Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Nurani Merumuskan Hukum
    Hati nurani adalah kemampuan yang dimiliki manusia dari fenomena pengertiannya mengenai moral untuk menetapkan dan memutuskan apa yang baik dan buruk secara subyektif. Secara subyektif artinya masing-masing individu memiliki cara pandang mengenai kebaikan yang khas sesuai dengan pengertiannya terhadap kebenaran atau filosofi hidup yang diserapnya. Dikatakan bahwa hati nurani atau suara hati lebih bersifat subyektif, berarti hati nurani sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu apa yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian masing-masing individu sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri”. Hati nurani bisa dikatakan sebagai inti pengertian seseorang terhadap apa yang dianggapnya benar atau salah, apa yang bernilai tinggi dan yang tidak bernilai, kebenaran atau bukan kebenaran. Hati nurani berfungsi sebagai perumus nilai-nilai kehidupan, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Itulah sebabnya hati nurani dapat menuduh, mencela dan menegur.
    Dalam merumuskan suatu nilai kehidupan, seseorang mendapat input dari apa yang didengar dan dilihatnya melalui agama, budaya, pergaulan, pendidikan dan lain sebagainya. Inilah lingkungan yang membentuk hati nurani seseorang. Dalam hal ini pengaruh lingkungan sangat kuat. Lingkungan seperti melukis diri seseorang. Jadi tidak heran kalau orang berpandangan bahwa bagaimana keadaan seseorang tergantung dari lingkungan yang mewarnai atau melukis hidupnya. Dengan demikian, ukuran yang dikenal lingkungan itulah yang menjadi ukuran yang dikenakan seseorang, sebab terlukis di dalam hati nuraninya.
    Hati nuranilah yang membuat ukuran, apakah suatu tindakan itu bernilai kebaikan atau kejahatan. Dengan demikian hati nurani juga merupakan institusi dalam diri manusia yang membuat peraturan, artinya yang menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan hal ini tentu saja hati nurani juga yang mendorong seseorang mengambil suatu keputusan. Dalam hal ini hati nurani merupakan kemudi kehidupan seseorang yang tidak terlihat. Kemudi untuk mengarahkan seluruh pertimbangan manusia itu. Dalam teks bahasa Ibrani, kata hati nurani adalah kilyah, yang juga berarti tali kekang atau kendali atau pengontrol (Ing. rein). Allah memberi manusia kontrol atau kendali yang harus dikendalikan dan dikontrol oleh dirinya sendiri. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia memiliki “kesadaran” yang memungkinkan manusia memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Hal ini meletakkan manusia sebagai pribadi yang harus bertanggung jawab kepada Allah (Rm. 14:12).
    Institusi (hati nurani) ini tidak dimiliki oleh hewan. Itulah sebabnya hewan tidak memiliki kesadaran mengenai moral dan tidak memiliki kehendak bebas juga. Jadi, kalau kemudi kehidupan ini sudah rusak, yang sama dengan mata hatinya gelap, maka rusaklah seluruh kehidupan seseorang. Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu (Why. 20:12). Hati nurani adalah institusi dalam diri manusia yang paling berperan mengarahkan hidup individu. Dalam Mazmur 16:7 tertulis: Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Suara hati atau hati nurani terbangun atau terbentuk oleh apa yang didengarnya. Hati nurani menyimpan segala kebenaran yang diterimanya.
    Kalau seseorang mendengar Firman Tuhan, kebenaran Firman Tuhan itu akan mengajar terus. Firman yang murni akan memburu seseorang sehingga orang itu tersandera olehnya. Firman Tuhan yang murni akan menuntut untuk diaplikasikan dalam kehidupan secara konkret. Inilah yang seharusnya dilakukan gereja kepada jemaat sejak jemaat tersebut masih berusia dini. Semakin dini pendidikan agama dimulai, maka semakin kuat bangunan hati nuraninya sesuai dengan kebenaran yang diajarkan kepada seorang anak ...
    0 min
  • Keberadaan Hati Nurani
    Hati nurani atau suara hati lebih bersifat subyektif, maksudnya bahwa hati nurani kita sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka masing-masing individu, sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri”. Dalam hal ini kita tidak boleh mengidentifikasikan dan mengidentikkan hati nurani dengan suara Allah. Walaupun hati nurani tidak dapat diidentikkan dan tidak boleh diidentifikasikan sebagai suara Allah, tetapi hati nurani berhubungan dengan “yang Ilahi”, sebab komponen itu memang dari Allah dan diharapkan dapat se-chemistry atau sewarna dengan Allah, sehingga subyektivitasnya dapat dipercaya. Subyektivitasnya dapat dipercaya sebab seirama dengan Allah. Sampai pada level ini neshamah manusia dapat menjadi pelita Tuhan.
    Kalau hati nurani digarap dengan benar, maka menjadi hati nurani yang “se-chemistry dengan Allah”, ini disebut sebagai nurani Ilahi. Tetapi kalau tidak digarap dengan baik, maka yang baik menjadi jahat. Orang yang memiliki hati nurani yang berkelas “Ilahi” tidak membutuhkan hukum atau peraturan untuk memiliki kelakuan yang baik. Tidak perlu diancam hukuman untuk melakukan hukum, sebab “polisi” ada di dalam dirinya sendiri (Rm. 2:15). Kalaupun seseorang berbuat baik, bukan hanya karena ancaman neraka, tetapi hati nuraninya memang terbentuk demikian, yaitu tidak bisa berbuat salah. Dalam Roma 13:5 Paulus menulis kalimat ini: Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.
