Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pemulihan Neshamah
    Firman Tuhan mengatakan bahwa roh manusia adalah pelita TUHAN yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata roh dalam ayat ini tidak menggunakan kata ruakh (חוּר), tetapi neshamah (המָשָׁנְ). Kata neshamah selain memiliki unsur kehidupan, juga menunjukkan adanya unsur kesadaran. Inilah yang dihembuskan Allah pada waktu penciptaan manusia (Kej. 2:7).  Tentu pada waktu Allah menghembuskan neshamah, neshamah manusia masih kosong, karena belum memiliki kualitas. Kualitasnya ada di nuraninya. Dengan neshamah ini, manusia bukan saja mampu bergerak melakukan aktivitas karena dorongan mempertahankan hidup seperti hewan, tetapi juga bertindak dalam tatanan Tuhan. Neshamah inilah yang mestinya berfungsi sebagai pelita Tuhan. Pelita di sini maksudnya adalah sarana untuk memberi tuntunan agar manusia tidak salah melangkah. Jadi pengertian bahwa roh (neshamah) manusia pelita Tuhan adalah bahwa Tuhan memberi tuntunan secara berkesinambungan pada nurani manusia di dalam neshamah-nya agar dapat berperilaku selalu sesuai dengan kehendak-Nya.
    Kemampuan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan atau hidup dalam tatanan-Nya hanya ada pada manusia yang didewasakan atau disempurnakan. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Binatang dengan segala kecerdasannya tidak memiliki komponen ini. Hanya manusia yang diberi kemampuan untuk mengerti kehendak Penciptanya dengan sempurna. Kejatuhan manusia ke dalam dosa sama dengan tindakan manusia merusak neshamah, sehingga neshamah-nya tidak lagi dapat menjadi pelita Tuhan atau tidak dapat menjadi sarana Tuhan menuntun manusia hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia yang berdosa tidak mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan (sempurna).  Dalam hal ini manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kehilangan kemuliaan Allah pada dasarnya adalah keadaan di mana nurani manusia tidak mampu memahami kehendak Allah dan melakukannya.
    Manusia yang jatuh dalam dosa hanya mampu hidup sesuai dengan hukum yang diberikan Tuhan secara tidak sempurna, tetapi tidak mampu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Padahal rancangan Allah sejak semula adalah manusia memiliki keberadaan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan keberadaan tersebut manusia dapat bertindak seperti Allah bertindak; manusia memiliki moralitas Allah. Sesungguhnya manusia dirancang bukan saja memiliki pikiran dan perasaan serta kehendak (tselem) seperti Allah, tetapi juga kualitas (demuth) komponen-komponen tersebut seperti Allah. Manusia dapat menyelenggarakan hidup dengan sempurna sesuai dengan kehendak Allah, dalam penggunaan pikiran, perasaan dan kehendaknya.
    Fakta yang terjadi, sebenarnya kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan disebabkan oleh satu kali tindakan salah, tetapi sebuah proses panjang di mana Adam secara terus menerus memilih yang bukan dari Allah, sehingga nurani dalam neshamah-nya menjadi rusak. Hal ini mengakibatkan manusia tidak mampu lagi mengerti kehendak Allah dengan sempurna serta tidak mampu untuk melakukannya. Manusia tidak lagi bisa diperbaiki untuk segambar dengan Allah. Kemudian hari, setelah datang keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula, yaitu menjadi makhluk yang segambar dengan Allah sendiri.  Jadi, keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula; menempatkan neshamah menjadi pelita Tuhan secara ideal sehingga segala sesuatu yang dilakukan manusia sesuai dengan Tuhan secara sempurna. Hal ini sama dengan memperbaiki nuraninya.
    Bagaimana neshamah manusia menjadi pelita Tuhan? Hal ini tidak dapat terjadi secara otomatis dan mistik. Harus diusahakan dengan terus menerus mengisi pikiran dengan kebenaran Injil. Pada dasarnya kebenaran Injil itu adalah pikiran Tuhan yang dapat membentuk cara berpikir Ilahi (pikiran perasaan Kristus; Mat. 4:4). Kebenaran Injil yang dimengerti dengan pikiran saja hanya menjadi logos.
    0 min
  • Membuktikan Kebenaran
    Orang yang tidak mencuri belum tentu hatinya adalah hati yang tidak suka mencuri. Orang yang tidak berzina belum tentu memiliki hati yang tidak suka berzina. Seorang anak yang melakukan suatu perbuatan yang menunjukkan hormatnya kepada orang tua bukan berarti sungguh-sungguh memiliki hati yang menghormati orang tua. Hal-hal ini bisa terjadi sebab ketika seseorang berbuat baik dan menghindari perbuatan salah, ia memiliki seribu satu motivasi atau alasan. Bisa saja karena faktor-faktor tertentu yang mendesak seseorang berbuat baik. Seperti misalnya seseorang tidak mencuri atau tidak berzina karena takut dihukum. Seorang anak melakukan suatu perbuatan yang mengesankan ia menghormati orang tua, pada dasarnya ia berbuat demikian karena mau memperoleh sesuatu dari orang tuanya.
