Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Rintihan Yang Tidak Terucapkan
    Dalam Roma 8:26 tertulis: Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Roh yang membantu ini roh siapa? Berdasarkan analisa di atas roh yang dimaksud adalah spirit atau gairah yang dilahirkan atau muncul dalam kehidupan orang percaya dari perjalanan hidup dalam pimpinan Roh Allah. Membantu di sini bisa berarti mengkondisi roh kita di mana terdapat hati nurani untuk mengerti segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah dan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Roh itu menyatu dengan roh kita, sehingga dapat menaikkan doa dengan kualitas yang sebelumnya kita tidak mampu lakukan atau miliki.
    Kata “membantu’ dalam teks aslinya bahasa Yunani adalah sunantilambanomai (συναντιλαμβάνομαι), yang juga berarti turut menanggung bersama atau bergumul bersama. Roh yang dihasilkan dari pimpinan Roh Kudus dalam diri orang percaya, mengajari bagaimana berdoa secara patut kepada Allah. Jadi, setelah roh itu memberi bukti bahwa orang percaya tersebut anak Allah, roh itu juga memberi bantuan bagaimana sepatutnya berdialog dengan Allah. Adapun yang dimaksud dengan “kelemahan” di sini bisa berarti kelemahan fisik, tetapi juga berarti ketidakberdayaan atau ketidakmampuan untuk mengerti. Tepat sekali, bahwa roh menolong kita untuk mengetahui apa yang patut kita minta kepada Bapa.
    Sebelum kita dipimpin Roh Kudus sehingga belum melahirkan roh itu, kita berdoa secara sembarangan. Kita minta apa saja yang menurut diri kita sendiri adalah baik dan menguntungkan. Tetapi setelah kita memiliki roh itu, maka roh itu memberi kepekaan untuk mengerti apa yang patut disampaikan dalam doa atau dalam berdialog dengan Allah. Inilah maksudnya bahwa roh itu membantu kita berdoa. Roh itu membantu kita untuk menaikkan dosa syafaat untuk orang lain, khususnya untuk para hamba-hamba Tuhan dan untuk pekerjaan Tuhan, dengan tulus dan benar. Dalam hal ini, doa syafaat bukan hanya dinaikkan secara sembarangan, seperti yang dilakukan banyak orang. Menurut mereka yang penting mengucapkan kalimat doa untuk orang lain, apakah itu negara dan bangsa, pemerintah, gereja, para hamba Tuhan, yatim piatu dan lain sebagainya. Tetapi menaikkan doa dengan beban yang tulus dan benar. Dalam ayat tersebut digunakan kalimat “keluhan-keluhan yang tak terucapkan”.
    “Keluhan-keluhan” dalam teks aslinya adalah stenagmos (στεναγμός) adalah rintihan (groaning). “Tak terkatakan” dalam teks aslinya adalah alaletos (ἀλάλητος), yang artinya unexpressed, inexpressible (tak terekspresikan atau sulit mengemukakan atau menyatakan). Dalam hal ini kalimat keluhan-keluhan yang tidak terkatakan menunjuk beban yang sangat mendalam. Roh yang dilahirkan dari pimpinan Roh Kudus memberi kemampuan seseorang memiliki beban yang sangat mendalam terhadap sesama terutama bagi pekerjaan Allah.
    Dalam Roma 8:27 tertulis: Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kata Allah dalam teks aslinya sebenarnya tidak ada, teks aslinya tertulis: o de eraunon (ὁ δὲ ἐραυνῶν), yang artinya seseorang (male atau He) menyelidiki. Tidak jelas siapa yang dimaksud He di sini. Jika kita menghubungkan dengan ayat sebelumnya, maka yang memimpin orang percaya adalah Roh Allah, maka lebih dekat atau lebih tepat dipahami sebagai Allah yang menyelidiki. Sebenarnya kata “hati nurani” dalam teks aslinya adalah phronema to pneumatos, yang artinya cara berpikir atau hati nurani dari roh manusia. Dalam hal ini roh itu telah menyatu dengan roh kita (roh manusia). Kalau melihat teks aslinya Roma 8:27 dapat diterjemahkan sebagai berikut:  Dia yang menyelidiki hati, tahu cara berpikirnya roh (hati nurani), bahwa ia berdoa syafaat sesuai dengan kehendak Allah untuk orang-orang suci. Roh tersebut memberi kemampuan kita mengerti kehendak Allah apa yang baik,
    0 min
  • Roh, Roh Perbudakan, Dan Roh Kita
    Penjelasan dalam sub bab ini sebenarnya hanya menegaskan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu mengenai roh dan roh perbudakan. Ini jenis roh yang ketiga dan sekaligus keempat.  Mengapa dua jenis roh dibahas bersama? Sebab kedua roh ini saling bertentangan. Kata “roh” menunjuk spirit atau gairah yang dimiliki orang percaya setelah mengalami proses keselamatan, sedangkan “roh perbudakan” adalah spirit atau gairah dunia hasil pengaruh dunia, yang bertentangan dengan gairah roh. Roh perbudakan adalah gairah hidup yang terikat oleh percintaan dunia. Selanjutnya Roma 8:14, teks tersebut menyatakan: Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Dipimpin di sini artinya dalam tuntunan atau dalam kehendak Allah Bapa (Theos).
