Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kualitas Hidup Yang Luar Biasa
     
    Di Perjanjian Lama, Allah masih berkenan menolerir kebaikan yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah, dan Allah juga bergaul dengan mereka yang memiliki keberadaan jauh dari standar kesucian Allah. Sebab ada “Pribadi” yang menyediakan jaminan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yaitu Allah Anak yang akan turun menjadi manusia suatu hari nanti. Ini disebut sebagai “perjanjian berkat”. Perjanjian berkat ini sudah dikatakan oleh Allah di Eden, yaitu adanya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular. Realisasi dari perjanjian berkat ini melalui Abraham yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi manusia di seluruh bumi; bahwa dari keturunan Abraham semua bangsa akan diberkati. Untuk penyelesaian dosa bagi umat Perjanjian Lama, untuk sementara waktu Allah memerintahkan menggunakan darah binatang. Ini pun sesungguhnya sebagai tindakan prophetis (nubuatan terhadap darah Yesus yang akan ditumpahkan).
    Dalam Roma 3:21 tertulis: Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi. Apa maksud kalimat dalam ayat ini? Ketika Paulus menulis bahwa tanpa hukum Taurat kebenaran Allah dinyatakan, ini berarti bahwa kebenaran dinyatakan bukan melalui melakukan hukum sebagai landasannya. Landasan pembenaran adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib. Dengan pernyataan ini Paulus mengarahkan pembaca suratnya untuk menerima proyek keselamatan yang Allah sediakan bagi manusia.  Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah bagi manusia di zaman Perjanjian Baru adalah kebenaran Allah karena iman kepada Yesus Kristus (Rm. 3:22… yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.) Iman kepada Yesus adalah penerimaan terhadap cara Allah menyelamatkan manusia dan kesediaan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu menjadi manusia yang sempurna seperti Yesus.
    Kalimat “tidak ada perbedaan” Dalam Roma 3:22 menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran dari Allah, yaitu melalui atau oleh iman kepada Yesus Kristus, adalah kebenaran yang tidak lagi membedakan umat pilihan secara darah daging atau bukan. Mengapa? Jawabnya ada di ayat 23. Dalam Roma 2:23 tertulis: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah… Sekarang yang dipersoalkan bukan lagi moral berdasarkan hukum Taurat, tetapi berdasarkan “kemuliaan Allah”, yaitu bagaimana manusia dapat memiliki kesucian seperti kesucian Allah; bermoral Allah, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Jadi, kemuliaan Allah pada manusia berbicara mengenai keadaan yang Allah rancang dan kehendaki dimiliki manusia, yaitu segambar dan serupa dengan Dia.
    Ketika Paulus mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh berdasarkan iman, bukan bermaksud Taurat menjadi tidak berharga. Juga bukan berarti perbuatan baik tidak berarti atau tidak berharga. Penjelasan yang salah mengenai dibenarkan oleh iman dapat membuat kesan bahwa Taurat tidak berharga lagi dan perbuatan baik tidak diperlukan. Hal ini menjadi penyesatan yang luar biasa, justru hal ini yang menjadi penyebab kegagalan seseorang meresponi keselamatan yang Allah sediakan.
    Harus diingat bahwa hukum Taurat itu berasal dari Allah. Hukum Taurat adalah pencerminan sebagian dari kesucian Allah yang harus dikenakan oleh umat. Dikatakan “sebagian dari kesucian Allah” artinya Allah belum mengajarkan manusia untuk sempurna seperti Diri-Nya. Hukum yang diberikan kepada bangsa Israel adalah hukum yang mengatur bagaimana manusia menjadi beradab. Tidak saling membunuh, supaya melestarikan kehidupan agar manusia tidak punah. Kalau manusia punah sebelum keselamatan dalam Yesus Kristus datang, maka keselamatan gagal diberikan kepada manusia.
    Di Perjanjian Lama Allah belum bisa menuntut manusia untuk menjadi sempurna, sebab umat di Perjanjian Lama belum memiliki fasilitas keselamatan seperti umat Perjanjian Baru. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru,
    0 min
  • Hanya Satu Jalan Penyelesaiannya
    Dalam Roma 3:19 tertulis: Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Ayat ini hendak menunjukkan, bahwa tidak seorang pun dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna (walaupun itu adalah Taurat yang belum disempurnakan). Dengan demikian, dalam satu aspek hukum Taurat justru membuktikan bahwa tidak ada seorang pun secara sempurna dapat melakukan hukum Taurat.  Dalam Roma 3:10 tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Dengan keadaan ini berarti semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
    Dalam kacamata kebenaran Allah, yaitu kebenaran sesuai dengan standar kesucian Allah, tidak seorang pun yang benar. Itulah sebabnya dikatakan bahwa semua manusia adalah pembohong, artinya berkeadaan melanggar perjanjian dengan Allah. Ini bukan berarti tidak ada manusia yang baik dalam kebaikan relatif. Masih ada kebaikan secara relatif sesuai dengan ukuran kebaikan menurut hukum yang dipahami (walaupun tentu juga tidak sempurna). Manusia masih bisa berbuat baik. Bagi orang Yahudi seperti Paulus, mereka bisa berpikir dan menganggap bahwa diri mereka bisa berkeadaan tidak bercacat. Paulus juga menyatakan bahwa ditinjau dari hukum Taurat, dirinya tidak bercela (Flp. 3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat).
