FluentFiction - Indonesian

FluentFiction - Indonesian

By FluentFiction.orgEducationCoursesLanguage Learning
Download on the App Store

FluentFiction - Indonesian episodes

  • Rani's Quest: Unlocking Cognitive Mysteries with a Rare Plant
    Fluent Fiction - Indonesian: Rani's Quest: Unlocking Cognitive Mysteries with a Rare Plant
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/ranis-quest-unlocking-cognitive-mysteries-with-a-rare-plant

    Story Transcript:

    Id: Di sebuah laboratorium rahasia yang penuh alat-alat canggih, Rani berkonsentrasi pada eksperimennya.
    En: In a secret laboratory filled with advanced equipment, Rani concentrated on her experiment.

    Id: Alat kaca dan cairan mendidih mengelilinginya.
    En: Glass apparatuses and boiling liquids surrounded her.

    Id: Dia penasaran dengan kemampuan tanaman langka yang katanya dapat meningkatkan kemampuan kognitif.
    En: She was curious about the capabilities of a rare plant said to enhance cognitive abilities.

    Id: Musim dingin di belahan bumi selatan membuat laboratorium terasa dingin, tapi semangat Rani tetap hangat.
    En: The winter in the southern hemisphere made the laboratory feel cold, but Rani's spirit remained warm.

    Id: Rani tahu dia harus ke Pasar Tradisional untuk mencari tanaman langka itu.
    En: Rani knew she had to go to the Traditional Market to find the rare plant.

    Id: Pasar itu terkenal dengan keanekaragaman rempah, herbal, dan tanaman eksotisnya.
    En: The market was renowned for its variety of spices, herbs, and exotic plants.

    Id: Di bawah lampu-lampu kecil yang berkelip, para penjual sibuk menawarkan dagangan mereka.
    En: Under the twinkling small lamps, vendors busily offered their wares.

    Id: Rani berjalan dengan cepat, melewati kerumunan menuju gerai Pak Wijaya.
    En: Rani walked quickly, passing through the crowd towards Pak Wijaya's stall.

    Id: Pak Wijaya, seorang penjual tua yang bijak, sudah melihat banyak hal datang dan pergi.
    En: Pak Wijaya, a wise old vendor, had seen many things come and go.

    Id: Dia tersenyum saat melihat Rani.
    En: He smiled upon seeing Rani.

    Id: "Selamat pagi, Nona Rani.
    En: "Good morning, Miss Rani.

    Id: Ada yang bisa saya bantu?
    En: How can I help you?"

    Id: " katanya dengan ramah.
    En: he said kindly.

    Id: Rani menjelaskan tujuannya.
    En: Rani explained her purpose.

    Id: "Saya mencari tanaman langka, Pak.
    En: "I'm looking for a rare plant, sir.

    Id: Katanya, bisa meningkatkan kemampuan kognitif.
    En: They say it can enhance cognitive abilities.

    Id: Apakah Bapak tahu di mana saya bisa menemukannya?
    En: Do you know where I can find it?"

    Id: "Mata Pak Wijaya mengulas Rani dengan penuh pertimbangan.
    En: Pak Wijaya examined Rani thoughtfully.

    Id: "Tanaman itu sangat langka, Nona Rani.
    En: "That plant is very rare, Miss Rani.

    Id: Tidak banyak yang tahu tempatnya," jawabnya.
    En: Not many know its location," he replied.

    Id: Rani melihat keraguan di mata Pak Wijaya.
    En: Rani saw hesitation in Pak Wijaya's eyes.

    Id: Rani mengambil napas dalam-dalam.
    En: Rani took a deep breath.

    Id: "Pak, eksperimen ini sangat penting.
    En: "Sir, this experiment is very important.

    Id: Bisa membantu banyak orang.
    En: It could help many people.

    Id: Saya butuh tanaman itu.
    En: I need that plant.

    Id: Mohon bantu saya," pintanya dengan tulus.
    En: Please help me," she implored sincerely.

    Id: Pak Wijaya terdiam sejenak.
    En: Pak Wijaya was silent for a moment.

    Id: "Saya percaya kamu punya niat baik, Nona Rani.
    En: "I believe you have good intentions, Miss Rani.

    Id: Baiklah, saya akan memberitahumu, tetapi ingat, ini rahasia," katanya akhirnya.
    En: All right, I will tell you, but remember, this is a secret," he finally said.

    Id: Tiba-tiba, seorang pria muncul.
    En: Suddenly, a man appeared.

    Id: Seorang ilmuwan saingan, Rani tahu itu.
    En: Rani knew he was a rival scientist.

    Id: "Saya juga butuh tanaman itu," kata pria itu dengan nada menuntut.
    En: "I need that plant too," the man said demandingly.

    Id: Standoff tegang terjadi.
    En: A tense standoff ensued.

    Id: Rani tetap tenang dan menunjukkan dokumen tentang penelitiannya.
    En: Rani remained calm and showed her research documents.

    Id: "Pak Wijaya, ini bukan cuma untuk saya.
    En: "Pak Wijaya, this isn't just for me.

    Id: Ini untuk banyak orang yang membutuhkan," katanya dengan mantap.
    En: It's for many people in need," she said firmly.

    Id: Pak Wijaya mengangguk pelan.
    En: Pak Wijaya nodded slowly.

    Id: "Saya lihat niat baikmu, Nona Rani.
    En: "I see your good intentions, Miss Rani.

    Id: Saya akan membantu," katanya sembari melirik saingan Rani dengan tatapan tegas.
    En: I will help you," he said, glancing sternly at Rani's rival.

    Id: Rani merasa lega.
    En: Rani felt relieved.

    Id: Setelah saingan Rani pergi dengan kecewa, Pak Wijaya memberikan petunjuk tentang lokasi tanaman itu.
    En: After Rani's rival left in disappointment, Pak Wijaya gave her directions to the plant's location.

    Id: "Pergilah ke hutan kecil di utara pasar ini.
    En: "Go to the small forest north of this market.

    Id: Di sana ada pohon tua yang besar.
    En: There is a large, old tree there.

    Id: Di bawahnya, kamu akan menemukan tanaman yang kamu cari," katanya.
    En: Beneath it, you will find the plant you're looking for," he said.

    Id: Rani mengucapkan terima kasih dengan tulus.
    En: Rani thanked him sincerely.

    Id: "Terima kasih banyak, Pak.
    En: "Thank you so much, sir.

    Id: Saya akan ingat bantuan Anda.
    En: I will remember your help."

    Id: "Rani berhasil menemukan tanaman itu dan melanjutkan eksperimennya.
    En: Rani successfully found the plant and continued her experiment.

    Id: Dia belajar bahwa keterbukaan dan kejujuran bisa membawa kebaikan.
    En: She learned that openness and honesty could bring forth goodness.

    Id: Menggalang aliansi dan berbagi pengetahuan ternyata membuka pintu menuju penemuan besar.
    En: Building alliances and sharing knowledge turned out to be the key to major discoveries.

    Id: Eksperimen Rani sukses dan memberikan manfaat besar bagi banyak orang.
    En: Rani's experiment succeeded and provided great benefits to many people.

    Id: Rani berterima kasih kepada Pak Wijaya atas kepercayaan dan bantuannya.
    En: Rani thanked Pak Wijaya for his trust and assistance.

    Id: Lebih dari sekadar menemukan tanaman langka, Rani belajar bahwa dalam ilmu pengetahuan, kerjasama dan niat baik adalah kunci utama.
    En: Beyond discovering the rare plant, Rani learned that in science, cooperation and good intentions are paramount.

    Id: Akhirnya, Rani memahami bahwa perjalanan penemuan adalah kolaborasi, bukan kompetisi.
    En: In the end, Rani understood that the journey of discovery is a collaboration, not a competition.

    Id: Dan tumbuhlah rasa syukur serta kebijaksanaan dalam dirinya.
    En: And a sense of gratitude and wisdom grew within her.


    Vocabulary Words:
    • secret: rahasia
    • advanced: canggih
    • concentrated: berkonsentrasi
    • apparatuses: alat
    • boiling: mendidih
    • curious: penasaran
    • capabilities: kemampuan
    • enhance: meningkatkan
    • cognitive: kognitif
    • hemisphere: belahan bumi
    • spices: rempah
    • herbs: herbal
    • exotic: eksotis
    • vendors: penjual
    • wares: dagangan
    • wise: bijak
    • thoughtfully: penuh pertimbangan
    • hesitation: keraguan
    • implored: meminta
    • sincerely: dengan tulus
    • intentions: niat
    • demandingly: dengan nada menuntut
    • standoff: standoff
    • rival: saingan
    • firmly: dengan mantap
    • glancing: melirik
    • directions: petunjuk
    • alliance: aliansi
    • openness: keterbukaan
    • gratitude: rasa syukur
    21 min
  • Balancing Tradition and Change: Ayu’s Galungan Journey
    Fluent Fiction - Indonesian: Balancing Tradition and Change: Ayu’s Galungan Journey
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/balancing-tradition-and-change-ayus-galungan-journey

    Story Transcript:

    Id: Pasar di Ubud bersinar cerah di bawah matahari musim kemarau.
    En: The market in Ubud glistened brightly under the dry season sun.

    Id: Aroma bunga segar dan dupa menyambut Ayu saat dia masuk.
    En: The scent of fresh flowers and incense greeted Ayu as she entered.

