Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Proses Kematian
    Sangatlah benar bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Perbuatan baik bagaimanapun tidak akan dapat menyelesaikan dosa-dosa yang sudah dilakukan dan yang masih dapat dilakukan. Lagi pula manusia telah hidup dalam bayang-bayang kegagalan Adam, di mana manusia hidup dalam kodrat dosa. Kodrat dosa maksudnya ketidaksanggupan manusia untuk mencapai kesucian Allah. Dan manusia memang telah tidak berkeberadaan seperti maksud tujuan manusia itu diciptakan. Jadi, ini bukan masalah perbuatan saja, tetapi masalah keberadaan (inner man) manusia yang sudah “meleset” (hamartia; ἁμαρτία). Keselamatan bukan karena perbuatan baik, bukanlah konsep yang digunakan untuk menyerang cara keselamatan yang dilakukan agama tanpa Yesus atau menyerang mereka yang berusaha mencapai keselamatan dengan perbuatan baik.
    Keselamatan bukan karena perbuatan baik merupakan kebenaran untuk menunjukkan paling tidak dua hal: pertama, bahwa hanya oleh korban Tuhan Yesus dosa dapat diselesaikan. Kedua, bahwa Tuhan tidak hanya menghendaki orang percaya memiliki perbuatan baik, tetapi harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Hendaknya kita tidak menjadikan konsep “keselamatan bukan karena perbuatan baik” menjadi alasan untuk mengijinkan perbuatan salah boleh dilakukan terus menerus atau sekali-kali. Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptis, harus berhenti berbuat dosa sama sekali, guna bertumbuh terus untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya maka dibutuhkan proses pemuridan.
    Dalam Roma 6:4 Paulus mengatakan: Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Dalam tulisannya ini Paulus menunjukkan bahwa hidup baru seseorang ditandai dengan kematiannya terhadap dosa. Jadi, sangatlah naif dan sangat menyesatkan, kalau selama ini seorang Kristen dinyatakan telah hidup baru atau bahkan dinyatakan telah lahir baru hanya karena sudah mulai berhenti berbuat pelanggaran moral umum atau sudah mulai pergi ke gereja. Padahal dosa yang dimaksud oleh Paulus dalam Roma 5 ini adalah hamartia (ἁμαρτία), yang artinya kemelesetan. Orang yang berhenti berbuat dosa berarti sungguh-sungguh tidak bercacat dan tidak bercela dalam segala hal.
    Banyak orang Kristen merasa kalau sudah dibaptis, berarti sudah hidup baru. Hal ini sering dinyatakan oleh pendeta, sehingga jemaat merasa bahwa dirinya sudah disahkan sebagai hidup baru. Dengan kesalahan konsep atau penyesatan tersebut, maka banyak orang Kristen yang sebenarnya belum hidup baru, tetapi merasa sudah hidup baru. Mereka tidak lagi melakukan perjuangan untuk mengalami proses kematian terhadap dosa. Hal inilah yang membuat orang Kristen diparkir atau berhenti di satu level yang tidak membuat mereka mengalami maksud atau tujuan keselamatan diadakan. Mereka tidak hidup dalam hidup Kekristenan yang benar.
    Baptisan adalah lambang kematian, artinya orang yang bersedia dibaptis adalah orang percaya yang bersedia meninggalkan cara atau gaya hidupnya yang tidak sesuai dengan kebenaran dan kesucian Allah. Oleh sebab itu hendaknya baptisan bukan hanya menjadi “cara atau stempel” seseorang mulai dapat dinyatakan sebagai telah hidup baru. Hidup baru seseorang hendaknya bukan karena baptisan secara teknis, tetapi kesediaan memenuhi makna baptisan itu sendiri, yaitu mati bagi dosa dan dunia, hidup sepenuhnya bagi Allah. Bagi orang kafir (non Yahudi) yang memberi diri dibaptis (tevilah) sebagai orang proselit, maka ia harus meninggalkan cara hidup kekafirannya untuk hidup dengan cara orang Yahudi. Demikian pula orang yang memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus, harus bersedia hidup dengan cara atau gaya hidup Tuhan Yesus.
    Dalam Yohanes 3:5 Tuhan Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh,
    0 min
  • Terparkir Di Wilayah Dosa
    Selanjutnya dalam Roma 6:2-3 Paulus menulis: Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Maksud pernyataan Paulus ini sangat jelas, bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan memberi diri dibaptis berarti sudah mati terhadap dosa. Mati terhadap dosa artinya tidak boleh lagi berbuat dosa sama sekali. Dibaptis dalam nama Tuhan Yesus, berarti masuk ke dalam pemakaman diri untuk tidak hidup dalam dosa. Dalam hal ini banyak orang Kristen tidak mengerti maksud baptisan. Mereka memberi diri dibaptis hanya karena merasa sudah remaja atau menjadi pemuda atau karena membutuhkan pemberkatan nikah. Dengan cara demikian mereka melecehkan arti baptisan. Baptisan yang benar adalah lambang kematian. Jika seseorang bersedia meninggalkan kesenangan dunia dan bersedia hidup suci, barulah layak dibaptis.
