
Sign up to save your podcasts
Or


Sebagai orang yang beretika, kalau kita punya utang, kita mau agar kita dapat segera membayar utang itu. Rasanya kalau belum bisa membayar utang atau kalau kita belum mengembalikan barang yang kita pinjam, kita tidak atau belum tenang. Ini bicara soal utang atau pinjam barang. Kalau bicara mengenai cita-cita atau keinginan tertentu, biasanya orang ingin apa yang dicita-citakan segera tercapai, keinginannya segera didapatkan, sehingga yang lain menjadi tidak penting. Jadi, apa yang dia pandang bernilai bagi dirinya—apakah itu cita-cita atau suatu keinginan—maka ia ingin segera diperoleh. Diusahakan tidak ditunda, segera.
Mengapa untuk menjadi anak kesukaan Allah kita tidak bersikap seperti itu? Sesegera mungkin dan rasanya jiwa kita tidak tenang sebelum kita capai atau kita peroleh. Menjadi renungan kita yang benar-benar serius, kapan kita sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya? Kapan? Apakah kita masih menunda? Apa yang mestinya kita harus capai sesegera mungkin? Sebab menghadap tahkta pengadilan Allah itu tidak bisa ditunda, bisa setiap saat jantung kita berhenti berdetak dan kita harus menghadap. Jadi, mengapa kita tunda? Mengapa harus nanti?
Jika ada dosa, jika ada kesalahan, bukankah darah Yesus membasuh? Kalau kita berbuat dosa, kita mengakui dosa itu, kita minta ampun dan Tuhan pasti mengampuni. Mengapa tidak segera kita selesaikan? Tentu setelah kita minta ampun, kita harus benar-benar meninggalkan dosa tersebut atau hal yang dapat melukai hati Tuhan. Siapa pun kita, bisa meleset. Begitu banyak masalah yang kita hadapi, begitu banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, banyak persoalan berat di mana hal ini sering membuat kita tergoda untuk fokus terhadap kebutuhan atau persoalan-tersebut. Kita bergumul, bagaimana kebutuhan ini bisa selesai dalam waktu cepat? Bagaimana persoalan yang kita hadapi bisa selesai sesegera mungkin?
Tapi kita tidak sungguh-sungguh berambisi untuk mencapai kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Allah Bapa sesegera mungkin, secepat-cepatnya. Puji Tuhan, hari ini kita diingatkan. Maka sekarang kita mau mengambil keputusan, apa pun yang terjadi, terjadilah. Kalaupun kita harus jatuh, kita jatuh di tangan Tuhan. Tetapi yang penting bagaimana kita berkenan kepada-Nya. Jatuh di sini bukan jatuh dalam dosa, melainkan jatuh dalam berbagai masalah dan kesulitan. Jadi mau jadi, jadilah; namun bukan berarti kita tidak bertanggung jawab dan asal-asalan. Entah bagaimana, tetapi yang jelas kita ada di tangan Tuhan, karena di situ ada kepastian.
Jadi, artinya yang penting bagaimana sesegera mungkin kita menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan Tuhan. Seperti utang yang harus kita bayar. Dan memang, firman Tuhan mengatakan dalam Roma 8, “Kita adalah orang-orang berutang, bukan untuk hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Kita sebagai pemburu Tuhan, ayo jangan tunda hal ini. Yang lain bisa ditunda, bahkan dibatalkan, terserah. Tapi kalau menjadi anak kesukaan Allah, jangan ditunda. Menjadi anak kesukaan Allah itu mutlak, lebih mutlak dari pekerjaan, jodoh, anak, keturunan, rumah, mobil, dan semua fasilitas. Menjadi anak kesukaan Allah mutlak, lebih mutlak dari apa pun, karena bagi kita Allah adalah segalanya. Melayani Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus merupakan kemutlakan satu-satunya.
Betapa luar biasa kalau kita menjadi anak kesukaan-Nya, di mana nama kita ada di hati Tuhan. Mintalah kepada Tuhan dan berperkaralah. Masalahnya, bagaimana kita bisa memiliki nama di hati Tuhan? Kalau kita mau nama kita ada di hati Tuhan, maka kita harus membuang semua kekasih hidup kita. Sejujurnya, kadang kita tidak sadar, kalau kita masih punya kekasih, kebanggaan, kesenangan, atau harapan-harapan. Sebagai seorang hamba Tuhan, kita berharap nanti punya gedung gereja sendiri, punya sekolah tinggi teologi, dan lain sebagainya, yang ternyata itu pun jadi ‘kekasih hati’ kita. Tuhan tidak ingin kita punya dambaan lain. Dambaan kita hanya Tuhan.
Mari, kita berjuang agar nama kita ada di hati Tuhan. Kalau nama kita ada di hati Tuhan, maka nama-nama orang yang kita kasihi akan ikut terbawa di situ. Ini luar biasa. Dan kalau kita punya nama di hati Tuhan, kita seperti punya akses masuk ke dalam hati-Nya, sehingga kita boleh mengerti apa yang Dia rencanakan dalam hidup kita. Tidak ada sesuatu yang kita khawatirkan. Kita mau sungguh-sungguh memburu Tuhan agar nama kita ada di hati Tuhan. Maka, yang pertama, tinggalkan semua kekasih; jangan ada apa pun dan siapa pun yang menjadi kekasih kita. Yang kedua, jangan merasa memiliki apa pun selain Tuhan. Sejujurnya, kita sering merasa masih memiliki sesuatu. Padahal ketika kita merasa tidak memiliki sesuatu, sejatinya, kita merdeka.
Dalam bahasa Inggris, ada satu kata, “custodian” yang artinya penjaga. The custodian of truth, penjaga kebenaran. Penjaga kebenaran bukan sekadar melestarikan suatu ajaran atau doktrin serta membelanya mati-matian. The custodian of truth menjaga kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, supaya dilestarikan sampai selamanya, dan dihidupi di dalam kehidupan. Apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah apa yang dikenakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia hidup di bumi. Apa yang diajarkan Yesus itu juga diperagakan oleh Yesus. Jadi, ada satu kata dan perbuatan. Tentu, mengukur ini tidak mudah, tapi yang jelas adalah Injil yang Yesus ajarkan itu akan mengubah manusia menjadi manusia yang agung, manusia yang mulia. Satunya kata, ajaran, dan perbuatan.
