Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Roh Allah Diam Menetap
    Dalam Roma 8:9 tertulis: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Kalimat “jika memang Roh Allah diam di dalam kamu”. Kata “diam” di dalam teks aslinya adalah oikeo (οἰκέω) yang berarti to dwell in yang berarti tinggal bersama dalam satu rumah. Kata oikeo bertalian dengan kata oikos yang artinya rumah. Hal ini menunjuk kepada kebersamaan dalam keadaan harmonis dalam satu rumah. Dalam ayat ini Paulus menunjukkan bahwa orang percaya yang memiliki Roh Kudus atau benar-benar dirinya menjadi rumah Roh Kudus adalah mereka yang ada dalam kebersamaan yang harmonis dengan Roh Kudus karena mengikuti pimpinan-Nya. Sebagai buahnya dilahirkan hasrat atau gairah yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Orang percaya harus menuruti hasrat atau gairah tersebut. Hasrat atau gairah itu juga ada di dalam diri Yesus. Yesus adalah model atau prototipe manusia sejati yang berjalan bersama Roh Kudus secara sempurna, sehingga Yesus berhasil melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan sempurna.
    Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya pasti memiliki Roh Allah, tetapi dari pernyataan Paulus ini tegas dikatakan bahwa kalau orang hidup menurut daging (secara terus menerus) berarti Roh Allah tidak diam di dalam dirinya. Hal ini terjadi karena seseorang menolak kehadiran Roh Kudus secara tetap di dalam dirinya atau tidak memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Inilah orang yang mendukakan Roh Kudus, memadamkan dan akhirnya menghujat Roh Kudus. Roh Kudus yang lemah lembut selalu menuntun orang percaya dengan kesabaran, tetapi kesempatan yang diberikan kepada setiap individu pasti terbatas. Jika seseorang menolak pimpinan Roh Kudus terus menerus, maka ia mendukakan Roh Kudus. Jika hal ini berlarut-larut maka ia bisa memadamkan Roh Kudus, artinya ia tidak mampu mendengar suara Roh Kudus atau tidak menangkap sama sekali peringatan-Nya. Dalam hal ini Roh Kudus disia-siakan, sehingga tidak berfungsi sama sekali. Akhirnya orang seperti ini akan menghujat Roh Kudus. Bukan tidak mungkin seorang Kristen yang masih beragama Kristen, pergi ke gereja tetapi sebenarnya sudah tidak mampu mendengar suara Roh Kudus atau tidak mampu lagi menerima peringatan Tuhan melalui Roh Kudus.
    Dengan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau hidup dalam pimpinan Roh, maka seseorang mampu hidup seperti hidup yang telah dijalani oleh Yesus. Dengan demikian Roh Kudus diam (oikeo) dalam kehidupan orang tersebut. Jika hal ini terjadi, maka orang tersebut memiliki roh Kristus. Orang yang memiliki roh Kristus adalah milik Kristus. Sebaliknya, seorang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh pasti tidak dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Mereka juga pasti tidak memiliki hasrat atau gairah Kristus. Orang-orang seperti itu tidak dapat menjadi milik Kristus, sebab mereka memiliki dirinya sendiri.
    Paulus mengatakan: Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran (Rm. 8:10). Dengan gairah Kristus menguasai seseorang, maka terjadi proses penyempurnaan di mana keinginan daging dapat dimatikan, sehingga roh Kristus yang sama dengan gairah yang ada dalam Yesus menguasai orang percaya tersebut. Inilah orang-orang yang dimerdekakan dari hukum dosa dan maut. Hasrat atau gairah yang dilahirkan dari kebenaran yang diajarkan Roh Kudus dapat menguasai kehidupan seseorang, yaitu atas tubuhnya yang tadinya ada dalam cengkeraman kodrat atau hukum dosa .
    Kemudian Paulus mengatakan: Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu (Rm. 8:11). Dalam tulisan ini Paulus menyatakan mengenai janji Tuhan, bahwa jika kita hidup dalam pimpinan Roh,
    0 min
  • Keberkenanan Di Hadapan Allah
    Allah yang berdaulat menghendaki agar orang percaya hidup menurut roh. Hal ini mutlak harus dituruti atau dipatuhi. Kemutlakkan ini dapat dilihat dalam Roma 8:7-8, Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Untuk menemukan makna orisinal dari ayat ini kita harus dengan teliti menganalisa setiap kata dan kalimat dengan tepat. Keinginan daging dalam teks aslinya adalah to phronema tes sarkos (τὸ φρόνημα τῆς σαρκὸς). Phronema artinya bukan saja pikiran (mind), tetapi juga way of thinking atau mindset (cara berpikir), aim (tujuan atau arah), aspiration (aspirasi) yang lebih tepat diterjemahkan cara atau pola berpikir, aspirasi dan motif-motif seseorang berbuat sesuatu. Adapun kata sarkos berarti human and mortal nature (natur fana manusia). Sarkos hendak menunjuk kemanusiaan atau kodrat manusia. Jadi to phronema tes sarkos berarti cara berpikir yang telah ada di dalam diri setiap orang hasil atau buah dari pendidikan keluarga, pengaruh lingkungan, pendidikan, pergaulan dan lain sebagainya.
