Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengutamakan Orang Lain
    Seorang pelayan Tuhan pasti mengutamakan orang lain. Yesus Kristus dalam hidup-Nya memiliki filosofi: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28). Seorang pemimpin yang melakukan apa yang  Yesus lakukan,  tidak akan  berpikir mengenai  kebutuhan diri sendiri, mereka hanya berpikir bahwa diri mereka senantiasa kurang bagi sesamanya. Memimpin seperti Yesus menuntut sikap rendah hati untuk menerima siapapun yang dibebankan kepada-Nya (Mat. 11:28). Kristus telah memberikan contoh kerendahan hati yang paling sempurna ketika Ia disalib. Kerendahan hati (humility) seperti yang ditampilkan Yesus ini merupakan kerendahan hati yang paling ekstrem yang telah dibuat Yesus semasa hidup-Nya. Semua itu dilakukan demi untuk kepentingan orang lain. Hal inilah yang benar-benar dikatakan dalam naskah Yunani, yaitu mengesampingkan kemuliaan, artinya bahwa Ia memiliki kemuliaan tetapi menanggalkannya (Yoh. 17:4), yaitu: kedudukan sebagai Anak Allah (Yoh. 5:30; Ibr. 5:8), kekayaan yang tak terbatas (2Kor. 8:9), segala hak surgawi sebagai Yang Mahatinggi (Luk. 22:27; Mat. 20:28), dan penggunaan sifat-sifat Ilahi-Nya (Yoh. 5:19; 8:28; Yoh. 14:10).
    “Pengosongan diri-Nya” ini tidak sekadar berarti secara sukarela menahan diri untuk menggunakan kemampuan dan hak istimewa Ilahi-Nya, tetapi juga dengan sangat rela menerima penderitaan, kesalahpahaman, perlakuan buruk, kebencian, dan kematian keji yang dianggap kutuk di kayu salib. Berita-berita tentang ucapan, tindakan dan perbuatan Yesus yang ditulis pada paska kebangkitan Yesus dengan konteks kehidupan zaman itu, tidak boleh dianggap sekadar sebagai laporan peristiwa, melainkan harus dipahami sebagai kesaksian iman dengan pesan-pesan misiologis yang diperuntukkan bagi sesama. Pemahaman tentang kenyataan sikap rendah hati yang ditampilkan Yesus, secara esensial dapat terus ditelaah melalui penggalian secara mendalam teks Filipi pasal 2 ini. Seorang yang mengutamakan orang lain, pasti akan terus berusaha bagaimana hidupnya menjadi berkat bagi sesama. Ia tidak mempersoalkan apakah perbuatannya tersebut dilihat orang atau tidak. Baginya, kedudukan bukanlah sesuatu yang penting, sebab baginya yang penting adalah kehadirannya berarti bagi semua orang. Pelayan Tuhan seperti ini, melibatkan orang lain dalam pekerjaan Tuhan dan rela mengalah demi kepentingan pekerjaan Tuhan. Ia juga tidak akan bersikap diskriminatif dan nepotisme dalam pelayanan. Jabatan pelayan Tuhan tidak akan dipertahankan hanya karena ambisi untuk menyerahkan kekuasaan gerejani kepada keluarga sendiri.
    Dalam Filipi 2:7 tertulis: melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Kata penting dalam teks ini untuk menunjukkan esensi pelayanan Yesus Kristus adalah etapeinosen (εταπεινωσεν). Kata etapeinosen adalah kata kerja yang memiliki beberapa pengertian, antara lain to depress, to humiliate (in condition or heart), abase, to bring low, humble (self).  Kata tapeino (ταπεινω) dalam Filipi 2:7 hendak menunjukkan kesediaan-Nya merendahkan diri dengan kerelaan. Hal ini ditegaskan dengan kata heauton (εαυτον), yang juga ada dalam ayat itu yang diterjemahkan “himself”. Perendahan diri yang dilakukan Tuhan Yesus adalah perendahan diri yang dilakukan dengan sengaja, sadar dan penuh kerelaan. Hal ini memberi indikasi yang jelas bahwa kesediaan-Nya merendahkan diri bukanlah sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan. Dan semua ini terjadi karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. Dari tindakan pengosongan diri ini, ditunjukkan bahwa semua orang berharga di mata-Nya. Perendahan diri Yesus merupakan pintu terbuka, bahwa Ia menyambut setiap orang yang datang kepada-Nya. Hal ini berarti bahwa Yesus menghargai setiap individu dan tidak meremehkan orang lain. Dengan demikian kerendahan hati berarti menyadari dan menekankan pentingnya orang lain.
    0 min
  • Kerendahan Hati
    Dalam Filipi 2:8 tertulis: Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dalam teks aslinya, terdapat kata heuretheis (ευρεθεις), yang berasal dari kata heurisko, yang bisa berarti find, get, obtain, perceive, see. Melalui ayat ini hendak dikemukakan bahwa dalam keadaan sebagai manusia Ia merendahkan diri. Kata ini menerangkan bahwa Yesus benar-benar menjadi manusia. Dalam teks alsinya tertulis:  heuretheis hos anthropos (ευρεθεις ως ανθρωπος,).  Kata hos (ως) bisa berarti about, after (that), (according) as soon (as), even as (like). Kata ini lebih menegaskan bahwa Yesus Kristus benar-benar menjadi manusia yang memiliki keberadaan yang sama dengan manusia. Hal tersebut adalah sebuah perendahan diri yang sangat hebat, sebagai Allah tetapi merelakan diri sejajar dengan ciptaan-Nya. Cara inilah yang menghantar-Nya ke kemuliaan-Nya. Allah Sang Pencipta menjadi sama dengan hasil ciptaan-Nya; manusia, adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti. Justru di sinilah nampak kerendahan hati Yesus Kristus, yang menjadi pola kehidupan pelayan Tuhan di sepanjang zaman. Ketika Yesus menjadi manusia, Yesus sadar siapa diri-Nya. Ia telah mengosongkan diri-Nya, maka Ia tidak menuntut Bapa memperlakukan-Nya secara khusus.
    Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibr. 5:7-8).  Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus mengenal diri-Nya sebagai Allah yang telah mengosongkan diri, karenanya Ia merendahkan diri sedemikian rupa. Dalam pelayanan dapat dilihat sikap rendah hati-Nya yang luar biasa dan hal ini menonjol dalam pelayanan-Nya. Itulah sebabnya hal kerendahan hati menjadi sangat sentral bagi seorang pelayan Tuhan. Melayani seperti Yesus berarti melayani dengan kerendahan hati, yang menuntut dirinya menyadari (mengenali diri) dan menerima bahwa dirinya adalah milik Tuhan sepenuhnya. Orang yang menyadari bahwa dirinya adalah milik Tuhan, maka segala sesuatu yang dilakukan tidak lagi untuk dirinya sendiri, tetapi bagi kemuliaan nama pemiliknya, yaitu Tuhan Yesus.
    Pengenalan diri yang benar membuat seseorang dapat menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar pula. Tuhan adalah Sang Khalik, Pencipta langit dan bumi, dan manusia adalah ciptaan. Seorang yang mengenal diri dapat menempatkan diri sebagai ciptaan di hadapan Penciptanya. Dengan demikian seseorang dapat melayani Tuhan dengan sikap hati yang benar. Tentu pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang bermotif benar. Pengenalan diri yang benar akan membuatnya dapat menerima diri dalam segala keberadaannya. Ini berarti seorang pelayan Tuhan tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan yang ada padanya. Aspek lain, seorang pelayan Tuhan harus bisa menerima kritik dan saran orang lain. Selanjutnya ia akan terus menerus mengoreksi diri, agar mengenal diri seperti Allah mengenal dirinya. Dengan mengenal diri dengan benar, maka seseorang bisa mengenal orang lain. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pelayanan. Hal ini membuat seseorang tidak menonjolkan diri. Orang yang tidak menonjolkan diri atau tidak mencari hormat bagi dirinya, segala sesuatu yang diusahakan adalah demi kemuliaan Tuhan atau kepentingan Kerajaan Allah.
    Sikap tidak menonjolkan diri berangkat dari kesadaran bahwa dirinya adalah seorang “hamba”. Kerendahan hati ini adalah sikap hati, sesuatu yang bersifat batiniah. Kesadaran ini akan membuat seseorang dengan tegas menolak segala bentuk pengkultusan atas dirinya. Pengkultusan diri, baik secara terang-terangan maupun terselubung, adalah sikap penolakan terhadap Tuhan sebagai satu-satunya yang layak disembah. Keberhasilan, sukses dan segala perestasi pelayanan hendaknya tidak m...
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Untuk Menikmati Keluarga
    Berbicara mengenai ukuran standard hidup, pengertian normal memang relatif, tetapi kalau ditinjau dari pola hidup masyarakat pada umumnya, kehidupan Yesus nampak tidak normal. Hal ini dimulai ketika Ia berusia 12 tahun. Anak-anak seusia ini biasanya masih hanyut dengan berbagai kesibukan sebagai anak-anak. Tetapi Yesus pada usia tersebut sudah sangat giat belajar Taurat. Karena kemampuan-Nya memahami Taurat, maka Ia bisa bersoal-jawab dengan para alim ulama. Dalam peristiwa di kota Yerusalem, ketika Yesus masih berusia 12 tahun, orang-orang terkagum-kagum terhadap kecerdasan-Nya (Luk. 2:46-47). Peristiwa ini memberi isyarat jelas bahwa sejak kanak-kanak Ia telah memiliki kehidupan yang tidak sama dengan anak-anak lain. Bisa diduga secara logis bahwa hari-hari hidup Anak Allah ini sangat giat belajar Taurat lebih dari anak-anak sebayanya. Hal ini dibuktikan dengan kehandalan-Nya bertanya jawab, sebab memang hal ini diajarkan kepada anak-anak Israel.
    Sebagai pria yang normal, pada umumnya usia 30 tahun sudah menikah dan hidup berumah tangga. Hari-hari hidupnya dihabiskan bersama keluarga, tetapi tidaklah demikian dengan Yesus. Setelah baptisan yang diterima-Nya di sungai Yordan dari Yohanes Pembaptis, Yesus mulai dengan tugas penyelamatan. Ia memilih murid-murid, dan sejak itu Ia mulai memberitakan Kerajaan Allah. Yesus meninggalkan ayah-Nya, Yusuf dan ibu-Nya, Maria, serta saudara-saudara-Nya. Alkitab menginformasikan bahwa Ia berjalan keliling untuk mengajar (Mat. 4:23-35). Hampir tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa Yesus kembali ke kampung halaman berkumpul kembali dengan keluarga-Nya. Petualangan Anak Allah ini berakhir di kayu salib. Di kayu salib Ia hanya bisa menatap ibu-Nya yang tentu memandang-Nya, kemudian Ia menyerahkan tanggung jawabnya dalam memelihara ibu-Nya kepada murid-murid-Nya (Yoh. 19:27).
