Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Sekutu Allah

    Ada kata yang jarang digunakan, namun kata ini bisa tepat digunakan, yaitu kata sekutu; kita adalah sekutu Allah. Di mana kita sepihak dengan Allah, segala sesuatu yang kita lakukan berada dalam satu kepentingan dengan Allah. Jika demikian, kita barulah menjadi makhluk ciptaan sesuai dengan rancangan-Nya. Ini tidak berlebihan, bukan sesuatu yang hiperbola, sebab sejatinya, “Urusanku hanya Engkau, Tuhan.” Ini seiring dengan kesadaran bahwa Tuhan kita butuhkan lebih dari nafas dan darah kita. Lebih baik kita tidak pernah hidup daripada hidup tanpa persekutuan dengan Allah atau tanpa menjadi sekutu Tuhan. Kita diciptakan memang untuk menjadi sekutu Allah. 

    Ironis, kita dibesarkan dalam lingkungan yang sudah rusak. Irama hidup kita sudah rusak selama bertahun-tahun, kita bukan sekutu Tuhan. Sebab sebagai sekutu Tuhan, kita harus punya satu kepentingan dengan Allah. Kita diciptakan bagi Allah; Allah adalah Majikan (Adonai) dan Tuan (Kurios) kita, kepentingan-Nya harus menjadi kepentingan kita. Dan luar biasa, kalau kepentingan Allah menjadi kepentingan kita, maka kepentingan kita sendiri pasti diurus oleh Allah. Dia tidak akan berkhianat, Dia tidak mungkin berlaku tidak adil. Kalau sementara waktu kita seperti diperlakukan Allah tidak adil—masalah ekonomi yang tidak kunjung selesai, masalah sakit penyakit yang tidak segera kunjung sembuh—Allah hanya mengajar agar kita tidak mencurigai Dia. 

    Sampai pada satu titik, kita bisa berkata, “Tuhan, yang penting aku memiliki Engkau. Entah aku sakit atau sehat, entah aku kaya atau miskin, entah aku terhormat atau tertindas, yang penting aku memiliki Engkau, hidup dalam persekutuan dengan Engkau.” Maka kita harus bertumbuh terus, sampai kita bisa merasakan Tuhan sebagai air kehidupan; “tanpa Dia, aku tidak hidup.” 

    Kita pasti sudah mendengar, membaca berita, melihat langsung, atau mengalami, ketika orang yang kita cintai meninggalkan kita, yang kepadanya kita berharap memperoleh kebahagiaan. Bahkan ada yang bunuh diri karena ditinggal atau ditolak cintanya. ‘Si dia’ lebih berharga dari nyawanya sendiri, lebih penting dari nafas dan darahnya. Kalau untuk manusia kita bisa begitu, kenapa kita tidak jatuh cinta kepada Tuhan sampai tingkat itu? Jadi, lebih dari berbagai kegiatan keberagamaan dan pelayanan, kita rindu memiliki kehausan akan Allah yang benar.

    Kehausan seperti itu juga sebenarnya merupakan proses yang progresif. Dulu kita tidak sampai merasakan hal itu, namun dengan berjalannya waktu, terbangun kebenaran di dalam pikiran kita, dan peristiwa demi peristiwa yang kita alami membuat kita semakin menghayati tragisnya hidup, dan banyak hal lain lagi yang Tuhan ajarkan, dan terutama perjumpaan-perjumpaan dengan Tuhan yang secara adikodrati, maka kita mulai merasakan itu. 

     

    Kita datang ke dunia ini tidak sendiri—namun bersama Tuhan—karena Tuhan memiliki rancangan atas hidup kita, maka kita harus pulang pun bersama dengan Tuhan yang menjadi kekasih abadi kita. Kita harus memberi waktu untuk duduk diam di kaki Tuhan, menantikan dan mengalami Tuhan, sampai kita merasa, “Hanya Engkau yang kubutuhkan.” Tuhan menggiring kita ke pantai-Nya. Kita seperti kapal yang sedang dibawa arus dan tidak jelas ke mana arahnya. Tuhan melempari kita dengan batu-batu, lalu batu-batu itu membuat ombak, ombak-ombak kecil jadi ombak-ombak lebih besar untuk membawa kita ke pantai. Persoalan ekonomi, sakit penyakit, masalah rumah tangga bisa merupakan batu-batu yang dilempar Tuhan, supaya kita merapat ke pantai-Nya. 

    Kalau ada sesuatu yang mengganggu jiwa kita sehingga merusak ketenangan, keteduhan jiwa kita di dalam Tuhan, itu isyarat berhala. Jangan memberhalakan masalah. Yang harus kita ‘berhalakan, puja’ hanyalah Tuhan. Sebelum kita menutup mata, kita sudah harus sampai taraf itu. Dan kita bisa membuat hati kita membara mencintai Tuhan. Sehingga kita bisa menjadi begitu teduh menghadapi persoalan-persoalan hidup. Dan kita bisa mengerti kenapa Abraham begitu yakin bahwa Elohim Yahweh tidak akan mengkhianati dia. Kita juga bisa mengerti mengapa Musa begitu berani menuntun 2 juta lebih bangsa Israel tanpa cadangan dana, tanpa gudang makanan, karena ia percaya Allah yang dia sembah adalah Allah yang hidup. 

    Kalaupun kita bingung, mengapa Tuhan mengizinkan keadaan ini berlarut-larut, maka kita cukup mengatakan, “Kalaupun aku jatuh hancur, aku jatuh di tangan-Mu.” Dan Dia tidak membuat kita hancur. Ada banyak hal yang bisa terjadi di luar kemampuan kita. Tuhan bisa buat hal-hal yang ajaib, di luar perkiraan. Jangan merasa susah oleh suatu keadaan yang terjadi, sebab kalau kita merasa susah dan terikat dengan kesusahan itu, berarti kita menganggap Tuhan tidak lebih berharga dari masalah itu. Dan ketika kita jadi kekasih Tuhan, Tuhan akan berkata, “Aku tahu apa yang kau butuhkan. Aku mengadakan ini untuk kebaikanmu, di luar pengertianmu. Seperti Aku membuktikan bagaimana engkau melewati hari-hari lewat tangan-tangan orang yang tidak pernah kau pikirkan, dan di hari depan, Aku bisa menggerakkan tangan yang lebih kuat untuk menopang kamu, karena itu adalah tangan-Ku.” 

    9 min
  • Membutuhkan Dia

    Seberapa kita mencintai dan menghormati Tuhan, paralel dengan seberapa jauh kita benar-benar membutuhkan Dia. Bisa dimengerti bagi orang-orang Kristen yang baru, mereka berurusan dengan Tuhan, berperkara dengan Tuhan karena berbagai alasan. Tetapi menjadi budaya orang beragama di mana pun bahwa orang merasa membutuhkan Tuhan karena terbawa oleh lingkungan orang-orang beragama, lingkungan orang-orang beragama lain. Artinya, kalau seseorang ada di lingkungan orang-orang beragama—bisa satu agama atau beda agama—Tuhan menjadi pelengkap karena ‘harus beragama,’ ‘harus bertuhan;’ itu kelengkapan hidup. 