    Sejak kanak-kanak, kita telah menerima berbagai filosofi yang membentuk atau membangun cara berpikir tertentu. Cara berpikir itu adalah cara berpikir yang tidak dapat sinkron dengan pikiran dan perasaan Allah. Seperti yang telah dikemukakan bahwa keinginan daging artinya cara berpikir manusia pada umumnya yang tidak sesuai dengan cara berpikir Roh Kudus atau cara berpikir Tuhan. Paulus tegas sekali menyatakan bahwa cara berpikir daging merupakan perseteruan terhadap Allah. Bagaimanapun cara berpikir manusia (Yun. sarkos) tidak akan pernah bisa sinkron dengan cara berpikir Allah. Bagi umat Perjanjian Lama, mereka tidak dituntut untuk memiliki kesempurnaan seperti umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Lama masih hidup menurut daging, artinya memiliki cara berpikir yang tidak sinkron dengan cara berpikir Allah. Orientasi berpikir mereka masih pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi hal ini tidak boleh ada dalam kehidupan umat Perjanjian Baru. Keberkenanan umat Perjanjian Baru diukur dari kehidupan menurut roh atau hidup dengan cara berpikir (phroneo) Kristus atau cara berpikir Allah.
    Umat Perjanjian Lama sudah dipandang berkenan kepada Allah hanya dengan melakukan hukum Taurat dan tetap menyembah Elohim Yahweh. Berbeda dengan umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Baru dipandang berkenan jika dalam segala tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Keserupaan dengan Yesus merupakan goal yang harus dicapai setiap orang percaya. Dalam Roma 8:9 tertulis: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Ayat Firman Tuhan ini menyatakan bahwa kalau Roh Allah diam, artinya menetap (karena seseorang memberi diri dipimpin oleh-Nya), maka seseorang bisa menemukan hasrat atau gairah Allah. Jika gairah itu dituruti, maka seseorang hidup “dalam roh” atau menuruti hasrat atau gairah roh. Hal ini berarti bahwa seseorang memiliki roh Kristus.
    Roh Kristus bukan berarti pribadi Yesus ada di dalam diri orang itu, tetapi maksudnya adalah bahwa cara berpikir Kristus (Yun. phroneo) yang ada di dalam Yesus juga dikenakan oleh orang tersebut. Hal ini sama seperti di dalam Galatia 2:19-20, bahwa hidup Paulus bukan dirinya lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam diri Paulus. Maksud pernyataan Paulus ini adalah bahwa gairah hidupnya dan cara berpikir yang dimiliki sebelum mengenal kebenaran Injil harus ditanggalkan, sekarang ini ia mengenakan gairah dan cara berpikir Yesus. Orang percaya seperti ini jelas sekali barulah bisa berkenan kepada Allah Bapa, sebab standar berkenan adalah seperti Putra Tunggal-Nya (Mat. 3:17). Inilah yang diupayakan Paulus,
    0 min
  • Dipimpin Roh Kudus Dan Hidup Menurut Roh
    Membahas hidup menurut roh, kita harus dapat membedakan antara dipimpin Roh Kudus dan hidup menurut roh. Dipimpin Roh Kudus adalah tindakan Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada orang percaya, baik di dalam batinnya melalui pengajaran Firman (Logos), maupun rhema melalui pengalaman hidup. Dari hal ini, nyata fungsi Roh Kudus yaitu menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Kebenaran itu yang memperbaharui pikiran. Pikiran yang dibaharui membangun mindset atau cara berpikir yang baru pula. Kalau cara berpikir diubah, maka seseorang akan dapat menangkap roh yang baru, yang sesuai pikiran dan perasaan Allah. Dengan penjelasan lain: hasil dari dipimpin oleh Roh Kudus seseorang dapat menemukan roh (hasrat atau gairah), yang jika dituruti seseorang mengalami perubahan, yaitu mengenakan kodrat Ilahi; sebuah cara hidup yang baru sama sekali. Perubahan ini merupakan perubahan permanen, bukan perubahan sementara atau perubahan semu.
    Adapun hidup “menurut roh” artinya selalu menuruti hasrat atau gairah roh yang dihasilkan dari hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hidup menurut roh sama dengan memiliki cara berpikir roh. Orang yang hidup menurut roh memiliki pikiran dan perasaan yang seirama dengan Roh Kudus, karena roh yang dituruti tersebut adalah hasrat atau gairah dari Roh Kudus. Hal ini merupakan langkah untuk menuju kepada keadaan hidup di mana seseorang bebas dari penghukuman Allah.
