Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Benar-benar Menjadi Milik Tuhan
    Harus diingatkan kepada para pembicara atau para pengajar yang mengajar jemaat di mimbar gereja, agar mereka tidak sembarangan menyatakan bahwa jemaat adalah milik Kristus, tanpa menyertakan konsekuensi-konsekuensinya; yaitu konsekuensi menjadi milik Kristus. Hendaknya tidak sampai terjadi, sementara jemaat merasa milik Kristus padahal mereka masih memiliki dirinya sendiri. Kalau mereka memiliki dirinya sendiri, sedangkan dirinya terikat dengan berbagai kesenangan dunia, berarti mereka masih dimiliki oleh dunia. Secara de jure sebenarnya mereka dimiliki oleh Tuhan, tetapi secara de facto mereka masih dimiliki dunia. Mereka dimiliki dunia sebab diri mereka masih dalam keterikatan dengan materi dunia ini atau kekayaan dunia dengan segala keindahannya. Mereka ada dalam kesesatan. Dengan tindakan ini mereka sebenarnya memberontak kepada Tuhan; tidak menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Rajanya. Tidak heran kalau orang-orang seperti ini akan ditolak Tuhan pada waktunya.
    Untuk menjadi milik Kristus seseorang harus rela meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33, Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku). Orang yang tidak melepaskan diri dari segala sesuatu tidak dapat diubah Tuhan; mereka tidak dapat dimuridkan. Dimuridkan artinya dinasihati untuk diubah. Jika demikian, berarti keselamatan yang disediakan bagi mereka disia-siakan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Orang percaya yang benar, yang mengalami proses dikembalikan ke rancangan semula Allah, harus memberi segenap hidupnya bagi Tuhan. Hidup dalam kebenaran Tuhan dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi Kerajaan Surga. Inilah ciri-ciri dari orang yang dimiliki oleh Tuhan.
    Hal tersebut di atas terkait atau sejajar dengan pernyataan Paulus bahwa jemaat Roma lebih dari pemenang (Rm. 8:37). Menang di sini artinya unggul. Menang bukan dalam arti fisik, kekayaan, politis dan segala aspeknya; sebab secara hal-hal tersebut jemaat Roma tidak berarti sama sekali, mereka adalah orang-orang yang tertindas, miskin dan lemah. Menang yang dimaksud adalah menang sebagai orang-orang yang dikasihi oleh Tuhan dan memiliki janji dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini Jemaat Roma lebih dari orang-orang (penduduk Roma lainnya) yang menang atau memiliki kelebihan secara politik, kekuasaan, ekonomi dan lain sebagainya.
    Oleh sebab itu hendaknya pembicara di mimbar tidak sembarangan mengatakan atau menyatakan bahwa semua jemaat yang ada sekarang ini adalah umat pemenang, tanpa mengajarkan perjuangan yang harus dijalani seperti jemaat Roma yang telah berjuang dan setia sampai akhir. Pernyataan Paulus mengenai “lebih dari orang-orang menang”, sebenarnya ditujukan kepada jemaat Roma yang sudah teruji perjuangannya, sehingga pantas disebut demikian. Hal ini tidak bisa ditujukan kepada semua orang Kristen, tetapi hanya untuk mereka yang sudah berjuang seperti jemaat Roma. Bagaimana bisa dikatakan menang jika tanpa perjuangan?
    Menimbang hal di atas, maka hendaknya kita tidak sembarangan mengenakan ayat dalam Roma 1:6 tersebut kepada sembarang orang Kristen zaman ini. Hendaknya kita tidak sembarangan mengatakan bahwa semua orang Kristen adalah milik Kristus dan telah menjadi umat pemenang. Banyak orang Kristen yang tidak dimiliki oleh Tuhan, sebab memiliki dirinya sendiri atau dimiliki oleh dunia berhubung hati mereka tertambat pada percintaan dunia. Orang-orang Kristen seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai umat pemenang, sebab belum membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus dengan mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya bagi Tuhan.
    Fakta yang terjadi hari ini, banyak orang Kristen yang merasa mengikut Tuhan Yesus hanya oleh karena beragama Kristen dan pergi ke gereja. Tidak sedikit mereka menjadi Kristen hanya karena mencari atau mau menerima berkat jasmani (kemakmuran duniawi).
    0 min
  • Memiliki Diri Sendiri
    Sangat mudah bagi seseorang untuk mengaku sebagai milik Kristus, tetapi apakah benar dirinya benar-benar milik Kristus? Banyak orang Kristen mengaku milik Kristus, tetapi sebenarnya mereka masih memiliki dirinya sendiri. Ketika ada dalam bahaya dan masalah besar, mereka mengaku milik Kristus sebab berharap dapat memperoleh pertolongan dan campur tangan Tuhan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari , ketika tidak ada dalam bahaya atau tidak memiliki masalah berat, mereka memiliki dirinya sendiri. Ini sikap licik dan curang. Tetapi banyak orang tidak menyadarinya. Mereka memandang Tuhan sebagai alat, bukan tujuan. Sesungguhnya ini sikap orang yang tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan, yang seharusnya hanya kepada-Nya mereka mengabdi dan hidup.