    Orang-orang yang dipimpin Roh Allah memiliki roh (gairah) yang benar atau kudus, yang diajarkan atau dilahirkan dalam kehidupan orang percaya tersebut. Roh itu memberikan keberanian menghadapi hidup, sebab dapat menghayati kehidupan sebagai anak Allah. Kalau seseorang menghayati hidup sebagai anak Allah, maka tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Gairah (dari roh) tersebut juga menempatkan orang percaya layak disebut sebagai anak-anak Allah, sehingga dapat memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam hal ini orang yang memiliki panggilan dengan benar kepada Allah sebagai Bapa, pasti terbebas dari perasaan takut menghadapi segala sesuatu, bahkan tidak takut menghadapi kematian dan pengadilan Allah.
    Roh (spirit yang dilahirkan dari proses kehidupan yang dipimpin Roh Allah) bersaksi bersama-sama dengan roh kita (roh manusia). Hanya, kalau roh itu (bukan roh kita, tetapi spirit yang dihasilkan oleh pimpinan Roh Kudus) dilahirkan, maka dapat menyaksikan bahwa kita adalah anak Allah. Dalam hal ini pengakuan sebagai anak Allah bukanlah hasil teologi yang disuntikkan di dalam nalar, tetapi sebuah pergumulan yang dialami seseorang dalam penurutan kepada pimpinan Roh Kudus, sehingga melahirkan roh (spirit atau gairah) yang memberi kesaksian bahwa kita adalah anak Allah.
    Harus selalu diingat bahwa roh di sini (hasil dari pimpinan Roh Kudus) bukan menunjuk kepada suatu pribadi, tetapi spirit atau gairah dan kesadaran; di dalamnya terdapat kemampuan yang menempatkan roh manusia menjadi suci dan sempurna atau unggul. Roh ini mewarnai atau menyatu dengan roh kita (roh manusia). Sebagai akibat atau buahnya, di sini terjadi pembaharuan roh seperti yang dimaksud Paulus dalam Efesus 4:23. Dalam 1 Tesalonika 5:23 Paulus juga menyatakan bahwa roh manusia harus dikuduskan yang sama artinya dengan disempurnakan
    Orang percaya harus membiasakan diri merasakan apa yang dialami, bukan membiasakan diri merasakan apa yang diyakini. Merasakan apa yang berasal dari keyakinan, bisa merupakan fantasi, tetapi merasakan apa yang dialami merupakan pengalaman secara konkret mengubah kehidupan seseorang sehingga memiliki roh yang seunsur dengan Roh Kudus. Pada umumnya orang Kristen membiasakan diri merasakan apa yang diyakini, sehingga imannya hanya ada di wilayah pikiran atau nalar. Semua hanya dipecahkan dalam keyakinan pikiran. Di sini Tuhan menjadi hanya seperti fantasi. Mereka berurusan dengan Tuhan di dalam pikiran mereka dan memaknai setiap kejadian hidup sesuai dengan filosofi mereka. Mereka tidak sungguh-sungguh berurusan dengan Allah yang hidup dan nyata. Tentu saja orang Kristen seperti ini tidak memiliki roh dalam arti gairah, spirit dan hasrat yang dilahirkan dalam perjalanan konkret hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sebab semua hanya dipecahkan dengan doktrin dan kajian teologi. Mereka belum hidup menurut roh dengan benar. Tidak heran kalau mereka masih saja menjadi orang Kristen yang tidak berbeda dengan orang non Kristen
    0 min
  • Roh Allah Dan Roh Kristus
    Kitab Roma adalah kitab yang rumit dipahami. Rumit bukan berarti tidak dapat dipahami. Kita harus berhati-hati, agar tidak salah menginterpretasikannya. Dalam kitab Roma, Paulus menyinggung adanya bermacam-macam roh. Roh Allah, Roh Kristus, roh, roh perbudakan dan roh manusia. Selain itu juga terdapat kalimat “karunia sulung roh” (Rm. 8:23). Adapun “karunia sulung roh” bukanlah suatu roh, tetapi lebih menunjuk suatu status, atau sebuah hak istimewa bagi orang percaya yang memiliki keberadaan yang berbeda dengan manusia lain. Sebab orang percaya diberi kesempatan untuk menjadi serupa dengan Yesus dan dimuliakan bersama-sama dengan Dia.