    Kalau ditinjau dari teks aslinya “dipimpin Roh Kudus”, kata dipimpin atau memimpin menggunakan kata ago (ἄγω). Kata ago memiliki pengertian to lead, take with one, to guide (memimpin, membawa seseorang, menuntun). Sedangkan “menurut roh”, kata menurut adalah kata (κατὰ). Kata ini sebenarnya sebuah preposisi tetapi memiliki pengertian “mengikuti, menuruti, sesuai dengan atau melalui”. Memimpin artinya mengarahkan, yang mana dalam hal ini Roh Kudus mengarahkan orang percaya, sedangkan menuruti artinya mengikuti dan menyesuaikan. Dalam hal ini orang percaya mengikuti, menuruti dan menyesuaikan diri dengan kehendak roh. Roh di sini bukan Roh Kudus, tetapi hasrat atau gairah yang dihasilkan setelah mengalami proses dipimpin Roh Kudus.
    Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, tetapi hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah kita secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga kita memiliki roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus. Suatu hari, baik di bumi maupun nanti di Kerajaan Surga, kita sudah dapat bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Seandainya, nanti di surga Roh Kudus tidak memimpin kita, kita sudah mampu sepikiran dan seperasaan dengan Roh Kudus dan dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini pikiran dan perasaan Roh Kudus, yang adalah pikiran dan perasaan Kristus atau kesempurnaan Bapa, sudah ada dalam kehidupan orang percaya secara permanen. Inilah yang dimaksud not just to do but to be. Sesungguhnya inilah proses mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Hanya orang percaya yang memiliki karunia ini. Proses ini seperti proses kloning.
    Setiap orang percaya pasti mengalami proses ini. Bagi mereka yang menerima pimpinan Roh Kudus akan memperoleh roh yang seirama dengan roh itu, tetapi mereka yang tidak meresponi penggarapan Tuhan melalui pimpinan Roh-Nya, tidak akan mengenal keselamatan yang membawa mereka kepada rancangan Allah semula. Mereka tidak akan pernah mengenal hidup menurut Roh. Tidak pernah mengenal mengenakan kodrat Ilahi. Dan tidak pernah mampu memenuhi apa yang menjadi prinsip hidup pengikut Tuhan Yesus: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Berhubung banyak orang Kristen sudah terbiasa dengan standar hidup anak-anak dunia, dan mereka menganggapnya hal itu normal dan tidak memba...
    0 min
  • Menaklukkan Akal Budi
    Hidup menurut roh hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berbeda jauh dengan pimpinan Roh Kudus, walaupun tidak sama persis. Harus dipahami bahwa roh (tanpa tambahan Allah atau Kudus) di sini menunjuk hasrat atau gairahnya Roh Kudus. Roh Kudus menunjuk suatu Pribadi, sedangkan roh dalam konteks ini menunjuk suatu hasrat atau gairah, yaitu gairah yang lahir dari pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Hidup menurut roh artinya seseorang memiliki gairah Kristus di dalam kehidupannya, dan menuruti roh (gairah) tersebut.
    Proses dipimpin oleh Roh yang membuat seseorang hidup menurut roh harus diawali dari penebusan atas manusia berdosa. Itulah sebabnya dalam Roma 8:3-4 tertulis: Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Ini barulah langkah awal yang dilakukan oleh Tuhan, tanpa peran kita sama sekali. Tetapi selanjutnya orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus meninggalkan cara hidup sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:17-18), yaitu hidup menurut roh bukan menurut daging agar terbebas dari penghukuman. Itulah sebabnya dalam Roma 8:12-13, tertulis bahwa orang percaya berhutang bukan untuk hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Dengan demikian, setiap orang percaya tidak bisa tidak, harus hidup menurut roh, bukan menurut daging. Orang yang masih hidup dalam daging pasti binasa. Orang percaya dipanggil tidak untuk hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Sebab hanya orang yang hidup menurut roh yang tidak ada dalam penghukuman.
    Dari pernyataan Paulus tersebut jelas sekali kebenaran bahwa bebas dari penghukuman (Ing. condemnation) tidak secara otomatis diterima atau dialami semua orang Kristen yang hanya dengan mulut mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, dan yang merasa hatinya percaya atau pikirannya setuju terhadap status Yesus tersebut. Bebas dari penghukuman hanya terjadi atau berlaku atas mereka yang tidak hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Paulus menyatakan: Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Rm. 8:5-8).
    Orang yang hidup dalam daging adalah orang yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bagi bangsa Israel sebelum zaman anugerah, perkenanan atau kehendak Allah diukur dengan hukum Taurat, tetapi di zaman Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dengan hidup atau berperilaku selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Memiliki pikiran dan perasaan Kristus sama artinya memiliki roh Kristus. Hal ini sama dengan hidup menurut roh.
    Inilah yang diusahakan Paulus bahwa dengan sungguh-sungguh ia menaklukkan akal budinya kepada hukum Allah, sekalipun ia masih mengenakan tubuh yang terikat dengan kodrat dosa (Rm. 7:25). Hukum Allah di sini merupakan kebalikan dari hukum dosa (hamartia). Jadi hukum dosa (hamartia) menunjuk kepada kodrat dosa, sedangkan hukum Allah dalam konteks ini menunjuk kepada kodrat Ilahi atau standar kesucian Allah. Usaha menaklukkan akal budi kepada hukum Allah (kodrat Ilahi yang berstandar kesucian Allah) merupakan usaha untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus agar menghasilkan hidup menurut roh.  Perjalananan hidup dipimpin Roh Kudus menghasilkan hidu...