Di dalam Lukas 18:8, Yesus berkata, “Kalau anak manusia datang ke bumi, apakah Ia menjumpai iman di bumi?” Ayat itu menunjukkan betapa langkanya, bahkan hampir-hampir tidak ada orang percaya yang tetap setia. Ada semacam keraguan di situ, ketidakpastian, dan ini merupakan peringatan bagi kita bahwa makin sulit orang hidup dalam iman yang benar, sesuai dengan standar dan ukuran Tuhan. Sekaligus peringatan kepada kita adanya ancaman-ancaman yang membuat banyak orang percaya gagal beriman dengan benar. Tetapi Tuhan pasti menyisakan the custodian of truth, menyisakan orang-orang yang menjaga, memelihara kebenaran, yang ditandai dengan satunya perbuatan dan ajaran.
Orang bisa bicara apa pun tentang doktrin, orang bisa berargumentasi apa pun tentang doktrin, tetapi apakah doktrin yang diajarkan itu diperagakan, diterjemahkan dalam perbuatan, dibunyikan dalam perilaku? Jadi, sebenarnya dari satu perkataan orang, kita sudah bisa membaca apakah orang ini bermartabat atau tidak. Tapi saking gelapnya dunia ini, makin tidak jelasnya standar kebenaran dan kesucian, membuatnya benar-benar kacau. Tetapi kita mau teduh di hadapan Tuhan. Kita mau selalu ada di hadapan Tuhan yang akan mengoperasi diri kita, ketidakjujuran, ketidaktulusan, nurani yang kotor, dioperasi oleh Tuhan di dalam kehadiran-Nya, pada waktu kita memiliki perjumpaan dengan Dia. Dan di situlah kita akan makin mengenali kebenaran.
Tuhan Yesus berkata, “Kalau kamu dari Allah, kamu tahu, apakah ajaran-Ku datang dari Allah atau dari dunia?” Di akhir zaman ini, ada rasul-rasul palsu, nabi-nabi palsu, pekerja-pekerja palsu, tidak heran karena Iblis juga bisa menyamar sebagai malaikat terang. Iblis itu raja imitasi. Dia belajar sejarah gereja, dia lihat dinamika hidup orang Kristen, dia ikuti doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran, dan dia mencoba untuk masuk di tengah-tengah komunitas persekutuan orang Kristen, seperti ular melingkar di tengah Taman Eden. Iblis pun juga bisa melingkar di mimbar-mimbar gereja tanpa disadari. Dia cakap membuat sosok pendeta yang dianggap berstandar baik. Dia bisa membuat imitasi ketulusan, kerendahan hati, ketegasan terhadap dosa. Jadi, kalau tidak dengan Tuhan, kita tidak bisa melawan Iblis.
Tapi dia tidak mampu melihat apa yang akan terjadi, yang bisa itu hanya Tuhan yang transempiris, dan Tuhan menuntun kita di jalan-jalan-Nya, agar kita tidak berbuat dosa, agar kita tidak berbuat salah, agar kita bisa menang. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menemukan iman yang benar, bagaimana kehidupan sebagai seorang yang melestarikan kebenaran—dengan kalimat lain, melestarikan kehidupan Yesus. Kehidupan Yesus adalah potret yang benar, namun hari ini dipalsukan dengan berbagai pemalsuan, hanya kalau kita mendekat kepada Tuhan, kita bertemu Tuhan, kita bertemu Roh Kudus, kita dituntun Roh Kudus, baru kita bisa tahu bagaimana sosok, figur, potret dari wajah batiniah Yesus yang benar.
Jadi, penjaga kebenaran bukan membela satu doktrin atau satu ajaran, dengan berbagai argumentasi, tulisan, buku, dan lain-lain, melainkan kebenaran yang diperagakan; satunya perbuatan dan perkataan, satunya perbuatan dan ajaran, satunya perbuatan dan doktrin. Ajaran yang benar, doktrin yang benar, harus bisa diejawantahkan, diterjemahkan, diekspresikan, dibunyikan dalam perilaku. Ini tidak bisa dibantah. Kita tidak menghakimi, tapi kita membedakan roh, kita menimbang. Kita mau menjadi the custodian of truth, menjadi penjaga kebenaran. Kita tidak berani mengklaim diri kita paling benar, tapi kita serius mau menjaga kebenaran, menerjemahkan kebenaran dalam hidup kita, melestarikan kehidupan Yesus, apa yang diajarkan dan dikenakan.
Makanya kita harus banyak duduk diam di kaki Tuhan untuk memburu Tuhan atau mencari Tuhan. Pencarian akan Tuhan, tidak akan sia-sia. Setiap kali kita mencari Tuhan dan menemukan Tuhan, kita sedang bercermin di mana jiwa roh kita dengan seluruh kesadaran diterangi Roh Kudus. Dalam bercermin tersebut kita akan menemukan, apakah kita memiliki kehidupan yang selaras atau sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Jangan punya ruangan lain, ruangan kita hanya ruangan Tuhan. Yang sampai pada saatnya kita bisa berkata, “Tuhan, urusanku hanya Engkau. Aku hanya mau mengurus Engkau, Tuhan, mengurus perasaan-Mu, mengurus pelayanan-Mu. Aku tidak punya urusan lain selain Engkau. Dan apa pun yang kukerjakan harus terkait dengan urusan dengan Engkau.”
Bukan hal yang sederhana—berarti hal yang sulit, yang berat, yang kompleks, dengan harga yang sangat mahal—untuk bisa menghidupkan Allah di dalam hidup kita, bagaimana Allah itu nyata di dalam hidup kita. Allah itu milik kita semua dan kita dimiliki oleh Allah. Kita harus memiliki optimisme, keyakinan bahwa kita bisa mengalami Allah seperti kekasih-kekasih Tuhan, tokoh-tokoh iman di Perjanjian Lama. Menghidupkan Allah di dalam hidup kita bukanlah sesuatu yang sederhana, ini sesuatu yang berat, yang rumit, yang kompleks. Pasti lebih kompleks dari pergumulan mencari nafkah, studi, karier, jodoh, berumah tangga, atau apa pun. Kalau sampai ada hal yang lebih kompleks atau lebih rumit dari hal mencari Tuhan, berarti Tuhan kurang berharga dibanding sesuatu tersebut.
