Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keinginan Tuhan Semata-mata
    Satu hal yang harus terus diingat bahwa manusia adalah makhluk bebas, artinya manusia memiliki kehendak bebas yang dapat diarahkan oleh masing-masing individu tanpa dikendalikan oleh pihak lain. Tuhan sendiri tidak mengintervensi kehendak bebas manusia. Tuhan mengakui dan menghormati kedaulatan manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang dahsyat, sebab hal ini bisa membawa manusia kepada kebinasaan atau kemuliaan.  Manusia dikendalikan oleh kehendak bebasnya atau free will dalam menentukan nasib atau keadaan dirinya. Tuhan sebagai Hakim menegakkan hukum itu dengan segala resiko dan konsekuensinya, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan sendiri. Dalam hal ini, bagaimanapun manusia harus tunduk kepada hukum “tabur tuai” (Gal. 6:7-9).
    Ke mana arah langkah hidup seseorang ditentukan oleh keinginannya. Apakah seseorang membawa diri ke Kerajaan Terang atau kerajaan kegelapan, hal ini tergantung dari apa yang memenuhi hatinya. Apa yang memenuhi hatinya diperankan oleh apa yang memenuhi pikirannya. Setiap langkah dari keinginan seseorang hari ini, menentukan nasib kekalnya. Sering terjadi, keputusan beberapa menit menentukan kekekalannya. Nasib Esau ditentukan beberapa menit ketika ia menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-27). Oleh sebab itu betapa berartinya menit demi menit hidup ini, sebab menentukan nasib kekal yang tiada batas. Kalau hati dipenuhi keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan berarti menggiring manusia itu kepada kebinasaan.
    Alkitab Perjanjian Baru menunjukkan bahwa sebuah pelanggaran atau dosa terjadi bukan hanya setelah dilakukan secara fisik, tetapi keinginan yang tidak proporsional sudah dapat mengkondisi dosa (1Tim. 6:10). Dalam Yakobus 1:13-15 ditulis: Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri. Kalimat dalam Doa Bapa kami: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, dimaksudkan agar kita selalu membawa diri kita kepada keinginan yang sesuai dengan Tuhan. Untuk itu kita harus berani menanggalkan segala keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
     
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan. Bagaimanapun manusia pasti memiliki keinginan. Tetapi orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan akan mengisi jiwanya dengan keinginan atau kehendak Tuhan saja. Sehingga jiwanya menjadi bejana di mana keinginan dan kehendak Allah dituangkan. Hal ini akan membuat hanya kehendak Tuhan yang menguasai kehidupan orang tersebut. Dalam hidup ini, kita harus hanya mau melakukan kehendak Tuhan. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Tuhan tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya. Orang seperti ini, tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai tinggi atau berharga kepada mereka yang tidak layak menerimanya, yaitu mereka yang tidak berkeinginan melakukan keinginan atau kehendak-Nya.
    Kita melakukan keinginan Tuhan karena kita mau membahagiakan hati Tuhan, dalam kesadaran bahwa sebenarnya kita tidak berhak menyenangkan diri sendiri. Oleh sebab itu sebelum melakukan keinginan Tuhan, kita harus terlebih dahulu menanggalkan keinginan kita sendiri. Hal ini kita lakukan dengan sukacita dan rela bukan sebagai suatu beban. Kita memandangnya sebagai suatu kehormatan dan anugerah. Orang yang melakukan keinginan-keinginan Tuhan adalah orang yang menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Hidupnya menjadi bahagia dan bersih sebab orang yang menjadikan Tuhan kegembiraan, pasti hidupnya cenderung bersih.  Sebaliknya, orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya, cenderung kotor. Oleh sebab itu kita tidak boleh mengatur diri sendiri. Semakin kita mengatur diri sendiri, maka semakin sulit untuk mengerti kehendak Tuhan.
    0 min
  • Keserakahan
    Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab, bahwa pada akhir zaman manusia menjadi serakah atau tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Kalau manusia sudah menjadi hamba uang, egois, dan lebih menuruti hawa nafsunya, maka manusia pasti menjadi serakah (2Tim. 3:1-5).  Mereka tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Semua yang dianggap sebagai kebutuhan adalah segala sesuatu yang diingininya. Padahal keinginan manusia tidak pernah dapat dipuaskan oleh apa pun juga, sebab di dalam rongga jiwa manusia ada ruangan kosong yang tidak dapat diisi oleh apa pun, selain oleh Tuhan sendiri. Dengan keadaan demikian manusia akan selalu mencari segala sesuatu yang dapat memuaskan dirinya.
    Keadaan manusia seperti di atas ini juga ada pada kehidupan banyak orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan menjadi serakah. Ia makin haus akan kekayaan dunia dan segala kesenangan-kesenangan dunia. Dengan demikian ia akan menjadi kejam dan sewenang-wenang terhadap sesamanya. Ia tidak akan dapat mempermuliakan Allah, sebab yang ia muliakan adalah harta. Ia tidak memiliki damai sejahtera yang sesungguhnya. Ia pun kehilangan sukacita hidup. Sekalipun hartanya berlimpah, kedudukannya dan jabatannya tinggi, ia tidak memiliki sukacita hidup (Luk. 12:15). Ia tidak akan dapat melayani Tuhan. Sebab ia akan melayani dirinya sendiri dan menggunakan segala kesempatan, serta tenaga orang lain untuk keuntungannya sendiri.
    Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus mengajarkan suatu prinsip hidup yang dikalimatkan sebagai berikut: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Prinsip hidup ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi serakah. Tuhan Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, menunjukkan bahwa Diri-Nya tidak memiliki apa-apa. Inilah ekspresi dari “pengosongan diri” yang Yesus lakukan, yang juga harus kita lakukan sebagai pengikut-Nya. Pengosongan diri ini sama dengan kerelaan melepaskan hak. Senada dengan hal ini, Paulus dalam suratnya mengatakan: Sebab kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1Tim. 6:7-8).
    Kalau Firman Tuhan mengajarkan orang percaya agar merasa cukup, yaitu asal ada makanan dan pakaian, ini tidak dimaksudkan agar orang percaya  menjadi orang miskin. Tetapi agar orang percaya tidak terbelenggu oleh berbagai keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki atau yang dunia sediakan. Dengan demikian, orang percaya harus merasa cukup dan puas berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi selalu merasa belum puas berkenaan dengan keberkenanannya di hadapan Tuhan. Ini adalah cara yang tepat untuk menanggulangi nafsu serakah yang bisa menguasai hidup ini.
    Dalam kemiskinan secara materi, Tuhan Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Gaya hidup seperti ini harus dikenakan oleh setiap orang yang mengaku mengikut Tuhan Yesus Kristus. Dengan gaya hidup tersebut, seseorang tidak akan dapat diperbudak oleh dunia ini. Jika tidak bersedia mengenakan gaya hidup tersebut, berarti seorang Kristen menolak menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan. Orang yang tidak bersedia menundukkan diri kepada Tuhan guna mengikuti jejak-Nya, berarti menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan.
    Bila seseorang masih selalu merasa belum cukup dengan jumlah uang atau harta yang dimilikinya, berarti ia belum sungguh-sungguh menemukan perhentian yang benar atau belum berlabuh pada Tuhan. Ini juga berarti tidak akan pernah mengalami proses dikembalikan ke rancangan semula Allah.  Dari gaya hidup di atas ini, akan membangun gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup konsumerisme seperti ini sudah menjadi gaya hidup yang wajar dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini, khususnya di kalangan masyarakat yang tinggal di kota.
    Menjelang dunia berakhir, gaya hidup konsumerisme semakin kuat memengaruhi ke...
    0 min
  • Permanen
    Satu hal yang harus ditegaskan, bahwa orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi. Untuk itu kita sebagai orang percaya yang benar, harus rela berstatus sebagai orang yang menumpang di bumi. Orang yang menumpang, tetapi merasa berhak berdomisili secara permanen di suatu tempat atau rumah orang lain dan bertindak sebagai tuan rumah, adalah perampok. Tanpa disadari banyak orang Kristen berkeadaan demikian. Harus diingat bahwa harta kita sendiri barulah nanti di Kerajaan Surga, sedangkan segala sesuatu yang kita miliki sekarang adalah harta orang lain, yaitu harta-Nya Tuhan (Luk. 16:12).
    Oleh sebab itu, fokus hidup orang-orang percaya harus diarahkan kepada proses kesempurnaan menjadi seperti Tuhan Yesus, guna persiapan tinggal di negeri atau rumah sendiri di dunia yang akan datang, yaitu di langit baru dan bumi yang baru nanti. Sebagai orang yang terpanggil menjadi umat pilihan yang berpotensi mewarisi Kerajaan Surga, seharusnya kita memiliki cara hidup yang berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Betapa luar biasa kedudukan orang percaya, sebab disamakan dengan Tuhan Yesus sendiri yang bukan berasal dari dunia ini.
    Kalau jujur banyak orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Rasul Paulus dalam suratnya jelas sekali mengatakan: Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya (Flp. 3:20-21). Dari tulisan ini jelas sekali bahwa kita bukan warga negara dunia. Banyak orang Kristen, bahkan di antaranya pendeta-pendeta, yang merasa asing dengan pernyataan ini. Mereka tidak mampu sama sekali menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Mereka tidak mampu memiliki kesadaran ini, sebab kesadarannya adalah kesadaran manusia yang berasal dari dunia ini. Semua ini akibat dari pola berpikir yang salah, yang sudah melekat lama di dalam pikiran mereka.
    Banyak orang Kristen yang yakin bahwa dirinya adalah umat pilihan yang pasti dilayakkan masuk rumah Bapa, tanpa memperhatikan kualitas kelayakan mereka menjadi anggota keluarga Kerajaan.  Inilah kesesatan dalam kehidupan banyak orang Kristen, seakan-akan keyakinan di dalam pikiran dapat menjawab kebutuhan keselamatan dalam kekekalan. Kehidupan orang percaya tidak cukup hanya menaruh dalam pikiran secara imajiner bahwa dirinya adalah anak Allah yang akan masuk surga.