    Bilamana seseorang memiliki dirinya sendiri? Seseorang memiliki dirinya sendiri ketika ia dengan tindakan sesuka hatinya sendiri menggunakan pikiran dan anggota tubuhnya demi kesenangannya. Selain itu ia merasa berhak menggunakan apa pun yang diraih dan dimiliki (gelar, pangkat, harta dan semua bakat-bakat) untuk kesenangan diri sendiri sesuai dengan seleranya. Biasanya semua yang dimiliki tersebut dijadikan sumber kebahagiaan dan kebanggaannya. Mereka pasti tidak melayani Tuhan dalam arti yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini tidak akan bersedia menderita bagi Tuhan. Mestinya orang-orang seperti ini tidak berhak mengaku milik Tuhan, sebab ia memiliki dirinya sendiri. Mereka tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh Tuhan: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).
    Selama seseorang masih terikat dengan dunia ini, yaitu membiarkan dirinya hanyut dengan keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, maka ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan (1Yoh. 2:15). Orang yang menjadi milik Kristus Yesus adalah mereka yang telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Hal penyaliban daging dengan segala keinginannya harus berangkat dari diri sendiri. Ini adalah fenomena natural, bukan adikrodati atau mistis, dan berlangsung setiap hari secara konkret melalui segala kejadian yang terjadi dalam hidup seseorang. Terkait dengan hal ini kita bisa lebih mengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan: orang yang mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Tentu salib bukan hanya dipikul, apa lagi digantung menjadi kalung, tetapi menjadi sarana seseorang disalibkan. Yang disalibkan adalah segala keinginan dan hawa nafsunya.
    Bagaimana dengan jemaat Roma yang menerima surat Paulus dalam Roma 1:16 tersebut? Tentu saja secara komunitas jemaat Roma adalah jemaat yang sangat luar biasa. Di tengah-tengah aniaya yang hebat, mereka tetap setiap mengikut Kristus. Itulah sebabnya kabar tentang kualitas iman jemaat Roma sampai tersiar luas di seluruh dunia. Tentu dunia yang dimaksud pada waktu itu dunia di mana Injil sudah diberitakan, khususnya wilayah pemerintahan Roma. Jadi, kalau mereka disebut sebagai milik Kristus adalah sangat benar; mereka sudah menjadi milik Kristus. Harus dipahami bahwa mereka bisa menjadi milik Kristus dengan benar setelah mereka membuktikan ketaaannya kepada Tuhan dan kehidupan iman kepada nama Yesus Kristus.
    Jemaat Roma adalah jemaat yang rela kehilangan segala sesuatu demi Kristus. Hal ini senada dengan yang dikemukan oleh Paulus dalam kesaksian hidupnya: … Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Flp. 3:7-8). Hanya orang-orang yang rela tidak bermilik apa pun, yang dapat memiliki Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang dimiliki Tuhan secara fakta (de facto).
    Memang secara hukum (de jure) darah Tuhan Yesus telah menebus orang percaya, sehingga mereka bukan milik mereka sendiri. Tetapi apakah pemilikan Tuhan atas mereka diakui oleh individu-individu orang percaya adalah hal yang harus diperhatikan.
    0 min
  • Undangan Yang Diresponi
    Roma 1:6 tertulis: Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Dalam tulisannya ini, Paulus menyatakan bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang dipanggil untuk menjadi milik Kristus. Kata dipanggil dalam teks aslinya adalah kletoi (κλητοὶ) dari akar kata kletos (κλητός). Dalam teks aslinya tidak menggunakan kata kerja (verb), tetapi kata sifat (adjective normal nominative masculine plural no degree). Kata kletoi berarti orang yang terpanggil atau orang yang diundang. Dari kata tersebut menunjukkan bahwa hal menjadi milik Kristus bukan sesuatu yang otomatis dapat terjadi atau berlangsung dalam kehidupan seseorang.
    Apakah seseorang dapat menjadi milik Kristus atau tidak, sangat tergantung dari masing-masing individu meresponi panggilan atau undangan tersebut. Tuhan Yesus sendiri menyatakan “banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih”. Tuhan Yesus menyatakan hal ini, ketika memberikan perumpamaan mengenai seorang raja yang mengadakan pesta perjamuan kawin (Mat. 22:1-14). Ada yang diundang tetapi tidak datang, tetapi ada yang datang namun tidak memakai pakaian pesta sehingga harus diusir keluar dari pesta perjamuan tersebut. Pengusiran atas orang yang tidak dilayakkan ikut dalam pesta tersebut, disebabkan orang tersebut tidak mengenakan pakaian pesta.
    Ternyata tidak semua orang yang diundang mau meresponi undangan raja tersebut atau bersedia untuk hadir. Bahkan yang meresponi undangan tersebut pun, berhubung tidak mengenakan pakaian pesta, tidak diperkenan untuk ikut pesta. Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta menunjuk kepada orang-orang yang kelihatannya mau menerima undangan, tetapi tidak sungguh-sungguh serius meresponinya. Raja tersebut menunjuk Tuhan Yang Mahamurah, yang mengundang orang untuk menerima keselamatan dari Dia, tetapi Tuhan tidak murahan. Sangat jelas dan tidak terbantahkan bahwa untuk bisa bersama dengan raja dalam pesta perjamuan yang diselenggarakan, seorang yang “diundang” harus mengenakan pakaian pesta. Hal ini menunjukkan bahwa panggilan tersebut “bersyarat”. Jika tidak mengenakan pakaian pesta, berarti tidak layak ada dalam perjamuan tersebut. Pakaian pesta tersebut adalah kesucian hidup. Hal ini diteguhkan oleh banyak ayat Alkitab bahwa kita harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau hidup kudus.