Coba kita perhatikan, ada saat di mana seorang pengusaha bukan mencari uang, melainkan ia dikejar uang, penghasilannya begitu banyak. Dia hanya jalan-jalan dari satu kota ke kota yang lain. Hal mencari uang merupakan hal yang tidak kompleks baginya, sehingga akhirnya uang juga menjadi tidak berharga bagi dia. Dia bisa beli apa saja dengan mudah, dan barang yang dibeli belum tentu dia nikmati. Berbeda dengan Tuhan. Kompleksitasnya itu melampaui segala kompleksitas. Orang bisa berkarier atau mencari nafkah dengan setengah hati, namun masih untung-untungan dia berhasil. Tapi tidak demikian halnya dengan orang yang mencari Tuhan. Orang yang mencari Tuhan untuk menemukan Tuhan benar-benar hidup di dalam hidupnya, harus melepaskan seluruh kehidupannya demi Dia.
Sebab orang yang mau menemukan Tuhan dan menghidupkan Tuhan adalah orang yang tidak menghidupkan siapa pun dan apa pun, bahkan dirinya sendiri. Orang bisa memikirkan sesuatu, tapi tidak merasakan apa yang dia pikirkan. Tapi Tuhan menjadi satu-satunya objek yang sungguh-sungguh kita jumpai dan kita rasakan. Dan kalau kita serius berurusan dengan Tuhan, ada pengalaman-pengalaman baru yang kita peroleh yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Namun, pengalaman dengan Tuhan ini, sesuatu yang nyata. Yang kita pahami ketika kita mengalami keadaan itu atau mengalami Tuhan dan merasakannya. Dan itu bertahap terus. Kita tidak akan pernah jenuh atau bosan, dan herannya, selalu kompleks. Dari satu kompleksitas ke kompleksitas berikut, karena Allah yang tidak terbatas. Kalau dikatakan kompleksitas, bukan berarti menjadi rumit sehingga kita tidak bisa menjangkaunya.
Jadi, ketika kita rajin berdoa dan punya doa pribadi, kita seperti memasuki wilayah baru atau kawasan baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Jadi, betapa konyolnya kalau kita hanya menalar Allah dan apa yang kita pahami tentang Allah itu kita kurung dalam sangkar yang namanya buku, karya ilmiah, atau jurnal. Tetapi itulah yang terjadi di banyak Sekolah Tinggi Teologi, yang merupakan warisan dari generasi ke generasi. Pencarian Tuhan dalam persekutuan langsung dengan Allah mesti jalan bersama. Kalau tidak, orang tidak merasakan Allah, dia hanya memikirkan Allah, tapi merasakan dunia. Dia pandai berbicara mengenai Allah, dan bisa selebar-lebarnya, tapi hatinya mencintai dunia, hatinya senang dipuji.
Orang-orang seperti ini pasti tidak akan rindu Yerusalem Baru, tidak akan rindu bertemu dengan Tuhan, karena dia hanya memikirkan Tuhan, tapi tidak merasakan Tuhan. Sebab untuk merasakan Tuhan, kita harus mengalami Tuhan. Kita belajar kebenaran, merasa ada hal-hal yang luar biasa yang membuat kita sudah merasa punya pengetahuan begitu rupa, lalu kita pun merasa bahwa keselamatan kita lebih berkualitas, walau tanpa diiringi dengan perjumpaan dengan Allah setiap hari. Bersyukur kita dihajar Tuhan, sebab kita malu kalau kita menoleh ke belakang dan menyadari betapa bodohnya kita. Tapi Tuhan dalam kesabaran yang luar biasa, menunggu kita sampai kita mengerti.
Kita belajar kebenaran, tapi kita masih bisa punya hobi-hobi, masih membuka peluang untuk menikmati dunia. Tapi hari ini, kita bukan hanya belajar kebenaran, melainkan kita memburu Tuhan, mencari Tuhan, mematikan semua keinginan dunia, sampai puncaknya kita memekikkan genderang perang. Kita mau masuk ke kedalaman lautan Tuhan untuk memperoleh mutiara-mutiara yang selama ini belum pernah disingkapkan, tapi kita juga mau menghidupkan Tuhan di dunia kita hari ini, yang mana Tuhan mati dalam kehidupan banyak orang, mati dalam gereja-gereja.
Logikanya atau realitasnya, kalau seseorang serius untuk satu hal, maka mengenai hal tersebut dia akan benar-benar fokus dan ia pasti akan menyediakan diri semaksimal mungkin. Seperti seorang yang mengidap penyakit, ia akan berusaha mencari rumah sakit yang baik, dokter yang baik, yang dapat menyembuhkan sakitnya. Kalau kita serius dengan Tuhan, serius dengan keselamatan kekal, serius dengan kehidupan di balik kematian, maka kita pasti serius pula dalam memilih gereja, memilih pendeta. Itu tidak bisa dihindari. Namun banyak orang Kristen yang tidak serius memperkarakan keselamatan kekalnya, tidak serius memperkarakan kualitas hidup atau keadaan hidupnya di hadapan Tuhan. Mereka tidak peduli kehidupan kekalnya yang terkait dengan kualitas hidupnya saat ini.
Sementara, kita mau menjadi yang terbaik di mata Tuhan. Soal bagaimana orang lain, kita tidak perlu membandingkan. Jadi, jangan heran kalau kita terus doa, puasa dan mencari Tuhan. Sebab, di setiap zaman Allah pasti punya rencana, punya pesan. Dan kita mau, kita rindu gereja kita menjadi kendaraan, di mana Tuhan menyampaikan pesan-pesan-Nya. Masalahnya, apakah kita serius? Kalau kita ke gereja hanya karena suatu keharusan, pasti kita tidak serius menjalani hidup. Orang yang serius menjalani hidup adalah orang yang harus memiliki jangkauan pandang kekekalan. Kita bukan hewan yang hari ini hidup, besok mati, selesai semua. Kita juga tidak sama dengan prinsip hidup manusia pada umumnya, “Mari kita makan, minum, sebab besok kita mati.”
