Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • His Divine Power
    Baptisan Roh Kudus sebenarnya tidak hanya menunjuk suatu momentum, tetapi lebih menunjuk suatu proses. Memang dalam Alkitab dikesankan bahwa baptisan Roh Kudus adalah sebuah momentum. Kitab Kisah Rasul beberapa kali mengisahkan hal tersebut (Kis. 2, 8,10 dan 19). Tanda-tanda pencurahan Roh Kudus di Yerusalem dimaksudkan agar dunia mengerti, bahwa sekarang ini adalah zaman atau masa Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya untuk menggarap manusia agar bisa mencapai kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan Roh Kudus orang percaya dapat mencapai kesempurnaan, serupa dengan Yesus, mengenakan kodrat Ilahi, yaitu keadaan yang benar-benar berbeda dengan manusia pada umumnya. Inilah keadaan orang yang benar-benar mengalami Kelahiran Baru.
    Kalau baptisan air, berarti seseorang ditenggelamkan ke dalam air, dimana seseorang dipanggil dan dituntut untuk memahami hukum dan hidup di dalamnya. Tetapi baptisan Roh Kudus berarti orang percaya ditenggelamkan dalam kehidupan yang bersekutu dengan Allah di dalam atau melalui Roh-Nya untuk hidup di dalam kehendak-Nya dengan sempurna. Orang yang menerima Roh Kudus berarti tubuhnya menjadi bait Roh Kudus. Ia tidak boleh mencemarkan tubuhnya dengan dosa. Ia harus memuliakan Allah dengan tubuhnya (1Kor. 6:12-20).
    Orang yang menerima Roh Kudus adalah orang yang menerima tanggung jawab

    untuk belajar dan terus dimuridkan

    agar sempurna seperti yang

    Allah Bapa kehendaki.
    Justru dengan menerima baptisan Roh Kudus, seseorang memiliki tuntutan beban yang sangat berat untuk berusaha menjadi manusia yang berbeda dengan dunia ini.
    Baptisan Roh Kudus membawa orang percaya kepada proses kehidupan berjalan dalam Roh atau dipimpin oleh Roh Allah. Orang percaya yang harus menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya. Ini berarti suatu perjuangan untuk menjadi sempurna, dan memang inilah maksud Roh Kudus diberikan, yaitu agar kita dibawa kepada segala kebenaran Allah. Jadi, orang percaya pasti memiliki Roh Kudus yang menempatkan dirinya dalam perjuangan dikembalikan ke rancangan semula Allah, yaitu menjadi serupa dan segambar dengan Allah. Level ini adalah level orang yang mengalami Kelahiran Baru guna mengenakana kodrat Ilahi.
    Baptisan Roh menunjuk bahwa Tuhan membawa umat pilihan kepada “masa yang baru” (sesuai dengan makna baptisan). Baptisan orang percaya berarti kesediaan untuk dikuburkan bersama dengan Tuhan Yesus, adapun baptisan Roh berarti orang percaya dibawa kepada suatu dekade hidup baru dimana seseorang berjalan dengan Allah. Ini berarti seseorang yang dibaptis Roh Kudus tidak harus menunjukkan tanda-tanda lahiriah sesaat. Tetapi yang penting, dalam kehidupan orang percaya adalah buah Roh yang menandai seseorang benar-benar telah mengalami Kelahiran Baru. Orang yang mengalami Kelahiran Baru pasti mengenakan kodrat Ilahi.
    Di zaman Perjanjian Baru Allah berkenan masuk dalam kehidupan orang percaya sebagai “Penolong” (Yoh. 14:16). Kata Penolong dalam teks aslinya adalah parakletos (παράκλητος), yang juga berarti pendamping. Roh Kudus menolong orang percaya menggenapi rencana Allah. Tanpa Roh Kudus orang percaya tidak bisa menggenapi rencana-Nya. Tanpa Roh Kudus orang percaya tidak akan pernah menjadi manusia seperti yang dikehendaki Allah, yaitu sesuai dengan gambar dan rupa-Nya. Sebagaimana dalam baptisan seseorang ditenggelamkan ke dalam air, demikian pula orang percaya ditenggelamkan dalam penguasaan Roh Kudus. Roh Kudus yang mendiami orang percaya dimaksudkan agar memimpin orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Dengan memahami kebenaran, pola berpikir seseorang diubah total, sehingga mengalami perubahan kodrat, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Oleh sebab itu maksud baptisan Roh Kudus adalah agar orang percaya menjadi manusia baru yang berstandar Allah sendiri, yaitu bisa berkodrat Ilahi.
    Jadi, dengan pengertian yang memadai mengenai kebenaran,
    0 min
  • Baptisan Menuju Perubahan Kodrat
    Kalau pertobatan secara umum adalah berbaliknya seseorang menjadi penurut hukum atau norma moral secara umum, tetapi dalam Kekristenan pertobatan berarti percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Selanjutnya seseorang harus belajar kebenaran Tuhan untuk mencapai kesucian Tuhan atau mengenakan kehidupan Yesus yang sangat batiniah sifatnya. Segala sesuatu yang Tuhan perintahkan terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru, yang isinya sangat batiniah. Dalam hal ini sangat penting untuk memiliki ketajaman berpikir guna menangkap kebenaran batiniah yang Tuhan ajarkan. Akhirnya, orang percaya dapat menghidupkan kehidupan Yesus yang pernah hidup di bumi dengan tubuh daging dua ribu tahun yang lalu, dalam kehidupan orang percaya hari ini.
    Kesediaan seseorang bertobat dinyatakan dalam baptisan air. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dilahirkan oleh air (Yoh. 3:3-5). “Dilahirkan oleh air” menunjuk kepada komitmen seseorang untuk meninggalkan dunia dan mengikut Tuhan Yesus yang ditunjukkan dengan baptisan air, yaitu pertobatan yang sejati. Pertobatan seperti ini tidak hanya terjadi satu kali, tetapi terus menerus sepanjang kehidupan.
    Setiap kali pikiran dicerahi kebenaran, kemudian menyadari ketidaktepatannya dalam berpikir dan bertindak,