    Untuk lebih jelasnya memahami isi Roma 8, maka kita harus memahami secara teliti jenis-jenis roh tersebut. Pertama, Roh Allah. Roh Allah jelas menunjuk Roh-Nya Allah yang sama dengan Roh Kudus. Dalam hal ini kita tidak boleh membedakan secara mutlak antara Roh Allah dengan Allah sendiri, sebab Roh Allah adalah Roh-Nya sendiri. Ini satu-satunya keistimewaan yang tidak dimiliki siapapun. Ini hanya dimiliki Allah Bapa (Theos), yang empunya kuasa, kemuliaan dan Kerajaan. Bapa (Theos) ada di tempat yang tidak terhampiri, tetapi Roh-Nya hadir di mana-mana. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dalam Yohanes 4:24, Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Bapa (Theos) adalah Roh, dan Roh-Nya melingkupi seluruh jagad raya ini tak terbatas.
    Kedua, roh Kristus. Roh Kristus dalam konteks ini (Roma 8) belum tentu menunjuk kepada pribadi Yesus. Dalam bagian lain dalam Alkitab terdapat kata Roh Yesus (Kis. 16:7; Flp. 1:9). Roh Yesus jelas sekali menunjuk kepada Pribadi Tuhan Yesus sendiri; di mana Yesus turun dari surga untuk melakukan tindakan khusus. Tetapi roh Kristus menunjuk kepada hasrat atau gairah yang ada pada Yesus. Kristus artinya yang diurapi. Dalam hal ini, roh Kristus tidak menunjuk kepada Pribadi Yesus, tetapi kepada pengurapan-Nya, yaitu spirit atau gairah-Nya sebagai “yang diurapi”. Di dalam roh Kristus juga terdapat kecerdasan, hikmat dan kepenuhan karunia-karunia Roh Kudus.
    Dalam Roma 8:9 tertulis: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Dalam teks aslinya kata Kristusnya hanya satu. Jadi bisa berbunyi: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya. Bukan milik-Nya di sini berarti bukan milik Allah, berarti pula bukan milik Tuhan Yesus atau bisa juga berarti tidak dalam kekuasaan spirit atau gairah seperti yang ada pada Tuhan Yesus.
    Terkait dengan hal ini, perlu kita meneliti apa yang dikatakan Petrus mengenai Roh Kristus: Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Roh Kristus di sini bisa menunjuk kepada spirit dalam kehidupan orang percaya yang memberi kecerdasan roh dan kepekaan untuk memahami rencana Allah.
    Selanjutnya dalam Roma 8:10 tertulis: Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Kristus ada di dalam kita artinya pengurapan yang ada pada Tuhan Yesus juga ada pada kita, yang sama dengan gairah atau spirit di dalam diri kita, maka walaupun tubuh telah terhamba oleh kodrat dosa, dan pasti mati oleh karena hukumannya. Tetapi roh akan dapat menguasai kehidupan orang percaya dengan kebenaran yang diajarkan dalam Injil, sehingga nanti akan beroleh kehidupan dalam kerajaan-Nya. Dengan pernyataan ayat ini dapat disimpulkan bahwa kebenaran-kebenaran Injil akan membangun roh Kristus dalam kehidupan seseorang, dan roh Kristus mematikan keinginan dosa di dalam kehidupan...
    0 min
  • Teknon Allah
    Kata “anak Allah” dalam teks aslinya (Rm. 8:16) adalah tekna theou (τέκνα θεοῦ). Dalam bahwa Yunani terdapat beberapa kata yang dapat diterjemahkan anak. Kata pertama adalah nephios (νήπιος), kata ini memiliki pengertian bayi atau anak usia sangat dini (Mat. 11:25). Kata kedua adalah paidion (παιδίον), kata ini memiliki pengertian anak usia 7 sampai 14 tahun, usia yang sangat efektif dididik (Mat. 18:3). Ketiga adalah huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti Pangeran (Ibr. 12:8). Kata keempat adalah nothos (νόθος). Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan anak gampang. Kata nothos ini artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Kata terakhir adalah teknon (τέκνον). Adapun kata teknon artinya anak dalam arti keturunan. Di dalam kata teknon menyiratkan adanya pewarisan gen atau sifat-sifat orang tua kepada anak.
    Berbicara mengenai anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12. Bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Alkitab menulis bahwa semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Kata menerima di dalam teks ini, bahasa aslinya adalah elabon (ἔλαβον) dari akar kata lambano (λαμβάνω) yang selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). Hendaknya kita tidak menyederhanakan kata “menerima” dalam Yohanes 1:12 ini. Menerima adalah proses panjang di mana seseorang harus selalu hidup di dalam penggunaan fasilitas keselamatan agar terus diproses sehingga benar-benar bisa berkeberadaan sebagai anak-anak Allah.
    Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah mereka yang menolak didikan Allah Bapa. Dalam hal ini respon seseorang terhadap keselamatan yang Tuhan berikan sangat penting artinya. Tanpa respon, seseorang tidak akan menjadi anak Allah yang sah.
