
Sign up to save your podcasts
Or


Ini minggu yang ramai dan gaduh. Ada kisruh soal penanganan Covid-19. Ada pula Bantuan Subsidi Upah untuk buruh dan pekerja yang dikabarkan tidak berlanjut. Belum lagi tarik ulur jadwal Pilkada dalam revisi UU Pemilu. Tapi yang paling menyita perhatian adalah isu kudeta terhadap Ketum Partai Demokrat, AHY, yang ditengarai melibatkan KSP Moeldoko. Apapun topiknya, minggu ini jadi seru karena kalian semua setia nemein ngobrol bareng Bang Arief
AHY cs melawan indikasi keterlibatan KSP Moeldoko dalam upaya kudeta terhadap Ketum Demokrat dengan gaya anak muda yang taktis dan out-of-the-box, walaupun tetap tak bisa dilepaskan dari peran SBY sebagai "conductor". Lalu, bagaimana perbadingan performa sang "Jenderal tua" dengan para "milisi muda" Demokrat?
Partai-partai pendukung revisi UU Pemilu yang memungkinkan Pilkada 2022 dan 2023 digelar, satu per satu balik badan menolak. Ada apa? Apakah pembalikan sikap itu akibat kalkulasi politik yang berubah. Adakah kaitannya dengan upaya menjegal figur-figur alternatif yang akan berlaga di Pilpres 2024, sebagaimana juga diduga merupakan tujuan kudeta terhadap AHY di Demokrat?
Gubernur Anies kembali memenangkan penghargaan internasional. Kali ini satu dari "21 Pahlawan Transportasi Dunia." Penghargaan tersebut, dan setumpuk prestasi sebelumnya, membuat kredibilitas dan modal sosial Anies tambah kuat, tanpa masuk gorong-gorong, blusukan, atau ngumpulin tuna wisma. Di sisi lain, ini tentu ancaman bagi pihak-pihak yang pengen jagoannya jadi Capres di 2024. Yuk kita obrolin bareng Bang Arief
Sejumlah kader Demokrat dari daerah diundang ke Jakarta dengan dalih akan mendapatkan bantuan pasca bencana. Ternyata mereka malah dipertemukan dengan mantan kader yang dipecat 9 tahun lalu gegara kasus korupsi. Di kamar berbeda ada pula pejabat lingkaran dalam Istana. Seserius apa percobaan kudeta ini dalam pandangan DPP Demokrat?
Presiden Jokowi dikabarkan menegur keras KSP Moeldoko karena diketahui ikut campur dalam upaya mendongkel AHY dari posisi Ketum Demokrat. Sontak Moeldoko kembali menggelar konferensi pers, walaupun masih banyak berisi penyangkalan. Namun Presiden memutuskan tidak merespon surat AHY yang minta klarifikasi. Apa dampaknya?
Tanggal 25 Januari Abu Janda diperiksa Bareksrim urusan "Islam agama arogan". Tanggal 4 Februari dipanggil lagi gegara dugaan ujaran rasis kepada Natalius Pigai. Tapi, tetap tidak ditangkap. Memang sakti! Abu Janda ngaku dirinya dibayar mahal untuk jadi buzzer. Apakah si pembayar itu yang juga melindunginya sehingga selama ini seolah kebal hukum?
Walaupun konon sudah ditegur keras Presiden, Moeldoko masih berkelit dari tudingan keterlibatannya dalam upaya kodeta terhadap kepemimpinan AHY di Demokrat. Menurut Moeldoko, sejawatnya Luhut Binsar Pandjaitan juga pernah didatangi sejumlah kader senior Demokrat. Benarkah pertemuan kader demokrat dengan LBP bisa disamakan dengan keterlibatan Moeldoko dalam isu kudeta belakangan ini?
Partai Demokrat, melalui Kepala Bakomstra-nya, menelanjangi pernyataan-pernyataan Moeldoko terkait tudingan terlibat dalam upaya kudeta kepemimpinan partai itu. Ibarat pemain bola yang piawai, tampaknya gocekan Demokrat bikin Moeldoko lumayan sakit kepala.
Anggaran kesehatan di APBN 2021 hanya Rp 169,7 triliun, tidak sampai separuh infrastruktur yang Rp 417,8 triliun. Di saat porsi duit buat infrastruktur naik 48% dibandingkan tahun lalu, jatah untuk ksehatan justru turun. Apakah pandemi Covid-19 yang gak reda-reda ini mau dilawan dengan infrastruktur?
From the publisher's feed