Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kepribadian
    Banyak orang dengan segala teorinya berbicara mengenai apa yang dimaksud dengan kepribadian. Dalam tulisan ini kita tidak mengacu pada pandangan siapa pun. Kita memahami kepribadian dari perspektif yang memiliki keterkaitan dengan pemulihan gambar Allah dan nurani. Pada dasarnya, kepribadian adalah keadaan unik atau khas neshamah masing-masing individu. Hal ini menunjukkan kehebatan Allah, Sang Arsitek jiwa yang agung, yang memiliki nilai estetika yang tiada tara. Hebatnya pula, tidak ada dua orang yang memiliki kepribadian yang sama. Setiap orang memiliki kepribadian yang khas atau unik. Dalam psikologi, terdapat teori yang membagi manusia dalam bebeberapa tipe kepribadian, yaitu antara lain sanguin, koleris, melankolis dan plegmatis. Kepribadian seseorang bisa juga merupakan gabungan dari empat kategori tersebut.
    Dalam konteks pemulihan gambar Allah yang bertalian dengan hati nurani perlu dijelaskan sebagai berikut: Kepribadian dalam hidup seseorang sebenarnya menunjuk kepada keadaan khas atau unik yang dimiliki seorang anak Allah yang tidak sama persis dengan siapa pun. Kepribadian merupakan keadaan khusus yang dimiliki setiap individu. Hal ini merupakan kekayaan atau harta setiap individu yang semuanya juga adalah milik Tuhan, yang suatu hari menghiasi rumah Bapa. Bapa memiliki berbagai keadaan unik anak-anak-Nya di kekekalan. Tetapi semuanya memiliki sifat dasar sama, yaitu serupa dengan Yesus, yaitu keserupaan dalam cinta kasih, hormat dan taat kepada Bapa.
    Pada dasarnya kepribadian adalah sifat atau keadaan khas neshamah seseorang yang dirancang Allah atas setiap individu. Dalam hal ini neshamah seperti sebuah institusi dalam diri manusia. Kepribadian ini bernilai abadi. Misalnya, seorang yang berkepribadian keras mestinya bagaimanapun tetap keras, tetapi jika menerima asupan kebenaran maka kerasnya diarahkan kepada hal yang positif. Hal ini akan dibawa sampai pada kekekalan. Suatu saat ketika seseorang meninggal dunia, tubuh dan jiwanya dikubur dan lenyap, maka hati nurani yang memberi kualitas atas kepribadiannya merupakan hasil akhir yang menentukan keadaan kekalnya. Diharapkan melalui proses pendewasaan, kepribadian orang percaya menjadi mulia. Selama tujuh puluh tahun setiap individu diberi tanggung jawab untuk mendandani manusia batiniahnya, yang sama dengan mendandani kepribadiannya (2Kor. 4:16).
    Setiap individu harus menemukan dan mengembangkan kepribadian sesuai dengan rancangan Allah dalam hidup masing-masing individu. Seharusnya setiap individu tidak mencoba untuk mengubah kepribadiannya yang khas dan meniru kepribadian orang lain. Setiap individu harus menemukan bagaimana kekhasan yang dimilikinya sesuai dengan rancangan Allah atas dirinya. Dalam hal ini setiap orang harus hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus menuntun hidup seseorang bukan saja agar dapat hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah dan memiliki Roh Kristus (spirit atau gairah yang juga ada pada Yesus), tetapi juga memiliki kekhasan atau keunikkan kepribadian yang sesuai dengan maksud Allah menaruh kepribadian tersebut dalam diri seseorang.
    Titik inti persoalan keselamatan adalah perubahan hati nurani, sehingga seseorang memiliki hati nurani Ilahi, yaitu kemampuan untuk mengerti kehendak Allah dan berselera jiwa seperti Tuhan atau memiliki spirit atau gairah Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan keingingan Allah. Hal ini menghiasi kepribadiannya. Bagaimanapun, keunikan kepribadian seseorang diwarnai dan dimotori oleh nurani Ilahinya. Dalam hal ini nurani seseorang yang memberi nilai atas kepribadiannya.
    Oleh sebab itu pelayanan harus difokuskan kepada roh yang diperbaharui seperti yang dikatakan oleh Paulus: … yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru,
    0 min
  • Pembentukan Karakter
    Membahas mengenai hati nurani, sangat penting untuk memahami dengan tepat perbedaan dan hubungan antara watak, karakter dan kepribadian.  Selama ini banyak orang masih bingung membedakan antara watak, karakter dan kepribadian. Ketiga kata tersebut digunakan dalam percakapan di berbagai kesempatan seakan-akan sama saja dan orang biasanya tidak mencoba untuk membedakannya. Berkenaan dengan usaha untuk mengubah diri menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah, penting untuk bisa memahami perbedaan antara watak, karakter dan kepribadian. Walaupun sulit untuk diuraikan secara sempurna, tetapi dengan pemahaman sejauh yang bisa dimengerti, maka akan memberikan bantuan yang berarti untuk dapat mengenal mengenai manusia. Pengenalan mengenai manusia ini sangat penting untuk membantu memahami proses pendewasaan rohani menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah.
