Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Berpikir Mistis
    Dewasa ini banyak hamba-hamba Tuhan (para pendeta) yang sangat mengingini agar kuasa Tuhan dinyatakan melalui mukjizat dalam pelayanan. Untuk itu mereka berdoa dan berpuasa dengan sungguh-sungguh. Doa dan puasa tersebut seakan-akan sebagai sarana “barter” guna memperoleh karunia Roh Kudus, dalam hal ini memperoleh karunia mukjizat untuk didemonstrasikan dalam pelayanannya. Biasanya alasan yang dikemukakan mengapa mereka mengingini kuasa Tuhan agar mukjizat terjadi antara lain: dengan mukjizat nama Tuhan dimuliakan dan ditinggikan, dengan mukjizat jiwa-jiwa dimenangkan, dengan mukjizat pekerjaan Tuhan menjadi maju dan dengan mukjizat banyak orang tertolong dari segala persoalan pelik yang tidak terpecahkan, dari masalah sakit-penyakit, ekonomi, rumah tangga, dan lain sebagainya.
    Kita tidak menyangkal butir-butir alasan di atas, tetapi masalahnya adalah apakah benar kita melakukan tersebut bagi kemuliaan nama Tuhan, atau sebenarnya sedang mencari kemuliaan bagi diri sendiri? Kita harus waspada, bahwa hati manusia sungguh amat licik dan munafik. Dalam kelicikannya, sering seseorang ditipu oleh dirinya sendiri. Seringkali alasan-alasan tersebut hanya merupakan kamuflase. Pada dasarnya semua sukses pelayanan melalui peragaan mukjizat seringkali dijadikan sarana untuk meninggikan diri dan mencari keuntungan-keuntungan duniawi. Apalagi di tengah-tengah suasana kompetisi antar gereja untuk menjadi gereja paling besar dan usaha memperebutkan jemaat, maka usaha melakukan mukjizat adalah bagian dari usaha untuk meninggikan diri dan menarik massa. Tidaklah mengherankan kalau suatu saat nanti Tuhan berkata kepada orang yang sudah mengadakan mukjizat, bahwa Dia tidak mengenal mereka.
    Mengapa orang mengingini mukjizat Tuhan dalam menyelesaikan segala masalah? Sebab mukjizat Tuhan dapat menjawab kebutuhan dengan sempurna tanpa berjerih lelah. Murah, tetapi berdaya guna.  Biasanya mukjizat dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan secara maksimal.  Mukjizat dapat memberi nilai diri bagi para pendeta yang mendemonstrasikannya. Hal ini juga terkait dengan keuntungan materi yang dapat diperoleh dengan mudah bagi para pendeta yang mengadakan mukjizat. Di lain pihak, jemaat memperoleh jalan mudah untuk mengalami kesembuhan, jalan keluar dari masalah ekonomi, dan berbagai masalah kehidupan lain. Tentu saja mukjizat menjadi cara terbaik untuk dapat menyelamatkan sejumlah besar uang.
    Dewasa ini, kesaksian seseorang yang mengalami mukjizat (entah benar-benar sebuah pengalaman nyata atau kesaksian yang dikarang-karang sendiri) menjadi komoditas orang-orang tertentu untuk menarik perhatian orang, menebar pesona, memengaruhi orang lain, dan sarana mencari keuntungan materi. Di dunia timur yang masyarakatnya suka mengagumi hal-hal mistis-spektakuler, kesaksian-kesaksian yang mengandung unsur mukjizat sangat konsumtif (digemari dan rasa dibutuhkan). Tidak heran kalau gereja-gereja yang menekankan mukjizat menjadi ramai dikunjungi orang. Hal ini terjadi khususnya di gereja-gereja di Indonesia, sebab masyarakatnya menyukai hal-hal yang bersifat mistis.
    Gereja yang menekankan mukjizat tanpa batas dan tanpa pengertian kebenaran Firman Tuhan yang utuh, membuat jemaat menjadi cenderung berpikir mistis. Sebagai akibatnya, rasio tidak digunakan secara maksimal. Akibat negatif lainnya adalah nuraninya pun menjadi tidak dewasa. Hal ini tanpa disadari membentuk pikiran yang tumpul untuk memahami kebenaran Firman Tuhan. Firman Tuhan harus dipahami juga dengan menggunakan rasio yang maksimal atau secara proporsional. Dengan cara ini, Iblis lebih mudah menyesatkan gereja Tuhan sehingga mereka tidak mengenal kebenaran. Padahal kebenaran itulah yang memerdekakan. Dengan tidak mengenal kebenaran yang sejati seseorang tidak akan mengalami keselamatan secara benar.
    0 min
  • Hukum Tabur Tuai Dalam Mukjizat
    Hukum tabur tuai ini mirip dengan konsep “karma” dalam suatu agama. Hukum tabur tuai adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan mempunyai akibat. Kenyataan ini berangkat dari dua hal:  Pertama, Allah adalah Allah yang telah memberi kehendak bebas kepada manusia. Allah sendiri konsekuen dengan kebebasan yang telah diberikan itu. Sebagai buktinya, Allah meletakkan pohon ujian di taman Eden. Oleh sebab itu harus ditegaskan bahwa nasib manusia di tangan manusia itu sendiri. Kedua, Allah adalah Allah yang adil yang menuntut pertanggungjawaban. Keadilan Allah tidak bertentangan dengan kasih-Nya. Oleh sebab itu, manusia adalah makhluk yang hidup di bawah bayang-bayang keadilan Allah. Itulah sebabnya penyaliban Tuhan Yesus memuaskan hati Allah Bapa dalam menggenapi tuntutan keadilan Allah. Setiap dosa harus dihukum dan Tuhan Yesus menggantikan tempat kita.
