
Sign up to save your podcasts
Or


“Orang-orang yang menghormati Allah, demikian firman Tuhan, akan dihormati Allah. Orang yang memuji Allah dengan benar akan mendapat pujian nanti di dalam Kerajaan Surga.” Jika kita memperkarakan hal ini, mestinya kita memiliki kegentaran kepada Tuhan. Apakah kita sungguh-sungguh telah memiliki hati yang menghormati Allah atau tidak? Apakah sungguh-sungguh kita telah memberikan pujian dan penyembahan yang benar kepada Allah atau tidak? Hanya Roh Kudus yang bisa memberi pencerahan, seberapa kita sungguh-sungguh telah menghormati Allah dan apakah kita sungguh-sungguh telah memiliki hati yang menyembah dan memuji Dia dengan benar.
Hari ini dunia kita dengan adanya media sosial yang terbuka, orang memiliki kesempatan untuk saling menyerang, saling menyakiti, mem-bully, merendahkan, menghina, memfitnah, menghancurkan nama baik, membunuh karakter dan mungkin kita termasuk salah satu korbannya. Mari, jangan marah, jangan sekali-kali membalas, jangan sekali-kali berdebat. Justru dengan hal itu kita harus memeriksa diri. Apakah kita memang patut dihina, direndahkan, dikritisi, dicela? Mungkin kita orang yang patut diperlakukan seperti itu karena keadaan kita sebenarnya demikian.
Jika demikian, berubahlah. Atau kalau kita adalah orang yang sebenarnya tidak patut diperlakukan seperti itu, juga tidak masalah. Hal ini justru mesti mengondisi kita untuk mencari hormat dari Allah. Justru dengan hal ini, kita mencari pujian di dalam Kerajaan Surga, di kekekalan nanti. Dan ini menjadi berkat, blessing in disguise, berkat di tengah-tengah badai, di tengah suasana gaduh. Jadi, kalau kita merespons keadaan dengan baik, maka keadaan yang terburuk pun menjadi baik bagi kita. Jangan kita menghargai diri sendiri, namun biar Tuhan yang menghargai.
Orang yang tersinggung waktu dicela adalah orang yang masih mencari hormat bagi diri sendiri. Biasanya mereka kemudian akan membalas, membantah, berargumentasi, berdebat, membalas, mencela. Mereka adalah orang yang sebenarnya mencari hormat sampai pada tingkat gila hormat. Kalau kita dicela dan kita tersinggung, berarti kita masih mencari hormat, masih haus ingin pujian. Tetapi kalau kita tidak patut dicela karena kita tidak bercela seperti yang dituduhkan, maka baiklah kita mengembalikannya kepada Tuhan dan berjuang untuk tidak melakukan hal yang tercela yang dituduhkan kepada kita.
Ini memang berat, bicara seperti ini sangat mudah, tetapi melakukan hal ini bukan sesuatu yang mudah. Tetapi justru inilah kasih Tuhan. Anugerah kemurahan-Nya memberi kita situasi-situasi di mana kita bisa tersinggung, bisa terluka, bisa dendam, bisa menaruh kebencian dan punya hasrat membalas. Situasi dan kondisi itu sebenarnya merupakan berkat, merupakan area pelatihan, merupakan medan training Tuhan untuk kita supaya kita menjadi seperti Yesus.
Betapa hebat, serangan yang ditujukan kepada Yesus, dikecam, dikritik, bahkan difitnah, tetapi Dia tekun menanggung bantahan itu, seperti yang tertulis dalam Ibrani 12:3-4. Begitu tekun, dan itulah, sebagai jalan yang menyempurnakan Yesus. Dan setelah sampai pada kesempurnaan, Dia menjadi pokok keselamatan, penggubah, atau teladan kita. Yesus harus mengalami semua itu. Bisakah Yesus tersinggung? Pasti bisa Dia untuk sakit hati dan membalas, tapi Yesus tidak melakukannya. Yesus bukan kebal sebenarnya, tetapi Yesus memang memilih untuk tidak melakukan kesalahan apa pun. Kalau Yesus kebal terhadap kesalahan, maka kita tidak bisa meneladani-Nya dan tidak bisa mencontoh Dia.
Dan firman Tuhan tidak mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp. 2:5-7). Ketika Ia disalib, Ia mendoakan orang-orang yang menyakiti, melukai Dia dengan hebatnya itu dengan kalimat, “Ampunilah mereka, ya Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Luar biasa! Itu sebabnya Ia menerima nama di atas segala nama, Ia ditinggikan, sebab firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan” (Mat. 23:12; Luk. 14:11). Orang yang menghormati Allah, akan dihormati. Orang yang tersinggung, sakit hati ketika dicela adalah orang yang tidak menghormati Allah, karena ia tidak berbuat apa yang baik, yang benar di mata Allah.
