Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Penyangkalan Diri
    Kehidupan kita gagal kalau kita tidak serupa dengan Yesus. Menjadi seorang yang kaya atau miskin, cantik atau buruk rupa, menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak, semua itu bukan masalah wajib, bukan hal utama. Tapi yang utama adalah kehidupan yang tak bercacat tak bercela, serupa dengan Yesus. Ini yang sebenarnya Tuhan kehendaki. Masalahnya, untuk menjadi seorang yang tidak bercacat tidak bercela, berkarakter serupa dengan Kristus bukanlah hal yang mudah, karena kita sendiri sudah punya karakter. Dan karakter itu sudah menyatu, sudah melekat di dalam diri kita. Jadi, tidak mudah dilepaskan. 
    Tetapi sebagai orang yang mau mengikut Yesus—bukan mengikut diri sendiri—maka kita harus menanggalkan semua sifat atau karakter di dalam diri yang tidak sesuai kehendak Allah. Itulah yang dimaksud dengan menyangkal diri. Maka, menyangkal diri itu mutlak. Penyangkalan diri ini bukan satu hari, satu minggu, satu dua tahun, tidak cukup sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun pun bahkan tidak cukup. Sepanjang umur hidup kita adalah proses penyangkalan diri, supaya sifat-sifat, karakter kita yang buruk bisa ditanggalkan. 
    Di dalam Efesus 4:22, firman Tuhan mengatakan, “Bahwa kamu berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Jadi, walaupun kita berpendidikan tinggi, punya pasangan hidup yang baik, punya anak-anak yang sempurna, ekonomi yang limpah, tubuh yang sehat, atau mungkin bahkan memiliki kedudukan, pangkat, gelar, kekuasaan, tapi kalau kita tidak menjadi manusia baru di dalam Tuhan, semua itu percuma. 
    Kalau Alkitab berkata, “Kumpulkan harta di surga,” itu artinya menjadi manusia baru yang terus-menerus dibarui. Dan Tuhan mau memproses kita menjadi manusia baru melalui segala pengalaman yang kita alami. Bahkan sering pengalaman-pengalaman yang pahit dan pedih, justru memiliki peran yang sangat besar dalam mengubah kita. Kalau kita memandang hidup dari sudut pandang ini, maka tidak ada masalah yang menjadi berat; hidup kita akan terasa ringan, apa pun yang sedang melanda hidup kita. Ingat hidup kita singkat, sangat singkat. Selain singkat, kita juga tidak tahu kapan kematian datang menjemput kita. 
    Jadi, mari kita memandang hidup dari sudut pandang ini. Tidak ada penghiburan yang lebih besar dari ini. Pandanglah hidup dengan cara pandang yang benar bahwa hidup ini singkat, dan kita hidup bukan untuk memiliki suami, anak, rumah, gelar, pangkat, kekuasaan, kecantikan, atau apa pun melainkan hanya untuk meraih karakter anak-anak Allah. Dan musuh yang terselubung itu adalah diri kita sendiri. Kebengisannya, kekejamannya, sikap tidak mau mengalah, pikiran materialisme, pikiran zina, tidak menghormati orang tua, egois. Manusia lama ini yang harus disembelih dari hari ke hari. 
    Ironis, banyak orang Kristen yang tidak melakukan proses ini, karena merasa ‘sudah percaya’ Tuhan Yesus. Ya, padahal percaya itu menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai bukan hanya dengan mulut atau pikiran, setuju saja. Jika objek yang kita percayai adalah Tuhan, berarti kita mau menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Maka kita harus kenali diri kita ini. Setiap hari Tuhan akan memunculkan karakter asli kita melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi apabila kita dilanda masalah berat, sejatinya di balik peristiwa itu, Tuhan mau mengajak kita untuk melihat bahwa tujuan hidup kita bukan rumah tangga, keluarga, atau pekerjaan, namun bagaimana kita serupa dengan Yesus, menjadi anak-anak Allah yang berkarakter luhur dan agung. 
    Maka, apa pun yang terjadi jangan membuat kita menjadi galau, upset, stres, depresi sampai tenggelam. Kita harus harus melihat hidup dari sudut pandang kekekalan, hidup ini singkat dan hidup di dunia ini sesungguhnya hanya persiapan untuk kekekalan...
    9 min
  • Berkeberadaan
    Musuh kita, selain kuasa kegelapan yang jelas kita kenali, tetapi juga yang tidak kita kenali adalah musuh yang ada di dalam diri kita atau boleh dikatakan, diri kita sendiri. Musuh itu adalah manusia lama kita, di mana terdapat kodrat dosa. Manusia lama di mana ada kodrat dosa merupakan musuh yang tidak disadari oleh banyak orang Kristen. Di dalam firman-Nya, Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa tidak menyangkal diri dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dia tidak dapat menjadi murid Yesus. Dia tidak bisa menjadi orang Kristen yang benar. Kalaupun dia beragama Kristen, kekristenannya pasti palsu, gadungan. Dalam hal ini, kita harus mengerti apa maksud Tuhan menjadikan kita umat pilihan.
    Tuhan menjadikan kita umat pilihan agar kita menjadi anak-anak Allah yang berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, bukan hanya sebutan atau status. Ini sebenarnya yang Allah kehendaki untuk kita miliki. Tidak mungkin seorang bangsawan yang baik, mengangkat seseorang atau mengadopsi seseorang menjadi anak, lalu membiarkan anak itu berkarakter suka-sukanya sendiri. Pasti bangsawan tersebut ingin anak tersebut menjadi anak yang layak masuk menjadi anggota keluarganya. Anak itu harus dilatih untuk menjadi bangsawan, bermartabat bangsawan, berkarakter bangsawan, bersifat bangsawan. Maka orang tua yang mengadopsi anak tersebut berusaha untuk mengubah karakter anak adopsinya itu. 
