Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Membela Alkitab Secara Bermartabat
    Orang percaya tidak perlu merasa kecil hati kalau Kitab Sucinya (Alkitab) dihadirkan dalam kehidupan umat tidak secara mistis dan spektakuler. Seperti misalnya dibawa oleh malaikat secara ajaib dan luar biasa, sudah dalam bentuk buku yang lengkap tanpa koreksi lagi. Alkitab tidak terbentuk atau terjadi secara demikian. Jika Alkitab turun dari langit secara spektakuler, ajaib dan mistis, maka tidak akan ada proses kanonisasi Alkitab, yaitu usaha untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang diakui sebagai kebenaran Firman Tuhan. Kalau orang Kristen beranggapan bahwa Kitab Sucinya turun dari langit secara mistis dan spektakuler, tetapi kemudian mengadakan proses kanonisasi, berarti mereka tidak konsisten. Di satu pihak mereka meyakini Alkitab turun dari surga, tapi di pihak lain mengadakan seleksi atas dokumen-dokumen tersebut. Tetapi orang percaya dalam sejarah gereja tidak melakukan hal tersebut. Orang percaya mengakui Alkitab ditulis oleh manusia dalam tuntunan Roh Kudus.
     
    Atas dokumen-dokumen yang tidak diakui sebagai Firman Tuhan, orang percaya tidak melakukan pembinasaan atau pemusnahan seperti pembakaran naskah-naskah yang dianggap tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Orang percaya membiarkan naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, seperti misalnya Injil Tomas, Injil Barnabas, dan lain sebagainya masih beredar dan eksis. Orang percaya tidak melakukan usaha pemusnahan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap orang percaya dari dulu sangat berintegritas, tidak otoriter, memiliki toleransi, dan percaya bahwa kebenaran tetap akan tampil sebagai kebenaran. Memang kemudian menjadi masalah bagi orang percaya, ketika naskah-naskah yang tidak dikanonkan atau diakui sebagai Firman Tuhan tersebut dijadikan senjata menyerang Kekristenan oleh pihak luar. Herannya, mereka mencoba menyerang Kekristenan dengan menggunakan naskah yang tidak diakui oleh orang percaya sebagai Firman Tuhan.
     
    Melalui perjalanan waktu dapat dibuktikan bahwa naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan tidak akan dapat secara signifikan mengganggu perjalanan hidup orang percaya. Naskah-naskah tersebut akhirnya nyaris lenyap ditelan waktu, sementara Alkitab yang dikanonkan tetap eksis, diterjemahkan ke hampir semua bahasa manusia dan menjadi buku yang paling banyak digandakan. Hal ini membuktikan bahwa Allah yang disembah oleh orang percaya -yaitu Bapa, dan Tuhan kita, Yesus Kristus- adalah Allah yang benar. Tanpa kekuatan manusia Alkitab yang memuat kebenaran Tuhan tetap eksis, sebab Allah melindungi kebenaran-Nya sendiri. Ketika orang percaya membiarkan Allah membela kebenaran-Nya sendiri yang termuat dalam Alkitab, justru dapat membuktikan kebenaran-Nya.
     
    Dari hal ini kita dapat belajar, bahwa kita tidak perlu membela Alkitab dengan cara kasar atau dengan kekerasan. Misalnya kalau suatu hari ada orang yang membakar Alkitab atau mengucapkan kata-kata yang menista Alkitab, kita tidak perlu menjadi marah dan melakukan tindakan pembalasan. Allah yang benar tentu juga Allah yang kuat. Allah yang benar dan kuat tersebut tidak perlu dibela. Allah sanggup membela Diri-Nya sendiri. Kalau kita berusaha untuk membela Alkitab, maka kita akan terjebak dalam kebodohan, tindakan konyol, tidak beradab dan tidak terhormat. Justru pembelaan seperti itu merendahkan martabat Allah yang besar.
     
    Kalau kita berkata “Allah Mahabesar”, berarti kita harus memberi ruangan kepada-Nya untuk membela Diri-Nya sendiri. Firman Tuhan mengatakan bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, bukan hak kita (Ibr. 10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya”).
     
    Membela Alkitab secara bermartabat adalah mewujudkan kebenaran Alkitab dalam kehidupan secara nyata. Jika kebenaran Alkitab dikenakan dalam kehidupan secara nyata, yang pasti sebuah kehidupan yang menjadi berkat,
    0 min
  • Memahami Alkitab Dengan Benar
    Alkitab tidak boleh dipahami secara kontemporer, artinya memasukkan pikiran modern ke dalam ayat-ayat Alkitab. Kita harus ketat dalam memahami bahwa Alkitab harus ditafsirkan sesuai dengan pikiran Alkitab. Pikiran Alkitab maksudnya adalah makna orisinal dari maksud penulisan suatu perikop atau paragraf. Untuk itu seorang peneliti Alkitab harus benar-benar menguasai latar belakang suatu teks; kapan ditulis, oleh siapa penulisnya, di mana ditulis, dalam rangka atau konteks apa, bagaimana pemikiran manusia pada zaman itu, bahasa asli Alkitab (bahasa Yunani dan Ibrani), dan lain sebagainya. Banyak orang salah memahami ayat-ayat Alkitab sebab memaksakan pikiran kontemporer atau pikiran modernnya ke dalam Alkitab. Ini berarti bukan mengangkat isi Alkitab keluar tetapi memasukkan pikirannya sendiri ke dalam Alkitab.
     