Seseorang makin kurang percaya Tuhan, karena di matanya, Tuhan semakin misteri. Semakin seseorang memandang Tuhan itu misteri, semakin ia menunjukkan kurang percayanya. Memang Tuhan adalah Allah yang Maha Misteri, kita tidak bisa menjajaki keberadaan Allah yang unlimited. Tetapi Tuhan tidak menjadi misteri selama kita menaruh percaya kepada-Nya. Sama seperti anak yang memercayai orang tua. Dia tidak mengenal sepenuhnya keberadaan orang tua, tetapi ketika ia menaruh percaya kepada orang tuanya bahwa orang tuanya aman baginya—mengasihi, melindungi, membela dan ada di pihaknya—maka orang tua tidak menjadi misteri baginya.
Masalahnya, mengapa kita memandang misteri kepada Tuhan? Mengapa Tuhan itu menjadi seperti kelam kabut? Karena kita tidak mengenal Dia. Celakanya, apa yang kita dengar sering kali hanya pengetahuan yang tidak memiliki implikasi kuat di dalam kehidupan dan tidak mendorong kita untuk mengalami Tuhan. Di lingkungan para akademisi, yaitu di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi, subjektivitas itu sering dipandang negatif, sebab semua harus bisa dijelaskan secara sistematis. Kalau di lingkungan akademis, harus ada referensi buku. Kalau ada tulisan tidak ada referensinya, dianggap tidak akademis. Jadi, tanpa disadari, pengetahuan tentang Tuhan itu diformatkan, dipatok, dibatasi, padahal Tuhan itu Tuhan yang transempiris (melampaui akal).
Jangan heran kalau orang yang di lingkungan para akademisi teologi, lalu ada ajaran sedikit yang tidak sesuai dengan yang sudah ada, maka dianggap sesat, bidat. Padahal dunia ini bergerak terus, dinamika hidup tidak pernah berhenti, dan mestinya manuver Tuhan pun tidak boleh berhenti, dan Tuhan tidak juga berhenti, mengikuti perjalanan hidup manusia dengan dinamikanya, perjalanan hidup anak-anak Allah dengan dinamikanya, tapi Tuhan telah dikurung dalam doktrin, teologi, sistematika teologi. Padahal, dalam kehidupan umat manusia, begitu banyak misteri yang belum bisa dipecahkan. Kalau ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menghasilkan karya-karya inovatif yang benar-benar mendatangkan kesejahteraan, kenapa Allah yang menyangkut alam roh tidak bisa dikembangkan? Apa yang dihasilkan oleh teologi?
Maka, kita harus mengenali Allah sebagai pribadi yang hidup dan nyata, yang dengan-Nya kita harus bersentuhan. Kalau kita membaca Alkitab, dari Kitab Kejadian sampai Wahyu, begitu jelas perjumpaan, pergaulan, interaksi antara manusia umat Allah dalam pergumulan konkret hidup mereka. Orang-orang sederhana yang mengalami Tuhan, dan Tuhan tidak menjadi misteri, Tuhan nyata karena perjumpaan itu. Temui Dia di keheningan dan jangan membatasi waktu doa atau perjumpaan kita. Kita harus berani mencari Tuhan. Sampai kita bisa memiliki irama menyentuh Tuhan.
Ajaibnya, Tuhan sering membawa kita ke masalah yang penuh pertanyaan, “Kenapa terjadi begini, Tuhan? Kenapa semakin memburuk?” Ternyata hal itu Tuhan izinkan supaya kita belajar memercayai Dia di tengah badai sebesar apa pun. Maka, di dalam kondisi paling bingung bagaimanapun, yang penting Tuhan aman bagi kita. Sebab Ia bukan misteri, selama kita memercayai-Nya, Ia aman untuk kita. Lalu, kenapa kita kurang percaya? Karena kita tidak menyentuh Dia. Bayangkan kalau orang hanya punya pengetahuan tentang Tuhan, maka ketika ia menghadapi banyak masalah, penuh pertanyaan, ia menjadi bingung. Dalam keadaan seperti itu, apakah ilmu teologi bisa menjawab? Tidak bisa! Jawabannya hanya bisa kita temukan kalau kita bisa menyentuh Allah dan mengalami Allah.
Kalau kita belajar bertemu Tuhan di dalam keheningan, maka hidup kita akan bersih dan kita bisa peka membaca segala keadaan. Namun kita semua harus berjuang untuk hidup dalam kekudusan, sehingga kita akan melihat kemuliaan Allah. Tuhan tahu masalah kita masing-masing, namun Tuhan seperti tutup mata, tapi di situ asyiknya kita belajar memercayai Tuhan. Kita harus tetap memercayai Allah, walaupun tidak ada tanda-tanda kehadiran-Nya, tidak ada tanda bahwa Dia mendekati dan menolong kita dalam masalah ini. Tapi kita tahu, Dia mengajar kita untuk memercayai Dia dan tidak meragukan-Nya.
Sejatinya, kadang Tuhan tidak gampang membuat kita melewati masalah. Hal ini membuat kita tidak menggampangkan Tuhan. Namun yang jelas Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Jadi, mengapa kita memandang Tuhan begitu seperti kelam kabut, misteri, bahkan mungkin wajah angker, karena Ia tidak terjamah, tidak terjangkau, sebab kita tidak bergaul dengan Tuhan. Kalau kita percaya kepada-Nya, maka, pertama, kita tidak berani berbuat dosa, karena kita tidak mau melukai hati Tuhan. Yang kedua, kita rindu bertemu Tuhan. Hanya tentu, karena kita punya tanggung jawab, kita tidak mau buru-buru pulang ke surga, karena masih banyak orang yang harus kita bawa ke langit baru bumi baru.