Bagi kita orang percaya, bukan begitu. Kita punya value, nilai yang ada di Alkitab yang harus diterjemahkan dalam bahasa yang tepat pada zaman kita hari ini, dan diperagakan secara nyata. Pada kenyataannya, kita menemukan banyak gereja yang value atau nilai-nilainya masih dikungkung dengan perkara-perkara fana, yang penekanannya masih berkat-berkat jasmani. Itu bukan hanya memperbodoh, tapi juga menggiring umat terparkir di dunia, sama dengan terparkir di api kekal. Tapi kita mau serius memikirkan langit baru bumi baru, walau sebagian besar kita belum mampu menembus batas atau belum mampu untuk dientaskan, karena cara berpikir dunia sudah telanjur membelenggu. Di luar sana itu, tidak berpikir tentang kekekalan sama sekali. Konyolnya, gereja pun tidak mengampanyekan hal ini secara proporsional.
Coba kita bayangkan, ketika seseorang meninggal dunia, ternyata ada kekekalan, ada jalan yang tiada ujung, sedangkan dia tidak memiliki persiapan sama sekali, betapa mengerikannya! Banyak orang Kristen mati dalam kemiskinan. Ia tidak buat apa-apa untuk Tuhan. Pertanyaannya, harus buat apa? Layani Tuhan! Apa artinya melayani Tuhan? Dari setiap ucapan, gerak pikiran dan perasaan, tindakan dan perbuatan kita sesuai dengan hati-Nya, itulah cara kita melayani Tuhan. Khotbah atau renungan ini hanya briefing, pengantar. Yang penting adalah cara hidup kita di tiap hari, bagaimana kita mendengar suara Roh Kudus. Ketika kita menjumpai masalah, firman yang mengubah kita. Firman mengatakan, “Kasihi musuhmu.” Itu merupakan logos. Ketika kita dimusuhi, dijahati orang, firman itu menjadi rhema. Dan kalau terus-menerus proses itu berlangsung, kita menjadi anak-anak Allah, karena pikiran Allah masuk di dalam diri kita.
Tetapi, itu akan kita alami kalau kita peka mendengar suara Tuhan. Dan untuk mendengar suara Tuhan, kita harus bertemu Tuhan, tidak bisa tidak. Tapi kalau kita tidak tiap hari bertemu Tuhan, kita tidak akan punya kepekaan. Kita tidak melihat Tuhan, sementara dunia ini luar biasa ateisnya. Walaupun orang berkata, “Tuhan, Tuhan,” namun kelakuannya tidak menunjukkan sebagai orang yang bertuhan. Itu namanya ateis praktis. Dan pengaruhnya besar sekali. Film, lagu tanpa disadari mengeliminir, membuang, memisahkan Tuhan. Tidak ada suasana Tuhan di situ. Sekarang bagaimana menghadirkan suasana Tuhan? Kita harus bertemu Tuhan setiap hari. Tuhan menunggu kita, tapi sering kali kita tidak tahu bahwa kita ditunggu Tuhan.
Kita tidak akan mendapat kemajuan apa-apa tanpa perjumpaan dengan Tuhan. Seperti belajar biola, harus dilatih. Tapi kalau hanya datang dan duduk, tapi kita tidak praktik, pasti kita tidak akan bisa. Masalahnya, rata-rata kita itu miskin dalam pengenalan akan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah Aku selagi Aku bisa ditemui.” Lalu firman Tuhan juga mengatakan, “Cari Aku, maka Aku akan membuat kamu menemukan Aku.” Ini semua firman Tuhan. Karenanya, mari kita memburu Tuhan, bukan hanya datang ke gereja namun tidak pernah bertemu Tuhan. Petakan hari dan jam berapa kita bertemu Tuhan. Kita bisa mempersiapkan waktu untuk banyak hal, lalu mengapa untuk bertemu Tuhan tidak? Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan tanpa bertemu Tuhan secara pribadi? Setiap kita bisa mendengar suara Tuhan, pasti.
Banyak orang bisa di perpustakaan dari pagi sampai sore, 7 hari seminggu, tapi untuk berdoa 30 menit, ia tidak sanggup. Memang sulit, tapi kita harus menembus kejenuhan itu, menembus kebosanan itu. Sampai kita bertemu Tuhan dan berkata, “Di sini tempatku.” Orang-orang hebat di Alkitab adalah mereka yang bergaul dengan Allah. Orang yang bergaul dengan Tuhan, ia menghidupkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan Yesus berdoa semalam-malaman. Alkitab mencatat, “Pagi-pagi buta, Dia sudah pergi ke tempat sepi, berdoa.” Kalau kita suka berdoa, maka kita bisa mendengar doa seseorang; kering atau basah. Apalagi sebagai seorang pengkhotbah, kita harus mewakili isi hati Tuhan. Caranya bagaimana? Harganya per detik hidup suci. Maka kita harus menjaga hati kita.
Tidak mudah membuat stabilitas supaya kita tetap ada di dalam hadirat Tuhan. Bagi orang yang tidak memiliki kebenaran firman, sangat sulit. Apalagi jika ditambah tidak memiliki perjumpaan dengan Tuhan, tentu akan sulit sekali. Tapi hari ini kita mau berubah. Tuhan mengasihi kita, Tuhan mau dinikmati oleh kita, dan Tuhan juga bisa menikmati kita. Ada hubungan interaksi dengan Allah, dan kita bisa mengalami Dia secara riil. Kalau bangsa Israel, umat secara individu, tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, tapi dinamika hidup beragama, mereka miliki; dinamika hidup masyarakat yang beretika, dinamika hidup masyarakat yang beradab, berhukum, mereka bisa wujudkan. Namun mereka tidak memiliki kehidupan orang Kristen yang bukan hanya menghidupkan hukum semata, namun menghidupkan sifat, karakter Allah dalam dirinya.