    Id: Ayu, seorang wanita muda berambut panjang, memasuki pasar dengan hati penuh tekad.
    En: Ayu, a young woman with long hair, entered the market with a heart full of determination.

    Id: Dia harus membeli semua kebutuhan untuk upacara Galungan.
    En: She had to buy all the necessities for the Galungan ceremony.

    Id: Galungan adalah hari suci yang sangat penting bagi umat Hindu Bali.
    En: Galungan is a very important holy day for Balinese Hindus.

    Id: Ayu ingin semua berjalan sempurna.
    En: Ayu wanted everything to go perfectly.

    Id: Namun, pasar sangat ramai.
    En: However, the market was very crowded.

    Id: Orang-orang berdesakan, mencari barang-barang terbaik.
    En: People were jostling, searching for the best items.

    Id: Ayu merasa sulit bergerak dan menemukan barang yang dia butuhkan.
    En: Ayu found it difficult to move and find the things she needed.

    Id: "Aduh, di mana saya bisa menemukan janur yang bagus?" gumam Ayu, bingung.
    En: "Oh dear, where can I find good-quality palm leaves?" Ayu murmured, confused.

    Id: Dia terus berjalan, melihat ke sekeliling.
    En: She kept walking, looking around.

    Id: Ayu melihat pakaian tradisional, hiasan bunga, dan kerajinan tangan yang mempesona.
    En: Ayu saw traditional clothing, flower decorations, and mesmerizing handicrafts.

    Id: Namun, dia belum menemukan apa yang diinginkan.
    En: However, she had not yet found what she desired.

    Id: Di kejauhan, Ayu melihat Ketut, seorang penjual yang sering dia temui.
    En: In the distance, Ayu saw Ketut, a vendor she often encountered.

    Id: Ketut, dengan jiwa bebasnya, selalu menawarkan sesuatu yang berbeda.
    En: Ketut, with his free spirit, always offered something different.

    Id: Ayu berpikir sejenak.
    En: Ayu pondered for a moment.

    Id: "Haruskah aku tanya Ketut?" pikirnya.
    En: "Should I ask Ketut?" she thought.

    Id: Dia mendekati Ketut yang sedang tersenyum.
    En: She approached Ketut, who was smiling.

    Id: "Halo, Ayu! Kamu mencari apa hari ini?" tanya Ketut ramah.
    En: "Hello, Ayu! What are you looking for today?" Ketut asked kindly.

    Id: "Aku mencari janur dan pakaian tradisional untuk Galungan, tapi pasar sangat ramai. Sulit sekali mencarinya," jawab Ayu.
    En: "I'm looking for palm leaves and traditional clothing for Galungan, but the market is so crowded. It's very hard to find," Ayu replied.

    Id: "Izinkan aku membantu," kata Ketut dengan senyum lebar.
    En: "Let me help you," said Ketut with a broad smile.

    Id: "Aku punya janur yang bagus, dan mungkin kamu suka dengan pakaianku yang sedikit modern namun tetap tradisional."
    En: "I have good-quality palm leaves, and maybe you'll like my clothes that are a bit modern yet still traditional."

    Id: Ayu merasa ragu.
    En: Ayu felt doubtful.

    Id: "Modern? Tapi ini upacara tradisional..."
    En: "Modern? But this is a traditional ceremony..."

    Id: "Tidak apa-apa untuk membawa sedikit perubahan," ketut berkata lembut.
    En: "It's okay to bring a bit of change," Ketut said softly.

    Id: "Kamu harus merasa nyaman dan menjadi dirimu sendiri."
    En: "You should feel comfortable and be yourself."

    Id: Ayu berpikir lagi.
    En: Ayu thought about it again.

    Id: Dia selalu merasa terjebak dengan harapan tradisi.
    En: She always felt trapped by the expectations of tradition.

    Id: Mungkin inilah saatnya dia bisa sedikit berubah.
    En: Maybe this was the time she could change a little.

    Id: Pasar makin ramai.
    En: The market grew even busier.

    Id: Ayu dan Ketut berjalan bersama.
    En: Ayu and Ketut walked together.

    Id: Mereka mencari barang satu per satu.
    En: They searched for the items one by one.

    Id: Ketut menunjukkan janur yang dipilihnya, dan Ayu setuju.
    En: Ketut showed her the palm leaves he had chosen, and Ayu agreed.

    Id: Lalu, mereka tiba di toko Ketut.
    En: Then, they arrived at Ketut's shop.

    Id: Pakaian yang ditawarkan memang modern namun masih memuat unsur tradisional.
    En: The clothes offered were indeed modern but still contained traditional elements.

    Id: Saat Ayu memilih pakaian, seorang wanita tua mendekati mereka.
    En: As Ayu was choosing the clothes, an elderly woman approached them.

    Id: "Ini bukan pakaian untuk upacara!" seru wanita itu.
    En: "These are not clothes for a ceremony!" the woman exclaimed.

    Id: Ayu merasa marah.
    En: Ayu felt angry.

    Id: "Ini Galungan kami. Saya ingin membawa sedikit perubahan," katanya tegas.
    En: "This is our Galungan. I want to bring a little change," she said firmly.

    Id: Orang-orang di pasar terdiam sejenak.
    En: The people in the market fell silent for a moment.

    Id: Beberapa setuju dengan wanita tua itu, tetapi yang lain mengangguk setuju dengan Ayu.
    En: Some agreed with the elderly woman, but others nodded in agreement with Ayu.

    Id: Akhirnya, Ayu selesai dengan belanjaannya.
    En: Finally, Ayu finished her shopping.

    Id: Dia merasa lega dan bangga.
    En: She felt relieved and proud.

    Id: Galungan tiba.
    En: Galungan arrived.

    Id: Ayu mengenakan pakaian pilihannya.
    En: Ayu wore her chosen clothes.

    Id: Banyak yang memuji, meskipun ada juga yang mengkritik.
    En: Many people praised her, although some also criticized.

    Id: Namun, Ayu kini lebih percaya diri.
    En: However, Ayu now felt more confident.

    Id: Dia berhasil menggabungkan tradisi dan keinginannya sendiri.
    En: She managed to combine tradition and her own desires.

    Id: Upacara berjalan lancar dan penuh makna.
    En: The ceremony went smoothly and meaningfully.

    Id: Ayu belajar bahwa dia bisa menghormati budayanya, sekaligus menggapai kebebasan pribadinya.
    En: Ayu learned that she could honor her culture while also embracing her personal freedom.

    Id: Kini, Ayu semakin yakin melangkah maju dalam hidupnya, dengan tradisi dan impian berjalan seiring.
    En: Now, Ayu was more confident stepping forward in her life, with tradition and dreams walking hand in hand.


    Vocabulary Words:
    • glistened: bersinar
    • scent: aroma
    • determination: tekad
    • necessities: kebutuhan
    • ceremony: upacara
    • jostling: berdesakan
    • mesmerizing: mempesona
    • handicrafts: kerajinan tangan
    • vendor: penjual
    • encountered: temui
    • pondered: berpikir
    • approached: mendekati
    • broad: lebar
    • doubtful: ragu
    • trapped: terjebak
    • expectations: harapan
    • grow: makin
    • search: mencari
    • elderly: tua
    • exclaimed: seru
    • relieved: lega
    • criticism: kritik
    • combine: menggabungkan
    • meaningfully: penuh makna
    • honor: menghormati
    • embracing: menggapai
    • confidence: percaya diri
    • tradition: tradisi
    • dreams: impian
    • under the sun: di bawah matahari
    21 min
  • Rainy Day Missteps and Unexpected Friendships
    Fluent Fiction - Indonesian: Rainy Day Missteps and Unexpected Friendships
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/rainy-day-missteps-and-unexpected-friendships

    Story Transcript:

    Id: Matahari mulai meredup di balik awan tebal.
    En: The sun began to dim behind thick clouds.

    Id: Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Budi mengambil sepatu dari rak di depan rumahnya.
    En: The clock showed five in the afternoon when Budi took his shoes from the rack in front of his house.

    Id: Hari itu terasa berbeda.
    En: That day felt different.

    Id: Udara mulai lembab, tanda musim kemarau akan segera berganti menjadi musim hujan.
    En: The air began to feel humid, a sign that the dry season would soon change to the rainy season.

    Id: Budi, seorang pria yang disiplin, selalu memiliki jadwal yang tetap.
    En: Budi, a disciplined man, always had a fixed schedule.

    Id: Setiap sore, dia selalu berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
    En: Every afternoon, he would take a walk around his neighborhood.

    Id: Tidak jauh dari rumah Budi, tinggal seorang wanita bernama Intan.
    En: Not far from Budi’s house lived a woman named Intan.

    Id: Intan adalah tipe orang yang spontan dan selalu mencari petualangan kecil dalam kesehariannya.
    En: Intan was the type of person who was spontaneous and always sought small adventures in her daily life.

    Id: Saat Budi melangkah keluar, hujan tiba-tiba turun dengan deras.
    En: As Budi stepped outside, it suddenly started to rain heavily.

    Id: Dia segera berlari mencari tempat berteduh.
    En: He immediately ran to find shelter.

    Id: Kebetulan, Intan juga terjebak hujan saat sedang berjalan-jalan.
    En: Coincidentally, Intan was also caught in the rain while taking a walk.

    Id: Mereka berdua berlari menuju satu-satunya awning di jalan itu.
    En: The two of them ran toward the only awning on that street.