    maka seseorang harus melakukan pertobatan.
    Adapun dilahirkan oleh Roh (Yoh. 3:5), menunjuk kepada pekerjaan Roh Kudus dalam diri seseorang yang membuka pengertiannya terhadap kebenaran Tuhan dan menuntunnya kepada perubahan karakter. Hati orang percaya terus menerus mengalami perubahan kalau Roh Kudus menuntunnya. Tanpa Roh Kudus, pikiran seseorang tidak akan disanggupkan memahami pikiran dan perasaan Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus ini bukan satu kali, tetapi berkali-kali, terus-menerus sampai kepada realitas Kelahiran Baru terjadi dalam hidup seseorang atau mengenakan kodrat Ilahi. Tetapi di balik pekerjaan Roh Kudus, pihak manusia juga harus meresponinya dengan tekun. Kelahiran Baru yang terjadi dalam kehidupan orang percaya merupakan hasil dari perjumpaan antara pekerjaan Roh Kudus dan respon manusia. Usaha manusia sehebat apa pun tidak akan dapat membawa manusia kepada Kelahiran Baru, tetapi manusia harus menyambut-Nya. Sebaliknya, walaupun Roh Kudus luar biasa, tetapi kalau manusia tidak menyambut penggarapan-Nya, maka tidak akan terjadi Kelahiran Baru untuk perubahan kodrat. Kelahiran Baru sesungguhnya adalah akumulasi dari pertobatan yang benar atau sejati dari kebenaran Firman yang mengubah pola pikir seseorang. Hal ini yang memungkinkan terjadinya perubahan kodrat.
    Dengan demikian, membahas mengenai perubahan kodrat, tidak bisa dipisahkan dari hal baptisan Roh Kudus. Untuk memperoleh pengertian yang tepat mengenai baptisan air dan baptisan Roh Kudus, maka terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan baptisan itu dari latar belakangnya. Baptisan merupakan tradisi Yahudi. Suatu upacara yang diadakan bagi orang-orang non Yahudi yang mau masuk agama Yahudi. Baptisan tersebut dikenal sebagai baptisan proselit. Kata proselit menunjuk orang-orang non Yahudi yang menganut agama Yahudi atau yang juga dikenal sebagai agama Musa. Pada prinsipnya, baptisan menunjuk pada kehidupan seseorang yang berkomitmen  memasuki sebuah cara atau gaya hidup yang baru. Sejak seseorang dibaptis ia harus bersedia meninggalkan cara atau gaya hidupnya yang “lama” dan mengenakan cara hidup yang baru. Adapun baptisan Yohanes merupakan penegasan bahwa mereka yang memberi diri dibaptis harus memiliki buah-buah pertobatan yang benar. Yohanes Pembaptis mulai mengarahkan bangsa Israel pada kebenaran yang tulus dan murni. Mereka dituntut untuk sungguh-sungguh menunjukkan buah pertobatannya. Setelah dibaptis mereka harus bersedia hidup yang baru memenuhi tuntutan kebenaran.
    Baptisan dalam Kekristenan adalah lambang kematian. Seorang yang memberi diri dibaptis harus meninggalkan cara hidup yang sama dengan anak-anak dunia,
    0 min
  • Awal Perubahan Kodrat
    Seseorang tidak akan mengalami perubahan kodrat tanpa melalui proses Kelahiran Baru. Dalam pengajaran mengenai Kelahiran Baru, kita tertumbuk pada masalah dilahirkan dari air dan oleh roh. Dijelaskan sebelumnya bahwa dilahirkan dari air menunjuk kepada komitmen untuk meninggalkan cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, untuk selanjutnya belajar memasuki kehidupan baru yang Tuhan ajarkan. Air menunjuk kepada baptisan air. Tentu baptisan yang dimaksud Tuhan bukan dari aspek teknisnya, tetapi maknanya, yaitu kesediaan dikuburkan bersama dengan Tuhan Yesus dan hidup dalam hidup yang baru (Rm. 6:4). Dikuburkan di sini bukan hanya berarti rela meninggalkan kehidupan moral yang salah, tetapi bersedia meninggalkan hidup yang lama dengan segala filosofinya. Inilah pertobatan yang sejati untuk mencapai kesucian seperti kesucian Tuhan sendiri.
    Seseorang yang mau mengalami Kelahiran Baru harus memiliki komitmen yang bulat untuk meninggalkan cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dari cara berpikirnya yang salah dengan segala filosofinya. Ini bukan hanya meninggalkan segala perbuatan yang melanggar hukum secara umum, tetapi segala perbuatan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Untuk ini seseorang harus memiliki niat yang kuat atau kesediaan yang bulat untuk diubah Tuhan. Niat yang sungguh-sungguh menunjukkan seseorang mengasihi Tuhan. Kalau seseorang tidak mengasihi Tuhan dengan benar, maka ia tidak akan memiliki niat yang bulat untuk mengalami kodrat Ilahi.
    Tidak ada orang yang tidak berniat

