Banyak orang Kristen sesat dengan berpikir bahwa Yesus datang untuk memberi kesejahteraan di bumi, sehingga bumi dapat dinikmati laksana Firdaus. Ini adalah prinsip orang-orang beragama pada umumnya. Mereka beragama karena meyakini Allah yang disembahnya dapat menopang hidupnya selama di bumi. Allah yang dipercayai dapat memberi perlindungan istimewa, berkat-berkat khusus dan berlimpah, mengalami kesembuhan kalau sakit, dibebaskan dari berbagai persoalan dan bahaya, serta berbagai ancaman sehingga menikmati kemuliaan, kehormatan, dan kenyamanan dalam dunia ini.
Demikianlah, banyak orang Kristen juga berpikir seperti orang-orang beragama pada umumnya. Mereka percaya bahwa menjadi orang Kristen berarti memperoleh jaminan perlindungan dan berkat jasmani yang lebih dari orang-orang non-Kristen. Yesus seperti ini bukanlah Yesus yang asli, tetapi Yesus yang lain. Orang Kristen yang berpikiran demikian, berurusan dengan Tuhan hanya karena pemenuhan masalah kebutuhan jasmani. Tentu saja mereka hanya memperalat Tuhan. Tuhan tidak menjadi tujuan atau objeknya, tetapi hanya sebagai sarana untuk memuaskan keinginan atau memperoleh apa yang mereka cita-citakan. Dalam hal ini Tuhan Yesus hanya menjadi alat atau sarana, bukan tujuan.
Mereka juga berpikir karena mereka menjadi anak-anak Allah, maka Bapa memperlakukan mereka secara istimewa. Orang Kristen seperti ini tidak memahami bahwa ada hukum tabur tuai yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Orang Kristen pun harus tunduk atau mengalami hukum tersebut. Tidak ada seorangpun yang lolos dari dari hukum ini. Dalam keadilan-Nya yang sempurna Tuhan memberlakukan hukum ini secara adil kepada semua orang. Kalau Tuhan memberikan dispensasi kepada orang Kristen terkait dengan hukum ini, berarti Tuhan bukan saja tidak fair, tidak adil, dan curang, tetapi juga merusak moral umat pilihan-Nya.
Jadi, kalau ada orang Kristen yang tidak menjaga pola makan dan pola hidupnya dengan baik, pasti sakit. Sakitnya bukan karena kutuk, tetapi sebagai disiplin karena tidak menjaga bait suci yang Tuhan percayakan kepadanya. Menjaga bait suci, yaitu tubuhnya, bukan hanya tidak minum minuman alkohol yang berkadar tinggi, narkoba, atau sejenisnya, tetapi tidak memiliki pola hidup yang baik dan tidak menjaga pola makan yang baik juga merupakan tindakan menghancurkan bait suci. Oleh sebab itu, jangan karena terdapat ayat Firman Tuhan bahwa oleh bilur-Nya kita disembuhkan, kemudian orang Kristen boleh ceroboh mengenai pemeliharaan tubuhnya.
Jadi, kalau orang Kristen tidak bekerja rajin, maka ia tidak boleh memiliki kelimpahan materi. Kekayaan tanpa kerja keras menjadikan jiwa rusak dan membentuk kepribadian yang tidak bertanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak mungkin bisa masuk surga sebagai anggota keluarga Kerajaan Elohim, Yahweh. Orang Kristen yang suka marah, konflik, tidak suka mengalah, tidak tunduk kepada atasan, tidak setia kepada tugas, dan tidak jujur, tidak akan dapat betah dalam suatu pekerjaan. Ia akan memiliki banyak musuh, sukar mendapatkan pekerjaan yang permanen. Banyak orang Kristen menjadi miskin karena kemiskinan karakter ini.
Oleh sebab itu, orang percaya harus memahami hukum tabur tuai ini dan memperhatikan jalan hidupnya. Ditambah lagi dengan pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:45, maka lebih jelas bahwa dalam kehidupan jasmani orang Kristen bisa diperlakukan sama dengan orang di luar Kristen. Bapa yang di surga, menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Hal ini menunjukkan bahwa mengenai berkat jasmani, Tuhan memperlakukan semua manusia dengan adil. Tuhan tidak akan merusak hukum tabur tuai yang telah ditetapkan-Nya.