    Sesungguhnya, watak dan karakter pada dasarnya sama atau bersinonim. Keduanya dalam bahwa Inggris diterjemahkan character. Dalam tulisan ini, lebih sering menggunakan karakter ketimbang watak. Sedangkan kata kepribadian dalam bahasa Inggris diterjemahkan personality. Pada dasarnya kepribadian lebih menunjuk pada sifat dasar atau sifat hakiki batiniah manusia. Inilah eksistensi khas dan unik yang dimiliki seseorang yang tidak ada duanya di jagad raya ini. Ciri dasar dari kepribadian ini sangat ditentukan oleh DNA (Deoxyribonucleic acid) masing-masing yang dibawa dari lahir. Ciri dasar kepribadian sangatlah sulit diubah atau mungkin tidak bisa diubah. Dalam psikologi, melalui pengujian dan pengalaman di bidangnya sejak zaman Hipokrates, telah dikemukakan teori mengenai tipe-tipe kepribadian, yaitu sanguinis, melankolis, koleris dan plegmatis. Ada juga psikolog yang mengemukan adanya sembilan tipe manusia yang dikenal sebagai Enneagram.
    Karakter mengekspresikan nurani melalui jiwa yang memuat pikiran, perasaan dan kehendak yang bersangkut paut dengan norma atau etika. Dalam hal ini, jiwa sesungguhnya digerakkan oleh nuraninya. Dengan demikian nuranilah yang menentukan kualitas karakternya.  Kalau  kualitas nuraninya baik maka karakternya baik, tetapi kalau kualitas nuraninya buruk maka karakternya juga buruk. Adapun kualitas nurani seseorang tergantung dari apa yang diterima melalui indera khususnya yang dilihat dan didengarnya, di mana jiwa menjadi jembatannya. Jiwalah yang menampung semua yang dilihat dengan mata dan didengar melalui telinga. Kalau masukannya baik, maka baiklah keadaan nuraninya, tetapi kalau tidak, maka keadaannya menjadi sebaliknya. Itulah yang membentuk atau membangun karakter seseorang. Jadi, karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan, bisa berubah secara bertahap seiring dengan proses yang terjadi berdasarkan pengaruh yang masuk melalui mata dan telinga yang adalah jendela jiwa. Pada dasarnya karakter menunjuk kualitas nuraninya.
    Dalam 1 Korintus 10:33 terdapat kata ethos (ἦθος), yang sejajar dengan  karakter. Dalam teks Alkitab versi King James tertulis evil communications corrupt good manners; Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Kata kebiasaan dalam teks Bahasa Indonesia terjemahan dari kata ethos. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan manners. Sejatinya kata ini bisa disejajarkan dengan kata karakter. Dengan demikian ayat tersebut bisa diterjemahkan: Pergaulan yang buruk bisa merusakkan karakter yang baik. Kata merusakkan dari teks aslinya phtheiro (φθείρω), yang juga bisa berarti merubuhkan atau membinasakan.
    Pergaulan yang buruk bisa merubuhkan bangunan karakter yang seharusnya terbangun sesuai rancangan Tuhan. Dengan demikian jelas sekali bahwa karakter seseorang ditentukan apa yang diterima jiwanya melalui pergaulan hidup setiap hari. Karakter seseorang adalah peta dari lingkungan dan segala pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Dalam hal ini kita mengerti betapa besar peranan pergaulan dalam membentuk karakter seseorang. Oleh sebab itu orang percaya harus bergaul dengan Tuhan dan menjauhi persekutuan denga...
    0 min
  • Perubahan Permanen
    Sesungguhnya, pembaharuan roh (roh manusia, yaitu neshamah-nya), berarti hati nuraninya didewasakan dapat hidup menurut roh. Roh yang dimaksud di sini bukanlah Roh Kudus, tetapi karakter atau sifat Roh Kudus yang diajarkan kepada orang percaya. Dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara dipimpin Roh Kudus dan hidup menurut roh. Dipimpin Roh Kudus adalah tindakan Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada orang percaya, baik di dalam batinnya melalui pengajaran Firman (Logos), maupun melalui pengalaman hidup (Rhema). Usaha Tuhan ini dimaksudkan untuk mengubah orang percaya dari kodrat dosa kepada kodrat Ilahi. Dari mengenakan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang kepada mengenakan cara hidup anak Allah. Dalam proses ini, Roh Kudus menunjukkan karakter atau sifat dan gairah yang sama dengan spirit Ilahi dalam kehidupan orang percaya. Hal ini dilakukan untuk menggantikan keinginan daging yang sudah lama berkuasa atas kehidupan seorang Kristen.
    Itulah sebabnya setiap orang Kristen harus belajar untuk hidup dalam pimpinan Roh. Adapun hasil dari dipimpin oleh Roh Kudus adalah seseorang mengalami perubahan, yaitu mengenakan kodrat Ilahi; sebuah cara hidup yang baru sama sekali. Perubahan ini merupakan perubahan permanen, bukan perubahan sementara atau perubahan semu. Melalui dipimpin oleh Roh ini, Allah menghendaki orang percaya memiliki karakter Yesus yang sama dengan serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa di surga. Hal ini sama dengan hidup menurut roh. Kata roh di sini bukan menunjuk kepada Pribadi, tetapi spirit atau gairah Ilahi. Gairah atau spirit yang menguasai diri Yesus ketika Ia ada di bumi dengan tubuh daging yang sama dengan kita.