Maka, jelas, Suara Kebenaran (firman yang murni) harus kita miliki. Karena kebenaran memandu pikiran kita. Tapi tanpa perjumpaan dengan Tuhan, tidak akan menjadi kehidupan. Jadi harus ada encounter with God, perjumpaan dengan Allah. Karenanya, kita tidak bisa menghindari untuk setiap hari berjumpa dengan Tuhan. Tuhan akan mengajar kita. Sehingga kita tidak akan mudah berkata kepada seseorang, “Doakan saya.” Bisa, kita memang harus saling mendoakan. Tapi kita harus bertemu Tuhan sendiri. Kita harus bertanya sendiri kepada Tuhan, kenapa begini dan begitu. Pasti Tuhan punya maksud. Tuhan kalau bicara, itu pasti jelas. Tuhan tidak mungkin pakai bahasa yang kita tidak mengerti.
Jika Tuhan sudah bicara dengan keras dan jelas, namun kalau kita tetap tidak mendengar, itu berarti kuping kita mendengar banyak kegaduhan di dunia ini. Maka kita harus duduk diam di kaki Tuhan. Berapa pun harganya, kita bayar, karena itu adalah harta yang lebih dari apa pun. Mari kita mencari Tuhan; kita menjadi pemburu Tuhan. Kita memang bukan orang hebat, namun kita adalah orang nekat dan frustrasi melihat dunia begitu gelap dan kejahatan begitu rupa. Kita mencari Tuhan. Kita perbanyak jam doa sampai kita sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Kita bisa masuk hadirat Tuhan dan punya pengalaman yang luar biasa.
Mari kita menjadi pemburu Tuhan. Biar rumah kita dipenuhi asap kabut kemuliaan Allah; shekinah glory. Setan, teluh, tenung tidak bisa menembus hidup kita. Tuhan akan memperlakukan kita istimewa, kalau kita memperlakukan Allah istimewa. Jangan ada film porno, jangan ada pertikaian di rumah kita. Jadilah wakil Tuhan untuk keluarga kita. Jangan tidak stabil. Kita pasti tahu saat-saat di mana kita mulai tidak stabil, mulai terbawa. Saat itu kita harus duduk diam di kaki Tuhan. Kita mau menghadirkan shekinah glory di rumah kita masing-masing. Sebanyak apa pun ayat Alkitab yang kita baca, sebanyak apa pun khotbah yang kita dengar, setinggi apa pun teologi yang kita miliki, tanpa perjumpaan dengan Tuhan, kosong!
Kita harus menjadi terang di antara mereka. Tuhan perintahkan kita untuk mewakili Tuhan, membawa mereka keluar dari dunia ini untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Perjumpaan dengan Tuhan itu indah sekali. Dan perjumpaan dengan Allah membuat kita punya marifat. Mari kita membuka mezbah doa. Mungkin akan ada lelah atau jenuh, tapi kalau kita paksa terus, Tuhan akan menolong. Rumah kita akan menjadi tempat lembah pujian, karena malaikat-malaikat ikut menyembah. Tuhan itu luar biasa.
Kalau kita hanya mengisi pikiran kita dengan pengetahuan, walaupun itu adalah kebenaran murni, tidak cukup mengubah. Karena kebenaran yang kita pahami tidak bisa terperagakan menjadi daging kalau tidak dihadiri Allah di dalam hidup kita. Kalau sampai bisa, artinya kebenaran atau pengetahuan tentang kebenaran bisa mengubah orang tanpa kehadiran Tuhan dalam hidup orang tersebut, maka Tuhan bisa dibelakangi, Tuhan kurang atau tidak dihormati. Kebenaran firman akan hidup di dalam hidup kita, kalau kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Sebab, kekristenan bukan agama hukum. Baik dan buruk, etis dan tidak etis, suci dan tidak suci kita tidak diukur oleh kalimat-kalimat hukum, tidak diwakili oleh verbal kalimat. Tetapi kekristenan itu jalan hidup; jalan hidup-Nya Tuhan; pikiran dan perasaan Allah. Jadi, bukan agama hukum, melainkan agama kebenaran di mana kebenaran itu adalah Tuhan sendiri, “Akulah kebenaran; I am the truth.”
Kalau seseorang belajar hukum, hukum itu masuk di dalam dirinya, hidupnya diatur oleh hukum; dinamika hukum terperagakan dalam hidup orang itu. Christianity is not religion but the way of life; jalan hidup, dan jalan Kristus; jalan kehidupan Anak Allah yang memiliki dinamika hidup yang memperagakan pikiran dan perasaan Allah. Jadi kalau agama yang adalah jalan hukum, cukup dengan hukum. Bangsa Israel dulu taat kepada hukum, tetapi yang menjumpai Tuhan hanya imam besar. Masyarakat lain tidak menjumpai Tuhan, dan mereka bisa menjadi masyarakat beragama yang fanatik dengan agama Yudaisme. Tetapi kekristenan adalah jalan hidup; jalan hidup-Nya Tuhan.
Kebenaran harus disertai dengan perjumpaan dengan Tuhan; kehadiran Tuhan dalam hidup orang itu, karena dia harus memakai pikiran dan perasaan Allah. Secerdas apa pun ajaran, secakap apa pun ajaran, tanpa Allah hadir dalam hidupnya, tidak akan menjadi daging dan terperagakan. Yang punya kebenaran saja belum tentu kebenaran itu menyatu dalam hidupnya, apalagi yang tidak mengerti kebenaran. Kalau orang mau mengenakan hukum, maka dinamika hukum terperagakan dalam hidup orang tersebut, tanpa ketemu Tuhan pun bisa. Contohnya bangsa Israel, mereka bisa melakukan hukum tanpa bertemu Tuhan.
Tapi kalau mau mengenakan kebenaran yang adalah Tuhan sendiri, kita harus bertemu Tuhan, karena Tuhan yang diperagakan. Kalau hanya mengerti kebenaran, setajam apa pun kebenaran itu, tanpa perjumpaan dengan Allah, tidak akan merasuk dalam daging dan terperagakan. Dari dulu Tuhan mengajarkan berdoa. Coba, agama Abraham apa? Tapi dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ingat, Tuhan hidup atas orang yang menghidupkan Tuhan, dan Tuhan seakan-akan mati bagi orang yang tidak menghidupkan Tuhan.