    Kalau seseorang tidak menghargai kedudukannya atau status bahwa dirinya berasal dari atas, berarti ia menolak kasih karunia yang Tuhan sediakan bagi orang percaya. Sikap menghargai kedudukan atau status tersebut harus dinyatakan dalam tindakan nyata setiap hari. Oleh sebab itu kita harus menerima dengan sungguh-sungguh status ini dan memperjuangkannya, agar hidup kita sepadan dengan keadaan sebagai yang berasal dari Allah. Perjuangan itu adalah mengubah gaya hidup kita setiap hari. Gaya hidup yang harus kita kenakan tentunya adalah gaya hidup Tuhan Yesus.
    Keberadaan sebagai anak-anak Allah harus kita perjuangkan, agar kita dapat mengenakannya secara permanen. Anak-anak Allah adalah mereka yang sungguh-sungguh dapat menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Orang yang sudah mengerti dan menghayati bahwa dirinya berasal dari Allah akan selalu memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kol. 3:1-4). Perkara-perkara yang di atas adalah kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu saja orang percaya seperti ini berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela dan berusaha menjadi sempurna seperti Bapa. Selanjutnya, ia juga bersedia melakukan apa saja demi kepentingan Kerajaan Allah, dan akhirnya merindukan bertemu dengan Tuhan Yesus, muka dengan muka.
    0 min
  • Rumah Yang Sesungguhnya
    Banyak orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah mereka. Tuhan menyatakan berulang kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Paulus pun menyatakan bahwa kewarganegaraan kita bukan di bumi. Dengan kesadaran ini, mestinya apa yang dipandang sebagai kebutuhan primer hanya satu, yaitu Tuhan saja. Tetapi faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang berusaha keras bagaimana memiliki rumah pribadi sebesar-besarnya dan semewah-mewahnya. Mereka berpikir bahwa kesempatan memiliki rumah hanya sekali di bumi ini.
    Gaya hidup di atas sudah menetap lama dalam jiwa banyak orang Kristen. Tentu saja mereka memandang kematian berarti hilangnya kesempatan memiliki kenyamanan untuk menikmati kehidupan ini, termasuk kesempatan memiliki dan menikmati sebuah rumah. Bagi mereka rumah atau tempat tinggal adalah kenikmatan satu-satunya dalam kehidupan yang tidak pernah terulang. Rumah memang kebutuhan primer menurut pikiran dan konsep manusia pada umumnya, tetapi rumah harus diadakan demi memenuhi kebutuhan keluarga guna mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk citra diri, harga diri, dan kehormatan.
    Sebagian besar orang Kristen memiliki cara berpikir yang salah tersebut, dan bergaya hidup seperti orang-orang di luar Kristen yang tidak memiliki janji bahwa Tuhan Yesus akan membawa kita ke rumah Bapa. Dengan gaya hidup yang salah tersebut, mereka merasa telah memiliki hidup yang wajar. Mereka merasa tidak berdosa, sebab hal itu dipandang tidak menyalahi Firman Tuhan. Ini adalah kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, di mana orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia dan mereka merasa tidak bersalah. Sementara itu pula, tidak ada yang menegur atau mengingatkan mereka dengan keras.  Dengan menyatakan hal ini, bukan berarti mereka yang memiliki rumah mewah berkeadaan berdosa.  Kita harus cerdas dan jujur serta  berhati-hati menyikapi hal ini. Dalam hal ini, dituntut kejujuran untuk mengoreksi diri sendiri atau sebuah proses internalisasi (penghayatan).
    Harus dipahami bahwa kemewahan sebenarnya juga relatif, artinya dari sudut mana seseorang memandang. Bagi sekelompok orang tertentu, rumah seharga beberapa puluh milyar bukan jumlah yang besar, tetapi bagi kelompok yang lain rumah seharga beberapa puluh atau beberapa ratus juta sudah cukup. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana setiap orang dapat mengelola milik Tuhan yang dipercayakan kepadanya, tidak menggunakan untuk kesenangan diri sendiri dan kehormatannya. Tetapi menggunakannya bagi kepentingan Kerajaan Surga. Hal ini hanya bisa dimengerti dan diterima oleh mereka yang memahami arti penebusan. Kalau Tuhan telah menebus kita dan kita menerima penebusan-Nya, berarti kita menyerahkan seluruh milik dan hak kita kepada Tuhan. Hal ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengerti kebenaran, dan yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
    Tuhan mengajarkan bagaimana diri-Nya tidak memiliki kenyamanan seperti kenyamanan yang dimiliki manusia lain. Ia memberi pernyataan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, bahkan Ia mati di kayu salib  dalam kemiskinan jasmani yang ekstrem. Setengah telanjang Ia tergantung di antara langit dan bumi dengan keadaan berdarah-darah. Kalau seseorang mengikut Tuhan Yesus, maka harus juga mengikuti jejak-Nya. Dengan pernyataan Tuhan Yesus tersebut (bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya), dimaksudkan agar orang percaya mengikuti jejak-Nya, yaitu tidak mengharapkan hidup dalam kenyamanan di bumi. Orang percaya tidak boleh memfokuskan diri pada kehidupan sekarang di bumi, tetapi memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang. Orang percaya harus memiliki hidup dalam penantian yang kuat untuk dipindahkan ke rumah yang sesungguhnya di langit baru dan bumi yang baru. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau Ia sudah menyediakan tempat bagi kita, maka Ia akan datang untuk menjemput kita,