    Hidup menurut roh artinya selalu berpikir dan berperasaan seirama dengan Bapa dan Tuhan Yesus.  Hal ini merupakan langkah untuk menuju kepada keadaan hidup di mana seseorang bebas dari penghukuman Allah. Kalau ditinjau dari teks aslinya kalimat “dipimpin Roh Kudus”, maka kata “dipimpin atau memimpin” menggunakan kata ago (ἄγω). Kata ago memiliki pengertian to lead, take with one, to guide (memimpin, membawa seseorang, menuntun). Sedangkan dalam kalimat “menurut roh”, kata menurut adalah kata (κατὰ). Kata ini sebenarnya sebuah preposisi, tetapi memiliki pengertian “mengikuti, menuruti, sesuai dengan atau melalui”. Memimpin artinya mengarahkan, dalam hal ini Roh Kudus mengarahkan orang percaya, sedangkan menuruti artinya mengikuti dan menyesuaikan. Dalam hal ini orang percaya mengikuti, menuruti dan menyesuaikan diri dengan kehendak roh. Roh di sini bukan Roh Kudus, tetapi spirit atau gairah yang dihasilkan setelah memasuki proses dipimpin Roh Kudus. Gairah atau spirit itu terbangun, semakin hari semakin kuat dan kualitasnya semakin tinggi, artinya semakin mendekati level kesucian Allah.
    Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, tetapi hidup menurut spirit atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Spirit atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah kita secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga kita memiliki Roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus. Suatu hari baik di bumi maupun di Kerajaan Surga, kita sudah dapat bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.  Seandainya Roh Kudus tidak memimpin kita, kita sudah mampu sepikiran dan perasaan dengan Roh Kudus. Dalam hal ini pikiran dan perasaan Roh Kudus, yang adalah pikiran dan perasaan Kristus atau kesempurnaan Bapa, ada dalam kehidupan orang percaya secara permanen. Inilah yang dimaksud not just to do, but to be. Orang percaya bukan hanya bisa berbuat kebaikan sesaat (to do), tetapi nuraninya diubah (to be) menjadi dewasa atau sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus sehingga memiliki keberadaan tersebut secara permanen.  Sesungguhnya inilah proses mengerjakan keselamata...
    0 min
  • Buah Hidup Dipimpin Roh
    Manusia dalam keadaan “keberdosaannya” tidak bisa mencapai standar kesucian Allah, ini berarti hati nurani manusia telah terkunci dalam keadaan tidak berdaya untuk mencapai kesucian Allah. Roh Kudus dapat memerdekakan manusia dari keadaan yang tidak bisa mencapai standar kesucian Allah tersebut. Roh Kudus bisa mewarnai hati nurani sehingga dapat mencapai standar kesucian Allah.  Orang percaya bisa mencapai standar kesucian Allah dengan atau melalui hidup dalam pimpinan atau tuntunan Roh. Namun harus ditegaskan bahwa hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis, tetapi harus diusahakan oleh masing-masing individu orang percaya.  Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam pimpinan Roh untuk menghasilkan kehidupan menurut roh. Kehidupan menurut roh adalah hasil perjalanan panjang belajar hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Dalam proses belajar tersebut orang percaya harus menyesuaikan diri dengan kehendak roh, yang akhirnya seseorang dapat berjalan seirama dengan roh yang adalah pikiran dan perasaan Roh Kudus atau gairah-Nya (Gal. 5:24-25).
    Kata roh dalam Roma 8:2, sebenarnya juga bisa berarti spirit atau gairah yang lahir dari pergumulan hidup seseorang yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hidup menurut roh hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berbeda dengan pimpinan Roh Kudus. Harus dipahami bahwa roh (tanpa tambahan Allah atau Kudus) di sini adalah suatu spirit, hal ini menunjuk spirit atau gairahnya Roh Allah atau gairah Roh Kudus. Roh Kudus menunjuk suatu Pribadi, sedangkan roh (dalam konteks Roma 8:2) lebih menunjuk suatu spirit atau gairah, yaitu gairah yang lahir dari pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Hidup menurut roh artinya seseorang sudah memiliki gairah Kristus di dalam kehidupannya dan menuruti gairah tersebut. Dalam hal ini hati nuraninya menjadi hati nurani Ilahi atau seperti Tuhan. Tentu tidak sama dalam arti mutlak sama, tetapi mampu mengambil keputusan sesuai dengan keinginan Allah.
    Proses dipimpin oleh Roh yang membuat seseorang hidup menurut roh harus diawali dari penebusan atas manusia berdosa di kayu salib. Ini barulah langkah awal yang dilakukan oleh Tuhan, tanpa peran kita sama sekali. Tetapi selanjutnya orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus meninggalkan cara hidup sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:17-18), yaitu hidup menurut roh bukan menurut daging agar terbebas dari penghukuman. Itulah sebabnya dalam Roma 8:12-13, tertulis bahwa orang percaya berhutang bukan untuk hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Dalam hal ini orang percaya sebagai orang yang berhutang harus membayar hutangnya dengan membentuk hati nuraninya menjadi hati nurani yang sama dengan Tuhan. Orang yang hati nurani sama dengan Tuhan tidak lagi hidup dalam daging, tetapi menurut roh.