    Seharusnya perbuatan baik dilakukan seseorang karena didorong oleh motivasi hati yang benar. Motivasi yang benar tersebut mestinya telah permanen berkuasa atas dirinya, yaitu di dalam hati nuraninya. Dalam hal ini, hati nurani merupakan pusat dari motivasi seseorang melakukan segala sesuatu. Hati nurani adalah sumber penggerak dari segala tindakan yang dilakukan seseorang.  Kalau seseorang berpura-pura baik, padahal motivasi hatinya tidak baik, cepat atau lambat pasti nyata di mata manusia lain bahwa ia jahat. Hal ini tidak dapat disembunyikan terus menerus. Hati nurani yang telah terbangun atau terbentuk sesuai dengan kebenaran Tuhan yang murni dapat menjadi hati nurani seperti Tuhan. Di sini barulah bisa dikatakan bahwa roh (neshamah) manusia adalah pelita Tuhan. Orang seperti ini pasti dapat memancarkan pribadi Tuhan.
    Hati nurani ini dibangun secara bertahap dalam kurun waktu yang pasti panjang yaitu melalui proses kehidupan setiap hari. Untuk ini seorang anak Allah harus memiliki perjuangan yang konkret untuk membentuk hati nuraninya. Misalnya kalau seseorang mau memiliki hati nurani yang lemah lembut, tidak cukup membaca buku atau mendengar khotbah mengenai kerendahan hati. Memang konsep mengenai kerendahan hati harus ditemukan dari Injil, tetapi setelah itu dalam kehidupan setiap hari, ia harus belajar dari Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran. Bapa memakai segala peristiwa untuk membawa orang percaya kepada “jiwa rendah hati” seperti yang dikehendaki-Nya, yang juga ada pada diri Tuhan Yesus. Tidak mungkin seseorang dapat mengalami perubahan pendewasaan hati nurani tanpa situasi konkret yang dialaminya.
    Dalam banyak agama, etika dan standar moral diajarkan secara sistematis dengan berbagai contoh-contoh yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh mereka. Inilah yang sama dengan mengajarkan hati nurani dengan sistem. Para pengikut agama diajar memiliki moral seperti tokohnya. Sehingga ukuran moral etika mereka kaku, tidak memiliki fleksibilitas dan dinamisitas, sukar diterapkan di situasi tertentu yang sangat berbeda dengan zaman di mana ajaran moral itu diajarkan atau zaman tokoh mereka hidup. Padahal keadaan zaman di mana sang tokoh hidup sangat berbeda dengan zaman sekarang ini. Harus jujur diakui, sulit mengimplementasikan ajaran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut untuk zaman ini. Bahkan kadang tidak mungkin.
    Berbeda dengan mereka, di dalam Kekristenan terdapat proses panjang, dari mendengar Firman Tuhan dalam bentuk logos (pengertian secara nalar), kemudian melalui pengalaman hidup menjadi rhema (logos yang diterjemahkan dalam situasi konkret oleh Roh Kudus). Roh Kudus berbicara tiada henti menunjukkan bagaimana seseorang memiliki sikap hati yang benar seperti Tuhan Yesus. Misalnya hal kerendahan hati. Tuhan Yesus tidak mengajarkan sistemnya, tetapi pengertiannya. Itulah sebabnya dalam Kekristenan tidak ada hukum atau peraturan semacam syariat (dilarang ini dilarang itu; jangan begini jangan begitu). Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran agar orang percaya yang memahaminya sehingga dapat memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan itu ada di dalam hati nuraninya.
    Kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32),
    0 min
  • Kebenaran Sebagai Cap
    Kalau diperhatikan, ajaran mereka yang tidak berlandaskan pada Alkitab yang murni yang sedang dipromosikan besar-besaran dewasa ini, sangatlah bertentangan dengan kebenaran Injil. “Nabi-nabi palsu” sebagai pengajar tersebut dipercayai oleh banyak orang sebagai wakil Tuhan. Apalagi kalau mereka bersaksi bahwa mereka memiliki kedekatan khusus dengan Tuhan, maka banyak jemaat yang tidak pernah belajar Injil dengan benar percaya saja sepenuhnya dan mereka telah tertipu. Ciri dari nabi palsu tersebut di antaranya adalah tidak sungguh-sungguh membedah Alkitab untuk dipahami isinya guna pembaharuan pikiran untuk mengerti kehendak Allah. Mereka juga biasanya senang menjadi orang yang dikultuskan. Tentu dengan kesaksian-kesaksian bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang luar biasa di mata Tuhan. Khotbah mereka membicarakan kemakmuran dan berkat jasmani. Pelayanan mereka diarahkan untuk penyelesaikan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau mereka berbicara mengenai surga, mereka mengesankan bahwa ke surga itu mudah. Seakan-akan mereka bisa membantu orang untuk bisa masuk surga. Padahal mereka memarkir jemaat di dunia, yang akhirnya akan terbuang ke dalam api kekal.