    Mati bagi dosa berarti tidak lagi melakukan kesalahan apa pun. Hal ini sama dengan berhenti berbuat dosa, dosa apa pun dan bagaimanapun. Ini berarti bersedia menjadi seorang yang tidak bercacat dan tidak bercela, menjadi kudus seperti Bapa di surga kudus. Dari hal ini, seseorang dapat menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus.  Dari hal ini juga, sesungguhnya orang percaya dikembalikan ke rancangan semula. Rancangan semula Allah adalah manusia segambar dan serupa dengan Allah; memiliki moral Allah sehingga hidup dalam kesempurnaan kekudusan-Nya.
    Tentu untuk hidup dalam kekudusan, tidak bisa terjadi atau berlangsung secara otomatis atau dengan sendirinya secara mudah. Seseorang harus mengambil keputusan dan bertindak untuk tidak terus menerus berbuat dosa yang sama dengan berhenti berbuat dosa sama sekali. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Pernyataan Paulus ini ditujukan kepada orang-orang yang masih mau sembarangan hidup dengan menggunakan alasan bahwa Tuhan Yesus telah memikul dosa, sehingga boleh hidup dan berbuat sesukanya sendiri dengan terus menerus berbuat dosa. Dengan berpikir demikian, maka secara tidak langsung menunjukkan seakan-akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib menjadi kesempatan berbuat dosa tanpa berisiko, atau paling tidak memicu pemikiran bahwa kalaupun masih berbuat dosa, tidak perlu takut sebab darah Tuhan Yesus menjamin penyuciannya.
    Banyak orang Kristen berpikir, sebab ada deposit -yaitu darah Yesus- maka mereka seperti mendapat jaminan penyelesaian atau sebuah “pemakluman” kalau berbuat dosa, baik dosa melanggar hukum maupun hanya sebuah kemelesetan. Hal ini menyesatkan. Tetapi faktanya dalam kehidupan orang Kristen pemikiran ini sangat kuat mengakar. Hal ini membangun kehidupan yang ceroboh, sehingga banyak orang Kristen hidup di dalam dosa. Mereka tidak menyadari kalau berkepanjangan hidup dalam dosa, maka suatu saat mereka tidak lagi dapat berbalik dan bertobat. Mereka bisa sampai pada keadaan di “titik tidak bisa balik” (point of no return).
    Dari hal di atas kemudian ditambahkan lagi dengan prinsip “keselamatan bukan karena perbuatan baik”, maka membuat banyak orang Kristen terparkir hidup dalam dosa. Mereka tidak memedulikan bagaimana memiliki kehidupan yang kudus seperti Bapa kudus. Sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mau mencapai kesempurnaan, yaitu hidup dalam kesucian Tuhan. Dari hal ini lahirlah orang-orang Kristen yang hanya beragama Kristen, tetapi tidak turut mengikuti jejak Tuhan Yesus untuk serupa dengan Dia atau sempurna seperti Bapa. Keadaan ini membuat banyak orang Kristen “meleset’ dari hidup Kekristenan yang benar, tidak sedikit yang terjebak dalam kehidupan yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia, bahkan ada yang berkeberadaan lebih jahat dari orang-orang di luar gereja. Tidak heran dengan kualitas hidup yang tidak sempurna seperti Bapa atau tidak se...
    0 min
  • Meleset Dari Kesucian Allah
    Dalam Roma 6:1 tertulis: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Kalimat ini tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya Paulus mengatakan: Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Rm. 5:19-20). Perlu diketahui bahwa kata bertekun dalam ayat ini adalah epimeno (ἐπιμένω), yang artinya to stay at or with, still to tarry, still to abide, to continue, remain, to persevere, continue (tinggal di atau dengan, masih bertahan, masih mematuhi, melanjutkan, tetap bertahan). Jadi maksud pernyataan Paulus dalam Roma 6:1 adalah bahwa jangan karena Tuhan Yesus telah memikul semua dosa manusia, maka kemudian orang Kristen bisa atau boleh hidup dan berbuat sesukanya sendiri dengan terus menerus berbuat dosa atau tetap tinggal dalam kehidupan dosa. Harus dimengerti bahwa Yesus memikul dosa kita agar kita terbebas dari hukuman dosa dan selanjutnya supaya kita tidak berbuat dosa lagi.
    Kata “dosa” dalam teks tersebut Roma 6:1 adalah hamartia (ἁμαρτία). Kata hamartia ini berarti meleset atau tidak kena sasaran. Secara etimologis, kata itu sendiri tidak memiliki unsur kejahatan atau sebuah kefatalan yang bersifat negatif, tetapi hanya berarti “meleset atau tidak mengenai sasaran”. Ini berarti setelah seseorang menerima atau percaya kepada Tuhan dan dibaptis, maka seharusnya ia tidak boleh lagi hidup dalan keadaan meleset. Jangankan hidup dalam pelanggaran moral, meleset pun tidak boleh. Ini berarti harus hidup dalam kesucian Allah sendiri, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus.
