Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Dua Kodrat Dalam Satu Tubuh
    Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir, bahwa dengan korban Tuhan Yesus di kayu salib, walaupun seorang Kristen hidup dalam dosa (melayani hukum dosa), maka hal tersebut tidak menjadi masalah, sebab Allah melihat darah Yesus yang melingkupi orang percaya. Seakan-akan Allah tidak mempersoalkan dosa yang dilakukan orang percaya, atau kodrat dosa yang masih menguasainya. Jadi, menurut mereka, walaupun Paulus dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa -tapi karena ia seorang yang memiliki anugerah keselamatan oleh darah Yesus- maka hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Pandangan ini sangat menyesatkan.
    Sebelum mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus, Paulus tidak memahami bagaimana menundukkan pikirannya kepada hukum Allah, dalam konteks orang percaya, yaitu untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh. Sebelum ia mengenal Tuhan Yesus, ia melakukan hukum secara legalistik, yaitu melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Maka bisa dimengerti jika ia bisa menyatakan diri sebagai tidak bercacat. Tetapi setelah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, ia memahami bagaimana memiliki pikiran untuk dapat melayani hukum Allah, yaitu melakukan hukum Allah bukan demi hukum itu, tetapi karena dalam pimpinan Roh, yang sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, ia tidak mengenal mengenai kodrat dosa. Jadi, hal ini menunjukkan bahwa pergumulan Paulus dalam Roma 5:26 adalah pergumulan sesudah ia mengenal Tuhan Yesus.
    Paulus mengatakan: Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah. Kata “akal budi” dalam teks aslinya adalah nous (νους), yang sama artinya dengan pikiran. Adapun kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuo (δουλεύω), yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba, hal ini sama dengan “menundukkan diri”. Kalau Paulus mengatakan bahwa dengan akal budinya ia melayani hukum Allah, artinya bahwa Paulus menundukkan pikirannya pada kehendak Allah. Paulus melakukannya dengan sengaja dan sadar. Ini berarti Paulus harus menggerakkan dirinya sendiri untuk menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah.
    Kemudian Paulus menyatakan: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. “Tubuh insani” dalam teks aslinya adalah sarks (σαρξ), yang menunjuk kepada daging yang memuat “kodrat dosa”, yang dalam teks aslinya adalah nomo hamartias (νομω αμαρτιας). Paulus jelas sekali menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kodrat dosa di dalam dirinya. Tetapi ini bukan berarti Paulus sengaja menundukkan diri kepada kehendak dosa atau kodrat dosa di dalam dirinya. Kalimat ini sangat penting untuk diperhatikan. Seharusnya dalam terjemahan tersebut tidak ada kalimat “melayani hukum dosa”. Sebab kalimat ini dapat mengesankan bahwa Paulus sengaja menundukkan diri kepada dosa atau melayani kodrat dosa. Dalam teks aslinya tertulis: ara oun autos ego to men noi douleo nomo theou te de sarki nomo hamartias (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳ ἁμαρτίας).
    Kalau kalimat dalam Roma 7:26 dapat dibagi dalam dua bagian, maka bagian pertama berbunyi: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, adapun kalimat berikutnya adalah: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Kalimat predikat memuat kata douleuo, tetapi di kalimat obyek tidak terdapat kata douleuo. Memang kata douleuo bisa digunakan dalam dua kalimat tersebut, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan menimbulkan kesan seakan-akan Paulus (sengaja) menundukkan diri kepada dosa, untuk menuruti atau melayani kodrat dosa, dan hal itu dipandang bukan masalah sama sekali.
    Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (hukum kesucian Allah), tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja memperbudak diri kepada hukum dosa atau mengikatkan diri kepada kodrat dosa di dalam dirinya atau melayani hukum dosa. Ada dua kalimat penting dalam ayat tersebut yaitu ego to men (ἐγὼ τῷ μὲν),
    0 min
  • Kemungkinan Bebas Dari Kodrat Dosa
    Dari banyak ayat Alkitab yang sukar dipahami, Roma 7:26 adalah ayat Alkitab yang sangat sukar dipahami; bukan hanya di antara ayat-ayat dalam kitab Roma, tetapi juga di antara semua ayat-ayat dalam Alkitab. Dalam Roma 7:26, Paulus memberikan kesaksian: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan Paulus ini -dalam terjemahan Bahasa Indonesia- memberi kesan yang sangat kuat seakan-akan Paulus memiliki hidup dalam dualisme; di satu pihak dengan akal budinya Paulus melayani hukum Allah, tetapi di pihak lain dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa. Dengan kesan tersebut, seakan-akan secara akal pikiran Paulus menyetujui hukum Allah, atau hidup dalam kesucian Allah, tetapi di pihak lain Paulus juga menyetujui untuk hidup dalam dosa, atau masih hidup dalam dosa, karena menuruti keinginan dosa dalam dagingnya. Dalam hal ini, seakan-akan karakter Paulus buruk.