    Orang yang hidup dalam daging adalah orang yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Di zaman Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dengan hidup atau berperilaku selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Inilah yang diusahkan Paulus, bahwa dengan sungguh-sungguh ia menaklukkan akal budinya kepada hukum Allah, sekalipun ia masih mengenakan tubuh yang terikat dengan kodrat dosa (Rm. 7:25). Hukum Allah di sini merupakan kebalikan dari hukum dosa (hamartia). Jadi hukum dosa (hamartia) menunjuk kepada kodrat dosa, sedangkan hukum Allah dalam konteks ini menunjuk kepada kodrat Ilahi atau hidup standar kesucian Allah.
    Usaha menaklukkan akal budi kepada hukum Allah (kodrat Ilahi yang berstandar kesucian Allah) merupakan usaha untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus agar menghasilkan hidup menurut roh, yaitu segala sesuatu dilakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini adalah usaha untuk memiliki pembebasan dari hukum dosa atau kodrat dosa. Hal ini sama dengan mengubah hati nurani menjadi hati nurani Ilahi,
    0 min
  • Hubungan Nurani Dengan Hidup Dalam Pimpinan Roh
    Nurani adalah suatu pokok bahasan yang sangat rumit. Itulah sebabnya banyak orang termasuk para teolog menghindar untuk membahasnya. Padahal hati nurani sangat penting, sebab hal ini berkaitan dengan proses keselamatan, yaitu bagaimana manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula. Rancangan Allah semula menciptakan manusia hidup dalam pimpinan roh. Manusia yang hidup dalam pimpinan roh akan hidup selalu bersesuaian dengan Tuhan. Bersesuaian dengan Tuhan artinya bisa berpikir dan berperasaan seperti Tuhan. Hal ini sama dengan memiliki cara berpikir Tuhan. Inilah yang dimaksud Filipi 2:5-7 agar orang percaya memiliki cara berpikir (mindset), yang dalam bahasa Yunani  phroneo (φρονέω) Tuhan. Keselamatan adalah proses untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Usaha untuk ini dinyatakan oleh Paulus sebagai mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau kita mengerjakan keselamatan (Yun. katergeseste; κατεργάζεσθε), Tuhan akan “mengerjakan” atau memberi bantuan (Yun. Energeo; ἐνεργέω).
    Membahas hati nurani sangat berkaitan dengan hidup dalam pimpinan roh. Mengapa berkaitan dengan hidup dipimpin roh? Sebab pada dasarnya hati nurani adalah pikiran roh. Roh di sini adalah roh manusia. Roh manusia bisa menjadi satu gairah atau satu spirit dengan Allah kalau melalui proses dipimpin oleh Roh Kudus. Pimpinan Roh Kudus dalam hidup seseorang dapat melahirkan “spirit atau gairah” Ilahi yang nantinya mewarnai roh manusia, sehingga roh manusia seirama dengan Roh Allah. Dengan cara inilah hati nurani seseorang didewasakan atau disempurnakan.
    Orang yang hati nuraninya didewasakan atau disempurnakan sesuai kebenaran Tuhan, membuat seseorang memiliki pikiran roh yang sesuai dengan pikiran Allah. Jika kemudian pikiran roh tersebut mendominasi atau menguasai kehidupan seseorang, berarti  ia hidup menurut roh atau dipimpin oleh roh. Jadi hidup menurut roh atau dalam pimpinan roh adalah ketika pikiran roh (hati nurani) sesuai atau sama dengan pikiran Roh Allah yang mengendalikan hidup seseorang. Jika tidak, maka manusia itu dikatakan hidup menurut daging.
    Manusia bukan hanya makhluk daging, tetapi juga makhluk roh, artinya bahwa inti kehidupan manusia ada pada rohnya. Inilah yang dihembuskan Allah atas tanah liat yang dibentuk Allah (Ibr. nishmat khayyim; םייִחַ‭ ‬תׁמַשְנִ‭ ‬; Kej 2:7). Tubuh manusia bukanlah inti kehidupan, sebab sesungguhnya tubuh manusia selalu mengalami regenerasi sel. Regenerasi sel adalah fitur biologis dari semua organisme hidup. Setiap menit jutaan sel manusia mengalami regenerasi. Tetapi roh manusia harus mengalami penyempurnaan sampai pada kekekalan dan tidak pernah lenyap. Oleh karena manusia adalah makhluk roh, maka roh manusialah yang seharusnya mendominasi kehidupan, bukan dagingnya. Tentu saja roh manusia harus bersesuaian atau seiring dengan Roh Allah.  Perjalanan hidup Kekristenan pada dasarnya adalah perjalanan untuk menjadikan kembali manusia sebagai makhluk yang dipimpin oleh roh sehingga menghasilkan buah-buah roh (Gal. 5:22-23).
    Dalam sub bahasan ini kita mencoba menemukan kerangka berpikir mengenai hal ini yang bisa membantu kita memahami kehidupan Kekristenan yang benar. Hati nurani yang terbentuk atau terbangun oleh kebenaran-kebenaran Allah, akan bersesuaian dengan pikiran Tuhan, sehingga hati nurani bisa mewakili suara Allah atau sama dengan suara Allah dalam segala pertimbangan serta keputusannya. Oleh sebab itu hati nurani harus didewasakan, sebab pendewasaan hati nurani sama dengan mengubah manusia untuk memiliki hati nurani Ilahi. Hati nurani Ilahi adalah hati nurani yang satu chemistry dengan Allah, satu warna atau satu hasrat. Inilah yang dikehendaki untuk dicapai oleh anak-anak Allah, yaitu agar sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Jika hati nurani seseorang  bersesuaian dengan Tuhan, maka ia barulah pantas disebut man of God. Perjalanan hidup di bumi ini bagi umat pilihan pada dasarnya merupakan kesempatan untuk mendewasakan hati nurani agar s...
