Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tubuh Sebagai Korban Yang Kudus
    Lebih dari uang yang dapat kita berikan kepada Tuhan melalui kegiatan gereja, Tuhan lebih berkenan kepada kehidupan yang tidak bercacat dalam penggunaan tubuh kita ini. Kata “kudus” dalam teks aslinya di Roma 12:2 adalah hagios (αγιος). Kata ini sebenarnya memiliki pengertian “berbeda dari yang lain”. Dengan mempersembahkan tubuh sebagai korban yang kudus artinya agar dalam penggunaan tubuh, kita tidak berbuat dosa atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam 1 Tesalonika 4:7 Firman Tuhan berkata: Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Sejajar dengan 1 Tesalonika 4:7, dalam 1 Petrus 1:16 Firman Tuhan tegas berkata: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
    Kesucian tubuh, yaitu bagaimana mengelola tubuh sesuai dengan kehendak Allah haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya secara otomatis. Seberapa besar seseorang mencapai kesucian dalam tubuhnya sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang (Luk. 13:24). Di bagian lain Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Tentu pilihan ini juga berdasarkan respon seseorang. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen kalau sudah merasa percaya dan menjadi orang Kristen, maka ia merasa pasti selamat masuk surga.
     
    Secara khusus Petrus menasihati kita dengan pernyataan yang sangat jelas untuk hidup dalam kesucian Allah: Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Ptr. 1:13-16). Orang Kristen yang tidak berani hidup suci dalam penggunaan tubuhnya, berarti tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayainya. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka ia harus bersedia untuk hidup dalam kesucian dengan tubuhnya.
    Paulus dalam kesaksian hidupnya menyatakan: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Kor. 6:27). Melatih tubuh menunjukkan perjuangan Paulus untuk menjadi seorang yang berkenan kepada Tuhan, agar ia tidak ditolak oleh Allah. Paulus tidak peduli ditolak atau diterima oleh manusia (Gal. 1:9-10), tetapi ia takut ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, karena semua orang harus menghadap takhta pengadilan Allah (1Kor. 6:9-10).
    Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Tuhan yang memiliki tubuh kita secara penuh. Sebenarnya, kita tidak lagi memiliki keberhakan atas tubuh kita ini. Harus dimengerti bahwa konteks 1 Korintus 6:12-20 adalah mengenai dosa percabulan. Di dalamnya Paulus mengajar kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Untuk menjadi satu roh dengan Tuhan, tubuh kita harus kudus. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan dalam 2 Korintus 6:17-18, Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Dalam teks ini orang percaya dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang tidak sesuai kehendak Allah, sejak di dunia ini dan dalam pergaulan di bumi.
    Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita adalah Bait Roh Kudus.
    0 min
  • Tubuh Sebagai Korban Yang Hidup
    Banyak orang Kristen yang berpikir, kalau mereka sudah pergi ke gereja berarti sudah berbakti kepada Tuhan. Dalam pemikiran mereka, kebaktian di gereja mengikuti liturgi sama dengan beribadah atau berbakti kepada Tuhan secara penuh. Cara berpikir seperti ini adalah cara berpikir agama-agama kafir yang tidak mengenal kebenaran. Biasanya mereka merasa sudah beribadah kepada dewa, ilah atau allah yang mereka sembah, karena sudah menyelenggarakan suatu ritual atau seremonial. Hal ini sama dengan orang-orang Kristen yang merasa sudah berbakti kepada Tuhan hanya karena telah mengikuti liturgi dalam gereja.
    Sesungguhnya, kebaktian tidaklah demikian. Kebaktian adalah ketika seseorang mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, serta berkeadaan pola berpikir yang tidak sama dengan dunia ini (Rm. 12:1-2). Kata beribadah dalam Roma 12:1 adalah latreia (λατρεια), yang lebih berarti “melayani”.  Kata ini juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:8, ketika Yesus menangkis bujukan Iblis untuk mengingni dunia ini. Yesus berkata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Kata berbakti dalam ayat ini, sama degan kata “ibadah” dalam Roma 12:1.
    Nasihat Paulus mengenai bagaimana ibadah yang sejati dimulai dengan pernyataan: Demi kemurahan Allah, yang artinya karena Allah telah berkemurahan atau karena Allah telah memberikan anugerah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kita kepada Tuhan didasarkan karena kita telah berhutang kebaikan dari Tuhan. Dengan dasar dan pengertian ini, maka ibadah kita kepada Tuhan bukan alat manipulasi untuk mengatur Tuhan atau memperoleh sesuatu, dan juga bukan usaha untuk memberi jasa kepada Tuhan.
     
    Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah memiliki makna bahwa tubuh kita harus digunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk kesenangan diri sendiri, tetapi menjadi berguna bagi penggenapan rencana Allah di dunia ini. Kalau orang percaya bekerja menggunakan tubuh, hal tersebut dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab setiap individu untuk mengembangkan potensi di dalam dirinya, agar tubuhnya bisa efektif bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini, kemalasan adalah suatu dosa; sebab orang malas membuat dirinya tidak efektif bagi Tuhan dan tidak bertanggung jawab kepada-Nya secara benar.
