
Sign up to save your podcasts
Or


Kompetisi itu bagus, baik untuk perekonomian, maupun individual. Jika kalian googling quote tentang kompetisi, hampir semuanya quotenya bernuansa bagus. Namun entah mengapa, kompetisi sekarang makin tidak menyehatkan. Selain karena, insentifnya yang tidak ada, hal yang dikompetisi pun tidak jelas dan tidak pada tempatnya. Kompetisi yang seharusnya menyehatkan, namun dapat berujung 'mematikan'. Apa sih sebenarnya yang memicu kompetisi? Dan bagaimana cara menghindari dan menyiasati kompetisi-kompetisi tidak perlu dalam bersosialisasi?
Mengapa di tengah tingginya kegagalan usaha, masih banyak orang yang memilih untuk membuka usaha dibandingkan bekerja sebagai karyawan? Selain itu, lebih tingginya tekanan dan risiko dari menjalankan bisnis membuat sang entrepreneur bertindak lebih tidak baik dibandingkan kalangan masyarakat lainnya, terlebih mereka yang sudah 'berduit". Tapi bukankah intinya dari menjalankan bisnis dan bertindak sebagai entrepreneu adalah untuk membantu orang banyak?
Apakah kalian pernah dimarahi atas dasar orang tersebut peduli? Semua orang tahu bahwa dimarahi itu terasa tidak enak, dan segala yang tidak enak adalah cost. Jika begitu, mengapa masih ada dan sering amarah atau omelan yang mengatasnamakan kebaikan/kepedulian?
Empati adalah peduli terhadap orang lain, egois adalah peduli terhadap diri sendiri, setidaknya itu lah yang menjadi definisi bagi banyak orang. Kedua hal tersebut pun sering dipandang sebagai dua hal yang berlawanan, empati yang baik dan egois yang buruk.
Tapi sebenarnya adalah empati pun memikirkan diri sendiri, dan hal itu tidak buruk sama sekali. "Kok bisa?" "Berarti empati sama dengan egois dong?"
Kejenuhan dapat diartikan sebagai sesuatu yang 'menurun', oleh karenanya jenuh bisa saja terjadi dalam aspek apapun. Semua mahluk hidup akan menua dan mendekati kematian, semua lagu akan membosankan jika terus berulang, semua ruang akan terasa penat jika tak terganti, semua makanan akan hampar jika itu selalu, semua manusia akan membuat jemu jika terus bertemu, juga beritu dengan hal-hal lainnya. Apa saja hal lainnya tersebut?
Mereka bilang jangan berekspektasi agar tidak kecewa. Di satu sisi, ekspektasi juga merupakan harapan dan keinginan yang akan selalu menempel pada kehidupan kita. Ekspektasi kadang menjatuhkan kita, namun tidak jarang juga membuat kita senang.
Ekspektasi memang sulit, tidak bisa diatur, tidak bisa ditebak, juga rumit untuk diselesaikan. Mungkin karena itu lah ketika anda memesan sesuatu melalui ojek daring, pertanyaannya adalah "sesuai aplikasi?", bukan "sesuai ekspektasi?"
Berdasarkan penelitian, permainan tetri disukai karena sejatinya manusia suka menyusun. Pertanyaannya, kenapa orang suka menyusun? Karena terlihat rapi dan simetri? Memangnya kenapa kalau berantakan? Intinya, entah kapan disepakati, kita semua sepakat memang rapi lebih baik.
Atau kenapa kita semua bisa tahu mana wajah yang rupawan dan yang tidak? Mengapa kita bisa merasa ada gestur-gestur yang terasa baik, seperti senyuman terlepas diberikan oleh rupawan atau tidak?
Atau kapan ada kesepakatan suatu tarian, lukisan, musik dapat dikatakn bagus? Dan banyak hal lainnya yang kita tidak tahu kapan terciptanya kesepakatan mana yang baik atau yang buruk, tetapi kita tahu saja.
Kesepakatan dan sense ini lah yang bisa membuat manusia dapat bekerja sama dalam jumlah besara tanpa harus mengenal satu sama lain sebelumnya, atau setidakya tidak menyinggung.
From the publisher's feed