    0 min
  • Konsep Yang Benar Mengenai Harta
    Untuk dapat melepaskan diri dari semangat zaman ini, seseorang harus memiliki konsep yang benar mengenai harta. Satu hal yang paling prinsip berkenaan dengan hal ini adalah bahwa semua yang kita miliki hari ini adalah “harta orang lain” (Luk. 16:12).  Harta kita sendiri sebenarnya nanti di dalam Kerajaan Surga, di langit baru dan bumi yang baru. Dengan hal ini, seseorang tidak dapat menjadi kaya di bumi sekaligus kaya di surga. Ia harus memilih kaya di mana, di bumi atau di surga. Kalau pun seseorang kaya secara materi di bumi ini, ia harus terus menerus dalam kesadaran dan pengakuan bahwa semua yang ada padanya adalah milik Tuhan atau hartanya Tuhan.  Dengan demikian, di bumi ia menjadi miskin seperti Tuhan Yesus ketika ada di bumi, yang prinsipnya adalah serigala memiliki liang dan burung mepunyai sarang, tetapi diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Di bumi hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
    Hampir semua manusia, termasuk orang-orang Kristen, merasa bahwa semua harta atau aset yang dimiliki adalah miliknya sendiri dan merasa berhak menggunakan sesuai dengan keinginannya. Itulah sebabnya mereka menggunakan hartanya tanpa persetujuan Tuhan, sebaliknya Tuhan malah digunakan untuk meraih harta dunia ini. Dengan gaya hidup tersebut mereka gagal menempatkan diri di hadapan-Nya. Mereka menjadi orang-orang yang terbelenggu oleh percintaan dunia. Tidak mungkin mereka dapat melayani Tuhan dan sesamanya secara benar. Sebaliknya, mereka memanipulasi Tuhan dengan sikap oportunis dan tidak memedulikan sesama sesuai dengan hati Tuhan.
    Terkait dengan hal ini kita harus memahami mengenai price and value (harga dan nilai).  Price adalah harga, yaitu suatu ukuran yang diberikan kepada sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Sedangkan value atau nilai menunjuk kepada kandungan isi atau kadar kualitas pada sesuatu tersebut. Hampir semua manusia, termasuk orang-orang Kristen pada zaman ini, memberi harga atau price kepada sesuatu berdasarkan filosofinya yang salah. Mereka memberi price atau harga pada banyak hal dengan tinggi, padahal value-nya rendah. Sebaliknya, memberi harga atau price yang rendah kepada sesuatu yang nilai kandungan atau value-nya tinggi. Pemahaman mengenai price dan value pada sesuatu sangat tergantung dari pemahaman seseorang mengenai hidup ini.
    Kalau mata pengertian seseorang tidak dicelikkan oleh kebenaran Frman, maka ia tidak dapat memberi harga yang patut kepada sesuatu dan tidak bisa mengenali value dalam kehidupan ini.  Banyak orang menjadi sesat karena semangat zaman ini. Banyak orang telah memberi harga kepada sesuatu berdasarkan selera dan kebutuhan manusia yang fasik. Dunia dan segala keindahannya dianggap sebagai nilai tertinggi. Juga kehormatan, sanjungan, dan pujian dianggap sebagai kenikmatan jiwa. Selain itu, kenikmatan dosa dalam daging dari makan minum yang tidak proporsional sampai seks telah terbiasa menjadi irama hidup. Yohanes menyebutkan sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17).
    Harus jujur diakui banyak orang Kristen hidup dalam belenggu zaman ini, tetapi mereka tidak menyadarinya. Tuhan Yesus menyebut mereka sebagai orang yang letih lesu dan berbeban dan berat (Mat. 11:28-29). Pada umumnya manusia terus-menerus berusaha menemukan kebahagiaan hidup sebagai perhentiannya. Karena tidak mengenal kebenaran, maka mereka menemukan perhentian yang salah. Hal itu membelenggu mereka, sampai tidak bisa melepaskan diri sendiri dari belenggu tersebut. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dimaksudkan untuk melepaskan umat pilihan dari belenggu tersebut. Untuk ini yang dibutuhkan adalah pengertian yang terus-menerus harus dibaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa kebenaran-Nya memerdekakan (Yoh. 8:31-32).
    Sebagai umat yang dicelikkan terhadap kebenaran, kita harus memandang bahwa segala sesuatu yang kita miliki di bumi ini adalah m...
    0 min
  • Ilah Zaman Ini
    Dalam suratnya Paulus menunjuk adanya ilah zaman ini: Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4). Ilah zaman ini menunjuk kepada semangat atau gairah zaman yang menguasai sebagian besar manusia pada zaman itu. Ilah di sini sama dengan allah atau berhala. Pada dasarnya berhala sama artinya dengan allah, yang arti sempitnya adalah objek yang disembah dan dipuja. Kalau objek itu adalah Tuhan semesta alam, maka disebut sebagai Allah tetapi kalau objek yang disembah bukan Allah yang benar, maka disebut berhala. Jadi, siapakah allah bagi seseorang dialah berhalanya atau siapakah berhala seseorang dialah allahnya. Dalam hal ini berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang melakukan pengabdian atau pelayanan.