    Karena kesan tersebut, maka ada teolog-teolog yang memiliki pandangan bahwa pergumulan Paulus dalam Roma 7:23-26 adalah pergumulan Paulus sebelum ia mengenal Tuhan Yesus, atau sebelum ia mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Juga ada yang mengatakan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat tambahan yang tidak ada dalam naskah aslinya. Melalui sebuah penelitian, ternyata semua naskah asli memuat kalimat tersebut. Jadi, hal ini tidak boleh dibantah, karena memang Paulus menulis kalimat tersebut. Masalahnya adalah bagaimana memahami isi atau maksud tulisan Paulus tersebut?
    Adalah pandangan yang sangat keliru kalau kita mengatakan bahwa pernyataan Paulus tersebut menunjukkan pergumulannya sebelum mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sebenarnya, pergumulan Paulus disini adalah pergumulannya setelah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Sangat mudah untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa hal tersebut adalah pergumulan Paulus sesudah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal ini ditunjukkan oleh Roma 7:25. Dalam ayat 25 Paulus mengatakan: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Dari pernyataan ini, jelas sekali bahwa hal tersebut menunjukkan pergumulan Paulus setelah mengenal Yesus. Kalimat lengkapnya, Paulus menyatakan: Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Yunani, ayat 25 dan 26 ini digabung. Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris juga banyak yang menggabungkannya.
    Dalam pernyataannya tersebut -di dalam terjemahan Bahasa Indonesia- Paulus menyatakan bahwa dirinya “melayani hukum dosa”. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Paulus, sebab Paulus dalam kesaksiannya menyatakan: bahwa sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia sendiri adalah seorang yang tidak bercacat dalam melakukan hukum Taurat (Flp. 3:6). Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengenal hidup dalam perhambaan kepada dosa atau melayani hukum dosa, justru yang dirasakan oleh Paulus adalah sebaliknya. Sebelum mengenal Tuhan Yesus -yaitu ketika hidup dalam keberagamaan Yahudi- ia merasa tidak bercacat, yang sama dengan tidak berdosa (Flp. 3:6). Perlu ditambahkan di sini, bahwa yang dipahami oleh Paulus mengenai dosa -sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus- adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat. Mengenai hal itu ia menyaksikan bahwa dirinya tidak bercacat. Sangatlah tidak mungkin ia memiliki pernyataan bahwa dirinya diperhamba oleh dosa atau menghambakan diri kepada dosa.
    Menjadi persoalan yang harus dipecahkan, benarkah Paulus hidup dalam dualisme? Tentu tidak. Memang dari pernyataan Paulus dalam Roma 7:26 tersebut, bisa muncul kesan bahwa Tuhan Yesus memperkenankan Paulus hidup dalam dualisme, sebab Paulus mengatakan kalimat di atas (Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa).
    0 min
  • Menundukkan Diri Kepada Allah
    Paulus, seperti kebanyakan orang saleh lainnya, ia merindukan hidup dalam kesucian standar Allah dan ingin selalu menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya ia ingin segera menanggalkan tubuh yang membelenggu dirinya, sebab belenggu itu bukan hanya membuat dirinya tidak nyaman, tetapi Allah pun juga bisa dibuat tidak nyaman karena kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi selama mengenakan tubuh ini. Paulus menyebut tubuhnya adalah tubuh maut, artinya tubuh yang bisa mati. Seakan-akan Paulus hendak mengatakan, jangan karena tubuh yang akan mati ini, dirinya dibawa ke neraka kekal. Itulah sebabnya ia berkata bahwa lebih baik kalau ia menanggalkan tubuh fananya dan menetap dengan Tuhan, sebab ia merasa tertekan dengan tubuh fana yang dikenakannya. Kalau ia menetap dengan Tuhan, maka tidak ada tekanan lagi, atau bisa juga berarti supaya tidak tergoda berbuat kesalahan lagi (2Kor. 5:2-4).
    Kata “celaka” dalam Roma 7:24 dari teks aslinya adalah talaiporos (Ταλαίπωρος), yang berarti miserable, wretched (sengsara, celaka). Kata talaiporos juga berarti bekerja keras. Paulus menyatakan bahwa ia mengalami suatu tekanan. Ia tidak menganggap hal itu sepele atau hal bisa. Sebab hal ini menyangkut keberkenanannya di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya ia berusaha, baik diam di dalam tubuh maupun diam di luarnya, supaya dirinya berkenan kepada Tuhan. Dari pernyataan Paulus ini, walaupun berat dalam tekanan, tetapi ia tidak berhenti berusaha. Bahkan sekalipun ia sudah keluar dari tubuhnya, ia akan terus berusaha untuk tetap berkenan di hadapan Tuhan. Jadi, dasarnya berkenan bukan karena terpaksa. Sekalipun ia ada di luar tubuhnya, artinya tidak ada tekanan lagi seperti ketika mengenakan tubuh fana, ia tetap berusaha untuk berkenan kepada Allah.