    Bekerja menggunakan tubuh adalah ibadah. Ini berarti bekerja dalam lingkungan di luar gereja adalah sesuatu yang tidak lebih rendah dari mereka yang bekerja di lingkungan gereja. Harus dimengerti bahwa perintah Allah yang pertama kepada manusia adalah bekerja dengan menggunakan tubuh. Dalam Kejadian 2:15 Tuhan berfiman: TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kata mengusahakan dalam teks aslinya adalah abad (דבע), Kata ini berarti juga bekerja, yaitu kegiatan dengan menggunakan anggota tubuh atau fisik. Dari kata inilah kita menemukan kata ibadah.
    Dalam hal ini, filsafat banyak agama mengajarkan bahwa orang yang tidak mengambil bagian dalam pekerjaan sekuler (pekerjaan secara umum) -di antaranya yang tidak menggunakan kekuatan fisik, yaitu mereka yang ada di dalam lingkungan biara atau di lingkungan keagamaan- dipandang dan dianggap lebih mulia. Profesi tersebut dikategorikan sebagai profesi rohani. Sedangkan pekerjaan sekuler dipandang sebagai pekerjaan duniawi. Dari filosofi yang salah ini, maka pada umumnya orang Kristen juga berpandangan bahwa profesi pendeta lebih rohani dari profesi pedagang, guru atau pendidik, tenaga medis, teknokrat dan lain sebagainya, yang bersifar sekuler.
    Pandangan di atas sebenarnya tidak tepat. Suatu pekerjaan dipandang rohani atau duniawi tidaklah ditentukan oleh jenis pekerjaan itu semata-mata, tetapi ditentukan oleh motivasi terdalam seseorang melakukan pekerjaan tersebut.
    0 min
  • Sepenuh Hati
    Di tengah-tengah komunitas Kristen, masih saja terdapat pemahaman yang salah mengenai siapa yang patut disebut sebagai hamba Tuhan. Biasanya mereka yang merasa diri sah dengan status sebagai hamba Tuhan, merasa berhak untuk menerima perpuluhan. Biasanya mereka juga merasa sebagai imam-imam, seperti imam-imam di Perjanjian Lama. Dalam hal ini, jemaat dipandang sebagai umat, seperti umat Israel. Dengan demikian “imam-imam” tersebut merasa berhak untuk menerima perpuluhan. Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa kita semua adalah imamat-imamat (1Ptr. 2:9).
    Kalimat imamat yang rajani dalam 1 Petrus 2:9 dalam teks aslinya adalah basileion ierateuma (Βασιλειον ιερατευμα), yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai kingly priesthood. Priesthood artinya keimaman atau yang sama artinya dengan hulubalang. Kingly artinya bertalian dengan hal kerajaan. Imam-imam di Perjanjian Lama adalah hulubalang-hulubalang Elohim Yahweh yang melayani Dia di Bait Allah. Orang percaya adalah hulubalang dalam Kerajaan Surga, yang sama dengan seorang imam yang melayani di Bait Allah. Semua orang percaya adalah imam-imam bagi Tuhan Yesus. Dengan demikian, tidak ada strata dalam gereja Tuhan Yesus.
    Seharusnya, orang percaya berani menyatakan bahwa dirinya adalah seorang hamba Tuhan atau hulubalang atau imam bagi Tuhan Yesus Kristus. Seorang hamba Tuhan atau hulubalang atau seorang imam bagi Tuhan Yesus, tidak harus memiliki jabatan sinode sebagai pendeta. Kita yang telah dibeli oleh Tuhan Yesus dengan darah-Nya yang mahal adalah milik-Nya seratus persen atau sepenuhnya. Kalau dulu kita adalah hamba dosa, sekarang harus menjadi hamba Tuhan. Untuk ini, kita tidak boleh lagi membedakan, kalau pendeta adalah hamba Tuhan sedangkan jemaat bukan hamba Tuhan. Kalau bukan hamba Tuhan, hamba siapa? Dalam kehidupan ini orang percaya harus memilih menjadi hamba Tuhan atau hamba setan. Orang percaya harus menempatkan diri di satu pihak.
    Kalau semua orang percaya disebut -dan memang demikian adanya- berstatus sebagai hamba Tuhan, maka berarti semua orang percaya harus mengabdi kepada Tuhan Yesus sebagai Tuannya sepenuh waktu, sebab bagi Tuhan Yesus tidak ada pelayan atau hamba Tuhan Yesus yang separuh waktu (Ing. part-timer). Tuhan Yesus menegaskan di dalam Firman-Nya, bahwa orang percaya tidak bisa atau tidak boleh mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Seseorang harus menjadi hamba Tuhan Yesus sepenuh waktu (full-timer) atau tidak sama sekali. Dengan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu bagi Tuhan, maka apa pun harus dengan rela dilepaskan bagi kepentingan Kerajaan Surga. Ini berarti ia harus rela kehilangan “nyawa”; artinya kehilangan segala kesenangan dunia ini, demi dapat melayani Tuhan sepenuh waktu.
     
    Menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu berarti sepenuh hati. Tidak sedikit orang yang mengaku hamba Tuhan atau yang melayani Tuhan sepenuh waktu, tetapi sebenarnya tidak sepenuh waktu. Ukuran sepenuh waktu bukan pada jam atau waktu yang digunakan dalam kegiatan gereja, tetapi sikap hatinya. Sikap hati terhadap Tuhan dan terhadap dunia ini, serta kualitas kehidupan rohani atau kedewasaannya. Kalau seseorang belum mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, tidak mungkin ia dapat melayani Tuhan sepenuh waktu.