    Dalam arti luas, berhala adalah sesuatu atau satu pribadi yang dianggap paling berharga, sebab mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan, keuntungan, dan keamanan. Tentu saja berhala bagi seseorang adalah pusat kehidupan di mana seseorang bergantung dan jiwanya melekat. Seseorang tidak akan merasa lengkap tanpanya. Kehidupan ini akan menjadi sepi dan kosong tanpanya. Dengan demikian seseorang tidak bisa hidup tanpanya. Dalam hal ini berhala atau allah adalah kelengkapan hidup yang mutlak harus ada. Allah atau berhala adalah pasangan hidup setiap individu orang beragama.
    Kalau seseorang menjadikan Pribadi Tuhan semesta alam sebagai Allah, maka seseorang tidak bisa menikmati apa pun tanpa persekutuan dengan Dia, artinya tanpa hidup dalam keharmonisan dengan Dia. Dia adalah Pribadi yang bisa membahagiakan jiwa manusia. Dengan demikian Tuhan adalah Pribadi yang bisa dinikmati.  Berbeda dengan kuasa jahat yang hanya bisa memberi kebahagiaan atau kesenangan dengan menggunakan fasilitas materi dunia ini, sebab kuasa gelap atau Iblis sendiri tidak dapat dinikmati. Iblis bisa menyenangkan jiwa manusia dengan berbagai fasilitas sehingga manusia tidak merasa membutuhkan Tuhan, sampai jiwanya tidak dibiasakan menikmati Tuhan, sampai tidak akan pernah bisa menikmati-Nya. Dengan demikian, kalau seseorang bisa menikmati dunia ini tanpa persekutuan dengan Tuhan, berarti ia tidak menjadikan Tuhan semesta alam sebagai Allahnya. Itu berarti menyembah iblis.
    Ditinjau dari standar umat Perjanjian Baru, bangsa Israel sebenarnya memberhalakan kemakmuran, kejayaan, dan kenikmatan dunia ini. Mereka berurusan dengan Allah Yahwe karena hendak mendapatkan kemakmuran jasmani. Tetapi tentu saja bangsa Israel tidak bisa dikenai ukuran kebenaran yang harus dikenakan oleh umat Perjanjian Baru. Sikap hidup mereka masih bisa ditolerir. Seperti yang dikemukakan di atas berkenaan dengan keberhalaan, bahwa yang bermain adalah sikap batiniahnya. Hendaknya kita tidak berpikir, bahwa hanya orang yang pergi ke dukun atau mempunyai jimat yang dianggap sebagai memiliki berhala dan bersikap durhaka kepada Tuhan. Walaupun seorang Kristen tidak pergi ke dukun, tetapi kalau kesenangan hidupnya tertumpu pada objek tertentu, maka itulah berhalanya. Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi mengenai orang-orang yang tuhannya adalah perut mereka sendiri. Di sini, allah mereka adalah kepuasan duniawi.
    Sebenarnya banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka masih memiliki banyak berhala. Tetapi mereka merasa tidak memberhalakan sesuatu, hanya karena mereka merasa berurusan dengan Tuhan sebagai orang yang beragama dan mengambil bagian dalam pelayanan. Seharusnya, untuk menjadikan Tuhan semesta alam sebagai Allah, seseorang harus melepaskan semua yang dipandang dapat menjadi allah. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah. Tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh, pasti bisa.
    Sesungguhnya keterikatan dengan dunia ini adalah suatu perhambaan,
    0 min
  • Satu-satunya Kebahagiaan
    Di zaman ini, manusia sudah terbiasa membangun kebahagiaannya oleh kekuatan materi atau kekayaan dunia. Filosofi ini telah meracuni juga banyak orang Kristen dan para rohaniwan. Kita semua juga pernah menjadi korban dari filosofi yang sesat tersebut. Akibat dari filosofi tersebut belumlah tuntas dalam kehidupan kita hari ini. Tanpa kita sadari, cara berpikir kita masih sering terpengaruhi oleh filosofi yang salah tersebut. Kalau kita tidak berjuang sungguh-sungguh untuk mengenakan cara berpikir yang baru, yaitu pikiran dan perasaan Kristus, maka cara berpikir yang sesat tersebut bisa menggagalkan proses menuju kesempurnaan atau menjadi serupa dengan Yesus.
    Biasanya orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman, tidak ada ancaman, atau karena keinginannya dipuaskan, serta cita-citanya tercapai. Inilah pengertian kebahagiaan yang dipahami oleh hampir semua manusia. Sebenarnya, kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang hidup. Kalau cara pandang hidup sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu yang menjadi target tersebut.  Kebahagiaan seseorang menjadi sangat relatif, artinya tergantung persepsi seseorang mengenai apa kebahagiaan itu dan cita rasa jiwa yang biasa dialami atau dinikmati setiap hari. Melalui berbagai sarana (baik yang didengar, dilihat, dan dialami) atau pengalaman hidup, filosofi manusia terbentuk dalam memandang apa yang dapat membahagiakannya.