    Apakah dua ayat tersebut (Rm. 3:19 dan Flp. 3:6) tidak saling bertentangan? Tentu tidak bertentangan. Roma 3:19 menunjukkan bahwa semua manusia tidak ada yang dapat melakukan hukum dengan benar atau sempurna. Ini adalah pemikiran Paulus sesudah ia mengenal Injil.  Sedangkan dalam Filipi 3:6 Paulus menyatakan bahwa dalam melakukan hukum Taurat ia tidak bercacat, artinya selalu memenuhi semua yang diperintah Taurat. Kalau dirinya memiliki kesalahan, korban penghapusan dosa dapat dilakukan. Ini berarti Paulus merasa bisa berkeadaan tidak bercacat. Ini adalah pemikiran Paulus sebelum mengenal kebenaran. Pemikiran ini juga ada dalam pikiran agama samawi seperti agama Yahudi. Itulah sebabnya mereka sangat sulit menerima keselamatan melalui karya salib yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Selain mereka sudah memiliki struktur pemikiran agama seperti tersebut, mereka juga tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Allah Anak.
    Selanjutnya dikatakan dalam Roma 3:20 Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Ayat ini dapat memiliki dua pengertian. Pertama, bahwa ternyata semua manusia telah ada dalam satu keadaan melanggar hukum. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna tanpa cacat. Hal ini menunjukkan pula bahwa manusia telah berkeadaan tidak mampu mencapai level kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Hukum Taurat menjadi bukti kegagalan manusia tersebut. Padahal rancangan Allah atas manusia adalah menjadi makhluk yang memilliki keberadaan yang segambar dan serupa dengan Allah, di mana dalam segala hal yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Level moral yang dikehendaki oleh Allah adalah level kesucian seperti kesucian Allah sendiri (1Ptr. 1:16). Dalam hal ini bisa dimengerti kalau Firman Tuhan menunjukkan bahwa kita diajar untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Orang percaya harus memiliki kesucian yang sempurna seperti Bapa di surga dan serupa dengan Tuhan Yesus yang memiliki kesucian yang berkenan kepada Allah Bapa. Allah yang berdaulat menghendaki manusia menjadi manusia seperti yang dikehendaki-Nya. Kehendak Allah mutlak harus dipatuhi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Kamu harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48).
    Kedua, bahwa dengan kegagalan manusia melakukan hukum Taurat tersebut, manusia tidak dapat dibenarkan. Manusia terbukti berbuat salah. Hukum Taurat membungkam mulut manusia,
    0 min
  • Mengenakan Taurat Yang Disempurnakan
    Dalam Roma 3:9 Paulus mengatakan: Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa. Apa maksud pernyataan Paulus dalam ayat ini? Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, kalau bangsa Yahudi, termasuk Paulus sendiri, membuktikan atau membuat kebenaran Allah semakin muncul, itu bukan karena dianggap sebagai kelebihan, sebab semua manusia sama di hadapan Tuhan. Semua manusia tidak benar (Rm. 3:10-22). Semua manusia berkeadaan tidak benar jika dibanding dengan kesucian Allah, karena semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kehilangan kemuliaan Allah artinya manusia telah terkunci dalam keadaan tidak mampu mencapai kesucian Allah. Namun demikian, walaupun manusia telah tidak berkeadaan seperti kesucian Tuhan, tetapi Tuhan tidak langsung menghakimi dan menghukumnya. Ada penebusan oleh Tuhan Yesus yang menghindarkan manusia dari kefatalan hukuman Allah (Rm. 3:24-25).
    Tuhan Yesus sebagai jalan pendamaian, artinya membuka akses manusia untuk berdamai dengan Allah, dan dapat diproses untuk bisa hidup dalam keadaan seperti kesucian Allah. Dengan demikian Allah menunjukkan kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya dengan penebusan yang diberikan melalui korban Tuhan Yesus (Rm. 3:26). Untuk itu tidak ada dasar orang percaya untuk sombong atau bermegah (Rm. 3:27). Selanjutnya, orang percaya harus meresponi anugerah Allah, yaitu untuk bertumbuh guna mencapai perkenanan Tuhan, sebab semua orang harus menghadap takhta pengadilan Allah. Dalam pengadilan tersebut masing-masing individu harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan.
    Sejak adanya korban Tuhan Yesus, maka manusia tidak lagi terikat oleh hukum (hukum Taurat). Tidak lagi bisa dinyatakan bahwa seakan-akan hanya orang Yahudi yang dapat dibenarkan karena memiliki hukum Taurat. Semua orang, baik orang Yahudi dan non Yahudi, memiliki kedudukan yang sama. Semua mereka harus mulai masuk ke dalam pembenaran oleh iman. Dalam hal ini manusia harus mulai berurusan dengan Allah yang benar secara langsung.