    0 min
  • Hukum Kehidupan Roh Dalam Perjalanan Hidup Yesus
    Kalau dipersoalkan apakah Yesus juga mengalami atau menjalani hukum roh kehidupan? Jawabnya, ya. Tetapi prosesnya berbeda dengan manusia atau orang percaya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh kenyataan berbedanya keadaan Yesus yang lahir dari benih yang tidak berdosa, yaitu oleh Roh Kudus; sedangkan manusia dilahirkan dari benih manusia yang sudah berdosa. Kalau dilihat keberdosaan manusia pada umumnya disebabkan dua faktor, yaitu pertama, terlahir sebagai seorang yang mewarisi kodrat dosa; dan kedua, pengaruh lingkungan yang fasik yang mengkondisi manusia tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah secara ideal atau sebagaimana mestinya.
    Kita harus memahami bahwa Yesus dilahirkan bukan dalam keadaan sempurna. Ia terlahir sebagai berkeadaan kudus dalam arti tidak seperti manusia yang mewarisi kodrat dosa, tetapi bukan berarti Dia sudah sempurna. Hal ini sama dengan yang dialami oleh Adam. Adam diciptakan dalam keadaan tidak berdosa, tetapi bukan berarti Adam sudah sempurna. Baik Adam maupun Yesus harus bertumbuh menjadi manusia Allah yang berkodrat Allah atau berkodrat yang lain.  Baik Adam dan Yesus start dari nol. Diharapkan Adam bisa mencapai kesempurnaan agar bisa menjadi pokok keselamatan bagi semua orang. Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος), yang artinya penggubah atau penyebab sebuah bentuk. Bagi Adam, kalau Adam berhasil menjadi sempurna, sehingga menjadi pokok keselamatan, maka seluruh keturunannya dapat meneladaninya. Tetapi Adam gagal, sehingga keturunannya pun gagal menjadi segambar dan serupa dengan Allah; sesuai dengan rancangan-Nya semula. Kemudian hari, Yesuslah sebagai Adam kedua atau Adam terakhir menggantikan tugas Adam pertama.
    Yesus harus membangun diri-Nya untuk hidup sesuai dengan rancangan Allah semula, yaitu hidup menurut roh, artinya Ia harus memiliki cara dan pola berpikir (phroneo) Allah sendiri. Perlu diketahui bahwa untuk hidup menurut roh yang telah dijalani oleh Yesus, sehingga dapat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, harus ada perjuangan yang tidak ringan. Untuk mencapai hal tersebut atau yang sama dengan untuk mencapai kesempurnaan menjadi Kristus (yang diurapi), Yesus walaupun Anak Allah, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Dalam hal ini Allah Bapa tidak membuat diri Yesus dapat mencapai kesempurnaan dengan mudah. Yesus harus berjuang untuk dapat menjadi teladan dan prototipe manusia yang dikehendaki oleh Allah.
    Kalau seandainya Yesus gagal mencapai kesempurnaan, maka Ia tidak pernah menjadi Kristus (yang diurapi). Pernyataan Tuhan Yesus bahwa segala kuasa di surga dan di bumi dalam tangan-Nya, artinya menjadi Kurios (Tuhan atau Sang Penguasa), menunjukkan keabsahan-Nya sebagai “Yang diurapi”, yaitu setelah menjalani perjuangan untuk menuruti kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya sehingga berhasil atau menang. Hidup dalam penurutan terhadap kehendak Bapa tidak terealisir dengan sendirinya, Yesus harus berjuang sampai pada kayu salib-Nya. Dalam hal ini Yesus pun juga menjalani hukum roh kehidupan. Oleh sebab itu orang percaya juga harus menerima bahwa untuk bisa hidup menurut roh (berkodrat Ilahi) sehingga dapat melakukan kehendak Bapa, harus berjuang seperti perjuangan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sebagai Guru, melalui Roh Kudus menuntun kita kepada kehidupan yang berkodrat Ilahi.
    Bagi orang percaya, perjuangan tidak dimulai dari nol seperti Adam dan Yesus, sebab keadaan semua manusia sudah berkodrat dosa dan terjual di bawah kuasa dosa. Tuhan Yesus harus terlebih dahulu membeli manusia dengan darah-Nya. Setelah menjadi milik-Nya, maka Ia menggarap orang percaya agar mengalami perubahan. Itulah sebab-Nya Ia berkata agar orang percaya menjadi murid-Nya. Tuhan Yesus menggarap orang percaya dengan memberi fasilitas Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepa...