Mengapa kita begitu miskin dalam mengalami kehadiran dan hidup-Nya Tuhan? Karena kita tidak menghidupkan Dia. Kita tidak berani berkata, “Tuhan tidak ada” karena kita beragama. Kita hanya mendengar kesaksian dan berkata, “Tuhan itu hidup, kata dia. Itu benar, pendeta itu mengalami.” Namun kita sendiri tidak mengalami, dan merasa tenang-tenang saja. Itu berarti Tuhan belum menjadi jalan hidup kita. Pasti kita tidak menjadi anak-anak Allah yang benar. Ironisnya, sebagai orang Kristen, jalan hidup tidak, jalan hukum juga tidak. Kalau agama non-Kristen yang begitu ketat dengan syariat dan agamanya, mereka mempertahankan integritas hidup mereka di atas dasar hukum.
Mestinya kita yang adalah orang Kristen, yang harus mengenakan hidup-Nya Yesus, harus bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup dalam aku,” karena kita harus menghidupkan Tuhan dalam hidup kita. Kalau kita tidak menghidupkan Tuhan, kita pasti akan menyesal selama-lamanya. Dia hidup bagi orang yang menghormati, yang mencari Dia. Dan itu mahal harganya. Karena seluruh hidup kita harus dipertaruhkan untuk menghidupkan Dia dalam hidup kita. Tapi kalau kita tidak mencari sungguh-sungguh, tidak mencari Tuhan sungguh-sungguh, Tuhan mati bagi kita. Dan kalau Tuhan mati bagi kita, berarti kita tidak punya kehidupan.
Ironisnya, kita merasa aman. Maka pertanyaannya, apakah kita mau serius menjadi orang Kristen? Sebab banyak orang yang belajar kebenaran, namun ia tidak mengalami perjumpaan Tuhan, maka kejamnya luar biasa, bengisnya luar biasa, tidak kalah jahatnya dengan orang yang tidak mendengar kebenaran. Yang salah bukan kebenarannya, sebab buktinya ada orang-orang yang hidupnya berubah. Oleh sebab itu, perjumpaan dengan Tuhan itu tidak bisa digantikan dengan yang lain. Pendeta sehebat apa pun, tanpa bertemu Tuhan, omong kosong. Tidak mungkin hidupnya bersih.
Masa penuaian dunia ini sudah pasti akan berlanjut pada masa penampian. Kalau firman berkata, “Yang jahat bertambah jahat, yang fasik berlaku fasik, tetapi yang kudus makin kudus atau makin disucikan,” sebenarnya ayat itu berbicara mengenai penampian. Daniel 12:10, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji. Tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik, tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya. Tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” Dengan kalimat lain, ada proses pematangan atau penyempurnaan di mana yang kudus bertambah kudus, yang suci semakin dimurnikan dan diuji, dimatangkan, didewasakan, dimurnikan kesuciannya. Tetapi di lain pihak, kejahatan juga dimatangkan, semakin memuncak.
Kita harus memilih di kutub mana, Timur atau Barat? Kita tidak bisa ada di tengah. Kalau di tengah, berarti kita pasti di kutub yang salah atau terseret di kutub yang salah. Dunia terkondisi di mana seseorang tidak bisa bersikap netral; harus menentukan sikap. Tentu tidak ada orang yang mau rusak dan masuk neraka, tidak ada orang yang berniat secara sadar mau jadi jahat, kecuali kalau memang sudah menjadi jahat dan habitatnya demikian, maka dia akan menjadi jahat. Tidak ada orang yang berniat atau bermaksud mau hancur. Tetapi kalau kita tidak memilih, kita akan hancur, rusak, terseret di kutub yang salah, terseret di pihak yang salah atau arah yang salah. Jadi, kita harus menentukan sikap.
Yang menentukan sikap hidup suci atau hidup benar ke arah Tuhan pun tidak mudah. Yang bermaksud atau berniat hidup suci, menaati firman Tuhan, menyenangkan Tuhan, pulang ke surga, berkemas-kemas, itu pun tidak dengan mudahnya dia ada di kutub yang benar. Ada kekuatan yang menarik orang-orang benar untuk tidak hidup benar. Ada tarikan-tarikan terhadap orang yang berniat ada di pihak Tuhan, sehingga di arah yang benar pun, ia tidak menuju ke arah yang benar. Di situlah terjadi perjuangan. Kalau yang sungguh-sungguh, mau nekat, fanatik, dan ekstrem bagi Tuhan, pasti masih bisa tertarik atau bertahan di kutub yang benar.
Jadi, hidup ini adalah pergumulan dan perjuangan yang benar-benar berat. Perjuangan berat bukanlah dalam mencari uang atau aktivitas bisnis, bukan pula pada menjaga kesehatan, atau berbagai kegiatan lain. Kesulitannya terletak pada bagaimana kita tetap mempertahankan integritas memilih Tuhan sebagai pilihan kita satu-satunya, menyembah Tuhan, berjalan dengan Tuhan, hidup di hadirat-Nya dalam kekudusan dan kesucian, hidup di dalam kehendak dan rencana Allah; ini yang tersulit.
Tetapi, mari kita memilih Tuhan selagi kita masih memiliki napas dan kesempatan. Hal ini harus tetap kita pertahankan konsistensinya, yang akhirnya akan menjadi irama kita untuk hidup dalam pengabdian dan pelayanan kepada Tuhan. Namun, kita tidak akan dimengerti oleh mereka yang tidak ada di kutub ini. Mereka memandang kita sebagai ekstrem, fanatik, berlebihan, korban indoktrinasi gereja, intimidasi pendeta, dan lain sebagainya. Tentu kita tidak perlu membalas intimidasi atau bullying dari mereka. Kita harus terus memeriksa diri, apakah kita benar-benar berkeadaan berkenan di hadapan Allah.