    Mempertimbangkan penjelasan di atas, bisa dipahami kalau orang seperti Paulus yang dulunya adalah seorang beragama yang sangat fanatik sampai pada kehidupan keberagamaan yang “tidak bercacat dalam melakukan Taurat” (Flp. 3:6), harus diubahkan sama sekali. Orang-orang beragama seperti Paulus memiliki kebanggaan dengan kehidupan keberagamaan tersebut dan merasa yakin bahwa agamanya yang paling benar. Di luar agamanya adalah kafir. Paulus sudah merasa diri sebagai orang saleh. Tetapi setelah mengenal kebenaran Kristus, maka ia menyadari bahwa kesalehannya masih jauh dari standar kesucian Tuhan. Ternyata dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap hukum, tetapi kemelesetan dari kesucian Allah.  
    Perubahan dalam kehidupan Paulus terjadi atau berlangsung dalam dua area, pertama, tidak lagi mengandalkan perbuatan baik menurut Taurat untuk mendapat perkenanan Allah atau mencapai keselamatan. Selain tidak ada orang yang dapat sempurna melakukan hukum Taurat, darah domba juga tidak dapat menyucikan dan membenarkan. Ini berarti membutuhkan penyelamatan oleh korban darah Anak Domba Allah, yaitu darah Tuhan Yesus Kristus. Kedua, tidak lagi memiliki target apa pun dalam kehidupan ini, bukan hanya hidup tidak bercacat menurut Taurat, tetapi tidak bercacat dalam ukuran Allah, berarti kudus seperti Allah Bapa kudus (1Ptr. 1:16), atau serupa dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:28-29) atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela (1Tes. 4:7). Dalam hal ini, kalau agama adalah jalan hidup menurut hukum, tetapi Kekristenan adalah jalan hidup menurut kesucian Allah yang tidak diwakili hukum, tetapi pikiran dan perasaan Allah sendiri. Bagi orang percaya, Tuhan Yesus adalah role model atau ukuran kesuciannya.
    Memang kematian Tuhan Yesus di kayu salib menjamin penyelesaian dosa manusia. Berapapun dan sebesar apa pun dosa yang dilakukan seseorang, Tuhan Yesus menjamin penyelesaiannya. Tuhan Yesus telah memikul semua dosa-dosa manusia di kayu salib, dari dosa Adam sampai manusia terakhir nanti. Atas dosa setiap individu, dari dosa seseorang sejak lahir sampai kemungkinan dosa yang dap...
    0 min
  • Proses Pembenaran
    Pembenaran bagi orang percaya tidak sama dengan pembenaran bagi orang di luar orang percaya. Orang-orang di luar orang percaya dibenarkan hanya sampai batas dosa-dosa mereka dipikul oleh Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat dihakimi menurut perbuatan yang standarnya adalah kebaikan secara umum. Jika didapati baik, maka mereka memperoleh kesempatan hidup di dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Dalam suratnya Paulus mengatakan: Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup (Rm. 5:8). Pembenaran di sini adalah pembenaran untuk hidup di dunia yang akan datang; bisa bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya kepada Yesus karena tidak mendengar Injil. Dalam hal ini nampak nyata keadilan Allah. Semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut karena dosa satu orang. Sekarang dalam keadilan-Nya, Allah memberi Putra Tunggal-Nya yang memikul semua dosa. Maka semua dosa manusia yang pernah lahir di bumi ini dipikul-Nya.
    Pembenaran bagi orang percaya adalah pembenaran yang disertai dengan proses dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Ini berarti seorang yang mengenal Injil, percaya kepada Tuhan Yesus menerima pembenaran disertai panggilan untuk benar-benar berkeadaan benar seperti Dia yang benar adanya. Hal ini sama dengan menjadi sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Jika orang percaya tidak masuk dalam pembenaran untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, maka berarti orang Kristen tersebut walaupun mengaku percaya Yesus, hanya masuk ke dalam pembenaran bagi orang yang tidak percaya. Pembenaran bagi orang yang tidak percaya hanya menerima pembebasan dari hukuman dosa, kemudian dihakimi menurut perbuatannya (Rm. 2:12-15)
    Harus dipahami bahwa percaya berarti menyerah kepada obyek yang dipercaya. Orang percaya berarti mengikut Tuhan Yesus atau meneladani gaya hidup-nya. Orang yang tidak semakin serupa dengan Yesus berarti tidak percaya kepada-Nya. Orang yang tidak berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus berarti tidak memberi diri masuk dalam proses pembenaran bagi umat pilihan. Terkait dengan penjelasan ini, kalimat “menjadi orang benar” dalam Roma 5:19 harus dipahami secara lengkap dan utuh (Rm. 5:19, Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar). Bagi orang di luar Kristen, mereka menjadi orang benar dalam arti dipandang benar atau dianggap benar dalam standar kebaikan umum. Allah tidak memperhitungkan kesalahan yang mereka lakukan sepanjang hidup. Allah mempersoalkan atau memperkarakan apakah mereka layak masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakatnya, yaitu jika mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri. Adapun bagi orang percaya “menjadi orang benar” berarti sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Perlu diperhatikan kata “ketaatan” dalam ayat tersebut (Rm. 5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar). Tulisan Paulus dalam ayat ini menunjukkan bahwa untuk bisa dilakukan pembenaran atas manusia, Tuhan Yesus harus melakukan perjuangan, yaitu taat kepada Bapa; taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.  Karena ketaatan Tuhan Yesus, maka semua manusia memperoleh kebebasan dari hukuman dosa. Ini sebuah perjuangan yang tidak ternilai. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, kita juga harus berjuang untuk dapat menjadi atau berkeadaan benar seperti Tuhan Yesus. Dengan demikian bagi orang percaya, proses pembenarannya harus sampai pada kesempurnaan seperti Yesus, sehingga orang percaya dapat serupa dengan Yesus; memiliki pikiran dan perasaan-Nya (Flp. 2:5-11).
