. Padahal keramahtamahan yang berlebihan dan dibuat-buat merusak prinsip persahabatan dan persaudaraan yang murni. Tuhan memang menghendaki kita berlaku ramah terhadap yang lain, tetapi keramahan yang tulus, yang lahir dari kasih. Ini adalah keramahtamahan yang berakar dari hati yang memuat kasih agape. Keramahtamahan sejatinya bukanlah sikap lahiriah, tetapi sikap hati atau batin yang memancar atau terekspresi dalam perbuatan lahiriah.
    Keramahtamahan ini sebenarnya sesuatu yang positif dan luhur, tetapi kalau keramahtamahan menjadi sesuatu yang dimanipulasi, maka lebih tepat dikatakan sebagai kemunafikan yang sejajar dengan kepura-puraan atau dusta. Oleh sebab itu, keramahtamahan yang dibuat-buat dan berlebihan pun dapat dikategorikan sebagai kebohongan terselubung. Sebagai orang timur yang biasa dengan keramahtamahan yang berlebihan, kita harus mulai belajar memiliki keramahtamahan yang benar. Untuk membangun keramahan yang benar, maka yang digarap adalah sikap hati kita terhadap sesama. Kita harus menerima orang lain sebagaimana adanya dengan kasih Kristus. Hendaknya kita tidak menuntut orang menjadi seperti yang kita kehendaki. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan kelemahlembutan. Dengan demikian kita dijauhkan dari sikap diplomasi dalam berinteraksi dengan sesama. Hal ini merusak kesucian hidup.
    Diplomasi adalah bahasa dunia yang sangat populer dan makin populer dewasa ini. Hampir dalam segala kesempatan gerak kehidupan, diplomasi menjadi bagian dari komunikasi manusia. Bukan hanya di kalangan para diplomat dan politikus saja, dalam dunia perdagangan, gereja dan pergaulan sehari-hari pun diplomasi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Diplomasi dalam pergaulan bisa merusak kesucian hidup, karena diplomasi dalam pergaulan pada hakikatnya adalah kepura-puraan. Ini adalah bentuk kemunafikan yang sejajar dengan penipuan secara terselubung. Kita dapat melihat, banyak pembicara di mimbar gereja mempraktikkan diplomasi-diplomasi dan keramahantamahan palsu, yang sama artinya dengan kebohongan terselubung ini. Dalam hal ini setiap unsur diplomasi adalah sesuatu yang tidak Alkitabiah. Diplomat yang sejati tentulah mempunyai kata-kata dan sikap untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Ini adalah dusta yang sangat halus dan secara tidak langsung. Untuk menjadi sempurna, diplomasi seperti ini harus dibuang jauh-jauh.
    0 min
  • Kebohongan Terselubung
    Pada umumnya setiap manusia menjunjung tinggi kejujuran. Apalagi komunitas agama, kejujuran menjadi salah satu pilar etika yang dianggap utama. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan kejujuran itu? Benarkah selama ini kita telah memiliki kejujuran yang berkualitas? Bukan jujur pura-pura atau kebohongan terselubung. Maksud kebohongan terselubung adalah sikap atau perkataan yang tidak secara terang-terangan menunjukkan kebohongan, tetapi bermaksud menggelapkan fakta sebenarnya. Kebohongan terselubung ini sebenarnya lebih mengarah kepada sikap batiniah. Kebohongan terselubung sama artinya dengan ketidaktulusan. Tidak sedikit orang yang bisa dianggap jujur dalam ucapan dan perilaku di mata manusia, tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki ketulusan yang murni atau kejujuran yang berkualitas.