    Keadaan manusia bukanlah hasil dari penentuan nasib atau takdir. Oleh karenanya dunia ini bukan panggung sandiwara, tetapi medan pergumulan antara memilih yang jahat atau baik. Keberuntungan atau kemalangan. Kehidupan atau kebinasaan. Tuaian dari apa yang kita tabur itu bisa kita tuai, baik selama hidup dalam dunia maupun di balik kubur. Apa yang kita tuai persis seperti yang kita tabur. Perhitungan Allah tepat (a person will reap exactly what he plants). Oleh sebab itu kita tidak boleh hidup ceroboh. Dalam Galatia 6:7 tertulis bahwa Allah tidak dapat dipermainkan. Manusia berurusan dengan Allah dan tidak dapat menghindari hukum tersebut. Semua yang kita lakukan dalam hidup ini menimbulkan reaksi dan tindakan Allah atas diri kita, sebab kita adalah hasil karya-Nya. Ia sebagai Hakim yang adil untuk memberkati orang yang hidup dalam kebenaran dan menghukum orang yang tidak hidup dalam kebenaran.
    Kalau seseorang sudah mengenal Tuhan dan mulai mengerti kebenaran, maka ia harus mulai bertanggung jawab. Misalnya, kalau seorang anak Allah sudah mengerti bahwa tubuhnya adalah bait Roh Kudus, maka ia dipanggil untuk merawat tubuhnya dengan baik melalui olahraga yang teratur, tidur cukup, pola makan yang sehat, dan lain sebagainya. Tetapi jika seseorang yang sudah mengerti kebenaran tidak menjaga kesehatan tubuhnya seperti merokok, mengkonsumsi alcohol, dan lain sebagainya, maka Tuhan tidak mudah menyembuhkannya dengan mukjizat. Ia harus menuai apa yang ia tabur.
    Kalau seseorang sembrono dalam bekerja, seperti tidak mau bekerja keras, malas, tidak jujur, dan tidak bisa dipercayai dalam pekerjaan, maka jika ia menghadapi masalah ekonomi, Tuhan tidak mudah menolongnya. Ia harus menuai apa yang ia tabur. Sesungguhnya dia sendiri yang telah menjadikan dirinya bermasalah atau hidup dalam kesulitan. Memang kalau kita berbuat dosa, Tuhan pasti mengampuni, yaitu jika kita bertobat, tetapi akibat dosa itu sendiri tetap harus ditanggung. Mukjizat tidak dapat meniadakan hukum tabur tuai ini.
    Seperti contoh lainnya, seorang ibu minta kepada pendetanya agar pendeta tersebut meletakkan tangan kepada anaknya, dengan maksud supaya anaknya naik kelas dan mendapat nilai yang baik di sekolah. Ibu ini mengharapkan mukjizat atau cara mudah mendapat nilai baik untuk anaknya. Di satu sisi doa perlu dipanjatkan, tetapi tanggung jawab membimbing anak untuk belajar rajin juga penting, khususnya anak itu sendiri harus rajin belajar. Untuk hal-hal yang di luar kemampuan kita, kita berharap Tuhan bertindak dan Tuhan pasti bertindak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Tetapi untuk hal-hal yang menjadi bagian kita, kita yang harus mengerjakannya sendiri secara maksimal. Bukan Tuhan yang harus mengerjakan bagian kita tersebut. Jadi kalau seorang pendeta mengiming-iming mukjizat untuk menyelesaikan dengan mudah segala masalah, tetapi tidak mengajarkan prinsip tanggung jawab sesuai dengan hukum tabur tuai, maka ia menyesatkan umat dan menjadikan jemaat sebagai pribadi-pribadi yang tidak bertanggung jawab. Ini sangat berbahaya. Ironisnya, dewasa ini di banyak gereja justru pendeta seperti itu yang di...
    0 min
  • Mukjizat Dan Tanggung Jawab
    Sudah saatnya orang percaya berpikir cerdas dan dewasa, khususnya terkait dengan masalah mukjizat. Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah selalu mau menyelesaikan segala sesuatu dengan mukjizat.  Sekilas hal ini tidak ada salahnya, apalagi biasanya permohonan untuk menyelesaikan segala masalah tersebut melalui doa. Tetapi sebenarnya hal ini dapat merusak hukum dalam kehidupan, yaitu hukum tabur tuai. Memang bagi orang kafir yang belum mengerti kebenaran dan tidak memahami arti hukum tabur tuai, mereka lebih mudah mengalami mukjizat. Hal ini disebabkan beberapa faktor: Pertama, karena mereka belum mengerti kebenaran. Maka mereka tidak dituntut bertanggung jawab atas apa yang mereka tidak tahu. Seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan: “Kepada yang diberi banyak dituntut banyak tetapi bagi yang diberi sedikit dituntut sedikit.” Kedua, karena mereka memerlukan tanda untuk mengenal atau memahami bahwa ada Allah yang hidup. Mukjizat dapat menjadi jendela mengenal adanya Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
    Setelah seseorang menjadi orang Kristen, maka seharusnya ia tidak mengharapkan mukjizat untuk menyelesaikan segala persoalan hidup dan segala kesukaran yang dihadapi. Orang percaya yang dewasa menghadapi kesukaran hidup dengan pengertian bahwa masalah-masalah hidup dengan segala kesukarannya sesungguhnya merupakan berkat. Jika kita menghadapi kesukaran menyelesaikan dengan tanggung jawab tanpa mengharapkan mukjizat Tuhan, maka kesukaran hidup menjadi berkat abadi. Misalnya kalau seseorang menghadapi kesulitan dalam bisnis, bisa saja memohon mukjizat Tuhan sehingga bisnisnya mendapat jalan keluar dengan gampang dan memperoleh kemudahan untuk mengalami kemajuan. Tetapi kalau kesukaran tersebut dihadapi dengan kerja keras, maka kesukaran tersebut menjadi berkat, yaitu membuat dirinya semakin cakap dan menguasai atau ahli di bidangnya.