    Dari ketertekanannya, kemudian Paulus bersyukur kepada Allah oleh Yesus Kristus (Rm. 7:25). Apa maksudnya ini? Apa yang disyukuri? Tentu ayat berikutnya yang menjadi dasar atau alasan Paulus bersyukur: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa (Rm. 7:26). Kalau dibaca sekilas, ayat ini mengesankan bahwa Paulus hidup dalam dua area, yaitu area akal budi untuk melayani hukum Allah dan di area lain melayani hukum dosa. Ini mengesankan keadaan Paulus malah bertambah buruk. Untuk ini kita harus membedah ayat ini dengan sangat hati-hati, teliti, dan cerdas, agar kita menemukan maksud Paulus menulis kalimat ini sebagai kesaksian hidupnya.
    Kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuoo (δουλεύω) yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba. Kata “akal budi” terjemahan aslinya adalah nous atau pikiran. Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah (seperti yang dijelaskan di atas), sementara itu ia juga sadar, bahwa ia masih ada dalam daging, yang memiliki godaan melawan kehendak Allah. Dalam teks bahasa aslinya kata “memperbudak” ditujukan kepada pikirannya untuk tunduk kepada kesucian Allah. Oleh karenanya hanya ada satu kata douleuoo di kalimat predikatnya ara oun autos ego to men noi douleuo nomo theou te desarke nomo hamartias (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳ ἁμαρτίας).
    Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (hukum kesucian Allah), tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja memperbudak diri kepada hukum dosa atau mengikatkan diri kepada kodrat dosa di dalam dirinya. Supaya tidak salah mengerti, ayat ini mestinya diterjemahkan: Pikiranku kutundukkan kepada hukum kesucian atau kehendak Allah, sementara akau masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa. Dalam logika sederhana saja sangat jelas, bahwa sangatlah tidak mungkin Paulus yang menasihati berulang-ulang untuk hidup dalam pimpinan Roh, tapi dirinya sendiri tunduk kepada hukum dosa.
    Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri kita. Allah masih membiarkannya ada di dalam tubuh kita...
    0 min
  • Hukum Allah Dalam Batin
    Di mata manusia banyak orang sudah mendapat penilaian sebagai orang baik, mereka tidak dapat dituduh sebagai pelanggar hukum, tetapi di hadapan Allah sebenarnya mereka bukan orang-orang yang berkenan. Semua kita bisa berkeadaan seperti ini. Tetapi ketika sudah belajar kebenaran dalam tuntunan Roh Kudus, maka kita mulai memiliki suara di dalam hati kita mengenai kenyataan adanya sesuatu yang “jahat” di dalam diri kita. Sesuatu yang jahat tersebut -walau di mata manusia bisa dipandang bukan suatu kejahatan- tetapi membuat Roh Kudus atau perasaan Tuhan tidak nyaman. Hal itu sudah merupakan sesuatu yang menggelisahkan. Fenomena ini hanya terjadi pada orang yang sedang bergumul untuk sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan, atau mau hidup tidak bercacat dan tidak bercela menurut ukuran Tuhan.  
    Terkait dengan hal di atas ini Paulus mengatakan: Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku (Rm. 7:22-23). Paulus menyatakan bahwa ia menyukai hukum Allah. Teks aslinya berbunyi: sunedomai gar to nomo tou theou kata ton eso anthropon (συνήδομαι γὰρ τῷ νόμῳ τοῦ θεοῦ κατὰ τὸν ἔσω ἄνθρωπον). Sunedomai artinya I rejoice atau I delight (aku bersukacita atau aku menyukai). Gar artinya for (sebab). To nomo artinya in the law (kepada atau di dalam hukum). Tou theou artinya of God (Allah). Kata artinya down from, through out, according to, toward, along (preposisi yang memiliki beberapa pengertian). Terjemahan King James menterjemahkan sebagai “after”. Ton adalah definite article. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan the. Eso artinya to within, into, inner, inward (ke dalam manusia atau batinnya). Dengan demikian Roma 7:21 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan: Aku menyukai hukum Allah yang ada di dalam batin atau di kedalaman hati manusia.
    Dengan hal tersebut, maka apa yang dikemukakan di atas benar adanya, bahwa yang dipersoalkan bukanlah hukum secara umum, tetapi kebenaran dalam batin. Hal ini menyangkut kesucian Allah, yaitu apa yang berkenan di hadapan-Nya. Jadi, kalau dalam 2 Korintus 5:9-10, Paulus menyatakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah, inilah ukuran keberkenanan tersebut, yaitu kesucian Allah atau apa yang sesuai dengan selera Allah. Kalau hanya mengenai hukum Allah yang tertulis di atas kertas, Paulus sudah sangat ahli dan terbiasa “bermain” atau berada di wilayah tersebut; tetapi yang dimaksud Paulus adalah hukum Allah di dalam kedalaman batin atau hati manusia. Inilah hukum kesucian Allah atau hukum keberkenanan di hadapan Allah.