    Perumpamaan di atas memberi pelajaran sangat penting bahwa respon seseorang sangat menentukan apakah seseorang menerima undangan dari Tuhan atau tidak. Di ayat sebelumnya Tuhan Yesus menyatakan: Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat. 21:42-43). Pernyataan Tuhan ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi (Mat. 21:45-46). Setelah orang-orang Yahudi, khususnya imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menolaknya, maka Tuhan menyampaikan Injil kepada bangsa lain yang menghasilkan buah Kerajaan itu.
    Tuhan tidak memaksa apakah seseorang bersedia menerima undangan-Nya atau tidak; Tuhan tidak memaksa apakah seseorang mau menerima karya keselamatan dari Tuhan atau menolak-Nya. Fakta ini hendaknya tidak dipungkiri dengan pandangan bahwa Tuhan sendiri yang menentukan secara sepihak apakah seseorang mau menerima keselamatan atau menolaknya. Seakan-akan setiap individu manusia terkunci dalam takdir; takdir untuk diselamatkan atau dibinasakan. Pengajaran takdir semacam ini tidak boleh masuk dalam teologi Kristen; fatalistis. Sangat berbahaya, sebab dapat mengebiri gairah untuk menjadi milik Kristus dengan perjuangan yang proporsional. Sebagaimana halnya kalau Tuhan mengatakan: berilah dirimu didamaikan dengan Allah, berarti kita yang harus membuka hati menyambut perdamaian dari Tuhan (2Kor. 5:20).
    0 min
  • Perjuangan Dalam Tuntunan
    Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa untuk mengerti apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk ditaati sebagai isi percayanya, seseorang harus belajar atau menerima tuntunan. Pelayanan kerasulan Paulus menuntun mereka (bangsa-bangsa, juga jemaat Roma) untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan sebagai isi percayanya.  Ini menunjukkan bahwa untuk memiliki iman dalam nama Tuhan Yesus Kristus tidak sederhana. Terkait dengan hal ini, perlu dijelaskan bahwa seseorang bisa percaya dengan benar kepada Tuhan Yesus haruslah mengerti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
    Mereka yang sebelumnya tidak percaya, harus dituntun untuk mengerti Injil. Karena Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi mandat agar orang percaya memuridkan, artinya mengajarkan segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mengajarkan segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus membutuhkan waktu dan kerja keras. Di pihak lain, seseorang yang mau mengerti Firman Tuhan harus melepaskan dirinya dari percintaan dunia agar tidak terikat dengan mamon atau kekayaan dunia (Luk. 16:11). Dalam hal ini dibutuhkan tindakan konkret untuk meninggalkan percintaan dunia.
    Kalau Injil diberitakan kepada bangsa yang masih primitif, maka mereka harus diajar membaca terlebih dahulu. Kebiasaan dan cara hidup mereka yang jauh dari etika kehidupan manusia yang sudah maju, harus diubah melalui tahapan-tahapan yang ketat dan sulit. Hal ini tergantung keadaan suku-suku tersebut. Hal paralel terjadi, yaitu kalau Injil disampaikan kepada orang-orang yang berkebiasaan berbuat jahat seperti penjahat, perampok, pecandu narkoba, pekerja seks komersial dan lain sebagainya. Dibutuhkan kerja keras untuk menuntun mereka menjadi manusia yang beretika. Menuntun mereka menjadi manusia yang beretika saja sulit, apalagi menjadikan mereka seorang yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus (Mat. 5:48; Rm. 8:28-29).
    Hal yang sama terhadap mereka yang kelihatan beradab, memiliki kehidupan yang santun dan terpandang sebagai anggota masyarakat baik, tetapi sebenarnya mereka terikat dengan harta kekayaan dan haus menjadi orang yang dihormati lingkungannya. Menuntun orang-orang seperti ini juga tidak mudah. Bahkan kadang-kadang jauh lebih sulit. Apalagi kalau mereka sudah menjadi orang kaya, terhormat dan berkedudukan tinggi. Mereka sudah merasa diri mereka baik. Tidak sedikit mereka yang merasa tidak lagi membutuhkan tuntunan. Mata hati mereka tertutup terhadap kebenaran Injil yang murni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Sangat sulit bagi mereka mengikuti jejak Tuhan Yesus yang rela mengosongkan diri atau melepaskan semua hak. Pada dasarnya, sebagian besar dari mereka “tidak rela kehilangan nyawa” seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga.