    Kesukaran hidup merupakan cara Tuhan mendewasakan mental dan rohani kita. Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Allah tidak memiliki cara lain untuk mendewasakan anak-anak-Nya selain melalui segala peristiwa kehidupan yang terjadi, baik yang dilihat, didengar, dan dialami secara langsung. Seperti Firman Tuhan katakan, bahwa besi harus menajamkan besi. Tidak ada cara mudah untuk menjadi dewasa selain proses kehidupan melalui segala kejadian yang dialami seseorang.
    Selanjutnya, kesukaran hidup membuat kita lebih dapat mengerti kebutuhan orang lain. Kalau seseorang tidak pernah lapar, maka ia tidak dapat mengerti kelaparan orang lain. Dengan demikian, kesukaran hidup membangun perasaan empati kita kepada sesama. Kesukaran hidup membuat kita cakap menghadapi hidup, khususnya bidang yang kita geluti. Seseorang tidak bisa menjadi cakap dengan sendirinya, tetapi dengan ketekunan seseorang dapat menjadi cakap. Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa, apa yang ditabur seseorang itu juga dituainya. Itulah sebabnya kemalasan adalah sikap tidak bertanggung jawab dan dosa. Akhirnya, kesukaran hidup membuat kita lebih menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Sehingga kita mengarahkan diri kita kepada dunia yang akan datang. Firman Tuhan mengatakan bahwa pengharapan itu menyucikan.
    Kita harus memahami bahwa dalam menjalani hidup ini, kita terikat dengan hukum Allah, yaitu hukum tabur tuai.  Dalam Galatia 6:7 Alkitab menulis: Jangan sesat! Allah tidak membiarkan Diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Dalam teks aslinya, kalimat “jangan sesat” adalah me planasthe (Μὴ πλανᾶσθε). Dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan: be not deceive, ada juga yang menerjemahkan do not deceive yourselves. Dari pernyataan Firman Tuhan ini dapat diperoleh pelajaran rohani bahwa pemikiran yang salah dalam diri kita merupakan potensi penyesatan yang harus diwaspadai. Kalau Tuhan sendiri yang memperingatkan itu berarti suatu bahaya besar akibat penyesatan tersebut. Oleh sebab itu,
    0 min
  • Mesias Palsu
    Tuhan Yesus beberapa kali memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak menceritakan beberapa mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dalam Injil Markus 5, dikisahkan mengenai mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan, yaitu membangkitkan anak Yairus yang sudah mati. Setelah Tuhan Yesus membangkitkan anak Yairus tersebut, Ia berpesan dengan sangat agar mereka tidak mempublikasikannya (Mrk. 5:43). Mengapa Tuhan Yesus melakukan hal ini? Hal itu dimaksudkan agar perkara-perkara ajaib yang terjadi tidak menutup mata pengertian mereka terhadap maksud utama kedatangan Tuhan. Mereka harus memahami maksud utama kedatangan Tuhan Yesus. Harus selalu kita ingat, bahwa dalam Perjanjian Baru mukjizat dapat menjadi tanda agar karya keselamatan Tuhan Yesus dikenal oleh banyak orang. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan, penekanan yang berlebihan terhadap mukjizat menjadikan banyak orang Kristen tidak bertanggung jawab. Selain itu dapat membutakan mata rohani dan pengertian mereka terhadap misi utama kedatangan Tuhan Yesus.
    Sangat memprihatinkan, kalau selama ini banyak orang Kristen menjadikan mukjizat sebagai tujuan atau goal pelayanan. Mereka tidak melihat arah yang harus dituju berkenaan dengan diadakannya mukjizat. Banyak hamba Tuhan merasa sudah puas telah menunaikan pelayanan dengan membawa jemaat kepada pengalaman mukjizat, tetapi tidak mengarahkan mereka kepada maksud keselamatan diberikan. Dengan pengajaran yang salah tersebut secara tidak langsung, jemaat diparkir dalam kebodohan, diikat dalam keinginan-keinginan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Sehingga mata hati mereka tidak melihat cahaya kemuliaan Injil yang murni. Mereka hanya terkesima terhadap kuasa mukjizat.
    Yesus sebagai Mesias, datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa, bukan perbudakan politik. Yesus tidak membawa bangsa Israel kepada kejayaan lahiriah atau kemuliaan duniawi, sebab kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Yesus adalah Mesias dari Bapa di surga yang memikul hukuman akibat kesalahan (dosa) semua manusia. Mesias yang benar ini mengajarkan bagaimana sempurna seperti Bapa, dan hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Mesias yang benar mengarahkan manusia untuk melepaskan diri dari segala ikatan duniawi, bahkan dari segala miliknya. Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.  Hal ini dimaksudkan agar fokus hidup orang percaya hanya kepada proses untuk dapat berkeadaan diri sesuai rancangan semula, sebab seseorang tidak akan dapat diubah atau menjadi murid Tuhan kalau tidak melepaskan diri dari segala miliknya (Luk. 14:33).