    Hukum Allah di dalam batin manusia sebagai lawannya adalah “hukum lain” di dalam anggota tubuh. Dalam Roma 7:23 tertulis: …tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Apa yang dimaksud dengan “hukum lain” di dalam anggota tubuh di sini? Harus dicatat di sini, bahwa kata tubuh dalam arti daging tidak ada dalam teks ini. Kalau ada, maka ada kata sarkikos (σαρκικός), tetapi yang ada dalam Roma 7:22 adalah kata melos (μέλος). Kata melos memang juga bisa bertalian dengan sarkikos, tetapi juga bisa berarti atau menunjuk suatu gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah yang kudus di dalam diri seseorang, bisa dalam daging dan jiwa. Hal ini akibat dari pengalaman hidup masa lalu yang telah menggores dan membangun karakter.
    Sebelum Paulus bertobat dan mengenal kebenaran Injil, ia tidak memiliki pergumulan ini. Ia menyaksikan bahwa ia tidak bercela dalam melakukan hukum Taurat. Paulus merasa bahwa dirinya adalah umat Allah yang benar, sehingga yang menjadi fokus hidupnya adalah membela agamanya dengan mendatangkan kesukaran bagi orang Kristen pada waktu itu. Paulus tidak perlu merasa menggumuli masalah batin,
    0 min
  • Mematikan Kodrat Dosa
    Tidak dapat dibantah bahwa Roma pasal 7 memuat tulisan Paulus yang sukar dipahami. Isinya berpotensi kuat menjadi bahan perdebatan banyak teolog. Dari penjelasan sebelumnya, terdapat fakta bahwa di dalam diri kita sebagai manusia ada kodrat dosa yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Roh. Fakta ini tidak dapat dibantah.
    Dengan jelas Paulus menulis: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rm. 7:15-20). Dari hal ini, kita menemukan betapa rawannya hidup kita ini. Inilah yang menjadi titik persoalan berat kita sebagai anak-anak Allah, yang harus hidup dalam pimpinan Roh Kudus, agar layak disebut sebagai anak-anak Allah.
    Kodrat dosa dalam kehidupan kita -bukan hanya harus ditekan dan diarahkan untuk tidak melanggar tatanan hukum dan etika kehidupan secara umum- tetapi dimatikan sama sekali, untuk digantikan dengan kodrat baru. Agama dan pendidikan budi pekerti memiliki wilayah “menjinakkan kodrat dosa” ini. Mereka berusaha untuk dapat berhasil mengatasinya. Mereka dapat mengatasinya secara terbatas, tetapi tidak akan pernah sanggup mematikannya dalam level tertentu untuk dapat melahirkan kodrat dosa. Mereka hanya bisa menekannya saja atau sekadar menjinakkannya, tetapi tidak akan bisa mematikannya sama sekali dan menggantikannya dengan kodrat baru, yaitu kodrat Ilahi. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang dapat menjawab masalah ini.
    Kodrat dosa dalam kehidupan manusia, tidak dapat diarahkan untuk bisa sinkron dengan kehendak Roh, juga tidak dapat diarahkan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Kodrat dosa mengunci manusia dalam keadaan tidak berdaya untuk mencapai kesempurnaan dan kekudusan yang dikehendaki oleh Tuhan. Hanya kodrat Ilahi yang dapat membuat keadaan moralnya sinkron dengan kehendak Roh, dan dapat mengarahkan seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang percaya harus mengenakan salah satunya, kodrat manusia atau kodrat Ilahi. Dalam Kekristenan harus ada yang dikorbankan atau dimatikan, kodrat Ilahi atau kodrat manusia. Kita tidak boleh menghidupi dua-duanya, karena tidak pernah ada titik temu di antara keduanya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
    Dari tulisan Paulus kita dapati pergumulan berat Paulus dan kesan frustasi yang dialaminya. Ia menyatakan: Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku (ay. 21). Dalam tulisan ini ia menyaksikan adanya tarik menarik yang terjadi di dalam dirinya, yaitu antara kodrat dosa dan kodrat baru yang sedang ditumbuhkan, yaitu kodrat Ilahi. Paulus sangat menyadari adanya kejahatan di dalam dirinya. Kata kejahatan dalam teks aslinya adalah kakos (κακός), yang artinya kodrat yang buruk (bad nature), juga bisa berarti model berpikir (mode of thinking), suatu kesalahan (wrong).
    Kata kakos ini memang tidak memiliki unsur kejahatan yang parah seperti kata adikia (kejahatan) atau parabasis (pemberontakan). Tetapi kakos menunjuk kepada keadaan yang belum sesuai dengan standar kesucian Tuhan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa yang dipersoalkan Paulus bukanlah dosa-dosa seperti yang dipahami ora...
    0 min
  • Kodrat Dosa Di Dalam Kehidupan
    Paulus menyaksikan mengenai pengalaman hidupnya sebagai berikut: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa kodrat dosa di dalam dirinyalah sebagai penyebab, mengapa ia berbuat apa yang tidak dikehendakinya. Itulah sebabnya di dalam kesaksiannya di Roma 7:17, ia mengatakan: Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Kalimat “bukan aku lagi yang memperbuatnya”, berarti bukan Paulus yang bermaksud memiliki keadaan diri demikian itu, tetapi dosa yang ada di dalam dirinya. Dari pernyataan Paulus ini nampak frustasinya Paulus menghadapi keadaan dirinya sendiri tersebut.