    Kalau yang pertama tadi merasa membutuhkan Tuhan karena berbagai alasan, ini bisa menyatu dengan filosofi bahwa agama itu kelengkapan hidup, Tuhan menjadi kelengkapan hidup. Yang dalam bahasa umum diistilahkan: “punya pegangan hidup.” Sudah punya Tuhan berarti punya pegangan. Tetapi seberapa seseorang benar-benar membutuhkan Tuhan, itu hal yang bisa lain, bisa berbeda. Ada orang-orang beragama yang memandang Tuhan sebagai kelengkapan hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan. Jika kemudian ada masalah-masalah hidup yang dihadapi—khususnya masalah-masalah hidup di luar kemampuannya—maka barulah ia mencari kekuatan Tuhan yang dipandang melampaui kekuatan manusia. 

    Selama masih bisa ‘menanggulangi’ masalah-masalah hidup yang dihadapi, maka ia tidak merasa terlalu membutuhkan Tuhan. Apalagi kalau ia sudah punya usaha atau penghasilannya yang banyak, memiliki relasi pejabat yang telah membuktikan kemampuan dari kekuatan pejabat tersebut, maka hampir-hampir ia tidak pernah merasa membutuhkan Tuhan.  Tapi kalau kemudian ia ada dalam masalah hukum, masalah bisnis yang terkait dengan undang-undang, lalu relasi pejabatnya sudah tidak berkuasa lagi, mungkin malah meninggal dunia, mungkin juga terlibat masalah hukum sendiri, sehingga ia merasa tidak punya pegangan, barulah ia mencari Tuhan. 

    Mereka adalah orang-orang licik; membutuhkan Tuhan bukan karena Tuhan sebagai kebutuhannya, namun karena ia mau memperalat, memanipulasi, mengeksploitasi Tuhan.  Di sini sebenarnya ada usaha membalik hierarki. Seharusnya, Tuhan berada di atas, yang mendominasi, menguasai kita, tapi sekarang manusia memperalat Tuhan. Kalau di dalam agama-agama pada umumnya, itu sudah biasa. Dewa yang disembah, allah yang disembah akan memberikan kontribusi untuk kehidupan manusia di muka bumi. Lalu terjadi praktik transaksional, jual beli, mengadakan ritual seremonial; usaha untuk mengatur yang disembah. Yang tadinya kaku, jadi lentur, yang tadinya diam, mulai bergerak, yang tadinya kerannya tertutup, dengan ritual seremonial terbuka, keran berkat, keran perlindungan, plus sesajen-sesajen. Jangan sekali-kali kita berpikir seperti itu. 

    Tapi masalahnya, pengaruh agama-agama yang tanpa sadar terserap di dalam pikiran orang Kristen, bisa membuat kita memperlakukan Allah seperti itu. Kita memuji Tuhan, dan Allah bertakhta di atas pujian, itu benar. Tetapi jangan kemudian membuat transaksional, supaya yang sakit sembuh, yang mengalami persoalan ekonomi mendapat jalan keluar, atau kita puasa, supaya Tuhan memberkati kita dengan berkat-berkat jasmani, masalah-masalah dapat diselesaikan, yang mandul punya anak, yang belum menikah dapat jodoh. Ini cara-cara agama-agama dunia. 

    Sebagai orang percaya yang benar kita harus bisa merasakan bahwa Tuhan adalah air kehidupan. Kita membutuhkan air kehidupan itu.  Kita harus sampai pada satu state, satu level di mana kita membutuhkan Tuhan lebih dari kita membutuhkan nafas dan darah di dalam tubuh kita. Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikian jiwa kita merindukan Allah (Mzm. 42). Jiwa kita ada kehausan kepada Allah yang hidup, begitu dikatakan dalam Firman Tuhan, bukan Allah yang mati, Allah yang hidup, Allah yang punya kesadaran, memiliki pikiran dan perasaan di mana kita bisa berinteraksi, memiliki hubungan timbal balik. Dan tentu Allah yang Maha Kuasa, Allah yang Maha Tahu, Dia tahu kalau seseorang mau memperdaya atau memanfaatkan Allah. Dan itu tindakan tidak sopan, tindakan tidak santun.  

    Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia, daripada menjadi manusia tanpa memiliki persekutuan dengan Allah secara benar. Dengan kalimat lain, lebih baik kita tidak pernah menjadi manusia tanpa memiliki kehausan akan Allah. Sebab tanpa kehausan akan Allah, seseorang tidak akan pernah menjadi kekasih Allah. Tanpa menjadi kekasih Allah, Allah tidak bisa menikmati orang itu, dan orang itu tidak bisa menikmati Tuhan. Mengapa Allah menciptakan manusia? Karena Allah mau menikmatinya. Dengan pikiran dan perasaan yang bisa membuahkan kehendak, Allah menghendaki agar manusia memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan kehendak Allah (keserupaan dengan Allah, Ibr. demuth). Kalau hanya segambaran, memiliki pikiran perasaan seperti yang juga Allah miliki, tapi tidak membuahkan buah-buah hidup yang dinikmati oleh Allah, percuma. 

     

    10 min
  • Memiliki Chemistry Khusus

    Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang. Ia mencetak orang-orang Kristen yang rajin ke gereja, tetapi meleset dari pola yang Allah kehendaki. Ia juga menelurkan aktivis-aktivis gereja yang aktif dalam kegiatan pelayanan, tapi meleset dari potret kekristenan yang harus dijalani. Iblis juga bisa mengubah pendeta-pendeta yang baik pada mulanya, menjadi orang-orang yang meleset. Tidak ada pendeta yang bercita-cita mau menipu, menggelapkan uang gereja, konflik dengan yang lain di dalam gereja atau melakukan pelanggaran moral, tapi Iblis mengarahkan mereka. Entah karena pergaulan, tontonan, media sosial, dan lain-lain. Belum lagi gen yang diwarisinya dari orang tua. 

    Jadi, hati-hati, kita punya musuh yang melampaui apa yang kita pikirkan. Kecerdasannya melampaui yang kita duga. Hanya kalau kita berjalan dengan Tuhan di dalam pimpinan Roh Kudus (Yoh. 16:13, memimpin kita kepada seluruh kebenaran) barulah kita dapat mengalahkannya. 

    Masalahnya, yang pertama, seberapa serius kita bersentuhan dengan Roh Kudus? Seberapa serius kita benar-benar minta pimpinan-Nya? Sebab banyak orang ditipu Iblis dan merasa keadaannya aman dan baik-baik saja, padahal tanpa dia sadari dia sedang diarahkan kepada keadaan yang tidak sesuai kehendak Allah. Betapa mengerikan ketika ia ada di takhta pengadilan Tuhan, dan ternyata keadaannya tidak seperti yang Allah kehendaki. Kekristenan sejati yang harus kita kenakan hanya bisa diajarkan oleh Roh Kudus. Yaitu ketika kita berhadapan dengan Roh Kudus setiap hari, bersekutu dengan Tuhan setiap hari. Kekristenan sejati yang kita bisa temukan, tidak bisa kita terima dalam satu hari. Kesucian itu tidak kita dapatkan melalui kecelakaan. 