    Demikian pula Allah, Elohim Yahweh, yang mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya, tentu melalui kurban Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Yesus menjadi Juru Selamat dengan kematian-Nya di kayu salib, menanggung dosa kita, menebus dosa kita, membeli kita dengan darah-Nya yang mahal, membenarkan kita, dan membawa kita di hadapan Allah sebagai anak-anak Allah. Tetapi keadaan kita belumlah seperti Yesus. Yesus adalah model prototipe, pattern dari kehidupan anak Allah yang Bapa kehendaki. Allah Bapa menghendaki agar anak-anak yang ditebus oleh darah Putra Tunggal-Nya, sungguh-sungguh berkeberadaan seperti Yesus, Anak-Nya. Dan itu harga mati yang tidak bisa ditawar. 
    Harga mati artinya satu hal yang mutlak yang tidak bisa tidak harus dimiliki oleh setiap orang Kristen. Namun, sayang sekali, banyak orang Kristen yang tidak mengerti. Mereka merasa dengan percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka sudah selamat dan diterima sebagai anak oleh Allah. Apa pun dan bagaimanapun, dia tetap pasti nanti mati masuk surga. Ini penyesatan, ini pembodohan, benar-benar sesat. Padahal percaya itu artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Yang berarti, dia harus hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ini yang Allah Bapa kehendaki, yang Tuhan benar-benar inginkan.
    Tidak bisa diubah, ini mutlak, absolut, bahwa orang yang dipilih Allah menjadi anak-anak-Nya harus sungguh-sungguh menjadi kudus. Seperti yang dikatakan di dalam Efesus 1:3-4, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Berkat rohani di dalam surga adalah kehidupan kekal, kemuliaan bersama Yesus. “Sebab di dalam Yesus Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan …” Jadi sebelum dunia dijadikan pun nama kita sudah tercatat, sudah dikenal untuk menjadi anak-anak Allah. Pemilihan ini adalah hak prerogatif Allah. 
    Allah telah menunjuk nama-nama untuk menjadi umat pilihan. Tetapi ini tidak otomatis pasti masuk surga. Sebab ada firman yang jelas mengatakan bahwa Allah bisa menghapus nama. Jadi nama seseorang tercatat sebagai umat pilihan, tidak pasti masuk surga. Dia harus berjuang, itulah yang dikatakan dalam Ibrani 12:1 sebagai “perlombaan yang wajib.” Jadi, tidak ada hal yang wajib dalam hidup ini kecuali satu, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Perlombaan yang wajib, yaitu memiliki iman yang sempurna seperti Yesus. Artinya ketaatan kepada Allah Bapa, kemampuan bertindak, berpikir, berucap selalu sesuai dengan pikiran dan peras...
    8 min
  • Tugas Khusus
    Dalam hidup ini, yang pertama, kita tidak tahu kapan hari kematian kita. Yang kedua, kita pasti menghadap takhta pengadilan Tuhan di mana kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di bumi ini. Yang ketiga, ingat, bahwa kita itu diciptakan hanya untuk Tuhan. Kita ada karena Tuhan yang menghendaki kita ada. Tuhan yang menghendaki keberadaan kita. Jadi mengingat, setiap saat kita bisa meninggal, mengingat bahwa kita harus menghadap takhta pengadilan Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama di bumi, dan mengingat kita diciptakan oleh Tuhan, hanya untuk Tuhan, maka kita sekarang mesti memperkarakan, mempersoalkan, apa yang ditugaskan Tuhan kepada kita masing-masing. 
    Tentu masing-masing kita memiliki profesi, pekerjaan dan keadaan yang khusus. Dan di mana pun kita berada, pasti ada tugas Tuhan di situ. Di dalam hal ini kita harus bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, Tuhan?” Tentu kita takut, jangan sampai kita punya visi dan pekerjaan bukan dari Tuhan, atau bukan atas perintah dan komando Tuhan, betapa mengerikan! Kalau suatu pekerjaan bukan komando Tuhan, lalu kita menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran untuk itu, dan melibatkan banyak orang masuk dalam pekerjaan atau kegiatan itu, betapa mengerikan keadaan kita nanti di hadapan Tuhan. 
    Maka, sungguh kita harus minta Tuhan memberi tahu, apa yang harus kita lakukan. Jangan sampai kita membuat pekerjaan sendiri atau proyek sendiri. Hati kita harus penuh belas kasihan dulu terhadap sesama. Dan yang utama lebih dari ini, mengasihi Tuhan dulu; mencintai Tuhan, mengasihi Tuhan, mau menyenangkan hati Tuhan, mau menjadi anak kesukaan Tuhan, lalu berbelaskasihan terhadap orang lain. Pasti Tuhan akan menunjukkan proyek-proyek apa yang harus kita kerjakan bagi Tuhan. 
    Setiap kita harus memperkarakan; di tengah-tengah pekerjaan kita, Tuhan pasti menaruh tugas khusus, yang Tuhan berikan kepada kita; yang tidak diberikan kepada orang lain. Itu tidak bisa dikerjakan orang lain secara benar, karena ini tugas kita. Kecuali kita menolak, Tuhan bisa menggantikan dengan yang lain. Jadi, harus kita pertanyakan kepada Tuhan, “Apa yang harus saya lakukan dengan tubuh, uang, dan waktu saya ini? Apa yang harus saya lakukan?” Kalau kita punya keinginan dari diri sendiri atau kesenangan-kesenangan tertentu, pasti kita akan memanfaatkan apa yang mestinya untuk pekerjaan Tuhan. 