    Tuhan selalu menghendaki kebenaran mutlak atau kebenaran penuh, sebab Ia sendiri adalah kebenaran. Sebaliknya, Iblis adalah pendusta. Iblis gemar menggunakan kebenaran-kebenaran yang hanya sebagian untuk menyesatkan manusia. Iblis berusaha membujuk manusia dengan segala cara agar manusia menuruti caranya dan pola tindaknya. Kejatuhan Adam dan Hawa di taman Firdaus adalah akibat dusta yang dilakukan Iblis terhadap mereka. Iblis menghampiri manusia dengan bersikap sebagai sahabat, tetapi sebenarnya memuat kekejaman musuh. Dengan modus operandi yang sama, hari ini Iblis mendorong manusia berbuat hal yang sama terhadap sesamanya. Dalam hal ini manusia berdiri di medan pertempuran antara kebenaran dan dusta, kebenaran mutlak atau sebagian kebenaran. Tuhan menghendaki jika kita berkata ya hendaklah mengatakan ya, jika tidak hendaklah mengatakan tidak. Lebih daripada itu berasal dari si jahat. Ayat ini sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai kejujuran ucapan, tetapi ketulusan dalam sikap.  Kebohongan terselubung terjadi disebabkan oleh karena tidak matangnya kepribadian.
    Dalam satu pernyataannya Paulus menulis:  Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah” (2Kor. 1:12). Dari pernyataan ini kita memperoleh nasihat bagaimana seharusnya berperilaku dalam hubungan pergaulan dengan sesama. Inilah yang merupakan sukacita hidup kita. Kata “megahkan” dari terjemahan teks asli kaukhesis (καύχησις) bisa diterjemahkan rejoicing (sukacita). Jadi panggilan atau ajakan untuk memiliki ketulusan dan kemurnian dalam pergaulan bukan merupakan beban, tetapi sukacita. Selanjutnya orang yang memiliki ketulusan dan kemurnian dalam bersikap terhadap sesama sadar mengenai perilakunya tersebut.
    Paulus menjelaskan hal ini dengan kalimat: “suara hati kami memberi kesaksian kepada kami”. Hal ini secara tidak langsung juga hendak menunjukkan bahwa ada orang-orang yang tidak menyadari sikap batinnya terhadap sesama. Mereka memperlakukan sesamanya sesuka hatinya. Biasanya orang-orang ini adalah orang yang memanipulasi segala kesempatan untuk kepentingan pribadi. Inilah orang-orang oportunis, orang-orang yang dengan “hikmat duniawi” memperlakukan sesamanya. Hikmat duniawi di sini sama artinya dengan “politik pergaulan”.
    Apa yang ditulis Paulus tersebut merupakan pola hidup yang sewajarnya yang harus kita miliki sebagai anak-anak Allah. Dalam pergaulan dengan sesama kita harus memiliki baju ketulusan dan jubah kemurnian oleh kekuatan kasih karunia Allah. Ketulusan di sini dalam teks aslinya adalah eilikrineia (εἰλικρίνεια). Kata ini berarti purity, sincerity, (kemurnian, ketulusan). Kata ini hendak menunjuk orang yang memperlakukan sesama sewajarnya, tidak berlaku munafik demi keuntungan pribadi.
    0 min
  • Kejujuran Dalam Bersumpah
    Dalam Matius 5 yang isinya dikenal sebagai golden rule (undang-undang emas), Tuhan Yesus menyinggung mengenai sumpah. Dalam Matius 5:33-37 Tuhan Yesus mengatakan: Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Sebenarnya maksud Tuhan di dalam ayat ini adalah agar orang percaya memiliki integritas dalam kejujuran.
    Oleh sebab bersumpah adalah suatu perbuatan yang di dalamnya seseorang memanggil atau menggunakan nama Tuhan, di mana Tuhan sebagai saksi utama untuk meneguhkan atau menyuguhkan kebenaran atas apa yang seseorang nyatakan atau janjikan, maka orang percaya harus benar dalam hal ini. Sebenarnya ada dua macam sumpah, yaitu pertama sumpah promissoir. Ini adalah sumpah yang mengandung janji-janji, misalnya dalam sumpah yang dituntut dari seorang pegawai pemerintah pada waktu diangkat dalam jabatannya. Dalam sumpah ini seseorang berjanji hendak melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya. Kedua, sumpah assertoir; sumpah yang meneguhkan kebenaran suatu keterangan yang diberikan. Sumpah jenis ini dilakukan dalam hukum pidana, hukum proses, hukum sipil, hukum tentara dan lain-lain, yakni kalau seseorang dipanggil untuk memberi kesaksian.