    Oleh karena hati nurani belum tentu bisa mewakili suara Allah, maka hati nurani belum tentu dapat selalu dipercaya. Belum tentu suara hati nurani sesuai dengan pertimbangan dan keputusan Allah, oleh sebab itu hati nurani harus tunduk pada otoritas Firman Allah dan pengadilan Allah. Bagi orang pilihan Allah yang direncanakan Allah untuk sempurna, seseorang harus selalu mempertimbangkan kemungkinan kesalahan pada suara hati nuraninya. Menyadari hal ini, maka orang percaya tidak boleh berhenti dalam memperbaharui pikiran dan hatinya, sampai makin memiliki pengertian seperti pengertian Allah. Sehingga suara hati dapat mewakili suara Allah dan segala pertimbangan dan keputusannya sesuai dengan yang Allah inginkan. Ini barulah tidak meleset. Inilah yang disebut dengan hati nurani yang murni, yaitu keberadaan manusia batiniah yang tidak menyimpan niat kejahatan (Kis. 23:1; 24:16; 2Kor. 1:12).
    Keberadaan hati nurani yang murni ini membuat seseorang memiliki beban yang tulus terhadap keselamatan jiwa orang lain. Seperti Tuhan juga tidak menghendaki seorangpun binasa, ia akan rela mengorbankan apa pun demi keselamatan jiwa orang lain (Rm. 9:1-3). Orang-orang seperti ini melayani bukan karena upah atau imbalan yang disediakan. Di dalam dirinya ada “beban” dan irama melayani. Hati nurani yang terbeban bagi keselamatan jiwa orang lain pasti berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ia rela kebebasannya terampas demi supaya menjadi berkat bagi sesama (1Kor. 10:25-29). Kalau berbuat suatu kesalahan, maka hati nuraninya sangat terganggu. Hal ini menjadi hukuman bagi orang tersebut.
    Dalam proses pembentukan hati nurani, yang memegang peranan adalah jiwa. Unsur yang masuk dalam jiwa menentukan kualitas jiwanya; dan kualitas jiwa menentukan kualitas hati nuraninya. Kalau unsur-unsur dunia atau dari kuasa jahat yang masuk ke dalam jiwa, maka hati nuraninya rusak. Unsur-unsur dunia adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Ini sama dengan percintaan dunia atau mengasihi dunia (Yak. 4:1-4). Hal inilah yang menyeret jiwa dan roh ke dalam kegelapan abadi. Itulah sebabnya dikatakan dalam Firman-Nya bahwa bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yak. 4:5). Allah mengingini roh yang keluar dari diri-Nya yang ada pada manusia ...
    0 min
  • Ukuran Penghakiman
    Hati nurani adalah institusi yang menetapkan dan memutuskan apa yang baik dan buruk, pembuat peraturan, membuat ukuran kebenaran atau kejahatan dan yang mendorong seseorang mengambil suatu keputusan. Oleh sebab itu hati nurani harus memperoleh pengaruh positif dari luar. Pengaruh itu dari pendidikan (keluarga dan sekolah), kebudayaan, lingkungan hidup dan yang paling kuat adalah filosofi atau ajaran agama. Bila pengaruh yang diterima itu baik, maka hati nuraninya pun menjadi baik. Itu berarti manusianya pun juga berkualitas baik. Dalam hal ini kita dapat menemukan banyak orang-orang di luar Kristen yang memiliki perilaku yang sangat baik, bahkan sampai tingkat mengagumkan. Hal ini sangat ditentukan oleh lingkungan yang mendewasakan hati nurani mereka. Sebaliknya, walaupun ia Kristen, tetapi kalau lingkungannya buruk dan ia terbawa oleh pengaruh lingkungannya, maka ia pun menjadi orang jahat.
    Bagi bangsa Israel yang memiliki Taurat yang tertulis secara hurufiah, kehidupan bangsa itu dikungkung, dipenjara dan disandera oleh Taurat yang diajarkan secara ketat dan ekstrem. Hati nurani mereka diwarnai, dibentuk dan dibangun oleh suara Taurat dalam jiwa mereka. Mereka menjadi manusia Taurat dalam seluruh pikiran, kesadaran dan kehidupan ini. Jika ada yang dengan setia mengikuti Taurat yang tertulis, maka mereka memiliki hati nurani yang baik, sebab Taurat adalah rohani. Bagi bangsa non Yahudi, mereka memang tidak memiliki Taurat yang tertulis secara harafiah, tetapi Firman Tuhan mengatakan bahwa mereka memiliki Taurat yang tertulis di dalam hati mereka (Rm. 2:15).
    Taurat yang tertulis di dalam hati mereka adalah hukum yang mereka warisi melalui budaya, hukum adat dan warisan kebenaran atau filosofi yang mereka dengar. Kebaikan mereka bukan berarti tidak bernilai sama sekali. Bagi orang yang tidak mendengar Injil, yang tidak dituntut sempurna, kebaikan hati nurani mereka menjadi ukuran penghakiman (Rm. 2:12-15). Kebaikan mereka bisa membuat mereka diperkenankan masuk dunia yang akan datang. Hendaknya kita tidak menganggap remeh perbuatan baik hanya karena kita mengerti bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik. Perbuatan baik memang tidak menyelamatkan, tetapi bagi mereka yang tidak mendengar Injil atau mendengar Injil yang salah, perbuatan baik menjadi ukuran penghakiman itu. Orang dihakimi menurut perbuatan.