    Dari pengertian terhadap isi Injil (pengajaran Tuhan Yesus) seseorang dapat memiliki “kecerdasan roh” untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Sehingga akhirnya seseorang dapat memenuhi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Inilah yang dimaksud Paulus dalam Roma 1:5, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Ketaatan yang dimaksudkan oleh Paulus tentu adalah ketaatan Tuhan Yesus yang adalah prototipe atau model hidup satu-satunya orang percaya yang harus dikenakan. Sesungguhnya inilah tujuan Injil diberitakan. Untuk hal ini Paulus berani berkata: Ikutilah teladanku.
    Jadi, sangatlah keliru kalau ada ajaran yang mengatakan bahwa seseorang yang sudah percaya kepada Tuhan tidak perlu “berjuang” untuk melakukan kehendak Allah. Mereka mengajarkan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus cukup diyakini dalam pikiran, yang mana hal itu sudah berarti bahwa mereka sudah percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang telah memikul dosa manusia. Percaya seperti ini dipandang sudah mengandung kuas...
    0 min
  • Menuntun Semua Bangsa
    Harus dipahami dengan benar bahwa orang-orang yang dipilih untuk mendengar Injil dan ditentukan hidup dengan standar menjadi kudus, tidak bercacat dan tidak bercela sebagai anak-anak Allah, tidak otomatis dapat hidup kudus dan tidak bercacat serta tidak bercela. Mereka yang ditentukan mendengar Injil dan diberi standar kekudusan tersebut tidak otomatis dapat mencapai standar kesucian tersebut. Respon individu sangat menentukan apakah seseorang benar-benar memenuhi panggilannya untuk dimuridkan atau mengerjakan keselamatan yang sama dengan menjadi umat pilihan yang terpilih. Respon itu adalah kesediaan untuk percaya dan taat kepada Tuhan Yesus. Hal ini sangat jelas tertulis dalam Roma 1:5, dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.
    Dalam teks aslinya kalimat dalam Roma 1:5 adalah di ou elabomen kharin kai apostolen eis hupakoen pisteos en pasin tois ethnesin huper tou onomatos autou (δι᾽ οὗ ἐλάβομεν χάριν καὶ ἀποστολὴν εἰς ὑπακοὴν πίστεως ἐν πᾶσιν τοῖς ἔθνεσιν, ὑπὲρ τοῦ ὀνόματος αὐτοῦ). Jika kalimat ini diterjemahkan bebas bisa tertulis demikian: melalui kami yang memperoleh anugerah dan pelayanan kerasulan (menuntun) untuk (supaya) taat kepada iman dalam nama-Nya. Kata menuntun dalam terjemahan Bahasa Indonesia sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Tetapi tidaklah keliru mencantumkan kalimat ini sebab pelayanan kerasulan yang dipercayakan Tuhan kepada Paulus memang untuk menuntun orang (bangsa-bangsa) agar taat kepada iman dalam nama Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi umat yang taat, tidak bisa terjadi secara otomatis atau dengan mudah. Dalam hal ini Paulus dan semua para rasul harus berjuang untuk menuntun mereka. Hal ini sesungguhnya sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20).
    Pernyataan Paulus dalam ayat di atas (Rm. 1:5), bahwa Paulus menjadi rasul untuk “menuntun semua bangsa supaya percaya dan taat kepada Tuhan”, menunjukkan bahwa iman bukan sesuatu yang otomatis hinggap di dalam pikiran seseorang. Sekaligus kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa iman bukan hanya diyakini dalam pikiran atau nalar, tetapi juga tindakan untuk menuruti (isi) iman itu. Itulah sebabnya harus ada tuntunan.
    Kalimat “dalam nama-Nya” artinya memahami apa yang dikehendaki oleh Tuhan terkait dengan kesediaan percaya kepada Tuhan Yesus. Kata “dalam” (nama-Nya) teks aslinya adalah huper (ὑπέρ), yang selain berarti di dalam (Ing. In), berarti bagi (Ing. for), juga berarti atas nama atau demi (in behalf of, for the sake of). Betapa salahnya kalau seseorang merasa memiliki iman hanya karena dalam aktivitas nalar saja, yaitu dengan pikiran setuju bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, padahal itu hanya meyakini atau menerima status-Nya. Mengakui status Yesus sebagai Juruselamat bukanlah berarti sudah memercayai Pribadi-Nya. Mengakui status hanya ada di dalam pikiran, tetapi memercayai Pribadi seseorang harus dalam tindakan konkret. Untuk memahami dan memiliki tindakan dari percayanya kepada Tuhan Yesus dibutuhkan tuntunan. Paulus sebagai rasul memiliki panggilan ini.
     
    Alkitab tidak mengajarkan bahwa Tuhan yang membuat sekelompok orang pasti bisa menerima Injil, sedangkan yang lain tidak dibuat untuk bisa menerimanya, berarti menolaknya. Hal ini sama dengan sekelompok manusia dibuat untuk tidak bisa menolak anugerah, sedangkan yang lain dibuat untuk tidak bisa menerima anugerah. Kalimat “supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” mengindikasikan bahwa percaya atau tidaknya mereka tergantung dari mereka sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Inilah yang dimaksud Lukas dalam Kisah Rasul 13:48 – Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Orang yang ditentukan Allah untuk hidup kekal bu...