    0 min
  • Keinginan Daging
    Penting sekali untuk memahami apa yang dimaksud dengan keinginan daging. Sebab dengan memahami apa yang dimaksud dengan keinginan daging maka kita dapat mengerti lebih tajam apa yang dimaksud hidup menurut roh. Sehingga dengan demikian pemahaman kita mengenai hukum roh kehidupan menjadi lebih lengkap. Dalam Roma 8:5-8 tertulis: Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Kata keinginan dalam teks aslinya adalah phroneo (φρονέω) yang artinya adalah way of thinking (cara berpikir) atau mindset (pola berpikir). Pada dasarnya phroneo adalah cara menerima sesuatu, memroses, menganalisa dan mempertimbangkan sesuatu tersebut untuk kemudian membuat keputusan.
    Keinginan daging sebenarnya tidak hanya menunjuk kepada suatu gairah, hasrat dan keinginan, tetapi kepada cara bertindak yang berasal dari dorongan kebutuhan daging, kebutuhan jasmani atau nafsunya. Tentu hal ini berdasarkan pertimbangan yang bukan dari Allah. Sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak seseorang sudah membangun cara dan pola berpikir yang demikian. Semua manusia telah membangun dirinya dengan keinginan daging. Hal inilah yang membuat manusia hidup menurut daging artinya dalam memilih, mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan cara berpikir daging. Dengan demikian mereka hidup dalam kodrat dosa, artinya selalu meleset dari kehendak Allah yang sempurna. Tindakan-tindakannya tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hidup menurut daging pada dasarnya adalah hidup dengan cara berpikir yang tidak sesuai dengan cara berpikir roh.
    Orang yang hidup menurut daging berarti tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus, dengan demikian ia tidak dapat disebut sebagai anak Allah (Rm. 8:14). Ini bukan berarti orang tersebut pasti menjadi jahat atau berkarakter seperti hewan. Manusia masih bisa berbuat baik sesuai dengan norma yang diajarkan oleh keluarga, sekolah, pergaulan dan lingkungannya. Tetapi cara berpikir manusia tidak bisa sinkron dengan cara berpikir Allah. Dalam hal ini, manusia tidak bisa mencapai kesucian Allah, artinya tidak mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Cara dan pola berpikir ini (daging) tidak dapat diubah secara mudah kalau sudah menetap lama dalam diri seseorang. Bahkan pada titik level tertentu tidak bisa diperbaiki lagi.
    Bisa dipahami, jika seseorang ada dalam keinginan daging maka segala sesuatu yang dilakukan bertentangan dengan pikiran dan perasaan Roh Kudus. Walaupun tindakan atau perilakunya baik dan tidak melanggar norma umum di mata manusia, tetapi tidak mencapai standar kesucian Allah. Allah tidak berkenan kepada mereka yang hidup menurut daging. Dalam hal ini kita menemukan bahwa Allah yang berdaulat, secara mutlak menghendaki kesucian orang percaya seperti kesucian-Nya. Itulah sebabnya Allah berkata: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Allah menghendaki agar orang percaya mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Di zaman Perjanjian Lama, hidup dalam daging masih bisa diterima, yang penting mereka tidak melanggar hukum Taurat. Tetapi di zaman Perjanjian Baru, standarnya adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Sebagai umat Perjanjian Baru, kita bersyukur sebab kepada kita Tuhan menganugerahkan kesempatan dan potensi untuk dapat memiliki kesempurnaan seperti Tuhan sendiri. Hal ini tidak dapat diperoleh umat Perjanjian Lama, siapapun mereka. Tokoh-tokoh hebat dalam Perjanjian lama seperti Abraham, Musa, Daud dan lain sebagainya tidak memiliki anugerah seperti umat Perjanjian Baru. Sehebat bagaimanapun mereka,
    0 min
  • Keluar Dari Hukum Dosa
    Kita harus jeli memperhatikan kata “hukum” dalam ayat Roma 8:2. Hukum bukanlah hukuman. Kata hukum dalam teks aslinya di sini adalah nomos (νόμος) yang lebih menunjuk pada “kodrat”. Hukum dosa artinya kodrat dosa. Seperti hukum gravitasi, setiap benda yang lepas dari topangan pasti menuju pusat bumi yang sering disebut sebagai “jatuh”.  Demikian pula manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah ada di dalam hukum dosa, artinya “tidak bisa tidak” selalu meleset dari kesucian Allah. Semua keturunan Adam telah terjual di bawah kuasa dosa ini (hukum kodrat dosa ini), sehingga semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia telah gagal memiliki gambar dan rupa Allah; dan dalam keadaan seperti ini tidak mungkin dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula tanpa anugerah dalam Yesus Kristus. Hukum dosa menempatkan manusia pada keadaan tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan untuk mengerti kehendak Allah.