    Mesias yang sejati akan mengarahkan manusia ke langit baru dan bumi yang baru. Sebab bumi ini akan dihancurkan menjadi lautan api. Oleh sebab itu, orang percaya harus merasa bahwa dirinya menumpang di bumi ini. Kehidupan di bumi hanyalah untuk mempersiapkan diri menjadi umat yang layak bagi Tuhan atau menjadi mempelai-Nya. Hal ini penting untuk kita pahami agar orang percaya tidak menyimpang dari kebenaran. Tanpa disadari, ketika mukjizat diletakkan pada prioritas utama, maka tidak ada kesadaran sebagai musafir dalam dunia ini. Sebab segala sesuatu yang bertendensi pada kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani membuat seseorang tidak menghayati berkat rohani yang memiliki nilai lebih tinggi.
    Dewasa ini banyak gereja mengajarkan Yesus yang lain, Yesus yang diperkenalkan sebagai Mesias duniawi. Yesus yang sibuk membuat mukjizat, memenuhi berkat jasmani, menolong masalah-masalah yang dialami jemaat agar dapat membuat hidup di bumi menjadi nyaman. Ini berarti mengajarkan Mesias yang tidak berbeda dengan yang diingini oleh bangsa Yahudi, yang akhirnya menyalibkan Yesus. Gereja seperti itu ramai dikunjungi orang, sebab mereka menawarkan apa yang sesuai dengan semangat zaman atau selera jiwa mereka. Mereka mengajarkan Mesias palsu yang disibukkan dengan membuat mukjizat. Yesus yang sejati adalah Yesus yang membawa iman kita kepada ...
    0 min
  • Mukjizat Sebagai Tanda
    Dalam Perjanjian Baru kita menemukan mandat Tuhan Yesus bagi orang percaya agar mereka memberitakan Injil sampai ke ujung bumi dan Tuhan berjanji akan menyertai dengan tanda-tanda (Mrk. 16:17-18. “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”). Kata “tanda” dalam teks asli adalah semeion. Semeion arti harafiahnya adalah pemberi arah atau petunjuk jalan. Jadi, mukjizat bukanlah tujuan, tetapi tanda atau penunjuk arah. Jika seseorang memberitakan Injil di tempat di mana masyarakat belum mendengar Injil dan belum mengenal Allah yang hidup, maka mukjizat dapat membuka jalan agar mereka yang tidak mengenal Allah yang benar dan Juruselamat, dapat mengenal Dia.
    Jadi, mengapa mukjizat disebut sebagai tanda atau berfungsi sebagai penunjuk arah? Pertanyaan ini harus dijawab dengan benar supaya orang Kristen mengerti benar fungsi mukjizat dalam hidup orang percaya secara umum dan pelayanan pekerjaan Tuhan. Kalau seseorang menginjil ke sebuah daerah yang tidak pernah mengenal Allah Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, mereka tidak mengenal ada Allah yang menciptakan langit dan bumi yang mengutus Putra-Nya yang tunggal, dengan cara bagaimanakah kita memperkenalkan Allah kepada mereka?  Tentu tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus ada “bukti”. Apakah benar Yesus anak Allah yang berkuasa, yang mati dan bangkit dari kematian? Untuk menjawab masalah ini, maka Tuhan menyertakan kuasa-Nya yang menghasilkan mukjizat untuk membuka mata pengertian orang kafir untuk mengenal Allah yang benar.
    Demikianlah pada seluruh perjalanan pelayanan Tuhan Yesus disertai tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang Yahudi dapat mendengar kebenaran dan mengenal bahwa Yesus adalah utusan Allah. Mengenai hal tersebut, Tuhan Yesus berkata: “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 11:42). Kita harus memerhatikan frase “oleh karena orang banyak yang berdiri di sini… supaya mereka percaya”. Jelaslah di sini bahwa mukjizat dilakukan untuk orang yang belum percaya atau baru ikut-ikutan menjadi Kristen.
    Dalam hal ini kita sangat setuju atas keyakinan bahwa mukjizat masih berlaku, yaitu selama masih dibutuhkan untuk membuka mata manusia yang tidak mengenal adanya Allah yang benar dan Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat. Dalam pelayanan, dijumpai hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam hal ini. Namun demikian, harus tetap disadarkan bahwa Kekristenan bukan hanya sekadar mengalami mukjizat. Setelah mereka percaya kepada Tuhan Yesus, mereka harus mengalami pertumbuhan iman untuk menjadi serupa dengan Yesus, sebab itulah maksud keselamatan agar kita menjadi serupa dengan Yesus sebagai model manusia yang dikehendaki oleh Allah (Rm. 8:28-29).
    Dalam suatu peristiwa, Tuhan menegur orang-orang yang kelihatannya akrab hendak mengikut Tuhan Yesus tetapi tidak memiliki nilai pengiringan yang benar. Kepada mereka dengan tegas Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (Yoh. 6:26). Kata “tanda” dalam teks ini adalah semeion yang sama artinya dengan mukjizat. Dalam pernyataan-Nya tersebut, Tuhan hendak menasihati mereka agar jangan hanya karena berkat jasmani dari mukjizat yang Tuhan kerjakan mereka mengiring Yesus. Tetapi harus melihat arah atau penunjuk ke mana mereka harus bertumbuh atau melangkah.
