Membahas hidup menurut roh, kita harus dapat membedakan antara dipimpin Roh Kudus dan hidup menurut roh. Dipimpin Roh Kudus adalah tindakan Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada orang percaya, baik di dalam batinnya melalui pengajaran Firman (Logos), maupun rhema melalui pengalaman hidup. Dari hal ini, nyata fungsi Roh Kudus yaitu menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Kebenaran itu yang memperbaharui pikiran. Pikiran yang dibaharui membangun mindset atau cara berpikir yang baru pula. Kalau cara berpikir diubah, maka seseorang akan dapat menangkap roh yang baru, yang sesuai pikiran dan perasaan Allah. Dengan penjelasan lain: hasil dari dipimpin oleh Roh Kudus seseorang dapat menemukan roh (hasrat atau gairah), yang jika dituruti seseorang mengalami perubahan, yaitu mengenakan kodrat Ilahi; sebuah cara hidup yang baru sama sekali. Perubahan ini merupakan perubahan permanen, bukan perubahan sementara atau perubahan semu.
Adapun hidup “menurut roh” artinya selalu menuruti hasrat atau gairah roh yang dihasilkan dari hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hidup menurut roh sama dengan memiliki cara berpikir roh. Orang yang hidup menurut roh memiliki pikiran dan perasaan yang seirama dengan Roh Kudus, karena roh yang dituruti tersebut adalah hasrat atau gairah dari Roh Kudus. Hal ini merupakan langkah untuk menuju kepada keadaan hidup di mana seseorang bebas dari penghukuman Allah.
Kalau ditinjau dari teks aslinya “dipimpin Roh Kudus”, kata dipimpin atau memimpin menggunakan kata ago (ἄγω). Kata ago memiliki pengertian to lead, take with one, to guide (memimpin, membawa seseorang, menuntun). Sedangkan “menurut roh”, kata menurut adalah kata (κατὰ). Kata ini sebenarnya sebuah preposisi tetapi memiliki pengertian “mengikuti, menuruti, sesuai dengan atau melalui”. Memimpin artinya mengarahkan, yang mana dalam hal ini Roh Kudus mengarahkan orang percaya, sedangkan menuruti artinya mengikuti dan menyesuaikan. Dalam hal ini orang percaya mengikuti, menuruti dan menyesuaikan diri dengan kehendak roh. Roh di sini bukan Roh Kudus, tetapi hasrat atau gairah yang dihasilkan setelah mengalami proses dipimpin Roh Kudus.
Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, tetapi hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah kita secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga kita memiliki roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus. Suatu hari, baik di bumi maupun nanti di Kerajaan Surga, kita sudah dapat bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Seandainya, nanti di surga Roh Kudus tidak memimpin kita, kita sudah mampu sepikiran dan seperasaan dengan Roh Kudus dan dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini pikiran dan perasaan Roh Kudus, yang adalah pikiran dan perasaan Kristus atau kesempurnaan Bapa, sudah ada dalam kehidupan orang percaya secara permanen. Inilah yang dimaksud not just to do but to be. Sesungguhnya inilah proses mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Hanya orang percaya yang memiliki karunia ini. Proses ini seperti proses kloning.
Setiap orang percaya pasti mengalami proses ini. Bagi mereka yang menerima pimpinan Roh Kudus akan memperoleh roh yang seirama dengan roh itu, tetapi mereka yang tidak meresponi penggarapan Tuhan melalui pimpinan Roh-Nya, tidak akan mengenal keselamatan yang membawa mereka kepada rancangan Allah semula. Mereka tidak akan pernah mengenal hidup menurut Roh. Tidak pernah mengenal mengenakan kodrat Ilahi. Dan tidak pernah mampu memenuhi apa yang menjadi prinsip hidup pengikut Tuhan Yesus: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Berhubung banyak orang Kristen sudah terbiasa dengan standar hidup anak-anak dunia, dan mereka menganggapnya hal itu normal dan tidak memba...