    Biasanya praktik di atas tersebut dilakukan oleh mereka yang tidak belajar Alkitab di Sekolah Tinggi Teologi. Mereka tidak mengerti teks asli Alkitab (bahasa Ibrani dan Yunani). Mereka tidak belajar latar belakang Alkitab dan kaidah ilmu menafsir (hermeneutik dan eksegesis). Ditambah lagi dengan ambisi pribadi yang tidak kudus, yaitu hanya mencari keuntungan dan kesenangan diri sendiri, maka mereka sesukanya sendiri menafsirkan isi Alkitab. Alkitab memang diam, bisa seperti tidak berdaya, tetapi suatu hari nanti pemilik Alkitab -yaitu Tuhan Yesus- pasti mengadakan perhitungan dengan orang-orang ini, yaitu mereka hamba-hamba Tuhan gadungan. Tetapi orang-orang seperti ini justru memiliki “market” dewasa ini. Mengapa? Sebab mereka berusaha menjawab kebutuhan masyarakat yang orientasinya kepada kemakmuran duniawi. Kemakmuran duniawi inilah yang dibutuhkan dan sangat diminati masyarakat modern yang telah tercandui oleh percintaan dunia.
     
    Memang pada mulanya pelayan-pelayan jemaat tersebut memiliki motif yang baik dalam pelayanan. Mereka juga bisa memiliki kesaksian hidup yang luar biasa; bisa kesembuhan dari sakit, pemulihan ekonomi, dan lain sebagainya. Semua itu bisa menjadi modal atau bekal membangun gereja. Bila mampu mengelola dengan baik, maka gereja tersebut bisa maju. Ketika merasakan “kemakmuran” duniawi, maka motif pelayanan mereka menjadi rusak. Berhubung mereka harus tetap eksis dalam pelayanan, maka mereka menyusun doktrin atau pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab demi kelangsungan “hidup” mereka.
     
    Biasanya orang yang menghubung-hubungkan satu ayat dengan ayat yang lain sesukanya sendiri tanpa melihat konteks setiap ayat, dan didorong untuk mendukung pengertian atau pandangannya sendiri, menafsirkan ayat-ayat Alkitab sembarangan. Mereka melakukan hal tersebut karena mereka tidak mengerti bagaimana membedah isi Alkitab. Mereka menyatakan bahwa pandangannya benar secara Alkitabiah sebab ada ayatnya. Pandangan mereka memang sekilas ayatiah, tetapi sebenarnya tidak Alkitabiah. Bagi jemaat yang tidak mengerti, dengan tulus jemaat menerima saja apa yang disampaikan. Sungguh menyedihkan, banyak jemaat disesatkan. Penyesatan ini tidak membuat jemaat menjadi jahat atau bejat, mereka menjadi orang-orang yang setia di gereja dan bermoral baik, tetapi mereka tidak sampai kepada maksud keselamatan yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.
     
    Ayatiah berarti hanya sesuai dengan suatu ayat dalam Alkitab. Sehingga kemungkinan salah sangat besar, sebab menafsirkan ayat Alkitab harus menghubungkan dengan ayat yang lain di dalam pasal itu (konteks pasal), juga menghubungkannya dengan seluruh konteks kitab. Tidak boleh melepas ayat dari konteksnya. Kalau suatu ayat lepas dari konteksnya, maka ayat tersebut menjadi liar, artinya bisa ditafsirkan sesukanya sendiri si penafsir. Suatu pandangan teologi atau pengajaran haruslah Alkitabiah. Alkitabiah berarti sesuai dengan pikiran seluruh isi Kitab Suci. Untuk memperoleh pandangan yang Alkitabiah harus dilakukan suatu eksplorasi Akitab yang benar-benar b...
    0 min
  • Apakah Yang Dimaksud Dengan Kebenaran Itu?
    Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran itu? Bila ditinjau dari pengertian umum, kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan nilai esensialnya atau keadaan yang dianggap sebagai sebenarnya atau yang orisinal. Kebenaran bisa berarti keadaan tidak bersalah, suatu ketepatan bertalian dengan pandangan, sikap, dan filosofi serta perilaku. Berbicara mengenai kebenaran, hal ini benar-benar bersifat sangat subyektif, artinya tergantung dari sudut pandang masing-masing individu. Setiap orang bisa menyatakan sesuatu itu sebagai kebenaran, sementara yang lain mengatakan bukan. Jadi apakah kebenaran itu? Tentu tergantung masing-masing individu berfilosofi, dan hal itu sangat ditentukan oleh bangunan berpikir yang dimiliki setiap orang.
     
    Salah satu pernyataan penting Tuhan Yesus dalam Alkitab yang tertulis di dalam Yohanes 14:6 adalah: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Kata kebenaran dalam ayat ini, teks aslinya adalah aletheia (ἀλήθεια), yang berarti pengertian mengenai apa yang sepatutnya atau sebenarnya dipahami manusia untuk dikenakan dalam kehidupan.
     
    Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa Diri-Nya adalah kebenaran, artinya bahwa segala sesuatu yang dikatakan atau diajarkan dan cara berpikir serta seluruh gaya hidup-Nya adalah standar yang harus dikenakan manusia.
     
    Dengan memahami segala sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam kehidupan konkret, maka berarti seseorang hidup di dalam kebenaran.
     
    Kebenaran hidup dalam kehidupan orang percaya bukanlah perilaku hidup berdasarkan hukum, tetapi berdasarkan cara berpikir Tuhan yang oleh karenanya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga memiliki hidup seperti hidup yang dijalani oleh Yesus dua ribu tahun yang lalu. Dengan demikian orang percaya dapat berkata: … namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal. 2:20). Inilah standar hidup yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Orang yang memahami kebenaran dan memiliki integritas untuk mengenakannya, pasti hidupnya dibentuk oleh kebenaran isi Alkitab, sehingga hidupnya menjadi kebenaran Alkitab yang diperagakan.
     