Mungkin ada di antara kita yang tidak pernah punya ayah yang baik, sehingga ia tidak memiliki gambar ayah yang baik. Tapi, Allah Bapa kita adalah Allah yang baik, Bapa yang baik. Namun sering kita tidak sadar, bahwa kalau kita memanggil-Nya Bapa, itu artinya kita bisa dan harus menemui-Nya; secara personal, pribadi. Namun dalam praktik, khususnya sebagai pendeta, sering kita menggelapkan hubungan itu dengan memberi kesan bahwa pendeta punya hak istimewa untuk menemui Allah, dan seakan-akan doanya lebih manjur daripada jemaat. Bukan tidak boleh pendeta mendoakan jemaat, tapi jangan memberi kesan seakan-akan pendeta punya hak istimewa untuk menemui Tuhan, sehingga jemaat harus lewat perantara pendeta.
Maka, jangan disandera oleh pendeta, padahal setiap kita bisa datang sendiri kepada Tuhan. Jangan suasana Perjanjian Lama—di mana orang-orang tertentu yang dipercayai Tuhan menjadi perantara antara Allah dan umat—masuk dalam kekristenan, yang membuat kita tidak serius memburu Tuhan. Sejak saat ini, mari setiap kita menjadi pemburu Tuhan. Dan setiap kita bisa jadi pemburu Tuhan. Kita diberi kesempatan oleh Tuhan, dan segala kelengkapan untuk menemui Dia. Kita punya hak istimewa yang sama dengan siapa pun, artinya dengan pendeta, teolog. Kita bisa menjumpai Tuhan, menemui Tuhan. Dan kita harus yakin biar keadaan kita carut-marut, compang-camping, busuk, bobrok, rusak bagaimanapun, Allah menerima kita.
Bapa memeluk dan mencium ketika kita datang dan berkata, “Aku masih rusak, Tuhan. Aku masih korupsi. Aku punya selingkuhan, Tuhan. Aku baru mengkhianati orang. Aku rusak banget. Ampuni aku.” Darah Yesus meleleh, Bapa mencium harumnya darah Yesus, dan Dia memeluk kita. Namun kemudian memang kita harus belajar berubah, dan Tuhan akan menuntun. Tapi kalau menunggu kita tidak korupsi, tidak mata keranjang, sampai mati kita akan tetap korupsi dan mata keranjang. Kalau saat ini kita adalah orang yang tidak pernah mau menemui Tuhan, kita punya 1001 alasan untuk menghindar, itu karena:
Pertama, kita ditipu oleh kuasa gelap seakan-akan kita tidak punya hak yang sama seperti pendeta untuk menjumpai Tuhan.
Kedua, kita terintimidasi dengan keadaan kita. Padahal Tuhan sangat mengerti keadaan kita, dan darah Yesus membasuh ketika Ia memeluk kita. Bapa mencium keharuman darah Yesus, dan Bapa menerima kita. Kalau kita sudah ada di dalam pelukan-Nya, Ia mau melatih kita sempurna, agar kita tidak melakukan dosa yang sama. Seperti pelacur yang ditangkap, dan banyak orang mau melempari dia dengan batu, Yesus menyelamatkan wanita itu. Yesus berkata kepada pelacur itu, “Aku juga tidak akan melempari batu.” Lalu Yesus berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.”
Kapan kita akan berurusan dengan Tuhan? Jangan sampai kita menundanya terus, bahkan kita membatalkan, kita sia-siakan keselamatan yang besar itu. Kalau hari ini Tuhan memanggil kita, pulanglah. Setiap kita adalah orang berdosa, namun Yesus sudah mati di kayu salib, Ia bisa menutupi dan membungkus kita, dan kita dibenarkan di hadapan Allah. Kita yang harus merubah cakrawala hidup dengan datang kepada Tuhan. Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah yang membelah laut Kolsom, Allah yang menutup mulut singa di kandang singa, Allah yang memadamkan api, Allah yang mengutus Tuhan Yesus Kristus, Putra tunggal-Nya, Allah yang sama yang memanggil kita dalam pelukan-Nya.
Mengerikan sekali kalau suatu hari kita ada di hadapan takhta pengadilan Tuhan, ternyata kita tidak bekerja untuk Tuhan. Ini sebenarnya inti Injil, yaitu bagaimana keadaan kita, kodrat kita diubah menjadi keadaan anak-anak Allah, seperti atau serupa dengan Yesus, yang dalam segala hal yang dilakukan benar-benar untuk Bapa di surga. Dan Tuhan Yesus yang telah mencapai kesempurnaan, artinya mampu hidup selalu untuk Bapa, menjadi penggubah atau komposer. Setiap kita punya kepribadian yang berbeda-beda, tetapi setiap kita dapat menjadi lagu yang merdu dan indah di telinga Tuhan. Dan Tuhan disenangkan oleh setiap pribadi yang beraneka ragam ini. Karenanya masing-masing kita harus berurusan, berperkara dengan Tuhan untuk menjadi pribadi yang indah, bagai simponi yang merdu.