    0 min
  • Keselamatan Bagi Semua Bangsa
    Dalam Roma 1:5 tertulis: Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Dengan perantaraan Tuhan Yesus, Paulus mendapat karunia dan jabatan dari Theos (Bapa) untuk menuntun semua bangsa. Adapun kata semua bangsa dalam bahasa Yunaninya adalah pasin tois ethnesin (πᾶσιν τοῖς ἔθνεσιν). Kata ini jelas menunjuk bahwa Injil diperuntukkan kepada semua bangsa, tidak terkecuali. Hal ini seirama dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam amanat agung-Nya, bahwa orang percaya harus memuridkan semua bangsa. Dalam teks aslinya kata “semua bangsa” dalam Matius 28:19 sama dengan yang digunakan Paulus dalam Roma 1:5 ini.
    Dari hal di atas kita memperoleh ketegasan bahwa umat pilihan Allah sesungguhnya adalah semua orang dari suku bangsa manapun yang memiliki iman seperti iman Abraham, yaitu penurutannya terhadap kehendak Allah. Bukan umat yang hidup dalam bayang-bayang hukum. Secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa zaman agama samawi (seperti agama Yahudi) telah selesai, digantikan kebenaran oleh atau dalam iman. Allah memilih umat yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Putra Tunggal-Nya. Oleh sebab itu Ia mempersiapkan sebuah umat yang layak. Mereka yang layak adalah mereka yang hidup dalam kebenaran, menuruti kehendak Bapa yang tidak hanya diwakili oleh hukum.
    Semua bangsa mengindikasikan bahwa terdapat posibilitas bagi semua orang dari bangsa manapun untuk bisa menerima Injil. Jadi tidak ada diskriminasi. Tidak dikatakan bahwa hanya orang terpilih dari bangsa-bangsa tersebut yang diselamatkan. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak menambahi dengan kalimat dan pengertian bahwa Injil diberitakan hanya untuk orang pilihan atau hanya untuk orang-orang tertentu saja, yaitu yang dipilih Tuhan untuk selamat. Tidak ada satu kata pun di ayat-ayat dalam Alkitab yang menunjukkan (walau hanya mengisyaratkan), bahwa Injil hanya diberitakan kepada orang-orang tertentu yang sudah ditetapkan untuk selamat. Penetapan Allah bahwa hanya manusia tertentu yang selamat dan yang lain binasa karena tidak terpilih, adalah ajaran yang dapat merusak bangunan iman yang murni dari Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
    Semua bangsa menunjuk semua suku bangsa beserta posibilitasnya untuk selamat, yaitu mereka yang meresponi Injil dengan benar atau yang percaya, bukan “dibuat oleh Tuhan bisa percaya”. Ini berarti terdapat kebebasan pada masing-masing individu untuk menerima atau menolak Injil. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memerintahkan, kalau ada sebuah kota tidak menerima Injil, maka orang percaya yang menginjil dapat mengebaskan debu dari kakinya (Mat. 10:14). Dari pernyataan Tuhan Yesus tersebut terdapat fakta ada orang-orang yang menolak Injil. Mereka yang menolak Injil adalah mereka yang memang berkehendak untuk menolaknya, bukan karena dikondisikan menolak Injil.
    Memang Injil tidak diberitakan kepada semua orang. Semua bangsa bukan berarti semua orang. Faktanya memang ada bagian dari bangsa-bangsa tertentu yang tidak pernah mendengar Injil. Seperti misalnya orang-orang Manado bagian dari bangsa Indonesia mendengar Injil, tetapi ada orang-orang di pedalaman Kalimantan atau Papua atau pulau-pulau lain yang tidak pernah mendengar Injil sampai mereka meninggal dunia. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka yang tidak mendengar Injil ditentukan untuk binasa. Setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Di antara mereka masih ada kemungkinan menjadi anggota masyarakat dalam dunia yang akan datang.
    Orang-orang yang mendengar Injil atau berita keselamatan memang ditentukan oleh Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Efesus 1:4-5 bahwa Tuhan yang menentukan orang-orang tertentu supaya kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Jadi, ada orang-orang yang ditentukan supaya menjadi anak-anak Allah sesuai dengan kerelaan-Nya, artinya diberi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Dalam hal ini tidak ada orang yang berhak menuntut Tuhan men...
    0 min
  • Yesus Kristus Adalah Tuhan
    Berbicara mengenai kebangkitan yang ditulis Paulus dalam Roma 1:4, harus dipahami bahwa kebangkitan Tuhan Yesus menunjukkan atau membuktikan ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa. Hal ini juga ditunjukkan dalam Ibrani 5:7, Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Kalau Tuhan Yesus tidak taat, maka Ia tidak akan dibangkitkan oleh Roh Allah. Dalam hal ini Roh Allah disebut oleh Paulus sebagai Roh Kekudusan. Roh Allah yang kudus tidak membangkitkan Yesus kalau Yesus tidak kudus sampai akhir pelayanan-Nya di kayu salib. Dengan kebangkitan-Nya, maka Ia dinyatakan secara terbuka dan resmi (to declare) bahwa Ia adalah yang menerima kuasa pemerintahan; duduk di sebelah kanan Allah Bapa.  Itulah sebabnya Paulus dengan tegas dan berani mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, Tuhan kita.