    Id: “Hei, Budi! Hujannya deras sekali, ya?” sapa Intan sambil tersenyum.
    En: “Hey, Budi! It's raining heavily, isn't it?” greeted Intan with a smile.

    Id: Budi, yang sedikit kaku, hanya mengangguk.
    En: Budi, who was a bit stiff, just nodded.

    Id: Dia khawatir karena tidak ingin terlambat untuk pertemuan klub buku onlinenya.
    En: He was worried because he did not want to be late for his online book club meeting.

    Id: Waktu berlalu, dan akhirnya hujan mulai reda.
    En: Time passed, and finally, the rain began to subside.

    Id: Tanpa banyak berpikir, Budi cepat-cepat memakai sepatu yang ada di depannya dan bergegas pulang.
    En: Without much thought, Budi quickly put on the shoes in front of him and rushed home.

    Id: Intan, yang masih tertawa kecil karena kejadian hujan tiba-tiba, juga memakai sepasang sepatu yang ditinggalkan di sana.
    En: Intan, still chuckling about the sudden rain, also put on a pair of shoes left there.

    Id: Namun, langkah pertamanya terasa aneh.
    En: However, her first step felt strange.

    Id: Dia melihat ke bawah dan baru sadar bahwa dia dan Budi telah menukar sepatu.
    En: She looked down and realized that she and Budi had swapped shoes.

    Id: “Ya ampun, Budi pasti buru-buru sekali sampai tidak sadar!” katanya sambil mengikuti Budi.
    En: “Oh my, Budi must have been in such a hurry that he didn’t notice!” she said as she followed Budi.

    Id: Budi tiba di rumahnya dan segera menyalakan laptop untuk pertemuan klub buku.
    En: Budi arrived at his house and immediately turned on his laptop for the book club meeting.

    Id: Namun, baru saja dia mengucapkan salam, pintu rumahnya diketuk.
    En: However, just as he greeted everyone, there was a knock on his door.

    Id: Budi yang masih memakai headset, buru-buru membuka pintu.
    En: Budi, still wearing his headset, hurriedly opened the door.

    Id: Intan berdiri di ambang pintu sambil memegang sepasang sepatu.
    En: Intan stood at the doorway holding a pair of shoes.

    Id: “Budi, ini sepatumu. Kamu salah ambil,” kata Intan sambil tersenyum.
    En: “Budi, these are your shoes. You took the wrong pair,” said Intan with a smile.

    Id: Budi terkejut dan merasa malu.
    En: Budi was surprised and embarrassed.

    Id: Pertemuan klub buku yang sedang berlangsung membuatnya lebih gugup.
    En: The ongoing book club meeting made him even more nervous.

    Id: “Aduh, maaf Intan. Aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru karena ada pertemuan klub buku,” katanya cepat sambil mengganti sepatu.
    En: “Oh, sorry Intan. I didn't do it on purpose. I was in a hurry because of the book club meeting,” he said quickly while changing shoes.

    Id: Intan tertawa kecil, “Tidak masalah, Budi. Aku hanya ingin memastikan kamu mendapatkan sepatumu kembali.”
    En: Intan chuckled, “No problem, Budi. I just wanted to make sure you got your shoes back.”

    Id: Setelah kejadian itu, Budi sadar bahwa tidak ada salahnya berinteraksi dengan orang lain di luar rutinitasnya.
    En: After that incident, Budi realized that there was no harm in interacting with others outside of his routine.

    Id: Ketika dia kembali ke pertemuan klub bukunya, dia dengan santai memperkenalkan Intan kepada teman-teman klubnya dan bercerita tentang kekeliruan sepatu yang lucu ini.
    En: When he returned to his book club meeting, he casually introduced Intan to his club friends and shared the funny shoe mix-up story.

    Id: Intan juga belajar menghargai waktu dan situasi.
    En: Intan also learned to appreciate time and situations.

    Id: Dia dan Budi mulai sering berinteraksi dan bahkan sesekali jalan-jalan bersama di sore hari.
    En: She and Budi started interacting more often and even occasionally took walks together in the afternoons.

    Id: Ketidaksengajaan yang membawa tawa menjadi awal dari persahabatan mereka yang baru.
    En: The unintentional mix-up that brought laughter became the beginning of their new friendship.

    Id: Rumah-rumah di lingkungan mereka tetap berdiri kokoh, meski hujan terus turun sebagai tanda pergantian musim.
    En: The houses in their neighborhood remained standing strong, despite the continuous rain signaling the change of seasons.

    Id: Namun, suasana terasa lebih hangat dengan adanya tawa dan persahabatan yang baru terjalin.
    En: However, the atmosphere felt warmer with the laughter and newly formed friendship.


    Vocabulary Words:
    • dim: meredup
    • thick: tebal
    • humid: lembab
    • disciplined: disiplin
    • fixed: tetap
    • spontaneous: spontan
    • shelter: tempat berteduh
    • coincidentally: kebetulan
    • awning: awning
    • subside: reda
    • stiff: kaku
    • nodded: mengangguk
    • knock: ketukan
    • headset: headset
    • ongoing: sedang berlangsung
    • nervous: gugup
    • chuckled: tertawa kecil
    • greeted: sapa
    • realized: sadar
    • hurry: buru-buru
    • incident: kejadian
    • routine: rutinitas
    • casually: dengan santai
    • introduce: memperkenalkan
    • appreciate: menghargai
    • interaction: interaksi
    • unexpected: ketidaksengajaan
    • firm: kokoh
    • atmosphere: suasana
    • signal: tanda
    20 min
  • Dimas's Triumph: A Young Scholar's Journey to Earn Respect
    Fluent Fiction - Indonesian: Dimas's Triumph: A Young Scholar's Journey to Earn Respect
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/dimass-triumph-a-young-scholars-journey-to-earn-respect

    Story Transcript:

    Id: Di tengah hiruk-pikuk Jalan Sudirman yang selalu ramai, terdapat seorang pemuda bernama Dimas.
    En: In the midst of the bustling Sudirman Street, which is always crowded, there was a young man named Dimas.

    Id: Gemuruh klakson mobil, seruan pedagang kaki lima, dan obrolan orang-orang memenuhi udara Jakarta yang lembab di musim kemarau ini.
    En: The blare of car horns, the calls of street vendors, and the chatter of people filled the humid Jakarta air in this dry season.

    Id: Gedung pencakar langit berdiri megah, melindungi sekolah tempat Dimas belajar, yang terletak di tengah keramaian.
    En: Skyscrapers stood majestically, protecting the school where Dimas studied, nestled in the heart of the bustle.

    Id: Hari ini adalah hari pertama Dimas kembali ke sekolah setelah liburan panjang.
    En: Today was Dimas's first day back at school after a long holiday.

    Id: Meski dia tipe anak yang pendiam dan tertutup, Dimas memiliki tujuan besar.
    En: Although he was a quiet and reserved type of child, Dimas had great ambitions.

    Id: Dia ingin diakui sebagai siswa terbaik di kelasnya dan mendapatkan rasa hormat dari guru serta teman-temannya.
    En: He wanted to be recognized as the best student in his class and earn the respect of his teachers and classmates.

    Id: Tapi, tantangannya tidak mudah.
    En: But this was not an easy challenge.

    Id: Banyak teman sekelasnya yang menganggap dia aneh dan tidak peduli pada pencapaian akademiknya.
    En: Many of his classmates considered him strange and were indifferent to his academic achievements.

    Id: Ketika bel sekolah berbunyi, Dimas melangkah masuk ke gedung sekolah yang memadukan arsitektur modern dan unsur tradisional Indonesia.
    En: When the school bell rang, Dimas walked into the school building that combined modern architecture with traditional Indonesian elements.

    Id: Dimas memutuskan bahwa jalannya untuk mendapatkan pengakuan adalah melalui kompetisi sains sekolah.
    En: Dimas decided that his path to gaining recognition was through the school science competition.

    Id: Keputusannya bukanlah tanpa risikonya.
    En: His decision was not without its risks.

    Id: Dia sadar, teman-temannya mungkin saja mengejek usahanya.
    En: He knew that his friends might mock his efforts.

    Id: Tapi, tekadnya bulat.
    En: But his determination was unwavering.

    Id: Setelah berhari-hari bekerja keras, akhirnya hari kompetisi sains pun tiba.
    En: After days of hard work, the day of the science competition finally arrived.

    Id: Dimas menyiapkan presentasi proyeknya dengan hati-hati.
    En: Dimas carefully prepared his project presentation.

    Id: Saat namanya dipanggil, dia berjalan dengan gugup ke depan kelas.
    En: When his name was called, he walked nervously to the front of the class.

    Id: Kalau saja ada yang tahu betapa gugupnya dia pada saat itu.
    En: If only anyone knew how nervous he was at that moment.

    Id: Awal presentasinya berjalan lancar, sampai tiba-tiba ada masalah teknis.
    En: His presentation started smoothly, until suddenly there was a technical problem.

    Id: Layar proyektor tidak mau menyala.
    En: The projector screen wouldn’t turn on.

    Id: Seisi ruangan mulai berbisik.
    En: The whole room started whispering.

    Id: Dimas merasa panik, tapi dia mengambil napas dalam-dalam.
    En: Dimas felt panicked, but he took a deep breath.