    0 min
  • Berkat Dan Harta Abadi
    Dalam beberapa kesempatan, orang bertanya kepada saya apakah saya tidak percaya mukjizat dan tidak membutuhkan mujizat? Pernyataan tersebut adalah pertanyaan bodoh, yaitu kalau ditujukan kepada orang beragama. Sebab orang beragama pada umumnya percaya adanya mukjizat. Sejatinya, jika hal tersebut harus ditanyakan tentu tidak ditanyakan kepada orang Kristen, apalagi seorang pendeta. Pertanyaan tersebut sebenarnya hanya pantas ditujukan kepada orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang tidak percaya adanya Tuhan atau orang ateis. Kalau itu ditanyakan kepada seorang anak Allah, apalagi kepada seorang pendeta, tentu saja jawabnya adalah “saya percaya adanya mukjizat dan saya membutuhkan mukjizat pada waktu-waktu tertentu.”
    Mukjizat dibutuhkan untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa ada Allah yang hidup dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Terutama kepada mereka yang ada di lingkungan masyarakat yang primitif. Juga kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang berasal dari kepercayaan lain. Mereka masih membutuhkan mujizat.  Untuk mereka kita masih bisa memperkarakan mukjizat tertentu dalam petunjuk dan pimpinan Roh Kudus yang akurat.  Kita memperkarakan mukjizat bukan untuk mencari popularitas, bukan untuk mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan pribadi yang lain, tetapi semua berlangsung hanya untuk kemuliaan Allah.
    Orang Kristen baru, pada umumnya masih berpikir seperti orang yang tidak mengenal Allah. Mereka datang ke gereja hanya karena membutuhkan pertolongan menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini harus kita maklumi, sebab mereka belum mengerti kebenaran secara lengkap atau utuh. Seperti yang mereka lakukan sebelum menjadi Kristen, mereka pergi ke rumah-rumah ibadah, dukun, atau tempat-tempat tertentu hanya karena untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai masalah hidup yang mereka hadapi, khususnya yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Jadi, bisa sangat dimengerti kalau mereka ke gereja hanya karena ingin melihat dan mengalami mukjizat. Mereka sangat menikmati kuasa Tuhan yang dapat didemonstrasikan di dalam gereja. Semakin dahsyat mukjizat Tuhan, maka mereka semakin menikmati dan bangga atas mukjizat-mukjizat tersebut.
    Gereja-gereja yang baru muncul biasanya juga ditandai oleh “demam” mukjizat-mukjizat. Gereja-gereja Pentakosta di awal abad 20 sampai awal abad 21 juga ditandai dengan kebanggaan terhadap mukjizat-mukjizat. Di setiap pertemuan bersama atau kebaktian, mukjizat selalu disebut-sebut dan dibangga-banggakan. Setiap Minggu selalu ada kesaksian orang-orang yang menyaksikan mengenai pertolongan Tuhan dari berbagai masalah kehidupan yang mereka hadapi. Biasanya, kesaksian yang mereka kemukakan juga mengenai pertolongan untuk masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan masalah-masalah fana dunia ini. Itulah sebabnya lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bertemakan Allah yang kuasa-Nya tidak berubah, Allah yang ajaib dan heran, perbuatan-perbuatan Tuhan yang spektakuler, dan lain sebagainya, yang orientasinya sekitar mukjizat. Hal ini juga bisa kita mengerti sebab gereja tersebut masih baru.
    Setelah melewati perjalanan panjang, seharusnya gereja-gereja ini sudah menjadi dewasa. Fokus pelayanan gereja bukan lagi mukjizat untuk memenuhi segala kebutuhan jasmani, tetapi harus mulai mengerti maksud keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu dikembalikan ke rancangan semula. Ini bukan berarti kita tidak percaya mukjizat dan tidak membutuhkan mukjizat sama sekali. Fokus yang harus diubah, yaitu dari fokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani beralih kepada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jemaat harus diajak untuk bergerak ke level yang lebih tinggi. Mukjizat adalah berkat sementara, tetapi kesempurnaan adalah berkat dan harta abadi.
    0 min
  • Agenda Satu-satunya
    Satu hal yang sangat prinsip, dan sejatinya menjadi satu-satunya hal yang harus digumuli dalam kehidupan jemaat dan gereja, adalah kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk dikenakan dalam kehidupan orang percaya di bumi ini. Kebenaran-kebenaran yang diajarkan di dalam Injil dan tulisan rasul-rasul harus dipahami dengan benar agar orang percaya mengerti maksud keselamatan diberikan kepada umat pilihan. Keselamatan diberikan agar manusia menemukan maksud dirinya diciptakan oleh Tuhan, atau dikembalikan ke rancangan semula. Dalam hal ini, Injil dan tulisan rasul-rasul sama sekali tidak memberikan tekanan pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan penyelesaian masalah-masalah hidup umum yang bersifat fana. Injil dan tulisan rasul-rasul selalu menekankan bagaimana memindahkan hati ke Kerajaan Surga dan hidup tidak bercacat dan tidak bercela; sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Hal segambaran dan keserupaan dengan Allah, sebenarnya adalah pokok pengajaran yang hanya ada pada Kekristenan. Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan umat harus sempurna seperti Tuhan yang disembahnya. Dalam hal ini, orang percaya dipanggil untuk menjadi manusia Allah (man of God) yang berkodrat Ilahi. Oleh sebab itu,  pelayanan pekerjaan Tuhan harus diorientasikan pada hal ini. Hal tersebut harus menjadi agenda utama dalam pelayanan, agar jemaat benar-benar memahami dan bersedia untuk masuk ke dalam proses pembentukan manusia batiniah sampai sempurna.
