
Sign up to save your podcasts
Or


Saat mencari karyawan, teman, atau pasangan hidup, pilihlah orang yang sungguh-sungguh ingin dekat dengan Alloh. Kehidupan pasti memiliki banyak masalah, tetapi orang yang bersungguh-sungguh kepada Alloh akan mendapatkan petunjuk dan bimbingan-Nya.
Ciri orang yang sungguh-sungguh kepada Alloh adalah semangat belajar untuk mengenal-Nya, senang membersihkan hati, serta berusaha mengamalkan apa yang Alloh sukai. Ia tidak terlalu sibuk mencari penilaian manusia, tetapi fokus mencari keridhaan Alloh.
Orang yang terus belajar, bermujahadah membersihkan hati, dan mengamalkan ilmu akan dibimbing oleh Alloh menjadi pribadi yang bermanfaat. Alloh akan menunjukkan jalan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya dan berbuat kebaikan.
Status paling mulia dalam hidup adalah menjadi hamba Alloh, Tuhan yang menciptakan, memiliki, dan menguasai seluruh alam. Jika seseorang tidak sungguh-sungguh menjadi hamba Alloh, ia mudah menjadi hamba nafsu, harta, kedudukan, pujian, popularitas, dan kesenangan dunia.
Dunia seharusnya menjadi sarana untuk mengabdi kepada Alloh, bukan sesuatu yang menguasai hati. Karena itu, bekerja, mengurus keluarga, menjaga kejujuran, dan melakukan berbagai kebaikan hendaknya dilakukan karena menaati perintah Alloh, bukan semata-mata mencari penilaian manusia.
Menjadi hamba Alloh adalah kehormatan yang tidak bergantung pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya rumah. Walaupun dunia yang dimiliki sedikit, kedudukan sebagai hamba Alloh tetap menjadi posisi tertinggi dan paling membanggakan bagi seorang manusia.
Kebiasaan scrolling handphone selama berjam-jam jangan dianggap remeh. Waktu yang terbuang dalam kesia-siaan dapat membuat hati semakin lalai, membuka jalan menuju dosa, serta menjauhkan diri dari kebaikan.
Alloh mengetahui apa yang kita lihat, membaca untuk apa waktu kita digunakan, dan mengetahui seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an. Ketika diri tidak disiplin, hati dapat menjadi keras, ibadah terasa kurang nikmat, dan ruhiah semakin lemah.
Salah satu cara paling mudah untuk menghentikan kebiasaan scrolling adalah membatasi atau menonaktifkan aplikasi yang paling sering menghabiskan waktu. Dengan begitu, hidup menjadi lebih tenang dan waktu dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an, beribadah, serta melakukan kebaikan lainnya.
Jangan sampai kemudahan teknologi membuat kita lupa kepada Alloh. Disiplinlah memilih tontonan dan aktivitas yang Alloh sukai, sebab setiap pilihan akan kembali kepada diri kita sendiri.
Sifat mudah jengkel, mudah marah, dan gemar melampiaskan kemarahan tidak boleh dianggap remeh. Orang yang terus memelihara kemarahannya, mengulang-ulang kekesalan, dan sulit memaafkan berarti masih jauh dari sifat takwa.
Pertolongan Alloh diberikan kepada orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan. Sebaliknya, sifat pemarah dapat membahayakan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Hidup pun menjadi tidak nyaman karena hati terus dipenuhi kejengkelan dan kemarahan.
Marah adalah hal yang manusiawi, tetapi mudah marah, terus marah, dan selalu melampiaskannya adalah sesuatu yang harus diperbaiki. Karena itu, melatih diri untuk mengendalikan amarah dan belajar memaafkan harus menjadi program utama dalam memperbaiki kualitas diri.
Sejauh apa pun kita berlari dan kepada siapa pun kita meminta, hanya Alloh yang benar-benar mampu memberikan pertolongan. Karena itu, hati harus belajar berkata, “Hasbunallohu wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir”—cukuplah Alloh sebagai penolong dan sebaik-baik pelindung.
Nabi Musa ‘alaihissalam ditolong ketika di hadapannya terbentang laut dan di belakangnya pasukan Fir‘aun. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ditolong ketika dilemparkan ke dalam api. Nabi Yunus ‘alaihissalam diselamatkan dari tiga kegelapan: malam, lautan, dan perut ikan. Semua pertolongan itu menunjukkan bahwa tidak ada kesulitan yang terlalu besar bagi Alloh.