Di Perjanjian Lama, kita dapat melihat pola keberagamaan bangsa Yahudi, di mana masing-masing individu atau umat tidak bisa berhubungan langsung dengan Allah. Ada pemimpin, tokoh agama, imam, dan khususnya imam besar yang bisa menjumpai Allah secara langsung dan menjadi mediator atau pengantara antara Allah dan umat. Pola keberagamaan ini ada di seluruh agama dan kepercayaan. Atau paling tidak, pada umumnya demikian. Mestinya kekristenan tidak menganut pola ini. Sebab setiap orang percaya bisa berhadapan langsung dengan Allah, dan pengantaranya hanya satu, yaitu Tuhan Yesus.
Kalau di dalam Perjanjian Baru kita disebut anak-anak Allah, di mana Elohim Yahweh—Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah Israel—berkenan menjadi Bapa. Itu berarti setiap kita, memiliki hubungan, relasi atau koneksi antara Bapa dan anak, tidak perlu perantara. Bukan hanya antara Allah dan umat, melainkan Bapa dan anak. Allah sebagai Bapa menginginkan sebuah hubungan, persekutuan, fellowship, antara kita, sebagai anak-anak Bapa dengan Allah dalam hubungan yang harmonis dan mesra. Jadi, setiap kita, mestinya dengan optimis bisa menjumpai Allah secara pribadi dalam doa dan dalam persekutuan hidup sepanjang waktu. Kalau Henokh bisa berjalan dengan Allah, maka kita mestinya lebih dari itu karena hubungan kita dengan Allah adalah hubungan Bapa dan anak.
Tuhan kita Yesus Kristus, Juru Selamat, telah menumpahkan darah dan membenarkan kita, walaupun keadaan kita belum benar atau belum benar-benar benar. Kita dibenarkan, sehingga bisa dibawa menghadap Allah Bapa dan bisa bersekutu dengan keadaan kita yang mungkin masih compang-camping, tapi Bapa mau memeluk kita dan mendandani kita. Seperti anak terhilang, si Bungsu yang pulang setelah mendurhaka, setelah memberontak, bergaul dengan babi-babi. Ketika si Bungsu yang bejat ini pulang, bapaknya memeluk dia; belum didandani, tapi dipeluk.
Kita tidak bisa mengukur betapa panjang sabar Allah, betapa besar, betapa tinggi, dan dalam pengertian-Nya terhadap kita. Masalahnya, apakah kita mau datang secara langsung untuk dipeluk? Atau kita merasa ada ukuran ganda? Seakan-akan ada orang-orang tertentu yang bisa menjumpai Allah secara langsung dan memiliki semacam hak istimewa, sebagai pemimpin agama, rohaniwan, atau semacam imam. Ini penipuan, pembodohan. Kenyataannya, tidak banyak orang percaya yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, sehingga kalau jujur, sedikit sekali orang yang akrab dengan Allah sebagai Bapa, walaupun mereka menyebut Allah itu Bapa, tidak pernah ada sentuhan kemesraan dengan Dia.
Jangan menunggu sempurna untuk kita menjumpai Tuhan. Kita yang masih compang-camping, busuk, kita bisa menghampiri Tuhan dan merendahkan diri. Tapi, bagaimana menghilangkan bau busuk itu? Yang pertama, kita harus mengakui dosa dan minta ampun. Darah Yesus menghapus, Allah melihat darah Yesus, akan tercium darah itu yang wangi. Walaupun kemudian kita harus belajar, dididik Bapa untuk memiliki wewangian yang abadi dan permanen seperti karakter Kristus. Tapi setan menipu kita dengan cara mengintimidasi pikiran kita bahwa kita masih duniawi, masih busuk.
Pertanyaannya, apakah kita mau begitu terus, terpisah dari Allah? Tuhan tahu kita busuk dan rusak, tetapi Dia mau peluk, Dia hanya ingin kita datang dan memperkarakan keadaan kita. Tuhan tahu kita belum sanggup hidup di dalam kekudusan, tapi Bapa mau kita datang, sebab kalau kita tidak datang maka sampai titik tertentu kita tidak pernah bisa datang dan kita pasti binasa. Tuhan tidak menolerir dosa, tetapi dengan keadaan kita ini, Tuhan mau menerima. Namun banyak yang melarikan diri, masih terus berkubang di dalam dosa. Banyak orang lebih betah di dunia daripada di gereja, lebih betah nonton TV daripada berdoa. Lebih betah baca banyak bacaan daripada baca Alkitab.
Si Bungsu menyadari, “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa.” Ketika masih jauh, ayahnya telah melihat anak itu. Berarti, ayah ini menantikan pulang anaknya. Lalu tergeraklah hati ayahnya oleh belas kasihan. Ayahnya telah melihatnya. Allah pun melihat kita, dalam keadaan seperti apa adanya hari ini. Mari kita datang kepada Bapa. Jangan menunda, sebab penundaan yang terus-menerus berarti pembatalan. Dan mengerikan kalau sampai orang terpisah dari hadirat Allah. Menjadi penipuan ketika orang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menemui Tuhan. Dia, Bapa kita. Dia menanti kita pulang ke dalam pelukan-Nya.