    Id: Dia mengandalkan ingatannya dan mulai menjelaskan proyeknya tanpa bantuan layar.
    En: He relied on his memory and started explaining his project without the screen's help.

    Id: Suaranya gemetar pada awalnya, tapi semakin lama semakin mantap.
    En: His voice trembled at first, but it grew steadier over time.

    Id: Dia menjawab setiap pertanyaan dari juri dengan jelas dan meyakinkan.
    En: He answered every question from the judges clearly and convincingly.

    Id: Ketika dia selesai, ruangan sunyi sejenak sebelum akhirnya terdengar tepuk tangan yang meriah.
    En: When he finished, the room was silent for a moment before finally erupting in applause.

    Id: Teman-temannya yang biasanya mengejek, kini berdiri dan bertepuk tangan paling keras.
    En: His classmates, who usually mocked him, now stood and clapped the hardest.

    Id: Dimas terkejut dan terharu.
    En: Dimas was surprised and moved.

    Id: Dia tidak hanya berhasil mengesankan juri, tapi juga mendapatkan rasa hormat yang selama ini dia impikan.
    En: He had not only impressed the judges but also gained the respect he had long dreamed of.

    Id: Dari kejadian ini, Dimas belajar bahwa rasa hormat bukan hanya didapat dari kesuksesan, tapi juga dari ketangguhan dan kejujuran.
    En: From this experience, Dimas learned that respect is not only gained from success but also from resilience and honesty.

    Id: Dengan rasa percaya diri yang baru, Dimas melangkah keluar dari sekolah, menyatu kembali dengan keramaian Jalan Sudirman.
    En: With newfound confidence, Dimas walked out of the school, merging again with the bustle of Sudirman Street.

    Id: Langkah-langkahnya terasa lebih ringan, dan masa depan terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
    En: His steps felt lighter, and the future seemed brighter than ever before.


    Vocabulary Words:
    • amidst: di tengah
    • bustling: hiruk-pikuk
    • crowded: ramai
    • blare: gemuruh
    • humid: lembab
    • skyscrapers: gedung pencakar langit
    • majestically: megah
    • nestled: terletak
    • reserved: tertutup
    • ambitions: tujuan besar
    • respected: dihormati
    • challenge: tantangan
    • mock: mengejek
    • architecture: arsitektur
    • traditional: tradisional
    • competition: kompetisi
    • risks: risiko
    • unwavering: bulat
    • prepared: menyiapkan
    • nervously: gugup
    • technical: teknis
    • projector: proyektor
    • grows: semakin
    • convinced: meyakinkan
    • trembled: gemetar
    • applause: tepuk tangan
    • impressed: mengesankan
    • resilience: ketangguhan
    • honesty: kejujuran
    • confidence: rasa percaya diri
    17 min
  • Sibling Bonds & Business: Thriving in Tanah Abang Market
    Fluent Fiction - Indonesian: Sibling Bonds & Business: Thriving in Tanah Abang Market
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/sibling-bonds-business-thriving-in-tanah-abang-market

    Story Transcript:

    Id: Di bawah sinar terik matahari musim kemarau, Pasar Tanah Abang yang ramai penuh dengan berbagai macam aroma dan suara.
    En: Under the scorching sun of the dry season, the bustling Tanah Abang Market was filled with various aromas and sounds.

    Id: Stalls berwarna-warni berjejeran, masing-masing menjajakan barang yang berbeda, dari kain batik hingga rempah-rempah aromatik.
    En: Colorful stalls lined up, each offering different goods, from batik fabrics to aromatic spices.

    Id: Di salah satu sudut pasar, ada sebuah stall kecil milik keluarga Andi dan Rini.
    En: In one corner of the market, there was a small stall owned by the family of Andi and Rini.

    Id: Kakak beradik ini berjuang untuk menjaga agar usaha keluarganya tetap berjalan.
    En: These siblings struggled to keep their family business running.

    Id: Andi adalah kakak yang bertanggung jawab dan merasa terbebani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
    En: Andi, the responsible older brother, felt the burden of providing for the family.

    Id: Sementara Rini, adik yang penuh semangat, sering merasa tersingkirkan karena Andi cenderung tidak memberi kepercayaan padanya.
    En: Meanwhile, Rini, the energetic younger sister, often felt overlooked because Andi tended not to trust her.

    Id: Pada suatu siang yang panas, Andi duduk di bangku kecil sambil menghitung uang receh.
    En: One hot afternoon, Andi sat on a small stool, counting loose change.

    Id: "Rini, kamu bantu kakak pasang barang-barang di depan.
    En: "Rini, help me set up the items outside.

    Id: Jangan lupa berdagang dengan sopan," katanya dengan nada serius.
    En: Don't forget to sell with courtesy," he said seriously.

    Id: Rini mengangguk cepat.
    En: Rini nodded quickly.

    Id: "Baik, Kak Andi!
    En: "Okay, Brother Andi!"

    Id: "Hari itu adalah hari Raya Idul Adha.
    En: That day was Eid al-Adha.

    Id: Orang-orang banyak berbelanja untuk persiapan hari raya.
    En: Many people were shopping in preparation for the holiday.

    Id: Andi tahu ini adalah kesempatan besar untuk mendapatkan lebih banyak uang.
    En: Andi knew this was a great opportunity to make more money.

    Id: Mereka punya utang yang harus dibayar, dan hari ini harus sukses.
    En: They had debts to pay, and today had to be successful.

    Id: Rini kemudian memandang Andi.
    En: Rini then looked at Andi.

    Id: "Kak, boleh aku yang jaga stall hari ini?
    En: "Brother, can I manage the stall today?"

    Id: "Andi tampak ragu.
    En: Andi seemed hesitant.

    Id: "Kamu yakin bisa, Rin?
    En: "Are you sure you can, Rin?"

    Id: ""Ya, Kak.
    En: "Yes, Brother.

    Id: Aku sudah siapkan produk baru.
    En: I've prepared new products.

    Id: Orang pasti suka," kata Rini meyakinkan.
    En: People will love them," Rini reassured.

    Id: Akhirnya, Andi memutuskan untuk memberi kesempatan pada adiknya.
    En: Finally, Andi decided to give his sister a chance.

    Id: "Baiklah, Rin.
    En: "Alright, Rin.

    Id: Kamu yang jaga stall.
    En: You manage the stall.

    Id: Tapi kalau ada masalah, panggil kakak, ya.
    En: But if there's any problem, call me."

    Id: "Rini tersenyum lebar dan mulai mengambil alih.
    En: Rini beamed and started to take charge.

    Id: Ia memajang produk baru yang sudah disiapkan, seperti baju gamis dan peci warna-warni.
    En: She displayed the new products she had prepared, like colorful gamis dresses and peci caps.

    Id: Orang-orang mulai tertarik dan mampir ke stall mereka.
    En: People began to take interest and stopped by their stall.

    Id: Dalam waktu singkat, banyak pelanggan berdatangan.
    En: In no time, many customers flocked.

    Id: Rini tampak sibuk melayani, tersenyum dan menawarkan barang dengan penuh semangat.
    En: Rini looked busy serving them, smiling and offering goods enthusiastically.

    Id: Tapi dengan semakin banyaknya pelanggan, stall mereka mulai kewalahan.
    En: But with the increasing number of customers, their stall became overwhelmed.

    Id: Barang-barang berjatuhan, uang kembalian tercecer, dan Rini mulai panik.
    En: Items fell, change got scattered, and Rini started to panic.

    Id: Pada saat itulah Andi datang membantu.
    En: That's when Andi came to help.

    Id: Mereka berdua bekerja sama mengatur ulang stall, melayani pelanggan dengan cepat dan baik.
    En: They worked together to reorganize the stall, quickly and efficiently serving customers.

    Id: Kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil.
    En: Their hard work finally paid off.

    Id: Stall mereka penuh dengan pelanggan, dan barang-barang laku keras.
    En: Their stall was crowded with customers, and items sold like hotcakes.

    Id: Ketika malam tiba dan pasar mulai sepi, Andi melihat hasil penjualan hari itu.
    En: As night fell and the market began to quiet down, Andi looked at the day's sales results.

    Id: "Rin, kita berhasil.
    En: "Rin, we made it.

    Id: Hari ini untung besar," katanya bangga.
    En: We had a big profit today," he said proudly.

    Id: Rini yang duduk kelelahan, tersenyum lega.
    En: Rini, exhausted and seated, smiled with relief.

    Id: "Terima kasih, Kak.
    En: "Thank you, Brother.

    Id: Aku cuma ingin membantu.
    En: I just wanted to help."

    Id: "Andi menyadari kesalahan besar yang selama ini ia buat.
    En: Andi realized the big mistake he had been making.

    Id: "Maaf, Rin.
    En: "I'm sorry, Rin.

    Id: Aku seharusnya memberi kamu lebih banyak kepercayaan.
    En: I should have trusted you more.

    Id: Kamu hebat.
    En: You did great."

    Id: "Dari hari itu, Andi dan Rini menjadi tim yang lebih kuat.
    En: From that day on, Andi and Rini became a stronger team.

    Id: Andi belajar untuk lebih menghargai kontribusi adiknya, dan Rini semakin percaya diri menjalankan usaha keluarga mereka.
    En: Andi learned to appreciate his sister's contributions more, and Rini grew more confident in running their family business.