    Kalimat “ada di dalam aku” dalam teks asli bahasa Yunani adalah oikeo (οἰκέω) (Rm 7:15). Kata oikeo ini berhubungan dengan kata oikos yang artinya rumah atau tempat tinggal. Jadi kalimat “ada di dalam aku” maksudnya menetap atau tinggal di dalam dirinya seperti penghuni sebuah rumah. Dari tulisannya ini, Paulus hendak menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada penghuni yang membangun keberadaannya, atau yang menggerakkan seseorang berbuat segala sesuatu. Penghuni tersebut yang menentukan perilaku seseorang. Itulah kodrat seseorang.
    Kalimat berikutnya sukar dipahami ketika Paulus mengatakan: Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik (Rm. 7:16). Kata perbuat dalam teks aslinya di ayat ini bukan katergazomai (κατεργάζομαι) seperti di ayat 15 dan 17, tetapi poieo (ποιέω) yang lebih menunjuk kepada suatu tindakan yang membuat dampak. Dalam konteks ini, bedanya poieo dengan katergazomai adalah kalau poieo menunjuk satu perbuatan yang menghasilkan suatu dampak, sedangkan katergazomai lebih menunjuk akumulasi tindakan yang utuh yang membangun suatu bentuk. Kata katergazomai juga bisa berarti menyelesaikan atau mencapai. Kata “kehendaki” dalam teks aslinya adalah thelo (θέλω), yang juga berarti “yang diharapkan atau yang dimaksudkan”.
    Jadi kalau Paulus mengatakan: … jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Paulus hendak menunjukkan, bahwa yang dikehendaki oleh dagingnya adalah melawan hukum (karena kodrat dosa di dalam dirinya). Pada umumnya, kesukaan dagingnya adalah perbuatan yang melawan hukum atau bertentangan dengan kehendak Allah. Jadi, kalau ada saat-saat ia melakukan apa yang dikehendaki oleh dagingnya (yang berkodrat dosa) -yang dia benci- maka berarti ia menyetujui atau mengakui bahwa hukum itu baik. Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa perbuatan yang berdasarkan kodrat dosa adalah sesuatu yang buruk, dan ia ada dalam kesadaran bahwa apa yang dilakukan itu yang dia benci, berarti dia mengakui bahwa hukum baik, sebab Paulus ingin melakukan apa yang sesuai dengan hukum.
    Meneguhkan mengenai kenyataan bahwa daging kita selalu berusaha mendesak melakukan apa yang tidak dikehendaki oleh Allah, dikalimatkan Paulus dengan pernyataannya sebagai berikut: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat (Rm. 7:18-19). Kemudian lebih tegas lagi Paulus mengatakan: Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rm. 7:20). Dari pernyataan Paulus ini, ia hendak mengemukakan bahwa ada kekuatan di dalam dirinya yang sering terekspresi dalam tindakan yang tidak dia kehendaki.
    Ketika ia belum mengenal kebenaran Injil, ia tidak memiliki pergumulan konflik dalam dirinya tersebut. Ia merasa bahwa dirinya tidak bercacat dalam melakukan hukum. Tetapi ketika sudah mengenal kebenaran Injil,
    0 min
  • Terjual Di Bawah Kuasa Dosa
    Paulus mengatakan keadaan manusia adalah keadaan yang telah “terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Kata ketiga yang penting adalah kata “terjual”.  Ini berarti ada subyek yang membeli manusia, dan sesuatu yang menjadi obyek transaksinya. Kata ini sangat penting. Sebenarnya kata terjual adalah sebuah metafora (bukan dalam arti harafiah), bahwa oleh perbuatan salah Adam, menyebabkan semua keturunannya tidak bisa memiliki kemampuan untuk bertindak tepat seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian manusia selalu “meleset” (hamartia) dari apa yang dikehendaki oleh Allah. Bangsa Israel tidak pernah tidak meleset dalam melakukan hukum Taurat, itulah sebabnya harus ada darah domba sebagai alat penghapus dosa. Bagi umat Perjanjian Baru, dimana kehendak Allah sebagai hukumnya, maka umat pilihan Perjanjian Baru harus berjuang melawan kemelesetan (dosa; hamartia). Kemelesetan di sini adalah kemelesetan dari pikiran dan perasaan Allah.
    Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan semua manusia tidak terjual di bawah kuasa dosa. Ini berarti semua manusia dapat terbeli untuk bisa hidup dalam kodrat Ilahi, yaitu hidup dalam kehendak Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Tetapi kenyataannya, manusia pertama telah jatuh dalam dosa. Adamlah yang menyebabkan manusia terjual, sehingga semua yang dilahirkan di bumi ini ada di bawah kuasa dosa. Keadaan manusia yang terjual di bawah kuasa dosa, adalah keadaan diri manusia yang -tidak dapat tidak- pasti meleset dari kehendak Allah yang sempurna. Inilah yang disebut Martin Luther sebagai nonposse nonpeccare.