    Orang seperti ini pasti sebagian hatinya masih terbelah, karena mengasihi dunia ini. Paling tidak, ia masih ingin hidup wajar seperti manusia lain. Hal ini tidak dapat dihindari, sebab kalau seseorang belum dewasa, maka belum bisa meninggalkan percintaan dengan dunia. Biasanya orang-orang seperti ini, masih mengingini bagaimana bisa menikmati dunia, walau sekecil apa pun. Berbeda dengan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dengan segenap hidup dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani, ia sudah tidak mau lagi menikmati dunia seperti anak-anak dunia.
    Dengan demikian, orang yang bersedia melayani Tuhan sepenuh waktu dari sikap hatinya yang benar, bersedia meninggalkan kesenangan dunia dan keinginan-keinginan ...
    0 min
  • Menjadi Doulos Tuhan Yesus
    Pada zaman anugerah, Allah Anak turun dari surga menjadi manusia, memberi Diri-Nya untuk dapat membeli atau menebus manusia dengan darah-Nya. Kepemilikan kuasa kegelapan atas manusia, khususnya atas umat pilihan, dapat dihentikan. Tuhan Yesus yang membeli atau menebus manusia dengan pengorbanan-Nya di kayu salib dapat memiliki kembali manusia. Rasul Paulus dalam suratnya mengatakan: dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri (1Kor. 6:19). Kalimat ini sudah sangat jelas menunjukkan bahwa setelah Tuhan Yesus menebus kita, maka kita bukan milik kita sendiri, tetapi kita dapat kembali dimikili oleh Tuhan. Tentu saja kita dimiliki oleh Tuhan seluruhnya atau seratus persen.
    Dengan penebusan oleh darah Tuhan Yesus, maka kita tidak lagi memiliki hak apa pun atas diri kita. Diri kita telah dimiliki oleh Tuhan Yesus seratus persen. Kalimat bahwa kita bukan milik kita sendiri adalah kalimat final yang tidak perlu ditambahi kalimat atau penjelasan lainnya. Artinya sejak kita menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus, kita tidak berhak atas hidup kita sama sekali. Dengan keadaan hidup seperti ini, maka kita tidak mungkin bisa menjadi sama dengan dunia ini, dan kita tidak mungkin juga dapat hidup wajar seperti manusia lain.
    Banyak orang Kristen tidak sanggup menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan seluruh milik mereka ketika mereka memberi diri menjadi anak tebusan Tuhan. Memang merupakan hal yang paling sulit dan berat untuk dilakukan, yaitu kalau seseorang kehilangan atau melepaskan kepemilikan dirinya. Tetapi hal ini tidak bisa dan memang tidak boleh dihindari. Penebusan secara legalitas, dari pihak pembeli, berhak memiliki obyek yang ditebus; tetapi dari pihak yang ditebus berarti ia harus melepaskan hak kepemilikannya sepenuhnya kepada yang menebus atau membeli dirinya.
    Kalau ada orang Kristen yang tidak bersedia dimiliki oleh Tuhan sebagai penebus, maka hal ini sama saja dengan menolak penebusan tersebut. Penolakan penebusan berarti menolak untuk diselamatkan. Diselamatkan artinya dikembalikan ke rancangan semula Allah agar diperkenankan masuk dalam anggota keluarga Kerajaan. Orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi murid Tuhan Yesus. Hal ini berarti, orang tersebut tidak bisa diubah oleh Tuhan. Kalau seseorang tidak bisa diubah, berarti keselamatan yang tersedia bagi manusia menjadi sia-sia bagi orang tersebut. Dalam hal ini harus dicatat bahwa kalau hanya menjadi orang Kristen bukan berarti otomatis sudah menerima penebusan oleh darah Yesus secara benar. Kalau seseorang menolak dimiliki Tuhan, maka penebusan-Nya menjadi sia-sia.
    Kalau ada orang berkata bahwa dirinya sudah percaya kepada Yesus, berarti ia menerima penebusan dan menjadi umat pilihan serta menerima keselamatan. Harus dipersoalkan apa artinya percaya itu? Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai (Yun. pisteuo). Penyerahan ini berarti juga menyerahkan semua kepemilikan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. Jadi, kalau seseorang tidak bersedia menyerahkan seluruh miliknya bagi Tuhan, berarti ia tidak percaya atau belum percaya dengan benar.
     
    Memang, percaya adalah sesuatu yang progresif. Dimulai dari menyetujui bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Kemudian belajar mengenal kebenaran Injil dan mengenakannya sebagai orang percaya yang benar. Kalau hal ini berlangsung dengan baik, maka ia mengerti bagaimana seharusnya menjadi orang Kristen yang benar. Salah satunya, harus menyerahkan segenap hidupnya tanpa batas bagi Tuhan. Faktanya, banyak pengajaran yang tidak sesuai merasuk dalam jiwa dan pikiran jemaat, sehingga mereka tidak pernah mengerti bahwa mereka harus menyerahkan segenap hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan. Mereka menjadi orang Kristen yang masih memiliki dirinya sendiri. Biasanya, kalau mereka telah memberi persembahan kolekte, perpuluhan dan berbagai persembahan, mereka merasa sudah mengembalikan milik Tuhan.