    Dengan kebangkitan-Nya, maka posisi-Nya sebagai Kristus (yang diurapi) menjadi sah. Biasanya, di Israel, yang menerima pengurapan adalah seorang raja. Dengan demikian Yesus menjadi sah menyandang gelar Tuhan.  Tuhan di sini artinya Kurios atau Sang Majikan. Dalam konteks Kekristenan Tuhan artinya “yang diberi kekuasaan untuk memerintah”. Tentu pengertian Tuhan dalam agama Kristen berbeda dengan pengertian Tuhan dalam agama samawi lainnya, seperti agama Yahudi dan Islam. Itulah sebabnya setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa segala kuasa di surga dan di bumi di dalam tangan-Nya (Mat. 28:18-20).
    Kalau dalam agama lain dikatakan tidak ada Tuhan selain Allah, tetapi bagi kita tidak ada Tuhan selain Yesus Kristus. Terkait dengan hal ini, Petrus mengatakan: Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Pernyataan Petrus bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa sebelumnya Tuhan Yesus bukan penguasa langit dan bumi. Sebelum Allah Anak turun ke bumi mengosongkan Diri-Nya, Dia adalah Penguasa yang memerintah. Firman Tuhan mengatakan bahwa pemerintahan-Nya sejak zaman dahulu kala, sejak zaman purbakala (Mik. 5:1-2). Tetapi setelah mengosongkan Diri, meletakkan seluruh kesetaraan-Nya dengan Allah, kemudian paska kebangkitan-Nya yang menunjukkan kemenangan-Nya, Ia kembali memperoleh kemuliaan atau kuasa pemerintahan tersebut.
     
    Kata “Anak Allah (Theos)” mengisyaratkan bahwa Yesus bukanlah Theos. Yesus adalah Anak dari Theos. Dari hal ini tersingkap ke-Tritunggalan Allah (Elohim). Elohim ini bagi Israel memiliki nama, yaitu Yahweh. Bahwa Elohim adalah sebuah “lembaga” di mana di dalamnya terdapat Pribadi Bapa dan Anak serta Roh Allah, yang adalah Roh Bapa sendiri, yang melingkupi jagad raya ini. Bapa adalah Theos, berbeda Pribadi dengan Logos yang adalah Allah Anak atau Anak Tunggal Bapa.
    Pernyataan Paulus bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita, merupakan pernyataan deklaratif yang menantang setiap kita untuk memposisikan diri, apakah kita bersedia menundukkan diri kepada-Nya atau tidak. Penundukan diri harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan nyata sebagai sikap mengabdi kepada Tuhan yang menyita seluruh kehidupan orang yang mengaku Dia sebagai Tuhan. Menyita seluruh kehidupan kita berarti kita rela kehilangan semua hak demi kepentingan Kerajaan Surga.
    Roh Kekudusan juga menunjuk kekudusan Pribadi Agung Anak Allah ini. Tidak ada nabi, rasul atau orang yang dianggap saleh sekaligus juga memiliki kesucian dan kebenaran seperti Yesus. Dalam moral dan semua tindakan Yesus, Ia tidak bercela sama sekali. Tidak ada sosok manapun yang dapat dibandingkan dengan Diri-Nya.  Untuk menjadi saksi kebenaran yang membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa dan Tuhan Yang Mahakudus, orang percaya harus memiliki kekudusan atau kehidupan yang tidak bercela seperti Diri-Nya. Jadi,
    0 min
  • Roh Kekudusan
    Dalam Roma 1:4 tertulis: dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Pembuktian bahwa Dia adalah Juruselamat yang benar atau sejati ditegaskan dalam Roma 1:4. Roh Kekudusan dalam teks aslinya adalah pneuma hagiosunes (πνεῦμα ἁγιωσύνης), hendak menunjuk kepada “karakter atau sifat” Roh itu. “Menurut Roh Kekudusan” artinya oleh pekerjaan Roh Allah yang kudus, Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Kata hagiosunes selain berarti holiness (kesucian) juga bisa diterjemahkan uprightness, yang artinya kejujuran.
    Kata Roh Kekudusan, yang juga berarti Roh Kejujuran, hendak menunjukkan karakter Roh yang jujur, di mana dalam kesaksian-Nya pasti benar adanya; bisa dipercayai. Jika kesaksian tersebut dikaitkan dengan kebangkitan Yesus, dapat ditegaskan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian bukanlah dongeng atau kisah yang dikarang oleh manusia. Roh Kudus yang adalah Roh Kejujuran memakai murid-murid pada awal gereja mula-mula Tuhan. Sangatlah tidak mungkin murid-murid Yesus yang berlatar belakang rakyat jelata, tidak berpendidikan dan rata-rata penakut, menjadi begitu berani menyaksikan sesuatu yang oleh karenanya mereka harus mengorbankan harta, keluarga dan nyawa mereka sendiri. Tidak mungkin demi suatu dusta, yaitu mengenai kebangkitan Tuhan Yesus, mereka mempertaruhkan nyawa dan segenap hidup mereka, yaitu seandainya Yesus tidak dibangkitkan. Tetapi yang benar memang Tuhan Yesus bangkit dari kubur. Fakta ini meneguhkan hati murid-murid untuk menyaksikannya dan tidak gentar sedikit pun mengalami aniaya yang begitu hebat, sebab mereka yakin bahwa kebangkitan Yesus memberikan kepada mereka pengharapan.