     
    Pembenaran oleh iman bukan berarti dengan sendirinya orang Kristen bisa menjadi benar atau dianggap benar oleh korban Kristus. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Itulah sebabnya seorang yang mengaku beriman harus hidup seperti Abraham, yaitu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Kalau orang Kristen belum hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah berarti belum beriman. Kalau orang Kristen salah memahami kata iman, seakan-akan iman hanyalah persetujuan pikiran atau aktivitas nalar, maka Kekristenannya adalah palsu. Biasanya orang Kristen seperti ini tidak berjuang untuk mencapai target atau goal sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa ketidakbenaran manusia menunjukkan atau membuat berlimpah kebenaran Allah. Dalam hal tersebut Allah menunjukkan kebenaran-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus, sehingga manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah dapat melihat dan menemukan kemuliaan Allah yang tergambar pada kehidupan Yesus. Dengan kehadiran Yesus yang menampilkan kebenaran Allah, menunjukkan betapa jauh keadaan manusia dari rancangan Allah semula. Manusia harus menyadari keadaannya yang jauh dari kesucian Allah dan selanjutnya harus bergerak untuk mencapai kesucian Allah dengan anugerah “kuasa” (Yun. exousia) yang Allah berikan (Yoh. 1:12-13).
    Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan bermaksud meniadakan Taurat (Rm. 3:31). Orang percaya dipanggil untuk melakukan Taurat yang telah disempurnakan oleh Tuhan Yesus, yang pada dasarnya menunjuk pada kesucian Allah sendiri. Misalnya membunuh itu menghabisi nyawa orang, demikian standar Taurat. Tetapi Taurat yang disempurnakan mengajarkan bahwa membenci sudah merupakan tindakan membunuh. Hal ini menunjuk kesucian Tuhan yang sempurna.
    0 min
  • Penghakiman Berdasarkan Kesucian-Nya
    Dalam Roma 5:5-6 tertulis: Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah — aku berkata sebagai manusia — jika Ia menampakkan murka-Nya?  Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia? Dari kalimat “jika Ia menampakkan murka-Nya” menunjukkan bahwa Ia belum menampakkan murka-Nya. Dari hal ini kita memperoleh kebenaran, bahwa dalam kesabaran-Nya dan kasih-Nya yang luar biasa, Allah menahan murka-Nya atas manusia yang mengingkari perjanjian dengan Diri-Nya, kemudian Ia memberi kesempatan kepada manusia untuk dikembalikan ke rancangan-Nya semula. Hal ini dimaksudkan agar Ia menemukan orang-orang yang memiliki kesucian seperti Diri-Nya. Merekalah orang yang berkenan kepada Allah.
    Selanjutnya Paulus menulis dalam Roma 3:7, Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? Sekilas ayat ini mengesankan bahwa dusta atau ketidaksetiaan (pseustes) Paulus membuat semakin nyata kebenaran Allah yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah atau menunjukkan keagungan-Nya. Apakah hal ini dapat membuat Paulus tidak perlu dihakimi? Tentu perlu. Semua manusia harus dihakimi. Maksud Paulus dengan pernyataannya tersebut adalah bahwa kalau membandingkan kebenaran Allah, nyatalah sudah bahwa manusia (termasuk diri Paulus) salah dan jauh dari kesucian Allah. Tanpa penghakiman pun sudah jelas bahwa keadaan Paulus terbukti sebagai orang berdosa. Kata berdosa dalam teks ini adalah hamartolos (ἁμαρτωλός), yang artinya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah. Dalam terjemahan lain diterjemahkan sebagai orang yang berkodrat dosa (sinful nature). Kalau sudah demikian apakah berarti manusia, termasuk Paulus, tidak perlu dihakimi lagi karena sudah nyata berkeadaan berdosa (meleset, hamartolos)? Tentu tidak, tetap harus ada penghakiman.
    Pernyataan Paulus di atas dimaksudkan agar orang percaya tidak melakukan kesalahan lagi atau agar orang percaya tidak berdosa dalam arti tidak meleset (Yun. hamartolos). Dalam hal tersebut orang percaya dipanggil untuk berjuang guna memiliki kesucian seperti kesucian-Nya. Kesucian dalam hidup orang percaya yang dikehendaki oleh Tuhan bukan hanya bermoral baik, tetapi memiliki keadaan yang tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan-Nya, seperti Dia. Penghakiman atas orang percaya adalah penghakiman berdasarkan kesucian Allah.
    Jadi perlu kembali ditegaskan bahwa pengertian “dusta” dalam Roma 3:7 bukan menipu secara umum. Sebab dalam kesaksian hidup Paulus dalam Filipi 3:6, ia menyatakan bahwa ia tidak bercela dalam melakukan hukum. Dusta di sini bukan menyatakan bahwa Paulus adala penipu dalam pengertian umum, tetapi Paulus termasuk kelompok manusia yang berkeadaan mengingkari perjanjian (Perjanjian dengan Allah) atau tidak setia, sehingga tidak mencapai standar kesucian Allah.
    Pernyataan Paulus di ayat 7 tersebut tidak bermaksud kalau Paulus mengajak orang untuk berbuat jahat, agar dengan kejahatan yang dilakukan maka kebenaran Allah atau “yang baik” dari Allah akan muncul. Paulus menulis: Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman (Rm. 3:8). Dalam ayat 7-8, ditunjukkan kepada Paulus bahwa ada orang yang menuduh Paulus menganjurkan hidup dalam dosa, sebab dengan hidup dalam dosa maka yang baik dari Allah akan muncul. Mereka salah memahami tulisan Paulus. Terhadap mereka Paulus berkata tegas: Orang semacam itu sudah selayaknya dihukum. 