    Akhirnya, Roma 5 ini ditutup dengan pernyataan Paulus sebagai berikut:  Tetapi hukum Taurat ditambahkan,
    0 min
  • Oleh Karena Satu Orang
    Paulus menegaskan suatu kebenaran dalam di Roma 5:18 bahwa Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Dalam ayat ini dikatakan bahwa semua orang beroleh pembenaran, artinya bahwa semua dosa yang dilakukan seseorang tidak lagi diperhitungkan. Kata semua dalam teks ini juga menggunakan kata pantes, yang artinya semua atau setiap. Satu hal yang harus dimengerti dan diterima bahwa Yesus mati untuk semua orang, bukan untuk sebagian orang. Lebih keliru lagi kalau dinyatakan bahwa Yesus mati hanya bagi orang yang terpilih untuk diselamatkan atau hanya untuk mereka yang ditentukan masuk surga. Dalam Yohanes 1:29 jelas sekali Firman Tuhan mengatakan:  Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Jelas sekali dikatakan “menghapus dosa dunia”, bukan sebagian dosa manusia atau sebagian dosa dunia.
    Harus dipahami bahwa pembenaran bagi semua orang tidaklah sama dengan pembenaran dalam atau oleh iman bagi umat pilihan. Umat pilihan artinya manusia yang diberi kesempatan mendengar Injil dengan benar. Pembenaran dalam Roma 5:18 menunjuk pembenaran kepada manusia di muka bumi yang dosa-dosanya dipikul oleh Tuhan Yesus. Apakah berarti semua manusia bisa secara otomatis masuk surga? Tentu tidak. Dengan kematian Tuhan Yesus di kayu salib yang memikul semua dosa manusia, maka manusia dapat diperhadapkan kepada penghakiman atau pengadilan Kristus. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, maka semua manusia meluncur ke neraka tanpa ada yang menghambat sama sekali, karena memang semua manusia telah berkeadaan berdosa. Dan setiap manusia berdosa harus dihukum.
    Dengan korban Tuhan Yesus di kayu salib, semua dosa dipikul oleh Diri-Nya. Maka yang menjadi masalah bagi mereka yang tidak mendengar Injil hanyalah keadaan diri mereka, apakah memiliki kasih terhadap sesama sehingga layak masuk dunia yang akan datang atau tidak. Keadaan diri manusia artinya kualitas karakter atau wataknya yang bertalian dengan sikap mereka terhadap sesama. Dalam Matius 25, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa orang yang mengasihi sesamanya diperkenankan masuk dunia yang akan datang dalam Kerajaan-Nya. Jika Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib, maka masalahnya bukan hanya keadaan diri mereka saja, tetapi juga semua akibat perbuatan salah yang mereka lakukan tidak ada penyelesaiannya sama sekali, ini berarti tanpa penghakiman, manusia harus masuk api kekal dengan sendirinya.
    Kasih karunia atau anugerah dalam Yesus Kristus sangat luar biasa. Kasih karunia-Nya bukan hanya untuk sebagian manusia, tetapi untuk semua manusia yang pernah hidup di dunia. Dalam Roma 5:16 tertulis: Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.  Kasih karunia atau anugerah bagi orang di luar orang percaya, sampai pada adanya penghakiman yang memungkinkan orang di luar orang Kristen masuk dunia yang akan datang. Tetapi bagi orang percaya, mereka dibenarkan bukan hanya dianggap benar walau belum benar, tetapi harus berubah sampai benar-benar berkeadaan benar, sehingga dinyatakan layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Jadi pembenaran orang percaya berproses sampai kepada kesempurnaan yang menempatkan orang percaya sebagai anggota keluarga Kerajaan, di mana Yesus menjadi yang sulung bagi mereka. Sehingga orang percaya layak dimuliakan dan memerintah bersama-sama dengan Yesus. Hal ini hanya dapat dialami oleh umat pilihan saja.