    Dalam Alkitab jelas sekali dinyatakan bahwa dalam segala hal Yesus disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Ini berarti Ia mengenakan tubuh yang proses kimia atau metabolisme tubuh-Nya sama seperti manusia pada umumnya. Ia tidak menggunakan tubuh maya yang kebal terhadap nyeri kalau terluka. Dengan keberadaan-Nya ini maka Tuhan juga bisa menghadapi masalah-masalah fisik. Kalau Yesus dilukai, maka Ia akan merasa nyeri, kesakitan. Ia dapat merasakan lapar, haus dan berbagai fenomena fisik lainnya. Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus sering harus menghadapi manusia dalam jumlah yang besar, sampai-sampai Ia menunda makan dan kurang beristirahat. Inilah realitasnya bahwa Ia rela kehilangan hak menikmati kenyamanan fisik. Kalau Yesus berbicara mengenai keberadaan-Nya yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58), hal ini menunjukkan bahwa ia bekerja keras sehingga Ia tidak memiliki kesempatan menikmati hidup bersama keluarga. Hidup-Nya adalah perjuangan yang berat menyelesaikan tugas Bapa yang berat. Filosofi hidup-Nya adalah: Makanan-Ku melakukan Kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Jadi salahlah kalau seseorang mengikut Yesus dan turut mengambil bagian dalam pelayanan dengan maksud supaya bisa menikmati kenyamanan hidup. Justru mengikut Yesus harus rela kehilangan kenyamanan, termasuk di dalamnya kenyamanan hidup bersama keluarga. Mengikut Yesus adalah memikul salib. Salib yang sama atau mirip dengan salib-Nya.
    Sebagai pelayan Tuhan, dalam kondisi tertentu seorang pelayan Tuhan harus rela meninggalkan keluarga demi tugas pelayanan. Ini berarti waktu bersama dengan keluarga menjadi berkurang. Kadang-kadang di tengah-tengah kebersamaan dengan keluarga di rumah, seorang pelayan Tuhan harus memberi konseling melalui telepon, tentu hal ini mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga. Bahkan kadang-kadang seorang pelayan Tuhan harus keluar di tengah malam buta atau pada pagi dini hari untuk melawat jemaat yang dalam persoalan berat. Tentu hal ini sangat mengganggu kehidupan bersama dengan keluarga, tetapi seorang pelayan Tuhan tidak mempunyai pilihan lain.
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Untuk Menikmati Kesenangan
    Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban, juga berbicara bagaimana seorang pelayan Tuhan rela melepaskan kesenangan demi pelayanan terhadap Tuhan.  Paulus pernah berkata kepada anak rohaninya Timotius, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8). Implikasi ayat ini menyuarakan panggilan terhadap seluruh hamba atau pelayan Tuhan, untuk tidak membiarkan dirinya terbuai dengan berbagai kesenangan pribadi, lebih dari kecintaannya terhadap Tuhan dan pelayanan pekerjaan-Nya. Paulus tidak melarang orang mendapatkan berbagai fasilitas hidup, melainkan ia mengajak atau menganjurkan agar orang tidak menginginkan lebih dari apa yang ia butuhkan.  Ia membuktikan pernyataan-pernyataan dalam suratnya tersebut di dalam hidupnya secara konkret sebagai pelayan Tuhan, sampai ia menghadapi martirnya di Roma.
    Orang percaya hendaknya merasa puas dengan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan papan. Jikalau ada kebutuhan keuangan yang khusus, ia bekerja keras dan  berharap kepada Allah untuk menyediakannya. Seorang pelayan Tuhan harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi kehidupan umat Tuhan yang dilayani. Ini berarti kehidupan seorang pelayan Tuhan terbelenggu oleh tugasnya. Belenggu itu adalah kebenaran Firman Tuhan yang harus dikenakan, sehingga ia menjadi pola dengan mana orang membangun dirinya. Misalnya, terdapat Firman yang mengatakan: “Asal ada makanan dan pakaian cukup”, maka seorang pelayan Tuhan harus terlebih dahulu dapat melakukan kebenaran ini sebelum ia mengajarkannya kepada orang lain.
    Sebagai seorang pelayan Tuhan, kita harus memiliki toleransi yang tinggi. Kita bisa tidur di tempat agak panas atau agak dingin; tidak memanjakan fisiknya. Bila seseorang memanjakan fisiknya, maka ia tidak dapat menjadi pelayan Tuhan yang lentur dan fleksibel beradaptasi dengan dunia sekitar. Dalam situasi tertentu ia harus berani tidak mengambil cuti atau waktu istirahat beberapa saat untuk sebuah “leisure time”. Harus diingat bahwa Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Ini berarti bahwa hal untuk menikmati kesenangan harus berani ditinggalkan. Dengan demikian seorang pelayan Tuhan yang sejati tidak harus memiliki standar hidup seperti orang lain pada umumnya.
    Masyarakat post-modern adalah masyarakat yang makin konsumeris dan hedonis. Hal ini juga dipicu oleh teknologi periklanan yang sangat memikat. Masyarakat menjadi masyarakat yang selalu ingin memiliki apa yang ditawarkan oleh para produsen untuk berbagai kesenangan. Inilah yang dimaksudkan Alkitab sebagai keinginan mata (1Yoh. 2:16). Pola hidup seperti ini tentu juga memengaruhi pola berpikir banyak pelayan Tuhan. Hal ini terbukti dengan kenyataan adanya pelayan-pelayan Tuhan yang memenuhi dirinya dengan berbagai fasilitas hidup yang tidak berguna untuk pelayanannya.  Fasilitas yang dimiliki pada dasarnya hanya untuk kenyamanan hidup. Dalam hal ini, bukan saja kemewahan yang membahayakan bagi seorang pelayan Tuhan, tetapi hidup dalam kewajaran juga merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Seharusnya seorang pelayan Tuhan bukan saja rela tidak hidup bermewah, tetapi juga bersedia hidup dalam keadaan tidak standard seperti manusia lain yang sedang menikmati kehidupan ini. Seorang pelayan Tuhan yang terlalu lama menikmati kesenangan dunia mengalami “penghalusan” yang merusak pelayanannya. Sehingga ia tidak lagi memiliki kelenturan beradaptasi dalam segala situasi.