    Paulus tidak menganjurkan orang hidup dalam dosa, tetapi sebaliknya, Paulus menganjurkan orang percaya untuk mencari perkenanan Tuhan dengan memiliki kehidupan yang berstandar kesucian-Nya. Kesalahan memahami tulisan Paulus juga terjadi di zaman kita sekarang. Ada orang-orang yang mengajarkan bahwa oleh iman seseorang d...
    0 min
  • Penghakiman Berdasarkan Hukum
    Selanjutnya Paulus menulis di dalam Roma 3:5 Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah — aku berkata sebagai manusia — jika Ia menampakkan murka-Nya? Apa maksud tulisannya ini? Kita mulai dengan memahami kalimat atau kata “ketidakbenaran kita”. Ketidakbenaran kita artinya ketidakmampuan kita (semua manusia) untuk mencapai kesucian Allah. Manusia telah terkunci dalam keadaan tidak mampu mencapai standar yang Allah rencanakan sejak manusia diciptakan oleh-Nya. Dalam teks aslinya kata “ketidakbenaran” terjemahan dari adikia (ἀδικία). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan unrighteousness. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Jika keadaan manusia dibanding dengan kebenaran Allah, maka tidak seorang pun manusia yang benar. Manusia bisa memiliki moral yang baik atau benar di mata manusia, tetapi tidak atau belum tentu benar di mata Allah.
    Adapun kata kebenaran dalam ayat tersebut dalam teks aslinya adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata ini digunakan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 5:20, Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kata dikaiosune ini dijadikan atau digunakan Paulus sebagai kebalikan dari kata adikia. Kebenaran di sini artinya sikap atau tindakan yang benar, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati, batin, dan pola berpikir kita.
    Kalau dikatakan bahwa “ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah” bisa berarti bahwa keadaaan manusia yang telah mengingkari perjanjian dengan Allah sangat berbeda dengan kesucian Allah. Kata “menunjukkan” dalam teks aslinya adalah sunistao (συνιστάω) yang memiliki beberapa pengertian di antaranya adalah: menunjukkan, menyetujui, meletakkan pada satu tempat bersama (maksudnya supaya berhadapan). Kata sunistao bisa berarti seperti membenturkan atau membuat berhadapan dua pihak.
    Dalam tulisannya, Paulus mengemukakan kenyataan bahwa manusia dalam keadaan tidak benar (adikia) berhadapan dengan Allah di pihak yang benar (dikaiosune). Keadaan rusak (adikia) manusia membuat keagungan kesucian (dikaiosune) Allah nampak nyata. Dengan pernyataan tersebut di aspek lain juga hendak menelanjangi keadaan manusia yang berdosa yang telah mengingkari perjanjian dengan Allah. Allah dalam keberadaan-Nya yang agung dan mulia menunjukkan atau menyingkapkan ketidakbenaran keadaan manusia.
    Jadi dengan sendirinya, jika kesucian atau keagungan Pribadi Allah dinyatakan, maka nampak nyata betapa buruknya keadaan manusia ketika dibandingkan dengan kebenaran Allah. Apakah tidak adil atau salah kalau Allah marah dan menghukum manusia? Tentu tidak. Dalam hal tersebut dinyatakan bahwa Allah memiliki alasan kalau menghukum manusia karena keadaan yang jauh dari standar kesucian Allah tersebut. Kalau seandainya Allah murka pun, tetap bisa dimengerti dan tidak merusak prinsip keadilan, sebab Ia berhak melakukan hal tersebut. Apakah kemudian Allah dengan segera murka dan menghukum manusia? Ternyata tidak. Walau Allah memiliki alasan untuk murka dan menghukum manusia. Allah mengasihi manusia dengan memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai solusi untuk melepaskan manusia dari murka-Nya. Dalam hal ini murka Allah dapat dipadamkan oleh penyelamatan atau karya salib yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.
    Selanjutnya dalam Roma 3:6 Paulus menulis: Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia? Allah mengerti bahwa manusia yang telah jatuh dalam dosa, berkeadaan jauh dari kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi Allah tidak menghukum manusia. Allah masih memberi kesempatan kepada manusia untuk diampuni dan dipulihkan; dikembalikan ke rancangan semula agar memiliki kebenaran seperti Diri-Nya. Di balik tulisannya tersebut, Paulus hendak menegaskan bahwa manusia yang tidak setia atau mengingkari perjanjian (pembohong) dalam keadaan yang telah k...