    Kegagalan memiliki gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah membuat manusia menjadi manusia yang hidup menurut daging bukan menurut roh. Hidup menurut daging artinya hidup dengan cara berpikir yang tidak sesuai dengan cara berpikir Allah. Kegagalan memiliki gambar dan rupa Allah, mengakibatkan manusia tidak mungkin dapat melakukan segala sesuatu tepat sesuai dengan kehendak Allah atau seturut pikiran dan perasaan-Nya. Memang manusia bisa melakukan hukum atau peraturan yang tertulis atau menjadi baik dalam ukuran manusia, tetapi manusia tidak bisa mencapai kesucian seperti kesucian Allah. Dalam hal ini, keadaan manusia dapat digambarkan dengan satu kalimat, meminjam pernyataan Martin Luther: non posse non peccare. Keadaan ini permanen ada dalam setiap individu. Agama tidak dapat melepaskan manusia dari keberadaan ini. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang dapat menanggulanginya. Agama hanya dapat membuat manusia menjadi baik menurut hukum, tetapi tidak bisa membawa manusia kepada kesempurnaan kesucian Allah sesuai rancangan Allah semula.
    Manusia dalam keadaan “keberdosaannya” tidak bisa mencapai standar kesucian Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan fasilitas keselamatan, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus memimpin manusia dalam proses pembaharuan pikiran. Pembaharuan pikiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus berdasarkan kebenaran Injil (baik secara logos maupun rhema), sebenarnya sama dengan pembaharuan roh. Pembaharuan roh di sini paralel dengan terbentuknya cara berpikir yang cerdas; yang sama dengan membangun kecerdasan roh. Di dalam kecerdasan roh ini terdapat kepekaan terhadap kehendak Allah, yaitu apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Dalam proses tersebut dilahirkan roh dalam arti hasrat atau gairah yang sama dengan hasrat atau gairah Allah agar dapat menyatu dalam diri kita. Jika cara berpikir diubah berarti hasrat atau gairahnya diubah. Dalam hal ini, kebenaran Injil membangun kecerdasan roh yang memberi atau melahirkan hasrat atau gairah baru. Semua ini berlangsung secara logis dan realistis, bukan sesuatu yang mistis dan tidak logis.
    Satu hal yang luar biasa adalah ketika seseorang dimerdekakan dari kodrat dosa atau tidak lagi hidup dalam penurutan terhadap keinginan daging, artinya tidak lagi memiliki cara berpikir yang salah, maka seseorang dapat hidup dalam kesucian yang berstandar Allah secara permanen. Kesucian berstandar Allah secara permanen membuat seseorang bukan saja tidak berbuat suatu kesalahan, tetapi juga tidak bisa melakukan kesalahan sama sekali. Inilah kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Bukan saja melakukan apa yang baik, tetapi tidak bisa lagi melakukan suatu kesalahan dalam bentuk apa pun dan dengan cara bagaimanapun. Inilah yang dimaksud hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kehidupan seperti inilah yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus. Pencapaian ini berarti sebuah kemenangan. Hanya orang yang tidak bercacat dan tidak bercela yang boleh mengklaim dirinya sebagai pemenang. Dengan demikian dapat terpenuhi kehendak Tuhan,
    0 min
  • Hukum Roh Kehidupan
    Seperti yang pernah dijelaskan bahwa sebenarnya kalimat “Roh yang memberi hidup” dalam Roma 8:2 terjemahan dari nomos tou pneumatos tes zoes en Kristo Iesou (νόμος τοῦ πνεύματος τῆς ζωῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ).  Kalimat ini sukar dipahami maksudnya sebab sukar menerjemahkannya, tetapi kalimat ini bisa berarti “hukum roh kehidupan di dalam Kristus Yesus”. Dari kalimat ini dikemukakan adanya hukum roh kehidupan. Kata kehidupan dalam teks aslinya adalah zoe (ζωή), yang selain berarti hidup atau kehidupan juga berarti the state of one who is possessed of vitality or is animate (keadaan seseorang yang memiliki vitalitas atau menghidupkan atau menggerakkan atau menggelorakan).
    Hukum roh kehidupan menunjukkan adanya tatanan dalam “masalah roh atau kodrat hidup seseorang”. Hukum ini berkenaan dengan adanya roh dalam arti hasrat atau gairah yang menghidupkan atau memberi perubahan dalam kodrat hidup manusia. Untuk mengalami sebuah perubahan dari manusia yang berkodrat dosa menjadi berkodrat Ilahi ada mekanismenya dalam tatanan atau hukum yang ketat. Tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan sembarangan. Dalam hal ini, nampak betapa Allah adalah Pribadi yang tertib dengan tatanan yang cerdas. Dia, bukan Allah tanpa tatanan dan hukum, sehingga bertindak sembarangan. Di sepanjang zaman, kapanpun dan di mana pun nampak keagungan dan elegan tatanan-Nya tersebut. Tatanan Tuhan dapat mengikuti perkembangan zaman. Hanya Allah seperti ini yang ada di Alkitab. Tatanan Allah pasti sangat logis dan realistis, tidak bersifat mistik yang tidak masuk akal.
    Seseorang tidak dapat mengalami pembaharuan dalam roh atau perubahan kodrat tanpa anugerah dalam Yesus Kristus serta melalui pergumulan seperti yang dialami oleh Paulus (Rm. 7-8). Ada hukum atau tatanan yang mengatur sehingga bisa terjadinya pembaharuan roh. Pembaharuan roh tidak dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis. Paulus sendiri harus mengupayakan untuk menundukkan pikirannya dengan sungguh-sungguh kepada hukum kesucian Allah sekalipun tubuhnya masih ada dalam kodrat dosa. Kesediaan untuk menundukkan dirinya kepada hukum kesucian Allah secara terus menerus oleh pimpinan Roh Kudus menghasilkan perubahan dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi.