    Penjelasan di atas tidaklah bermaksud membenarkan Teologi Universalisme, yaitu bahwa semua orang pada akhirnya akan masuk surga. Universalisme tidak melihat dua aspek penting: Pertama, bahwa semua manusia bagaimanapun akan dihakimi atau diadili menurut perbuatannya. Jadi, tidak otomatis manusia yang dosanya dipikul oleh Tuhan Yesus bisa masuk surga.
    0 min
  • Untuk Semua Manusia
    Dalam Roma 5:12 tertulis: Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Kata dosa dalam teks ini adalah hamartia (ἁμαρτία), yang menunjuk ketidaktepatan atau kemelesetan. Adapun kata maut dalam teks aslinya adalah thanatos (θάνατος), yang bukan saja menunjuk kematian daging atau tubuh fisik, tetapi juga bisa berarti kematian kekal. Kata ini juga digunakan dalam Wahyu 20:14 Kemudian Maut dan Alam Maut dilemparkan ke dalam lautan api. Lautan api ini adalah kematian tahap kedua. Kata kematian dalam teks ini juga thanatos, yang menunjuk kematian kekal, yaitu terpisahnya manusia dari Allah selama-lamanya. Pelanggaran Adam mengakibatkan manusia harus mati secara daging atau fisik dan berpotensi pula untuk binasa atau terpisah dari hadirat Allah selamanya.
    Dari tulisan Paulus ini dikemukakan fakta bahwa dosa masuk dalam kehidupan manusia, sehingga manusia mengalami maut oleh karena satu orang, yaitu Adam. Oleh karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus -yaitu oleh satu orang- maka kehidupan diberikan oleh Allah. Fakta ini dapat menggiring pada pemikiran mengenai keadilan Allah, bahwa manusia juga membutuhkan satu orang yang dapat membawa manusia kepada kehidupan. Dengan demikian, bagaimanapun manusia membutuhkan satu orang yang tidak bersalah untuk menggantikan Adam. Dan yang menggantikan Adam yang gagal adalah Yesus.
    Dalam hal di atas ini, konsep keselamatan dalam Yesus mestinya tidak terbantahkan oleh agama samawi -seperti agama Yahudi- yang tidak merasa membutuhkan seorang Juruselamat. Pada umumnya agama samawi -seperti agama Yahudi- tidak membutuhkan seorang Juruselamat yang menggantikan tempat Adam. Mereka berusaha mencapai keselamatan dan perkenanan Allah dengan perbuatan baik. Padahal perbuatan baik bagaimanapun tidak ada artinya tanpa ada sosok yang menebus kesalahan manusia atau menggantikan manusia untuk memikul akibat dosa dan kesalahannya. Allah memiliki tatanan, bahwa setiap pelanggaran harus dihukum. Jika tidak demikian berarti bertentangan dengan tatanan Allah. Tatanan Allah adalah bahwa setiap kesalahan harus dihukum dan si pelaku harus menanggung akibatnya. Dalam hal ini Tuhan Yesus telah memikul dosa manusia. Binatang yang dikorbankan tidak dapat menggantikan tempat manusia.
    Maut (thanatos) telah berkuasa atau memerintah atas semua manusia sejak zaman Adam kepada zaman Musa, walaupun mereka tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Adam (Rm. 5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam…). Jadi, semua manusia yang terlahir di muka bumi ini sebagai keturunan Adam, tanpa berbuat suatu kesalahan terlebih dahulu sudah ada di dalam kekuasaan maut.
    Dalam hal tersebut dikemukakan bahwa walaupun tanpa hukum (belum ada Taurat) yang membuat manusia terverifikasi sebagai pendosa, manusia tetap sudah ada di bawah kekuasaan maut. Betapa malangnya kehidupan manusia seperti ini. Perbuatan baik dan ajaran moral sehebat apa pun tidak dapat menghindarkan manusia dari maut. Tidak ada cara penyelamatan apa pun selain perlunya pengganti Adam. Dalam hal ini manusia membutuhkan kasih karunia atau anugerah dari Allah. Yesus Kristuslah satu-satu jalan keselamatan yang menjadi anugerah bagi manusia. Dengan ini harus ditegaskan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus. Tidak ada utusan Allah dari mana pun yang dapat menanggung kesalahan umat-Nya.
    Dalam Roma 5:14 terdapat kalimat: yang adalah gambaran Dia yang akan datang. Kalimat ini bisa membingungkan, sebab terkesan tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya: Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam,
    0 min
  • Penyakit Karakter
    Selanjutnya kita mempelajari Roma 5: 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Ayat ini bisa membingungkan kalau tidak dipahami dengan benar konteks ayat tersebut. Dalam ayat sebelumnya dikatakan bahwa Kristus telah mati untuk Paulus dan jemaat Roma ketika mereka masih berdosa. Kemudian dikatakan “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah”. Secara tidak langsung ayat ini hendak mengemukakan adanya dua wilayah kehidupan. Kehidupan sebelum mengenal Yesus dan sesudah dibenarkan. Tetapi atas kedua wilayah tersebut Tuhan Yesus berkarya.