    0 min
  • Kepemilikan Tuhan
    Harus selalu diingat, karena manusia adalah makhluk ciptaan, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, maka manusia tidak mungkin tidak dimiliki oleh pihak lain. Manusia tidak akan pernah berhak atas dirinya sendiri. Kalau manusia bisa menciptakan dirinya sendiri, maka manusia berhak memiliki dirinya sendiri. Karena manusia diciptakan oleh pihak di luar dirinya, maka manusia tidak berhak atas dirinya. Tetapi persoalannya adalah, siapa yang memiliki manusia? Apakah Tuhan yang memiliki, yaitu Tuhan yang menciptakan manusia, atau pihak lain dimana manusia menjual dirinya atau menyerahkan dirinya?
    Prinsip penting mengenai hukum kepemilikan kehidupan manusia sejak penciptaannya adalah: Kepada siapa manusia menaati, kepadanya manusia dimiliki.  Walaupun Adam diciptakan oleh Tuhan dan secara hukum adalah milik Tuhan, tetapi manusia pertama diberi kebebasan apakah memberi diri dimiliki oleh Tuhan atau dimiliki oleh pihak lain. Dalam hal ini nyata adanya kehendak bebas (Lat. Liberum arbitrium) dalam kehidupan manusia. Jadi, sangatlah keliru kalau takdir manusia ditentukan oleh pihak di luar manusia. Tetapi yang benar adalah keadaan manusia ditentukan oleh keputusan dan pilihan manusia itu sendiri.
    Allah tidak memaksa Adam untuk memberi diri dimiliki oleh Tuhan. Tuhan memberi kebebasan kepada manusia untuk sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan, atau tidak. Dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan artinya dalam segala yang diingini dan dilakukan oleh manusia selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tetapi jika manusia menuruti keinginan pihak lain di luar Allah berarti manusia melepaskan dirinya dari kepemilikan Tuhan. Sebenarnya hal ini sama dengan sebuah pemberontakan. Dalam hal ini manusia selalu dalam keadaan harus memilih, yaitu menjadi sekutu Tuhan, berarti hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, atau menjadi sekutu yang lain dengan kehidupan sesukanya sendiri.
    Kepada keinginan atau kehendak siapa manusia menuruti, manusia akan dimiliki atau dikuasainya. Firman Tuhan mengatakan: Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa (Rm. 7:14). Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak selalu atau tidak pasti selalu berdampak manusia menjadi bejat seperti binatang, tetapi manusia tidak mampu lagi mencapai standar kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Manusia meleset (Yun. hamartia) dari standar kesucian yang sebenarnya Allah kehendaki. Kepemilikan Tuhan atas manusia secara benar ialah ketika manusia mengambil bagian dalam kekudusan Bapa, atau mengenakan kodrat Ilahi. Ketika manusia tidak hidup dalam kesucian Allah, maka manusia tidak berada di dalam pemilikan Tuhan secara benar.
     
    Seharusnya manusia hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Dengan cara hidup demikian, manusia dimiliki oleh Tuhan secara penuh. Tetapi ketika manusia tidak melakukan kehendak Allah, yaitu ketika manusia memilih jalannya lain yang ditawarkan oleh kuasa kegelapan, maka manusia menjual dirinya menjadi milik pihak lain. Inilah yang dilakukan oleh Adam, manusia pertama. Manusia lebih menuruti Iblis daripada menuruti Tuhan (Kej. 3). Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang hidup di zaman akhir ini. Kita harus memilih di pihak siapa kita berdiri dan hidup. Di pihak Tuhan atau di pihak setan. Orang yang tidak memilih, pasti di pihak musuh Allah.
     
    Orang yang tidak hidup dalam kepemilikan Tuhan secara benar, masih membuka peluang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Memang manusia tidak selalu atau pasti menjadi bejat seperti manusia biadab yang tidak beradab atau seperti binatang, tetapi manusia masih memiliki peluang untuk memiliki sebagian hidupnya guna melakukan apa yang menurut dirinya sendiri baik. Umat Perjanjian Lama belum bisa dikembalikan ke rancangan semula, karena belum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya mereka belum bisa dituntut untuk dapat mengembalikan segenap hid...
    0 min
  • Telah Dibeli Dengan Lunas
    Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, dinyatakan dengan sangat tegas bahwa orang percaya sebagai anak tebusan adalah milik Tuhan, sebab orang percaya sudah dibeli dengan harga yang lunas di bayar. Dalam 1 Korintus 6:19-20 tertulis: … Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Hal ini harus mendasari seluruh tindakan persembahan kita kepada Tuhan. Jadi, dasar atau landasan persembahan kepada Tuhan bukan jumlah atau persentasenya.
    Dalam teks aslinya kalimat dalam “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas terbayar”, terjemahan aslinya adalah egorasthete gar times (ἠγοράσθητε γὰρ τιμῆς). Egorasthete dari akar kata agorazo (ἀγοράζω), artinya membeli dalam hubungan atau keterkaitannya dengan perdagangan. Kata dibeli berbicara mengenai sebuah barter atau pertukaran. Adapun kata times (τιμῆς) adalah harga. Kalimat “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas terbayar”, sebenarnya dari teks aslinya bisa diterjemahkan dengan kalimat pendek “kamu telah dibeli dengan sebuah harga”. Tentu kalau sudah dibeli dengan suatu harga berarti telah lunas dibayar. Sebagaimana kalau sebuah barang telah dibayar lunas, maka si pembelilah yang berhak sepenuhnya atas barang tersebut.