    Kalau dikatakan bahwa Alkitab mengandung kebenaran, artinya bahwa apa yang tertulis di dalam Alkitab jika dipelajari secara mendalam dengan kaidah-kaidah eksegesis dan hermeneutik yang sehat, maka akan diperoleh kebenaran yang murni. Kebenaran inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dapat memerdekakan (Yoh. 8:31-32 – “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”). Masalahnya kemudian adalah bagaimana dapat menemukan kebenaran dari Alkitab? Harus dipahami bahwa untuk menemukan kebenaran dari Alkitab tidak mudah. Alkitab seperti belantara di mana jalan setapaknya kadang-kadang sulit ditemukan. Oleh sebab itu perlu belajar bagaimana menyusuri belantara Alkitab tersebut sehingga dapat menemukan tujuannya.
    Tujuannya tentu adalah kebenaran itu sendiri.
     
    Alkitab adalah buku tebal yang memiliki potensi yang sangat besar terjadinya multitafsir, artinya orang dapat menafsirkan sesuka sendiri tanpa batas. Setiap orang yang membedah Alkitab mengaku bahwa yang mereka pahami mengenai Alkitab adalah pemahaman yang paling benar. Tidak heran kalau dari hal ini maka banyak pengajaran yang timbul. Di antara pengajaran-pengajaran tersebut, banyak yang sebenarnya tidak Alkitabiah. Memang pengajaran-pengajaran tersebut sekilas benar karena diambil dari ayat-ayat Alkitab, tetapi sebenarnya tidak dilakukan sesuai dengan kaidah eksegesis dan hermeneutik yang benar.
    0 min
  • Tuhan Menyisakan Dokumen-Nya
    Satu hal yang sangat luar biasa, Tuhan membuktikan bahwa Alkitab adalah ilham atau pewahyuan dari Allah yang masih orisinal. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Alkitab dipalsukan. Hal ini terbukti dengan banyaknya manuskrip atau salinan dari naskah asli Alkitab atau autograf yang masih dilestarikan oleh Allah. Salinan-salinan Alkitab baik dalam Bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani memiliki ketepatan dengan Alkitab yang orang percaya miliki hari ini. Hal ini sungguh-sungguh sangat luar biasa, sebab semua ini bisa terjadi karena adanya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya secara penuh dengan segala pengorbanan menyalin Kitab Suci dan mempertahankan keberadaan atau kelestariannya dengan darah dan nyawa mereka. Selanjutnya dari naskah asli tersebut diterjemahkan ke banyak bahasa di seluruh dunia.
     
    Kita bersyukur, banyak sarjana-sarja arkeologi Alkitab yang berusaha melakukan eksplorasi dan perjalanan berat untuk menemukan naskah asli Alkitab. Setelah mereka menemukan potongan-potongan dari berbagai naskah asli, maka mereka melakukan konstruksi ulang seperti sebuah puzzle yang sangat rumit. Tetapi berkat pertolongan Tuhan, mereka bisa mengkontruksi potongan-potongan tersebut sehingga dapat menjadi bentuk utuh yang membuktikan kebenaran, keaslian, atau orisinalitas Alkitab.
     
    Dari perjuangan para arkeolog Alkitab, telah ditemukan banyak manuskrip yang sampai sekarang masih tersimpan di beberapa tempat, khususnya di beberapa museum di negara-negara Barat, Israel, Mesir, dan beberapa negara lain. Manuskrip-manuskrip tersebut sebagian sudah menjadi rusak karena berbagai kausalitas. Manuskrip Perjanjian Lama yang sempat ada -tetapi sudah rusak- adalah Codex Aleppo. Manuskrip ini sebenarnya berasal dari abad 9-10. Codex ini tersimpan di salah satu sinagoga orang Yahudi yang bernama Mustaribah dan sudah berusia 1500 tahun lebih.
     
    Sebenarnya Codex Aleppo adalah sebuah manuskrip Ibrani lengkap terbaik dari Siria, karena merupakan codex Perjanjian Lama yang lengkap yang berasal dari abad ke-10 M, sekitar tahun 930 M. Lebih dari seribu tahun manuskrip ini bertahan keutuhannya. Tetapi sayangnya, sekitar seperempatnya hancur pada kerusuhan melawan Yahudi di Arab pada 2 Desember 1947, empat hari setelah Perserikatan Bangsa Bangsa memutuskan untuk membagi Palestina menjadi negara Israel dan negara Arab. Dalam kerusuhan itu seluruh sinagoga dibakar, termasuk Sinagoga Mustaribah yang berumur 1500 tahun. Codex Aleppo ditemukan dalam tumpukan abu dengan seperempat bagiannya sudah terbakar.
     
    Selanjutnya, ada beberapa codex yang perlu diketahui untuk membuktikan bahwa Alkitab orang percaya tidak dipalsukan. Codex tersebut antara lain: Codex Leningrad yang merupakan manuskrip tertua dan lengkap dari manuskrip Ibrani yang ada saat ini. Codex ini ditulis di Kairo sekitar tahun 1010 M. Codex Kairo adalah manuskrip yang berisi tulisan nabi-nabi oleh Moses ben Asher pada tahun 895 M. Codex Leningrad yang ditulis pada tahun 916 M, hanya berisi kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Nabi-nabi kecil. Codex Pentateuch yang sekarang tersimpan di British Library berasal dari sekitar abad 9 M dan 10 SM, berisikan sebagian besar Pentateuch. Selain codex–codex di atas masih banyak codex yang lain
     
    Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama berbeda dengan manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Pada kasus ini, salinan yang ada atau manuskrip yang ada hampir semuanya relatif lebih muda, bahkan jika dibandingkan dengan manuskrip Perjanjian Baru. Hal ini bisa dimengerti, sebab dari sudut pandang orang Yahudi, setelah suatu salinan tua disalin dengan tepat, maka salinan yang lebih muda justru lebih disukai. Setiap salinan yang salah atau yang sudah disalin justru akan dikuburkan melalui suatu upacara khusus, tetapi sebelumnya disimpan dahulu di suatu tempat penyimpanan yang disebut dengan genizah. Dengan niat baik ini, yaitu untuk melestarikan suatu salinan,
    0 min
  • Kanonisasi
    Kata kanon berasal dari bahasa Yunani, kanon (κανών); sedangkan dalam Bahasa Ibrani yang maknanya tidak berbeda jauh adalah qanah (קָנֶה). Pada dasarnya pengertian kata ini adalah ukuran atau alat untuk mengukur. Kata itu sendiri sebenarnya berarti ukuran yang biasa dikenakan untuk mengukur kehidupan, asas, atau undang-undang kepercayaan. Mula-mula kata kanon artinya daftar kitab-kitab yang disahkan oleh jemaat yang mula-mula. Kanonisasi (canonicitas) adalah proses menyusun kitab-kitab dalam Alkitab untuk diakui sebagai Firman Allah yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan manusia secara universal. Hal ini terjadi sebab Alkitab bukanlah kitab yang turun dari langit. Tetapi Alkitab ditulis oleh banyak orang yang oleh karenanya harus digumuli manakah kitab yang sungguh-sungguh merupakan ilham Roh Kudus dan diakui sebagai Firman Allah.
     
    Dalam hal ini kita percaya bahwa Tuhan menuntun gereja-Nya untuk menemukan kitab-kitab yang memang berisi kebenaran Allah yang harus diakui sebagai Firman Allah. Proses kanonisasi Perjanjian Lama sukar sekali ditemukan waktunya. Menurut catatan, sebelum Masehi proses kanonisasi sudah berlangsung. Tetapi menurut salah satu sumber, pada tahun 90 guru-guru agama Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan sidang Jamnia. Mereka menimbang tulisan-tulisan itu dan membakukan Kitab Suci Perjanjian Lama sejumlah 39 kitab. Dari sinilah jumlah kitab Perjanjian Lama terbentuk permanen.
     
    Pada mulanya, jemaat Kristen dalam kebaktian atau pertemuan bersama membaca kitab Perjanjian Lama saja. Kemudian ditambahkan beberapa surat rasul-rasul yang dianggap memiliki kewibawaan seperti kitab Perjanjian Lama. Uskup pertama yang menyusun daftar kitab kanon adalah uskup Athanasius Aleksandria. Dalam proses kanonisasi ini, ditetapkan kitab-kitab manakah yang diakui sebagai orisinal kebenaran Allah dan narasumber yang dapat dipercaya. Hal kanonisasi, sejarah gereja mencatat bahwa pada konsili di Khartago tahun 397 dinyatakan bahwa selain kitab-kitab yang dikanonisasi tidak boleh ada kitab yang diakui sebagai Firman Tuhan.
    Dalam iman Kristen, kita percaya bahwa proses kanonisasi Alkitab adalah karya

    Roh Kudus, bukan karya manusia yang memiliki otoritas untuk mengesahkan apakah suatu kitab adalah Firman Tuhan atau tidak.
    Tetapi Alkitab sendiri yang mengesahkan Diri-Nya sebagai Firman Allah
    di hati orang percaya (testimonium spiritussancti internum).
     
    Setelah melalui proses kanonisasi dalam gereja-gereja Protestan ditetapkan 66 kitab dalam Alkitab sebagai kitab yang dapat menjadi dasar pedoman kehidupan orang percaya. Kitab-kitab ini diterima dan diakui sebagai Firman Tuhan. Dalam gereja Roma Katolik -selain 66 kitab yang diakui oleh gereja aliran Protestan sebagai Firman Tuhan- mereka memiliki 15 kitab lain yang juga diakui sebagai Firman Tuhan. Kitab-kitab tersebut disebut kitab Apokripha, yang juga disebut sebagai deuterokanonika, dan diterima sebagai Firman Tuhan pada Konsili di Trente tahun 1546.
    Dalam proses kanonisasi tersebut ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan (criterium canonicitatis). Untuk pengkanonan Alkitab Perjanjian Lama harus memenuhi kriteria antara lain:
    Pertama, ditulis seorang nabi Tuhan yang dinyatakan Alkitab sebagai nabi yang benar, seorang nabi yang memiliki karunia khusus.
    Kedua, merupakan kitab yang selalu dibaca pada pertemuan-pertemuan ibadah bangsa Yahudi.
    Ketiga, sudah terbukti digunakan Tuhan Yesus sebagai referensi dalam khotbah-Nya atau menerimanya sebagai Firman Tuhan (Mat. 5:18; 8:17; 12:39, 40; Luk. 4:17-18; 11:29; 24:27, 44; dll).
     
    Untuk pengkanonan Alkitab Perjanjian Baru, kitab-kitab tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
    Pertama, ditulis oleh rasul-rasul Tuhan atau yang menjadi saksi mata langsung.
    Kedua, tidak bertentangan dengan wahyu Allah dalam Perjanjian Lama.
    Ketiga, diterima oleh masyarakat Kristen,
    0 min
  • Bahasa Alkitab
    Keberadaan autograf Alkitab, terutama Perjanjian Baru, sering dipermasalahkan oleh para kritikus Alkitab, seakan-akan tanpa autograf maka Alkitab tidak berarti lagi, tidak mempunyai otoritas lagi. Mereka merendahkan Alkitab dan menuduhnya sebagai kitab yang sudah diubah-ubah oleh manusia, sehingga tidak dapat dipercaya lagi. Demikian juga dengan autograf Perjanjian Baru, meskipun lebih muda dari Perjanjian Lama tetapi hanya beda kurang dari 600 tahun dari kitab Maleakhi. Dokumen-dokumen kuno yang ditemukan dan disimpan saat ini adalah manuskrip atau salinan dari salinan, bukan salinan langsung dari autograf. Sejak pertama kali ditulis dalam bentuk autograf, maka pasti salinan dari autograf ini juga sudah beberapa kali disalin, kemudian salinan lain dibuat berdasarkan salinan ini, demikian seterusnya.
     