    untuk berubah, dapat diubah oleh Tuhan sampai mengalami Kelahiran Baru.
    Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan agar serupa dengan Yesus, hanya bagi mereka yang mengasihi Allah (Rm. 8:28-29). Patut digarisbawahi kalimat: bagi mereka yang mengasihi Allah. Tentu hati yang mengasihi harus digerakkan oleh individu, bukan oleh kekuatan di luar dirinya. Kalau Tuhan yang menggerakkan hati untuk mengasihi Dia, maka Tuhan juga harus bertanggung jawab atas mereka yang masuk neraka, karena mereka tidak digerakkan oleh Tuhan untuk mengasihi Dia. Kasih yang digerakkan atau direkayasa Allah di dalam diri seseorang adalah kasih yang tidak orisinal dari orang tersebut. Ini sebuah kepura-puraan atau kemunafikan. Allah yang agung bukan Allah yang membuat sandiwara seperti itu.
    Terkait dengan hal Kelahiran Baru, kita harus memahami pengertian pertobatan dengan benar. Jika pertobatan hanyalah sekadar tindakan berbalik kepada Tuhan, dari perbuatan yang melanggar moral secara umum kemudian hidup sesuai dengan norma moral umum, itu bukanlah pertobatan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Pada kenyataannya, pertobatan seperti inilah yang ditawarkan kepada banyak orang Kristen hari ini. Selanjutnya, Tuhan Yesus sekadar alat untuk menjawab kebutuhan jasmani, maka pertobatannya sia-sia.
    Dalam Kekristenan pengertian pertobatan tidaklah sama dengan konsep pertobatan menurut bangsa Israel atau umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya. Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran atau pengertian mengenai kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (extensive). Pemahaman hidup itu antara lain: siapa Allah; siapa manusia; bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidup; manusia akan mati dan menyongsong kehidupan di balik kubur; manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah; manusia harus menjadi seperti yang Sang Khalik kehendaki, dan lain sebagainya.
    Kesadaran moral memang akan membangkitkan penghargaan pada nilai-nilai etika dan mengubah perilaku dalam standar umum. Tetapi, kesadaran atau pemahaman kebenaran akan membangkitkan penghargaan kepada nilai-nilai spiritual

    dan kenyataan kekekalan serta perilaku

    yang sempurna seperti Bapa

    atau serupa dengan Yesus.
    0 min
  • Penundukkan Diri Yang Benar
    Harus dipahami dengan benar, di zaman Perjanjian Baru, menundukkan diri kepada hukum Allah bukan berarti sudah menundukkan diri kepada Allah sendiri.
    Umat pilihan dikehendaki untuk menundukkan diri kepada Allah