    Bangsa-bangsa di dunia ini pada umumnya menerima warisan hukum atau budaya dan adat mengenai apa yang baik dan jahat dari nenek moyang. Nenek moyang mereka tentu telah mewarisi dari pendahulunya. Jika mereka menanggapi hukum itu dengan benar, maka lahirlah manusia-manusia beradab yang melakukan hukum yang mirip dengan Taurat. Itulah Taurat yang tertulis di dalam hati. Bila seseorang meresponi hukum itu dengan baik, bukan tidak mungkin mereka juga diperkenankan masuk dunia yang akan datang. Bagaimana manusia mewarisi Taurat yang tertulis dalam hati manusia? Bila kita merunut dari kitab Kejadian, maka dijumpai kemungkinan seperti ini: Bahwa di Eden Adam dan Hawa telah belajar dari dua sumber, yaitu dari Allah yang diwakili dengan simbol pohon kehidupan dan dari ular yaitu pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Tentu di dalam hati Adam telah tertulis Taurat yang diajarkan Tuhan. Hanya ternyata Adam tidak menyerap kebenaran sebagaimana mestinya, sebab manusia pertama juga menyerap apa yang dilarang Tuhan untuk dikonsumsi. Akhirnya manusia sampai pada taraf di mana tidak bisa mencapai kesucian Allah. Namun ini bukan berarti manusia menjadi rusak sama sekali.
    Hal di atas ini menjadi gambaran kehidupan orang percaya, kalau kita menyerap seluruh kebenaran yang Tuhan sediakan dan tidak menyerap apa yang dunia sediakan, maka pasti kita menjadi manusia yang luar biasa. Kalau orang di luar Injil yang menyerap hukum dalam nurani mereka bisa menjadi baik, maka orang percaya yang menyerap kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus akan menjadi manusia yang sempurna.
    0 min
  • Neshamah Sebagai Pelita Tuhan
    Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata menyelidiki dalam teks aslinya adalah chapas (חָפַשׂ). Kata ini berarti sama dengan melihat dengan teliti untuk menemukan sesuatu. Adapun terjemahan kata “lubuk hati” menunjuk ruangan yang terdalam (Ibr. kal khetther beten; כָּל־חַדְרֵי־בָֽטֶן). Adapun pelita dalam teks aslinya adalah niyr (נִיר). Kalimat “seluruh lubuk hatinya” dalam bahasa Inggris diterjemahkan the inward parts of the belly or womb. Hal ini menunjuk ruangan yang paling terdalam di hati manusia. Sesungguhnya maksud Amsal 20:27 adalah bahwa roh manusia bisa menjadi mata Tuhan yang menyelidiki keberadaan hidup seseorang, bahkan sampai hal yang terdalam atau tersembunyi dalam diri seseorang.
    Dalam Amsal 20:27 kata roh manusia adalah neshamah. Jadi, neshamah manusia itu sendiri yang menyelidiki diri manusianya sendiri. Hal ini mengingatkan kita kepada pernyataan Paulus dalam Roma 8. Dalam Roma 8, Paulus menunjukkan bahwa hasil dari kehidupan orang percaya yang dipimpin Roh Kudus melahirkan “roh” yang menolong percaya hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu selama mereka menuruti roh tersebut. Roh di sini bukan Roh Kudus. Roh tersebut bukan dalam arti pribadi, tetapi spirit atau gairah yang juga memiliki kecerdasan untuk mengerti kehendak Allah dan selera seperti Tuhan sendiri. Jadi, roh tersebut dihasilkan atau buah dari pergumulan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Roh itu juga membantu orang percaya dalam berdoa. Hal ini sebenarnya paralel dengan fakta di mana nurani orang percaya (dalam neshamah-nya) oleh pimpinan Roh Kudus memiliki kepekaan untuk menyelidiki dirinya sendiri.
    Kalau dikatakan bahwa roh manusia (neshamah) menyelidiki seluruh lubuk hati, artinya neshamah orang percaya diberi kemampuan untuk mengoreksi keadaan batiniahnya sendiri. Sesungguhnya maksud ayat ini adalah bahwa nurani manusia dalam neshamah tersebut memiliki kemampuan untuk mengenali keberadaan dirinya dengan tepat. Mereka yang memiliki kemampuan untuk mengoreksi diri ini adalah mereka yang membuka dirinya hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus membuat seseorang menemukan spirit atau gairah Roh Kudus serta kecerdasan Roh Kudus, sehingga hati nurani menjadi cerdas dan memiliki sifat-sifat Allah. Hati nurani yang memiliki spirit, gairah dan kecerdasan dapat mengenali lubuk hatinya sendiri secara benar, obyektif dan tajam.
    Ketika seseorang bertumbuh mengenal kebenaran secara memadai atau dalam level tertentu dan bersungguh-sungguh untuk melakukan keinginan Allah, maka dalam proses untuk melakukan kehendak Allah tersebut, ia dapat mendengar suara di dalam dirinya melalui nuraninya. Suara itu adalah nurani yang telah menerima bimbingan Roh Kudus untuk mengerti kehendak Allah. Suara itu akan semakin akrab dan menyatu dalam dirinya sehingga dapat mengarahkan kehidupan kepada kehendak Allah yang sempurna. Suara nurani seseorang yang dipenuhi Firman kebenaran, dapat menjadi suara yang seirama dengan suara Tuhan, sehingga Firman Tuhan dapat digenapi bahwa roh manusia adalah pelita Tuhan. Menjadi pelita artinya selain mengoreksi, juga memberi petunjuk.
    Jika orang percaya terus bertumbuh dalam kebenaran, sehingga semakin cerdas, maka nuraninya dengan mudah mendeteksi kalau ada suara yang tidak senada dengan kebenaran atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau seseorang tidak memahami kebenaran secara memadai, karena tidak bertumbuh dalam kebenaran, maka ia tidak akan dapat mendengar suara Tuhan atau tidak memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan. Sebaliknya, ia mendengar suara lain, tetapi disangkanya suara Tuhan. Dalam hal ini banyak orang Kristen dalam kebodohannya menganggap banyak suara yang sebenarnya bukan dari Allah, dianggap sebagai suara dari Allah atau dianggap tidak menyalahi kekudusan Allah, padahal semua itu suara dari dunia yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah....