    Pengajaran seperti itu akan membuat seseorang tidak pernah bisa “terbang”, terangkat memikirkan kehidupan yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi yang baru. Tetapi nabi-nabi palsu tersebut berhasil mengesankan bahwa jemaat sudah menjadi umat kesayangan Tuhan yang akan menikmati kelimpahan berkat jasmani selama di dunia dan kalau nanti mereka mati akan pasti dengan mudah masuk surga. Padahal Kekristenan tidak sederhana seperti ini. Mengikut Tuhan Yesus adalah jalan yang sukar, sebab untuk diselamatkan seseorang harus berjuang memasuki jalan yang sesak. Untuk bisa masuk Kerajaan Surga, seseorang harus dicap dengan kebenaran Tuhan. Dalam hal ini jelas sekali betapa sukarnya mengubah cap dalam hati nurani yang sudah terlanjur tergoresi oleh cara hidup nenek moyang dan manusia di sekitarnya. Cap yang digoreskan oleh nenek moyang adalah suatu kehidupan wajar yang dimiliki hampir semua manusia di dunia. Semakin hari cap itu semakin dalam menggores sampai tidak bisa dihapus lagi. Cap inilah yang menunjukkan siapakah majikan yang memilikinya. Kata “kausteriatzo” (καυστηριάζω) selain berarti menghanguskan juga berarti menjadi keras dan tidak berperasaan.
    Banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka belum memiliki tanda sebagai orang yang dimiliki oleh Tuhan. Mereka masih memiliki diri sendiri, dengan demikian maka Iblislah yang memiliki diri mereka. Sampai level tertentu mereka tidak akan pernah bisa dimiliki oleh Tuhan karena terlalu dalam guratan yang menggores hati nuraninya. Goresan itu adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17).  Untuk bisa keluar dari keadaan yang membahayakan ini seseorang harus mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni. Sudah mendengar Firman Tuhan yang murni saja belum tentu seseorang dengan mudah dapat berubah, apalagi kalau tidak mendengar kebenaran Firman Tuhan yang murni.  Kalau seseorang selalu menerima kebenaran Firman Tuhan yang murni dan memberi diri terus berubah, maka hati nuraninya akan dicap oleh Tuhan dengan kebenaran tersebut. Dalam hal ini kebenaran Tuhan seperti besi panas yang men”cap” sebagai tanda bahwa diri seseorang adalah milik Tuhan.
    Orang yang dicap dengan kebenaran Firman Tuhan, ekspresi kehidupannya adalah ekspresi kehidupan anak Allah yang makin tajam atau kuat. Pandangan-pandangan hidupnya adalah pandangan hidup anak Allah yang berpusat pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Semakin hari pandangan hidup itu semakin melekat pada hati nuraninya. Kalau sudah melekat menjadi lukisan atau cap di hati nuraninya, pasti terekspresi dalam kehidupan secara konkret. Hal ini dikenali sebagai karaker atau watak orang tersebut. Kehidupan anak Allah yang benar seperti ini pasti memancarkan kemuliaan Allah, sehingga ia dapat menjadi saksi Tuhan yang efektif.
    0 min
  • Cap Pada Hati Nurani
    Secara khusus kita akan memperhatikan kata “cap” yang terdapat dalam 1 Timotius 4:2. Kata ini dalam teks aslinya adalah kausteriadzo (καυτηριάζω), yang artinya dihanguskan oleh besi yang dipanasi (Ing. sear with a hot iron). Hal ini mengingatkan kita pada kuda yang dicap dengan besi panas untuk menandainya. Sampai di mana dan kapan pun binatang itu akan dikenal siapa pemiliknya. Selain binatang, budak pada zaman dulu ditato di bagian tubuhnya untuk menandai bahwa ia dimiliki oleh seorang tuan atau majikan. Tato itu juga dapat menggunakan besi panas yang akan membuat tanda yang tidak akan dapat dihapus dalam tubuh budak tersebut. Sampai di mana dan kapan pun budak itu akan dikenal siapa pemiliknya. Hal ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Sesungguhnya korban Yesus yang menjadi alat penebusan bagi kita, memberi potensi kita memiliki cap sebagai milik Tuhan. Tetapi cap tersebut tidak dapat terbentuk secara otomatis atau secara cepat. Tetapi melalui proses pendewasaan oleh pimpinan Roh Kudus. Dalam hal ini manusia harus memilih apakah dicap dunia atau dicap Roh Kudus.
    Dari kalimat dalam 1 Timotius 4:2 (oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka), ternyata hati nurani memiliki cap. Manusia bisa men“cap” hati nuraninya sendiri. Tentu cap yang digunakan adalah suara dunia. Suara dunia bukanlah suara dari Bapa. Orang-orang seperti itu tidak menyampaikan kebenaran Tuhan, tetapi doktrin-doktrin palsu, doktrin atau pengajaran yang dinyatakan berasal dari Tuhan padahal bukan. Kata “pendusta” dalam teks aslinya adalah pseudologos (ψευδολόγος) artinya Firman yang dipalsukan. Firman yang dipalsukan tersebut membuat seseorang tidak bisa menjadi milik Tuhan.  Jadi yang membuat seseorang menjadi milik Tuhan adalah ketika kebenaran Firman yang memadai memenuhi jiwa seseorang sehingga mengerti segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan Tuhan.