    Dalam sejarah kehidupan umat pilihan, telah terbukti bahwa manusia tidak dapat melakukan kehendak Allah dengan sempurna (bagi bangsa Israel melakukan Taurat). Hal ini terjadi karena manusia telah berkodrat dosa. Melakukan hukum Taurat saja tidak bisa terpenuhi dengan sempurna, apalagi melakukan kehendak Allah, yaitu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Paulus menjelaskan hal ini dengan pernyataan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm. 7:15).
    Pengalaman Paulus seperti ini adalah pengalamannya setelah mengenal kebenaran Injil, sebab sebelum mengenal kebenaran Injil, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Ini berarti sebelum menjadi orang percaya Paulus tidak mengalami atau menyadari ketegangan (konflik) dalam dirinya dalam melakukan hukum. Lagi pula, pemimpin-pemimpin agama seperti Paulus, pada umumnya adalah orang-orang beragama yang sombong. Mereka tidak akan merasa sebagai orang berdosa, tetapi merasa sebagai orang yang sudah benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyindir mereka dengan pernyataan, bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit (Mat. 9:12).
    Paulus mengatakan: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Kata “perbuat” dalam teks aslinya di ayat Roma 7:15 ini adalah katergazomai (κατεργάζομαι) yang artinya to perform, accomplish, achieve, to work out, to fashion, to produce (melakukan, mencapai, menyelesaikan suatu tugas, berpenampilan, menghasilkan). Kata “perbuat” dalam ayat ini lebih menunjuk suatu penampilan atau keadaan hidup seseorang, bukan hanya satu atau dua tindakan. Tidak mungkin seseorang melakukan suatu tindakan di luar kesadaran atau tanpa sepengetahuannya. Tetapi ketika seseorang menyadari keadaannya, akibat dari akumulasi perbuatannya setiap hari, maka ia bisa berkata: “Mengapa aku berkeadaan demikian?” Kalimat berikut Paulus menyatakan: bahwa keadaan yang dimilikinya bukanlah apa yang diingininya, tetapi justru yang bukan diingininya atau yang dia benci malahan terjadi atau ada dalam dirinya.
    Apa yang dikemukakan Paulus adalah sebuah perenungan diri. Ketika Paulus merenungkan apa yang dihasilkan dari perbuatan-perbuatannya setiap hari,
    0 min
  • Bersifat Daging
    Bagi bangsa Israel, hukum yang dipahami adalah hukum Taurat yang masih bersifat agamani, artinya hukum-hukum yang bersifat legalistik artinya dilakukan sesuai dengan bunyinya. Contoh legalistik, misalnya membunuh artinya menghabisi nyawa seseorang atau menghentikan kehidupan manusia di bumi. Berzinah artinya melakukan hubungan seks di luar nikah dan lain sebagainya. Tetapi bagi umat pilihan Perjanjian Baru, berlaku hukum yang disempurnakan atau digenapi (Mat. 5:17 – Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya).
    Hukum Taurat yang disempurnakan adalah hukum yang berkualitas sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, bersifat batiniah. Itulah yang diajarkan Yesus di dalam Injil-Nya. Membunuh bukan hanya menghabisi nyawa seseorang, tetapi tindakan membenci (sikap hati yang tidak kelihatan) sudah merupakan pembunuhan. Hukum seperti ini tidak dapat ditulis. Tidak ada tulisan yang dapat mewakili hal yang bersifat batiniah ini. Jadi, alatnya bukanlah huruf-huruf yang tertulis di atas loh batu, tetapi alatnya adalah Roh Kudus yang menuliskan kehendak-Nya di loh hati manusia. Dalam hal ini orang percaya harus menjadikan Tuhan sebagai hukum-Nya. Dengan demikian maksud Allah sejak semula terpenuhi, bahwa Allah adalah satu-satunya hukum kehidupan.
    Hukum Taurat yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel adalah “bagian dari moral Allah”, tetapi dalam kualitas yang rendah atau belum sempurna, yang dikenakan bagi manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Hukum Taurat diberikan untuk manusia yang masih belum memiliki kasih karunia atau anugerah dalam Yesus Kristus. Kemampuan manusia sebelum zaman anugerah sangat terbatas. Manusia hanya bisa berbuat baik atau melakukan hukum yang tertulis dalam ukuran manusia yang telah kehilangan atau kurang kemuliaan Allah. Bisa dimengerti kalau mereka hanya dituntut untuk melakukan hukum secara legalistik.
    Bagi umat Perjanjian Baru yang memiliki Injil dan materai Roh Kudus, dimampukan untuk mengerti kehendak Allah -apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna- umat dituntut untuk sempurna. Mereka dimampukan untuk melakukan kehendak Allah bukan berdasarkan hukum-hukum yang tertulis, tetapi berdasarkan kebenaran dan kesucian Allah. Dalam hal ini hukum yang disempurnakan adalah moral Allah sendiri. Itulah moral yang sempurna. Setiap orang percaya dipanggil untuk sempurna seperti Bapa.