    0 min
  • Hukum Roh Kehidupan
    Pembaharuan nurani sebenarnya sama dengan pembaharuan roh. Dalam Roma 8:2 tertulis: Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebenarnya kalimat “Roh yang memberi hidup” dalam Roma 8:2 terjemahan dari nomos tou pneumatos tes zoes en Kristo Iesou (νόµος τοῦ πνεύµατος τῆς ζωῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ). Kalimat ini sukar dipahami maksudnya, sebab sukar menerjemahkannya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan baru diterjemahkan “Roh, yang memberi hidup” Adapun dalam Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan lama diterjemahkan “hukum Roh yang mengaruniakan hidup”. Dalam bahasa Inggris juga diterjemahkan bermacam-macam. Tetapi pada umumnya menerjemahkan the law of the Spirit of Life (hukum roh kehidupan).
    Memang lebih tepat kalimat nomos tou pneumatos tes zoes en Kristo Iesou diterjemahkan “hukum roh kehidupan”. Dari kalimat ini dikemukakan adanya hukum roh dalam kehidupan sebagai anak-anak Allah yang memiliki keselamatan dalam Yesus Kristus. Seseorang tidak dapat memiliki atau mengalami pembaharuan dalam roh tanpa anugerah dalam Yesus Kristus dan pergumulan seperti yang dialami oleh Paulus dalam Roma 7:22-26. Dalam Roma 7:26 Paulus memberikan kesaksian: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan Paulus ini, dari terjemahan Bahasa Indonesia memberi kesan yang sangat kuat seakan-akan Paulus memiliki hidup dualisme, satu pihak dengan akal budinya Paulus melayani hukum Allah, tetapi di pihak lain dengan tubuh insaninya ia melayani hukum dosa.
    Supaya tidak salah mengerti yang dimaksud Paulus dalam Roma 7:26, maka mestinya ayat ini diterjemahkan: Aku sendiri dengan sungguh-sungguh menundukkan pikiranku kepada hukum Allah (kesucian atau kehendak Allah), sementara aku masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa. Sedangkan kalimat: …tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa, harus dimengerti bahwa sementara pikiran Paulus ditundukkan pada hukum Allah, tetapi sementara itu ia juga sadar bahwa ia masih ada dalam daging yang memiliki godaan melawan kehendak Allah atau ia masih ada dalam kodrat dosa.  Perubahan roh (neshamah) tidak dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis, ada hukum yang mengatur. Paulus harus mengupayakan diri untuk menundukkan pikirannya dengan sungguh-sungguh kepada hukum kesucian Allah, sekalipun tubuhnya masih ada dalam kodrat dosa.
    Kalimat “hukum roh kehidupan di dalam Kristus Yesus” maksudnya adalah memenuhi hukum dalam kehidupan atau keberadaan roh dalam Kristus Yesus. Untuk hidup menurut roh yang telah dilakukan oleh Yesus (melakukan kehendak Bapa), harus ada perjuangan seperti Yesus telah berjuang. Ini adalah hukum kehidupan. Tidak ada perubahan tanpa perjuangan. Kristus artinya yang diurapi. Jadi, Kristus Yesus di sini lebih menunjuk kepada pengurapan-Nya, bukan Pribadi Yesus. Yesus sendiri untuk mencapai kesempurnaan menjadi Kristus (yang diurapi) harus berjuang (Ibr. 5:7-9). Hal itu tidak terbangun dengan sendirinya, oleh sebab itu orang percaya juga harus berjuang untuk hidup menurut roh seperti Dia. Hal ini sama dengan perjuangan kita untuk hidup dalam menurut roh.
    Penurutan terhadap kehendak roh atau hidup menurut roh inilah yang membebaskan atau memerdekakan seseorang dari hukum dosa (kodrat dosa) dan hukum (kodrat) maut. Hal ini akan diteguhkan lebih kuat pada pembahasan ayat-ayat berikutnya. Dalam Roma 8:9  tertulis: Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Dalam ayat ini kita menjumpai ada Roh Kristus di dalam diri orang percaya yang hidup dalam pimpinan Roh sampai memiliki kehidupan menurut roh.  Hidup dalam penurutan Roh adalah kehidupan seseorang yang hati nuraninya telah dikuasai oleh spirit atau gairah yang juga ada pada Yesus atau Roh Kudus.
    0 min
  • Perubahan Nurani
    Sesungguhnya perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, bisa menjadi gambaran atau ilustrasi perjalanan hidup orang percaya. Mesir bukanlah tanah air mereka, Elohim Yahwe telah menyediakan bagi mereka tanah air yang permai di Kanaan. Kanaan adalah tanah perjanjian bagi bangsa Israel. Demikian pula orang percaya, dunia ini bukanlah tanah air kita, Tuhan telah menyediakan suatu tanah air yang permai. Tuhan Yesus berkata bahwa Ia ingin di mana diri-Nya ada, kita juga berada (Yoh. 14:1-3). Tanah Perjanjian kita adalah di langit baru dan bumi yang baru. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan adalah perjalanan menempuh suatu jarak, tetapi perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan perubahan atau pembentukan hati nurani atau manusia batiniahnya. Hal tersebut sangat menentukan kualitas karakter seseorang. Sama dengan perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, begitu banyak pencobaan yang harus ditempuh., demikian pula perjalanan hidup orang percaya. Pencobaan-pencobaan tersebut seperti ranjau darat yang bisa membuat mereka tewas di padang gurun. Hal ini sama dengan yang dialami orang percaya.