    secara benar, yaitu tunduk kepada apa pun yang dikehendaki oleh Allah.
    Hal ini bisa terjadi kalau seseorang mengalami perubahan kodrat, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Paulus, seperti banyak orang saleh lain, merindukan hidup dalam kesucian standar Allah dan ingin selalu menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya ia ingin segera menanggalkan tubuh yang membelenggu dirinya, sebab belenggu itu bukan hanya membuat dirinya tidak nyaman, tetapi Allah pun juga bisa dibuat tidak nyaman karena kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi selama mengenakan tubuh jasmani.
    Paulus menyebut tubuhnya adalah tubuh maut, artinya tubuh yang bisa mati. Seakan-akan Paulus hendak mengatakan, jangan karena tubuh yang akan mati ini, dirinya dibawa ke neraka kekal. Itulah sebabnya, ia berkata bahwa lebih baik kalau ia menanggalkan tubuh fananya dan menetap dengan Tuhan, sebab ia merasa tertekan dengan tubuh fana yang dikenakan. Kalau menetap dengan Tuhan, maka tidak ada tekanan lagi atau bisa juga berarti supaya tidak tergoda berbuat kesalahan lagi (2 Kor. 5:2-4).
    Kata “celaka” dalam Roma 7:24 dari teks aslinya adalah talaiporos (Ταλαίπωρος), yang berarti miserable, wretched (sengsara, celaka). Kata talaiporos juga berarti bekerja keras. Paulus menyatakan bahwa ia mengalami suatu tekanan. Ia tidak menganggap hal itu sepele atau hal bisa. Sebab hal ini menyangkut keberkenanan di hadapan Tuhan. Itulah sebab ia berusaha, baik diam di dalam tubuh, maupun diam di luarnya, supaya dirinya berkenan kepada Tuhan. Dari pernyataan Paulus ini -walaupun berat dalam tekanan- tetapi ia tidak berhenti berusaha. Bahkan sekalipun ia sudah keluar dari tubuhnya, ia akan terus berusaha untuk tetap berkenan di hadapan Tuhan. Jadi dasarnya berkenan bukan karena terpaksa. Sekalipun ia ada di luar tubuhnya, artinya tidak ada tekanan lagi seperti ketika mengenakan tubuh fana, ia tetap berusaha untuk berkenan kepada Allah.
    Dari keadaan tertekan, kemudian Paulus bersyukur kepada Allah oleh Yesus Kristus (Rm. 7:25). Apa maksudnya ini? Apa yang disyukuri? Tentu ayat berikutnya yang menjadi dasar atau alasan Paulus bersyukur, yaitu: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa (Rm. 7:26). Kalau dibaca sekilas ayat ini mengesankan bahwa Paulus hidup dalam dua area, yaitu area akal budi untuk melayani hukum Allah dan di area lain melayani hukum dosa. Ini mengesankan keadaan Paulus malah bertambah buruk. Untuk ini kita harus membedah ayat ini dengan sangat hati-hati, teliti dan cerdas, agar kita menemukan maksud Paulus menulis kalimat ini sebagai kesaksian hidupnya.
    Kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuo (δουλεύω), yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba. Kata “akal budi” terjemahan aslinya adalah nous atau pikiran. Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah (seperti yang dijelaskan di atas); sementara itu ia juga sadar bahwa ia masih ada dalam daging yang memiliki godaan melawan kehendak Allah. Dalam teks bahasa aslinya, kata “memperbudak” ditujukan kepada pikirannya untuk tunduk kepada kesucian Allah. Oleh karenanya hanya ada satu kata douleuo di kalimat predikatnya (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳ ἁμαρτίας)
    Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (hukum kesucian Allah), tetapi tidak dikatakan bahwa Paulus sengaja memperbudak diri kepada hukum dosa atau mengikatkan diri kepada kodrat dosa di dalam dirinya. Supaya tidak salah mengerti ayat ini mestinya mestinya diterjemahkan: Pikiranku kutundukkan kepada hukum kesucian atau kehendak Allah, sementara aku masih tinggal dalam tubuh yang ada dalam kodrat dosa.
    0 min
  • Konsekuensi Penebusan
    Dalam 1 Korintus 6:19-20 Alkitab menulis: Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Dari apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat ini jelas sekali bahwa setelah seseorang memberi diri ditebus, maka ia harus melepaskan semua haknya. Ini berarti ia bisa menjadi lebih miskin dari orang miskin. Sebab semiskin-miskinnya seseorang, ia masih merasa memiliki hak, sekecil apa pun hak tersebut. Tetapi orang percaya yang memberi diri ditebus, segenap hidupnya menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Dalam ayat ini dikatakan bahwa: orang yang ditebus bukan lagi miliknya sendiri. Masalahnya sekarang adalah bagaimana implikasi dan aplikasi konkret dari kehidupan orang yang memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus?
    Orang yang memberi diri ditebus oleh darah Tuhan Yesus harus menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Bentuk kesediaannya menyerahkan segenap hidupnya kepada Tuhan, tidak cukup dengan memberi uang, menjadi aktivis gereja, bahkan menjadi pendeta. Tetapi harus mengisi bejana hatinya dengan kebenaran Tuhan, sehingga dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil 2:5-7), atau yang sama dengan cara berpikir Tuhan Yesus. Hal ini dimaksudkan agar diri orang yang ditebus tersebut menjadi alat peraga Tuhan. Sebenarnya inilah inti dari keselamatan, yaitu bagaimana Tuhan bergerak melalui dan di dalam diri orang percaya. Sehingga akhirnya orang percaya bisa berkata seperti Paulus dalam Galatia 2:20 – … namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
    Tubuh atau kehidupan yang sudah dibeli dengan harga lunas dibayar harus menjadi bait Roh Kudus. Dengan menjadi bait Roh Kudus, tubuh dan segenap kehidupan harus digerakkan sesuai dengan keinginan Roh Kudus, bukan keinginan manusia yang sebelumnya memiliki tubuh tersebut. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan proses penyesuaian yang sangat berat. Di sini terjadi pergumulan dan perjuangan orang percaya untuk mengendalikan kendaraan hidupnya sesuai dengan Roh Kudus.
    Orang percaya yang rendah hati

    dan memiliki hati yang tunduk kepada Allah akan berusaha menyesuaikan diri

    terhadap kehendak Allah,

    walau melalui perjuangan yang berat.
    Dengan demikian menunjukkan bahwa ia memberi diri menjadi anak tebusan Tuhan. Menolak unutk menyesuaikan diri dengan kehendak Roh Kudus, berarti menolak penebusan. Ini juga berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.
    Perjuangan untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Roh Kudus sama dengan perjuangan memperagakan kehidupan Yesus. Memperagakan kehidupan Yesus berarti mengubah kodrat, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Kehidupan Yesus adalah model dari kehidupan “Manusia” yang mengenakan kodrat Ilahi. Inilah standar kehidupan yang berkenan kepada Allah. Hanya dengan cara demikian seseorang baru bisa dikatakan sebagai memuliakan Tuhan. Dalam hal ini Bapa tidak cukup dimuliakan dengan nyanyian dalam liturgi, tidak cukup dengan perbuatan baik, tetapi keadaan diri dimana kehidupan Yesus dapat diperagakan secara permanen. Secara permanen artinya karakter seseorang benar-benar diubah secara permanen menjadi serupa dengan Yesus.
    Dengan demikian, orang yang mengaku ditebus oleh darah Yesus

