Semakin mengenal kebenaran Injil, semakin ada kegentaran mengikut Yesus, sebab ternyata mengikut Yesus menuntut kita harus menjadi manusia yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Berhubung sudah sah menjadi anak tebusan, maka tidak bisa tidak harus tetap mengikut Dia untuk mengalami perubahan kodrat. Dalam hal ini, bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Di kesempatan yang lain Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan seseorang harus berjuang, sebab banyak orang berusaha tetapi tidak bisa masuk (Luk. 13:23-24). Secara khusus kita akan menggali pengertian atau maksud ayat ini. Dan tidak bisa tidak kita harus melihat konteks seluruh pasal.
Keselamatan dalam Yesus Kristus,
bukan hanya membuat orang menjadi baik, tetapi hidup dengan cara yang berbeda.
Cara hidup yang berbeda di sini berangkat dari cara berpikir yang berbeda, dengan cara berpikir manusia pada umumnya, bahkan berbeda dengan cara berpikir orang beragama sebaik apapun. Itulah sebabnya dalam Filipi 2:5-7, Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus memiliki cara berpikir Kristus. Ini adalah cara berpikir yang unggul. Dari hal ini Tuhan Yesus berkata, bahwa kita harus memiliki hidup yang luar biasa dalam kebenaran (Yun. dikaiosune δικαιοσύνη). Kebenaran di sini menyangkut sikap batin. Adapun kebenaran yang bertalian dengan pengertian mengenai kebenaran atau ajaran adalah aletheia (ἀλήθεια).
Maksud penebusan oleh darah Tuhan Yesus bukan sekadar menciptakan manusia dengan agama baru dengan moral yang baik. Orang Yahudi sudah memiliki moral yang baik. Dalam hal ini, yang diganti bukan bajunya, tetapi isinya, yaitu cara berpikirnya. Itulah sebabnya Petrus menasihati orang percaya dengan nasihat ini: Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas… Maksud penebusan oleh darah Tuhan Yesus adalah agar kita menjadi anak-anak Allah yang berkeadaan seperti Bapa, yaitu berkodrat Ilahi. Itulah sebabnya ayat sebelumnya (ay. 16), Firman Tuhan mengatakan: Kuduslah kamu sebab Aku kudus. Aku dalam ayat ini adalah Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.
Selanjutnya dalam Lukas 13:6-9, Tuhan memberi perumpamaan mengenai pohon ara yang ditanam di kebun anggur. Terdengar tidak lazim, pohon ara ditempatkan di kebun anggur. Tetapi demikian faktanya. Hal ini bisa mengisyaratkan bahwa kita sebenarnya tidak layak untuk menerima kebaikan Tuhan, tetapi karena kasih karunia-Nya kita diberi kesempatan untuk hidup dan berbuah. Tetapi kalau pohon ara tersebut tidak berbuah, maka akan ditebang. Hal ini jelas sekali menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya haruslah kehidupan yang berbuah. Jadi, berbuah adalah keharusan. Pertobatan yang benar akan menghasilkan buah sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu berkodrat Ilahi. Orang yang berkodrat Ilahi akhirnya akan membawa dampak bagi sesamanya.
Lukas 13:10-17 berbicara mengenai mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan pada hari Sabat. Kepala rumah ibadat menjadi gusar, karena hal itu dipandang sebagai pelanggaran terhadap hukum Sabat. Tuhan Yesus mengecam mereka, karena mereka bisa melepaskan lembu atau keledainya pada hari Sabat untuk mencari makan, tetapi menyembuhkan seorang ibu yang sudah sakit selama 18 tahun mereka protes. Dari kisah ini, Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa ternyata kehidupan keberagamaan mereka masih menempatkan mereka sebagai subyek dan tidak memedulikan penderitaan orang lain secara patut.
Kalau seseorang memiliki kebenaran,
maka buah kehidupan yang pasti dipancarkan adalah kasihnya kepada sesama, yaitu bagaimana mempertaruhkan
segenap hidup untuk keselamatan orang lain.
Dalam Lukas 13:18-19, Tuhan Yesus mengemukakan perumpamaan mengenai biji sesawi. Biji sesawi itu sangat kecil, tetapi kalau sudah bertumbuh,