    Kita harus menggunakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita untuk pekerjaan-Nya. Dan kita harus bertanya apa yang harus kita lakukan. Jangan disalahgunakan oleh manusia. Jangan disalahgunakan oleh pendeta atau gereja. Tapi pasti ada pendeta dan gereja yang baik, yang benar-benar menggunakan uang dan fasilitas yang dipercayakan jemaat kepada gereja, digunakan untuk pekerjaan Tuhan. Orang yang serius mau menemukan apa yang menjadi tugas yang Allah percayakan kepada masing-masing individu dan serius melakukannya, itu menjadi keasyikan hidup, keindahan hidup, kesukaan hidup, kesenangan hidup. 
    Hidup kita berdinamika ilahi ketika kita mengerjakan pekerjaan Allah. Dan kita akan melanjutkan hidup versi seperti ini di kekekalan. Hari ini pastikan kita mulai sungguh-sungguh mempertanyakan kepada Tuhan, “Apa yang harus aku lakukan hari ini, Tuhan?” Untuk proyek Tuhan jangka pendek, Tuhan bisa berbisik, “Temui temanmu yang satu itu, bicarakan mengenai hal ini,” misalnya. Ada proyek-proyek jangka pendek yang kita lakukan untuk waktu-waktu dekat ini. Tapi juga ada proyek-proyek besar jangka panjang yang kita akan lakukan sampai kita menutup mata. 
    Di antara kita mungkin ada yang berkata, “Saya tidak punya apa-apa.” Kita punya doa. Doakan pelayanan para hamba Tuhan, baik yang di Jakarta, di daerah, pelayanan penginjilan, pembangunan sekolah Alkitab, sekolah umum; yang semua itu sungguh-sungguh diarahkan untuk pembentukan manusia baru di dalam Tuhan; pembentukan manusia batiniah. Ini termasuk proyek besar Tuhan. Berbahagialah kita yang sungguh-sungguh mau menca...
    9 min
  • Menjaga Stabilitas Rohani
    Kita harus serius menjaga kestabilan pengiringan kita kepada Tuhan atau menjaga kestabilan iman percaya kita kepada Elohim Yahweh, Bapa di surga. Memang waktu kita sedang berdoa dalam persekutuan doa atau pada waktu di gereja, kita memiliki fokus begitu kuat tertuju kepada Tuhan, kita yakin bahwa Tuhan itu hidup, Tuhan itu ada, Tuhan itu menyertai, kita tidak perlu khawatir dan takut menghadapi segala sesuatu. Waktu ada dalam gereja, waktu ada dalam persekutuan doa; kita bisa memiliki keyakinan yang kuat, yang kokoh; tetapi itu sering hanya sementara. Begitu keluar dari gereja, iman kembali merosot, keyakinan kita merosot. Nah, ini namanya tidak stabil. 
    Kita harus stabil meyakini Allah yang hidup, Allah yang setia, Allah yang menyertai kita, Allah yang tidak pernah meninggalkan kita. Jadi sebenarnya, banyak orang meninggalkan Tuhan, bukan Tuhan yang meninggalkan dia. Manusia yang meninggalkan Tuhan. Merasa dirinya tetap percaya kepada Tuhan, tapi percayanya tipis. Beda pada waktu ada di gereja. Apalagi menyanyikan lagu-lagu yang syairnya tentang kesetiaan Allah, kebesaran Allah; hati menjadi kuat. Tetapi begitu keluar dari gereja, hati menjadi lemah. Mulai bertanya-tanya, “Apakah benar Allah menyertaiku? Apakah benar Allah besertaku dan memberi pertolongan dari persoalan-persoalanku?” Kita harus stabil. 
    Dan untuk stabil ini kita sendiri yang harus menjagainya; menjaga stabilitas rohani kita. Jadi setelah usai dari kebaktian, kita tetap merenungkan ada Allah yang hidup, Allah yang nyata; benar, Allah yang pernah membelah Laut Kolsom, Laut Teberau bagi bangsa Israel, Allah yang menyatakan diri di dalam guruh, halilintar di Gunung Horeb, Allah yang sama yang merubuhkan tembok Yerikho dan mengeringkan Sungai Yordan, Allah yang sama yang kita sembah saat ini, Allah yang tidak berubah, dulu, sekarang sampai selama-lamanya. Jadi, kalau Allah seperti atau seakan-akan mati, tidak ada; itu karena manusianyalah yang meninggalkan Tuhan.
    Seperti di negara Barat, betapa nyaman kehidupan, semua tertata apik, teratur, yang menganggur mendapat tunjangan sosial, tidak bekerja pun digaji oleh pemerintah. Orang tidak merasa memiliki masalah berat di mana perlu pertolongan dari Yang Maha Kuat, Allah Semesta Alam karena mereka cukup mampu mengatasi persoalan mereka. Sehingga pada satu titik mereka merasa tidak memerlukan Tuhan, tidak memerlukan agama. Jadi tidak heran kalau gereja-gereja menjadi sepi. Benar. Gereja berubah fungsi sampai menjadi rumah ibadah agama lain. Tapi mereka tidak merasa itu sesuatu yang perlu dianggap krisis. Mereka tidak memiliki perasaan krisis terhadap kenyataan ini. 
    Kalau seseorang sudah tidak bertuhan, pasti ia tidak memiliki perasaan krisis. Dia tidak peduli gereja mau bangkrut atau tidak, berubah fungsi menjadi supermarket, sex shop dan lain-lain; atau bahkan menjadi rumah ibadah agama lain. Jangan sampai hal ini terjadi dalam hidup kita. Pertanyaannya, mengapa Tuhan tidak menghajar mereka supaya mereka berbalik kepada Tuhan? Tentu Tuhan memberi peringatan-peringatan, sudah pasti. Tetapi peringatan-peringatan itu kalau tidak sungguh-sungguh diperhatikan, mereka akan terhilang. Ada tatanan, ada hukum dalam diri Allah. Allah memberikan porsi-porsi tertentu untuk memberi peringatan, untuk menyadarkan umat-Nya. Tetapi kalau umat-Nya tidak sadar, mereka akan terhilang. Dan tentu Allah tidak bisa disalahkan.