    Kalau seseorang masih terikat dengan dunia ini, berarti ia ada di dalam percintaan dunia. Pasti orang seperti itu tidak pernah bersedia melakukan perjalanan ke tanah perjanjian. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa seseorang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi murid Tuhan Yesus (Luk. 14:33). Tidak dapat menjadi murid artinya tidak dapat diubah. Tidak dapat diubah artinya tidak dapat diajak menempuh suatu perjalanan. Itulah sebabnya, kalau seorang Kristen mau memiliki hati nurani Ilahi, maka ia harus meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Orang Kristen seperti ini tidak boleh mengharapkan bisa menikmati kebahagiaan dari dunia ini. Bagi orang percaya, meninggalkan dunia berarti tidak dapat dibahagiakan oleh apa pun yang ada di dunia ini.
    Gereja mula-mula dikondisi Tuhan untuk dapat mengalami perubahan secara cepat melalui aniaya. Aniaya bisa menjadi paket cepat untuk merubah mereka. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya yang mengalami penderitaan badani berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1-3). Penderitaan badani tersebut menghentikan mereka dari cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Berbeda dengan orang percaya hari ini. Tanpa aniaya harus berjuang untuk mengubah diri menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Orang percaya tidak boleh lagi hidup dengan cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang kita. Cara hidup kita harus cara hidup keluarga Kerajaan Surga, di mana Tuhan Yesus menjadi Yang Sulung (Rm. 8:28-29).
    Kesalahan banyak orang Kristen adalah mereka merasa bahwa setelah menjadi orang Kristen secara otomatis mereka sudah ada di tanah perjanjian, artinya mereka merasa bahwa nanti kalau mati pasti masuk surga. Padahal Tuhan Yesus sendiri jelas mengatakan bahwa setiap orang percaya harus dimuridkan. Dimuridkan artinya diubah. Jelas sekali, Alkitab Perjanjian Baru banyak memuat Firman Tuhan yang menyatakan bahwa orang percaya harus mengalami proses pendewasaan, proses kesempurnaan menjadi serupa dengan Tuhan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Orang percaya harus memiliki kehidupan yang berkenan kepada Allah.
    Keberkenanan di hadapan Allah bukan sesuatu yang terjadi atau berlangsung secara otomatis, tetapi harus diperjuangkan. Sangat keliru atau sesat kalau ada yang mengajarkan bahwa darah Yesus sudah menudungi orang percaya, sehingga mereka secara otomatis sudah menjadi manusia yang berkenan kepada Allah. Darah Yesus memang menghapus semua dosa yang dilakukan manusia, tetapi keberadaan hati nurani atau manusia batiniahnya harus diproses melalui perjuangan untuk bertumbuh menjadi dewasa atau sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini perubahan hati nurani seseorang sangat ditentukan oleh masing-masing individu. Kalau seseorang masih sibuk dengan dunia ini,
    0 min
  • Cara Berpikir
    Proses keselamatan adalah proses mengubah cara berpikir atau mindset. Cara berpikir ini ada di dalam neshamah-nya. Dalam hal ini kita harus bisa membedakan antara berpikir dan cara berpikir. Berpikir adalah kemampuan manusia mengamati suatu obyek dan menangkap apa yang diamatinya. Tetapi cara berpikir adalah kemampuan seseorang mempertimbangkan sesuatu dari segala sesuatu yang ditangkapnya oleh kemampuan berpikirnya untuk mengambil keputusan atau bereaksi terhadap suatu aksi. Aksi ini bisa ditangkap melalui inderanya atau suatu pemikiran yang sudah ada sebelumnya di dalam pikirannya.
    Kata cara berpikir ini dalam Filipi 2:5 disebutkan sebagai phroneo (φρονέω). Kalau Firman Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau phroneo-Nya, itu berarti kita harus terus menerus mengisi nurani di neshamah (roh) kita dengan kebenaran Firman Tuhan, sehingga terbangun cara berpikir Allah. Ini sama dengan proses mengubah sinful nature (kodrat dosa) menjadi devine natur (kodrat Ilahi). Jadi, cara berpikir ini ada di wilayah hati nurani di dalam neshamah-nya. Perlu mendapat catatan di sini, bahwa kesadaran tubuh ada di dalam jiwa, tetapi kesadaran hati nurani ada di dalam neshamah-nya. Melalui mata dan telinga, manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk mengisi jiwanya. Kualitas jiwa membangun karakter. Hal ini yang mewarnai neshamah-nya. Tuhan merancang agar neshamah manusia terus didewasakan agar bisa sama dengan dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Dengan demikian neshamah yang kualitasnya terdapat pada hati nurani dapat menjadi pelita Tuhan, artinya bahwa hati nurani dapat menjadi media di mana Roh Kudus memimpin, menuntun dan mengarahkan manusia untuk bisa bertindak dan berperilaku seperti Tuhan.