Kita berurusan dan berperkara dengan diri kita sendiri agar kita benar-benar memiliki ketulusan dan kemurnian di dalam mencintai dan mengabdi kepada Tuhan, serta dalam menghormati dan menyembah kepada Tuhan. Karena semua telanjang dan terbuka di hadapan Allah semesta alam. Kita suarakan kepada orang lain, kita suarakan juga kepada diri kita sendiri, “Ayo, mencari Tuhan!” Di dunia yang terkondisi mematangkan kejahatan atau kekudusan, kita harus tetap memilih berada di kutub yang benar.
Media sosial juga menjadi salah satu sarana untuk pengujian, apakah seseorang mau dimatangkan dalam kekudusan atau dimatangkan dalam kejahatan. Media sosial terbuka selebar-lebarnya. Orang bisa mengemukakan hati, pikiran, perasaan, mengucapkan kata-kata sindiran dan lain sebagainya, dan di situ kita belajar menguasai diri. Jaga mulut dan jari-jari kita agar tidak menulis sesuatu yang tidak patut. Roh Kudus yang harus pimpin kita.
Di pergaulan juga dikondisi, apakah kita memilih kekudusan atau kita memilih kejahatan. Kita melihat di pergaulan, di lingkungan kantor, di media sosial, bahkan di lingkungan gereja, banyak orang dikondisi untuk munafik. Tapi kita memilih untuk tulus. Kita pernah melewati hari-hari atau tahun-tahun di mana kita kurang kudus, tapi sekarang kita mau kudus. Ayo, kita tidak menoleh ke belakang. Kita menatap ke depan, menuju langit baru bumi baru. Jangan kita ribut untuk hal-hal yang tidak prinsip, tapi kita mau memperkarakan hal-hal yang prinsip, yaitu kekudusan, kesucian, kekekalan, langit baru dan bumi baru. Demikianlah kehendak Tuhan.
Begitu liciknya setan, ia mengarahkan orang Kristen untuk ‘beragama Kristen,’ di mana agama dijadikan sarana untuk memberi kontribusi, membantu bagaimana hidup bisa dijalani dengan mudah, menolong keluar dari masalah, mendapat kemakmuran jasmani, dan lain sebagainya. Itu sebenarnya meleset. Setan membuat orang Kristen pun sibuk dengan banyak masalah—masalah jodoh, anak, bisnis, dll—yang membuat orang Kristen kehilangan kesempatan dan lupa untuk ikut dalam perlombaan yang diwajibkan. Orang baru menyadarinya ketika ia melihat kekekalan. Ia akan tahu bahwa semua yang ia kejar selama ini, tidak ada artinya.
Tuhan dibahagiakan ketika kehidupan ilahi atau kodrat ilahi, berkembang dalam diri kita, dan Tuhan mengamati kita setiap hari. Supaya nanti ketika kita meninggal, sifat Allah sudah penuh ada dalam diri kita, dan itu membahagiakan. Satu hal yang juga sering menyesatkan pikiran kita adalah menganggap Tuhan murahan. Kalau Tuhan berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” itu tegas sekali. Lalu kita hidup sembarangan, seakan-akan aman-aman saja, dan Tuhan tidak buat sesuatu. Itu mengerikan sekali. Sejatinya, Tuhan sering memukul kita dengan berbagai kejadian, tapi kita tidak memperhatikan; kita budek. Tuhan tidak akan ‘memukul’ kita dengan cara-cara yang tidak sesuai tatanan-Nya.
Jadi, untuk membayar utang itu, Tuhan akan membuat proses, kejadian demi kejadian. Kelemahan kita apa, itu ditanggulangi Tuhan, satu per satu Tuhan garap dengan segala peristiwa. Maka, fokus kita harus di situ. Kita hidup hanya 100 tahun paling lama, setelah itu kekekalan. Maka hidup kita sekarang hanya untuk persiapan kekekalan, tidak untuk yang lain. Jadi, menikah, tidak menikah, tidak masalah; punya anak atau tidak pun tidak masalah; miskin atau kaya tidak masalah sebenarnya. Tapi kalau kita menghidupkan Allah dalam diri kita, maka kita tidak mungkin dipermalukan. Alkitab membuktikan, kekasih-kekasih Tuhan bisa terpuruk—Yusuf, Daud, Daniel—namun pada akhirnya tidak mungkin dipermalukan.
Maka, jangan melawan Tuhan. Senangkan Tuhan dengan kedagingan yang kita sembelih tiap hari. Kita tidak langsung jadi orang saleh dalam 1 tahun. Butuh waktu 80 tahun—seumur hidup—untuk menjadi orang saleh yang sempurna. Tapi dimulai dari satu hari, dan satu hari dimulai dari satu jam, dan satu jam dimulai dari menit pertama, begitu kita bangun, menit pertama mulai proses. Kita tidak akan menghidupkan Tuhan, kalau kita tidak mati. Karena keduanya tidak bisa hidup bersama. Maka, firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan.” Kita harus memilih, mana yang kita hidupkan, daging kita atau Roh Kudus. Kalau kita memilih Roh Kudus yang kita hidupkan, maka daging kita harus dimatikan.
Yang kita harus pikirkan adalah bagaimana kita membunuh daging kita setiap hari, supaya kita sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Tapi setan akan mengalihkan dengan mengingatkan masalah-masalah yang sedang kita hadapi—uang sekolah anak, kontrak rumah, kesehatan atau apa pun. Jangan dengarkan dia, jalani saja, kita kerja baik-baik, Tuhan akan beri jalan. Jadi, tidak boleh ada unsur-unsur manusia lama dalam diri kita. Kalau kita bisa mematikan manusia lama, maka Yesus hidup di dalam diri kita.
Masalahnya, bagaimana kita bisa membedakan kehendak Allah dan bukan? Pertama, kehendak Allah pasti tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Misalnya, tidak mungkin Tuhan berbisik kepada kita, “Hai anak-Ku, ambil istri tetanggamu.” Kedua, akan memberi damai sejahtera. Tetapi kalau damai sejahtera itu karena kesenangan dunia, tentu tidak bisa menjadi ukuran, itu sesat. Ketiga, jika suara Tuhan kita turuti, maka akan menjadi berkat bagi orang lain. Tapi mungkin kita tidak tahu saat itu. Tetapi, kalau orang duduk diam di kaki Tuhan, berdialog dengan Tuhan, mematikan daging setiap hari, maka dia pasti tahu, apakah ini kehendak Tuhan atau bukan.