    Tuhan tidak menghendaki orang percaya mengangkat sumpah sebagai sarana untuk menipu atau mengelabui sesamanya. Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5:33-37 harus dipahami dengan benar. Untuk itu kita harus meneliti dengan benar maksud larangan sumpah dalam teks atau ayat tersebut. Sebenarnya konteks ayat tersebut adalah integritas kejujuran yang harus dimiliki orang percaya. Yang hendak ditekankan dalam ayat tersebut adalah “sumpah dusta” atau upaya untuk menutupi kebenaran dengan mengangkat sumpah. Ada beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang berbicara mengenai sumpah. Di mana Allah ditampilkan sebagai saksi (Mat. 26:63-64; 2Kor. 1:23; 1Tes. 2:5). Di dalam ayat-ayat ini tidak ada indikasi bahwa mengangkat sumpah di hadapan pemerintah itu salah.  Yang penting dalam mengangkat sumpah adalah orang percaya tidak boleh berdusta. Dalam menjadikan Allah sebagai saksi ketika seseorang menyatakan suatu kesaksian, kesaksiannya harus benar. Dan dalam memberi kesaksian tersebut, ia harus hidup dalam kebenaran dan kesadaran dalam hati.
    Orang percaya harus dapat membedakan mana yang benar dan yang tidak benar. Dalam hal ini orang percaya tidak akan mengucapkan sumpah untuk membela suatu kejahatan atau demi kepentingan individu atau kelompok sehingga mengorbankan keadilan. Dalam mengangkat sumpah, orang percaya harus menegakkan keadilan. Dengan demikian orang percaya dapat tampil sebagai saksi keadilan. Bila seseorang mengangkat sumpah, namun ternyata ia tidak memenuhi kewajibannya (sumpah promissoir) atau menyatakan suatu dusta (sumpah assertoir), maka berarti ia telah menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Selanjutnya kesetiaan kepada sumpah harus dibatasi dan ditentukan oleh kehendak Allah. Tuhan tidak menghendaki kita menaati sumpah secara mekanis, otomatis, dan terpaksa. Tetapi ketaatan kepada kewajiban dan pengakuan kebenaran kita harus dibangun di atas kesadaran bahwa kita adalah hamba Tuhan yang harus mengabdi kepada Tuhan semata-mata dan menjadi hamba kebenaran.
    0 min
  • Hal Perzinaan
    Dalam Matius 5:27-28 Tuhan Yesus berkata:  Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Rumusan perzinaan seperti ini tidak ada dalam agama manapun juga. Dalam Perjanjian Lama, perzinaan dipandang sebagai suatu tindakan di mana terjadi hubungan badan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh sebuah ikatan pernikahan secara hukum maupun secara adat. Dalam hal ini suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai perzinaan apabila ada kontak tubuh yang terjadi antara laki-laki dan perempuan tersebut dalam dorongan seksual, tanpa direstui oleh masyarakat baik secara hukum maupun adat serta adanya pihak ketiga dalam pernikahan. Jadi perzinaan terjadi apabila seseorang melakukan persetubuhan (carnal intercourse) dengan orang lain yang telah menikah (Ul. 22:22; Im. 20:10). Dalam Perjanjian Lama dosa jenis ini sangat dikutuk sehingga Allah mencantumkan hukum larangan berzina ini dalam Dasa Titah.
    Dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus membuat rumusan tentang perzinaan yang berbeda dengan konsep Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengisyaratkan bahwa suatu tindakan dapat dikategorikan perzinaan tidak harus atau tidak perlu lebih dulu adanya unsur kontak tubuh. Bila seseorang memandang lawan jenisnya dan tergerak nafsu birahinya dan menikmati dalam pikiran, maka tindakan ini sudah dapat dikategorikan sebagai perbuatan zina (Mat. 5:27-28). Dalam hal ini Tuhan Yesus sangat memperhatikan motivasi dasar yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan. Dosa tidak ditentukan pada apa yang kelihatan saja, tetapi juga apa yang tidak kelihatan, yaitu motivasi hati. Inilah yang sering juga disebut zina dalam hati. Suatu perbuatan dikategorikan zina tidak harus atau tidak perlu harus ada kontak tubuh seperti anggapan banyak agama dan filsafat dunia.
