Utuh Kembali

Utuh Kembali

By Supriadi AgustiawanSociety & CulturePersonal Journals
Download on the App Store

Utuh Kembali episodes

  • Mozaik #6 - Kita Manusia, Sempurna bukan Milik Kita

    Kesempurnaan itu tidak ada. Setiap yang bermukim dalam doa-doa dan pengharapan harusnya mengerti ini. Kita ini manusia. Sempurna adalah perkara lain yang sebenarnya tidak akan pernah mampu didapatkan dengan cara apapun ; oleh siapapun.

    Terlepas dari itu, kita ; manusia, kadang lupa satu hal, bahwa kesedihan akan mampir pada siapapun. Terlihat sempurna atau tidak. Baik tutur kata atau buruk perangainya. Ia tak pernah pilih kasih. Kita; manusia, hanya perlu menerimanya. Sebagai tamu yang menetuk bibir pintu untuk masuk dan menemani hari-hari terberat yang pasti akan mampir dalam hidup ini.


    Selamat mendengarkan, dan nikmatilah setiap ketidaksempurnaan episode kali ini. Peluk jauh, manusiamu <3!

    6 min
  • Mozaik #4 - Selepas Hujan Bulan Juni
    Pagi yang basah selepas hujan adalah suasana yang selalu dirindukan beberapa manusia. Pada pagi yang basah itu, kenangan mekar dan bermukim abadi dalam aroma tanah --dan aroma tubuh manusia kesayangannya dahulu kala. Selepas Hujan Bulan Juni adalah pelangi yang membentang di langit yang sendu bagi manusia-manusia yang menanti harapan jadi nyata dari balik jendela kamarnya. Selamat mendengarkan, Manusia Baik. Semoga lekas #UtuhKembali
    6 min
  • Mozaik #3 - Memaki Kenangan
    Tulisan ini, sayangku ; manusia —adalah kemarahan paling sunyi yang hanya dapat ditemukan dalam jiwa-jiwa patah manusia. Saban hari, aku ingin memakimu dengan segenap-genap kemarahan atas luka, dan garis akhir yang tak pernah kita tuju. Tapi lagi-lagi, aku payah, sayangku — hanya bisa bersembunyi dibalik kemarahan kata-kata yang sunyi. Penuh duka. Dengarkanlah ini. Kuharap kau kesal dan hatimu tak penuh sesal. #UtuhKembali
    6 min
  • Mozaik #2 - Jejak yang Hilang
    Satu waktu —akan datang lagi candu yang pernah menemani di masa lalu —yang kini sudah tidak ada lagi. Tak apa, kita berhak memilih jalan melupa masing-masing. Merangkak. Berjalan. Berlari. Hanya perlu menyesuaikannya dengan porsi diri kita sendiri. Selamat mendengarkan, maaf karena selalu membawamu pada masa lalu. Semuanya bukan agar kita terjebak dan murung, tapi agar kita bisa benar memahami kesalahan dan tak lagi mengulangi. —utuh kembali
    4 min

About Utuh Kembali

From the publisher's feed

Kita pernah rapuh. Jatuh. Juga pernah menghadiahi dua hal itu pada manusia lain. Kata seseorang, "seberat apapun kesalahan, lapang dada selalu jadi jalan kecewa paling terhormat". Maka mari jadi bagian dari kehormatan itu. Suara ini adalah untuk kita —manusia yang sedang rindu dan mencari jalan untuk #UtuhKembali. Selamat tenggelam dalam bait-bait perayaan kehilangan yang pernah ada.