    Hal ini penting untuk selalu diingat, bahwa kita tidak diperoleh dan dimiliki oleh Tuhan Yesus secara gratis, Tuhan Yesus harus membayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu Diri-Nya sendiri. Petrus mengatakan bahwa darah-Nya sangat mahal menebus kita (1Ptr. 1:18-19). Tentu tidak ada sarana atau cara lain untuk dapat membeli manusia agar dapat dimiliki oleh Tuhan, selain dengan darah-Nya. Sebelum ditebus oleh darah Yesus kita adalah budak dosa, tetapi setelah ditebus oleh darah Yesus, maka kita telah menjadi milik Tuhan. Hal ini sejajar atau paralel dengan sejarah hidup bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan bangsa Mesir oleh tangan Tuhan yang kuat. Itulah sebabnya Tuhan selalu mengingatkan bangsa Israel atas peristiwa pembebasan mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Dalam pernyataan-Nya, Elohim Yahweh mengatakan berulang-ulang: Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Dengan peringatan ini, dimaksudkan agar bangsa Israel selalu dalam kesadaran bahwa hanya Elohim Yahweh yang berhak atas mereka. Oleh sebab itu, tidak boleh ada allah lain di hadapan-Nya.
    Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus juga mengingatkan mengenai hal ini dengan kalimat: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu. Demi kemurahan Allah artinya bahwa Allah sudah terlebih dahulu berkemurahan kepada kita. Tentu saja kemurahan Allah adalah pemberian Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia. Demi kemurahan Allah berarti bahwa Ia telah menebus kita dari perbudakan dosa, bukan karena jasa dan kebaikan kita. Inilah yang disebut sebagai kasih karunia atau anugerah.
    Penebusan kita dari pemilikan kuasa yang lain bukan sesuatu yang sederhana. Anak Allah harus menjadi manusia, mengosongkan Diri yang dalam segala hal harus disamakan dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Yesus harus menghadapi berbagai pencobaan untuk membuktikan ketaatan dan penghormatan-Nya kepada Bapa di surga. Ia harus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Jika tidak, maka Ia tidak dapat menjadi Penebus bagi kita. Hal ini adalah perjuangan yang sangat berat. Kalau Yesus gagal melakukan kehendak Bapa dan tidak memenuhi rencana-Nya, Yesus tidak dapat menjadi Penebus. Ini berarti semua kita binasa. Dalam fakta kehidupan ini, Yesus telah berhasil menaati Bapa dan menghormati Bapa secara patut, sehingga Ia dapat menjadi Juruselamat.
    Perjuangan dan pengorbanan Yesus dilakukan untuk dapat menebus dan memiliki kita. Harus selalu kita ingat,
    0 min
  • Tuhan Sang Pemilik
    Tuhan adalah Sang Pemilik kehidupan, di dalamnya termasuk alam semesta dan manusia sebagai citra dari ciptaan-Nya. Prinsip ini harus disadari dan diterima oleh orang percaya. Dalam Perjanjian Lama, kebenaran ini sudah dinyatakan dengan jelas. Kisah penciptaan alam semesta dan manusia, menunjukkan bahwa Tuhan yang berhak, berkuasa dan memiliki alam semesta ini dengan segala isinya serta manusia. Selanjutnya dalam Alkitab berulang-ulang dapat ditemukan, Tuhan menyatakan atau seperti mengklaim bahwa langit dan bumi adalah milik-Nya (Mzm. 24:1; 50:10-12 dan lain-lain). Walau sebenarnya Allah tidak perlu memberi pernyataan bahwa langit dan bumi adalah ciptaan-Nya dan Dia adalah pemilik tunggalnya, tetapi berhubung manusia telah jatuh dalam dosa dimana pengetahuan mengenai Allah sudah menjadi kabur, maka perlulah pernyataan tersebut dikemukakan, untuk selalu mengingatkan siapa pemilik kehidupan ini.
    Allah berhak menyatakan bahwa alam semesta adalah milik-Nya, sebab Dialah yang menciptakan semua. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia (Rm. 11:36). Sebenarnya Allah tidak perlu menyatakan bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya, tetapi pernyataan tersebut untuk mengingatkan kepada umat manusia bahwa ada Allah yang hidup yang menciptakan segala sesuatu. Dengan pernyataan tersebut manusia diingatkan untuk mengisi hari hidupnya secara benar di hadapan-Nya. Manusia tidak hidup di daerah netral tak bertuan. Manusia hidup di daerah bertuan, dan tuannya adalah Tuhan sendiri. Sebagai makhluk ciptaan, manusia harus “tahu diri”, sehingga hidup dalam pengabdian yang patut kepada-Nya.
    Orang-orang ateis yang tidak mengakui keberadaan Allah, atau yang berpikir bahwa Allah tidak ada atau tidak perlu ada, merasa tidak perlu mengakui kepemilikan Tuhan atas hidup mereka, juga kepemilikan atas alam semesta ini. Mereka lebih meyakini bahwa manusia eksis atau ada karena proses evolusi, bukan karena karya yang sengaja dari tangan Allah. Mereka lebih percaya bahwa alam semesta mampu menciptakan makhluk manusia yang begitu hebat. Demikian pula mereka lebih meyakini argumentasi bahwa alam semesta ini ada karena proses alam yang teratur oleh sebuah tatanan yang sangat sempurna, tanpa adanya Pribadi yang menciptakannya. Kebodohan orang-orang ateis seperti ini adalah sikap yang tidak mengakui “siapa” di balik semua proses yang berlangsung, dan adanya Pencipta segala tatanan di alam semesta ini.