    Jadi, kita yang harus aktif merenungkan firman Tuhan, siang dan malam, jika tidak, maka kita tidak akan bisa hidup dalam kebenaran dan kesucian Allah. Merenungkan kehendak Allah, memperkarakan rencana Allah untuk kita tunaikan, akan membuat kita memiliki stabilitas rohani. Memang kita tercipta hanya untuk Tuhan, harus diingat itu. Kita ada hanya untuk kesukaan Allah, untuk perkenanan hati Allah. Jadi kita yang harus stabil merenungkan kebenaran ini. Terus menghayatinya, “Aku tercipta hanya untuk Tuhan, aku hidup hanya untuk kesukaan hati-Nya,
    10 min
  • Lorong Panjang
    Ketika Allah berkata, “Aku Penebus-Mu” di Perjanjian Lama, konteksnya adalah Elohim Yahweh yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun mereka ke tanah Kanaan yang dijanjikan kepada Abraham untuk didiami oleh keturunannya di bumi. Kalau di Perjanjian Lama, Allah menggunakan keperkasaan-Nya untuk menyelamatkan umat Israel, tetapi di Perjanjian Baru Allah menggunakan kuasa firman, moralitas kesucian di dalam logos-Nya yang dihidupkan di dalam dan melalui Yesus Kristus untuk keselamatan kita. Setelah itu, Tuhan menuntun kita dari Mesir dunia ini ke langit baru bumi baru, Kanaan Surgawi. 
    Kalau bangsa Israel dituntun harus menempuh jarak (distance), tetapi kalau umat pilihan Israel rohani dituntun melalui perubahan. Kalau di Perjanjian Lama bangsa Israel dipimpin oleh Musa dengan keperkasaan Allah secara fisik yang membelah Laut Kolsom, yang merobohkan tembok Yerikho, yang membelah Sungai Yordan dan lain-lain, sekarang Tuhan, Allah, Bapa, Elohim Yahweh, menuntun kita dari Mesir dunia ke langit baru bumi baru dengan Roh Kudus. Di dalam perjalanan yang menempuh perubahan itu, ada jalan yang harus kita tempuh. Kalau bangsa Israel melalui padang gurun, kalau kita melalui jalan yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Akulah jalan” (hodos). Hodos berarti jalan atau lorong panjang. Perjalanan kita adalah perjalanan perubahan untuk mengenakan hidup Yesus agar sampai kepada Bapa. 
    Maka, kita harus mengerti aletheia (kebenaran-Nya) dan menjadi hidup. Aletheia itu kebenaran, artinya Firman-Logos-Hikmat yang menjadi pengajaran di dalam bahasa manusia yang dimengerti manusia dan diperagakan. Dan yang pertama berhasil melakukan ini, Yesus. Hikmat, Logos dan Firman tidak kelihatan, tetapi akan menjadi kelihatan ketika dikenakan oleh Yesus, dan Yesus mengajar serta menjadi teladan. Karenanya, Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19). Allah bukan tidak dapat memuridkan kita secara langsung, tetapi harus melalui Yesus yang menjadi alat peraga-Nya. Itulah sebabnya Yesus harus menjadi manusia 100%, sebab Dia harus menjadi teladan kita. 
    Jadi kalau Alkitab berkata, “Agar kita menjadi serupa dengan Yesus,” maka Yesus dalam segala hal harus disamakan dengan kita. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 2:17, “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.” Allah Yahweh menuntun kita melalui jalan Yesus—bukan distance atau jarak—yang menjadi contoh dan teladan, dan yang telah mengurai Logos, Firman, dan Hikmat menjadi ajaran. 
    Kalau kita mau menghormati Yesus, tidak cukup mengelu-elukan Dia dengan berbagai status, statement, atau konsep-konsep mengenai Yesus yang luar biasa. Kalau kita menghargai Yesus, cukup dengan mengenakan hidup-Nya dalam hidup kita. Dia harus hidup di dalam hidup kita, baru kita menghargai Dia dan memenuhi rencana keselamatan. Sebab kalau kita berkata, “Aku percaya kepada-Mu, Yesus,” berarti kita harus seperti Dia. Kalau tidak seperti Dia, berarti kita tidak percaya kepada-Nya. Kalau kita berkata, “Aku percaya kepada-Mu, Yesus,” artinya kita harus melalui jalan-Nya. Sebab Dialah jalan kita. Bukan menempuh jarak, tapi menempuh perubahan. Dan pola perubahan itu jelas, Yesus model dan prototipenya
    Jika kita ikut jalan ini, tidak mungkin berbuat dosa. Kita harus suci seperti Yesus suci. Yesus mengosongkan diri, dari yang tidak bersalah, menjadi seorang yang seakan-akan bersalah demi menebus dosa kita. Kalau kita ikut Yesus, kita tidak akan terikat dunia ini. Hati kita akan tertaruh di surga. Sebab Yesus berkata, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada. Kumpulkan harta di surga bukan di bumi” (Mat. 6:20-21). Tidak ada kompromi dengan dunia. Yesus tidak kompromi. Kita melihat moralitas kesucian Yesus yang merupakan lorong panjang...
    10 min
  • Pembelaan Allah
    Pernyataan iman “Jika Allah di pihak kita, siapa lawan kita?” (Rm. 8:31) tentunya disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat atau orang percaya di Roma. Kita membaca ayat Alkitab, secara khusus tulisan Paulus dalam kitab Roma di mana aniaya, penindasan, penderitaan, bahkan kehilangan nyawa mewarnai perjalanan kerohanian jemaat Roma. Tentu kita melihat kekaguman Paulus terhadap Allah sangat luar biasa, bukan isapan jempol atau retorika semata melainkan sebuah pengalaman riil mengalami Tuhan. Sehingga Paulus menegaskan, “Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah” (Rm. 8:35). 