Jadi, kalau orang masih hidup menurut daging, tidak dipimpin Roh Kudus, berarti ia bukan anak Allah. Dan ini yang mesti membuat jiwa kita terganggu. Kita harus cemas dengan keadaan diri kita ini, dan harus mempersoalkannya di hadapan Tuhan. Percayalah, Tuhan pasti menanggapi. Jadi, kalau kita datang kepada Tuhan dalam doa, bukan hanya membawa masalah-masalah fana dunia, tetapi membawa masalah-masalah prinsip di dalam kehidupan yang menyangkut perasaan Tuhan.
Tidak jarang, pada waktu kita menyanyikan sebuah lagu, hati kita tersentuh, air mata kita berlinang, tetapi sebenarnya itu belumlah air mata yang menyenangkan Tuhan. Walaupun itu sesuatu yang bisa menyenangkan Tuhan, tapi belum puncak dari kesenangan Tuhan. Kita bisa memiliki perasaan sentimentil dan mengatakan, “Sampai ‘ku tua nanti, sampai di surga nanti, selalu untuk-Mu.” Tetapi air mata yang berlinang pada waktu kita ada di pelayanan, waktu kita pikul salib—artinya kita menderita karena pekerjaan Tuhan, memikul beban orang lain, menyelamatkan orang, mengambil bagian dalam penderitaan orang lain—itulah air mata yang menjadi persembahan di hadapan Tuhan.
Dan terus terang, jarang orang memiliki air mata itu, sebab banyak orang yang melayani pekerjaan Tuhan dengan motif yang tidak murni, tidak dengan hati yang sungguh-sungguh mengasihi umat seperti hati Tuhan. Orang bisa saja memiliki belas kasihan, perhatian, dan kasih kepada orang lain, tetapi belum tentu merupakan penularan dari perasaan Tuhan. Sebab, kalau itu bukan impartasi atau bukan penularan perasaan Tuhan, berarti belum menjadi peragaan Tuhan, dan itu belum menyenangkan hati Tuhan. Jadi, betapa berartinya ayat yang mengatakan, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidup yang kuhidupi dalam daging ini, hidup oleh iman kepada Anak Allah.”
Karena jika kita hidup dalam penurutan terhadap kehendak-Nya berarti kita hanya melakukan kehendak-Nya, dan mengekspresikan perasaan-Nya. Dan kalau kita bisa mengekspresikan perasaan Tuhan, sesungguhnya itulah pelayanan yang sejati. Mengekspresikan perasaan Allah bukan hanya dalam kegiatan gereja, melainkan dalam segala hal yang kita lakukan. Itulah sebabnya menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, bukan berbicara kegiatan liturgi di dalam gereja, juga tidak cukup kegiatan pelayanan di dalam gereja, tetapi seluruh gerak hidup kita. Jadi, kalau firman Tuhan mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau apa saja yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31), maksudnya dalam segala hal yang kita lakukan, kita melakukannya sebagai ekspresi peragaan dari perasaan Tuhan. Itu bukan hanya kegiatan dalam pelayanan, melainkan seluruh kegiatan hidup kita, dan betapa indahnya kehidupan seperti ini.
Mestinya dari muda kita melatih hidup seperti ini, tapi terus terang, kita sudah melewati tahun-tahun di mana kita merasa berhak memiliki kesenangan, bahkan di dalam pelayanan pun sering kali ada motif-motif terselubung. Semua kita mestinya bisa menjadi bejana Tuhan. Sungguh indah kalau kita bisa menjadi rumah Allah, kita bisa memperagakan perasaan Tuhan. Orang-orang seperti inilah yang disebut anak-anak Allah (Rm. 8). Kalau hidup kita tidak seiring dengan perasaan-Nya, maka belum bisa disebut sebagai anak-anak Allah. Di Perjanjian Baru, melalui kurban Yesus Kristus yang menebus kita, kita dapat menjadi anak-anak Allah. Jadi, kita ini jangan hanya hidup di bawah anugerah, under the grace, tapi juga in Christ, di dalam Kristus; artinya kita hidup seiring dengan Kristus.
Banyak orang Kristen tertipu atau tersesat oleh konsep bahwa mereka hidup di bawah anugerah, dan mereka merasa cukup. Sejatinya, setelah hidup di bawah anugerah, maka kita harus hidup di dalam Kristus. Artinya, kita harus dilatih, dididik untuk bisa memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, artinya kita bisa berjalan seirama dengan Dia, di sepanjang hari hidup kita, di sepanjang waktu. Jika tidak, kita munafik. Waktu di gereja, kita berpenampilan bagus, tetapi ternyata dalam kehidupan keseharian tidak, dan itulah warna hidup kita pada umumnya.
Tapi hari ini kita mau belajar memiliki prinsip hidup “Selalu untuk-Mu.” Selalu berarti tidak ada waktu di mana kita hidup untuk diri kita sendiri. Maka, di dalam Galatia 2:20, firman Tuhan mengatakan, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Dan ini adalah standar hidup orang percaya. Sejatinya, tipis sekali batas antara hidup menurut daging dan menurut roh, terutama terhadap orang-orang baik, dan yang sudah bisa berbicara tentang Tuhan atau berteologi. Sulit membedakan, apakah keramah-tamahannya atau ketegasannya, rendah hatinya merupakan produk dari pengalaman kedewasaan mentalnya atau produk dari Roh Kudus; sulit membedakan.
Maka, mari kita periksa diri kita sendiri, karena kita sering juga tertipu oleh diri kita sendiri; di mana kita merasa kita sudah memiliki kerendahan hati, ketegasan, sudah rohani, padahal belum. Kita bukan memperagakan perasaan Tuhan, melainkan perasaan kita sendiri. Orang yang memperagakan perasaan Tuhan, ia tidak akan merasa berjasa kalau berbuat sesuatu, dan dia tidak merasa lebih baik dari orang lain.
From the publisher's feed