    -tetapi tidak semakin seperti Yesus-
    berarti ia menipu dirinya sendiri

    dan menipu sesamanya.
    Dengan perjuangan tersebut di atas, maka terjadi atau berlangsung proses “pengkloningan” orang percaya untuk menjadi serupa dengan Yesus. Hal ini sama dengan proses memiliki gambar dan rupa Allah, yang merupakan maksud keselamatan diberikan.
    0 min
  • Perubahan Kodrat
    Perubahan kodrat tidak ditemukan dalam banyak agama dan ajaran filsafat. Sesungguhnya inilah keistimewaan dan keunggulan yang ada pada Kekristenan. Tetapi sayangnya, keunggulan ini tidak disadari dan tidak dikenali dalam kehidupan banyak orang Kristen, sehingga tentu saja mereka tidak pernah mengalami perubahan kodrat yang merupakan esensi dari keselamatan. Dengan hal ini sesungguhnya mereka menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan sediakan. Ironinya, mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Mereka merasa memiliki keselamatan dan berhak masuk ke dalam surga. Karena hal ini, maka tidak ada usaha untuk mengerjakan keselamatan, atau tidak ada usaha untuk mengalami perubahan kodrat Ilahi.
    Bagi orang beragama pada umumnya yang memiliki hukum-hukum atau syariat yang harus ditaati, maka mereka tidak memerlukan perubahan kodrat hidup. Bagi mereka yang penting adalah pembinaan atau pendidikan agama, supaya umat mengenal tatanan hukum mereka dan memenuhinya dalam hidup keseharian. Seperti bangsa Israel, mereka merasa tidak perlu mengalami kelahiran baru yang mengubah kodrat hidup mereka, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Dengan kodrat manusia (human nature) saja mereka sudah bisa melakukan hukum-hukum atau syariat agama mereka. Keadaan manusia yang sudah jatuh dalam dosa masih berpotensi menjadi manusia yang bermoral baik. Tentu kebaikan di sini adalah kebaikan yang sangat relatif. Kebaikan yang relatif artinya kebaikan dari sudut pandang mata manusia yang bisa berubah dan masing-masing individu atau komunitas memiliki perspektif yang berbeda.
    Dalam hal tersebut di atas harus dipahami bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak membuat manusia harus atau mesti menjadi seperti hewan. Manusia tetap dapat memiliki moral yang baik, karena masih berkemampuan untuk melakukan perbuatan baik berdasarkan hukum. Manusia masih bisa berkuasa atas dosa, dalam arti kejahatan yang melanggar norma manusia. Karena hal inilah maka Allah berkata kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, tetapi ia harus berkuasa atasnya (Kej. 4:7, tapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya). Dalam kasus tersebut jelas sekali bahwa Kain mestinya dapat menghindari praktik pembunuhan, tetapi ternyata Kain memilih untuk membunuh adiknya. Dalam kehendak bebasnya Kain memilih membunuh adiknya.
    Adalah sangat keliru kalau seseorang berpikir bahwa kejatuhan manusia membuat manusia tidak dapat berbuat kebaikan sama sekali.
    Kebaikan yang mampu manusia lakukan adalah kebaikan berdasarkan norma umum, bukan berdasarkan kesucian Allah. Berdasarkan norma umum artinya berdasarkan Dekalog yang diterapkan secara legalistis. Legalistis artinya melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Kalau hukum berbunyi: Jangan membunuh artinya tidak menghabisi nyawa seseorang dengan tindakan pembunuhan (Ing. murder). Kalau hukum berbunyi: Jangan berzina artinya tidak melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangan sahnya atau belum disahkan secara hukum agama. Tetapi dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, kebencian sudah termasuk kategori membunuh.
    Umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus hidup berdasarkan kesucian Allah. Berdasarkan kesucian Allah adalah tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Untuk bisa memiliki kemampuan selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, tidak cukup melalui pembinaan atau pendidikan oleh sistem agama atau manusia, tetapi harus dikerjakan oleh Roh Kudus atas mereka yang mengasihi Allah. Penggarapan Roh Kudus tersebut bisa sampai pada tingkat di mana kodrat seseorang diubah, dari kodrat manusia (human nature) berubah berkeadaan kodrat Ilahi (divine nature). Perubahan ke kodrat Ilahi ini bersifat permanen.
    Kodrat Ilahi dapat menempatkan manusia atau memberi kemampuan manusia untuk dapat mengerti kehendak Allah. Kodrat yang diubah berarti pola berpikir yang diubah sama sekali (Flp.
    0 min
  • Memberi Pengaruh
    Semakin mengenal kebenaran Injil, semakin ada kegentaran mengikut Yesus, sebab ternyata mengikut Yesus menuntut kita harus menjadi manusia yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Berhubung sudah sah menjadi anak tebusan, maka tidak bisa tidak harus tetap mengikut Dia untuk mengalami perubahan kodrat. Dalam hal ini, bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Di kesempatan yang lain Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan seseorang harus berjuang, sebab banyak orang berusaha tetapi tidak bisa masuk (Luk. 13:23-24). Secara khusus kita akan menggali pengertian atau maksud ayat ini. Dan tidak bisa tidak kita harus melihat konteks seluruh pasal.
    Keselamatan dalam Yesus Kristus,