    Kesucian kita harus dibangun setiap hari. Kekristenan yang sejati harus dibangun setiap hari, lewat sebuah proses bertahap. Ironis, ada orang berpikir nanti dalam waktu singkat, dia mau rapel. Tidak bisa. Kesucian tidak bisa dicapai dalam 1 hari, 1 bulan, 1 tahun. Lewat perjalanan yang panjang. Yang pada akhirnya, kekristenan sejati itu adalah sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan yang memancarkan kemuliaan Allah. Perjanjian Lama dari sejarah bangsa Israel membuktikan siapa Allah yang benar. Perjanjian Baru menunjukkan bagaimana Allah yang benar. Alkitab mengatakan wanita memancarkan kemuliaan laki-laki dan laki-laki memancarkan kemuliaan Allah. Jadi kita, orang percaya, semua harus memancarkan kemuliaan Allah. Yesus dipenuhi logos; yang sama dipenuhi Allah karena logos itu Allah sendiri. Baru Dia memancarkan kemuliaan Allah. 

     

    Kita adalah orang-orang yang menjadi saksi bagaimana Allah yang benar. Bukan sekadar siapa Allah yang benar, melainkan bagaimana Allah yang benar. Dan karena Yesus menjadi yang sulung, mau tidak mau kita menjadi serupa dengan Yesus. Jadi, Kristen yang sejati adalah serupa dengan Yesus; yang sama dengan memancarkan kemuliaan Allah; yang sama dengan menunjukkan bagaimana Allah yang benar. Jadi, tidak main-main ketika Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa” (Mat. 5:48). Itu bukan basa-basi. Itu ayat bukan sekadar menghiasi lembar Alkitab. Juga dalam 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus,” bukan sekadar kalimat yang menghiasi lembar Alkitab. Ini adalah benar-benar satu realitas yang harus kita alami. 

    Yang kedua, untuk mencapai kekristenan yang sejati, kita harus berjuang melalui perjalanan waktu dalam tahapan-tahapan ketat. Proses itu sangat ketat, tapi harus berlangsung. Bagaimana kesucian, kekudusan, dan kecintaan kita kepada Tuhan bertumbuh, bagaimana kecerdasan rohani kita bertumbuh. Dan Tuhan menginginkan itu berlangsung setiap hari. Bukan dalam hitungan bulan atau hari, bahkan bukan dalam hitungan per jam, namun di setiap saat. Kita bukan organisasi, melainkan organism; sesuatu yang hidup. Kita mau dan harus berubah selagi kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita ke gereja, jadi aktivis, jadi pendeta pun percuma, kalau ternyata warna hidup atau irama hidup kita tidak seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. 

    Kita punya karakteristik yang berbeda-beda, tapi Roh Kudus bisa menuntun kita untuk memiliki kekristenan seperti yang Allah kehendaki. Dan betapa Tuhan tidak menghendaki seorang pun di antara kita binasa. Kekristenan adalah kehidupan yang memuaskan hati Tuhan, ketika kita memiliki kehidupan seperti yang Dia inginkan. Dan itu sangat private, confidential, pribadi, rahasia pribadi, karena itu kita harus mempersoalkan, memperkarakan ini secara pribadi di hadapan Tuhan, selagi masih ada kesempatan. Jangan keluar dari rencana Allah. Ketika Tuhan berurusan dengan seseorang, ada chemistry Tuhan dengan orang itu. Dan pada akhirnya, kekristenan yang benar yang dimiliki setiap individu memiliki chemistry khusus itu. Dan inilah kekristenan yang luar biasa indah, yang Tuhan bisa menikmatinya. Baru Tuhan bisa berkata, “Engkau berharga di mata-Ku.” Kita jangan sia-siakan kesempatan ini. Jadilah pemburu Tuhan.

    10 min
  • Kekristenan Orisinal

    Seandainya kita bertanya kepada Tuhan, apakah kekristenan yang telah kita jalani adalah kekristenan yang memang Tuhan kehendaki, kira-kira apa jawaban Tuhan? Apakah kita yakin bahwa kekristenan yang kita jalani ini benar-benar kekristenan yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani? Atau pertanyaan lain yang terkait, apa kira-kira yang Tuhan Yesus harapkan dari kita dengan menjadi orang yang memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, sebagai Tuhan? Apa kira-kira yang diharapkan oleh Yesus dari kita? Sejujurnya, jarang sekali orang memperkarakan hal ini. Mungkin hampir-hampir tidak ada, sebab kekristenan yang dijalani hampir semua orang adalah kekristenan yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

    Kita tidak berjumpa langsung dengan Yesus, bahkan kita juga tidak berjumpa langsung dengan murid-murid Yesus yang merupakan narasumber pertama. Tentu secara logika, perjalanan waktu, perjalanan sejarah bisa mengubah warna asli, versi orisinal dari kekristenan itu. Tuhan tidak berjanji menyertai hanya untuk orang-orang tertentu, bukan hanya untuk murid-murid Yesus, tetapi Yesus berjanji menyertai orang percaya di sepanjang zaman di segala tempat dan dalam segala keadaan. Jadi, hari ini kita adalah orang-orang percaya yang berhak menerima janji Tuhan, bahwa Tuhan akan menyertai orang percaya sampai kesudahan zaman. Dan penyertaan Yesus, kehadiran Allah Bapa diwakili oleh Roh Kudus. 

    Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Yohanes 16:7, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Selanjutnya dalam ayat 13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” 

    Jadi, mestinya kita bisa memperkarakan hal ini sekarang—di zaman kita, generasi kita, di tempat kita, dalam konteks keadaan dan zaman kita—apakah kekristenan yang kita jalani benar-benar kekristenan yang dikehendaki Tuhan untuk kita jalani? Dan kekristenan yang dijalani oleh hampir semua orang Kristen adalah kekristenan yang diwarisi dari para pendahulu. Padahal melalui perjalanan waktu, perjalanan sejarah, bukan tidak mungkin ternyata telah terjadi perubahan, pergeseran, devaluasi atau kemerosotan. Lukas 18:8 memberikan isyarat bahwa kemungkinan kekristenan yang dijalani banyak orang Kristen adalah kekristenan yang tidak orisinal, “Jika Anak Manusia datang, apakah Dia mendapati iman di bumi?” Iman bicara tentang hidup kekristenan yang benar. 

     

    Jadi kalau Yesus datang, apakah Dia menemukan kekristenan yang orisinal seperti yang Tuhan Yesus ajarkan, seperti yang Tuhan Yesus kehendaki untuk dikenakan orang percaya, dan yang itu diharapkan oleh Yesus? Ayat ini juga sekaligus secara tidak langsung memberi kita ancaman atau memberitahukan kita adanya ancaman, bahwa sangat sedikit atau hampir-hampir tidak ada orang yang memiliki kehidupan kekristenan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Mari kita memeriksa kekristenan kita dan tanyakan kepada Tuhan. Jangan tenggelam dengan segala kesibukan, sampai kita tidak memperkarakan nasib kekal kita. Sebab nasib abadi, keadaan kekal kita lebih dari rumah tangga, bisnis, karier, studi, lebih dari apa pun. 