    Perlu diketahui bahwa pada zaman Yesus mengenakan tubuh daging seperti kita, Ia juga menggunakan bahasa Aram. Bahasa Aram menjadi bahasa percakapan dalam kehidupan masyarakat pada zaman Yesus. Jadi, pernyataan-pernyataan Yesus sangat mungkin menggunakan bahasa Aram, selain bahasa Yunani. Pernyataan-pernyataan tersebut antara lain ucapan Yesus di kayu salib: Eloi, Eloi, lama sabakhtani? (Mrk. 15:34), talita kum (Mrk. 5:41), sebutan Abba, Maranatha (1Kor. 16:22), dan lain sebagainya. Meskipun bahasa percakapan Yesus sehari-hari adalah bahasa Aram, tetapi kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Hal ini disebabkan karena di abad pertama Masehi bahasa Yunani menjadi lingua franca atau bahasa yang universal seperti bahasa Inggris di zaman sekarang. Tetapi bahasa Yunani waktu itu adalah bahasa Yunani Helenistik atau Koine (common). Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan papirus kuno yang menggunakan bahasa Yunani Koine ini.
     
    Jadi bahasa yang dipakai para penulis Alkitab untuk menulis naskah asli atau autograf adalah untuk Perjanjian Lama adalah Ibrani dan Aram, dan untuk Perjanjian Baru adalah Yunani. Dewasa ini ada kelompok yang menyatakan dan mengklaim bahwa naskah asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani. Itu adalah pandangan yang salah, kalau beberapa bagian Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani oleh orang-orang Yahudi Kristen, itu bukan berarti Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Jika orang percaya memahami bahasa Yunani dan menemukan banyak kebenaran dari penggunaan bahasa ini dalam menyimpan rahasia kebenaran Firman Tuhan, maka kita lebih diteguhkan bahwa Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani.
     
    Tulisan asli Alkitab (autograf) ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani.
     
    Ibrani adalah bahasa percakapan di Israel, Aram di Siria dan beberapa wilayah lain, dan Yunani. Dan bahasa Yunani Alkitab tidak sama dengan bahasa Yunani modern. Bahasa Yunani yang dipakai untuk menulis Alkitab disebut bahasa Yunani Koine, yaitu bahasa Yunani yang menjadi lingua franca di dunia Mediterania atau dialek umum (koinē) di zaman kekuasaan Romawi. Inilah bahasa Yunani yang dipakai untuk menulis autograf Perjanjian Baru.
     
    Mengapa Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani? Sebab itulah bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu sebagai bahasa sehari-hari mereka. Tidak dapat disangkal dalam susunan huruf-huruf Ibrani dan angka-angkanya terdapat banyak misteri yang sangat menakjubkan. Perjanjian Baru ditulis dalam Bahasa Yunani, sebab bahasa Yunani menjadi bahasa pengantara pada waktu itu (lingua franca) yang mempermudah Injil diberitakan. Allah Bapa memilih bahasa Yunani, sebab dengan bahasa ini Allah Bapa bisa mengungkapkan banyak kebenaran dalam Injil. Sangatlah tidak mungkin Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani, sebab bahasa Ibrani pada zaman Yesus tidak digunakan oleh semua orang sebagai bahasa sehari-hari. Sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa Aram. Alkitab Perjanjian Lama yang menggunakan bahasa Ibrani saja diterjemahkan dalam bahasa Yunani (Septuagin...
    0 min
  • Media Kitab Perjanjian Baru Kuno
    Perlu juga di dalam bab ini kita membahas mengenai media yang digunakan untuk menulis Kitab Perjanjian Baru. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dapat meyakini bahwa Kitab Perjanjian Baru di tangan kita hari ini -yang merupakan pusat atau episentrum kebenaran- adalah Perjanjian Baru yang asli seperti yang dimiliki orang-orang percaya dari gereja mula-mula, yaitu sejak gereja-gereja pada abad satu.
     
    Perjanjian Baru ditulis setelah manusia menemukan papirus sebagai alat tulis.
     
    Papirus adalah serat dari tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan sarana menulis suatu data. Penggunaan papirus lebih umum digunakan sampai abad ke-4 M. Ini adalah abad dimana Kekristenan telah menjadi agama negara oleh kaisar Theodosius Agung sekitar tahun 380. Pada masa itu ditemukan media untuk menulis lebih kuat dari papirus, yaitu perkamen. Tentu saja perkamen memiliki daya tahan atau lebih kuat dari papirus.
     
    Sejak ditemukannya atau digunakannya perkamen, maka sebagian besar manuskrip kuno Perjanjian Baru bisa bertahan sampai hari ini sebagai warisan kitab Perjanjian Baru yang tidak ternilai harganya. Di antara kitab Perjanjian Baru, ada yang berasal dari abad 4 dan abad 5 dan ditulis di atas perkamen. Jenis kulit perkamen yang diolah khusus sehingga mempunyai kualitas yang lebih baik, halus, dan kuat disebut vellum. Namun demikian harus diakui bahwa naskah asli (autograf) yang asli sudah tidak ada atau dalam keadaan rusak. Tetapi salinannya masih ada. Seperti kitab Wahyu yang dipandang sebagai kitab termuda dalam Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yohanes di pulau Patmos pada akhir abad ke-1 Masehi, tidak pernah ditemukan kembali. Sangat mungkin Yohanes menggunakan papirus yang mudah rusak dalam menulis suratnya. Jadi, bisa dimengerti kalau surat Yohanes di pulau Patmos sudah tidak ada. Walau naskah asli (autograf) tidak ada lagi, tetapi salinannya dalam jumlah besar masih dapat ditemukan untuk membuktikan kebenaran keaslian kitab Perjanjian Baru.
     
    Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa perkamen lebih tahan atau lebih kuat dibandingkan dengan Papirus, maka sejak abad ke-4 manuskrip Perjanjian Baru yang masih bertahan sampai hari ini ditulis di atas perkamen. Pada saat itu itulah Codex Vatikanus dan Codex Sinaitikus ditulis dengan perkamen. Codex adalah perkamen yang memuat kitab Perjanjian Baru. Dari seluruh media penulisan kuno ini, yang paling menjadi perhatian serius dalam kaitannya dengan Alkitab adalah papirus dan perkamen (vellum). Penemuan-penemuan manuskrip Perjanjian Baru menunjukkan bahwa dua bahan ini yang dipakai untuk menyalin Kitab Suci, yaitu memakai papirus dan perkamen. Pada zaman itu, penggunaan bahan papirus dan kulit binatang selama berabad-abad berbentuk gulungan. Keterbatasan dari gulungan papirus ini adalah panjangnya tertentu, dan relatif tidak panjang. Jika tidak dibatasi, maka gulungan akan terlalu panjang dan berat, dan juga membukanya akan sangat merepotkan.
     
    Ketika penggunaan papirus sudah digantikan dengan perkamen, maka bentuk manuskripnya berubah menjadi codex, yaitu bentuk buku yang terdiri dari halaman-halaman yang terbuat dari perkamen. Bentuk codex ini jauh lebih baik, yaitu lebih mudah dibaca, dibawa, dan dapat ditulis pada kedua sisinya atau bolak balik. Tentu juga lebih mudah dibawa. Pada mulanya codex dibuat dari papirus, tetapi kemudian digantikan dengan perkamen. Teks Perjanjian Baru paling awal yang ada sekarang ditulis dalam bentuk codex. Jadi naskah asli atau autograf Perjanjian Baru ternyata berbentuk codex. Faktanya, salinan-salinan dari naskah asli atau autograf, yaitu manuskrip-manuskrip yang ditemukan pada umumnya berbentuk codex, dan hanya sebagian saja yang berbentuk gulungan. Dari 172 manuskrip atau fragmen yang ditulis sebelum abad 4, ternyata 158 berbentuk codex, dan hanya 14 yang berbentuk gulungan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan codex menggantikan gulungan dari abad ke-1 M sampai abad ke-5 M...
    0 min
  • Naskah Asli Perjanjian Baru
    Semua yang dikisahkan dalam Injil, pada mulanya hanya sebuah tradisi lisan yang diajarkan murid-murid Yesus yang pertama kepada jemaat. Belum menjadi dokumen tertulis. Seiring perjalanan waktu, oleh para pengikut Tuhan Yesus, dipandang sangat perlu dan penting untuk menulis semua yang dilihat dan didengar oleh murid-murid pertama Yesus tersebut. Itulah sebabnya, mulailah Injil ditulis oleh murid-murid Yesus pertama, juga menggunakan jasa orang lain untuk menulisnya; seperti Petrus menggunakan jasa Markus untuk menulis Injil Tuhan Yesus. Bisa dimengerti kalau Injil Markus juga bisa disebut sebagai Injil Petrus.
     
    Pada mulanya Perjanjian Baru ditulis dalam media papirus. Injil menjadi sebuah dokumen tertulis sudah ada sekitar tahun 140. Pada waktu itu keempat Injil sudah disatukan dan dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh. Pada zamannya, banyak tokoh-tokoh Kristen di dalam gereja -yang juga adalah para rasul- berusaha menyusun surat-surat menjadi bagian utuh Alkitab. Ahli arkeolog Kristen dan para pelayan jemaat berhasil merekontruksi naskah-naskah kuno Perjanjian Baru. Mereka dapat membuktikan kesamaan antara naskah-naskah kuno dengan Alkitab yang orang Kristen miliki hari ini. Sebagai buktinya, kemudian hari ditemukan naskah-naskah Perjanjian Baru yang lebih tua, seperti beberapa naskah surat Paulus dalam bentuk papirus yang berasal dari abad 1-2. Ternyata isinya sama dengan isi kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang.
     
    Menurut penelitian, Perjanjian Baru pada mulanya sudah mulai ditulis dan dihimpun secara lengkap pada abad ke-2. Pada abad itu juga sudah diterjemahkan ke bahasa Latin yang disebut Vetera Antiqua. Ini adalah bahasa Koptik yang biasa ditemukan dalam masyarakat di wilayah Mesir, Etiopia, dan Siria. Kemudian hari Alkitab bahasa Latin ini direvisi oleh Hironimus pada abad ke-4. Naskah tersebut disebut Vulgate, yang kemudian menjadi terjemahan Alkitab resmi pada zamannya. Sebab pada waktu itu masyarakat Kristen lebih menggunakan bahasa Latin. Kemudian hari dapat dilihat, banyak gereja-gereja di Eropa yang menggunakan liturgi dalam bahasa Latin.
     