    0 min
  • Manusia Mengingkari Perjanjian
    Kita harus memahami bahwa manusia memiliki perjanjian dengan Allah. Manusia diciptakan hanya untuk melakukan kehendak Allah. Manusia tidak boleh memiliki pilihan lain selain menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Dalam hal ini manusia diciptakan dengan agenda yang jelas, bahwa manusia harus menjadi makhluk yang segambar dan serupa dengan Allah. Manusia dirancang untuk mampu bertindak seperti Allah Penciptanya, sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Tidak mungkin manusia diciptakan tanpa maksud besar dari Allah. Maksud besar Allah adalah manusia menjadi makhluk Ilahi yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu selaras dengan Allah. Di sini manusia bisa memiliki pikiran dan perasaan Allah atau cara berpikir-Nya. Oleh karena itu, sesungguhnya pada mulanya manusia dirancang dalam keadaan tidak membutuhkan hukum. Manusia tidak perlu pengaturan oleh hukum, syariat, atau peraturan. Dalam keagungannya, manusia dapat menaati dan menghormati Allah secara benar atau proporsional. Dengan demikian manusia dapat menjadi corpus delicti. Tetapi faktanya, manusia telah memberontak kepada Allah dengan melanggar larangan Tuhan. Inilah ketidaksetiaan itu. Dengan demikian semua manusia berkeadaan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
    Kata “bohong” dalam Roma 3:4 hendaknya tidak dipahami secara dangkal, yaitu dipadankan dengan kata menipu secara umum. Tindakan menipu secara umum sesungguhnya hanya gejala dari keadaan manusia yang tidak setia kepada Allah, yaitu keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Keadaan manusia seperti ini bukan berarti rusak sama sekali. Manusia masih memiliki kebaikan, tetapi kebaikan manusia tidak mencapai kesucian standar Allah. Walaupun manusia berkeadaan tidak setia, tetapi Allah tetap setia. Allah mengutus Putra Tunggal-Nya bagi keselamatan umat-Nya.
    Allah adalah benar dan semua manusia pembohong. Pembohong di sini seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa manusia telah mengingkari perjanjian dengan Allah. Inilah yang disebut ketidaksetiaan. Yang dalam bahasa Yunani Paulus menggunakan kata pseustes (ψεύστης). Adapun kalau bohong atau menipu secara umum diterjemahkan dalam beberapa kata, antara lain planos (πλάνος) yang juga diterjemahkan penyesat dan harpax (ἅρπαξ) kata yang kedua ini juga berarti rakus dan pemeras (rapacious, ravenous, a extortioner, a robber). Kalau dikatakan bahwa Allah benar artinya bahwa Allah tidak bersalah kepada manusia sama sekali dan tidak ada tindakan Allah yang bisa dikatakan sebagai ketidaksetiaan.   Sebaliknya, keadaan manusia yang tidak seperti rancangan semula atau kehilangan kemuliaan Allah karena kesalahan manusia itu sendiri, bukan karena Allah. Jadi, sangatlah keliru dan merupakan pandangan yang jahat jika menyatakan atau hanya mengesankan bahwa kejatuhan manusia  sudah ditentukan oleh Allah.
    Kata pembohong dalam Roma 3:4 adalah pseustes lebih menunjuk kepada tindakan orang yang mengingkari perjanjian atau tidak setia. Selanjutnya Roma 3:4 menulis:  Seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi”. Maksud ayat ini adalah bahwa Tuhan tidak pernah didapati bersalah atau meleset sedikit pun dalam seluruh tindakan-Nya. Kalimat “menang, jika Engkau dihakimi” menunjukkan bahwa Tuhan memiliki tatanan di dalam Diri-Nya. Dalam segala tindakan Tuhan, yaitu dalam tatanan-Nya yang sempurna, Ia tidak dapat dipersalahkan. Kata ‘menang’ dalam ayat ini terjemahan dari nikao (νικάω) yang juga berarti ‘mengungguli’ (to conquer) dan mengatasi (overcome).
    Dalam Roma 3:4 Paulus hendak menjelaskan bahwa sebagaimana Allah tetap setia, walaupun manusia telah memberontak kepada Allah sebagai bentuk pengingkaran perjanjian, tetapi Allah tetap mengasihi manusia dan mengirim Putra Tunggal-Nya, demikian pula terhadap bangsa Israel. Walaupun bangsa Israel memberontak kepada Allah, tetapi Allah masih mengakui mereka sebagai umat pilihan dan...
    0 min
  • Pengertian Pembohong
    Selanjutnya kita masuk dalam bahasan penting yaitu Roma 3:4, tertulis: … Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi”. Penting sekali untuk membahas ayat ini dengan tepat, sebab selama ini Roma 3:4 dijadikan landasan oleh banyak pemikir Kristen bahwa semua manusia telah rusak. Kalimat “semua manusia pembohong” dalam ayat ini dimengerti bahwa semua manusia sudah rusak sama sekali, juga dipahami sebagai tidak ada baiknya sama sekali pula. Dari pengertian tersebut dibangun landasan untuk membangun premis teologi yang salah. Kemudian membedakan kerusakan total dan kerusakan mutlak yang sebenarnya makin membingungkan. Kesalahan tersebut bisa merusak pengajaran mengenai keselamatan.
    Kata ‘pembohong’ dalam Roma 3:4 dipahami oleh banyak teolog bahwa keadaan manusia sungguh-sungguh sangat rusak. Mereka memandang bahwa semua manusia dipandang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Dengan pandangan ini, maka mudahlah membangun teologi bahwa manusia tidak dapat meresponi keselamatan sama sekali. Dengan demikian kelompok teolog tertentu dapat membangun premis yang tidak tepat bahwa keselamatan dapat dipahami sebagai penentuan dari Tuhan semata-mata. Manusia dipandang sebagai berkeadaan “mati’”, sehingga perlu intervensi secara penuh dari pihak di luar manusia, dalam hal ini dari pihak Tuhan. Pemikiran ini juga didasarkan pada ayat dalam Efesus 2:1 (Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu). Mereka menafsirkan kata “mati” di sini secara sembarangan, sehingga membangun premis yang salah.