    Memang terdapat dua wilayah hidup yang hendak ditunjukkan Paulus yaitu kehidupan sebelum dibenarkan oleh Kristus dan sesudah dibenarkan. Walaupun manusia tidak mendengar Injil, Tuhan Yesus mati untuk mereka. Ini berarti mereka dapat dimungkinkan masuk dunia yang akan datang, jika sekiranya mengasihi sesama dengan benar. Hal ini sudah kita pahami dengan benar dari berbagai penjelasan sebelumnya. Tetapi sekarang kita melihat kalimat “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah”. Diselamatkan dari murka Allah. Apa maksudnya?
    Penting sekali untuk memahami kata “murka” dalam teks ini. Kata murka dalam bahasa aslinya adalah orge (ὀργή). Kata ini dalam terjemahan bahasa Inggris ada yang menerjemahkan wrath, yang artinya murka. Bahasa Indonesia mengikuti terjemahan ini (King James Version). Ada juga Alkitab bahasa Inggris yang menerjemahkan anger atau kemarahan. Kata orge sebenarnya memiliki banyak pengertian, antara lain: kemarahan, karakter, temperamen, gerakan atau agitasi jiwa, kekerasan dalam emosi. Kalau teliti memperhatikan bahasa aslinya, kata orge di sini belum tentu ditujukan kepada Allah atau mengenai keberadaan Allah (Allah yang murka), tetapi bisa menunjuk kepada kita yang berkeadaan orge. Harus teliti mengamati Roma 5:9. Dalam teks aslinya tidak ada kata Allah untuk orge. Kata ini bisa lebih ditujukan untuk kita. Yang paling menarik, kata orge berarti “disposisi alami”. Kata disposisi menurut kamus dalam ilmu kedokteran adalah kecenderungan untuk mendapatkan suatu penyakit, kelainan temperamen atau kelainan watak.
    Roma 5:9 dimaksudkan bahwa kita yang dibenarkan oleh darah-Nya, kita juga hendak diselamatkan dari kecenderungan untuk mendapatkan suatu penyakit, kelainan temperamen atau kelainan watak. Tentu penyakit di sini bukan penyakit fisik, tetapi karakter atau temperamen kita. Petrus juga berbicara mengenai korban Kristus yang dihubungkan dengan penyakit. Dalam 1 Petrus 2:24, tertulis: Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Banyak orang mengartikan penyakit di sini adalah penyakit fisik, tetapi kalau kita memperhatikan dengan teliti berdasarkan konteks, penyakit ini bertalian dengan karakter. Dalam hal ini kita bisa mengerti bahwa orang yang dibenarkan oleh darah Tuhan Yesus bukan hanya dapat diakui sebagai benar atau dianggap benar, tetapi diharapkan memiliki keadaan yang sungguh-sungguh benar, disembuhkan dari penyakit karakternya.
    Kebenaran di atas ini diteguhkan pula oleh ayat berikutnya: Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! (Rm. 5:10). Ketika kita masih seteru -berarti dalam keadaan melawan Tuhan- Tuhan telah memperdamaikan Diri-Nya dengan kita tanpa melihat keberadaan kita yang jahat. Kematian Tuhan Yesus memperdamaikan kita dengan Allah. Kemudian, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan, pasti diselamatkan oleh hidup-Nya. Ini berarti kematian-Nya memperdamaikan, adapun kehidupan-Nya menyelamatkan. Apa maksudnya?
    0 min
  • Mati Untuk Semua Orang
    Roma 5:6-8 mengatakan: Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –.  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Ayat ini mengandung kebenaran yang luar biasa yang sangat bertalian dengan keselamatan manusia pada umumnya.
    Kalimat “waktu kita masih lemah” artinya pada waktu Paulus dan jemaat Roma dalam ketidakberdayaan. Kata lemah dalam teks aslinya adalah asthenes (ἀσθενής), yang juga berarti tanpa kekuatan sama sekali. Tentu maksud kekuatan di sini tidak bertalian dengan masalah fisik atau lahiriah, tetapi bertalian dengan keselamatan atau dalam hubungannya dengan kehidupan rohani secara umum. Keadaan lemah ini bisa menunjuk keadaan di mana manusia yang hidup tanpa pengorbanan Kristus adalah manusia yang hidup tanpa pengharapan. Kematian Kristus adalah kasih karunia atau anugerah bagi semua manusia. Manusia tahu atau tidak tahu, sadar atau tidak, dosanya dipikul oleh Tuhan Yesus.
    Keadaan manusia tanpa pengharapan ini ditulis oleh Paulus dalam beberapa bagian di Alkitab. Seperti yang terdapat dalam Efesus 2:11-12, Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Petrus juga mengemukakan hal yang senada: Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1Ptr. 1:3). Dari hal ini kita peroleh kebenaran yang pasti bahwa kehidupan yang berpengharapan ada setelah Allah Anak Tuhan Yesus datang ke dunia. Tidak ada pengharapan di dalam dan melalui siapa pun, selain di dalam dan melalui Yesus.