    Dengan penjelasan di atas, maka tidak terbantahkan bahwa Tuhan yang memiliki semua isi bumi dan alam semesta ini, termasuk manusia. Manusia sama sekali tidak berhak atas segala sesuatu yang diciptakan dan dimiliki oleh Tuhan. Sesungguhnya, manusia hanya sebagai pengelola (a manager) yang dipercayai Tuhan untuk mengelola alam semesta ini. Manusia bukan sebagai pemilik (the owner). Kalau manusia menyadari bahwa dirinya bukan pemilik, maka manusia dapat mempersembahkan hidup dengan pengertian dan dasar atau landasan yang benar.
     
    Manusia yang mengerti kebenaran ini dan meyakini dengan tulus serta menerimanya, akan mengerti bahwa dirinya seperti seorang yang dipercayai untuk mengelola semua yang Allah telah ciptakan bagi kemuliaan nama-Nya. Dirinya ada untuk Allah yang menciptakan, bukan sebaliknya; Allah ada untuk dirinya. Jika manusia tidak mengerti dan tidak menerima hal ini, maka terjadi pembalikan hierarki. Bukan manusia yang dibawahi oleh Allah, tetapi Allah yang dibawahi oleh manusia.
    Hierarki yang terbalik di atas ini ternyata sudah terjadi dalam kehidupan orang beragama. Kelihatannya secara lahiriah mereka memuji dan menyembah Allah, tetapi dalam praktiknya mereka mau mengatur Tuhan, memanfaatkan Tuhan serta mengekspoitasi-Nya. Itulah sebabnya mereka beragama, karena hendak memperoleh apa yang mereka rasa sebagai kebutuhan, bukan bagaimana mengabdi kepada Tuhan dan memenuhi apa yang dirasa dan diketahui sebagai kehendak-Nya untuk dilakukan.
    Dalam kehidupan bangsa Israel,
    0 min
  • Seorang Kasir
    Pertanyaan yang selalu muncul dan dipersoalkan adalah: Berapa jumlah persembahan dalam bentuk uang yang patut diberikan kepada Tuhan melalui gereja? Jika menggunakan praktik perpuluhan, biasanya sepersepuluh dari gaji atau penghasilan. Kalau dipersoalkan apakah sepuluh persen tersebut dari penghasilan kotor atau penghasilan bersih setiap bulannya, maka sulit menjawabnya; sebab sulit untuk membuat perhitungan bagi mereka yang berbisnis, dan yang menerima hasil dari deviden setiap tahun, belum lagi kalau sebagian hasilnya diinvestasikan lagi. Apakah perpuluhan diberikan sebelum membayar pajak atau sesudahnya? Bagaimana dengan bonus uang yang diterima pegawai, mendapat bonus jalan-jalan wisata ke luar negeri dan lain sebagainya? Kalau jujur sebenarnya rumit untuk menemukan nilai sepuluh persen dari penghasilan.
    Semestinya kalau sudah berbicara bahwa segenap hidup kita milik Tuhan, maka tidak ada lagi perhitungan persentase untuk Tuhan, atau berapa yang wajib diberikan kepada Tuhan melalui gereja. Iuran wajib yang dilakukan beberapa gereja bagi jemaatnya -yang menekankan persentase jumlah uang persembahan dari penghasilan- bisa merusak prinsip persembahan segenap hidup bagi Tuhan. Karena segenap hidup kita -termasuk semua harta kita- adalah milik Tuhan, maka seharusnya kita memikirkan dengan serius semua kebutuhan pelayanan gereja tanpa merasa keberatan berapa pun kebutuhannya. Persoalan yang harus dihadapi gereja dengan seluruh pembiayaannya harus menjadi persoalan semua jemaat. Kalau untuk kebutuhan sekolah anak-anak, membangun rumah, membeli kendaraan, wisata dan lain sebagainya, kita bisa mempertaruhkan harta kita, mengapa untuk pekerjaan Tuhan kita tidak mempertaruhkan segenapnya juga?
    Kenyataan yang kita jumpai hari ini, banyak orang yang merasa bahwa semua yang dimilikinya adalah miliknya sendiri. Tidak heran jika hartanya bertambah banyak, maka rumahnya semakin besar, mobilnya semakin mewah, perhiasannya semakin berkilauan, barang-barangnya semakin branded dan lain sebagainya. Inilah irama hidup manusia pada umumnya, termasuk banyak orang Kristen. Mereka merasa bebas menggunakan harta yang ada pada mereka sesuka hati, sebab mereka merasa bahwa semua harta yang dimiliki adalah hasil jerih lelahnya. Orang-orang seperti ini adalah perampok-perampok di mata Allah yang suatu hari harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
    Karena segenap hidup kita -termasuk semua harta yang ada pada kita- adalah milik Tuhan, maka kita harus selalu mengingat bahwa kita adalah seorang “kasir” atau seorang pengelola milik “Majikan Agung”. Dalam Lukas 16:11 Firman Tuhan mengatakan demikian: Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Maksud harta orang lain di sini adalah harta Tuhan, bukan harta kita sendiri. Sedangkan harta kita sendiri sesungguhnya nanti di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Harta Tuhan yang dipercayakan kepada kita, harus kita kelola sepenuhnya untuk kepentingan Tuhan. Orang yang mengelola harta milik Tuhan dengan benar, akan memperoleh hartanya sendiri di Kerajaan Surga nanti.