    Kata kedua yang penting dalam pembahasan ini adalah: Bersifat daging. Dalam pernyataannya, Paulus mengatakan bahwa dirinya bersifat daging (Rm. 7:14). Bersifat daging artinya kecenderungan melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kata daging dalam teks aslinya adalah sarkikos (σαρκικός), yang artinya fleshly, carnal, having the nature of flesh, under the control of the animal appetites, governed by mere human nature not by the Spirit of God, having its seat in the animal nature or aroused by the animal nature (bersifat kedagingan, duniawi, memiliki sifat daging, di bawah kendali nafsu hewani, diatur oleh sifat manusia belaka bukan oleh Roh Allah, memiliki keadaan sifat hewani atau terangsang oleh sifat hewan).
    Pada dasarnya sarkikos adalah kebalikan atau lawan dari pneumatikos. Dalam sarkikos terdapat unsur “hukum dalam arti kodrat”, yaitu kodrat dosa, dimana manusia memiliki kecenderungan meleset atau menyimpang dari kehendak Allah yang suci dan sempurna. Dengan demikian, sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat kodrat yang memuat keinginan atau dorongan yang cenderung bertentangan dengan kehendak Allah. Hal ini terjadi karena dosa yang dilakukan oleh Adam telah menjalar kepada semua keturunannya. Semua keturunannya telah hidup dalam dominasi “daging”. Daging di sini maksudnya adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Allah atau tidak sesuai dengan keinginan Roh Kudus.
    Hidup dalam kodrat dosa,
    0 min
  • Hukum Adalah Milik Allah
    Dalam Roma 7:14 Paulus menyatakan bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi dirinya bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Dalam hal ini harus dimengerti bahwa kata “hukum Taurat” dalam teks aslinya adalah ho nomos (ὁ νόμος). Dalam bahasa Inggris biasanya diterjemahkan the Law. Ho nomos artinya hukum dalam pengertian tunggal. Ini tidak menunjuk kepada perintah-perintah, tetapi menunjuk kepada suatu tatanan yang harus dilakukan atau dikenakan dalam kehidupan. Dengan demikian sebenarnya kata hukum bisa menunjuk tatanan bagi bangsa Israel; dimana bagi bangsa Israel itu adalah Taurat. Tetapi juga tatanan yang berdasarkan kehendak Allah. Dalam konteks ini, pengertian “kehendak Allah” berlaku bagi orang percaya. Memang pada dasarnya Allah adalah satu-satunya hukum kehidupan. Di dalam Diri Allah ada tatanan dan standar kesucian atau kebenaran, yang dikenakan-Nya sendiri serta semua makhluk ciptaan-Nya.
    Bagi bangsa Israel, kehendak Allah diwakili oleh hukum Taurat yang diberikan di Sinai; sedangkan bagi orang percaya kehendak Allah tidak diwakili oleh hukum atau peraturan apa pun, tetapi Diri Allah sendiri, yaitu pikiran dan perasaan-Nya yang harus dipahami dan dituruti secara benar, absolut, dan mutlak. Jadi, kalau terdapat kalimat “hukum Taurat”, itu maksudnya adalah hukum yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Penjelasan ini penting, agar kata ho nomos tidak selalu berarti hukum yang diberikan kepada bangsa Israel. Kesalahan memahami hal ini dampaknya sangat besar. Sebenarnya kata Taurat artinya hukum. Jadi, sebenarnya kata ho nomos tidak selalu berarti hukum Taurat.
    Untuk memahami pernyataan Paulus dalam Roma 7:14 -yang merupakan ayat penting dalam Roma 7, yang juga dapat menjadi landasan penalaran pernyataan Paulus di ayat-ayat berikutnya- kita harus memahami beberapa kata penting dalam ayat ini, yaitu: kata pertama adalah “rohani”. Kata rohani dalam teks aslinya adalah pneumatikos (πνευματικός). Kata ini memiliki beberapa pengertian antara lain: relating to the human spirit, or rational soul, as part of the man which is akin to God and serves as his instrument or organ, that which possesses the nature of the rational soul, belonging to a spirit, or a being higher than man but inferior to God, belonging to the Divine Spirit, of God the Holy Spirit, one who is filled with and governed by the Spirit of God, pertaining to the wind or breath; windy, exposed to the wind, blowing (berkaitan dengan roh manusia, atau pikiran jiwa, bagian dalam diri manusia yang memiliki kesamaan dengan Allah dan berfungsi sebagai alat atau organ-Nya, yang memiliki pikiran jiwa, yang dimiliki oleh Roh yang Ilahi, lebih tinggi dari kemanusiaan tetapi lebih rendah dari Allah, dimiliki oleh Roh Allah, dikuasai atau diperintah oleh Roh Allah, yang berkaitan dengan angin atau nafas).