    Memang tidak dapat dibantah bahwa keadaan manusia telah tidak seperti yang dikehendaki atau dirancang oleh Allah karena pemberontakan Adam dan hawa. Tetapi ini bukan berarti manusia sudah rusak sama sekali. Keadaan manusia yang jatuh dalam dosa dibanding dengan “rancangan Allah semula” sangatlah jauh; tidak dapat ditolerir sama sekali. Keadaan “rancangan Allah semula”, manusia dapat memiliki kesucian moral berstandar Allah sendiri. Jadi, keadaan manusia yang berdosa dengan rancangan Allah semula tidak dapat dibandingkan sama sekali. Rancangan Allah adalah mutlak dengan nilai absolut yang tidak boleh direduksi atau dikurangi nilainya. Tetapi manusia masih memiliki kebaikan “standar manusia” yang telah kehilangan kemuliaan Allah,  bukan standar Allah.
    Banyak orang memungut ayat dalam Roma 3:4 tanpa memperhatikan konteksnya dengan teliti dan tidak melihat teks aslinya, sehingga mereka tidak menemukan makna orisinal dan yang benar dari ayat tersebut. Memahami ayat dalam Roma 3:4 ini, kita harus menghubungkan dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 1-3: Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah. Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia? Dalam ayat-ayat ini dipersoalkan mengenai kesetiaan Allah. Allah adalah Allah yang setia, walau umat pilihan tidak setia.
    Dalam bagian lain dalam Alkitab Paulus mengatakan: Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” (2Tim. 2:13). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan memberi kesempatan manusia untuk berbalik dan bertobat. Namun demikian harus dicatat bahwa kesetiaan Allah tetap terbatas. Kalau sampai pada akhirnya seseorang atau suatu komunitas tetap tidak setia, yang artinya menolak Allah, maka Allah juga akan menolak mereka. Dalam hal ini kesetiaan Allah bukan berarti membuat Allah kompromi terhadap dosa atau menolerir kalau ada seseorang atau suatu komunitas menolak jalan keselamatan yang Allah sediakan dan tidak mau bertobat.
    Dalam Roma 3:4 dikatakan bahwa semua manusia adalah pembohong.  Kata pembohong dalam teks aslinya pseustes (ψεύστης). Kata ini tidak boleh dipahami sebagai menipu, seperti pengertian menipu secara umum. Kata pseustes memiliki beberapa pengertian,
    0 min
  • Kesetiaan Allah
    Dalam Roma 3:3 tertulis: Jadi bagaimana, jika di antara mereka (orang-orang Yahudi) ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Alkitab menunjukkan, walaupun orang-orang Yahudi tidak setia kepada Tuhan, tetapi Tuhan tetap setia. Itulah sebabnya ayat keempat menjawab: sekali-kali tidak. Walaupun bangsa Yahudi memberontak dan tidak setia, tetapi Tuhan masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi umat pilihan di zaman Perjanjian Baru. Tuhan juga tetap memelihara mereka secara ajaib dan luar biasa. Dalam sejarah kehidupan bangsa Yahudi, kita menemukan jejak Tuhan yang luar biasa.
    Sejak Israel Utara runtuh pada tahun 722 sebelum Masehi dan Yehuda runtuh pada tahun 586 sebelum Masehi, bangsa itu tidak pernah lagi memiliki kerajaan dan raja yang berdarah orang Yahudi. Kalau pada zaman Yesus ada raja Herodes, sebenarnya Herodes adalah boneka pemerintahan Roma yang dipakai untuk menguasai Yehuda dan Herodes sendiri berdarah bangsa Edom, bukan berdarah Yahudi. Tahun 70 Masehi, Jendral Titus dari Roma menghancurkan Yerusalem termasuk bait Allah, sejak itu orang-orang Yahudi diaspora; tercerai berai ke seluruh dunia. Sungguh ajaib, di akhir abad 19 dan awal 20 orang-orang Yahudi yang nyaris lenyap dari sejarah, muncul. Banyak orang-orang hebat, bankir, ilmuwan, seniman yang berdarah Yahudi bermunculan.
    Setelah perang dunia kedua tahun 1939-1945 dimana 6 juta orang Yahudi dibantai dalam peristiwa yang disebut holocaust, bangsa Yahudi memproklamirkan negaranya pada tanggal 14 Mei 1948. Bangsa-bangsa kuno di Kanaan hari ini lenyap, tetapi bangsa Israel yang pernah mengalami “diaspora” malah berhasil membangun negaranya. Hal ini menunjukkan Allah Israel adalah Allah yang memenuhi janji-Nya. Itulah sebabnya dikatakan dalam Firman Tuhan: Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang (Rm. 11:28). Namun harus dipahami, kalau kesetiaan Tuhan ini disia-siakan, maka mereka tidak akan luput dari hukuman Tuhan. Walaupun mereka umat pilihan Allah secara darah daging, yaitu keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus, maka mereka akan binasa juga.