    Sangatlah mudah seseorang mengaku bahwa dirinya milik Tuhan, tetapi apakah benar demikian? Yang membuktikan bahwa dirinya milik Tuhan atau tidak adalah cap apakah yang digoreskan pada pada hati nuraninya. Penandaan ini bukan melalui tindakan sesaat, tetapi melalui perjalanan hidup panjang, yaitu apakah yang sering diterimanya melalui mata dan telinganya. Dalam hal ini nyata sekali bahwa filosofi hidup yang diterimanya adalah yang menjadi cap nurani seseorang. Seperti binatang atau budak yang dicap dengan besi panas sehingga tanda itu tidak akan pernah bisa dihapus, demikian pula dengan orang-orang yang sudah terlalu lama mendengar filosofi dunia, sampai ia tidak pernah bisa mengerti kebenaran. Hati nuraninya sudah memiliki warna tertentu yang tidak bisa diubah lagi. Inilah yang Paulus katakan, “mereka mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga mereka, sehingga mereka tidak bisa lagi mendengar kebenaran” (2Tim. 4:3).
    Dalam 1 Timotius 4:1-16, Paulus menulis kepada anak rohaninya mengenai penyesatan. Dalam teks tersebut muncul “pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka”. Mereka adalah pengajar-pengajar yang tidak pernah belajar kebenaran dengan benar sehingga tidak mengenal kebenaran. Hati nurani mereka belum dicap dengan kebenaran. Tidak sedikit di antara mereka adalah mantan pengusaha, mantan artis atau olahragawan, mantan pejabat, mantan dukun dan berbagai bidang profesi yang belum waktunya mengajar, tetapi sudah mengajar dan merumuskan pengajaran. Disertai dengan tanda-tanda ajaib, mereka merasa sudah disertai Tuhan dan berjalan di jalan yang benar. Kemudian mereka merasa berhak merumuskan pengajaran; semestinya pengalaman hidup tidak boleh menjadi dasar pengajaran. Ada yang mengalami mukjizat dalam sekejap, tetapi selama puluhan tahun mereka menyerap filosofi dunia yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
    Sebenarnya mereka belum memiliki cap kebenaran. Dapat dibuktikan setelah mereka menjadi pendeta, maka mereka mengajarkan kemakmuran duniawi yang sebenarnya bertentangan dengan Injil yang murni.
    0 min
  • Makanan Kesukaan
    Orang percaya harus membiasakan menghargai suara hati nuraninya. Kalau hati nurani berbicara atau menegur atas suatu tindakan yang salah, maka seseorang tidak boleh mengabaikan atau membiarkannya. Sikap tidak menghargai suara hati nurani ini akan membungkamkan suara hati nurani sehingga suara hati nurani menjadi lemah, sampai tidak terdengar lagi. Dalam hal ini suara hati nurani dapat dibungkam sehingga menjadi bisu.  Bila hal ini terjadi maka suara lain yang akan mendominasi, yaitu suara yang tidak sesuai dengan suara Tuhan, yang akan bersuara dalam diri orang tersebut. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan pernyataan: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat. 6:22-23).
    Pada waktu kita memasuki saat teduh (doa), kita berdiam diri dan mulai mengoreksi segala perbuatan kita. Pada waktu itu sering nurani kita berbicara dengan sangat jelas. Roh Kudus pun dapat berbicara dengan lebih jelas, di luar bisingnya kehidupan setiap hari. Hal ini harus dibiasakan sehingga kita peka mendengar suara hati nurani kita juga suara Roh Kudus. Pada waktu seseorang berkata “selidikilah aku Tuhan”, itu berarti ia harus mengasah hati nuraninya sendiri dengan kebenaran. Tanpa kebenaran Firman Tuhan yang cukup atau memadai yang dipahami, Tuhan tidak memiliki sarana untuk mengarahkannya kepada kesempurnaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak akan bisa secara permanen mendengar suara Tuhan tanpa mengerti kebenaran.  Bagi orang yang tidak mendewasakan hati nuraninya dengan kebenaran Firman Tuhan dan yang tidak menghargai suara hati nurani yang murni, maka akal dan hati nuraninya menjadi rusak seperti yang dikatakan Titus dalam suratnya dalam Titus 1:15 “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.” Di sini terbukti bahwa suara hati nurani bisa rusak.
    Terkait dengan fungsi hati nurani, Paulus menasihati jemaat dengan tulisannya dalam 2 Korintus 1:12 yang tertulis: “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.” Kata “megahkan” dalam teks ini adalah kauchesis (καύχησις) yang artinya selain bangga (Ingg. pride, boasting), juga sesuatu yang dirasakan dalam perasaan (bisa enak atau tidak enak; boasting, in a good or a bad sense). Kata ini juga berarti rejoicing (senang karena sesuatu yang memuaskan). Dalam hal ini hati nurani akan memberikan perasaan bangga, senang dan puas atas suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang anak Allah. Seperti seorang guru yang melihat tindakan anak didiknya melakukan suatu prestasi kemudian memberikan pujian. Hal ini akan mendatangkan perasaan senang dan puas pada murid. Sebaliknya, kalau anak didiknya melakukan suatu tindakan yang dinilai salah, maka hal itu akan mendatangkan perasaan sedih (Ing. a bad sense).
    Hati nurani memberikan pujian dan upah pada waktu seseorang melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebenaran Allah. Upah itu adalah perasaan puas, bahagia dan senang. Perasaan tersebut menjadi makanan jiwa yang membuat jiwa ketagihan bila tidak dipuaskan dengan upah itu. Inilah rezeki kehidupan anak-anak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Kata makanan di sini dalam teks aslinya adalah broma yang menunjuk daging makanan yang halal. Daging di sini menunjuk makanan pokok yang nikmat atau menyenangkan. Kata lain untuk daging adalah sarkos menunjuk kepada keinginan daging atau keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Daging menjadi makanan yang mengikat diri seseoran...