Sejatinya, berdoa itu tidak mudah. Menyembah Tuhan itu juga tidak mudah, berdialog dengan Tuhan itu tidak mudah. Meyakini bahwa Allah itu ada, hidup, hadir, tidak mudah. Warna hidup kita setiap hari harus benar-benar memberi nilai tinggi Tuhan. Kita bisa berdialog dengan Tuhan lewat perjalanan waktu yang panjang, baru kita bisa menyentuh adanya percakapan yang sejati dengan Tuhan. Bagaimana suara kita bisa sampai takhta Tuhan, dihargai oleh Tuhan? Bagaimana kita bisa punya doa penyembahan layak sampai takhta Tuhan? Kalau hati dan hidup kita bersih, hati kita tidak terikat dunia dan benar-benar menghormati Tuhan.
Tidak salah punya rumah, mobil, dan segala fasilitas, tapi hati kita tidak terikat di mamon itu. Justru ini menjadi alat untuk membangun hubungan kita dengan Tuhan. Kita harus mencintai Tuhan seperti orang yang sedang kasmaran; makin hari makin kuat cinta kita. Ada keharuman Tuhan yang kita cium di dalam roh kita, ada atmosfer yang kita nikmati, yang membuat kita kecanduan atmosfer itu, sehingga tidak ada hari tanpa doa dan pertemuan dengan Tuhan, sampai kita belajar 24 jam ada di hadirat Allah. Siang malam memikirkan Tuhan, harus seekstrem-ekstremnya. Percaya, kita tidak akan menjadi kacau, atau etos kerja kita tidak rusak, tanggung jawab yang harus kita penuhi, tidak akan kita hindari; kita menjadi manusia yang agung.
Kalau hati kita bersih, tidak ada ikatan dunia, tidak gila hormat, maka penyembahan kita sampai ke takhta Tuhan. Kita bisa mencapai puncak kesucian setinggi-tingginya, puncak keberkenanan di hadapan Allah setinggi-tingginya. Ingat, kita hanya punya satu kali kesempatan hidup berurusan dengan Allah semesta alam yang Maha Besar, yang dari kekal sampai kekal. Kita bukan berurusan dengan dewa yang terbatas kuasanya. Kita berurusan dengan Allah yang tidak terbatas, yang ada dari kekal sampai kekal, yang memiliki segala kuasa, Kerajaan, kemuliaan yang menjanjikan. Maka kita harus terbang tinggi, dan ini bukan fantasi.
Jadi, hari ini kita harus mulai mengambil keputusan, “Dia segalanya dalam hidupku,” jangan setengah-setengah, siang malam pikirkan Tuhan. Petakan hidup kita, petakan hari kita. Jangan mengisi hari tanpa tujuan. Kalau kita tidak memetakan hari kita, maka kita tidak akan pernah bisa mewujudkan, “Siang malam memikirkan Tuhan.” Memikirkan Tuhan bukan hanya muncul di dalam pikiran kita, tetapi ada waktu-waktu di mana kita benar-benar berurusan dengan Tuhan. Kita hidup di hadirat Tuhan. Betapa menyenangkan hidup seperti ini. Kita tidak akan dipermalukan, keturunan kita pun akan diingat Tuhan.
Allah itu hidup, Allah itu nyata. Jadikan Allah itu hidup, jadikan Allah itu nyata di dalam hidup kita, dan yang membuat Tuhan menjadi hidup, nyata, dan hadir adalah diri kita sendiri. Tidak ada masalah yang dibiarkan Tuhan menghancurkan hidup kita. Karena kita dibela Tuhan. Kalau Tuhan menyertai, tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Orang bisa menyalahkan, tapi tidak bisa mengalahkan kita, karena Tuhan di pihak kita. Ini bukan soal keributan, tapi bagaimana Tuhan membela dan menjaga kita, dan kita terus berjalan menuju satu ujung di mana akan terbit matahari yang tidak pernah terbenam, yaitu Tuhan.
Namun ironis, banyak orang Kristen memberikan porsi yang tidak pantas untuk Tuhan. Karena standar dunia yang sudah rusak, mereka tidak menghormati Tuhan secara pantas. Dan yang paling merusak adalah kewajaran hidup seperti manusia lain, dan pola keberagamaan yang titik tekanannya pada liturgi seremonial semata. Padahal kekristenan adalah jalan hidup; hidup-Nya Yesus yang kita kenakan. Kalau kita mengenakan hidupnya Yesus, di situ kita bisa bersekutu dan berjalan dengan Tuhan. Karena Bapa berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus,” maka kita tidak bisa main-main lagi. Dulu kita hidup sembarangan, Tuhan masih beserta. Walau kita tidak setia, Tuhan tetap setia.