    Kata zina dalam Matius 5:27-28 menggunakan satu kata yang akar katanya adalah moikheuo (μοιχεύω). Dengan pernyataan ini dapat kita temukan bahwa memandang lawan jenis dan mengingininya merupakan tindakan zina. Kata mengingini di sini harus dipahami secara tepat. Kata mengingini dalam teks aslinya adalah epithumesai (ἐπιθυμῆσαι), yang diterjemahkan sebagai to lust after. Kita harus dapat memberi muatan pengertian yang benar terhadap kata mengingini di sini. Kata mengingini dalam Matius 5:28 mengandung pengertian ‘birahi’. Dalam teks Alkitab terjemahan lama diterjemahkan “bergerak syahwatnya”. Dalam seksologi “bergerak syahwatnya” ditandai dengan ereksi. Tindakan ini diidentifikasikan oleh Yesus sebagai sebuah perzinaan (Yun. Moikeuo), artinya tindakan yang berpotensi merusak hakikat perkawinan.
    Bila kita mengamati Matius 5, kita dapati bahwa tindakan dosa bukan hanya menyangkut perilaku yang konkret kelihatan, tetapi gerak hati dan sikap batin seseorang sudah dapat membuahkan perbuatan yang dikategorikan oleh Tuhan Yesus sebagai dosa. Ini sejajar dengan apa yang dikemukakan oleh Yohanes dalam suratnya bahwa yang namanya membunuh bukan saja menghabisi atau menghilangkan nyawa orang lain, tetapi membenci juga sudah merupakan pembunuhan di hadapan Tuhan (1Yoh. 3:15). Dalam hal ini untuk menghindari dosa perzinaan bukanlah sekadar menjauhi lawan jenis dan tidak bergaul dengan mereka, tidak cukup pula dengan menutup seluruh bagian tubuh wanita. Untuk menghindari dosa ini kita harus terus menerus digarap oleh Tuhan, sehingga zina tidak dilakukan bukan karena tidak ada kesempatan, tetapi karena tidak bisa berdosa lagi. Melalui proses pendewasaan, seharusnya seseorang tidak lagi memiliki “gairah” yang dapat merusak bangunan kesucian sebagai anak-anak Allah.
    0 min
  • Relasi Terhadap Allah Dan Sesama
    Dalam Matius 5:22-24, Tuhan Yesus mengatakan: Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Hukum seperti ini tidak ada di dalam agama manapun. Kemarahan yang tidak patut dan sikap menuduh yang tidak berdasar, merupakan sikap hati, belum menjadi tindakan yang melanggar moral menurut pengertian umum, tetapi menurut Tuhan bagi anak-anak Allah sudah merupakan tindakan yang membuat seseorang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Dalam hal ini suatu perbuatan dinyatakan sebagai kesalahan bukan hanya tindakan lahiriah yang nyata, tetapi sikap hati yang tidak sesuai dengan kesucian Allah.
    Tuhan menghendaki agar umat-Nya sebelum berurusan dengan Tuhan harus dalam keadaan hati yang bersih terhadap sesama. Jika tidak, maka segala bentuk ibadahnya menjadi sia-sia. Dalam hal ini ibadah di gereja tidak dapat dipisahkan dari langkah-langkah kehidupan setiap hari. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpikir bahwa yang penting adalah ke gereja dan melakukan seremoni, tetapi sesungguhnya sikap hati terhadap sesama memainkan peranan penting dalam relasi dengan Allah. Tuhan menghendaki perdamaian dengan semua orang, artinya hidup tanpa musuh dengan siapa pun.
    Terkait hal relasi dengan sesama, Tuhan Yesus juga berkata: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat. 5:38-44). Pernyataan Tuhan ini sangat luar biasa. Sikap mengalah, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan adalah keistimewaan dalam Kekristenan yang tidak terdapat dalam agama lain. Dalam hal ini jelas orang Kristen tidak akan menjadi teroris terhadap orang lain dan tidak memaksakan agamanya terhadap orang lain.