    0 min
  • Nilai-Nilai Dan Pola Berpikir
    Hati nurani memiliki nilai-nilai atau value dalam kehidupan ini, yaitu cara memandang sesuatu. Nilai-nilai ini terbangun sejak kecil, ketika seorang anak manusia mulai memiliki kesadaran. Orang pertama yang mengajarkan nilai-nilai adalah orang tua. Dalam hal ini keluarga adalah tempat pendidikan hati nurani yang pertama. Dalam keluarga, seorang anak manusia mulai memiliki kesadaran mengenai yang baik dan buruk, indah dan tidak indah, menguntungkan dan merugikan, membahagiakan dan tidak membahagiakan, memiliki nilai tinggi dan tidak bernilai, mulia dan hina, sopan dan tidak sopan dan lain sebagainya. Dari hal ini seorang anak manusia mulai menimbang apa yang harus dimasukkannya ke dalam roh atau neshamah-nya. Ketika masih kanak-kanak, pertimbangan-pertimbangannya belum kokoh dan citarasa jiwanya belum permanen. Dari hal ini seseorang memiliki pola berpikir. Selanjutnya lingkungan pendidikan, pergaulan, dan berbagai sumber dari berbagai media (internet, televisi, instagram dan lain sebagainya) mengisi jiwanya, yang kemudian dimasukkan ke dalam roh (neshamah). Ketika sudah mulai dewasa, seorang anak manusia sudah memiliki ukuran pertimbangan yang kokoh dan citarasa jiwa yang permanen. Semakin dewasa atau tua, pola berpikir seseorang semakin permanen dan tidak dapat diubah lagi.
    Dari hal tersebut berlangsung proses pembentukan nurani. Nurani terdapat pada roh atau neshamah. Nurani merupakan inti kehidupan seseorang, sebab kualitas manusia itu terdapat pada nuraninya. Nurani seseorang pasti terekspresi dalam perilakunya. Jadi, kalau yang selalu diterima oleh jiwa bukan kebenaran, maka nuraninya menjadi rusak. Hal ini menunjukkan bahwa nurani ada di dalam neshamah; bukan sesuatu yang statis, tetapi progresif seirama dengan pertumbuhan fisik, kesadaran dalam jiwanya dan apa yang dimasukkan melalui inderanya. Hati nurani terbangun melalui perjalanan waktu yang panjang. Itulah sebabnya kalau seseorang dalam waktu lama menerima masukkan yang buruk, maka hati nuraninya terbangun buruk sampai tidak bisa diubah lagi.
    Pada umumnya hati nurani diberi pengertian sebagai suatu dorongan keinsyafan batin yang dimiliki seseorang untuk mengontrol sikap dan perilaku seseorang dan yang menggerakkannya dalam mengambil keputusan. Setiap kali seseorang mengambil keputusan, pasti berdasarkan keinsyafan batinnya tersebut. Dengan demikian hati nurani menunjuk adanya suatu kemampuan khas yang ada pada manusia dari fenomena moralnya untuk menimbang dan mengukur guna mengambil keputusan. Oleh karena besar peranan hati nurani dalam kehidupan seseorang, maka orang percaya bertanggung jawab mendewasakan hati nuraninya. Mendewasakan hati nurani artinya bagaimana hati nurani memiliki keinsyafan yang berkualitas tinggi seperti Tuhan sendiri.
    Kalau keinsyafan batin seseorang menjadi dewasa, yang sama artinya dengan berkualitas tinggi seperti Tuhan sendiri, maka segala tindakannya akan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah sesungguhnya tujuan keselamatan itu. Dalam proses keselamatan, hati nurani didewasakan untuk menjadi hati nurani yang berkualitas seperti Tuhan. Kalau keinsyafan batinnya berkualitas tinggi seperti Tuhan, ini berarti memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Dengan demikian, dengan sendirinya seseorang dapat berperilaku seperti Tuhan sendiri. Dalam hal ini harus dipahami bahwa hati nurani, bukan sesuatu yang statis, tetapi dapat progresif. Setiap individu bertanggung jawab terhadap keadaan nuraninya. Nurani inilah yang nantinya diperhadapkan kepada pengadilan Allah.
    Faktor yang sangat penting dalam pembentukan nurani adalah lingkungan, artinya yang menjadi media di mana jiwa mendapat masukkan. Nurani memiliki warna dari apa yang diterima oleh jiwa dari lingkungannya melalui jendela inderanya, khususnya apa yang dilihat dan didengar. Dari hal ini dapat dipahami, kalau dunia (lingkungan) semakin jahat atau rusak, maka nurani manusia semakin jahat atau rusak pula.
    0 min
  • Rumah Hati Nurani
    Untuk memahami mengenai letak hati nurani, perlu sekali mengerti mengenai struktur permanen manusia. Sebenarnya memang sukar untuk mengatakan bahwa manusia ini terdiri dari dua atau tiga unsur, sebab manusia sebuah personalitas totalitas yang tidak terpisahkan, tetapi juga bukan satu dalam arti hanya satu unsur saja. Berdasarkan Alkitab, ternyata memang ada beberapa unsur yang tergabung dalam diri makhluk yang disebut manusia ini. Unsur-unsur itu antara lain roh, jiwa dan tubuh (1Tes. 5:23), teori ini disebut trikotomi. Di lain pihak ada sebagian ahli penganut teori dikhotomi yang cukup membagi manusia menjadi dua unsur saja, yaitu manusia batiniah dan manusia lahiriah. Dalam teori dikhotomi, roh dan jiwa disatukan. Kedua teori ini memiliki landasan dari Alkitab. Untuk lebih mudahnya memahami struktur permanen manusia, kita membagi manusia dalam tiga bagian. Tentu pembagian ini tidak secara mutlak, sebab manusia sebuah personalitas totalitas; suatu kesatuan yang tidak terbagi-bagi.