    Id: Begitu, di tengah hiruk-pikuk Pasar Tanah Abang yang tak pernah tidur, dua saudara ini terus bekerja keras bersama, menjaga impian keluarga mereka tetap hidup.
    En: And so, amidst the never-sleeping hustle and bustle of Tanah Abang Market, these two siblings continued to work hard together, keeping their family dream alive.


    Vocabulary Words:
    • scorching: terik
    • season: musim
    • bustling: ramai
    • aromas: aroma
    • stalls: stall
    • lined up: berjejeran
    • offering: menjajakan
    • different: berbeda
    • fabrics: kain
    • spices: rempah-rempah
    • siblings: kakak beradik
    • struggled: berjuang
    • responsible: bertanggung jawab
    • burden: terbebani
    • providing: memenuhi
    • overlooked: tersingkirkan
    • courtesy: sopan
    • preparation: persiapan
    • opportunity: kesempatan
    • hesitant: ragu
    • reassured: meyakinkan
    • beamed: tersenyum lebar
    • displayed: memajang
    • caps: peci
    • flocked: berdatangan
    • scattered: tercecer
    • panic: panik
    • reorganize: mengatur ulang
    • efficiently: baik
    • paid off: membuahkan hasil
    20 min
  • Homecoming in Bali: A Tale of Family and Forgiveness
    Fluent Fiction - Indonesian: Homecoming in Bali: A Tale of Family and Forgiveness
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/homecoming-in-bali-a-tale-of-family-and-forgiveness

    Story Transcript:

    Id: Matahari pagi mulai naik di langit biru Bali.
    En: The morning sun began to rise in the blue sky of Bali.

    Id: Angin pantai mengayun lembut penjor yang berdiri di sekitar pura pinggir pantai.
    En: The beach wind gently swayed the penjor standing around the temple by the shore.

    Id: Galungan tiba dan aroma dupa memenuhi udara bersama suara ombak yang tenang.
    En: Galungan had arrived, and the scent of incense filled the air along with the sound of calm waves.

    Id: Di antara keramaian, Riani berdiri di tepi pura, merasa terharu dengan pemandangan ini.
    En: Amid the hustle and bustle, Riani stood at the edge of the temple, moved by the scenery.

    Id: Riani adalah seorang seniman sukses yang telah lama meninggalkan desa kelahirannya.
    En: Riani was a successful artist who had long left her hometown.

    Id: Hari ini, ia pulang untuk merayakan Galungan bersama keluarganya.
    En: Today, she returned to celebrate Galungan with her family.

    Id: Namun, perasaan rindu bercampur dengan kecemasan.
    En: However, her longing was mixed with anxiety.

    Id: Ia merindukan keluarganya, tapi tidak bisa melupakan kenangan pahit saat meninggalkan rumah dulu.
    En: She missed her family but could not forget the bitter memories of leaving home.

    Id: Bintang, adik Riani, adalah seorang nelayan.
    En: Bintang, Riani's younger brother, was a fisherman.

    Id: Ia berdiri agak jauh dari Riani, matanya penuh kebencian.
    En: He stood a bit farther away from Riani, his eyes full of resentment.

    Id: Bintang merasa ditinggalkan.
    En: Bintang felt abandoned.

    Id: Setiap kali ia memandang lautan, ia ingat saat-saat mereka kecil bermain di pantai bersama.
    En: Every time he looked at the ocean, he remembered the times they played on the beach together as kids.

    Id: Ketika keluarga berkumpul di pura untuk berdoa, Riani memutuskan untuk ikut serta.
    En: When the family gathered at the temple to pray, Riani decided to join in.

    Id: Ia ingin menunjukkan niat baiknya untuk kembali menjadi bagian dari keluarga.
    En: She wanted to show her good intentions to become part of the family again.

    Id: Tapi, Bintang hanya berdiri kaku, tidak ingin mendekat.
    En: But, Bintang just stood stiffly, unwilling to approach.

    Id: "Riani, apa yang kamu lakukan di sini?
    En: "Riani, what are you doing here?"

    Id: " tanya Bintang dengan suara dingin saat mereka selesai berdoa.
    En: asked Bintang coldly after they finished praying.

    Id: "Aku pulang, Bintang.
    En: "I'm home, Bintang.

    Id: Aku ingin merayakan Galungan bersama kalian," jawab Riani lembut.
    En: I want to celebrate Galungan with you all," Riani replied softly.

    Id: "Kamu meninggalkan kami.
    En: "You left us.

    Id: Kamu tidak pernah peduli!
    En: You never cared!"

    Id: " kata Bintang keras.
    En: Bintang shouted.

    Id: Beberapa orang menoleh, tapi Riani hanya menunduk.
    En: A few people turned to look, but Riani just bowed her head.

    Id: "Aku.
    En: "I...

    Id: aku minta maaf.
    En: I'm sorry.

    Id: Aku juga punya masalahku sendiri.
    En: I had my own problems too.

    Id: Aku tidak tahu bagaimana harus kembali," jawab Riani dengan suara penuh kesedihan.
    En: I didn't know how to come back," Riani answered with a voice full of sadness.

    Id: Bintang terkejut mendengar kata-kata itu.
    En: Bintang was shocked to hear those words.

    Id: Ia tidak pernah membayangkan bahwa Riani juga mengalami perasaan sulit.
    En: He had never imagined that Riani also had tough feelings.

    Id: Perlahan, hatinya mulai melunak.
    En: Slowly, his heart began to soften.

    Id: Mereka duduk di tepi pantai, mengingat kembali permainan masa kecil mereka.
    En: They sat by the beach, reminiscing about their childhood games.

    Id: Riani bercerita tentang kesulitannya hidup di kota besar, sementara Bintang berbagi perasaannya tentang tanggung jawab sebagai nelayan keluarga.
    En: Riani told stories about her challenges in the big city, while Bintang shared his feelings about the responsibilities as the family's fisherman.

    Id: "Maaf, Riani.
    En: "Sorry, Riani.

    Id: Aku pikir kamu melupakan kami," kata Bintang dengan suara rendah.
    En: I thought you had forgotten us," Bintang said in a low voice.

    Id: "Aku tidak pernah melupakan kalian, Bintang.
    En: "I never forgot you all, Bintang.

    Id: Aku hanya mencoba mencari jalan untuk kembali.
    En: I was just trying to find a way to return.

    Id: Kita adalah keluarga.
    En: We are family.

    Id: Aku butuh kalian seperti kalian butuh aku," jawab Riani sambil menggenggam tangan adiknya.
    En: I need you just as much as you need me," Riani replied, holding her brother's hand.

    Id: Angin pantai menerpa wajah mereka, membawa rasa damai.
    En: The beach wind touched their faces, bringing a sense of peace.

    Id: Bintang dan Riani saling tersenyum, merasakan kehangatan yang hilang bertahun-tahun.
    En: Bintang and Riani smiled at each other, feeling the warmth that had been missing for years.

    Id: "Selamat datang kembali, Kak Riani," kata Bintang akhirnya, hatinya dipenuhi kebahagiaan.
    En: "Welcome back, Sister Riani," Bintang finally said, his heart filled with joy.

    Id: Hari itu, di antara penjor dan dupa, di bawah langit cerah Bali, Riani dan Bintang menemukan kembali makna keluarga.
    En: That day, among the penjor and incense, under the bright Balinese sky, Riani and Bintang rediscovered the meaning of family.

    Id: Mereka sadar, betapapun jauh mereka berjalan, rumah dan keluarga selalu menjadi tempat mereka kembali.
    En: They realized that no matter how far they wandered, home and family would always be the place to return to.


    Vocabulary Words:
    • shore: pinggir pantai
    • hustle: keramaian
    • successful: sukses
    • longing: rindu
    • bitterness: kenangan pahit
    • resentment: kebencian
    • abandoned: ditinggalkan
    • intention: niat
    • stiffly: kaku
    • bowed: menunduk
    • tough: sulit
    • reminiscing: mengingat kembali
    • challenges: kesulitan
    • responsibilities: tanggung jawab
    • soften: melunak
    • peace: damai
    • wandered: berjalan
    • swayed: mengayun
    • filled: memenuhi
    • scent: aroma
    • calm: tenang
    • scene: pemandangan
    • returned: pulang
    • farther: agak jauh
    • coldly: dengan suara dingin
    • softly: lembut
    • shouted: kata keras
    • head: menunduk
    • imagine: membayangkan
    • childhood: masa kecil
    19 min
  • A Sacred Bond: Ardi and Kamila’s Journey at Borobudur
    Fluent Fiction - Indonesian: A Sacred Bond: Ardi and Kamila’s Journey at Borobudur
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/a-sacred-bond-ardi-and-kamilas-journey-at-borobudur

    Story Transcript:

    Id: Matahari pagi di Borobudur memancar terang.
    En: The morning sun in Borobudur shone brightly.

    Id: Udara kering dan sejuk, khas musim kemarau di bulan Juli.
    En: The air was dry and cool, typical of the dry season in July.

    Id: Ardi dan Kamila berjalan perlahan menuju candi.
    En: Ardi and Kamila walked slowly toward the temple.

    Id: Ardi ingin membuat hari ini menjadi hari yang istimewa.
    En: Ardi wanted to make today a special day.

    Id: "Ayo, Kamila!
    En: "Come on, Kamila!

    Id: Kita akan melihat pemandangan dari puncak," kata Ardi sambil tersenyum lebar.
    En: We'll see the view from the top," said Ardi with a wide smile.