    Zaman ini mengkondisikan manusia untuk memiliki kebahagiaan yang ditopang dan ditentukan oleh materi kekayaan dunia dengan segala hiburannya. Tidak dapat dibantah, di dunia yang materialistis ini, pikiran manusia diarahkan untuk mengakui bahwa uanglah sumber kebahagiaan. Dunia juga mengkondisikan manusia untuk merasakan betapa hebat kekuatan uang dan nyata dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi hampir semua orang. Dengan demikian, banyak orang diarahkan untuk menjadikan uang sebagai kebahagiaannya. Seseorang yang sumber kebahagiaannya adalah uang akan menjadikan uang  sebagai tujuan hidup. Ia akan berpikir bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, maka ia merasa semakin memiliki kebahagiaan. Cara berpikir ini juga telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, sehingga mereka juga tertawan oleh filosofi tersebut.
    Kalau seorang Kristen mengandalkan kekayaan dunia dan segala hiburannya sebagai kebahagiaannya, maka ia tidak pernah bisa berurusan dengan Tuhan secara benar. Mereka adalah orang-orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya. Tentu saja mereka tidak dapat diubah oleh Tuhan. Ini berarti keselamatan tidak pernah terwujud dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya, inilah yang diupayakan oleh kuasa kegelapan agar keselamatan tidak pernah terwujud dalam kehidupan umat pilihan. Dalam hal ini Iblis bisa menyusup dalam gereja, melalui mimbar-mimbarnya mengajarkan teologi kemakmuran yang mengarahkan manusia kepada filosofi bahwa Tuhan bukan satu-satunya kebahagiaan hidup. Dengan demikian, jemaat terparkir di dunia sehingga tidak mengalami keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Mereka terseret oleh zaman ini sehingga tidak pernah dapat menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Mereka tidak pernah mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bagi orang percaya.
    Orang Kristen yang tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaannya tidak pernah menjadi mempelai Kristus (2Kor. 11:2-3). Ini berarti mereka menjadi orang yang tidak setia kepada Tuhan. Di mata Tuhan, mereka dinilai sebagai orang-orang yang bersahabat dengan dunia ini. Padahal persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Dengan tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, maka seseorang bukan saja gagal menikmati damai sejahtera Tuhan, tetapi juga membinasakan dirinya. Orang-orang Kristen seperti ini, sudah pasti gagal untuk mencapai keadaan berkodrat Ilahi atau mengambi...
    0 min
  • Perasaan Terlindungi
    Salah satu yang mengikat kehidupan manusia zaman sekarang ini, yang juga menjadi salah satu semangat atau gairah zaman, adalah perasaan terlindungi dan bahagia yang ditopang oleh kekayaan dunia. Zaman sekarang ini, hampir semua orang berfilosofi demikian, bahwa materi yaitu uang menentukan segala hal, termasuk perasaan terlindungi dan menikmati kebahagiaan hidup. Mereka merasa terlindungi dan menikmati kebahagiaan kalau uangnya banyak. Itulah sebabnya, kemiskinan merupakan hantu yang paling menakutkan bagi mereka, sebab orang miskin dianggap tidak aman dan tidak bahagia. Dengan filosofi tersebut maka segala usaha dan kegiatan hanya ditujukan untuk mengumpulkan uang demi memiliki perasaan terlindungi dan menikmati kebahagiaan. Cara berpikir ini pasti mempengaruhi hidup semua orang di seluruh dunia, termasuk orang-orang Kristen. Akhirnya, perasaan terlindungi dan menikmati kebahagiaan sudah menjadi gaya hidup manusia pada umumnya.
    Perasaan terlindungi dan bahagia tersebut baru disadari sebagai fantasi pada waktu ada perang, keadaan kacau karena terorisme, dan suasana kacau karena adanya suatu huru-hara lainnya.  Kejahatan dan kekejaman manusia tidak bisa ditanggulangi dengan uang. Demikian pula, pada waktu ada di dalam pesawat yang mengalami kecelakaan di posisi belasan kilometer di atas bumi. Betapa pun canggihnya peralatan elektronik pesawat, tidak akan dapat mengalahkan ganasnya alam atau cuaca yang sedang bergolak. Juga pada waktu dokter menyatakan bahwa tidak ada lagi obat atau peralatan medis apa pun yang dapat menyembuhkan suatu penyakit, maka penderita penyakit barulah menyadari betapa tidak berdayanya manusia. Uang juga menjadi tidak berarti sama sekali ketika manusia menghadapi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, angin topan, dan lain sebagainya. Ketika manusia menghadapi bencana alam kita disadarkan betapa kecilnya manusia dan betapa tidak berartinya uang atau kekayaan kita.
    Banyak orang tidak berpikir serius bahwa suatu saat pasti mereka ada di pembaringan terakhir. Ini adalah keadaan yang paling kritis dan krisis dalam sejarah kehidupan seseorang. Sebab dalam keadaan di ujung maut tersebut, tidak ada yang dapat menemaninya, apa pun dan siapa pun. Ia akan ada di kesendirian yang menggetarkan. Keadaan yang paling mengerikan adalah akhir sejarah dunia nanti. Firman Tuhan mengatakan bahwa pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap (2Ptr. 3:10).  Bumi ini akan menjadi lautan api yang luar biasa dan sangat mengerikan. Pada waktu itu tidak ada yang dapat menopang manusia. Harta atau uang sama sekali tidak berarti.  Semua contoh yang ditunjukkan di atas menunjukkan betapa tidak berartinya kekuatan kekayaan dunia atau uang.