    Kata “kuasa” berasal dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa berkeberadaan sebagai anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia. Jadi, kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya orang percaya berkeberadaan sebagai anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah berkeberadaan sebagai anak Allah. Berkeberadaan sebagai anak Allah berarti berkarakter seperti Allah; Like father like son. Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi sempurna dengan Bapa. Tentu saja orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak Allah adalah ketika memiliki karakter Bapa.
     
    Melalui proses pendidikan yang Bapa lakukan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Ibr 12:4-11), seseorang diproses untuk memiliki keberadaan seperti Yesus yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah Bapa (Theos). Hal ini sebenarnya merupakan proses dalam kehidupan orang percaya untuk berkeadaan sebagai anak dalam arti keturunan Allah (Yun. Teknon). Dengan demikian seorang yang menerima Yesus dengan benar dapat mewarisi keberadaan Bapa atau sifat-sifat Bapa.
    0 min
  • Bersifat Anak Allah
    Sesungguhnya ada gairah yang ada pada diri Yesus, yang jika orang percaya memilikinya, maka hal itu ditandai dengan perilaku seperti Yesus dalam kehidupannya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapa seperti yang Tuhan Yesus lakukan di bumi ini ketika mengenakan tubuh daging seperti kita. Mereka adalah orang-orang yang memiliki roh Kristus. Dengan demikian sebutan anak Allah tidak bisa dikenakan bagi sembarang orang, tetapi hanya mereka yang dipimpin Roh Allah sehingga memiliki roh Kristus, yaitu orang-orang yang dalam seluruh tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa seperti yang dijalani oleh Yesus. Orang-orang ini seperti mendapat stempel dari Allah dengan memiliki pneuma huiothesias (πνεῦμα υἱοθεσίας). Inilah yang membuat seseorang memiliki panggilan yang sah kepada Allah sebagai Bapa.
    Ternyata melalui perjalanan hidup, ketika seseorang sudah belajar membayar hutang-hutangnya untuk tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh, ia menerima roh yang mengadopsi dirinya sebagai anak-anak Allah secara sah. Dalam Roma 8:15 terdapat kata pneuma huiothesias (πνεῦμα υἱοθεσίας). Kata huiothesias yang bisa merupakan gabungan dari kata huios, Theos dan –as yang artinya “bersifat sebagai anak Allah”. Kata ini menunjuk keadaan seorang yang teradopsi sebagai anak Allah secara sah. Kata pneuma huiothesias menunjuk sebuah kesadaran diri sebagai anak-anak Allah. Kesadaran diri inilah yang menggerakkan seseorang memanggil Allah (Theos) sebagai Bapa tanpa ragu-ragu atau dalam kemurnian hati, yaitu setelah memiliki kesaksian dalam batinnya bahwa dirinya adalah anak Allah.
    Orang percaya yang menolak hidup dalam pimpinan Roh Kudus sehingga masih hidup dalam daging berhubung tidak memiliki roh yang memuat gairah dan hasrat-Nya, memikirkan hal-hal yang dari daging, berarti masih hidup dalam “roh perbudakan”. Jadi jelaslah, apakah seseorang hidup dalam roh perbudakan atau hidup menurut roh tergantung masing-masing individu. Jemaat Roma adalah jemaat yang luar biasa, Mereka berani menantang aniaya yang hebat terhadap mereka dari pihak pemerintah Romawi. Mereka berani kehilangan apa pun juga demi iman mereka. Inilah orang-orang yang telah memikirkan hal-hal dari roh, bukan dari daging. Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan bahwa orang percaya di Roma adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang (Rm. 8:7). Orang-orang yang menang maksudnya adalah orang-orang Roma yang lebih unggul dalam kekayaan, kedudukan, kehormatan dan lain sebagainya.
    Orang-orang percaya di Roma adalah anak-anak Allah yang bermartabat lebih dari semua orang-orang yang hebat menurut ukuran dunia. Anak-anak Allah memiliki keagungan lebih dari manusia pada umumnya, yaitu dalam moral dan karakter di segala aspeknya atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak banyak orang bisa mencapai level ini, sebab memang sangat sulit. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai jalan sempit. Sedikit orang yang bisa masuk. Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih.
    Dari uraian Paulus di atas, jelas sekali Firman Tuhan menyatakan bahwa tidak semua orang yang layak memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi hanya mereka yang memiliki keadaan sebagai anak-anak Allah, artinya orang yang hidup dalam hasrat atau gairah Tuhan Yesus, hidup dalam pimpinan Roh. Tentu saja mereka yang memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Orang-orang seperti ini memiliki kesaksian di dalam dirinya bahwa dirinya adalah anak Allah, sebab dalam dirinya ada kesadaran sebagai anak-anak Allah (pneuma huiothesias). Allah sendiri dalam keagungan-Nya yang tiada tara tidak memberi diri dipanggil “Bapa” oleh sembarangan orang. Itulah sebabnya dikatakan dalam 1 Petrus 1:17: Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.