     
    Adapun naskah Perjanjian Baru yang tertua dan lengkap berasal dari pertengahan abad ke-4. Yang dikenal sebagai Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus, dan lain sebagainya. Kalau kita memperhatikan, maka manuskrip Perjanjian Baru terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah manuskrip yang berasal dari waktu paling mula-mula atau lebih awal. Manuskrip ini tentu paling dekat dengan tahun penulisannya. Pada waktu itu Perjanjian Baru ditulis dengan huruf besar disebut dengan kelompok uncials. Adapun kelompok kedua adalah manuskrip yang ditulis dengan huruf kecil dan lebih kursif penampilannya, yang disebut dengan cursives atau minuscule. Minuscule ini baru ada dan tampil di abad ke-9.
     
    Sekarang ini, jumlah seluruh manuskrip Perjanjian Baru yang sudah ditemukan, sudah lebih dari 5.800 manuskrip. Tentu saja tidak semuanya berisi Perjanjian Baru secara utuh seperti yang kita miliki sekarang. Dengan demikian,
     
    Manuskrip Perjanjian Baru tersebut merupakan dokumen historis kuno yang

    lebih bisa menjadi saksi kebenaran Alkitab.
     
    Dari seluruh 5.800 manuskrip tersebut di atas, sebagian besar adalah minuscule yang berasal dari abad ke-9 M sampai abad ke-16 M. Seluruh manuskrip uncial berasal dari sekitar tahun 650.
     
    Pada mulanya para penyalin kitab kuno menulis dalam bahasa Yunani tanpa spasi antar kata, maupun antar kalimat. Terus terang hal ini menyulitkan bagi orang hari ini dalam memahaminya. Penulisan seperti ini dalam istilah teologis adalah scriptio continua. Praktik penulisan tersebut berlangsung sampai sekitar abad ke-8. Sejak saat itu kitab Perjanjian Baru menggunakan tanda baca di beberapa bagian. Sangat besar kemungkinan, manuskrip Perjanjian Baru ditulis dalam bentuk uncial maupun cursives,
    0 min
  • Penemuan Terbesar
    Membahas mengenai Alkitab, kita tidak boleh melupakan peristiwa besar yang pernah terjadi, yaitu penemuan naskah di sekitar Laut mati. Dalam dunia Kekristenan dan agama Yahudi ini adalah penemuan terbesar yang membuktikan kebenaran Alkitab; sehingga mestinya tuduhan bahwa Alkitab telah dipalsukan adalah tuduhan yang sembarangan dan gegabah, tidak berdasar sama sekali. Penemuan naskah di sekitar Laut Mati menunjukkan tindakan Allah yang luar biasa untuk membuktikan kebenaran dan keaslian Alkitab.
     
    Naskah Laut Mati, disebut juga gulungan Laut Mati. Gulungan Laut Mati adalah manuskrip Yahudi kuno, yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani, beberapa dalam bahasa Aramaik, dan sedikit dalam bahasa Yunani. Banyak gulungan dan fragmen ini berusia lebih dari 2.000 tahun, yang berarti dibuat pada masa sebelum kelahiran Yesus. Di antara gulungan-gulungan pertama yang diperoleh dari orang-orang Badawi terdapat tujuh manuskrip panjang dengan berbagai tahap kerusakan.
     
    Naskah Laut Mati dalam arti sempit adalah naskah-naskah yang ditemukan di gua-gua Qumran, maka sering disebut sebagai naskah Gua Qumran atau naskah Qumran. Naskah Qumran adalah suatu kumpulan naskah sebanyak 981 buah. Selain ini, terdapat naskah yang berbeda yang ditemukan sekitar tahun 1946 sampai 1956 dalam 11 gua di sekitar pemukiman kuno di wilayah Khirbet Qumran di tepi barat. Penemuan naskah yang berusia ribuan tahun terjadi ketika gembala-gembala domba Badawi berteduh di sekitar gua, ada juga yang mengisahkan bahwa mereka sedang mencari domba yang hilang. Ketika mereka ada di gua-gua tersebut, mereka menemukan guci-guci yang mereka pikir berisi harta karun berupa uang, tetapi ternyata gulungan-gulungan naskah (manuskrip) dari kitab Perjanjian Lama. Tentu saja nilai penemuan tersebut lebih dari jumlah uang seberapa pun.
     
    Kalau dipersoalkan dari manakah asal usul naskah tersebut, maka banyak pandangan mengenai hal ini. Ada beberapa pendapat yang menyebabkan banyak perdebatan mengenai asal usul gulungan naskah Laut Mati ini. Pendapat yang paling kuat atau paling dominan adalah bahwa naskah-naskah tersebut merupakan buatan suatu komunitas -salah satu sekte Yahudi yang tinggal dekat Qumran- yang disebut kaum Eseni. Mereka berpendapat bahwa kelompok Eseni inilah yang menulis atau menyalin naskah-naskah Perjanjian Lama tersebut bersama dengan kelompok sektarian Yahudi lainnya di sekitar Khirbet Qumran. Komunitas ini berusaha untuk menulis atau menyalin naskah-naskah Alkitab Perjanjian Lama, kemudian menyembunyikan dalam gua-gua tersebut. Ketika terjadi pemberontakan bangsa Yahudi pada kekaisaran Roma menjelang tahun 70, komunitas ini dihancurkan kekuatan Roma, sejak saat itu naskah-naskah tidak diketahui oleh masyarakat Yahudi dan dunia.
     
    Ada juga yang berpandangan bahwa gulungan-gulungan naskah tersebut merupakan hasil karya kaum Yahudi yang tinggal di Yerusalem, yang menyembunyikan gulungan-gulungan tersebut dalam gua-gua dekat Qumran. Pada saat melarikan diri dari tentara Roma -pada waktu Yerusalem dihancurkan (sekitar tahun 70M)- mereka menyembunyikan gulungan-gulungan naskah tersebut di sekitar Laut Mati tersebut.
     