    Terkait dengan hal tersebut Firman Tuhan mengatakan: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12). Pernyataan Firman Tuhan ini menunjukkan agar kita lebih memedulikan keselamatan jiwa kita dari segala hal. Tuhan merencanakan keselamatan atas semua umat manusia, yaitu bagaimana mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Tuhan hanya memiliki rencana ini, tidak ada rencana lain.  Orang yang tidak masuk dalam rencana ini tidak layak dilindungi, baik di bumi hari ini apalagi di kekekalan. Orang yang mencari kekayaan dunia untuk membangun perasaan terlindungi dan kebahagiaan, adalah orang-orang yang menolak rencana Allah. Mereka malah tidak terlindungi dan pasti binasa. Mereka pasti memberhalakan kekayaan.
    Sebagai umat pilihan kita harus hanya fokus pada keselamatan yang Tuhan sedang kerjakan atas umat pilihan-Nya. Kalau kita masuk proyek ini, maka apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini mendatangkan kebaikan bagi kita. Kebaikan itu adalah menjadi serupa dengan Yesus, yang sama artinya berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Jadi, bukan hanya berstatus sebagai anak Alah,
    0 min
  • Menolak Menyembah Iblis
    Frase “menyembah Iblis” mengesankan sesuatu yang fatalistis, apalagi di antara komunitas orang beragama. Tetapi inilah faktanya, banyak orang beragama termasuk orang Kristen di zaman ini menyembah Iblis. Dalam Lukas 4: 4-8 terdapat fragmen mengenai Iblis yang membujuk Yesus untuk menyembah dirinya, dengan memberi umpan atau menawarkan keindahan dunia ini. Tuhan Yesus menolak dengan tegas, dan berkata agar semua makhluk ciptaan menyembah Allah.  Dari fragmen ini sudah cukup memberi kesimpulan kepada kita, bahwa mengingini dunia ini sama dengan menyembah Iblis. Hal inilah yang sekilas sukar untuk kita mengerti dan menerimanya. Tetapi demikian sesungguhnya kebenaran itu. Melihat hal ini, betapa kita harus memperhatikan jerat harta kekayaan tersebut.
    Kalau seseorang sudah cinta akan uang dan memiliki kesempatan untuk meraihnya, maka ia dapat terjerat, hal ini dapat membinasakan jiwanya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Yesus berkata: “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk. 10:24-25). Kalau seseorang sudah terjerat oleh tipu daya kekayaan, maka ia sukar untuk bertobat, dan Kekristenan orang tersebut  pasti  tidak bertumbuh (Mat. 13:22). Orang seperti itu bisa menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak pernah mengalami keselamatan, artinya tidak pernah mengalami proses dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Dalam mengantisipasi Iblis, Yesus berkata: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. Di dalam kalimat inilah terletak arti dan isi kehidupan ini. Kalau kehidupan ini tidak diisi dengan menyembah Allah dan berbakti kepada Dia saja, maka hidup ini tidak berarti sama sekali. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia dan tidak pernah hidup di dunia ini, daripada hidup tanpa memiliki arti dan isi yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus kemukakan.  Kehidupan yang tidak berarti karena tidak menyembah dan berbakti kepada Allah adalah jalan manusia menuju kebinasaan abadi. Allah tidak melestarikan kehidupan semacam ini dalam Kerajaan-Nya.
    Dari ucapan Tuhan Yesus di atas jelas bahwa penyembahan dan pengabdian kepada Tuhan adalah suatu keharusan. Setiap makhluk, termasuk manusia, harus menyembah dan mengabdi kepada Tuhan, kurang dari ini berarti tidak hidup sebagai manusia normal. Dalam hal ini sekilas Tuhan seperti Pribadi yang absolut dan otoriter. Memang, Allah adalah Allah yang berhak bertindak otoriter (bertindak berdasarkan kemauan dan kesukaan-Nya) dan Ia adalah Allah yang absolut (mutlak harus dipatuhi). Kita harus menerima realitas ini, sebab kita adalah hasil karya-Nya dan diciptakan untuk mengabdi serta melayani-Nya. Seharusnya setelah kita mengenal kebenaran dalam Injil dan menjadi anak tebusan-Nya, kita harus menyadari dan bersedia menerima bahwa seluruh hak kita telah dimiliki oleh Tuhan. Kita hanya hidup bagi Dia saja.