    Dalam penggunaan semua harta yang kita miliki -yang semua itu milik Tuhan- kita harus mengerti dengan tepat apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Kita tidak boleh menggunakan harta yang ada pada kita sesuka hati kita. Kita harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan secara tepat. Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan dengan tepat. Dengan demikian, sangatlah jelas, ternyata penggunaan harta dan persembahan bagi Tuhan sangat bertalian dengan kedewasaan rohani seseorang. Orang yang dewasa rohani memahami dan menerima bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan. Ia sangat bersedia mempersembahkan segenap hidupnya tanpa batas bagi Tuhan. Biasanya orang percaya seperti ini, juga telah menghayati bahwa hartanya sendiri ada di langit baru dan bumi yang baru. Orang percaya yang dewasa rohani juga memiliki kesucian hidup.
    0 min
  • Persembahan Tanpa Ancaman Dan Alat Memancing
    Satu hal yang tidak patut atau tidak benar dilakukan oleh pendeta terkait dengan perpuluhan dan persembahan lain adalah kalau ayat yang memuat kemarahan Tuhan dalam Maleakhi 3:8-11 menjadi dasar atau landasan persembahan perpuluhan. Sekaligus ayat ini menjadi ayat ancaman, yaitu bila jemaat tidak memberi perpuluhan, maka mereka akan dihukum dengan “belalang pelahap”, sehingga Tuhan tidak memberkati nafkah, rezeki atau mata pencaharian mereka. Tantangan untuk memberikan perpuluhan disertai dengan ancaman, yang didasarkan pada pernyataan Maleakhi 3:8-1, dipakai pula oleh banyak pendeta sebagai dalil untuk dapat mencapai kehidupan dalam kelimpahan materi. Mereka mengajarkan bahwa dengan memberi perpuluhan, maka jemaat akan dihindarkan dari berbagai kutuk dan hukuman seperti pencurian, perampokan, penyakit, hama, belalang pelahap dan lain sebagainya. Tidak jarang, seiring dengan pemberitaan Firman semacam itu, disertai ancaman jemaat akan mendapatkan atau mengalami berbagai kutuk atau hukuman jika tidak memberi perpuluhan.
    Bagi yang tidak memberi perpuluhan, mereka diberi predikat pencuri, penipu, tidak layak diberkati dan lain sebagainya, tanpa mempertimbangkan kausalitas atau penyebab mengapa mereka tidak memberi perpuluhan.  Apakah Tuhan Yesus mengajarkan kita bersikap atau bertindak demikian? Tuhan menghendaki kita memberi persembahan atau mengembalikan milik Tuhan dengan rela dan sukacita. Kalau perpuluhan menjadi “Taurat baru” dengan ancaman-ancaman hukuman bila tidak dilaksanakan, maka ini menciptakan pola memberi persembahan yang terpaksa. Tentu hal ini membangun sikap yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.
    Jika jemaat tidak siap memberikan persembahan perpuluhan dan persembahan lainnya berhubung belum dewasa rohani, gereja tidak boleh memaksa dengan intimidasi-intimidasi. Gereja harus membimbingnya terlebih dahulu atau mendewasakannya, sehingga jemaat tersebut siap memberi. Dalam hal ini gereja harus mengambil hatinya terlebih dahulu, bukan uangnya. Jika seseorang sudah bisa memberikan hatinya bagi Tuhan, berarti ia bisa memberikan segenap hidupnya, maka tidak perlu ada paksaan terhadap jemaat tersebut untuk memberikan persembahan.
    Kalau perpuluhan dituntut dengan menjanjikan balasan, maka persembahan perpuluhan dan persembahan yang lain sudah menjadi umpan pancing jemaat guna memancing berkat Tuhan. Melempar cacing untuk memperoleh mujair, melempar mujair untuk memperoleh tongkol besar, melempar tongkol untuk memperoleh ikan paus dan seterusnya. Pola ini menyalahi prinsip bagaimana seseorang harus berdedikasi kepada Tuhan. Sebab hal tersebut akan menciptakan orang Kristen yang oportunis dan manipulatif. Ironisnya, justru hal ini yang sedang dihembuskan kepada jemaat Tuhan di banyak gereja dan Persekutuan Doa.