    Allah telah membuktikan keberpihakan-Nya kepada kita, manusia berdosa. Allah berpihak, yaitu dengan mengorbankan Putra Tunggal-Nya. Tiba saatnya untuk memeriksa serta memastikan, benarkah kita sekalian berada di pihak Allah? Coba renungkan dan pikirkan dengan saksama. Jawablah dengan jujur. Memang tidak bisa ditampik, musuh kita adalah kuasa gelap, orang-orang yang berbuat jahat kepada kita, dan juga berbagai bencana lainnya. Tetapi sadarlah, kita jangan berkajang di kondisi itu saja, sebab musuh yang sesungguhnya yang harus kita taklukkan adalah diri sendiri. 
    Pernyataan-pernyataan iman yang sering kita kumandangkan melalui pembacaan firman Tuhan, nyanyian-nyanyian pujian kepada Tuhan, jangan hanya di bibir tapi juga harus juga diikuti oleh ketekunan dan keteguhan memercayai-Nya. Kadangkala, setelah kita berdoa menghadapi pergumulan hidup, kita merasa lebih kuat. Tetapi setelah kita melihat fakta atau realitas yang ada, kita kembali menjadi ragu, bimbang bahkan kecewa. Tetapi di situ kita melihat betapa panjangnya sabar dan kasih Allah. 
    Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Ketelanjangan, kemiskinan, penderitaankah? Sesungguhnya kita sendiri yang sering memisahkan diri dari Tuhan. Dengan cara apa? Tentu hidup sembarangan, hidup semau kita tanpa memedulikan pikiran dan perasaan Allah yang memercayakan kita ada di dunia ini. Ini harus kita renungkan! Sadarilah bahwa pembelaan Allah tidak perlu diragukan lagi. Sudah nyata jelas, bahkan Anak-Nya Yang Tunggal, yang begitu agung dan mulia, menjadi terhina karena kita, sampai Bapa sendiri memalingkan wajah-Nya. Itulah yang ditangisi oleh Tuhan Yesus. Jangan sampai kita di pagi hari, di ruang ibadah, di persekutuan, hati memuji menyembah, tangan terangkat, tapi di peragaan hidup, kita gagal total. 
    Tidak semua orang memiliki kesempatan ini, tidak semua orang mendapat anugerah mengenal jalan keselamatan satu-satunya yang bisa membawa kita kepada Bapa dan berjalan bersama dengan Bapa. Inilah yang mestinya menggembirakan kita. Kalau kita bangun tidur pada pagi hari sudah dimulai dengan hati yang kusut, perasaan gundah gulana, di situ kita tidak menghormati Tuhan. Tuhan Yang Kuat, Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak boleh kita ragukan kemampuan-Nya. Tuhan juga hadir menyertai kita. Tuhan kuat, tapi kalau tidak hadir menyertai kita, percuma. Tuhan menyertai kita, tapi kalau Tuhan tidak kuat, juga percuma. Tapi yang benar, Allah itu Maha Kuasa, Allah itu kuat, dan Dia hadir. 
    Jadi kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, benar-benar menjadikan Tuhan kebahagiaan, maka begitu kita bangun tidur, kita memiliki kegembiraan dan sukacita karena hari ini kita akan menjalani hari berjalan bersama dengan Tuhan. Dan percaya bahwa Dia pasti membela kita. Ada banyak hal yang kita akan alami sepanjang hari yang Tuhan berikan. Dan banyak hal itu adalah berkat-berkat kekal-Nya. Peristiwa demi peristiwa yang kita alami dalam dinamika hidup yang masing-masing kita miliki dan alami, yang tentu juga berbeda satu dengan yang lain. Tetapi di media itu, melalui berbagai pergumulan hidup, kita berjalan bersama Tuhan. Justru di tengah-tengah pergumulan, kita merasakan dan membutuhkan kehadiran-Nya.
    Memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, itu mutlak. Tetapi setelah itu, kita harus memberi diri dimuridkan oleh Yesus, dituntun oleh Roh Kudus,
    9 min
  • Tidak Pernah Cukup
    Semua orang, termasuk kita, ingin memiliki hidup senikmat-nikmatnya, senyaman-nyamannya, seindah-indahnya, setenang-tenangnya. Karenanya, kita memilih tempat tinggal yang baik, membangun rumah dengan fasilitas sarana yang baik, melakukan berbagai usaha untuk memiliki hidup senyaman-nyamannya. Sejujurnya, pernahkah kita menemukan orang yang hidupnya nyaman sekali, sangat damai, sejahtera sekali, benar-benar ideal? Sehingga hidup orang itu bisa menjadi model atau prototipe dari hidup yang kita usahakan untuk kita capai. Pernahkah kita menemukan itu?
    Sejatinya, sulit menemukan model hidup yang ideal tersebut. Sehingga kita berjalan tanpa tujuan. Karena kita merasa bahwa bila kita mencapai apa yang kita target, maka kita akan memiliki sebuah hidup yang ideal. Tapi, setelah kita capai, ternyata belum ideal juga. Contoh sederhana, waktu masih muda berpikir kalau sudah lulus studi, bisa melamar pekerjaan lalu bisa mendapatkan nafkah, sampai di situ dulu. Tapi setelah bisa bekerja dan mendapat gaji, mulai berpikir bagaimana punya mobil. Karena selama ini naik motor. Setelah beli mobil, berpikir bagaimana punya rumah. Dan seterusnya. Sampai ujungnya mati dan tidak pernah mendapatkan hidup yang ideal itu. Ini bukan pesimis, tetapi realistis.