Namun, sekarang kita harus mengerti bahwa kita yang harus membayar harga untuk bisa berjalan dengan Tuhan. Kita hanya punya satu kali kesempatan hidup. Dan merupakan suatu kehormatan bisa mengenal Allah yang benar. Tidak ada Allah yang benar selain Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Yahweh nama-Nya. Kita bersyukur mengenal Dia, Allah yang dari kekal sampai kekal. Hampiri Dia, sampai kita gemetar, dan bisa menghayati kedahsyatan kebesaran-Nya. Jangan berfantasi tentang Allah, namun alami Dia. Maka miliki prinsip ini, “siang malam memikirkan Tuhan.”
Alkitab sudah membuktikan bahwa orang yang sungguh-sungguh berurusan dengan Allah—dalam arti berurusan positif, mengikut jalan Tuhan—pasti diberkati, pasti tidak dipermalukan. Jadi, kita jangan setengah-setengah. Sebab Tuhan tidak kompromi dengan orang yang setengah-setengah. Kalau Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” itu artinya kita 100% untuk-Nya atau tidak usah sama sekali. Ini yang benar: “Kasihilah Tuhan Allahmu—bukan separuh, apalagi seperempat—dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, dan segenap kekuatanmu.”
Coba kita perhatikan bencana-bencana alam yang terjadi di dunia; angin tornado, banjir, gempa bumi, tsunami, atau kecelakaan-kecelakaan besar yang terjadi. Dengan melihat hal-hal itu, kita jadi melek, manusia itu bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah menghadapi bencana. Apalagi kalau kita membaca 2 Petrus 3:9-11, di mana unsur-unsur di udara akan terbakar dalam nyala api. Kok manusia bisa tidak takut? Ini bukan mengintimidasi atau menakut-nakuti, namun memang kita harus ‘takut.’ Oleh sebab itu, jangan setengah-setengah. Kita sekarang punya prinsip baru: siang malam memikirkan Tuhan. Harus seekstrem-ekstremnya.
Kita harus berani berkata seperti Musa berkata ketika Tuhan mau meninggalkan bangsa Israel karena bangsa itu keras kepala, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Jangan sombong. Modal uang itu bukan segalanya. Modal relasi, koneksi, pejabat, aparat keamanan juga bukan segalanya. Tidak ada yang bisa menjanjikan, kecuali Tuhan. Kita siang malam memikirkan Tuhan, maksudnya apa pun yang kita lakukan itu tidak melawan kehendak Tuhan. Ketika kita tidak mengurus keluarga dengan baik, kita melawan kehendak Tuhan. Atau kita tidak rajin bekerja, kita melawan kehendak Tuhan.
Siang malam memikirkan Tuhan itu sama artinya dengan “baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan.” Ini sudah zamannya kita keluar memisahkan diri dari dunia. Kita memang masih ada di dunia, tapi pikiran kita tidak terikat dengan dunia, cara hidup kita berbeda, gaya hidup kita berbeda. Setan takut terhadap prinsip-prinsip hidup dan filosofi seperti ini. Setan tidak takut kita jadi aktivis gereja, rajin ke gereja, bahkan sekalipun kita jadi pendeta. Tapi setan gentar kalau kita sampai memisahkan diri dari dunia dengan cara hidup Anak Allah.
Maka, hidup Yesus bukan hanya dipelajari di atas kertas, menjadi doktrin atau ajaran. Hidup Yesus harus dikenakan untuk membuktikan bahwa Yesus yang kita miliki adalah Yesus yang benar. Maka, hati-hati dengan hidup kita—perkataan, keputusan, cara menggunakan uang, segala tindakan perbuatan kita—sebab kita harus mewakili Tuhan. Mewakili Tuhan itu bukan hanya waktu kita khotbah di mimbar, pada waktu kita mendoakan orang atau konseling, melainkan di setiap langkah yang kita lakukan. Dan ini yang Tuhan kehendaki, dan itu menunjukkan keseriusan kita dengan Tuhan. Tidak ada bagian hidup untuk yang lain, hanya untuk Tuhan.
Ketika seseorang jatuh cinta, bau apa pun yang ada padanya, jadi enak. Kenapa kita tidak membuat hati kita kasmaran dengan Tuhan? Kenapa kita tidak membaui keharuman Tuhan dan berkata, “Ini yang aku suka, aku mau mencium keharuman-Nya.” Sementara kita makin tua, waktu hidup kita makin pendek, kita akan menghadap Tuhan, namun masih saja kita memberi ruang hati untuk banyak hal. Kita harus melekat dengan Tuhan. Siang malam memikirkan Tuhan, sampai kita benar-benar mengalami Tuhan. Kalau kita belum gila di mata dunia, berarti kita belum waras di mata Tuhan. Paulus pun dikatai gila. Yesus pun dikatai gila. Memang kita tidak boleh nyentrik, kita tetap harus hidup wajar dan santun, hidup bermasyarakat dengan baik, tetapi kita harus serius memiliki fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.
Jadi pada intinya kita harus memiliki kehidupan yang benar-benar berpusat pada Allah. Dan itu tidak mudah. Banyak orang Kristen yang tubuhnya di gereja, tapi pikirannya sebenarnya masih terparkir di dunia. Ibarat pesawat, dia masih di landasan parkir, bukan landasan pacu. Mestinya kita sudah lewat landasan pacu, dan terbang. Itulah sebabnya di Lukas 17, Yesus berkata, “Ingatlah akan istri Lot.” Apa yang diingat dari istri Lot? Tiang garam, dia menoleh ke belakang. Tubuhnya sudah keluar dari kota Sodom, tapi hatinya masih di kota Sodom. Jangan kita seperti itu.