    Id: Kamila mengangguk, matanya berbinar antusias.
    En: Kamila nodded, her eyes sparkling with enthusiasm.

    Id: Mereka berdua sudah lama merencanakan kunjungan ini.
    En: They had been planning this visit for a long time.

    Id: Borobudur dengan relief-reliefnya terasa seperti dunia lain.
    En: Borobudur, with its reliefs, felt like another world.

    Id: Saat mereka mulai menaiki tangga, Ardi merasakan pusing.
    En: As they began to climb the stairs, Ardi started to feel dizzy.

    Id: Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
    En: His heart was beating faster than usual.

    Id: "Ini pasti karena ketinggian," pikirnya, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman.
    En: "This must be because of the height," he thought, trying to ignore the discomfort.

    Id: Ia tidak ingin Kamila melihatnya lemah.
    En: He didn't want Kamila to see him weak.

    Id: Di puncak candi, pemandangan sangat menakjubkan.
    En: At the top of the temple, the view was stunning.

    Id: Kamila tak berhenti mengambil foto, sementara Ardi berdiri tegak, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.
    En: Kamila didn't stop taking pictures, while Ardi stood upright, though cold sweat began to bead on his forehead.

    Id: "Ardi, lihat betapa indahnya di sini!
    En: "Ardi, look how beautiful it is here!"

    Id: " seru Kamila, tapi pandangannya tiba-tiba teralih pada wajah Ardi yang pucat.
    En: exclaimed Kamila, but her gaze suddenly shifted to Ardi's pale face.

    Id: "Ardi, kamu baik-baik saja?
    En: "Ardi, are you okay?"

    Id: "Ardi mengangguk lemah, senyumnya dipaksakan.
    En: Ardi nodded weakly, forcing a smile.

    Id: "Aku baik-baik saja, Kamila.
    En: "I'm okay, Kamila.

    Id: Ayo, kita lanjutkan berjalan.
    En: Let's continue walking."

    Id: " Namun, setiap langkah terasa semakin berat.
    En: However, each step felt heavier.

    Id: Lalu tiba-tiba, dunia di sekitarnya berputar dan gelap.
    En: Then suddenly, the world around him spun and went dark.

    Id: Kamila cepat bereaksi.
    En: Kamila reacted quickly.

    Id: "Ardi!
    En: "Ardi!"

    Id: " Dia memegangi Ardi yang hampir jatuh.
    En: She held Ardi who nearly fell.

    Id: "Kamu pasti tidak sehat.
    En: "You must be unwell.

    Id: Kita harus ke bawah dan cari bantuan.
    En: We need to go down and find help."

    Id: " Ardi, dengan napas terengah-engah, akhirnya mengangguk.
    En: Ardi, panting, finally nodded.

    Id: Mereka perlahan turun, Kamila dengan cemas mendampingi setiap langkah.
    En: They descended slowly, with Kamila anxiously supporting every step.

    Id: Di bawah, Kamila dengan sigap meminta petugas candi untuk membantu.
    En: At the bottom, Kamila swiftly asked the temple staff for help.

    Id: Tak lama kemudian, Ardi dibaringkan di sebuah kursi sambil diperiksa oleh tim medis.
    En: Shortly thereafter, Ardi was laid on a chair while being examined by the medical team.

    Id: "Kamu seharusnya memberitahuku," kata Kamila, suaranya lembut tapi tegas.
    En: "You should have told me," Kamila said, her voice soft but firm.

    Id: Ardi menatap Kamila dengan rasa bersalah.
    En: Ardi looked at Kamila with guilt.

    Id: "Maaf, aku tidak ingin kamu khawatir.
    En: "I'm sorry, I didn't want you to worry.

    Id: Aku ingin hari ini sempurna.
    En: I wanted today to be perfect."

    Id: "Kamila tersenyum tipis dan menggenggam tangannya.
    En: Kamila smiled faintly and held his hand.

    Id: "Ardi, aku lebih khawatir jika kamu tidak jujur.
    En: "Ardi, I'd be more worried if you're not honest.

    Id: Kesehatanmu lebih penting dari apapun.
    En: Your health is more important than anything."

    Id: "Beberapa jam kemudian, setelah mendapatkan perawatan, Ardi mulai merasa lebih baik.
    En: A few hours later, after receiving treatment, Ardi began to feel better.

    Id: Ia duduk di samping Kamila yang duduk sambil memandang relief-relief candi dengan penuh minat.
    En: He sat next to Kamila, who was gazing at the temple's reliefs with interest.

    Id: "Terima kasih, Kamila," kata Ardi pelan.
    En: "Thank you, Kamila," said Ardi softly.

    Id: Kamila menoleh dan tersenyum lembut.
    En: Kamila turned and smiled gently.

    Id: "Tidak perlu terima kasih.
    En: "No need to thank me.

    Id: Kita akan selalu saling mendukung, ya?
    En: We will always support each other, right?"

    Id: "Ardi mengangguk, merasa hangat di hatinya.
    En: Ardi nodded, feeling warm inside.

    Id: Kali ini, ia merasa lebih kuat karena ketulusan Kamila.
    En: This time, he felt stronger because of Kamila’s sincerity.

    Id: "Ya, kita akan selalu bersama," jawabnya.
    En: "Yes, we will always be together," he replied.

    Id: Dalam momen itu, hubungan mereka semakin erat, menghargai keberanian dan ketulusan di antara mereka.
    En: In that moment, their relationship grew stronger, appreciating each other's courage and sincerity.

    Id: Borobudur tetap berdiri megah, tetapi kini bagi Ardi dan Kamila, candi itu menjadi simbol dari apa yang telah mereka lalui dan bagaimana mereka lebih menghargai satu sama lain.
    En: Borobudur remained majestic, but now, for Ardi and Kamila, the temple symbolized what they had gone through and how they valued each other more.


    Vocabulary Words:
    • shone: memancar
    • dry: kering
    • cool: sejuk
    • typical: khas
    • enthusiasm: antusias
    • reliefs: relief-reliefnya
    • height: ketinggian
    • discomfort: rasa tidak nyaman
    • stunning: menakjubkan
    • cold sweat: keringat dingin
    • pale: pucat
    • weakly: lemah
    • panting: napas terengah-engah
    • swiftly: dengan sigap
    • examined: diperiksa
    • guilt: rasa bersalah
    • perfect: sempurna
    • gently: lembut
    • sincerity: ketulusan
    • majestic: berdiri megah
    • appreciating: menghargai
    • courage: keberanian
    • slowly: perlahan
    • climb: menaiki
    • view: pemandangan
    • chair: kursi
    • support: mendukung
    • interest: penuh minat
    • spin: berputar
    • dark: gelap
    20 min
  • Finding Serenity in Chaos: An Artist's Journey in Forsyth Park
    Fluent Fiction - Indonesian: Finding Serenity in Chaos: An Artist's Journey in Forsyth Park
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/finding-serenity-in-chaos-an-artists-journey-in-forsyth-park

    Story Transcript:

    Id: Matahari musim panas bersinar terang di Forsyth Park, Savannah.
    En: The summer sun shone brightly in Forsyth Park, Savannah.

    Id: Dewi, seorang seniman dari Indonesia, berjalan perlahan.
    En: Dewi, an artist from Indonesia, walked slowly.

    Id: Dia melihat sekitar dengan rasa kagum dan rasa sedikit cemas.
    En: She looked around with a sense of awe and a little anxiety.

    Id: Taman ini terkenal dengan air mancur ikoniknya, pohon-pohon oak besar dengan lumut Spanyol yang menggantung, dan berbagai jalur yang tersembunyi.
    En: The park is famous for its iconic fountain, large oak trees with hanging Spanish moss, and various hidden pathways.

    Id: Dewi sedang mencari inspirasi.
    En: Dewi was searching for inspiration.

    Id: Dia telah merencanakan perjalanan ini untuk menemukan semangat baru dalam seni lukisnya.
    En: She had planned this trip to find new spirit in her painting.

    Id: Namun, dia merasa ragu dengan talentanya.
    En: However, she doubted her talent.

    Id: Apakah dia masih bisa menciptakan karya yang bagus?
    En: Could she still create good works?

    Id: Pikiran itu terus menyelimuti pikirannya.
    En: That thought kept clouding her mind.

    Id: Saat tiba di taman, Dewi merasa agak terganggu dengan keramaian dan kebisingan.
    En: Upon arriving at the park, Dewi felt somewhat disturbed by the crowd and noise.

    Id: Orang-orang tertawa, anak-anak berlari-lari, dan musik dari beberapa pengamen terdengar di berbagai sudut taman.
    En: People were laughing, children were running around, and music from several street performers echoed in various corners of the park.

    Id: "Bagaimana aku bisa berkonsentrasi di tempat seramai ini?
    En: "How can I concentrate in such a crowded place?"

    Id: " pikir Dewi.
    En: Dewi thought.

    Id: Dewi memutuskan untuk masuk lebih dalam ke taman, mencari sudut yang lebih tenang.
    En: Dewi decided to venture deeper into the park, looking for a quieter corner.

    Id: Dia berjalan mengikuti jalur setapak yang lebih sepi, berharap menemukan kedamaian yang dia cari.
    En: She walked along a more secluded path, hoping to find the peace she sought.

    Id: Langkahnya membawa dia semakin jauh, hingga dia menemukan sebuah kebun kecil yang hampir tersembunyi.
    En: Her steps took her further until she found a small almost hidden garden.