    Terkait dengan hal ini, Paulus berbicara mengenai pembaharuan roh di dalam Efesus 4:22-24 sebagai berikut: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Pembaharuan  roh sama artinya dengan perubahan dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi. Perubahan ini tidak dapat terjadi secara mistis, spektakuler atau seperti sebuah mukjizat, tetapi sebuah proses panjang. Inilah tatanan atau hukum yang ditetapkan Tuhan, yang disebut hukum roh kehidupan. Hukum roh kehidupan adalah hukum atau tatanan di mana seseorang yang mau mengalami pembaharuan roh harus mengalami proses yang dipimpin oleh Roh Kudus.
    Orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dapat memperoleh roh dalam arti hasrat atau gairah seperti yang ada pada Roh Kudus atau yang juga ada dalam diri Tuhan Yesus. Kalau seseorang hidup menurut roh itu, maka ia memiliki gairah atau hasrat seperti Roh Kudus atau seperti Tuhan Yesus. Roh itu akan menjadi satu dalam diri orang percaya, menjadi miliknya secara permanen sampai kekekalan, tidak pernah lepas dari kehidupannya. Dari hal ini, seseorang dapat mengenakan kodrat Ilahi secara permanen. Orang percaya seperti ini disebut dalam Roma 8:9 sebagai memiliki roh Kristus. Roh Kristus dalam konteks ini bukan roh-Nya Tuhan Yesus, tetapi gairah atau hasrat yang juga ada pada diri Tuhan Yesus. Orang yang menurut roh, sehingga memiliki roh Kristus, dapat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya seperti Yesus.
    0 min
  • Menang Atas Kodrat Dosa
    Dari kesaksian Paulus yang tertulis di dalam Roma 7:22-26 tersebut dapatlah diperoleh pelajaran rohani yang sangat berharga: Walaupun seseorang mengaku dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi Allah masih membiarkan ada kodrat dosa di dalam tubuhnya. Kodrat dosa orang percaya tidak otomatis lenyap pada waktu ia menyatakan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan kenyataan ini, orang percaya harus berjuang untuk dapat mematikan kodrat dosanya. Proses ini dalam Roma 8:2 disebut sebagai hukum roh kehidupan.  Inilah perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr. 12:1-2). Orang percaya harus memenangkan perlombaan tersebut. Tuhan Yesus tidak menggantikan orang percaya untuk meraihkan kemenangan secara gratis. Tuhan Yesus dalam pengorbanan-Nya mencapai kemenangan bagi  diri-Nya, dan dari kemenangan tersebut Ia dapat memberikan fasilitas keselamatan kepada orang percaya untuk dapat menang. Menang di sini artinya berhasil mengenakan kodrat Ilahi. Kemenangan ini bukanlah kemenangan gratis yang kita peroleh dari Tuhan, tetapi hasil dari perjuangan orang percaya untuk hidup menurut pimpinan Roh.
    Kemenangan dalam hidup orang percaya dapat terjadi, jika orang percaya menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Paulus menasihati orang percaya untuk selalu melakukan pembaharuan pikiran. Melakukan pembaharuan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan adalah cara untuk menundukkan pikiran bagi Allah. Terkait dengan hal ini dalam 2 Korintus 10:4 Paulus menyatakan: karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kuasa yang dimaksud adalah kebenaran Firman, sedangkan benteng-benteng adalah pikiran yang bukan berasal dari Allah.
    Sesungguhnya peperangan berlangsung dalam pikiran. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan adalah perjalanan menempuh jarak, tetapi perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan mengubah manusia batiniahnya. Perubahan manusia batiniah dimulai dari pikirannya. Dalam 1 Korintus 10:1-13, Paulus mengingatkan bahwa kegagalan sebagian besar bangsa Israel mencapai tanah Kanaan menjadi contoh dan peringatan bagi kita. Ini berarti sebagaimana sebagian besar bangsa Israel gagal mencapai tanah Perjanjian, maka bukan tidak mungkin pula orang-orang Kristen gagal mengubah manusia batiniahnya, sehingga sampai mati belum hidup menurut roh.
    Kemenangan orang percaya diawali dari usahanya untuk terus menerus memperbaharui pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesus pun menyatakan kalau seseorang tetap di dalam Firman, artinya tekun belajar kebenaran Firman, maka ia dapat menjadi murid artinya bisa diubah oleh Tuhan. Selanjutnya, ia akan mengenal kebenaran dan kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Ini adalah sebuah perjuangan. Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan dirinya kepada Tuhan. Paulus bersyukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada Tuhan guna melakukan kehendak Bapa. Itulah yang dimaksud dengan kemenangan yang sejati.