    Kita tidak ingin mengecewakan Tuhan yang sudah mengurbankan diri di kayu salib, menebus dosa-dosa kita. Dinamika hidup yang kita jalani secara pribadi, bisa mengubah kita; mengubah menjadi positif atau mengubah menjadi negatif. Dinamika hidup bisa mengubah seseorang. Dari seorang anak yang bisa menyanyi lagu rohani dan berdoa, menjadi wanita yang tegas berkata kepada orang tuanya, “Saya ateis.” Setiap kita punya dinamika hidup, yang tanpa kita sadari, diarahkan setan untuk meleset, luncas; tidak kena sasaran. Ini mengerikan sekali. Di dalam Kejadian 3:1, dikatakan bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik (arum (עָר֔וּם)). Ini tidak menunjuk ciptaan secara umum, tetapi ciptaan rohaniah, menunjuk oknum. Dia bisa bicara. 

    Tidak ada binatang bisa bicara. Yang bicara ini Iblis, dia cerdik. Setan itu lebih cerdik dari manusia. Jika manusia tidak dipimpin Roh Kudus, dia tidak akan bisa mendapati kejahatan kuasa kegelapan ini. Dia tidak bisa mendapati kelicikannya yang menggiring manusia untuk meleset dari kehendak Allah. Mengerikan sekali. Dan banyak orang tidak waspada. Dia pikir setan itu tidak cerdik. Padahal, dia melampaui yang kita pikirkan. Dengan begitu cerdiknya, dia membelokkan kita, mengarahkan manusia untuk memiliki satu versi atau pola hidup yang meleset dari kehendak Allah. Tidak ada cara lain untuk mengalahkan Iblis selain kita memburu Tuhan dan melekat pada-Nya. 

    9 min
  • Memaksa Diri

    Pada umumnya, ketika kita hendak membeli suatu barang, maka kita akan memperhitungkan jumlah uang yang kita miliki. Atau kadang, sekalipun uang cukup untuk bisa membeli yang terbaik, termahal, tapi kita tidak membelinya karena mau irit atau hemat. Sadarkah kita bahwa dalam memperlakukan Allah, kita menghadapi opsi atau pilihan seperti itu. Seberapa banyak kita bisa mengalami Tuhan, tergantung kita. Tuhan memberikan opsi. Tuhan tidak memberikan porsi yang terbatas, tapi Tuhan menyediakan porsi yang tidak terbatas, sebanyak-banyaknya yang bisa kita raih. Tentu, Allah yang tidak terbatas tidak bisa kita raih seluruhnya, tapi sesuai dengan kadar yang dimiliki masing-masing individu. Pertanyaannya apa yang kita lakukan kalau Tuhan memberikan opsi atau pilihan? 

    Pernahkah kita membayangkan kalau Tuhan menawarkan opsi untuk kita menjadi perwira tinggi atau tentara biasa, apa yang akan kita pilih? Menjadi perwira tinggi, yang tentu dengan segala harga dan pengorbanan yang harus diberikan atau cukup sekadar menjadi tentara? Bagaimana kita bisa memiliki keintiman dengan Allah yang maksimal, menjadi kekasih Tuhan yang benar-benar harmoni, dengan segala harga yang harus kita bayar. Yang terbaik yang bisa kita raih, pasti harganya tidak bisa kita bayar, kita tidak akan mampu. Tapi kalau kita serius, Tuhan akan menolong kita membayarnya. Tuhan akan memberi kita kemampuan, seperti perumpamaan di Lukas 14 yang Tuhan ajarkan kepada kita. Kita menghitung anggarannya dan kita tahu kita tidak bisa menyelesaikannya, tapi kita bergantung kepada Tuhan yang memberi kemampuan untuk kita bisa menyelesaikan. 

    Tapi yang 10.000 harus diberikan dulu, apa pun yang ada pada kita diserahkan dulu. Jika kurang, Tuhan yang akan memenuhinya. Tapi banyak orang licik, artinya 10.000 yang kita miliki hanya kita kirim 2.000. Jadi sekarang Tuhan masih memberikan kepada kita pilihan. Selagi kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, nafas yang mengembang di paru-paru kita, Tuhan memberikan kita pilihan. Seberapa banyak porsi yang kita mau pilih? Mari kita memilih porsi sebanyak-banyaknya, porsi sebesar-besarnya, berapa pun harganya kita bayar selagi kita masih punya kesempatan, dan kita yakin Tuhan akan menolong kita membayarnya. Kita akan sangat menyesal kalau kita menutup mata dan kita tidak berani mempertaruhkan hidup kita tanpa batas untuk itu. 

    Ini benar-benar membutuhkan langkah yang gila-gilaan, langkah yang nekat, langkah yang berani. Di tengah-tengah dunia yang tidak peduli Tuhan, di mana seakan-akan tidak ada untungnya mencari Tuhan, seakan-akan sama saja mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan yang tidak, namun kita memilih mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita merem, menutup mata jasmani supaya mata roh kita terbuka dan melihat Tuhan. Sebagaimana firman Tuhan katakan dalam 2 Korintus 5:7, “Hidup kita bukan hidup karena melihat, tapi karena percaya.” Sampai apa yang kita percayai itu menjadi nyata di mata kita, sampai kita tidak akan bisa menjelaskan kepada orang lain, dan orang tidak akan bisa mengerti mengapa kita memilih yang tidak kelihatan. 

    Ironis, tidak semua orang Kristen memilih Tuhan. Banyak orang Kristen memilih dunia, mata mereka tidak mampu melihat Allah yang tidak kelihatan. Banyak aktivis gereja yang tidak memilih Tuhan, mereka boleh dan bisa datang ke gereja, aktif dalam kegiatan gereja, namun mata mereka tidak mampu menembus yang tidak kelihatan, invisible realm, kawasan yang tidak kelihatan, bahkan pendeta. Kalau seorang percaya benar-benar mengenal Allah, menemukan Allah, dan melihat apa yang tidak terlihat oleh mata, dia pasti tidak akan mempertahankan apa pun yang dia miliki, dia akan menyerahkan semua untuk Tuhan. Dan yang terutama adalah semua keinginannya, nafsu, hasrat, dan cita-cita disalibkan. 

    Kita berhenti dari segala keinginan, apa pun. Itu yang Tuhan ajarkan, sampai kita berkata, “Tuhan, aku mau namaku tertulis di dalam hati-Mu, dan Engkau tinggal di dalamku.” Kalau kita tidak mulai sekarang sungguh-sungguh, kita tidak akan sanggup. Ibarat hati atau sesuatu sudah banyak lubangnya, banyak bocornya, kita tidak sanggup mencintai Tuhan dengan utuh karena sudah terlalu rusak komponen hati kita. Maka, sebelum kerusakan itu terjadi dalam hidup kita, sebelum parah dan tidak bisa diperbaiki sama sekali, kita harus membawanya kepada Tuhan. Kita harus memaksa diri untuk mencintai Tuhan, fokus kepada Tuhan, dan menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup kita. 