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya, pernyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak menuntut kesenangan atau kenyamanan hidup. Oleh sebab itu seorang pelayan Tuhan harus berani menderita seperti Yesus (Rm. 8:17). Paulus sebagai pengikut Yesus juga memiliki pola pelayanan yang sama. Dalam kesaksiannya ia berkata: Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau m...
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Milik
    Dari kisah kelahiran Tuhan Yesus, menunjukkan kepapaan atau kehinaan-Nya yang sangat ekstrem. Ia tidak dilahirkan dalam istana atau rumah yang layak, tetapi Ia lahir di tempat sederhana, sangat besar kemungkinan di kandang hewan (Luk. 2:7). Keberadaan-Nya seperti ini menunjukkan bahwa Ia rela kehilangan hak untuk memiliki kelimpahan kekayaan, walaupun Ia adalah pemilik dari segala sesuatu, sebab Ia adalah Pencipta dari segala sesuatu itu (Yoh. 1:1-13). Hidup kesederhanaan-Nya terpancar dari sejak kelahiran-Nya sampai kepada kematian-Nya di kayu salib. Ia tergantung di kayu salib dengan tubuh setengah telanjang, sebab prajurit Romawi merenggut jubah-Nya dan membagi di antara mereka melalui undi (Mat. 27:35).
    Dalam suatu pernyataan-Nya Yesus mengemukakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58).  Sebuah pernyataan yang menunjukkan kemiskinan-Nya yang sangat ekstrem. Dari hal ini nampaklah bahwa Yesus rela kehilangan hak untuk menikmati kekayaan materi yang sebenarnya adalah milik-Nya sendiri.  Paulus dalam tulisannya mengatakan: Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor. 8:9).  Kemiskinan dalam teks ini adalah eptocheusen (ἐπτώχευσεν) berarti become poor, kata ini berasal dari kata ptocheuo yang memiliki pengertian to be a beggar, to become indigent. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan secara materi atau kemiskinan-Nya secara materi.
    Betapa berbahayanya ketika seseorang terjebak atau disesatkan oleh rasa aman yang salah. Rasa aman semu ini membuat seseorang tanpa sadar membelakangi Tuhan. Rasa aman yang salah ini diajarkan oleh dunia kepada kita sejak kecil. Rasa aman oleh karena difasilitasi oleh kekuatan di sekitar kita. Fasilitas tersebut bisa berupa uang, harta, keluarga atau relasi petinggi negara, pangkat, nama baik dan kekuatan lain. Rasa aman ini juga menyangkut keyakinannya bahwa ia akan bahagia dan menikmati hidup dengan keberuntungan dan kesenangan kalau difasilitasi oleh kekuatan-kekuatan tersebut. Rasa aman yang salah ini telah menjadi gaya hidup atau pola hidup manusia pada umumnya. Iblis membujuk manusia untuk memiliki gaya hidup yang salah tersebut (yaitu rasa aman yang bertumpu kepada kekuatan di luar Tuhan). Ketika Iblis berkata: Sembahlah aku maka akan kuberikan dunia ini kepada-Mu (Luk. 4:5-7), bujukan tersebut adalah dorongan untuk memiliki gaya hidup, di mana seseorang merasa aman dengan kekuatan di luar Tuhan.
    Hal ini membuat seseorang melakukan percintaan dengan dunia dan tidak bergantung kepada Tuhan. Hal ini pula membuat orang Kristen menjauhi Tuhan dan melakukan pelacuran rohani. Hal ini sama dengan menyembah Iblis. Mereka tidak merasa tidak menyembah Iblis, padahal kenyataannya mereka menyembah Iblis dan hal ini sudah cukup membuat seseorang binasa. Inilah dosa materialisme yang merajalela hebat dalam dunia post-modern hari ini. Percintaan dunia mengakibatkan seseorang menjadikan dirinya musuh Tuhan (Yak. 4:4), kasih akan Bapa tidak ada pada orang tersebut (1Yoh. 2:15-17) tentu mereka tidak mengerti apa artinya pelayanan dan mengasihi sesama, sebab hati mereka sudah dibelenggu dengan percintaan dunia.
     
    Di era post-modern, masyarakat merasa nyaman bila memiliki deposito. Sebagai pelayan Tuhan, kita tidak boleh mengenakan standar hidup seperti anak-anak dunia. Paulus menasihati orang percaya bahwa asal ada makanan dan pakaian cukup. Ini artinya bahwa seorang anak Allah tidak boleh menuntut dan mengharapkan memiliki standar hidup seperti anak-anak dunia. Bila seorang pelayan Tuhan sudah merasa berhak memiliki hak milik, maka ia tidak akan dapat menjadi pelayan seperti Yesus; yang dicurahkan seperti anggur dan dipecahkan seperti roti.