    Tuhan Yesus juga menegaskan hal ini dalam Matius 5:46-47, apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Dari pernyataan ini sangat jelas sekali bahwa orang percaya harus memiliki keadaan yang unggul dan luar biasa dalam berkelakuan melebihi semua manusia di sekitarnya, bahkan melebihi tokoh-tokoh agama manapun. Dari hal ini, sangatlah jelas bahwa orang percaya harus berjuang untuk bertumbuh menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah atau menjadi berkenan kepada-Nya. Perjuangan memiliki keadaan yang unggul atau luar biasa ini adalah respon terhadap anugerah Allah, bukan usaha untuk mencapai keselamatan. Setelah selamat, maka seseorang harus masuk proses menjadi manusia unggul atau luar biasa ini.
    0 min
  • Keadaan Yang Diterima
    Dalam Matius 5:20 Tuhan mengatakan dengan sangat jelas: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kata hidup “keberagamaanmu” dalam Matius 5:20 adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini lebih tepat diterjemahkan kebenaran yang bertalian dengan kelakuan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir kita. Kata dikaiosune menyangkut integrity, virtue, purity of life, rightness, correctness of thinking feeling, and acting (integritas, kebajikan, kemurnian hidup, kebenaran, kebenaran perasaan berpikir, dan perilaku). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan righteousness. Kata ini dalam konteks tersebut bisa berarti beberapa, antara lain: state of him who is as he ought to be, righteousness, the condition acceptable to God (keadaan yang semestinya dimiliki, sebuah keadaan atau kondisi yang diterima oleh Tuhan).
    Keadaan yang semestinya dimiliki, menunjuk kepada keadaan manusia yang seharusnya dikenakan sesuai atau seperti yang dirancang oleh Allah sejak semula ketika diciptakan. Jadi, kalau orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa, maksudnya bahwa manusia dibawa kepada keadaan sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak berkeadaan seperti yang Allah kehendaki. Dalam hal ini luar biasa di mata manusia adalah kewajaran di dalam pemandangan mata Tuhan. Manusia harus berkeadaan seperti yang Allah inginkan. Bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus mengatakan “harus” sempurna seperti Bapa.
    Dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa orang percaya harus lebih benar dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hal ini mengisyaratkan bahwa penerimaan dan tuntutan Bapa terhadap umat Israel yang masih hidup di dalam Taurat dengan umat Perjanjian Baru adalah berbeda. Dengan demikian orang percaya sebagai umat Perjanjian Baru harus memiliki standar moral lebih dari umat Perjanjian Lama. Demikianlah, mereka yang diberi banyak dituntut banyak, sedangkan yang diberi sedikit dituntut sedikit. Orang percaya yang mengenal Tuhan Yesus dan Injil-Nya berarti diberi banyak, maka dituntut banyak, yaitu harus sempurna seperti Bapa.
    Keadaan seperti yang Allah inginkan adalah keadaan yang diterima oleh Allah (the condition acceptable to God). Orang-orang beragama samawi seperti orang Yahudi berusaha diterima oleh Allah dengan melakukan hukum Taurat. Paulus dalam suratnya tegas mengatakan bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat. Karenanya Paulus juga menasihati mereka yang melakukan hukum Taurat untuk tidak bermegah atau sombong dengan menjalani hukum Taurat tersebut. Seseorang hanya dibenarkan oleh darah Yesus Kristus melalui iman terhadap Allah Anak, Tuhan Yesus Kristus. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada seorang pun yang dihakimi. Ini berarti tanpa penghakiman semua manusia meluncur masuk api kekal tanpa ada yang menahan sama sekali, sebab memang semua manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.
    Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berkeadaan diterima oleh Allah melebihi dari ahli Taurat dan orang Farisi, berarti orang percaya dihakimi dengan ukuran berbeda. Bisa dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan. Berkenan artinya berkeadaan diterima oleh Allah sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Tuhan (the condition acceptable to God). Berkenan yang dimaksud oleh Paulus adalah diterima dalam rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan. Hal ini lebih dari sekadar masuk dunia yang akan datang, tetapi keadaan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, menjadi anggota keluarga-Nya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…