    Betapa luar biasa kalau kita punya hati sampai pecah untuk Tuhan. Benar-benar kita tidak tertarik lagi dengan dunia. Kita hanya mau berurusan dengan Tuhan, sambil menanti komando apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Ini adalah peperangan rohani, ini adalah masalah Kerajaan Surga yang lebih besar dari masalah negara mana pun. Ini adalah masalah kekekalan di mana melibatkan malaikat-malaikat, penghuni surga, dan Allah sendiri. Maka, kesempatan yang luar biasa ini, jangan kita sia-siakan; mari kita memburu perkenanan Tuhan. 

    9 min
  • Pikiran Allah

    Di dalam tatanan yang Tuhan telah tetapkan sejak penciptaan, manusia diberi kedaulatan. Tentu kedaulatan yang terbatas, artinya manusia hanya bisa menentukan nasibnya sendiri, tapi tidak bisa menentukan nasib orang lain. Bisa mempengaruhi, tapi tidak bisa menentukan. Tapi yang penting di sini yang kita harus sadari adalah Tuhan tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu. Walaupun sesuatu itu baik, mendatangkan kehidupan, mendatangkan kemakmuran bagi manusia. Ini sebenarnya merupakan satu aspek yang kita pandang sebagai kehormatan dan kabar baik. Kehormatan, artinya hidup kita tidak ditentukan oleh takdir yang tidak jelas. Kabar baiknya adalah bahwa dunia ini ada tatanan. 

    Tetapi aspek lain yang mengerikan adalah kalau seseorang tidak memilih apa yang tepat atau membiarkan hak bebasnya dikuasai oleh oknum lain; manusia binasa. Jadi sebenarnya manusia di dalam kedaulatannya bisa memilih dan menentukan apa yang terbaik atau bisa menyerahkan kedaulatan itu kepada kuasa kegelapan yang nantinya menentukan keadaannya atau nasibnya. Tetapi kita tidak melihat aspek ini karena kita tidak memilih itu. Yang kita pilih adalah bahwa dalam kedaulatan kita, kita memilih apa yang terbaik bagi kita. Apa yang terbaik bagi kita? Tuhan. Sebab pada akhirnya manusia hanya memilih satu dari dua pilihan; Tuhan atau setan, Kerajaan Surga atau kerajaan dunia. 

    Namun kenyataannya, banyak orang tidak memilih Tuhan. Mereka merasa sudah memilih Tuhan, padahal tidak. Kalau orang memilih Tuhan, ada pertaruhan atau konsekuensi, harga yang kita bayar. Dan harga yang harus kita bayar adalah seluruh hidup kita. Itu tidak dibunyikan dan tidak ada di Perjanjian Lama. Umat Perjanjian Lama tidak bisa menemui Tuhan secara pribadi. Mereka hanya menjadi umat, sedangkan yang dapat menjumpai Tuhan adalah imam besar, itu pun setahun sekali. Puji Tuhan, tirai Bait Allah terbelah, yang merupakan tanda bahwa manusia bisa masuk ruang Maha Suci-Nya.

    Maka di Perjanjian Baru kita tidak lagi menjadi seperti umat yang ada di Perjanjian Lama, tapi kita menjadi imamat-imamat yang rajani. Pembenaran oleh darah Yesus atas kita memberikan kita akses untuk menjumpai Allah. Tapi konsekuensinya atau harga yang harus kita bayar adalah kesucian. Dan kesucian itu melibatkan seluruh hidup kita tanpa batas; termasuk pikiran kita. Dalam Matius 16 dikatakan, “Enyahlah Iblis! Sebab kamu bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi apa yang dipikirkan manusia.” Jadi apa yang dipikirkan manusia, atau yang bukan dipikirkan Allah, adalah Iblis. Selama ini kita tidak berani memberi label itu. 

    Tetapi Tuhan menghendaki supaya apa yang kita pikirkan, harus sama dengan apa yang Allah pikirkan. Jika tidak demikian, kita tidak akan memperoleh Tuhan. Kita tidak akan memiliki Tuhan dan Tuhan tidak dapat memiliki kita. Jadi kita tidak boleh memiliki konsep bahwa kita ini hanya umat atau awam. Tanpa sadar, hal ini telah meracuni pikiran banyak orang Kristen, sehingga ada kasta imam dan awam. Mestinya semua kita adalah imamat yang rajani. Mari kita memenuhi jiwa kita dengan pikiran Allah. Sebab jika bukan pikiran Allah, berarti itu pikiran Iblis. Semua yang berorientasi pada dunia ini dan segala kenyamanannya adalah pikiran setan. Kita dulu tidak berani bicara begini. Kita masih mau hidup “wajar.” Tapi Alkitab tegas berkata begitu. Sementara itu, setan juga membanjiri pikiran orang Kristen dengan banyak isian yang mencemari pikiran.

    Kita tidak bisa memiliki Tuhan tanpa kesucian yang sempurna. Tidak bisa orang memiliki dan dimiliki Tuhan jika masih ada ikatan-ikatan dunia. Harus bersih. Pertanyaannya, siapa yang berani masuk ke wilayah ini? Kita jawab, “saya”, “kita”. Di dalam perjuangan kita untuk menyerahkan segenap hidup, guna memiliki Tuhan dan dimiliki Tuhan, kita pasti akan tahu apa yang Tuhan tidak berkenan dan apa yang Tuhan berkenan. Roh Kudus pasti bicara. Tapi kalau orang sudah tidak memiliki tekad dan niat untuk dimiliki dan memiliki Tuhan, dia kabur terus, kacau terus. Sampai tua akan berkata, “Kita ini manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan. Mudah-mudahan nanti kita berubah.” Sejatinya, dia tidak akan berubah. 

    Kita harus berubah secepatnya. Kenapa kita tunda kalau itu bisa kita kerjakan sekarang? Kenapa kita tidak mencari tahu apa rencana Allah yang belum digenapi di dunia ini oleh orang percaya? Inilah gerakan kesucian; gerakan meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Ini gerakan tertinggi, gerakan puncak. Tidak ada gerakan yang lebih puncak dari ini; kesucian hidup dan terlepasnya kita dari ikatan percintaan dunia. Harus kita kerjakan dengan serius. Sebab pada akhirnya sebagai umat pilihan kita harus memilih: apa yang dipikirkan Allah atau yang dipikirkan manusia. Dan kita memilih apa yang dipikirkan Allah. Jadi gerakan ini melibatkan kita semua. Ini bukan masalah dengan sesama, ini masalah kita dengan Tuhan, yang akhirnya memang akan berdampak terhadap sesama. Jangan takut kehilangan hidup, karena Yesus berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawa karena Aku, ia akan memperoleh nyawa.” Sebenarnya ini sama dengan gerakan bunuh diri; membunuh kedagingan kita. 

    9 min
  • Menghormati, Dihormati

    Firman Tuhan mengatakan, “Orang yang menghormati Tuhan akan dihormati.” Allah membuat dia terhormat. Siapakah mereka yang menghormati Tuhan itu? Yang pertama, orang yang hidup tak bercacat, tak bercela. Ketika kita berbuat dosa, berarti kita tidak menghormati Allah. Sebab ketika kita melakukan kesalahan, sejatinya itu adalah sikap tidak menghormati Allah. Karenanya di dalam renungan hati kita, di dalam pikiran kita, tidak boleh ada sesuatu yang Tuhan tidak berkenan. Supaya hati, pikiran kita bersih, maka kita tidak boleh menonton, menyaksikan, menikmati tayangan atau tontonan apa pun yang Tuhan tidak menghendaki kita menyaksikan. Sebab hal itu merusak pikiran dan jiwa kita. 