    Dalam pelayanan memang dibutuhkan berbagai fasilitas,
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Untuk Menerima Upah
    Pelayanan seorang pelayan Tuhan bukan merupakan sarana untuk mendapatkan penghasilan semata. Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani Dia, hal itu tidak dimulai dengan suatu janji agar dalam pekerjaan pelayanan tersebut seseorang dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya. Memang Alkitab mengemukakan adanya janji Tuhan untuk mencukupi hidup seorang yang melayani Tuhan. Hidup dalam kecukupan memang merupakan berkat Tuhan yang menyertai pelayanan seseorang di ladang Tuhan, tetapi janji itu bukan merupakan tujuan, sehingga dapat dijadikan motivasi dalam bekerja di ladang Tuhan.  Pengalaman Elia di tepi sungai Kerit membuktikan pemeliharaan Tuhan atas hamba-hamba-Nya. Di tengah masa kekeringan Elia diberi makan oleh burung-burung gagak (1Raj. 17:5-6). Tatkala pasukan raja Ahab mengejarnya, ia melarikan diri ke padang gurun Barsyeba dan Tuhan memeliharanya. Ketika lapar, ia diberi makan oleh malaikat (1Raj. 19:1-8).
    Mengenai janji Allah kepada para Imam dalam pemenuhan kebutuhan mereka dicatat dalam kitab Imamat 10:12-20, Maleakhi 3:10. Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan melupakan orang yang bekerja bagi Tuhan. Realitas ini dapat membangun motivasi yang benar dalam diri seorang pelayan Tuhan yang melayani pekerjaan-Nya, melayani harus dengan motivasi hati yang bersih. Semua kisah yang dicatat dalam Alkitab tidak selalu menyampaikan pesan providensia (pemeliharaan) Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya dalam kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Dalam peristiwa salib tidak ditemukan berkat makan dan minum yang disediakan bagi Yesus. Paulus dalam pelayanannya pernah menyatakan bahwa ia tidak menerima persembahan jemaat yang sebenarnya merupakan haknya.
    Paulus dalam pernyataannya menampilkan sesuatu yang terkesan kontradiksi. Satu sisi ia berkata bahwa seorang pelayan Injil dapat hidup oleh Injil (1Kor. 9:14), tetapi di lain pihak ia menyatakan bahwa ia boleh memberitakan Injil tanpa upah (1Kor. 9:18). Ini merupakan sikap yang ditampilkan Paulus ketika ia mencoba melepaskan hak. Ia seorang pelayan Tuhan yang benar-benar tidak mencari keuntungan pribadi.  Bill Hybels mengatakan bahwa pemimpin seperti ini, disebutkan sebagai pemimpin yang berani. Paulus walaupun sadar dan tahu benar bahwa seorang pelayan Tuhan yang melayani telah diberikan hak untuk menerima persembahan yang menjadi bagiannya, namun ia menolak untuk menerimanya (1Kor. 19:14-18). Paulus ingin menunjukkan sikapnya yang dewasa, yang sangat baik untuk diterapkan dalam hidup pelayanan hamba Tuhan, yaitu mereka yang rela melepaskan haknya.  Pelayan Tuhan seperti Paulus ini sangat rela kalaupun harus tidak menerima dukungan dari gereja atau jemaat yang ia layani.
    Dalam situasi sekarang ini dapat ditemukan banyak sekali anggapan yang memutlakkan hak menerima persembahan, baik persembahan kolekte maupun persepuluhan, di kalangan pelayan Tuhan. Hak untuk menerima persembahan tersebut lambat laun semakin mengkristal, sehingga tanpa disadari hampir semua hamba atau pelayan Tuhan merasa berhak mengambil bagian tersebut.  Untuk membiayai pelayanannya, Paulus bekerja keras. Ia membuat kemah. Ini sebuah pekerjaan tangan yang berat, yang menuntut tenaga dan waktu. Ia melakukan itu demi supaya bisa membiayai perjalanan pelayanannya dan perjalanan pelayan rekan-rekannya. Pola inilah yang harus dicontoh oleh para pelayan Tuhan. Dalam sikap yang ditampilkan Yesus dalam Filipi 2:8 dan juga Paulus dalam 1 Korintus 19:14-18, merupakan dasar berpijak untuk membangun sebuah acuan.
    Melepaskan hak adalah sikap dewasa rohani seorang pelayan Tuhan yang membawa keserupaan dengan Yesus. Dewasa ini dapat dijumpai pelayan Tuhan yang taraf hidup ekonominya tergolong baik. Hal ini dapat menjadi pertimbangan orang-orang tertentu bahwa profesi sebagai pelayan rohani menjanjikan atau menjamin kehidupan ekonomi yang baik. Hal ini akan membangun motivasi yang salah dalam pelayanan, mereka melayani pekerjaan Tuhan untuk memperoleh upah atas jasa pelayanan ya...
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Untuk Diterima
    Dalam Alkitab kita dapat menemukan kenyataan adanya penolakan yang dialami Yesus dari banyak pihak terjadi sejak kedatangan-Nya ke dalam dunia (Yoh. 1:11). Sejak dalam kandungan Ia tertolak. Pertama kali penolakan itu datang dari Yusuf, tunangan Maria. Walau pada akhirnya Yusuf menerima Maria setelah diberitahukan oleh Malaikat perihal kehamilan Maria, tetapi Yusuf sempat menolak kehadiran Yesus dalam rahim Maria (Mat. 1:19-20).  Penolakan berikut terjadi oleh penduduk Bethlehem yang tidak menerima Maria dalam rumah mereka. Penolakan yang paling berbahaya adalah perlawanan Herodes yang sangat bengis, karena merasa terancam dengan kedatangan-Nya. Herodes terancam karena dengan kedatangan sosok yang diakui sebagai Raja, kedudukannya ada dalam posisi berbahaya.