    0 min
  • Mendewasakan Hati Nurani
    Ada orang-orang yang berhenti ketika lampu pengatur jalan menunjukkan warna merah bukan karena lampu petunjuk merah, tetapi karena jalan ramai dan ada polisi yang mengawasi. Tetapi kalau jalan sepi dan tidak ada polisi yang mengawasi, maka ia melanggar lampu lalu lintas tersebut. Hati nurani orang seperti ini adalah hati nurani yang lemah atau tidak dewasa. Hati nuraninya tidak bisa berfungsi sebagai pengawas dalam dirinya. Hal ini sama dengan seorang kasir yang tidak mencuri hanya karena diawasi oleh CCTV atau kamera pengawas yang memonitor pekerjaannya. Kalau tidak ada kamera monitor, maka ia akan mencuri uang yang dipercayakan kepadanya. Orang-orang seperti ini tidak menghargai hati nuraninya sampai hati nuraninya tidak mampu bersuara lagi. Kasus ini adalah contoh yang sangat sederhana dalam kehidupan orang pada umumnya.
    Dari apa yang dikemukakan Paulus dalam Roma 13:5, Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita, jelas sekali bahwa Tuhan menghendaki agar kita mendengar suara hati nurani dan menghargainya. Dengan demikian hati nurani menjadi pengawas kehidupan lebih dari kamera monitor atau polisi yang mengawasi. Sejatinya, seseorang tidak perlu dikontrol atau diawasi oleh pihak manapun, tetapi dikontrol oleh dirinya sendiri, yaitu hati nuraninya. Hal ini sama dengan anak-anak yang belum dewasa perlu diawasi oleh orang tua, tetapi ketika anak sudah dewasa, maka ia tidak perlu diawasi oleh orang tua, sebab ia bisa mengawasi dirinya sendiri.
    Ketika Paulus mengatakan bahwa jemaat harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, hal itu bukan hanya pada waktu Paulus ada di tengah-tengah mereka. Tetapi juga ketika ia tidak hadir, artinya agar dalam diri orang percaya ada hati nurani yang sudah mampu mencegah bila hendak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, bukan karena ada pemimpin tetapi dari kesadaran pribadi (Flp. 2:12-13). Kadang-kadang pada waktu ujian mahasiswa dibiarkan tidak diawasi untuk mengajar mereka memiliki kejujuran yang dibangun dari kesadaran sendiri. Hati nurani harus bisa menjadi suara Tuhan yang menunjukkan kesalahan. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak berstandar kesucian Allah, maka hati nurani bersuara dengan nyaring. Untuk itu hati nurani harus didewasakan sehingga mampu memiliki standar kebenaran atau kesucian Tuhan. Hati nurani yang didewasakan akan memiliki prinsip-prinsip yang  tinggi yang sesuai dengan kesucian Allah.
    Hati nurani seharusnya didewasakan dan menjadi pengawas dan pengontrol yang kita hargai, sehingga akan menuntun kita kepada apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Orang yang hati nuraninya dewasa dan dihargai, maka ketika ia berbicara atau bersuara, ia bukan hanya menghindarkan diri dari melakukan kesalahan tetapi juga bisa mencapai kesucian yang berstandar Allah sendiri. Masalahnya sekarang adalah bagaimana hati nurani dapat berfungsi sebagai polisi pengawas, kamera monitor dan pengontrol kehidupan seseorang yang baik dan tajam? Jawabnya adalah hati nurani harus didewasakan dan dihargai atau dibiasakan didengar suaranya (what you see is what you get). Kalau seseorang biasa mengabaikan suara hatinya, maka suara hati (hati nurani) menjadi lumpuh, tidak berfungsi sebagai “polisi” dalam kehidupannya. Betapa rusaknya orang seperti ini.
    Didewasakan maksudnya adalah hati nurani harus bisa membedakan mana yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Pendewasaan ini bisa dilakukan melalui pengajaran kebenaran Firman Tuhan yang memenuhi jiwa seseorang atau pembaharuan pikiran (Rm. 12:2). Juga dibutuhkan keteladanan hidup yang membangun suatu ukuran kebenaran atau pengaruh dari lingkungan yang baik. Seperti misalnya di Singapore atau negara barat; mereka begitu tertib mematuhi peraturan lalu-lintas atau pada waktu harus mengantri. Hal ini akan membawa dampak positif bagi masyarakat dan generasi penerus mereka.