    Menyembah Iblis versi modern adalah ketika seseorang merasa tidak lengkap hidup tanpa memiliki berbagai fasilitas yang ada untuk kebahagiaan diri dan prestisenya atau kebanggaannya. Orang-orang seperti ini telah terpengaruhi dan terbentuk oleh semangat zaman ini. Mereka mengumbar keinginan memiliki apa yang orang lain miliki, tanpa mempersoalkan apakah hal itu demi kepentingan Tuhan atau kesenangan dan kebanggaan pribadi.  Orang yang mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini dengan fasilitas uang atau harta, pasti menyembah Iblis. Mereka adalah orang yang terikat oleh percintaan dunia, tetapi orang yang tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini dengan berbagai fasilitasnya adalah orang yang menolak menyembah Iblis. Orang yang tidak menyembah Iblis tetapi hanya menyembah Allah, menggantungkan suasana jiwanya pada Tuhan. Tuhan menjadi kebahagiaannya. Orang seperti ini dapat menyembah Tuhan dengan benar. Inilah yang harus dengan berani kita kenakan dalam hidup kita. Dengan demikian kita dapat menantang zaman.
    0 min
  • Isi Dan Makna Hidup Ini
    Menantang zaman harus dengan tindakan nyata, yaitu membangun kehidupan yang hanya di dasarkan pada menyembah dan berbakti kepada Allah saja, seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:8, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. Dewasa ini, hampir tidak ada manusia yang secara konsekuen dan konsisten mengenakan kebenaran ini. Di dalam pernyataan Tuhan Yesus tersebut, kita dapat menemukan isi dan makna hidup satu-satunya yang harus dikenakan dalam hidup orang percaya. Kalau seseorang tidak memberi isi dan makna seperti yang tertuang dalam ucapan Tuhan Yesus, maka hidupnya tidak berarti sama sekali. Kehidupan yang tidak berarti ini adalah jalan manusia menuju kebinasaan abadi. Allah tidak melestarikan kehidupan semacam ini dalam Kerajaan-Nya. Tetapi faktanya hari ini, hampir semua manusia di zaman ini tidak mengenakan kebenaran tersebut. Hampir semua manusia tidak menyembah dan berbakti kepada Allah dengan benar. Walaupun mereka beragama, tetapi mereka tidak ber-Tuhan. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen. Dengan demikian akan semakin banyak orang masuk ke dalam kegelapan.
    Kata menyembah dalam Lukas 4:8 adalah “proskuneseis”, dari akar kata proskuneo. Kata ini dalam arti sempit  bermakna “tunduk”, tetapi dalam arti luas adalah “memberi nilai tinggi”. Menyembah Allah sebenarnya bukan hanya mengenai syair lagu dan nada, tetapi menunjuk sikap batin yang menghargai Allah setiap saat dalam segala hal. Terhadap Tuhan kita harus tunduk dan hormat melebihi terhadap siapa pun. Adapun kata berbakti dalam Lukas 4:8 adalah “latreuseis”. Kata ini lebih tepat diterjemahkan:  “melayani” atau “to serve”. Kata ini berakar dari kata latreuo, yang juga digunakan Paulus dalam Roma 12:1-2, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ibadah yang sejati. Ini berarti seluruh daya dan kekuatan yang ada harus dipersembahkan untuk mengabdi kepada Tuhan; bagi kepentingan Kerajaan-Nya.
    Perlu kita memperhatikan kalimat: “hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Ini adalah kalimat penting yang harus digarisbawahi. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah harus menjadi satu-satunya objek pelayanan dan pengabdian kita. “Hanya kepada Dia sajalah…” mengisyaratkan bahwa kita harus menyembah dan berbakti hanya kepada  Allah saja. Kita tidak boleh kompromi atau menyesuaikan diri dengan cara hidup manusia di sekitar kita yang memang tidak mengenal Allah yang benar, mereka tidak menyembah dan berbakti kepada Allah.
    Kalau kelihatannya ada orang-orang Kristen pergi bergereja, tetapi mereka sebenarnya memiliki dua tuan, yaitu Tuhan dan perut mereka sendiri, maka hal ini tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang percaya. Karena sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Sekarang kita harus memastikan kepada siapa kita berbakti.  Kalimat “Hanya kepada Dia…” hendak menegaskan bahwa objek penyembahan dan kebaktian kita hanya satu, yaitu Tuhan. Hal ini akan menghindarkan kita dari sikap disorientasi; sikap yang tidak berfokus kepada Tuhan. Fokus hidup kita harus benar dan jelas, orientasi kita haruslah Tuhan, Kerajaan, dan kebenaran-Nya.
    Hidup kita harus menjadi suatu kehidupan yang dibaktikan kepada Tuhan sepenuhnya. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita lakukan harus hanya demi kepentingan-Nya. Kalau kita hanya ke gereja, itu belum berarti sudah berbakti kepada Tuhan. Kebaktian kita kepada Tuhan terbukti dalam hidup setiap hari, bukan hanya pada aktivitas ke gereja setiap minggu. Istilah kebaktian yang kita kenakan untuk liturgi gereja hari Minggu sebenarnya tidak tepat. Apa yang kita sebut sebagai kebaktian pada acara liturgi gereja sebenarnya barulah sebagian dari kebaktian kepada Tuhan.
    Seperti Yesus tegas menolak bujukan untuk menyembah dan berbakti kepada Iblis, dengan mengesampingkan perkara-perkara dunia ini, maka kita juga harus bersikap demikian. Kehidupan Tuhan Yesus merupakan teladan yang harus kita iku...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…