    Karena orang-orang tahu masa kecil Yesus, bahwa Ia adalah anak pasangan Yusuf dan Maria dari Nazaret, maka Ia tidak dihargai sama sekali, mereka menolak kehadiran Yesus sama sekali di kota tersebut. Sebagai sosok yang menampilkan kehidupan yang berbeda dengan guru-guru agama dan ahli-ahli Taurat, Yesus sering tertolak oleh lingkungan-Nya (Luk. 17:25).  Untuk menyukakan Bapa-Nya Yesus menyerahkan seluruh hak hidup-Nya.  Dalam salah satu tulisannya Paulus mengatakan: “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7).
    Sikap Yesus yang dapat dilihat dalam peristiwa salib, terkandung banyak hal kerelaan kehilangan hak untuk diterima. Yesus yang adalah Allah itu sendiri di dalam keserupaan-Nya dengan manusia, berani untuk tidak membela diri ketika seorang berkata kepada-Nya “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” (Mrk. 15:29-30). Kerelaan seperti ini adalah bentuk wujud yang dicontohkan Yesus untuk memberikan teladan kepada semua murid-murid-Nya.
    Dalam kisah yang bertalian dengan kelahiran Yesus, Maria ibu Yesus menunjukkan kerelaannya untuk tidak diterima oleh lingkungannya. Penyerahan sebagai budak yang hidup untuk kepentingan majikannya juga ditunjukkan oleh Maria ketika ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah pelayan Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:18). Dapat diperhitungkan, kalau Maria hamil tanpa suami, menimbulkan penolakan yang hebat dari masyarakat Yahudi yang sangat moralis pada zamannya. Dalam hal tersebut Maria rela kalaupun harus diasingkan dari masyarakatnya, dirajam batu atau segala resiko yang lain yang harus diterimanya. Hal ini menunjukkan sikap yang sangat luar biasa dari wanita muda ini. Bisa dimengerti mengapa Allah memilih dirinya menjadi ibunda dari Mesias.
    Kerelaan untuk tidak diterima tersebut, merupakan ciri dari kehidupan seorang pelayan Tuhan yang rela berjiwa hamba seperti Yesus Kristus. Jabatan pelayan Tuhan dalam gereja bukanlah jabatan yang menuntut untuk dihargai dalam bentuk perlakuan khusus. Untuk ini seorang pelayan Tuhan tidak harus atau tidak perlu memiliki atribut-atribut tertentu yang memberikan pancaran agar diterima sebagai orang istimewa dengan kewibawaan seorang rohaniwan. Dalam hal ini seorang pelayan Tuhan tidak menuntut mendapat tempat di hati jemaat yang dilayani. Bahkan sekalipun kehadirannya di suatu tempat tidak diterima, maka ia harus menerima realitas tersebut sebagai hal yang wajar. Tentu saja seorang pelayan Tuhan menghindari tindakan salah yang tidak terpuji, yang membuat dirinya tertolak oleh masyarakatnya.
    Di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya dan lain-lain, di mana filosofi materialisme begitu kuat dan ditambah teologi kemakmuran yang diakui sebagai kebenaran oleh sebagian orang Kristen, keadaan ekonomi yang lemah seorang pelayan Tuhan dapat dicurigai atau dianggap sebagai “tidak diberkati” Tuhan. Hal ini akan menciptakan perasaan inferiority complex atau rendah diri.
    0 min
  • Rela Kehilangan Hak Untuk Dihormati
    Tuhan Yesus adalah Allah Anak yang memilki segala kemuliaan, kekuasaan dan kehormatan sebagai Tuhan. Kesediaan meninggalkan takhta kemuliaan-Nya adalah kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Dalam sejarah kehidupan Tuhan Yesus selama dalam dunia ini dengan memakai tubuh daging (sarkos), Ia menampilkan kehidupan yang diwarnai dengan penderitaan, baik secara fisik maupun psikis, yang semua itu merupakan ekspresi dari  kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Dalam perjalanan hidup-Nya selama tiga setengah tahun, Ia juga telah kehilangan kehormatan-Nya di mata sebagian besar orang-orang Yahudi. Dalam suatu kesempatan Ia dituduh sebagai orang gila (Mrk. 3:21), juga dituduh menggunakan kuasa Beelzebul dalam mengusir setan (Luk. 11:15). Dengan tuduhan tersebut, maka Yesus telah didakwa sebagai kerasukan setan. Kehormatan-Nya di mata manusia menjadi hancur sama sekali ketika Ia harus menghadapi pengadilan Pilatus, imam besar dan Herodes (Mat. 26:48-75). Penduduk Yerusalem meneriakkan seruan yang sangat menyakitkan, agar Yesus disalibkan. Akhirnya Ia disalib dengan tuduhan sebagai penghujat Allah dan penyesat rakyat agar melawan Kaisar. Ia disalib dengan penilaian publik sebagai penjahat besar dan dipandang sebagai terkutuk (Gal. 3:13). Dalam hal ini jelas  bahwa Ia merelakan kemuliaan-Nya hilang untuk sementara waktu. Yesus benar-benar rela kehilangan reputasi, harga diri dan prestis.