    Dalam banyak agama dan keyakinan tidak pernah diajarkan mengenai segambaran dan keserupaan dengan Allah serta standar atau parameternya.  Menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah lebih dari sekadar menjadi orang yang hidup santun, beradab, dan beretika dengan mematuhi hukum-hukum yang ada pada agama-agama pada umumnya. Sedangkan dalam kehidupan orang percaya segambaran dan keserupaan dengan Allah adalah tujuan atau goal yang harus dicapai orang percaya. Tidak ada tujuan lain yang boleh mewarnai kehidupan orang percaya. Agenda satu-satunya kehidupan orang percaya yang menjadi umat pilihan adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Kalau orang-orang pada umumnya berurusan dengan allah, ilah, atau dewa sesembahan mereka adalah karena mereka menghadapi persoalan-persoalan hidup, dan biasanya hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Mereka berharap sesembahan mereka dapat memberi pertolongan atau jalan keluar. Itulah sebabnya mereka mengadakan seremonial, ritual, atau upacara agama. Mereka mengharapkan dan berusaha memercayai bahwa allah, ilah, atau dewa sesembahan mereka menunjukkan kemukjizatan-kemukjizatan yang dapat memberi jalan keluar mudah dari berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi. Hal ini berbeda dengan orang percaya yang benar. Orang percaya datang kepada Tuhan untuk memperkarakan maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia, serta bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidupnya sesuai kehendak-Nya.
    Jadi, seharusnya orang datang ke gereja bukan karena masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi untuk menemukan kebenaran-Nya agar dapat menjadi manusia sesuai dengan maksud dan tujuan dirinya diciptakan oleh Tuhan. Jika orang percaya memahami kebenaran ini, maka ia tidak akan melirik kuasa Tuhan yang dapat melahirkan mukjizat-mukjizat. Bagi orang percaya yang benar dan dewasa, mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya lebih dari sekadar mengalami mukjizat.
    Jadi kalau ada gereja dan pendetanya selalu menekankan mukjizat, maka itu berarti sebuah penyimpangan yang berdampak sangat negatif. Sebab orientasi berpikir jemaat disimpangkan dari tujuan keselamatan. Memang kelihatannya tidak melanggar Firman bahkan dianggap sangat positif, tetapi sebenarnya sebuah penyimpangan yang membuat jemaat tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang diperkenan masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan.
    0 min
  • Penyimpangan Dalam Pelayanan
    Ketika dunia mengalami resesi dan banyak kesukaran menimpa manusia – seperti krisis ekonomi, politik, sosial, ekologis berupa bencana alam, dan lain sebagainya – maka Tuhan ditawarkan sebagai solusi bagi manusia agar dapat terhindar dari kesulitan-kesulitan hidup. Tidak dapat dibantah, menurut survei dan hasil riset dalam bidang sosiologi, dikatakan bahwa masyarakat yang sedang dilanda kesukaran lebih mudah bertuhan atau beragama daripada masyarakat yang nyaman dengan kehidupannya. Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang sulit, gereja menjadi alternatif yang dicari orang untuk mendapat jalan keluar. Dengan demikian, di tengah-tengah masyarakat yang menghadapi kesulitan hidup, gereja lebih banyak dikunjungi orang. Faktanya, tidak dapat dibantah apa yang selama ini terjadi di sekitar kita, demikianlah adanya. Gereja menjadi tempat untuk menemukan Tuhan guna menyelesaikan masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan jalan untuk menghindarkan diri dari berbagai kesulitan hidup.
    Ketika gereja hanya menjadi tempat untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup di bumi berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka terjadi praktik pelayanan rohani yang mirip dengan praktik perdukunan. Maksud praktik perdukunan adalah bahwa gereja dan semua pelayan-pelayannya menggunakan kuasa Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani yang terjadi dalam kehidupan umat Tuhan. Sama seperti dukun-dukun yang “menjual jasa” dengan membuat praktik-praktik mukjizat guna penyelesaian masalah-masalah hidup yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan isi pelayanan seperti ini, maka gereja mengabaikan maksud keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, menjadi segambar dan serupa dengan Allah.
    Demikian faktanya yang terjadi di banyak gereja hari ini, gereja menyelenggarakan praktik pelayanan yang mekanismenya seperti dalam praktik perdukunan di dunia yang tidak mengenal Allah. Gereja-gereja palsu tersebut mempromosikan mukjizat dengan menggunakan kuasa Tuhan untuk penyelesaian masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan mudahnya gereja-gereja tersebut menjanjikan penyelesaian masalah yang dihadapi jemaat, mulai dari masalah ekonomi, bisnis, kesehatan, jodoh, keinginan memiliki keturunan, dan lain sebagainya.