    Sebagai kerangka untuk memahami struktur permanen manusia ini, maka perlu dijelaskan bagaimana Tuhan menciptakan manusia: Tuhan menghembuskan nafas hidup (Ibr. neshamah; נְשָׁמָה) ke sosok tubuh yang terbuat dari tanah liat, kemudian manusia menjadi makhluk yang hidup. Ketika roh (Ibr. neshamah) kontak dengan tubuh, maka manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7). Hal ini paralel dengan proses pembuahan. Dalam proses pembuahan, sperma (benih pria) bertemu dengan ovum atau sel telur (benih wanita). Pertemuan ini menghasilkan zigot yang menjadi janin. Zigot inilah bakal tubuh manusia yang pada mulanya sangat kecil, tidak kelihatan kalau tidak menggunakan kaca pembesar. Dalam zigot terdapat roh, itulah sebabnya bisa dikatakan bahwa kehidupan sudah dimulai sejak terbentuknya janin. Di dalam kandungan, proses terbentuknya anak manusia sudah mulai berlangsung. Roh manusia atau unsur kehidupan membuat zigot berkembang.
    Pada waktu bayi baru lahir, yaitu setelah sembilan bulan, ia sudah memiliki tubuh dan roh, tetapi jiwanya belum lengkap atau belum sadar sepenuhnya. Jiwa masih kosong, demikian pula dengan hati nurani yang ada pada roh atau neshamah-nya juga belum terbentuk sama sekali. Neshamah adalah rumah untuk hati nurani. Dalam bahasa Ibrani ada dua kata yang dapat diterjemahkan roh. Pertama adalah ruakh (רוּחַ). Kata ini lebih menunjuk kepada pribadi dan unsur kehidupan. Sedangkan kata kedua adalah neshamah (נְשָׁמָה). Neshamah lebih menunjuk kepada unsur kesadaran pada manusia, yang memuat hati nurani atau letak hati nurani. Dengan demikian, hati nurani ada di dalam bagian terdalam kehidupan manusia, yaitu di dalam rohnya (neshamah).
    Ketika seorang anak manusia baru lahir, roh atau neshamah-nya belum berkualitas sama sekali atau belum memiliki isi, sebab hati nuraninya belum terbentuk sama sekali. Seiring dengan perjalanan waktu, ketika jiwa menjadi lengkap sehingga memiliki kesadaran, maka jiwa mulia mendapat masukkan atau isi. Dari kesadaran ini jiwa menyerap segala sesuatu melalui jendela jiwa, yaitu panca indera, khususnya mata dan telinga. Masukkan yang terbanyak ke dalam jiwa akan mewarnai hati nurani. Dari hal ini, kita pahami bahwa hati nurani seseorang baru terbangun atau terbentuk dalam rohnya ketika jiwanya mendapat isi atau masukkan. Di sini kualitas neshamah mulai ada, yaitu tergantung apa yang dimasukkan ke dalam neshamah-nya.
    Dari pertimbangan individu, yang paling banyak dimasukkan ke dalam neshamahnya melalui jiwa membentuk atau membangun hati nuraninya. Pertimbangan individu maksudnya adalah apa yang dipandang baik dan buruk, indah dan tidak indah, menguntungkan dan merugikan, membahagiakan dan tidak membahagiakan, memiliki nilai tinggi atau bernilai dan tidak bernilai, mulia dan hina, sopan dan tidak sopan dan lain sebagainya. Tentu yang dimasukkan ke dalam neshamahnya adalah apa yang dipandang positif. Dalam hal ini, ada proses pertimbangan yang hasilnya dimasukkan ke dalam neshamahnya.
    0 min
  • Ketaatan Tanpa Pamrih
    Dalam ketaatan yang dilakukan Tuhan Yesus, nampaklah ketaatan yang sangat tinggi mutunya, sebab dilakukan tanpa pamrih. Tanpa pamrih di sini maksudnya melakukan sesuatu tanpa niat tersembunyi maupun terang-terangan untuk memperoleh imbalan balik, baik berupa barang maupun sekadar ucapan terima kasih. Bagi pelayan Tuhan yang mempunyai ketaatan tanpa pamrih, menaati Firman Tuhan dan memenuhi rencana-Nya adalah kesukaan.  Ketaatan tanpa pamrih tersebut telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Flp. 2:5-7). Ketaatan orang percaya adalah ketaatan yang tidak berasal dari sikap oportunis, konformisme dan hipokrisi. Oportunis berarti ketaatan yang berlatar belakang motif keuntungan. Ketaatan yang dilakukan agar hidupnya diberkati Tuhan, dilindungi dari malapetaka. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang nilainya sangat rendah. Ia tidak menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Majikan Agung, tetapi sebagai “pedagang” yang hendak mengeruk keuntungan bagi kesenangan pribadi.
    Konformisme adalah ketaatan yang tidak teguh, tidak tangguh, atau tidak kuat. Sebab di dalam ketaatan yang konformisme, masih terbuka peluang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Hal ini menciptakan etika situasi yang sangat kasuistik. Konformisme akan melahirkan orang-orang yang tidak memiliki integritas sebagai anak-anak Allah yang dengan militan melakukan kehendak-Nya. Bukan sebuah ketaatan mutlak. Dalam ketaatan yang bersifat konformisme terdapat unsur permisif.  Kalau merasa tidak sanggup atau kurang mampu, maka mereka masih membuka peluang kompromi dengan ukuran yang lebih rendah.