    Dalam suatu percakapan Yesus berkata: “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Dari pernyataan Yesus ini jelas sekali menunjukkan bahwa Ia rela kehilangan hak kehormatan yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan yang datang dari tempat Yang Mahatinggi. Keunggulan-Nya sebagai Allah Yang Mahatinggi tidak menahan-Nya untuk merendahkan diri. Ekspresi kerelaan kehilangan hak dihormati manusia juga ditunjukkan dengan tindakan-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir sebelum Yesus menghadapi penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya (Yoh. 13).  Narasi pembasuhan kaki sungguh mengejutkan. Narasi ini berlatar belakang pra paskah.  Robert Kysar menyatakan bahwa peristiwa pembebasan yang Allah kerjakan bagi umat-Nya dalam beberapa hal merupakan sebuah pratanda bagi makna tindakan Allah dalam Kristus.
    Sikap Tuhan Yesus yang merendahkan diri sedemikian rupa itu, dinyatakan oleh Donald S. Whitney sebagai Hamba Yang Sempurna. Hamba Yang Sempurna ditunjukkan dengan kesediaan-Nya melakukan segala sesuatu guna memenuhi tugas yang dipercayakan kepada-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Paulus dalam pernyataannya: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Salib adalah realitas praksis dan praktis dari kerelaan Yesus kehilangan hak untuk dihormati. Di sinilah dapat ditemukan puncak pengabdian Yesus. Jadi puncak pengabdian Yesus, adalah tatkala Ia rela kehilangan segala kehormatan-Nya yang dipresentasikan dengan kayu salib.
    Paulus sebagai model seorang pelayan Tuhan yang telah menunjukkan kepiawaiannya sebagai pemimpin yang melayani, mengemukakan kesaksian hidupnya bahwa ia rela menjadi hamba bagi semua orang karena Kristus (1Kor. 9:19). Menjadi hamba berarti rela direndahkan, kehilangan kehormatan. Sikap hati seperti Yesus yang telah dijelaskan di atas adalah sikap hati yang harus diteladani oleh setiap pengikut-Nya yang melayani Dia. Para pelayan Tuhan harus rela kehilangan kehormatan di mata manusia demi tugas yang harus diemban. Tidak ada sesuatu yang boleh dapat menjadi nilai lebih dalam kehidupan seorang pelayan, yang oleh karenanya ia merasa memiliki hak untuk menjadi terhormat.
    Jabatan sebagai pelayan gereja atau pelayan jemaat bukanlah jabatan yang lebih tinggi dari jabatan yang lain, sebab nilai atau kualitas jabatan bukan terletak kepada jenis jabatan tersebut semata-mata, tetapi motivasi terdalam seseorang melakukan suatu pekerjaan. Jadi,
    0 min
  • Melepaskan Hak
    Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:5-8).
    Berita penting yang terdapat dalam ayat ini adalah “melepaskan hak” untuk Tuhan. Ini adalah rahasia bagaimana seseorang dipakai oleh Tuhan sebagai pelayan-Nya. Demi pekerjaan Bapa, Tuhan Yesus melepaskan segala hak-Nya. Perhatikan kalimat “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri”. Hanya dengan cara demikianlah Tuhan Yesus dapat memuliakan Bapa dan menyelesaikan tugas penyelamatan atas dunia ini. Melepaskan hak artinya “rela” tidak menikmati apa yang menjadi bagian atau miliknya atau rela melepaskan apa yang menjadi miliknya demi kepentingan Kerajaan Allah. Hak-hak tersebut antara lain hak untuk dihormati, dikasihi, diperlakukan adil, menikmati milik sendiri dan lain sebagainya. Orang yang rela melepaskan hak adalah adalah orang yang dapat melayani Tuhan dengan benar.
    Sebenarnya setiap orang percaya sudah kehilangan hak setelah ditebus oleh Tuhan Yesus. Sebab penebusan oleh Tuhan Yesus satu aspek berarti dosa-dosa kita diampuni, pelanggaran kita dihapus, surga disediakan. Tetapi aspek lain dari penebusan oleh Tuhan Yesus berarti kita menjadi milik Tuhan. Sebagai anak tebusan kita harus melepaskan kedaulatan hidup. Oleh penebusan Tuhan Yesus, kita menjadi milik Tuhan sepenuhnya, dengan demikian kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Sama seperti seorang budak yang dibeli oleh seorang tuan, maka tuan ini yang berdaulat penuh atas budat tersebut. Seorang budak tidak berdaulat atas dirinya. Terkait dengan hal ini patut kita meneladani Maria dengan pengakuannya: “Sesungguhnya aku ini adalah pelayan Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
    Bila seseorang tidak melepaskan haknya, maka ia adalah seorang pemberontak. Tuhan Yesus berkata:  “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Luk. 20:25).  Hidup kita ini di atasnya ada gambar dan tulisan Allah yang harus dikembalikan kepada-Nya. Kata “berikanlah” dari kata apodote, yang artinya serahkanlah kembali. Tuhan yang menciptakan manusia, Tuhan juga yang berhak mengambil kembali apa yang dimiliki-Nya. Dalam Yohanes 1:11, Firman Tuhan berkata: Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya. Melepaskan hak artinya seseorang tidak lagi berkuasa mengatur dirinya. Hidup dalam pengaturan oleh Tuhan sepenuhnya, barulah membuat orang percaya dapat memuliakan Tuhan (Yoh. 21:18-19).
    Peragaan melepaskan hak ditunjukkan oleh Tuhan, yaitu ketika Ia mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13). Maksud tindakan Tuhan mencuci kaki murid-murid-Nya tersebut adalah agar orang percaya melepaskan hak seperti Dia. Dengan demikian Tuhan dapat mengisi diri orang percaya dengan gairah-Nya (Ef. 1:23;4:13). Sehingga Tuhan Yesus dapat tampil di gelanggang dunia memuliakan Bapa melalui hidup orang percaya. Tuhan Yesus mengajar orang percaya untuk dapat menyatakan kehidupan yang dikalimatkan oleh Paulus: Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku (Gal. 2:20).