    0 min
  • Nurani Ilahi
    Melalui korban Tuhan Yesus Kristus, kematian hati nurani manusia yang mengakibatkan manusia tidak mampu mencapai kesucian Tuhan, bisa dibangkitkan atau dipulihkan. Inilah sesungguhnya maksud dan tujuan keselamatan diberikan. Bagi orang percaya yang memiliki kuasa supaya menjadi anak Allah, mereka harus bekerja keras memanfaatkan kuasa tersebut guna mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Yoh. 1:11-13; Flp. 2:12-13). Dengan kuasa itu (exousia) yang diberikan kepada mereka yang menerima Yesus, mereka dimungkinkan memiliki hati nurani Ilahi, artinya sanggup bertindak seperti Allah bertindak. Jika seseorang berhasil mencapainya, maka orang tersebut barulah pantas disebut sebagai anak-anak Allah. Semua ini bisa terjadi oleh karena anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus (Rm. 8:3-4), sehingga Ia menjadi pokok keselamatan kita, artinya Ia memberikan penebusan (membeli kita dari hukum dosa), mengajarkan kebenaran dari apa yang dikerjakan dan yang diajarkan serta penerangan oleh Roh Kudus, memberi teladan dan kemudian memuridkan kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Semua ini merupakan potensi untuk memiliki nurani seperti Dia, yaitu hati nurani Ilahi.
    Kalau hati nurani dibentuk atau dibangun dari kebenaran Firman, maka akan menjadi hati nurani Ilahi. Inilah yang menguasai atau mewarnai seluruh neshamah-nya. Dengan demikian barulah seseorang bisa menjadi manusia Allah. Sebaliknya, jika jiwa menyerap filosofi dunia, maka hati nuraninya rusak. Hati nurani yang rusak akan mewarnai seluruh kehidupannya. Hati nurani inilah yang menjadi sosok permanen seseorang atau diri manusia itu. Inilah proses pengkloningan. Masalahnya, apakah seseorang memberi diri dikloning oleh Tuhan menjadi seperti Tuhan atau dikloning oleh dunia dengan segala pengaruhnya sehingga menjadi anak Iblis? Idealnya bagi umat Perjanjian Baru, kita harus memahami apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus, kemudian berusaha untuk melakukan dan meneladani hidup-Nya.
    Orang percaya yang bertumbuh dewasa harus mendidik, membentuk atau membangun hati nuraninya dengan Firman Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab. Pembaharuan pikiran merupakan hal mutlak yang harus terjadi dalam kehidupan orang percaya setiap hari. Jika hal ini dilakukan dengan serius, maka hati nuraninya menjadi hati nurani yang Ilahi. Ini sama dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Sampai taraf ini hati nurani seseorang menjadi suara Allah. Dalam satu pernyataannya Paulus berkata: Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1Kor. 2:16). Pikiran Kristus artinya kemampuan untuk mengerti apa yang Bapa kehendaki untuk dilakukan.
    Itulah sebabnya kita dikehendaki untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dalam teks aslinya adalah phroneo, yang artinya the mind (Ingg. as the interiorself atau bagian pikiran yang dalam). Kata ini dalam bahasa Inggris juga diterjemahkan attitude, artinya sikap batin atau sikap hati. Hal ini juga menunjuk atau bertalian dengan hati nurani. Sebenarnya phroneo memiliki pengertian yang sejajar dengan suneidesis.  Hati nurani Ilahi inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan “mata”. Tuhan tegaskan bahwa mata adalah pelita tubuh. Jika mata baik, teranglah seluruh tubuh; jika mata jahat, gelaplah seluruh tubuhnya. Jadi jika terang yang ada pada seseorang gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Mat. 6:22-23). Dari pernyataan Tuhan Yesus ini jelaslah bahwa kalau hati nurani seseorang sudah tidak diisi dengan kebenaran Firman Tuhan, maka gelaplah kehidupan orang tersebut. Gelap di sini artinya tidak mampu mengerti pikiran Tuhan (yang baik, yang berkenan dan yang sempurna). Ini juga berarti tidak melakukan kehendak Bapa. Dalam Injil Matius 6:19-24, orang yang materialistis pasti menjadi buta (Luk. 16:11). Kalimat harta yang sesungguhnya dalam teks aslinya adalah alit...
    0 min
  • Suara Di Dalam Hati Nurani
    Siapa kita hari ini adalah produk dari apa yang kita dengar dan kita lihat selama perjalanan hidup kita di masa lalu. Sama seperti bagaimana kesehatan tubuh kita hari ini adalah peta dari makanan yang kita konsumsi serta pola hidup yang kita jalani. Demikian pula dengan keadaan nurani kita adalah peta dari kehidupan yang telah kita jalani, yaitu filosofi yang kita serap setiap hari dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, pergaulan dan pendidikan. Produk yang kita konsumsi dalam jiwa melahirkan suara manusia lama. Manusia lama ini memiliki suara di dalam diri kita. Pada waktu di gereja atau di suasana tertentu suara itu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia bisa bersikap baik, tetapi sebenarnya ia sangat licik. Harus diketahui bahwa di gereja pun suara itu tidak bisa dibungkam. Ia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan secara licik. Bahkan seorang pendeta yang berkotbah atau seorang worship leader yang memimpin puji-pujian di mimbar bisa mengeluarkan kata-kata dan sikap yang berasal dari suara manusia lamanya. Tentu ia tidak menyadari. Bahkan kadang-kadang ia merasa itu suara Tuhan.