    Paulus dengan sungguh-sungguh menundukkan diri kepada hukum Allah di mana pikirannya (akal budinya) melayani hukum Allah, walaupun dalam kenyataannya ia masih mengenakan tubuh yang berkodrat dosa. Perjuangan yang dilakukan semata-mata karena ia mengasihi Tuhan. Kalau kodrat dosa dengan mudah secara otomatis dicabut oleh Tuhan, maka orang percaya tidak dapat menunjukkan kesungguhannya untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau orang percaya tidak mematikan kodrat dosa di dalam dirinya, maka ia tidak dapat membuktikan percayanya kepada Tuhan. Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai. Kalau seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus, maka dengan tindakan ia harus menyangkal diri untuk mengenakan kodrat Ilahi atau mengikut jejak Tuhan Yesus.
    0 min
  • Menaklukkan Diri Kepada Kesucian Allah
    Paulus mengatakan: Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah. Kata “akal budi” dalam teks aslinya adalah nous (νους) yang sama artinya dengan pikiran. Adapun kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuo (δουλεύω) yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba, hal ini sama dengan “menundukkan diri”. Kalau Paulus mengatakan bahwa dengan akal budinya ia melayani hukum Allah artinya bahwa Paulus menundukkan pikirannya pada kehendak Allah. Paulus melakukannya dengan sengaja dan sadar. Ini berarti Paulus harus menggerakkan dirinya sendiri untuk menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Paulus berusaha menundukkan pikirannya kepada hukum kesucian Allah.
    Kemudian Paulus menyatakan: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Tubuh insani dalam teks aslinya adalah sark (σαρξ) yang menunjukkan kepada daging yang memuat “kodrat dosa”, yang dalam teks aslinya adalah nomo hamartias (νομω αμαρτιας). Paulus jelas sekali menunjukkan bahwa ia masih memiliki kodrat dosa di dalam dirinya. Tetapi ini bukan berarti Paulus sengaja menundukkan diri kepada kehendak dosa atau kodrat dosa di dalam dirinya. Kalimat ini sangat penting untuk diperhatikan. Seharusnya dalam terjemahan tersebut tidak ada kalimat “melayani hukum dosa”, sehingga kalimat dalam Bahasa Indonesia mengesankan bahwa Paulus sengaja menundukkan diri kepada dosa atau melayani kodrat dosa.
    Dalam teks aslinya, Roma 7:26 tertulis:  ara oun autos ego to men noi douleuo nomo theou te de sarki nomo hamartias (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳ ἁμαρτίας). Kalau kalimat Roma 7:26 dibagi dalam dua bagian, maka bagian pertama berbunyi: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, dan kalimat berikutnya adalah: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Kalimat pertama memuat kata douleuo, tetapi di kalimat kedua tidak terdapat kata douleuo. Memang kata douleuo bisa digunakan dalam dua kalimat tersebut, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan menimbulkan kesan seakan-akan Paulus (sengaja) menundukkan diri kepada dosa untuk menuruti atau melayani kodrat dosa.
    Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum kesucian Allah, tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja menundukkan diri kepada hukum atau kodrat dosa di dalam dirinya. Ada kalimat penting di kalimat pertama yaitu ego to men (ἐγὼ τῷ μὲν), yang artinya “aku sendiri dengan sungguh-sungguh”. Supaya tidak salah mengerti yang dimaksud Paulus dalam Roma 7:26, maka mestinya ayat ini diterjemahkan: Aku sendiri dengan sungguh-sungguh menundukkan pikiranku kepada hukum kesucian Allah, sementara aku masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa. Kalimat ego to men, hanya ada di kalimat pertama, tetapi tidak ada pada kalimat kedua. Hal ini mengisyaratkan bahwa hal melayani hukum dosa, bukanlah tindakan yang sengaja dilakukan. Memang faktanya kadang-kadang masih terjadi tindakan yang menuruti kodrat dosa, tetapi tidak dengan sungguh-sungguh Paulus bermaksud menundukkan dirinya kepada dosa.
    Kalimat: … tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Jadi, sementara Paulus sungguh-sungguh bermaksud menundukkan dirinya kepada kehendak Allah, sementara itu ia masih ada dalam daging yang memiliki godaan untuk melawan kehendak Allah atau ia masih ada dalam kodrat dosa. Dalam logika sederhana saja sangat jelas, bahwa sangatlah tidak mungkin Paulus yang menasihati jemaat untuk hidup menurut roh, tetapi dirinya sendiri tunduk kepada hukum dosa. Dalam tulisannya ini Paulus dengan jujur mengakui bahwa di dalam tubuhnya masih ada kodrat dosa. Itulah sebabnya Paulus berseru “celaka aku”. Kata celaka dalam teks aslinya adalah talaiporos (ταλαίπωρος). Kata talaiporos, artinya aku harus bekerja keras. Adapun untuk kata celaka yang benar-benar mendatangkan “bencana atau kecelakaan” dalam bahasa Yunani menggunakan kata ouai (οὐαί). Jadi kata celaka di Roma 7:26 menunjukkan bahwa Paulus harus bekerja keras menaklukkan kodrat dosanya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…