    bukan hanya membuat orang menjadi baik, tetapi hidup dengan cara yang berbeda.
    Cara hidup yang berbeda di sini berangkat dari cara berpikir yang berbeda, dengan cara berpikir manusia pada umumnya, bahkan berbeda dengan cara berpikir orang beragama sebaik apapun. Itulah sebabnya dalam Filipi 2:5-7, Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus memiliki cara berpikir Kristus. Ini adalah cara berpikir yang unggul. Dari hal ini Tuhan Yesus berkata, bahwa kita harus memiliki hidup yang luar biasa dalam kebenaran (Yun. dikaiosune δικαιοσύνη). Kebenaran di sini menyangkut sikap batin. Adapun kebenaran yang bertalian dengan pengertian mengenai kebenaran atau ajaran adalah aletheia (ἀλήθεια).
    Maksud penebusan oleh darah Tuhan Yesus bukan sekadar menciptakan manusia dengan agama baru dengan moral yang baik. Orang Yahudi sudah memiliki moral yang baik. Dalam hal ini, yang diganti bukan bajunya, tetapi isinya, yaitu cara berpikirnya. Itulah sebabnya Petrus menasihati orang percaya dengan nasihat ini: Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas… Maksud penebusan oleh darah Tuhan Yesus adalah agar kita menjadi anak-anak Allah yang berkeadaan seperti Bapa, yaitu berkodrat Ilahi. Itulah sebabnya ayat sebelumnya (ay. 16), Firman Tuhan mengatakan: Kuduslah kamu sebab Aku kudus. Aku dalam ayat ini adalah Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.
    Selanjutnya dalam Lukas 13:6-9, Tuhan memberi perumpamaan mengenai pohon ara yang ditanam di kebun anggur. Terdengar tidak lazim, pohon ara ditempatkan di kebun anggur. Tetapi demikian faktanya. Hal ini bisa mengisyaratkan bahwa kita sebenarnya tidak layak untuk menerima kebaikan Tuhan, tetapi karena kasih karunia-Nya kita diberi kesempatan untuk hidup dan berbuah. Tetapi kalau pohon ara tersebut tidak berbuah, maka akan ditebang. Hal ini jelas sekali menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya haruslah kehidupan yang berbuah. Jadi, berbuah adalah keharusan. Pertobatan yang benar akan menghasilkan buah sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu berkodrat Ilahi. Orang yang berkodrat Ilahi akhirnya akan membawa dampak bagi sesamanya.
    Lukas 13:10-17 berbicara mengenai mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan pada hari Sabat. Kepala rumah ibadat menjadi gusar, karena hal itu dipandang sebagai pelanggaran terhadap hukum Sabat. Tuhan Yesus mengecam mereka, karena mereka bisa melepaskan lembu atau keledainya pada hari Sabat untuk mencari makan, tetapi menyembuhkan seorang ibu yang sudah sakit selama 18 tahun mereka protes. Dari kisah ini, Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa ternyata kehidupan keberagamaan mereka masih menempatkan mereka sebagai subyek dan tidak memedulikan penderitaan orang lain secara patut.
    Kalau seseorang memiliki kebenaran,

    maka buah kehidupan yang pasti dipancarkan adalah kasihnya kepada sesama, yaitu bagaimana mempertaruhkan

    segenap hidup untuk keselamatan orang lain.
    Dalam Lukas 13:18-19, Tuhan Yesus mengemukakan perumpamaan mengenai biji sesawi. Biji sesawi itu sangat kecil, tetapi kalau sudah bertumbuh,
    0 min
  • Terbebas Dari Kodrat Dosa
     
    Dalam Roma 7:26 Paulus memberikan kesaksian: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan Paulus ini -dalam terjemahan Bahasa Indonesia- memberi kesan yang sangat kuat, seakan-akan Paulus memiliki hidup dalam dualisme; satu pihak dengan akal budinya Paulus melayani hukum Allah, tetapi di pihak lain dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa. Dengan kesan tersebut, seakan-akan secara akal pikiran Paulus menyetujui hukum Allah atau hidup dalam kesucian Allah, tetapi di pihak lain Paulus juga menyetujui untuk hidup dalam dosa, atau masih hidup dalam dosa, karena menuruti keinginan dosa dalam dagingnya. Dalam hal ini, seakan-akan karakter Paulus buruk.
    Dalam pernyataannya tersebut, di dalam terjemahan Bahasa Indonesia Paulus menyatakan bahwa dirinya “melayani hukum dosa”. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Paulus, sebab Paulus dalam kesaksiannya menyatakan: bahwa sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia sendiri adalah seorang yang tidak bercacat dalam melakukan hukum Taurat (Flp. 3:6). Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengenal hidup dalam perhambaan kepada dosa atau melayani hukum dosa, justru yang dirasakan oleh Paulus adalah sebaliknya, sebelum mengenal Tuhan Yesus, yaitu ketika hidup dalam keberagamaan Yahudi ia merasa tidak bercacat yang sama dengan tidak berdosa (Flp. 3:6). Perlu ditambahkan di sini bahwa yang dipahami oleh Paulus mengenai dosa -sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus- adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat. Mengenai hal itu ia menyaksikan bahwa dirinya tidak bercacat. Sangatlah tidak mungkin ia memiliki pernyataan bahwa dirinya diperhamba oleh dosa atau menghambakan diri kepada dosa.
    Paulus seperti banyak orang saleh lain yang merindukan hidup dalam kesucian standar Allah dan ingin selalu menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya ia ingin segera menanggalkan tubuh yang membelenggu dirinya. Paulus menyebut tubuhnya adalah tubuh maut, artinya tubuh yang bisa mati. Seakan-akan Paulus hendak mengatakan, jangan karena tubuh yang akan mati ini, dirinya dibawa ke neraka kekal. Itulah sebabnya, ia berkata bahwa lebih baik kalau ia menanggalkan tubuh fananya dan menetap dengan Tuhan, sebab ia merasa tertekan dengan tubuh fana yang dikenakan. Kalau menetap dengan Tuhan maka tidak ada tekanan lagi atau bisa juga berarti supaya tidak tergoda berbuat kesalahan lagi (2 Kor. 5:2-4).
    Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri orang percaya. Allah masih membiarkan kodrat dosa ada di dalam tubuh orang percaya. Orang percaya yang harus mengalahkan. Hal ini bisa terjadi kalau orang percaya tersebut menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah dengan sungguh-sungguh.
    Orang percaya dipanggil