    Hipokrisi adalah ketaatan legalistik, artinya menaati hukum Tuhan hanya berdasarkan bunyinya. Melakukan hanya berdasarkan bunyinya. Menaati secara hurufiah dan mengabaikan inti dari hukum atau peraturan tersebut. Sudah barang tentu ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang hanya membenahi atau membereskan bagian “luar”nya saja, tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di dalam. Ketaatan yang Tuhan kehendaki adalah ketaatan yang dari dalam, artinya seseorang dapat melakukan kehendak Tuhan, bukan karena faktor tekanan dari luar (baik dalam bentuk berkat positif maupun ancaman yang menakutkan), tetapi dari hati yang mengasihi Tuhan.
    Selanjutnya ketaatan seseorang kepada Tuhan harus didasarkan pada kenyataan bahwa Tuhan memberi hukum-Nya untuk kebaikan. Perintah Tuhan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menyembuhkan jiwa orang yang rusak, yaitu karakter dan watak atau kepribadian yang sudah rusak. Perintah diberikan untuk membentuk manusia yang berkualitas.  Perintah adalah cermin dari kehendak Tuhan yang kudus dan agung (Mzm. 119:98, 176), agar manusia dapat hidup sebagai manusia dengan segala keagungannya. Dengan pengertian ini maka akan menggiring seseorang menaati Tuhan dengan rela, sebab ketaatan tersebut akhirnya juga untuk kebaikan manusia itu sendiri. Ketaatan kepada Tuhan harus didasarkan pada realita Tuhan memberi hukum-Nya untuk kebaikan, menertibkan kehidupan agar hubungan dengan Tuhan menjadi harmonis dan dengan sesama menjadi harmonis pula. Ini adalah persiapan untuk masuk Kerajaan-Nya. Ketaatan bukan hanya untuk meraih berkat hari ini, tetapi meraih berkat kekal di dalam Kerajaan-Nya nanti. Bukan untuk investasi dengan Tuhan hari ini, tetapi persiapan hari esok.  Dalam hal ini, Firman Tuhan berfungsi sebagai pelita kehidupan (Mzm.119:105, 19:9). Dengan pengertian ini maka seseorang akan rela melakukan Firman Tuhan dengan sukacita, seperti Pemazmur menyaksikan bahwa Firman Tuhan adalah kesukaannya (Mzm. 1).
    Kalau manusia mengakui Allah adalah Penguasanya dan Tuannya yang dijunjung tinggi dengan segala kehormatan, maka ia dengan rela dan sukacita melakukan segala kehendak-Nya.  Seperti seorang punggawa yang berusaha untuk melakukan kehendak tuannya. Baginya, melakukan kehendak tuannya adalah kebahagiaan. Demikian juga sebagai umat Tuhan,  melakukan kehendak Tuhan adalah sebuah kebahagiaan. Dengan demikian melakukan kehendak Tuhan tidak lagi m...
    0 min
  • Kurang Berbekal
    Dewasa ini juga banyak pelayan Firman dan pemimpin gereja yang terlahir dari pendidikan di berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan berbagai profesi (pengusaha, artis, atlit, pejabat pemerintah, pegawai swasta, pengacara, dokter, pendidik, ibu rumah tangga, dukun dan lain sebagainya). Tentu hal ini bukan sesuatu yang salah. Tuhan bisa mengubah mereka dan menjadikan alat dalam tangan Tuhan secara luar biasa. Tetapi masalahnya, mereka belum diperlengkapi dengan pengetahuan Alkitab yang memadai dan di antaranya belum bertumbuh secara benar dalam karakter Kristus. Banyak pengalaman masa lalu mereka yang telah menggores secara mendalam. Kerusakan karakter mereka tidak cukup dalam waktu 4 tahun dibenahi di Sekolah Teologi. Idealnya, seharusnya sejak dari Sekolah Minggu seseorang dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan. Kalau hanya 4 tahun dalam studi, belumlah memadai membenahi karakternya. Lagipula tidak banyak Sekolah Teologi yang menyediakan pembinaan karakter yang baik. Pada umumnya mereka lebih menekankan keilmuannya atau akademisinya, yaitu teologi, daripada pembentukan karakternya.
    Pengalaman pertobatan dan kesaksian yang mereka alami, di dalamnya termasuk pengalaman panggilan untuk melayani, sudah dianggap cukup sebagai bekal. Mereka mengganggap bahwa pengalaman masa lalu sudah cukup memadai sebagai bekal untuk melayani pekerjaan Tuhan, dari mengatur organisasi sampai berkhotbah. Memang urusan organisasi (baik organisasi gereja maupun sekuler atau perusahaan) bisa dilakukan oleh siapa saja, sebab bisa dipelajari di sekolah. Tetapi untuk menyampaikan Firman Tuhan, bukan sesuatu yang mudah. Mestinya juga tidak boleh sembarangan, sebab selain harus memahami isi Alkitab juga harus memiliki kualitas diri sebagai wakil Tuhan Yesus, yaitu kehidupan seperti Yesus. Pengalaman pertobatan bukan berarti seseorang sudah berubah mencapai standard kehidupan yang dikehendaki oleh Allah sebagai pelayan Firman dan pemimpin komunitas rohani.