    Hal yang sangat menarik dari kesaksian murid-murid adalah mereka menyaksikan berita Injil kepada semua orang tanpa memaksa orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Tidak ada senjata seperti pedang untuk mengintimidasi orang agar menerima ajaran Injil. Tuhan Yesus mengajarkan agar orang percaya dalam menjadi saksi Kristus harus mengasihi musuh, yaitu mereka yang memusuhi, bahkan mendatangkan aniaya bagi mereka. Dalam pemberitaan Injil, atau menyebarkan ajaran Tuhan Yesus, harus dilakukan dengan kasih tanpa perang atau pertumpahan darah. Dalam hal ini Roh Kekudusan juga berarti tindakan yang kudus sesuai dengan karakter Allah yang adalah kasih. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa Injil adalah kabar baik dari Allah. Di luar Injil tidak ada pemberitaan kebenaran yang boleh diakui sebagai dari Allah.  Dan Allah yang bermartabat tidak akan memaksa orang untuk percaya. Kalau Kekristenan diajarkan dengan menggunakan pedang, pasti itu Kristen palsu. Kalau ada agama yang memaksa orang memeluk agama tertentu, maka disangsikan dan diragukan kebenarannya.
    Kata “dinyatakan” dalam Roma 1:4 (…dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati) dalam teks aslinya adalah horizo (ὁρίζω), memiliki beberapa pengertian antara lain: to define, to mark out the boundaries or limit, to determine, appoint, to declare (menentukan, menandai batas, menunjuk, menyatakan, mendeklarasikan). Kita harus memerhatikan kata “Roh kekudusan” dalam ayat tersebut yang menunjukkan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus tidak terpisah dari hal kekudusan. Kalau Yesus tidak taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka Ia tidak akan dibangkitkan. Dengan demikian, kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya menunjukkan atau mendeklarasikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa, tetapi juga Anak Allah yang kudus; taat dan menghormati Bapa secara patut. Dalam hal ini hendaknya kita tidak terpaku pada kehebatan kekuasaan Anak Allah secara supranatural, tetapi juga kekudusan-Nya sampai mati di kayu salib.
    0 min
  • Keturunan Daud
    Dalam Roma 1:3 terdapat kalimat “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud”. Kalimat ini secara tidak langsung menegaskan bahwa Yesus yang dikandung Maria, bukanlah hasil hubungan biologis antara Maria dengan Yusuf. Alkitab jelas mengatakan: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus (Mat. 1:24-25).
    Sesungguhnya Yesus adalah Anak Tunggal Bapa. Anak Tunggal Bapa ini bersama-sama dengan Bapa menciptakan langit dan bumi, sesuai dengan yang ditulis oleh Yohanes (Yoh. 1:1-3). Tetapi Yesus mengakui bahwa tanpa penyertaan Bapa Ia tidak dapat berbuat-apa.  Sebelum berinkarnasi sebagai manusia, Yesus adalah kepala pemerintahan yang pemerintahan-Nya sejak zaman purbakala, sejak zaman dahulu kala (Mik. 5:2). Yesus adalah Tuhan (majikan) yang memiliki kemuliaan sebelum dunia ada atau sebelum dunia dijadikan oleh-Nya (Yoh. 17:5).  Anak Tunggal Bapa ini telah menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17).
    Kalimat “menurut daging” mengisyaratkan dan jelas menunjukkan bahwa Yesus benar-benar mengenakan daging atau tubuh jasmaniah yang sama dengan daging atau tubuh jasmaniah kita semua yang sekarang kita kenakan. Dengan kebenaran ini, maka kita dapat membungkam pandangan yang mengatakan bahwa Yesus tidak menggunakan tubuh daging atau tubuh jasmaniah seperti kita, tetapi mengenakan tubuh maya.
    Dengan tubuh sama seperti kita, maka Ia dapat merasakan apa yang kita rasakan, sebab Ia sendiri juga mengalami pencobaan-pencobaan seperti yang kita alami. Dengan keberadaan-Nya, Yesus dapat menjadi Juruselamat yang memikul dosa manusia. Dosa dilakukan dalam daging dan harus dipikul oleh jenis daging yang sama, yaitu daging manusia; bukan dengan daging binatang. Adapun kalau di Perjanjian Lama, darah binatang yang menjadi alat penghapusan dosa, maka sesungguhnya darah binatang hanya menjadi lambang dan alat nubuatan (profetik) dari darah Anak Manusia (Yesus) yang ditumpahkan dan diremukkan di bukit Golgota. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengenakan tubuh seperti tubuh kita, agar dapat menanggung dosa yang dilakukan dalam daging.
    Aspek yang lain, dengan keadaan Yesus disamakan dengan kita, maka Ia dapat menjadi teladan bagi kita. Itulah sebabnya seperti Dia bisa menang, maka kita juga harus bisa menang, artinya sebagaimana Ia dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela, orang percaya juga dapat memiliki kehidupan yang sama seperti itu. Inilah tujuan keselamatan, yaitu agar kita menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Tuhan Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah sesuai dengan rancangan Allah semula.