    Kadang-kadang kita tergoda mau melihat ini dan itu, tapi kita harus ingat bahwa kita bisa terpengaruh atau terbawa sehingga pikiran menjadi tidak bersih, perasaan menjadi tidak bersih. Itu sudah merupakan sikap tidak menghormati Allah. Termasuk juga dengan perkataan yang sia-sia, ucapan yang sia-sia, itu tidak menghormati Allah. Apalagi dengan perbuatan, lebih lagi. Mari kita minta ampun atas semua dosa yang telah kita lakukan dan jangan berbuat dosa lagi. Itu sikap menghormati Allah. Tanpa kesucian kita tidak bisa dipandang sebagai orang yang menghormati Allah. 

    Maka orang yang tidak hidup suci, tidak akan layak di hadapan Tuhan. Ini bukan satu hal yang mudah, juga bukan satu hal yang sederhana. Tetapi tidak bisa tidak, karena Allah Bapa yang berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus.” Di Perjanjian Lama, setiap kali Allah mau bertemu dengan umat-Nya, Allah berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Kuduskan umat-Ku.” Mereka tidak bisa dan memang tidak boleh menghampiri Allah dengan keadaan yang tidak kudus 

    Yang kedua, tidak berharap pertolongan manusia. Ketika kita di dalam persoalan, dalam masalah, dalam kebutuhan, kita memikirkan seseorang dan berharap orang itu menolong, berarti kita menghina Tuhan. Seakan-akan Tuhan tidak bisa diharapkan. Jangan melirik siapa pun ketika kita dalam kesulitan; pandang Tuhan. Lebih baik kita jatuh hancur daripada kita berharap pertolongan manusia. Sebab kalau kita berharap pertolongan manusia, maka yang terjadi adalah kita tidak menghormati Tuhan. Kita tidak memuji Dia dengan baik. Kita tidak bisa memuja dan menyembah Allah. 

    Kita tidak bisa menghormati Tuhan secara patut kalau kita berharap pertolongan manusia. Kita memandang dan mengharapkan pertolongan kepada manusia itu suatu kenajisan. Sebab firman Tuhan mengatakan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia.” Ketika kita ada di dalam pergumulan, di dalam persoalan berat, kita memandang Tuhan. Kita belajar mempercayai Dia, bahwa Allah yang hidup, Allah yang berkuasa dan sekaligus Allah yang setia. Allah yang Maha Baik. Pelajaran ini luar biasa Tuhan ajarkan kepada kita.

    Maka jangan membuka celah sekecil apa pun untuk mengintip manusia. Ketika kita ada dalam ruangan gelap, semua pintu tertutup, tutup mata saja dan pandang Tuhan. Jangan mencari celah, lubang, untuk mengintip kalau-kalau ada manusia atau siapa pun yang menolong kita di ruang gelap itu. Kenyataannya banyak di antara kita yang sedang berada di ruangan gelap seperti ini. Percayalah, Tuhan yang telah membawa orang-orang besar seperti Musa, Yusuf, Daud di ruang gelap—ruangan di mana tidak ada pengharapan, ruangan di mana tidak ada pertolongan—demikian juga kita. 

    Di situ kita harus sabar menunggu pertolongan dari Tuhan. Harus sabar menantikan Tuhan. Jangan mencari celah sekecil apa pun, mengintip cari lubang sekecil apa pun untuk menangkap siapa-siapa yang bisa menolong. Kita tidak akan bisa memuja Tuhan, memuji Tuhan, menyembah Dia, dan tidak akan bisa menghormati Tuhan secara patut, kalau kita berharap pertolongan manusia. Kadang Tuhan mau mengajar kita untuk dapat memuliakan dan menghormati Dia dengan benar dengan membuat semua pintu tertutup. Maka, percayalah Pribadi-Nya dan jangan mencurigai Tuhan sekecil apa pun. 

    Yang ketiga, ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan; bukan salah satunya, melainkan satu-satunya! Sebagaimana pemazmur katakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”  Jangan memperhitungkan apa pun sebagai kesenangan. Jangan memperhitungkan apa pun sebagai kesukaan. Hanya Tuhan kebahagiaan kita. Dengan demikian kita akan terarahkan ke langit baru bumi baru, terarahkan untuk merindukan Tuhan, karena hanya Dia kesukaan kita. Hanya Dia kebahagiaan kita. Dengan demikian kita bisa berkata, “I adore You, my Lord. I adore You my beloved Father. Aku memuja-Mu.” 

    10 min
  • Mendaftarkan Diri

    Yehezkiel 22:26 mengatakan, “Aku akan mengumpulkan kamu dan menyemburkan api kemurkaan-Ku kepadamu, sehingga kamu dilebur di dalamnya. Seperti perak dilebur dalam peleburan, begitulah kamu dilebur di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui, bahwa Aku, Tuhan, yang mencurahkan amarah-Ku atasmu. Kemudian datanglah Firman Tuhan kepadaku: Hai anak manusia, katakanlah kepadanya: Engkau adalah tanah yang tidak menerima hujan, tidak mendapat air pada masa kegeraman yang pemimpin-pemimpinnya di tengah-tengahnya seperti singa yang mengaum, yang menerkam mangsanya; manusia ditelan, harta benda dan barang-barang yang berharga dirampas, janda-janda dibuat bertambah-tambah di tengah-tengahnya. Imam-imamnya memperkosa hukum Taurat-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus, mereka tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, mereka menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Demikianlah Aku dinajiskan di tengah-tengah mereka.” 

    Kalimat-kalimat ini ditujukan kepada umat pilihan, khususnya kota Yerusalem yang merupakan pusat ibadah, kota yang menjadi lambang persatuan bangsa Yahudi atau lambang persatuan umat pilihan yang di dalamnya juga ada bait Allah yang menjadi lambang kehadiran Allah. Kalau kita membaca dari ayat 1-2, lebih mengerikan: “Datanglah firman TUHAN kepadaku: “Hai engkau, anak manusia, maukah engkau menjatuhkan, ya, menjatuhkan hukuman atas kota yang penuh utang darah? Beritahukanlah kepadanya segala perbuatannya yang keji, …” Ayat ini bicara soal dosa berhala, yang merupakan perbuatan yang keji, sehingga Tuhan mendatangkan hukuman dengan menjadikan Yerusalem atau umat pilihan cercaan bagi bangsa-bangsa dan ejekan bagi semua negeri. 