    Sebagai anak Allah yang mengerti kebenaran, kita akan menemukan kenyataan bahwa karunia yang Tuhan berikan kepada kita bukan saja keselamatan, tetapi juga karunia untuk menderita. Melepaskan hak adalah bentuk penderitaan. Hendaknya kita tidak hanya mengamini karunia yang pertama dan mengabaikan karunia yang kedua ini. Karunia untuk menderita inilah yang akan melengkapi karunia keselamatan yang sudah Tuhan berikan.
    0 min
  • Pelayanan Pribadi Kepada Tuhan
    Pelayanan tanpa batas juga harus dalam bentuk perjumpaan dengan Tuhan. Dalam perjumpaan tersebut anak-anak Allah bukan hanya menyampaikan suatu permohonan, tetapi memuji dan menyembah Tuhan secara pribadi. Hal ini harus dilakukan setiap orang Kristen tanpa kecuali. Jangan berpikir keliru, seolah-olah Tuhan hanya mau eksklusif dengan beberapa orang tertentu saja, khususnya hamba atau pelayan Tuhan. Dengan pikiran yang salah ini banyak orang Kristen merasa tidak memiliki tempat khusus di hadapan Tuhan, sehingga mereka juga tidak memberikan tempat dan waktu khusus bagi Tuhan. Sesungguhnya, setiap orang percaya adalah pelayan Tuhan yang memiliki tempat khusus di hadapan-Nya. Adapun apakah seseorang menjadi khusus atau tidak di hadapan Allah tergantung setiap individu memperlakukan Tuhan dalam hidupnya ini. Orang yang memperlakukan Tuhan secara istimewa sama dengan menjadikan dirinya istimewa di hadapan Tuhan. Bagaimana seseorang bisa menjadi khusus, istimewa dan eksklusif bagi Tuhan, kalau dirinya tidak menjadikan dan tidak memperlakukan Tuhan sebagai Pribadi yang khusus, istimewa dan eksklusif?
    Setiap hari, di tengah-tengah segala kesibukan dan tugas-tugas kehidupan untuk keluarga, pekerjaan dan lain sebagainya, seorang anak Allah harus membangun mezbah pribadi bagi Tuhan. Inilah perjumpaan penting yang tidak boleh dihindari atau ditiadakan. Ini lebih berharga dan lebih penting dari segala urusan lainnya. Mezbah pribadi bagi Tuhan adalah kegiatan yang mutlak harus diadakan setiap hari dan tidak boleh ditunda. Waktu yang tersedia harus memadai (minimal 30 menit). Dari waktu 30 menit, nanti berkembang menjadi lebih lama. Semakin mengalami keindahan dalam perjumpaan dengan Tuhan, maka semakin membutuhkan atau menuntut waktu lebih lama. Hal ini seperti proses seorang yang tercandu oleh narkoba. Perjumpaan dengan Tuhan itu bisa berupa sebuah meditasi di mana kita meneduhkan jiwa untuk merenungkan kebenaran-kebenaran Tuhan dalam Alkitab. Inilah saat di mana kita merenungkan eksistensi Tuhan dan kebesaran-Nya yang tiada tara.
    Pada perjumpaan dengan Tuhan tersebut, kita harus belajar memuji Tuhan dengan buah bibir yang memuliakan nama-Nya serta menyembah Dia (Ibr. 13:15). Hati kita harus ditundukkan untuk menyembah Tuhan. Inilah pelayanan pribadi bagi Tuhan yang tidak bersangkut paut dengan manusia lain. Ini urusan atau relasi Tuhan dengan pribadi kita masing-masing. Mengembangkan pelayanan pribadi seperti ini sangat penting, sebab dari pelayanan pribadi kepada Tuhan dalam bentuk menyembah Allah, kita terus dapat mengembangkan perasaan cinta yang tulus kepada Allah. Tetapi dalam hal ini harus dicatat, bahwa Allah kita bukanlah Allah yang hanya senang disanjung dan disembah dengan kata-kata di waktu-waktu tertentu. Allah kita adalah Allah yang menghendaki kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Tentu kehendak Allah adalah kehidupan yang sesuai dengan pola kesucian-Nya. Dalam hal ini kehidupan Tuhan Yesus sebagai model kehidupan yang dapat menyukakan hati Bapa di surga, karena telah sesuai dengan pola kesucian Tuhan.
    Dari usaha menyediakan diri membangun mezbah pribadi untuk Tuhan tersebut banyak pengalaman adi kodrati yang melampaui akal pikiran dapat diperoleh. Sebuah pengalaman batin yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata kepada orang lain. Dari mezbah pribadi ini terjalin hubungan yang sangat eksklusif dengan Tuhan. Inilah yang memicu kecintaan kita kepada Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan merajut motivasi pelayanan yang murni bagi Tuhan yang kita tujukan bagi sesama. Dengan demikian pelayanan pribadi kepada Tuhan dalam mezbah pribadi membangun pelayanan yang murni dan benar bagi sesama kita. Oleh sebab itu mezbah pribadi harus merupakan kebutuhan yang sangat mutlak.
    Seorang pelayan jemaat yang memiliki perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan melakukan pelayanan pribadi kepada-Nya dalam bentuk penyembahan yang benar dari hati ke hati, memiliki Tuhan yang nampak dari getar ketulusan doanya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…