    Kalimat “dari keturunan Daud” memiliki dua implikasi, pertama bahwa Juruselamat harus datang dari keturunan Abraham melalui Ishak. Itulah sebabnya dalam memperkenalkan Diri-Nya, Allah sering atau hampir selalu menyebut Diri-Nya sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab selain Ishak, Abraham juga memiliki anak lain dari hamba perempuan. Tetapi anak yang sah adalah Ishak (Gal. 4:22-26). Allah sudah menyatakan bahwa dari keturunan Abraham, semua bangsa di muka bumi ini diberkati (Kej. 12:1-3). Keturunan Abraham adalah keturunan dari Ishak dan Yakub, yaitu bangsa Israel. Dengan demikian, hal ini meneguhkan kita terhadap apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yoh. 4:22). Jadi kalau ada Juruselamat yang diperkenalkan bukan dari bangsa Yahudi, maka pasti hal itu bertentangan dengan Firman Allah yang benar.
    Implikasi kedua dari kalimat “dari keturunan Daud”, yaitu Allah sudah menyatakan bahwa sesungguhnya takhta Daud untuk selama-lamanya (1Raj. 2:45). Itulah sebabnya Yesus harus lahir dari keturunan Daud.  Dari hal ini nyata akurasi nubuat dan pernyataan Allah dalam Perjanjian Lama.
    0 min
  • Injil Yang Dijanjikan
    Dalam Roma 1:2-3 tertulis: Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud. Kata dijanjikan dalam teks aslinya adalah proepangello (προεπαγγέλλω), yang selain berarti dijanjikan sebelumnya juga berarti “diumumkan sebelumnya” (to announce before). Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa Injil, yang di dalamnya termuat berita keselamatan, adalah tujuan dari rencana Allah yang agung sejak semula atau sejak Perjanjian Lama sudah dirancang oleh Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: “Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat. 13:17).
    Dari hal ini dapat dibuktikan atau diteguhkan kebenaran mengenai keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kitab Perjanjian Lama, yang adalah kitab yang diakui sebagai Wahyu dari Allah, telah menunjukkan kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus. Kitab Perjanjian Lama menjadi bukti dan saksi kebenaran, bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Utusan Allah yang benar. Banyak orang mengaku sebagai utusan Allah, tetapi tidak ada bukti yang memverifikasi atau membuktikan kebenarannya. Dengan demikian, ia tidak sah sebagai utusan Allah. Berbeda dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus Kristus Anak Tunggal Allah diteguhkan kebenaran-Nya oleh kitab para nabi ribuan tahun sebelum Ia datang berinkarkasi menjadi manusia di bumi. Dengan demikian kebenaran Perjanjian Baru sebagai pusat pusaran atau episentrum dari isi Alkitab tidak diragukan lagi.
    Pernyataan Roma 1:2 (Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci) membuktikan bahwa keselamatan yang benar hanya melalui Tuhan Yesus Kristus; Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis. 4:12). Dalam hal ini mestinya kebenaran diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak terbantahkan. Kalau jujur dan logis, jika seseorang atau sebuah komunitas memercayai kisah Adam dan Hawa, Nuh, Abraham dan lain sebagainya yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama sebagai wahyu Allah, maka mestinya juga harus menerima apa yang dijanjikan dan ditulis mengenai keselamatan melalui Yesus Kristus yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Kalau ada komunitas yang menerima fakta adanya Adam dan Hawa, Nuh, Abraham dan lain sebagainya, tetapi menolak keberadaan Yesus sebagai Kristus, bisa dipastikan komunitas tersebut adalah antikris.
    Juruselamat atau utusan Allah yang sebelum datang ke bumi sudah dinubuatkan, menunjukkan kebenaran-Nya atau keasliannya sebagai utusan Allah yang tidak terbantahkan. Dalam hal ini Kekristenan memiliki akar yang jelas, yaitu kitab suci orang-orang Yahudi atau bangsa Israel yang dapat dipercayai sepenuhnya sebagai wahyu Allah. Kalau penulis kitab suci hanya satu orang, diragukan kebenarannya, sebab sangat subyektif. Siapa yang dapat membuktikan kebenaran wahyu yang dikemukakannya? Tetapi penulis kitab suci Perjanjian Lama lebih dari 30 orang yang berbeda rentang waktu zamannya (lebih dari 1400 tahun). Dengan demikian nubuatnya bisa dipercayai. Adapun kitab Perjanjian Baru juga ditulis oleh banyak orang, yang tulisan mereka tidak berbenturan atau kontradiksi, tetapi sinergi menunjuk Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Hal ini menunjukkan bahwa kitab Perjanjian Baru bisa dipercaya sebagai wahyu Allah yang sah. Dari hal tersebut juga nampak kecerdasan Alkitab dan akurasinya. Dengan demikian seharusnya kita yang mengerti isi Alkitab tidak akan dapat digoyahkan oleh ajaran atau agama dari sumber manapun. Sehingga kita juga harus menolak dengan tegas jika ada ajaran yang menyuguhkan adanya keselamatan di luar Yesus Kristus melalui karya salib-Nya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…