    Kalau kita tidak teliti, maka kita bisa tertipu oleh praktik pelayanan gereja-gereja yang sudah menyimpang dari kebenaran tersebut. Mereka memperkenalkan Yesus sebagai sosok yang dapat peduli dengan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani, tanpa mengajarkan dengan benar bagaimana harus mengikuti jejak hidup-Nya. Tentu saja Tuhan Yesus juga sangat peduli dengan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi sesungguhnya Tuhan Yesus lebih peduli pada proses pertumbuhan rohani agar pengikut-Nya menjadi seperti Diri-Nya.
    Mengikut Yesus berarti menjalani kehidupan seperti yang pernah dijalani oleh Yesus, yaitu hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Oleh sebab itu, orang percaya yang benar tidak lagi mempersoalkan pemenuhan kebutuhan jasmani. Melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya merupakan satu-satunya hal yang diperjuangkan melebihi segala sesuatu. Tanpa disadari, praktik pelayanan yang mirip dengan perdukunan mengakibatkan penyimpangan. Mukjizat menjadi komoditas utama orang-orang yang mengaku “hamba Tuhan” dan yang mendeklarasikan diri (terang-terangan maupun terselubung) mewakili Tuhan untuk menolong umat-Nya. Tanpa mereka sendiri sadari, mereka menjual nama Tuhan selain untuk kepentingan materi, juga kebesaran nama sebagai karir di dalam gereja lokal maupun di dalam sinode suatu gereja.
    0 min
  • Sikap Yang Benar Terhadap Mukjizat
    Sikap orang percaya terhadap mukjizat harus benar, sebab hal ini bertalian dengan hubungan kita dengan Tuhan. Sikap yang salah terhadap mukjizat akan menempatkan diri kita menjadi salah pula di hadapan-Nya. Sebaliknya, sikap yang benar terhadap mukjizat akan membuat kita dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan di tempat yang sepantasnya. Pengajaran dan praktik pelayanan mukjizat dewasa ini kalau tidak disikapi dengan benar bisa menyesatkan umat, sehingga mereka tidak mengenal keselamatan dengan benar. Ketika Alkitab menyebut mengenai mesias palsu, hal tersebut bukan hanya ditujukan kepada mereka yang mengaku dapat menyelamatkan manusia atau tokoh-tokoh agama di luar Kristen, tetapi juga bagi para pendeta yang menampilkan diri sebagai mesias konsep orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menginginkan mesias yang dapat memenuhi kebutuhan jasmani mereka, di dalamnya termasuk mukjizat yang dapat membuat kehidupan mereka nyaman di bumi dan memperoleh banyak kemudahan hidup.
    Dewasa ini banyak pendeta memperkenalkan diri sebagai penyembuh. Memang mereka tidak secara langsung mengatakan bahwa dirinya yang menyembuhkan penyakit jemaat. Tetapi kesan kuat yang hendak disampaikan kepada jemaat adalah bahwa dirinya memiliki karunia untuk menyembuhkan penyakit. Kesan itu sampai pada pengakuan bahwa pendeta-pendeta itu memiliki hak untuk mendemonstrasikan mukjizat. Bahkan dikesankan secara terselubung, bahwa pendeta itu yang memiliki kuasa. Dalam hal ini, masalahnya bukan hanya terletak pada mukjizat itu sendiri, atau perilaku pendeta tersebut, tetapi atmosfer pengajaran atau pendidikan rohani yang dihadirkan dalam pelayanan tersebut. Atmosfer yang dihadirkan adalah “pemenuhan kebutuhan jasmani”. Memang tubuh sehat atau kesembuhan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia (Jemaat harus mengusahakannya secara maksimal dengan tanggung jawab). Tetapi jemaat hendaknya tidak lupa bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus tidak difokuskan pada hal tersebut. Keselamatan dalam Yesus Kristus berorientasi pada dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula.
    Kita percaya bahwa Allah yang menjadi Bapa kita adalah Allah yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas atas alam semesta ini. Sebagai anak-anak Allah, kita pasti memiliki jaminan pemeliharaan Tuhan yang sangat ajaib. Namun ini bukan berarti kita dapat menggunakan kuasa Tuhan sesuka kita sendiri, seakan-akan kita dapat menggunakan kuasa Tuhan kapan saja dan dalam segala hal menurut selera kita sendiri. Ketika seseorang belum dewasa rohani, maka ia berusaha untuk memercayai kuasa Allah dan kadang mengklaimnya seakan-akan memiliki hak untuk menggunakannya. Biasanya, konsep yang dimiliki dalam pikiran mereka mengenai Tuhan adalah bahwa Tuhan menghendaki orang Kristen memercayai kuasa-Nya. Semakin memercayai kuasa Allah, maka mukjizat yang diyakini semakin bisa terjadi. Ini pikiran yang salah dalam kehidupan orang-orang Kristen yang tidak atau belum dewasa.
    Banyak pendeta mengajarkan sesuatu dari Alkitab, tetapi tidak memerhatikan konteksnya. Seperti mengenai perempuan yang sakit pendarahan dalam Matius 9:20-21 dan Markus 5:25-30. Kata “menjamah” dalam teks aslinya adalah haptomai (ἅπτομαι) yang sebenarnya juga berarti to fasten one’s self to, adhere to, cling to (mengikatkan diri pada, mematuhi, berpegang erat). Perempuan itu memegang erat-erat jubah Tuhan dan meyakini bahwa ia akan sembuh. Dan faktanya, ia memang menjadi sembuh. Namun kasus ini tidak bisa dikenakan kepada semua orang dan dalam situasi yang berbeda.