    untuk menundukkan kodrat dosa

    di dalam dirinya

    dan mengenakan kodrat Ilahi.
    Inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam Filipi 2:12 sebagai mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa anugerah atau kasih karunia yang diterima oleh orang percaya harus dengan tanggung jawab. Bukan secara otomatis dapat mengubah kehidupan dan membuat seseorang mengalami keselamatan.
    Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan segenap hidupnya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Paulus beryukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan-Nya membuat ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada-Nya. Itulah yang dimaksud kemenangan yang sejati, yaitu menaklukkan kodrat dosa di dalam kehidupan orang percaya. Seperti Tuhan Yesus sudah menang, maka orang percaya juga bisa dan harus menang. Kemenangan orang percaya tidak diperoleh secara gratis dan otomatis, tetapi harus diperjuangkan berdasarkan kasih karunia yang Allah sediakan dalam Yesus Kristus.
    Seseorang tidak dapat dikatakan

    sebagai pemenang

    0 min
  • Hidup Secara Luar Biasa
    Kesempatan untuk menemukan kodrat Ilahi, hanya diberikan kepada umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Lama tidak memiliki kesempatan ini dan mereka tidak sanggup untuk melakukannya, karena mereka tidak memiliki kuasa untuk hidup sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:2-13). Tuhan hanya menyediakan paket ini untuk orang yang percaya di zaman anugerah. Jadi kalau seseorang hanya mau hidup baik-baik saja menurut ukuran umum, maka ia tidak perlu menjadi orang Kristen. Oleh sebab itu Tuhan menghendaki orang percaya mempersoalkan hal ini lebih dari mempersoalkan segala sesuatu. Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya memiliki kebenaran melebihi ahli Taurat dan orang Farisi, yaitu melebihi tokoh-tokoh agama (Mat. 5:20).
    Dalam teks aslinya kata kebenaran di sini adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kebenaran di sini adalah kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu cara berpikir dan renungan hati. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah simbol puncak dari kesalehan orang beragama. Kalau dikatakan melebihi kesalehan mereka, maka kehidupan keberagamaan macam apa? Tidak ada yang lain kecuali “berubah kodrat”. Ini adalah panggilan untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan.
    Semua orang percaya memperoleh