    Mereka percaya bahwa Tuhan menyertai dalam segala hal secara ajaib, tanpa memahami bahwa tanggung jawab untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan kesempurnaan di dalam Tuhan adalah tanggung jawab individu. Untuk bisa lebih mengenal Allah, sehingga memahami ajaran yang benar dari Injil dan bertumbuh dalam kesempurnaan, tidak bisa secara ajaib. Harus diperjuangkan secara bertahap dengan ketat. Ini adalah tatanan yang tidak bisa diubah. Mukjizat bisa terjadi setiap saat, tetapi mengenal Allah dengan benar dan bertumbuh dalam kesempurnaan dan kesucian harus melewati tahap-tahap ketat dalam perjalanan waktu oleh perjuangan yang sangat serius.
    Tidak sedikit di antara mereka yang sudah puas diri dengan pengalaman “masa lalu” dengan Tuhan. Seakan-akan kesaksian pengalaman masa lalu mereka yang luar biasa, ajaib dan spektakuler sudah merupakan verifikasi bahwa dirinya adalah orang terpanggil dan akan selalu layak untuk menjadi pemimpin suatu komunitas Kristen, serta berkhotbah. Orang-orang seperti ini kalau tidak waspada, di perjalanan masih bisa dibelenggu oleh percintaan dunia dan kesenangan dihormati menjadi orang penting. Akhirnya lepas dari belenggu Tuhan, sehingga bisa menjadi alat dalam tangan kuasa musuh untuk mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Faktanya hari ini, banyak pengajaran yang tidak sesuai dengan Injil muncul dari mereka. Karena telah memiliki prestasi pelayanan yang hebat dengan segudang kesaksian mukjizat, maka penyimpangan tersebut tidak dikenal oleh jemaat.
    Pola “berpikir lama” yang belum tuntas melahirkan doktrin-doktrin atau ajaran yang sebenarnya bertentangan dengan kebenaran Injil yang sejati. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya mereka tidak tahu. Mereka tidak bermaksud menipu atau menyesatkan, tetapi mereka tidak tahu kalau diri mereka sendiri sebenarnya juga salah. Harus diingat bahwa pengalaman pertobatan, panggilan atau pengalaman spektakuler dengan Tuhan bukanlah bekal yang cukup bagi seseorang untuk dapat ...
    0 min
  • Lulusan Sekolah Teologi
    Seorang pelayan jemaat, dari pendeta sampai aktivis, harus memiliki kualifikasi seorang yang dapat mewakili Tuhan Yesus. Mewakili Tuhan Yesus artinya dapat menunjukkan bagaimana kehidupan Tuhan Yesus pada waktu di bumi dua ribu tahun yang lalu. Ini adalah satu-satunya kunci keberhasilan pelayanan. Harus diingat bahwa pelayanan adalah usaha untuk mengubah pola berpikir jemaat sehingga memiliki pola berpikir yang tidak sama dengan dunia atau tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Pola berpikir yang diubah akan menghasilkan gaya hidup yang diubah pula. Sesuai dengan “predikat Kristen” yang disandang, setiap orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus harus menjadi seperti Yesus. Dengan demikian menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang atau dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Dalam hal tersebut, salah satu yang paling merusak pelayanan pekerjaan Tuhan adalah konsep pemikiran atau pandangan bahwa seseorang yang sudah lulus dari Sekolah Teologi sudah diakui atau dianggap sebagai memenuhi kualifikasi sebagai pelayan jemaat. Mereka hadir di tengah-tengah jemaat dengan “buku-buku” yang sudah tertulis dalam pikiran mereka. Dengan hal itu mereka merasa sudah layak menjadi pelayan jemaat. Jika demikian, seharusnya mereka tidak boleh turun ke tengah-tengah jemaat, mereka hanya pantas ada di lingkungan Sekolah Teologi untuk membuat kajian-kajian teologi atau beradu argumentasi di ruang kuliah. Biasanya mereka juga bangga dengan gelar kesarjanaan teologi yang mereka sandang. Karena hal ini, dewasa ini banyak pendeta atau pelayan jemaat yang ramai-ramai mencari gelar tersebut. Hal ini memicu munculnya Sekolah Teologi “abal-abal” (berkualitas akademis sangat rendah), sehingga diluluskan sarjana teologi “asal-asalan” pula. Inilah yang disebut sebagai penipuan akademis. Sarjana-sarjana abal-abal ini mengajar jemaat. Betapa rusaknya bangunan berpikir jemaat.
    Tidak sedikit rohaniwan (pendeta) yang melayani jemaat hanya berbekal ilmu teologi, tanpa spirit yang baik (gairah rohani). Selain karakternya belum terbentuk memadai semakin seperti Kristus, juga jiwanya yang masih dapat dibahagiakan oleh fasilitas dunia dengan segala hiburannya. Mereka bukanlah orang-orang yang “sudah mati” terhadap dunia, artinya belum meninggalkan segala sesuatu bagi Kerajaan Surga (Luk. 14:33). Tanpa meninggalkan segala sesuatu seseorang tidak layak menjadi murid Tuhan. Mereka hanya menjadi murid Sekolah Teologi tetapi tidak pernah menjadi murid Tuhan Yesus. Tidak sedikit dosen-dosen Sekolah Teologi juga berkeadaan demikian.  Kalau dosennya saja masih duniawi, bagaimana mahasiswanya bisa rohani? Sulit tidak menjadi duniawi pula.
    Fakta menunjukkan, mereka yang ada di lingkungan Sekolah Teologi kadang seperti katak di bawah tempurung yang hanya melihat dunia dari perspektif akademis, padahal dunia sudah berubah dengan berbagai wajah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan berbekal bidang ilmu teologi yang mereka miliki, mereka menganalisa kehidupan yang selalu berubah, apalagi sekarang ini dengan kecepatan tinggi. Padahal tanpa hidup di tengah-tengah jemaat, mereka tidak akan tahu perubahan itu. Mereka tidak mampu membekali mahasiswanya yang akan turun ke lapangan dengan bekal yang memadai. Tidak sedikit dosen-dosen yang mengaktualisasi diri di tengah-tengah mahasiswa (sebab tidak berkesempatan eksis di luar Sekolah Teologi), sehingga membuat ajaran-ajaran yang sensasional (hanya supaya kelihatan pinter), di mana hal ini merusak konstruksi bangunan berpikir mahasiswa.