    Id: Di kebun itu, bunga-bunga berwarna-warni mekar dengan indah.
    En: In the garden, colorful flowers bloomed beautifully.

    Id: Ada patung-patung kecil yang unik dan menarik.
    En: There were small statues that were unique and intriguing.

    Id: Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya, memberikan rasa nyaman yang menenangkan.
    En: A gentle breeze swept across her face, providing a comforting sense of calm.

    Id: Dengan penuh rasa takjub, Dewi merasa seakan energi kreatif menghampirinya secara mendadak.
    En: In awe, Dewi felt as if creative energy suddenly enveloped her.

    Id: Di sini, jauh dari keramaian, dia merasakan kedamaian dan inspirasi yang dia cari.
    En: Here, away from the crowd, she found the peace and inspiration she sought.

    Id: Dewi duduk di bangku tua yang ada di kebun itu.
    En: Dewi sat on an old bench in the garden.

    Id: Dia mengeluarkan buku sketsa dan mulai menggambar.
    En: She took out her sketchbook and began to draw.

    Id: Tangan dan pikirannya bekerja dengan cepat.
    En: Her hands and mind worked quickly.

    Id: Ide-ide baru mengalir deras, mengalir tanpa henti.
    En: New ideas flowed abundantly, unceasingly.

    Id: Dia membayangkan serangkaian lukisan yang dipenuhi warna dan kehidupan.
    En: She imagined a series of paintings filled with color and life.

    Id: Setelah beberapa saat, Dewi merasa sangat bersemangat.
    En: After a while, Dewi felt very enthusiastic.

    Id: Dia memutuskan untuk memperpanjang tinggalnya di Savannah.
    En: She decided to extend her stay in Savannah.

    Id: Dia ingin mengeksplorasi lebih banyak dan mengembangkan ide-ide ini sepenuhnya.
    En: She wanted to explore more and fully develop these ideas.

    Id: Perasaan cemas dan ragu mulai menghilang, digantikan dengan rasa percaya diri yang baru.
    En: The feelings of anxiety and doubt began to dissipate, replaced by a newfound confidence.

    Id: Dewi sekarang tahu bahwa inspirasi bisa datang dari tempat yang tak terduga.
    En: Dewi now knew that inspiration could come from unexpected places.

    Id: Perjalanannya tidak lagi terasa menakutkan, tetapi penuh dengan kemungkinan-kemungkinan baru.
    En: Her journey no longer felt frightening but was filled with new possibilities.

    Id: Sambil menatap taman yang indah itu, Dewi tersenyum.
    En: As she gazed at the beautiful park, Dewi smiled.

    Id: Dia siap untuk melanjutkan perjalanan kreatifnya, dengan semangat yang menyala-nyala.
    En: She was ready to continue her creative journey, with a burning spirit.


    Vocabulary Words:
    • shone: bersinar
    • awe: kagum
    • anxiety: cemas
    • iconic: ikonik
    • oak: oak
    • moss: lumut
    • pathways: jalur
    • inspiration: inspirasi
    • talent: talenta
    • clouding: menyelimuti
    • disturbed: terganggu
    • crowd: keramaian
    • noisy: kebisingan
    • venture: masuk
    • secluded: sepi
    • bloomed: mekar
    • statues: patung-patung
    • intriguing: menarik
    • breeze: angin sepoi-sepoi
    • enveloped: menghampirinya
    • sketchbook: buku sketsa
    • draw: menggambar
    • abundantly: deras
    • ceased: mengalir tanpa henti
    • enthusiastic: bersemangat
    • extend: memperpanjang
    • explore: mengeksplorasi
    • dissipate: menghilang
    • confidence: percaya diri
    • possibilities: kemungkinan-kemungkinan
    17 min
  • Rising Above: Dewi's Journey to Self-Confidence and Success
    Fluent Fiction - Indonesian: Rising Above: Dewi's Journey to Self-Confidence and Success
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/rising-above-dewis-journey-to-self-confidence-and-success

    Story Transcript:

    Id: Di tengah perbukitan hijau di Bogor, lanjut kamp pelatihan terletak dengan megah.
    En: Amid the green hills of Bogor, a grand training camp stood tall.

    Id: Suasana hening dan tenang, hanya suara jangkrik yang menggaung di malam hari.
    En: The atmosphere was serene and quiet, with only the sound of crickets echoing at night.

    Id: Udara kering dan sejuk, khas musim kemarau di Indonesia.
    En: The air was dry and cool, typical of the dry season in Indonesia.

    Id: Di salah satu ruang kelas, Dewi duduk dengan penuh fokus.
    En: In one of the classrooms, Dewi sat with full concentration.

    Id: Buku-buku tebal terbuka di depannya.
    En: Thick books lay open in front of her.

    Id: Dewi adalah seorang murid yang rajin dan tekun.
    En: Dewi was a diligent and hardworking student.

    Id: Namun, dia sering merasa tertinggal oleh teman-temannya yang lebih ekstrover.
    En: However, she often felt left behind by her more extroverted friends.

    Id: Meski terlihat tenang di luar, Dewi menyimpan keraguan pada dirinya sendiri.
    En: Though she appeared calm on the outside, Dewi harbored self-doubt.

    Id: Dia ingin sekali membuktikan bahwa dia mampu berprestasi di kompetisi akademik yang akan datang.
    En: She desperately wanted to prove that she could excel in the upcoming academic competition.

    Id: Setiap pagi, Dewi bangun lebih awal dari teman-temannya.
    En: Every morning, Dewi woke up earlier than her friends.

    Id: Dia mengambil waktu lebih banyak untuk belajar.
    En: She took extra time to study.

    Id: Tetapi, ada satu murid yang selalu membuatnya merasa kecil, yaitu Andi.
    En: However, there was one student who always made her feel small, and that was Andi.

    Id: Andi cerdas, namun suka meremehkan Dewi.
    En: Andi was smart, but he liked to belittle Dewi.

    Id: “Apakah kamu yakin bisa jawab soal ini?” tanya Andi dengan nada merendahkan.
    En: “Are you sure you can answer this question?” Andi asked condescendingly.

    Id: Dewi merasakan sesak di dadanya.
    En: Dewi felt a tightness in her chest.

    Id: Namun, dia bertekad.
    En: However, she was determined.

    Id: Dia menulis catatan tambahan dan bahkan bertanya pada seorang mentor yang dia kagumi, Pak Ahmad.
    En: She wrote additional notes and even asked for guidance from a mentor she admired, Mr. Ahmad.

    Id: Pak Ahmad selalu memberikan dukungan dan petunjuk yang jelas.
    En: Mr. Ahmad always provided support and clear guidance.

    Id: “Percaya diri adalah kunci,” ujar Pak Ahmad sambil tersenyum.
    En: “Confidence is key,” Mr. Ahmad said with a smile.

    Id: Hari-hari berlalu dengan cepat.
    En: The days passed quickly.

    Id: Suatu malam, saat sesi persiapan terakhir, Dewi berdiri di depan kelas.
    En: One night, during the final preparation session, Dewi stood in front of the class.

    Id: Andi dan murid lain menatapnya.
    En: Andi and the other students stared at her.

    Id: Pertanyaan sulit dilemparkan.
    En: A difficult question was thrown at her.

    Id: Dewi menarik napas panjang.
    En: Dewi took a deep breath.

    Id: Dengan tenang, dia mulai menjelaskan jawabannya.
    En: Calmly, she began to explain her answer.

    Id: Suasana hening.
    En: The atmosphere was silent.

    Id: Semua murid terdiam.
    En: All the students were speechless.

    Id: Setelah Dewi selesai menjawab, kelas meledak dengan tepuk tangan.
    En: After Dewi finished answering, the class erupted in applause.

    Id: Dewi terkejut, namun tersenyum lebar.
    En: Dewi was surprised but smiled broadly.

    Id: Untuk pertama kalinya, dia merasakan kepercayaan diri yang meluap.
    En: For the first time, she felt a surge of confidence.

    Id: Dia menyadari bahwa dia bisa.
    En: She realized that she could do it.

    Id: Teman-temannya, termasuk Andi, menunjukkan rasa hormat dan kekaguman.
    En: Her friends, including Andi, showed respect and admiration.

    Id: Dengan hati yang penuh keyakinan, Dewi melangkah keluar dari ruangan.
    En: With a heart full of conviction, Dewi stepped out of the room.

    Id: Dia sudah tidak sabar menghadapi kompetisi yang sebenarnya.
    En: She couldn't wait to face the actual competition.

    Id: Berkat ketekunan dan dukungan dari Pak Ahmad, Dewi sudah siap.
    En: Thanks to her perseverance and Mr. Ahmad's support, Dewi was ready.

    Id: Dari malam itu, Dewi tidak lagi takut pada keraguannya.
    En: From that night on, Dewi was no longer afraid of her doubts.

    Id: Dia tahu dia mampu.
    En: She knew she was capable.

    Id: Dia belajar bahwa percaya pada diri sendiri lebih penting dari pengakuan orang lain.
    En: She learned that believing in oneself is more important than seeking recognition from others.

    Id: Dewi kini menjadi lebih percaya diri dan siap menghadapi masa depan dengan kepala tegak.
    En: Dewi now became more confident and ready to face the future with her head held high.