    Mengutip ucapan Tuhan Yesus di Yohanes 4 dengan perempuan Samaria dikatakan, “Kalau kamu minum air ini, kamu haus lagi. Tapi, kalau kamu minum air yang Kuberikan, daripadamu akan memancar air kehidupan.” Karena Tuhan memberikan air kehidupan yang akan memancar dalam diri orang itu. Kita tidak akan pernah cukup tanpa Tuhan. Kita harus berani memercayai bahwa dengan Tuhan itu, cukup. Jangan ragukan, sebab segala kuasa di tangan Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Hanya orang-orang yang bisa berkata, “Engkau, cukup bagiku, Tuhan” baru bisa menjadi kekasih Tuhan. 
    Kita harus sungguh-sungguh merasakan bahwa hanya Tuhan yang menjadi kebutuhan kita, seperti rusa merindukan sungai yang berair. Kehidupan seekor rusa tidak bisa hidup tanpa air. Tuhan harus menjadi kehidupan kita. Sehingga kita bisa berkata, seperti pemazmur, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Pertanyaan yang kita harus bangkitkan dalam diri kita: “Bagaimana bisa menjadi manusia seperti ini?” Pernahkah kita memperkatakan atau mempersoalkannya? Sebab kalau kita membaca di dalam Mazmur 73, orang-orang yang tidak takut akan Allah, hidupnya nyaman; seperti keberkatan, sehat dan gemuk, senang selamanya. Senang selamanya tentu bukan selama-lamanya, melainkan selama waktu di bumi. 
    Rupanya, ini adalah kehidupan yang ideal menurut mata manusia; kaya, sehat, gemuk, banyak pengaruh, orang banyak mengikuti dia. Tentu hidup seperti inilah yang dicari rata-rata semua kita dulu; jangan-jangan sekarang masih. Jadi, mari kita buang semua konsep idealnya hidup yang kita bangun sejak kita kanak-kanak. Harus jujur kita akui, memang ada manusia seperti ini, walaupun hanya 1% atau 0,5%. Tetapi, yang dalam sekejap bisa dijatuhkan hingga hancur dan binasa, sungguh mengerikan. Namun di satu sisi, Tuhan bisa memojokkan, menyudutkan kita pada satu situasi di mana kita bisa mengatakan, “Hanya Engkau yang kuingini.” Jadi bersyukur kalau kita dibawa kepada keadaan-keadaan sulit ternyata keadaan itu membawa kita ke dalam kemuliaan. 
    Bukankah faktanya kita telah teracuni oleh dunia? Pasti di antara kita ada yang merasa hidupnya sedang invalid; artinya cacat, tidak utuh, ada kekurangan, ada ketidaklengkapan. Entah, karena belum menikah atau menikah belum punya anak atau mungkin sedang menganggur atau usaha sedang berat, masalah utang piutang, masalah sakit penyakit dan lainnya. Kiranya melalui renungan hari ini, pikiran kita terbuka. Hidup yang ideal adalah jika kita berjalan dengan Tuhan. Maka, kita harus mengalami berjalan dengan Tuhan. Kita harus merasakan dalam genggaman Tuhan. Kita harus merasakan dalam persekutuan dengan Tuhan. 
    Doa yang benar itu 24 jam setiap hari.
    8 min
  • Belum Gagal
    Jangan merasa tidak berharga karena kita gagal studi, gagal berumah tangga, atau apa pun. Jangan meremehkan Tuhan dengan rencana besar-Nya atas diri kita ini. Sebaliknya, jangan kita merasa berharga karena cantik, ganteng, sesuai dengan keinginan, hasrat, dan cita-cita orang tua. Ingat, orang tua kita tidak pernah bisa melahirkan kita kalau Tuhan tidak menghendaki kita lahir. Jangan merasa tidak bernilai karena kita miskin, atau dipandang rendah, tidak dihargai oleh orang yang paling kita cintai. Mari kita datang kepada Tuhan dan bertanya, “What is the reason I live? Mengapa Engkau ciptakan aku?” 
    Jangan merasa sudah mencapai tujuan, atau merasa hidup kita bernilai karena kita memiliki banyak nilai lebih di mata manusia. We are nothing without God! We are nothing without The Creator! We are nothing without Him! Mari kita datang dan berkata, “Tuhan, apa yang kau rencanakan dalam hidupku?” Mungkin kita seperti bejana yang hancur, tidak ada masa depan, tidak ada harapan, namun jangan mengecilkan tangan Tuhan yang kuat. Setiap kita berharga. Kita belum gagal. Kita gagal kalau kita terpisah dari Allah selama-lamanya. 
    Selama kita masih bisa rekonsiliasi dengan Allah, berdamai dengan Allah, berarti kita masih belum gagal. Dunia kita mungkin gagal—studi, karier, keluarga, dan lain sebagainya—tapi selama masih ada Tuhan yang masih mau menggenggam tangan kita, kita belum gagal. Dan jangan kita berpikir Tuhan seperti manusia. Selama kita masih mau datang kepada-Nya dan berkata, “Beri aku kesempatan, Tuhan,” maka Tuhan tidak pernah tidak memberi kesempatan, sebab Tuhan tahu kita tidak dapat hidup tanpa Dia dan kita diadakan oleh Dia, bukan mau kita sendiri. 
    Selama kita masih mau berurusan dengan Tuhan, berarti nurani kita masih hidup. Jangan terintimidasi dengan kuasa jahat dalam pikiran seakan-akan Tuhan itu pendendam terus. Ia memang akan membalas orang sesuai perbuatannya, tapi kalau orang mau membereskan keadaan dirinya dengan Dia, Dia Maha Murah. Jangan mencurigai Tuhan. Dia bukan hanya baik; Dia sangat baik. Hari ini kita harus bangkit kembali. Setiap kita yang terpuruk, jangan merasa terpuruk dan gagal. Tapi siapa pun kita yang berhasil di mata manusia, jangan merasa berhasil; kita bukan siapa-siapa tanpa Tuhan. Jangan sombong, atau kita akan menjadi sampah abadi. 