    Tulisan-tulisan Qumran menunjukkan bahwa
    Alkitab Perjanjian Lama benar adanya.
     
    Tulisan dalam naskah Qumran juga menyingkapkan adanya peraturan Sabat yang sangat ketat yang dikenakan bagi orang-orang Yahudi dalam komunitas mereka, serta perhatian yang ekstrem terhadap kemurnian keagamaan Yudaism yang lebih bersifat seremonial. Selain itu, tersingkap pula penjelasan mengenai kehidupan komunitas kaum Eseni yang terasing dari masyarakat. Kelompok ini mempertahankan kesucian menurut pola mereka. Tetapi yang paling harus dihargai adalah perjuangan mereka menyalin kitab Perjanjian Lama untuk membuktikan kebenaran Alkitab.
     
    Dengan ditemukan naskah Laut Mati, maka sangat jelas terbukti bahwa Alkitab Perjanjian Lama di tangan orang pe...
    0 min
  • Perjuangan Menyalin Alkitab
    Pembahasan mengenai proses menyalin Alkitab harus dicantumkan di sini, sebab hal ini lebih membuka wawasan kita mengenai bagaimana Alkitab ditulis dan diwariskan kepada anak cucu. Perjuangan mereka menyalin Alkitab Perjanjian Lama dan memperjuangkannya agar tetap eksis adalah sumbangan yang tidak ternilai bagi kita orang percaya. Naskah asli Perjanjian Lama tentu saja banyak yang sudah rusak karena dimakan usia. Biasanya setelah orang-orang Yahudi menyalin kitab-kitab Perjanjian Lama, maka kitab yang disalin atau kitab yang lama dimusnahkan. Pada waktu pemusnahan naskah lama, mereka melakukan semacam upacara atau seremonial. Hal ini dilakukan seperti sebuah upacara pemakaman. Praktik ini menunjukkan betapa mereka menghargai naskah-naskah tersebut. Dengan demikian yang masih ada adalah salinan yang baru. Inilah kebiasaan atau menjadi pola dalam praktik penyalinan Alkitab Perjanjian Lama yang diturunkan dari generasi ke genarasi melalui komunitas tersebut.
     
    Para penyalin kitab Perjanjian Lama tersebut adalah orang-orang Yahudi yang bersedia melakukan pekerjaan yang sangat berat. Mereka bisa disebut sebagai Massorah. Oleh karenanya hasil karya mereka disebut sebagai Masoret. Masoret yang terkenal adalah Masoret dari Tiberias, dari keluarga Yahudi yang sangat setia terhadap Taurat, yaitu keluarga Ben Asher. Ketika bahasa Ibrani mulai tidak dipakai sebagai bahasa sehari-hari, maka pelafalan Perjanjian Lama yang hurufnya semua adalah huruf mati (konsonan), sehingga kemungkinan besar tidak dikenal lagi pelafalannya secara benar. Para Massorah berusaha agar pelafalan bahasa Ibrani dalam Kitab Perjanjian Lama tetap eksis atau tidak hilang, maka mereka membuat kode-kode di atas huruf-huruf dalam naskah tersebut. Karya Masoret yang penting yang kemudian hari ditemukan adalah karya yang luar biasa.
     
    Para Massorah menyerahkan hidup untuk mengabdikan diri guna menyalin Perjanjian Lama, agar kitab tersebut tetap eksis atau dilestarikan dengan keakuratan isi kitabnya. Mereka adalah orang-orang yang secara khusus dididik, dilatih dalam seni menulis, dan menguasai hukum Taurat. Dengan usaha tersebut mereka menjadi berfungsi dan sangat berperan sebagai penjaga keutuhan teks Alkitab Perjanjian Lama. Dalam hal ini Tuhan memakai mereka untuk menjaga kelestarian Perjanjian Lama dengan keutuhan dan ketepatan isinya.
     
    Dalam menyalin Perjanjian Lama, mereka sangat serius untuk tidak mengubah teks yang mereka salin dan harus berusaha tetap menjaga keaslian isinya. Untuk itu mereka memiliki prosedur khusus yang harus ditaati dengan ketat. Ketika tertumbuk pada huruf atau kata yang tidak jelas atau meragukan, maka mereka tidak akan merubah apa pun, tetapi memberi tanda titik di atas atau di bawah huruf atau kata tersebut. Inilah fungsi dari Massorah (istilah Ibrani yang artinya menjaga teks itu).
     
    Demi keaslian kitab Perjanjian Lama dalam pengucapan dan isinya, para Massorah menciptakan tanda-tanda huruf hidup (vokal) di atas dan di bawah huruf Ibrani, agar pelafalan yang benar dapat dilestarikan. Dengan demikian keutuhan dan keaslian Alkitab Perjanjian Lama benar-benar dapat terjamin. Para Massorah tidak mengubah teks Perjanjian Lama sama sekali, mereka hanya menambahkan kode untuk pelafalan vokalnya saja.
     
    Para Massorah juga menjaga agar proses penyalinan dapat berlangsung dengan tepat. Untuk itu, mereka menciptakan pola memeriksa kembali. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya suatu kesalahan yang bisa terjadi, maka mereka memberi nomor di setiap ayat, kata, dan huruf, lalu menghitungnya, jumlah setiap huruf dalam setiap kitab. Para Massorah menghitung huruf tengah, kata tengah, dan ayat tengah. Mereka mencoba menghitung setiap ayat dan bab, sehingga setelah selesai menyalin suatu teks, mereka dapat memastikan bahwa salinannya tepat seperti aslinya. Inilah hasil kerja keras para Massorah terhadap Alkitab Perjanjian Lama dengan teks Ibrani yang sekarang disebu...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…