    Dari kasus ini juga tidak boleh dipahami bahwa kalau kita percaya atau yakin kepada suatu yang kita harapkan dapat terjadi, maka hal itu benar-benar akan terjadi. Dalam hal ini seakan-akan Allah bisa diatur. Ada beberapa kasus lain yang mengesankan bahwa Allah bisa diatur oleh percaya atau pikiran manusia, seperti misalnya, kisah hamba perwira di Kapernaum (Mat. 8:5-10). Kita harus melihat konteks ayat dan kisah-kisah tersebut...
    0 min
  • Gereja Yang Meleset
    Satu hal yang sangat penting untuk ditegaskan bahwa mukjizat bukanlah tujuan atau goal hidup Kekristenan. Mukjizat hanya sebagai sarana untuk membuktikan bahwa Diri Yesus berasal dari Allah. Itulah sebabnya, dalam beberapa peristiwa ketika Yesus membangkitkan orang mati, Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahu peristiwa tersebut kepada orang lain. Untuk mukjizat lain Yesus melakukannya di depan umum, tanpa menutup-nutupinya, tetapi untuk beberapa kasus mukjizat tertentu yang diadakan, Yesus tidak menghendaki masyarakat Yahudi pada waktu itu tahu. Kasus-kasus itu antara lain: menyembuhkan orang yang terkena kusta (Luk. 5:14), membangkitkan orang mati (Luk. 8:56) dan ketika Diri-Nya dimuliakan di atas gunung (Mat. 17:9). Keajaiban dari mukjizat-mukjizat ini akan membuat orang menjadi kagum, dan karena kekaguman tersebut mereka bisa salah memahami maksud kedatangan Yesus ke bumi.
    Dari hal di atas, jelas sekali maksud Yesus bahwa Ia berusaha membatasi agar tidak banyak orang mengenal bahwa Diri-Nya Mesias (Mat. 12:16; 16:20; Mrk. 3:12; 8:20 dan banyak lagi dalam Injil Lukas). Tetapi khusus kepada Yohanes Pembaptis, Ia menunjukkan bahwa Diri-Nya Mesias, ketika Yohanes Pembaptis ingin ketegasan apakah Yesus adalah Mesias atau mereka harus menunggu yang lain (Mat. 11:2-6). Mengapa Yesus tidak mau dikenal oleh orang banyak bahwa Diri-Nya adalah Mesias? Sebab konsep orang-orang Yahudi mengenai Mesias salah. Yesus tidak menghendaki maksud tujuan Diri-Nya datang ke dunia disalahpahami oleh mereka. Pada waktu itu bangsa Israel sedang menantikan seorang Mesias seperti yang dinubuatkan oleh Kitab Suci. Tidak heran kalau para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi bisa menjawab pertanyaan Herodes mengenai di mana Mesias akan dilahirkan (Mat. 2:1-5).  Tetapi masalahnya adalah bahwa mereka menginginkan Mesias versi atau model mereka sendiri. Hal tersebut akan menyulitkan Yesus dalam tugas penyelamatan manusia yang telah jatuh dalam dosa.
    Dalam kasus di atas ini, kita dapat mengerti bahwa Yesus tidak menghipnosis seseorang untuk menerima Dia atau menolak-Nya. Yesus tidak memaksa orang dengan kuasa mukjizat-Nya sehingga dapat mengerti apa yang diajarkan atau membuat orang tidak mengerti apa yang diajarkan. Apakah orang bisa atau mau mengerti, sebaliknya apakah mereka tidak mau mengerti dan menerima yang diajarkan Tuhan Yesus, tergantung individu dan faktor lingkungan; terutama apa yang diajarkan kepada mereka. Itulah sebabnya Yesus harus bertindak bijaksana dengan tidak pamer kuasa mukjizat agar maksud keselamatan yang dikerjakan-Nya tidak terhambat.
    Hal ini menjadi pelajaran mahal bagi kita sekarang. Kalau gereja salah mengajarkan kebenaran, khususnya dalam konteks ini mengenai mukjizat, maka jemaat bisa salah mengerti maksud kedatangan Yesus ke dunia. Faktanya, hari ini banyak gereja selalu berbicara mengenai mukjizat, sehingga fokus hidup Kekristenannya bergeser dan meleset. Ironisnya, mereka tidak sadar bahwa mereka telah tersesat.
    Bagi orang-orang Yahudi pada waktu itu, mesias yang mereka ingini adalah mesias yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Roma. Mereka menginginkan kemerdekaan secara politis. Bangsa Yahudi menginginkan bangsa dan negara mereka mengalami masa kejayaan atau zaman keemasan seperti zaman raja Daud dan Salomo. Tentu saja sosok Mesias yang mereka mimpikan dan mereka butuhkan adalah sosok pahlawan yang memiliki kekuatan ekstra, sehingga dapat memimpin perjuangan melawan Kekaisaran Roma yang pada waktu itu menguasai Palestina. Mereka menantikan seorang “Daud” yang dapat merobohkan “Goliat”.
    Konsep mesias seperti ini bertentangan dengan konsep Mesias menurut Allah yang misinya dibawa oleh Yesus.  Kalau masyarakat Yahudi pada waktu itu tahu terlalu banyak perbuatan-perbuatan ajaib yang Yesus lakukan, maka perhatian mereka hanya tertuju kepada hal-hal lahiriah. Sehingga mereka dapat semakin buta terhadap maksud tujuan kedatangan Yesus sebagai Mesias ke dunia.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…