    0 min
  • Roh Yang Bersaksi
    Paulus menulis dalam Roma 8:15-16: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Siapa atau apa yang dimaksud dengan roh di dalam ayat ini? Pada umumnya orang memahami kata roh di sini adalah Roh Kudus. Hal ini didasarkan pada penulisan kata Roh menggunakan huruf R besar dalam Alkitab Bahasa Indonesia. Ini adalah pandangan yang bisa tidak tepat. Dalam teks aslinya sebenarnya huruf kecil. Roh di sini sebenarnya menunjuk roh dalam artinya gairah, spirit atau hasrat hasil dari perjalanan dipimpin oleh Roh Kudus. Roh ini tidak pernah ada di dalam kehidupan orang yang tidak mengalami pimpinan Roh Kudus, sebab orang yang tidak mengalami pimpinan Roh Kudus tidak pernah memiliki cara berpikir (phroneo) Kristus, yang adalah juga cara berpikir Yesus sendiri.
    Untuk menjawab siapa atau apa yang dimaksud dengan roh di dalam ayat ini, kita harus memahami pengertian kata “bersaksi” dalam ayat ini. Dalam teks aslinya adalah summartureo (συμμαρτυρέω), kata ini berarti to bear witness with (bersama menjadi saksi dengan). Kata summartureo juga berarti to confirm (memberi konfirmasi, memastikan, menegaskan, mempertegas dan membenarkan). Kata bersaksi di sini artinya memberi bukti, sebagaimana tugas seorang saksi di pengadilan membuktikan kebenaran suatu perkara. Roh yang dihasilkan dari perjalanan hidup dipimpin Roh Kudus menjadi saksi apakah seseorang layak memanggil Allah sebagai Bapa atau tidak. Orang yang hidup menurut roh tersebut layak memanggil Allah sebagai Bapa, sebaliknya orang yang masih ada di dalam roh perbudakan tidak layak memanggil Allah sebagai Bapa. Kata “roh perbudakan” (pneuma douleias) sebenarnya juga berarti the condition of a slave (kondisi atau situasi hidup dalam perbudakan). Selama orang masih memiliki kondisi atau dalam situasi hidup dalam perbudakan, panggilannya kepada Allah (Theos) sebagai Bapa belumlah ideal atau belumlah sah menjadi anak Allah.
    Roh tersebut menjadi saksi dalam batin setiap individu bahwa dirinya sudah menjadi anak Allah. Jika tidak demikian, maka dirinya tidak memiliki saksi sebagai bukti bahwa dirinya layak disebut anak Allah. Jadi, orang percaya harus berjuang untuk keluar dari hasrat atau gairah perbudakan (hidup dalam daging dan dalam percintaan dunia). Roh Kudus menuntun orang percaya untuk menghalau roh perbudakan yang diwarisi dari nenek moyang dan lingkungan dengan mengajarkan atau menumbuhkan roh yang baru dalam kehidupan orang percaya. Jika roh itu dilahirkan atau dihasilkan dan orang percaya hidup menurut roh tersebut, maka roh itu menjadi saksi bahwa orang percaya tersebut layak memanggil Allah sebagai Bapa atau layak disebut sebagai anak-anak Allah.
    Jadi roh itu menjadi evaluasi dan mendatangkan penilaian jujur yang menyatakan bahwa dirinya adalah anak Allah. Roh itu memberi konfirmasi artinya dengan adanya roh itu dalam kehidupan kita maka dipastikan, ditegaskan, dibenarkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Terkait hal ini, hendaknya tidak mudah bagi seseorang untuk mengaku diri sebagai anak Allah hanya karena merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan gereja sudah menyatakan bahwa dirinya adalah anak Allah. Selama ini dengan sembarangan gereja mengesahkan semua orang yang masuk ke dalam gereja sebagai orang-orang yang sudah menjadi anak-anak Allah, dan mereka boleh meyakini diri mereka pasti masuk surga. Padahal mereka belum sungguh-sungguh berkeadaan sebagai anak Allah yang hidup menurut roh. Ini menjadi penyesatan yang memarkir jemaat di dunia, yang akhirnya tergiring ke dalam api kekal. Mereka tidak memiliki perjuangan untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus untuk memiliki roh yang memuat gairah, spirit dan hasrat-Nya. Oleh sebab itu, kita harus mengoreksi diri dengan jujur: Apakah gairah di dalam diri kita adalah gairah duniawi yang sama...
    0 min
  • Roh Perbudakan
    Dalam Roma 8:15 Paulus mengatakan: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh perbudakan dalam teks aslinya adalah pneuma douleias (πνεῦμα δουλείας). Roh perbudakan menunjuk gairah, spirit atau hasrat duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah. Roh perbudakan ini menguasai orang-orang yang tidak hidup menurut roh. Sejak kanak-kanak seorang anak manusia hidup dalam asuhan orang tua yang pada umumnya tidak mengenal kebenaran. Orang tua mengajarkan berbagai filosofi yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ditambah lagi dengan lingkungan pendidikan, pergaulan dan berbagai masukan lainnya, seorang anak manusia dipenuhi oleh filosofi yang berasal dari dunia ini.