Kalau Tuhan mengajar dan menghendaki kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, berarti kita tidak boleh memberikan ruangan hati dan jiwa kita untuk siapa pun dan apa pun, termasuk untuk kesenangan kita sendiri, baik dalam bentuk kehormatan, pujian, sanjungan, benda-benda materi, atau apa pun. Bahkan pasangan hidup, orang tua, anak, keluarga, tidak boleh menyaingi Tuhan di dalam hidup kita. Dan ini satu hal yang mutlak. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita untuk menjadikan Dia Tuhan kita. Untuk menjadikan Allah, Bapa kita, Bapa yang kita hormati, yang bagi-Nya kita hidup, kita harus sungguh-sungguh menempatkan Tuhan di atas segala-galanya dalam hidup ini. Dan hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita melakukan hal ini.
Suatu hari kita pasti meninggal dunia, dan kita semua tahu bahwa tidak ada selembar benang atau sekeping uang pun yang kita bawa. Pemazmur menuliskan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Kalau kita yang masih muda bisa melakukan hal ini, kita akan menjadi sangat luar biasa. Roh Kudus yang menuntun bagaimana kita menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup. Hari esok kita akan menjadi orang-orang yang terberkati, terlindungi, dan tidak akan dipermalukan. Bagi kita yang sudah punya umur, mestinya benar-benar mengosongkan bejana hati agar tidak ada kesenangan dan kebahagiaan apa pun dalam hidup ini selain Tuhan.
Jika Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan kita, maka Tuhan akan menjadikan siapa pun dan apa pun di lingkungan dalam hidup kita sebagai kebahagiaan kita. Sebab, kebahagiaan kita bukan pada pasangan hidup, orang tua, anak, famili, keluarga besar, sahabat, atau benda-benda materi seperti mobil, rumah, perhiasan, perlengkapan hidup, kehormatan, pujian, atau sanjungan. Kita harus mengakhiri jalan hidup kita, dan menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup ini. Suatu hari dunia akan menjadi lautan api. Itu mengerikan! Gunung berapi saja dalam lokasi tertentu, mengerikan. Kalau sudah awan panas menyembur, langit menjadi gelap, lalu turun hujan abu. Mengerikan! Apalagi pada waktu kedatangan Tuhan nanti, yang tertulis di dalam 2 Petrus 3:9-11 dan seterusnya, “Unsur-unsur di udara akan terbakar dalam nyala api.” Pada waktu itu, baru orang sadar betapa yang diperlukan dan dibutuhkan hanya Tuhan.
Bayangkan, orang-orang yang sekarang pelit untuk sesamanya, tetapi royal dan boros untuk dirinya sendiri; kalau dia mau beli apa, dia beli. Dia mau mencapai apa, dia lakukan. Tetapi, untuk sesama, dia begitu pelit dan perhitungan. Orang yang mengumpulkan kesenangan serta kekayaan bagi dirinya sendiri, dan tidak pernah mau mendengar Tuhan bicara apa, pasti tidak pernah menemukan apa rencana Allah di dalam hidupnya. Ada orang-orang yang sampai tidak bisa dinasihati. Dia tidak peduli pekerjaan Tuhan.
Mungkin dia tidak menemukan gereja atau pendeta yang bisa dipercaya sehingga dia tidak mau melepaskan hartanya untuk pekerjaan Tuhan. Atau mungkin dia tahu ada pendeta-pendeta baik yang bisa dipercayai untuk menjalankan pekerjaan Tuhan, tetapi hatinya tertutup terhadap sesamanya. Betapa mengerikan orang-orang ini. Suatu hari ketika dia melihat kekekalan yang dahsyat, dia tidak layak bersama dengan Tuhan, karena pada dasarnya yang disembah bukan Tuhan, melainkan harta kekayaannya. Kemuliaannya adalah benda-benda di sekitarnya. Apakah itu tas yang ditenteng, apakah itu arloji yang dikenakan, apakah itu mobil yang dikendarai, apakah itu pakaian yang dipakai, dsb.
Bukan tidak boleh mengenakan hal-hal tersebut kalau itu menjadi bagiannya. Tidak salah. Tetapi kalau dia tidak peduli pekerjaan Tuhan, dia hanya peduli dengan keluarganya atau orang-orang dekat, maka kalaupun dia mendukung pekerjaan Tuhan, itu hanya karena tidak enak hati atau kasihan terhadap gereja, bukan karena mencintai Tuhan. Mereka belum bisa menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Dia tidak memberi ruangan yang patut bagi Tuhan. Ruangan hidupnya diberikan untuk kesenangan-kesenangan dunia. Inilah orang-orang yang menyembah Iblis, mengerikan!