    Tulisan Paulus bahwa Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah, menunjukkan bahwa Yesus mati bagi semua orang. Tidak disyaratkan apakah orang tersebut mendengar Injil atau tidak. Kata durhaka dalam teks aslinya adalah asebes (ἀσεβής), dalam terjemahan Inggris diterjemahkan ungodly, yang bukan saja berarti tidak rohani tetapi juga orang yang tidak bertuhan. Kata asebes juga berarti orang yang tidak menghormati Tuhan atau mengucapkan kata-kata yang tidak menghormati Tuhan. Tidak mudah mati untuk orang lain, walau mungkin seseorang bisa mati untuk orang baik. Tapi Yesus pun mati untuk orang durhaka, yaitu orang yang melawan Dia. Ini satu hal yang sangat luar biasa.
    Ditegaskan pula di ayat 8, Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Kristus mati untuk Paulus dan jemaat Roma ketika masih berdosa. Kata berdosa dalam teks aslinya adalah hamartolos (ἁμαρτωλός). Kata ini selain berarti durhaka, juga bisa juga diterjemahkan sebagai “orang yang berbakti kepada dosa”. Jadi di luar sepengetahuan Paulus, ketika ia masih belum menjadi orang percaya, walaupun ia seorang yang tidak bercacat secara hukum tetapi hidup dalam ketidaktepatan, Tuhan Yesus telah mati bagi diri Paulus dan jemaat. Ini juga berarti ketika Paulus sedang menganiaya orang Kristen, sesungguhnya Tuhan Yesus sudah mati bagi dirinya.
    Hal di atas ini menunjukkan dan membuktikan bahwa Yesus mati untuk semua manusia di muka bumi ini, entah mereka tahu atau tidak. Bahkan sesungguhnya Tuhan Yesus mati untuk semua manusia yang sudah, sedang, dan akan hidup di atas muka bumi ini.
    0 min
  • Tahan Uji Menimbulkan Pengharapan
    Dalam Roma 5:4-5 tertulis: … tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Setelah terbukti setia kepada Tuhan Yesus melewati berbagai penderitaan, maka terbentuklah atau dihasilkan pengharapan. Tentu ini bukan pengharapan kebahagiaan dari dunia. Kata pengharapan di sini dalam teks aslinya adalah elpis (ἐλπίς), yang berarti menantikan dengan percaya sesuatu yang baik. Paulus mengatakan bahwa pengharapan itu tidak mengecewakan.
    Kata mengecewakan dalam teks aslinya adalah kataiskhuno (καταισχύνω), yang artinya to dishonour, disgrace, to put to shame, make ashamed (memalukan, mencemarkan, aib). Paulus menunjukkan bahwa pengharapan itu tidak membuat malu, aib atau mencemarkan, walaupun fakta lahiriahnya mereka sungguh-sungguh dipermalukan dan dipandang rendah, seakan-akan mereka mengalami aib, yaitu ketika mereka mengalami aniaya yang hebat dari pihak penguasa Romawi, agama Yahudi, dan orang-orang kafir yang menentang mereka. Tetapi mereka malah bermegah, artinya bersukacita dan bangga dengan keadaan tersebut.
    Pengharapan itu tidak mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Pernyataan Paulus ini tidak bermaksud menganggap remeh penderitaan yang bisa membuat malu, tetapi orang percaya sebagai korban atau pelaku penderitaan tidak perlu merasa malu. Justru bisa bermegah atau bersukacita, sebab kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Orang percaya tidak merasa malu sebab orang percaya dapat menghayati diri sebagai orang-orang istimewa bagi Allah semesta alam yang mencintai diri mereka.
    Menghayati kasih Allah artinya merasakan kedudukan yang istimewa di hadapan Allah, bahwa Allah menempatkan orang percaya sebagai berharga di hadapan-Nya dan akan memberikan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Orang percaya adalah biji mata Allah. Kalau Allah mengijinkan berbagai penderitaan harus dialami orang percaya, itu bukan karena ketidakmampuan Allah membela orang percaya. Bukan pula karena Allah tidak atau kurang mengasihi umat pilihan, sehingga membiarkan dan menginginkan orang percaya menderita tanpa alasan. Penderitaan diijinkan terjadi dalam kehidupan orang percaya demi supaya orang percaya mengalami penyempurnaan. Orang yang sudah mengalami penderitaan badani dapat berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1). Aspek lain, penderitaan demi pekerjaan Tuhan mengerjakan kemuliaan kekal (Rm. 8:17-18; 2Kor. 4:17 dan lain sebagainya).