    Dalam hal ini hukum yang diberikan bagi bangsa Israel adalah hukum Taurat, agar manusia tidak menjadi liar dan keji seperti hewan, tetapi manusia masih bisa beradab, agar manusia tidak saling membunuh sehingga bisa menjadi punah. Khususnya bagi bangsa Israel, hukum diberikan agar bangsa tersebut memiliki ketertiban. Dengan demikian bangsa Israel dapat tetap eksis, demi menggenapi rencana Allah, yaitu menghadirkan Mesias dan menjadi saksi Allah yang benar.
    Kalau dikatakan bahwa hukum adalah rohani, artinya hukum adalah milik Allah yang diberikan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan roh manusia dalam relasinya dengan Allah. Hukum berfungsi sebagai alat untuk menuntun atau membawa manusia kepada kehidupan yang dapat mengerti kehendak Allah guna dilakukan. Sehingga manusia dapat bersekutu dengan Allah. Di dalam hukum terdapat pikiran Allah. Sejatinya, hukum merupakan cermin dari kekudusan Allah yang menjadi alat untuk menguasai dan memerintah manusia. Dengan demikian hukum mengatur relasi antara umat dan Allah dan antar sesama, bahkan juga manusia dengan alam.
    Hukum menuntun manusia agar dapat bermoral seperti yang Allah kehendaki...
    0 min
  • Alat Pembuktian
    Dalam Roma 7:13 tertulis: Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Kalimat-kalimat ini kalau tidak dipahami dengan benar, seseorang bisa menjadi sesat dalam pemikirannya. Kalimat “adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku”, maksudnya adalah apakah hukum dan peraturan mendatangkan kematian bagiku? Jawabnya: sekali-kali tidak! Hukum dan peraturan tidak dirancang untuk mendatangkan kematian. Dengan demikian, seseorang atau siapa pun tidak dapat mempersalahkan hukum atau peraturan, dan Tuhan yang memberikan hukum atau peraturan tersebut. Kesalahan terdapat pada manusia itu sendiri. Kesalahan juga bukan karena Allah merancang kejatuhan manusia ke dalam dosa.
    Paulus menyatakan: Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Kalimat “ia adalah dosa” maksudnya bahwa suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum atau peraturan adalah tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini berarti hukum atau peraturan memverifikasi atau menunjukkan atau membuktikan bahwa suatu perbuatan dapat diklasifikasikan benar atau salah. Jika tidak ada hukum atau peraturan, maka tidak ada alat pembuktian kesalahan tersebut. Hal ini bukan bermaksud untuk menjerat manusia, tetapi untuk menyadarkan manusia atas perilakunya.
    Selanjutnya Paulus mengatakan: dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Dari pernyataan Paulus ini, dijelaskan sesungguhnya hukum dan peraturan menunjukkan atau memberi kesadaran kepada manusia, bahwa di dalam dirinya terdapat kodrat dosa, yang membuat seseorang terbelenggu di dalam keadaan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan kehendak Allah dengan benar atau secara sempurna. Sekaligus dalam hal ini, dosa menjadi nyata dalam kehidupan seseorang. Dengan demikian, ada dua hal penting yang harus dimengerti:
    Pertama, kesadaran terhadap adanya kodrat dosa di dalam diri setiap manusia.
    Kedua, dosa itu sendiri yang begitu nyata dalam kehidupan manusia.
    Dengan kesadaran terhadap adanya kodrat dosa dan fakta dosa yang nyata dalam kehidupan manusia, maka orang percaya dipanggil untuk keluar dari belenggu kodrat dosa di dalam dirinya, serta menyadari setiap tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Memenuhi panggilan ini, berarti meresponi keselamatan dengan benar. Inilah yang dimaksud dengan tindakan percaya itu. Dari hal ini, maka orang percaya disadarkan untuk memenuhi perintah Tuhan Yesus, bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Tuhan Yesus telah memperagakan kehidupan yang sempurna seperti Bapa, dengan demikian semua orang percaya harus berjuang untuk ini.
    Kesadaran adanya kodrat dosa, membangkitkan gairah untuk memadamkan kodrat tersebut dan menggantikannya dengan kodrat baru. Dalam hal ini, sempurna seperti Bapa artinya berkeadaan kudus seperti kekudusan Bapa. Ini panggilan wajib setiap orang percaya, sebab Allah Bapa yang berfirman: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Menjadi orang percaya yang berkeadaan kudus seperti Bapa sama artinya dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-11). Inilah pendidikan yang Bapa berikan kepada orang percaya yang berani mengikuti perlombaan yang diwajibkan bagi setiap umat pilihan (Ibr. 12:1-10). Mengambil bagian dalam kekudusan Bapa, sama dengan yang dimaksud oleh Petrus sebagai: mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Dalam hal ini, semua orang percaya dipanggil untuk mengikuti perlombaan tersebut. Perlombaan untuk mengubah kodrat, dari kodrat manusia menjadi kodrat Ilahi.
    Jika orang percaya tidak bersedia mengikuti perlombaan tersebut,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…