    Pada waktu di gereja kadang-kadang suara itu bisa tidak terdengar, suara roh lebih keras, tetapi ketika keluar dari gereja suara itu kembali mendominasi hidup. Itulah sebabnya mengapa seseorang begitu mudah jatuh dalam dosa atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan pada waktu di luar gereja. Kalau seseorang sungguh-sungguh berhasrat untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, ia harus sungguh-sungguh mengenali suara tersebut, yang sering tanpa sadar mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini, bukan hanya perbuatan dosa yang sudah dilakukan yang sangat berbahaya, tetapi yang tidak kalah berbahayanya adalah suara dari daging atau manusia lama  yang tidak bisa dibungkam dengan mudah.
    Kalau seseorang tidak memiliki keteguhan hati untuk melakukan kehendak Allah, maka ia akan mudah menyerah terhadap suara itu dengan mengikuti keinginannya. Dan masih terus hidup sesuai dengan suara yang adalah filosofi dari kehidupan lamanya, hasil asuhan dunia. Akhirnya ia selalu hidup dalam perbudakan manusia lama. Suara manusia lama dengan segala pertimbangan dan hasratnya sering menguasai diri kita tanpa kita sadari. Sering orang menganggap itulah dirinya. Tentu suara tersebut memiliki kecerdasan dan berbagai argumentasi dengan segala pertimbanganya. Tentu pertimbangan yang tidak searah dengan pikiran Tuhan. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang berbuat dosa dengan seribu satu alasan mengapa ia melakukan perbuatan tersebut. Alasan-alasan yang dibangun sering semata-mata hanya untuk mendapat pembenaran terhadap perbuatan salah yang dilakukan. Terkait dengan hal ini Firman Tuhan mengatakan dengan tegas: Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:21-24).
    Kalau seseorang tidak belajar Firman Tuhan yang murni, sehingga tidak pernah mendengar rhema, maka ia tidak pernah mendengar suara “manusia lama dalam nuraninya”. Ketika kita mendengar suara dari manusia lama tersebut, kita harus mulai menggantikan dengan suara baru yang kita peroleh dari kebenaran Firman Tuhan. Suara baru yang bersumber dari suara kebenaran harus digoreskan atau ditanamkan di hati untuk dapat menggantikan suara manusia lama. Ibarat siput, kita sadar bahwa cangkang yang kita bawa kemana-mana ternyata cangkang yang salah, sekarang kita hendak melepaskan diri dari cangkang tersebut dan mengenakan cangkang yang lain, cangkang yang baru. Cangkang yang lama adalah suara manusia lama dan cangkang yang baru...
    0 min
  • Kesamaan Unsur
    Dalam Roma 12:2, tertulis bahwa mengerti kehendak Allah didahului dengan keadaan seseorang yang harus berubah menjadi “tidak sama dengan dunia ini”. Kalau tidak sama dengan dunia berarti sama dengan Allah. Pengertian kata “mengerti kehendak Allah” dalam Alkitab hendaknya tidak hanya dipahami sebagai “tahu”, tetapi juga berarti bisa menjadi satu chemistry, satu spirit, satu gairah dan satu kehendak, karena manusia hanya memiliki dua kemungkinan, yaitu menjadi sama dengan Allah atau sama dengan Iblis. Jadi, mengerti kehendak Allah bukan hanya usaha untuk tahu apa yang diingini Tuhan tetapi juga satu chemistry, satu spirit, satu gairah dan satu kehendak dengan Tuhan. Dalam hal ini kita mengerti bagaimana Iblis meracuni pikiran manusia, yaitu agar orang Kristen tidak bisa sepikiran dengan Allah lagi.
    Di taman Eden, Ular membujuk manusia untuk “tahu” apa yang baik dan jahat bukan dari perspektif Allah, tetapi dari perspektif yang lain. Adam dan Hawa telah menerima banyak masukan yang tidak membangun cara berpikir Allah, tetapi cara berpikir yang lain. Hal ini membuat manusia tidak bisa berpikir dan berperasaan seperti Allah. Hal ini juga yang dilakukan oleh kuasa jahat hari ini, yang memasukkan berbagai masukan dalam pikiran seseorang agar tidak pernah memiliki sifat atau karakter Roh Kudus. Dengan demikian seseorang tidak pernah memiliki kehidupan menurut roh. Hal ini sama dengan tidak pernah memiliki nurani Ilahi.
    Dalam Perjanjian Baru, hal inilah yang ditakutkan oleh Paulus sehingga ia menulis: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2Kor. 11:3). Allah bukan saja menghendaki kita mengerti nilai-nilai moral, tetapi mengerti kehendak Allah. Iblis membujuk manusia hanya sampai mengerti nilai-nilai moral, tetapi bukan kehendak Allah, itulah sebab manusia meleset, sehingga kehilangan kemuliaan Allah. Iblis menjatuhkan manusia pada taraf di mana manusia tidak bisa mengerti kehendak Allah, tetapi manusia tetap tahu apa yang baik dan buruk menurut ukuran norma atau kehendak Tuhan secara terbatas.
    Manusia hanya jatuh sampai taraf tidak bisa mengerti kehendak Allah, tetapi manusia masih berbuat baik. Contoh yang jelas mendukung hal ini terdapat dalam kisah Kain dan Habel. Dalam Kejadian 4:6-7 Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tuhan menunjukkan bahwa manusia masih bisa berbuat baik, tetapi manusia tidak bisa sempurna seperti Bapa. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia untuk memiliki kesempurnaan seperti yang dirancang Bapa. Kesempurnaan itu adalah manusia memiliki hati nurani yang sama seperti Allah atau dengan kata lain memiliki kesamaan unsur dengan Allah. Hal inilah yang memampukan manusia bisa bertindak seperti Allah bertindak.