Sebagai pendeta, kita juga bisa menyembah Iblis. Walaupun di mulut berkata menyembah Allah, tapi kita masih memiliki kesenangan-kesenangan dunia dan menikmatinya, itu sama dengan menyembah Iblis. Menghargai dunia, memberi nilai tinggi dunia, itu menyembah Iblis. Kita bisa membacanya di Lukas 4:5-8. Ayo, kita memberi ruangan sebesar-besarnya untuk Tuhan. Jangan mengingini apa yang Tuhan tidak kehendaki kita ingini. Biar Tuhan saja yang kita rindukan dan ingini. Mari kita memperhatikan apa kehendak-Nya untuk kita lakukan, dan rencana-Nya untuk kita penuhi. Karenanya, jangan banyak bicara, tapi selalu berdialog dengan Tuhan setiap saat.
Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang tidak punya tatanan. Tuhan menciptakan kehidupan dengan tatanan, dengan hukum. Kalau suatu benda tidak tertopang, dia akan pasti jatuh. Ini hukum gravitasi. Dan banyak hukum lain, Archimedes, Aerodinamika, dan lain sebagainya. Semua ada tatanannya. Demikian pula hidup ini, ada tatanannya. Bagaimana supaya kita memiliki hidup yang baik-baik, artinya diberkati Tuhan, yang nantinya kita sampai ke Kanaan Surgawi yang merupakan tujuan akhir hidup kita? Ada tatanan, ada aturannya.
Dan kita ke gereja untuk mendapatkan pengarahan. Kenapa hanya pengarahan? Karena lebih banyak ‘hal’ yang kita akan dengar nanti dari Roh Kudus melalui perjalanan hidup kita setiap hari. Juga ketika kita berdoa pribadi, membaca Alkitab, banyak yang kita akan dengar. Kalau pengarahannya salah, tidak mungkin kita bisa menjalani hidup dengan benar. Maka, mulai hari ini ubahlah hidup kita. Pertama, jangan berbuat dosa; berarti hidup suci. Kedua, jangan punya keinginan, jika bukan kehendak Allah. Sering kali kita yang sekarang kelihatan baik, nanti refleks dosanya muncul pada waktu kita duduk di meja makan, atau waktu kita menghadapi kasus. Ada kesalahan yang kita lakukan; itu bocor. Atau waktu berdoa, tekad kita untuk hidup suci luar biasa. Tapi kalau sudah menghadapi kehidupan, kita yang membuka atap, sehingga bocor. Dan setan membocori kita dengan kotoran-kotoran.
Ulangan 8:1-2, “Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”
Di perjalanan hidup kita, Tuhan menguji, apakah kita benar-benar serius dalam berurusan dengan Tuhan, apakah kita merendahkan hati, apakah kita hidup suci. Sekarang kita tidak membutuhkan aniaya fisik. Tapi yang dibutuhkan adalah kesucian hidup, merendahkan hati di hadapan Tuhan, supaya kita diberkati Tuhan. Sejujurnya, kita tidak mengenal diri kita dengan baik. Allah yang tahu. Dan Tuhan tahu bagaimana mendidik kita untuk menjadi “mesin” Tuhan yang baik. Setiap kita punya masalah-masalah yang berbeda. Dan lewat masalah itu, Allah mau menyempurnakan kita. Kenapa Allah mengizinkan kita memiliki masalah—sakit penyakit, ekonomi, keluarga? Karena Allah mau membuat kita selamat di kekekalan; tujuannya adalah Kanaan Surgawi.
Maka, rahasianya adalah jangan kita takut, jangan dengar fitnah setan; “kamu tidak bisa hidup suci, nanti kamu aneh.” Hidup suci itu harus. Tidak usah lihat yang tidak perlu dilihat. Hindari teman-teman pergaulan yang duniawi. Bukan menghindari pergaulan, tapi pintar-pintarlah kita, dan Roh Kudus akan menolong kita. Kalahkan monster dalam diri kita, dan Tuhan tahu bagaimana cara mengalahkan itu. Kita mau bertekad di sisa umur hidup kita ini, kita hidup suci. Tuhan bisa mengubah nasib kita dengan gampang, kalau Tuhan mau. Seperti membalik tangan. Jangan berpikir tidak ada jalan. Allah punya banyak jalan yang tak pernah kita pahami. Pandanglah masa depan kita. Kalau kita naik karpet kesucian, kita bisa terbang ke mana saja. Jangan kita membela diri, tunggu di pengadilan. Kita mau mendapat lawatan Tuhan.
Ulangan 8:3, “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Tuhan mau berfirman kepada kita setiap hari. Dia memberikan kita manna untuk kita makan, terutama manna rohani. Kita mencari Tuhan, karena kita mau detoksifikasi. Banyak dosa, pikiran kita keruh, banyak ter-distract. Mari kita serius mau membersihkan diri.
Pertaruhkan Tuhan dengan kesucian hidup, dan buktikan bahwa Dia hidup. Makin kita suci, makin kita bisa merasakan kehadiran Tuhan. Jangan seperti rumah bocor, kelihatannya baik-baik, begitu hujan, bocor. Begitu ada kesempatan berdosa, masih berbuat dosa. Kalau masih begitu, maka Roh Kudus tidak betah tinggal di dalam diri kita. Hidup suci itu abstrak, tapi Tuhan akan mengajarkan bagaimana kesucian itu.
From the publisher's feed