    Tanpa disadari dosen-dosen tersebut menulari “arogansi akademis”. Tidak terbayangkan rusaknya jemaat yang dilayani mahasiswa yang ditulari “spirit” arogansi akademis. Ketika para mahasiswa tersebut turun ke lapangan, mereka juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri dengan mengemukakan ilmu yang mereka peroleh di Sekolah Teologi. Mereka merasa diri sudah hebat, padahal mereka seperti tong yang berbunyi nyaring. Sungguh,
    0 min
  • Kerajaan Manusia
    Dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, betapa sentralnya peran seorang pendeta dalam pelayanan bagi jemaatnya, khususnya di gereja-gereja kharismatik dan Pentakosta. Dalam gereja-gereja yang sistem organisasinya otonomi, pemimpin gereja lokal atau gembala jemaat lokal berpotensi atau memiliki peluang sangat besar mengatur dengan bebas gerejanya tanpa diatur dan dikontrol secara ketat oleh kantor sinode. Seorang pemimpin jemaat lokal atau gembala jemaat lokal dapat mengatur gerejanya sesukanya dan berkhotbah sesuai dengan apa yang dipandangnya benar. Keadaan ini menempatkan seorang pemimpin gereja tersebut seperti “raja” kecil dalam suatu komunitas.
    Kalau tidak berhati-hati, bisa-bisa gembala jemaat tersebut dapat menggantikan posisi dan peran Gembala Agung, Tuhan Yesus. Dan faktanya fenomena seperti ini telah terjadi. Jika hal ini terjadi, maka jemaat tidak pernah mengenal kebenaran dan tidak dipersiapkan menjadi mempelai Tuhan Yesus. Harus selalu diingat bahwa pemimpin gereja lokal atau gembala jemaat hanyalah pelaksana tugas yang diberikan oleh Gembala Agung. Pemimpin gereja yang sesungguhnya dan Gembala jemaat yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus. Gembala jemaat lokal yang melakukan pelayanan harus dalam kontrol Tuhan Yesus secara penuh dan mutlak dan dalam kesadaran penuh bahwa gereja dan jemaat adalah milik Tuhan.
    Jika gembala jemaat menggantikan peran dan posisi Gembala Agung, maka gereja menjadi kerajaannya, keluarga pendeta adalah keluarga bangsawan yang dilayani dan memiliki hak-hak istimewa di dalam komunitas tersebut. Biasanya keuangan dikuasai oleh keluarga pendeta, menjadi jaminan hidup pendeta dan keluarganya. Memang keluarga pendeta berhak hidup dari uang persembahan jemaat, tetapi keadaan tersebut memberi potensi terjadi penyalahgunaan uang gereja untuk kepentingan pribadi.  Jadi, hal tersebut merupakan suatu kondisi yang berbahaya untuk pendeta dan keluarganya. Biasanya pendeta-pendeta seperti ini sangat sering berbicara mengenai persembahan dan persepuluhan. Tidak jarang disertai dengan ancaman kutuk dan penghukuman bagi mereka yang tidak memberi persembahan dan persepuluhan. Memang, jemaat harus diajar untuk mengembalikan milik Tuhan, tetapi milik Tuhan bukan milik pendeta atau gereja. Seharusnya penjelasan dan anjuran untuk mengembalikan milik Tuhan, tidak harus disertai dengan ancaman atau janji pelipatgandaan.
    Biasanya gereja seperti itu memiliki hukum yang wajib dilaksanakan, yaitu penerus penggembalaan atau kepemimpinan dalam gereja adalah pasangan hidup, anak atau yang memiliki hubungan darah dengan pemimpin atau gembala gereja tersebut tanpa melihat panggilan mereka dan potensinya. Dalam hal ini sistem dinasti diterapkan, gereja telah melembaga menjadi kerajaan atau perusahaan keluarga. Biasanya gereja seperti ini akan menyingkirkan orang-orang berpotensi yang dianggap menjadi kompetitor bagi diri gembala jemaat dan keluarganya. Gembala jemaat seperti ini akan merasa terancam dengan kehadiran orang-orang potensial yang merebut hati jemaat. Jadi, tidak heran kalau mereka tidak diberikan peluang atau kesempatan melayani, bahkan bila mungkin dapat disingkirkan secepatnya.
     
    Walaupun sinode memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, tetapi kontrol kepada masing-masing gereja tidaklah mudah. Apalagi mengontrol pengajarannya atau sisi khotbahnya. Tidak sedikit sinode gerejanya sendiri juga tidak memiliki dasar teologi yang cukup, sehingga pejabat-pejabatnya bisa memiliki pengajaran masing-masing. Dari sini sering terjadi munculnya berbagai pengajaran yang tidak sesuai Injil, sehingga tidak membawa jemaat kepada maksud keselamatan diberikan. Sebagai akibatnya banyak jemaat yang tidak siap bertemu dengan Tuhan.
    Maksud tulisan ini agar jemaat berhati-hati terhadap gereja yang hanya memperdaya orang Kristen, bukan untuk kepentingan Tuhan dan tidak dipersiapkan bertemu dengan Tuhan. Masalah intinya, gereja seperti itu bukanlah “pesawat Tuhan” yang menerbangkan jemaat...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…