    Biasanya filosofinya adalah materialisme, yaitu filosofi yang mengatakan bahwa nilai tertinggi kehidupan adalah materi, di dalamnya terdapat harta atau uang. Padahal cinta uang adalah akar segala kejahatan. Hal ini membuat seseorang jatuh dalam berbagai belenggu atau ikatan keinginan-keinginan. Hidupnya pasti dikontrol atau dikendalikan oleh dunia ini. Kontrol atau kendali tersebut dengan menggunakan barang-barang dunia dan kehormatan serta perasaan bahagia yang difasilitasi oleh kedua faktor tersebut. Inilah orang-orang yang menurut surat Yohanes sebagai orang-orang yang hidup dalam keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Orang-orang diperbudak oleh keinginan-keinginan tersebut. Orang-orang seperti ini ada di dalam roh perbudakan.
    Kita harus memahami bahwa roh perbudakan ini sebenarnya hendak menunjuk kebalikan atau lawan dari roh Kristus (pneuma kristou; πνεῦμα Χριστοῦ). Dalam teks bahasa Yunani kata roh Kristus, tidak menggunakan huruf besar, sebab memang sebenarnya dalam bahasa Yunani selain huruf pertama dalam kalimat, semuanya huruf kecil. Jadi belum tentu salah kalau roh Kristus, huruf r nya ditulis dalam huruf kecil, sebab roh Kristus (dalam teks dan konteks ini) bisa menunjuk kepada gairah yang ada di dalam diri Tuhan Yesus, bukan menunjuk kepada Pribadi Tuhan Yesus. Ini disebut sebagai gairah anak Allah, artinya setiap orang percaya seharusnya memiliki gairah ini dalam kehidupan mereka. Jika tidak berarti mereka bukan anak Allah. Dalam hal ini “anak Allah” bukan sekedar sebutan, tetapi merupakan keberadaan.
    Roh yang memuat gairah, spirit atau hasrat seperti yang ada pada Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita, tidak dapat diperoleh secara mudah apalagi otomatis. Harus diperjuangkan, yaitu melalui hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran melalui logos (konsep-konsep yang diterima melalui pengajaran) dan rhema yang diterima melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini. Logos dan rhema membangun cara berpikir, dan cara berpikir membangun roh dalam arti gairah, spirit dan hasrat. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus menghasilkan atau melahirkan roh tersebut. Selanjutnya setelah menemukan roh tersebut, orang percaya harus hidup menurut roh tersebut.
    Orang-orang Kristen yang ada dalam roh perbudakan, tidak hidup menurut roh. Ini sama artinya tidak hidup dalam hasrat atau gairah Kristus, gairah yang dikenakan oleh Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita. Orang-orang yang tidak memiliki roh Kristus adalah orang-orang yang ada di dalam perbudakan, artinya dikuasai oleh hasrat atau gairah yang bertentangan dengan hasrat atau gairah Kristus. Orang-orang ini tidak pernah hidup dalam pimpinan Roh Kudus secara benar. Tentu saja mereka tidak hidup dalam kehendak Allah. Mereka hidup dalam kehendak diri sendiri atau kehendak yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan ini adalah keadaan “diperbudak” atau hidup dalam perbudakan. Orang-orang yang ada dalam perbudakan ini adalah orang-orang yang tidak layak memanggil Allah sebagai Bapa. Mereka adalah anak-anak dunia,
    0 min
  • Anak-anak Allah
    Paulus mengatakan: bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Kata “semua” di satu sisi hendak menunjukkan bahwa tidak ada diskriminasi untuk menjadi anak Allah, bahwa mereka, siapapun yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah. Tetapi di pihak lain, dalam kata “semua” ini Paulus ingin menekankan bahwa kalau seseorang tidak dipimpin Roh Allah, maka ia bukanlah anak Allah, siapapun orang itu. Dalam hal ini seseorang dapat dikatakan sebagai anak Allah, bukan karena menjadi aktivis gereja, majelis atau pendeta, tetapi karena yang dipimpin oleh Roh Kudus. Jadi kalau dikatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, artinya bukan saja bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi juga bahwa keselamatan hanya melalui atau oleh korban Tuhan Yesus dan atas mereka yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
    Jadi keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, bukan hanya menunjuk korban Tuhan Yesus di kayu salib, tetapi juga fakta bahwa hanya orang percaya yang memiliki fasilitas dipimpin oleh Roh. Inilah fasilitas keselamatan agar orang percaya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Hasil dari dipimpin Roh Kudus ini orang percaya menemukan roh (dalam arti gairah, spirit, atau hasrat), dan jika hidup menurut roh tersebut orang percaya dibebaskan dari hukum dosa dan hukum maut. Jika hal ini terjadi atau berlangsung dalam kehidupan orang percaya, maka seseorang dapat dikatakan sah sebagai anak-anak Allah.