    panggilan ini,

    -yaitu masuk dalam proyek menjadi manusia yang luar biasa-

    dimana seseorang harus mempertaruhkan segenap hidupnya bagi Tuhan.
    Tanpa pertaruhan segenap hidup, seseorang tidak akan menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Pertaruhan segenap hidup artinya harus sungguh-sungguh serius. Bukan kegiatan sambilan. Di sini berlaku Firman Tuhan yang mengatakan: Kasihilah Tuhan Allah-Mu dengan segenap hidupmu (Mat. 22:37-40; Mrk. 12:28-34; Luk. 10:25-28). Kasih seseorang kepada Tuhan ditunjukkan dengan kesediaannya menjadi pribadi seperti yang Tuhan kehendaki, yaitu berkodrat Ilahi.
    Kebaikan secara umum adalah kebaikan yang telah dimiliki semua orang beragama. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah orang yang hidupnya berkualitas tinggi secara umum. Mereka sudah memiliki hidup yang berkualitas tinggi dalam ukuran manusia. Tetapi mereka tidak mengenal kasih karunia dalam Yesus Kristus yang dapat mengubah kodrat. Banyak orang beragama memiliki jejak hidup sebagai orang beragama yang saleh. Mereka telah memiliki gambar diri yang baik di mata manusia. Tetapi mereka belum menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Di sini dapat ditemukan perbedaan Kekristenan dengan semua agama di dunia ini.
    Memang langkah awal proses penyempurnaan untuk memiliki kodrat Ilahi, dimulai dari menjadi manusia yang baik secara umum terlebih dahulu, setelah itu barulah dapat menjadi manusia yang luar biasa. Kebaikan secara umum ini antara lain: memiliki kejujuran, kesantunan dan beretika, sehat jasmani, cerdas berpikir, tidak ceroboh dalam mengambil keputusan, rajin dan giat bekerja, hemat, bertanggung jawab dalam tugas, sopan dalam tutur kata, bisa mengatur keuangan pribadinya, produktif dan berguna di tempat kerja, memiliki prestasi dalam studi, karir maupun dalam bidang lainnya, bersosialisasi dengan baik, tidak membuat onar tetapi membawa kesejahteraan dan ketentraman, memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain dan berbagai aspek, menggunakan lidahnya dengan baik, menguasai diri dan mampu mengontrol perasaan dengan seksama, tidak mengingini milik orang lain, dan lain sebagainya.
    Manusia harus menjadi manusia yang cukup memadai, yaitu baik dalam berbagai aspek hidupnya atau manusia yang sehat dalam seluruh aspek hidupnya, barulah kemudian dapat dibangun menjadi manusia yang berkodrat Ilahi. Dalam pertimbangan Tuhan, ternyata juga ada kondisi-kondisi tertentu yang efektif dapat menciptakan kondisi mengalami perubahan kodrat; dari kodrat dosa atau kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Tuhan mengizinkan seseorang dalam keadaan yang sulit dalam berbagai aspek tidak selalu karena kesalahan atau kejahatannya.
    0 min
  • Perjuangan Melawan Kodrat Dosa
    Banyak orang Kristen sesat dalam berpikir bahwa dengan korban Tuhan Yesus di kayu salib -walaupun seorang Kristen hidup dalam dosa (melayani hukum dosa)- maka hal tersebut tidak menjadi masalah besar, sebab Allah melihat darah Yesus yang melingkupi orang percaya. Seakan-akan Allah tidak mempersoalkan dosa yang dilakukan orang percaya, atau kodrat dosa yang masih menguasainya. Jadi menurut mereka, walaupun seseorang dengan tubuh insaninya masih berbuat dosa, karena ia seorang yang memiliki anugerah keselamatan oleh darah Yesus, maka hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Pandangan ini benar-benar sangat menyesatkan, berpotensi besar membinasakan.
    Sebelum mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus, Paulus tidak memahami bagaimana menundukkan pikirannya kepada hukum Allah dalam konteks orang percaya, yaitu untuk bisa hidup dalam standar kesucian Allah atau hidup dalam pimpinan Roh, yang sama juga dengan berkodrat Ilahi. Sebelum Paulus mengenal Tuhan Yesus ia melakukan hukum secara legalistik, yaitu melakukan hukum sesuai dengan bunyinya. Bisa dimengerti, jika ia bisa menyatakan diri sebagai tidak bercacat (Flp. 3:6). Tetapi setelah mengenal kebenaran dalam Injil, ia memahami bagaimana memiliki pikiran untuk dapat melayani Allah, dengan melakukan kehendak Allah dalam pimpinan Roh Kudus, yang sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, ia tidak mengenal mengenai kodrat dosa. Jadi, dari hal ini dapat dibuktikan bahwa pergumulan Paulus dalam Roma 7:26 (Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa) adalah pergumulan sesudah ia mengenal Tuhan Yesus, bukan sebelum mengenal Injil.
    Paulus mengatakan: Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah. Kata “akal budi” dalam teks aslinya adalah nous (νους), yang sama artinya dengan pikiran. Adapun kata “melayani” dalam teks aslinya adalah douleuo (δουλεύω), yang artinya diperbudak atau dibelenggu atau diperhamba, hal ini sama dengan “menundukkan diri”. Kalau Paulus mengatakan bahwa dengan akal budinya ia melayani hukum Allah artinya bahwa Paulus menundukkan pikirannya pada kehendak Allah. Paulus melakukannya dengan sengaja dan sadar.
    Ini berarti Paulus harus menggerakkan dirinya sendiri untuk menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah.

    Paulus berusaha untuk mengikat atau membelenggu atau memperbudak pikirannya dengan hukum kesucian Allah. 
    Demikian juga kita.
    Kemudian Paulus menyatakan: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Tubuh insani dalam teks aslinya adalah sarkh (σαρξ) yang menunjukkan kepada daging yang memuat “kodrat dosa”, yang dalam teks aslinya adalah nomo hamartias (νομω αμαρτιας). Paulus jelas sekali menunjukkan bahwa di dalam dirinya masih memiliki kodrat dosa. Tetapi ini bukan berarti Paulus sengaja menundukkan diri kepada kehendak dosa atau kodrat dosa di dalam dirinya tersebut. Kalimat ini sangat penting untuk diperhatikan. Seharusnya dalam terjemahan tersebut tidak ada kalimat “melayani hukum dosa”. Sebab kalimat ini dapat mengesankan bahwa Paulus sengaja menundukkan diri kepada dosa atau melayani kodrat dosa. Dalam teks aslinya tertulis: ara oun autos ego to men noi douleuo nomo theou te de sarki nomo hamartias (Αρα οὖν αὐτὸς ἐγὼ τῷ μὲν νοῒ δουλεύω νόμῳ θεοῦ τῇ δὲ σαρκὶ νόμῳ ἁμαρτίας).
    Kalau kalimat Roma 7:26 dibagi dalam dua bagian, maka bagian pertama berbunyi: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, adapun kalimat berikutnya adalah: tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Kalimat predikat memuat kata douleuo, tetapi di kalimat obyek tidak terdapat kata douleuo. Memang kata douleuo bisa digunakan dalam dua kalimat tersebut, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan menimbulkan kesan seakan-akan Paulus (sengaja) menundukkan diri kepada dosa untuk menuruti atau melayani kodrat dosa. Dan hal itu dipandang bukan masalah sama sekali.
    Paulus menundukkan pikirannya kepada hukum Allah (...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…