    Ketika kita membaca ayat-ayat ini, kita mungkin berpikir, apa maksudnya? Karena rasanya kita tidak punya dosa yang sampai bisa mendatangkan murka Allah sedemikian ini. Kita memang tidak sempurna, tapi kita tidak melakukan kesalahan yang pantas menerima murka seperti ini. Tapi kemudian, ketika kita menelusuri sampai di ayat 30, tertulis, “Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.” Tuhan mencari orang yang bisa mendirikan tembok atau mempertahankan negeri itu. Dan sebagaimana kita ketahui, kemudian hari, setelah 70 tahun, bangsa Israel dibuang, ada seorang yang bernama Nehemia yang mempertaruhkan nyawa demi bangsanya, supaya Yerusalem dapat dibangun. Nehemia berdiri di hadapan raja dengan muka muram, yang bisa membuat dia dihukum mati. Namun akhirnya, oleh kemurahan Tuhan, Nehemia bisa kembali ke Yerusalem dan membangun Yerusalem. 

    Seperti yang telah kita ketahui, dan sudah beberapa kali kita mendengar bahwa Kristen yang sejati adalah Kristen yang berstandar Allah, bukan berstandar manusia; karena rancangan Allah sejak semula memang mempersiapkan, mendesain manusia untuk segambar dan serupa dengan Allah. Jika Tuhan Yesus menyelamatkan manusia, artinya memang manusia harus dikembalikan ke rancangan Allah semula. Jangan diselewengkan, harus dikembalikan ke rancangan Allah semula, dan rancangan Allah semula itu adalah wajah manusia sempurna yang dikenakan oleh Yesus.

    Yesus adalah manusia sempurna, manusia Allah, Dia bukan manusia biasa, Dia manusia Allah, Man of God, Dialah manusia yang berhasil mencapai rancangan Allah semula, yaitu segambar dan serupa dengan Allah. Itulah sebabnya Dia dikatakan sebagai Yang Sulung di antara banyak saudara. Dan Yesus meletakkan landasannya, yaitu kita harus sempurna seperti Bapa. Itu standar, sebab kurang dari itu, palsu kekristenan kita. Kristen yang benar itu sempurna seperti Bapa. Sekarang, kita melihat bagaimana orang-orang Kristen hari ini, tidak pernah kita dengar dengan tegas bahwa harus sempurna seperti Bapa, harus kudus, tak bercacat tak bercela. Lalu ada kompromi-kompromi sehingga orang-orang Kristen melakukan konformisme; penyesuaian dengan dunia. Padahal Alkitab jelas berkata, “Jangan menjadi serupa dengan dunia ini.” 

    Tuhan mencari siapa yang dapat membangun tembok dan menyelamatkan kota, tembok kekristenan. Maka, mengapa kita tidak sungguh-sungguh menjadikan tempat kita menjadi tempat di mana Tuhan menyalakan api sebesar-besarnya, yang bisa dilihat manusia sampai ke ujung bumi? Kita bakar sebesar-besarnya, api Tuhan hadir. Namun, jangan sampai kita sombong. Kita menantikan Tuhan. Tuhan hadir dengan hikmat-Nya, dengan kuasa-Nya, dengan kehadiran-Nya, dengan mukjizat-Nya. Kalau Allah hadir, maka hikmat, marifat, mukjizat akan pasti dihadirkan Tuhan. 

    Mari kita mendaftarkan diri untuk menjadi orang seperti yang Tuhan cari. Walau kita tidak bisa berbuat apa-apa, bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tapi kita mendaftarkan diri, dan Tuhan pasti akan sanggupkan kita. Kita tidak akan bisa menoleh ke belakang kalau sampai tingkat ini. Kita tidak memusingkan diri kita dengan kehidupan kita. Kita punya banyak masalah, namun jangan hanyut dengan masalah itu. Mari kita katakan, “Aku daftar, Tuhan,” maka Tuhan akan menjadikan kita luar biasa. 

    10 min
  • Tidak Ada Dusta

    Kenyataan yang kita hadapi, persoalan hidup yang kita hadapi silih berganti datang, seakan-akan Tuhan tidak memproteksi, seakan-akan Tuhan tidak memberi jaring pengaman, dan keadaan kita kalang-kabut, kita terus dalam keadaan sulit, tetapi di situ dibutuhkan ketekunan. Keadaan di mana kita terjepit, susah, rasanya akan dipermalukan, seakan Tuhan benar-benar tidak ada dan tidak hadir, di situ kita harus tetap memandang Tuhan, tanpa mencurigai-Nya. Seperti Abraham layak disebut sebagai bapak orang percaya, yaitu ketika dia harus mempersembahkan anaknya Ishak, tidak ada perbantahan, tidak ada penundaan. Allah bicara, Abraham bertindak, tanpa ada kecurigaan sama sekali, walaupun dia harus memotong-motong habis tubuh anaknya dan membakarnya. Itulah sebabnya dalam kitab Yakobus dikatakan, “ia menjadi sahabat Allah,” tidak ada kecurigaan sama sekali. 

    Tujuan ketekunan itu bukan sekadar agar masalah-masalah kita diselesaikan di dalam kehidupan ini—apakah itu masalah sakit-penyakit, ekonomi, keluarga, karier, dan lain-lain—melainkan pada akhirnya, ketekunan itu membangun persahabatan dengan Allah. Tidak ada dusta di antara kita, tidak ada keraguan antara kita dengan Allah, dan itu mengantar kita ke rumah abadi. Ketekunan kita bukan hanya menghasilkan mukjizat, bukan hanya menghasilkan perkara-perkara ajaib dalam menyelesaikan masalah-masalah fana dunia, melainkan menjalin persekutuan dan hubungan yang harmoni dengan Tuhan. 

    Tidak ada dusta, tapi ada ketulusan, kepercayaan sepenuh kepada Allah. Tidak ada keraguan, tapi ada cinta yang bulat dan utuh. Ada penghormatan yang sepantasnya kepada Allah. Ada takut yang benar kepada Allah, dan itu persiapan untuk masuk rumah abadi. Pemazmur telah menuliskannya, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya, sebab siapa ada padaku di surga selain Engkau? Hanya Engkau yang ada, karenanya Engkau yang kuingini.” 

    Di tengah-tengah kekacauan dunia ini, kita mau memisahkan dari dunia dan merapat kepada Allah. Kita mungkin seperti orang konyol, seperti orang gagal di mata dunia, kita melarikan diri kepada hal-hal yang tidak berharga di mata manusia. Kita melewati jalan sempit dan sepi yang orang nyaris tidak melaluinya, tapi kita melaluinya. Makin sedikit orang masuk jalan ini, tapi kita memilih jalan ini. Di tengah dunia politik, di tengah-tengah perkara-perkara dunia yang begitu gaduh, kita memisahkan diri untuk mencari Tuhan, kita mengarahkan diri kita ke dalam Kerajaan Surga. Dan sementara itu, Tuhan menggarap kita dengan persoalan-persoalan hidup yang rumit, yang kadang seakan Tuhan tidak peduli masalah kita, Tuhan tidak memberi jalan keluar, tak ada isyarat Dia akan buka jalan, tapi kita tetap percaya. 