    Dalam hal ini jelas sekali bahwa seseorang dapat menjadi anak Allah yang benar atau sah, tergantung masing-masing individu. Jika seorang Kristen masih memiliki tanda-tanda orang yang hidup menurut daging, maka jelas bukan anak Allah. Ia bisa merasa sebagai anak Allah, tetapi Allah tidak akan mengakuinya. Tuhan menyediakan fasilitas untuk hidup menurut roh, tetapi apakah seseorang hidup menurut roh atau daging tergantung masing-masing individu. Dalam hal ini, Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu
    Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah. Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah adalah orang-orang yang selalu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Hanya orang yang memiliki cara berpikir Allah yang dapat melakukan hal ini. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya tidak serupa dengan dunia ini. Orang percaya harus berusaha mengerti kehendak Allah sampai tingkat sempurna. Hal ini merupakan pergumulan inti orang percaya.
    Oleh sebab itu harus diingat bahwa menjadi orang percaya berarti kita berhutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka yang memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini, tidak berpikir mengenai kehidupan di balik kuburnya. Mereka hidup hanya untuk mencari dan menikmati dunia ini dengan segala fasilitasnya. Inilah yang dimaksud dengan “percintaan dunia”. Mereka hidup dalam keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Banyak orang Kristen masih berkondisi seperti ini. Sebenarnya mereka tidak layak menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Mereka tidak layak pula memanggil Allah (Theos) sebagai Bapa.
    Hidup menurut roh artinya hanya bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut roh tidak lagi hidup menuruti keinginanya sendiri. Tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Tuhan serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimiliki orang-orang seperti ini. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Dalam hal ini seorang yang menyebut Allah (Theos) sebagai Bapa haruslah memiliki kualitas yang sangat luar biasa.
    0 min
  • Mematikan Perbuatan Daging
    Dalam Roma 8:13, Paulus seperti mengancam ketika menulis: Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Agar maksud ayat Roma 8:13 lebih mudah dimengerti, seharusnya diterjemahkan: Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika menurut roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Mengancam di sini maksudnya Paulus menunjuk konsekuensi kehidupan orang percaya. Orang percaya harus memilih, hidup menurut daging yang membawa kepada kematian atau hidup menurut roh yang dapat mematikan perbuatan-perbuatan daging
    Orang yang hidup menurut daging adalah orang-orang yang memikirkan hal-hal yang dari daging. Keinginan daging adalah maut; keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Dalam hal ini Paulus hendak mengemukakan perbedaan yang mencolok antara anak-anak Allah dan anak dunia. Sebaik apa pun mereka yang tidak hidup menurut roh, tidak mungkin mencapai kesucian berstandar Allah.
    Pernyataan yang sangat penting di dalam ayat ini adalah bahwa kitalah yang mematikan keinginan daging, bukan pihak manapun, juga bukan Tuhan sendiri. Paulus mengatakan: tetapi jika oleh roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Kata perbuatan-perbuatan daging dalam teks aslinya adalah prakseis tou somatos (πράξεις τοῦ σώματος). Kata ini prakseis atau praksis memiliki pengertian a doing, a mode of acting, a deal, a transaction (sebuah tindakan, cara bertindak, kesepakatan, transaksi). Sedangkan somatos berarti daging dalam arti anggota tubuh kita. Jika dihubungkan dengan ayat sebelumnya mengenai hutang (opheiletes) yang harus dibayar, maka prakseis to somatos berarti dihentikannya transaksi, yaitu dihentikannya keinginan untuk melakukan tindakan yang memuaskan keinginan tubuh berdosa dan semua hasrat yang bertalian dengan keinginan manusia lama yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
    Dalam hal tersebut sangat jelas, orang percaya memiliki kehendak bebas untuk menentukan keadaan atau nasib kekalnya. Dengan demikian sangatlah keliru kalau keselamatan individu sudah ditentukan oleh Tuhan secara sepihak. Ajaran yang salah ini tidak membangun kehidupan Kristen yang normal. Kesediaan dengan tekun dipimpin Roh Kudus, melahirkan cara berpikir yang baru, sebab Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah. Kebenaran ini yang memperbaharui pikiran. Cara berpikir yang baru ini melahirkan hasrat atau gairah baru yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bila seseorang menuruti hasrat atau gairah baru tersebut maka dengan sendirinya hasrat-hasrat dan segala gairah di dalam dagingnya dimatikan. Hal ini sama dengan kenyataan hidup, jika terang datang maka kegelapan akan menyingkir atau hilang dengan sendirinya.