    Aspek penting yang juga harus dipahami adalah bahwa kesetiaan Allah tidak merusak hakikat-Nya. Bukan berarti karena Allah setia, maka umat yang bersalah tidak dihukum. Dalam Roma 2 dikemukakan dengan sangat jelas bahwa hukuman pasti ditimpakan atas kejahatan, bahwa semua manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Firman Tuhan mengatakan, walaupun bangsa lain tidak disunat, tetapi kalau mereka menuruti hukum, maka mereka disebut sebagai Yahudi sejati.  Kesetiaan Allah bukan dinyatakan dalam bentuk toleransi terhadap kejahatan, tetapi terletak pada kesediaan Allah yang masih memberi kesempatan umat Israel untuk menjadi umat Perjanjian Baru. Kalau pun akhirnya mereka menolak, maka mereka juga akan dibuang (Rm. 11:21).
    Hal di atas ini memiliki implikasi yang sangat penting bagi orang percaya. Fenomena kehidupan bangsa Israel paralel dengan kehidupan orang percaya. Walaupun seseorang beragama Kristen, mengaku percaya dan melakukan kegiatan agamanya, tetapi kalau tidak hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah setiap hari dengan standar kesucian Tuhan Yesus, maka ia pun bisa ditolak Allah atau terbuang ke dalam api kekal. Dalam Matius 7:21-23 jelas sekali ditunjukkan bahwa ada orang-orang Kristen yang sudah memiliki karunia-karunia rohani, tetap tertolak sebab tidak melakukan kehendak Bapa. Terkait dengan hal ini, bisa dimengerti kalau Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab ia pun harus menghadap takhta pengadilan Allah (2Kor. 5:9-10). Usaha Paulus bukanlah usaha untuk mencari keselamatan, tetapi mengisi imannya. Harus diingat bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.
    Terkait dengan Matius 7:21-23 tersebut,
    0 min
  • Tiga Landasan Penghakiman
    Kalau kita memperhatikan dengan teliti di ayat-ayat terakhir di Roma pasal 2, Paulus berbicara mengenai penghakiman atas semua manusia. Bangsa-bangsa yang tidak memiliki hukum Taurat dihakimi menurut nurani mereka. Ternyata nurani bangsa-bangsa di luar Yahudi juga memuat kebenaran seperti yang tertulis dalam hukum Taurat. Penulisan Taurat di hati nurani mereka tentu bukan secara mistis, tetapi melalui proses pewarisan dari generasi ke generasi. Hukum yang dipahami setiap manusia pasti berasal dari satu sumber, yaitu manusia pertama Adam dan Hawa. Nenek moyang semua manusia ini menurunkan norma-norma kebajikan kepada keturunannya dan hal tersebut terus berlanjut secara estafet kepada generasi berikutnya. Selain itu, Allah yang adalah Pencipta langit dan bumi serta makhluk manusia memelihara kesetiaan-Nya dengan tidak meninggalkan perbuatan tangan-Nya.
    Allah juga berurusan dengan semua manusia di seluruh bumi ini, baik mereka yang menjadi umat pilihan maupun bukan. Kisah mengenai Yunus yang diutus Allah untuk memberi tegoran kepada Niniwe, negeri kafir non Yahudi, menunjukkan bahwa Allah juga berurusan dengan bangsa-bangsa di luar Israel. Tidak heran kalau penegakan keadilan juga terdapat pada semua bangsa di bumi. Orang-orang jahat di mana pun akan menuai apa yang ditaburnya, baik di bumi ini maupun di kekekalan. Anak yang memberontak kepada orang tua di mana pun, pasti tidak akan bahagia hidupnya. Semua fenomena ini menunjukkan bahwa Allah berurusan dengan semua bangsa di dunia ini.
    Terkait dengan hal di atas, kita mengerti bahwa Yesus mati di kayu salib bukan hanya untuk sebagian orang di muka bumi ini, tetapi untuk semua manusia yang pernah hidup di bumi ini, dari Adam dan Hawa sampai manusia terakhir nanti. Dengan adanya Juruselamat yang memikul semua dosa dunia (Yoh. 1:29), maka penghakiman bisa dilakukan. Jika tidak ada Juruselamat yang memikul dosa dunia, maka semua manusia tanpa penghakiman dan pertimbangan masuk ke dalam api kekal. Dengan adanya Juruselamat yang memikul dosa manusia, maka keberadaan diri orang tersebut yang memiliki kasih kepada sesamanya -walaupun tidak sempurna atau pasti memiliki kesalahan- dimungkinkan masuk dunia yang akan datang. Mengapa demikian? Sebab semua hukuman akibat kesalahan sudah dipikul Yesus di kayu salib. Namun demikian, kalau seseorang jahat terhadap sesama, maka ia pasti dihukum di api kekal.