    Kalau jiwa manusia (pikiran, perasaan dan kehendak) diwarnai terus menerus dengan kebenaran Firman Tuhan, maka hati nurani akan terbentuk menjadi hati nurani Ilahi. Kebenaran yang terus menerus itu menggores neshamah (roh) manusia, membangun warna roh manusia. Kalau Firman Tuhan yang dikonsumsi, maka roh (neshamah) manusia menjadi roh yang se-chemistry dengan Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, kamu harus sempurna seperti Bapa, maksudnya bahwa hati nurani harus memiliki chemistry seperti Bapa. Neshamah menjadi baik kalau jiwa selalu diisi dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Sebaliknya, kalau jiwa manusia diwarnai terus menerus oleh filosofi yang bertentangan dengan Injil, maka neshamah manusia menjadi gelap. Jadi, hasil dari apa yang diserap oleh lingkungan memainkan peran terhadap kualitas neshamah-nya. Kecerdasan dalam neshamah ini yaitu nurani sangatlah ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh jiwa. Kalau yang dikonsumsi salah, maka hati nurani pun juga bisa rusak (Tit. 1:15).
    Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata pelita dalam teks ini adalah niyr (נִיר). Tuhan menjadikan hati nurani manusia sebagai pelita atau terang-Nya. Dengan demikian manusia bisa mengerti kehendak-Nya, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Jadi, hati nuranilah yang membuat manusia bisa mengerti kehendak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (Mat. 6:22-23). Mata menunjuk kepada pengertian atau kemampuan berpikir, bukan sekadar “tahu”. Dalam hal ini mata yang dimaksud Tuhan Yesus bisa menunjuk neshamah. Kalau neshamah diisi dengan isian yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka betapa gelapnya kegelapan itu. Hal ini sama dengan fakta, kalau pengertian yang seharusnya menimbang apa yang baik dan buruk salah menimbang, maka betapa rusaknya pertimbangannya, sebab tidak ada komponen lain yang berfungsi untuk dapat mempertimbangkan sesuatu. Tuhan Yesus mengajar agar “mata” tersebut menjadi terang.
    0 min
  • Nurani Sebagai Pengawas
    Dalam beberapa ayat, Alkitab menunjukkan bahwa hati nurani juga berfungsi sebagai pengawas dan pengontrol kehidupan seseorang. Hati nurani adalah polisi kehidupan yang menunjukkan kesalahan dan langkah yang harus ditempuh. Dalam Roma 13:5 tertulis: Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Hati nurani dalam teks ini adalah suneidesis (συνείδησις) yang sama artinya dengan suara hati. Dalam teks ini Paulus menasihati agar orang percaya untuk menundukkan diri kepada pemerintah, bukan saja karena takut kepada murka Allah, tetapi juga karena suara hati atau hati nurani dalam diri manusia. Hati nurani dapat menekan seseorang agar menaklukkan diri kepada pemerintah, tentu hati nurani yang sejak kecil diasah untuk mematuhi hukum negara. Kalau hati nurani dapat diasah untuk mematuhi hukum negara, maka hati nurani juga dapat mematuhi kehendak Tuhan. Paulus berbicara ini kepada mereka yang hati nuraninya bisa dipercayai searah atau seiring dengan suara Tuhan.
    Roh Kudus menggunakan saluran hati nurani manusia untuk berbicara kepada manusia itu sendiri, tentu hal ini terjadi dalam kehidupan orang-orang yang hati nuraninya diisi dengan kebenaran Firman Tuhan. Kalau jiwa -di mana ada pikiran dan perasaan- adalah sarana untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui mata dan telinga, sangat besar kemungkinan Roh Kudus berinteraksi dengan manusia melalui hati nurani dan jiwanya. Dalam hal ini hati nurani dapat menjadi pengontrol atas kehidupan seseorang dalam perilakunya oleh pimpinan Roh Kudus. Hati nurani bisa merupakan pikiran dan perasaan roh manusia. Dengan ini kita mengerti mengapa dikatakan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 29:27). Roh manusia dalam teks ini adalah “neshamah”. Kata ini juga ada dalam Kejadian 2:7. Ini adalah komponen yang memungkinkan manusia dapat memiliki kecerdasan seperti Allah untuk memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Allah. Kata neshamah ternyata juga bisa berarti divine inspiration (inspirasi Ilahi) dan intellect (kecerdasan; tentu kecerdasan sesuai dengan pikiran Allah). Roh manusia (neshamah) bisa menjadi pelita Tuhan, kalau hati nuraninya didewasakan oleh kebenaran Firman Tuhan secara memadai.
    Hati nurani yang dapat dipercaya adalah hati nurani yang dewasa, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Hati nurani seperti ini adalah hati nurani yang satu chemistry atau satu unsur dengan Allah. Sangatlah mungkin maksud pikiran Kristus dalam Filipi 2:5-7 (Yun. phroneo) menunjuk pada pikiran dalam hati nurani atau yang sama dengan cara berpikir atau mindset. Mindset yang cerdas dapat menjadi pengawas yang cerdas pula, yaitu kalau hati nuraninya telah didewasakan oleh kebenaran Firman Tuhan. Dalam hal ini, hati nurani bisa menjadi pengawas yang “mengancam” dengan keras pada waktu seseorang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Setiap kesalahan yang dilakukan yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan yang dipahami akan membangkitkan ancaman terhadap diri orang tersebut. Ancaman tersebut adalah teguran.