    Tentu proses tersebut di atas tidak terjadi dengan sendirinya. Dibutuhkan atau dituntut keaktifan individu setiap orang percaya untuk memberi dipimpin Roh Kudus dengan mendengar Firman Tuhan (logos) dan mendengar suara Roh Kudus (rhema) di dalam dirinya melalui setiap peristiwa kehidupan setiap hari. Hal ini tidak terjadi atau berlangsung dengan sendirinya, bukan seperti sebuah kisah yang telah ditulis skripnya dan diatur oleh sang sutradara. Setiap hari adalah perjalanan pilihan dan kebebasan menentukan atau mengambil keputusan. Apakah seseorang bertekun mendengar Firman (logos) dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan atau tidak merupakan pilihan, bukan sesuatu yang ditentukan oleh Tuhan sehingga seseorang dapat melakukannya secara otomatis. Dari pilihan-pilihan tersebut seseorang mengarahkan dirinya kepada Kerajaan Terang atau kegelapan. Tentu saja hal ini melalui perjalanan waktu yang panjang, yaitu sepanjang umur hidup seseorang. Dengan demikian perjalanan hidup orang percaya adalah persiapan diri untuk masuk ke dalam Keraj...
    0 min
  • Membayar Hutang
    Dalam tulisannya Paulus menyatakan: Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Rm. 8:12-14). Jelas sekali bahwa orang percaya adalah orang berhutang. Dalam hal ini tidak ada sesuatu yang gratis sama sekali dalam kehidupan ini. Keselamatan adalah gratis, artinya penebusan berikut kuasa (exousia) atau sarana untuk dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula diberikan cuma-cuma. Kita memperolehnya tanpa terlebih dahulu berbuat baik atau melakukan jasa apa pun. Tetapi dalam menjalani atau mengerjakan keselamatan tersebut, kita harus berjuang (Flp. 2:12-13). Bukan sesuatu yang gratis, artinya tidak dapat terjadi atau berlangsung dengan sendirinya. Dengan demikian orang yang mengaku Yesus sebagai Juruselamat mengalami penebusan dan menerima kuasa atau sarana keselamatan. Oleh sebab itu orang percaya harus mengerjakan proses dikembalikannya ke rancangan semula atau mengerjakan keselamatannya. Hal ini sama seperti hutang yang harus dibayar. Hutang di sini bukanlah hutang yang harus dibayar oleh Tuhan Yesus. Ini adalah hutang yang harus kita sendiri yang membayarnya. Tentu dalam pimpinan Roh Kudus.
    Terkait dengan hal hutang ini kita harus menemukan dua jenis hutang. Pertama, hutang dosa yang hanya dapat dibayar oleh Tuhan Yesus di kayu salib; Tuhan Yesus membayar semua hutang akibat perbuatan dosa manusia. Semua akibat dosa dipikul oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Pengorbanan Tuhan Yesus selain memikul dosa manusia juga menyediakan sarana keselamatan. Di sini orang percaya menerima penebusan. Itulah sebabnya orang yang mengakui korban Yesus di kayu salib harus menggunakan sarana tersebut untuk menanggulangi kodrat dosa di dalam dirinya. Hukuman dosa dipikul Tuhan Yesus di kayu salib, tetapi hukum atau kodrat dosa dalam diri seseorang harus digarap bersama, yaitu oleh masing-masing individu bersama dengan Roh Kudus. Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam pimpinan Roh Kudus.
    Dalam Roma 8:3, Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Dosa dilakukan dalam daging, maka daging juga yang harus memikul akibatnya. Tentu daging manusia, bukan daging binatang. Daging dan darah binatang hanya gambaran, simbol atau voucher dan tindakan profetis terhadap daging. Darah Anak Manusia, yaitu darah Tuhan Yesus, yang harus ditumpahkan sebagai solusi satu-satunya.
    Hutang yang kedua, adalah hutang kita yang telah menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus. Kalau Tuhan Yesus telah membayar hutang akibat dosa dan kesalahan kita, sekarang kita harus membayar hutang untuk hidup sesuai dengan maksud pembayaran hutang itu dilakukan oleh Yesus, yaitu agar kita hidup menurut roh. Hal ini sama dengan dikembalikan ke rancangan Allah semula. Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa semua hutang telah dibayar oleh Tuhan Yesus, sehingga orang percaya tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Mereka merasa sudah selamat. Harus diperhatikan, kalau dikatakan bahwa kita adalah orang yang berhutang, berarti kita harus berbuat sesuatu untuk membayar hutang tersebut.  Dalam teks aslinya kata hutang adalah opheiletes (ὀφειλέτης). Kata opheiletes bisa berarti one who owes another, a debtor, one held by some obligation, bound by some duty (Orang yang berhutang, seorang debitur, seorang yang memegang beberapa kewajiban, terikat oleh suatu tugas). Pada umumnya para penerjemah Alkitab menafsirkan sebagai a debtor (seorang yang berhutang).
    Ketika seseorang mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, yaitu memuaskan daging atau keinginannya sendiri,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…