    Hal di atas ini sama dengan ajaran penggandaan berkat yang diajarkan di banyak gereja. Ada pembicara yang mengajarkan kalau jemaat memberi persembahan akan memperoleh berlipat kali ganda, ada yang 30, 60 dan 100 kali lipat. Ini sebuah pandangan yang sangat keliru. Sebenarnya kelipatan di dalam Injil Matius tersebut bukan berbicara mengenai jumlah uang, tetapi Firman Tuhan yang ditabur dan berbuah dalam kehidupan orang percaya (Mat. 13:23). Janji pelipatgandaan berkat jasmani bukan saja melanggar prinsip Firman Tuhan, tetapi juga membangun motivasi memberi persembahan yang salah. Ini sebuah pendidikan yang salah. Kalau orang percaya memberi persembahan, hal itu adalah tindakan mengembalikan atau sebuah penatalayanan (stewardship), bukan “sumbangan”. Jadi sangatlah keliru kalau perpuluhan atau persembahan lain dijadikan sebagai usaha untuk pelipatgandaan atau pemancing berkat Tuhan. Janji-janji pelipatgandaan yang selama ini ditawarkan sebenarnya hanya “taktik” dalam gereja di mana jemaat didorong untuk memberi persembahan, demi supaya gereja memiliki dana dalam jumlah yang besar untuk kegiatannya atau bisa untuk keuntungan “pribadi” tertentu. Maksudnya bisa baik,
    0 min
  • Ciri-ciri Gereja Yang Menyimpangkan Persembahan Uang
    Kita harus melihat ciri-ciri dari gereja yang pimpinan jemaatnya tidak mengelola uang persembahan dengan benar, dimana banyak kepentingan pribadi yang dilibatkan. Ciri-ciri tersebut antara lain:
    Pertama, memberi penghargaan yang berlebihan kepada orang kaya. Tentu saja kepada orang yang memberi perpuluhan atau persembahan uang dalam jumlah besar, mereka mendapat perhatian dan keramahtamahan yang lebih dari yang lain. Biasanya orang-orang kaya tersebut juga cepat mendapat tempat atau posisi dalam pelayanan, melebihi orang lain. Memang hal ini belum tentu berarti salah, sebab memang tidak sedikit orang-orang kaya tersebut sangat berpotensi untuk mendukung pekerjaan Tuhan dalam banyak bidang, bukan hanya karena uangnya, tetapi potensinya yang lain. Tetapi kalau kepada semua orang kaya di dalam jemaat -maupun di luar jemaat- pendeta tersebut bersikap demikian, maka pasti ada sesuatu yang salah dalam hidup pendeta itu.
    Kedua, dalam pemberitaan Firman selalu menekankan persembahan; seperti perpuluhan, persembahan buah sulung dan lain sebagainya. Dalam isi khotbahnya tidak terlepas dari masalah uang. Biasanya khotbah-khotbahnya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani atau yang dikenal sebagai “teologi kemakmuran”. Khotbahnya juga memuat janji-janji berkat, bagi yang memberi persembahan, maka Tuhan akan melipatgandakan uang atau harta yang jemaat akan peroleh. Tidak jarang pula disertai ancaman hukuman atau kutukan-kutukan terhadap mereka yang tidak memberi perpuluhan. Biasanya gereja seperti ini juga mengajarkan pelepasan kutuk-kutuk kemiskinan, kebangkrutan dan sejenisnya yang orientasinya pada berkat jasmani. Tentu saja gereja seperti ini lebih memopulerkan Doa Yabes daripada Doa Bapa Kami.
    Ketiga, menginvestasikan uang gereja untuk bisnis atas nama pimpinan jemaat atau keluarganya, sehingga uang persembahan tidak berdaya guna secara efektif untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Anak-anak atau keluarga pendeta menjadi kaya, naik mobil mewah dan memiliki bisnis yang sebenarnya dari uang jemaat. Tanpa disadari pendeta atau pemimpin jemaat tersebut merusak keluarganya sendiri dan mendatangkan kutuk atas mereka. Harus ditegaskan bahwa uang gereja tidak boleh diinvestasikan untuk bisnis. Uang Tuhan harus digunakan untuk pekerjaan Tuhan. Mengembangkan uang dalam bisnis tidak boleh menggunakan uang Tuhan di gereja, tetapi uang Tuhan di masing-masing jemaat.
    Keempat, lebih cenderung menyimpan uang gereja dalam deposito dan sejenisnya daripada segera menginvestasikan untuk proyek-proyek pelayanan. Tentu hal ini dilakukan atau diusahakan secara tersembunyi dari mata jemaat. Tetapi bagaimanapun, praktik tersebut tidak dapat disembunyikan. Pegawai bank dapat melihat deposito dan tabungan pendeta-pendeta tersebut di bank-bank mereka. Lebih lagi nanti, di penghakiman akhir, semua itu akan ditelanjangi. Oleh sebab itu seorang pemimpin jemaat harus menemukan visi dari Tuhan untuk menggunakan uang Tuhan atau menyerap uang Tuhan guna proyek-proyek rohani sesuai dengan rencana dan kehendak Bapa.
    Kelima, tidak memberikan kesejahteraan yang pantas untuk pelayan-pelayan jemaat dan pegawainya. Tidak sedikit pendeta dan keluarganya bermewah-mewah, tetapi pelayan-pelayan Tuhan yang lain hidup dalam kekurangan. Keluarga pendeta naik mobil, tetapi hamba Tuhan yang lain -yang sudah mengabdi lama- hanya naik sepeda motor. Seharusnya gereja berani menyediakan mobil dan rumah bagi pendeta yang membantu pelayanan setelah sekian tahun ikut melayani bersama. Dan menjadi milik mereka, bukan milik gereja.
     
    Keenam, pimpinan jemaat membuat produk-produk pengajaran yang bertentangan dengan Alkitab hanya demi popularitas dan visi-visi yang diakui sebagai diperoleh dari Tuhan. Untuk mempertahankan eksistensinya sebagai gembala jemaat atau pimpinan jemaat, ia harus dapat memproduksi pengajaran-pengajaran baru dan visi-visi yang diakuinya dari Tuhan. Secara terselubung atau terang-terangan ia harus menampilkan diri sebagai...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…