    Sebaliknya, kita yang menjadi sampah di mata manusia, Tuhan bisa mendaur ulang hidup kita. Seperti tanah liat yang tidak berbentuk atau seperti bejana yang sudah hancur, di tangan Tuhan bisa dibentuk menjadi bejana baru. Bukan omong kosong. Maka, kita harus belajar mengalami Tuhan. Jangan Tuhan hanya menjadi fantasi teologi di pikiran, tetapi kita harus mengalami Tuhan. Bukan tidak mungkin Tuhan membiarkan kita dalam keadaan yang porak-poranda, carut-marut, hancur, supaya kita tidak sombong, supaya kita datang kepada Tuhan. Hari ini kiranya menjadi hari pemulihan. Sadarilah bahwa kita berharga di mata Tuhan, jangan meragukan Dia. 
    Temuilah Tuhan, jangan cari-cari pendeta untuk mendoakan kita. Pemulihan bisa kita alami ketika kita datang kepada Tuhan. Tetaplah bertahan, kemenangan akan diberikan pada waktunya. Jangan sombong. Rendahkan diri kita di hadapan Tuhan. Ini urusan kita dengan Tuhan, bukan dengan siapa-siapa. Jangan kita dilahirkan orisinal, tapi mati dalam keadaan imitasi. Dunia membuat kita tidak asli karena kita keluar dari rencana Allah, membentuk kita menjadi anak dunia, bukan mempelai Kristus. Mari kita kembali kepada Dia yang mengadakan kita. Di sana kita akan menemukan hidup. Dan hanya Tuhan yang bisa membuat kita orisinal, mengembalikan ke rancangan Allah semula. 
    Orisinalitas kita letaknya pada apakah kita berjalan dengan Tuhan dan menuruti rencana-Nya atau tidak. Ketika kita meninggal dunia, orang menangis, semua menangis, tetapi mereka tidak melihat kita tersenyum sukacita, disambut malaikat kudus, dan dibawa ke Rumah Bapa. Tapi jangan sampai orang menangis, dan kita juga meratap karena tidak ada yang menjemput...
    9 min
  • Sengaja Diadakan
    Mungkin dianggap hal yang sederhana, tetapi sebenarnya ini sangat prinsip, sangat fundamental, sangat dasariah bahwa kita ada karena memang sengaja diadakan. Pernahkah kita merenungkan bahwa di jagat raya ini, sejak manusia pertama sampai nanti manusia terakhir dilahirkan, tidak ada yang sama persis? Kemungkinan seseorang memiliki DNA yang sama itu benar-benar mustahil. Dan itu merupakan keajaiban dari Tuhan semesta alam. Tidak ada yang sama persis, sekalipun itu dua anak kembar lahir dari rahim yang sama. Maka, betapa istimewa setiap individu itu. Setiap kita diadakan oleh Tuhan bukan suatu kecelakaan, melainkan didesain. Dan ada maksud ilahi atas setiap individu.
    Kalau Alkitab menulis, “Rambut kepalamu pun terhitung,” sebenarnya kalimat itu merupakan sebuah idiom yang artinya setiap helai rambut kita ditandai. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Burung pipit dua ekor seduit dilindungi Tuhan.” Seduit adalah mata uang paling kecil. Murah, tapi tidak dibiarkan jatuh ke tanah di luar kehendak Bapa. Ibarat tidak ada satu lembar pun daun yang jatuh di luar kontrol Allah, apalagi manusia. Hanya, banyak manusia yang tidak menyadari betapa berharga dirinya itu. Apalagi kalau melewati pengalaman-pengalaman yang memberi goresan negatif, goresan melukai, sehingga merusak gambar diri seseorang. Misalnya dari kecil diperlakukan tidak adil; orang tua lebih memperhatikan saudaranya daripada dirinya. Dari kecil selalu di-bully, entah karena kekurangan ini, kekurangan itu di dalam dirinya. Entah karena fisik atau unsur psikologis, unsur psikisnya, sehingga rusak gambar dirinya. 
    Kita melihat di sini suasana dunia kita yang gelap, yang berusaha membuat manusia tidak mengenal dirinya secara proporsional, padahal betapa berharganya manusia ini. Sehebat apa pun teknologi, tidak akan bisa menciptakan manusia dengan metabolisme tubuh seperti ini. Ini mukjizat; miracle. Tidak ada manusia mampu menciptakan ini, bahkan tidak ada makhluk mana pun bisa menciptakan manusia seperti ini, kecuali Tuhan. Belum lagi unsur-unsur batiniah seseorang, kecerdasan, reaksi-reaksi perasaan. Luar biasa. Jadi, hari ini mari kita berpikir positif bahwa kita sungguh-sungguh dikehendaki oleh Tuhan untuk ada.
    Ada anak-anak yang merasa tertolak karena sejak kandungan hendak digugurkan oleh orang tua, lalu cacat. Atau waktu lahir, orang tua tidak menerima, karena orang tua mengharapkan anaknya laki-laki, ternyata perempuan. Banyak kausalitas yang membuat seseorang tidak menghargai dirinya, itu merusak. Dan orang bisa berkeadaan seperti itu tanpa dia sadari. Tentu dampaknya nanti, kalau wanita, mudah jatuh ke pelukan pria, misalnya. Kalau pria, mau dianggap jagoan, menjadi tukang pukul, tukang berkelahi. Yang lain, berusaha sukses dalam studi, punya gelar supaya berharga. Yang lain lagi, berusaha punya harta banyak supaya punya nilai diri, dan lain sebagainya. Manusia dengan kebodohan ini memisahkan diri dari Allah, atau dia juga mengeliminir, memisahkan Allah dari dirinya. Padahal tidak ada keadaan yang lebih mengerikan dari seorang yang terpisah dari Allah. 