     

    Masalahnya bukan sekadar Tuhan menyelesaikan problem-problem sementara, problem-problem fana kita, namun Tuhan mau menyelesaikan masalah batin kita, supaya tidak ada dusta di hati kita terhadap Tuhan. Tak ada dusta, tidak ada keraguan, namun yang ada adalah cinta yang bulat, kehormatan yang pantas, dan takut akan Allah yang pantas. Masalah-masalah kita harus kita pandang tidak ada artinya. Kalaupun seakan-akan Tuhan tidak menolong, kita bisa berkata, “Kalaupun aku harus jatuh, aku hancur di tangan-Mu, jatuh di tangan-Mu, dan hancur di tangan-Mu.” 

    Sekalipun kita menjadi orang yang tidak dikenal, orang yang mungkin dianggap tidak bernilai, tapi kita merapat kepada Allah semesta alam. Hidup kita bernilai ketika kita menjadi sahabat Allah. Maka, kita harus tekun mencari Tuhan, dan Tuhan menggarap kita agar kita punya batin yang dicium Tuhan harum, dan Tuhan berkata, “Yang ini milik-Ku, dan bersama-Ku di kekekalan.” Kalau sampai nama kita di hati Bapa di surga, luar biasa. Perkarakan ini. Butuh ketekunan untuk itu sehingga kita sampai hadirat Tuhan.

    Kita harus berani berprinsip bahwa tidak ada tempat yang mulia, nyaman, aman, dan bahagia selain di hadirat Tuhan. Di sini, kita mengerti mengapa orang kaya sukar masuk surga. Sebab mereka betah dengan kekayaan, dengan kemuliaan dunia dan segala hiburannya. Padahal bukan banyaknya uang, bukan kemewahan rumah atau kendaraan atau apa pun, tapi hanya pada Tuhan yang tidak akan tertandingi, dan memang tidak akan bisa tertandingi. Bukan tidak boleh jadi orang kaya, namun sukar; artinya harus berjuang lebih keras untuk bisa mencapai apa yang Allah kehendaki. 

    9 min
  • Ketekunan Maksimal

    Satu kata ini harus kita miliki, yaitu “tekun, tekun, dan tekun.” Untuk mengalami Tuhan, merasakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, dibutuhkan ketekunan maksimal. Kita pasti pernah, atau paling tidak sebagian kita mengerti apa artinya tekun, ketika kita mengingini sesuatu, kita tekun. Apakah itu dalam dunia pendidikan, di mana kita bukan saja ingin lulus, melainkan ingin mencapai indeks prestasi yang tertinggi atau terbaik—apalagi kalau dalam suasana kompetisi, suasana bersaing dengan orang lain, kita betul-betul tekun, memaksimalkan semua kemampuan untuk mencapai apa yang kita ingini. Atau kalau kita sakit, maka kita tekun mencari pengobatan, bersedia mengubah pola hidup, pola makan, kita tekun melakukan apa pun demi kesembuhan dan lain sebagainya. 

     

    Harusnya untuk Tuhan, ketekunan seseorang haruslah ketekunan yang tertinggi, ketekunan yang maksimal. Kalau kita membaca Alkitab, Allah tidak mudah menyatakan diri kepada orang-orang yang dikasihi atau kekasih-kekasih Tuhan. Berapa lama Yusuf untuk bisa mencapai tingkat tertinggi menjadi sahabat Allah yang menyelamatkan Mesir dan keluarganya di Kanaan? Berapa lama Musa harus diproses untuk menjadi seorang pemimpin yang dipercayai membawa bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan? Empat puluh tahun di padang Midian. 

     

    Sebelum Daud menggulingkan, merobohkan Goliat, berapa lama ia ada di padang rumput bergaul dengan domba-domba, dan dia berlatih untuk bisa melindungi domba-domba peliharaan dengan mempertaruhkan nyawanya? Itu pun belum cukup. Ketika Goliat bisa ditumbangkan, Daud harus masuk sekolah padang gurun yang lebih menyakitkan. Apakah Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daniel begitu mudah diangkat? Tidak, mereka harus melewati tahun-tahun di mana mereka harus menunjukkan cara hidup sebagai umat Yahudi yang berbeda dengan umat bangsa lain, dari cara hidup, cara makan, dan di situ ada pertaruhan. 

     

    Ibarat rajawali, kita harus terbang, dan jangan lelah. Kita minta Tuhan kuatkan sayap rohani kita dan memperlebar sayap rohani kita untuk terbang sampai kita mencapai hadirat Tuhan. Kita harus berjuang terus untuk memiliki kesucian, sampai kita bisa bersekutu dengan Tuhan dan Bapa di surga berkenan menaruh nama kita di hati-Nya. Tidak ada harga murah untuk bisa mengalami Tuhan. Alkitab jelas menunjukkan demikian. Jadi, jangan merasa bahwa apa yang kita lakukan ini sudah cukup untuk mengalami Tuhan, belum. Kalau kita sudah menginvestasikan, mempertaruhkan tenaga, pikiran, waktu untuk Tuhan dengan doa, puasa, dan lain-lain, tapi rasanya kita belum mengalami Tuhan secara maksimal, jangan kita menjadi tawar hati.

     

    Jujur saja, masih banyak di antara kita yang masih gamang, belum menentu, belum tetap; Allah itu antara ada dan tidak ada di dalam hidup kita, atau kita menganggap bahwa kita bukan orang istimewa di hadapan Allah yang bisa mengalami Tuhan secara dahsyat seperti pendeta atau orang-orang tertentu. Kita mungkin menjadi kecut dan kecil hati, dan berpikir, “Memang bagianku tidak bisa banyak.” Itu kita ditipu oleh suara hati kita yang bukan dari Tuhan. Tuhan mau dialami, Tuhan berkenan dialami sebanyak-banyaknya. Tetapi orang yang bisa mengalami Tuhan sebanyak-banyaknya adalah orang yang memiliki kapasitas diri sebesar-besarnya. 

     

    Bahaya kalau orang tidak punya kapasitas mengalami Tuhan, lalu dia mengalami Tuhan, dia menjadi sombong. Dan lebih mengerikan, kalau ia manipulatif, memanfaatkan Tuhan, paling tidak untuk kesombongan diri. Jadi kita harus tekun mencari Tuhan. Sementara kita berdoa, kita puasa, kita belajar firman Tuhan. Tuhan terus menggarap manusia batiniah kita, bagaimana kita bisa membulatkan hati mencintai Tuhan, hati yang utuh dan bulat mencintai Dia. Bagaimana kita bisa memiliki sikap hati di mana kita tidak merasa memiliki apa-apa kecuali Tuhan, di mana kita sampai pada level bahwa kehormatan dan kemuliaan kita tidak ada pada apa pun dan siapa pun, bukan pada diri kita sendiri, tetapi pada Tuhan saja. 

     

    Sejujurnya, itu tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan, belajar firman, berdoa, bertemu Tuhan. Banyak hal yang Tuhan kerjakan di dalam dan melalui hidup kita. Jangan berhenti. Kita terus akan terbang, kita minta Tuhan kembangkan sayap kita, terus kita akan terbang. Jangan jenuh. Ada saat-saat tertentu di mana kita bisa merasakan lawatan Tuhan yang luar biasa, tapi ada saat-saat tertentu seakan-akan Tuhan tidak hadir. Tuhan sengaja membuat itu untuk menguji seberapa kita sungguh-sungguh berani menanti-nantikan Dia.

    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…