    Kalau suara hati nurani tidak didengar, maka ia akan memberi hukuman, yaitu suasana jiwa orang tersebut menjadi tidak sejahtera; merasa kehilangan perasaan damai dan ketenangan. Jadi kalau kita berbuat sesuatu yang membuat sejahtera kita hilang, maka kita harus mulai mengoreksi diri: apakah ada tindakan yang kita lakukan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Kalau kita menyadari kesalahan kita, maka kita harus segera melakukan pertobatan. Kalau hukuman ini tidak dipedulikan, artinya tidak mau dikoreksi dan tidak mau bertobat, maka seseorang akan menjadi keras kepala dan tidak bisa diubah lagi. Kadang-kadang untuk menyadarkan seseorang Tuhan terpaksa menegur melalui suatu kejadian, tetapi kalau melalui suatu kejadian masih tidak mau bertobat maka Tuhan membiarkannya. Ini berarti tahapan menuju kondisi menghujat Roh Kudus.
    0 min
  • Nurani Sebagai Hakim
    Hati nurani juga memberikan hukuman atau bertindak seperti hakim, sebab hati nurani yang merumuskan hukum dan sekaligus menjadi institusi dalam diri manusia menetapkan sesuatu itu salah atau benar. Selanjutnya sebagai hakim, hati nurani akan memberikan sanksi atas suatu kesalahan; tetapi juga “reward” (upah dan penghargaan) atas suatu perbuatan baik. Itulah sebabnya kalau seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya, maka jiwanya terganggu, tidak damai dan menjadi gusar. Inilah bentuk hukuman yang diberikan oleh hati nurani. Tetapi sebaliknya, kalau seseorang melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nuraninya, maka ia merasa puas, senang dan bahagia. Itulah “reward” yang dapat diberikan oleh hati nurani.
    Jadi, jika seseorang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang dipahami hati nurani sebagai kebenaran, maka hati nurani akan memberikan hukuman dalam bentuk suasana batin yang tidak sejahtera. Ini sama dengan ketika seseorang melihat suatu kejadian yang bertentangan dengan norma yang dipahami, maka suasana hatinya terganggu atau tidak tenang. Tentu saja hal ini hanya terjadi atas mereka yang sejak muda hati nuraninya dididik mengenal kebenaran atau norma-norma yang baik. Norma yang baik atau kebenaran tersebut menjadi seperti mata hakim yang menilai setiap tindakan seseorang.
    Mata hakim yang baik dalam hati nuraninya dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan yang melanggar kebaikan atau norma yang dipahami. Tetapi kalau pelanggaran itu dilakukan terus menerus, dan mengabaikan suara hati nuraninya, maka hati nurani yang baik akan bungkam sehingga perbuatan yang salah menjadi kebiasaan dan menjadi suatu kenikmatan untuk terus menerus dilakukan. Akhirnya suara hati yang baik yang dimilikinya menjadi rusak. Sebaliknya, kalau seseorang melalui proses pendidikan, kadang disertai dengan tekanan, menerima sesuatu yang baik, maka walau hati nuraninya bukan hakim yang baik bisa diubah menjadi hakim yang baik. Tentu selama kerusakan hati nuraninya masih dalam tahap atau tingkatan bisa diperbaiki. Kalau sebelumnya ketika ia melakukan kesalahan hatinya merasa sejahtera saja, tetapi setelah diajarkan suatu kebenaran, maka ketika ia berbuat suatu kesalahan, hati nuraninya yang terbentuk menjadi baik akan merasa tidak sejahtera. Hal merubah hati nurani sebagai hakim yang buruk menjadi hakim yang baik membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini juga tergantung tingkat kerusakan hati nurani dan intensitas kebenaran yang diajarkan.
    Mengamati apa yang dikemukakan di atas ini, maka masalahnya adalah bagaimanakah hati nurani menjadi hakim yang baik atau hakim yang jahat? Hal ini tergantung pada apa yang membangun, membentuk dan mengisi hati nuraninya tersebut melalui jiwa yang berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Dalam hal ini pertumbuhan kedewasaan rohani sama dengan pendewasaan hati nurani yang juga berarti melahirkan hakim yang baik. Lingkungan dan segala sesuatu yang masuk ke dalam jiwa seseorang menentukan apakah di dalam diri orang tersebut akan terbangun hakim yang baik atau hakim yang jahat. Setiap individu memiliki kebebasan apakah menyerap sesuatu yang buruk atau yang baik, sama dengan apakah mengkonsumsi buah pengetahuan yang baik dan jahat atau buah kehidupan. Dalam hal ini akhirnya kualitas hati nurani tergantung masing-masing individu.
    Kalau lingkungan dan yang masuk ke dalam jiwa adalah hal-hal yang buruk, maka hakim yang terbangun dalam dirinya adalah hakim yang jahat. Hakim yang jahat tidak akan menghukum suatu kesalahan, bahkan bisa mendukung suatu tindakan yang salah. Hakim tersebut, yaitu nuraninya, ikut menikmati kesalahan yang dilakukan oleh diri manusia. Hal ini sama dengan hakim yang tidak bermoral atau tidak memahami hukum akan bertindak sewenang-wenang dan sesukanya sendiri. Orang seperti ini digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti mata yang gelap; mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…