    Akhirnya orang mencari-cari nilai diri, jati diri dengan segala hal. Padahal mestinya, untuk menemukan nilai diri adalah ketika kita berjumpa dengan Sang Khalik yang menghendaki kita ada. Berjumpa dengan Tuhan yang memang menghendaki kita ada, yang merancang diri kita dengan DNA yang khusus. Allah yang menghendaki. Maka, kita harus bertemu dengan Tuhan dan memperkarakan maksud Tuhan menciptakan diri kita, yang itu tidak akan bisa dijawab dengan ilmu teologi, bacaan, tuntunan apa pun. Tetapi setiap individu harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Agama tidak akan bisa menjawab, apalagi agama yang atributnya melakukan hukum, seremonial, dan dominasi tokoh. Kekristenan bukanlah agama; Christianity is not religion, but the way of life; tapi jalan hidup. Yang atributnya bukan hukum, tapi pikiran, perasaan Allah. Kita bisa menjadi manusia santun, manusia yang baik, yang arif di mata manusia,
    10 min
  • Kematian Diri yang Permanen
    Kita dikondisi untuk benar-benar serius dengan Tuhan dan puncak keseriusan kita dengan Tuhan adalah menjadikan Tuhan satu-satunya harta kita; yang sama dengan satu-satunya kebahagiaan kita. Dan hal itu tidak akan terwujud di dalam hidup kita jika kita tidak mengalami kematian; kematian dari manusia lama kita, kematian dari kedagingan kita. Memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi Roh Kudus akan menolong kita mewujudkan kematian terhadap diri sendiri ini. 
    Pertanyaannya, apakah kita bersedia mati? Sebab tidak ada harga yang lebih dari ini untuk membalas kebaikan Tuhan. Mati! Kurang dari itu tidak pantas, kurang pantas, tidak cukup. Cara untuk membalas kebaikan Tuhan kepada kita adalah mati. Kita yang bersedia dan memiliki komitmen, itu pun harus masih belajar bagaimana mengalami kematian terhadap diri sendiri. Dan kalau kita tidak bersedia, jauh dari kehidupan yang dikehendaki oleh Allah, kita tidak akan mengerti kematian terhadap diri sendiri ini. Namun karena sering kita tidak stabil, situasional, maka kita masih sering menghidupkan diri kita sendiri. Dan ketika kita menghidupkan diri kita sendiri, Tuhan tidak senang. Dan kalau sudah sampai tingkat tertentu, Tuhan terlukai. 
    Bukan karena Tuhan memiliki kepentingan, melainkan karena Tuhan tahu kalau kita tidak mati, kita tidak hidup. Tuhan tahu kalau kita tidak mati, kita tidak bisa dimuliakan bersama Yesus, padahal kemuliaan itu Tuhan sediakan bagi kita. Seperti seorang ayah yang ingin mewariskan perusahaannya kepada anaknya, tapi anaknya tidak mampu menerima itu. Itu duka cita, sehingga orang tua harus memercayakannya kepada pegawai atau staf kepercayaannya. Tuhan memberi kita kesempatan untuk berproses. Sebagaimana seekor kupu-kupu, ia harus meninggalkan kepompong, artinya dari ulat berproses agar bisa jadi kupu-kupu yang cantik. 
    Tuhan mau kita meninggalkan keadaan sebagai ulat, sebagai kepompong, dan kita berkejar-kejaran dengan waktu. Ini bukan diplomasi atau sekadar ucapan khotbah, namun ini adalah kebenaran yang sungguh-sungguh harus kita perhatikan. Proses ini benar-benar berat, apalagi untuk orang-orang muda. Berat bukan berarti tidak bisa dipikul, namun harus dirasakan beratnya dulu. Tetapi melihat kenyataan di lingkungan kita, mereka tidak mengerti beratnya memasuki proses kematian. Mereka masih sembarangan bicara, sembarangan menghakimi orang, sembarangan menilai orang. Dan itu menunjukkan kodrat dosa yang dikobarkan, yang sampai ke tingkat tertentu tidak akan pernah bisa mati. 
    Dan setan menunggu, menanti dan mengharapkan keadaan itu, di mana seseorang tidak bisa balik lagi, sampai titik tidak balik. Mungkin kita tidak menduga bahwa mengikut Yesus akhirnya membawa kita pada fase seberat ini. Tuhan sudah sering memojokkan kita dengan membuat kita terpojok. Oleh anugerah Tuhan, kita dilukai Tuhan sampai benar-benar tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Namun di balik itu, kita dapat memasuki proses kematian dengan lebih ringan.
    Ketika Yesus Yang Mulia, Tuhan kita berkata, “Sudah saatnya tiba, muliakanlah Anak-Mu,” artinya bunuhlah Aku. Walaupun di Taman Getsemani terjadi pergumulan hebat, tetapi kesediaan ini ada. Dan kita melihat kemanusiaan seutuhnya dari Yesus. Di Taman Getsemani, sempat Yesus menjadi bimbang. Tapi Yesus mengalahkan kebimbangan-Nya dengan mengatakan, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk.22:42). Dan itu merupakan pergumulan yang natural; pergumulan yang kita juga alami. Kita punya komitmen mati, tapi dalam pelaksanaannya sering kita harus berjuang hebat antara kehendak kita dan kehendak Bapa. 
    Hanya kalau kita bisa meninggalkan manusia lama, mematikan diri sendiri, baru kita bisa sungguh-sungguh menyenangkan hati Allah Bapa. Maka, jangan hanya sekadar dipahami secara nalar, tapi harus dirasakan di dalam batin, bahwa Bapa bisa kita senangkan. Dan itu membahagiakan sekali; hati kita bisa pecah, hancur.
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…