    Mengenai hukum, walaupun bangsa-bangsa lain tidak memiliki Taurat yang tertulis, tetapi mereka bisa melakukan kebenaran sesuai dengan Taurat, sebab di dalam hati nurani mereka terdapat hukum itu. Itulah sebabnya, jika mereka melakukan hukum yang dipahami oleh mereka, maka mereka bisa dibenarkan. Dibenarkan di sini tidaklah sama dengan pembenaran dalam Kristus. Dalam Roma 2:13 tertulis: Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Pengertian dibenarkan dalam Roma 2:13 artinya dianggap benar dalam ukuran penghakiman berdasarkan nurani mereka. Hal ini juga dinyatakan dalam Wahyu 20:12 Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Jika dinyatakan benar, maka mereka diperkenankan masuk dunia yang akan datang.
    Kebenaran ini jelas-jelas meneguhkan pernyataan dalam banyak bagian dalam Alkitab bahwa setiap orang akan dihakimi menurut perbuatan. Perbuatan yang lahir dari keberadaan batin manusia yang menjadi dasar penghakiman. Penghakiman bukan berdasarkan iman, sebab iman tidak bisa dilihat. Iman harus dibuktikan atau dinyatakan dalam perbuatan. Kalau penghakiman bagi orang Yahudi didasarkan pada Taurat, bagi bangsa-bangsa lain didasarkan pada nurani, tetapi orang Kristen berdasarkan kesempurnaan Kristus.
    0 min
  • Meniadakan Batas
    Ketika anugerah dalam Yesus Kristus dinyatakan, maka sunat tidak memiliki nilai sakral, tetapi hanya menjadi tanda lahiriah yang membedakan bangsa Yahudi dengan bangsa lain. Sunat tidak membuat orang Yahudi menjadi lebih benar atau lebih kudus. Sunat sejati adalah sunat batin, artinya hati yang bersedia menuruti hukum (Taurat) Tuhan. Dalam hal ini kita bisa memahami mengapa Allah bisa membenarkan bangsa-bangsa lain, yang walaupun tidak memiliki atau tidak mendengar Taurat, tetapi menjadi pelakunya. Membenarkan di sini maksudnya adalah berkenan kepada mereka yang melakukan hukum (Taurat), yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Rm. 2:13-16).  Implikasi dari penjelasan ini adalah bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus meniadakan semua batas dan perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi, juga mengakhiri pola keberagamaan yang bernuansa seremonial.
    Kalau nilai jiwa orang Yahudi sama dengan nilai orang non Yahudi, maka kita juga harus mengakui bahwa nilai jiwa orang Kristen sama dengan nilai jiwa orang non-Kristen. Tuhan mengasihi semua orang dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Dalam hal ini, orang Kristen harus mengerti bahwa bukan karena menjadi Kristen maka memperoleh kemudahan masuk surga dan kemudahan mendapat perkenanan Tuhan. Dalam Roma 2:11, tertulis: Sebab Allah tidak memandang bulu. Di bagian lain dalam Alkitab juga dikatakan bahwa Allah tidak memandang muka. Itulah sebabnya Petrus menyatakan:   Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini (1Ptr. 1:17).
    Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan beragama Kristen, karena mengaku percaya Yesus, maka mereka dapat memperoleh kemudahan masuk surga dan perkenanan dari Tuhan. Padahal percaya bukan hanya berarti pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Percaya bukan hanya setuju dan menerima status Yesus sebagai Juruselamat serta semua sejarah-Nya yang tertulis di Injil. Tuhan tidak membutuhkan percaya semacam itu. Percaya seperti itu tidak berbeda jauh dengan yang dikatakan Yakobus, bahwa roh-roh jahat pun percaya bahwa Allah itu ada dan mereka gemetar (Yak. 2:19).
    Percaya yang benar itu berdampak, yaitu melakukan segala sesuatu yang diinginkan Tuhan. Gemetarnya roh-roh jahat bukanlah ekspresi iman yang benar. Ekspresi iman yang benar adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Inilah iman Abraham yang menjadi pola dan inspirasi iman orang percaya. Beriman berarti bertindak. Kalau orang Yahudi beriman berarti melakukan hukum Taurat dan melakukan ibadah penyembahan kepada Yahweh; sedangkan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah tidak bisa dikatakan beriman, tetapi bisa dibenarkan dengan melakukan hukum dalam nurani mereka. Adapun orang percaya dikatakan beriman jika hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Yesus.
    Perkenanan Tuhan atas bangsa Yahudi didasarkan pada melakukan hukum Taurat yang tertulis, sedangkan bangsa-bangsa lain didasarkan pada perbuatan baik, berdasarkan pada nurani mereka. Adapun orang Kristen didasarkan pada kehidupan yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Itulah sebabnya seorang Kristen tidak bisa dikatakan beriman sebelum benar-benar bertumbuh semakin sempurna seperti Bapa atau semakin serupa dengan Yesus. Tetapi kalau bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain mendengar Injil, maka sikap mereka terhadap Injil yang menentukan keselamatan mereka.
    Membahas ayat dalam Roma 3 akan salah kalau tidak dihubungkan dengan pasal sebelumnya. Roma 3 tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dari Roma 2, khususnya bagian-bagian akhir dari Roma 2. Roma 2 berbicara mengenai hukuman yang pasti menimpa mereka yang tidak hidup di dalam kebenaran. Tuhan memperhadapkan manusia kepada penghakiman. Untuk ini perlu dikutip beberapa ayat dalam Roma 2 tersebut yang memuat inti persoalan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…