    Menghayati kasih Allah ini tidak cukup dengan perenungan, tetapi harus melalui peristiwa kehidupan konkret yang harus dijalani. Hanya orang-orang yang benar-benar telah memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah -karena hidup di dalam kesucian dan kebenaran-Nya serta menderita bagi kepentingan Kerajaan Surga- yang dapat menghayati dengan benar kasih Allah. Orang-orang yang hidup dalam dosa dan hidup hanya untuk kesenangan diri sendiri tidak layak menjadi manusia yang istimewa di hadapan Tuhan.
    Banyak orang mengaku dapat menghayati kasih Allah, tetapi sebenarnya belum sama sekali. Mereka hanya mengerti mengenai korban Tuhan Yesus di kayu salib yang menurut anggapan mereka telah secara otomatis menempatkan diri mereka menjadi istimewa di hadapan Allah. Penghayatan mereka terhadap kasih Allah hanya fantasi semata-mata, semu belaka. Dari hal ini terbangunlah Kekristenan palsu, mereka menghayati kasih Allah hanya dalam liturgi gereja. Semua berlangsung seperti sandiwara, tetapi kenyataan hidup sehari-hari tidak ada landasan untuk memiliki penghayatan tersebut dengan benar. Keberimanan mereka hanya pada keyakinan dalam nalar. Mereka pasti tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Allah setiap hari. Ciri orang Kristen seperti ini adalah tidak hidup dalam kesucian Allah, masih bisa dibahagiakan oleh dunia, membatasi kesediaannya melayani Tuhan, masih perhitungan dengan Tuhan,
    0 min
  • Tidak Ada Kemuliaan Tanpa Penderitaan
    Seseorang tidak akan menjadi orang percaya yang memiliki ketahanan, konsistensi, keteguhan, dan kesabaran tanpa mengalami penderitaan. Dengan demikian, penderitaan harus diterima sebagai kasih karunia pula, sebab tidak semua orang diperkenankan mengalami hal ini. Hanya mereka yang dipilih untuk menjadi orang-orang yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus yang diberi kesempatan menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah penderitaan yang dialami seseorang oleh karena pekerjaan Tuhan, seperti yang dialami oleh Paulus dan jemaat Kristen pada waktu itu; demi pemberitaan Injil mereka harus menderita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa penderitaan menjadi kemegahan artinya sukacita atau dihargai serta menjadi kebanggaan. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah satu kemutlakan, sebab tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan (Rm. 8:17-18). Orang yang menolak menderita berarti juga menolak kasih karunia.
    Penderitaan karena atau bersama dengan Kristus adalah sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang dapat membuat orang percaya merasa malu atau terhina. Malah sebaliknya, di dalam penderitaan demi pekerjaan-Nya, orang percaya dapat merasa bangga mengalami penderitaan tersebut. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus mengatakan: Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Flp. 1:29). Dalam hal ini Paulus menunjukkan bahwa penderitaan juga adalah karunia. Jadi percaya dan menderita bagi Tuhan adalah dua hal yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Tidak ada orang Kristen yang memiliki percaya yang benar tanpa mengalami penderitaan. Justru percaya yang benar ditandai dengan penderitaan yang pasti juga menyertainya. Di dalam percaya tersebut seseorang harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Dengan mengikut jejak Tuhan Yesus, maka tidak bisa tidak seseorang akan ditolak oleh dunia ini. Orang percaya yang konsekuen dan konsisten mengenakan an Yesus di dalam hidupnya, pasti akan mendapat tantangan dari orang-orang yang tidak memahami kehidupan mengiring Yesus.
    Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa ketekunan menimbulkan tahan uji. Kata tahan uji dalam teks aslinya adalah dokime (δοκιμή), yang artinya “terbukti atau contoh dari sebuah kelayakan” setelah mengalami atau menerima ujian. Dalam hal ini jelas, Paulus menunjukkan bahwa harus ada pembuktian melalui ujian, yaitu mengalami sengsara. Dari hal tersebut dapat dibuktikan apakah seseorang layak untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus atau tidak. Percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia sesungguhnya bukan hanya pernyataan bibir atau hanya ditunjukkan dengan menjadi orang Kristen yang datang ke gereja. Bahkan tidak cukup hanya menjadi aktivis gereja atau menjadi pendeta, tetapi terbukti melalui pergumulan dalam mempertahankan imannya dengan hidup suci dan menderita bagi Tuhan. Hal ini akan ditandai dengan jelas pada orang percaya yang benar, yaitu tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Pengharapannya adalah kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Selanjutnya sengsara atau penderitaan yang dialami orang percaya disebabkan harus “melepaskan segala sesuatu”.
    Terkait dengan hal ketekunan dalam penderitaan Tuhan Yesus menyatakan: Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Luk. 22:38-20). Kepada orang percaya yang telah membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus, Tuhan menjanjikan kuasa pemerintahan bersama dengan Diri-Nya di Kerajaan-Nya nanti. Setelah mengatakan ini, Tuhan Yesus mengingatkan Petrus yang harus ditampi oleh Iblis. Ditampi artinya dicobai dengan berbagai goncangan. Hal ini menjadi ujian yang tidak bisa dihindari.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…