    Vocabulary Words:
    • grand: megah
    • serene: hening
    • typical: khas
    • diligent: rajin
    • extroverted: ekstrover
    • self-doubt: keraguan pada diri sendiri
    • desperately: ingin sekali
    • prove: membuktikan
    • excel: berprestasi
    • belittle: meremehkan
    • condescendingly: dengan nada merendahkan
    • tightness: sesak
    • determined: bertekad
    • guidance: petunjuk
    • admired: dikagumi
    • preparation: persiapan
    • erupted: meledak
    • surge: meluap
    • conviction: keyakinan
    • perseverance: ketekunan
    • confidence: percaya diri
    • recognition: pengakuan
    • capable: mampu
    • support: dukungan
    • atmosphere: suasana
    • echoing: menggaung
    • concentration: fokus
    • mentor: mentor
    • competition: kompetisi
    • pride: kebanggaan
    17 min
  • Rediscovering Hope: Dewi's Journey Through Taman Sari's Memories
    Fluent Fiction - Indonesian: Rediscovering Hope: Dewi's Journey Through Taman Sari's Memories
    Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
    fluentfiction.org/rediscovering-hope-dewis-journey-through-taman-saris-memories

    Story Transcript:

    Id: Matahari bersinar cerah di langit Yogyakarta.
    En: The sun shone brightly in the sky of Yogyakarta.

    Id: Dewi berjalan perlahan di antara bangunan kuno Taman Sari.
    En: Dewi walked slowly among the ancient buildings of Taman Sari.

    Id: Tiket masuk sudah di tangan, dan hatinya berdebar-debar.
    En: With the entrance ticket in hand, her heart was pounding.

    Id: Dia merasa gugup, tapi juga semangat.
    En: She felt nervous but also excited.

    Id: Taman Sari adalah tempat kenangan.
    En: Taman Sari was a place of memories.

    Id: Di sini, dia bermain bersama teman-temannya dulu.
    En: Here, she used to play with her friends.

    Id: Tapi sekarang dia sendirian, tanpa mereka.
    En: But now she was alone, without them.

    Id: Suasana Taman Sari begitu indah.
    En: The atmosphere of Taman Sari was so beautiful.

    Id: Air jernih mengalir di kolam, dan bunga-bunga bermekaran di sekitar taman.
    En: Clear water flowed in the pond, and flowers bloomed around the garden.

    Id: Arsitektur bangunan terbuat dari batu yang dipahat dengan indah.
    En: The architecture was made of beautifully carved stone.

    Id: Dewi berkeliling, menikmati keindahan sekitarnya.
    En: Dewi walked around, enjoying the surrounding beauty.

    Id: Hatinya terbawa kembali pada masa kecil yang bahagia.
    En: Her heart was carried back to her happy childhood.

    Id: Namun, benaknya tak dapat menolak kenangan sedih yang datang bersamaan.
    En: However, her mind could not resist the sad memories that came along.

    Id: Musim kemarau membuat udara kering.
    En: The dry season made the air arid.

    Id: Saat itu, Dewi merasakan kerinduan mendalam akan orang-orang yang dia cintai.
    En: At that moment, Dewi felt a deep longing for the people she loved.

    Id: Eid al-Adha segera tiba, dan dia merasa ada sesuatu yang hilang.
    En: Eid al-Adha was approaching, and she felt something was missing.

    Id: Keluarga.
    En: Family.

    Id: Kebersamaan.
    En: Togetherness.

    Id: Tapi, dia tahu harus menghadapi perasaan ini.
    En: But, she knew she had to face these feelings.

    Id: Dewi duduk di dekat kolam dan menutup matanya.
    En: Dewi sat near the pond and closed her eyes.

    Id: Air yang tenang memberikan rasa tenteram.
    En: The calm water provided a sense of tranquility.

    Id: “Apakah aku harus melepaskan semua ini?
    En: "Do I have to let go of all this?"

    Id: ” pikirnya.
    En: she thought.

    Id: Dia pun ingat, ini adalah waktu untuk memaafkan.
    En: She then remembered, this was a time for forgiveness.

    Id: Memaafkan dirinya sendiri, juga masa lalunya.
    En: Forgiving herself, as well as her past.

    Id: Esok paginya, Dewi memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan Eid al-Adha di masjid terdekat.
    En: The next morning, Dewi decided to participate in the Eid al-Adha activities at the nearby mosque.

    Id: Dia berharap mungkin, melalui partisipasi ini, dia akan menemukan jalan menuju penyembuhan.
    En: She hoped that maybe, through this participation, she would find a path towards healing.

    Id: Di tengah keramaian, suara takbir yang bergema menguatkan hatinya.
    En: Amidst the crowd, the echoing sound of takbir strengthened her heart.

    Id: Dewi berdiri di antara orang-orang yang tidak dia kenal, tapi merasakan kebersamaan mereka.
    En: Dewi stood among people she didn't know, but she felt their togetherness.

    Id: Saat prosesi qurban dimulai, Dewi terkejut melihat seseorang yang sangat dia kenal dari jauh.
    En: As the qurban ceremony began, Dewi was surprised to see someone she knew very well from afar.

    Id: Itu Rahmat, teman lama keluarganya.
    En: It was Rahmat, an old family friend.

    Id: Mereka pernah dekat, keluarganya sering mengundang Rahmat dan keluarganya untuk makan bersama.
    En: They had once been close, her family often invited Rahmat and his family to dinner.

    Id: Rahmat melihat Dewi dan tersenyum.
    En: Rahmat saw Dewi and smiled.

    Id: Mereka mendekat dan saling menyapa.
    En: They approached and greeted each other.

    Id: "Saya tidak menyangka akan bertemu kamu di sini," kata Rahmat.
    En: "I didn't expect to see you here," said Rahmat.

    Id: Dewi tersenyum kecil.
    En: Dewi gave a small smile.

    Id: "Aku juga tidak menyangka," jawabnya.
    En: "Neither did I," she replied.

    Id: Mereka berbicara panjang lebar tentang masa lalu.
    En: They spoke at length about the past.

    Id: Rahmat dengan bijaksana membantu Dewi melihat kenangan dengan cara yang baru.
    En: With wisdom, Rahmat helped Dewi see her memories in a new way.

    Id: Dia menekankan pentingnya setiap momen, bahwa kenangan itu bukan beban, tapi kekayaan.
    En: He emphasized the importance of every moment, that memories are not burdens but riches.

    Id: Dewi merasa hatinya mulai terang.
    En: Dewi felt her heart begin to brighten.

    Id: Melalui kata-kata dan kehadiran Rahmat, perlahan rasa sakit itu berkurang.
    En: Through Rahmat's words and presence, the pain slowly diminished.

    Id: Setelah semuanya usai, Dewi dan Rahmat berjalan bersama ke luar.
    En: After everything was over, Dewi and Rahmat walked out together.

    Id: Matahari mulai terbenam, memancarkan sinar merah muda di langit.
    En: The sun began to set, casting pink hues across the sky.

    Id: “Aku merasa lebih baik sekarang,” kata Dewi.
    En: "I feel better now," said Dewi.

    Id: “Terima kasih sudah membantu aku melihat dengan cara yang baru.
    En: "Thank you for helping me see in a new way."

    Id: ”Rahmat tersenyum hangat.
    En: Rahmat smiled warmly.

    Id: “Kenanganmu adalah bagian dari siapa kamu, Dewi.
    En: "Your memories are a part of who you are, Dewi.

    Id: Tapi jangan biarkan mereka menghentikan langkahmu,” kata Rahmat.
    En: But don't let them stop you from moving forward," said Rahmat.

    Id: Dewi mengangguk.
    En: Dewi nodded.

    Id: Dia merasa lebih damai.
    En: She felt more at peace.

    Id: Kenangan masa lalu akan selalu di sana, tapi dia siap untuk maju.
    En: Past memories would always be there, but she was ready to move forward.

    Id: Dewi pun menatap masa depan dengan harapan baru.
    En: Dewi looked to the future with renewed hope.

    Id: Setiap langkah di Taman Sari adalah langkah menuju penerimaan dan kedamaian.
    En: Every step in Taman Sari was a step towards acceptance and peace.

    Id: Di tempat penuh sejarah ini, dia menemukan kekuatan untuk memulai kembali.
    En: In this place full of history, she found the strength to start anew.


    Vocabulary Words:
    • shone: bersinar
    • brightly: cerah
    • ancient: kuno
    • memories: kenangan
    • pounding: berdebar-debar
    • arid: kering
    • longing: kerinduan
    • bloomed: bermekaran
    • tranquility: tenteram
    • forgiveness: memaafkan
    • participate: ikut serta
    • echoing: bergema
    • strengthened: menguatkan
    • togetherness: kebersamaan
    • situation: keadaan
    • healing: penyembuhan
    • approaching: mendekat
    • farewell: perpisahan
    • calm: tenang
    • enlightened: tercerahkan
    • presence: kehadiran
    • reflection: refleksi
    • prosperous: sejahtera
    • cherished: disayangi
    • gradual: bertahap
    • radiant: bercahaya
    • optimistic: optimis
    • transcend: melampaui
    • ephemeral: sementara
    • persist: terus berlanjut
    21 min

About FluentFiction - Indonesian

From the publisher's feed

Are you ready to supercharge your Indonesian listening comprehension?

Our podcast is the perfect tool for you. Studies show that the key to mastering a second language is through repetition…