    Kesamaan unsur dengan Allah inilah yang membangun persekutuan yang luar biasa dengan Tuhan. Persekutuan yang hebat ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam doa-Nya dalam Yohanes 17:20-21 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Hanya orang-orang yang bisa satu chemistry dengan Tuhan yang diperkenankan masuk ke dalam persekutuan yang sangat intim. Inilah hal yang sangat dirindukan oleh Tuhan, di mana anak-anak-Nya mendapat bagian dalam kekudusan-Nya karena mengenakan kodrat Ilahi. Orang percaya yang mengalami pembaharuan roh, artinya sifat rohnya diubahkan sehingga sama seperti sifat Roh Kudus,
    0 min
  • Kualitas Hati Nurani
    Sebenarnya sangatlah sulit membedakan antara karakter atau watak dan kepribadian. Tetapi bagaimanapun, keduanya dapat dibedakan. Kepribadian seseorang diperoleh atau dimiliki sebagai warisan dari orang tua. Ini adalah ciri dasar dari seseorang  yang bisa permanen, sulit berubah, atau mungkin tidak bisa berubah kecuali ada hal-hal yang luar biasa terjadi dalam kehidupan seseorang. Dalam penjelasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa seharusnya keunikan yang dimiliki seseorang tidak digantikan oleh bentuk, sifat atau model yang lain. Kita dilahirkan orisinal, hendaknya tidak mati dalam bentuk imitasi. Orisinalitas yang dimiliki seseorang hendaknya tidak digantikan yang lain. Kita masing-masing harus menjaganya dalam pimpinan Roh Kudus, serta mengembangkannya sesuai dengan maksud dan rencana Allah menciptakan hal tersebut.
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa terdapat usaha untuk memberi sebutan terhadap beberapa tipe kepribadian seseorang. Tetapi pada kenyataannya tidak ada orang yang sama persis keadaannya. Dalam hal ini harus ditegaskan bahwa kepribadian adalah model yang diberikan Allah kepada masing-masing individu, sejak ada dalam kandungan. Adapun karakter atau watak diperoleh dari perjalanan hidup seseorang, yaitu apa yang dilihat dan didengarnya, kemudian dimasukkan ke dalam neshamah-nya. Karakter atau watak bisa menjadi lukisan dari perjalanan hidup seseorang. Karakter atau watak ini adalah ekspresi dari keadaan nuraninya. Bagaimana kualitas karakter tergantung kepada keadaan nuraninya.
    Dengan cara lain bisa dijelaskan bahwa sebenarnya kepribadian adalah bagian dari manusia batiniah yang diperoleh seseorang sejak lahir. Itu adalah warisan yang lebih bersifat permanen. Ibarat pakaian, kepribadian adalah modelnya, adapun kualitas bahan pakaian tersebut tergantung bagaimana seseorang membangun nurani. Nurani tidak kelihatan, tetapi ekspresi dari nurani nampak dari tindakan seseorang yang dinilai sebagai watak atau karakternya. Adapun kepribadian adalah model atau cara dari tindakan seseorang tersebut. Orang yang berkepribadian kasar menampilkan kemarahan dengan tindakan-tindakan kasarnya, tetapi seorang yang berkepribadian lembut mengekspresikan kemarahannya dengan cara lain. Dalam hal ini yang penting bukan hanya model atau caranya mengekspresikan suatu tindakan, tetapi motivasi seseorang melakukan hal tersebut. Motivasi tersebut didasarkan pada parameter: apakah tindakan yang dilakukan seseorang menurut roh atau menurut daging. Menurut roh artinya sesuai dengan karakter atau sifat Allah atau sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, adapun menurut daging artinya tidak sesuai dengan sifat atau karakter Allah.
    Karakter dan kepribadian tidak dapat dipisahkan, sebab apa yang mewarnai jiwa seseorang dalam waktu yang lama dan intensif akan mengkristal menjadi isi dari nuraninya, dan nurani inilah yang mewarnai kepribadiannya. Jadi, perlu ditegaskan, bahwa segala seuatu yang paling banyak mengisi jiwa seseorang dan diinput ke neshamah-nya akan membangun nurani seseorang. Kemudian nurani seseorang akan mewarnai kepribadiannya yang mana menjadi kualitas setiap individu. Itulah sebabnya dapat dijelaskan pula bahwa nurani menunjuk kualitas kepribadiannya.
    Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, tetapi walaupun berbeda-beda yang penting kepribadian tersebut harus dapat mengekspresikan karakter Kristus. Itulah sebabnya, maka setiap orang percaya harus memiliki nurani Kristus, yang sama dengan memiliki Roh Kristus. Nurani Kristus memiliki ciri utama, bahwa semua tindakan yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bisa dipahami kalau prinsip hidup Yesus adalah: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa serta menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Dengan keberadaan kepribadian yang berbedaa-beda tersebut, maka setiap orang dapat memiliki tempat yang khas dan istimewa di hadapan Allah dalam menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dalam hal ini sangatlah bisa dipahami bahwa orang perc...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…