Selama ini, kita sering terlalu bersandar kepada gaji, penghasilan, relasi, dan kemampuan diri. Padahal, semua itu hanyalah jalan. Sumber pertolongan tetaplah Alloh. Fokuslah memperbaiki hubungan dengan-Nya, bersungguh-sungguh melakukan yang Dia sukai, dan yakinlah bahwa Alloh akan mencukupi.
Jangan terlalu risau dengan besarnya masalah. Risaulah ketika hati mulai jauh dari Alloh. Ketika hidup sungguh-sungguh diarahkan kepada Alloh, urusan yang lain akan Dia atur dengan cara terbaik.
Agar lisan lebih mudah berzikir, mulailah dengan mengurangi banyak bicara, obrolan yang tidak bermanfaat, serta kebiasaan mengomentari segala sesuatu.
Ketika seseorang bersungguh-sungguh menjaga lisannya, Alloh menyaksikan ikhtiarnya. Dengan izin-Nya, lisan akan lebih mudah digunakan untuk menyebut nama Alloh, membaca Al-Qur’an, berkata baik, dan mengajak orang lain kepada kebaikan.
Banyak kerusakan bermula dari lisan yang tidak terjaga. Karena itu, tidak semua hal harus ditanyakan, dibahas, diceritakan, atau dijelaskan. Semakin sedikit perkataan sia-sia, semakin besar ruang bagi lisan untuk berzikir.
Inti kehidupan dapat disederhanakan menjadi dua hal: selalu mengingat Alloh dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 152, Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk berzikir dan bersyukur.
Orang yang selalu mengingat Alloh akan mendapatkan perhatian dan pertolongan-Nya. Sementara itu, orang yang bersyukur mampu melihat kebaikan dalam setiap keadaan, dan Alloh akan menambah karunia kepadanya.
Karena itu, jangan pernah berhenti berzikir dan bersyukur. Mohonlah pertolongan Alloh agar kita senantiasa mengingat-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya, serta mampu memperbaiki kualitas ibadah kepada-Nya.
Kemampuan menghafal Al-Qur’an adalah ketetapan Alloh. Tugas manusia hanya meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar dan doa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Alloh. Cepat atau lambatnya hafalan bukan ukuran utama, sebab yang terpenting adalah setiap kali membaca Al-Qur’an, hati semakin dekat kepada Alloh.
Ahli Al-Qur’an tidak hanya terlihat dari banyaknya hafalan, tetapi terutama dari akhlaknya. Tujuan menghafal Al-Qur’an adalah mengamalkannya dalam kehidupan. Karena itu, meskipun hafalan belum banyak, perbaikan akhlak harus terus dilakukan.
Salah satu kunci menjaga akhlak dan memudahkan hafalan adalah menjaga lisan. Kurangi perkataan yang sia-sia, biasakan berzikir, membaca Al-Qur’an, mengajak kepada kebaikan, serta mencegah keburukan. Apabila tidak ada perkataan baik yang perlu disampaikan, diam lebih aman dan lebih selamat.
Dalam pergaulan, rumah tangga, pekerjaan, bisnis, dan kehidupan bermasyarakat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita memudahkan urusan dan menciptakan suasana yang menyenangkan, bukan mempersulit atau membuat orang takut.
Banyak ketegangan terjadi karena persoalan kecil dibesar-besarkan, didramatisasi, dan dipermasalahkan secara berlebihan. Selama bukan kemungkaran, bukan meninggalkan kewajiban, dan tidak membahayakan, belajarlah memaklumi dan menganggapnya sebagai hal biasa.
Setiap orang memiliki kekurangan, kesalahan, dan kekhilafan, sebagaimana diri kita sendiri. Karena itu, pilihlah kata-kata yang baik, menenangkan, dan menggembirakan. Hidup akan terasa lebih damai ketika kita tidak menjadikan setiap kesalahan kecil sebagai alasan untuk bertengkar dan merusak suasana.
Kesibukan utama dalam hidup bukanlah mencari kesalahan dan keburukan orang lain, melainkan terus mengenali kekurangan, kesalahan, dan dosa diri sendiri untuk segera diperbaiki. Keburukan orang lain tidak akan membahayakan kita sebesar keburukan diri yang dibiarkan tanpa perbaikan.
Selain memperbaiki diri, kita juga harus berusaha melakukan yang terbaik. Hidup diciptakan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Karena itu, setiap pekerjaan harus dilakukan dengan niat yang benar, cara yang baik, dan penuh kesungguhan.
Apa pun yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Maka, perbaikilah diri dari waktu ke waktu dan berikan amal terbaik dalam setiap kesempatan.
From the publisher's feed

18 Listeners